• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan Kewargane garaan Fakultas Pro

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pendidikan Kewargane garaan Fakultas Pro"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL 11

Pendidikan

Kewarganegar

aan

OTONOMI DAERAH

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun/Dirangkum Oleh:

Ekonomi Bisnis Akuntansi/Bisnis

11

MK 90003 D. Machdum Fuady, S.H., M.H.

Abstract

Kompetensi

Dalam Materi perkuliahan ini Anda akan mempelajari tentang pengertian otonomi daerah dan latar belakang (alasan), tujuan dan prinsip otonomi. Dan pada akhir perkuliahan dilakukan diskusi dalam menerapkan otonomi daerah dan membedakan pembagian urusan pemerintahan.

Mahasiswa dapat menyebutkan

pengertian otonomi daerah.

Menjelaskan latar belakang dan menguraikan tujuan serta prinsip

otonomi daerah. Menjelaskan

(2)

OTONOMI DAERAH

A. Pengertian Otonomi Daerah

Reformasi membuka jalan untuk menyuarakan keadilan ekonomi, politik, sosial budaya, dan pelayanan. Pembangunan yang sentralistik selama Orde Baru berkuasa 32 tahun ternyata telah banyak menimbulkan kesenjangan ketidakadilan. Misalnya kesenjangan pendapat antardaerah yang besar, investasi antardaerah, pendapatan daerah yang dikuasai pemerintah pusat, kesenjangan regional, dan kebijakan investasi yang terpusat. Untuk mengatasi hal tersebut, maka otonomi daerah merupakan salah satu alternatif untuk memberdayakan setiap daerah dalam memanfaatkan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) untuk kesejahteraan rakyat.

Otonomi secara sempit diartikan “mandiri”, sedangkan dalam arti luas adalah “berdaya”. Jadi otonomi daerah adalah pemberian kewenangan pemerintah kepada pemerintah daerah untuk mandisri atau berdaya membuat keputusan mengenai kepentingan daerahnya sendiri.

Desentralisasi adalah transfer/pemindahan kewenangan untuk menyelenggara kan beberapa pelayanan kepada masyarakat dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah (M. Turner dan D. Hulme). Sementara desentralisasi adalah proses pemindahan kekuasaan politik, fiskal, dan administrasi kepada unit dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah (Shahid Javid Burki).

Jadi, otonomi daerah dapat diartikan pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Dalam pola pikir demikian, otonomi daerah adalah suatu instrumen politik dan instrumen administrasi/manajemen yang digunakan untuk mengoptimalkan sumber daya lokal, sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan masyarakat di daerah, terutama menghadapi tantangan global, mendorong pemberdayaan masyarakat, menumbuhkan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat dan mengembangkan demokrasi.

B. Latar Belakang Otanomi Daerah

Krisis ekonomi dan politik yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah memporak-porandakan hampir seluruh sendi-sendi ekonomi dan politik negeri ini yang telah dibangun cukup lama. Kemudian berlanjut dengan multikrisis, mengakibatkan semakin rendahnya tingkat kemampuan dan kapasitas negara dalam menjamin kesinambungan pembangunan. Krisis itu salah satunya diakibat-kan oleh sistem manajemen negara dan pemerintahan yang sentralistik, di mana kewenangan dan pengelolaan segala sektor pembangunan berada dalam kewenangan pemerintah pusat, sementara daerah tidak memiliki kewenangan untuk mengelola dan mengatur daerahnya.

(3)

yang tidak dapat dilepaskan dari upaya politik pemerintah pusat untuk merespon tuntutan kemerdekaan atau negara federal dari beberapa wilayah, yang memiliki aset sumber daya alam melimpah, namun tidak mendapatkan haknya secara proporsional pada masa pemerintahan Orde Baru.

Otonomi daerah dianggap dapat menjawab tuntutan pemerataan pembangun an sosial ekonomi, penyelenggaraan pemerintahan, dan pembangunan kehidupan berpolitik yang efektif. Sebab dapat menjamin penanganan tuntutan masyarakat secara variatif dan cepat. Ada beberapa alasan mengapa kebutuhan terhadap otonomi daerah di Indonesia saat itu dirasakan mendesak.

1. Kehidupan berbangsa dan bernegara selama ini sangat terpusat di Jakarat, sementara itu, pembangunan di beberapa wilayah lain dilalaikan. Hal ini bisa terlihat bahwa hampir 60 % lebih perputaran uang beredar di Jakarta, sedangkan 40 % digunakan di luar Jakarta. Ketimpangan sangat terlihat, karena Jakarta dengan penduduk 12 juta jiwa, sedangkan luar Jakarta 190 juta hanya menggunakan 40 % dari perputaran uang secara nasional. Selain itu hampir seluruh proses perijinan investasi juga berada di tangan pemerintah pusat.

2. Pembagian kekayaan dirasakan tidak adil dan tidak merata. Daerah-daerah yang memiliki sumber kekayaan alam melimpah berupa minyak, hasil tambang dan hasil hutan, seperti Aceh, Riau, Irian Jaya (Papua), Kalimantan dan Sulawesi ternyata tidak menerima perolehan dana yang layak dari pemerintah pusat, dibandingkan dengan daerah yang relatif tidak memiliki banyak sumber daya alam.

3. Kesenjangan sosial (dalam makna seluas-luasnya) antar satu daerah dengan daerah lain sangat terasa. Pembangunan di satu daerah dengan daerah lain sangat terasa. Pembangunan fisik di satu daerah terutama di Jawa, berkembang pesat sekali, sedangkan pembangunan di banyak daerah masih lamban, dan bahkan terbengkalai. Kesenjangan sosial ini juga meliputi tingkat pendidikan dan kesehatan keluarga.

C. Tujuan dan Prinsip Otonomi Daerah

Tujuan dilaksanakannya otonomi daerah menurut pendapat beberapa ahli adalah sebagai berikut: 1. Untuk mencegah penumpukan kekuasaan di pusat dan membangun masyarakat yang demokratis,

untuk menarik rakyat ikut serta dalam pemerintahan, dan melatih diri dalam menggunakan hak-hak demokrasi (dari segi politik).

2. Untuk mencapai pemerintahan yang efisien (segi pemerintahan). 3. Agar perhatian lebih fokus kepada daerah (segi sosial budaya).

4. Agar masyarakat dapat turut berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi di daerah masing-masing (segi ekonomi).

Sementara itu para ahli pemerintahan juga mengemukakan pendapat lain tentang alasan perlunya otonomi daerah-desentralisasi, yaitu:

(4)

2. Sebagai sarana pendidikan politik. Pendidikan politik pada tingkat lokal sangat bermanfaat bagi warga masyarakat untuk menentukan pilihan politiknya. Mereka yang tidak mempunyai peluang untuk terlibat dalam politik nasional, akan mempunyai peluang lokal untuk ikut serta dalam politik lokal, baik pemilu lokal atau dalam pembuatan kebijakan publik.

3. Sebagai persiapan karier politik. Keberadaan pemerintah daerah merupakan wahana yang banyak digunakan untuk menapak karier politik yang lebih tinggi, sampai ke tingkat nasional.

4. Stabilitas politik. Pergolakan di daerah terjadi karena daerah melihat kenyataan kekuasaan pemerintah Jakarta sangat dominan. Hal ini merupakan contoh kongkrit bagaimana hubungan antara pemerintahan daerah dengan ketidakstabilan politik kalau pemerintah nasional tidak menjalankan otonomi dengan tepat.

5. Kesetaraan politik (political equality). Masyarakat di tingkat lokal, sebagaimana halnya dengan masyarakat di pusat pemerintahan, akan mempunyai kesempatan yang sama untuk terlibat dalam politik, apakah itu melalui pemberian suara pada waktu pemilihan kepala desa, bupati, walikota, dan bahkan gubernur. Di samping itu, warga masyarakat akan ikut dalam memengaruhi pemerintahan untuk membuat kebijakan, terutama yang menyangkut mereka.

6. Akuntabilitas publik. Demokrasi memberikan ruang dan peluang kepada masyarakat di daerah untuk berpartisipasi dalam segala bentuk kegiatan penyelenggaraan negara. keterlibatan ini sangat dimungkinkan sejak dari awal tahap pengambilan keputusan sampai dengan tahap evaluasi. Dengan demikian, maka kebijakan yang dibuat dapat diawasi secara langsung, dan dapat dipertanggungjawabkan karena masyarakat terlibat langsung dalam penyelenggaraan pemerintahan.

D. Perkembangan UU Otonomi Daerah di Indonesia

Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan, ditandai dengan perubahan undang-undang otonomi daerah, yaitu:

1. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1945, tentang Pemerintahan Daerah. Dalam undang-undang ini ditetapkan tentang daerah otonom yaitu keresidenan, kabupaten dan kota. Tetapi tidak ada PP-nya, sehingga tidak dilaksanakan dan usianya hanya tiga tahun.

2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948, tentang Susunan Pemerintah Daerah yang Demokratis. Dalam undang-undang ini ada dua jenis otonomi daerah yaitu: daerah otonomi biasa dan daerah otomi istimewa. Juga ditetapkan tingkatan daerah otonom yaitu, provinsi, kabupaten/kota besar dan desa/kota kecil. Dalam undang-undang ini, pemerintah pusat memberikan hak istimewa kepada beberapa daerah di Jawa, Bali, Minangkabau, dan Palembang untuk menghormati daerah tersebut guna melakukan pengaturan sendiri daerahnya mengenai hak dan asal-usul daerah. 3. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957, tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku menyeluruh

dan bersifat seragam.

(5)

5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974, tentang Pokok-Pokok Penyelenggaraan Pemerintah Pusat di Daerah. Undang-undang ini usianya paling panjang yaitu 25 tahun.

6. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, tentang Otonomi Daerah.

7. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999, tentang perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.

8. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah. Dalam undang-undang ini terlihat jelas pembagian urusan pemerintahan, di mana pemerintah pusat menjalankan urusan dalam pembuatan perundangan, politik luar negeri, pertahanan keamanan, yustisi, kebijakan fiskal dan moneter, serta agama. Pemerintahan daerah mempunyai kekuasaan selain wewenang pusat, yaitu bidang ekonomi, perdagangan, industri, pertanian, tata ruang, pendidikan, kesejahteraan dan menjalankan fungsi pemerintahan umum sebagai wakil pemerintah pusat.

9. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusan dan Daerah. Undang-undang ini mengatur pembiayaan pembangunan daerah yang bersumber dari PAD, dana perimbangan, dan pendapatan lain-lain. Undang-undang ini juga mengatur pembagian penerimaan antara pemerintah pusat dan daerah, yaitu: penerimaan hasil hutan (pusat 20 %, daerah 80 %), penerimaan dana reboisasi (pusat 60 %, daerah 40 %), pertambangan umum dan perikanan (pusat 20 %, daerah 80 %), pertambangan minyak (pusat 69,5 % daerah 30,5 %) dan panas bumi (pusat 20 %, daerah 80 %).

E. Model Desentralisasi

Model desentralisasi adalah pola penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan menangani urusan pemerintahan dalam sistem NKRI.

Model desentralisasi menurut Rondinelli, ada empat macam, yaitu:

1. Dekonsentrasi, yaitu pelimpahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada gubernur sebagai wakil pemerintah, dan atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu.

2. Delegasi adalah pelimpahan pengambilan keputusan dan kewenangan manajerial untuk melakukan tugas-tugas khusus kepada suatu organisasi, yang tidak secara langsung berada di bawah pengawasan pemerintah pusat.

3. Devolusi adalah transfer kewenangan untuk pengambilan keputusan, keuangan, dan manajemen kepada unit otonomi pemerintah daerah.

4. Privatisasi adalah tindakan pemberian kewenangan dari pemerintah kepada badan-badan sukarela, swasta, dan swadaya masyarakat.

F. Pembagian Urusan Pemerintahan

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah, urusan pemerintahan dapat dibagi ke dalam pemerintahan pusa, pemerintahan daerah tingkat I dan tingkat II. Pembagian urusan pemerintahan tersebut meliputi:

1. Urusan pemerintahan pusat, meliputi enam bidang: a. Politik Luar Negeri.

b. Pertahanan. c. Keamanan. d. Yustisi.

(6)

f. Agama.

2. Urusan Wajib yang menjadi kewenangan Pemerintahan Daerah Provinsi, meliputi 16 bidang: a. Perencanaan dan pengendalian pembangunan.

b. Perencanaan, pemanfatan, dan pengawasan tata ruang.

c. Penyelenggaraan, ketertiban umum, dan ketenteraman masyarakat. d. Penyediaan sarana dan prasarana umum.

e. Penanganan bidang kesehatan.

f. Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial. g. Penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota.

h. Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota. i. Pengembangan koperasi dan UKM lintas kabupaten/kota. j. Pengendalian lingkungan hidup.

k. Pelayanan pertahanan termasuk lintas kabupaten/kota. l. Pelayanan kependudukan, dan catatan sipil.

m. Pelayanan administrasi umum pemerintahan.

n. Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota

o. Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh Kabupaten/kota.

p. Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.

3. Urusan wajib yang menjadi kewenangan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, meliputi 15 bidang, yaitu:

a. Perencanaan dan pengendalian pembangunan.

b. Perencanaan, pemanfatan, dan pengawasan tata ruang.

c. Penyelenggaraan, ketertiban umum, dan ketenteraman masyarakat. d. Penyediaan sarana dan prasarana umum.

o. Urusan Wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.

G. Otonomi Daerah dan Demokratisasi

Otonomi daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem demokrasi yang berintikan kebebasan kepada individu, kelompok, daerah untuk mengatur, mengendalikan, serta menyelenggarakan pemerintahan sendiri.

Pemerintahan sendiri yang dimaksud adalah pemerintahan yang diatur dan dikendalikan oleh masyarakat sendiri di daerah atas dasar otonomi yang diberikan oleh pemerintah pusat. Kebijakan pemberian otonomi daerah tidak boleh dipandang sebagai tujuan akhir (final destination), melaikan hanya sebagai mekanisme dalam menciptakan demokratisasi penyelenggaraan pemerintahan. Tujuan utama adanya kebijakan otonomi daerah adalah sebagai upaya mewujudkan:

(7)

2. Tanggung jawab daerah (local accountability), yaitu masyarakat daerah dapat secara langsung ikut bertanggung jawab dalam membangun dan mengembangkan segala potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan yang ada pada daerah bagi kesejahteraan dan kemakmuaran rakyat daerahnya.

3. Kesadaran daerah (local responsiveness), yaitu kesadaran daerah untuk menumbuhkembangkan segenap potensi yang dimilikinya bagi masyarakat maupun negara.

Sedangkan prasyarat yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan dari kebijakan otonomi daerah adalah:

1. Memiliki teritorial daerah sendiri (legal territorial of power), yaitu kebijakan dan keputusan yang dibuat serta dilakukan pemerintahan dan rakyat daerah adalah hanya meliputi batas wilayah daerah kekuasaan daerah tersebut.

2. Memiliki pendapatan daerah sendiri (legal income of power), yaitu agar daerah memiliki pendapatan (income) sendiri yang dihasilkan dari potensi SDA daerah, DAU, DAK yang berasal dari APBN.

3. Memiliki badan perwakilan (local repereseitative body), yaitu memiliki badan legislatif dan eksekutif yang dibentuk menurut kebutuhan daerah oleh anggota legislatif hasil pemilihan secara langsung, dan kepala pemerintahan daerah.

4. Memiliki kepala daerah yang dipilih sendiri melalui pemilu (local leader executive by election), yaitu dapat memiliki kepala daerah (gubernur, bupati/walikota) yang merupakan hasil pemilu langsung kepala daerah (pilkada) oleh rakyat daerah provinsi atau kabupaten/kota.

Keterkaitan otonomi daerah dengan demokratisasi, pernah diungkapkan oleh Moch. Hatta, yang menyatakan “memberikan otonomi daerah tidak saja berarti melaksankan demokrasi, tetapi

mendorong berkembangnya auto-activiteit. Auto-activiteit artinya bertindak sendiri, melaksanakan

sendiri apa yang dianggap penting bagi lingkungan sendiri. Dengan perkembangan auto-activiteit, tercapailah apa yang dimaksud dengan demokrasi, yaitu pemerintahan yang dilaksanakan oleh rakyat untuk rakyat. Rakyat tidak saja menentukan nasibnya sendiri, melainkan juga memperbaiki nasibnya sendiri”.

Jadi, inti pelaksanaan otonomi daerah adalah adanya keleluasaan pemerintah daerah

(discretionary power) untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri atas dasar prkarsa, kreativitas,

peran-serta aktif masyarakat dalam mengembangkan dan memajukan daerahnya.

(8)

memadai, berdasarkan kriteria obyektif dan adil. Untuk itu, konsekwensi logis dari cara pandang otonomi daerah di atas adalah:

1. Harus dipandang sebagai instrumen desentralisasi dalam rangka mempertahankan keutuhan serta keberagaman bangsa.

2. Harus didefinisikan sebagai otonomi bagi rakyat daerah (bukan otonomi pemerintah daerah, juga bukan otonomi daerah).

H. Implementasi Otonomi Daerah

1. Implementasi Otonomi Daerah dalam Pengembangan Wilayah.

a. Pelaksanaan otonomi daerah tidak otomatis menghapuskan tugas, peran, tanggung jawab pemerintah pusat. Sesuai dengan penjelasan Pasal 18 UUD 1945 menyatakan bahwa: “suatu

eenheidstaat” Indonesia tidak akan mempunyai daerah dengan status Staat atau negara (tidak

ada negara dalam negara). Pemerintah pusat dalam rangka otonomi daerah masih melakukan pembinaan wilayah, bagi pengelolaan dan pengerahan segala potensi wilayah untuk didayagunakan secara terpadu guna mewujudkan kesejahteraan rakyat. Potensi wilayah segala potensi sumber daya yang mencakup kependudukan, sosial ekonomi, sosial budaya, politik dan pertahanan keamanan.

b. Pola pembinaan wilayah dilaksanakan dengan mendelegasikan tugas-tugas pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan oleh pemerintah daerah. Tugas pemerintah pusat adalah tugas pengawasan. Bentuk pengawasan adalah bahwa seluruh rancangan kegiatan dan anggaran daerah tingkat II dibuat oleh kepala daerah/DPRD II, dan diperiksa oleh Gubernur. Untuk rancangan kegiatan dan anggaran daerah tingkat I dibuat oleh kepala daerah/DPRD I, dan diperiksa oleh pemerintah pusat. c. Tugas dan fungsi pembinaan wilayah meliputi prinsip pemerintahan umum, yaitu

penyelenggaraan pemerintahan pusat di daerah, memfasilitasi dan mengakomodasi kebijakan daerah, menjagakeselarasan pusat dan daerah, menciptakan ketentraman dan ketertiban umum, menjaga tertibnya hubungan lintas batas dan kepastian batas wilayah, menyelenggarakan kewenangan daerah, dan menyelenggarakan kewenangan lain.

d. Pejabat pembina wilayah dilaksanakan oleh kepala daerah yang menjalankan dua macam urusan pemerintahan, urusan daerah dan urusan pemerintahan umum.

2. Implementasi Otonomi Daerah dalam Pembinaan Sumber Daya Manusia.

a. Memberikan kewenangan untuk pembinaan SDM, diantaranya tentang kompetensi, sikap dan prilaku. Menurut Kolah (2002) faktor yang menyebabkan rendahnya kinerja PNS, yaitu:

1) Adanya monoloyalitas PNS kepada satu partai pada masa Orba, sehingga mendorong PNS bermain politik praktis atau tersembunyi ;

2) Proses rekrutmen CPNS tidak sesuai dengan ketentuan jenis dan syarat pekerjaan; 3) Rendahnya tingkat kesejahteraan;

(9)

b. Mempersiapkan SDM untuk memenuhi kebutuhan dengan prinsip keterbukaan dan akuntabilitas. Pemerintah daerah membutuhkan PNS yang tanggap, responsif, kreatif dan bekerja secara efektif.

c. Membutuhkan SDM yang mampu mengembangkan jaringan dan kerja sama tim dengan kualitas tinggi yang sesuai. Ini untuk menunjang kinerja daerah dalam rangka kerja sama antar daerah dan pusat.

d. Untuk pembinaan SDM, pemerintah daerah diharapkan: 1) Membuat struktur organisasi yang terbuka;

2) Menyediakan media untuk PNS berkreasi dan membuat terobosan baru; 3) Mendorong PNS berani mengambil risiko;

4) Memberikan penghargaan bagi yang berhasil;

5) Mengembangkan pola komunikasi yang efektif antara PNS; 6) Membangun suasana kerja yang inovatif;

7) Mengurangi hambatan birokrasi;

8) Mencegah intervensi yang mengganggu proses kerja profesional; 9) Mendelegasikan tanggung jawab dengan baik.

e. Memperbaiki cara kerja birokrasi dengan cara memberikan teladan, membuat perencanaan, ada pengawasan yang memadai, menentukan prioritas, inovatif dalam pemecahan masalah, melakukan komunikasi lisan dan tulisan, hubungan pribadi terjaga dengan baik, dan memperhatikan waktu kehadiran.

f. Mengurangi penyimpangan pelayanan birokrasi, melalui: menegakkan disiplin pegawai dengan memberikan penghargaan dan sanksi, membangun pelayanan yang berorientasi kepada pelanggan, menetapkan tanggung jawab dengan jelas, mengembangkan budaya birokrasi yang bersih, pelayanan cepat dan tepat dengan biaya murah.

3. Implementasi Otonomi Daerah dalam Penanggulangan Kemiskinan. a. Peningkatan kesejahteraan penduduk di wilayahnya.

b. Pengentasan kemiskinan menjadi tugas penting dari UU Nomor 25 Tahun 1999, dengan cara memberdayakan peranan wanita, memberdayakan dan memberi kemudahan akses keluarga miskin untuk berusaha dengan mendekatkan pada modal dan pemasaran produksinya, menanggulangi bencana, dan membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat miskin.

c. Program penanggulangan kemiskinan harus memperhatikan karakter penduduk dan wilayah, dengan melakukan koordinasi antara instansi terikait.

d. Harus mengedepankan peran masyarakat dan sektor swasta, dengan melakukan investasi yang dapat menyerap tenaga kerja dan pasar bagi penduduk miskin.

e. Membangun paradigma baru tentang peranan pemerintah daerah, yaitu dari pelaksana menajdi fasilitator, mengubah instruksi menjadi melayani, mengatur menjadi memberdayakan masyarakat, bekerja memenuhi aturan menjadi bekerja untuk mencapai misi pembangunan. f. Dalam pemberdayaan masyarakat, memberikan legitimasi kepada LSM dan masyarakat

(10)

g. Percepatan penanggulangan kemiskinan, dapat mengambil kebijakan keluarga, yaitu mendata dengan benar karakter keluarga miskin, mengidentifikasi tipe dan pola keluarga miskin, melakukan intervensi kebijakan, meliputi kebijakan penyediaan sumber daya melalui pendidikan dan pelatihan, menyediakan program untuk membangun lingkungan fisik masyarakat miskin, seperti prasarana jalan, jembatan, perumahan, listrik dan air bersih. Dan pada tahap akhir melakukan evaluasi efektivitas dari pelaksanaan penanggulangan kemiskinan.

4. Implementasi Otonomi Daerah dalam Hubungan Fungsional Eksekutif dan Legislatif.

a. Hubungan legislatif dan eksekutif pada masa reformasi lebih dominan, jika dibanding pada masa Orba, di mana eksekutif yang lebih dominan. Hal ini terjadi karena penafsiran terhadap UU Nomor 22 Tahun 1999, yang menyatakan legislatif lebih dominan dibandingkan Pemerintahan Daerah.

b. Ketidakharmonisan harus dipecahkan dengan semangat otonomi, yaitu pemberian wewenang kepada daerah untuk mengatur daerahnya dalam menjawab permasalahan rakyat, meliputi administrasi pembangunan, pembangunan dan pelayanan publik.

c. Asas otoda berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 1999 adalah:

1) Penyerahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, kecuali bidang hankam, luar negeri, peradilan, agama, moneter, dan fiskal;

2) Pelimpahan wewenang pusat kepada gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah; 3) Pembantuan, yaitu penugasan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk

melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan, sarana-prasarana, SDM, dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan pertanggungjawaban kepada pemerintah pusat. d. Kepala daerah mempunyai wewenang: memimpin penyelenggaraan pemerintah daerah

berdasarkan kebijakan yang ditetapkan DPRD, dan mempertanggungjawakannya. Menyampaikan laporan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada presiden melalui mendagri, minimal satu tahun sekali melalui gubernur.

e. Wewenang dan tugas DPRD: memilih gubernur dan wakil gubernur, bupati/wakil bupati atau walikota dan wakil walikota, membentuk peraturan daerah, menetapkan anggaran pendapatan belanja daerah, melaksanakan pengawasan, memberikan saran pertimbangan terhadap perjanjian internasional menyengkut kepentingan daerah, serta menampung dan menindalanjuti aspirasi masyarakat.

f. Kepala Daerah dan DPRD, dalam melakukan tugasnya dapat melakukan komunikasi yang intensif, untuk tukar menukar informasi, dan pengembangan regulasi maupun klarifikasi masalah.

g. Prinsip kerja dalam hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah adalah proses pembuatan kebijakan transparan, pelaksanaan kerja melalui mekanisme akuntabilitas, bekerja berdasarkan susduk yang mencakup kebijakan, prosedur dan tata kerja, menjalankan prinsip kompromi, dan menjunjung etika.

(11)

a. Peningkatan koordinasi antara instansi pemerintah pusat di daerah (PU< PLN, Telkom dan PAM).

b. Mengatur koordinasi sektor riil seperti transportasi, sarana/prasarana, pertanian, dan usaha kecil serta wewenang lain yang ditentukan UU.

c. Lemahnya koordinasi menimbulkan inefisiensi organisasi dan pemborosan uang, tenaga dan alat.

d. Penyebab lemahnya koordinasi karena sesama instansi belum mempunyai visi yang sama, tidak adanya rencana pembangunan jangka panjang yang menyebabkan arah kebijakan tidak strategis, rendahnya kemauan bekerja sama, gaya kepemimpinan yang masih komando, rendahnya ketrampilan, integritas dan kepercayaan diri.

e. Pemda harus meningkatkan koordinasi dengan menciptakan kerja sama tim, melalui :

1) Pelatihan PNS untuk menumbuhkan komitmen, integritas, kejujuran, rasa hormat dan percaya diri, peduli terhadap pemda, berkemauan dan bertanggung jawab, matang secara emosi, dan memiliki kompetensi;

2) Mengembangkan visi dan misi pemda yang menjadi acuan kerja;

3) Membuat sistem kerja yang baik, adanya kejelasan tugas pokok, fungsi dan akuntabilitas pekerjaan;

4) Membangun suasana dialogis antarpimpinan dan staf pemda.

Terkait dengan implementasi otonomi daerah, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk keberhasilan otonomi daerah, yaitu:

a. Meningkatkan kualitas SDM, yang dapat dilakukan melalui:

1) Seleksi PNS harus jelas, ketat dan baik sesuai spesifikasi lowongan kerja;

2) Peningkatan kompetensi, ketrampilan, dan sikap melalui Diklat sesuai kebutuhan serta evaluasi efektivitas program Diklat;

3) Penempatan PNS berdasarkan kompetensi, minat, bakat serta kebutuhan pemerintah daerah;

4) Penegembangan SDM yang kreatif, inovatif, fleksibel, profesional dan sinergis;

b. Menindaklanjuti ketentuan undang-undang tentang otonomi daerah dengan peraturan daerah yang terkait dengan kelembagaan, kewenangan, tanggung jawab, pembiayaan, SDM, dan sarana penunjang terhadap penugasan wewenang yang dilimpahkan pemerintah pusat kepada daerah.

c. Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan hankam.

d. Mengembangkan sistem manajemen pemerintahan yang efektif, obyektif, rasional dan modern.

(12)

Referensi

Dokumen terkait

Wayang kulit purwa merupakan representasi dari kenyataan kehidupan masyarakat Jawa tentang hubungan manusia dengan manusia yang lain, manusia dengan Alam, dan manusia dengan

Menyikapi fenomena umum yang ada pada Institusi Inspektorat Jendral Kementrian Pendidikan dan khususnya pada tingkat Inspeksi Pendidikan ( Inspeção Educação ) yang

Layanan bersama beberapa instansi vertikal unit organisasi Kementerian Keuangan di daerah sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud dalam Diktum KEDUA dilaksanakan

Perkusi dilakukan pada sudut costovertebra dengan cara meletakkan telapak tangan yang tidak dominan di atas sudut kostovertebra, kemudian tangan yang dominan menggunakan sisi

Menerapkan metode Framework Of Dynamic pada Customer Relationship Management untuk mengembangkan proses penjualan pada toko Outdoor Adventure Key (OAK).. Memudahkan

Sesuai dengan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah peneliti adalah “Bagaimana analisis pemahaman prosedural dan konseptual di tinjau

Penelitian ini akan melihat respon yang diberikan oleh ekspor karet alam Indonesia terhadap guncangan yang terjadi pada variabel volume ekspor karet alam itu

Berdasarkan temuan data di lapangan, reaksi atau respon lingkungan sosial dan keluarga terhadap kondisi keluarga tanpa anak pada pasangan suami istri yang belum mempunyai anak