• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan terbesar dari suatu. Pajak merupakan kontribusi wajib kepada negara oleh seseorang atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang yang digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Uang pajak digunakan negara untuk menjalankan fungsi pemerintahannya seperti pembayaran gaji aparatur negara, pembayaran subsidi, pembangunan sarana dan prasarana serta pembiayaan lainnya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.

Dalam bidang pertanahan, dikenal dengan Pajak Bumi Bangunan yang mengatur segala urusan pajak yang berkenaan dengan hak-hak seseorang terhadap suatu bidang tanah atau properti. Pajak bumi dan bangunan (PBB) adalah pajak yang dipungut atas tanah dan bangunan karena adanya keuntungan dan/atau kedudukan sosial ekonomi yang lebih baik bagi orang atau badan yang mempunyai suatu hak atasnya atau memperoleh manfaat dari padanya (Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994). Dasar pengenaan pajak dalam PBB adalah Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) yang ditentukan berdasarkan harga pasar per wilayah. NJOP ditetapkan setiap tahun oleh Menteri Keuangan.

Dalam era globalisasi, perlu adanya peningkatan terhadap sistem informasi berbasis teknologi agar informasi mengenai PBB dapat dimanfaatkan secara optimal. Pada basis data PBB telah terbentuk subjek dan obyek PBB yang telah di beri NOP (nomor obyek pajak), kode ZNT (zona nilai tanah) dan nilai jual obyek pajak (NJOP). Oleh karena itu, Informasi PBB yang dihasilkan harus memenuhi persyaratan secara relevan, tepat waktu dan mutakhir.

Peta adalah gambaran dari permukaan bumi yang mempunyai skala tertentu, sistem koordinat tertentu, dan proyeksi peta tertentu pula. Peta dikatakan interaktif apabila pengguna dapat melakukan perintah-perintah tertentu, atau pengaturan pada layer tombol tertentu yang ingin ditampilkan pengguna.

(2)

Kelurahan Dauhwaru merupakan sebuah kelurahan yang terletak di salah satu ibukota sebuah kabupaten yang terletak di ujung barat Pulau Bali yang bernama Kabupaten Jembrana, di mana perkembangan pembangunan di daerah ini cepat. Dengan adanya otonomi daerah akhir-akhir ini, penerimaan PBB dialihkan dari pajak pusat menjadi pajak daerah. Pengalihan ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, mengoptimalkan pengenaan PBB-P2 dan pada akhirnya dapat meningkatkan penerimaan daerah.

Dalam rangka peningkatan penerimaan di sektor PBB, untuk memenuhi keakuratan dan kecepatan penyajian data, dan peningkatan pelayanan kepada wajib pajak, perlu adanya suatu sistem atau aplikasi. Aplikasi yang dimaksud diharapkan dapat memudahkan masyarakat untuk dapat mengakses data mengenai suatu obyek pajak dan keterangan-keterangan di dalamnya.

I.2. Lingkup Kegiatan

1. Peta interaktif pajak bumi dan bangunan ini terletak di Kelurahan Dauhwaru. 2. Data yang ditampilkan merupakan data PBB Kelurahan Dauhwaru pada tahun

2013 yang meliputi nama wajib pajak, nomor obyek pajak, luas bumi, luas bangunan kode zone nilai tanah, dan nilai jual obyek pajak.

3. Peta yang dipakai adalah peta blok Kelurahan Dauhwaru.

4. Terdapat beberapa simbol-simbol tertentu yang dipakai untuk mengidentifikasi tempat-tempat penting.

5. Dalam pembuatan peta interaktif menggunakan software Adobe Flash

Professional CS 6.

I.3. Tujuan

Tujuan dari proyek ini adalah untuk membuat peta interaktif yang menyajikan informasi pajak bumi dan bangunan pada bidang tanah di Kelurahan Dauhwaru.

I.4. Manfaat

1. Memberikan alternatif teknologi dalam penyajian informasi perpajakan secara digital dan interaktif di Kelurahan Dauhwaru.

(3)

mengetahui data pajak bumi dan bangunan. I.5. Landasan Teori I.5.1. Pajak

Pajak adalah iuran wajib yang dipungut oleh pemerintah dari masyarakat (wajib pajak) untuk menutupi pengeluaran rutin negara dan biaya pembangunan tanpa balas jasa yang dapat ditunjuk secara langsung (Undang-Undang No.28 Tahun 2009 pasal 1 tentang pajak daerah dan restribusi daerah).

Dari berbagai definisi yang diberikan terhadap pajak baik pengertian secara ekonomis (pajak sebagai pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah) atau pengertian secara yuridis (pajak adalah iuran yang dapat dipaksakan) dapat ditarik kesimpulan tentang unsur-unsur yang terdapat pada pengertian pajak antara lain sebagai (Tjahjono dan Husein, 2000):

1. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang. Asas ini sesuai dengan perubahan ketiga UUD 1945 pasal 23A yang menyatakan “pajak dan

pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dalam undang-undang”.

2. Tidak mendapatkan jasa timbal balik (kontraprestasi perseorangan) yang dapat ditunjukkan secara langsung.

3. Pemungutan pajak ditunjukkan untuk keperluan pembiayaan umum pemerintah dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan, baik rutin maupun pembangunan.

4. Pemungutan pajak dapat dipaksakan. Pajak dapat dipaksakan apabila wajib pajak tidak memenuhi kewajiban perpajakan dan dapat dikenakan sanksi sesuai peraturan perundag-undangan.

5. Untuk mengisi kas negara/anggaran negara yang diperlukan untuk menutup pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan, pajak juga berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan negara dalam lapangan ekonomi dan sosial (fungsi mengatur / regulatif).

(4)

I.5.1.1. Jenis-jenis pajak. Di tinjau dari segi lembaga pemungut pajak dapat di bagi menjadi dua jenis yaitu:

1. Pajak Negara, sering disebut juga pajak pusat yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat yang terdiri dari:

a. Pajak Penghasilan.

b. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. c. Bea Materai.

d. Bea Masuk. e. Cukai.

2. Pajak Daerah sesuai UU 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, berikut jenis-jenis Pajak Daerah:

A. Pajak Provinsi terdiri dari:

a. Pajak Kendaraan Bermotor.

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. d. Pajak Air Permukaan.

e. Pajak Rokok.

B. Jenis Pajak Kabupaten/Kota terdiri dari: a. Pajak Hotel.

b. Pajak Restoran. c. Pajak Hiburan. d. Pajak Reklame.

e. Pajak Penerangan Jalan.

f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan. g. Pajak Parkir.

h. Pajak Air Tanah.

i. Pajak Sarang Burung Walet.

j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan. k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

(5)

I.5.1.2. Dasar hukum pajak bumi dan bangunan. Pajak bumi dan bangunan adalah pajak yang diberikan dan dipungut atas suatu bidang tanah dan bangunan karena adanya keuntungan dan/atau kedudukan sosial ekonomi yang lebih baik bagi orang atau badan yang mempunyai suatu hak atasnya atau memperoleh manfaat dari padanya (Undang-Undang No. 12 Tahun 1985).

Adapun Dasar Hukum yang berkaitan dengan pajak bumi dan bangunan antara lain:

a. UU No.12 Tahun 1985 tentang PBB.

b. PP No.46 Tahun 1985 tentang persentase NJKP pada PBB.

c. Kep.Menkeu No.1002/KMK.04/1985 tentang Tata Cara Pendaftaran Obyek Pajak PBB.

d. Kep.Menkeu No.1003/KMK.04/1985 tentang Penuntun Klasifikasi dan Besarnya NJOP sebagai dasar pengenaan PBB.

e. Kep.Menkeu No.1006/KMK.04/1985 tentang Tata Cara Penagihan PBB dan penunjukkan pejabat yang berwenang mengeluarkan Surat Paksa.

f. Kep.Menkeu No.1007/KMK.04/1985 tentang Pelimpahan Wewenang Penagihan PBB kepada Gubernur Kepala Daerah TK I dan/atau Bupati/Walikota Madya Kep. Daerah TK II.

g. Peraturan Daerah Kabupaten Jembrana nomor 12 Tahun 2011 tentang PBB Perdesaan dan Perkotaan.

I.5.2. Peta Blok

Peta Blok adalah peta yang menggambarkan sekelompok obyek-obyek pajak yang disertai dengan nomor obyek pajaknya dan dibatasi oleh suatu karakteristik fisik yang tidak berubah dalam jangka waktu yang lama, baik berupa batas alam atau batas buatan manusia (Kementerian Keuangan, 2012). Dalam penggunaanya, peta blok dimanfaatkan dalam rangka penetapan luas bidang tanah dan letak relatif suatu obyek pajak. Peta blok terdiri beberapa variasi skala, 1:500 untuk wilayah padat perkotaan, sampai dengan skala 1:1000 untuk wilayah pedesaan.

Di dalam peta blok yang dikeluarkan, terdapat Nomor Objek Pajak (NOP) yang menjadi identitas setiap obyek pajak yang berupa bidang tanah. Nomor Obyek Pajak adalah nomor identifikasi obyek pajak (termasuk obyek pajak yang dikecualikan

(6)

sebagaimana Pasal 3 UU No 12 TAHUN 1985 s.t.d.t.d UU No. 12 Tahun 1994) yang memiliki karakteristik unik, permanen, standar dengan satuan blok dalam satu wilayah administrasi pemerintahan desa/kelurahan yang berlaku secara nasional, pemberian NOP pada masing-masing obyek pajak dilakukan dengan spesifikasi sebagai berikut:

1. Unik, artinya satu obyek PBB hanya memiliki satu NOP dan NOP berbeda satu dengan yang lainnya.

2. Tetap, artinya NOP diberikan pada obyek pajak tidak berubah dalam jangka waktu yang relatif lama.

3. Standar, artinya hanya ada satu sistem pemberian NOP yang berlaku secara nasional.

Dalam pelaksanaan penyusunan NOP kepada suatu obyek pajak terdapat ketentuan-ketentuan yang menyatakan NOP terdiri dari 18 digit dengan struktur sebagai berikut:

1. 2 digit pertama : Kode Dati I 2. 2 digit kedua : Kode Dati II 3. 3 digit ketiga : Kode Kecamatan 4. 3 digit keempat : Kode Desa/Kelurahan 5. 3 digit kelima : Kode Nomor Blok 6. 4 digit keenam : Nomor Urut Obyek 7. 1 digit ketujuh : Kode Khusus I.5.3. Peta

Menurut Aryono Prihandito (1989), peta merupakan gambaran permukaan bumi dengan skala tertentu, digambar pada bidang datar melalui sistem proyeksi tertentu. Dalam membuat peta, tak terlepas dari tujuan dan fungsi peta tersebut, adapun fungsi dan tujuannya adalah sebagai berikut:

Fungsi peta:

a. Menunjukkan posisi atau lokasi suatu tempat dipermukaan bumi.

b. Memperlihatkan ukuran jarak maupun luas suatu tempat di permukaan bumi. c. Memperlihatkan bentuk detil dipermukaan bumi, misalnya gunung, sungai,

(7)

d. Mengumpulkan dan menyeleksi data dari suatu daerah dan menyajikannya di atas peta.

Tujuan Peta:

a. Untuk komunikasi tentang informasi spasial (ruang). b. Untuk menyimpan informasi.

c. Digunakan untuk membantu pekerjaan di bidang konstruksi, misalnya pembuatan dan perbaikan jalan, navigasi, perencanaan dan lain-lain.

d. Digunakan untuk membantu dalam perancangan suatu pekerjaan, misalnya tata kota, tata guna lahan, perencanaan jalur/jalan dan lain sebagainya.

e. Untuk analisis data spasial, misalnya perhitungan luas, volume tanah galian dan timbunan, kemiringan lahan/tanah dan lain sebagainya.

I.5.4. Jenis-Jenis Peta

Peta pada umumnya dapat dibagi berdasarkan skala dan data yang disediakan oleh peta tersebut.

Berdasarkan skalanya peta dapat diklasifikasikan menjadi lima, yaitu (Prihandito, 1989):

1. Peta kadaster, berskala 1:100 sampai 1: 5000. 2. Peta skala besar, berskala 1:5000 sampai 1:250000. 3. Peta skala sedang, berskala 1:250000 sampai 1:500000. 4. Peta skala kecil, berskala 1:500000 sampai 1: 1000000. 5. Peta skala geografis, berskala lebih dari 1:1000000.

Berdasarkan data yang disediakan, terdapat dua macam bentuk peta : 1. Peta umum

Peta umum merupakan peta yang menggambarkan keadaan kenampakan alam suatu daerah dan batas-batas administrasi suatu wilayah / Negara yang biasa digunakan untuk bermacam-macam tujuan.

2. Peta Khusus / Peta Tematik

Peta tematik merupakan peta yang menampilkan hubungan keruangan, kenampakan tertentu di permukaan bumi dalam bentuk atribut tunggal atau hubungan atribut seperti geologi, geografis, pertanahan dan sebagainya. Contoh dari peta tematik antara lain Peta Geologi, Peta Air Tanah, Peta Irigasi.

(8)

Berdasarkan jenis-jenis peta berikut ini macam bentuk peta:

1. Peta datar yaitu peta yang dijadikan dasar untuk pembuatan peta lainnya seperti peta topografi, peta tematik dan peta-ptea turunan lainnya (Prihandito, 1989). 2. Peta topografi, yaitu peta umum yang memuat unsur-unsur alam dan unsur

buatan manusia diatas permukaan bumi (Prihandito, 1989).

3. Peta tematik, yaitu suatu peta khusus yang memperlihatkan informasi kualitatif dan kuantitatif pada unsur tertentu (Prihandito, 1989).

4. Peta elektronik, yaitu suatu komputerisasi informasi geografi terkait dengan penyajian peta dalam beberapa tema yang disesuaikan dengan tujuan pembuatan peta (Kraak, 1998).

I.5.5. Peta Interaktif

Sebuah peta dikatakan interaktif apabila pengguna dapat melakukan suatu perintah-perintah navigasi tertentu atau mengubah-ubah tampilan untuk memilih informasi sesuai apa yang dinginkan sehingga dapat memahami informasi yang terdapat di dalam peta tersebut (Kraak, 1998 pada Kurniasari, 2013). Pada peta interaktif lebih banyak mempunyai fasilitas manipulasi data, tetapi hanya terbatas pada mengubah suatu klasifikasi dan penambahan jumlah kelas. Peta interaktif dilengkapi dengan perintah-perintah seperti zooming, panning, dan hyperlink ke informasi lain yang ingin ditampilkan oleh pengguna.

I.5.6. Kartografi

Kartografi merupakan suatu seni, ilmu, dan teknik pembuat peta yang menyatakan bahwa peta merupakan gambaran dari permukan bumi dalam skala tertentu dan digambarkan pada bidang datar menggunakan simbol-simbol tertentu melalui proyeksi peta (Prihandito, 1989). Peta mengandung arti komunikasi, artinya peta merupakan suatu penghubung antara pembuat peta (kartografer) dan pengguna peta. Oleh karena itu, peta digunakan oeh seorang pembuat peta untuk menyampaikan suatu informasi spasial dalam bentuk gambar kepada pengguna peta. Untuk mempresentasikan suatu hasil dari peta yang informatif, dibutuhkan pekerjaan kartogafi, terutama dari pemanfaatan komponen-komponen kartografi.

(9)

Simbolisasi merupakan salah satu dari komponen-komponen kartografi yang mempunyai arti suatu kegiatan pemberian simbol untuk mewakili fitur di dalam peta. Pembuatan simbol harus memperhatikan berbagai faktor, antara lain skala peta, fenomena alam yang akan dipetakan, ketersediaan data dan metode tampilan dari peta yang akan dibuat.

Untuk memudahkan pelaksanaan simbolisasi dari banyak variasi data, maka diadakan klasifikasi simbol, berdasarkan bentuknya simbol kartografi dapat diklasifikasikan menjadi (Prihandito, 1989):

1. Simbol Titik: menyajikan tempat atau data posisional seperti simbol kota, bangunan, dan sebagainya.

2. Simbol Garis (arc): menyajikan data geografis berbentuk garis seperti jalan, sungai, dan sebagainya.

3. Simbol Luasan (area): menunjukkan kenampakan area atau suatu luasan tertentu seperti danau.

Gambar I.1. Klasifikasi simbol pada peta

Menurut Prihandito, (1989) secara umum simbol kartografi dikelompokkan menjadi tiga kategori menurut ciri-cirinya, yaitu sebagai berikut:

1. Simbol piktorial atau gambar simbol, merupakan suatu simbol yang digambar sesuai dengan bentuk nyatanya maupun bentuk yang telah disederhanakan. 2. Simbol geometrik atau abstrak, merupakan suatu simbol yang dibentuk secara

teratur untuk mewakili suatu bentuk pada dunia nyata dan tidak mempunyai ciri-ciri khusus yang mewakili bentuk tersebut.

Rumah sakit Jalan

(10)

3. Simbol huruf atau angka, merupakan simbol yang disusun atau yang dibentuk oleh angka atau huruf, biasanya digunakan untuk menyatakan unsur tertentu yang sangat khas.

I.5.5.1 Variabel tampak. Pada kartografi merupakan variasi gambar yang dapat diterima mata atau pengguna peta sebagai bentuk dari suatu informasi. Menurut Riyadi (1994), ada tujuh variabel di dalam kartografi yang digunakan dalam pembuatan simbol, yang menyatakan bahwa variabel ini digunakan untuk membedakan antara simbol satu dengan simbol lainnya. Rancangan pembuatan suatu simbol dapat menggunakan satu dari variabel tampak dan juga dapat dari kombinasi beberapa varibel tampak untuk membuat suatu simbol tampak berbeda dengan simbol-simbol lainnya. Berikut ini merupakan ketujuh variabel tampak tersebut.

Gambar I.2. Variabel tampak (Riyadi,1994)

1. Posisi, merupakan variabel tampak yang dipakai untuk memberikan informasi lokasi.

2. Bentuk, merupakan variabel yang dibuat untuk membedakan suatu simbol dengan simbol lainnya berdasarkan bentuknya.

3. Orientasi, merupakan salah satu dari variabel tampak yang membedakan suatu simbol berdasarkan arah simbol.

4. Warna, merupakan variabel tampak yang sering digunakan untuk membuat simbol dari suatu peta. Dengan warna, perbedaan suatu simbol dengan simbol

(11)

lainnya mudah terlihat dengan jelas ketika mata melihat langsung objek tersebut.

5. Teksture, merupakan variabel tampak yang menunjukkan variasi dari elemen gambar value yang tetap.

6. Value, merupakan variabel tampak yang menunjukan derajat keabuan (greyscale) dengan kisaran dari putih sampai hitam.

7. Ukuran, merupakan variabel tampak yang digunakan untuk menunjukkan variasi dari besaran suatu simbol.

I.5.5.2 Pemahaman variabel tampak. Menurut Riyadi (1994), sifat pemahaman suatu simbol terdiri dari 4 hal yaitu:

1. Pemahaman Asosiatif, merupakan pemahaman saat reaksi awal sewaktu mata melihat simbol secara spontan, pengguna peta akan menganggap semua simbol tersebut sama pentingnya walaupun berbeda bentuknya.

2. Pemahaman Selektif, merupakan pemahaman saat reaksi awal sewaktu mata melihat simbol secara spontan akan segera mengetahui perbedaan simbol antara satu dengan yang lain dengan cepat. Setiap simbol yang berbeda disusun oleh variabel-varieabel ke dalam kelompok yang berbeda-beda.

3. Pemahaman Order¸ merupakan suatu pemahaman dimana pemahaman order mempunyai artian jika simbol-simbol dapat diketahui perbedaannya dengan cepat oleh variabel yang ditempatkan ke dalam kelas yang berbeda-beda.

4. Pemahaman Kuantitatif, merupakan suatu pemahaman dimana suatu variabel tampak mempunyai pemahaman kuantitatif jika perbedaan simbol-simbol yang disajikan dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain dengan jumlah yang jelas pula.

Berikut ini adalah hubungan antara variabel tampak dan pemahaman terhadap variabel tampak lebih jelas:

(12)

Tabel I.1. Sifat pemahaman variabel tampak (Riyadi,1994)

Sifat Pemahaman

Posisi Bentuk Orientasi Warna Tekstur Value Ukuran

Assosiatif + + + + 0 - - Selektif - - 0 ++ + + + Order - - - - 0 ++ + Kuantitatif - - - ++ Keterangan : ++ : Sangat bagus + : Bagus 0 : Cukup bagus - : Jelek

I.5.7. Action Script

Actionscript merupakan bahasa pemrograman yang ada di dalam software flash. Actionscript digunakan untuk melakukan dan mengendalikan obyek ataupun movie dengan menggunakan berbagai macam operasi tertentu yang dapat

menghasilkan suatu animasi atau movie menjadi lebih interaktif. Dalam penggunaan dan pemanfaatannya, software Adobe Flash Professional CS 6 sebenarnya bisa tidak menggunakan actionscript, tapi untuk menampilkan suatu interaktifitas yang lebih komplek maka actionscript ini dibutuhkan. Struktur dasar dari sebuah aksi atau perintah dalam actionscript adalah:

SaatSesuatuTerjadi(input) {

lakukanAksi }

Ada dua macam action yang terdapat dalam actionscript, object actions dan

(13)

1. Object actions adalah sebuah perintah dari Actionscript yang ditempatkan di dalam obyek yang dikenal dengan symbol baik itu MovieClip ataupun

Button dan Graphic. MovieClip dan Button bisa diberikan Actions

sedangkan pada Graphic tidak. Object action menempati instance dari sebuah symbol, bukan symbol itu sendiri. Symbol yang sudah di dalam stage (bukan dalam library) mempunyai properties dan metode masing masing.

2. Frame Actions dalam penggunaanya hampir sama dengan object action.

Frame Action adalah actionscript yang disisipkan pada frame di movie

flash dan script ini akan berjalan apabila movie berada pada frame yang telah disisipi oleh actionscript. Dalam penempatannya, actionscript ditempatkan dalam panel action yang terdapat di suatu frame.

I.5.8. XML

XML merupakan singkatan dari eXtensible Markup Language didesain sebagai

solusi komunikasi universal antar software dari platform yang berbeda. XML dikembangkan mulai tahun 1996 dan mendapatkan pengakuan dari World Wide Web

Consortium (W3C) pada bulan Februari 1998. Teknologi yang digunakan pada XML

sebenarnya bukan teknologi baru, tapi merupakan turunan dari Standard

Generailized Markup Language (SGML) yang telah dikembangkan pada awal 80-an

dan telah banyak digunakan pada dokumentasi teknis proyek-proyek berskala besar. Ketika HTML dikembangkan pada tahun 1990, para penggagas XML mengadopsi bagian paling penting pada SGML dan dengan berpedoman pada pengembangan HTML menghasilkan markup language yang tidak kalah hebatnya dengan SGML (Junaedi, 2003).

Seperti halnya HTML, XML juga menggunakan elemen yang ditandai dengan tag pembuka (diawali dengan ‘<’ dan diakhiri dengan ‘>’), tag penutup (diawali dengan ‘</ ‘diakhiri ‘>’) dan atribut elemen (parameter yang dinyatakan dalam tag pembuka misal <form name=”isidata”>). Hanya bedanya, HTML mendefinisikan dari awal tag dan atribut yang dipakai didalamnya, sedangkan pada XML kita bisa menggunakan tag dan atribut sesuai kehendak kita (Junaedi, 2003).

(14)

Sebuah dokumen XML terdiri dari bagian bagian yang disebut dengan node. Node-node itu adalah (Junaedi, 2003):

a. Root node yaitu node yang melingkupi keseluruhan dokumen. Dalam satu dokumen XML hanya ada satu root node. Node-node yang lainnya berada di dalam root node.

b. Element node yaitu bagian dari dokumen XML yang ditandai dengan tag pembuka dan tag penutup.

c. Attribute note termasuk nama dan nilai atribut ditulis pada tag awal sebuah elemen atau pada tag tunggal.

d. Text node, adalah text yang merupakan isi dari sebuah elemen, ditulis diantara tag pembuka dan tag penutup

e. Comment node adalah baris yang tidak dieksekusi oleh parser

f. Processing Instruction node adalah perintah pengolahan dalam dokumen

XML. Node ini ditandai awali dengan karakter <? Dan diakhiri dengan ?>.

Tapi perlu diingat bahwa header standard XML <?xml version=”1.0”

encoding=”iso-8859-1”?> bukanlah processing instruction node. Header standard bukanlah bagian dari hirarki pohon dokumen XML.

Gambar

Gambar I.1. Klasifikasi simbol pada peta
Gambar I.2. Variabel tampak (Riyadi,1994)
Tabel I.1. Sifat pemahaman variabel tampak (Riyadi,1994)

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Bupati Nomor 8 Tahun 2019 tentang Standar Biaya Tugas Belajar Bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Sanggau (Berita

Sistem yang berjalan merupakan sistem yang masih manual yang menggunakan sumber daya manusia dan form-form kertas sebagai proses pelaksanaan pelayanan administrasi

Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Rata-rata Current Ratio (CR) adalah 16,72, rata-rata Debt to Asset Ratio (DAR) adalah 0,41, rata-rata Return On Asset

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: 1) trend inflasi, suku bunga, investasi dan pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi; 2) pengaruh inflasi, suku bunga, investasi

Dengan asumsi bahwa belum banyak penelitian yang mengkhususkan pada rumah sakit tipe C, maka penelitian ini dilakuakan untuk mengetahui pengaruh Brand Image,

Menurut penulis, setelah membaca beberapa teori tentang akad murabahah dan wakalah, serta memandang kemaslahatan yang dapat diambil dari pembiayaan ini, maka transaksi

Kebijakan yang dikaji terkait kurikulum dan rencana kegiatan anggaran sekolah yang mendukung upaya pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan; pelaksanaan kurikulum

Sebab NILAI MAKSIMAL yang dapat diukur bila kita memposisikan Saklar Pemilih pada skala 2.5 adalah hanya 2.5 Volt saja, se- hingga untuk mengukur Nilai 9Volt maka saklar