UNIVERSITAS INDONESIA
Implikasi bagi Anak yang Terpapar Kekerasan Domestik
(Kekerasan Dalam Rumah Tangga
–
KDRT-)
Disusun sebagai tugas akhir semester mata kuliah Perlindungan Anak
Aditya Awal Sri Lestari 12062050834
Departemen Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
2
BAB I PENDAHULUAN I.A. Latar belakang masalah
Anak-anak yang menjadi saksi atau terpapar peristiwa kekerasan dalam lingkup keluarga dapat mengalami gangguan fisik, mental dan emosional.1 Ekspos kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada anak dapat menimbulkan berbagai persoalan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam jangka pendek seperti: ancaman terhadap keselamatan hidup anak, merusak struktur keluarga, munculnya berbagai gangguan mental. Sedangkan dalam jangka panjang memunculkan potensi anak terlibat dalam perilaku kekerasan dan pelecehan di masa depan, baik sebagai pelaku maupun korbannya.
Secara umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu tindakan yang dilakukan satu individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan/atau mental. Menurut Indra Sugiarno, kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang seharusnya menjaga dan melindungi anak (care-taker) pada seorang anak baik secara fisik, seksual, maupun emosi.2
Pengalaman menyaksikan KDRT pada masa kanak telah diketahui sebagai salah satu faktor penting yang dapat menjelaskan terjadinya KDRT atau kekerasan dalam relasi intim di masa dewasa. Anak laki-laki yang tumbuh dalam keluarga yang mengalami kekerasan memiliki resiko tiga kali lipat menjadi pelaku kekerasan terhadap isteri dan keluarga mereka di masa mendatang; sedangkan anak perempuan saksi KDRT akan berkembang menjadi perempuan dewasa yang cenderung bersikap
1
Megan H. Bair-Merritt, Mercedes Blackstone and Chris Feudtner. 2006. Physical Health Outcomes of Childhood Exposure to Intimate Partner Violence: A Systematic Review. Journal of Pediatrics.Hlm 279
3
pasif dan memiliki resiko tinggi menjadi korban kekerasan di keluarga mereka nantinya.3
I.B. Rumusan Masalah
Peneliti melihat adanya kemungkinan apabila seorang anak memiliki rekam jejak masa kecil yang menjadikan ia terpapar kekerasan domestik (atau kekerasan dalam rumah tangga) dapat menjadi korban ataupun pelaku di masa depan. Namun yang ingin peneliti lebih mencari tahu adalah implikasi dari seorang anak yang sering (lebih dari dua jenis) kekerasan dalam rumah tangga.
I.C. Pertanyaan Penelitian
a. Apa saja jenis kekerasan dalam rumah tangga yang terpapar oleh informan? b. Bagaimana implikasi atau dampak dari ia yang terpapar kekerasan dalam rumah tangga?
I.D. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui apa saja jenis kekerasan yang dapat terpapar oleh seorang anak,
b. Untuk mengetahui dampak dari seorang anak yang terpapar kekerasan dalam rumah tangga.
3
4
BAB II
KAJIAN LITERATUR DAN KERANGKA KONSEP
II.A. Kajian Literatur
Judul 1 : Children Exposed to Domestic Ciolence: Conclusions from the Literature and Challenge Ahead.
Penulis : Overlien, Carolina. 2010.
Publikasi : Journal of Social Work, SAGE Publication.
Dewasa ini, kekerasan dalam rumah tangga merupakan salah satu aspek yang dengan mudah dapat ditemui dalam kebanyakan anak-anak. Paparan yang terjadi terhadap anak di bidang kekerasan domestik, dalam 30 tahun terakhir telah difokuskan dalam hal perempuan sebagai korban dan laki-laki sebagai pelaku. Penelitian mengenai anak yang terpapar kekerasan dalam rumah tangga meningkat secara eksponensial dengan penelitian yang dilakukan oleh Holden, et.al tahun 1998 yang memeriksa publikasi artikel dalam rentang 1975 hingga 1995 mengenai anak-anak yang terkena kekerasan dalam rumah tangga dengan hasil selama rentang waktu tersebut, hampir lima kali lebih banyak anak yang terkena kekerasan dalam rumah tangga. Tujuan dari penelitian ini bagi penulis adalah memberikan gambaran penelitia, membahas implikasi bagi anak ke depannya serta tantangan masa depan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh penulis.
Terminologi dan Taksonomi
5
pemahaman dan pelaporan dalam kekerasan rumah tangga serta peneliti dan praktisi yang mendefinisikan anak yang terkena kekerasan dalam rumah tangga berbeda.
Di tahun 1970-an awal, di Amerika Utara, menggunakan dua istilah yakni „untuk bersaksi‟ dan „untuk mengamati‟, hal ini berdampak cukup signifikan bagi anak karena mereka menjadi saksi dan pengamat yang hampir secara eksklusif tergantikan oleh paparan kekerasan. Istilah ini menurut Fantuzzo dan Mohr (1990) menjadikan lebih inklusif dan tidak membuat asumsi khusus dari pengalaman anak-anak dengan kekerasan. Bagi banyak peneliti, anak bukannya penerima pasif namun sebagai agen aktif yang mana dalam hidupnya pengalaman kekerasan menjadi penting yang dapat memaksa anak dan dalam banyak kasus memaksa mereka juga untuk bertindak.
Prevalence
Kebanyakan studi prevalensi secara nasional belum mengangkat isu ini secara serius. Satu studi di Amerika Serikat, menunjukkan 617 orang dewasa perempuan, 20% diantaranya melaporkan telah banyak menyaksikan bentuk kekerasan fisik antara orang tua mereka selama masa anak-anak. Di Kanada, anak-anak dalam 500.000 rumah tangga di Kanada terkena kekerasan dalam rumah tangga (The General Social Study, 2001). Peneliti mengacu pada sebagian besar perempuan yang menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh orang terdekat mereka dan menarik kesimpulan bahwa anak-anak menjadi lebih besar pula jumlahnya untuk terpapar kekerasan dalam rumah tangga.
Emotional and Behavioural Consequences
6
gejala trauma ditemukan pada bayi usia satu tahun yang telah terkena kekerasan dalam rumah tangga yang prah (dengan mendengar atau melihay kekerasan).
Hasil penelitian 10 tahun terakhir juga memberikan hasil anak-anak memiliki kemungkinan terdiagnosa DSM-IV PTSD dan merupakan kelompok paling rentan menerima PTSD. Adamson dan Thompson (1998) menemukan anak-anak dalam studi mereka yang memiliki riwayat terkena kekerasan domestic bereaksi dengan intensitas emosional mereka yang besar untuk konflik daripada anak-anak yang tidak tumbuh dalam lingkungan terpapar kekerasan. Penelitian lanjutan menemukan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dalam meningkatkan resiko masalah perilaku.
Wolfe et.al (2003) dalam 41 studi kasus di Amerika Serikat mengenai paparan kekerasan dalam rumah tangga jelas terkait dengan masalah perilaku dan emosional. Kernic et al (2003) menyebutkan lebih lanjut bahwa anak-anak yang terpapar tersebut memiliki masalah signifikan pada perilaku termasuk perilaku dan kompetensi sosial dengan miskin eksternalisasi dibandingkan dengan kontrol. Di Italia, anak-anak yang terpapar kekerasan domestik lebih memungkinkan untuk terkena juga bullying di sekolah dan bereaksi lebih keras untuk berkonflik pula dengan teman sebayanya. Lee et al (2004) menemukan bahwa anak-anak yang langsung turun tangan dalam tindakan kekerasan memiliki tingkat perilaku tidak terlalu bermasalah daripada mereka yang tidak. Hutch dan Bocks (2008) menemukan stres yang disalurkan lewat pengasuhan memiliki efek negatif langsung yang secara kuat berdampak pada anak (perilaku dan masalah emosional).
Long term consequences
7
resiko yang penting dalam memprediksi apakah anak tersebut ketika tumbuh dewasa akan menjadi kasar.
Children at Risk Violence and Abuse
Anak-anak yang terkena kekerasan dalam rumah tangga memiliki resiko mengalami bentuk-bentuk kekerasan lain seperi pelecehan anak secara fisik yang lebih dimungkinkan terjadi di keluarga dimana posisi ibu disalahgunakan. Moore dan Pepler (1998) menemukan 42% anak-anak dari studi penelitian mereka terkena kekerasan dalam rumah tangga juga disiksa secara fisik. Lebih lanjut Apple dan Holden (1998) memiliki 30 studi dan semuanya menunjukkan hubungan jelas antara kekerasan dalam rumah tangga dan penganiayaan terhadap anak, termasuk pelecehan seksual terhadap mereka. McCloskey et.al. (1995) menemukan bahwa 10% perempuan dewasa yang babak belur akibat pertengkaran mengalami pelecehan seksual yang juga dialami oleh anak perempuannya juga.Peneliti berpendapat bahwa penyebab kekerasan dalam rumah tangga dapat beranekaragam yakni faktor structural, lingkungan, dinamika keluarga, dan faktor individu.
Edleson et.al. (2003) melaporkan 25% dari 114 anak perempan yang babak belur dalam penelitian mereka telah meminya bantuan dan 25% terlibat langsung dalam kekerasan tersebut. Semakin parah ibu dari anak-anak tersebut dilecehkan, semaki sering anak-anak akan ikut campur. Anak-anak yang terkena kekerasan dalam rumah tangga telah digambarkan sebagai korban yang tidak diinginkan. Ketiak anak campur tngan dalam tindak kekerasan mungkin ada kekerasan yang dihadapi oleh anak yang bersifat tidak diinginkan sebagai kekerasan kebetulan. McCloskey (2001) menyebutkan 65% pria yang melukai istrinya juga telah mengancam akan menyakiti anak-anak.
Conclusion
8
9
Judul 2 : Children’s Experiences of Domestic Violence: Developing an Integrated Response Form Police and Child Protection Service.
Penulis : Nick Stanley, et.al. 2011. Publikasi : SAGE Publication.
Sistem yang dikebangkan dengan baik untuk pelayanan yang diberikan oleh polisi kepada anak sebagai sarana komunikasi informasi dan koordinasi tanggapan terhadap anak dan keluarga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Kedatangan polisi menjadi penting sebagai perlindungan insiden kekerasan dalam rumah tangga dan sebagai bentuk pelayanan public dalam mengidentifikasi kebutuhan dalam menyampaikan intervensi dalam mendukung dan melindungi korban – anak-anaknya.
Layanan perlindungan anak dapat memberikan intervensi yang ditargetkan untuk anak-anak yang menjadi paling beresiko berbahaya dan bertujuan dalam mengurangi paparan kekerasan pada anak serta memastikan keselamatan mereka. Dalam mengembangkan layanan yang terkoordinasi membutuhkan strategi perencanaan sebagai evaluasi inisiatif yang telah dijalankan. Studi penelitian ini melaporkan sistem yang berkolaborasi antara polisi dan pelayanan sosial anak dalam kasus kekerasan rumah tangga yang emlibatkan anak-anak dalam dua otoritas lokal di Inggris. Kolaborasi ini melibatkan polisi yang memberitahu pelayanan sosial anak-anak dari semua insiden kekerasan dalam rumah tangga. Selanjutnya polisi mengarahkan anak-anak ke pelayanan sosial anak jika mereka memiliki keprihatinan tentang keselamatan dan kesejahteraan dalam insiden kekerasan domestik.
Interagency Collaboration – Police and Child Protective Services
10
(2005) meneliti layanan perlindungan anak di Amerika Serkat dalam kasus dengan dan tanpa keterlibatan polisi menemukan bahwa polisi terlibat lebih mungkin untuk memiliki atau menuduhkan yang membahayakan dengan pembuktian dan menerima layanan dari anak itu. Penulis menyarankan keterlibatan polisi dapat memperkuat intervensi pekerja sosial dengan memberikan kualitas yang lebih baik dari investigasi dan bukti sebagai pinjaman kewenangan dan keselamatan dalam proses penilaian.
Penelitian ini menawarkan kesempatan dalam berlajar antarmuka antara polisi dan pusat pelayanan perlindungan anak dalam kasitannya dengan insiden kekerasan domestic. Dirancang untuk mengidentifikasi karakteristik insiden dan keluarga yang diberitahukan kepada pelayanan sosial anak-anak, mendirikan dan memberitahukan informasi apa yang perlu disampaikan oleh pelayanan sosial anak-anak dalam pemberitahuan dan menerima kasus dan layanan yang perlu diberikan.
Method
Penelitian ini dilakukan dalam tahun 2006 – 2009 dan memasukkan restrospektif analisis polisi dan catatan pelayanan sosial dalam 251 insiden kekerasan dalam rumah tangga di dua pemerintahan daerah bagian utara dan selatan di Inggris. Satu daerah termasuk daerah perkotaan di pinggir sebuah kota besar dan yang lainnya terdiri dari campuran daerah pedesaan dan perkitaan. Penggunaan dua tempat ini dimaksudkan untuk menangkap vcariasi dalam prosedur lokal dan praktik yang diketahui di dalamnya ada kaitan dengan pemberitahuan polisi mengenai insiden kekerasan dalam rumah tangga.
11
Data dilengkapi dengan lima puluh delapan wawancara secara individu dengan polisi (delapan spesialis dari 10 petugas garis depan), pendukung kekerasan domestic (6), mengawasi petugas (9), pekerja sosial anak (13), pelayanan sosial administrator nak-anak (2), dan manajer (10) di dua lokasi tersebut. Staf pelayanan sosial anak-anak sebagian besar adalah perempuan, dan hanya lima polisi yang merupakan perempuan. Sebagian dari mereka, memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang mereka masing-masing.
Peserta diminta untuk menggambarkan dan mengomentari proses untuk merekam dan mentransfer informasi antara polisi dan anak-anak pelayanan sosial dan mengidentifikasi kekuatan serta kelemahan dari sistem ini. Data yang direkam dari polisi mencakup informasi demografis tentang keluarga, rincian luka yang diderita, senjata yang digunakan dan apakah mereka melakukan hal tersebut di bawah pengaruh zat. Data deskriptif analitis yang tersedia dalam basis data laporan penelitian polisi dapat digunakan dalam memberitahu pelayanan sosial anak-anak yang bervariasi dalam dua wilayah.
Data pelayanan sosial anak-anak dikumpulkan dalam file elektronik dan kertas serta dokumen hukum. Data dari polisi dan catatan pelayanan sosial anak-anak yang awalnya dimasukkan dalam lembar-lembaran terpisah, kemudian ditransfer ke dalam proyek ini. Data kuantitaif kemudian diubah menjadi kode-kode dan dianalisa menggunakan SPSS. Basis data yang terpisah digunakan untuk polisi dn pelayanan sosial anak-anak dengan variabel kunci yang bergabung untuk memeriksa intervsni pelayanan sosial anak-anak yang berkaitan dengan karakteristik asli insiden kekerasan dalam rumah tangga. Data kualitatif diambil dari data yang dianilisi menggunakan dua tema yang dihasilkan oleh data dan yang ditarik dari pertanyaan penelitian serta studi kasus yang dikembangkan untuk kasus yang menerima intervensi dari pelayanan sosial anak-anak.
12
secara manual dengan persetujuan etis dalam studi ini disediakan oleh komite etika, University of Central Lancashire.
Limitations of the Research
Variasi yang ditermukan dalam jumlah informasi yang tersedia dalam kasus yang diteliti dan ini berlaku baik antara polisi dan pelayanan sosail anak-anak. Hal ini dapat dikaitkan dengan sebagian pergeseran dari fokus insiden pada kekerasan dalam rumah tangga dengan catatan polisi untuk berfokus pada kasus keluarga. Dalam pemberitahuan, terdapat 12 keluarga yang menyumbang 5% dari pengurangan ukuran sampel, namun 22% dari sampel asli kalah dalam penelitian seiring dengan perjalanan melintasi bada lain karena file telah dipindah ke layanan sosial lainnya, file hilang atau tidak tersedia.
Beeman, Hagiemen, Edellson (2001) menggambarkan masalah yang sama dalam pencocokan data polisi dan pelayanan sosial. Hal ini menggambarkan masalah yang sama dalam pengalaman praktisi kesulitan dalam mentransfer dan mengambil informasi pada keluarga.
New Developments in Filtering and Risk Assessment Systems
13
Brandon et.al (2009) menemukan bahwa kekerasana dalam rumah tangga adalah yang paling umum terjadidalam karakteristik kematian anak belajar. Responden survey menggambarkan berbagai lembaga yang berkontribusi terhadap beragam inovasi yang muncul untuk pemberitahuan keketasan rumah tanga di daerah mereka. Layanan sosial tampil sebagai mitra dalam semua model pendekatan inovatif dan polisi sebagai mitra dalam setengah pendekatan pelaporan. Pendekatan pertama kali diidentifikasi dengan tujuan meningkatkan kemungknan awal untuk intervensi dengan mengalihkan keluarga jauh dari pelayanansosial maupun kesehatan. Pendekatan kedua melibatkan pertemuan biasa dan panel yang melakukan pemberitahuan secara screening. Pekerja sosial diasumsikan untuk membantu ti kekerasa polisi dalam rumah tangga.model ketiga mennsyaratkan pemanfataan prosedur penilaian resiko polisi sebagai alat saring keluarga dalam hal pelayanan setelah insiden kekerasa dalam rumah tangga. Evaluasi respon menggunakan tiga tingkatan dalam menentukan tingkat respon pelayanan sosial anak-anak yakni emas : perlindungan hukumd ari pelayanan anak, perak dalam hal membangkitkan dukungan keluarga, dan perunggu untuk insiden beresiko rendah yang tercatat dalam basis data pelayanan sosial sebagai catatan kontak. Model keempat mrupakan upaya mengembangkan sebuah matriks dalam menentukan risk-assessment yang berfokus pada anak sebagai korban. Menurut Bell dan McGoren (2003) matriks ini menawarkan kerangka kerja dalam mengorganisir infomrasi pada anak dan mengklasifikasikan kebutuhan anak dan keluarga dsalah satu dari empat tingkat respon pelayanan.
Discussion
14
menginfomrasikan kepada pelayanan sosial terbatas dan pekerje sosial tampaknya belum menggunakannya secara sistematis.
Tindak lanjut keluarga menjadi penting seperti penawaran dokter spesialis dalam menangani kekerasan dalam rumah tangga. Matriks yang terkadang disediakan oleh kepolisian, acapkali penilaiannya bergantung pada pendekatan apa yang digunakan untuk menuntut salah satu dari sejumlah tanggapan terhadap pertanyaan , dan kerap kali polisi tidak membuka dialog dengan para korban yang bisa dibilang memiliki informasi lengkap berkaitan dengan resiko yang akan muncul.
Conclusion
Studi ini memberikan bukti kemajuan antara polisi dan pelayanan perlindungan anak yang telah dibuat sebagai respon terhadap anak yang mengalami paparan kekerasan dalam rumah tangga dan mengidentifikasi kekurangan utama dalam hal tingkat respon yang diperlukan. Hal ini juga memfokusan perhatian pada tantangan yang akan terjadi dalam hal dua muka lembaga sebagai pelayanan public universal dan memiliki target tertentu.
15
Judul 3 : How Much Does “How Much” Matter? Assessing the Relationship
Between Children’s Lifetime Exposure to Violence and Trauma Symptoms ,
Behavior Problems, and Parenting Stress
Penulis : Laura J. Hickman, Lisa H. Jaycox, Claude M. Setodji, Aaron Kofner, Dana Schultz, Dionne Barnes-Proby and Racine Harris
Publikasi : Journal of Interpersonal Violence, SAGE Publication. 2012.
Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi pertumbuhan yang stabil dalam empiris dan teoritis literature megenai topik paparan anak terhadap kekerasan baik di ranah sekolah, masyarakat. Eksposur ini menyebabkan kekhawatiran yang jelas mengenai bahaya fisik dan jangka panjang dalam perkembangan mental kesehatan bagi anak-anak. Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan untuk survey anak yang terkena kekerasan sampai dengan usia 17 tahun dan yang lebih muda, 61% telah terpapar dengan berbagai aspek kejahatan, serangan fisik (46%), pelanggaran property (25%), penganiayaan oleh orang tua atau pengasuh (10%) dan menyaksikan kekerasan di rumah (25%).
Dalam studi yang dilakukan oleh Finklehor et al. (e.g., Finkelhor, Ormrod, & Turner, 2007a; Finkelhor, Ormrod, & Turner, 2007b; Finkelhor, Ormrod, & Turner, 2009; Finkelhor, Ormrod, Turner, & Hamby, 2005; Turner, Finkelhor, & Ormrod, 2010), mengungkapkan bahwa literature sebelumnya berfokus secara sempit pada satu jenis paparan daripada memeriksa dampak potensial dari beberapa jenis paparan. Hal ini dapat dilihat sebagai refleksi dari masalah yang lebih umum dalam pemeriksaan paparan anak-anak terhadap kekerasan dimana penelitian yang sedang dilakukan mengambil pendekatan yang lebih komprehensif.
16
seksual. Meluasnya polyvictimization ini didefinisikan menurut jumlah jenis kekerasan yang mereka alami dengan lebih banyak jenis kekerasan polyvictimzation lebih besar. Berdasarkan data yang diperoleh dari the National Survey of Children‟s Exposure to Violence, Turner, Finklehor, and Ormrod (2010) menemukan polyvictimization lebih penting dan mampu menjelaskan gejala PTSC (Post Traumatic Syndrome Diagnose) dari paparan yang berulang dan spesifik.
Method
Data dari penelitian ini diambil dari National Evaluation of Safe Start Promising Approaches (SSPA), yang didanai oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat yang diluncurkan pada 2005. SSPA dikemabngkan nntuk melaksanakan dan mengevaluasi program bebrbasis bukti yang dimaksudkan untuk membantu anak-anak yang telah mengalami kekerasan dan keluarga mereka (Hyde, Kracke, Jaycox, & Schultz, 2008).. Penelitian ini menafaatkan data dari Sembilan komponen SSPA yang digunakan untuk desain eksperimental acak yang menugaskan tiap keluarga untuk kelompok intervensi ataupun kontrol.
Data Collection and Measure
Data dikumpulkan secara pribadi oleh pewawancara terlatih yang telah diberikan penilaian standar untuk pengasuh utama. Penelitian ini hanya menggunakan data dasar dari National Safe Start Evaluation, yang dikumpulkan sebelum penugasan keluarga untuk kondisi tertentu. Tindakan pengasuh yang dilaporkan digunakan untuk penelitian ini yang terdiri dari karakteristik demografi, paparan anak terhadap kekerasan, gejala stress pasca trauma (PTSD) pada anak, masalah perilaku anak, pengasuh anak yang sehari-hari mengalami stress.
17
perkawinan, pengasuh dan pendapatan rumah tangga, dll) dan juga pengasuhan serta kesehatan fisik anak, masalah emosional, dukungan atau bantuan yang diterima pengasuh.
18
Tabel 1 ini menunjukkan masing 16 tipe eksposur dan jumlah masing-masing pendukungnya.
Laporan pengasuhan anak dengan gejala PTSD ditangkap dngan Trauma Symptom Checklist for Young Children PTSD subscale (TSCYC; Briere et al., 2001). Hal ini diberikan hanya untuk anak-anak dengan usia 3 hingga 10 tahun dan terdiri dari 27 item yang meminta pengasuh untuk menilai frekuensi pada bulan lalu, apakah anak ini melakukan ini atau tidak.
Masalah perilaku anak yang dinilai pada ukuran di ukuran yang berbeda, tergantung usia anak. Anak-anak dengan usia 3 tahun dan yang lebuh tua, masalah perilaku ditangkap dengan Behavior Problems Index (BPI). Pengasuh ditanya mengenai kesepakatan mereka dengan serangkaian pernyataan tentang perilaku anak dalam satu bulan terakhir. Untuk anak-anak dengan usia 1 hingga 3 tahun, masalah perilaku diukut dengan the Brief Infant-Toddler Social and Emotional Assessment (BITSEA; Briggs-Gowan & Carter, 2002) yang berisi 31 item yang emminta pengasuh menilai masalah perilaku pada skala poin. Dalam penelitian sebelumnya, skor BITSEA ditemukan berkolerasi tinggi dengan peringkat bersamaan evaluator dan memprediksi skor masalah satu tahun kemudian.
Statistical Approach
19
Variabel kontrol yang termasuk adalah karakteristik demografi anak atau pengasuh atau rumah tangga yang mungkin memiliki beberapa hubungan dengan gejala stres anak dan orang tuanya.hal ini termasuk usia, ras, jenis kelamin, hubungan pengasuh anak, status kesehatan pengasuh, jumlah anak-anak yang diasuh.
Result
Pertama, peneliti menyajikan deskripsi dari total eksposur kekerasan seumur hidup dari 768 anak-anak dalam sampel penelitian. Lebih lanjut lagi, dalam table 2 menunjukkan pengasuh utama melaporkan anak yang terkena hampir 15 jenis insiden kekerasan lebih seumur hidup mereka. Untuk 44% dari anak-anak, paparan seumur hidup mereka terbatas pada satu jenis kategori kekerasan.
Yang paling umum kategori paparan yang sedang menyaksikan kekerasan diikuti dengan mengalami penganiayaan dan mengalami serangan fisik. Viktimisasi seksual adalah tipe paling umum dari paparan, dengan pengasuh yang melaporkan anak-anak pernah mengalami insiden kekerasan seumur hidup. Pengasuh juga melaporkan anak-anak yang diambil dalam sampel, rata-rata menyaksikan 8,8 insiden kekerasan dalam hidup mereka.
Dalam pengujian hubungan antara paparan kekerasan dan gejala negative yang mungkin bisa dihasilkan adalah polyvictimization didefinisikan sebagai paparan untuk kategori kekerasan, muncul sebagai prediktor paling konsisten. Dalam pengujian definisi yang berbeda, hanya variabel yang dikotomis diperlukan untuk menangkap efek ini. Paparan dua atau kategori lainnya, menunjukkan gejala lebih buruk dibandingkan degan mereka yang terkena kategori tunggal.
20
Judul 4 : Multi-Prepetator Domestic Violence Penulis : Michael Salter
Publikasi : Trauma Violence Abuse, SAGE Publication. 2013.
Kekerasan paradigmatic yang dialami oleh perempuan dan/atau anak-anak biasanya melibatkan satu pelaku dan satu korban. Meskipun diakui adanya relasional kualitas kekerasan yang memiliki dampak luar pelaku dengan korban yang berangka dua. Terdapat heterogenitas dalam kekerasan yang dialami oleh perempuan dan memiliki konsekuensi penting dalam tanggapan dan hasil yang akan diambil oleh mereka.
Jumlah pelaku yang terlibat dalam insiden kekerasan fisik atau seksual terhadap perempuan diidentifikasi sebagai ukuran penyalahgunaan multiprepetator. Penelitian menunjukkan proporsi yang signifikan dari insiden kekerasan terhadap anak-anak dan peremouan yang melibatkan beberapa pelaku dan penyalahgunaan ini mungkin harus direncanakan dan dikoordinasikan antar pelaku.
Perempuan yang termasuk korban dalam jurnal ini, dimaksudkan sebagai multi-prepetator domestic violence (MDV) seseorang yang bagi pasangannya manrik ornang lain ke dalam partisipasi korban secara fisik dan/atau seksual. Termsuk dengan insiden kekerasan yang melibatkan pelaku yang berbeda serta keterlibatan beberapa perilaku dalam pola penguntitan dan kontrol yang koersif. Menurut data yang berhasil dikumpulkan oleh Centre for Disease Control and Prevention selama satu decade terakhir, instrument data kasus kekerasan dalam rumah tangga seringkali menimbulkan pertanyaan posisi pelaku.
Critical point of Research View
21
1. Anak perempuan dan orang perempuan dewasa bermitra untuk anggota kelompok kejahatan yang beresiko tinggi terhdap MDV
2. Dalam beberapa komunitas etnis minoritas, jaringan kerabat-teman berkoalisi dalam korban koletif perempuan
3. MDV muncul dari kondisi sosial dan ekonomi marjinal dimana kekerasan kolektif terhadap anak perempuan dan perempuan sebagai sarana untuk membangun dan melindungi kehormatan maskulinitas dan statusnya
4. MDV mencakup tingkat penyiksaaan dan pembunuhan dari kekerasan dan korban memiliki berbagai masalah mental, fisik, hingga psikososial.
Prevalence and Characteristic of MDV
Saat ini tidak ada data yang tersedia dalam masyarakat mengenai prevalesni MDV karena survey yang dilakukan dalam skala besar tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan tidak berkaitan dengan kekerasan multi-pelaku dan pelecehan. Dari 9.475 laporan dari perempuan korban pasangan maupun mantan, dalam tahun 1994 hingga 1996 terdapat 0,35% kasus yang melibatkan beberapa pelaku.
Sebuah studi yang menunjukkan > 240.000 perempuan yang melakukan kontak dengan layanan kekerasan dalam rumah tangga di Illionis, Amerika Serikat menemukan bahwa 2,4% perempuan melaporkan beberapa pelaku. Selama 12 bulan layanan kekerasan dalam rumah tangga di Adelaide, Australia, perempuan mencari perlindungan dari berbagai pelaku (yakni sekitar 16% dari total kasus yang terlapor).
22
The Challenges of Responding to MDV
Kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan jarang mengakui kompeksitas dari jenis yang dialami oleh perempuan yang mengalami MDV. Tantangan tersebut diakui dan dibahas dalam layanan perempuan, namun layanan ini biasanya kekurangan dana dan bisa berjuang untuk terus berupaya dalam mengakomodasi kebutuhan klien yang kompleks. Dalm hal ini, kita berbicara satu set lebih luas dari pertanyaan mengenai kurangnya kesetraan gender dalam kesehatan dan kesejahteraan dimana keburuhan perempuan dalam kaitannya dengan penyalahgunaan dan trauma seringkali diabaikan sedangkan anak perempuan dan perempuan dalam masyarakat migrant dan etnis emnghadapi beban khusus terutama dalam status budaya.
Lembaga yang bertugas untuk menangani kekerasan kelompok terkait, acapkali mengabaikan kepentingan perempuan dan anak perempuan yang terkena dampak ini. Etnis minoritas dan imigran perempuan yang melarikan diri, MDV, telah bermerk melodramatic dan manipulative oleh polisi ketika mereka berusaha untuk melaporkan pelecehan yang mereka alami (Payton, 2011, hlm 71-72) serta cerita mereka mengenai multi-pelaku kekerasan fisik dan seksual diragukan kebenarannya oleh pengadilan. Perilaku ini berbeda dengan best practice yang mencoba merekomendasikan korrdinasi yang lebih baik antar lembaha yang membutuhkan investigasi dengan dana yang lebih besat.
Model baru dalam penanganan kekerasan seperti Multi-Agency Risk Assessment Conference, menawarkan model yang menjanjikan intervensi dalam keadaan tertentu dengan keterlibatan polisi, pelaku kekerasan dalam rumah tangga, lembaga lainnya dimana mereka merencanakan aksu untuk kejahatan yang beresiko tinggi dalam rumah tangga, bagaimana menangani dan mengkoordinasikannya jika hal tersebut terjadi di kemudian hari.
23
Arikel ini telah menerangkan bentuk kriminalitas teroragnisir yang diabaikan dalam bentuk hubungan kasar yang membentuk lokus terkoordinasi antara fisik dan seksual terhadap perempuan. MDV dapat terjadi bersama dengan bentuk kejahatan terogranisir lainnya seperti geng atau timbul dengan dukungan dan partisipasi dari keluarga dan teman di kekerasan dalam rumah tangga.
Meetoo dan Safia Mirzi (2007) menekankan pada cara yang dilakukan unruk perampasan sosial ekonomi dari jenis yang dialami oleh migran, pengungsi, komunitas etnis lain yang mengkatalisasi tren budaya terhadap nilai patriarki dan konservatif dalam mempromosikan kekerasan terhadap perempuan. Geng terkait dalam MDV juga muncul dalam masyarakat sosio ekonomi yang kekurangan, terpinggrikan, anak laki-laki dan laki-laki berusaha untuk meningkatkan prestise mereka melalui kekerasan dan kriminalitas dalam ketiadaan alternative yang lebih konstruktif.
24
Jurnal 5 : Children’s Exposure to Violence in the Family and Community
Penulis : Gayla Margolin and Elana B. Gordis
Publikasi : Current Directions in Psychological Science, SAGE Publication. 2004.
Kekerasan merupakan masalah kesehatan masyarakat, dan anak-anak sangat rentan untuk terkena dampaknya. Kekerasan merupakan aspek yang paling halus fungsi dalam penyerangan tubuh manusia seperti perilaku kognitif, sosial, dan emosional. Gangguan dominan dapat memengaruhi perkembangan anak-anak dengan perkembangan proses yang khas dengan dampak yang bergantung pada waktu, jenis, kronisitas paparan kekerasan.
Kekerasan didefinisikan dalam banyak cara yang berbeda dalam penelitian tentang efek yang pada anak-anak. Kategori utama dari kekerasan yang telah diteliti adalah (a) penganiayaan anak, termasuk kekerasan fisik, pelecehan seksual, dan penelantaran; (b) agresi antara orang tua; dan (c) kekerasan masyarakat, termasuk korban langsung dan kesaksian dari kekerasan (Appel & Holden, 1998; Margolin & Gordis, 2000). Berbagai keparahan kekerasan bahwa anak-anak mengamati atau belajar dari pengalaman. Beberapa bentuk agresi parah, seperti pemukulan atau penggunaan senjata, dapat traumatis kepada korban dan pengamat. Bentuk lain dari agresi, seperti mendorong atau mendorong dan hukuman fisik, dianggap normatif oleh banyak masyarakat. Di sampel yang diambil dari populasi pada umumnya, rendah keparahan agresif perilaku mungkin cukup sebagai kriteria untuk kekerasan.
Rates of Exposure
25
Straus (1992), ekstrapolasi bahwa tiap tahun > 10 juta anak-anak di Amerika Serikat menyaksikan agresi fisik antar orang tua mereka dan tingkat kekerasan dalam masyarakat umumnya didasarkan pada wawancara atau survey pada anak-anak dan dikuatkan oleh wawancara kepada orang tua.
Richters dan Martinez (1993) melaporkan paparan kekerasan masyarakat adalah sangat umum, dan sepertiga dari anak-anak yang menjadi korban (sekitar 90% diantaranya) melihat sekali kekerasan setidaknya, selama mereka hidup.
Effects of Exposure to Violence
Dalam jangka pendeknya, yang mungkin terjadi adalah anak-anak yang mengalami kekerasan dalam bentuk apapun mungkin menunjukkan gangguan perilaku seperti agresi dan kenakalan; emosional dan gangguan mood seperti depresi dan kecemasan; posttraumatic gejala stres seperti mengagetkan berlebihan, mimpi buruk, dan kilas balik; masalah yang berhubungan dengan kesehatan dan gejala somatik seperti tidur gangguan; dan masalah akademik dan kognitif. Beberapa bentuk kekerasan cenderung memiliki konsekuensi tertentu. Misalnya, seksual bertindak keluar kadang-kadang merupakan konsekuensi tertentu pelecehan seksual.
Dalam melihat dampak, kita tidak dapat menampik dalam mnggunakan teori pembelajaran sosial, teori pembelajaran sosial, yang menurut anak-anak belajar dari model agresif dalam lingkungan mereka. Selain itu, korban dapat mengganggu kemampuan anak untuk mengatur emosi mereka, dan sebagai akibatnya mereka dapat bertindak keluar agresif. Pelecehan seksual, kekerasan fisik, dan paparan kekerasan antara orang tua dan di masyarakat semuanya telah dikaitkan dengan agresi, dengan link khususnya terdokumentasi dengan baik untuk kekerasan fisik.
26
Dalm jangka panjang, Dalam 20 – 30 tahun prospektif studi oleh Ehrensaft et al. (2003), anak-anak yang mengalami kekerasan antara orang tua mereka kemudian lebih cenderung melakukan kekerasan terhadap pasangannya ketika mereka dewasa dan harus diperlakukan dengan kekerasan juga oleh pasangan dewasanya daripada anak-anak yang tidak terkena kekerasan; anak-anak yang disiksa secara fisik telah peningkatan tingkat melukai pasangan. Widom (1998) menyimpulkan bahwa masa kanak-kanak yang mengalami proses viktimisasi meningkatkan risiko perilaku kriminal dan mental lainnya masalah kesehatan, namun siklus ''kekerasan tidak deterministik atau tak terelakkan''.
Conclusion
Paparan kekerasan pada keluarga dan komunitas memerlukan bantuan pengemabngan pada anak-anak yang mengalami hal tersebut. Model penjelasan faktor individu sangat penting untuk dilakukan dalam hal melawan efek dari kekerasan yang perlu untuk ditangkal. Meskipun penelitian sebelumnya telah menekankan apa yang salah dengan anak-anak yang telah mengalami kekerasan, fokus pada anak-anak adaptasi yang sukses adalah sama pentingnya. Ketahanan paparan tersebut adalah fungsi dari bagaimana anak-anak mengelola dan memotong rantai pendek negatif reaksi, misalnya, melalui pemecahan masalah yang efektif, mendukung tanggapan dari keluarga atau teman-teman, dan kesempatan untuk sukses di sekolah.
27
II.B, Kerangka Konsep 1. Anak
Anak adalah individu yang berada di bawah usia legal mayoritas, yaitu usia dimana seseorang tidak lagi dianggap sebagai minor dan sudah mencapai masa kedewasaan. Konvensi PBB tentang Hak Anak mengatakan bahwa anak berarti setiap manusia di bawah umur 18 tahun, kecuali menurut undang-undang yang berlaku pada anak, kedewasaan dicapai lebih awal.4
Batas usia yang ditetapkan untuk menentukan bahwa seseorang dikatakan masih anak-anak ataupun tidak sangatlah kabur di Indonesia:5
UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatakan bahwa syarat usia perkawinan 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki,
UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak mendefinisikan anak berusia 21 tahun dan belum pernah kawin,
UU No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak mendefinisikan anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah berusia delapan tahun, tetapi belum mencapai 18 tahun dan belum pernah kawin,
UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia mendefinisikan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun dan belum pernah kawin,
UU. No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan memperbolehkan usia 15 tahun untuk bekerja,
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memberlakukan wajib belajar 9 tahun, yang dikonotasikan menjadi anak berusia 7 sampai 15 tahun,
UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak mengatakan bahwa anak adalah seorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang berada dalam kandungan,
4
M. Nasir Djamil. 2013. Anak Bukan Untuk Dihukum. Jakarta : Sinar Grafika, hlm. 10
5
28
UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak mengatakan bahwa penahanan terhadap anak hanya dapat dilakukan dengan syarat anak telah berumur 14 tahun atau lebih dan diduga melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara 7 tahun atau lebih.6
Untuk membatasi definisi, kami menggunakan definisi yang terdapat pada UU No 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak (mengatakan bahwa anak adalah seorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang berada dalam kandungan). Ringkasan Pedoman Kerja Bagi Anak-anak : Divisi Pemeriksaan Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja, Hong Kong7 Berdasarkan Peraturan Kerja, pengertian “Anak –anak” ditentukan sebagai seseorang yang berusia dibawah 15 tahun.
Konvensi Hak Anak, Pasal 1: Seorang anak berarti setiap manusia di bawah umur delapan belas tahun kecuali menurut undang-undang yang berlaku pada anak, kedewasaan dicapai lebih awal.
Konvensi Kementrian Pengembangan Perempuan dan Anak India. (India: First Periodic Report on CRC)8 dalam Bab 2, pasal 1 : A “child” as every human being below the age of 18 years, it allows for minimum ages to be set, under different
circumstances, balancing the evolving capacities of the child with the State‟s
obligation to provide special protection. Accordingly, Indian legislation has minimum ages defined under various la ws related to the protection of child rights.”
Family Code: The Child Relationship And The Suit Affecting The Parent-Child Relationship9, Sec. 101.003 “Child" or "minor" means a person under 18 years of age who is not and has not been married or who has not had the disabilities of ion.pdf 22 Februari 2014 pukul 21:00
8
Diakses dalam http://wcd.nic.in/crcpdf/crc-2.pdf pada 22 Februari 2014 pukul 22:26
9
Family Code Ch.1 , Definitions. Texas Constitution and Statutes. Diakses dari
http://www.statutes.legis.state.tx.us/SOTWDocs/FA/htm/FA.101.htm pada 22 Februari 2014 pukul
29
30
2. Kekerasan dalam rumah tangga
Kekerasan domestik terdapat banyak sekali definisinya. Oleh karenanya, penulis mengambil beberapa definisi yang sekiranya relevan dengan apa yang ingin penulis capai
Menurut Departemen Kehakiman, Amerika Serikat, kekerasan dalam rumah tangga yakni “a pattern of abusive behavior in a ny relationship that is used by one partner to gain or maintain power and control over another intimate partner.”10 Di mata hukum, definisi dari kekerasan dalam rumah tangga hanya berfokus pada kekerasan fisik dan yang mengakibatkan perlukaan pada bagian fisik pasangan.11
II.C. Kerangka Konsep
Tahun 1989, Majelis Umum PBB menyelesaikan dan meratifikasi Konvensi Hak Anak. KHA mengandung hal-hal penting seperti yang diungkapkan dalam Hak Asasi Manusia yang mengandung 54 pasal. Terdapat empat isu utama yang ingin diangkat dalam konvensi ini, yaitu non-diskriminasi, kepentingan yang terbaik bagi anak, hak hidup, serta kelangsungan tumbuh-kembang serta penghargaan bagi anak.
Empat prinsip tersebut tertuang jelas dalam beberapa pasal dalam Konvensi Hak Anak. Hak untuk bebas dari diskriminasi yang tertuang dalam pasal 2 : “ Negara-negara peserta akan menghormati dan menjamin hak-hak yang diterapkan dalam konvensi ini bagi setiapanak yang berada dalam wilayah hokum mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun, tanpa memandang ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik atau pandangan-pandangan lain, asal-usul kebangsaan, etnik atau sosial, status kepemilikan, cacat atau tidak, kelahiran atau status lainnya baik dari si anak sendiri atau dari orang tua atau walinya yang sah”. (Ayat 1). “Negara-negara peserta akan mengambil semua langkah yang perlu untuk
10
Diakses dari http://www.ovw.usdoj.gov/domviolence.htm pada 30 Mei 2014 pukul 21:30
11
31
menjamin agar anak dilindungi dari semua bentuk diskriminasi atau hukuman yang didasarkan pada status, kegiatan, pendapat yang dikemukakan atau keyakinan dari orang tua anak, walinya yang sah atau anggota keluarga”. (Ayat 2).
Dalam pasal 3 ayat 1, “dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh lembaga-lembaga kesejahteraan sosial pemerintah atau badan legislatif. Maka dari itu, kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.” Pasal ini dimaksudkan untuk anak dapat terlibat dalam setiap kebijakan yang dibuat. Anak tidak berada dalam posisi yang dirugikan atas apa yang dilakukan oleh orang dewasa.
Hak untuk hidup, berkelangsungan, dan perkembangan. Hak ini senada dengan pasal 6, yaitu (1) negara-negara peserta mengakui bahwa setiap anak memiliki hak yang melekat atas kehidupan. (2) Disebutkan juga bahwa negara-negara peserta akan menjamin sampai batas maksimal kelangsungan hidup dan perkembangan anak.
Penghargaan untuk tiap pendapat anak penting untuk dilakukan dengan harapan mereka akan belajar untuk berbicara dan mengutarakan pendapat serta orang dewasa tidaklah mengambil keputusan secara sepihak menyangkut apapun terhadap anak. Hal ini senada dalam pasal 12 KHA, yaitu “Negara-negara peserta akan menjamin agar anak-anak yang mempunyai pandangan sendiri akan memperoleh hak untuk menyatakan pandanganpandangannya secara bebas dalam semua hal yang mempengaruhi anak, dan pandangan tersebut akan dihargai sesuai dengan tingkat usia dan kematangan anak”.
32
Banyak sekali bentuk kontrol dan intimidasi yang bisa dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap pasangannya, misalnya dengan “penghancuran” rumah yang mereka huni bersama. Permempuan menemukan dirinya dalam posisi tidak dapat berbuat apa-apa dikarenakan beberapa faktor, seperti sulit untuk hidup secara mandiri dengan kondisi keuangan yang dimilikinya sendiri dan memikirkan kondisi anak-anaknya jika tidak bersama dengan pasangannya sekarang.12
Dalam konteks Indonesia, Soeroso (2010) juga menjelaskan bahwa penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dapat digolongkan menjadi dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor-faktor di luar diri si pelaku kekerasan. Individu yang tidak memiliki perilaku agresif dapat melakukan tindak kekerasan bila berhadapat dengan situasi yang menimbulkan frustasi, misalnya kesulitan ekonomi yang berkepanjangan atau perselingkuhan yang dilakukan suami atau istri. Faktor internal menyangkut kepribadian dari pelaku kekerasan yang menyebabkan ia mudah sekali melakukan tindak kekerasan bila menghadapi situasi yang menimbulkan13
Kebanyakan perempuan yang mengalami masalah dalam kekerasan di rumah tangga, mengelami lebih dari satu jenis kekerasan misalnya fisik dan psikologis yang dilakukan oleh pasangannya. Tidak jarang, apabila anak-anak mereka sedang berada di rumah, anak-anak dapat melihat apa yang sedang dilakukan oleh orang tua mereka. Bentakan dan teriakan tidak jarang ditemukan dalam kondisi keluarga yang tengah didera masalah kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini yang menjadi fokus utama dari tulisan ini, yakni implikasi bagi anak-anak yang terpapar kekerasan dalam rumah tangga.
12
McGee, Caroline. 2000. Childhood Experiences of Domestic Violence. United Kingdom: Jessica Kingsley Publishers. Hlm 34
13
33
BAB III
Metode Penelitian
A. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Menurut Ragin (1994:92), metode kualitatif sangat berbeda dengan metode kuantitatif dalam hal perbedaan kualitatif melihat data sebagai sesuatu yang lebih besar, dapat dipergunakan untuk menganalisa permasalahan penelitian dan melihat masalah penelitian dari segala sisi.14
Kualitatif dalam kriminologi pertama kali dipergunakan di Amerika Serikat dalam pekerjaan Chicago School. Mereka menggunakan teknik etnografi dan ekologis dalam memecahkan masalah sosial mengenai kejahatan.15
B. Jenis Penelitian B.1. Tujuan Penelitian
Penelitian deskriptif yang biasa disebut juga dengan penelitian taksonomik. Dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan klarifikasi mengenai satu fenomena atau kenyataan sosial.16
B.2. Manfaat Penelitian
Penelitian terapan dengan kegunaan dan penerapan pengetahuan. Fokus utama adalah memproduksi pengetahuan yang praktis dan memiliki aplikasi langsung untuk menekan masalah masyarakat luas atau publik. Dirancang untuk
14
Neuman, W. Lawrence. (2006). Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches 6th Edition. USA: Pearson Education. Hlm. 14
15
Lesley Noaks dan Emma Wincup. 2004. Criminological Research: Understanding Qualitative Methods. SAGE Publication. Hlm. 6
16
34
keterlibatan orang banyak, organisasi, dan kepentingan untuk menginformasikan pelayanan manusia, kebijakan publik dalam skala lokal-nasional-internasional.17
B.3. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan selama 2 hari. Dibagi menjadi dua tahap, yakni observasi dengan menjalani kegiatan satu hari bersama dengan informan pada tanggal 28 Mei 2014 dan melakukan wawancara pada tanggal 29 Mei 2014 yang bertempat di salah satu tempat makan di pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Selatan.
B.4. Teknik Pengumpulan Data Teknik wawancara
Pertanyaan diajukan secara lisan (peneliti bertatap muka dengan informan). Dalam wawancara alat pengumpul data disebut sebagai pedoman wawancara yang dipergunakan untuk mewawancarai dan menjelaskannya kepada informan.18
Teknik observasi
Metode ini menggunakan pengamatan dan penginderaan langsung terhadap suatu benda, kondisi, situasi, proses, atau perilaku.19
C. Alasan Pemilihan Informan
Informan merupakan salah satu siswa yang menduduki usia 17 tahun dan merupakan orang yang bersedia untuk menceritakan pengalaman pribadi masa lalunya kepada peneliti secara terbuka dikarenakan telah mengenai peneliti sebelumnya dalam sebuah kesempatan acara.
17 Given, Lisa M. (2008). The SAGE Encyclopedia of Qualitative Research Methods. Australi: SAGE Publication, Inc. Hlm 17
18
Faisal, Sanapiah. (1992). Format-Format Penelitian Sosial: Dasar-dasar dan Aplikasinya. Jakarta: CV Rajawali. Hlm 52
19
35
Tidak hanya itu, informan juga merupakan sosok individu yang dapat dengan mudah bercerita mengenai dirinya tanpa perlu mengenalnya lama. Kedekatan peneliti dengan informan, tidak membuatnya canggung untuk membagi masa lalunya.
D. Teknik Analisa Data
Peneliti mengelompokkan data-data (berupa transkrip wawancara) ke dalam beberapa kategori berdasarkan pemaknaan yang dianalisa oleh peneliti lewat semiotik (analisa simbol). Tahap ini disebut juga tahap coding.20 Analisa ini dipergunakan untuk mereduksi data yang tidak diperlukan dan menjadikan data menjadi lebih mudah dipahami maknanya.
Analisa konten merupakan salah satu metode independen dari perspektif teoritis yang bermula dari metode kuantitatif. Dalam analisa isi kualitatif dapat membantu pertanyaan “mengapa” dan menganalisa persepsi. Secara luas dapat diterapkan di dalam ilmu sosial yang setiap kali data tekstual dianalisis.
Interpretatif dalam konteks analisa isi adalah yang melibatkan membaca secara „dekat‟ dengan teks. Menggunakan pendekatan analitik konten dengan mengenali teks yang terbuka untuk subyektif interpretasi, mencerminkan beberapa arti, dan tergantung konteks. 21
20
Neuman, W. Lawrence. (2006). Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches 6th Edition. USA: Pearson Education. Hlm. 460
21
36
BAB IV
TEMUAN DAN ANALISA DATA
A, Deskripsi Temuan Data
Informan yang peneliti wawancarai berusia 17 tahun dengan latar belakang pendidikan baru saja lulus SMA. Ia memiliki latar belakang sebagai anak yang memiliki paparan kekerasan domestik atau rumah tangga, semasa kecil yakni ketika ia berusia 6 hingga 10 tahun. Informan didapat dari kontak gatekeeper peneliti dengan salah satu siswi SMA yang menjadi teman sekolahnya tersebut.
Informan merupakan sosok yang baik hati, pintar dan tangkas. Menurutnya, meskipun ia memiliki masa lalu yang cukup sulit, namun masa depannya belum tentu sama sulitnya dengan apa yang pernah dialami. Sehingga sampai sekarang, ia masih dengan mudah bercengkrama dengan orang lain, bahkan ketika baru bertemu seperti dengan peneliti.
Selain itu, informan merupakan sosok remaja laki-laki pada umumnya, memiliki kesukaan kepada sepak bola, nongkrong dengan teman-temannya. Di kala di rumah, ia lebih senang untuk bermain dengan gadget yang ia punya, sehingga ada perbedaan asosiasi antara ia yang berada di rumah dengan ia yang berada di lingkungan luar rumah.
37
Untuk melakukan triangulasi, peneliti melakukan wawancara dengan kerabat dari informan, yakni kakek dan nenek informan. Informan tinggal bersama kakek dan neneknya, peneliti lakukan wawancara juga untuk melakukan crosscheck terkait beberapa pernyataan informan yang dilontarkan saat wawancara.
B. Analisa Data
Hampir tiga juta anak setiap tahunnya mengalami kekerasan fisik maupun seksual. Mereka mengalami trauma bahkan hingga menyebabkan kematian. Anak-anak yang menjadi korban ini membutuhkan intervensi medis, perawatan dan perlindungan yang memadai bagi mereka. Bentuk kekerasan fisik yang mereka alami beragam. Selama dua puluh tahun terakhir ini banyak pusat advokasi anak yang memerjuangkan hak-hak anak. Namun selain itu, pusat ini juga berperan dalam melakukan investigasi terhadap anak-anak yang dinilai mengalami masalah pada diri mereka. Masalah yang mereka alami baik itu berupa pelanggaran, maupun tindakan kenakalan lainnya.22
Menurut informan, terdapat beberapa hal yang menjadi catatannya ketika ia tidak merasa menjadi korban. Ia memang merasa diabaikan oleh orang-orang yang berada di keluarga dan lingkungan rumahnya.
“Mostly karena pengalaman buruk gue waktu kecil kali ya, jadi pas gue kecil, orang tua gue sering berantem. Berantemnya mereka juga ngga main-main sih, sampe sempet ada bagian dimana gue sa ma a dek gue disuruh milih mau ikut siapa. Padahal coba lo bayangin deh, umur gue baru 7 tahun dan lo disuruh
milih mau ikut siapa? For God‟s sake! Orang tua kok begitu.”
22
38
Di dalam obrolan yang terjadi antara peneliti dan informan, terdapat beberapa cerita yang diungkapkan oleh informan bahwa ia tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukan dari orang tua (pihak laki-laki) kepada pihak perempuan sebagai tindak kekerasan. Hal ini dikarenakan scoop pengetahuan yang belum memadai dan sikap dari kedua orang tuanya yang selalu menyembunyikan apa yang sesungguhnya terjadi. Sehingga anak-anak tidak dapat mendefinisikan secara jelas apa itu kekerasan dalam rumah tangga dan apakah ia menjadi korban diantaranya.23
Penelitian mengenai anak yang terpapar kekerasan dalam rumah tangga meningkat secara eksponensial dengan penelitian yang dilakukan oleh Holden, et.al tahun 1998 yang memeriksa publikasi artikel dalam rentang 1975 hingga 1995 mengenai anak-anak yang terkena kekerasan dalam rumah tangga dengan hasil selama rentang waktu tersebut, hampir lima kali lebih banyak anak yang terkena kekerasan dalam rumah tangga.24 Penelitian ini berkolerasi dengan dampak yang dapat diterima oleh anak apabila ia terpapar kekerasan dalam rumah tangga secara terus-menerus.
Informan yang diwawancarai oleh peneliti, memiliki efek dalam jangka pendek sebagai akibat dari tindakannya untuk berpergian berdua saja dengan adiknya untuk menjemput bude mereka (yang kebetulan tinggal satu komplek dengan keluarga mereka)
“Masih bikin mau nangis dan merinding sampe seka rang kalo inget kejadian yang itu.”
Rasa sedih hingga merinding inilah yang menurut Fantuzzo dan Mohr (1990) menjadikan anak-anak lebih inklusif dan tidak membuat asumsi khusus dari
23
Gordis, Elana B. dan Gayla Margolin. 2004. Childre ’s Exposure to Violence in the Family and Community. Current Directions in Psychological Science, SAGE Publication.
24
39
pengalaman anak-anak dengan kekerasan.25 Seringkali anak-anak dianggap sebagai penerima pasif dari sebuah tindakan kekerasan. Padahal anak-anak menjadi penerima aktif dari sebuah tindakan pengalaman kekerasan dapat membekas dalam diri mereka dan menjadi salah satu pengalaman tidak terlupakan.
Tidak hanya itu, apabila seorang ibu yang menerima kekerasan dalam rumah tangga dari suaminya, hal ini dapat berdampak bagi sang anak. Bagi informan, ia merasa terkucil dan tidak mampu untuk membela ibunya dari tindakan yang dialaminya dari suaminya.
“Dan juga, orang tua kalo lagi berantem, lebih sering nyokap yang kena bogem mentah dari bokap. Bogem mentahnya di sini bebas deh lo artiin apa aja, karena memang begitu dulu adanya. Pernah sekali wa ktu, gue liat nyokap dipukul pa ke gesper sampe bagian tengkuknya membiru. Perna h juga gue liat nyokap dijedotin ke tembok.”
“Gue bingung mendefinisikan tindakan gue itu sebagai apa, tapi satu hal yang pasti adalah gue melakukan itu karena udah ngga tahan sama kondisi rumah yang selalu bertengkar. Gue ngga sanggup lihat nyoka p gue yang selalu kena hajar da ri bokap. Gue yang jadi anak laki-laki pertama tapi ngga bisa ngelindungin nyokap dari tangan dingin bokap dan melakukan apa ya ng seharusnya dilakukan oleh anak laki-laki. Gue tertekan waktu itu….”
Penelitian yang dilakukan terakit dengan tema ini menyimpulkan bahwa paparan kekerasan dalam rumah tangga memiliki kemungkinan kuar dalam merugikan anak sehingga menimbulkan kemungkinan besar agresi, depresi, kemarahan, kecemasan.26 Depresi dan rasa agresi yang sempat terjadi pada informan, sehingga menimbulkan
25
Ibid
26
40
keinginannya untuk melakukan tindakan yang tidak sepatutnya, seperti menyayat tangannya sendiri.
“Wah, itu pas gue di umur 10 tahun kali ya, gue ngga sanggup lagi ngadepin omelan dan celotehan mereka. Mereka bisa saling ancam untuk membunuh. Gue cuma bisa nangis di ka mar dan pernah satu kali gue melakukan percobaan
penyayatan pergelangan tangan, waktu itu gue ditemuin di kamar mandi sama
mbak gue dan langsung dibawa ke Rumah Sakit.”
Selain itu, menurut penuturan orang terdekat dari informan, yakni Neneknya. Informan dulu merupakan tipe individu yang pendiam, jarang bergaul dan lebih suka bermain dan sibuk dengan dunianya sendiri.
“Tidak ada… (berpikir sejenak). Dulu ketika bersama dengan orang tuanya,
ia merupakan anak yang pendiam, hanya menurut saja jika dibilang oleh orang tua. Namun sekarang ia menjadi lebih aktif dan supel kepada setiap orang”
Perubahan yang dialami oleh informan, dibawa oleh dua tahap penting dalam perubahan masa kelam kanak-kanaknya, yakni ketika ia memiliki psikolog sendiri yang dapat mendengarkan keluh-kesahnya sehari-hari secara lebih relevan dan memberikan nasihat apa yang memang ia butuhkan serta perginya ia dari rumah orang tuanya yang menurutnya membuat ia merasa tertekan.
Rasa tertekan yang didapatkan oleh informan merupakan salah satu contoh dari konsekuensi kekerasan dalam rumah tangga yang mana anak menjadi terpapar karenanya Informan mendapatkan salah satu akibat dari bentuk kekerasan dalam rumah tangga, yaitu jeweran dari ayahnya ketika ia hendak membela ibunya.
41
dan di kela s 2-nya gue malah peringkat 7. Kena omelan lagi da ri bokap dan malah bokap komentar yang nyindir nyokap gue. Gue inget banget waktu itu gue
belain nyokap dengan bilang „Papa ngga boleh gitu sama Mama‟ eh malah gue
yang habis dijewer sa ma beliau.”
Dalam kasus informan ini, peneliti belum melihat adanya integrasi khusus antar lembaga di Indonesia dalam menangani anak-anak yang mempunyai pengalaman untuk terpapar kekerasan domestik. Acapkali, keluarga masih harus berjibaku seorang diri dan melakukan masa penyembuhan – reintegrasi kembali ke masyarakat secara sendiri-sendiri. Dalam keluarga informan, hal yang dilakukan adalah dengan pelibatan pekerja sosial, yakni seorang psikolog.
Layanan perlindungan anak dapat memberikan intervensi yang ditargetkan untuk anak-anak yang menjadi paling beresiko berbahaya dan bertujuan dalam mengurangi paparan kekerasan pada anak serta memastikan keselamatan mereka.27 Di sisi lain, kurang adanya perhatian dan pengawasan dari lembaga terkait pelayanan perlindungan anak, menyebabkan masih belum maksimalnya hal yang sebetulnya masih bisa diintervensi oleh pemerintah selain mendirikan layanan korban kekerasan dalam rumah tangga.
Implikasi yang dirasakan oleh informan sudah cukup baik untuk dilewati sebelumnya karena menurut penuturan dari neneknya, sekarang ia sudah berubah menjadi sosok yang lebih ceria dan dapat bergaul dengan siapa saja. Berbeda dari yang dahulu, ketika ia masih tinggal dengan orang tuanya, karena ia menjadi sosok anak yang pendiam dan suka menyendiri. Pola perubahan ini yang dapat disimpulkan sebagai suatu dampak positif dari adanya kehadiran psikolog dan kepindahannya ke tempat nenek dan kakeknya.
42
“Iya, dokter Ira cukup membantu Dewa untuk menjadi anak yang seperti sekarang. Dewa menjadi anak yang rajin dan aktif tentu membutuhkan banyak dukungan dan bantuan dari segala pihak yang menyayanginya, salah satunya psikolognya itu”
Orang tua, terlebih ibu dari informan mencoba untuk memahami kebutuhan anaknya untuk bisa bercerita dan bertumbuh-kembang sesuai dengan anak-anak di usia lain yang sedang senang-senangnya untuk bermain dan mencoba hal baru. Rasa trauma dan takut dicoba untuk dihilangkan oleh ibu informan dengan mengikutkannya pada satu sesi psikolog dengan warna di ruang kerja yang informan sukai. Hal ini cukup membantu informan dalam mengatasi permasalahan tekanana psikis dan sosial yang tengah dialami olehnya.
C. Diskusi
Selain menunjukkan informan sangat rentan terhadap paparan kekerasan dalam rumah tangga serta dampaknya, perlu diadakan satu intervensi kebijakan dalam skala yang lebih besar untuk mencoba mengintegrasikan lembaga pelayanan terkait dalam hal ini. Perlu adanya peran serta keluarga dalam hal pemberian dukungan untuk merubah anak-anak yang terpapar kekerasan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya dan dapat memperoleh masa depan yang lebih cerah.
Lebih dari 57% kasus pelanggaran hak asasi manusia, menimpa anak-anak dan belum mendapatkan penanganan serius.28
28
43
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN
Informan dalam penelitian ini telah terpapar lebih dari dua jenis kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh ayah kepada ibunya, ketika ia masih kecil seperti pukulan, sabetan dengan gesper, dll. Hal ini sempat membuatnya menjadi anak yang pemurung, pendiam dan kurang suka bergaul. Beberapa kejadian yang menjadi pemicu dari kekerasan dalam rumah tangga di keluarganya, masih membuatnya merinding dan selalu ingin menangis. Namun ia berhasil mengatasi itu semua dengan bantuan dukungan dari psikolog dan keluarga dekatnya (dalam hal ini adalah kakek dan neneknya). Banyak anak yang memiliki masalah yang sama seperti informan dalam penelitian ini, namun mereka tidak memiliki akses yang lebih untuk bisa berubah dan mengakses lembaga yang mungkin bisa membantu mereka untuk berubah.
SARAN
1. Membangun pusat bantuan terintegrasi bagi anak-anak yang terpapar kekerasan dalam rumah tangga
44
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal
Gordis, Elana B. dan Gayla Margolin. 2004. Children‟s Exposure to Violence in the Family and Community. Current Directions in Psychological Science, SAGE Publication.
Laura J. Hickman et.al. 2012. How Much Does “How Much” Matter? Assessing
the Relationship Between Children‟s Lifetime Exposure to Violence and Trauma
Symptoms, Behavior Problems, and Parenting Stress. Journal of Interpersonal Violence, SAGE Publication.
Nick Stanley, et.al. 2011. Children‟s Experiences of Domestic Violence: Developing an Integrated Response Form Police and Child Protection Service. SAGE Publication.
Overlien, Carolina. 2010. Children Exposed to Domestic Ciolence: Conclusions from the Literature and Challenge Ahead. Journal of Social Work, SAGE Publication.
Salter, Michael. 2013. Multi-Prepetator Domestic Violence. Trauma Violence Abuse, SAGE Publication.
Megan H. Bair-Merritt, Mercedes Blackstone and Chris Feudtner. 2006. Physical Health Outcomes of Childhood Exposure to Intimate Partner Violence: A Systematic Review. Journal of Pediatrics.
Margaretha, Rahmaniar Nuringtyas, dan Rani Rachim. 2013. Childhood Trauma of Domestic Violence and Violence in Further Intimate Relationship. UI Journal: Makara Seri Sosial Humaniora
Buku
45
Faisal, Sanapiah. 1992. Format-Format P enelitian Sosial: Dasar-dasar dan Aplikasinya. Jakarta: CV Rajawali.
Given, Lisa M. 2008. The SAGE Encyclopedia of Qualitative Research Methods. Australia: SAGE Publication, Inc.
Global Protection Center. 2011. Vulnerabilities, Violence, Serious Violations of Child Rights.
Hester, Marianne, et.al. 2008. Making an Impact: Children and Domestic Violence A Reader. England: Authenaum Press.Humphrey,
Holt, Buckley, & Whelan. 2008. The Impact of Exposure To Domestic Violence on Children and Young People: A Review of The Literature. US National Library of Medicine - National Institutes of Health.
Lesley Noaks dan Emma Wincup. 2004. Criminological Research: Understanding Qualitative Methods. SAGE Publication.
M. Nasir Djamil. 2013. Anak Bukan Untuk Dihukum. Jakarta : Sinar Grafika. McGee, Caroline. 2000. Childhood Experiences of Domestic Violence. United Kingdom: Jessica Kingsley Publishers.
Neuman, W. Lawrence. 2006. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches 6th Edition. USA: Pearson Education.
Publikasi Online
Departement of Justice, United States of America. “Domestic Violence”. http://www.ovw.usdoj.gov/domviolence.htm pada 30 Mei 2014 pukul 21:30
Department of Labour, United Kingdom. “Guide Employment Children Regulation”
http://www.labour.gov.hk/eng/public/lid/BahasaIndonesiaConciseGuideEmployment ChildrenRegulation.pdf 22 Februari 2014 pukul 21:00
46
47
LAMPIRAN
I. Wawancara dengan informan anak Peneliti : A
Informan : B
A: “Selamat siang, saya salah satu mahasiswa dari Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, departemen kriminologi, sedang melakukan penelitian sebagai pemenuhan tugas akhir semester saya mata kuliah kenakalan anak. Kira-kira bisa minta waktunya sebentar ngga?”
B : “Oh, bisa… bisa. Tapi ngga apa-apa kan kalo kita ngobrolnya sembari makan? Gue laper banget soalnya”
(tertunda tiga menit untuk peneliti dan informan memilih menu makanan) B : “Oke, siap. Jadi apa nih yang perlu gue bantuin?”
A : “Simpel sih, mau tanya-tanya mengenai pengalaman di masa kecil, gimana kondisi rumah ketika orang tua sedang berantem dan hal-hal seperti itu. Keberatan ngga?”
B : “Nope. Not at all. Gue malah seneng untuk ditanyain seperti ini, biar banyak orang yang bisa belajar juga dari pengalaman gue”
A : “Good one. Okedeh, berarti nanti bersedia ya untuk diwawancara dan hasil penelitian ini ngga akan mengungkapkan identitas kamu serta memberikan keleluasan bagi kamu untuk melakukan koreksi dari kalimat yang nanti diucapkan.”
B : “Tentu aja. Gue perlu tanda tangan sekarang?”
48
A : “Pertama, bisa kasih tau data diri lo kali ya, menceritakan lo dari sudut pandang lo pribadi gitu hehe”
B : “Oke, tapi ngga perlu pake nama panjang dan asli kan ya? Karena percuma bakal lo samarkan juga, haha. Hm (hening sekitar 10 detik) gue anak pertama dari 3 bersaudara. Sekarang ini berstatus pengangguran terselubung sejak lulus SMA dan nunggu pendaftaran ulang di kampus lu juga.”
A : “Oh iya? Lo masuk apa?”
B : “Gue di FT, Teknik Industri hehehe. Doain yak biar selamet selama ospeknya.”
A : “Sabi, pasti kok. Eh by the way, balik lagi ke topik. Belum secara penuh nih menceritakan mengenai diri lo.”
B : “Hahaha. Sorry sorry. Lanjutnya, gue golongan darah B. Tinggal di daerah Ragunan bareng kakek dan nenek. Dulu sempet tinggal sama orang tua di daerah Cibubur, Cuma gue ngga betah akhirnya balik lagi ke rumah kakek dan nenek.”
A : “Hoo… Kenapa gitu ngga betah sama orang tua?”
B : “Mostly karena pengalaman buruk gue waktu kecil kali ya, jadi pas gue kecil, orang tua gue sering berantem. Berantemnya mereka juga ngga main-main sih, sampe sempet ada bagian dimana gue sama adek gue disuruh milih mau ikut siapa. Padahal coba lo bayangin deh, umur gue baru 7 tahun dan lo disuruh milih mau ikut siapa? For God‟s sake! Orang tua kok begitu.”
A : “Ceritanya waktu itu kayak gimana?”
49
adik gue harus banget berjalan berduaan doang untuk nurutin maunya bapak gue.”
A : “Lalu, lo sama adek gimana?”
B : “Sampe dengan selamet sih di rumah bude gue. Cuma itu jadi kejadian yang paling ngebekas buat gue. Masih bikin mau nangis dan merinding sampe sekarang kalo inget kejadian yang itu. Dan juga, orang tua kalo lagi berantem, lebih sering nyokap yang kena bogem mentah dari bokap. Bogem mentahnya di sini bebas deh lo artiin apa aja, karena memang begitu dulu adanya. Pernah sekali waktu, gue liat nyokap dipukul pake gesper sampe bagian tengkuknya membiru. Pernah juga gue liat nyokap dijedotin ke tembok.”
(informan menghela napas sekitar 2 menit, mengambil jeda)
B : “Dulu pas gue kecil, gue udah lumayan ngerti bokap nyokap sedang berantem, yaudah gue jadinya diem aja di kamar. Ngga mau keluar atau ngapa-ngapain, tapi kan kalo adek-adek gue engga. Mereka masih kecil dan butuh perhatian dari orang tua gue.”
A : “Adek-adek lo umur berapa waktu itu?”
B : “Anak kedua, umurnya 5 tahun dan yang anak ketiga umurnya 3 tahun. Jadi gue semua berselang 2 tahun. Katanya sih nyokap bokap gue ikutan KB dan diatur gitu biar lebih mudah ngurusin keuangan ke depannya (tertawa)”
A : “Pas orang tua lagi berantem, adek-adek sama siapa yang jagain di rumah?”
B : “Gue kan diem di kamar. Mbak sih yang ngurusin mereka. Untung Mbak di rumah cukup dekat dengan gue dan adek-adek gue, sepertinya beliau juga udah ngerti sama kondisi rumah. Jadinya langsung sigap aja ngurusin kami.”