Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan hidayahnya membantu kita menuntaskan Tugas Akhir Semester Paper Pengantar Penerbitan untuk mata kuliah
Pengantar Penerbitan. Sholawat serta salam juga semoga terlimpahkan kepada junjungan nabi besar kita
Muhammad SAW.
Industri penerbitan bukan sekedar industri yang berorientasi profit semata. Lebih daripada itu, penerbitan mempunyai tanggung jawab moral untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dengan produk-produk yang dihasilkannya. Meskipun penerbitan mempunyai peranan yang cukup vital bagi kemajuan bangsa dan negara, namun industri penerbitan sendiri masih jarang diketahui oleh masyarakat. Masyarakat lebih sering tahu produk-produk penerbitan seperti buku pelajaran, novel maupun buku ilmu pengetahuan lainnya tanpa tahu bagaimana produk itu semua dibuat. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu selesainya paper ini terutama Bapak Jimmy Paat selalu dosen pengantar penerbitan.
Disusunnya makalah ini selain untuk memenuhi Tugas Akhir Semester mata kuliah Pengantar Penerbitan juga sebagai wawasan tambahan mengenai industri penerbitan. Semoga dengan selesainya makalah ini dengan serta merta membawa manfaat bagi penulis maupun pembaca.
Saya sadar di dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Maka dari itu kami terbuka dengan saran maupun masukan dari berbagai pihak.
Jakarta, 15 Oktober 2014
Daftar Isi
Bab II Sejarah Penerbitan di Indonesia...3
II.I Pembagian Sejarah Penerbitan di Indonesia...3
II.II.I Zaman Kolonial Belanda...3
II.II.II Zaman Balai Pustaka ...4
I II.II.III Zaman Peranakan Tionghoa...5
II.II.IV Zaman Peranakan IIKAPI...6
IV.II Jenis Penerbit Berdasarkan Waktu Terbit...12
BAB I
PENGERTIAN PENERBITAN
I.I
Pengertian Penerbitan
Penerbitan adalah kegiatan intelektual dan profesional dalam menyiapkan naskah, menyunting naskah, menghasilkan berbagai jenis bahan publikasi kemudian memperbanyak serta menyebarluaskannya untuk kepentingan umum. Penerbitan merupakan proses panjang yang melibatkan banyak waktu dan orang untuk mengolah naskah sampai berbentuk dummy. Sedangkan yang dimaksud dengan penerbit lebih mengacu pada aktivitas manusia sebagai kordinator dalam menyebarluaskan hasil karya dari pihak pengarang. Secara garis besar, penerbitan dibagi menjadi dua bagian besar yakni penerbitan buku dan penerbitan pers. Penerbit buku berkonsentrasi memperbanyak literatur maupun informasi dalam bentuk produk cetak seperti buku. Berbeda dengan penerbit buku, penerbit pers lebih berkonsentrasi pada menyiapkan informasi-informasi aktual yang dapat dinikmati pembaca maupun pemirsa di rumah. Perkembangan teknologi turut memperluas pengertian penerbitan. Penerbitan bukan saja industri penghasil barang cetak, namun penghasil buku-buku elektronik yang kemudian disebut ebook. Begitu pula dengan penerbit pers yang sudah meluas dengan adanya koran maupun majalah online.
Industri penerbitan di Indonesia sedang mengalami perkembangan yang cukup pesat. Makin banyak penerbit-penerbit dengan spesifikasi khusus bermunculan. Misalnya, penerbit buku Islami, penerbit buku pengetahuan dan sebagainya. Belakangan ini juga semakin marak Self Publisher yaitu istilah untuk penerbit yang kecil, dimana penulis dapat menerbitkan bukunya sendiri tanpa harus melalui penerbit yang besar. Munculnya Self Publisher dikarenakan belum adanya aturan yang mewajibkan penerbit memiliki badan hukum sendiri. Artinya setiap orang yang mempunyai kemampuan menerbitkan buku, boleh menerbitkannya tanpa memerlukan izin dari pihak terkait selama masih memperhatikan etika-etika penerbitan.
I.II Perbedaan Penerbitan dengan Percetakan
Penerbitan dan percetakan adalah dua hal yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Meskipun demikian penerbitan dan percetakan itu berbeda. Secara sederhana penerbit bisa dikatakan sebagai industri gagasan sementara percetakan seperti industri biasa yang menggunakan mesin-mesin Mengutip dari buku Taktis Menyunting Buku karya Bambang Trim, perbedaan penerbit dan percetakan adalah sebagai berikut ;.
Penerbitan Percetakan Investasi minim Investasi besar Running by program Running by orde
BEP dalam jangka pendek BEP dalam jangka panjang Margin keuntungan besar Margin keuntungan kecil Resiko : tidak terjual Resiko : kesalahan cetak
Penerbit dan percetakan memiliki hubungan yang erat. Hubungan yang erat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut ;
Penerbit berbeda dengan percetakan karena modal utamanya adalah gagasan yang kemudian diolah menjadi buku siap terbit.
Percetakan modal utamanya adalah mesin-mesin yang digunakan untuk menerima order cetak, termasuk buku.
BAB II
SEJARAH PENERBITAN DI INDONESIA
II.I Pembagian Sejarah Penerbitan di Indonesia
Secara umum, sejarah penerbitan di Indonesia dibagi kedalam empat babak yaitu zaman kolonial Belanda, zaman Balai Pustaka, zaman peranakan china dan zaman Ikatan Penerbit Indonesia atau IKAPI. Berikut adalah penjelasannya.
II.I.I Zaman Kolonial Belanda
• Belanda datang ke Indonesia tahun 1596 yang dipimpin oleh Cornelius De’ Hotman. Dengan kedatangan Belanda ke Indonesia menandai awal industri penerbitan di Indonesia. Saat itu muncul beberapa surat kabar-surat kabar Belanda. Isi surar kabar tersebut biasanya mengenai perniagaan.
• Pada tahun 1624 Belanda mendatangkan mesin cetak ke Indonesia. Mesin cetak tersebut dibawa oleh misionaris gereja. Sayangnya meski mesin cetak sudah didatangkan, mereka masih kekurangan tenaga ahli untuk mengoperasikannya.
• Tahun 1677 terbit kamus Melayu-Belanda pertama yang pernah diciptakan. Kamus yang setebal 35 halaman ini berjudul Vocabulaer Ofte Woordenboeck . Disusun oleh C Will Tens dan S. Dankaert. Kamus ini merupakan kamus Melayu yang tertua.
• Pemerintah Hindia Belanda mendatangkan kembali 2 mesin cetak dari negaranya. Ahli Teologi Tacoo Roorda bahkan membuat mesin cetak menggunakan huruf jawa di percetakan Johannes Ecschehede, Belanda.
• Mulai tahun 1744 sampai 1855 makin banyak surat kabar yang bermunculan. Diantara surat kabar yang muncul pada tahun-tahun tersebut adalah Bataviese Nouvelles, Het Vende News, Bromartani , dan Soerat Kabar Bahasa Melajoe yang terbit di Surabaya tahun 1855. Bromartani adalah surat kabar pertama yang menggunakan bahasa jawa.
lebih banyak daripada yang direncanakan. Oleh karenanya membutuhkan lebih banyak sumber daya manusia.
• Tahun 1910 Komisi mulai merekrut sejumlah ahli bahasa Jawa dan Sunda untuk menerjemahkan berbagai karya asing ke dalam 2 bahasa daerah tersebut. Dalam tempo 6 tahun Komisi berhasil menerbitkan 153 judul buku (95 judul berbahasa Jawa, 54 judul bahasa Sunda). Buku dibagi 3 kategori : seri A (anak-anak), seri B (dewasa), seri C (dewasa dan terpelajar).
II.I.II Zaman Balai Pustaka
• Tanggal 22 september 1917 pemerintah Belanda membentuk lembaga yang kemudian diberi nama Balai Poestaka. Sebagai penghormatan terhadap D.A.Rinkes yang sukses mengelola Komisi Bacaan Rakyat ia dipercaya memimpin Balai Poestaka.
• Untuk memperlancar tugas, Balai Poestaka membentuk 4 divisi, yaitu : redaksi, administrasi, perpustakaan, dan pers. Pada awalnya Balai Poestaka masih mengandalkan percetakan swasta untuk mencetak buku dan majalah terbitannya. Tahun 1921 Balai Poestaka memiliki mesin cetak sendiri. 1930, D.A. Rinkes yang sukses juga mengelola Balai Poestaka dinobatkan sebagai “Bapak Balai Poestaka”.
• Balai Poestaka berhasil menyebarkan buku-buku bacaan kepada masyarakat Hindia-Belanda, dan mampu membantu pengembangan masyarakat, serta dinggap sebagai lembaga yang mempertemukan dunia Timur dan Barat. Beberapa buku terjemahan antara lain: Tiga Panglima Perang (les trois mounquetaires) karya Alexander Dumas ; Kucing Bersepatu Laars (de glaarsde kat); Si Ibu Jari Kecil (klein duimpie). Sedangkan karya anak bangsa sendiri, antara lain: Salah Asuhan (1928), Siti Nurbaya (1922). Balai Poestaka juga menerbitkan majalah Pandji Poestaka, majalah berbahasa jawa “Kejawen” mingguan berbahasa Sunda Parahiangan, serta volksalmanak (almanak rakyat) terbit setahun sekali dalan 3 bahasa: Jawa, Sunda, Melayu.
• Pada saat pemerintahan penajajahan Jepang, Balai Poestakapun masih tetap eksis meskipun namanya berubah. Saat itu nama Balai Pustaka diganti menjadi Gunseikanbu Kokumin
II.I.II Zaman Peranakan Tionghoa
• Tahun 1855 beberapa surat kabar berbahasa Melayu terbit seperti Bulanan Bintang Oetara, Surat Chabar Betawi, mingguan Slompret Melayu, Surat Kabar Bintang Timoer, dan surat kabar mingguan Biang Lala.
• Terbitnya surat kabar mingguan maupun bulanan berbahasa melayu sangat penting bagi peranakan Tionghoa yang merupakan seorang pedagang. Mereka memuat berbagai iklan dalam surat kabar-surat kabar tersebut. Para peranakan Tinghoapun berlomba-lomba untuk belajar bahasa Melayu.
• Minat yang tinggi atas kisah dari tanah leluhur ditanggapi dengan menerjemahkan cerita-cerita asli China. Salah satu yang terkenal adalah Kisah Tiga Negara. Sampai dasawarsa 1880an terdapat sedikitnya 40 karya dari terjemahan cerita-cerita asli China. Hal yang menakjubkan antara 1903-1928 penerbit peranakan China menerbitkan hampir 100an novel karya 12 pengarang peranakan Tinghoa.
III.IV Kelahiran Ikatan Penerbit Indonesia ( IKAPI)
• Terbentuknya berbagai industri penerbitan dan percetakan Indonesia dimasa-masa awal pada dasarnya dilatar belakangi oleh rasa nasionalisme. Dalam wujudnya berupa dunia penerbitan inilah mereka menerapkan idealismenya.
• Ikatan Penerbit Indonesia didirkan atas inisiatif Sutan Takdir Alisyahbanda, Mr Jusuf Ahmad dan Ny. Notosoetardjo. IKAPI menjadi asosiasi profesi penerbit satu-satunya di Indonesia. Pada tanggal 17 Mei 1950 IKAPI resmi berdiri di Jakarta sebagai wadah penerbit di Indonesia yang berazaskan Pancasila, kegotongroyongan dan kekeluargaan. Saat itu IKAPI berhasil menghimpun empat belas penerbit, disusul menjadi 46 penerbit di usia IKAPI yang ke lima tahun.
• IKAPI mempunyai visi menjadikan penerbit Indonesia yang dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan mampu berkiprah di dunia internasional. Di awal pendiriannya IKAPI dipimpin oleh Achmad Notosoetardjo, Ny Sutan Takdir Ali Syahbana sebagai wakil ketua, Machmoed sebagai sekretaris, M. Jusuf Ahmad sebagai bendahara, dan John Sirie sebagai komisaris.
• Setiap tahunnya IKAPI mengadakan kongres. Kongres pertama dilaksanakan di Jakarta tanggal 16-18 Maret 1954. Hasil dari kongres tersebut adalah terbentuknya cabang-cabang IKAPI yaitu di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
BAB III
RUANG LINGKUP PENERBITAN
Penerbitan sebagai industri yang memerlukan banyak sekali waktu dan orang memiliki ruang lingkup yang luas. Dimulai dari penulis, editor, layouter , pencetak buku, sampai distribusikan ke konsumen membutuhkan banyak orang yang berkompeten di dalamnya. Berikut adalah orang-orang yang masuk ke dalam ruang lingkup atau jejaring penerbitan :
III.I Penulis
Penulis atau pengarang adalah pemberi input pada industri penerbitan. Melalui naskah-naskah yang mereka hasilkan lalu dikelola oleh penerbit membuat pembaca atau konsumen bisa menikmati sebuah bacaan yang diinginkan.
Sayangnya profesi penulis masih kurang dianggap populer oleh masyarakat Indonesia. Hanya segelintir orang saja yang menjadikan menulis sebagai ladang penghidupan utama seperti Asma Nadia, Riri Riza dan lain-lain.
Pada ruang lingkup penerbitan yang pertama ini harus kita definisikan tentang penulis itu sendiri. Hal ini penting untuk membedakan antara penulis, penerjemah, penyadur, penghimpun atau ilustrator. Profesi-profesi tersebut berada pada satu ruang lingkup yang sama dengan penulis yakni sebagai penyuplai naskah kepada penerbit.
• Pengarang
Pengarang adalah orang yang menulis tentang gagasan-gagasan atau ide-idenya baik di bidang seni, sastra maupun ilmu pengetahuan yang dituangkan dalam bentuk naskah ataupun buku. Intinya penulis atau pengarang adalah orang yang bertugas menuangkan pokok-pokok pikiran yang orisinil kedalam bentuk naskah.
• Penyadur
• Penerjemah
Penerjemah adalah orang yang mengalihbahasakan sebuah buku berbahasa asing menjadi bahasa yang diinginkan oleh penerbit seperti bahasa Indonesia. Alasan penerbit menterjemahkan buku asing yaitu adanya buku yang dianggap penting oleh penerbit dan harus diterjemahkan secara keseluruhan.
Tidak seperti menyadur yang bisa disesuaikan isinya, menterjemahkan hanya memindahkan bahasa asing menjadi bahasa Indonesia saja. Pihak penerbit maupun penterjemah wajib membeli copyright atau izin dari penulis asli sebelum menterjemahkannya. Jual beli copyright buku banyak dilakukan di acara Book Fair berskala internasional seperti di Jerman, Belanda dan China.
• Ilustrator
Ilustrator adalah orang membuat ilustrasi dari buku-buku yang diterjemahkan agar terlihat menarik. Lebih dari itu Ilustrator adalah orang yang mendesain perwajahan kulit buku ( desain cover ) maupun perwajahan isi. Seorang Ilustrator harus memiliki dasar-dasar disiplin ilmu desain grafis untuk bisa mengatur tata letak atau lay out agar buku tampil secara artistik. Ilustrator tidak bekerja sendiri, dalam kegiatannya ia harus selalu berkordinasi dengan penulis dan editor agar buku yang dihasilkan sesuai dengan harapan.
III.II Penerbit Buku ( Publising House )
a. Pengertian Penerbit
Penerbit buku merupakan lembaga atau institusi yang mengolah naskah mentah dari penulis/pengarang hingga menjadi bahan siap cetak dalam bentuk dummy (prototype buku). Menurut Leksikon Grafika penerbit adalah orang yang berusaha mengeluarkan naskah sebagai barang cetak jadi untuk disebarluaskan. Secara umum penerbit bisa dibedakan menjadi penerbit umum dan penerbit khusus. Penerbit umum artinya menerbitkan buku populer ataupun ilmiah secara umum, sedangkan penerbit khusus adalah penerbit spesialis yang menerbitkan buku-buku khusus seperti buku teks pelajaran, buku perguruan tinggi, buku agama atau rohani maupun buku-buku kedokteran.
buku umum seperti novel fiksi dan lain-lain. Kondisi ini melahirkan banyak imprint (brand penerbitan) semisal Mizan Fantasi yang menerbitkan buku-buku fiksi dari dalam dan luar negeri.
b. Tujuan Penerbitan
Gagasan mendirikan penerbitan tentunya untuk mencapai tujuan tertentu. Ada banyak tujuan yang melatarbelakangi dirikannya penebit. Baik tujuan penerbitan itu sendiri maupun tujuan orang atau lembaga penelitian. Secara umum tujuan penerbitan adalah sebagai berikut ;
• Melakukan penyebaran dan dan pengembangan ilmu pengetahuan • Menyajikan berbagai ilmu pengetahuan melalui produk penerbitan
• Melakukan perdagangan dengan mencari keuntungan penjualan produk terbitannya
c. Tugas Penerbit
Sebagai bagian dari jejarig penerbitan, penerbit mempunyai peran yang sangat vital. Pada dasarya tugas penerbit adalah mengkordinasikan unsur-unsur penerbitan seperti penulis, percetakan, distributor dan lain-lain. Tugas penerbit adalah ;
1.Menggandakan Naskah 2.Mencari pengarang/penulis
3.Memperkirakan biaya produksi (meliputi bahan baku, distribusi dll) 4.Mengestimasi daya jual
5.Menghubungi desainer 6.Hubungi percetakan 7.Promosi dan distribusi 8.Perjanjian penerbit
d. Karakteristik Penerbit Berdasarkan Service Orientation
keinginan calon pembeli atau pembaca berdasarkan kebutuhan atau tren yang sedang berkembang.
e. Self Publishing
Sampai saat ini belum ada aturan yang mewajibkan penerbit untuk berbadan hukum resmi. Artinya setiap orang bisa menerbitkan buku sendiri tanpa memerlukan izin pendirian penerbitan selama masih memegang etika-etika penerbitan. Hal ini yang memunculkan istilah Self Publishing, suatu penerbit yang independen dan tidak berbentuk PT atau badan hukum lainnya.
II.III Percetakan
Setelah penulis mengirim naskah dan diterima oleh penebit, naskah selanjutnya melewati tahap editorial, tahap perwajahan dalam maupun luar sampai disetujui menjadi dummy atau prototype buku oleh dewan redaksi. Setelah sepakat dengan prototype buku yang dikehendaki maka buku siap untuk dicetak oleh pihak percetakan.
Dalam prosesnya percetakan berkordinasi dengan pihak penerbit soal jenis kertas yang dipakai maupun jumlah oplah yang dicetak. Pihak percetakan akan berusaha memaksimalkan hasil cetakan dengan biaya yang seefektif mungkin. Disinilah perlunya kordinasi antara penulis, ilustrator dan dewan redaksi dalam mencetak buku yang terjangkau namun bermutu tinggi.
Percetakan hanya bertanggung jawab pada hasil cetakan bukan pada substansi buku yang bersangkutan. Oleh karenanya sering kita temui kata-kata di dalam buku atau majalah seperti “ Isi diluar tanggung jawab percetakan “. Kata-kata ini sudah memberikan gambaran yang jelas mengenai perbedaan antara penerbit dan percetakan. Penerbit bertanggung jawab atas substansi atau konten buku, sedangkan percetakan bertanggung jawab atas bentuk fisik buku.
II.IV Distributor Buku
sudah memiliki percetakan sendiri, jadi biaya distribusi bisa ditekan dan harga buku menjadi relatif murah.
Dengan wilayah negara Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau, kebutuhan akan percetakan di daerah harus segera direalisasikan demi tersebarnya buku-buku untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.
II. V Agen/Toko Buku/Perpustakaan
Agen atau toko buku adalah tempat bagi para pembaca ataupun konsumen mendapatkan buku yang mereka inginkan. Sekarang banyak sekali toko buku-toko buku bermunculan di Indonesia utamanya di daerah perkotaan. Toko buku Gramedia bahkan sudah ada di hampir seluruh Mall di Indonesia.
Bukan saja toko buku konvensional, toko buku–toko buku online sekarang banyak bermunculan. Beberapa toko buku online yang sudah cukup terkenal diantaranya adalah Gramedia Online, BukaBuku.com, kutubuku.com dan Periplus.com. Media pemasaran dan promosi juga sudah merambah ke sosial media seperti Facebook, Twitter dan Instagram. Toko Buku Online memiliki kelebihan dalam hal kecepatan bertransaksi, kita bisa mencari buku yang kita inginkan hanya dalam sekali klik.
Sayangnya toko buku yang ada di Indonesia masih seperti toko barang lainnya yang membungkus barang dagangannya. Di negara besar seperti Amerika toko buku sudah di desain seperti perpustakaan. Semua buku dapat dibaca karena tidak dilapisi dengan plastik. Bahkan toko buku Borders di Amerika menyediakan kafe untuk istirahat, dan ruang-ruangannya ditata sedemikian rupa membuat pengunjung betah berlama-lama.
II.VI Pembaca
Pembaca adalah sasaran utama dari serangkain proses penerbitan. Melalui para pembaca inilah produk industri penerbitan mendapat respon, penilaian maupun apresiasi. Meskipun perkembangan teknologi yang kian pesat memudahkan manusia mengakses informasi, buku masih tetap menjadi sarana utama untuk mengkomunikasikan pengetahuan. Buku memberikan informasi, hiburan, analisis, dan pendidikan bagi jutaan orang di
Penerbit yang baik adalah penerbit yang mampu mengakomodasi keinginan pembacanya. Penerbit-penerbit konvensional yang hanya menerbitkan buku berdasarkan program penerbitannya cenderung ditinggalkan pembaca. Penerbit sekarang harus pula berorientasi layanan, peka terhadap perubahan pasar yang setiap saat berubah tanpa mengabaikan tujuan utama penerbitan yaitu ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
Saat ini minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah namun masih menunjukan peningkatan. Hal ini ditandai dengan semakin ramainya acara pameran-pameran buku, bahkan buku-buku bertemakan rohani seperti buku Islam telah banyak menggelar pameran sendiri.
Peran pemerintah diperlukan dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Sebuah bangsa yang besar ditandai dengan minat baca masyarakatnya yang tinggi.
II.VII Agen Literasi
Agen literasi atau ( Literay Agent ) adalah prosfesi yang hampir tidak pernah ditemukan di Indonesia. Literacy Agent baru ada di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Ia bertugas menentukan apakah naskah dari penulis layak terbit atau tidak sebelum dikirimkan ke penerbit. Agen literasi ini juga sekaligus mengurus kontrak antara penulis dan penerbit. Agen literasi mengutip biaya yang jumlahnya berasal dari persentase royalti yang diterima penulis dari penerbit, umumnya 5-10 persen.
BAB IV
JENIS-JENIS TERBITAN
IV.I Jenis Terbitan
Macam-macam terbitan dapat dibagi menurut jenis terbitannya. Berdasarkan jenisnya terbitan dibagi menjadi:
• 1.Umum
Jenis terbitan umum jenis terbitan buku populer atau umum. Contohnya adalah novel, cerpen, majalah ataupun koran.
• 2.Ilmiah
Jenis terbitan ilmiah biasanya adalah buku-buku pelajaran baik di tingkat sekolah maupun perguruan tinggi. Selain itu terdapat juga jurnal sebagai terbitan yang biasanya berisi penemuan baru atau pembahasan materi ilmiah.
• 3.Pendidikan
Terbitan pendidikan adalah terbitan buku khusus teks pendidikan seperti buku pelajaran, buku-buku perguruan tinggi dan lain-lain.
IV.II Jenis Terbitan Berdasarkan waktu terbitnya
• Terbitan Berkala
Terbitan berkala adalah terbitan yang waktu terbitnya konsisten atau teratur dalam waktu tertentu. Contoh terbitan berkala adalah majalah, koran maupun buletin. Waktu setiap terbitan berbeda-beda. Majalah biasanya terbit sebulan sekali, koran biasanya terbit setiap hari.
• Terbitan Tidak Berkala
IV.III Keunggulan Media Cetak
Di era digital sekarang media cetak mengalami tantangan yang cukup serius dengan munculnya buku-buku elektronik atau yang lazim disebut ebook. Meskipun demikian, media cetak diyakini masih akan tetap bertahan karena memiliki keunggulan dibandingkan media elektronik. Keunggulan yang dimaksud adalah ;
• Mudah untuk produksi cetak atau jilid • Mudah untuk dibaca
• Mudah dicari halaman demi halaman • Mudah dibawa
• Mudah disimpan
BAB VI
PROSES PENGGARAPAN NASKAH
VI.I Penggarapan Naskah
VI. II Kriteria Kelayakan Naskah
Ada beberapa kriteria kelayakan naskah yang umum diterapkan oleh penerbit diantaranya adalah sebagai berikut ;
1.Naskah sesuai dengan visi dan misi penerbit
2.Tidak mengandung unsur sara , pornografi , tidak bertentangan dengan norma masyarakat 3.Karya asli , bukan plagiat/ jiplakan dari naskah lain
4.Naskah dari jenis yang diinginkan oleh penerbit
5.Sesuai kebutuhan penerbit dan memiliki budget untuk terbit
Selain kelima kriteria kelayakan naskah tersebut, terdapat tujuh kriteria kelayakan naskah lain diantaranya adalah sebagai berikut ;
1.Manfaat
Sebuah naskah haruslah mempunyai manfaat bagi pembaca. Hal ini berhubungan dengan tugas penerbit yakni menyebarlukaskan pengetahuan.
2.Mudah
Mudah dalam hal ini adalah penggarapannya. Naskah yang sulit digarap bisa menyebabkan penerbit menjadi rugi.
3.Mutakhir
Mutrakhir artinya terbaru atau sesuai dengan tren. Naskah kemungkinan besar tidak laku dipasaran bilamana sudah tidak lagi menjdai tren dimasyarakat. Naskah yang sedang tren misalnya tentang presiden yang baru saja terpilih.
4.Mampu
Penerbit juga memikirkan apakah naskah tersebut mampu untuk didanai atau tidak.
5.Marketable ,
6.Minat
Setiap penerbit mempunyai image tersendiri didalam masyarakat. Ada penerbit buku Islam, ada penerbit buku pelajaran ada penerbit buku-buku umum. Kriteria naskah yang baik juga harus sesuai visi misi penerbit.
7.Menarik
Naskah yang baik haruslah mempunyai nilai keunikan yang membedakan ia dari naskah-naskah yang lainnya.
VI.III Jenis-Jenis Naskah
• Fiksi`
Fiksi adalah karangan yang berupa khayalan atau imajinasi, bukan merupakan realita yang sebenarnya. Contoh karangan fiksi adalah novel Harry Potter, novel Divergent dan lain-lain. Jenis fiksi bermacam macam, ada yang bersifat sains, komedi maupun horror. Pencipta fiksi sering disebut pengarang atau author.
• Nonfiksi
Kebalikan dari fiksi, naskah nonfiksi berisikan realita sebenarya. Contohnya adalah karya ilmiah populer, reportase, paduan, petunjuk melakukan sesuatu dan lain-lain. Pencipta nonfiksi biasa disebut penulis atau penyusun.
• Faksi
VI.IV Sumber Naskah
Sumber naskah merupakan tempat memperoleh bahan baku atau bahan mentah yang akan diproses lebih lanjut. Sumber naskah dapat diupayakan dari berbagai tempat atau sumber yang dimungkinkan untuk mendapatkan naskah. Beberapa contoh sumber naskah adalah sebagai berikut
• Tokoh
Banyak tokoh yang baik dan kredibel menulis buku sesuai latar belakang keahliannya. Misalnya tokoh mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD banyak menulis tentang hukum di Indonesia. Sosok Mahfud MD yang terkenal dengan integritasnya ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi penerbit untuk menerbitkan naskah-naskah yang dibuatnya.
• Komunitas
Komunitas bisa menjadi sumber naskah dan bisa menjadi pasar bagi naskah yang akan dikelola. Misalnya buku-buku yang membahas tentang pertanian bisa dibaca dan disebarluaskan kepada komunitas petani yang jumlahnya sangat banyak.
• Agen Sastra
Di Indonesia, profesi Agen Sastra masih jarang atau bahkan belum ada. Agen Sastra biasanya ada di Eropa maupun Amerika. Dia adalah orang yang membina atau memejeri penulis baik yang pemula maupun profesional. Melalui agen sastra, penerbit bisa mendapat naskah-naskah yang diiginkan.
• Jasa Penerbitan
Jasa penerbitan merupakan salah satu sumber naskah. Melalui jasa penerbitan penulis bisa memberikan naskah yang dibuatnya ke penerbit.
Lembaga pendidikan bisa menjadi sumber naskah yang menjanjikan. Pasalnya dilembaga pendidikanlah ilmu pengetahuan berkembang dan terus bertumbuh. Dosen-dosen bisa menulis naskah lalu penerbit mencetak dan menjualnya.
• Pusat pelatihan atau training centre
Dewasa ini banyak sekali lembaga pelatihan kepenulisan yang muncul. Pusat pelatihan ini bisa memunculkan penulis-penulis berbakat dan terlatih. Merekalah sumber naskah bagi penerbit.
• Event
Event atau kejadian yang penting dan bersejarah bisa menjadi sumber naskah. Misalnya pelantikan presiden Indonesia.
• Penulis lepas
Penulis lepas adalah penulis yang tidak terikat dengan penerbit. Ia menulis bukan karena permintaan dari penerbit. Penulis lepas memilih sendiri penerbit yang ia inginkan.
• Penerjemah mandiri
Sama dengan penulis lepas, penerjemah mandiri adalah penerjemah yang tidak terikat oleh penerbit.
• Lembaga penelitian
Lembaga penelitian seperti LIPI membutuhkan penerbit untuk mempublikasikan penelitiannya. Dalam hal ini penerbit harus jeli melihat peluang. Penelitian-penelitian yang menarik perhatian masyarakat seperti penemuan situs gunung padang bisa menjadi sumber pendapatan yang bagus.
Pelalangan naskah biasanya dilakukan jika naskah dari penulis sangat berpotensi meledak di pasaran dan ditulis oleh penulis yang terkenal.
• Pembelian hak cipta (copyright) dilur negeri
Dalam industri penerbitan, sering diadakan pameran buku berskala internasional seperti Frangkrut Book Fair, Beijing Book Fair atau Indonesia Internasiona Book Fair yang baru digelar. Acara seperti ini menjadi ajang bagi para penerbit untuk membeli copyright buku dari negara lain.
VI.VI Surat Perjanjian Penerbitan
Surat Perjanjian Penerbitan ( SPP ) merupakan surat perjanjian yang menyepakati antara penulis dan penerbit. Yang tercantum dalam SPP meliputi royalti dan sebagainya. Berikut ini adalah hal-hal yang tercantum dalam Surat Perjanjian Penerbitan.
1. Penulis atau pengarang wajib menyerahkan naskah tulisannya dalam keadaan lengkap, bersih, dan rapih.
2. Penerbit meminta jaminan penulis bahwa naskah yang dibuat merupakan hasil karya asli, bukan jiplakan dan belum pernah diterbitkan oleh penerbit lain. Sebaliknya, penulis meminta jaminan penerbit untuk menerbitkan naskahnya dalam jangka waktu tertentu. 3. Penulis berkewajiban memeriksa dan membetulkan kesalahan yang terdapat pada cetak
coba, dan mengembalikan sesuai waktu yang ditentukan.
4. Penerbit menetapkan desain dan bentuk buku, oplag, harga, dan cara penjualannya.
5. Penulis berhak mendapatkan secara cuma-cuma sedikitnya 10 eksemplar buku yang sudah jadi.
6. Penerbit berhak mencetak ulang buku tersebut dengan sepengetahuan penulis. Hal ini juga untuk memberikan kesempatan bagi penulis atau pengarang bila ada perubahan pada cetakan sebelumnya.
VI.V Anatomi Buku
Berdasarkan pengertian dari badan UNESCO PBB, buku adalah lembaran-lembaran kertas cetak. Lembaran tersebut digabungkan menjadi satu dalam jidiladaan. Kertas dan bercetak dan berjilid tersebut kemudian memiliki pelindung (cover) terbuat dari kerts lebih tebal yang berbeda dengan kertas untuk teks. Kertas-kertas tercetak ini memiliki ketebalan lebih dari 48 halaman. Anatomi buku secara umum dapat dikelompokan menjadi tiga bagian utama yakni bagian pra isi, bagian isi, dan bagian pasca isi.
Pra isi : halaman kulit depan : halaman prancis
: halaman pelanggaran hak cipta : halaman judul utama
: halaman hak cipta : halaman persembahan : halaman moto
: daftar isi
: daftar table, singkatan , daftar lambang , daftar gambar foto /ilustrasi/grafik : prakata/kata sambutan
: kata pengantar Isi : pendahuluan
: bab-bab
: catatan kaki/catatan
: daftar kata asing , daftar istilah Pasca : daftar pustaka
lampiran indeks
biografi singkat
BAB VII
PENUTUP
VII.I Kesimpulan
Industri penerbitan adalah industri gagasan yang memerlukan banyak sekali waktu dan orang. Industri penerbitan berbeda dengan industri percetakan meskipun keduanya saling terkait dan tidak terpisahkan. Industri penerbitan selain tujuannya mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, juga mempunyai tujuan yang mulia yakni menyebarkanluaskan pengetahuan.
Penerbit pada dasarnya sebagai kordinator dari industri penerbitan seperti berkordinasi dengan penulis, editor, layouter, pihak percetakan sampai pihak distributor. Penerbit yang bertanggung jawab atas naskah yang disetujui sampai kemudian bisa dicetak dan dijual.
V.II.II Saran
Industri penerbitan hendaknya tidak dipandang dari segi profit saja yang menggiurkan, namun harus dilihat pula dari segi tanggung jawab moral mencerdaskan bangsa. Melalui buku-buku berkualitas yang dihasilkan penerbit akan membawa bangsa ini kepada kemajuan.
Kegiatan membaca harus terus menerus digalakkan karena tingkat baca masyarakat yang tinggi menjadi faktor kemajuan industri penerbitan. Industri penerbitan juga harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Terbuka dengan hal-hal baru, dan terus menerus “melahirkan” inovasi-inovasi agar terus bertahan dari masa ke masa.