• Tidak ada hasil yang ditemukan

GENETIKA DAN NDJ SS FIX

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GENETIKA DAN NDJ SS FIX"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Konsentrasi Sodium Siklamat dan Macam Stain terhadap Frekuensi Gagal Berpisah (nondisjunction) Pada Persilangan D.

melanogaster N♀ >< w♂ dan N ♀ >< m♂ Beserta Resiproknya

LAPORAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Genetika II yang Dibina oleh Prof. Dr. A. Duran Corebima

Oleh: Kelompok 6 Off A Genetika Hari Senin:

Endah Puspa Rini (130341603366) Mu’asshomah W. Ni’am (130341624792)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI

(2)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulilah penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan yang berjudul “Pengaruh Konsentrasi Sodium Siklamat dan Macam Strain terhadap Frekuensi Gagal Berpisah (nondisjunction) Pada Persilangan D. melanogaster N♀ >< w♂ dan N ♀ >< m♂ Beserta Resiproknya ”.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa pembuatan laporan ini tidak lepas dari peran serta beberapa pihak yang telah memberikan saran, bimbingan, pengarahan, dan petunjuk serta fasilitas. Oleh karena itu, didalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Duran Corebima selaku Dosen Matakuliah Genetika II yang telah memberikan pengarahan, bimbingan, serta petunjuk dalam penyelesaian makalah ini.

2. Petugas perpustakaan pusat Universitas Negeri Malang dan Biologi Referensi yang telah menyediakan referensi untuk penulis.

3. Teman-teman dan semua yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini.

Penulis menyadari bahwa laporan yang telah penulis buat ini tidak lepas dari kekurangan dan jauh dari sempurna, maka dengan segala kerendahan hati penulis mengharap kritik, saran, dan masukan dari semua pihak demi perbaikan.

Semoga apa yang penulis sajikan dapat bermanfaat guna menambah ilmu pengetahuan dan wawasan.

Malang, 14 November 2015

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Nutrisi atau makanan merupakan komponen penting yang diperlukan oleh makhluk hidup untuk melangsungkan kehidupannya (Abidin, 1997) serta berpengaruh terhadap pemunculan fenotipe makhluk hidup. Bukti hasil studi-studi terbaru membuktikan bahwa nutrisi dan gaya hidup adalah faktor determinan utama dalam lingkungan karena memiliki peran penting dalam kerusakan genom dan selular (Stanner, 2009). Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan bahan-bahan kimia pada dasarnya bersifat lipofilik, sehingga sangat sulit untuk dieliminasi dari tubuh dan menyebabkkan zat kimia bersangkutan akan terakumulasi dalam tubuh dan memunculkan gejala serta tanda toksisitas (Gonzalez dan Tukey, 2006).

Kemajuan dalam bidang kimia industri telah mampu menciptakan zat kimia yang mampu menggantikan peran zat alami yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya makanan, misalnya peran gula sebagai pemanis telah tergantikan oleh siklamat (Nurlita, 1997) karena dapat menekan biaya produksi.

Namun penggunaan pemanis buatan dalam makanan dari beberapa penelitian telah dilaporkan menimbulkan efek biologis, Lutfi (2009) menjelaskan bahwa sakarin dan siklamat dapat menimbulkan karsinogen, yakni pemberian dosis kombinasi sakarin dan siklamat dengan perbandingan 1: 9 dapat meningkatkan tumor kandung kemih pada tikus. Atas dasar itu, maka sejak tahun 2004 BPOM telah membatasi penggunaan pemanis buatan dalam bahan makanan.

(4)

meningkat seiring dengan tingginya energi radiasi yang bersamaan dengan CO2

dan bahan kimia lainnya.

Telah ada penelitian sebelumnya mengenai pengaruh sodium siklamat terhadap NDJ D. melanogaster strain N >< w oleh Abidin (1997) yang hasilnya menunjukkan tidak ada pengaruh sodium siklamat terhadap frekuensi nondisjunction, namun menurut pendapatnya bukan berarti sodium siklamat tidak berpengaruh, hal ini mungkin dikarenakan konsentrasi sodium siklamat yang digunakan terlalu kecil. Sedangkan penelitian Felix (1971) menunjukkan bahwa siklamat, dalam konsentrasi minimal 200 microgram/ml dapat menyebabkan terjadinya nondisjunction, namun penggunaan pada dosis tinggi tidak dapat menyebabkan nondisjunction.

Sehubungan dengan hal-hal yang diungkapkan di atas, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui dampak biologis sodium siklamat terhadap kesehatan tubuh organisme yang mengonsumsinya. Peneliti menggunakan D. melanogaster sehingga penelitian yang berjudul “Pengaruh Konsentrasi Sodium Siklamat dan Macam Strain terhadap Frekuensi Gagal Berpisah (nondisjunction) Pada Persilangan D. melanogaster N♀ >< m♂ dan N♀ >< w♂ Beserta Resiproknya” ini dilakukan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka dapat dikemukakan beberapa rumusan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Apakah ada pengaruh konsentrasi sodium siklamat pada medium terhadap frekuensi nondisjunctiondari persilangan D.melanogaster N♀><m♂ dan N♀ >< w♂ beserta resiproknya?

2. Apakah ada pengaruh macam strain terhadap frekuensi nondisjunction pada persilangan D.melanogaster N♀><m♂ dan N♀><w♂ beserta resiproknya? 3. Apakah ada pengaruh interaksi konsentrasi sodium siklamat dan macam strain

(5)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah 1. Mengetahui pengaruh konsentrasi sodium siklamat pada medium terhadap

frekuensi nondisjunction dari persilangan D.melanogaster N♀><m♂ dan N♀><w♂ beserta resiproknya.

2. Mengetahui pengaruh macam strain terhadap frekuensi nondisjunction pada persilangan D.melanogaster N♀><m♂ dan N♀><w♂ beserta resiproknya. 3. Mengetahui pengaruh interaksi pemberian sodium siklamat dan macam

strain terhadap frekuensi nondisjunction dari persilangan D.melanogaster N♀><m♂ dan N♀><w♂ beserta resiproknya.

D. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini memiliki kegunaan baik dari segi pengembangan ilmu maupun terapan, antara lain:

1. Memberikan informasi mengenai pengaruh konsentrasi sodium siklamat dan macam strain terhadap frekuensi nondisjunction pada persilangan D.melanogaster N♀><m♂ dan N♀><w♂ beserta resiproknya, khususnya bagi mahasiswa.

2. Menambah wawasan masyarakat umum tentang sodium siklamat yang sering dikonsumsi sehari-hari serta dampak negatif ditinjau dari sifat karsinogennya.

E. Asumsi Penelitian

Anggapan dasar peneliti adalah sebagai berikut.

1. Kondisi medium dan nutrisi yang terdapat dalam botol dianggap sama. 2. Semua kondisi lingkungan seperti suhu, cahaya, kelembapan selama di

dalam botol dianggap sama.

3. Semua umur D. melanogaster yang disilangkan dianggap sama. 4. Kualitas sodium siklamat dianggap sama.

F. Batasan Masalah

(6)

1. Penelitian ini dibatasi pada D. melanogaster strain N, m, dan w.

2. Pengamatan yang dilakukan dibatasi pada keturunan F1 dari hasil

persilangan N♀><m♂ dan N♀><w♂ beserta resiproknya.

3. D. melanogaster yang disilangkan dibatasi pada D. melanogaster yang berusia maksimal 3 hari pengampulan.

4. Pengamatan fenotip dibatasi pada ciri morfologi meliputi warna mata, warna tubuh, dan bentuk sayap.

5. perhitungan fenotip dilakukan selama 7 hari berturut-turut. 6. Taraf sodium siklamat 0 % – 5 %

G. Definisi Istilah/Operasional

1. Strain adalah suatu kelompok intra spesifik yang memiliki hanya satu atau sejumlah kecil ciri yang berbeda, biasanya secara genetik dalam keadaan homozigot untuk ciri-ciri tersebut atau galur murni. Pada penelitian ini, digunakan strain N (normal), w (white) dan m (miniature).

2. Sodium siklamat adalah salah satu bahan kimia sintesis berupa zat pemanis yang banyak dikonsumsi masyarakat. Pada penelitian ini, sodium siklamat yang digunakan dalam beberapa konsentrasi yang berbeda, yakni 0%, 1%, 2%, 3%, 4% dan 5%.

3. Nondisjunction (gagal berpisah) adalah kegagalan dua pasang kromatid atau kromosom homolog untuk memisah selama pembelahan sel sehingga keduanya akan menuju ke kutub yang sama. Pada penelitian ini akan dibuktikan pengaruh frekuensi NDJ terhadap konsentrasi sodium siklamat yang berbeda.

4. Fenotipe adalah karakter yang dapat diamati pada suatu individu, seperti morfologi, fisiologi, dan tingkah laku yang merupakan hasil interaksi antara antara genotip dengan lingkungan tempat hidup dan berkembang (Corebima, 1997). Pengambilan data diambil dari menghitung fenotip anakan F1 beserta jenis kelamin selama 7 hari berturut-turut.

(7)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEPTUAL

A. Sistematika

Menurut Borror (1993), klasifikasi dari Drosophila melanogaster adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Phyllum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Diptera Famili : Drosophilidae Genus : Drosophila

Spesies : Drosophila melanogaster

Drosophila melanogaster merupakan salah satu jenis lalat buah yang sering digunakan dalam sebuah penelitian genetika sejak ditemukanya sebuah pautan kromosom oleh Thomas Hunt Morgan (1866-1945). Alasan menggunakan D. melanogaster sebagai bahan penelitian karenainsecta jenis ini dianggap mudah untuk dibiakkan, memiliki siklus hidup yang pendek,dan menghasilkan banyak keturunan karena individu betina mampu menghasilkan ratusan telur (Robinson, 2003).

B. Drosophila melanogaster

D. melanogaster merupakan salah satu spesies dari ordo Diptera yang sangat mudah kita jumpai. Hanya dengan menaruh sedikit buah, dia akan menghampiri kemudian kita bisa melihatnya secara langsung. Penyebaran D. melanogaster sangat luas. Oleh karena itu, dia bersifat kosmopolitan. Menurut Miller (2010) menyatakan bahwa D. melanogaster ini dikenal di setiap wilayah di dunia, kecuali Antartika.

(8)

Baker dan Woodard (2007) menjelaskan bahwa suatu perkawinan pada lalat buah terjadi sekitar 6-8 jam setelah lalat betina dewasa keluar dari pupa. Lalat betina menerima ± 4000 sperma dari lalat jantan. Masing-masing lalat betina yang sudah dibuahi akan mampu melepaskan telur hingga beberapa ratus di permukaan makanan (medium). Dimana masing-masing telur yang telah matang akan mampu berkembang menjadi larva dalam waktu 24 jam. Larva yang terbenam di permukaan makanan akan memakan sel yeast. Selanjutnya selama 4 hingga 5 hari, larva akan berjalan ke permukaan yang leboh keras misalnya pada permukaan medium atau dinding botol dan selanjutnya akan masuk ke tahap prepupa. Dari tahap prepupa ke pupa, D. melanogaster memerlukan waktu sekitar 12 jam. Pada 4 hingga 5 hari kemuadian, pupa akan berkembang menjadidi lalat dewasa. Dan jika dihitung secara keseluruhan ecara keseluruhan, daur hidup D. melanogaster berlangsung selama 10-14 hari.

(9)

jantan. Tidak seperti mamalia, pada Drosophila melanogaster, kromosom Y tidak menentukan sifat jantan.

Pemilihan D. melanogaster sebagai objek penelitian dalam genetika beralasan karena dianggap sebagai objek yang murah, mudah ditemukan dan didapat, serta mudah untuk diamati. Sependapat dengan Johnston (2002) yang mengatakan bahwa Morgan memilih Drosophila karena murah dan mudah untuk diteliti di laboratorium serta hanya memiliki waktu 10 hari untuk regenerasi dan menghasilkan banyak turunan sehingga mudah untuk melakukan pengamatan. Selain itu, ada beberapa manfaat lain yang bisa diperoleh selain yang telah disebutkan diatas yaitu tidak ada rekombinasi meiotik pada jantan, hanya ada 4 kromosom sehingga bisa divisualisasi secara langsung pada kromosom polytene raksasa di saliva larva. Lebih jauh lagi, eksoskeleton menyediakan banyak fitur, sperti sayap, ciri mata, warna tubuh untuk melihat fenotip mutan hanya dengan menggunakan mikroskop stereo.

D. melanogaster yang dipilih dan digunakan dalam peneilitian ini adalah D. melanogaster strain N, mdan w. Berikut merupakan pemaparan terkait dengan ciri morfologis dari D. melanogasterdengan strain-strain tersebut yaitu:

a. D. melanogaster strain N

D. melanogaster strain N adalah D. melanogaster tipe normal atau wild-type. D. melanogaster strain N dikatakan sebagai strain normal karena tidak mengalami mutasi pada salah satu atau beberapa lokus kromosomnya (Corebima, 1997). D. melanogaster strain ini memiliki ciri morfologis tubuh berwarna kuning kecoklatan, mata merah sayap lurus dan menutupi seluruh tubuhnya.

b. D. melanogaster strain m

(10)

c. D. melanogaster strain w

D.melanogaster Strain w merupakan strain yang mengalami mutasi pada kromosom I, yaitu kromosom X di titik 1,5 pada lokus white. Sehingga pada D. melanogaster strain ini memiliki warna mata putih. Strain w berada pada Strain y mempunyai faset mata halus, dan warna tubuh kuning kecoklatan.

Peta Gen-gen Drosophilla melanogaster

(11)

Gambar 2.1. Partial genetic map atau peta suatu bagian gen pada empat kromosom Drosophila melanogaster. Pada bagian yang ada di dalam

kotak menunjukkan masing-masing kromosom yang merepresentasikan lokasi sentromer. Kromsosm I merupakan kromosom X, dan kromosom IV tidak digambar dengan suatu skala tertentu, melainkan menunjukkan ukuran

kromosom yang reltif kecil (Klug et al, 2012).

C. Non Disjunction

(12)

kutub lainnya akan kekurangan kromosom. Gagal berpisah adalah suatu peristiwa dimana bagian-bagian dari sepasang kromosom yang homolog tidak bergerak memisahkan diri sebagaimana mestinya pada meiosis I, atau dimana kromatid saudara gagal berpisah selama meosis II. Pada kasus ini, satu gamet menerima dua jenis kromosom yang sama dan satu gamet lainnya tidak mendapat salinan sama sekali (Campbell dkk, 2002).

Nondisjunction dapat terjadi pada meiosis I dan II atau selama mitosis, terjadi baik pada autosom ataupun kromosom kelamin, dan pada individu baik jantan maupun betina (Herkowitz, 1973), namun disini kemungkinan terjadinya gagal berpisah terjadi pada waktu meiosis I 3x lebih besar dari pada waktu meiosis II. Harapan yang diinginkan dari percobaan yang dilakukan ini adalah munculnya frekuensi nondisjunction yang dapat dihitung dan diamati. Faktor yang mempengaruhi Ndj adalah :

1. Adanya virus atau kerusakan akibat radiasi. 2. Kandungan antibodi tiroid yang tinggi

3. Sel telur dalam saluran telur yang tidak segera dibuahi akan mengalami kemunduran sehingga memunculkan frekuensi nondisjunction

Peristiwa gagal berpisah merupakan salah satu bentuk mutasi kromosom karena menyebabkan perubahan dalam jumlah kromosom. Gagal berpisah dapat terjadi pada autosom maupun gonosom, selama meiosis maupun mitosis, pada betina maupun jantan. Peristiwa nondisjunction dibedakan menjadi nondisjunction primer dan sekunder. Nondisjunction primer dapat terjadi pada induk lalat yang belum mengalami nondisjunction atau lalat normal, sedangkan nondisjunction sekunder terjadi pada keturunan yang merupakan hasil nonodisjunction primer. Seperti yang dijelaskan oleh Corebima (2004:66) bahwa peristiwa itu disebut sebagai gagal berpisah sekunder karena kejadiannya berlangsung pada turunan dari individu betina, yang keberadaannya merupakan produk gagal berpisah primer. Dalam hal ini individu betina yang dimaksud memiliki dua kromosom kelamin X dan satu kromosom Y.

(13)

menjadi 3A+XX atau 3A+O. Kromosom pada tubuhnya 3AA+OX atau 3AA+XXY atau 3AA+OY, Sedangkan seri normal pada individu dalah 3A+XX pada betina dan 3A+XY pada jantan. Bila peristiwa ini terjadi pada Drosophila jantan akan terbentuk gamet jantan yang susunan kromosomnya tidak normal yaitu 3A + XY dan 3A+O dan bila sperma ini membuahi ovum normal akan tyerbentuk individu dengan susunan kromosom 3AA + XXY dan 3AA+OX. Bila terjadi perubahan antara ovum dan sperma yang keduamya mengandung seri kromosom tidak normal akan terbentuk individu dengan seri kromosom 3AA+XXXY atau 3AA+OXY atau 3AA + OO.

D. Faktor Penyebab Gagal Berpisah (Non Disjunction)

Peristiwa gagal berpisah (nondisjunction) dipengaruhi oleh beberapa hal baik pengaruh dari faktor luar maupun pengaruh dari faktor dalam. Faktor luar yang dapat menyebabkan peningkatan peristiwa gagal berpisah pada Drosophila melanogaster menurut Herskowitz (1977) dalam Abidin (1997) adalah energi radiasi tinggi, karbondioksida, dan zat kimia. Zat kimia yang dapat menyebabkan terjadinya gagal berpisah adalah adanya pewarna, pemanis, pengawet, perasa dan penyedap. Salah satu zat kimia yang dapat menyebabkan peristiwa gagal berpisah yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemanis buatan.

Sedangkan faktor dari dalam yang berpengaruh terhadap frekuensi gagal berpisah diantaranya adalah umur dari induk, gen mutan dan faktor yang berkaitan dalam kelainan-kelainan pada tingkah laku genetik. Menurut Herskowitz (1997) umur cenderung meningkatkan kejadian penyimpangan meiosis yang disebut nondisjungsi pada bentuk kehidupan yang rendah. Tidak dijelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan bentuk kehidupan rendah. Menurut Herskowitz (1977) dalam Abidin (1997) faktor dari dalam lainnya yang berpengaruh terhadap gagal berpisah adalah adanya gen mutan yang menyebabkan sentromer tidak berada pada keadaan normal atau abnormal.

(14)

berlawanan. Dengan adanya gen mutan, dalam hal ini gen mei-s332, yaitu gen semi dominan pada meiosis I Drosophila maka metafase II dua sentromer sesaudara akan terletak memisah sehingga kedua sentromer tersebut akan berorientasi ke kutub yang sama akibatnya pada anafase II terjadi peristiwa nonduisjunction atau gagal berpisah.

Selain itu faktor dalam yang juga mampu mempengaruhi peristiwa gagal berpisah adalah macam strain yang digunakan. Srain yang digunakan dalam penelitian adalah strain N, w dan m. Strain N (normal) yaitu strain yang memiliki warna tubuh kuning kecoklatan, warna mata merah dengan faset mata halus, dan sayap menutupi seluruh tubuh. Untuk strain w (white) memiliki tubuh dengan warna kuning kecoklatan, sayap menutupi tubuh dan warna mata putih. Sedangkan strain m (mini) memiliki warna tubuh kuning kecoklatan, warna mata merah dan sayap tidak memenuhi seluruh tubuh. Strain-strain ini terpaut pada kromosom kelamin (kromosom I) (Sciencekit, 2008). Menurut paparan Karmana (2010) menyatakan bahwa akan ada jumlah turunan berbeda untuk strain yang berbeda pula namun belum ada informasi yang mengungkap pengaruh macam strain terhadap jumlah turunan.

Macam strain dapat meningkatkan frekuensi non disjunctions karena adanya elemen transposabel P. Elemen transposabel P diatur pada tingkat tinggi, menunjukkan baik kontrol genetik maupun jaringan spesifik yang dapat mengakibatkan tinggi frekuensi non disjunctions (Daniels, dkk, 1992). Elemen transposabel adalah urutan yang dapat berpindah posisi atau sederhananya disebut transposon. Elemen transposabel P dapat berpindah tempat sehingga ketika elemen tersebut berikatan dengan gen pengkode benang spindel maka akan menghambat pembentukan spindel dan menyebabkan nondisjunction.

(15)

dapat mengubah tingkah laku spesies manapun yang mempengaruhi kesuksesan kawin individu yang bersangkutan.

Macam strain mungkin tidak begitu berpengaruh terhadap frekuensi non disjunction karena adanya kemampuan membelah dari sel-sel secara normal pada semua strain D.melanogaster. Pada pembelahan meiosis normal tahap anafase I, dimulai ketika kromosom bergerak ke kutub yang berlawanan. Tiap kromosom dari pasangan kromosom homolog bergerak ke arah kutub yang berlawanan. Masing-masing kutub menerima setengah jumlah kromosom yang ada (Jai, 2011).

E. Sodium Siklamat

Penemuan siklamat merupakan suatu ketidak sengajaaan oleh seorang ilmuan dari universitas of IIlinoise pada tahun 1937, karena ia salah meletakkan pada tumpukan”kristal”. Setelah rokok yang dihisapnya kembali ada sesuatu yang terasa sangat manis pada bibirnya, hal ini ternyata disebabkan oleh derifat (turunan) dari Cyclohexyl sulfamic acid yang terasa sangat manis dan lezat. Dari kejadian tersebut lahirlah senyawa baru, pemanis buatan siklamat yang mempunyai intensitas kemanisan 30 kali dari tingkat kemanisan gula tebu murni.

Siklamat biasanya dipakai dalam bentuk garam Na dari asam siklamat, banyak digunakan sebelum senyawa tersebut dilarang pemakaiannya di Amerika Serikat, karena kenyataan menunjukkan bahwa senyawa tersebut karsinogen. Na siklamat atau sodium siklamat ini merupakan bahan pemanis sintetik yang dapat menimbulkan rasa manis atau dapat membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa manis. Sedangkan kalori yang dihasilkan jauh lebih rendah dari gula (Sakidja, 1989)

(16)

β-D-fruktofuranosil-α-D-glukopiranosid, tetapi praktis tidak memiliki nilai gizi makanan.

Senyawa ini di lain pihak penting bagi korigensia rasa untuk obat yang digunakan secara oral. Selain itu juga digunakan untuk pengolahan bahan makanan dietik (antara lain untuk orang diabetes). Pemanis yang non nutritrif memiliki kandungan 2% lebih kecil kandungan kalori sukrosa, misalnya aspartame, sakarin, acesulfamek, siklamat. Dari beberapa informasi yang peneliti peroleh, bahwa sodium siklamat bersifat karsinogen. Berkenaan dengan sifat karsinogen tersebut Sakidja, (1989) menyatakan : “Struktur siklamat pada natrium siklamat memberikan alasan untuk dicurigai bahwa asam siklamat potensial karsinogen. Penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa pada hewan dapat menyebabkan kanker kandung kemih”.

Struktur molekul sodium siklamat menurut pernyataan Sodikin (2011) adalah sebagai berikut:

Gambar Struktur molekul sodium siklamat

Sumber http://www.sodiycxacun.web.id/2010/12/toksin-makanan-dan-bahan-tambahan.html#axzz1fFAvNZ6R

- Penggunaan Sodium Siklamat

(17)

Secara umum penggunaan sodium siklamat digunakan di berbagai lapisan masyarakat, baik pada kalangan masyrakat rumah tangga tau pada suatu perusahaan-perusahaan tertentu. Pada kalangan masyarakat sodium siklamat digunakan sebagai pemanis minuman (pengganti gula tebu) berbeda halnya dengan perusahaan rokok yang menggunakan sakarin dan sodium siklamat sebagai pembuatan saus rokok, sedangkan pedagang makanan jajanan dan minuman memakai sodium siklamat antara lain sebagai tambahan pemanis ada ice cream, permen dan sebagainya. Industri yang paling banyak memakai sodium siklamat adalah industri pembuat minuman limun, air soda, dan bermacam-macam sirup serta industri makanan dan minuman bagi mereka yang melakukan diet dengan teknik yang lebih maju seperti, industry slim foods dan bring banyak memerlukan sakarin dan siklamat (Sidauruk, 1995).

- Bahaya penggunaan sodium siklamat

Hasil penelitian para ahli pada tahun 1969 tentang siklamat dan sakarin yang diberikan pada makanan tikus memperlihatkan timbulnya kanker kandung kemih. Hasil metabolism silkamat adalah cyclohexylamine memilki sifat karsinogenik. Pembuangan cyclohexylamine melalui urin sehingga dapat merangsang pertumbuhan tumor pada kandung kemih tikus. Dari penelitian lain ditemukan bahwa siklamat dapat menyebabkan atropi yaitu terjadinya pengecilan testicular dan perusakan kromosom. Dari penelitian para ahli national academy of Science Juni 1985 disimpulkan bahwa siklamat maupun turunannya bukan merupakan karsinogenik tetapi dianjurkan agar dilakukan penelitian lebih lanjut, untuk meneliti terhadap kemungkinan siklamat sebagai tumor pemula (Winarno dan Rahayu, dalam Sidauruk, 1995).

(18)

Cyclohexylamine pada tikus sebagai penyebab timbulnya kanker pada binatang prcobaan tersebut (Sidauruk, 1995).

F. Kerangka Konseptual

Adapun kerangka konseptual dalam penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

dipengaruhi

Nondisjunction

Salah satu zat kimia adalah zat pemanis buatan, sodium

siklamat

Faktor internal (gen) Faktor eksternal (radiasi, senyawa kimia)

Salah satunya macam strain yang memiliki nilai frekuensi

rekombinasi dan nilai pautan yang berbeda

adanya gen mutan yang menyebabkan sentromer tidak

berada pada keadaan normal atau abnormal

Ada pengaruh macam strain terhadap frekuensi NDJ

Memiliki batas konsumsi yang aman maksimum (penggunaannya dibatasi)

Ada pengaruh konsentrasi sodium siklamat terhadap

frekuensi NDJ

Ada pengaruh interaksi macam strain dan konsentrasi sodium

(19)

G. Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas maka hipotesisnya sebagai berikut:

1. Ada pengaruh konsentrasi sodium siklamat pada medium terhadap frekuensi nondisjunction dari persilangan D.melanogaster N♀><m♂ dan N♀ >< w♂ beserta resiproknya.

2. Ada pengaruh macam strain terhadap frekuensi nondisjunction pada persilangan D.melanogaster N♀><m♂ dan N♀><w♂ beserta resiproknya.

(20)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental menggunakan Analisis Varian Tunggal dengan rancangan Acak Kelompok (RAK) karena bertujuan untuk mengetahui pengaruh sodium siklamat terhadap frekuensi Nondisjunction D. melanogaster strain N♂×w♀ dan N♂×wa♀ beserta resiproknya, jika hasilnya signifikan akan dilanjutkan dengan uji BNT. Penelitian ini dilakukan dengan menyilangkan D. melanogaster strain N, w dan m beserta resiproknya masing-masing sebanyak 3 kali ulangan untuk memperoleh data F1. Pengambilan data dilakukan secara langsung dengan menghitung dan mencatat semua fenotip yang muncul pada F1.

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi pada penelitian ini yakni D. melanogaster yang dibiakkan di Laboratorium Genetika Jurusan Biologi FMIPA UM.

2. Sampel

Sampel pada penelitian ini diambil dari D. melanogaster, yakni strain N (normal), w (white), dan m (miniature) yang ada di Laboratorium Genetika Jurusan Biologi FMIPA UM.

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium Genetika ruang 310 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang yang dimulai pada bulan September sampai November 2015.

D. Alat dan Bahan

(21)

kasa, blender, pisau, gunting, kertas pupasi, spons busa, kompor, spidol permanen, plastik, neraca analitik, dan sendok plastik.

Sedangkan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel D. melanogaster strain N, w, dan m, Pisang Rajamala, tape singkong, fermipan, gula merah, dan sodium siklamat.

E. Prosedur Kerja

Dalam Penelitian ini terdapat beberapa kegiatan yang harus dilakukan, diantaranya membuat medium, mempersiapkan stok induk, mengampul, membuat konsentrasi dan menyilangkan.

Pembuatan medium

1. Menyediakan bahan yang meliputi pisang Rajamala, tape singkong, dan gula merah dengan perbandingan 7 : 2 : 1 untuk satu resep medium, yaitu 700 gram pisang Rajamala, 200 gram tape singkong, dan 100 gram gula merah. 2. Mengupas pisang Rajamala, kemudian memotong pisang Rajamala menjadi

bagian-bagian kecil dan tape singkong dengan pisau

3. Menimbang keduanya hingga pisang 700 gram dan tape singkong 200 gram. 4. Menambahkan air ke pisang dan tepe singkong secukupnya untuk dihaluskan

menggunakan blender.

5. Menyisir gula merah dengan pisau sampai halus dan menimbangnya hingga 100 gram.

6. Melarutkan gula merah ke dalam air.

7. Memasukkan campuran pisang dan tape serta larutan gula merah ke dalam panci, bila perlu menambahkan air secukupnya.

8. Memasang panci di atas kompor dengan nyala api sedang kemudian setelah mendidih memasukkan gula merah yang telah disisir halus ke dalam panci. Memasak medium selama 45 menit (untuk satu resep) sambil diaduk.

(22)

10. Setalah dingin menambahkan kira-kira 3-4 butir yeast ke dalam medium pada botol selai dan meletakkan satu kertas pupasi ke dalamnya.

11. Medium siap digunakan

Persiapan stok Induk

1. Menyiapkan botol yang berisi medium. 2. Memberi label pada tiap-tiap botol.

3. Mengambil beberapa induk strain N, w, dan m dari stok.

4. Memasukkan stok tersebut kedalam botol selai yang sudah disiapkan. 5. Mengamati perkembangan stok induk tersebut sampai terbentuk pupa.

6. Mengisolasi pupa yang sudah menghitam kedalam selang ampul yang sudah berisi irisan pisang dan menutup selang tersebut dengan gabus.

7. Menunggu hingga pupa menjadi imago yang sudah siap untuk dikawinkan

Pengampulan stok

1. Pupa dari masing-masing strain yang sudah hitam diambil dengan menggunakan kuas.

2. Memasukkan pupa tersebut ke dalam selang plastik kecil.

3. Mengisi sebagian tempat dengan irisan kecil pisang serta menutupnya dengan potongan gabus.

4. Masing-masing selang diberi label nama strain maupun tanggal mengampul. 5. Menunggu ampulan sampai menetas dan lalat siap untuk disilangkan. Umur

lalat dalam ampulan maksimal tiga hari untuk persilangan.

Pembuatan Konsentrasi Sodium Siklamat

A. Menghitung berat sodium siklamat untuk masing-masing konsentrasi (x) untuk setiap 50 gram medium setiap satu botol dengan rumus:

(23)

Persilangan F1

1. Menyiapkan botol berisi medium yang mengandung sodium siklamat dengan konsentrasi 0%, 1%, 2%, 3%, 4%, 5%.

2. Menyilangkan D. melanogaster strain N♂ >< w♀ beserta resiproknya dan N♂ >< m♀ beserta resiproknya dari ampulan yang sudah menetas dengan memasukkannya ke botol berisi medium yang mengandung sodium siklamat di masing-masing konsentrasi.

3. Memberikan label sesuai dengan macam strain persilangan disertai dengan catatan ulangan dan konsentrasi sodium siklamat.

4. Melepas jantan setelah 2 hari persilangan. 5. Menunggu hingga ada larva

6. Memindahkan betina ke medium berikutnya sampai betina itu mati atau tidak bertelur.

7. Membiarkan setelah muncul anak, kemudian mengamati fenotip yang muncul pada F1 selama 7 hari berturut-turut.

8. Mengulangi masing-masing persilangan sebanyak 3 ulangan.

F. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan cara menghitung jumlah F1 dari masing-masing persilangan berdasarkan ciri fenotip dan jenis kelaminnya.

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah rekontruksi kromosom kelamin dan menghitung frekuensi nondisjunction yang muncul pada F1 dari

(24)

BAB V

DATA DAN ANALISIS DATA

A. Data Hasil Pengamatan Fenotip

Strain Drosophila melanogaster yang digunakan dalam penelitian ini adalah strain N, w dan m dengan ciri – ciri sebagai berikut :

1. Strain N (wild- type)

a. Mata berwarna merah b. Faset mata halus

c. Warna tubuh kuning kecoklatan

d. Sayap menutupi tubuh dengan sempurna

2. Strain w (white)

a. Mata berwarna putih b. Faset mata halus

c. Warna tubuh kecoklatan

d. Sayap menutupi tubuh dengan sempurna

3. Strain m (miniature) a. Warna mata merah b. Faset mata halus

(25)

B. Data Hasil Perhitungan Fenotip

Dari hasil persilangan pada F1 antara N♂ >< w♀ beserta resiproknya dan N♂ >< m♀ beserta resiproknya diperoleh data sebagai berikut:

No. Persilangan Ul Fenotip Sex 0% 1% 2% 3% 4% 5%

Fr.NDJ 4,54% 2,98% 2,56% 0% 4,65% 3,28%

(26)

Fr.NDJ 0% 0% 0% 2,78% 0% 0%

1. Persilangan N♂ >< w♀

(27)

Fenotip yang muncul adalah N♀, w ♂

Rekonstruksi persilangan yang mengalami non disjunction (NDJ) P1 N♂ >< w♀

2. Persilangan N♀ >< w ♂

(28)

F1

(29)

Fenotip yang muncul adalah N♀, w ♂, N♂, N♀

3. Persilangan N♂ >< m ♀

Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami non disjunction (NDJ) P1 : N♂ >< m ♀

Fenotip yang muncul adalah N♀, m♂

(30)

)

Fenotip yang muncul adalah N♀, N♂, m♂, m♀

4. Persilangan N♀ >< m ♂

Rekonstruksi persilangan yang tidak mengalami non disjunction (NDJ) P1 : N♀ >< m♂

Fenotip yang muncul adalah N♀, N♂

(31)

Fenotip yang muncul adalah N♀, N♂, m♂

Apabila data pada semua persilangan telah lengkap disetiap ulangan, maka analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah menggunakan anava ganda. Akan tetapi data yang diperoleh masih sebagian saja, sehingga analisis yang digunakan oleh peneliti adalah menggunakan persentase dengan rumus seperti berikut:

Rumus =

Σ anakan yang mengalami NDJ x 100 % Σ anakan yang mengalami NDJ + Σ anakan yang tidak mengalami NDJ

D. Perhitungan Frekuensi NDJ pada Drosophilla Melanogaster

Berikut ini merupakan perhitungan frekuensi persilangan N♂ >< w♀ dan N♂ >< m♀ pada Ulangan 1 beserta resiproknya, yaitu :

1. Persilangan N♂ >< w♀ pada Ulangan 1 a. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 0 %

(32)

b. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 1 %

Fr NDJ 1% = x 100% = 2,98%

c. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 2 %

Fr NDJ 2% = x 100% = 2,56%

d. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 3 %

Fr NDJ 2% = x 100% = 0%

e. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 4 %

Fr NDJ 4% = x 100% = 4,65%

f. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 5 %

Fr NDJ 5% = x 100% = 3,28%

2. Persilangan N♀ >< w♂ pada Ulangan 1 a. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 0 %

Fr NDJ 0% = x 100% = 0 %

b. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 1 %

Fr NDJ 1% = x 100% = 0 %

c. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 2 %

(33)

d. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 3 %

Fr NDJ 2% = x 100% = 0 %

e. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 4 %

Fr NDJ 4% = x 100% = 0 %

f. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 5 %

Fr NDJ 5% = x 100% = 0 %

3. Persilangan N♂ >< m♀ pada Ulangan 1 a. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 0 %

Fr NDJ 0% = x 100% = 0 %

b. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 1 %

Fr NDJ 1% = x 100% = 0%

c. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 2 %

Fr NDJ 2% = x 100% = 0%

d. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 3 %

Fr NDJ 2% = x 100% = 2,78%

e. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 4 %

Fr NDJ 4% = x 100% = 0 %

(34)

Fr NDJ 5% = x 100% = 0%

4. Persilangan N♀ >< m ♂pada Ulangan 1 a. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 0 %

Fr NDJ 0% = x 100% = 0 %

b. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 1 %

Fr NDJ 1% = x 100% = 0%

c. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 2 %

Fr NDJ 2% = x 100% = 0%

d. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 3 %

Fr NDJ 2% = x 100% = 0%

e. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 4 %

Fr NDJ 4% = x 100% = 0 %

f. Frekuensi NDJ (%) konsentrasi 5 %

Fr NDJ 5% = x 100% = 0%

E. Grafik Frekuensi NDJ pada Drosophilla Melanogaster

0,00% 0,50% 1,00% 1,50% 2,00% 2,50% 3,00% 3,50% 4,00% 4,50% 5,00%

N♂ >< w♀ N♀ >< w♂ N♂ >< m♀ N♀ >< m♂

(35)

Dari hasil analisis rekontruksi kromosom pada persilangan Drosophila melanogaster strain N♂ >< w♀ dan N♂ >< m♀ beserta resiproknya, ternyata diperoleh anakan bukan harapan pada persilangan N♂ >< w♀ yaitu N♂ dan w♀ dimana seharusnya anakan yang muncul adalah N♀ dan w♂ saja, begitu pula persilangan N♂ >< m♀ yaitu muncul anakan bukan harapan berupa N♂ padahal seharusnya anakan berupa N♀ dan m♂ hal ini menunjukkan bahwa pada persilangan yang dilakukan terjadi adanya fenomena Nondisjunction.

(36)

BAB V PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis yang dilakukan menunjukan bahwa persilangan pada N♂ ><w♀ dan N♂ ><m♀ beserta resiproknya yang diberi perlakuan konsentrasi sodium siklamat yang berbeda (yakni 0%, 1%, 2%, 3%, 4% dan 5%), hasilnya ada perbedaan persentase frekuensi NDJ pada masing-masing konsentrasi, yakni pada persilangan N♂ ><w♀ dengan konsentrasi 0% didapatkan persentase 4,54%; pada konsentrasi 1% diperoleh persentase 2,98%; pada konsentrasi 2% diperoleh persentase 2,56%; pada konsentrasi 3% diperoleh persentase 0%; pada konsentrasi 4% diperoleh persentase 4,65%; dan pada konsentrasi 5% diperoleh persentase 3,28%; sedangkan pada persilangan N♂ >< m♀ yang mengalami fenomena NDJ hanya terjadi pada konsentrasi 3% dengan persentase 2,78% sedangkan di konsentrasi 0%, 1%, 2%, 4% dan 5% tidak muncul adanya anak bukan harapan sehingga persentasenya 0%. Untuk yang resiprok dari persilangan sebelumnya tidak ditemukan adanya fenomena NDJ.

(37)

jantan bersayap mini (m♂) dan betina bersayap mini (m♀). Munculnya anakan bukan harapan tersebut terjadi karena adanya fenomena nondisjunction. Nondisjunction peristiwa seks yang tidak mengadakan pemisahan ke kutub yang berlawanan sewaktu meiosis (baik itu pada meiosis I atau II), sehingga kromosom tersebut tetap berpasangan dan bergerak ke kutub yang sama, sementara kutub lainnya akan kekurangan kromosom. Dikatakan Herkowitz bahwa dalam keadaan normal dua sentromer sesaudara saling menutup kemudian adanya Polokinse berfungsi untuk memisahkan kromatid bersaudara yang sebelumnya bersifat kohesif tersebut. Selain itu Gen haync2 berperan dalam pembentukan structural benang-benang spindle (mikrotubul) sehingga satu sentromer akan berorientasi ke salah satu kutub, sedang sentromer lain berorientasi ke salah satu kutub yang berlawanan. Dengan adanya mutasi maka struktur benang-benang spindle akan rusak yang akan menyebabkan lemahnya benang spindle dalam menarik kromatid dari bidang ekuator kearah kutub yang berlawanan sehingga kromatid-sisters tidak bisa memisah dan mengalami NDJ. Faktor dari dalam lainnya yang berpengaruh terhadap gagal berpisah adalah adanya gen mutan yang menyebabkan sentromer tidak berada pada keadaan normal atau abnormal (Herkowitz, 1977 dalam Abidin, 1997).

A. Pengaruh Konsentrasi Sodium Siklamat terhadap Frekuensi NDJ

(38)

terbentuk dan menyebabkan kromosom menuju ke arak yang sama, terjadilah peristiwa gagal berpisah (nondisjunction).

Sedangkan penelitian lain menyebutkan bahwa pemberian sodium siklamat dengan konsentrasi 0% -1,0%, tidak berpengaruh terhadap frekuensi nondisjunction D.melanogaster (Khoirul Abidin 1997). Hal itu kemungkinan dapat terjadi karena pemberian siklamat secara oral sehingga hanya berinteraksi langsung dengan organ yang ada pada sistem pencernaan, bukan gametogenesis yang ada pada sistem reproduksi. Hal tersebut didukung dengan pernyataan bahwa rute pemberian oral akut, kebanyakan studi jangka panjang pada hewan menunjukkan tidak ada efek kardiovaskular yang signifikan (Bopp et al. 1986). Selain itu adanya perbaikan kerusakan DNA akibat mutasi oleh enzim polymerase dan oleh proten p53. Enzim polymerase pada bakteri memiliki aktivitas eksonuklease dalam arah 3’-5’. Pengenalan kerusakan insersi nukleotida selama polimerisasi mungkin sebagai akibat adanya semacam bonggol pada unting ganda molekul DNA yang ditimbulkan oleh adanya pasangan basa yang salah, tidak terbentuk ikatan hydrogen sehingga dilakukan pemotongan nukleotida oleh aktivitas eksonuklease berlangsung dalam arah 3’-5’. Jika tersebut sudah dilakukan, aktivitas polymerisi dalam arah 5’-3’ dari enzim polymerase DNA akan pulih kembali (indranata, 2012). Sedangkan protein p53 merupakan protein tumor suppressor berperan sebagai regulator siklus sel serta respon adanya stress selular, misalnya paparan karsinogen. Protein tersebut akan menghambat proliferasi sel abnormal yang telah terinisiasi karsinogen untuk mencegah berkembangnya neoplasma. Hal tersebut didukung dengan pernyataan Mateoiu (2011) bahwa p53 juga berfungsi meregulasi apoptosis, menghambat angiogenesis, dan meregulasi DNA repairment.

B. Pengaruh Macam Strain terhadap Frekuensi NDJ

(39)

sindrom yang berkaitan dengan sifat-sifat genetik yang terjadi secara spontan, yang disebabkan adanya interaksi dari beberapa strain yang telah disilangkan (Kidwell 1977 dalam Balqis 1995). Ada juga beberapa sifat genetik yang berhubungan dengan hybrid disgenesis menurut (Sved 1979) yaitu adanya rekombinasi pada jantan, perubahan pada rekombinasi betina, kerusakan kromosom pada saat pembelahan meiosis, dan sterilitas.

Salah satu mekanisme yang dapat menyebabkan terjadinya hybrid disgenesis yaitu karena adanya elemen transposabel (Gardner 1991). Transposabel elemen adalah adanya urutan DNA yang dapat bergerak dan menyelib diantara urutan DNA yang ada atau sering disebut sebagai transposon. Watson (1987) menyatakan bahwa transposon yang bertaggung jawab terhadap fenomena genetic hybrid digenesis adalah adanya elemen P. Hal ini juga ditegaskan olah Gardner (1991) dengan pernyataan senada yang mengatakan bahwa adanya elemen P yang turut hadir dalam suatu hybrid dapat menyebabkan sindrom abnormalitas genetik yang dikenal dengan hybrid disgenesis (Balqis,1995).

(40)

Kemudian Gardner (1991) juga menyatakan bahwa penyelipan elemen P pada rantai DNA yang sudah ada dapat meningkatkan frekuensi mutasi dan kerusakan kromosom, dalam kasus yang ekstrem dapat menyebabkan cacat pada perkembangan gonad dan pada akhirnya menyebabkan kondisi steril. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa elemen transposabel P dapat berpindah tempat sehingga ketika elemen tersebut berikatan dengan gen pengkode benang spindel maka akan menghambat pembentukan spindel. Sehingga dimungkinkan kejadian tersebut disebabkan oleh peritiwa trasnposabel elemen dalam fenomena hybrid disgenesis.

Kaitanya dengan straian yaitu, macam strain yang digunakan ternyata dapat menurunkan adanya fenomena frekuensi non disjunctions karena disebabkan oleh rendahnya jumlah keturunan yang dihasilkan dari persilangan. Apabila jumlah keturunan yang dihasilkan itu rendah, maka bisa terjadi fenomena frekuensi non disjunctionnya juga ikut rendah. Jumlah keturunan ini dapat dipengaruhi oleh kemampuan strain untuk bertahan hidup dan melakukan perkawinan selain itu adanya mutasi juga dapat mengubah tingkah laku spesies manapun yang mempengaruhi kesuksesan kawin individu yang bersangkutan.

Faktor lain yang menyebabkan tidak adanya pengaruh macam strain terhadap frekuensi non disjunction yaitu karena adanya kemampuan membelah dari sel-sel secara normal pada semua strain D.melanogaster. Pada pembelahan meiosis normal tahap anafase I, dimulai ketika kromosom bergerak ke kutub yang berlawanan sehingga setiap kromosom dari pasangan kromosom homolog itu akan bergerak ke arah kutub yang berlawanan dan masing-masing kutub akan menerima setengah jumlah kromosom yang ada (Jai, 2011).

C. Pengaruh Interaksi Konsentrasi Sodium Siklamat dan Macam Strain terhadap Frekuensi NDJ

(41)

tranposabel elemen P berikatan dengan gen pengkode yang membentuk benang spindel, akibatnya kromosom menuju kutub yang sama dan terjadi NDJ. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa interaksi konsentrasi sodium siklamat dan berbedanya elemen P pada tiap strain berpengaruh terhadap frekuensi Nondisjunction.

(42)

BAB VI KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Ada pengaruh sodium siklamat terhadap frekuensi Nondisjunction pada persilangan D. melanogaster strain N♂×w♀ dan N♂× m♀ beserta

resiproknya karena siklamat menghasilkan cyclohexylamine yang karsinogen.

2. Tidak ada pengaruh sodium siklamat terhadap frekuensi Nondisjunction pada persilangan D. melanogaster strain N♂×w♀ dan N♂× m♀ beserta

resiproknya karena pemberian siklamat hanya secara oral serta adanya proses perbaikan DNA.

3. Ada pengaruh macam strain terhadap frekuensi Nondisjunction pada persilangan D. melanogaster strain N♂×w♀ dan N♂× m♀ beserta

resiproknya karena adanya elemen P yang berikatan dengan gen pengkode benang spindel sehingga mengakibatkan penghambatan pembentukan benang spindel.

4. Tidak ada pengaruh macam strain terhadap frekuensi Nondisjunction pada persilangan D. melanogaster strain N♂×w♀ dan N♂× m♀ beserta

resiproknya karena adanya kemampuan membelah dari sel-sel secara normal.

B. Saran

(43)

DAFTAR RUJUKAN

Abidin, K.1997. Pengaruh Sodium Siklamat Terhadap Frekuensi Nondisjunction D.melanogaster strain N><w. (Skripsi tidak diterbitkan).Malang: IKIP Malang

Corebima, A.D. 1997. Genetika Kelamin. Surabaya: Airlangga University Press. ________. 2004. GenetikaKelamin. Surabaya: Airlangga University Press.

Baker, Livdan Woodard, Craig T. 2007.Isolation and Characterization of Mutations in Drosophila melanogaster. (Online) (https://www.mtholyoke.edu/courses/cwoodard/biol210/biol210labman .html) diakses tanggal 22 Oktober 2013

Bopp, B., Sonders, R.C. & Kesterson, J.W. (1986) Toxicological aspects of cyclamate and cyclohexylamine. Crit. Rev. Toxicol., 16, 213–306

Borror, J. D, et al. 1993. Pengenalan Pengajaran Serangga Edisi 6. Yogyakarta: UGM Press.

Brooker, Robert J. 2009. Genetics Principle and Analysis 3rd et. USA: McGrawHill, Inc

Campbell, et al. 2002. Biologi Jilid I. Jakarta : Erlangga

Daniels, Stephen B dan Arthur Chovnick. 1992. P Element Transposition in Drosophila melanogaster: An Analysis of Sister-Chromatid Pairs and the Formation of Intragenic Secondary Insertions During Meiosis. America : University of Connecticut, Storrs, Connecticut 06269

Felix, R. and M.E. de la Rosa.1971. Cytogenetic studies with' sod:lum cyclamate in d. Melanogaster femåles. Mexico: Genetics and Radiobiology Program of the National Commission, of Nuclear Energy..

(44)

Herkowitz, I. J. 1965. Principles of Genetics. Edisi 2. New York: MacMillan Publishing. Co, Inc.

________.1973. Principles of Genetics. Edisi 2. New York: MacMillan Publishing. Co, Inc.

________.1997. Principles of Genetics. Edisi 2. New York: MacMillan Publishing. Co, Inc.

Jai. 2011. Analisis Meiosis Pada Tanaman Lili. (Online). (http://jai.staff.ipb.ac.id/ tag/analisis-meiosis/, diakses pada 22 Oktober 2015

Johnston, St Daniel. 2002. The Art and Design of Genetic Screens: Drosophila melanogaster.

Karmana, I Wayan. 2010. Nisbah kelamin Pada Persilangan Homogami D.Melanogaster Strain Normal (N), White (w) dan Miniatur (m) Mataram : GanecSwara Edisi Khusus Vol.4 No.3

Klug, William., Cummings, Michael R., Spencer Charlotte A., Palladino, Michael. A. 2012. Concepts of Genetics. USA: Pearson Education, Inc Lutfi, Akhmad. 2009. Sakarin dan Siklamat. (online)

(http://hnz11.wordpress.com/2009/05/27/siklamat/, diakses tanggal 22 Oktober 2015).

Mateoiu C., Pirici A., Bogdan F. 2011. Immunohistochemical nuclear staning for p53, PCNA, Ki-67 and Bcl-2 in different histologic variant of basal cell carcinoma. Rom J Morphol Embryol, 52(1): 315-319.

Miller, Conrad. 2010. Drosophila melanogaster. (Online) (http://animaldiversity.ummz.umich.edu/accounts/Drosophila_melanogast er/), diakses tanggal 22 Oktober 2015

Nurlita. 1997. Kadar Natrium Siklamat dalam Minuman yang dijual di pasaran Kota Singaraja. Jurnal Aneka Widya STKIP Singaraja (3) (online) ( http:// isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/330976675.pdf, diakses tanggal 22 Oktober 2015.

(45)

Sakidja. 1989. Kimia Pangan. Jakarta: DepdikbudDirjendDikti. P2LPTK.

Sciencekit. 2008. Drosophila. (Online). (sciencekit.com/images/art/ Drosophila. pdf, diakses pada 23 Oktober 2015

Sidauruk, Hotmaida. 1995. Pengaruh Sodium SiklamatterhadapFenotip D. melanogaster strain eym.Skripsitidakditerbitkan. Malang: IKIP Malang. Sodikin. 2011. Toksin makanan dan bahan tambahan makanan (food additive).

(online). http://www.sodiycxacun.web.id/2010/12/toksin-makanan-dan-bahan-tambahan.html#axzz1fFAvNZ6R diakses tanggal 23 Oktober 2015 Stanner, S., Thompson, R. & Buttriss, J. 2009. Healthy Aging: The Role of

Gambar

Gambar 2.1.  Partial genetic map atau peta suatu bagian gen pada
Gambar Struktur molekul sodium siklamat

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pengamatan SEM pada daerah lasan ER 308 dan ER 309L yang telah dilakukan pengujian polarisasi menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi inhibitor sodium nitrat

Bimbingan dan konseling islam adalah suatu usaha pemberian bantuan kepada individu yang mengalami kesulitan rohaniah baik mental dan spiritual agar

Hasil analisis statistika tinggi tanaman bayam tertinggi diperoleh pada pemberian Biourine perlakuan (U 2 ) yaitu konsentrasi 300 ml L -1 air dan pemberian dosis

(2) Komposisi media berpengaruh sangat nyata terhadap frekuensi panen tubuh buah dan nyata pada kecepatan panen (Hst) dan (3) perlakuan pemberian jumlah bibit berpengaruh

Hasil pertumbuhan bakteri anammox menunjukkan yang lebih dapat beradaptasi dengan lingkungan dan mengalami pertumbuhan signifikan dari konsentrasi kontrol (3%) adalah pada

Hasil penelitian dengan pemberian berbagai konsentrasi ekstrak kulit buah kakao (Theobrema cacao L.) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans menunjukkan hasil

Karena bahan urin sebagai hasil sisa metabolisme tubuh sehingga banyak dipengaruhi berbagai hal seperti makanan atau obat-obatan dan pada wanita sering timbul gangguan karena lokasi

Perekonomian di Surakarta menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2015 mengalami kenaikan setiap tahun. Mengatasi permasalahan pelaksanaan pemberian hibah dan bantuan