• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN KETERANGAN AHLI SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PEMBUKTIAN PERKARA PIDANA PENGANIAYAAN (STUDI KASUS NOMOR 79PID.B2007PN.SKA)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERANAN KETERANGAN AHLI SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PEMBUKTIAN PERKARA PIDANA PENGANIAYAAN (STUDI KASUS NOMOR 79PID.B2007PN.SKA)"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menjadi salah satu sumber hukum dalam proses pembuktian. Pembuktian merupakan

Kesimpulan yang didapatkan dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan adalah bahwa keberadaan Ilmu Kedokteran Kehakiman sangat penting dalam suatu proses

Keterangan ahli sebagai alat bukti yang sah menurut undang-undang, hanya diatur dalam satu pasal saja pada Bagian Keempat, Bab XVI sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 186.

Oleh karena itu, keterangan terdakwa bukan alat bukti yang memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna dan menentukan, penuntut umum tetap mempunyai kewajiban untuk

Pembuktian perkara tindak pidana perusakan hutan dalam pemeriksaan di pengadilan sesuai dengan sistem pembuktian negatif yakni ajaran pembuktian yang menyatakan

Jika seseorang yang akan memberikan keterangan sabagai saksi adalah orang yang sudah dewasa menurut hukum dan telah memenuhi persyaratan untuk sahnya suatu

Kata Kunci:Kekuatan Pembuktian, Keterangan Ahli, Perkara Pidana Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketentuan hukum alat-alat bukti dalam perkara pidana berdasarkan sistem

Indonesia menganut sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif dalam proses pembuktian perkara pidana dilihat dari Pasal 183 KUHAP menyatakan sebagai berikut: “hakim tidak