• Tidak ada hasil yang ditemukan

love in Sunset (Novel)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "love in Sunset (Novel)"

Copied!
183
0
0

Teks penuh

(1)

1

Love in sunset

(2)

2

KEPADA MEREKALAH AKU UCAPKAN

TERIMA KASIH

Selepas dari semua yang telah beliau hendaki, tak luput rasanya diriku berterima kasih pada-Nya. Terima kasih Tuhan. Yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada diriku. Membiarkanku tetap hidup dan bernafas sehat hingga

saat ini. Terima kasih atas kesempatan yang engkau berikan, dalam menyelesaikan novel ke duaku ini.

Terima kasih kepada ke dua orang tuaku (Luhmiharso dan Kasiatun), para pembaca, teman-temanku, orang terdekatku, guru-guruku. Terima kasih banyak.

(3)

3

DAFTAR ISI

Kepada Merekalah Aku Ucapkan Terima Kasih ... 2

Daftar Isi... 3

Prolog ... 5

Selamat Pagi ... 7

Samuel Mengenalkan Sahabatnya... 17

Pertemuan Kedua Yang Tak Disengaja ... 22

Fiki Mengajakku Mencari Novel ... 29

Potongan-Potongan Masa Lalu Yang Menggangguku ... 36

Pertemuan Itu Membuatku Jatuh Cinta ... 48

Secepat Itu Jatuh Cinta, Secepat Itu Aku Terluka... 55

Aku Menunggu Cinta Yang Tak Pasti ... 57

Aku Yakin Dengan Perasaanku Dan Aku Akan Menunggunya ... 60

Harapanku Terwujud, Dia Telah Kembali ... 62

(4)

4

Hari Yang Indah Untuk Cinta Yang Telah Bersemi ... 88

Secepat Itu, Fiki Melamarku ... 109

Dua Kejutan Yang Tak Pernah Terlupakan ... 118

Menikahi Fika, Adalah Pilihanku ... 126

Hari Lamaranku Dengan Fiki ... 128

Fika Adalah Adik Kandung Fiki ... 138

Potongan Masa Lalu Itu ... 142

Hari Ini Aku Resmi Mengubur Harapan Itu Hidup-Hidup ... 147

Aku Mengutuk Diriku, Mengutuk Harapanku ... 151

Fika Jatuh Sakit ... 158

Kuatkan Dirimu Fika... 162

Bertahanlah Fika ... 166

Selamat Jalan Fika... 175

Epilog ... 179

(5)

5

prolog

Rembulan malam yang menampakkan dirinya begitu anggun. Dengan cahaya sinar yang mempesona dikeheningan malam. Angin yang berhebus lembut menegaskan suatu roman yang sangat indah. Semilir angin itu melukiskan suatu malam yang sepi abadi. Disertai rintik-rintik gerimis keci yang semakin membuat malam ini begitu dingin menggigil. Ya memang dipertengahan bulan ini telah terjadi pergantian musim yang begitu drastis. Terkadang panas dan terkadang turun hujan tak menentu. Halilintarpun menggelegar memecahkan keheningan malam. Terlihat gelap di sudut-sudut rumah. Tanpa penerangan, dan seisi rumah saat itu memamngvtelah tertidur dan mematikan semua lampunya. Hanya seberkas cahaya rembulan yang menyusup di balik tirai jendela kamar seorang gadis.

Fika Anggraini terlihat duduk dan menopang dagunya dengan kedua tangan. Ia menatap kearah luar cendela. Menatap indahnya rembulan yang menggantung di langit biru yang sedang mendung. Ia hembuskan nafas panjangnya. Fikirannya begitu kosong. Hanya terdengar suara tik..tik..tik sebuah jam beker, dan gemericik hujan yang tiada hentinya. Begitu gelap saat itu. Ia

(6)

6

memang sengaja tak menghidupkan lampu kamarnya. Ia merasa sangat kelelahan dengan rutinitas hari ini. Pekerjaannya yang begitu banyak telah menguras tenaganya. Fika menatap jam beker, sudah menunjukkan pukul 01.15. Entah mengapa ia tak bisa memejamkan mata. Padahal sebenarnya tenaganya yang telah terkuras lebih memudahkan ia untuk cepat tertidur.

Tiba-tiba ia merasakan pening di kepalanya. Rasa pening itu lama kelamaan menjadi rasa sakit yang tak bisa ia tahan. Dadanya sesak bahkan sulit sekali untuk bernafas. Fikirannya begitu kacau. Bayangan itu datang lagi. Telinganya tiba-tiba mendengung. Terdengar suara klakson kereta yang sangat keras di telinganya. Terlihat pula begitu jelas lalu lalang orang yang berlarian dan menjerit di fikirannya. Pekikkan suara sirine kebakaran, tangisan beberapa orang dan teriakan, serasa semua suara tersebut memenuhi telinganya dan fikirannya. Arrggghhhh.... ia menjambak-jambak rambutnya. Ia tak bisa menahan rasa sakit kepala yang begitu hebat. Serasa diotaknya ada sebuah bom yang siap meledak saat itu juga. Bayangan dan suara-suara itu datang lagi, dan selalu muncul di fikirannya. Entah dari mana datangnya suara dan bayangan itu. Setiap malam, setiap waktu, selalu ia dihantui oleh suara dan bayangan itu. Padahal jarak antara rumahnya dan stasiun kereta sejauh tiga ratus meter dan tak pernah terdengar suara kereta sedekat itu. Tapi anehnya suara itu begitu jelas dan selalu menghantui jiwanya setiap saat. Fika merasa sangat terganggu akan semua itu. Keadaan kembali normal. Sampai akhirnya Fika tertidur dalam bayang-bayang yang menakutkan.

(7)

7

Selamat pagi

Mentari pagi telah bersinar dengan terangnya. Hujan tadi malam membuat pagi begitu segar. Ya...cuaca hari ini sangatlah cerah. Terlihat awan putih yang menggantung indah diatas langit. Burung-burungpun tak ketinggalan meramaikan pagi yang cerah ini. Fika bangun dan membuka jendela kamarnya. Ia hirup udara luar dalam-dalam hingga memenuhi rongga perutnya. Kemudian ia hembuskan secara perlahan-lahan. “Segar..” Fika tersenyum.

Minggu pagi yang indah. Fika merapikan kamarnya yang terlihat sedikit berantakan. Ia melihat jam dinding, jam menunjukkan pukul 08.30. Fika tertegun sebentar, sepertinya ada yang ia fikirkan. Fika menggaruk-garuk kepala dan mencoba untuk mengingat-ingat. Jam delapan pagi, apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia kerjakan di hari liburnya? Dengan siapa ia akan pergi hari ini? Ia teringat sesuatu, merangkai potongan-potongan dalam ingatanya. “Samuel”.”

Jam sembilan”,“Kafe”,”Dekat tempat kerjanya.” Ia mulai merangkai kata-kata

yang ada di fikiranya. Hari ini Fika ada janji dengan Samuel di kafe dekat tempat kerjanya jam sembilan. “Astaga, aku lupa kalau hari ini aku ada janji dengannya.

(8)

8

Ia kembali menatap jam diding pukul 08.35. Mati aku sekarang!” Fika bergegas menuju kamar mandi untuk mandi secepat kilat. Mengejar waktu agar segera bisa menepati janjinya. Setelah ia keluar kamar mandi, ia melihat jam dinding kembali. Pukul 08.50. Kurang sepuluh menit lagi. Ini memang sudah pasti telat. Gara-gara tidur larut malam, sekarang ia bangun kesiangan. Tak hiraukan akan hal itu. Ia kenakan baju seadanya tanpa pilih-pilih. Pukul 08.55 Fika bergegas meninggalkan rumah.

***

Di sebuah kafe, terlihat banyak orang yang berlalu lalang disana. Terlihat sesosok pria yang sedang duduk sendiri. Ia terus memandangi jam tangannya. Pukul 09.55. Terlihat ia sedang menunggu seseorang. “Sudah hampir satu jam, apakah dia akan kesini?” Pria itu menunggu dengan was-was. Ia menyesap teh hangat yang telah terhidang, untuk menenangkan dirinya. “Ahh.. enak sekali teh ini?” Puji pria dengan teh yang telah ia pesan. Ia kembali menatap ponselya. Ia mencoba menanyakan keberadaan temannya melalui pesan singkat. Mulai mengetik SMS. “Huh.. aku harap tak terjadi apa-apa dengannya.” Ia hembuskan nafas dalam-dalam dan menaruh ponselnya diatas meja.

Dari arah kejauhan ada seorang gadis yang sedang membuka pintu kafe. Terlihat sedang mencari- cari seseorang. Memandangi sekeliling orang-orang yang ada di dalam kafe. Melihat ada seorang pria yang duduk di pojok sendiri, ia melambaikan tangan dan menghapiri pria tersebut.

(9)

9

“Maafkan aku Samuel, aku terlambat.” Ucap Fika yang merasa bersalah terhadap Samuel. Samuel hanya diam dan menatap wajah Fika, dengan mengkerutkan keningnya. “Kamu marah ya Sam sama aku?” Fika menundukkan kepala dan menekuk wajahnya didepan Samuel. Samuel tetap terdiam dan menghembuskan nafas dalam-dalam, kemudian ia memperlihatkan wajah muramnya.

“Sudah satu jam aku menunggumu Fik. Aku kira kamu lupa akan pertemuan kita kali ini.” Wajah samuel datar menatap Fika. Kata Samuel yang sedikit kecewa dengan Fika yang telat datang. Fika hanya terdiam dan tetap berdiri didepan Samuel. Ia merasa sangat bersalah telah membuat Samuel menunggu terlalu lama.

“Maafkan aku.” Fika menundukkan wajahnya. Dirinya masih diliputi perasaan bersalah. Fika tak berani menatap wajah Samuel. Ia ketuk- ketukkan jemarinya perlahan di atas meja.

“Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Tak apa-apa kan dengan dirimu Fik?” Samuel tertawa getir melihat tingkah laku Fika yang ketakutan dengannya.

“Maafkan aku Sam. Aku bangun kesiangan sehingga aku tak bisa datang tepat waktu.” Fika masih ketakutan jikalau Sam memarahinya. Ia masih membenamkan wajahnya ke bawah.

“Sudahlah Fika.” Senyum Samuel menyeringai. “Ahh kamu ini kayak baru mengenalku saja. Kita ini sudah kenal lama bukan? Tak sepantasnya kamu takut

(10)

10

denganku. Yang terpenting kamu sudah memenuhi janjimu denganku, aku sudah sangat senang kawan. Hahaha..” Sam tertawa melihat tingkah Fika yang ketakutan seperti itu. “Ayolah, jangan terlalu sungkan. Ini tadi sebagian dari aktingku. Penasaran saja dengan raut wajahmu jika ketakutan seperti apa?”

Fika tersenyum kecut. “Ohh.. jadi kamu tuh tadi ngerajain aku ya Sam. Dasar cowok resek.” Fika gantian yang memarahi Sam sambil memperlihatkan kekesalan wajahnya.

“Sudah deh jangan marah. Aku saja tak marah menunggumu hampir satu jam. Masak kamu baru aku kerjain sedikit sudah mau makan aku hidup-hidup.” Sindir Sam saat itu.

“Aku kira kamu marah beneran denganku Sam. Memang sih aku salah telah datang terlambat? Makanya itu aku merasa bersalah dengan kamu Sam? Fika langsung mengambil teh Samuel dan meminumnya.”Cleguk..clegukk.”

“Hey, teh siapa itu yang kamu minum?” Teriak Samuel yang menyadari teh yang ia pesan telah di rebut oleh Fika.

Fika tertawa. “Haus Sam. Tak apa ya aku habisin?” Fika tetap meneruskan meminum teh Samuel sampai tetes terakhir. “Hmmm.. enak Sam?” Fika mengusap bibirnya yang basah oleh air teh.

“Enak ya enak. Tapi gak punyaku juga kali yang di minum. Kamu kan masih bisa pesan.” Gerutu Samuel yang melihat Fika dengan sengaja menghabiskan tehnya. Cepat- cepat Samuel memalingkan muka karena kecewa.

(11)

11

“Kelamaan Sam. Keburu aku mati kehausan.” Sela Fika

“Ahh.. kamu itu tetap saja tak berubah dari dulu. Gadis resek.” Samuel Tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya saat itu. “Eh bagaimana keadaanmu setelah selesai keluar dari rumah sakit minggu lalu?” Tanya Samuel kepada Fika.

Sebelumnya Fika pernah dirawat di Rumah Sakit. Ia tiba-tiba pingsan tanpa tau sebabnya. Dokterpun belum mengetahui penyakit apa yang kini Fika derita.

“Sudah membaik. Akupun sudah mulai kerja seperti biasa. Eh dikantor, aku tak pernah bertemu dengan Bella pacarmu. Kemana dia?” Tanya Fika kepada Samuel.

Samuel tak langsung menjawab pertanyaan Fika. Ia terlihat murung. Sesekali ia hembuskan nafas panjangnya. Kata-kata mulai muncul di mulut samuel. “Bella sudah keluar dari kantor selama kamu dirawat dirumah sakit. Ia akan pindah dari kota ini, dan akan melangsungkan pernikahan.”

“Oh ya, kenapa kamu tak memberitahuku sebelumnya? Kalian berdua mau menikah. Sungguh ini suatu kejutan hebat. Selamat ya.” Fika mengulurkan tangannya untuk mengucap selamat kepada Sam. Namun Samuel tak membalas uluran tangannya. Samuel masih terduduk dan memperlihatkan wajahnya yang murung. Samuel tak bernafsu dengan ucapan itu. Ia tersenyum getir.

“Tak perlu Fika!!” Kata Sam dengan nada rendah. Fika menurunkan tangannya dan terlihat bingung.

(12)

12

“Loh kenapa Sam, ini berita baik antara kalian berdua. Kenapa kamu bersedih sobat?” Fika menanyakan sikap Sam yang terlihat begitu aneh. Kenapa Samuel menceritakan kabar Bella mau menikah dengan perasaan yang buruk. Sebenarnya ia harus senang karena mereka berdua akan menikah.

“Bukan dengan diriku. Tapi dengan orang lain.” Suara Samuel terdengar serak. Samuel menundukkan wajahnya. Sepertinya ia sangat kecewa.

“Ohh.. maafkan aku. Aku tidak mengetahuinya.” Fika merasa bersalah. Ia tak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. “Ada apa dengan hubungan kalian Sam?” Fika menatap Samuel dengan dingin.

“Aku putus dengan Bella.” Sam menghela nafas dalam-dalam. Fika menyipitkan matanya dan memandangi Samuel dalam-dalam

“Bukannya hubunganmu dengan Bella baru berjalan tiga bulan? Kenapa secepat itu?”

“Ya aku tau. Tapi mungkin aku bukan pilihan tepat dari orang tuanya. Bella di jodohkan orang tuanya dengan laki-laki. Yang aku dengar seperti itu.” terlihat Samuel begitu sedih menceritakan hubungannya dengan Bella.

“Oh.. seperti kisah “Siti Nurbaya” saja. Tabahkan dirimu sobat. Aku turut prihatin dengan dirimu sekarang.” Fika mencoba menenangkan perasaan sedih Samuel.

(13)

13

Tiba-tiba ponsel Sam berdering memecah keheningan. Sam cepat-cepat mengambil ponselnya di meja dan mulai mengetik SMS. Sam terlihat senyum-senyum sendiri saat itu, bahkan tertawa. Begitu aneh, yang tadinya ia muram sekarang berubah menjadi ceria. Ia meletakkan ponselnya dan masih melihatkan senyumannya yang tak jelas.

“Kamu kenapa Sam? Kamu sehat bukan?” Tanya Fika yang merasa aneh melihat perubahan sikap Samuel yang begitu drastis.

“Ah.. tak apa kawan. Oh ya sampai dimana pembicaraan tadi?”

“Dari perjodohan Bella Sam.” Sahut Fika. Tiba-tiba Sam kembali menunjukkan wajahnya yang muram. Suasana kembali mendung

“Aneh!!!” Fika menyipitkan mata memandang Samuel.

“Kenapa aneh?” Samuel masih tak mengerti dengan perkataan Fika. “Memang benar-benar aneh dengan dirimu Sam.”

“Ada apa dengan diriku Fik?” Samuel tak mengerti.

“Kamu tuh kayak musim pancaroba. Sebentar-sebentar panas, sebentar-sebentar hujan.” Sahut Fika

“Musim pancaroba? Maksudnya?”

“Tadi kamu bercerita tentang Bella kamu terlihat sangat sedih. Akupun turut prihatin dengan keadaanmu. Setelah kamu menerima SMS, wajahmu berubah drastis menjadi ceria. Seperti orang yang menang undian lotre. Terus aku

(14)

14

menanyakan lagi tentang hubunganmu dengan Bella, kamu berubah lagi menjadi muram. Benar-benar aneh bukan?”

“Itulah bedanya Cintya dengan Bella.” Senyum Samuel menyeringai. “Loh siapa lagi itu Cintya?” Tanya Fika, yang sepertinya tak pernah mendengar nama itu.

“Cintya adalah pacar baruku sekarang. Nih kalau mau lihat fotonya.” Samuel memperlihatkan Foto Cintya di ponselya. Terlihat seorang cewek berkulit putih, dan manis sedang berfoto dengan Samuel.

“Hmmmm...” Gumam Fika. Ia masih bingung dengan sikap Samuel yang begitu gampang jatuh cinta terhadap wanita. “Terus bedanya apa antara Cintya dengan Bella?” Tanya Fika penasaran.

“Cintya itu kisah bahagiaku dan Bella adalah kisah kesedihanku.”

“Bukannya dulu kamu bilang Bella adalah kisah bahagiamu, dan Wanda adalah kisah kesedihanmu?” Celetuk Fika

“Itu empat bulan yang lalu. Semua telah berganti topik sobat. Hahaha..” Samuel tertawa lebar. Dan Fika hanya terdiam melihat sifat sahabatnya yang membingungkan.

“Kamu memang belum sadar juga Sam. Kamu masih seperti dulu. Cowok

Play boy.” Fika menyipitkan matanya dan mengacungkan jari telunjuknya kearah

(15)

15

“Hehehehe.. yah inilah diriku. Mati satu tumbuh seribu. Hahahha..” Samuel tertawa terbahak-bahak.

“Wah kalau Bella tiba-tiba mati terus kamu pacaran sama seribu cewek, bisa kiamat mendadak ini bumi. Hahahah....” Fika ikut tertawa. Mereka berdua tertawa lepas saat itu.

Ponsel Sam berdering kembali. Ia secepat kilat mengambil ponselnya dan mengangkat telfon.

“Hallo.., iya... dengan Samuel, ini dengan siapa..., Hai sob sudah lama tak pernah melihatmu, bagaimana kabarmu.., akupun baik-baik pula..apa.., benarkah... kapan... oh sudah sampai sini.. aku ada di sebuah kafe, jika kau mau kesinilah... sama Fika teman baikku. Di jalan anggrek, kafenya di pojok jalan.. ia aku tunggu ya sekarang.. sama-sama...” Sam menutup ponselnya. Dan kembali menaruh ponselnya diatas meja. Ia kembali menatap Fika.

“Sam.. siapa??” Fika bertanya siapa yang telah menelfon Samuel. “Temenku Fika?” Samuel tersenyum kerah Fika.

“Bukan cewek lain, Bella mungkin? Wanda atau Cintya?”

“Bukan Fika, ini sahabat lamaku namanya Fiki? Fiki itu temanku dari SMA dulu. Dia bekerja di Jakarta. Dan sekarang ia akan datang ke Surabaya untuk menemuiku.

(16)

16

“Iya sekarang, maaf ya Fika. Dia aku suruh datang di kafe ini. Aku harap kamu tak keberatan dengan rencanaku. Aku bisa mengenalkannya ke kamu. Dia anaknya asyik kok. Aku yakin kamu bakalan suka dengannya.” Jelas Samuel.

Sepertinya Fika tak begitu suka dengan kedatangan sahabat Sam. Ia tak ingin jika pertemuannya dengan Samuel terganggu dengan orang lain. Fika tak begitu menyukai dengan orang baru. Tapi Fika tak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan Samuel. Dan sepertinya Samuel begitu yakin bahwa ia akan menyukai sahabatnya. Dengan kata-kata “aku yakin kamu bakalan suka dengannya.” Padahal Samuel juga tahu bahwa ia tak gampang bergaul dengan orang. Terlebih dengan orang asing. “Kenapa Samuel Begitu yakin aku akan menyukainya?” Fikiran Fika mengulang-ulang kalimat terakhir Samuel. “Baiklah, aku akan menerima kedatangan sahabatmu.” Seru Fika.

(17)

17

Samuel mengenalkan

sahabatnya

Tak beberapa lama ada seorang pria bertubuh tinggi, tampan dan berkulit putih membuka pintu kafe. Ia terlihat sedang mencari seseorang. Ia pandangi seluruh kafe. Setelah mengetahui orang tersebut, Samuel melambaikan tangan dan memanggilnya “Hai.. kemari.” Seru Samuel. Pria tersebut menuju meja samuel dan berdiri dihadapannya.

“Samuel..?” Sapa pria tersebut.

“Fiki Ramadan..? Samuel bangkit dari tempat duduknya dan berdiri. Mereka berjabat tangan dan berpelukan. “Sudah lama sekali aku tak pernah mendengar kabarmu sobat. Bagaimana keadaanmu sekarang?” Sambil menepuk-nepuk bahu Fiki dan terlihat begitu gembira.

“Baik sob. Maafkan aku jika aku tak pernah menghubungimu setelah acara wisuda kelulusan.”

(18)

18

“Ayo silahkan duduk?” Samuel manerik kursi dan mempersilahkan Fiki untuk duduk. “Perkenalkan ini temanku, Fika Anggraini, Fika ini kenalkan teman yang aku ceritakan tadi, Fiki Ramadan.”

“Fika..” Fika mengulurkan tangannya.

“Fiki..., senang berkenalan dengan anda?” Fiki membalas jabat tangan Fika. Ia tersenyum kearah Fika.

“Fiki dan Fika. Eh sepertinya nama kalian kembar ya. Kayak saudara kembar saja. Hahaha..?” Samuel tertawa lebar saat itu. Fiki dan Fikapun juga tertawa melihat celotehan Sam.

“Sebelumnya kamu kerja dimana Fik?” tanya Samuel.

Fika menyela pertanyaan Samuel “Sebentar, maksud kamu itu bertanya kepada siapa? Fiki, atau diriku.” Fika agak bingung dengan panggilan Samuel, ia bertanya kepada siapa? Fika, atau Fiki. Mengingat nama mereka berdua hampir sama. Cuma beda huruf belakangnya saja.

“Maaf saya ulangi lagi pertanyaannya. Ehemm..” Samuel berdehem. “Sebelumnya kamu kerja dimana FIKI? “Samuel mengulangi kalimat tanyanya. Tapi kali ini ia perjelas. Pertanyaannya menuju pada sahabat lamanya. Pertanyaannya untuk Fiki.

Setelah menyadari pertanyaannya ditujukan kepadanya, Fiki langsung menjawab. “Ohh. lulus kuliah aku merantau di Jakarta. Aku bergerak di bidang

(19)

19

Event Organiser. Ya sudah lama juga sih aku bergelut di bidang itu. Aku

membantu usaha pamanku.”

“Aku sudah mendengar itu dari teman-temanmu. Tapi aku tak tahu kalau kamu merantau ke Jakarta Aku kira kamu sudah di boyong dengan ayahmu ke Singapura.” Senyum Samuel menyeringai. Ia sangat senang sekali bisa bertemu dengan sahabat lamanya.

“Ohh.. tidak Sam. Aku begitu mencintai indonesia. Dan aku dari dulu tak tertarik untuk kerja di Singapura. Aku lebih suka makanan indonesia.”

“Yang jelas kamu juga lebih suka cewek indonesia bukan. Hahaha.” Sam kembali tertawa, begitu pula dengan Fiki. “Eh.. sepertinya Fika juga pernah cerita punya saudara di Singapura. Benar bukan?” tanya Samuel kepada Fika.

“Iya ibuku pernah cerita. Kalau aku juga punya saudara di sana. Tapi aku tak mengenal dia. Soalnya aku tak pernah bertemu dengannya.” Fika teringat bahwa suatu hari ibunya pernah bercerita kalau ada keluarganya yang tinggal di Singapura. Fika hanya meng iyakan perkataan ibunya. Fika tak tahu persis siapa keluarganya itu.

“Ohh.. mungkin aku bisa mengajakmu ke Singapura untuk mencari saudaramu disana?” Sahut Fiki dengan penuh semangat.

“Hey.. Aku saja tak pernah tahu wajahnya seperti apa? Alamatnya dimana? Bagaimana kalau acara mencari saudaraku diganti dengan acara jalan-jalan. Itu mungkin lebih asyik?” Kata Fika sambil tersenyum kearah Fiki.

(20)

20

“Enakan di kamu Fika. Baru kenal Fiki saja sudah mau minta diajak jalan-jalan. Aku saja yang sudah kenal lama tak pernah diajak jalan-jalan kesana?” Protes Samuel saat itu.

“Ya itu keunggulanku dari kamu Sam. Hahaha?” Fika tertawa lebar. “Boleh-boleh. Nanti kita sekalian jalan-jalan kesana ya? Lihat karapan sapi?” Sahut Fiki.

Fika menyipitkan matanya dan menatap Fiki. Ia memikirkan kalimat terakhir Fiki melihat karapan sapi. Fika mulai sadar “Eh.. bukannya karapan sapi itu ada di Madura ya? Masak ada karapan sapi di Singapura. Kamu mau ajak aku kemana? Ke Singapura atau ke Madura?” Fika bingung sambil garuk-garuk kepala.

“Ya jalan-jalannya ke Madura saja lah. Lihat karapan sapi. Hahahaa..” Fiki kembali tertawa lepas melihat tingkah laku Fika saat itu.

“Ahh.. dasar kamu. Semua cowok itu sukanya ngerjain aku. Samuel, dan sekarang kamu, cowok yang baru ku kenal. Dasar cowok-cowok nakal.” Gerutu Fika saat itu. Samuel dan Fiki kembali tertawa. Fika mengerutkan wajahnya kesal.

“Hehehe.. senang bertemu denganmu Fika. Kamu itu sangat cerewet menurutku.” Fiki tersenyum kepada Fika.

“Aku cerewet. Dari mana? Sepertinya anda salah orang deh?” Sanggah Fika yang tak mau ia di bilang crewet.

(21)

21

“Betul Fiki, Temanku yang satu ini memang sangat cerewet. Yah maklum lah sesuai dengan profesinya.” Sahut Samuel.

“Memang profesimu apa Fika?” Tanya Fiki penasaran.

“Dia seorang penyiar radio. Tepatya radio satwa. Hahaha..” Cepat-cepat Samuel menyela pertanyaan Fiki sebelum Fika menjawabnya.

“Really. It’s interesting job? Hahaha..” Sahut Fiki dengan terus tertawa. “Tidak-tidak. Enak saja Sam kamu bilang aku penyiar radio satwa. Aku itu penyiar radio rusak. Hahahha.. puas kamu Sam?” Fiki memicingkan matanya ke arah Samuel dan kembali tertawa.

“Hahahahha... lucu-lucu.” Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak. Terlihat sangat akrab diantara mereka bertiga.

Fika teringat dengan kata-kata samuel. "aku yakin kamu bakalan suka

dengannya.” Mengapa Samuel begitu yakin aku menyukai orang yang baru aku

kenal? Ternyata anggapan Samuel benar. Ia menyukai teman samuel tersebut. Fika merasa sangat akrab dengan Fiki. Ia begitu mudah bergaul. Semua tak seperti bayangannya. Ia menganggap orang yang baru dikenal tak pernah menyenangkan. Ternyata anggapannya itu salah. “Setidaknya aku mempunyai teman baru yang asyik diajak bicara selain Samuel.” Gumam Fika dalam hati. Fika terseyum menatap Fiki.

(22)

22

Pertemuan kedua yang tak di

sengaja

Setelah pertemuan tempo hari di kafe itu, Fika tak pernah bertemu lagi dengan Samuel. Walaupun mereka berdua satu tempat kerja, namun pembagian sift siaran yang tak pernah sama membuat mereka jarang sekali bertemu, bahkan sama sekali tak pernah bertemu.

Sore selepas pulang kerja, terlihat Fika sedang menunggu kereta yang akan membawanya pulang. Ia berdiri di depan jadwal keberangkatan kereta dan mencocokkan dengan jam tangannya. Pukul 16.15 dan jadwal kereta berangkat pukul 16.00. “Sial.. keretanya sudah berangkat lima menit yang lalu. Huft.. mau tak mau aku harus menunggu satu jam lagi.” Gerutu Fika. Ia balikkan badan dan duduk di lobby tunggu kereta. Fika duduk dengan memeluk tas rangselnya yang terlihat begitu besar. “Berat banget ini tas.” Merasa keberatan Fika menaruh tas rangselnya di bawah. Fika mengambil buku novel di tasnya dan ia mulain membaca dengan asyik.

(23)

23

Dari arah samping. Terlihat seorang pria yang sedang berjalan agak cepat dengan membaca sebuah buku. Sepertinya ia tak melihat kedepan. Ia asyik dengan buku bacaanya. Ia pun terus berjalan.

“Gubraakkkk...glodaakk...@#*!!!!!

Pria itu jatuh terjungkal setelah menabrak tas rangsel besar miliknya. Pria itu meringis kesakitan, tubuhnya terjerembab di lantai, Pria itu berusaha untuk bangkit dan berdiri. Fika kaget ketika ada seseorang yang terjatuh setelah menyandung tas besarnya.

“Uppss.. sorry. Aku tak melihat tasmu.” Pria itu membenarkan posisi tas Fika yang telah ia tabrak ke posisi semula.

“Fiii.. aduh siapa ya, aku lupa. Fika, eh maksudku Fiki. Ya benar, Fiki temannya Samuel yang tempo hari kita pernah bertemu.” Sahut Fika serasa mengenali wajah orang yang telah menabrak tas rangselnya. Dan memang benar, Pria itu adalah Fiki Ramadan, teman Samuel. Mereka tak pernah menyangka jika akan bertemu kembali. Mereka berdua saling melempar senyum dan berjabat tangan.

“Ohh.. Fika, senang bertemu lagi denganmu. Ngomong-ngomong apa yang kamu lakukan disini?” Tanya Fiki yang begitu senang bertemu dengan Fika saat itu.

“Aku sedang menunggu kereta. Aku habis pulang kerja. Apesnya aku ketinggalan kereta dan harus menunggu satu jam lagi dari sekarang.” Terlihat Fika

(24)

24

menekuk wajahnya, ia kecewa akan keretanya yang sudah berangkat lima belas menit yang lalu. “Kalau kamu Fiki, kamu ada perlu apa di stasiun ini?” Tanya Fika.

“Aku baru saja pulang dari Jakarta setelah mengurusi kepindahan kerjaku. Besok adalah hari pertamaku bekerja di Surabaya.” Fiki tersenyum.

“Ohh.. kamu pindah ke Surabaya. Jadi Welcome to Surabaya, Fiki.” Fika membalas senyuman Fiki.

Ehh.. bagaimana kalau aku mengajakmu makan dulu di warung itu. Selagi kamu juga sedang menunggu kereta satu jam lagi. Aku traktir deh, sebagai permintaan maafku yang telah menabrak tas rangselmu.” Fiki mengajak Fika untuk makan di warung pojok stasiun sambil menunggu kedatangan kereta satu jam lagi. Setelah sampai di warung tersebut, Fiki mengambil daftar menu yang di tawarkan.

“Sepertinya makan ini enak.” Fiki menunjuk satu menu “Rawon Setan.” Fiki tertawa setelah membaca menu itu. Ia menyodorkan daftar menu ke arah Fika. “Bagaimana menurutmu, kamu mau makan apa?”

“Terserah kamu deh Fiki.” Fika menyerahkan keputusan memilih menu makan siangnya kepada Fiki.

Fiki mengerutkan keningnya, ia bingung memilih menu apa yang cocok buat Fika. “Oke deh. Kalau terserah aku. Kalau salah menu jangan menyesal ya?” Pak pesan Rawon setan dua porsi Level 5 minumnya es degan.” Fiki memanggil

(25)

25

pelayan warung. Pelayan warung datang dan mencatat pesanan Fiki kemudian kembali lagi ke dalam.

Sejenak Fika mengerutkan keningnya. “Rawon setan level 5” Fika berfikir sejenak mengingat menu yang di pesan Fiki adalah Rawon setan level 5. Ia tak menyangka bahwa Fiki akan memesankan menu itu. Memang sudah menjadi konsekuensinya, menyeraahkan keputusan memilih makanan kepada Fiki. Mau tak mau ia harus menerimanya. Ia mengingat lagi Level 5. Ia sadar bahwa level 5 adalah level tingakatan pedas, satu mangkuk rawon dengan lima cabai yang begitu pedas yang akan ia santap. “Waaaa... aku tak suka pedas.” Fika ingin sekali menjerit dalam hatinya. Ia mencoba menenangkan diri. “Tenang Fika, tak akan terjadi apa-apa denganmu. All is well“ Fika menghembuskan nafas panjang. Tak apalah. Lagian stok obat diareku masih sangat banyak dirumah.” Fika mencoba menenangkan dirinya.

“Kamu tak apa-apa?” Tanya Fiki yang bingung melihat wajah Fika mendadak panik.

Secepatnya Fika tersenyum kearah Fiki. “Aku tak apa-apa, aku sangat suka dengan menu pilihanmu “Rawon setan level 5”. Sepertinya itu menarik, Hehehehe..” Fika memaksakan senyumannya yang getir. Padahal ia akan menduga bahwa nantinya ia akan terkena diare berkepanjangan.

Tak beberapa lama seorang pelayan membawakan dua porsi menu “Rawom Setan level 5 yang masih panas dan dua gelas es degan.” Fika hanya memandang makanan tersebut. Ia menelan ludahnya dan berfikir apa yang akan

(26)

26

terjadi setelah makan menu tersebut. “Baiklah. Aku makan.” Gumamnya dalam hati. “Selamat makan.” Fika menyendok rawon dan memasukkan ke dalam mulutnya. Fiki terus memandangi Fika, ia tersenyum melihat wajah Fika yang mendadak memerah akibat kepedasan. “Woww.. pedas. Huh huh.” Fika mulai berkeringat. Ia tak mempedulikan rasa pedas. Yang ia tahu perutnya sudah keroncongan dari tadi. Fika terus melahap makanannya. Fiki hanya tersenyum melihat tingkah laku Fika.

“Mau tambah makanan lagi?” Tanya Fiki.

“Hehehe.. ah sudahlah Fiki. Ini sudah cukup menurutku.” Sahut Fika dengan nada agak malu-malu, sambil tetap mengunyah makanannya.

“Tak apa.. mumpung ada yang mentraktirmu sekarang.” “Bungkus ya.. hehehe..”

“Oh. Mau bungkus. Ya sudah aku pesankan.”

“Ehh tak usah.. aku bercanda Fiki. Ini saja belum habis.”

“Ya siapa tahu orang tuamu tidak masak di rumah. Jadi lumayan kan buat makan tengah malan nanti.”

“Makan tengah malam? Emangnya aku kuntilanak? Hahaha... kamu bisa aja Fiki.” Fika tertawa dan masih sambil mengunyah makanan. Sesekali mulutnya meniup- niup karena kepedesan. Bahkan bibirnya sudah me merah.

(27)

27

“Ya memang kamu kuntilanak. Yang kamu makan sekarang, itu makanannya kuntilanak. ”Rawon Setan.” Sindir Fiki yag dari tadi tersenyum melihat tingkah laku Fika yang kepedesan.

“Ehh.. iya juga ya.. tapi enak banget ya rawonnya.” Sambil mengusap keringatnya akibat kepedasan.

“Ya enak lah. Kamu sedang kelaparan dan sedang ku traktir pula. Benar kan?”

“Siipp.. benar-benar. Hahaha.” Fika tertawa sambil masih mengunyah makanan.

Mereka terlihat sangat akrab saat itu. Mereka saling bertukar cerita satu sama lain. Setelah mereka makan, Fiki menuju kasir dan membayar menu makanan yang dipesan. Fika berdiri di samping Fiki dan tersenyum-senyum, melihat Fiki yang mau mentraktirnya kali ini. Setelah itu, mereka berdua kembali ke lobby tunggu kereta.

“Makasih ya Fiki atas traktirannya.” Fika terlihat senang dengan kebaikan Fiki yang mau mentraktirnya makan.

“Oke deh tak apalah. Aku tahu dirimu selepas kerja pasti sedang kelaparan hebat. Apalagi mengingat pekerjaanmu kan sebagai penyiar radio satwa. Hahahah.. Fiki tertawa puas mengejek Fika, dan Fikapun terlihat cemberut dengan ejekan Fiki saat itu. Terlihat sebuah kereta nampak datang dari kejauhan. Juga terdengar klakson kereta yang meramaikan suasana di dalam stasiun.

(28)

28

“Ya sudah deh. Tuh keretamu sudah tiba. Cepat kamu naik, jangan sampai kamu terlambat lagi nanti.” Fiki tersenyum kearah Fika, ia mengacak-acak rambut Fika. Fika membiarkan rambutnya diacak-acak Fiki, ia terus memandangi dan tersenyum. “Fiki begitu tampan.” Gumam Fika dalam hati.

“Hati-hati dijalan ya.” Ucap Fiki. Fika menaiki kereta dan melambaikan tangannya ke arah Fiki. Kereta mulai berjalan meninggalkan stasiun.

(29)

29

Fiki mengajakku mencari novel

Tanpa ada kata, bila tak ada niatan untuk berucap. Keindahan itu tak akan selalu nyata dipelupuk mata. Jikalau semua telah tergambar jelas difikiran. Jiwa akan selalu bertanya dalam hati yang selalu mengisi. Pertemuan pertama akan menjadi suatu yang indah. Dan pertemuan ke dua akan menjadi hal yang paling mengesankan. Jika hati sudah menancap pada satu tujuan. Tak ada sesuatupun yang dapat menghalanginya. Entah apa yang terjadi pada rasa ini. Yang jelas pertemuan itu membuat hati ini serasa nyaman. Senyaman hembusan angin malam yang selalu kutunggu kesegarannya.

Sejak pertemuan saat itu, antara Fiki dan Fika terlihat sangat akrab. Tak jarang mereka saling berkomunikasi. Entah melalui pesan singkat, ataupun saling telfon-menelfon.

Ponsel Fika bedering. “Hallo..”

“Hallo selamat pagi.” Seru suara Fiki di sebrang telfon. “Selamat pagi Fiki, ada perlu apa?”

(30)

30 “Iya...” Jawab Fika singkat

“Apakah hari ini kamu tidak ada acara?” “Tidak...”

“Apakah hari ini kamu akan berkumpul dengan keluargamu, ataukah mau jalan-jalan bersama teman-temanmu?” Tanya Fiki lagi.

“Sepertinya tidak ada rencana” “Apakah kamu sekarang sibuk?” “Tidak.” Jawab Fika singkat

“Apakah kamu sekarang sedang sakit dan tak bisa keluar rumah?”

“Tidak. Aku sehat-sehat saja?” Fika mulai sebal dengan pertanyaan-pertanyaan Fiki.

“Apakah kamu...?”

“Stop. Langsung saja, Fiki mau apa?” Fika menyela pertanyaan Fiki yang dari tadi selalu berputar-putar.

Suasana hening sejenak. “Aku mau pergi ke sebuah toko buku. Tapi aku tak tahu mau ke toko buku mana? Maklum aku sudah lupa jalan di Surabaya. Apakah kamu orang yang hafal jalan?”

(31)

31

“Bagus. Bisakah kamu mengantarku ke sebuah toko buku? Ada beberapa buku yang ingin aku baca. Eh maksudku ada beberapa buku yang mau aku beli?”

“Boleh, ide yang bagus. Memang kamu mau beli buku apa?” Tanya Fika yang selalu ingin tahu.

“Aku mau beli beberapa novel. Aku ingin beli novel yang berjudul

“Penantian di Ujung Jalan, sherlock holmes, 5 cm, Twilight.” dan masih banyak

lagi.”

“Kamu suka novel ya Fiki?” Tanya Fika.

“Iya aku sangat suka dengan novel. Dan beberapa film. Aku sangat menikmati semua itu. Bagaimana denganmu Fika?”

“Akupun juga begitu. Aku juga sangat menggemari novel sepertimu. Dan sepertinya novel yang kamu sebutkan itu, aku juga sedang mencarinya. Aku sedang mencari novel “Penantian di Ujung Jalan dan Twiight” , bagaimana kalau kita nanti bagi tugas?

“Tugas seperti apa Fika?

“Aku nanti yang beli novel yang aku cari. Dan kamu nanti yang beli sherlock holmes dan 5 cm. Nanti kita bisa tukeran novel. Yah itung-itung irit biaya juga kan?” Usul Fika yang sangat pintar masalah irit-mengirit biaya.

“Ya. Itu ide yang sangat bagus Fika.” Seru Fiki dalam telfon. “Oke.. kita bertemu dimana?”

(32)

32

“Kita bertemu di stasiun kemarin lusa. Jam 9 tepat. Jangan sampai telat oke.”

“Oke deh. Sampai bertemu di stasiun ya Fiki?” “Ingat jangan sampai telat ya Fika?”

“Siaappp.... laksanakan perintah.” “Sampai bertemu kembali. Bye-bye?”

“Bye...” Fiki menutup telfonya dan bersiap-siap untuk pergi ketempat yang sudah mereka janjikan.

***

Di stasiun kereta, sudah terlihat Fiki yang sedang duduk di lobi tunggu kereta. Fiki melihat jam yang tergantung besar di stasiun menunjukkan pukul 09.05. “Untung aku tidak terlambat.” Gumam Fiki dalam hati. Ia memandangi setiap kereta yang baru berhenti. Dari arah kejauhan terlihat seorang wanita yang berparas sangat cantik. Wanita itu berjalan dan mendekati Fiki.

“Hai Fiki. Aku harap kamu tak terlalu lama menungguku disini.” Sapa Fika. Ia melirik jam menunjukkan pukul 09.07. “Tak begitu terlambat.” Fika tersenyum.

“Ohh.. tidak Fika. Baru saja aku menyandarkan diri di kursi ini untuk menunggumu. Ya sekitar dua menit yang lalu.”

(33)

33

“Ohh. Aku kira, aku akan terlambat dan tak bisa menjalankan perintahmu untuk datang jam sembilan tepat, di tempat ini. ya memang telat tujuh menit sih.”

“Pengecualian jika aku juga terlambat. Hahhaa.. lagian ini juga baru telat tujuh menit menit. Eh bay the way kita mau ke toko buku mana?” Tanya Fiki yang masih bingung mau ke toko buku mana.

“Pokoknya. Nanti setelah stasiun ini kita naik bus umum.” Fika mulai menjelaskan rutenya. Fiki hanya diam dengan seksama dan melihat Fika yang serius menjelaskan. “Turun di Rumah Sakit Islam Surabaya. Setelah itu kita jalan kaki sebentar sejauh dua ratus meter menuju Royal Plaza Surabaya. Jalan terus, baru setelah perempatan kita belok kanan. Nah setelah masuk Royal Plaza kita menuju lantai empat pake eskalator, belok kiri terus ada ATM...” Fika terus menjelaskan rutenya kepada Fiki secara terperinci. Fiki hanya terlihat garuk-garuk kepala, ia merasa kebingungan dengan rute yang ditunjukkan Fika.

“Terus setelah ada ATM kemana?” Tanya Fiki menyela pembicaraan Fika. “Setelah sampai ATM tungguin aku dulu. Aku mau ambil uang di mesin ATM buat beli buku.” Fika tertawa menyeringai.

“Ohh. Begitu?” Fiki bingung sambil garuk-garuk kepala.

Fika melanjutkan penjelasannya lagi. “Setelah dari ATM jalan lurus. Nah di pojok ada toko buku besar. Disitu nanti kita nyari buku.” Jelas Fika.

“Jadi bingung. Ya sudah lah. Aku ngikut kamu saja. Lagian yang tahu jalan kota ini kan cuma kamu? Jadi kamu saja yang jadi petunjuk jalannya.”

(34)

34

“Ok deh. Ayo kita lets go!!.” Mereka berdua meninggalkan stasiun dan menuju toko buku yang akan dituju.

Setelah menaiki sebuah bus kota. Seperti rute yang telah diceritakan oleh Fika. Mereka berhenti di Rumah Sakit Islam Surabaya. Mereka berjalan sejauh dua ratus meter menuju Royal Plaza Surabaya. Jalan terus dan setelah perempatan mereka belok kanan. Masuk ke Royal Plaza dan naik eskalator menuju lantai empat. Belok kiri dan tak lupa setelah menemui mesin ATM, Fika masuk kedalam dan mengambil uang. Fiki menunggu Fika keluar dari ATM.

“Sudah selesai bobol ATM?” Tanya Fiki menyindir. “Sudah.” Fika tersenyum.

Mereka melanjutkan perjalanannya, mereka jalan terus menuju ke pojok dan masuk di sebuah toko buku yang telah ditentukan. (Memang sedikit ribet. Hehehhe..)

Sesampainya di sebuah toko buku. Terlihat mereka berdua sangat sibuk memilih buku. Sibuk memilah satu demi satu buku-buku yang ada di rak. Fiki menuju ke sebuah rak buku novel. Ia terlihat sangat serius dengan pekerjaannya.

“Ini dia.” Fiki berseru. Ia mengambil buku novel “5 cm dan sherlock

holmes” seri terbaru. Membolak balik buku itu dan membaca sinopsis sampul

belakang. “Bagus nih buku, eh kamu sudah dapet buku apa?” Tanya Fiki kepada Fika. “Novel Twilight dan Penantian di Ujung jalan sudah di tanganku.” Jawab Fika.

(35)

35

“Bagus!! ”Fiki tersenyum kearah Fika sambil mengacungkan jempolnya. Fiki menuju ke sebuah rak buku fiksi. Ia tertarik dengan sabuah buku yang bersampul rapi dan lucu. Fiki mengambil buku yang berada di rak paling atas. Saat ia akan mengambil sepertinya buku itu agak tertahan. Ada seseorang yang juga akan mengambilnya. Sedikit adegan tarik menarik terjadi, namun Fiki mengalah untuk melepaskan buku itu.

“Fika!!” Fiki kaget ternyata yang menarik buku yang akan diambil adalah Fika. Fika juga ingin mengambil buku itu. Mereka saling tertawa dengan tingkahnya masing-masing.

“Kamu menginginkan buku ini ya Fiki?” Tanya Fika. “Kalau mau, cepat ambil dari tanganku dan langkahi dulu mayatku. Hahahhahaa!” Fika tertawa lebar layaknya sebuah suara nenek sihir.

“Oke.. tunggu aku. Aku akan mengejarmu dan mendapatkan buku itu!” Seru Fiki sambil mengejar Fika yang lari membawa buku itu menuju ke kasir.

(36)

36

Potongan-potongan masa lalu

yang menggangguku

Setelah mendapatkan novel yang telah di rencakan sebelumnya, mereka berdua memutuskan untuk mampir di “foodcourt” sekedar untuk mengisi perutnya yang kosong dari tadi sudah meronta-ronta. Setelah beberapa jam tenaganya terkuras habis didalam toko buku.

“Mau makan apa?” Tanya Fiki menawarkan. “Rawon setan!” Usul Fika.

“Uupss.. benar-benar kuntilanak orang ini.” Fiki tertawa.

“Hahaha.. tak apalah biarin.” Fika melihat menu yang di tawarkan, namun sayang daftar nama menu “Rawon Setan” tak ada di daftar menu. Fika menekuk wajahnya kecewa. “Yang ada cuma “Bebek Mercon dan Mie Akhirat.” Seru Fika sambil menunjuk menu makanan.

“Gimana? Tak ada “Rawon setan” disini, kamu mau pilih apa?” Tanya Fiki.

(37)

37

“Terserah kamu aja deh. Yang penting makan. Hehehe.” lagi-lagi Fika menyerahkan keputusan memilih menu makanan kepada Fiki.

“Ya sudah aku yang pesankan. Mbak...” Fiki memanggil pelayan. ”Saya pesan “Mie akhirat level lima, minumnya es oyen.” Pelayanpun mencatat apa yang di pesan Fiki. “Eh.. satu lagi mbak.. Fiki kembali memanggil pelayan.

“Apa lagi mas? Tanya pelayan tersebut.

“Gak pake lama ya? Hehehhee...” Fiki tertawa. “Kamu itu Fiki, dasar.” Fika tersenyum getir. “Dasar kenapa?” Tanya Fiki bingung.

“Cowok resek, kayak Samuel.”

“Hahaha.. ya pastilah, kan kita satu paket, satu angkatan dengan dia.” Fiki mulai membela diri. “Oh.. ya acara apa sih yang kamu siarin di tempatmu itu? aku ingin mendengar ceritamu.”

“Ohh.. itu, aku menyiarkan acara remaja.” “Remaja satwa kah?”

“Mulai deh anak ini?” Gerutu Fika yang mulai manyun.

“Hahhaa.. ya sudahlah sekarang kamu cerita deh, biar aku tak menganggapmu bekerja sebagai penyiar radio satwa.”

(38)

38

“Oke.. ehem,, hem..” Fika mulai mengeluarkan suara khas penyiar radio. “Hai selamat pagi pemirsa, masih tetap stay on di radio remaja, di saluran 99.9 fm. Bagaimana kabar kalian pemirsa? Semoga kalian semuanya baik-baik saja, ya mungkin ada yang agak pilek atau meler ingusnya karena kemarin sore kehujanan. Hahaha. Kali ini saya akan menyiarkan acara yang akan ditunggu-tunggu...” Fika diam. Suasana mendadak hening.

“Kok tak dilanjutkan, acara apa?” Fiki penasaran.

Fika mulai berbicara lagi. “Yups.. kali ini saya akan menyiarkan acara yang kalian tunggu-tunggu, inilah dia “Remawa” Remaja Satwa. Saya akan menyiarkan bagaimana keadaan satwa yang ada di kebun binatang Surabaya. hahahhaa.” Fika tertawa terbahak-bahak, begitupun dengan Fiki.

“Sumpah lucu banget Fika. Aku rasa kamu tak cocok jadi penyiar radio, kamu lebih cocok menjadi seorang komedian, atau ikut Stand up comedy.” Fiki masih tak bisa menahan ketawanya.

“Ya itu yang harus dipunyai oleh seorang penyiar, biar acara yang dibawakan tak pernah garing.” Jelas Fika. Tak beberapa lama makanan yang mereka pesan sudah datang.

“Selamat makan!” Mereka berdua mulai menyantap makanannya. “Fika?” Panggil Fiki.

(39)

39

“Bolehkah aku mengantarmu pulang nanti? Sebagai tanda terima kasih mau menemaniku mencari buku dan jalan-jalan, aku senang sekali bisa jalan denganmu. You are interesting woman, smart women and...”

“And crazy women ya? Hahaha..” sahut Fika “Rigth..” Fiki ikut tertawa.

“Mau mengantarku kerumah? Emmm.. Gimana ya.. boleh.. enggak..emmm” Fika berfikir sejenak. ”Boleh deh. Hehehhee...” Fika memperbolehkan Fiki untuk mengantar dirinya pulang.

Setelah selesai makan. Mereka berdua meninggalkan Royal plaza. Mereka naik bus kota yang akan mengantarnya ke stasiun. Setelah itu, perjalanan di lanjut dengan menggunakan kereta. Akses kereta itulah yang sering Fika gunakan sehari-harinya. Setelah naik kereta, mereka turun dan melanjutkan perjalannnya dengan berjalan kaki. Berjalan melewati tanah lapang yang sangat luas. Terlihat beberapa anak sedang asyik bermain layangan di dekat stasiun kereta. Tak jauh dari stasiun kereta, terdapat sebuah taman yang sangat indah. Fika mengajak Fiki untuk mampir sebentar ke taman.

Setelah berada di dalam taman itu, mereka duduk di sebuah kursi panjang yang ada di samping pohon mahoni besar.

Fika tersenyum saat itu. melihat keceriawan anak-anak yang berada di taman. Bunga-bunga yang bermekaran membuat taman itu semakin indah. Bunga mawar, melati, anggrek, dahlia. Bermacam-macam jenis dan warna.

(40)

40

“Kenapa kamu tersenyum Fika?” Tanya Fiki.

“Ahh.. tidak. Aku sering sekali pergi ke taman ini dan duduk di kursi ini. sekedar melihat anak-anak yang sedang bermain, melihat matahari senja, melihat kakek nenek yang sedang jalan-jalan sore, ataupun sepasang muda-mudi yang sedang kencan. Aku senang dengan bunga-bunga yang ada disini. Begitu indah dan terlihat sangat segar. Hampir setiap hari aku selalu menyempatkan diri, ya setelah pulang kerja.” Fika tersenyum melihat sekeliling taman

“Begitu nyaman.” Fiki menghela nafasnya lega. “Memang taman ini sangat indah menurutku. Akupun juga menyukainya. Kapan kamu pertama kali mengunjungi taman ini?”

“Aku tak ingat kapan, yang aku tau itu sudah sangat lama. Mungkin sudah belasan tahun yang lalu. Sekitar aku umur empat tahun. Orang tuaku selalu mengajak aku ke sini. Sekedar aku hanya main-main, dan mereka dengan senang hati menungguku. Ya, aku sering sekali main disini. Dengan teman-temanku, dengan Samuel, hehehe.. dia begitu lucu waktu kecil. Selalu aku membuatnya menangis. Entah aku merebut mainannya bahkan aku mencubitnya. Walaupun dia cowok. Dia gak pernah berani melawanku, padahal dulu aku sangat nakal. Hahaha...” Fika menceritakan masa kecilnya terhdap Fiki. Menceritakan Samuel dan semuanya yang berhubungan dengan cerita taman itu.

“Hehehe.. pasti kalian berdua sangat lucu ya, dulu.”

Tiba-tiba fikiran Fika mulai kalut. Dadanya mulai sesak. Potongan-potongan kejadian itu datang lagi. Suara itu kembali datang. Suara kereta yang

(41)

41

sangat keras. Dengan klakson yang memekik telinganya. Bayangan, lalu lalang orang silih berganti, dengan teriakan sungguh mengerikan. Juga terdengar sirine mobil pemadam kebakaran. Tubuh Fika bergetar, mendadak berkeringat dingin. Ia merasakan sakit yang teramat di kepalanya. Ia tak henti-hentinya menjambak rambutnya untuk menahan rasa sakit dikepala. Ia sangat tersiksa dengan bayangan-bayangan itu. Ia pun mengerang kesakitan. Fiki sangat bingung melihat keadaan Fika yang tiba-tiba seperti itu.

“Fika, kamu kenapa? Kamu sakit? Apa yang terjadi dengan dirimu? Tenangkan dirimu Fika, tenangkan dirimu.” Fiki sangat khawatir melihat keadaan Fika. Ia mencoba menenangakan Fika. Fika tak menjawab. Ia masih sangat merasakan kesakitan.

“Fika, kamu kenapa? Ada apa dengan dirimu? Fika... Fikka..” Fiki mendekap tubuh Fika. “Fika tenangkan dirimu.” Fika tak merespon dengan panggilan Fiki. Ia terlihat sangat menderita. Ia terus menjambak-jambak rambutnya sendiri. Sepertinya dia merasakan sakit kepala yang begitu hebat.

Tak berlangsung lama, keadaannya mulai membaik, kepalanya yang tiba-tiba sakit sekarang sudah tak sakit lagi, nafasnya yang tadinya terasa sesak, kini sudah mulai teratur. Dan suara itu, suara klakson kereta dan bunyi sirine mobil pemadam kebakaran, sudah tak terdengar lagi di telinganya. Fika berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. “Huuuuuuuhhhh...” ia hembuskan nafasnya dalam-dalam.

(42)

42

“Aku tak apa-apa Fiki.” Fika tersenyum. Ia mencoba menenangkan dirinya.

“Sebentar.. ya Fika.” Fiki mencoba mencari air mineral untuk Fika. Tak beberapa lama Fiki datang membawa sebotol air mineral.

“Fika, ini minumlah... biar kamu bisa tenang.” Fiki menyerahkan sebotol air mineral, dan Fika meminumnya.

“Sudah Fiki, makasih banyak ya.”

“Iya Fika, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa yang kamu rasakan?” Tanya Fiki.

“Sudah membaik Fiki, entahlah mengapa aku sering sekali mengalami hal seperti ini. Terlebih akhir-akhir ini, setiap sore, setiap malam, bayangan itu selalu datang. Entah apa maksud dari semua itu.” Fika menyeka air matanya. Tak terasa ia menangis saat itu.

“Apa yang kamu rasakan Fika?” Fiki mengusap air matanya dan mendekap tubuh Fika. “Tenangkan dirimu.” Fika menangis di dekapan Fiki

Fika melepaskan dekapan Fiki. Ia mengambil tissue di dalam tas dan kembali menyeka air matanya. Fika mulai menceritakan.

“Aku merasakan kepalaku sangat pusing, bahkan rasa sakitnya tak bisa tertahankan. Akupun sulit sekali untuk bernafas. Pandanganku memburam, setelah itu muncul dalam fikiranku bunyi-bunyian yang membuatku bingung.”

(43)

43

“Bunyi seperti apa?” Tanya Fiki penasaran.

“Seperti suara kereta dengan klaksonnya yang begitu keras di telinga, lalu lalang orang dan jeritan-jeritan yang sangat menakutkan. Tiba-tiba aku mendengar suara sirine yang sangat keras, dan membuat gendang telingaku serasa mau pecah. Itu yang aku rasakan selama ini Fiki.” Fika mencoba menguatkan dirinya, dari potongan-potongan kejadian yang belum ia mengerti.

“Apakah kamu pernah periksa ke dokter?” Tanya Fiki.

“Aku sudah pernah memeriksakan ke dokter bahkan Psikiater, mereka tak menemukan penyakit apa yang aku derita. Kata mereka aku pernah mengalami suatu trauma hebat dulunya. Masalah kejiwaan. Tapi entahlah, mereka tak mengetahuinya. Setiap aku mengingat-ingat apa yang pernah aku alami, serasa kepala ini semakin pusing dan bayangan-bayangan itu semakin jelas. Bahkan aku sampai pernah dibawa kerumah sakit, karena tak sadarkan diri.” Jelas Fika.

“Sudahlah Fika. Tenangkan dirimu. Yang terpenting sekarang kamu sudah membaik. Ya sudah ayo aku antar pulang.” Fiki mengajak Fika untuk cepat-cepat pulang, ia tak tega melihat keadaan Fika seperti itu.

“Nah disini aku tinggal dan dibesarkan.” Fika menunjuk sebuah rumah yang berwarna hijau, dan di depannya banyak sekali tanaman, membuat keadaan rumah terlihat sangat asri.

“Oh.. ini rumahmu ya? Tak jauh juga dari stasiun kereta.” sahut Fiki dengan berdecak kagum melihat ke asrian rumah Fika.

(44)

44

“Mari masuk!” Fika mengajak Fiki untuk masuk kerumahnya. Tiba-tiba ponsel Fiki berbunyi.

“Fika permisi sebentar, aku mau mengangkat telfon.” Fiki minta ijin kepada Fika.

“Iya silahkan Fiki.” Fika tersenyum.

“Hallo.. iya ada apa... kamu dimana.. ya sudah secepatnya aku menuju kesana.” Fiki memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana.

“Emmm.. Fika..?” Panggil Fiki. “Iya Fiki?”

“Maaf aku tak bisa mampir ke rumahmu sekarang, soalnya saudaraku ada masalah dengan mobilnya. Mobilnya mogok dijalan. Aku harus cepat-cepat menolongnya. Mungkin aku bisa lain kali menerima tawaranmu untuk berkunjung.” Fiki merasa bersalah, tak bisa menerima ajakan Fika untuk mampir kerumahnya.

“Ohh... tak apa Fiki. Next time kamu bisa kok datang kerumahku. Nanti aku akan kenalin kamu ke orang tuaku. Dan kucing kesayanganku, si putih. Hehehe..” Fika tersenyum kearah Fiki.

“Iya Fika maaf ya.” Fiki membalas senyuman Fika. “Iya Fiki tak apa?”

(45)

45 “Iya Fiki makasih banyak ya.” “Ee... Fika?” Panggil Fiki lagi. “Iya Fiki.”

“Aku... emmm..Ee... hehehhee... Sudahlah, aku pamit, sampai jumpa.” Fiki terlihat bingung mau ngomong apa.

“Sampai jumpa Fiki, hati-hati di jalan.” Fikipun undur diri. ***

“Sudah selesai, mesin sudah aku perbaiki semuanya.” Fiki terlihat begitu lelah setelah memperbaiki mobil Brian sepupunya. Ia mengelap tangannya yang kotor dengan lap berwarna hujau. Kemudian ia masuk kedalam mobil. Dan merebahkan tubuhnya di kursi mobil.

“Tuh sudah bener mobilmu. Coba nyalakan mesinnya.” Fiki menyuruh Brian untuk menyalakan mesin mobilnya.

“Terima kasih banyak Bang, sudah mau menolongku.” Ucap Brian yang merasa senang mesin mobilnya sudah bisa hidup kembali.

“Terus. Maksud kedatanganmu ke Surabaya dalam rangka apa?” Tanya Fiki.

(46)

46

“Menjemputku!!” Fiki mendadak kaget mendengar kata-kata Brian. Fiki menelan ludah. “Ada apa kamu menjemputku?” Mendadak suasana menjadi serius.

Brian menghembuskan nafas panjangnya. Sepertinya ada masalah besar yang harus ia ceritakan. “Ayah masuk rumah sakit Bang, ia memintaku untuk menjemputmu. Ayah ingin kamu membantu menyelesaikan pekerjaanya.” Brian tertunduk lesu menceritakan keadaan ayahnya.

“Paman sakit, sakit apa dia?” Fiki mendadak tegang, sepertinya memang ada hal buruk yang telah terjadi.

“Stroke Ayah kumat. Ia sekarang di rawat di rumah sakit. Kedatanganku kali ini untuk menjemputmu Bang, memintamu untuk mengurusi Event Organiser ayah sementara. Ayah tidak mau kalau acara Konser Artis akbar itu nantinya dibatalkan karena penyakitnya sekarang. ”Brian terlihat lesu memikirkan keadaan ayahnya yang sedang sakit. Brian hanya berharap, Fiki mau membantunya. Brian belum paham betul masalah bisnis ayahnya. Ia masih duduk di bangku SMA. Brian menatap kedepan dengan kosong. Fikiranya khawatir dengan keadaan ayahnya.

Fiki menghela nafas panjang. “Baiklah aku akan ikut denganmu, aku akan kembali ke jakarta.”

Fiki akhirnya menyerah, dan memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Tapi sepertinya ia merasa akan kehilangan sesuatu. Ia akan meninggalkan kenangan indah yang baru ia rasakan di Surabaya. “Bagaimana dengan kepindahannya ke

(47)

47

Surabaya. Bagaimana dengan Fika. “Haaahh.. Fika, kenapa harus nama itu muncul di fikiranku. Sudahlah, yang terpenting aku akan membantu pamanku. Aku akan menyelesaikan tugasku, mensukseskan acara pamanku. Konser Artis

Akbar yang telah lama paman idam-idamkan.” Gumam Fiki dalam hati.

“Terima kasih banyak Bang. Aku sangat berhutang budi kepadamu.” Brian tersenyum kearah Fiki. Ia mulai menyalakan mesin dan mengemudikan mobilnya. Mereka berdua menuju ke Jakarta.

(48)

48

Pertemuan-pertemuan itu

membuatku jatuh cinta

Pertemuan itu, ya.. siapa sangka jika pertemuan demi pertemuan telah terjadi. Hati yang selalu bertemu dan bertatap muka. Dan tak bisa dipungkiri, hati ini telah terpikat oleh sesosok pria yang sekarang menjadi teman baru Fika. Teman yang di perkenalkan oleh sahabatku Samuel. Dan tak bisa dibohongi. Fika terpikat oleh Pria yang sangat peduli denganya. Entah apa yang telah melandanya, seakan fikiran ini hanya tertuju padanya, Fiki. Ya.. orang tersebut baru saja ia mengenalnya.

Fika masih tak beranjak dari tempat duduknya, ia menatap jam dinding di pojok ruang kerja. “Pukul 16.15” Ia teringat akan sesuatu, ketika ia telat naik kereta dan tak sengaja bertemu dengan Fiki. “Hemm.., kenapa fikiran ini selalu memikirkan Fiki? Aku tak tahu akan perasaanku, yang aku tahu aku begitu menyukai cara dia berbicara, aku begitu suka dengan senyumannya. Dan yang paling aku suka adalah perhatiannya. Apakah aku memang benar –benar suuu...” Fika memukul-mukul kepalanya dengan sebatang pensil. “Ah.. tidak, tidak,tidak,tidak. Aku tak boleh terlalu cepat jatuh cinta dengan seorang pria.

(49)

49

Apalagi Fiki yang baru beberapa minggu aku mengenalnya. Tapi mengapa aku selalu memikirkannya? Mengapa aku tak bisa melupakan wajahnya?” Huuhh..” Fika menghela nafas panjangnya.

Fika menatap kalender. Pandangannya tertuju pada tanggal 8 Desember. Ia teringat, pada tanggal 8 Desember itulah Samuel memperkenalkan Fiki kepadanya. Ya awal mula ia merasa risih dengan kedatangan teman samuel yang tidak begitu ia kenal. Tapi kenapa Samuel begitu yakin bahwa dirinya akan menyukai teman lamanya. “aku yakin kamu bakalan suka dengannya.” Ya aku teringat dengan kata-kata Samuel waktu itu, kenapa Samuel begitu yakin aku menyukainya? Padahal aku...” huhhhh..” Fika kembali menghembuskan nafas panjangnya. “ Memang aku sangat menyukainya.” Fika terseyum kegirangan.

***

Hari ini selepas dari jadwal siaran, Fika memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Ia ingin sekali merilekskan pikirannya di salah satu kafe dekat tempat ia bekerja. Fika duduk seorang diri di salah satu meja pojok kafe. Tak begitu ramai suasana kafe saat itu. Terlihat ia sedang menikmati secangkir teh dan memainkan ponselnya. Tak beberapa lama dari arah kejauhan terlihat seseorang memanggilnya.

(50)

50

“Fika. Ngapain kamu disitu?” Samuel menghampiri Fika. Ia menarik kursi dan duduk disamping Fika

“Ohh.. Samuel. kamu dari mana saja, sudah satu minggu aku tak pernah melihatmu.” Fika menatap samuel dan tersenyum. Ia sangat kengen dengan Samuel. Sudah beberapa hari ia tak pernah bertemu dengannya.

“Maafkan aku Fik. Satu minggu ini aku ditugaskan oleh bosmu ke Jakarta.” Jelas samuel.

“Ke Jakarta? Ada acara apa?” Tanya Fika penasaran. “Liburan.” Samuel tertawa dengan perasaan bangga. “Jahat..” Fika menggerutu iri.

“Kenapa?” Tanya Samuel.

“Jahat kamu gak ngajak aku.” Fika terlihat manyun. Ia iri dengan Samuel yang mendapatkan hadiah dari bossnya jalan-jalan.

“Hahahhaa... kamu itu, baru aku tinggal satu minggu aja sudah kangen.” Sindir Samuel.

“Bukan kangen, tapi aku ngiri sama kamu, kamu diajak liburan, tapi aku tidak.” Gerutu Fika yang sepertinya tak rela melihat Samuel liburan.

“Ahh.. kamu ini Fik. kayak tak pernah kenal pak Handoyo bossmu itu.” “Memang kenapa Sam?” tanya Fika.

(51)

51

“Kamu percaya kalau aku liburan ke Jakarta?” Tanya Samuel. “Enggak!”

“Lah makanya itu, sudah tau bossmu itu gak akan pernah ngajak karyawannya buat berlibur. Pak Handoyo itu kan terkenal pelit dan perhitungan.”

“Hehehhee.. iya juga, lah terus kamu ke Jakarta ada pekerjaan apa?” Tanya Fika penasaran.

“Aku itu di suruh bosmu buat ngawasin bisnis barunya.” “Bisnis apa?”

“Bisnis bakpia goreng. Hahhhaaa..”

“Emang ada kah bakpia goreng?” Tanya Fika.

“Ya gak adalah. Kamu itu aku bohongin percaya saja. Begini, aku disuruh buat ngawasin radionya yang ada di Jakarta, ada renovasi. Jadi aku aku ditugasin kesana.” Jelas Samuel.

“Ngawasin atau jadi kuli bangunan di sana?” Fika tertawa menyindir. “Awalnya disuruh ngawasin.Tapiakhirnya sih boss nyuruh aku bantu-bantu. Jadi kuli deh disana. Huuuhh..” Gerutu Samuel.

“Hahahahaa... rasain tuh, emang enak di akalin boss. Aku sih gak mau Sam jadi kuli. Hehehhee..” Fika menertawai Samuel.

(52)

52

“Resek.. kamu Fik, ngerti gitu aku gak bakalan cerita ke kamu.” Gerutu Samuel lagi.

“Siapa suruh kamu pamer ke aku kalau rekreasi. Yah ujung-ujungnya jadi kuli bangunan tuh di sana. Ini ceritanya naik pangkat atau turun pangkat ya? Hehehhee..” Fika masih meledek Samuel.

“Ahh.. yang penting bagiku tugas di luar kota.” Tiba-tiba posel Samuel berbunyi.

“Hallo.. Fiki, ada apa... oh... aku sudah kembali dari Jakarta. Kenapa.. loh kamu sekarang ke Jakarta. Ada apa kamu kembali ke sana? Kan katanya kamu pindah ke Surabaya..., oh begitu... tabahkan hatimu ya Fiki, tetap semangat..., aku selalu berdoa yang terbaik buat kamu... sampai jumpa. Da..” Pembicaraan telfon berakhir.

“Ada apa?” Tanya Fika. “Fiki menelfon.” jelas Samuel

“Fiki, dia kenapa?” Terlihat wajah Fika yang cemas mendengar pembicaraan Samuel dengan Fiki barusan.

“Dia balik ke Jakarta.”

“Loh... katanya pindah tugas ke Surabaya, kenapa kok tidak jadi?” Wajah ceria Fika mendadak berubah menjadi mendung yang siap menumpahkan air hujan.

(53)

53

“Ada masalah dengan kantor pusatnya. Jadi ia disuruh kembali ke Jakarta untuk menyelesaikanya.” Jelas Samuel.

Fika menggigit bibirnya perlahan. Ia syok mendengar kabar tersebut. air matanya hampir saja jatuh. Tapi ia menahannya.

“Sampai kapan Sam?” Fika menahan tangis.

“Aku tak tahu Fika, yang jelas ia tadi berpamitan denganku.”

“Ohhh...” Tak terasa Fika berlinang air mata mendengar kabar tersebut. “Fika...?” Tanya Samuel.

“Iya..” Cepat-cepat Fika menyeka air matanya yang telah terjatuh. “Fiki juga menitipkan salam buat kamu.”

“Sudahlah.. aku pulang Sam. Maaf..” Tiba-tiba Fika meninggalkan Samuel begitu saja. Perasaannya begitu kacau. Kabar kalau Fiki kembali ke Jakarta membuat hatinya hancur berkeping-keping. Perasaan cinta yang begitu cerah mendadak mendung. Dan sekarang air matapun jatuh tetes demi tetes.

“Fika... Fika...” Samuel berteriak terus memanggil Fika. Tapi tak sedikitpun Fika mempedulikan panggilannya. Ia terus melangkahkan kakinya meninggalakan kafe itu.

***

(54)

54

Fiki menelfon samuel. “Hallo Samuel.. sekarang aku ada di jakarta.. ada masalah penting yang membuatku kembali ke Jakarta.”

Dari kejauhan ada seseorang yang mengamati Fiki yang sedang menelfon. Gerak-geriknya begitu mencurigakan.

“Aku akan menjelaskan nanti.. Salam buat Fika.” Ucap Fiki. Tiba-tiba orang yang mencurigakan itu berlari menuju ke Fiki. Ia menabrak Fiki hingga Fiki terpental jatuh.

“Maaf mas.. maaf, aku tak sengaja.” Pria misterius itu meminta maaf dan terburu-buru meninggalkan Fiki.

“Sial.. sudah nabrak tak mau tanggung jawab pula. Padahal aku ingin sekali ngomong dengan Fika. Mau menjelaskan semuanya ke Fika tentang kepergianku sementara ini. Ehh.. ngomong ngomong ponselku dimana?” Fiki merogoh saku untuk mencari ponselnya. “Ponselku mana? Ponselku. Atau jangan-jangan. HEEYY MALIIIIINNG... JAMBREETTT..” Fiki berteriak kencang dan berusaha untuk mengejarnya. Namun sayang ia tak bisa mengejar jambret yang telah membawa ponselnya itu.

(55)

55

Secepat itu jatuh cinta ,

secepat itu aku terluka

Malam ini begitu sunyi. Terlihat Fika duduk di kursi taman favoritnya seorang diri. Ia melihat kearah langit-langit taman, dimana langit yang sangat cerah dihiasi oleh bulan dan bintang. Terlihat begitu indah. Namun sayang keadaan yang indah itu tak seperti hatinya. Ia masih menangis sejak tadi sore. Ia tak bisa menghentikan air matanya yang terus menerus jatuh. Yang terdengar hanyalah isak tangisnya dan suara serangga malam di taman itu.

“Mengapa dengan diriku. Mengapa aku begitu lemah sekarang. Hanya karena suatu rasa yang tak penting. Arrrggghhh.. persetan dengan jatuh cinta. Kenapa aku harus merasakan sakit hati sebelum aku merasakan cinta. Cinta telah membuat orang bahagia. Tapi cinta telah membuat banyak orang sakit hati. Kenapa aku, begitu cepat jatuh cinta dengan seorang pria yang baru saja aku mengenalnya. Pria yang jelas-jelas belum terlalu mengenalnya. Aku begitu cepat merasakan jatuh cinta. Tapi sebelum bunga itu mekar dan berkembang. Bunga itu telah hilang. Kenapa dia tak menelfonku, atau sekedar berpamitan? Kenapa harus lewat Samuel? Setidaknya dia bisa berpamitan denganku. Biar hati ini tak terlalu

(56)

56

sakit. Atau aku telfon saja orang itu.” Fika mengambil ponselnya dalam tas dan mengetik nama Fiki. “Ahh.. buat apa aku menelfon dia, dia yang pergi, kenapa tak dia saja yang punya inisiatif buat menelfonku. Tapi... hiks.. hiks. Aku tersiksa dengan perasaan ini. ibu.... hiks.. hiks..” Fika kembali menangis saat itu. air matanya terus berlinang.

***

Sesampainya dirumah ia mencari ibunya

“Ibu.... hiks.. hiks..” Fika memeluk ibunya dan menangis. “Kamu kenapa nak kok menangis?”

“Dia ninggalin aku bu...” Fika terus menangis. “Dia siapa? Pacarmu?” Tanya ibu Fika. “Bukan bu. Dia..”

“Dia siapa?” Tanya ibunya yang masih bingung terhadap Fika. “Sudahlah bu..” Fika mennghapus air matanya.

“Ya sudah.. sekarang kamu istirahat gih, tenangin dirimu.” “Iya bu.. selamat malam.”

“Selamat malam anakku sayang” Fika menuju kamar dan menutup pintu kamarnya.

(57)

57

Aku menunggu cinta yang tak pasti

Cinta yang telah tumbuh tak bisa dengan mudah untuk dicabut. Meskipun tumbuhnya cinta tak membuat kita berbesar hati. Semakin kita mencoba untuk membuang jauh-jauh, semakin kuat fikiran itu melekat. Hari ini adalah hari dimana Fika merasakan patah hati, meskipun ia belum sempat untuk menyatakan cintanya kepada Fiki, tapi dengan kepergian Fiki membuat Fika tak punya harapan lagi atas cintanya.

Seperti hari-hari biasa, Fika disibukkan dengan jadwal siarannya di Radio. Kejadian kemarin masih menyisakan kesedihan yang mendalam baginya.

“Fika.. kamu sakit ya?” Tanya Dewi kepada Fika. “Iya.. aku agak gak enak badan Wi.”

“Ada masalah apa denganmu? tumben sekali kamu terlihat murung hari ini. Dan aku rasa hari ini, aku tak melihat Fika yang selalu ceria dan jutek. Tapi walaupun kemarin kamu sakit, kamu tak semurung hari ini. Ada apa sebenarnya Fika?” Dewi menayakan keadaan Fika yang tiba-tiba berubah tak bersemangat seperti hari-hari biasa.

(58)

58

“Cerita saja ke aku Fika, siapa tau aku bisa menjadi teman curhatmu. Oh ya.. katanya kemarin kamu sedang jatuh cinta dengan seorang pria, bagaimana ceritanya? Ayo kamu masih punya hutang cerita ke aku.” Dewi membujuk Fika agar mau bercerita kepadanya.

“Sudahlah wi, aku gak jadi jatuh cinta.” Fika cemberut. “Loh.. kok gak jadi, secepat itu kamu merubah perasaanmu?”

“Dia telah pergi wi, dia pergi sebelum aku sempat menyatakan cintaku, hiks.. hiks..” Fika kembali meneteskan air matanya.

“Sudah-sudah. Cup..cup.. cupp, anak cantik, gak usah nangis ya?” Dewi mencoba untuk menenangkan Fika dan menyeka air matanya.

“Aku jatuh cinta ke dia, entah mengapa fikiranku penuh dengan namanya. Tapi apa, dia secepat itu meninggalkanku. Bahkan sebelum aku menyatakan perasaanku.” Fika memeluk Dewi dan menangis tersedu-sedu.

“Sudahlah Fika, kalau memang dia jodohmu, nanti dia akan kembali lagi ke kamu. You must move on! Kayak cowok hanya dia aja. Kamu itu cantik, cewek baik Fika, pastinya kamu akan mendapatkan cowok yang baik pula.” Dewi mencoba menenangkan Fika.

“Tapi aku harus bagaimana Wi? Apa aku harus memendam cinta ini dalam-dalam? Ataukah aku harus menunggunya dalam ketidak pastian?”

(59)

59

“Berdoalah kepada Tuhan Fika, tenangkanlah dirimu. Tuhan akan memilihkan jalan yang terbaik untuk umatnya. Jika kamu yakin itu adalah cinta sejatimu, maka ia akan kembali kepadamu. Percayalah Fika.”

“Dewi, makasih ya sahabatku. Aku merasa sedikit lega bisa bercerita denganmu, aku yakin dengan diriku sekarang, jika memang Fiki jodohku. Dia akan kembali buatku. Aku akan selalu menantinya, menanti cintaku dengan sabar dan tulus. Aku harap Fiki juga mempunyai perasaan yang sama seperti diriku sekarang. Aku begitu menyukainya.” Fika mulai tersenyum. Dan dalam hatinya ia sangat yakin bahwa suatu saat nanti Fiki akan kembali, dan akan merajut cinta dengannya. Menjadi kekasihnya seperti yang Fika idam-idamkan saat ini.

(60)

60

Aku yakin dengan perasaanku

dan Aku akan menunggunya

Seperti hari-hari biasa, selepas ia selesai pulang dari kantor, Fika menyempatkan diri untuk pergi ke taman favorit yang selalu ia kunjungi. Fika duduk di kursi dekat pohon mahoni. Matanya memandangi keadaan seluruh taman. Ia melihat beberapa anak yang sangat gembira bermain kejar-kejaran, muda-mudi yang sedang berpacaran, bahkan seorang anak yang sedang digendong oleh ayahnya mengitari taman. Setidaknya dengan datang ke taman ini, sedikit ia bisa melupakan masalahnya.

“Fiki.. aku yakin dalam hatiku, kamu akan kembali, aku yakin bahwa kamu akan menemuiku di taman ini. Ya.. ditaman ini kita pernah bertemu, ditaman ini kau begitu perhatian padaku, dan ditaman inilah aku mulai jatuh cinta denganmu. Aku berharap bahwa cintaku tak salah. Aku yakin akan perasaanku. Aku berharap, kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Semenjak kepergianmu, aku layaknya bunga yang telah layu, bahkan hampir mati. Tapi ingat, aku tak akan mati. Karena aku mempunyai harapan besar. Aku mempunyai cinta, dan aku berharap kamulah cintaku. Aku juga sangat berharap,kamu punya

Referensi

Dokumen terkait