• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI KEBIJAKAN PENYEDIAAN RUANG TERB (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "EVALUASI KEBIJAKAN PENYEDIAAN RUANG TERB (2)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

KOTA BANDUNG

Anil Fansyori (1), Denny Zukaidi (2)

(1)Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB.

(2)Kelompok Keahlian Perencanaan dan Perancangan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB.

Abstrak

Dalam rangka menindaklanjuti kewajiban penyediaan RTH publik, Pemerintah Daerah Kota Bandung mengeluarkan beberapa kebijakan publik skala lokal sebagai landasan operasional pelaksanaan penyediaan RTH publik di Kota Bandung. Sepuluh tahun sejak disahkannya kebijakan tersebut, Kota Bandung hanya memiliki 6,42% RTH publik. Fenomena tersebut secara jelas menggambarkan tidak efektifnya pelaksanaan penyediaan RTH publik di Kota Bandung, persoalan dapat disebabkan oleh lemahnya operasionalisasi dalam tahap pelaksanaan atau tidak memadainya kualitas kebijakan penyediaan RTH publik sebagai acuan pelaksanaan yang mana sampai saat ini belum pernah dilakukan evaluasi untuk menilai kualitas kebijakan penyediaan RTH publik di Kota Bandung tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian campuran melalui pendekatan kelembagaan (legal-formal) dan pendekatan pragmatisme. Metode pengumpulan data dilakukan dengan metode pengumpulan data sekunder. Dalam proses analisis evaluasi, penelitian ini mengandalkan metode analisis kebijakan semu yang menggunakan kriteria dan indikator good public policy sebagai barometer evaluasi kualitas kebijakan. Hasil perumusan menghasilkan 4 kriteria, 11 sub kriteria dan 24 indikator penilaian. Empat kriteria good public policy tersebut, yaitu: (a) lengkap; (b) operasional; (c) terpadu; (c) akuntabel. Proses analisis dilakukan melalui empat tahap pengukuran: (1) pengukuran indikator; (2) pengukuran sub kriteria; (3) pengukuran kriteria; (4) pengukuran kualitas kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan publik penyediaan RTH Kota Bandung termasuk pada tingkat good public policy karena dapat memenuhi kriteria lengkap, operasional, integrasi dan akuntabel.

Kata kunci: ruang terbuka hijau, kebijakan publik, evaluasi kebijakan

Pengantar

Kewajiban penyediaan RTH publik merupakan tanggung jawab pemerintah daerah sebagai salah satu bentuk pelayanan atau penyediaan fasilitas publik bagi masyarakat. Kewajiban penyediaan RTH kota terutama RTH publik merupakan suatu tugas yang tidak mudah bagi pemerintah daerah, selalu dijumpai tantangan dan hambatan dalam pelaksanaannya. Menurut Ernawi (2012) bahwa ada 4 (empat) aspek yang menjadi tantangan dan hambatan dalam

(2)

4) aspek pengawasan, kurang optimalnya pengawasan dari pemerintah.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa 2 (dua) faktor utama efektif tidaknya penyediaan RTH publik yaitu baik buruknya kualitas kebijakan yang menjadi acuan dalam penyediaan RTH publik dan baik buruknya pelaksanaan penyediaan RTH publik itu sendiri. Kedua faktor tersebut merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan saling mempengaruhi. Penyediaan RTH publik tidak akan tercapai jika salah satu faktor lemah atau tidak optimal. Jika pencapaian penyediaan RTH publik tidak berjalan sesuai dengan target yang telah ditetapkan maka langkah pertama adalah menilai kualitas kebijakan yang dijadikan acuan pelaksanaannya. Berkenaan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan peninjauan kembali atau evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan penyediaan ruang terbuka hijau publik.

Kebijakan penyediaan ruang terbuka hijau publik merupakan bagian dari kebijakan publik, yang artinya kebijakan yang mengatur kepentingan umum/publik bukan kepentingan golongan atau kelompok tertentu. Kebijakan publik juga dapat diartikan sebagai setiap langkah atau tindakan yang dikeluarkan oleh pemerintah baik pusat, maupun daerah sebagai reaksi terhadap permasalahan publik. Beranjak dari pernyataan tersebut, maka kriteria dan indikator good public policy dijadikan dasar dalam pelaksanaan evaluasi kebijakan

Metode

Penelitian ini menggunakan metode penelitian campuran (mixed method research) dengan pendekatan legal-formal dan pragmatisme. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis evaluasi semu. Analisis evaluasi kebijakan ini bertujuan untuk menilai apakah kebijakan penyediaan RTH di Kota Bandung

memenuhi kriteria sebagai kebijakan publik yang baik (lengkap, operasional, integrasi dan akuntabel). Metode analisis evaluasi semu membutuhkan kriteria dan indikator sebagai alat evaluasi. Kriteria dan indikator dirumuskan berdasarkan telaah teori kebijakan publik, teori ruang terbuka hijau dan teori kriteria good public policy. Proses analisis dalam penelitian ini menggunakan 4 (empat) langkah pengukuran, yaitu:

1) Tahap I: Pengukuran Indikator

Pengukuran indikator dilakukan menggunakan analisis isi dengan pengukuran skala biner, “tercapai atau tidak”. Secara keseluruhan ada 24 indikator yang harus diukur. Hasil pengukuran indikator ini selanjutnya digunakan sebagai dasar pengukuran sub kriteria.

2) Tahap II: Pengukuran Sub Kriteria

Pengukuran pada tahap ini menggunakan skala pembobotan (kuantitatif) berdasarkan hasil pengukuran indikator. Tercapai tidaknya satu sub kriteria dilihat berdasarkan jumlah indikator tercapai dari jumlah keseluruhan indikator dalam sub kriteria tersebut. Jika 2/3 indikator dalam satu sub kriteria tercapai maka sub kriteria tersebut dikatakan “tercapai”.

3) Tahap III: Pengukuran Kriteria

Pengukuran tercapai tidaknya suatu kriteria dilihat dari jumlah sub kriteria yang tercapai dalam satu kriteria. Sama halnya seperti pada tahap II, skala pengukuran menggunakan skala pembobotan yaitu jika 2/3 dari jumlah sub kriteria dalam satu kriteria tercapai, maka kriteria tersebut dikatakan tercapai.

4) Tahap IV: Pengukuran Kualitas

Kebijakan

(3)

evaluasi kebijakan penyediaan RTH publik. Keluaran pada tahap ini adalah kesimpulan akhir yang menggambarkan tingkat (level) kualitas kebijakan penyediaan RTH publik Kota Bandung. Pengukuran tingkat kualitas kebijakan menggunakan skala interval yang terdiri dari 4 (empat) tingkatan, yaitu:

a. Kebijakan publik yang baik (good public policy), jika 4 (empat) kriteria tercapai;

b. Kebijakan publik cukup baik, jika 3 (tiga) kriteria tercapai;

c. Kebijakan publik kurang baik, jika 2 (dua) kriteria tercapai; dan

d. Kebijakan publik buruk (poor public policy), jika 1 (satu) atau tidak ada kriteria yang tercapai

Alur analisis secara singkat dijelaskan pada gambar di bawah ini

Gambar 1. Alur Analisis Evaluasi Kebijakan Penyediaan RTH Publik Kota Bandung

Perumusan Kriteria dan Indikator

Anderson (2000:4) mendefinisikan kebijakan publik sebagai serangkaian kegiatan yang mempunyai maksud atau tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seorang aktor atau sekelompok aktor yang berhubungan dengan suatu permasalahan atau suatu hal yang diperhatikan. Peterson (2003) mendefinisikannya sebagai government action to address some problem. Selanjutnya menurut Dye (1995: 2) kebijakan adalah segala sesatu yang dikerjakan pemerintah, mengapa mereka melakukan, dan hasil yang membuat sebuah kehidupan bersama tampil beda (what govenrment do, why they do it, and what difference it makes).

Evaluasi kebijakan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari analisis kebijakan. Evaluasi kebijakan bermanfaat dalam pemecahan masalah-masalah kebijakan melalui penilaian kinerja kebijakan. Dalam penelitian ini, peneliti membatasi lingkup materi pada satu tahapan analisis kebijakan, yaitu pada tahap evaluasi kebijakan. Evaluasi kebijakan berdasarkan waktu pelaksanaannya termasuk pada analisis kebijakan retrospektif (ex-post). Analisis retrospektif (ex-post) adalah analisis kebijakan yang dijelaskan sebagai penciptaan dan transformasi informasi sesudah aksi kebijakan diimplementasikan.

(4)

kebijakan retrospektif, dikarena kebijakan terkait penyediaan RTH telah disahkan dan diimplementasikan.

Kriteria dan indikator merupakan alat ukur dalam analisis evaluasi kebijakan semu. kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah kriteria good public policy. Kriteria good public policy menurut Jones (1977) antara lain:

1. Goals atau sasaran-sasaran yang merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai

2. Plans/ proposals atau rencana-rencana atau proposal yang merupakan spesifikasi alat untuk mencapai tujuan tersebut.

3. Programs atau program- program yang merupakan alat formal untuk mencapai tujuan.

4. Decisions atau keputusan-keputusan yang merupakan spesifikasi tindakan-tindakan yang diambil untuk mencapai tujuan, mengembangkan rencana, melaksanakan dan mengevaluasi program.

5. Effect atau dampak sebagai hasil terukur dari pelaksanaan program, baik yang diharapkan atau yang tidak diharapkan baik dampak utama ataupun dampak sampingan.

Sedangkan menurut Nugroho (2009), kriteria good public policy antara lain: 1) Cerdas adalah kebijakan publik yang

langung mengena terhadap inti dari permasalahan di masyarakat.

2) Bijaksana, artinya kebijakan tersebut harus bersifat adil dan tidak memihak. 3) Memberi harapan, artinya kebijakan

publik harus dapat memberikan manfaat bagi masyarakat untuk menjadi lebih baik.

Selanjutnya kriteria dari teori dan pakar kebijakan publik dirumuskan kembali melalui proses identifikasi, klasifikasi dan generalisasi sehingga menghasilkan kriteria dan indikator yang tepat untuk mengevaluasi kualitas kebijakan penyediaan RTH publik Kota Bandung.

 

(5)

Hasil perumusan kriteria dan indikator evaluasi menghasilkan 4 (empat) kriteria, 11 (sebelas) sub-kriteria dan 24 indikator. Empat kriteria evaluasi tersebut adalah lengkap, operasional terpadu dan sebelas sub kriteria tersebut antara lain:

Tabel 1. Analisis Tahap II Pengukuran Sub

Kriteria

Kriteria Sub Kriteria Jumlah

Indikator

Lengkap Hierarkis 3

Tujuan 2 Kelembagaan 2

Operasional Terukur 4

Detail 3

Terpadu Selaras 2

Bijaksana 1 Adil 1

Akuntabel Evaluatif 2

Tansparan 2

Responsif 2

Analisis

Sebagaimana telah dijelaskan sebeumnya bahwa analisis evaluasi kebijakan publik penyediaan RTH Kota Bandung dilakukan dalam 4 (empat) tahap pengukuran, yaitu, pengukuran indikator, pengukuran sub kriteria, pengukuran kriteria dan pengukuran kualitas kebijakan. Pada tahap pertama akan dilakukan pengukuran dari 24 (dua puluh empat) indikator penilaian. Pengukuran tahap pertama menggunakan teknik analisis isi yang menelaah isi yang terkandung di dalam setiap kebijakan baik tertulis maupun tersirat berdasarkan variabel dan tolok ukur setiap indikator pengukuran.

A.Analisis Tahap I: Pengukuran

Indikator

Berdasarkan hasil analisis tahap I pengukuran indikator, diperoleh hasil sebanyak 23 (dua puluh tiga) indikator tercapai dan 1 (satu) indikator tidak tercapai. Hasil analisis pengukuran indikator di atas selanjutnya digunakan sebagai landasan analisis tahap II pengukuran sub kriteria. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3. Hasil Pengukuran Indikator Evaluasi Kebijakan Penyediaan RTH Publik Kota

(6)

B.Analisis Tahap II: Pengukuran Sub Kriteria

Tahapan analisis selanjutnya adalah pengukuran ketercapaian setiap sub kriteria. Jumlah yang akan diukur sebanyak 11 sub kriteria. Sub kriteria dinyatakan tercapai jika 2/3 dari jumlah indikator dalam satu sub kriteria tercapai.

Tabel 2. Analisis Tahap II Pengukuran Sub

Kriteria

Sub Kriteria Jumlah Indikator

Indikator Tercapai

Hasil Pengukuran

Hierarkis 3 2 Tercapai

Tujuan 2 2 Tercapai

Kelembagaan 2 2 Tercapai

Terukur 4 4 Tercapai

Detail 3 3 Tercapai

Selaras 2 2 Tercapai

Bijaksana 1 1 Tercapai

Adil 1 1 Tercapai

Evaluatif 2 2 Tercapai

Tansparan 2 2 Tercapai

Responsif 2 2 Tercapai

Berdasarkan tabel perhitungan sub kriteria di atas, diketahui bahwa 11 (sebelas) dari 11 (sebelas) sub kriteria tercapai, artinya kebijakan penyediaan RTH publik Kota Bandung telah mencapai keseluruhan sub kriteria good public policy. Hasil perhitungan ini selanjutnya dijadikan dasar perhitungan tahap III perhitungan kriteria kebijakan penyediaan RTH publik Kota Bandung

C.Analisis Tahap III: Pengukuran

Kriteria

Tahapan analisis selanjutnya adalah pengukuran ketercapaian tiap kriteria. Jumlah yang akan diukur sebanyak 4 kriteria. Kriteria dinyatakan tercapai jika 2/3 dari jumlah sub kriteria dalam satu kriteria tercapai. Hasil pengukuran kriteria dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 3. Analisis Tahap III Pengukuran

Kriteria

Operasional 2 2 Tercapai

Terpadu 3 3 Tercapai

Akuntabel 3 3 Tercapai

Berdasarkan analisis tahap III pengukuran kriteria di atas, dapat disimpulkan bahwa kebijakan penyediaan RTH Kota Bandung telah lengkap, operasional, terpadu dan akuntabel.

D.Analisis Tahap IV: Pengukuran

Kualitas Kebijakan

Analisis pengukuran kualitas kebijakan merupakan analisis evaluasi kebijakan tahap akhir, dimana hasil analisis ini akan menunjukkan tingkatan kualitas kebijakan ruang terbuka hijau Kota Bandung. Pengukuran ini menggunakan skala interval yang terdiri dari 4 (empat) tingkatan berdasarkan banyaknya jumlah kriteria yang tercapai.

Hasil analisis pengukuran kriteria menyatakan bahwa keseluruhan kriteria good public policy (lengkap, operasional, terpadu, akuntabel) telah tercapai. Dengan demikian maka posisi kualitas kebijakan penyediaan RTH publik Kota Bandung berada pada level

“Good Public Policy”.

Gambar 4. Tingkatan Kualitas Kebijakan

(7)

Temuan Analisis

Temuan penelitian merupakan generalisasi dari temuan-temuan analisis evaluasi kebijakan penyediaan RTH publik sebelumnya, diantaranya:

1) Perda Kota Bandung No. 7 Tahun 2011 tentang Pengelolaan RTH lebih fokus pada perlindungan dan penjaminan terhadap kinerja pengelolaan RTH yang sudah ada, bukan pada usaha penyediaan atau penambahan RTH baru.

2) Perbedaan priode atau tahapan waktu pencapaian RTH 20% Kota Bandung disebabkan adanya perbedaan tahun terbit dan jangka waktu berlakunya kebijakan tersebut. Walaupun demikian, tujuan akhir dari setiap kebijakan adalah penyediaan RTH publik sebesar 20% pada tahun 2031.

3) Jika melihat laju pertumbuhan RTH publik per tahunnya hanya berkisar antara 0-0,1% maka diasumsikan bahwa indikator kinerja penyediaan RTH publik hanya sebatas sebagai laporan tahunan tanpa ditindaklanjuti secara maksimal untuk menyesuaikan dengan target yang seharusnya.

4) Pendistribusian tugas dan wewenang tiap tahap penyediaan RTH publik (perencanaan, pembebasan lahan, perancangan teknis, pembangunan dan pengelolaan) telah diatur dengan jelas dalam kebijakan penyediaan RTH Kota Bandung saat ini. Akan tetapi, dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah berpotensi terjadinya ketidaksesuaian antara kebijakan dan kewenangan di lapangan karena telah terjadi perubahan SOTK dalam struktur kelembagaan di Pemerintah Kota Bandung terutama terhadap SKPD yang membidangi aspek lingkungan dan penataan ruang.

Kesimpulan

Sintesa analisis evaluasi dan temuan-temuan penelitian merupakan landasan utama dalam perumusan kesimpulan penelitian. Berikut beberapa kesimpulan hasil generalisasi dari keseluruhan isi penelitian ini, diantaranya:

1) Secara umum, kebijakan publik

penyediaan RTH Kota Bandung termasuk pada tingkat good public

policy. Disebut sebagai suatu kebijakan

yang baik karena kebijakan penyediaan RTH publik Kota Bandung telah memenuhi kriteria operasional, lengkap, terpadu dan akuntabel. 

2) Kebijakan penyediaan RTH publik Kota Bandung adalah kebijakan yang lengkap artinya secara keseluruhan kebijakan tersebut sudah berhierarki, mulai dari peraturan daerah yang bersifat umum hingga dokumen perencanaan yang bersifat teknis, memiliki tujuan dan sasaran yang jelas baik secara implisit maupun eksplisit serta telah mengakomodir keterlibatan setiap pemangku kepentingan baik dalam lingkup pemerintah daerah maupun cakupan masyarakat luas.

3) Kebijakan penyediaan RTH publik Kota Bandung adalah kebijakan yang operasional artinya kebijakan tersebut sudah dapat dijadikan acuan dalam tahap pelaksanaan pembangunan karena telah memiliki target-target pencapaian detail dan dinyatakan dalam istilah terukur (luasan RTH, waktu pencapaian, distribusi lokasi RTH dan pembiayaan).

(8)

5) Kebijakan penyediaan RTH publik Kota Bandung adalah kebijakan yang akuntabel artinya kebijakan tersebut bersifat evaluatif, terbuka, transparan dan dapat mengakomodir perubahan, tantangan dan peluang yang dihadapi dalam proses penyediaan RTH di Kota Bandung.

6) Hasil analisis evaluasi kebijakan menyatakan bahwa kebijakan penyediaan RTH publik Kota Bandung adalah kebijakan publik yang baik (good public policy), dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa belum terpenuhinya target pencapaian 20% RTH Kota Bandung disebabkan karena lemahnya kinerja pelaksanaan pembangunan RTH Kota Bandung.

Rekomendasi

Berdasarkan temuan hasil analisis sebelumnya, berikut beberapa rekomendasi atau saran yang dipandang dapat memberikan manfaat bagi penyempurnaan kebijakan penyediaan ruang terbuka hijau publik Kota Bandung, diantaranya:

1) Ketentuan dan arahan yang terkandung dalam Peraturan Daerah Kota Bandung No. 7 Tahun 2011 tentang Pengelolaan RTH hanya terfokus pada satu tahap penyediaan RTH, yaitu pengelolaan RTH publik. Sedangkan tahapan penyediaan RTH publik mencakup proses perencanaan, perancangan teknis, penyediaan lahan, pembangunan dan pengelolaan RTH. Berdasarkan hal tersebut, maka direkomendasikan untuk dilakukan peninjauan kembali terhadap Perda No. 7 Tahun 2011 dengan tujuan agar kebijakan tersebut dapat menjelaskan pelaksanaan penyediaan RTH Kota Bandung dengan lebih komprehensif.

2) Memperkuat kerjasama dengan

pemangku kepentingan di luar perangkat pemerintah daerah, seperti pihak swasta institusi pendidikan,

ahli/pakar, lembaga/perusahaan, komunitas masyarakat dan/atau masyarakat perseorangan.

3) Peran aktif dan komitmen Walikota Bandung sebagai penanggung jawab penyediaan RTH publik sangat dibutuhkan dalam kapasitasnya memberikan motivasi, pengawasan, evaluasi serta reward dan punishment kepada perangkat daerah di bawahnya untuk lebih meningkatkan kinerja dan efektifitas dalam pengimplementasian kebijakan penyediaan RTH publik di Kota Bandung.

4) Adanya perubahan dan rencana

peninjauan kembali beberapa kebijakan yang terkait dengan penyediaan RTH publik (PP Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah) dan revisi Perda No. 18 Tahun 2011 tentang RTRW Kota Bandung 2011-2031) perlu ditanggapi dan ditindaklanjuti oleh kebijakan di bawahnya, jika terjadi perubahan yang mendasar atau perubahan yang sifatnya dapat mengugurkan kebijakan di bawahnya.

5) Pemerintah Kota Bandung agar

secapatnya merumuskan dan menerbitkan peraturan walikota sebagai peraturan yang berfungsi menjelaskan pelaksanaan penyediaan RTH publik di Kota Bandung dengan minimal mengatur tentang:

• Tata cara teknis pelaksanaan setiap tahap penyediaan RTH publik, yang sebelumnya telah disusun dalam dokumen perencanaan teknis (Masterplan RTH Kota Bandung 2012, P2KP Kota bandung 2012 dan sebagainya)

• Inovasi, strategi, program dan teknis pelaksanaan yang telah diterapkan dan terbukti berhasil, selama tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(9)

antara pemerintah Kota Bandung dengan pemangku kepentingan lainnya (masyarakat, swasta, lembaga swadaya, kelompok komunitas, lembaga pendidikan dan lain sebagainya) terutama dalam aspek penyediaan lahan dan pembiayaan pembangunan RTH publik.

Daftar Pustaka

Abidin, Said Zainal, 2004. Kebijakan Publik. Yayasan Pancur Siwah. Jakarta

Anderson, James E., 2000, Public Policy Making, Houghton Mifflin. Boston Creswell, J.W., 2009. Research Design,

Qualitative, Quantitative, and Mixed Approach. Third Edition. Sage Publication, California.

Dunn, William .N. 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Penerjemah Samodra Wibawa. Gajah Mada University Press. Yogjakarta

Dye, Thomas R., 1995. Undesstanding Public Policy. Prentice Hall. New Jersey

Jones, Charles O. 1977. An introduction to the study of public policy-2nd ed. Brooks/Cole Pub. Co. English Nazir, Moh. 2006. Metode Penelitian.

Ghalia Indonesia. Bogor

Nugroho, Riant, 2009. Public Policy. PT. Alex Media Komputindo. Jakarta Patton, Carl,V. Dan David S. Savicky,

1993. Basic method of Policy Analysis Method and Planning. Prentice Hall. New Jersey

Ernawi I.S, 2012. Gerakan Kota Hijau. Buletin Tata Rung. BKPRN. Jakarta Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 5/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor : 18 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung Tahun 2011-2031

Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor : 10 Tahun 2015 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kota Bandung Tahun 2015 – 2035

Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor : 07 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau

Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor : 25 Tahun 2009 tentang Hutan Kota Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor :

09 Tahun 2015 tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2015 Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor :

08 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Tahun 2005 – 2025 Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor : 03 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2013-2018 Peraturan Walikota Bandung Nomor : 428

Tahun 2010 tentang Rician Tugas Pokok, Fungsi, Uraian Tugas dan Tata Kerja Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung

Gambar

Gambar 1. Alur Analisis Evaluasi Kebijakan Penyediaan RTH Publik Kota Bandung
Gambar 2. Alur Perumusan Kriterian dan Indikator Evaluasi Kebijakan
Tabel 1. Analisis Tahap II Pengukuran Sub Kriteria
Tabel 2. Analisis Tahap II Pengukuran Sub Kriteria

Referensi

Dokumen terkait

Administrasi Negara yang fokus pada nilai-nilai penghargaan HAM dan penjaminan seluruh kebutuhan warga negaranya. Oleh sebab itu penelitian ini mengkaji tentang :

PADA MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR PESERTA DIDIK KELAS VIII SMP N 2 BANDUNG. TAHUN

Adapun yang menjadi fokus penelitian ini berorientasi pada masalah pokok yang meliputi, Bagaimana Implementasi Kebijakan Pemerintah dalam menyediakan Ruang Terbuka

Dari hasil penelitian yang penulis lakukan pada Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Kota Surabaya tentang Dampak Kebijakan Perda Nomor 4 Tahun 2011 Terhadap Pajak