BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Setiap

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Setiap individu memimpikan untuk memiliki fisik yang sempurna, baik laki-laki maupun perempuan. Kesempurnaan seorang individu akan dengan mudah diterima oleh lingkungan dan kelompoknya, tanpa ada pengecualian dan wajah merupakan fokus dari keseluruhan daya tarik fisik seseorang. Menurut Neill (2005:3) pada kenyataannya, untuk berinteraksi maka individu harus mempunyai keberanian atau percaya diri (self confidence) untuk menjalin interaksi dengan orang lain (Putri & Hadi, 2005).

Seseorang akan belajar mengenali dirinya sendiri melalui interaksi dengan orang di sekitarnya. Individu akan memperoleh informasi mengenai dirinya dari interaksi dengan lingkungan dan orang di sekitarnya tetapi jika tidak ada interaksi dengan lingkungan maka individu tersebut tidak dapat mengenal dirinya lebih dalam. Diri berisi persepsi-persepsi tentang sifat-sifat dari ‘diri subjek’ atau ‘diri objek’ dan persepsi-persepsi tentang hubungan-hubungan antara ‘diri subjek’ atau ‘diri objek’ dengan orang lain dalam berbagai aspek kehidupan beserta nilai-nilai yang melekat pada presepsi-presepsi ini. Hal ini menunjukkan bahwa untuk dapat berinteraksi sosial dengan baik diperlukan pemahaman dan kemampuan tentang diri sendiri. Individu yang yakin akan kemampuan dirinya merupakan indikasi dari rasa percaya diri seseorang. Rasa percaya diri (self confidence) bisa dikatakan

(2)

2

sebagai suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya. Seseorang yang tidak memiliki rasa percaya diri (self confidence) akan mudah cemas dalam menghadapi persoalan dengan tingkat kesulitan dan situasi tertentu, cenderung tergantung pada orang lain dalam mengatasi masalah serta kurang memiliki kelebihan pada ketidaktahuan bagaimana cara mengembangkan diri untuk meningkatkan potensi dalam dirinya. Namun sebaliknya individu yang memiliki rasa percaya diri (self

confidence) dapat diindikasi memiliki perasaan yang kuat terhadap tindakan yang

dilakukan, memiliki ketenangan sikap, dapat berkomunikasi dengan baik, memilki kemampuan untuk bersosialisasi, merasa optimis, dapat mengendalikan perasaannya, percaya akan kompetensi/kemampuan diri dan memiliki internal

locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan, tergantung dari usaha

diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak tergantung serta mengharapkan bantuan orang lain).

Berdasarkan latar belakang di atas, pada sebagian orang tidak menyadari bahwa rendahnya rasa percaya diri (self confidence) dapat menimbulkan hambatan besar dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Sikap seseorang yang menunjukkan dirinya tidak percaya diri antara lain di dalam berbuat sesuatu yang penting dan penuh tantangan selalu dihadapi dengan keragu-raguan, mudah cemas, tidak yakin, cenderung menghidar, tidak punya inisiatif, mudah patah semangat, tidak berani tampil depan orang banyak dan gejala kejiwaan lain yang menghambat seseorang untuk melakukan sesuatu. Penilaian baik atau buruk yang diterima dari

(3)

3

orang lain turut mempengaruhi rasa percaya diri (self confidence) seseorang, sebaliknya penilaian yang buruk oleh orang lain akan menurunkan rasa percaya diri (self confidence). Rasa percaya diri seseorang sering kali diyakini merupakan

dampak dari faktor perasaan individu dalam berpenampilan. Oleh sebab itu tidak bisa dipungkiri bahwa memiliki wajah cantik yang menarik bagi wanita dan tubuh sehat yang terawat merupakan dambaan bagi sebagian besar wanita, hal ini dikarenakan sejak dulu wanita identik atau bahkan disamakan dengan kecantikan, bahkan keduanya diibaratkan seperti dua sisi berbeda dari mata uang yang sama. Hal ini wajar, karena selama ini wanitalah yang paling banyak menggunakan atribut kecantikan, salah satu contoh; sebutan eye shadow, mascara, begitu juga wewangian dan bedak, ternyata sudah sejak beribu tahun lalu digunakan wanita. Begitu pula bagi wanita Indonesia yang terkenal mewarisi berbagai ramuan dan wewangian yang dapat membuat mereka cantik dan awet muda, bahkan dalam cerita wayang Indonesia pun dengan penggambaran kecantikan wanita. Menurut MeBrouwers dalam Kartono (2014:2), seorang wanita dengan wajah yang cantik dan menarik sering dipandang sebagai individu yang lebih pintar, menyenangkan, bersemangat dan sukses. Semakin pesatnya perkembangan zaman dapat mempengaruhi pandangan masyarakat yang melihat kecantikan memiliki banyak pengertian dari berbagai sudut pandang, sehingga kecantikan tidak hanya dapat dinilai dari satu sisi saja namun harus dari berbagai sisi.

Pada umumnya perempuan mengartikan kecantikan hanya secara lahiriah saja dan cenderung menilai kualitas perempuan dari segi kemenarikan fisiknya. Untuk memiliki wajah cantik dan tubuh yang terawat bagi banyak perempuan

(4)

4

merupakan hal yang penting. Kecantikan secara keseluruhan bagi wanita, sangat mempengaruhi rasa percaya dirinya. bagaimana dia bersikap terhadap lingkungannya ditentukan juga dari bagaimana lingkungan menyikapinya. Penampilan fisik dan kecantikan menjadi hal utama yang mempengaruhi persepsi lingkungan terhadap seorang perempuan. Menurut Melliana (2006:10), “memiliki wajah yang cantik dan menarik diasosiasikan dengan keberhasilan dalam cinta dan pekerjaan serta kesempatan kerja yang lebih luas dan salah satu cara untuk tampil cantik dan menarik yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan kosmetik.” Keinginan untuk cantik telah terancap dengan kuat dalam kepala setiap wanita, sehingga membuat para wanita ingin terlihat cantik terutama di depan laki-laki, maka tidak heran jika kemudian para wanita berlomba-lomba mempercantik dirinya dengan berbagai cara. Mulai dengan cara tradisional seperti minum jamu, hingga cara modern seperti facial, operasi plastik dan menggunakan berbagai produk kosmetik. Berdasarkan pengamatan peneliti selama 6 bulan sebelum penulisan penelitian ini disusun, peneliti menemukan fenomena bahwa sebagian besar mahasiswi datang ke kampus dengan menggunakan kosmetik baik dalam penggunaan kosmetik secara full (meliputi penggunaan parfum dan krim tubuh), light (penggunaan make-up wajah di sebagian saja) dan tanpa ada penggunaan kosmetik sama sekali (make-up less).

Kosmetik merupakan pemolesan serta pemberian sentuhan bahan tertentu yang siap digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir dan wajah) sehingga dipercaya dapat menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi seluruh bagian tubuh agar tetap terjaga dalam keadaan baik, sehat dan

(5)

5

menarik. Melliana (2006) mengatakan kosmetik pada wajah, kosmetik yang dipergunakan disebut make-up dan apabila diaplikasikan ke tubuh khususnya pada bagian wajah akan menghasilkan suatu warna, contohnya seperti lipstick,

mascara, eyeliner, eyeshadow, dan blush on. Scoot (2007) mengatakan,

Kosmetik terutama up banyak dipilih karena dengan menggunakan

make-up dapat memberikan dampak positif terhadap daya tarik fisik perempuan

terutama pada wajah. Seseorang yang menggunakan make-up dengan paduan warna tertentu dapat terlihat lebih menarik dan cantik bahkan jauh lebih cantik dari sebelumnya. Hasil observasi terhadap 60 mahasiswi terkait dengan penggunaan kosmetik dan percaya diri adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1

Hasil Observasi Penggunaan Kosmetik dan Percaya Diri

No Pengamatan Observasi Hasil

Penggunaan Kosmetik Ya Tidak

1 Menggunakan alas bedak (foundation), perona pipi (blusher), eyebrow pencil, mascara, eye shadow dan

eye liner, parfum dan krim tubuh

27 33 45% 55% 2 Menggunakan bedak dan lisptik tipis, parfum dan

krim tubuh

44 16 73% 27% 3 Tanpa ada penggunaan kosmetik sama sekali

(make-up less)

13 47 22% 78% Percaya Diri

1 Berani menyampaikan ide dan gagasan 50 10

83% 17% 2 Mudah bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan 48 12 80% 20%

3 Lebih senang menyendiri 13 47

22% 78% 4 Sering tidak berani mengakui kesalahan 11 49 18% 82% Sumber : Hasil Observasi 2015

(6)

6

Hasil observasi sebagai pada tabel di atas untuk penggunaan kosmetik adalah menggunakan alas bedak (foundation), perona pipi (blusher), eyebrow pencil, mascara, eye shadow dan eye liner, parfum dan krim tubuh sebanyak 45%, menggunakan bedak dan lisptik tipis, parfum dan krim tubuh sebesar 73% dan tanpa ada penggunaan kosmetik sama sekali (make-up less) 22%. Sedangkan untuk percaya diri, berani menyampaikan ide dan gagasan 83%, mudah bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan sebesar 80%, lebih senang menyendiri 22% dan sering tidak berani mengakui kesalahan sebesar 18%.

Berdasarkan data dan hasil penelitian oleh AC Nielsen (2014), satu perusahaan yang bergerak di bidang informasi global serta media dan berfokus pada suatu penelitian dan melakukan suatu riset dalam memberikan suatu informasi tentang pemasaran dan konsumen, menjelaskan bahwa pertumbuhan penggunaan kosmetik di pedesaan Pulau Jawa mengalami peningkatan disajikan pada Tabel di bawah ini:

Tabel 1.2

Pertumbuhan Penggunaan Kosmetik

Uraian 2013 2014 % Pertumbuhan

Pedesaan 64,000 82,000 27,5%

Perkotaan 554,000 606,000 9,4%

*Dalam Milyar

Sumber: AC Nielson 2014

Dari data pada Tabel di atas ini dapat dilihat bagaimana pertumbuhan penggunaan kosmetik, tercatat mencapai 27,5% dari Rp 64 miliar menjadi Rp 82 miliar pada tahun 2013. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah perkotaan yang pertumbuhannya sekitar 9,4% menjadi Rp 606 miliar dari Rp 554

(7)

7

miliar pada tahun 2014. Pertumbuhan di desa mengalami peningkatan cukup tinggi bahkan lebih tinggi bila dibanding dengan di perkotaan.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Aryani (2006), dengan judul “Hubungan Antara Komformitas dan Perilaku Konsumtif pada Remaja di SMA Negeri I Semarang Tahun Ajaran 2005/2006” diketahui bahwa ada hubungan antara konformitas terhadap perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif ini meliputi pembelian berbagai macam kebutuhan, salah satunya adalah pembelian kosmetik. Merujuk pada data di atas maka peningkatan penggunaan di desa ataupun di kota salah satunya dapat disebabkan oleh adanya konformitas individu terhadap lingkungan sosialnya. Salah satu sumber data International Cosmetic menyebutkan bahwa impor produk kosmetik mencapai Rp. 4 miliar sampai dengan 10 miliar per bulan. Bahkan, pada tahun 2006 impor selama setahun mencapai Rp 1 triliun. Sementara itu untuk pasaran lokal, menurut Persatuan Kosmetik Indonesia (Petosmi) ditulis Darmaji (2008), omzet penjualan kosmetik bisa mencapai Rp 40 miliar untuk satu perusahaan besar dalam satu bulan. Hal ini jelas menunjukkan bahwa penggunaan kosmetik di Indonesia sangat besar karena salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi adalah karena seiring dengan perkembangan zaman banyak berpendapat bahwa kosmetik seolah telah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian kaum wanita.

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat kita ketahui pula bahwa motif penggunaan kosmetik secara eksternal salah satunya adalah konformitas dan berdasarkan fenomena-fenomena di atas maka peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan motif internal dari perilaku individu dalam penggunaan kosmetik yaitu

(8)

8

dengan tumbuhnya rasa percaya diri (self confidence). Penampilan fisik seorang individu menjadi hal yang penting bagi sebagian besar orang dalam masyarakat. Bagaimana individu ingin terlihat dari luar berhubungan dengan bagaimana perasaannya terhadap dirinya sendiri, maka dalam hal ini penulis ingin mengetahui keterkaitan hubungan penggunaan kosmetik dengan rasa percaya diri (self confidence) pada wanita, sedangkan metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif kolerasional. Lokasi penelitian, peneliti mengambil lokasi di Universitas Mercu Buana Jakarta dengan sampel mahasiswi Fakultas Psikologi dari program regular 2 sebanyak 100 orang.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah, apakah ada hubungan antara penggunaan kosmetik dengan rasa percaya diri pada wanita?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara penggunaan kosmetik dengan rasa percaya diri pada wanita.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam pengembangan ilmu psikologi, khususnya di bidang psikologi sosial yaitu

(9)

9

memberikan informasi mengenai bagaimana hubungan penggunaan kosmetik dengan rasa percaya diri pada wanita.

1.4.2. Manfaat Praktis

Manfaat praktis dalam penelitian ini adalah peneliti mendapatkan data penelitian mengenai hubungan pengguna kosmetik dengan rasa percaya diri pada wanita.

1) Bagi wanita pengguna kosmetik, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi tentang rasa percaya diri yang mereka tumbuhkan dari kosmetik yang mereka gunakan.

1.5. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut : Bab I : Pendahuluan

Bab I ini terdiri atas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II : Landasan Teori

Pada bab ini berisi pembahasan teoritis tentang hubungan rasa percaya diri (self confidence) pada wanita pengguna kosmetik lengkap (Full Cosmetc) dan kosmetik ringan (Light Cosmetic). Bab III : Metode Penelitian

Bab ini terdiri atas Metode Penelitian, Tipe dan Desain Penelitian, Variabel Penelitian, Partisipan Penelitian, Instrumen Penelitian, Validitas dan Reliabilitas alat ukur dan Metode Analisa Data.

(10)

10

Bab IV : Analisa Data

Bab ini memuat tentang pengoahan data penelitian, gambaran umum subjek, hasil penelitian dan pembahasan mengenai data-data penelitian berdasarkan teori yang relevan.

Bab V : Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari penelitian dan saran-saran yang diperlukan, baik untuk penyempurnaan atau peneliti selanjutnya yang berhubungan dengan penelitian ini.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :