• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLIKASI KEBIJAKAN RUANG TERBUKA HIJAU (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IMPLIKASI KEBIJAKAN RUANG TERBUKA HIJAU (2)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 IMPLIKASI KEBIJAKAN RUANG TERBUKA HIJAU DALAM PENATAAN RUANG

DI PROVINSI JAWA BARAT1

Nadia Astriani2

ABSTRAK

Ruang tidak dapat dipisahkan dari manusia baik secara psikologis, emosional ataupun dimensional. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Semakin sempitnya RTH dapat menimbulkan munculnya kerawanan dan penyakit sosial sifat individualistik dan ketidakpedulian terhadap lingkungan. Disamping ini semakin terbatasnya RTH juga berpengaruh terhadap peningkatan iklim mikro, pencemaran udara, banjir dan berbagai dampak negatif lingkungan lainnya.

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dan mendekati permasalahan kebijakan ruang terbuka hijau secara sistemik (utuh-menyeluruh/ holistik), yaitu dengan pendekatan dari segi pengkajian secara interdisipliner dan multidisipliner, dan dengan pendekatan dari segi pengelolaannya secara terpadu. Metode ini diharapkan dapat menjelaskan mengenai kebijakan RTH di provinsi Jawa Barat dan implikasi kebijakan tersebut terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah.

Hasil Penelitian menunjukan keseluruhan jumlah RTH di Jawa Barat belum memenuhi jumlah 30% sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang Penataan Ruang, sehingga kebijakan RTH diarahkan pada pemenuhan kuota 30%, dengan berbagai strategi peningkatan kualitas dan kuantitas RTH Kabupaten/Kota. RTH merupakan bagian penting dari Sistem Tata Ruang Kota, maka pengadaan RTH merupakan bagian perencanaan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Sebagai bagian dari tata ruang, RTH merupakan instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kebijakan mengenai RTH merupakan bagian dari kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Kata Kunci : Kebijakan, Ruang Terbuka Hijau, Tata Ruang

(2)

2 THE IMPLICATION OF GREEN OPEN SPACE POLICY TO SPATIAL USE IN JAWA

BARAT

Nadia Astriani

ABSTRACT

Space can not be separated from humans both psychologically, emotionally or dimensional. Green open space is an area of elongated / path and / or clustered, the use of which is more open, a place to grow plants, whether grown naturally or are deliberately planted. The limited green space can lead to the emergence of social insecurity and disease and ignorance of the individualistic nature of the environment. In addition to this more limited green space also affects the increase in micro-climate, air pollution, flooding and other environmental negative impacts.

This research is descriptive and analytical approach the green open space policy issues in a systemic (whole-comprehensive / holistic), namely in terms of the approach is interdisciplinar y and multidisciplinary assessment, and with the approach in terms of its management in an integrated manner. This method is expected to explain the green open space policy in Jawa Barat Provence and the policy implication of Spatial Use.

Research results show that the number of Green Open Space in Jawa Barat Province has not reach 30% as regulated on Spatial Use Act, therefore the policy is direct toincreasing the quality and quantity of green open space. Because Greean Open Space is an important part of the City Spatial Systems, the procurement of green open space is part of planning in the protection and management of the environment. As part of spatial planning, the function of green open space is as the pollution prevention instrument. So it can be concluded that the green open space policy is part of the protection policy and environmental management.

(3)

3

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kota merupakan lambang peradaban kehidupan manusia, sebagai pertumbuhan ekonomi, sumber inovasi dan kreasi, pusat kebudayaan dan wahana untuk peningkatan kualitas hidup3. Janice Perlman, pengarang dan pendiri dari Proyek Mega-Kota, mengatakan :

“Dunia ini akan lebih didominasi oleh kota. Pada tahun 1800, hanya 3% dari populasi dunia tinggal di area kota. Pada 1950 angkanya menjadi 29% dan segera setelah tahun 2000, lebih dari 50% orang akan tinggal di kota-kota. Kita akan mengalami kebalauan perkotaan yang belum pernah terjadi pada kehidupan manusia”

Kondisi tersebut dapat dirasakan saat ini, dimana kota menanggung beban teramat berat bagi penduduk kotanya. Permasalahan kota yang sangat komplek, menimbulkan gagasan pembentukan kota berkelanjutan, yaitu kota yang dalam perkembangan dan pembangunannya mampu memenuhi keutuhan masyarakat nasa kini, mampu berkompetisi dalam ekonomi global dengan mempertahankan keserasian lingkungan, vitalitas sosial, budaya, politik dan pertahanan keamanannya, tanpa mengabaikan atau mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam pemenuhan kebutuhan mereka4.

Sampai saat ini pemanfaatan ruang masih belum sesuai dengan harapan yakni terwujudnya ruang yang nyaman, produktif dan berkelanjutan. Menurunnya kualitas permukiman di perkotaan bisa dilihat dari kemacetan yang semakin parah, berkembangnya kawasan kumuh yang rentan dengan bencana banjir/longsor serta semakin hilangnya ruang terbuka (Openspace) untuk artikulasi dan kesehatan masyarakat.

Berdasarkan KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brazil (1992) dan dipertegas lagi pada KTT Johanesburg Afrika Selatan 10 tahun kemudian (2002), disepakati bersama bahwa sebuah kota idealnya memiliki luas RTH minimal 30 % dari total luas kota. Namun tampaknya bagi kota-kota di Indonesia pada umumnya hal ini akan sulit terealisir akibat terus adanya tekanan pertumbuhan dan kebutuhan sarana dan prasarana kota, seperti pembangunan bangunan gedung,

(4)

4 pengembangan dan penambahan jalur jalan yang terus meningkat serta peningkatan jumlah penduduk.

Kondisi yang telah digambarkan diatas, mendorong peneliti untuk meneliti mengenai Implikasi Kebijakan Ruang Terbuka Hijau pada Penataan Ruang di Provinsi Jawa Barat.

1.2. Identifikasi Masalah

Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah bentuk Kebijakan Ruang Terbuka Hijau di Provinsi Jawa Barat ?

2. Bagaimanakah implikasi Kebijakan Ruang Terbuka Hijau terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat ?

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimanakah bentuk Kebijakan Ruang Terbuka Hijau pemerintah Provinsi Jawa Barat.

2. Untuk mengetahui bagaimanakah implikasi Kebijakan Ruang Terbuka Hijau terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat

1.3.2. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberi manfaat dan sumbangan pemikiran bagi pengembangan ilmu hukum pada umumnya, selain itu diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengenai bentuk Kebijakan Ruang Terbuka Hijau yang baik.

1.4. Tinjauan Pustaka

Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) alinea keempat menyatakan bahwa negara Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia, seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum.5 Negara mempunyai tanggung jawab terhadap perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (sumberdaya manusia, sumberdaya alam dan sumberdaya

(5)

5 budaya). Lebih lanjut Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945 Amandemen Kedua menegaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Hukum Lingkungan adalah hukum yang berhubungan dengan lingkungan alam dalam arti seluas-luasnya. Ruang lingkupnya berkaitan dengan dan ditentukan oleh ruang lingkup pengelolaan lingkungan. Hukum lingkungan berpandangan dengan sifatnya yang tunggal dan pendekatannya utuh menyeluruh, semua komponennya senantiasa saling berhubungan dan mempengaruhi dan segenap unsur memperlihatkan kemacamragaman.6 Sebagai hukum yang berorientasi kepada lingkungan yang sifat dan hakekatnya adalah utuh menyeluruh (komprehensif integral).7

Penataan Ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Asas penataan ruang adalah pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang dan berkelanjutan. Asas lainnya adalah keterbukaan, persamaan, keadilan dan perlindungan hukum. Adapun tujuan penataan ruang adalah :

1. Terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional

2. Terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan indung dan kawasan budi daya

3. Tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas (UU no 24 tahun 1992).

Penataan ruang wilayah/kawasan pada era otonomi daerah memiliki konsep dan karakteristik sebagai berikut :

1. Lebih menitikberatkan kepada pendekatan bottom-up 2. Melibatkan semua pelaku pembangunan (stakeholder)

3. Transparan dalam perencanaan, implementasi dan pengendalian 4. Memberi perhatian besar pada tuntutan jangka pendek

5. Realistis terhadap tuntutan dunia usaha dan masyarakat

6. Berwawasan luas, dengan perhatian terhadap kawasan yang lebih detail 7. Rencana dapat dijadikan pedoman investasi

6 Ibid, hlm 71.

(6)

6 8. Menjaga dan meningkatkan mutu lingkungan sambil mendorong dan memfasilitasi

pembangunan

9. Mempunyai visi pembangunan dan manajemen pembangunan (applicable)

Ketentuan yang terkait dengan rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau pada UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mulai diatur di dalam ketentuan muatan penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (Pasal 28). Di dalam pasal berikutnya disebutkan bahwa proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30% dari luas wilayah kota, terdiri dari luas wilayah kota, terdiri dari ruang terbuka hijau public sebesar 20% dan sisanya merupakan ruang terbuka hijau privat.

Proporsi 30 (tiga puluh) persen merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan system hidrologi dan system mikroklimat, maupun system ekologis lain, yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. Adapun proporsi ruang terbuka hijau public seluas minimal 20 (duapuluh) persen yang disediakan oleh pemerintah daerah kota dimaksudkan agar proporsi ruang terbuka hijau minimal dapat lebih dijamin pencapaiannya sehingga memungkinkan pemanfaatannya secara luas oleh masyarakat.

Pasal 1 angka 31 Undang-Undang N0 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang mendefinisikan Ruang Terbuka Hijau ( RTH ) sebagai area memanjang / jalur dan / atau mengelompok yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah, maupun yang sengaja ditanam. Klasifikasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dapat dibagi menjadi 8:

1. Kawasan hijau pertamanan kota 2. Kawasan Hijau hutan kota 3. Kawasan hijau rekreasi kota 4. Kawasan hijau kegiatan olahraga 5. Kawasan hijau pemakaman

Pasal 1 angka 2 Permendagri N0 1 Tahun 2007 Tentang Ruang Terbuka Hijau kawasan Perkotaan mendefinisikan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP ) sebagai bagian

(7)

7 dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan tersebut. Tipologi RTH berdasarkan bentuknya dibagi menjadi 2, yaitu RTH berbentuk kawasan atau areal dan RTH yang berbentuk jalur atau memanjang.

Berdasarkan lokasi, secara rinci dijabarkan dalam Inmendagri No. 14 tahun 1988, yaitu RTH di kawasan permukiman kepadatan tinggi, kepadatan sedang, kepadatan rendah; kawasan industri, perkantoran, sekolah/ perguruan tinggi, perdagangan; jalur jalan, jalur sungai, jalur pesisir pantai dan jalur pengaman utilitas. Menurut Grey (1996) bentuk-bentuk RTH diklasifikasikan sebagai taman kota (city park), lapangan terbuka / bermain (public squares), halaman gedung / pekarangan (ground of city building), pemakaman dan monument, jalur hijau (streetsides) dan median jalan, sempadan kawasan limitasi (riparian areas) dan kawasan khusus (special areas). Sedangkan Lovejoy (1976) memasukkan kriteria kawasan pertanian sebagai bagian dari ruang terbuka hijau9.

Penyelenggaraan RTH Kota bertujuan menjaga kelestarian, keserasian dan keseimangan ekosistem perkotaan yang meliputi unsur-unsur lingkungan, sosial dan budaya sehingga RTH Kota diharapkan dapat bermanfaat sebagai10 :

1. Identitas kota, dengan menanam tanaman yang merupakan lambang suatu kota.

2. Pelestari Plasma Nutfah, dengan menjadikan RTH-kota sebagai areal pelestarian di luar kawasan konservasi

3. Penahan dan Penyaring Partikel Padat dari Udara sehingga udara lebih bersih dan sehat 4. Mengatasi genangan air dengan menanam jenis tanaman yang mempunyai kemampuan

evapotranspirasi tinggi.

5. Produksi buah-buahan secara terbatas bagi masyarakat di sekitar RTH. 6. Ameliorasi iklim

9 Dhini Dewiyanti, RUANG TERBUKA HIJAU KOTA BANDUNG : Suatu Tinjauan Awal Taman Kota Terhadap Konsep Kota Layak Anak, Majalah Ilmiah UNIKOM, Vol 7 no 1

(8)

8 7. Pengelolaan Sampah dengan mengfungsikan RTH-kota sebagai penyekat bau, penyerap

bau, pelindung tanah hasil bentukan sekomposisi dari tanah dan penyerap zat berbahaya dan beracun.

8. Pelestarian Air Tanah dengan membangun RTH pada daerah resapan air dari kota yang bersangkutan.

9. Penapis cahaya silau 10.Meningkatkan keindahan

11.Habitat burung dengan menyediakan pepohonan sebagai tempat mencari makan dan tempat bersarang

12.Mengurangi stress

13.Mengamankan Pantai dari abrasi

Inmendagri No 14 tahun 1988 tentang Penataan RTH di wilayah perkotaan mensyaratkan tersedianya taman lingkungan dan taman kota sebagai berikut :

1. Setiap 250 penduduk tersedia satu taman seluas 250 m2. Taman ini merupakan taman lingkungan perumahan untuk melayani aktivitas balita, manula dan ibu rumah tangga sehingga menjadi sarana sosialisasi penduduk di sekitarnya.

2. Setiap 2500 penduduk tersedia satu taman seluas 1.250 m2. Taman ini untuk menampung kegiatan remaja seperti berolahraga atau kegiatan kemasyarakatan lainnya. 3. Setiap 30.000 penduduk tersedia satu taman seluas 9.000 m3. Taman ini untuk melayani

kegiatan masyarakat seperti pertunjukan music atau kegiatan olahraga pada minggu pagi, shalat Idul Fitri, pameran pembangunan dan atau kampanye di musim pemilu atau Pilkada. RTH ini dapat pula berupa acara kegiatan pasif sehingga fasilitas utama yang disediakan hanya berupa kursi-kursi taman, jalur sirkulasi serta pohon-pohon besar sebagai peneduhnya.

4. Setiap 120.000 penduduk tersedia satu taman seluas 24.000 m2. RTH inisudah dapat dikategorikan sebagai taman kota, untuk menampung berbagai kegiatan baik skala kota maupun skala bagian wilayah kota.

(9)

9 Tujuan pembentukan RTH di wilayah perkotaan adalah11 :

1. Meningkatkan mutu lingkungan hidup perkotaan dan sebagai sarana pengamanan lingkungan perkotaan.

2. Menciptakan keserasian lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna bagi kepentingan masyarakat.

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam Pengelolaan RTH adalah12 :

1. Fisik (dasar eksistensi lingkungan), bentuknya bisa memanjang, bulat maupun persegi empat atau panjang atau bentuk-bentuk geografis lain sesuai geo-topografinya.

2. Sosial, RTH merupakan ruang untuk manusia agar bisa bersosialisasi. 3. Ekonomi, RTH merupakan sumber produk yang bisa dijual

4. Budaya, ruang untuk mengekspresikan seni budaya masyarakat

5. Kebutuhan akan terlayaninya hak-hak manusia (penduduk) untuk mendapatkan lingkungan yang aman, nyaman, indah dan lestari.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian ini mendekati berbagai permasalahan yang berkenaan dengan Kebijakan Pemerintah dalam Penataan Ruang secara Yuridis Normatif. Penelitian Hukum Normatif merupakan penelitian untuk menemukan Hukum In Concreto, merupakan usaha untuk menemukan apakah hukum yang sesuai untuk diterapkan in cocreto dalam pelaksanaannya.13 Teknik pengumpulan data dan informasi akan digunakan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Untuk mengumpulkan data primer dilakukan melalui wawancara dengan nara sumber terpilih yang dipandang mengetahui dan memahami serta nara sumber yang terkait dengan bidang tugas dan fungsinya dalam pembuatan kebijakan dan perencaan penataan ruang. Penelitian lapangan akan dilaksanakan di beberapa instansi pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten kota dan salah satu LSM di bidang lingkungan untuk lebih memberikan gambaran utuh mengenai permasalahan yang akan dikaji.

11 Hasni, Op Cit, hal 254-255 bandingkan dengan pasal 2 Permendagri no 1 thn 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan

12 Ibid, hal 279

(10)

10 Penelitian ini merupakan Library Research atau penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan bertujuan untuk mengkaji, meneliti dan menelusuri data sekunder yang berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Bahan Hukum Primer dimaksud, yaitu bahan-bahan hukum yang langsung diperoleh dari instansi yang berwenang mengeluarkan-nya, dapat berupa peraturan perundang-undangan atau dokumen-dokumen resmi lainnya. Studi kepustakaan meliputi juga bahan-bahan hukum sekunder berupa literatur, hasil penelitian, makalah-makalah simposium, seminar, lokakarya yang menjelaskan bahan-bahan hukum primer tersebut di atas. Sedangkan untuk melengkapinya digunakan pula bahan hukum tersier berupa kamus, baik kamus hukum maupun kamus non hukum atau umum.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan Permen PU No. 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan, menguraikan lebih teknis berbagai jenis RTH yang perlu dikembangkan melalui berbagai klasifikasi dan pendekatan sebagai berikut.

1. Berdasarkan Luas Wilayah

• Penyediaan luas RTHKP menjadi tanggung jawab Pemerintahan Kabupaten dan Kota

• RTH di Perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH Privat

• Proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau public dan 10% ruang terbuka hijau privat.

• RTHKP Publik tidak dapat dialihfungsikan

• Apabila luas RTH baik public maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki luas total lebih besar dari peraturan atau perundnagan yang berlaku, maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya

• Proporsi luas 30% dari luas wilayah kota ini dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal

2. Berdasarkan Jumlah Penduduk

Luas RTH diperoleh dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH perkapita sesuai kategorinya

(11)

11 Fungsi RTH dalam hal ini adalah sebagai berikut :

1. Perlindungan dan atau pengamanan seperti pengamanan para pejalan kaki 2. Sebagai sarana dan prasarana

3. Membatasi penggunaan lahan agar fungsi utama tidak terganggu, RTH katagori ini meliputi :

• Jalur Hijau Sempadan rel KA

• Jalur Hijau jaringan listrik tegangan tinggi

• RTH kawasan perlindungan setempat seperti RTH sempadan sungai, sempadan pantai dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air.

Ruang Terbuka Hijau merupakan bagian penting dalam Sistem Tata Ruang Kota, dikarenakan RTH memiliki banyak fungsi yaitu fungsi edaphis, hidro-orologis, klimatologis, protektif, higienis, edukatif, estetis dan sosial ekonomi. Karena itu pengadaan dan pengelolaan RTH merupakan bagian dari perencanaan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Dalam pola pemanfaatan ruang, ada ruang yang didorong pengembangannya dan ada ruang yang dibatasi pengembangannya. RTH merupakan bentuk pemanfataan yang didorong pengembangannya. Sebagai bagian dari tata ruang, RTH merupakan instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Target 30% RTH yang menjadi amanat Undang-Undang Penataan Ruang menjadi dasar perencanaan Tata Ruang Kota. Pencapaian target tersebut memerlukan kerjasama berbagai pihak, karena pengelolaan ruang terbuka hijau tidak hanya merupakan tanggung jawab satu pihak pemerintah saja, namun merupakan tanggung jawab dari berbagai pelaku terkait.

Dari arahan dalam UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, untuk luasan RTH perkotaan minimal 30% dengan rincian 20% RTH Publik dan 10% RTH Privat, karena itu pemerintah daerah harus menggalang sumberdaya yang ada yaitu dengan mengajak masyarakat, pihak swasta dan lembaga lainnya untuk terlibat dalam pengelolaan RTH tersebut. Adapun tugas masing-masing pihak dapat dibagi sebagai berikut:

1. Tugas Utama Pemerintah dalam Pengelolaan RTH Publik adalah sebagai berikut :

b. Merencanakan RTH baik sebagai bagian dari RTRW Kota/kabupaten, RDTR, rencana tata ruang lainnya ataupun rencana tata hijau

(12)

12 d. Menyediakan luasan, sebaran dan jenis RTH yang memadai

e. Membangun, memperbaiki dan memelihara RTH Publik sebagai salah satu komponen peningkat daya dukung dan daya tamping lingkungan dengan tetap mempertahankan fungsi ekologis yang diembannya

f. Memberikan penyuluhan kepada semua pihak akan pentingnya fungsi serta keberadaan RTH Publik falam suatu kota sehingga komponen ini harus selalu menjadi bagian dari pembangunan suatu kota

g. Memfasilitasi pelaku pembangunan lainnya untuk berpartisipasi dalam pengelolaan RTH

h. Mendorong peran masyarakat dalam pengelolaan RTH baik secara perorangan maupun berkelompok dalam bentuk swasta/badan usaha atau lembaga

i. Mengendalikan dan membatasi alih fungsi lahan RTH menjadi kawasan terbangun j. Menyusun program pengadaan RTH termasuk aspek pembiayaan dan instansi/ pelaku

pembangunan yang terlibat dalam program tersebut. 2. Peran masyarakat dalam pengelolaan RTH diantaranya :

a. Menjaga keberadaan RTH dengan cara:

i. Tidak membangun pada jalur sempadan sungai ii. Tidak mengubah fungsi taman yang ada

iii. Tidak menebang pohon pada jalur hijau sempadan jalan b. Memelihara RTH pada Kawasan Perumahan

c. Turut mengawasi proses pemeliharaan dan keberadaan RTH dengan member masukan kepada instansi pengelola jika terjadi penyimpangan penggunaan RTH

d. Menyediakan lahan untuk penyelenggaraan RTH

e. Memberikan bantuan dalam mengidentifikasi komponen RTH yang ada maupun yang potensial dikembangkan

f. Memberikan informasi, saran, pertimbangan atau pendapat dalam penyelenggaraan RTH

3. Peran Swasta dalam Pengelolaan RTH, diantaranya : a. Menjaga keberadaan RTH dengan cara:

(13)

13 c. Tidak menebang pohon pada jalur hijau sempadan jalan

b. Berperan dalam pembangunan komponen RTH buatan dengan cara member dana pembangunan saja maupun turut sebagai pelaksana pembangunan/perbaikan taman c. Memelihara taman dengan biaya pemeliharaan dan penyediaan tenaga kerja lapangan

sendiri, namun memperoleh imbalan secara tidak langsung seperti pemasangan reklame d. Menyediakan lahan untuk penyelenggaraan RTH

e. Memberikan informasi, saran, pertimbangan atau pendapat dalam penyelenggaraan RTH

f. Memberikan bantuan dalam mengidentifikasi komponen RTH yang ada maupun yang potensial dikembangkan.

4. Peran Lembaga terkait lain dalam hal ini lembaga penelitian, perguruan tinggi adan LSM adalah :

a. Penyuluhan dan pendidikan lewat media b. Penyuluhan ke sekolah-sekolah

c. Pencanangan Gerakan Bangun, Pelihara dan Kelaola RTH di tingkat RT sampai kecamatan

d. Menyediakan lahan untuk penyelenggaraan RTH

e. Memberikan informasi, saran, pertimbangan atau pendapat dalam penyelenggaraan RTH

f. Memberikan bantuan dalam mengidentifikasi komponen RTH yang ada maupun yang potensial dikembangkan.

Agar keberadaan RTH tidak berkurang baik secara kualitas maupun kuantitas dan jumlah RTH public dan privat mengalami peningkatan maka perlu dilakukan Pengendalin RTH. Pengendalian RTH dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu :

1. Pengendalian melalui Perangkat Peraturan, beberapa model peraturan yang bisa dikembangkan untuk mengendalikan RTH, baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu :

a. Peraturan yang langsung mengatur tentang RTH, antara lain: i. Peraturan zonasi untuk zona RTH (Zoning Ordinance)

(14)

14 iii. Peraturan Pengembangan Ruang Terbuka (Open Space Development

Ordinance)

iv. Ketentuan Tata Penghijauan dan Penghalang Visual (Landscaping and screening Code)

v. Peraturan Daerah atau Surat Keputusan Bupati tentang Rencana Induk Penataan, Pengelolaan dan Pengendalian RTH di wilayah Sumedang Kota b. Pengaturan yang secara tidak langsung mengatur tentang RTH, antara lain :

i. Peraturan Pengembangan Lahan (Land Development Regulation) ii. Peraturan Perpetakan (Land Subdivision)

iii. Peraturan Perlindungan Rawa dan Badan Air (Water Resources Ordinance)

iv. (Erosion and Sedimentation Control Ordinance)

v. Peraturan Pengendalian Limbah Air Hujan(Storm Water Ordinance) vi. Peraturan Pematangan Lahan (Clearing and Grading Ordinance)

2. Pengendalian Melalui Mekanisme Administratif, dilakukan melalui cara-cara sebagai berikut :

a. Pengendalian melalui Perizinan dalam bentuk perizinan khusus b. Pengendalian melalui Pengawasan dan Penertiban

c. Pengendalian melalui Insentif dan Disinsentif

IV. SIMPULAN DAN SARAN

4.1. Simpulan

Kewenangan Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau merupakan kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah kota dan kabupaten. Sehingga Kebijakan Ruang Terbuka Hijau di Provinsi Jawa Barat, sangat dipengaruhi kebijakan Ruang Terbuka Hijau di tingkat kabupaten dan kota. Secara keseluruhan jumlah RTH di Jawa Barat belum memenuhi jumlah 30%

(15)

15 itu pengadaan dan pengelolaan RTH merupakan bagian dari perencanaan dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Sebagai bagian dari tata ruang RTH merupakan

instrumen pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kebijakan mengenai RTH merupakan bagian dari kebijakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Sebagai bagian dari kebijakan perlindungan dan

pengelolaan lingkungan hidup, Kebijakan RTH sangat mempengaruhi Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten, karena salah satu bentuk pengendalian RTH dilakukan melalui Rencana Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten.

4.2.Saran

Referensi

Dokumen terkait

18 tahun 1999, yang dimaksud dengan limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan

Dengan demikian, selain makhluq rasional, manusia adalah makhluq spritual, yang mengapresiasikan “titah” Tuhan sebagai khalifah fil ardl, yang

Berdasarkan hasil plot tersebut yang di overlay dengan type curve Ganesh Thakur, maka dapat dilihat bahwa hasil plot berhimpitan dengan type curve nomor 2,

Namun penulis ingin menganalisa dan menghitung perpindahan panas yang terjadi dalam ketel uap pipa air (water tube boiler) dengan data kapasitas uap boiler yang

Telah dilakukan penelitian dengan menggunakan metode magnetik yang bertujuan untuk menginterpretasikan struktur bawah permukaan daerah sumber air panas

1) Call them approach ; melakukan wawancara dengan semua konseli sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. 2)

Namun perlu diingat juga bahwa sebenarnya dampak yang paling menguntungkan, dengan adanya program pensiun ini adalah pihak perusahaan dimana, apabila perusahaan