PROGRAM KELAS KARYAWAN Semester Genap – Tahun Akademik 2013/2014 Fakultas Ilmu Komunikasi – Marketing Communication & Advertising M E T O D E K U A L I T A T I F Dosen : Dr. Farid Hamid, S.Sos, M.Si
Pesan Dalam Tarian Kecak di Bali
Penelitian Kualitatif
dengan
Pendekatan Etnografi Skripsi
Penulis :
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Komunikasi adalah “transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi”. (Berelson dan Steiner, dalam Mulyana, 2002: 62). Sementara itu, pendapat lain mengemukakan bahwa: Pesan merupakan seperangkat simbol verbal atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai atau gagasan. Pesan mempunyai tiga komponen, yaitu makna, simbol yang digunakan untuk menyampaikan makna, dan bentuk organisasi pesan. Simbol terpenting adalah kata-kata (bahasa), yang dapat mempresentasikan objek (benda), gagasan, dan perasaan, baik ucapan (percakapan, wawancara, diskusi, ceramah dan sebagainya) ataupun tulisan (surat, esai, artikel, novel, puisi, pamflet, dan sebagainya).
Kata-kata memungkinkan kita berbagi pikiran dengan orang lain. Pesan juga dapat dirumuskan secara nonverbal, seperti melalui tindakan atau isyarat anggota tubuh (acungan jempol, anggukan kepala, senyuman, tatapan mata, dan sebagainya), juga melalui musik, lukisan, patung, tarian. (Lasswell, dalam Mulyana, 2002: 63). Kita mempersepsi manusia tidak hanya lewat bahasa verbalnya, bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, dan sebagainya), namun juga melalui perilaku nonverbalnya. Pentingnya pesan nonverbal ini, misalnya dilukiskan frase, “bukan apa yang ia katakan, melainkan bagaimana ia mengatakannya”.
Kita mengirim banyak pesan nonverbal tanpa menyadari bahwa hal tersebut bermakna bagi orang lain. (Samovar dan Porter, dalam Mulyana, 2002: Beberapa subkultur tari dan musik menunjukkan kekhasan perilaku nonverbal penari atau penyanyinya ketika mereka sedang menari atau menyanyi. Bahasa tubuh penari yang menarikan tari Bali sangat khas, sekhas bahasa tubuh penari India ketika menarikan tari India. Bahasa tubuh penyanyi dangdut banyak menggoyangkan pinggul. Sama halnya, dengan pesan yang terkandung dalam tarian Kecak Bali, yakni dilihat dari bahasa tubuhnya, mengisyaratkan bahwa tariannya memiliki karakteristik yang gaib, tari Kecak diambil dari ritual tarian sanghyang. Tari Kecak adalah Tarian Bali yang unik dan populer bagi turis di pulau Dewata Bali .Tari dinyanyikan oleh para penari tari kecak dianggap mirip dengan suara monyet, maka turis mancanegara menyebut tari kecak Bali ini sebagai “Monkey Dance”. Istilah nama kecak sendiri diduga berasal dari suara tarian ini sendiri, yaitu kecak, kecak, cak, cak, cak,cak uhh. Suara yang terdengar aneh tapi unik, harmonis irama bunyi ini diucapkan sepanjang pertunjukan tari kecak Bali, dengan diselingi ucapan dengan aksen tertentu dalam tarian kecak ini, dimana ritme irama harmonis bunyi nyanyian para penari tari kecak ini menimbulkan suasana magis. Pada Tari kecak, penari kecak tidak menggunakan alat musik lain, tapi hanya menggunakan kincringan yang berbunyi pada kaki para penari kecak. Tari Kecak disebut juga sebagai tari "Cak" atau tari api (Fire Dance) merupakan tari pertunjukan masal atau hiburan dan cendrung sebagai sendratari yaitu seni drama dan tari karena seluruhnya menggambarkan seni peran dari "Lakon Pewayangan" seperti Rama Sinta dan tidak secara khusus digunakan dalam ritual agama hindu seperti pemujaan, odalan dan upacara lainnya.
tapi juga bagian bagian cerita yang lain dari Ramayana. Kemudian dari segi pementasan juga mulai mengalami perkembangan tidak hanya ditemui di satu tempat seperti Desa Bona,Gianyar namun juga desa-desa yang lain di Bali mulai mengembangkan tari kecak sehingga di seluruh Bali terdapat puluhan group kecak dimana anggotanya biasanya para anggota banjar. Kegiatan kegiatan seperti festival tari Kecak juga sering dilaksanakan di Bali baik oleh pemerintah atau pun oleh sekolah seni yang ada di Bali. Serta dari jumlah penari terbanyak yang pernah dipentaskan dalam tari kecak tercatat pada tahun 1979 dimana melibatkan 500 orang penari. Pada saat itu dipentaskan kecak dengan mengambil cerita dari Mahabarata. Namun rekor ini dipecahkan oleh Pemerintah Kabupaten Tabanan yang menyelenggarakan kecak kolosal dengan 5000 penari pada tanggal 29 September 2006, di Tanah.
Sebagai suatu pertunjukan tari kecak didukung oleh beberapa factor yang sangat penting, Lebih lebih dalam pertunjukan kecak ini menyajikan tarian sebagai pengantar cerita, tentu musik sangat vital untuk mengiringi lenggak lenggok penari. Namun dalam dalam Tari Kecak musik dihasilkan dari perpaduan suara angota cak yang berjumlah sekitar 50 – 70 orang semuanya akan membuat musik secara akapela, seorang akan bertindak sebagai pemimpin yang memberika nada awal seorang lagi bertindak sebagai penekan yang bertugas memberikan tekanan nada tinggi atau rendah seorang bertindak sebagai penembang solo, dan sorang lagi akan bertindak sebagai ki dalang yang mengantarkan alur cerita. Penari dalam tari kecak dalam gerakannya tidak mestinya mengikuti pakem pakem tari yang diiringi oleh gamelan. Jadi dalam tari kecak ini gerak tubuh penari lebih santai karena yang diutamakan adalah jalan cerita dan perpaduan suara. Iring-iringan lagu atau musik yang mengiringi tari Kecak selama berlangsung diambil dari ritual tarian Sanghyang, yang tidak menggunakan alat musik. Akan tetapi hanya menggunakan kincringan yang dikenakan pada kaki penari yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana.
sesuai dengan zamannya dan sesuai dengan orang yang memaknainya. Pemaknaan itu juga akan sangat tergantung kepada tujuan orang yang memberi makna itu. Demikian halnya dengan Tarian Kecak. Maknanya berubah dari dahulu sebagai kepercayaan gaib dan sekarang berubah menjadi seni dan panggung hiburan, namun perubahan itu hanyalah menyangkut paham sesuai dengan alam pikirannya masing-masing, sedangkan intinya sama.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut: Bahwa pesan yang dikomunikasikan melalui tarian Kecak Bali, ditujukan kepada manusia agar dapat bertingkah laku setia, tidak tamak/serakah dan takwa kepada Tuhan. Pesan tersebut bersifat nonverbal dan hanya dapat ditangkap dan dimaknai melalui gerakan tari dan musiknya.
1.3. Identifikasi Masalah
Setelah melakukan penelitian awal, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah yang akan dijadikan dasar untuk mengetahui lebih jauh mengenai pesan dalam tarian Kecak Bali sebagai berikut:
1. Bagaimana tarian Kecak dimaknai sebagai suatu pesan yang diungkapkan melalui gerak dan musik dalam konteks kehidupan masyarakat Bali?
2. Bagaimana pesan moral itu disampaikan melalui tarian Kecak?
1.4. Alasan Pemilihan Masalah
Masalah yang dipilih dalam penelitian ini, karena ketertarikan penulis untuk mengupas lebih jauh mengenai pesan dalam tarian Kecak. Selain itu, keunikan pesan dalam tarian Kecak merupakan daya tarik bagi penulis untuk menelusuri lebih jauh lagi. Pesan dalam tarian Kecak, ialah nonverbal, yakni menginformasikan kepada manusia agar bertingkah laku setia, tidak tamak/serakah dan takwa kepada Tuhan. Dengan kata lain, tarian Kecak merupakan tokoh dalam cerita Rama yang memohon kepada Dewata, yang diperankan oleh senimannya, kemudian memberikan pesan moral di dalamnya.
1.5. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
1. Makna pesan yang diungkapkan melalui gerak dan musik dalam konteks kehidupan masyarakat Bali.
1.6. Pembatasan Masalah dan Pengertian Istilah
Agar permasalahan yang diteliti tidak terlalu luas, maka penulis membatasi masalah sesuai judul yang diketengahkan, yakni permasalahan berkisar pada pesan dalam tarian Kecak Bali. Pesan tersebut bersifat nonverbal, yang divisualisasikan dalam bentuk tariannya dan mengandung nilai-nilai moral bagi manusia untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Tarian Kecak menginformasikan kepada manusia agar dapat berlaku sabar, bertingkah laku setia, tidak tamak/serakah dan takwa kepada Tuhan. Pengertian istilah akan dipaparkan sesuai judul yang diteliti penulis. Berikut adalah pengertian istilah:
Pesan : Perintah, nasihat, permintaan, amanat yang harus dilakukan atau disampaikan
kepada orang lain.
Tari : Gerakan badan (tangan dan sebagainya) yang berirama dan biasanya diiringi bunyi-bunyian (musik, gamelan).
Kecak : Merupakan tari pertunjukan masal atau hiburan dan cendrung sebagai
sendratari yaitu seni drama dan tari karena seluruhnya menggambarkan seni peran dari "Lakon Pewayangan" seperti Rama Sita dan tidak secara khusus digunakan dalam ritual agama hindu seperti pemujaan, odalan dan upacara lainnya.
1.7. Kerangka Pikir
Sebagai pegangan dasar untuk mengetahui pesan yang disampaikan dalam tarian Kecak, dan mengetahui hubungan teks dan konteksnya, perlu disampaikan beberapa pandangan para ahli mengenai komunikasi, semiotika, serta Kecak itu sendiri. Hal ini penting mengingat pesan itu sendiri, khususnya dalam Kecak, pada dasarnya adalah sesuatu yang dikomunikasikan lewat tanda-tanda dan simbol-simbol.
saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki. (Scrhamm, 2003: 41-42). Adapun fungsi komunikasi menurut Lasswell adalah sebagai berikut:
a. The surveillance of the environment (pengamatan lingkungan)
b. The correlation of the parts of society in responding to the environment (korelasi kelompok-kelompok dalam masyarakat ketika menanggapi lingkungan)
c. The transmission of the social heritage from one generations to the next (transmisi warisan sosial dari generasi yang satu ke generasi yang lain) (2003:253254).
Sementara itu, komunikasi terdiri dari verbal dan nonverbal, seperti yang dijelaskan sebagai berikut: Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui simbol-simbol verbal. Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak sungguh-sungguh bersifat nonverbal. Ray L. Birdwhistell mengemukakan 65 % dari komunikasi tatap muka adalah nonverbal, sementara menurut Albert Mehrabian, 93 % dari semua makna sosial dalam komunikasi tatap muka diperoleh dari isyarat-isyarat noverbal.(Knapp, 2002: 312).
“petunjuk” warga budaya tertentu menjalani hidup, media sekaligus pesan komunikasi dan representasi realitas sosial.
Pesan komunikasi dinyatakan dengan tanda-tanda. Tanda-tanda tersebut terdapat dalam semiotika, yakni ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia. Semiotika, atau dalam istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). “Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal objek objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda”. (Barthes, 1988:179: Kurniawan, 2001:53).
Salah satu kebutuhan pokok manusia adalah “kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Manusia memang satu-satunya hewan yang menggunakan lambang, dan itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya”. (Langer, 2002: 83-84). “Keunggulan manusia atas makhluk lainnya adalah keistemewaan mereka sebagai animal symbolicum ”. (Cassier, 2002:84). Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku nonverbal, dan objek maknanya disepakati bersama, misalnya memasang bendera di halaman rumah untuk menyatakan penghormatan dan kecintaan kepada negara. Lebih lanjut lagi dijelaskan mengenai simbol sebagai berikut: Bahwa simbol tidak mewakili objeknya, tetapi wahana bagi konsep tentang objek. Dalam bicara mengenai sesuatu, kita bicara tentang konsep mengenai sesuatu itu, dan bukan sesuatu itu sendiri; dan semuanya ini tentang konsep, bukan sesuatu itu, simbol-simbol harus diartikan. Bilamana sebuah simbol diungkapkan, maka muncullah makna. Lebih jauh lagi Langer membedakan antara simbol diskursif dan presentatif.
misalnya dalam ritus dan mitos, namun lebih bersifat besar dan umum. Pelaksanaan upacara ataupun kesenian merupakan suatu simbol: Simbol yang terdapat pada hal yang bersifat relegius merupakan symbol konstitutif, di mana berbagai kelompok masyarakat secara bersama melak- saksanakan kegiatan yang bersifat relegius. Simbol konstitutif bentuk kongkritnya adalah berupa kepercayaan dan dasar inti prilaku keagamaan, atau agama dilihat sebagai sistem simbol dapat menghubungkan manusia dengan beberapa pengalaman yang bersifat transendental, merepresentasikan hakikat hal yang bersifat suci atau kudus berisi kebaikan, kebenaran dan kekuatan. (Hadi, 1999:54).
Sedangkan pendapat lainnya memandang, bahwa simbol bukanlah tanda semata. Tanda dan simbol adalah dua hal yang pengertiannya dipisahkan. Simbol bila diartikan secara tepat, tidak dapat dijabarkan menjadi tanda semata-mata. Tanda dan simbol masing-masing terletak pada dua bidang pembahasan yang berlainan: tanda adalah bagian dari dunia fisik; symbol adalah bagian dari dunia-makna manusiawi. Tanda adalah “operator”, simbol adalah “designator”. Tanda, bahkan pun bila dipahami dan dipergunakan seperti itu, bagaimanapun merupakan sesuatu yang fisik dan substansial; simbol hanya memiliki nilai fungsional. (Cassier, 1987:48).
Sebagai simbol, kegiatan upacara mempunyai hubungan dua arah, yakni hubungan yang bersifat horizontal dan vertikal, yang dinyatakan seperti di bawah ini:
Perbuatan manusia selalu berdimensi dua (dwimatra). Satu dimensi khusus dari perbuatan konkret satu dimensi yang memprabayangkan latar belakang kekal. Dengan itu, setiap perbuatan khusus bersifat simbolis; melambangkan kenyataan yang mengatasinya. Nilai immanen mengarah ke nilai transenden. Tanda lambang bukanlah sesuatu yang timbul di luar perbuatan manusia. (Subagya, 1981:115).
‘Magi’ yang melekat pada tari adalah pembangkitannya akan vitalitas pada penari dan penonton keduanya. Dilahirkan dari kesuburan serta dilengkapi oleh keterampilan, tari dari masa yang teringatkan telah memperkokoh kehidupan perseorangan serta masyarakat, terutama aspek-aspek religiusnya. Di dunia yang belum beradab, tari adalah sebuah jampi-jampi pembebasan seperti nyanyian dan doa-doa. Selagi hidup ditegaskan kembali dengan kekuatan tertentu diambang kematian, dan karena menghidupkan terus kehidupan berarti kesuburan tak dapat dipisahkan dari ritus-ritus kematian kuna, seperti halnya kebangkitan kembali dari kematian dalam kepercayaan Kristiani. (Holt, 2000:124). Beberapa pendapat tentang konteks pertunjukan tarian Kecak dalam kehidupan masyarakat, baik pada masa lampau maupun pada masa kini, dikemukakan oleh beberapa tokoh pemerhati tarian Kecak, seperti di bawah ini:
Bahwa pertunjukan tarian Kecak berdasarkan m penampilannya menurut tradisi ada empat fungsi, yaitu :
1. Tari sebagai upacara : fungsi tari sebagai sarana upacara merupakan bagian dari tradisi yang ada dalam suatu kehidupan masyarakat yang sifatnya turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya sampai masa kini yang berfungsi sebagai ritual. 2. Tari sebagai sarana hiburan : salah satu bentuk penciptaan tari ditujukan hanya untuk
di tonton. Tari ini memiliki tujuan hiburan pribadi lebih mementingkan kenikmatan dalam menarikan
3. Tari sebagai sarana pertunjukkan : tari pertunjukkan adalah bentuk momunikasi sehingga ada penyampai pesan dan penerima pesan. Tari ini lebih mementingkan bentuk estetika dari pada tujuannya. Tarian ini lebih digarap sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat
4. Tari sebagai sarana pendidikan : tari yang digunakan untuk sarana pendidikan dengan mengajarkan di sekolah – sekolah formal.
1.8. Metode dan Teknik Penelitian
1.8.1. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah: Penelitian yang bersifat empiris (dapat diamati dengan pancaindera sesuai dengan kenyataan), hanya saja pengamatan atas data bukanlah berdasarkan ukuran-ukuran matematis yang terlebih dulu ditetapkan peneliti dan harus dapat disepakati (direplikasi) oleh pengamatan lain, melainkan berdasarkan ungkapan subjek penelitian, sebagaimana yang dikehendaki dan dimaknai oleh subjek penelitian. Pendekatan kualitatif menggunakan konsep kealamiahan (kecermatan, kelengkapan, atau orisinalitas) data dan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Pendekatan kualitatif terutama layak untuk menelaah sikap atau perilaku dalam lingkungan yang agak artifisial, seperti dalam survei atau eksperimen. Peneliti kualitatif lebih menekankan proses dan makna ketimbang kuantitas, frekuensi atau intensitas (yang secara matematis dapat diukur), meskipun peneliti tidak mengharamkan statistik deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi atau presentase untuk melengkapi analisis datanya. (Mulyana, 2007:11).
1.8.2. Metode Etnografi
Etnografi merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan termasuk di dalamnya kesenian. Menurut Spradley metode ini ialah sebagai berikut:
Tujuan utama aktifitas ini adalah untuk memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli, sebagaimana dikemukakan oleh Bronislaw Malinowski, bahwa tujuan etnografi adalah “memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya”. Oleh karena itu, penelitian etnografi melibatkan aktifitas belajar mengenai dunia orang yang telah belajar, melihat, mendengar, berbicara, berpikir, dan bertindak dengan cara yang berbeda. Jadi, etnografi tidak hanya mempelajari masyarakat, tetapi lebih dari itu. Etnografi belajar dari masyarakat. (Spradley, 2007: 4). Sementara itu, Spradley mengemukakan langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian etnografi meliputi hal-hal sebagai berikut:
Langkah I, yakni menetapkan informan, tujuannya:
1. Untuk mengidentifikasi beberapa karakteristik dan informan yang baik.
Langkah II, yakni mewawancarai informan, tujuannya:
1. Untuk mengidentifikasi unsur-unsur dasar dalam wawancara etnografis.
2. Untuk memformulasikan dan menggunakan beberapa macam penjelasan etnografis. 3. Untuk melakukan wawancara praktis.
Langkah III, yakni membuat catatan etnografis, tujuannya: 1. Untuk memahami sifat dasar catatan etnografis. 2. Untuk menyusun buku catatan penelitian lapangan.
3. Untuk melakukan kontak dengan seorang informan dan melakukan wawancara pertama.
Langkah IV, yakni mengajukan pertanyaan deskriptif, tujuannya: 1. Untuk melaksanakan etnografis pertama.
2. Untuk memahami proses perkembangan hubungan dengan informan.
3. Untuk mengumpulkan sampel dari percakapan informan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan deskriptif.
Langkah V, yakni melakukan analisis wawancara etnografis, tujuannya: 1. Untuk memahami sifat dasar analisis etnografis.
2. Untuk mempelajari bagaimana tercita dengan simbol-simbol budaya.
3. Untuk memulai suatu analisis domain dengan melakukan pencarian suatu domain pendahuluan.
Langkah VI, yakni membuat analisis domain, tujuannya:
1. Untuk memahami sifat dasar hubungan semantik serta peran hubungan itu dalam pembuatan suatu analisis domain.
2. Untuk mengidentifikasi langkah-langkah dalam menjalankan analisis domain.
3. Untuk melakukan analisis domain sistematis terhadap semua data yang terkumpul sekarang.
Langkah VII, yakni mengajukan pertanyaan struktural, tujuannya: 1. Untuk mengidentifikasi berbagai jenis pertanyaan struktural.
2. Untuk mempelajari menggunakan pertanyaan struktural dalam etnografi.
3. Untuk menguji domain-domain yang telah dihipotesiskan dan menemukan istilah-istilah tercakup yang lain untuk domain-domain itu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan struktural.
Langkah VIII, yakni membuat analisis taksonomik, tujuannya:
1. Untuk memilih suatu fokus yang bersifat sementara untuk membuat analisis mendalam.
2. Untuk memahami berbagai taksonomi rakyat dan bagaimana taksonomi itu mengorganisir domain.
3. Untuk mempelajari bagaimana membuat analisis taksonomik.
4. Untuk membangun suatu taksonomi rakyat untuk satu domain atau lebih dengan mengikuti langkah-langkah dalam mengerjakan analisis taksonomik.
Langkah IX, yakni mengajukan pertanyaan kontras, tujuannya:
1. Untuk memahami prinsip-prinsip penemuan utama dalam studi makna budaya.
2. Untuk mempelajari cara-cara untuk menemukan berbagai kontras atau perbedaan diantara berbagai simbol budaya.
3. Untuk memformulasikan dan menggunakan berbagai pertanyaan kontras.
Langkah X, yakni membuat analisis komponen, tujuannya:
1. Untuk memahami peran analisis komponen dalam studi sistem makna budaya. 2. Untuk mengidentifikasi langkah-langkah dalam membuat analisis komponen.
3. Untuk melakukan analisis komponen yang sistematik pada satu rangkaian kontras atau lebih.
4. Untuk menggunakan pertanyaan kontras untuk membuktikan dan melengkapi analisis komponen.
Langkah XI, yakni menemukan tema-tema budaya, tujuannya:
1. Untuk memahami sifat dasar tema-tema dalam sistem makna budaya. 2. Untuk mengidentifikasi beberapa strategi membuat suatu analisis tema
Langkah XII, yakni menulis suatu etnografi, tujuannya:
1. Untuk memahami sifat dasar penulisan etnografis sebagai bagian dari proses penerjemahan.
2. Untuk mengidentifikasi tahap-tahap yang berbeda dalam penulisan etnografi. 3. Untuk mengidentifikasi langkah-langkah dalam melaksanakan suatu etnografi. 4. Untuk menulis suatu etnografi. (Spradley, 2007:65-70).
1.8.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah:
1. Langkah pertama yang dilakukan, dengan mengumpulkan berbagai sumber tertulis berupa buku, jurnal ilmiah, dokumen pribadi, dokumen resmi, makalah dan sebagainya. Langkah ini penting, mengingat banyaknya tulisan- tulisan yang mengandung sudut pandang berbeda. 2. Langkah kedua, yakni pengamatan atau observasi. Artinya, penulis melakukan pengamatan secara langsung terhadap pertunjukan tarian Kecak. Selain itu, pengamatan juga dilakukan melalui rekaman audio visual.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Tari Kecak menggambarkan bahwa tari ini dijadikan sebagai sarana untuk melatih kejiwaan seseorang, sehingga menimbulkan kebersihan dalam bathin maupun fisik. Hal tersebut, mengingatkan kita kepada orang-orang Budha yang selalu bertapa atau bermeditasi di tempat-tempat yang jauh dari keramaian. Misalnya, di gua-gua, orang Budha melakukan hal tersebut sebagai sifat bawaan atau budaya yang diciptakan secara turun temurun, dan aktifitas itu hingga kini masih tetap ada. Bermeditasi seperti yang orang Budha lakukan, pada dasarnya melatih kesabaran, pemusatan pikiran atau konsentrasi terhadap suatu hal, berperang melawan hawa nafsu, dan sebagainya. Hal tersebut, dimaknai sama oleh tari topeng Panji yang melambangkan kehalusan dan kelemah lembutan geraknya.
3. Pada penelitian terdahulu dengan judul skripsi : “(Makna Simbol-Simbol Tarian Topeng Tumenggung Cirebon)”. Dengan menggunakan pendekatan etnografi yang ditulis oleh Oon Sujono (Program Studi Hubungan Masyarakat, 2010. Fikom Unpad) menganilisis tentang Symbol dalam karakter Tari Topeng Tumenggung Cirebon yang menggambarkan seorang ponggawa (prajurit dengan kedudukan tinggi) kerajaan yang siap siaga untuk melaksanakan tugas, Symbol dalam koreografi Tari Topeng Tumenggung Cirebon ini yaitu menggambarkan seorang manusia yang memiliki kedewasaan yang diperlihatkan dengan gerakan-gerakan tari topeng tumenggung daan Symbol kedok Tumenggung Cirebon menggambarkan seorang sikap kedewasaan manusia yang beribawa dan bertanggung jawab.
Pada penelitian penulis mengenai “Makna Simbol-simbol Tarian Topeng Tumenggung Cirebon: yang menggunakan pendekatan etnografi menjelaskan mengenai tanda-tanda fisik yang mengacu pada objek penelitian yang ada dalam Tarian Topeng Tumenggung Cirebon seperti karakteristik, busana gerakan tari, serta atribut lainnya yang secara rinci.
dari kegiatan olahraga, selain dari meditasi ala Budha. Yoga pun menghilangkan gerakan atau aktifitasnya yang bersifat agresif.
Tjahya Murni
Penelitian. n. namun kurang dapat dipahami khususnya bagi
Menjelaskan tentang pesan, kita tidak dapat lepas dari komunikasi. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam penjelasan di atas, pesan merupakan bagian dari komunikasi, yang berupa kata-kata, nasihat dan sebagainya. Oleh karena itu, sebelum komunikasi terjadi dan didalamnya terdapat pesan verbal atau nonverbal yang ingin disampaikan kepada pihak lain, maka pernyataan lain perlulah disampaikan, karena terdapat unsur-unsur interaksi sesama manusia: Cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
who says what in which channel to whom with what effect atau siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan pengaruh bagaimana?.
Berdasarkan definisi Lasswell ini dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain, yaitu:
pertama, sumber (source), sering disebut juga pengirim (sender), penyandi (encoder),komunikator (communicator), pembicara (speaker) atau originator
Sumber adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi. Sumber boleh jadi seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau bahkan suatu negara. Kebutuhannya bervariasi, mulai dari sekadar mengucapkan “selamat pagi” untuk memelihara hubungan yang sudah dibangun, menyampaikan informasi, menghibur, hingga kebutuhan untuk mengubah ideologi, keyakinan agama dan perilaku pihak lain.
Untuk menyampaikan apa yang ada dalam hatinya (perasaan) atau pikiran, sumber harus mengubah perasaan atau pikiran tersebut ke dalam seperangkat simbol verbal dan/atau nonverbal yang idealnya dipahami oleh penerima pesan. Proses inilah yang disebut penyandian (encoding).
Pengalaman masa lalu, rujukan nilai, pengetahuan, persepsi, pola pikir, dan perasaan sumber mempengaruhinya dalam merumuskan pesan tersebut. Setiap orang dapat saja merasa bahwa ia mencintai seseorang, namun komunikasi tidak terjadi hingga orang yang Anda cintai itu menafsirkan rasa cinta berdasarkan perilaku verbal dan/atau nonverbal.
Kedua, pesan, yaitu apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima.
melalui tindakan atau isyarat anggota tubuh (acungan jempol, anggukan kepala, senyuman, tatapan mata, dan sebagainya), juga melalui musik, lukisan, patung, tarian, dan sebagainya. Ketiga, saluran atau media, yakni alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima...
Keempat , penerima (receiver), sering juga disebut sasaran tujuan (destination), komunikate (communicate), penyandi balik (decoder) atau khalayak (audience), pendengar (listener), penafsir (interpreter), yakni orang yang menerima pesan dari sumber. Berdasarkan pengalaman masa lalu, rujukan nilai, pengetahuan, persepsi, pola pikir dan perasaan, penerima pesan ini menerjemahkan atau menafsirkan seperangkat symbol verbal dan nonverbal yang ia terima menjadi gagasan yang dapat dipahami. Proses ini disebut penyandian balik ( decoding).
Kelima , efek, yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut, misalnya penambahan pengetahuan (dari tidak tahu menjadi paham), terhibur, perubahan sikap (dari tidak setuju menjadi setuju), perubahan keyakinan, dan sebagainya. (Lasswell, dalam Mulyana, 2002:62-65).
Jika Laswell menjelaskan lima unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain, di antaranya, sumber, pesan, saluran atau media, penerima, dan efek, maka pernyataan lain mengemukakan suatu pesan yang efektif agar dapat ditanggapi oleh komunikannya atau dengan istilah the condition of success in communication , yang mengatakan bahwa:
Pertama, pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan.
Kedua,pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama mengerti.
Ketiga, pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut.
Keempat, pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi kelompok, tentunya komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki. (Scrhamm, dalam Effendy, 2003:41-42).
2.3.2. Pesan Sebagai Bentuk Semiotika
melakukan komunikasi dengan sesamanya. Banyak hal yang bisa dikomunikasikan di dunia ini. Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda”. (Sobur, 2003:15). Sementara itu, menurut pendapat lainnya, semiotika adalah:
Kata semiotika berasal dari kata Yunani
Semeion , yang berarti tanda. Maka, semiotika berarti ilmu tanda. Semiotika adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda. Ahli Stoa (Zeno) dan ahli-ahli skolastik abad pertengahan (Augustinus, William van Ockham, Duns Scotus) telah menekuni masalah-masalah yang berhubungan dengan penggunaan tanda. (Zoest, 1993:1).
Semiotika berurusan dengan tanda seperti dikatakan bahwa semiotika adalah “teori tentang tanda dan penandaan”. (Lechte, 2001:191). Lebih jelasnya lagi, “semiotika adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua bentuk komunikasi yang terjadi dengan sarana signs ‘tanda-tanda’ dan berdasarkan pada sign system (code) ‘sistem ‘tanda-tanda’.” (Segers, 2004:4). Tanda sebagai “suatu keterhubungan antara wahana ekspresi (expression plan) dan isi (content plan)”. (Hjelmslev, dalam Christomy, 2001:7). Pendapat lain menyebutnya sebagai “disicipline is simply the analysis of signs or the study of the functioning of sign systems” (ilmu analisis tanda atau studi tentang bagaimana sistem penandaan berfungsi).”
(Cobley dan Jansz, 1999:4). Tanda selalu mempunyai tiga wajah, yaitu, “tanda itu sendiri, aspek material (entah berupa suara, huruf, bentuk, gambar, gerak) dari tanda yang berfungsi menandakan atau yang dihasilkan oleh aspek material ( signifier), dan aspek mental atau konseptual yang ditunjuk oleh aspek material (signified)”.
(Saussure, dalam Sunardi, 2004:41). Tanda yang ditimbulkan oleh manusia dapat dibedakan atas yang bersifat verbal dan nonverbal
itu dilakukan karena dinamika budaya dapat diamati. Dalam sistem tersebut, kita melihat kemungkinan anggota-anggota masyarakat untuk memilih, menggabungkan, dan mengungkapkan tanda-tanda yang sudah tersedia. Dalam dinamika budaya terjadi tarik-menarik atau hubungan dialektis antara sistem tanda-tanda yang ada (bahasa) dan kebebasan orang untuk memakainya sesuai dengan kebutuhan pribadi atau kelompok (wicara atau wacana).
2.4. Komunikasi Verbal
“Pesan verbal adalah semua jenis lambang yang menggunakan satu kata atau lebih. Hampir semua rancangan wicara yang kita sadari termasuk ke dalam kategori pesan verbal disengaja, yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan”. (Mulyana, 2002:237).
Lebih lanjut lagi, ia menjelaskan bahwa bahasa verbal adalah: Sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang merepresentasikan berbagai aspek realitas individual kita. Konsekuensinya, kata-kata adalah abstraksi realitas kita yang tidak mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang diwakili kata-kata itu. (Mulyana, 2002:238).
Kita sering tidak menyadari pentingnya bahasa, karena sepanjang hidup menggunakannya. Kita baru menyadari bahasa itu penting ketika menemukan jalan buntu dalam menggunakannya. Misalnya, ketika berupaya berkomunikasi dengan orang yang sama sekali tidak memahami bahasa kita yang membuat frustasi, ketika sulit menerjemahkan suatu kata, frase atau kalimat dari suatu bahasa ke bahasa lain. Ketika kita harus menulis lamaran pekerjaan atau diwawancarai dalam bahasa Inggris untuk memperoleh pekerjaan yang baik. Fungsi bahasa yang mendasar adalah untuk memberikan nama atau menjuluki orang, objek dan peristiwa. Setiap orang mempunyai nama untuk identifikasi sosial. Orang juga dapat memberikan nama apa saja, objek-objek yang berlainan, termasuk perasaan tertentu yang mereka alami. Penamaan adalah dimensi pertama dan basis bahasa, dan pada awalnya itu dilakukan manusia sesuka mereka, yang selalu menjadi konvensi. Menurut ahli komunikasi lainnya, bahasa memiliki tiga fungsi:
Penamaan (naming atau labeling ), interaksi dan transmisi informasi.
Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain. Anda juga menerima informasi setiap hari, sejak bangun tidur hingga tidur kembali, dari orang lain, baik secara langsung maupun tidak (melalui media massa misalnya).
Fungsi bahasa inilah yang disebut transmisi. Keistimewaan bahasa sebagai sarana transmisi informasi yang lintas waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita. Tanpa bahasa, tidak mungkin bertukar informasi dan menghadirkan semua objek untuk kita rujuk dalam komunikasi. (Barker, dalam Mulyana, 2002:243).
Agar komunikasi kita berhasil, setidaknya bahasa harus memiliki tiga fungsi, yaitu:
Untuk mengenal dunia di sekitar kita, berhubungan dengan orang lain, dan untuk menciptakan koherensi dalam kehidupan. Fungsi pertama, yakni mengenal dunia di sekitar kita. Melalui bahasa kita mempelajari apa saja yang menarik minat, mulai dari sejarah suatu bangsa yang hidup pada masa lalu dan tidak pernah diketahui, seperti bangsa Mesir Kuno atau Yunani. Kita dapat berbagi pengalaman, bukan hanya peristiwa masa lalu yang kita alami sendiri, tetapi juga pengetahuan tentang masa lalu yang diperoleh melalui sumber kedua, seperti media cetak atau elektronik. Kita juga menggunakan bahasa untuk memperoleh dukungan atau persetujuan dari orang lain atas pengalaman atau pendapat. Melalui bahasa pula anda memperkirakan apa yang akan dikatakan atau dilakukan seorang kawan, seperti dalam kalimat “kemarin kawan saya itu begitu marah kepada saya.
Sepertinya ia tidak ingin lagi berhubungan dengan saya”. Meskipun gambaran kita mengenai masa depan tidak selalu akurat, setidaknya bahasa memungkinkan kita memikirkan, membicarakan, dan mengantisipasi masa depan, misalnya apa yang akan terjadi terhadap manusia dan alam semesta berdasarkan dugaan yang dikemukakan para ahli ilmu pengetahuan serta orang bijak lainnya, juga atas wahyu Tuhan atau sabda nabi.
Inggris berbicara bahasa Inggris, mereka belum tentu mencapai kesepahaman, karena beberapa perbedaan yang ada dalam kedua bahasa tersebut.
Sedangkan fungsi ketiga memungkinkan kita untuk hidup lebih teratur, saling memahami mengenai diri, kepercayaan-kepercayaan, dan tujuan- tujuan. Kita tidak mungkin menjelaskan semua itu dengan menyusun kata- kata secara acak, melainkan berdasarkan aturan-aturan tertentu yang telah disepakati bersama. Akan tetapi, kita sebenarnya tidak selamanya dapat memenuhi ketiga fungsi bahasa tersebut, karena meskipun bahasa merupakan sarana komunikasi dengan manusia lain, sarana ini secara inheren mengandung kendala dan keterbatasannya. (Book, dalam Mulyana, 2002:243).
Dalam bahasa atau komunikasi verbal, tentunya apa yang seseorang katakan harus dipahami maknanya terlebih dahulu, sehingga ia mengetahui maksud yang akan disampaikannya, kemudian mengirimkannya kepada orang yang ditujukan.
Transfer atau kiriman informasi itu pun harus tepat kepada orang yang dituju. Dengan kata lain, pihak komunikan yang dituju memiliki kesamaan makna dalam menafsirkan pesan yang disampaikan oleh komunikator, sehingga tidak terjadi miscommunication dalam komunikasi verbal. Jangan sampai pesan yang kita sampaikan tidak dimengerti oleh orang lain karena perbedaan budaya, misalnya. Kesamaan makna pesan, dapat diartikan sebagai suatu interaksi antara komunikator dan komunikan yang memiliki bidang pengalaman yang sama, seperti, berlatar belakang budaya dan bahasa yang sama. Artinya, perbedaan budaya atau bahasa antara komunikator dengan komunikan dapat mengaburkan arti pesan yang dimaksud. Atas pernyataan itu, kita simak dalam penjelasan di bawah ini:
Pertama-tama yang akan dilakukan manakala diberi kesempatan mengurus negara adalah membina bahasa. Sebab, apabila bahasa tidak tepat, apa yang dikatakan bukan yang dimaksudkan. Jika yang dikatakan bukan yang dimaksudkan, maka yang mestinya dikerjakan, tidak dilakukan. Jikalau yang harus dilakukan terus menerus tidak dilaksanakan, seni dan moral menjadi mundur. Bila seni dan moral mundur, keadilan menjadi kabur ... akibatnya rakyat menjadi bingung, kehilangan pegangan. (Kong Hu Chu, dalam Effendy, 2002:33-34).
komunikannya, maka dikhawatirkan ditafsirkan berbeda dan berbuntut masalah baru, bahkan memungkinkan pertengkaran atau peperangan, seperti pada contoh kasus yang dijelaskan berikut ini:
Masalah bagaimana seharusnya ketepatan bahasa untuk mengungkapkan suatu maksud tertentu, dijumpai ketika berkecamuknya Perang Dunia II yang lalu. Ketika Jepang diminta oleh sekutu (Amerika Serikat) agar menyerah menjawab dengan menggunakan perkataan “mokusatsu”. Maksudnya adalah “tidak memberikan komentar sampai keputusan
diambil ( with holding comment until a decision has been made), tetapi kata “mokusatsu” oleh Kantor Berita Domei diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “ignore” yang berarti “tidak perduli”. Miskomunikasi inilah antara lain yang menyebabkan Hirosima di bom atom dalam perang dunia tersebut. (Effendy, 2003:34)
2.5. Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah “lambang yang bukan bahasa, misalnya isyarat dengan anggota tubuh, antara lain kepala, bibir, tangan dan jari”. (Effendy, 2003:35).
Kita mempersepsi manusia tidak hanya lewat bahasa verbalnya, namun juga melalui perilaku nonverbalnya. Pentingnya pesan nonverbal ini misalnya dilukiskan dengan frase, “Bukan apa yang ia katakan, melainkan bagaimana ia mengatakannya”. Lewat perilaku nonverbalnya, yang mendorong kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia sedang bahagia, bingung, atau sedih. Kesan awal kita pada seseorang sering didasarkan perilaku nonverbalnya, yang mendorong untuk mengenal lebih jauh.
Sebagaimana kata-kata, kebanyakan isyarat nonverbal juga tidak universal, melainkan terikat oleh budaya, jadi dipelajari, bukan bawaan. Sedikit saja isyarat nonverbal yang merupakan bawaan. Kita semua lahir dan mengetahui bagaimana tersenyum, namun kebanyakan ahli sepakat bahwa di mana, kapan, dan kepada siapa kita menunjukkan emosi ini dipelajari, dan karenanya dipengaruhi oleh konteks dan budaya. Kita belajar menatap, memberi isyarat, memakai parfum, menyentuh berbagai bagian tubuh orang lain, dan bahkan kapan kita diam. Cara kita bergerak dalam ruang ketika berkomunikasi dengan orang lain didasarkan terutama pada respon fisik dan emosional terhadap rangsangan lingkungan.
Sementara kebanyakan perilaku verbal kita bersifat eksplisit dan diproses secara kognitif, perilaku nonverbal kita bersifat spontan, ambigu, sering berlangsung cepat, dan diluar kesadaran kendali kita.
Bahasa nonverbal adalah “bahasa diam” ( silent language ) dan dimensi tersembunyi ( hidden dimension ) suatu budaya. Disebut diam dan tersembunyi, karena pesan-pesan nonverbal tertanam dalam konteks komunikasi. Bersama isyarat verbal dan isyarat kontekstual, pesan nonverbal membantu kita menafsirkan seluruh makna pengalaman komunikasi. (Hall, dalam Mulyana, 2002:309).
Sebagaimana budaya, subkultur pun sering memiliki bahasa nonverbal yang khas. Dalam suatu budaya boleh jadi terdapat variasi bahasa nonverbal, misalnya bahasa tubuh, bergantung pada jenis kelamin, agama, usia, pekerjaan, pendidikan, kelas sosial, tingkat ekonomi, lokasi geografis, dan sebagainya.
Komunkasi nonverbal pun dijelaskan lebih lanjut, bahwa:
Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa banyak peristiwa dan perilaku nonverbal ini ditafsirkan melalui simbol-simbol verbal. Dalam pengertian ini, peristiwa dan perilaku nonverbal itu tidak sungguh-sungguh bersifat nonverbal. (Knapp, dalam Mulyana, 2002:312).
Adapun fungsi komunikasi nonverbal, seperti yang dikemukakan sebagai berikut:
Pertama, repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya, setelah saya menjelaskan penolakan, kemudian menggelengkan kepala berkali-kali.
Kedua, substitusi, menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya, tanpa sepatah kata pun Anda berkata. Anda dapat menunjukkan persetujuan dengan mengganguk-angguk.
Ketiga, kontradiksi, yaitu menolak pesan verbal atau memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal. Misalnya, Anda memuji prestasi kawan dengan mencibirkan bibir, “Hebat, kau memang hebat,”.
Keempat komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air muka Anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata. Kelima, aksentuasi, yakni menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahinya. Misalnya, Anda mengungkpkan betapa jengkelnya dengan memukul mimbar. (Knapp, dalam Rakhmat, 2003:287).
selalu membawa kebaikan bagi semua orang dengan cara penuh kelembutan dan kasih sayang. Hal tersebut dikemukakan oleh salah satu ahli topeng Cirebon seperti di bawah ini: Karakter dari topeng Panji adalah halus, kedok nya berwarna putih tanpa hiasan, mata sipit, hidung condong ke bawah, mulut tersenyum. Jenis gerakannya pelan, halus, ruang gerak kecil-kecil, napas tertahan. Perkembangan jiwa gambaran bayi yang baru lahir, manusia suci. Akhlak manusia baik, berbudi, halus perasannya, kuat menahan hawa nafsu. (Masunah, et al., 1999:17).
2.6. Topeng Cirebon Dalam Kehidupan Masyarakatnya
Sebelum menjelaskan lebih lanjut mengenai topeng Cirebon dalam kehidupan masyarakatnya, terlebih dahulu akan dikemukakan perihal topeng secara umum. Topeng sangat beragam jenisnya, mulai dari topeng monyet, topeng dari Bali, topeng panji Cirebon, dan sebagainya. Topeng merupakan perwujudan dari kreatiftas manusia yang dibuat untuk tujuan tertentu. Misalnya, topeng dibuat dalam rangka upacara ritual, sarana hiburan, hingga penyebaran suatu paham yang ditujukan kepada masyarakat tertentu. Hal tersebut, dikemukakan oleh ahli topeng sebagai berikut:
Peradaban dunia telah menunjukkan bahwa topeng memiliki perwujudan imajinasi, kreativitas, dan daya ekspresi spiritual manusia yang tak terhingga. Ada topeng yang “polos” seperti topeng Panji dari Cirebon, ada yang memuat berbagai simbol seperti dari Srilangka, ada yang dekoratif seperti dari Kalimantan, dan ada yang “ekspresif” seperti topeng Celuluk dari Bali. (Endo, 2004:1).
Pernyataan di atas, mengenai makna topeng, dapat ditafsirkan berbeda, karena latar belakang budaya dan bahasa. Orang Indonesia pada umumnya, mengartikan kata topeng sebagai penutup muka yang terbuat dari berbagai bahan, misalnya kayu, kertas, fiber, dan sebagainya. Namun, kenyataannya di dalam kehidupan masyarakat Cirebon, kata “topeng” itu berarti penari atau pertunjukan topeng. Penutup muka yang dimaksud oleh kebanyakan orang Indonesia pada umumnya, di Cirebon disebutnya sebagai kedok. Itulah perbedaan bahasa dan latar belakang budaya yang perlu dicermati, apalagi menyangkut kehidupan masyarakat yang beraneka ragam.
Adapun gambaran umum tentang makna topeng adalah:
sebagai alat untuk digigit oleh pemakainya, agar melekat kuat pada mukanya. Keterangan Hazeu selanjutnya, bahwa topeng membawakan lakon dari cerita Panji. Panji adalah peran utama yang tampilnya mengenakan kopiah dari rambut (tekes), yang dipergunakan pada pertunjukan-pertunjukan topeng. (Hazeu, dalam Suryaatmadja, 1985:9).
Sementara gambaran lainnya tentang topeng yang terdapat di Jawa Barat, ialah:
Berupa penampilan yang berselingan antara tari, nyanyi, percakapan dan perkelahian (perang) yang mengarah kepada jalannya cerita sejarah, sedangkan dalang menuturkan cuplikan atau menyanyikan mengenai sejarah yang ditampilkan. Keterangan di atas menunjukkan bahwa topeng di Jawa Barat pada saat itu membawakan lakon. (Seriere, dalam Suryaatmadja, 1985:10).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai pendekatan kualitatif dan perbedaannya dengan kuantitatif. Selain itu, akan dijelaskan pula mengenai pengertian etnografi. Etnografi dalam bab ini digunakan sebagai metode penelitian.
3.1. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah: Penelitian yang bersifat empiris (dapat diamati dengan pancaindera sesuai dengan kenyataan), hanya saja pengamatan atas data bukanlah berdasarkan ukuran-ukuran matematis yang terlebih dulu ditetapkan peneliti dan harus dapat disepakati (direplikasi) oleh pengamatan lain, melainkan berdasarkan ungkapan subjek penelitian, sebagaimana yang dikehendaki dan dimaknai oleh subjek penelitian. Pendekatan kualitatif menggunakan konsep kealamiahan (kecermatan, kelengkapan, atau orisinalitas) data dan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Pendekatan kualitatif terutama layak untuk menelaah sikap atau perilaku dalam lingkungan yang agak artifisial, seperti dalam survei atau eksperimen. Peneliti kualitatif lebih menekankan proses dan makna ketimbang kuantitas, frekuensi atau intensitas (yang secara matematis dapat diukur), meskipun peneliti tidak mengharamkan statistik deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi atau presentase untuk melengkapi analisis datanya. (Mulyana, 2007:11).
Metodologi penelitian kualitatif “sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.” (Bogdan dan Taylor, 1975:5). Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar individu tersebut secara holistik atau utuh. Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan.
3.2. Perbedaan Penelitian Kualitatif dengan Kuantitatif
Perbedaan antara penelitian kualitatif dengan penelitan kuantitatif telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Untuk penelitian kuantitatif digunakan istilah scientific paradigm (paradigma ilmiah, penulis), sedangkan penelitian kualitatif dinamakan naturalistic inquiry atau inkuiri alamiah”. (Guba dan Lincoln, dalam Moleong, 1991:15).
Perbedaan antara penelitian kualitatif dengan kuantitatif juga dipaparkan sebagai berikut: Tahap ketika metode kuantitatif sangat dominan, yaitu sebelum tahun 1940-an hingga akhir tahun 1970-an. Pada saat itu, penelitian pendidikan dan ilmu sosial umumnya didominasi oleh metode kuantitatif. “everything should and can be quantified” menjadi pegangan para peneliti. Mereka yakin bahwa apapun dapat didefinisikan akan dapat dihitung, dan bahwa penelitian yang sahih secara ilmiah adalah yang memiliki tingkat generalitas yang tinggi. (Supriadi, dalam Alwasilah, 2002:18-19).
Pernyataan di atas, bahwa penelitian kuantitatif menjelaskan segala sesuatunya akan dapat dihitung dengan angka-angka. Berbeda dengan penelitian kualitatif, sulit digunakan, jika seorang peneliti ingin mengetahui berapa persen penduduk kota Bandung yang gemar terhadap tari Sunda, misalnya. “Dalam penelitian kuantitatif, data yang dipergunakan sebagai bahan penelitian sangat banyak dan analisisnya berdasarkan angka-angka serta atas hubungan-hubungan sistematik dan statistik di antara angka-angka tersebut”. (Soedarsono, 1997:27).
Penelitian kualitatif dengan kuantitatif, yakni “pada dasarnya, baik teknik kuantitatif maupun teknik kualitatif dapat digunakan bersama-sama. Namun, penekanannya diletakkan pada teknik tertentu. Paradigma ilmiah memberi tekanan pada teknik kuantitatif, sedangkan paradigma alamiah memberi tekanan pada penggunaan teknik kualitatif”. (Moleong, 1991:16).
tampak dari arah mana pun titik masuknya. Setiap langkah inkuiri didasarkan atas sejumlah pengetahuan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Jadi, pencari-tahu- alamiah mengambil sikap tersruktur, terarah, dan tunggal, sedangkan pencari-tahu-alamiah berpendirian terbuka, menjajagi, dan kompleks. (Moleong, 1991:18).
3.3. Metode Etnografi
Penelitian ini menggunakan metode etnografi. Etnografi merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan termasuk di dalamnya kesenian pada masyarakat tertentu. Berikut ini akan dipaparkan lebih lanjut mengenai etnografi:
Tujuan utama aktifitas ini adalah untuk memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk asli, sebagaimana dikemukakan oleh Bronislaw Malinowski, bahwa tujuan etnografi adalah “memahami sudut pandang penduduk asli, hubungannya dengan kehidupan, untuk mendapatkan pandangannya mengenai dunianya”. Oleh karena itu, penelitian etnografi melibatkan aktifitas belajar mengenai dunia orang yang telah belajar, melihat, mendengar, berbicara, berpikir, dan bertindak dengan cara yang berbeda. Jadi, etnografi tidak hanya mempelajari masyarakat, tetapi lebih dari itu. Etnografi belajar dari masyarakat. (Spradley, 2007: 4).
Dari pernyataan Spradley di atas, etnografi merupakan suatu kegiatan yang berhubungan secara langsung dengan masyarakat. Dalam kaitan dengan penelitian ini, peneliti terjun langsung untuk berhubungan dengan masyarakat yang ditelitinya. Bahkan tidak menutup kemungkinan, seorang peneliti menjadi bagian dari masyarakat penduduk asli. Artinya, peneliti bisa saja menginap di salah satu rumah penduduk asli untuk memahami sudut pandang masyarakat tersebut. Peneliti etnografi harus memiliki hubungan manusiawi yang kuat, karena ia akan berhadapan dengan kebudayaan yang tidak dikenal sebelumnya. Dengan kata lain, peneliti etnografi belajar dari kehidupan masyarakat penduduk asli yang mempunyai kebudayaannya sendiri. Peran aktif, itulah yang seharusnya dilakukan oleh seorang peneliti etnografi. Selain itu, membina hubungan emosional yang baik dengan masyarakat penduduk asli, merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam penelitian ini. Semakin dekat hubungan peneliti dengan masyarakat aslinya, maka akan semakin mempermudah dan memperlancar tujuan memahami sudut pandang budaya mereka.
asli) atau mengikuti kebiasaan- kebiasaan mereka. Lebih lanjut dikemukakan bahwa: Inti dari etnografi adalah upaya untuk memperhatikan makna-makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami.
Beberapa makna tersebut terekspr esikan secara langsung dalam bahasa; dan di antara makna yang diterima, banyak yang disampaikan hanya secara tidak langsung melalui kata-kata dan perbuatan. Sekalipun demikian, di dalam setiap masyarakat, orang tetap menggunakan sistem makna yang kompleks ini untuk mengatur tingkah laku mereka, untuk memahami diri mereka sendiri dan orang lan, serta untuk memahami dunia tempat mereka hidup. Sistem makna ini merupakan kebudayaan mereka: dan etnografi selalu mengimplikasikan teori kebudayaan. (Spradley, 2007:5).
Sementara itu, langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian etnografi meliputi hal-hal sebagai berikut:
Langkah I, yakni menetapkan informan, tujuannya:
1. Untuk mengidentifikasi beberapa karakteristik dan informan yang baik.
2. Untuk menemukan informan yang sebaik mungkin dalam mempelajari keterampilan wawancara dan melakukan penelitian etnografi.
Langkah II, yakni mewawancarai informan, tujuannya:
1. Untuk mengidentifikasi unsur-unsur dasar dalam wawancara etnografis.
2. Untuk memformulasikan dan menggunakan beberapa macam penjelasan etnografis. 3. Untuk melakukan wawancara praktis.
Langkah III, yakni membuat catatan etnografis, tujuannya: 1. Untuk memahami sifat dasar catatan etnografis.
2. Untuk menyusun buku catatan penelitian lapangan.
3. Untuk melakukan kontak dengan seorang informan dan melakukan wawancara pertama. Langkah IV, yakni mengajukan pertanyaan deskriptif, tujuannya:
1. Untuk melaksanakan etnografis pertama.
2. Untuk memahami proses perkembangan hubungan dengan informan.
3. Untuk mengumpulkan sampel dari percakapan informan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan deskriptif.
Langkah V, yakni melakukan analisis wawancara etnografis, tujuannya: 1. Untuk memahami sifat dasar analisis etnografis.
2. Untuk mempelajari bagaimana tercita dengan simbol-simbol budaya.
Langkah VI, yakni membuat analisis domain, tujuannya:
1. Untuk memahami sifat dasar hubungan semantik serta peran hubungan itu dalam pembuatan suatu analisis domain.
2. Untuk mengidentifikasi langkah-langkah dalam menjalankan analisis domain.
3. Untuk melakukan analisis domain sistematis terhadap semua data yang terkumpul sekarang.
4. Untuk memasukkan satu atau dua pertanyaan struktural ke dalam wawancara etnografis. Langkah VII, yakni mengajukan pertanyaan struktural, tujuannya:
1. Untuk mengidentifikasi berbagai jenis pertanyaan struktural.
2. Untuk mempelajari menggunakan pertanyaan struktural dalam etnografi.
3. Untuk menguji domain-domain yang telah dihipotesiskan dan menemukan istilah-istilah tercakup yang lain untuk domain-domain itu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan struktural.
Langkah VIII, yakni membuat analisis taksonomik, tujuannya:
1. Untuk memilih suatu fokus yang bersifat sementara untuk membuat analisis mendalam. 2. Untuk memahami berbagai taksonomi rakyat dan bagaimana taksonomi itu mengorganisir domain.
3. Untuk mempelajari bagaimana membuat analisis taksonomik.
4. Untuk membangun suatu taksonomi rakyat untuk satu domain atau lebih dengan mengikuti langkah-langkah dalam mengerjakan analisis taksonomik.
Langkah IX, yakni mengajukan pertanyaan kontras, tujuannya:
1. Untuk memahami prinsip-prinsip penemuan utama dalam studi makna budaya.
2. Untuk mempelajari cara-cara untuk menemukan berbagai kontras atau perbedaan diantara berbagai simbol budaya.
3. Untuk memformulasikan dan menggunakan berbagai pertanyaan kontras. Langkah X, yakni membuat analisis komponen, tujuannya:
1. Untuk memahami peran analisis komponen dalam studi sistem makna budaya. 2. Untuk mengidentifikasi langkah-langkah dalam membuat analisis komponen.
3. Untuk melakukan analisis komponen yang sistematik pada satu rangkaian kontras atau lebih.
4. Untuk menggunakan pertanyaan kontras untuk membuktikan dan melengkapi analisis komponen.
Langkah XI, yakni menemukan tema-tema budaya, tujuannya:
2. Untuk mengidentifikasi beberapa strategi membuat suatu analisis tema.
3. Untuk melaksanakan suatu analisis tema pada suasana budaya yang sedang dipelajari.
Langkah XII, yakni menulis suatu etnografi, tujuannya:
1. Untuk memahami sifat dasar penulisan etnografis sebagai bagian dari proses penerjemahan.