Feminisme dan Perubahan Sosial
Feminimisme sebagai kumpulan pemikiran, pendirian dan aksi berangkat dari kesadaran, asumsi dan kepedulian terhadap ketidakadilan, ketidaksetaraan, penindasan atau diskriminasi terhadap kaum perempuan, serta merupakan gerakan yang berusaha untuk menghentikan segala bentuk ketidakadilan dan diskriminasi yang semula memang tidak secara khusus merupakan teori perubahan social. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya gerakan feminimisme juga memproyeksikan suatu visi masyarakat yang adil demokratis, dan sejahteramenurut perspektif feminimisme.
Meskipun feminisme sebagai gerakan pemikiran sesungguhnya telah lama muncul, namun dalam kaitan antara feminisme sebagai terori perubahan social dan pembnagunan merupakan gejala baru, tepatnya ketika gerakan feminis merespons dan melakukan kritik terhadap teori pembangunan yang berkembang pesat sekitar tahun 1976. LAtar belakang perkembangan teori perubahan social dan kritik terhadap pembangunan dari perspektif feminisme ini dicetuskan pada suatu konferensi tentang pengintegrasian kaum perempuan dalam ekonomi yang diselenggarakan di Weseley College, Amerika Serikat. Dari konferensi itulah berkembang suatu pengetahuan baru yang segera menjalar ke birokrasi pembangunan, sehingga mempengaruhi lahirnya urusaan women in development yang mulai dibuka USAID, dan sejak saat itu pulalah disiplin disiplin ilmu dan teori baru tentang women in development juga lahir.
Maka jelaslah bahwa perkembangan awal teori pembangunan perspektif feminisme yang melahirkan kebijakan women in development merupakan bagian dari strategi modernisasi dan teori pembangunan.
Teori Feminisme Liberal
Teori modernisasi dan pembangunan tentang kaum perempuan pada dasarnya brsumber dari asumsi kaum liberal pada umumnya, yang sejak awal, perempuan lebih dianggap sebagai masalah (anomaly) bagi ekonomi modern daripada lelaki. Hanya sedikit sekali permpuan diakui peran tradisonalnya, seperti peran “efektivitas” perempuan dalam keluarga dianggap cocok bagi zaman modern dan bagi teori pembangunan Talcott Parson.
Bagi kaum liberal, sesungguhnya pembangunan dan modernisasi, teknologi, maupun system ekonomi memberi peluang yang luas bagi semuanya, tetapi memang hanya modern, kreatif, rasional, dan efisienlah yang akan mampu memanfaatkan kesempatan itu.
Proses modernisasi itu sendiri serta pengelolaan kebijakan dan program pembangunan, dianggap sebagai sex-neutral dan lambat laun akan juga menguntungkan kaum perempuan.
Berbagai pendirian kaum liberal dan modernisasi tersebut akhirnya mengundang kritik dan salah satunya justru datang dari kaum feminis yang juga beraliran liberal.
teori dan praktik pembangunan, terutama pada pandangan penganut teori pembangunan bahwa teknologi akan membebaskan kaum perempuan. Dengan menggunakan data yang umumnya dari Afrika,.
Lebih lanjut Boserup berpendapat bahwa aspek modernisasi yang lain juga menghancurkan kaum perempuan. Kaum perempuan kota seluruh dunia merupakan partisipan utama dari “sector informal” yang umumnya adalah perdagangan kecil, bahkan pelacuran.
Dalam bidang pertanian, perubahan dari “cash-croping” suatu hal yang masih saja dilakukan sampai kini selalu didominasi oleh lelaki. Barbara Roger dalam studinya terhadap kaum perempuan dalam program Pembangunan bantuan Bank Dunia menyimpulkan bahwa proses pembangunan bias lelaki. Kaum feminis melihat urbanisasi, mobilitas, dan perubahan menjadi cash ekonomi adalah proses yang memutuskan kaum perempuan dari peranan social dan ekonomi mereka serta mendorong mereka kepada sector modern yang mendiskriminasikan dan mengeksploitasi mereka serta memberi upah di bawah standar hidup.
Berdasarkan analisis feminis tersebut, kaum feminis liberal mengajukan solusi untuk menghentikan proses merjinalisasi kaum permepuan dengan memperjuangkan perubahan hokum dan peraturan yang memungkinkan kaum permpuan memiliki akses dan control yang sama pada pekerjaan dan imbalan ekonomi.
Bagi kaum feminis liberal, tujuan perjuanagn adalah mendorong partisipasi yang adil di dalam sistem yang ada, dan bukan mengubah sistem itu sendiri. Karena argument utama feminis liberal adalah untuk mempengaruhi kebijakan pembangunan yang egalitarian, studi mereka cenderung menekankan pada diskriminasi kaum perempuan. Secara politik, kaum feminis liberal umumnya adalah reformis, pluralis dan inkrementalis.
Feminisme Marxis dan Perubahan Sosial
Pendirian dasar penganut Marxisme adalah women question harus diletakan sebagai bagian dari kritik terhadap kapitalisme, terutama pada sistem mode produksi. Kajian kaum feminis Marxis pada umumnya didasarkan pada teori Engels tentang sejarah pra-kapitalisme. Engels dalam uraian tersebut menjelaskan bahwa jatuhnya status perempuan bukanlah disebabkan oleh perubahan teknologi melainkan karena perubahan organisasi kekayaan. Berdasarkan studi itu, mereka menunjukan bahwa status perempuan primitif ternyata tinggi disbanding ketika masyarakat telah memasuki era kapitalisme. Perubahan dari masyarakat hunter-gatherer menuju ke masyarakat menetap pertanian ternyata berakibat menurunnya status kaum perempuan. Dengan demikian, pandangan mengenai hubungan antara relasi produksi dan mode of production yang berkibat pada penindasan kaum perempuan adalah inti gagasan banyak pemikir feminist Marxis.
sebagai unit ekonomi, tetapi lebih sebagai produksi untuk pasar. Keluarga telah menjadi unit konsumsi dan kaum perempuan mempunyai peran khusus di situ. Dalam pandangan Marxist perana kaum perempuan sebagai buruh keluarga yang tak dibayar, bahkan sangat berperan dalam mereproduksi buruh, telah menjadikan kaum perempuan berjasa dalam menjamin selalu tersedianya buruh sehingga memungkinkan murahnya harga tenaga kerja, dan keadaan ini akan makin mempercepat akumulasi capital bagi kapitalis.
Penindasan perempuan, bagi mereka dilanggengkan oleh kapitalisme melalui berbagai cara dan alasan . Pertama melalui apa yang disebut ‘eksploitasi pulang ke rumah’ yakni suatu proses yang diperlukan guna membuat lelaki yang dieksploitasi di pabrik bekerja lebih produktif. Buruh lelaki yang bekerja di pabrik dan dieksploitasi oleh kapitalis, selanjutnya pulang ke rumah dan terlibat dalam suatu hubungan kerja dengan istri mereka. MAsuknya perempuan sebagai buruh juga menguntungkan sistem kapitalisme karena
1. Upah buruh perempuan seringkali lebih rendah dibandingkan dengan buruh laki-laki
2. Masuknya kaum perempuan dalam sector perburuhan juga dianggap menguntungkan sistem kapitalis karena merupakan sistem penciptaan buruh cadangan yang tak terbatas
Kegagalan untuk mengintegrasikan kaum perempuan dalam sistem ekonomi dianggap sebagai kesalahan proses difusi dan juga akibat makro sistem eksploitasi dan ketergantungan.
Dengan demikian , penganut Marxist percaya bahwa status kaum perempuan akan berubah hanya melalui revolusi social dan penghapusan pekerjaan domestik.
Feminis Sosialis tentang Perubahan Sosial
Bagi penganut feminis sosialis, partisipasi kaum perempuan dalam ekonomi tidaklah cukup sebagai kondisi menaikkan status perempuan, meskipun rendahnya tingkat partisipasi perempuan memang mengakibatkan rendahnya status kaum perempuan. Einstein mulai dengan membuat analog tesis ‘kaum perempuan sebagai suatu kelas’ dengan menguraikan apa yang oleh Marx disebut masalah ‘alienasi’ yang dapat diterapkan pada kaum perempuan. Seperti proletarisasi buruh, kaum perempuan juga dipotong baik oleh kapitalis maupun patriarki untuk mencapai nilai-nilai esensi mereka yakni dari life as a species being. Akan tetapi bagi feminis sosialis, ketidak adilan terhadap kaum perempuan muncul bukan karena perbedaan biologis antara lelaki dan kaum perempuan, tetapi lebih karena penilaian dan anggapan terhdap perbedaan itu, suatu analisis yang menjadi dasar analisis gender yang diuraikan dalam bagian lain.
Rosaldo mengenali peran teori female-sphere dalam definisi lelaki tentang kekuasaan dan pembangunan bahwa masalah sphere domestic telah selesai, sedangkan perhatian pada keunikan sejarah masa kini akan menantang secara fundamental terhadap ciri tradisi dalam memahami bentuk masyarakat yang dibutuhkan oleh lelaki.
Elisa Boulding mewakili pandangan yang berbeda dengan female sphere mengatakan bahwa penindasan kaum perempuan telah menciptakan kultur perempuan yang berbeda dengan lelaki dan perubahan global yang sedang berlangsung yang akan membuat nilai perempuan secara fungsional tetap bertahan
Dalam rangka memahami perbedaan ini, yang diperlukan adalah studi mikro tentang akibat pembangunan pada lelaki dan kaum perempuan.
WID dan GAD : Diskursus Feminis tentang Teori Pambangunan
Diletakkan pengetahuan WID dalam diskursus pmbangunan adalah suatu privileged dan bukan karena keadaan nyata akibat proses underdevelopment, tetapi sekedar untuk mengkonseptualkan dan mengidentifikasi sehingga membuat Dunia Ketiga tergantung pada Dunia Pertama. Hal ini melahirkan kritik dari sarjana feminis lain, karena WID dianggap bias kaum feminis liberal, kelas menengah kulit putih. Penelitian feminis liberal terbatas pada reproduksi hubungan kekuasaan yang ada.
Aliran sosial yang memfokuskan ‘persoalan perempuan’ sebagai sasaran analisis pada dasarnya merupakan aliran main stream dalam perbincangan mengenai nasib kaum perempuan
Moser (1989) membagi analisis atas ketinggalan kaum perempuan ini menjadi beberapa aliran yang sebagian besar berlandaskan pada paham modernisasi. Pendekatan yang sangat dipengaruhi oleh modernisasi tersebut adalah adalah analisis ‘pengentasan kemiskinan’ (anty poverty). Dasar pemikiran analisis ini adalah bahwa perempuan miskin karena mereka kurang sumber daya alam ataupun tidak produktif. Oleh karena itu perlu diciptakan ‘proyek penigkatan pendapatan’ bagi kaum perempuan.
Paham analisis yang lain adalah “pendekatan efisiensi” yakni pemikiran bahwa pembangunan mengalami kegagalan karena perempuan tidak dilibatkan. Oleh karena itu pelibatan itu sendiri lebih demi efisiensi ‘pembangunan’.
Pendekatan ‘efisiensi’ dan ‘pengentasan kemiskinan’ ini menjadi aliran ‘mainstream’ mengenai usaha memecahkan masalah-masalah perempuan.
Program pembangunan diantaranya adalah “women in development “ yakni program peningkatan taraf hidup keluarga seperti pendidikan, ketrampilan serta kebijakan yang dapat meningkatkan kemampuan kaum perempuan untuk mampu berpartisipasi dalam pembangunan dan “women focused development” yakni pengembangan program pembangunan yang terfokus pada kaum perempuan.
Analisis ketidaksetaraan kaum prempuan akibat dari rendahnya partisipasi kaum perempuan telah melahirkan berbagai pendekatan yang direalisasikan dalam berbagai bidang seperti Menteri Peranan Wanita dalam kabinet pembangunan, Pusat Studi Wanita di berbagai universitas serta berbagai disiplin kajian studi wanita.
Kritik juga datang dari paham feminis sosialis. Analisis mereka adalah sintetis antara metode historis materialis dengan ide personal in political. Sebaliknya feminisme tanpa kesadaran kelas juga menimbulkan masalah.
Uraian berikut akan melihat kembali bagaimana gender sebagai alat analisis bisa digunakan untuk pemberdayaan kaum perempuan.
Analisis Gender dan Teori Perubahan Sosial
Setelah WID dilaksanakan selama satu decade sejak dekade pertama pembangunan Perempuan PBB, ternyata dianggap gagal untuk mengubah nasib berjuta-juta kaum perempuan dan ternyata banyak program pembangunan mempunyai dampak berbeda bagi kaum lelaki dan kaum perempuan. Pada saat itulah timbul kesadaran baru bahwa pendekatan women in development telah gagal membebaskan perempuan dari diskriminasi dan ketidakadilan. Atas dasar itulah suatu diskursus tandingan terhadap women in development telah lahir yakni suatu pendekatan yang disebut gender and development yakni suatu pendekatan yang sepenuhnya menggunakan analisis gender. Kata gender sendiri adalah kata Inggris yang berarti suatu pemahaman social budaya tentang apa dan bagaimana lelaki dan perempuan seharusnya berperlaku. Perbedaan gender (gender differences) yang selanjutnya melahirkan peran gender (gender role) sesungguhnya tidak menimbulakan masalah atau tidak perlu digugat. Namun ternyata peran gender melahirkan masalah yang perlu digugat yakni “ketidakadilan” yang ditimbulkan oleh ‘peran gender’ dan ‘perbedan gender tersebut’.
Berbagai manifestasi ketidakadilan yang ditimbulkan oleh adanya asumsi gender adalah sebagai berikut:
1. Terjadi marginalisasi (kemiskinan ekonomi) terhadap kaum perempuan.
2. Terjadinya subordinasi pada salah satu jenis sex, yang umumnya pada kaum perempuan
3. Pelabelan negative (stereotype) terhadap jenis kelamin tertentu , terutama terhadap kaum perempuan dan akibat dari strereotype itu terjadi diskriminasi serta berbagai ketidakadilan lainnya
4. Kekerasan (violence) terhadap jenis kelamin tertentu umumnya perempuan karena perbedaan gender.
Kesemua manifestasi ketidakadilan gender tersebut di atas adalah saling berkait dan secara dialektika saling mempengaruhi.
Setelah melalui perdebatan yang panjang antara penganut proyek pembangunan women specific versus integrated telah memasuki era yang paling krusial dari perjuangan panjang untuk menciptakan perubahan social dan transformasi social ke arah dunia yang berkeadilan gender.