Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman LEMBAR PENGESAHAN ARTIKEL
ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL
( Suatu penelitian di kelas X SMA Prasetya Gorontalo )
Artikel
Oleh : Ika Marhaini Maku
Pembimbing I Pembimbing II
Drs. Sumarno Ismail, M.Pd Dra. Kartin Usman, M.Pd
NIP. 19621129 198803 1 003 NIP. 19631021 199003 2 001
Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Matematika
Dra. Lailany Yahya, M.Si NIP. 19681219 199403 2 001
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM BELAJAR MATEMATIKA PADA
MATERI PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL Ika Marhaini Maku, Sumarno Ismail, Kartin Usman
Jurusan Pendidikan Matematika, Program Studi S1 Pend. Matematika Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo 2014
ABSTRAK
IKA MARHAINI MAKU. Nim 411409116. ANALISIS KESULITAN SISWA DALAM BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL. Skripsi. Jurusan Pendidikan Matematika. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Gorontalo. 2014.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesulitan-kesulitan belajar yang dialami oleh siswa kelas X SMA Prasetya Gorontalo dalam memahami materi pertidaksamaan linier satu variable yang diukur melalui indicator kesulitan belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian bahwa capaian kemampuan siswa kelas X SMA Prasetya Gorontalo pada materi Pertidaksamaan Linier Satu Variabel menurut indikator kesulitan belajar yaitu pada indikator kesulitan dalam konsep sebesar 60%, indikator kesulitan menggunakan data sebesar 78,67%, indikator kesulitan menganalisis sebesar 79,59% dan indikator dalam menarik kesimpulan sebesar 51,44%. Kesulitan siswa kelas X SMA Prasetya Gorontalo yang diukur melalui indikator kesulitan belajar siswa sangat beragam dan belum begitu maksimal sehingga diperlukan metode dan strategi yang tepat untuk meminimalisir kesulitan yang dialami siswa. Kata Kunci : Kesulitan Belajar Siswa
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman
Kegiatan dapat dimulai dengan beberapa contoh atau fakta yang teramati, membuat daftar sifat yang muncul (sebagai gejala), memperkirakan hasil baru yang diharapkan, yang kemudian dibuktikan secara deduktif. Dengan demikian, cara belajar induktif dan deduktif dapat digunakan dan sama-sama berperan penting dalam mempelajari matematika.
Penerapan cara kerja matematika seperti ini diharapkan dapat membentuk sikap kritis, kreatif, jujur dan komunikatif pada siswa. Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Matematika : Matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui materi pengukuran dan geometri, aljabar, peluang dan statistika, kalkulus dantrigonometri.
Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel. Tujuan pembelajaran matematika adalah:
a. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikian, eksplorasi,eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsistensi.
b. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi,dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba
c. .Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
d. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
Di sekolah matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan dengan persentase jam pelajaran dengan penekanan berbeda dibandingkan mata pelajaran yang lain. Maksud penekanan berbeda adalah adanya jam tambahan untuk mata pelajaran matematika. Oleh karena itu, matematika hendaknya diusahakan menjadi pelajaran yang menarik dan menyenangkan. Akan tetapi ada juga sekolah yang menetapkan jam mata pelajaran matematika hanya 4 x 45 menit dalam setiap minggunya pada masing-masing kelas, sehingga guru mengalami kekurangan waktu untuk menyampaikan bahan ajar matematika. Ini juga yang menyebabkan alasan terbesar, siswa beranggapan dengan kekurangan waktu inilah sampai mereka mengalami kesulitan disaat guru sedang
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman
menjelaskan, kadang-kadang guru harus berpacu waktu untuk menyelesaikan materi sehingga siswa harus berulang-ulang kali bertanya apa yang tidak mereka pahami. Penambahan jam memang seharusnya dilakukan oleh setiap sekolah. Hal ini perlu dilakukan karena dalam mempelajari matematika tidak jarang siswa menganggap bahwa matematika itu sulit dan menakutkan, sehingga mengakibatkan dampak yang jelek bagi proses belajar mengajar matematika. Hal ini disebabkan persepsi siswa bahwa matematika itu adalah mata pelajaran yang sulit, sehingga siswa malas untuk mempelajarinya. Contohnya kesulitan siswa dalam proses penerimaan materi pertidaksamaan linear satu variabel, siswa belum bisa membedakan bilangan positif dan negative pada operasi bilangan bulat, membedakan simbol pertidaksamaan seperti membedakan antara tanda lebih dari ( > ), kurang dari ( < ), lebih dari sama dengan ( ≥ ), kurang dari sama dengan ( ≤ ) dan tidak sama dengan ( ≠ ). Kesulitan tersebut dapat kita lihat pada kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal matematika. Bisa juga disebabkan oleh cara penyampaian guru terhadap materi yang diajarkan kurang menarik, sehingga siswa malas untuk mengikutinya. Oleh karena itu, hasil belajar siswa pada matematika selalu berada di bawah mata pelajaran lainnya. Dari hasil observasi yang dilakukan, dalam satu kelas X SMA Prasetya Gorontalo hanya 4 atau 5 orang siswa yang memiliki keseriusan dalam memperhatikan materi yang diberikan. Adapun ciri-ciri siswa yang terlihat mengalami kesulitan belajar yaitu : siswa menunjukkan prestasi yang rendah atau dibawa rata-rata, lambat dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru , hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukannya, selalu bersikap acuh tak acuh didalam kelas, mudah tersinggung, pemarah. Berdasarkan karakteristik matematika bahwa matematika memiliki objek kajian yang abstrak, maka dalam hal ini seorang guru dituntut untuk mampu dalam menanamkan konsep matematika kepada siswanya dengan benar agar siswa mampu menanamkan penalaran matematika yaitu berpikir logis serta mampu membimbing siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika.
Penyebab siswa sulit menerima matematika adalah kurang memahami apa arti matematika dan apa kegunaannya. Matematika itu untuk memecahkan masalah ataupun membantu kita lebih bisa memahami tata kerja alam yang selalu dihubungkan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika juga melatih manusia untuk berpikir tersruktur dan tak perlu takut persoalan rumit tak dapat terpecahkan.
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman
Kebanyakan siswa menganggap langkah-langkah dalam pembelajaran matematika terlalu rumit. Karena dalam matematika terdapat banyak definisi-definisi dan teori-teori yang saling berkaitan dan memerlukan kemampuan dalam melakukan proses pembuktian. Berdasarkan penjelasan diatas, pada kegiatan pembelajaran matematika di sekolah ditemukan beberapa masalah sebagai berikut : (1) Keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran tidak tampak. Para siswa kurang bertanya tentang materi yang belum diketahuinya, sekalipun guru sudah memberikan kesempatan untuk bertanya, (2) Kemandirian siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika juga belum tampak. Banyak ditemukan siswa yang malas mengerjakan soal-soal latihan, mengerjakan pekerjaan rumah dan biasanya siswa baru menulis setelah soal dikerjakan oleh guru dan bahkan tidak sama sekali sampai diperintahkan untuk dicatat, (3) Faktor guru yang tidak bisa mengontrol siswa secara keseluruhan saat proses penugasan sehingga membuat siswa tidak mengerjakan tugas. Adapun indikator dari kesulitan belajar matematika, yaitu sebagai berikut :
a. Kesulitan dalam konsep
b. Kesulitan dalam menggunakan data c. Kesulitan menganalisis
KAJIAN TEORI
Menurut teori bahavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon ( Budiningsih. 2005: 20 ). Pengertian belajar dapat kita temukan dalam berbagai sumber atau literatur. Meskipun kita melihat ada perbedaan-perbedaan di dalam rumusan pengertian belajar tersebut dari masing-masing ahli, namun secara prinsip kita menemukan kesamaan-kesamaannya. Burton, dalam sebuah buku “ The Guidance of Learning Activities “, merumuskan pengertian belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka mampu berinteraksi dengan lingkungannya ( Aunurrahman. 2009: 35 ).
Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berfikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung.
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman
Dalam Psikologi Belajar oleh Saiful Bahri Djamarah (2008:234-235) mengemukakan bahwa kesulitan belajar yang dirasakan oleh anak didik bermacam-macam, yang dapat dikelompokkan menjadi empat bermacam-macam, yaitu sebagai berikut:
1. Dilihat dari jenis kesulitan belajar. - ada yang berat,
- ada yang sedang.
2. Dilihat dari bidang studi yang dipelajari - ada yang sebagian bidang studi, - ada yang keseluruhan bidang studi. 3. Dilihat dari sifat kesulitannya.
- ada yang sifatnya permanen/menetap, - ada yang sifatnya hanya sementara. 4. Dilihat dari segi faktor penyebabnya. - ada yang karena faktor inteligensi,
ada yang karena faktor non-inteligensi
Seorang siswa yang mengalami kesulitan belajar akan menunjukkan ciri-ciri sebagai manifestasi dari adanya masalah yang dialami, seperti yang dikemukakan oleh Ahmad &Supriyono (2004) dalam Puhi (2011 : 19 ) sebagai berikut:
a. Menunjukkan prestasi yang rendah/dibawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas.
b. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukannya. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah.
c. Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam semua hal, misalnya dalam mengerjakan soal-soal.
d. Menunjukkansikap yang kurang wajar, seperti : acuh tak acuh, berpura-pura, dusta, dan lain-lain.
e. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan. Misalnya mudah tersinggung, murung, pemarah, bingung, dan lain-lain.
Pertidaksamaan linear satu variabel adalah kalimat matematika yang menggunakan tanda ketidaksamaan dan variabelnya berpangkat satu.
Pertidaksamaan linear adalah kalimat terbuka yang menggunakan tanda <, ≤, >, atau ≥, dan mengandung variabel dengan pangkat bilangan bulat positif dan pangkat tertingginya satu. Bentuk umum dari pertidaksamaan linear :
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman ax + b > 0; ax + b ≥ 0
ax + b < 0; ax +b ≤ 0
dengan a, b∈R, a ≠ 0
METODE PENULISAN
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Prasetya Gorontalo Jl. Budi Utomo Provinsi Gorontalo. Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil, tahun ajaran 2013/2014 bulan November-Desember mulai dari tahapan persiapan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode penelitian deskriptif yang ditujukan untuk menggambarkan kesulitan siswa kelas X SMA dalam belajar matematika pada materi pertidaksamaan linear satu variabel. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas X SMA Prasetya Gorontalo pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 sejumlah 80 siswa yang tersebar dalam empat kelas yaitu Xa, Xb, Xc, Xd. Karena adanya keterbatasan waktu dan faktor lainnya, maka sumber informasi yang menjadi fokus dalam penelitian ini diambil dengan tekhnik pengambilan Simple
Random Sampling yaitu dengan cara merandom keempat kelas tersebut sehingga di
peroleh kelas Xa yang berjumlah 19 siswa sebagai kelas penelitian.
Pengumpulan data akan dilakukan berdasarkan tahapan-tahapan sebagai berikut : 1. Pemberian Tes
Tes dimaksudkan sebagai intrumen pengumpulan data yang bertujuan untuk mengetahui secara langsung apa saja kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam menyelsaikan soal-soal soal-soal matematika. Berdasarkan tes yang dilakukan akan dicari letak kesalahan yang dilakukan siswa dalam menjawab tes.
2. Wawancara
Wawancara adalah percakapan yang dilakukan dengan maksud tertentu, dimana pewawancara mengajukan pertanyaan tertentu dan yang diwawancara memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
3. Instrument Penelitian
1) Uji Validitas
Uji Validitas Konstruksi
Uji validitas konstruksi ini dilakukan dengan cara meminta tanggapan, saran/komentar dari dosen dan guru mata pelajaran. Para validator dipilih 4
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman
orang yang terdiri dari 3 orang dosen dan 1 guru mata pelajaran matematika. Pengujian validasi konstruksi ini dapat dilakukan baik sesudah maupun sebelum tes belajar tersebut dilakukan. Adapun kriteria kesesuaian validitas kontruksi adalah sebagai berikut :
Tabel 1.1
Tabel Validitas Kontruksi Rentang Nilai Interprestasi
0,00 – 1,99 Validitas Konstruksi Tidak Sesuai 2,00 – 2,99 Validitas Konstruksi Kurang Sesuai 3,00 – 3,99 Validitas Konstruksi Cukup Sesuai 4,00 – 4,99 Validitas Konstruksi Sesuai
5,00 Validitas Konstruksi Sangat Sesuai Sumber : (Arikunto, 2008 : 75)
Uji Validitas Isi
Setelah dilakukan uji validasi konstruksi, selanjutnya dilakukan uji validitas isi yang bertujuan untuk menunjukkan valid atau tidaknya suatu instrument tes yang diberikan kepada siswa.
Uji ini menggunakan rumus korelasi product moment sebagai berikut : 𝑟𝑥𝑦 =
𝑛 𝑥𝑖𝑦𝑖 − ( 𝑥𝑖)( 𝑦𝑖) (𝑛 𝑥𝑖2− (𝑥
𝑖)2)(𝑛 𝑦𝑖2− 𝑦𝑖)2
Dimana 𝑟𝑥𝑦 : Validasi Tes n : Jumlah responden
𝑋 : ekor setiap item
𝑌 : ekor total responden Sugiyono ( 2011 : 228 )
2) Uji Reliabilitas
Suatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data apabila instrumen tersebut sudah baik. Uji reliabilitas tes ini menggunakan rumus α yaitu :
𝑟11 = 𝑘
𝑘 − 1 1 − 𝜎𝑏2
𝜎12 Dimana 𝑟11 : reliabilitas instrument
k : banyaknya butir soal 𝜎𝑏2 : jumlah varians butir soal
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman
𝜎12 : varians total
Sebagai pedoman interprestasi tentang berapa tinggi koefisien reliabilitas digunakan klasifikasi sebagai berikut :
Tabel 2.1
Koefisien Reliabilitas
Koefisien Korelasi ( r ) Interprestasi
0,80 < r ≤ 1,00 0,60 < r ≤ 0,80 0,40 < r ≤ 0,60 0,20 < r ≤ 0,40 r ≤ 0,20 Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah Sumber : (Arikunto, 2008 : 75) Table 3.1
Kriteria Kesulitan Belajar Siswa Berdasarkan Skor Tes Rentang Skor Tes Kategori
80% < x ≤ 100% 60% <x ≤ 80% 40% < x ≤ 60% 20% < x ≤ 40% 0% < x ≤ 20% Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah
4. Hasil Pengembangan Instrumen
Dengan adanya permasalahan yang akan dikaji, peneliti menyusun instrument dalam bentuk tes uraian yang berjumlah lima butir soal yang dilengkapi dengan marking scheme dengan skor tertinggi yang dapat dicapai siswa adalah 100. Untuk memperoleh tes yang valid maka dilakuakn validasi isi terlebih dahulu. Dalam hal ini validasi isi dilakukan dengan meminta 3 orang dosen dan 1 orang guru mata pelajaran matematika.
Berdasarkan perbaikan dari validator, tes diperbaiki kembali. Untuk menguji validitas dan reliabilitas tes sebagai alat pengumpul data yang utama, maka peneliti mengadakan uji coba yang diberikan kepada 14 orang responden.
Uji Validitas dan Reliabilitas tes
Pengujian validitas tes dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment sebagai berikut :
𝑟𝑥𝑦 =
𝑛 𝑥𝑖𝑦𝑖 − ( 𝑥𝑖)( 𝑦𝑖) (𝑛 𝑥𝑖2− (𝑥
𝑖)2)(𝑛 𝑦𝑖2− 𝑦𝑖)2
Dengan menggunakan taraf nyata α = 0,05 dan N = 14 dengan criteria interval kepercayaan 100% maka diperoleh data hasil uji coba.
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman Koefisien Validasi dan Status Validasi
Nomor Soal Koefisien r_Hitung Koefisien r_Tabel Status Validasi
1 0.65601242 0,532 Valid
2 0.65569146 0,532 Valid
3 0.91472251 0,532 Valid
4 0.84765184 0,532 Valid
5 0.845767 0,532 Valid
Pada pengujian ini didapatkan 𝑟11 = 0,815 sehingga tingkat pengujian reliabilitas tes terdapat pada level yang tinggi. Reliabilitas merupakan ketepatan suatu test apabila dilakukan kepada subjek yang sama. Pengujian reliabilitas instrumen ini di tempuh dengan menggunakan rumus alpha cronbach, sebagai berikut.
r11 = k − 1k 1 − σb
2
σt2
Aktivitas dalam analisis data, yaitu : 1. Data Reduction ( Reduksi data )
Reduksi data dalam penelitian ini adalah analisis awal terhadap hasil penelitian utamanya hal-hal yang berkenaan dengan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Pada tahapan ini dilakukan pula pengelompokkan jawaban atau sumber data pada satuan tertentu untuk memudahkan pekerjaan pada tahapan selanjutnya. 2. Data Display ( Penyajian data )
Display data atau penyajian data adalah tahapan menyajikan data hasil tahapan sebelumnya dengan melakukan analisis yang lebih spesifik berdasarkan sumber-sumber data. Jenis-jenis sumber-sumber data seperti dokumentasi, hasil wawancara secara terpisah namun saling mendukung dan memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain. Keberadaan jenis sumber data baik hasil wawancara, dokumentasi dan observasi dalam penelitian kualitatif menjadi sumber analisis setiap permasalahan dalam penelitian.
Untuk mengetahui presentasi masing-masing soal dan indikator kesulitan belajar dilakukan perhitungan dengan rumus sebagai berikut :
𝐾𝑒𝑚𝑎𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 =𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑥100%
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman
Langkah terakhir adalah melakukan penarikan kesimpulan dari berbagai data yang diperoleh dan didukung. Data-data yang diperoleh pada saat peneliti mengumpulkan data yang didukung dengan bukti-bukti yang valid, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel, artinya jika data yang dikumpul disukung oleh bukti-bukti yang valid.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan penjelasan sebelumnya bahwa siswa dibagi atas tiga kelompok, yaitu siswa berkemampuan tinggi, siswa berkemampuan sedang dan siswa berkemampuan rendah. Berikut ini adalah interpretasi data yang didasarkan pada tiga kelompok diatas.
1) Kelompok siswa berkemampuan tinggi
Berdasarkan pada uraian diatas tentang presentase capaian kemampuan siswa pada kelompok ini terlihat bahwa tingkat berpikir siswa pada indikator kesulitan dalam konsep kemampuan siswa mencapai 28,85%. Hal ini berarti siswa yang berada pada indikator ini sudah dapat memahami konsep serta mengetahui symbol pertidaksamaan, dan kalimat yang digunakan pada soal tes matematika dengan baik. Pada indikator kesulitan menggunakan data kemampuan siswa mencapai 32,70%, ini menggambarkan bahwa siswa pada kelompok ini sudah dapat menggunakan data dengan benar. Pada indikator menganalisis kemampuan siswa mencapai 50,97%, keadaan ini menunjukkan bahwa siswa sudah dapat menganalisis soal tes yang diberikan dengan baik. Pada indikator yang terakhir kesulitan menarik kesimpulan kemampuan siswa mencapai 40,38%, ini menyatakan bahwa siswa sudah bisa menarik kesimpulan dari soal yang diberikan dengan benar.
2) Kelompok siswa berkemampuan sedang
Berdasarkan pada uraian diatas tentang presentase capaian kemampuan siswa pada kelompok ini terlihat bahwa tingkat berpikir siswa pada indikator kesulitan dalam konsep kemampuan siswa mencapai 17,30%. Hal ini berarti pada indikator ini siswa pada kelompik ini tidak lebih baik dari kelompok siswa yang berkemampuan tinggi. Pada indikator kesulitan mengguankan data kemampuan siswa mencapai 25,97%, ini menggambarkan bahwa siswa pada kelompok ini belum bisa menggunakan data dengan baik dan maksimal. Pada indikator menganalisis kemampuan siswa mencapai 46,15% yang menyatakan bahwa siswa pada kelompok ini belum bisa menganalisis
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman
soal tes yang diberikan dengan baik. Pada indikator terakhir yaitu kesulitan menarik kesimpulan kemampuan siswa mencapai 23,07% ini menunjukkan bahwa pada kelompok siswa ini belum bisa melakukan penarikan kesimpulan dengan baik.
3) Kelompok siswa berkemampuan rendah
Berdasarkan pada uraian diatas tentang presentase capaian kemampuan siswa pada kelompok ini terlihat bahwa tingkat berpikir siswa pada indikator kesulitan dalam konsep 13,85%. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok ini belum bisa memahami konsep dari soal tes yang diberikan. Pada indikator kesulitan menggunakan data kemampuan siswa mencapai 20%, ini menggambarkan bahwa siswa pada kelompok ini belum bisa menggunakan data dengan baik. Pada indikator kesulitan menanalisis kemampuan siswa mencapai 45,20%ini menunjukkan bahwa siswa pada kelompok ini justru lebih cenderung bisa menganalisis soal tes yang diberikan dengan baik. Pada indikator kesulitan menarik kesimpulan kemampuan siswa mencapai 39,42%, ini menggambarkan bahwa siswa pada kelompok ini lebih baik melakukan penarikan kesimpulan dibandingkan pada kelompok siswa berkemampuan sedang.
Tabel 5.1
Hasil Capaian
Kelompok Siswa Indikator Kesulitan Belajar Siswa
1 2 3 4
Kelompok Siswa Berkemampuan Tinggi 28,85% 32,70% 50,97% 40,38%
Kelompok Siswa Berkemampuan Sedang 17,30% 25,97% 46,15% 23,07%
Kelompok Siswa Berkemampuan Rendah 13,85% 20% 45,20% 39,42%
Keterangan :
1 = Indikator Kesulitan Dalam Konsep
2 = Indikator Kesulitan Dalam Menggunakan Data 3 = Indikator Kesulitan Dalam Menganalisis
4 = Indikator Kesulitan Dalam Menarik Kesimpulan
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka peneliti dapat menarik kesimpulan yang ada sebagai berikut :
a. Kemampuan siswa dalam memahami materi pertidaksamaan linier satu variable kelas X SMA Prsetya Gorontalo yang ditinjau dari empat indikator kesulitan belajar siswa sangat bervariasi dan belum maksimal.
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman
b. Hal yang menyebabkan kesulitan siswa dalam belajar matematika pada materi pertidaksamaan linier satu variable adalah kurangnya penjelasan guru tentang materi pertidaksamaan linier satu variable sehingga siswa masih merasa kebingungan pada meteri ini.
Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan sebelumnya, maka peneliti menyampaikan beberapa saran :
a. Untuk siswa diharapkan untuk lebih memperdalam mata pelajaran matematika khususnya materi pertidaksamaan linier satu variable yang diukur pada empat indikator kesulitan belajar siswa.
b. Untuk guru mata pelajaran setelah membarikan mata pelajaran matematika khususnya materi pertidaksamaan linier satu variable agar selalu mengadakan tes terhadap pengetahuan dasar materi pertidaksamaan linier satu variable yang siswa miliki.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman, Mulyono. 2009. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar.
Jakarta: Rineka Cipta
Agustin, Mubiar. 2011. Permasalahan Belajar dan Inovasi Pembelajaran.
Bandung: PT. Refika Aditama.
Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran: Prinsip-Tekhnik-Prosedur.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Arifin, Zainal. 2011. Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma Baru.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian . Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Budiningsih, Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta Dalyono. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Djamarah, Bahri Syaiful. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah, Bahri Syaiful dan Zain, Azwan. 2006. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Gumilar, Hendi Senja. 2008. Matematika 1 Kelompok Seni, Pariwisata, dan Teknologi Kerumahtanggaan untuk Kelas X SMK/MAK. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Jaworski, B., (2006), Investigating mathematics teaching : A constructivist
enquiry.London : The Falmer Press.
Mahmud. 2010. Psikoogi Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia Manfaat, Budi. 2010. Membumikan Matematika. Jakarta: Rineka Cipta. Nurwashilah. 2013. Pertidaksamaan Linear Satu Variabel. Dikutip dari http://
Downloads/ppt- pertidaksamaan-linear-satu-variabel.htm pada pukul 20.30 tanggal 20 Desember 2013.
Ika Marhaini Maku Mahasiswa Jurusan Pend. Matematika, Sumarno Ismail, Kartin Usman Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press Sutikno, 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Prospect
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta: Bandung. Sugiyono. 2011. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta: Bandung.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: