• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi dan Etika Profesi Pusat Bahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Komunikasi dan Etika Profesi Pusat Bahan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL PERKULIAHAN

Komunikasi dan

Etika Profesi

Komunikasi Interpersonal

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

Fakultas Ilmu Komputer

Sistem Informasi

03

MK18005 Nia Kusuma Wardhani, S.Kom, MM.

Abstract

Kompetensi

Modul ini menjelaskan tentang

konsep dasar Komunikasi Interpersonal

(2)

Pembahasan

1. Pengertian dan Karakteristik Komunikasi Interpersonal

Komunikasi Interpersonal (komunikasi antar pribadi) merupakan bentuk komunikasi

yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami

kedua belah pihak dan cenderung lebih fleksibel dan informal, serta dapat menghasilkan suatu

hubungan produktif secara terus menerus. Jenis komunikasi ini banyak ditemukan dalam

kehidupan sehari-hari.

Ada tujuh karakteristik yang menunjukkan bahwa suatu komunikasi antara dua individu

merupakan komunikasi interpersonal. Tujuh karakteristik komunikasi antar pribadi itu adalah

(Hardjana, 2007: 86-90):

1. Melibatkan di dalamnya perilaku verbal dan non verbal.

2. Melibatkan perilaku spontan, tepat, dan rasional.

3. Komunikasi antar pribadi tidaklah statis, melainkan dinamis.

4. Melibatkan umpan balik pribadi, hubungan interaksi, dan koherensi

(pernyataan yang satu harus berkaitan dengan yang lain sebelumnya).

5. Komunikasi antar pribadi dipandu oleh tata aturan yang bersifat intrinsik

dan ekstrinsik.

6. Komunikasi antar pribadi merupakan suatu kegiatan dan tindakan.

7. Melibatkan di dalamnya bidang persuasif.

Awal dari proses komunikasi adalah persepsi. Persepsi bukan sekedar rekaman atas

objek yang yang telah terstimulasikan pada otak manusia dan otak manusia itu tidak seperti

komputer yang mengolah input sebagaimana data adanya. Persepsi sangat dipengaruhi

kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya, yang semuanya

menentukan interprestasi orang pada sensasi. Sering kali kita mempersepsikan sesuatu secara

subjektif padahal belum tentu benar. Contoh : orang berambut gondrong dianggap berandal

(padahal belum tentu).

Proses psikologis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam Komunikasi

Interpersonal. Hal ini terjadi karena dalam Komunikasi Interpersonal kita mencoba

menginterpretasikan makna yang menyangkut diri kita, diri orang lain, dan hubungan yang

terjadi. Upaya kita untuk memahami diri pribadi ini disebut persepsi, dimana melalui indera yang

(3)

mempresentasikan informasi yang telah kita peroleh melalui penginderaan. Proses ini memiliki

subjektivitas tinggi dan beberapa kelemahan didalamnya.

Sifat-sifat persepsi, yaitu :

Sedangkan elemen-elemen dari persepsi, yaitu :

1. Sensasi/penginderaan

2. Harapan

3. Bentuk dan latar belakang

4. Perbandingan

5. Konteks.

Selanjutnya dalam upaya untuk mempengaruhi persepsi orang lain terhadap diri kita telah

membuat kita menerapkan sejumlah strategi, yaitu :

1) Impression management, dalam hal ini mengungkapkan bahwa orang cenderung untuk

mengarahkan persepsi orang lain terhadap dirinya.

2) Rethorical sensitivity, mengajarkan orang untuk peka terhadap diri sendiri, peka terhadap

situasi, dan terutama peka terhadap orang lain.

3) Attributional respons, adalah cara lain dari penggunaan proses atribusi melalui perilaku kita

sebagai reaksi atas tindakan orang lain.

4) Konfirmasi antarpribadi, adalah tanggapan atau reaksi atas perilaku orang lain.

Kesalahan mempersepsi sering terjadi, misal kita berceloteh, bercanda akan

menyinggung orang tetapi kadang persepsi itu ada benarnya, misal persepsi tingkah laku yang

sombong dianggap meremehkan orang.

Persepsi dan konsep diri (yang positif) merupakan hal yang tidak dapat dilepaskan dari

komunikasi interpersonal. Konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri sendiri.

Kadar keberhasilan atau kegagalan seseorang ditentukan oleh bagaimana memandang

(4)

Jadi dapat dikatakan bahwa pesan internal mengenai diri anda – konsep diri dan

penghargaan diri – dalam lingkup yang lebih besar dapat mengarahkan anda bagaimana untuk

merasakan diri anda dalam berhubungan dengan orang lain.

Suatu konsep diri yang dapat diterapkan dalam organisasi yang mengarah pada konsep

diri positif yaitu : percaya diri, memiliki kemampuan menyenangkan orang, memiliki cara

mendorong setiap orang yang diawasinya untuk berbuat inovasi dan bersedia mengakui

kesalahan yang dibuatnya.

Para komunikator bisnis membawa konsep diri yang relative stabil ke dalam kegiatan

presentasi bisnis, wawancara, dan bentuk lain dari komunikasi dalam organisasi, setiap orang

dan pada setiap situasi merupakan suatu kesempatan yang sekurang-kurangnya sedikit

memodifikasi konsep diri.

Jadi, konsep diri merupakan penyaring dari semua informasi yang datang kepada

seorang individu, maka semakin positif dan realistic suatu konsep diri, maka semakin

responsive pegawai dalam mencari dan menghadirkan umpan balik yang efektif.

Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi antarpribadi,

yaitu:

a. Setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Bila seseorang

mahasiswa menganggap dirinya sebagai orang yang rajin, ia akan berusaha menghadiri

kuliah secara teratur, membuat catatan yang baik, mempelajari materi kuliah dengan

sungguh-sungguh, sehingga memperoleh nilai akademis yang baik.

b. Membuka diri. Pengetahuan tentang diri kita akan meningkatkan komunikasi, dan pada saat

yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita.

Dengan membuka diri, konsep diri menjadi dekat pada kenyataan. Bila konsep diri sesuai

dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman

dan gagasan baru.

c. Percaya diri. Ketakutan untuk melakukan komunikasi dikenal sebagai communication

apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi disebabkan oleh kurangnya rasa

percaya diri. Untuk menumbuhkan percaya diri, menumbuhkan konsep diri yang sehat

menjadi perlu.

d. Selektivitas. Konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri

(5)

kita mempersepsi pesan (persepsi selektif), dan apa yang kita ingat (ingatan selektif). Selain

itu konsep diri juga berpengaruh dalam penyandian pesan (penyandian selektif).

Ada dua jenis kecakapan yang harus dimiliki seseorang agar dirinya mampu melakukan

komunikasi interpersonal dengan baik dan berhasil, yaitu kecakapan kognitif dan kecakapan

behavioral.

1. Kecakapan Kognitif

Kecakapan kognitif merupakan kecakapan pada tingkat pemahaman mengenai

bagaimana cara mencapai tujuan personal dan relasional dalam berkomunikasi.

Kecakapan kognitif meliputi:

a. Empati (empathy): kecakapan untuk memahami pengertian dan perasaan orang lain

tanpa meninggalkan pandangannya sendiri.

b. Perspektif social (social perspective): kecakapan melihat kemungkinan-kemungkinan

perilaku yang berkomunikasi dengan dirinya.

c. Kepekaan (sensitivity) terhadap peraturan atau standar yang berlaku dalam

komunikasi interpersonal.

d. Pengetahuan akan situasi pada waktu komunikasi sedang dilakukan.

e. Memonitor diri (self-monitoring): kecakapan memonitor diri sendiri untuk menjaga

ketepatan perilaku dan jeli dalam memperhatikan pengungkapan pihak yang

berkomunikasi dengannya.

2. Kecakapan Behavioral

Kecakapan behavioral merupakan kecakapan berkomunikasi pada tingkat tindakan,

yang berfungsi dalam mengarahkan pelaku komunikasi untuk mencapai tujuan, baik

personal maupun relasional. Kecakapan behavioral terdiri dari:

a. Keterlibatan interaktif (interactive involment). Keterlibatan interaktif menentukan

tingkat keikutsertaan dalam proses komunikasi. Kecakapan ini meliputi : 1) sikap

tanggap (responsiveness), 2). Sikap perseptif (perceptiveness), dan 3) sikap penuh

perhatian (attentiveness).

b. Manajemen interaksi (interaction management): kecakapan yang berfungsi untuk

membantu dalam mengambil tindakan-tindakan yang berguna demi tercapainya

tujuan komunikasi.

c. Keluwesan perilaku (behavioral flexibility) : kecakapan yang berfungsi menentukan

(6)

d. Mendengarkan (listening): kecakapan yang berfungsi untuk bisa mendengarkan dan

menyelami perasaan pihak lain. Dengan kecakapan mendengarkan seseorang dapat

menjadi teman berbicara yang baik.

e. Gaya sosial (social style): kecakapan yang mengarahkan pelaku komunikasi pada

perilaku yang baik dan menarik sehingga menyenangkan pihak lain.

f. Kecemasan komunikasi (communication anxiety): kecakapan yang dapat dipakai

untuk mengatasi rasa takut, cemas, malu, gugup, dst. ketika berhadapan dengan

lawan bicara.

Terdapat tiga faktor dalam komunikasi antarpribadi yang menumbuhkan hubungan

interpersonal yang baik, yaitu:

a. Percaya

b. sikap suportif

c. sikap terbuka.

2. Komunikasi Interpersonal Dalam Organisasi

Konsep diri positif dan rasa harga diri merupakan prasyarat bagi terciptanya suatu

hubungan bisnis yang baik dan berhasil. Hubungan ini akan membantu para individu untuk

berkomunikasi dan mempengaruhi perilaku individu lainnya dalam suatu organisasi atau

lingkungannya, jadi yang perlu dikaji dan dipertimbangkan bagi seorang komunikator bisnis

adalah kepuasan hubungan interpersonal.

Menurut William Schutz: Terdapat tiga kebutuhan dasar interpersonal, yaitu :

1. Inclusion (dilibatkan)

2. Control (pengendalian)

3. Afeksi (kasih sayang)

Kebutuhan –kebutuhan ini menekankan sebagian besar perilaku hubungan dalam suatu

organisasi dan dicerminkan dalam cara orang-orang mengharapkan orang lain untuk

melibatkan, mengendalikan dan menunjukkan kasih sayang.

2.1. Inclusion (dilibatkan)

Menurut Schutz : suatu kebutuhan untuk dilibatkan merupakan hal mendasar bagi

semua orang. Kebutuhan inklusi yang tinggi, umumnya tipe orang yang mencari pengakuan

dalam suatu organisasi sedangkan kebutuhan inklusi yang rendah, umumnya tipe orang yang

(7)

Menurut Myers: orang dengan kebutuhan inklusi yang tinggi akan melawan ketakutan

dengan memaksa orang lain untuk memberikan perhatian kepadanya, orang dengan kebutuhan

inklusi yang rendah telah meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka tidak akan

mendapatkan perhatian, tetapi itulah yang mereka inginkan.

Kebutuhan akan inklusi dari setiap orang berbeda yang didasarkan pada tingkat

kebutuhan dan persepsi mengenai siapa yang akan menanggapi kebutuhan pada tingkat yang

diinginkan. Jadi setiap orang akan mencari keseimbangan dalam hal inklusi dan kemandirian,

kebutuhan ini berhubungan dengan keadaan dan berubah setiap saat.

2.2. Control (pengendalian)

Kebutuhan akan pengendalian (control) berhubungan dengan suatu harapan akan

kekuasaan, perasaan seorang pemimpin dan kewenangan untuk mengubah lingkungan. Pada

umumnya jika kebutuhan control yang tinggi maka berharap menjadi pemimpin,

Kebutuhan inklusi yang rendah dan control tinggi ada kemungkinan belajar bagaimana

memanipulasi orang lain agar memperoleh peluangnya secara tidak langsung. Kebutuhan

inklusi dan control tinggi ada kemungkinan untuk berupaya mendominasi situasi secara

langsung, dan jika kebutuhan kontrolnya rendah dengan kebutuhan penerimaan wewenang

tinggi, umumnya orang tipe ini sebagai bawahan yang setia.

2.3. Afeksi (kasih sayang)

Afeksi merupakan kebutuhan yang penting dalam pemilihan hubungan, afeksi diekspresikan dengan memberikan “belaian” suatu indikasi verbal dan nonverbal mengenai perilaku yang dinilai oleh orang lain dalam suatu kelompok kerja.

Kebutuhan afeksi yang tinggi, akan ditunjukkan dengan kehangatan dan kepedulian,

seperti melakukan jabatan tangan yang erat, tepukan yang pantas pada punggung, senyum,

kontak mata yang hangat, dll, atau dengan menggunakan kata-kata yang positif.

Sedangkan kebutuhan afeksi yang rendah, umumnya orang tersebut bersifat dingin,

(8)

Jadi, seorang komunikator bisnis yang baik harus peka dan selektif terhadap kebutuhan

interpersonal dalam mengatur dan mengembangkan dinamika lingkungan kerja. Hal ini dapat

digunakan untuk memodifikasi tugas kerja bawahan sehingga menciptakan iklim kerja dan

dinamika organisasi yang lebih baik.

3. Mendengarkan dalam komunikasi interpersonal

Dalam realita, anda tidak mengharapkan orang lain membaca pikiran anda dan anda

juga tidak dapat mengetahui apa yang orang lain inginkan. Maka dalam menciptakan

komunikasi interpersonal yang efektif, diharapkan adanya keterbukaan dan kemauan untuk

mendengarkan dengan baik hal apa saja yang dikomunikasikan. Keterbukaan merupakan suatu

cara untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan bagaimana cara informasi dibagikan.

Dengan mendengarkan, kita dapat mengetahui dan menelusuri secara detail pokok

permasalahan yang dibicarakan. Sehingga memudahkan dalam mencari penyelesaian masalah

dan memberikan feedback. Selain itu juga menunjukkan sikap perhatian (bagian dari afeksi)

terhadap lawan bicara dan informasi yang disampaikan.

4. Empati dan Persuasi

4.1. Empati

Empati adalah kecakapan untuk memahami pengertian dan perasaan orang lain tanpa

meninggalkan pandangannya sendiri. Empati komunikasi meliputi penyampaian perasaan,

kejadian, persepsi atau proses yang menyatakan tidak langsung perubahan sikap/perilaku

penerima.

Menurut Sigmund Freud bahwa : “Empathy dianggap sebagai memahami orang lain

yang tidak mempunyai arti emosional bagi kita”.

Berempati artinya membayangkan diri kita pada kejadian yang menimpa orang lain.

Dengan empati kita berusaha melihat seperti orang lain melihat, merasakan seperti orang lain merasakannya.”

Komunikator yang dipersepsi memiliki kesamaan dengan komunikan cenderung dapat

berkomunikasi lebih efektif. Hal ini alasannya menurut Herbert W. Simons karena empat faktor,

yaitu :

1. Kesamaan mempermudah proses penyandian (decoding), yakni menerjemahkan

(9)

2. Kesamaan membantu membangun premis yang sama untuk mempermudah proses

deduktif. Dalam hal ini berarti bila kesamaan disposisional relevan dengan topik

persuasi, maka komunikan akan terpengaruh oleh komunikator.

3. Kesamaan menyebabkan komunikan tertarik pada komunikator. Kebanyakan orang

cenderung menyukai orang-orang yang memiliki kesamaan disposisional dengan

orang tersebut tadi, Sehingga hal ini kalau dalam proses Komunikasi Interpersonal

komunikan akan tertarik pada komunikator dan komunikan tersebut cenderung

menerima gagasan-gagasan komunikator.

4. Kesamaan menumbuhkan rasa hormat dan percaya pada komunikator.

4.2. Persuasi

Istilah persuasi bersumber dari perkataan Latin, persuasio yang berarti membujuk,

mengajak atau merayu. Persuasi bisa dilakukan secara :

1. secara rasional, komponen kognitif pada diri seseorang dapat dipengaruhi. Aspek

yang dipengaruhi berupa ide ataupun konsep,

2. secara emosional, biasanya menyentuh aspek afeksi, yaitu hal yang berkaitan

dengan kehidupan emosional seseorang. Melalui cara emosional, aspek simpati dan

empati seseorang dapat digugah.

Persuasi merupakan proses komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi sikap,

pendapat dan perilaku seseorang, baik secara verbal maupun nonverbal.

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam komunikasi persuasi meliputi kejelasan

tujuan, memikirkan secara cermat orang-orang yang dihadapi serta memilih strategi yang tepat.

Ruang lingkup kajian ilmu komunikasi persuasif meliputi sumber, pesan, saluran/media,

penerima, efek, umpan balik, dan konteks situasional.

Pendekatan yang digunakan dalam komunikasi persuasif adalah pendekatan psikologis.

Menurut Aristoteles, komunikasi dibangun oleh tiga unsur yang fundamental, yakni orang yang

berbicara, materi pembicaraan, dan orang yang mendengarkannya. Aspek yang pertama

disebut komunikator atau persuader, yang merupakan sumber komunikasi, aspek yang kedua

adalah pesan, dan aspek yang ketiga disebut komunikan atau persuadee, yaitu orang yang

(10)

Seorang persuader yang memiliki ethos tinggi, dicirikan oleh kesiapan, kesungguhan,

ketulusan, kepercayaan, ketenangan, keramahan, dan kesederhanaan. Jika komunikasi

persuasif ingin berhasil seorang persuader harus memiliki sikap reseptif, selektif, digestif,

asimilatif, dan transitif. Persuadee adalah orang dan atau sekelompok orang yang menjadi

tujuan pesan itu disampaikan dan disalurkan oleh persuader baik secara verbal maupun

nonverbal.

Efek komunikasi persuasif adalah perubahan yang terjadi pada diri persuader sebagai

akibat dari diterimanya pesan melalui proses komunikasi. Efek yang timbul berbentuk

perubahan sikap pendapat dan tingkah laku.

5. THE JOUHARI WINDOW THEORY

Merupakansebuah model yang dikenal sebagai Johari Window menggambarkan proses

memberi dan menerima umpan balik. Teori ini dikembangkan oleh Psikolog Joseph Luft dan

Harry Ingham untuk program proses kelompok mereka. Model tersebut sebagai jendela

komunikasi melalui mana Anda memberi dan menerima informasi tentang diri Anda dan orang

lain.

Melalui proses umpan balik, kita melihat diri kita seperti orang lain melihat kita. Melalui

umpan balik, orang lain juga belajar bagaimana kita melihat mereka. Umpan balik memberikan

informasi kepada seseorang atau kelompok baik dengan komunikasi verbal atau nonverbal.

Informasi yang Anda berikan memberitahu orang lain bagaimana perilaku mereka

mempengaruhi Anda, bagaimana Anda rasakan, dan apa yang Anda anggap (umpan balik dan

keterbukaan diri).

The Johari Window model, terdiri dari 4 kuadran, seperti digambarkan diagram di bawah

(11)

Penjelasan keempat kuadran tersebut adalah :

Quadrant 1: Open Area

What is known by the person about him/herself and is also known by others.

berisi hal-hal yang aku tahu tentang diriku dan juga diketahui oleh orang lain. Ditandai

dengan pertukaran informasi antara diri dan orang lain dengan bebas. Pada kuadran ini

terdapat tingkat kepercayaan antar individu yang tinggi, sehingga dengan mudahnya

berbagi informasi tentang hal-hal pribadi.

Quadrant 2: Blind Area, or "Blind Spot"

What is unknown by the person about him/herself but which others know.

berisi informasi yang saya tidak tahu tentang diriku sendiri, tapi diketahui oleh orang

lain. Orang lain mendapatkannya melalui komunikasi non verbal yang saya lakukan,

misalnya melalui sikap, cara saya mengatakan sesuatu hal, atau gaya di mana saya

berhubungan dengan orang lain, saya mungkin tidak tahu bahwa saya selalu berpaling

dari seseorang ketika saya berbicara atau bahwa saya selalu berdehem sebelum

(12)

Quadrant 3: Hidden or Avoided Area

What the person knows about him/herself that others do not.

Berisi informasi yang saya tahu tentang diriku sendiri, tetapi orang lain tidak tahu. Saya

menjaga hal-hal yang tersembunyi dari mereka. Saya mungkin takut bahwa jika

kelompok itu tahu perasaan saya, persepsi, dan pendapat mengenai kelompok atau

individu dalam kelompok, mereka mungkin menolak, menyerang, atau menyakiti saya.

Akibatnya, saya menahan informasi ini. Sebelum mengambil risiko mengatakan

sesuatu kepada orang lain, saya harus tahu ada unsur mendukung dalam kelompok

kami. Saya ingin anggota kelompok untuk menilai saya positif ketika saya

mengungkapkan perasaan, pikiran, dan reaksi. Saya harus mengungkapkan

sesuatu tentang diri saya untuk mengetahui bagaimana anggota akan bereaksi. Di sisi

lain, saya dapat menyimpan informasi tertentu untuk diriku sendiri sehingga saya bisa

memanipulasi atau mengendalikan orang lain.

Quadrant 4: Unknown Area

What is unknown by the person about him/herself and is also unknown by others.

Berisi hal-hal yang baik saya sendiri maupun orang lain tidak tahu mengenai hal-hal

tentang saya. Aku mungkin tidak pernah menyadari bahwa hal tersebut terkubur jauh di

bawah permukaan di daerah bawah sadar saya. Daerah ini diketahui merupakan

dinamika intrapersonal, kenangan masa kanak-kanak, potensi laten, dan sumber daya

(kemampuan atau potensi diri) yang belum diakui. Batas-batas internal perubahan

panel tergantung pada jumlah umpan balik dicari dan diterima. Mengetahui

semua tentang diri sendiri adalah sangat tidak mungkin, dan ekstensi tidak dikenal

dalam model merupakan bagian dari diriku yang selalu akan tetap tidak

diketahui.

Proses pengembangan dari kuadran yang terbuka secara vertical disebut self-disclosure (=pengungkapan diri), dimana terjadi proses “take and give” (saling memberi dan menerima) antar individu yang saling berinteraksi/berhubungan/berkomunikasi.

Dalam kebanyakan kasus, tujuan dalam kelompok harus mengembangkan Area Terbuka untuk

setiap orang. Bekerja di daerah ini dengan orang lain biasanya memungkinkan untuk

(13)

komunikasi yang baik dan kerjasama terjadi, bebas dari kebingungan, konflik dan

kesalahpahaman.

Pengungkapan diri adalah proses dimana orang memperluas area terbuka secara vertikal.

Umpan balik adalah proses dimana orang memperluas daerah ini secara horizontal.

Dengan mendorong keterbukaan diri dan umpan balik yang sensitif, Anda dapat membangun

sebuah tim kuat dan lebih efektif

Seiring dengan proses sharing informasi, boundary yang berbatasan dengan hidden quadrant

bergerak ke bawah, dan ketika orang mulai berkomunikasi maka tingkat kepercayaan diantara

mereka pun mulai dibangun. Jangan gegabah dalam pengungkapan diri, karena

mengungkapkan informasi dapat merusak kepercayaan orang kepada anda akan

menempatkan anda dalam posisi yang lemah. Berhati-hatilah dalam cara memberikan feedback

(umpan balik). Latar belakang budaya yang berbeda-beda sangat mempengaruhi dalam

(14)

Daftar Pustaka

1. Hardjana, Agus M. (2007) Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Yogyakarta: Kanisius.

2. Rakhmat, Jalaludin. (2007) Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

3. http://www.citehr.com/138933-johari-window-very-effective-article-team-effectiveness.html

4. Sendjaja, Sasa Djuarsa, 1993. Teori Komunikasi, Jakarta, Univ. Terbuka

5. Littlejohn, Stephen, 1996, Theories of Human Communication. Wadsworth Publising Company Inc. Belmont.

6. Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Remaja Rosdakarya, Bandung.

7. Joseph A. Devito, 1997, Komunikasi Antar Manusia, Professional Books.

8. Effendi, Onong Uhyana, 2009, Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek, Remaja Rosdakarya,

Referensi

Dokumen terkait

Perusahaan yang mengimplementasikan complementarity dari empat dimensi information technology relatedness dan mengaturnya dengan baik akan lebih memungkinkan untuk menciptakan dan

Pembuangan tinja atau excreta manusia merupakan bagian yang penting dari sanitasi lingkungan. Pembuangan tinja manusia yang terinfeksi di laksanakan secara tidak

Sebagai  perguruan  tinggi  terkemuka  di  Indonesia,  seyogyanya  ITB  ikut  berperan  aktif  untuk  mencari  solusi  bagi  penyelesaian  persoalan  bangsa 

(a) (b).. Pengujian batas kadaluarsa juga dilakukan pada semua produk yang disimpan di laboratorium. Standar mutu produk jadi setelah melalui proses pasteurisasi

Jika semua data pada form data kasus telah terisi, maka sistem akan melakukan perankingan alternatif sesuai prosedur metode TOPSIS dan menampilan hasil

Lembar Bimbingan

Fungsi kepatutan adalah serangkaian tindakan atau langkah-langkah yang bersifat ex-ante (preventif) untuk memastikan bahwa kebijakan, ketentuan, sistem, dan prosedur, serta

Spesifikasi pekerjaan adalah uraian persyaratan kualitas minimum orang yang bisa diterima agar dapat menjalankan satu jabatan dengan baik dan kompeten.. Spesifikasi