• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertemuan-pertemuan itu membuatku jatuh cinta

Dalam dokumen love in Sunset (Novel) (Halaman 48-55)

Pertemuan itu, ya.. siapa sangka jika pertemuan demi pertemuan telah terjadi. Hati yang selalu bertemu dan bertatap muka. Dan tak bisa dipungkiri, hati ini telah terpikat oleh sesosok pria yang sekarang menjadi teman baru Fika. Teman yang di perkenalkan oleh sahabatku Samuel. Dan tak bisa dibohongi. Fika terpikat oleh Pria yang sangat peduli denganya. Entah apa yang telah melandanya, seakan fikiran ini hanya tertuju padanya, Fiki. Ya.. orang tersebut baru saja ia mengenalnya.

Fika masih tak beranjak dari tempat duduknya, ia menatap jam dinding di pojok ruang kerja. “Pukul 16.15” Ia teringat akan sesuatu, ketika ia telat naik kereta dan tak sengaja bertemu dengan Fiki. “Hemm.., kenapa fikiran ini selalu memikirkan Fiki? Aku tak tahu akan perasaanku, yang aku tahu aku begitu menyukai cara dia berbicara, aku begitu suka dengan senyumannya. Dan yang paling aku suka adalah perhatiannya. Apakah aku memang benar –benar suuu...” Fika memukul-mukul kepalanya dengan sebatang pensil. “Ah.. tidak, tidak,tidak,tidak. Aku tak boleh terlalu cepat jatuh cinta dengan seorang pria.

49

Apalagi Fiki yang baru beberapa minggu aku mengenalnya. Tapi mengapa aku selalu memikirkannya? Mengapa aku tak bisa melupakan wajahnya?” Huuhh..” Fika menghela nafas panjangnya.

Fika menatap kalender. Pandangannya tertuju pada tanggal 8 Desember. Ia teringat, pada tanggal 8 Desember itulah Samuel memperkenalkan Fiki kepadanya. Ya awal mula ia merasa risih dengan kedatangan teman samuel yang tidak begitu ia kenal. Tapi kenapa Samuel begitu yakin bahwa dirinya akan menyukai teman lamanya. “aku yakin kamu bakalan suka dengannya.” Ya aku teringat dengan kata-kata Samuel waktu itu, kenapa Samuel begitu yakin aku menyukainya? Padahal aku...” huhhhh..” Fika kembali menghembuskan nafas panjangnya. “ Memang aku sangat menyukainya.” Fika terseyum kegirangan.

***

Hari ini selepas dari jadwal siaran, Fika memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah. Ia ingin sekali merilekskan pikirannya di salah satu kafe dekat tempat ia bekerja. Fika duduk seorang diri di salah satu meja pojok kafe. Tak begitu ramai suasana kafe saat itu. Terlihat ia sedang menikmati secangkir teh dan memainkan ponselnya. Tak beberapa lama dari arah kejauhan terlihat seseorang memanggilnya.

50

“Fika. Ngapain kamu disitu?” Samuel menghampiri Fika. Ia menarik kursi dan duduk disamping Fika

“Ohh.. Samuel. kamu dari mana saja, sudah satu minggu aku tak pernah melihatmu.” Fika menatap samuel dan tersenyum. Ia sangat kengen dengan Samuel. Sudah beberapa hari ia tak pernah bertemu dengannya.

“Maafkan aku Fik. Satu minggu ini aku ditugaskan oleh bosmu ke Jakarta.” Jelas samuel.

“Ke Jakarta? Ada acara apa?” Tanya Fika penasaran. “Liburan.” Samuel tertawa dengan perasaan bangga. “Jahat..” Fika menggerutu iri.

“Kenapa?” Tanya Samuel.

“Jahat kamu gak ngajak aku.” Fika terlihat manyun. Ia iri dengan Samuel yang mendapatkan hadiah dari bossnya jalan-jalan.

“Hahahhaa... kamu itu, baru aku tinggal satu minggu aja sudah kangen.” Sindir Samuel.

“Bukan kangen, tapi aku ngiri sama kamu, kamu diajak liburan, tapi aku tidak.” Gerutu Fika yang sepertinya tak rela melihat Samuel liburan.

“Ahh.. kamu ini Fik. kayak tak pernah kenal pak Handoyo bossmu itu.” “Memang kenapa Sam?” tanya Fika.

51

“Kamu percaya kalau aku liburan ke Jakarta?” Tanya Samuel. “Enggak!”

“Lah makanya itu, sudah tau bossmu itu gak akan pernah ngajak karyawannya buat berlibur. Pak Handoyo itu kan terkenal pelit dan perhitungan.”

“Hehehhee.. iya juga, lah terus kamu ke Jakarta ada pekerjaan apa?” Tanya Fika penasaran.

“Aku itu di suruh bosmu buat ngawasin bisnis barunya.” “Bisnis apa?”

“Bisnis bakpia goreng. Hahhhaaa..”

“Emang ada kah bakpia goreng?” Tanya Fika.

“Ya gak adalah. Kamu itu aku bohongin percaya saja. Begini, aku disuruh buat ngawasin radionya yang ada di Jakarta, ada renovasi. Jadi aku aku ditugasin kesana.” Jelas Samuel.

“Ngawasin atau jadi kuli bangunan di sana?” Fika tertawa menyindir. “Awalnya disuruh ngawasin.Tapiakhirnya sih boss nyuruh aku bantu-bantu. Jadi kuli deh disana. Huuuhh..” Gerutu Samuel.

“Hahahahaa... rasain tuh, emang enak di akalin boss. Aku sih gak mau Sam jadi kuli. Hehehhee..” Fika menertawai Samuel.

52

“Resek.. kamu Fik, ngerti gitu aku gak bakalan cerita ke kamu.” Gerutu Samuel lagi.

“Siapa suruh kamu pamer ke aku kalau rekreasi. Yah ujung-ujungnya jadi kuli bangunan tuh di sana. Ini ceritanya naik pangkat atau turun pangkat ya? Hehehhee..” Fika masih meledek Samuel.

“Ahh.. yang penting bagiku tugas di luar kota.” Tiba-tiba posel Samuel berbunyi.

“Hallo.. Fiki, ada apa... oh... aku sudah kembali dari Jakarta. Kenapa.. loh kamu sekarang ke Jakarta. Ada apa kamu kembali ke sana? Kan katanya kamu pindah ke Surabaya..., oh begitu... tabahkan hatimu ya Fiki, tetap semangat..., aku selalu berdoa yang terbaik buat kamu... sampai jumpa. Da..” Pembicaraan telfon berakhir.

“Ada apa?” Tanya Fika. “Fiki menelfon.” jelas Samuel

“Fiki, dia kenapa?” Terlihat wajah Fika yang cemas mendengar pembicaraan Samuel dengan Fiki barusan.

“Dia balik ke Jakarta.”

“Loh... katanya pindah tugas ke Surabaya, kenapa kok tidak jadi?” Wajah ceria Fika mendadak berubah menjadi mendung yang siap menumpahkan air hujan.

53

“Ada masalah dengan kantor pusatnya. Jadi ia disuruh kembali ke Jakarta untuk menyelesaikanya.” Jelas Samuel.

Fika menggigit bibirnya perlahan. Ia syok mendengar kabar tersebut. air matanya hampir saja jatuh. Tapi ia menahannya.

“Sampai kapan Sam?” Fika menahan tangis.

“Aku tak tahu Fika, yang jelas ia tadi berpamitan denganku.”

“Ohhh...” Tak terasa Fika berlinang air mata mendengar kabar tersebut. “Fika...?” Tanya Samuel.

“Iya..” Cepat-cepat Fika menyeka air matanya yang telah terjatuh. “Fiki juga menitipkan salam buat kamu.”

“Sudahlah.. aku pulang Sam. Maaf..” Tiba-tiba Fika meninggalkan Samuel begitu saja. Perasaannya begitu kacau. Kabar kalau Fiki kembali ke Jakarta membuat hatinya hancur berkeping-keping. Perasaan cinta yang begitu cerah mendadak mendung. Dan sekarang air matapun jatuh tetes demi tetes.

“Fika... Fika...” Samuel berteriak terus memanggil Fika. Tapi tak sedikitpun Fika mempedulikan panggilannya. Ia terus melangkahkan kakinya meninggalakan kafe itu.

***

54

Fiki menelfon samuel. “Hallo Samuel.. sekarang aku ada di jakarta.. ada masalah penting yang membuatku kembali ke Jakarta.”

Dari kejauhan ada seseorang yang mengamati Fiki yang sedang menelfon. Gerak-geriknya begitu mencurigakan.

“Aku akan menjelaskan nanti.. Salam buat Fika.” Ucap Fiki. Tiba-tiba orang yang mencurigakan itu berlari menuju ke Fiki. Ia menabrak Fiki hingga Fiki terpental jatuh.

“Maaf mas.. maaf, aku tak sengaja.” Pria misterius itu meminta maaf dan terburu-buru meninggalkan Fiki.

“Sial.. sudah nabrak tak mau tanggung jawab pula. Padahal aku ingin sekali ngomong dengan Fika. Mau menjelaskan semuanya ke Fika tentang kepergianku sementara ini. Ehh.. ngomong ngomong ponselku dimana?” Fiki merogoh saku untuk mencari ponselnya. “Ponselku mana? Ponselku. Atau jangan-jangan. HEEYY MALIIIIINNG... JAMBREETTT..” Fiki berteriak kencang dan berusaha untuk mengejarnya. Namun sayang ia tak bisa mengejar jambret yang telah membawa ponselnya itu.

55

Secepat itu jatuh cinta ,

Dalam dokumen love in Sunset (Novel) (Halaman 48-55)