Kondisi Sosio-Politik Indonesia 1900-1928
Memasuki abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda mulai melaksanakan kebijakan politik Etis, yaitu politik balas budi yang digagas oleh golongan humanis-liberal di Belanda. Politik ini menuntut agar pemerintah kolonial Belanda memperhatikan dan meningkatkan kemakmuran masyarakat pribumi (Hindia-Belanda) dengan tiga gagasan utama: edukasi (pendidikan), irigasi (pengairan), dan emigrasi.
Dalam bidang pendidikan, kolonial Belanda mendirikan sejumlah sekolah-sekolah yang diperuntukkan untuk masyarakat pribumi. Dari lembaga-lembaga inilah kemudian lahir golongan masyarakat terdidik-tercerahkan dari sebagian masyarakat pribumi Indonesia yang nantinya justru menjadi bumerang terhadap pemerintah Belanda. Mereka yang awalnya disiapkan untuk menjadi pegawai pemerintah kolonial Belanda, malah menjadi golongan baru di negeri ini yang dengan gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Nasionalisme di Indonesia ditandai dengan munculnya berbagai organisasi, baik yang bergerak dalam bidang politik, kebudayaan maupun sosial keagamaan. Diantaranya adalah Budi Utomo (1908), Indische Partij (1911), SI (1912) dan Muhammadiyah (1912). Pada zaman ini pula para mahasiswa yang belajar di Belanda membentuk organisasi Indische Vereniging yang berdiri enam bulan setelah berdirinya Budi Utomo. Menurut Prof. Sartono Kartodirjo, nasionalisme yang berkembang sebelum tahun 1920-an tersebut adalah nasionalisme yang masih bersifat lokal (etno-nasionalisme).
Melihat perkembangan tersebut, pemerintah kolonial Belanda semakin ketat mengawasi berbagai pergerakan organisasi di Indonesia yang dikhawatirkan akan mengancam kekuasaannya. Terjadinya Perang Dunia I pada tahun 1914 juga ikut mempengaruhi pemerintah kolonial Belanda untuk mengambil kebijakan baru terhadap negeri jajahannya. Pada bulan Mei 1918, Pemerintah kolonial mendirikan Volkstraad (Dewan Rakyat) yang di dalamnya diikutsertakan para pemimpin organisasi di Indonesia untuk duduk di dewan rakyat tersebut. Pada bulan November 1918, Gubernur Genderal Van Limburg Stirum mengucapkan janjinya untuk memberikan hak-hak politik yang lebih luas kepada bangsa Indonesia. Dia berjanji untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang otonom dan lepas dari campur tangan pemerintah Negeri Belanda. Janji tersebut dikenal
sebagai “janji November 1918”. Namun, pemerintah kolonial tidak pernah menepati janjinya.1
[4]
Dalam perkembangan berikutnya, beberapa organisasi seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Minahasa, Jong Islamiten Bond, Jong Bataksbond, Sekar Rukun dan Vereniging Voor Ambonsche Studerenden melakukan pertemuan-pertemuan di Jakarta sebagai upaya untuk menyatukan diri meninggalkan nasionalisme lokal menuju nasionalisme Indonesia.2
[5]
Proses kesadaran berbangsa ini berjalan dengan sangat cepat dan mencapai kesepakatan untuk membentuk organisasi baru yaitu Jong Indonesia. Asas dan tujuannya adalah untuk menanamkan dan mewujudkan persatuan seluruh elemen bangsa Indonesia dengan dasarPada kongres pemuda pertama tahun 1927, Jong Indonesia berubah nama menjadi Pemuda Indonesia dan menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Selanjutnya, pada kongres pemuda Indonesia kedua pada tahun 1928 seluruh anak bangsa melakukan sumpah pemuda sebagai wujud persatuan dan kebulatan tekad untuk menuju Indonesia merdeka.
Jika propaganda untuk kemerdekaan Indonesia di tanah air di pelopori oleh para pemuda dan mahasiswa, di luar negeri gerakan menuju kemerdekaan tersebut dipelopori oleh mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI). Dengan kapasitas intelektual yang mereka miliki, anak bangsa yang masih dalam usia 20-an itu telah memperjuangkan misinya untuk mengenalkan Indonesia sebagai sebuah bangsa kepada dunia internasional.
Sejarah Perhimpunan Indonesia
Berdirinya organisasi Budi Utomo juga mempengaruhi para mahasiswa yang berada di negeri Belanda untuk mendirikan organisasi serupa. Pada awalnya, sebagian dari mereka mengusulkan untuk mendirikan cabang dari Budi Utomo, tetapi usul tersebut tidak disetujui oleh mahasiswa yang berasal dari daerah luar Jawa seperti Sumatra, Minahasa, Maluku, dan
lain-lainnya.4
[7]
Oleh karena itu, pada pertengahan tahun 1908 para mahasiswa tersebut kemudian mendirikan Indische Vereniging sebagai organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda. Pendiri dariorganisasi ini adalah Sumitro, Sutan Kasajangan Saripoda, dan R.M. Suroto.5
[8]
Tujuan awal dari organisasi ini adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kepentingan bersama mahasiswaIndonesia yang berada di Belanda.6
[9]
Masuknya dua orang pemimpin Indische Partij yaitu Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) pada tahun 1913 sebagai anggota Indische Vereniging, memberikan pengaruh yang besar bagi perjalanan organisasi in. Dengan ceramah-ceramahnya,
keduanya berhasil menumbuhkan kesadaran politik bagi anggota organisasi ini.7
[10]
Kedua tokoh ini berhasil membangkitkan keinginan organisasi untuk membuat publikasi yang baru terlaksanapada tahun 1916 dengan terbitnya edisi perdana majalah Hindia Poetra.8
[11]
Pada tahun 1917, Indische Vereniging menyelenggarakan Liga Indonesia yang anggotanya terdiri dari beberapa organisasi mahasiswa Indonesia dan mahasiswa Belanda. Tujuan dari Liga Indonesia tersebut adalah untuk membahas berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia. Namun, kerjasama tersebut tidak memberikan hasil yang positif bagi Indische Vereniging karena perbedaan pendapat yang tidak bisa diselesaikan. Di satu sisi Indische Vereniging menginginkan pemerintahan Indonesia yang otonom, mengurus pemerintahannya sendiri, tanpa campur tangan Belanda. Di sisi yang lain, para delegasi dari organisasi mahasiswa
lainnya menginginkan agar Indonesia tetap berada di bawah naungan administrasi Belanda.9
[12]
4
5
Hasil kerjasama dalam Liga Indonesia yang tidak memberikan hasil positif dan kekecewaan mereka terhadap pemerintah kolonial Belanda yang tidak memenuhi janji November 1918, memberikan satu pelajaran yang berarti bagi Indische Vereniging bahwa di dalam melaksanakan kebijakan politik kolonialnya, tidak mungkin Belanda memberikan kemerdekaan bagi Indonesia
secara cuma-cuma.10
[13]
Oleh karena itu, Indische Vereniging menjadi semakin yakin bahwa rakyat Indonesia dapat mendapatkan keadilan jika mereka mampu melawan kekuatan kolonial Belanda. Kepercayaan mereka kepada pemerintah kolonial Belanda telah lenyap dan membawa organisasi ini kepada prinsip non-kooperasi, enggan bekerja sama.Pada tahun 1922, Indische Vereniging mengubah namanya menjadi Indonesische Vereniging. Tujuan dari organisasi mahasiswa tersebut kini semakin jelas, yaitu membebaskan Indonesia dari kolonialisme Belanda. Selain itu, mereka juga mengubah nama majalahnya menjadi Indonesia Merdeka, sebuah nama yang menunjukkan keberanian yang luar biasa jika diukur
dengan konteks zaman dan tempat majalah itu diterbitkan.11
[14]
Menjelang akhir musim gugur 1923, Indonesische Vereniging dengan tegas memutuskan mengundurkan diri dari Liga Indonesia. Tidak lama kemudian, tepatnya pada awal tahun 1925, nama Indonesische Vereniging diganti menjadi Perhimpunan Indonesia.Peran Perhimpunan Indonesia dalam Pejuangan Kemerdekaan Indonesia 1. Manifesto Politik 1925
Manifesto Politik 1925 yang dicetuskan oleh PI merupakan puncak perkembangan ideologi kesatuan dan persatuan seluruh anggota PI untuk mengabdikan diri mereka bagi kemerdekaan Indonesia. Isi dari Manifesto Politik tersebut adalah sebagai berikut:
a. Di masa depan perlu dibentuk suatu sistem pemerintahan seperti yang dikehendaki oleh rakyat sendiri serta bertanggung jawab kepadanya.
b. Sistem itu perlu diusahakan oleh bangsa Indonesia sendiri menurut kemampuan serta tenaga
sendiri tanpa mengharapkan bantuan pihak lain.
c. Setiap perpecahan antara bangsa sendiri harus dicela sekeras-kerasnya dan sebaliknya perlu
diusahakan persatuan untuk dapat mencapai tujuan bersama. 12
[15]
Sejak tahun 1925 PI telah menjadi organisasi mahasiswa yang radikal dan konsisten memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Menurut Prof. Sartono Kartodirjo, Manifesto Politik 1925 telah berhasil merumuskan konsep nasionalisme Indonesia sebagai sebuah ideologi bangsa. Dalam Manifesto politik tersebut, rumusan ideologi nasional Indonesia sudah terbentuk. Di dalamnya sudah mencakup unsur kesatuan, demokrasi, swadaya (kemandirian), dan persatuan segala unsur
masyarakat.13
[16]
Untuk menjalankan agenda politik non-kooperatifnya, PI menekankan kepada seluruh anggotanya untuk bersiap diri menghadapi berbagai kesulitan politis seperti penahanan, masuk ke
dalam penjara dan ancaman-ancaman lainnya dari pemerintah Belanda. Dengan semangat nasionalisme, PI melakukan propaganda untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
2. Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia di Dunia Internasional
Pada tahun 1927 PI mengikuti kongres “Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial” yang diadakan di Brussel, Belgia. Delegasi dari PI diwakili oleh Moh. Hatta, Nazir St. Pamuntjak, dan Gatot Tarumamiharjo. Dalam kongres tersebut, PI merumuskan resolusi kongres yang memutuskan bahwa:
a. Memberi simpati kepada pergerakan kemerdekaan Indonesia dan senantiasa penyokongnya
dengan apapun.
b. Menuntut pemerintah Belanda supaya bangsa Indonesia mendapat kebebasan penuh untuk
bergerak, menghapuskan pengasingan-pengasingan dan hukuman-hukuman mati, serta memberi
amnesti umum. 14
[17]
Pada tahun yang sama, Moh. Hatta sebagai delegasi PI juga melakukan propaganda di Genewa, Swiss dengan makalahnya yang berjudul “Indonesia dan Persoalan kemerdekaannya”. Hatta memberikan kritik yang tajam kepada pemerintah kolonial Belanda dengan mengatakan bahwa pengadilan kolonial di Indonesia adalah pengadilan rasial.
Berbagai propaganda yang dilakukan PI untuk mewujudkan Indonesia merdeka pada akhirnya juga diketahui oleh pemerintah Belanda. PI dianggap memiliki kaitan yang erat dengan pemberontakan PKI 1926. Pada bulan September 1927, Moh. Hatta dan pemimpin-pemimpin PI lainnya yaitu R.M. Abdul Madjid Joyoadiningrat, Ali Sastroamidjoyo, dan Nazir St. Pamuncak ditangkap dan dibawa ke pengadilan Belanda. Mereka diadili dengan tiga tuduhan: menjadi anggota perkumpulan terlarang, terlibat pemberontakan, dan menghasut untuk menentang kerajaan Belanda. Keempat mahasiswa tersebut baru dibebaskan pada bulan Maret 1928 dengan dibantu oleh advokat Mr. J.E.W. Duijs dan Mr. Tj. Mobach.
3. Pengaruh PI di Indonesia
Menurut Duijs, berdirinya Studie Club di Surabaya dan berbagai daerah lainnya pada tahun
1924 merupakan cabang organisasi PI di Indonesia.15
[18]
Di Bandung, Studie Club tersebut bernama Algemeene Studie Club yang dipimpin oleh Sukarno. Pada tanggal 4 Juli 1927 Algemeene Studie Club Bandung dirubah menjadi Perserikatan Nasional Indonesia. Salah satu tokoh PI yang terlibat dalam memprakarsai berdirinya organisasi ini adalah Mr. Sunario. Pada kongres pertamanya di Surabaya nama Perserikatan Nasional Indonesia dirubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI).Pengaruh PI dalam PNI bisa dilihat dari asas dan tujuan keduanya. Menurut Slamet Muljana, tujuan dari kedua organisasi tersebut adalah sama, yaitu mewujudkan massa-aksi nasional yang
Marhaenisme PNI yang merupakan hasil pemikiran Sukarno.17
[20]
Ketika pemimpin-pemimpin PI disidang di depan pengadilan Belanda, Sukarno, pemimpin PNI, dalam salah satu tulisannya tahun 1928 di Suluh Indonesia Muda, menyatakan:Dan kamu, Mohammad Hatta, Abdul Madjid, Ali dan Nazir Pamuncak, kamu,
putera-putera Indonesia, jakinlah, bahwa segenap rakjat Indonesia adalah berhangatan
hati melihat sikapmu itu. Oleh karena itu, saudara-saudara, madjulah, madju lagi diatas
djalan jang kita lalui semua, madju lagi diatas djalan kearah kemerdekaan Tanah-air dan
Bangsa!
18[21]
Penutup
Perhimpunan Indonesia (PI) merupakan salah satu organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda yang telah memberikan kontribusi besar dalam sejarah pergerakan nasional bangsa Indonesia. Jika dibandingkan dengan organisasi di Indonesia yang lahir sebelum tahun 1920, PI adalah organisasi pertama yang menggunakan wawasan kebangsaan dengan keanggotaan yang lebih beragam.
Manifesto Politik 1925 yang dicetuskan oleh PI merupakan rumusan konsep nasionalisme Indonesia yang di dalamnya mengandung nilai kesatuan, demokrasi, swadaya (kemandirian) dan persatuan segala unsur masyarakat. Manifesto Politik 1925 memiliki nilai historis yang tidak kalah pentingnya dengan peristiwa Sumpah Pemuda 1928.
Di dunia internasional, PI telah berhasil memperkenalkan Indonesia sebagai nama sebuah negara-bangsa (nation-state). PI juga berhasil menarik simpati dunia Internasional untuk memberikan dukungannya terhadap perjuangan pergerakan nasional untuk mendapatkan kemerdekaan Indonesia dari pemerintah kolonial Belanda. PI merupakan pelopor pergerakan nasional Indonesia yang berjuang di luar negeri.