Nama: Hanifati Alifa Radhia
NIM: 11510801111001
Tugas UTS: Kajian Budaya Materi
Kehidupan Sosial “HappyCall”
Kita hidup di dunia dalam apa yang disebut realitas hiper (hyper-reality). Segala sesuatu adalah tiruan, atau tiruan dari sebuah tiruan, dan yang palsu tampaknya lebih nyata dari kenyataannya.
(Baudrillard dalam Lury,1998:99)
Kehidupan manusia tidak terlepas dari keberadaan benda-benda. Sebagaimana yang diuraikan oleh Appadurai (1986), bahwasannya suatu benda diibaratkan seperti makhluk hidup yang memiliki kehidupan sosial. Sebuah benda dalam kehidupan manusia, tidak hanya memiliki dimensi fungsi, namun juga terkait erat dengan dimensi simbolisasi. Sesungguhnya secara tidak sadar didalam benda tersebut sarat akan makna-makna dan tanda-tanda tertentu. Pada gilirannya, dimensi nilai guna, secara perlahan mengalami perubahan menuju nilai simbolis begitu pula pada nilai tukarnya. Bahkan, suatu benda-benda memiliki kekuatan dalam memberikan label tersendiri, dalam menunjukkan status atau pemilik benda, hingga menjadi suatu gaya hidup seseorang. Keberadaan benda-benda sejak di masalalu hingga saat ini dapat ditelusuri menurut kebudayaan pada perkembangan teknologi peralatan, ketika manusia menciptakan alat benda sebagaimana fungsinya.
di masa lalu menyimpan dan mengolah makanan dalam teknologi yang masih sederhana. Pada masa itu, manusia memang memanfaatkan alam sebagai tempat mereka memenuhi kebutuhannya.
Seiring dengan sifat kebudayaan yang dinamis, teknologi memasak dan mengolah makanan manusia pun telah mengalami perubahan. Teknologi peralatan hidup untuk mengolah dan menyimpan makanan tidak saja mengalami perubahan evolusionis dari segi fisik namun juga pada segi simbolisasinya. Perubahan teknologi tersebut diantaranya terjadi pada ranah dapur rumah tangga, sebagai salah satu unit produksi dalam sebuah keluarga. Pada awalnya, peralatan dan teknologi di dapur masih tergolong sederhana. Sebagai misal, di dapur milik orang Jawa, atau pawon, untuk menyalakan api sebagai kompor, kita memerlukan anglo. Selain itu terdapat juga berbagai alat pengolahan memasak lain seperti wajan, panci, yang sebagian masih terbuat dari tanah liat.
Kehidupan dapur terkait erat dengan peranan dan fungsi wanita. Melalui sistem kekerabatan, dalam sebuah keluarga, peranan perempuan atau wanita diidentikkan lebih banyak berada di ranah domestik, yakni pada kegiatan dapur. Senada dengan pernyataan Delphy dan Leonard, (1992), penyiapan makanan adalah sebuah contoh pekerjaan rumah tangga, bukan hanya bersifat praktis, tetapi juga emosional, seksual, reproduktif, dan simbolik dikerjakan wanita untuk pria dalam hubungan keluarga.
Dalam tulisan ini, akan dijelaskan bagaimana fungsi kebudayaan materi dalam kehidupan manusia mengalami suatu perubahan dan pergeseran nilai. Secara historis, benda dapur ini akan ditelusuri asal-usul berikut pada perkembangannya. Selain itu, benda-benda dapur ini alat kemudian mampu menarasikan dirinya, sebagai benda-benda-benda-benda krusial bagi kehidupan manusia tidak saja karena fungsi, namun juga adanya sisi komodifikasi, dan simbolisasi. Pembahasan mengenai benda dapur dalam tulisan ini akan dikhususkan pada alat memasak wajan. Sebagaimana fungsinya, wajan pada mulanya adalah alat memasak yang digunakan untuk menggoreng, menumis, dan atau mungkin juga untuk memasak sayur. Namun, seiring dengan kecanggihan teknologi, wajan semakin berinovasi dengan dapat dimanfaatkan untuk memasak kue atau roti.
sekitar 6000 SM, hampir bersamaan dengan masa bercocok tanam (Sejarah Nasional Indonesia)1. Pembuatan tembikar ini pun dibentuk oleh manusia dengan menyesuaikan fungsi
dan kebutuhan, diantaranya yakni sebagai peralatan dapur dan memasak.
Komodifikasi
(HappyCall dan Happy Salma)
Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan fisik peralatan ini pun membawa pada pengenalan teknologi memasak yang lainnya. Menurut sejarah awal pengenalan wajan, yakni bermula pada penyebaran agama Buddha ke Cina, peziarah Cina yang berlayar ke India berhenti dan tinggal di Indonesia untuk mempelajari lebih lanjut tentang Buddhisme dan tulisan-tulisan awal (c132AD). Pada saat itu Orang Cina memperkenalkan wajan dan aduk-menggoreng2.
Kini, untuk menjawab segala kebutuhan akan efisiensi dan kepraktisan, wajan-wajan berevolusi pada materi fisiknya. Keberadaan alat memasak yang terbuat dari tanah liat sudah jarang digunakan kembali. Dalam kegiatan memasak masyarakat kini, sudah banyak digunakan wajan berbahan stainlees steel. Kemudian, wajan berbahan stainl steel ini lebih banyak digunakan oleh masyarakat, sebagai misal wajan double Happycall.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Piliang, konsumsi—sebagai aktivitas sentral masyarakat konsumer—di dalam bentuknya yang baru tidak lagi berkaitan dengn logika “mengahabiskan nilai guna dan utilitas” dalam rangka memenuhi kebutuhan, tetapi lebih berkaitan dengan logika-logika sosial dan kultural baru, yang sesungguhnya semakin jauh kaitannya dengan nilai guna (2004:252). Dalam kurun waktu beberapa tahun ini konsumsi benda wajan bermerk asal Korea ini menjadi komoditas yang menjanjikan yang dikeluarkan oleh perusahaan Lejel Homeshopping. Di Indonesia, Lejel bisnis home shopping berdiri di
1http://warisanbudayaindonesia.info/view/warisan/1736/Tembikar_
tahun 2007 dengan cabang dan stasiun televisi lokal di seluruh wilayah Indonesia3. Meski
menawarkan produk home shopping dengan telepon dan pesan antar, namun pembelian produk wajan secara langsung juga dapat dilakukan. Dalam promosinya, produk Happycall mengklaim jika wakan dobelnya laris di Indonesia. Dalam segi harga, wajan serbaguna ini terbilang tidak murah, dan begitu mewah. Harga produk wajan Happycall pada tahun kemarin sebesar Rp 900.000. Namun terjadi penurunan harga, sehingga untuk tahun ini produk tersebut sebesar Rp 700.000 untuk ukuran jumbo4. Seperti penuturan penjaga stan produk
rumah tangga di Mall Malang Town Square, untuk membedakan produk yang asli dan tidak, dapat melihat beberapa digit nomor serial yang tertera di gagang wajan. Oleh karena, sistem perdagangan dan produksi dibangun atas kebersaingan dan sesuatu yang trendi, maka tak heran ketika muncul produk “tandingan” beredar di pasaran.
Benda-benda dapur menjadi komoditas tersendiri masyarakat (bagi wanita), terutama dalam memenuhi kebutuhaan memasak, dalam arti juga meliputi keluarga. Tak dapat dipungkiri jika perubahan pola perilaku akibat perubahan teknologi pun terjadi. Meskipun budaya memasak telah ada sejak jaman prasejarah, namun keterlibatan wanita masih terkait dalam konteks masa kini. Dapat diasumsikan, setelah adanya teknologi memasak modern, preferensi waktu wanita di dapur lebih berkurang. Hal ini dapat dilihat dari segi kecepatan dan kepraktisan masak itu sendiri apabila dibandingkan dengan masa lalu kala menggunakan anglo, atau wajan tanpa penutup. Bisa jadi para pria atau ayah bahkan mampu memasak sendiri dengan alat memasak seperti ini?.
Dari segi kuantitas, memasak dengan wajan model Happycall ini mencirikan bahwa kondisi keluarga saat ini lebih didominasi oleh keluarga inti daripada keluarga luas. Pola keluarga pada awalnya yang bermula dari keluarga inti, kemudian keluarga luas, kini mulai mengabur, terutama mobilitas keluarga itu, dan juga didukung kebijakan akan keluarga kecil berencana dengan slogan dua anak cukup. Tentu cara-cara seperti ini memang lebih cenderung ditemukan dalam lingkungan kota. Identitas modern dan prestise bisa jadi melekat pada benda-benda ini, berikut juga melabeli si pembelinya. Ibu-ibu para wanita yang biasanya membeli benda-benda ini melalui jaringan kekerabatan atau organisasi mereka (arisan PKK, geng pertemanan dsb), dengan cara-cara mereka. Dengan kemudahan
3http://www.lejel.co.id/index.php/about-lejel-home-shopping
pembelian seperti pemberian bonus, diskon, sales hadir ke rumah dengan demo memasak, adalah cara-cara canggih nan praktis yang ditawarkan.
Simbolisasi
(Iklan Happy Call dengan bintang Happy Salma)
Meskipun produk wajan Happycall ini bukanlah produk asli buatan Indonesia. Demi membangun basis konsumen, dan upaya untuk mendistribusikan suatu produk, citraan-citraan iklan televisi menjadi media promosi yang paling efektif. Dalam hal ini, budaya materi sepertinya berduet dengan budaya visual dalam menciptakan imajinasi-imajinasi yang perlahan di”nyata”kan.
Iklan adalah sistem tontonan yang utama dalam sistem produksi –konsumsi postmodern, merumuskan citra sebuah produk dan hubungan sosial dibaliknya (prestis, kelas sosial), dengan menciptakan ilusi, kemudia membawa masyrakat pada konsumer ilusi (Piliang, 2004:260). Seperti pada wajan Happycall ini, iklan produk ditayangkan bersama selebritis Indonesia, yakni Happy Salma. Mengapa Happy Salma? yang notabene memang bukanlah seorang chef atau ahli kuliner menjadi ikon sebuah produk alat memasak? Tampaknya ada sebuah perpaduan unik linguistik dalam menyebut kata “Happy” dan Happycall“. Ketika orang akan mengingat “Happy Salma” sang bintang iklan, maka secara bersamaan orang juga akan mengingat produknya, yakni “Happycall”. Tampaknya kesan dan pesan yang ingin ditampilkan si wajan canggih tidak lain, adalah keterkaitannya atau produk tersebut digunakan sekelas “selebritas”. Hal ini kemudian terkait pada identitas atau eksklusifitas, kelas sosial. Segmentasinya tentu saja ibu-ibu kelas menengah perkotaan dan mereka-mereka yang mencari kepraktisan.
jika produk wajan Happycall memang berasal dari negeri Korea, maka dalam iklan pun didatangkan pula sang chef native berikut dilatarbelakangi alunan musik Korean Pop-nya.
Kesimpulan
Benda-benda memang memiliki kehidupan sosial, seperti halnya seorang makhluk hidup, ia dapat dikaji dari sisi kesejarahannya, pertukarannya di dalam pasar, bagaimana produksi, hingga pada akhirnya diiklankan untuk kemudian dikonsumsi. Bahwasannya apa yang melekat pada sebuah benda tidak hanya sebuah “fungsi”, namun juga “tanda”nya. Dalam konteks wajan Happycall yang menjadi objek konsumsi para ibu rumah tangga ini, selain perlahan mengubah pola perilaku dan pandangan-pandangan baru tentang dapur. Selain itu, hubungan antar benda dan manusia ini menciptakan gagasan-gagasan tentang ideologi, maupun gaya hidup tersendiri, selayaknya memiliki “kehidupan”.
Pada gilirannya, konsumsi yang berlebih
Tidak dipungkiri jika ada anggapan, wanita dan perempuan di rumah tangga (ibu) adalah pelaku pasif konsumsi, sedangkan anak gadis atau remaja putri lebih berpotensi menjadi pelaku aktif dari konsumsi benda-benda, atau malah sebaliknya. Dan, bagaimana pada pria apakah juga sedemikian?. Hal ini harus ditinjau dari kondisi, latar sosial budaya, maupun status, dan posisi si individu tersebut yang menaungi.
Daftar Pustaka
Lury, Celia. 1998. Budaya Konsumen. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia Yang Berlari: Mencari Tuhan-Tuhan Digital. Jakarta: Grasindo.
Referensi online
http://warisanbudayaindonesia.info/view/warisan/1736/Tembikar_
http://www.recipes4us.co.uk/Cooking%20by%20Country/Indonesia.htm