• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA

SALINAN

PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 16 TAHUN 2013

TENTANG

PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSPEKTORAT, BADAN PERENCANAAN

PEMBANGUNAN DAERAH DAN LEMBAGA TEKNIS DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA SAMARINDA,

Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dan hasil

evaluasi kelembagaan daerah perlu dilakukan penyesuaian nomenklatur Inspektorat Daerah;

b. bahwa untuk melaksanakan perencanaan dalam program kerja koordinasi dengan pemerintah daerah dengan pemerintah provinsi, perlu dilakukan penyesuaian nomenklatur Badan Perencanaan Pembangunan Daerah;

c. bahwa untuk kelancaran penyelenggaraan urusan pemerintahan dan hasil evaluasi kelembagaan perlu dilakukan penyesuaian nomenklatur Badan Penanggulangan Bencana Daerah;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah Kota Samarinda;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan sebagai

(2)

Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1820);

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA SAMARINDA dan

WALIKOTA SAMARINDA MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSPEKTORAT, BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN LEMBAGA TEKNIS DAERAH KOTA SAMARINDA.

Pasal I

Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lembaga Teknis Daerah Kota Samarinda (Lembaran Daerah Kota Samarinda Tahun 2008 Nomor 12), yang telah beberapa kali diubah dengan Peraturan Daerah:

a. Nomor 10 Tahun 2011 (Lembaran Daerah Kota Samarinda Tahun 2011 Nomor 10);

b. Nomor 6 Tahun 2012 (Lembaran Daerah Kota Samarinda Tahun 2012 Nomor 6);

diubah sebagai berikut:

1. Ketentuan Pasal 6 dan Lampiran I diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 6

(1) Susunan Organisasi Inspektorat Daerah, terdiri atas: a. Inspektur;

b. Sekretaris membawahi: 1. Sub Bagian Perencanaan;

(3)

2. Sub Bagian Evaluasi dan Pelaporan; dan 3. Sub Bagian Administrasi dan Umum. c. Inspektur Pembantu Wilayah I;

d. Inspektur Pembantu Wilayah II; e. Inspektur Pembantu Wilayah III; f. Inspektur Pembantu Wilayah IV; g. Kelompok Jabatan Fungsional; dan

(2) Bagan Struktur Organisasi Satuan Kerja Perangkat Daerah Inspektorat Daerah sebagaimana tercantum dalam Lampiran I merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

2. Ketentuan Pasal 10 dan Lampiran II diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 10

(1) Susunan Organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah terdiri atas:

a. Kepala Badan;

b. Sekretariat terdiri dari: 1. Sub Bagian Umum;

2. Sub Bagian Keuangan; dan

3. Sub Bagian Perencanaan Program. c. Bidang Evaluasi dan Statistik terdiri dari:

1. Sub Bidang Statistik dan Dokumentasi; dan 2. Sub Bidang Analisa, Penilaian dan Pelaporan.

d. Bidang Perencanaan Prasarana dan Pengembangan Wilayah terdiri dari:

1. Sub Bidang Prasarana Wilayah; dan 2. Sub Bidang Pengembangan Wilayah. e. Bidang Perencanaan SDM terdiri dari:

1. Sub Bidang Pendidikan, Mental dan Spiritual; dan 2. Sub Bidang Kesejahteraan Rakyat.

f. Bidang Perencanaan Pemerintahan dan Aparatur terdiri dari:

1. Sub Bidang Pemerintahan; dan 2. Sub Bidang Aparatur.

g. Bidang Perencanaan Ekonomi terdiri dari:

1. Sub Bidang Pengembangan Dunia Usaha, Pariwisata dan Budaya; dan

2. Sub Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup.

h. Kelompok Jabatan Fungsional.

i. Bagan Struktur jabatan organisasi SKPD Badan Perencanaan Pembangunan Daerah sebagaimana tersebut dalam Lampiran II Perda ini dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan

(4)

(2) Bagan Struktur Organisasi Satuan Kerja Perangkat Daerah Inspektorat Daerah sebagaimana tercantum dalam Lampiran II merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

3. Diantara Pasal 42 dan Pasal 43 disisipkan 3 (tiga) paragraf dan 7 (tujuh) pasal yakni Paragraf 5 Pasal 42A, Paragraf 6 Pasal 42B, Pasal 42C, serta Paragraf 7 Pasal 42D, Pasal 42E, Pasal 42F dan Pasal 42G serta Lampiran X diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 42A

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai tugas:

a. memimpin; membina, mengawasi dan mengendalikan tugas-tugas unsur pengarah dan unsur pelaksana dalam penyusunan dan penetapan;

b. mengoordinasikan kegiatan operasional kebijakan program-program kerja Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana secara terencana, terpadu dan menyeluruh dalam penanganan pengungsi;

c. menyelenggarakan penanggulangan bencana sebagaimana dimaksud pada butir b meliputi:

1. pencegahan Bencana;

2. penanganan darurat rehabilitasi dan rekonstruksi secara adil dan setara atas resiko dan dampak Bencana;

3. penanganan dampak/akibat bawaan dari suatu peristiwa atau serangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan:

a) faktor alam; b) non alam; dan c) manusia.

yang mengakibatkan timbulnya kerugian, korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis

4. menerapkan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) di lingkungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

Pasal 42B

(1) Unsur pengarah Badan Penanggulangan Bencana Daerah merupakan tim kerja yang mempunyai tugas:

a. sebagai unsur penunjang untuk membantu pelaksanaan tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah; dan

b. memberikan masukan dan saran dalam upaya penanggulangan bencana.

(5)

(2) Unsur pengarah Badan Penanggulangan Bencana daerah terdiri atas:

a. 5 (lima) orang pejabat paling rendah Eselon III dari Satuan Kerja Perangkat Daerah; dan

b. 4 (empat) orang tenaga profesional yakni pakar, profesional dan tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan akademis dan pengalaman dalam penanggulangan bencana.

(3) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), unsur pengarah Badan Penanggulangan Bencana Daerah menyelenggarakan fungsi:

a. penyusunan, perumusan, dan pelaksanaan kebijakan Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Daerah sebagai upaya pencegahan Bencana;

b. penyelenggaraan, pengoordinasian, sinkronisasi dan integrasi program pelaksanaan pemantauan terhadap usaha dan kebutuhan Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana termasuk usaha pencegahan Bencana; dan

c. pengevaluasian dalam Penyelenggaraan Penanggulangan pencegahan Bencana.

Pasal 42C

Susunan organisasi Unsur Pengarah Badan Penanggulangan Bencana Daerah terdiri atas:

1. Ketua yaitu Kepala Badan; dan

2. Unsur Pengarah Badan Penanggulangan Bencana Daerah terdiri atas:

a. 5 (lima) orang Pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah; dan

b. 4 (empat) orang tenaga profesional. Pasal 42D

(1) Unsur pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah merupakan satuan kerja sebagai unsur penunjang yang mempunyai tugas:

a. sebagai unsur penunjang untuk membantu pelaksanaan tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah; dan

b. mendukung dan membantu melaksanakan usaha pencegahan bencana dan penanggulangan Bencana. (2) Pencegahan dan penanggulangan Bencana dilakukan

secara terencana, terpadu dan sistematis meliputi tahapan: a. pra Bencana;

b. tanggap darurat; dan c. pasca Bencana.

(6)

(3) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), unsur pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah menyelenggarakan fungsi:

a. koordinasi; b. komando; dan c. pelaksana.

Pasal 42E

(1) Fungsi koordinasi unsur pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah dilakukan melalui koordinasi dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah lainnya di daerah, instansi vertikal yang ada di daerah, lembaga usaha dan/atau pihak lain yang diperlukan pada tahap prabencana dan pasca bencana.

(2) Fungsi komando unsur pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah dilakukan melalui pengerahan sumber daya manusia, peralatan, logistik dari dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah lainnya, instansi vertikal yang ada di daerah serta langkah-langkah lain yang diperlukan dalam rangka penanganan darurat bencana.

(3) Fungsi pelaksana unsur pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah dilakukan secara terkoordinasi dan terintegrasi dengan dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah lainnya, instansi vertikal lainnya yang ada di daerah dengan memperhatikan kebijakan penyelenggaraan penanggulangan bencana dan usaha pencegahan bencana yang merujuk pada ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 42F

(1) Susunan organisasi unsur pelaksana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah terdiri atas:

a. Kepala Pelaksana;

b. Sekretariat unsur pelaksana membawahi: 1. Sub Bagian Umum;

2. Sub Bagian Keuangan; dan

3. Sub Bagian Perencanaan Program.

c. Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan membawahi: 1. Seksi Pencegahan dan Mitigasi; dan

2. Seksi Kesiapsiagaan dan Pemberdayaan Masyarakat.

d. Bidang Kedaruratan dan Logistik membawahi: 1. Seksi Tanggap Darurat dan Evakuasi; dan 2. Seksi Logistik dan Sarana Prasarana.

e. Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi membawahi: 1. Seksi Perbaikan dan Pemulihan; dan

(7)

f. Kelompok Jabatan Fungsional.

(2) Bagan Struktur Organisasi Jabatan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah sebagaimana tercantum dalam Lampiran X, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Pasal 42G

Unsur pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42D dapat membentuk satuan tugas, Team Reaksi Cepat dan posko penanggulangan.

Pasal II

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Samarinda.

Ditetapkan di Samarinda

pada tanggal 17 Desember 2013 WALIKOTA SAMARINDA,

ttd

SYAHARIE JA’ANG Diundangkan di Samarinda

pada tanggal 17 Desember 2013

SEKRETARIS DAERAH KOTA SAMARINDA,

ttd

ZULFAKAR NOOR

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA TAHUN 2013 NOMOR 16.

Salinan sesuai dengan aslinya

Sekretariat Daerah Kota Samarinda

Kepala Bagian Hukum ttd

SUPARMI, SH, MH.

Referensi

Dokumen terkait

Jika perbaikan ingin berkelanjutan, maka sistem pemerintah municipal dan metode administrasinya harus dirubah, dan harus ada prinsip administrasi dan sarana arah,

• Isu kemitraan meskipun terdapat dalam buku yang lain, tapi perlu juga untuk dibahas di sini karena terkait dengan sub

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang proses pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe team

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmatNya, dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Efektivitas Penggunaan Media Messengger Whatsapp

Respon patofisiologi di usus hampir sama seperti yang terjadi di dalam saluran napas pada rhinitis alergika atau asma, yaitu terdapat respon anafilaksis di usus

Hal ini sejalan dengan data dari BPTPH Medan yang menyatakan bahwa serangan layu fusarium di Kecamatan STM Hilir pada tahun 2012 termasuk dalam kategori besar yaitu

Dalam menghadapi pemilu legislatif tahun 2019 di Tangerang Selatan, caleg PSI Tangerang Selatan menggunakan strategi komunikasi politik dengan pendekatan kultural