FEMINISME: PERUBAHAN SOSIAL DALAM PERAN DAN
STATUS PEREMPUAN
(
FEMINISM: THE SOCIAL CHANGE OF WOMEN’S ROLE AND
STATUS)
Amaliatul Izzah
Abstract
Life is dynamic, as well as social phenomena in society. Along with the changes of time, the social order is also change. One of them is the social order of women. This paper will discuss about the social change in the community, particularly changes of women’s role in the Middle Ages and in (after) the birth of the feminist movement that demands the equality between women and men. Despite the change of women’s role and status and the feminist movement has emerged in every single parts of the world, due to the limited resources, this paper will focus on the change of women’s role in Europe and a little discussion in the United States as the birthplace of feminist movement.
Keywords: Social Change, Women, Feminist Movement, Feminism
Pendahuluan
Student at Department of International Relation Studies; ID 120910101022;
Pada sekitar pertengahan tahun 2014 lalu, Turki menjadi perhatian dunia dikarenakan isu gendernya yang meletup menjadi isu internasional bahkan global.Isu tersebut dimulai dari pidato Wakil Perdana Menteri Turki, Bulent Arinc, mengenai ‘tertawa’ dan perempuan. Dalam pidatonya, Arinc mengatakan bahwa perempuan tidak boleh tertawa di depan umum. Hal tersebut kemudian menimbulkan kritikan tidak hanya dari kaum perempuan di Turki, namun juga dari kaum perempuan di bernagai belahan dunia. Emma Watson, salah satunya. Selebritis Hollywood yang ditunjuk sebagai duta perempuan Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut memposting fotonya yang sedang tertawa di depan umum.
Isu diatas adalah salah satu contoh dari bagaimana isu gender merupakan
concern masyarakat global, terutama perempuan. Meskipun di beberapa negara isu gender masih menjadi problematika, namun disebagian besar negara, terutama negara demokrasi, gerakan perempuan bukan lagi gerakan yang mendapatkan hambatan atau larangan dari pemerintahnya. Kaum perempuan dapat dikatakan menikmati hak dan akses yang tidak terbatas dalam segala bidang.Hal ini terutama terjadi di negara-negara Eropa yang rata-rata merupakan negara maju dibandingkan dengan negara-negara di benua lainnya.Terlebih lagi, Eropa merupakan tempat asal berkembangnya isu gender.
Namun demikian, hak-hak istimewa atau kesamaan derajat dengan kaum laki-laki ynag dimiliki oleh perempuan pada masa kini bukanlah sesuatu yang lahir dengan sendirinya.Melainkan hasil dari perjuangan atau pergerakan sosial yang bahkan masih berlanjut sampai sekarang. Pergerakan tersebut disebut dengan gerakan feminis (feminist movement), yaitu sebuah pergerakan sosial dimana kaum perempuan menuntut equalitytreatment dengan laki-laki.
perkembangan waktu, feminis muncul di berbagai belahan dunia dan mempengaruhi kehidupan berbagai bangsa di dunia, tidak terkecuali Asia dan Afrika yang sebagian besar negaranya memang merupakan bekas jajahan negara-negara Eropa. Selain itu, dengan adanya globalisasi yang memudahkan manusia untuk berkomunikasi tanpa terbatas ruang dan waktu, gerakan feminis semakin mengglobal tidak hanya dalam lintas batas negara, tetapi juga merambah pada wilayah-wilayah pedesaan seperti di Indonesia.
Namun demikian, dalam bahasan ini, saya akan menganalisa mengenai perubahan peran dan status kaum perempuan pada abad pertengahan sebelum munculnya feminisme dengan peran dan status kaum perempuan (pada masa dan) setelah gerakan feminisme. Karena terbatasnya literatur mengenai peranan wanita abad pertengahan di benua lain selain Eropa, bahasan ini akan lebih berfokus pada perubahan di Eropa.
Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah proses dimana terjadi perubahan struktur dan
fungsi dalam suatu sistem sosial. Sistem sosial yang dimaksud disini mengacu pada serangkaian nilai, norma dan tindakan serta tananan yang berkembang dalam masyarakat. Untuk menganalisa perubahan sosial, seperti halnya kita menganlisa perbandingan suatu kejadian yang tidak dapat di analisa hanya dalam satu waktu tertentu, melainkan harus menggunakan kerangka waktu yang berbeda. Tidak hanya masalah perbedaan waktu, perubahan sosial juga menyangkut dua hal lainnya, yaitu perbedaan dan pengamatan terhadap sistem
sosial yang sama.Dengan demikian, studi perubahan sosial pada dasarnya
merupakan studi sosial yang menggunakan pendekatan histori antara masa sekarang dan masa lalu.Perbedaan mendasar antara studi sejarah dengan studi perubahan sosial adalah bahwa dalam melakukan studi perubahan sosial, kita juga menganalisa perbedaan yang terjadi antara masa lalu dengan masa
Abdillah Hanafi. 1987. “Memasyarakatkan Ide-Ide Baru” dalam Everett M. Rogers dan F.Floyd
Shoemaker (Ter). Communication of Innovations: A Cross-Cultural Approach. Surabaya: Usaha Nasional. Halaman 16
sekarang, membandingkannya dan kemudian menyimpulkan mengenai perubahan apa yang terjadi dalam kurun waktu yang dibandingkan tersebut.
Selain mengenai masa lalu dan masa sekarang, Martono (2012) dalam bukunya Sosiologi Perubahan Sosial, menuliskan bahwa studi perubahan sosial juga mengenai masa depan. Melalui studi perubahan sosial, ilmuwan sosial melakukan prediksi dengan menggunakan analisa proyeksi atas apa yang terjadi di masa sekarang. Lebih jauh, Martono memberikan contoh dalam hal demografi, dimana dengan ilmu statistika sosial, seorang sosiolog mampu memprediksi jumlah penduduk dalam waktu tertentu di masa depan melalui metode ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, sebab setiap tahun pola pertumbuhan penduduk cenderung sama. Hal tersebut berlaku pula dalam hal studi perubahan sosial, dimana dengan melakukan proyeksi terhadap masa lalu, sosiolog juga mampu memprediksi kondisi masyarakat di masa yang akan datang. Meskipun prediksi sosiolog akan fenomena sosial dilakukan melalui metode ilmiah, namun menurut saya hal tersebut justru merupakan kesalahan besar bagi ahli ilmu sosial. Para ilmuwan sosial seringkali melakukan generalisasi atas fenomena tertentu. Generalisasi tersebut dilakukan dengan menggunakan prinsip parsimonious atau dalam pandangan Robert Cox disebut dengan ceteris paribus dimana aspek lain selain yang diteliti diasumsikan tetap. Padahal, apa yang terjadi di masa lalu belum tentu terjadi di masa sekarang atau masa depan. Sehingga menurut kaum teori krits, waktu memegang peranan penting dalam studi ilmu sosial.Teori berasal dari praktek dan pengalaman,
dimana pengalaman berkaitan dengan waktu dan tempat.
Terlepas dari perdebatan apakah ilmu sosial memiliki abilitas dalam memprediksiapa yang akan terjadi dalam kurun waktu tertentu dalam masa yang akan datang, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, studi perubahan sosial sangat menekankan pada kerangka waktu objek atau fenomena sosial yang akan diteliti. Selain itu, perubahan sosial terdiri dari tiga tahap berurutan: (1) invensi yaitu proses dimana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan, (2) difusi, ialah proses dimana ide-ide baru itudikomunikasikan ke dalam sistem sosial, dan (3)
konsekuensi yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial
sebagai akibat pengadoptasian atau penolakan inovasi.
Dari ketiga proses tersebut, terutama proses pertama dan kedua, ditekankan pentingnya agen perubahan sosial. Apa yang dimaksud agen perubahan, menurut Havelock adalah seseorang yang dengan sengaja mencoba
membawa perubahan atau inovasi dalam organisasi sosial.Sedangkan menurut
Soerjono Soekanto, agen perubahan adalah seserorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga
kemasyarakatan yang menghendaki adanya perubahan.Agen perubahan sosial
diklasifikasikan menjadi individu dan kolektif.Individu dapat berupa seseorang
yang biasa saja dalam masyarakat yang menginginkan adanya perubahan sosial ataupun mereka yang merupakan pemimpin yang memiliki kekuasaan tertentu untuk melakukan perubahan sosial.Sementara agen perubahan sosial kolektif dapat dilihat dari suatu gerakan sosial yang dilakukan bersama-sama.
Perubahan sosial dapat diklasifikasikan dalam bermacam-macam kategori.Rogers dan Shoemaker (1987) membaginya menjadi 2 macam berdasarkan sumber kebutuhan terhadap perubahan sosial, yaitu perubahan imanen dan perubahan kontak.Perubahan imanen terjadi jika anggota sistem sosial menciptakan dan mengembangkan ide baru dengan sedikit atau pengaruh dari pihak luar dan kemudian ide baru itu menyebar keseluruh sistem sosial.Sedangkan perubahan kontak terjadi jika sumber dari luar sistem sosial
memperkenalkan ide baru. Sementara Martono (2012), mengklasifikasikan
perubahan sosial kedalam tiga jenis: (1) perubahan yang cepat (revolusi) dan perubahan yang lambat (evolusi), (2) perubahan yang kecil dan perubahan yang besar, dan (3) perubahan yang dikehendaki (direncanakan) dan perubahan yang
tidak dikehendaki (direncanakan).
Abdillah Hanafi. Op. Cit. Halaman 16.
Ronald G. Havelock dan Steve Zlotolow. 1995. The Change Agent’s Guide. Education Technology. Halaman 21
Soerjono Soekanto. 1992. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Halaman 273
Piotr Sztompka. 2004. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Media Group. Halaman 306
Abdillah Hanafi. Op. Cit. Halaman 18.
Feminisme dalam Bingkai Perubahan Sosial
Seperti yang telah disebutkan diatas, perubahan sosial adalah mengenai perbedaan sistem sosial dalam kerangka waktu yang berbeda.Dalam bahasan ini, kerangka waktu yang akan dianalisa adalah pada masa sebelum munculnya gerakan feminis, yaitu sebelum abad ke-19 dan pada masa sekarang dengan menguraikan evolusi gerakan feminis semenjak gelombang pertama hingga gelombang ketiga dimana dari setiap gelombang, gerakan feminis memiliki tuntutan-tuntutan yang berbeda-beda.
Untuk menganalisa feminisme melalui kacamata studi perubahan sosial, juga perlu melihat kembali perubahan apa yang telah terjadi pada masa lalu hingga masa sekarang dalam sistem sosial yang ada. Feminisme diartikan sebagai sebuah gerak perubahan sosial yang mengubah tatanan dan perilaku sistem sosial terhadap subjek dan objek utama feminisme, yaitu kaum perempuan.
Ketika gelombang ketiga feminisme muncul, gerakan perempuan untuk menuntut kesamaan perlakua dan hak layaknya kaum laki-laki dalam berbagai bidang mungkin merupakan hal yang sudah biasa hanya dengan isu dan tuntutan yang baru.Namun ketika gelombang feminisme pertama muncul, gerakan kaum perempuan adalah sesuatu yang benar-benar baru.Bahkan mungkin sesuatu yang diangga sebagai penyimpangan sosial.
Pada abad ke-19 masa industrialisasi, gerakan feminis memunculkan kelas menengah yang berpendidikan dan kaum perempuan yang bergabung dengan elit perempuan dalam kebangkitan melawan penindasan terhadap
kalangan bawah.Namun demikian, sebelum abad ke-19, peran wanita dalam
masyarakat tidak lebih sebagai ibu rumah tangga. Di Eropa, khususnya pada abad ke-16, kaum wanita diharapkan untuk fokus pada kegiatan domestik praktis dan kegiatan yang mendorong kemajuan keluarga, lebih khusus lagi, para
Elise Boulding. Women's International League for Peace and Freedom. Diakses dari
suami.Pada masa itu, wanita, sama halnya dengan strata sosial di masyarakat, juga memiliki kelas-kelas tertentu, yaitu kelas bawah (menengah kebawah) dan kaum bangsawan. Kaum perempuan kelas menengah kebawah umumnya bekerja sebagai pendamping atau pelayan.Sedangkan kaum perempuan kelas bangsawan memiliki pekerjaan rumah tangga sebagai pengatur dan pengawas
para pelayan dalam rumahnya.Dalam kalangan bangsawan, beberapa kaum
perempuan diberikan pendidikan di rumah dengan tutor khusus mengenai tarian, dansa dan sulaman.Tidak hanya terbatas dalam oendidikan, kaum wanita pada abad ke-16 juga terbatas dalam haknya untuk memilih pasangan karena pada masa itu, pernikahan diatur oleh keluarga dan perceraian adalah hal yang
dilarang, kecuali untuk kaum menengah kebawah.
Kaum wanita pada abad ke-16 yang menentang sistem patriarki peran gender atau ketidakadilan (termasuk kekerasan) dalam rumah tangga, beresiko diasingkan dari komunitasnya, terutama kaum wanita kalangan bangsawan. Anne Hutchinson, yang menentang pendeta Puritan, dikucilkan karena tindakannya dianggap terlalu vokal dan kontroversial. Anne Askew, seorang perempuan yang berpendidikan, diadili dengan tuduhan menyebarkan ajaran sesat pada tahun 1545 karena penolakannya terhadap transsubtansiasi. Setelah dipenjara selama 1 tahun, ia kemudian di bakar di tiang seperti seorang
penyihir.
Sementara pada abad ke-17, keadaan kaum perempuan tidak jauh berbeda dengan abad ke-16.Kaum perempuan masih berperan sebagai martir agama, terutama Kristen.Karena dilarangnya perceraian oleh agama dan gereja, kaum perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga tidak dapat
Feminism in Literature. Women in the 16th, 17th, and 18th Centuries. Diakses darihttp://www.enotes.com/topics/feminism/critical-essays/women-16th-17th-18th-centuries
Tim Lambert. 2015. A Brief History of Women’s Rights. Diakses dari
http://www.localhistories.org/womensrights.html
Tim Lambert. 2015. A Brief History of Women’s Rights. Diakses dari
http://www.localhistories.org/womensrights.html
Feminism in Literature. Women in the 16th, 17th, and 18th Centuries. Diakses darimenuntut siapapun yang berjenis kelamin laki-laki dikeluarganya.Masih seperti halnya pada abad ke-16, perempuan abad ke-17 diharapkan untuk menjadi ibu rumah tangga. Philip Stubbes, seorang pamphleteer (penulis di masa sekarang), menulis Crystal Glass for Christian Wives yang berdasarkan idenya tentang
‘wanita sempurna’ terhadap mendiang istrinya.Ia memuji istrinya untuk
sifat-sifatnya yang “sopan, lemah lembut, baik, dan patuh…. Ia (istrinya) mematuhi semua perintah rasul yang memerintahkan wanita untuk diam dan belajar dari
suaminya di rumah.”Tulisan Stubbes tersebut tidak hanya menjadi pujian untuk istrinya, tetapi juga menjadi karakteristik dan harapan terhadap ‘wanita sempurna’ pada abad ke-17.Selain itu, pada masa itu, komoditas paling penting
yang harus dimiliki oleh seorang wanita adalah keperawanannya. Apabila seorang wanita yang belum menikah tidak lagi perawan atau diketahui tidak perawan ketika menikah, maka besar kemungkinan ia akan diasingkan oleh komunitasnya dan tidak mendapatkan suami yang akan memberikan klaim buruk terhadap keluarganya. Tetapi hal tersebut tidak berlaku dalam keperjakaan kaum laki-laki.
Pada abad ke-18, mulai muncul sedikit perubahan dalam peran wanita di masyarakat Eropa.Hal ini terutama disebabkan karena meningkatnya kekuatan kelas menengah dan ekspansi konsumerisme, sehingga kaum perempuan kelas menengah kebawah mulai diizinkan untuk ikut serta dengan suaminya dalam perjalanan-perjalanan bisnis.Selain itu, pada abad ini juga muncul seniman-seniman (puisi dan musik) perempuan dimana pada abad-abad sebelumnya merupakan hal yang tabu bagi seorang perempuan untuk berkarya.Selain itu, pada akhir abad ke-17 juga mulai bermunculan sekolah asrama bagi perempuan
Michaela Murphy. 2012. Was There a Gender Revolution in the Seventeenth-Century?. Diakses dari
http://arts.brighton.ac.uk/study/literature/brightonline/issue-number-three/was-there-a-gender-revolution-in-the-seventeenth-century
Michaela Murphy. 2012. Was There a Gender Revolution in the Seventeenth-Century?. Diakses dari
http://arts.brighton.ac.uk/study/literature/brightonline/issue-number-three/was-there-a-gender-revolution-in-the-seventeenth-century
Michaela Murphy. 2012. Was There a Gender Revolution in the Seventeenth-Century?. Diakses dari
sehingga kaum perempuan tidak lagi hanya mendapatkan pendidikan privat di
rumah.
Gerakan Feminis
Untuk memahami apa dan bagaimana feminis berkembang, dapat ditelusuri dari sejarah peradaban dunia, khususnya peradaban Eropa. Dimulai dari Revolusi Perancis dan ide-ide politik pencerahan pada abad ke-18, semua manusia dianggap sebagai makhluk rasional yang memiliki hak-hak dasar yang
sama. Dalam Revolusi Perancis, terdapat 33 daftar tuntutan akan hak-hak
perempuan yang disampaikan pada Estates General yang kemudian memberikan inspirasi kepada kaum perempuan di negara-negara Eropa lainnya. Contohnya Mary Wollstonecraft, seorang penulis Inggris yang menulis A Vindication of the Rights of Woman pada tahun 1792 dan Theodor von Hippel Gottlieb dari Jerman yang menuliskan On the Civil Improvement of Women pada 1794.
Gerakan feminis dapat dibagi menjadi tiga gelombang yang berbeda dalam kurun waktu yang berbeda pula.Gelombang pertama muncul dalam konteks masyarakat industri dan politik liberal pada akhir abad ke-19 dan awal
abad ke-20 di Amerika Serikat dan Eropa. Gelombang kedua muncul pada
tahun 1960-an sampai 1970-an. Gelombang ketiga muncul dari pertengahan tahun 1990-an hingga sekarang.
a. Gelombang Pertama
Feminisme gelombang pertama dianggap dimulai dengan tulisan
Mary Wollstonecraft, The Vindication of the Rights of Woman.
Gelombang ini resmi dimulai pada tahun 1848 dari Konvensi Seneca Falls dimana kaum 300 perempuan dan laki-laki bersatu untuk
Tim Lambert. 2015. A Brief History of Women’s Rights. Diakses dari
http://www.localhistories.org/womensrights.html
Martin Pugh. 1997. The Woman’s Movement. Diakses dari http://www.historytoday.com/martin-pugh/womens-movement
Charlotte Krolokke dan Anne Scott Sorensen. 2006. Gender Communication Theories& Analyses From Silence to Performance. New York: SAGE Publications.
menuntut kesetaraan bagi kaum perempuan. Pada awalnya, gerakan feminis pada gelombang pertama menyuarakan hak kepemilikan yang sama antara kaum perempuan dan laki-laki serta hak asuh terhadap anak. Namun kemudian tuntutan kaum feminis muali bergeser kearah tuntutan politik dimana mereka menginginkan adanya hak pilih perempuan dan izin bagi kaum perempuan untuk memperoleh kekuasaan politik. Gelombang ini
b. Gelombang Kedua
Istilah feminism gelombang kedua mengacu pada feminism radikal
pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Banyak literatur yang
mengatakan bahwa feminism pada gelombang kedua ini dipicu oleh tulisan Betty Friedan pada 1963, The Feminine Mystique yang mengkritik gagasan bahwa perempuan hanya bisa menemukan pemenuhan melalui pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga. Tulisan tersebut muncul akibat dari adanya revolusi konsumen yang berpusat di rumah tangga yang mendorong perkembangan perekenomian Barat pada tahun 1950-an sampai 1960-an yang mengatakan bahwa orang-orang yang harus mengatur dan mengelola ruang domestik (rumah tangga) tersebut haruslah seorang
perempuan.
c. Gelombang Ketiga
Feminisme gelombang ketiga muncul setelah matinya feminisme setelah tercapainya tujuan-tujuan feminisme gelombang kedua pada tahun 1970-an. Pada fase ini banyak konsep-konsep yang telah stabil, termasuk pengertian tentang kewanitaan, tubuh, gender, seksualitas
Martha Rampton. 2014. The Three Waves of Feminism. Diakses dari http://www.pacificu.edu/about-us/news-events/three-waves-feminism
Charlotte Krolokke dan Anne Scott Sorensen. 2006. Gender Communication Theories& Analyses From Silence to Performance. New York: SAGE Publications.
dan heteronormativity.Dengan demikian, kaum wanita berdasarkan gelombang ini memiliki hak-hak khusus atau pribadi atas tubuhnya dan tidak lagi dikontrol oleh kaum laki-laki.Feminis gelombang ketiga termotivasi oleh kebutuhan untuk mengembangkan teori dan piltik feminis yang menghormati pertentangan pengalaman dan
mendekonstruksi pemikiran kategoris.
Kesimpulan
Perubahan sosial merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam sejarah kehidupan manusia.Seperti halnya waktu yang terus berjalan, fenomena sosial juga terus mengalami perubahan yang dinamis.Peranan dan status perempuan dalam masyarakat adalah salah satu cotoh perubahan sosial yang dinamis.Dalam kacamata studi perubahan sosial, perubahan sosial dalam aspek peranan dan status kaum wanita merupakan perubahan sosial evolusi yang bergerak secara perlahan yang muncul dari dalam sistem sosial itu sendiri (perubahan imanen), yaitu kaum perempuan. Perubahan perlakuan masyarakat atau komponen sistem sosial lainnya terhadap perempuan tidak terjadi secara tiba-tiba dalam gelombang yang besar, melainkan melalui berbagai proses sosial termasuk dengan advokasi kaum perempuan dan laki-laki seperti yang terjadi di Konvensi Seneca Falls pada gelombang pertama.
Namun demikian, apabila dianalisa perbandingan antara peran kaum dan status kaum perempuan pada abad pertengahan dengan masa setelah munculnya gerakan feminis, terutama pada gelombang ketiga atau posmodernis, terdapat perubahan radikal dalam jangka waktu tersebut, khususnya di Eropa. Salah satu contohnya terkait dengan apa yang dituntut oleh masyarakat sebagai ‘wanita sempurna’. Ketika pada abad ke-17 salah satu kriteria utama wanita sempurna adalah keperawanan, pada masa sekarang bukan lagi sesuatu yang tabu bagi seorang wanita untuk berhubungan intim diluar pernikahan. Dengan kata lain, kaum wanita, khususnya pada gelombang ketiga feminisme, yang
Martha Rampton. 2014. The Three Waves of Feminism. Diakses dari http://www.pacificu.edu/about-us/news-events/three-waves-feminism
mengadvokasikan hak untuk mengontrol tubuhnya, telah mendapatkan hak tersebut. Berbeda dengan kaum wanita pada abad pertengahan dimaan seluruh aspek kehidupannya dikontrol oleh kaum laki-laki.
Hidup adalah dinamis, begitu pula fenomena sosial yang ada di masyarakat.Seiring berkembangnya waktu, tatanan masyarakat juga mengalami perubahan.Salah satunya adalah tatanan atas kaum perempuan.Paper ini akam membahas mengenai perubahan sosial yang ada dimasyarakat, khususnya perubahan peranan perempuan pada abad pertengahan dan pada masa (setelah) lahirnya gerakan feminisme yang menuntut kesataraan antaran kaum perempuan dan kaum laki-laki.Meskipun perubahan peran dan status perempuan dan gerakan feminis telah muncul di berbagai belahan dunia, karena keterbatasan sumber, paper ini akan mengkhususkan perubahan peranan perempuan di Eropa dan sedikit bahasan di Amerika yang merupakan tempat lahirnya gerakan feminisme.
DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku :
Evans, Mary. 2009. “Teori Feminis” dalam Bryan S.Turner (Edt.). Teori Sosial dari Klasik sampai Postmodern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Havelock, Ronald G. & Steve Zlotolow. 1995. The Change Agent’s Guide. Education Technology.
Krolokke, Charlotte & Anne Scott Sorensen. 2006. Gender Communication Theories & Analyses From Silence to Performance. New York: SAGE Publications. Martono, Nanang. 2012. Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern,
Posmodern, dan Poskolonial. Jakarta: Rajawali Pers.
Rogers, Everett M & F.Floyd Shoemaker. 1987. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru.
Soekanto, Soerjono Soekanto. 1992. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Sztompka, Piotr. 2004. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Media Group. Sumber Artikel, Jurnal, Laporan:
Boulding, Elise. Women's International League for Peace and Freedom. Diakses dari
http://www.wilpfinternational.org/wp-content/uploads/2014/08/1994_Social_Feminism_and_Equity_Feminism.pd f
Lambert, Tim. 2015.A Brief History of Women’s Rights. Diakses dari http://www.localhistories.org/womensrights.html
Murphy, Michaela. 2012. Was There a Gender Revolution in the Seventeenth-Century?. Diakses dari http://arts.brighton.ac.uk/study/literature/brightonline/issue-number-three/was-there-a-gender-revolution-in-the-seventeenth-century Pugh, Martin. 1997. The Woman’s Movement. Diakses dari
http://www.historytoday.com/martin-pugh/womens-movement
Rampton, Martha. 2014. The Three Waves of Feminism. Diakses dari http://www.pacificu.edu/about-us/news-events/three-waves-feminism
Suwastini, Ni Komang Arie. 2013. “Perkembangan Feminisme Barat dari Abad Kedelapan Belas Hingga Postfeminisme: Sebuah Tinjauan Teoritis” dalam
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, Vol.2, No. 1.
Talk, Theory.2010. Robert Cox on World Orders, Historical Change, and the Purpose of Theory in International Relations. Diakses dari http://www.theory-talks.org/2010/03/theory-talk-37.html
Sumber Internet:
Literature, Feminism in.Women in the 16th, 17th, and 18th Centuries. Diakses dari