• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bertahanlah fika

Dalam dokumen love in Sunset (Novel) (Halaman 166-175)

Sudah satu minggu Fika dirawat di rumah sakit. Walaupu Fika sudah sadarkan diri, namun keadaanya kian hari kian memburuk. Menurut dokter, Fika mengidap suatu penyakit yang sangat menakutkan. Penyakit yang telah merenggut nyawa ratusan orang di dunia. Fika terkena penyakit kanker otak stadium akhir. Keluarga Fika sangat menyayangkan keadaan ini. Mengapa mereka semua tak mengetahuinya dari awal? Setidaknya mereka dapat dengan berusaha keras menyembuhkan Fika. Mungkin sakit kepala begitu hebat yang dirasakan Fika, adalah gejala timbulnya kanker otaknya. Fikapun tak mengetahui semua ini. Ia fikir semua hanya sebuah trauma biasa. Waktu itu ia juga pernah menanyakan penyakitnya kepada dokter, bahkan psikiater. Namun dugaan mereka salah, bukan sebuah trauma yang dialami Fika. Melainkan kanker otak yang telah menjalar di dirinya. Dan menurut dokter, umur Fika sudah tak lama lagi. Bahkan bisa dibilang tinggal hitungan hari.

Pagi ini seperti biasa, ke tiga orang tua Fika dan Fiki sendiri, masih berada di dalam ruang ICU, terlihat Fika yang membuka matanya. Ia melihat sekeliling. Ia tersenyum kearah Fiki dan ketiga orang tuanya.

167

“Ayahh.. ibu...” Panggil Fika saat itu. Cepat-cepat mereka berdiri disamping Fika.

“Ia nak.. ada apa? Bagaimana keadaanmu nak?” Sahut Ibu angkat Fika dengan membelai rambut anaknya.

“Masih sedikit pusing bu ini kepala.. aduh sakit.” Fika merasakan sakit dikepalanya. Tak kuasa mereka semua menahan kesedihannya, melihat Fika merintih kesakitan. Terlebih Fiki saat itu. Ia tak kuasa melihat orang yang paling ia sayangi menderita.

“Ayah panggilkan dokter ya nak?” Ayah kandung Fika keluar dari kamar ICU dan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Fika saat itu. Tak beberapa lama ayah Fika kembali, dan di ikuti seorang dokter laki-laki yang mengalungkan stetoskop di lehernya.

“Fika.. buka ya mulutmu.” Dokter menyuruh Fika untuk membuka mulutnya. Dokter mulai menyalakan senter dan melihat keadaan rongga dalam mulut Fika. “Ayo sekarang kamu buka matamu lebar-lebar.” Fika menuruti semua perkataan dokter. Dokter kembali menyalakan senternya, ia menyoroti bola mata Fika.

“Dokter aku sudah sehatkan? Aku sudah sembuh kan?” Fika menanyakan keadaanya kepada dokter itu. Dokter hanya tersenyum mendengar pertanyaan Fika. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dokter itu. Mengingat pasiennya, hidupnya sudah tak lama lagi.

168

“Iya Fika. Kamu sudah berangsur membaik.” Dokter mencoba menghibur Fika dengan senyumannya. Semua yang hadir disana tak kuasa untuk menahan kesedihannya melihat Fika seperti itu.

“Tuh.. dengar kan kata dokter bu.. aku sudah sembuh sekarang.” Fika tersenyum ke arah ibunya. Ibunya tak kuasa menahan tangisannya saat itu. Sambil mengangguk Ibu Fika terus menangis tanpa henti.

“Ayah.. aku sudah sehat. Ayah ayo main-main. Aku kangen main-main dengan ayah. Mungkin aku sudah lupa masa-masa itu.” Ayah Fiki tersenyum kearah anak kandungnya. Ia tak bisa berkata apa-apa saat itu.

“Kakak...” Fika memanggil Fiki.

“Iya Fika, ada perlu apa? Ada yang bisa kakak bantu?” Fiki berdiri di samping ranjang Fika. Ia membelai rambut Fika dengan lembut. Kemudian Fiki memegang erat tangan Fika. Fiki menahan kesedihannya melihat Fika.

“Kakak aku mau jalan-jalan bersama kakak sekarang, aku ingin pergi ke taman itu bersama kakak. Aku ingin mendengar suara merdu kakak seperti di restauran dulu.” Fika mengajak Fiki untuk menemaninya jalan-jalan.

“Fika.. kamu masih sakit, nanti saja kalau kamu sudah sembuh akan kakak ajak jalan-jalan sepuasmu.” Fiki merasa tak bisa menuruti permintaan Fika. Ia masih sangat mengkhawatirkan keadaan Fika.

169

“Kakak.. aku sudah sembuh loh. Aku mau kakak menemaniku sekarang.” Fika terlihat kesal melihat Fiki tak mau menemaninya jalan-jalan. Fiki hanya bisa meneteskan air matanya.

Ayahnya membisikkan sesuatu ke telinga Fiki. Begitu lirih bahkan tak bisa terdengar jelas.

“Baiklah Fika.. Kakak akan mengajak kamu untuk pergi ketaman dan restauran itu. Tapi kamu harus janji, setelah kakak ajak jalan-jalan, kamu harus sembuh seperti sedia kala.” Fiki menyanggupi permintaan Fika setelah ayahnya membisikkan sesuatu ke telinganya.

“Siapp.. kakak. Setelah jalan-jalan, aku akan sehat seperti sedia kala.” Fika terlihat senang Fiki mau menuruti keinginannya saat itu. Ia mengangkat tangannya dan hormat kearah Fiki. “Siap komandan.” Ia tersenyum kearah Fiki. Fiki hanya bisa menahan kesedihannya. Melihat orang yang paling ia kasihi hidupnya sudah tak lama lagi.

Fiki mengambil kursi roda, Fika turun dari ranjangnya dengan bantuan ayah dan ibunya. Fika sudah duduk di kursi roda itu. Terlihat senyuman indah di wajah Fika. Seperti tidak ada apa-apa dengannya. Semuanya serasa baik-baik saja. Fiki mulai mendorong kursi roda itu meninggalkan ruang ICU. Serasa ke tiga orang tuanya ingin menjerit keras-keras melihat Fika meninggalkan ruang ICU bersama Fiki.

170

Fiki terus mendorong kursi roda Fika, menyusuri koridor-koridor rumah sakit. “Kakak.. aku senang bisa jalan-jalan sama kamu.” Sahut Fika, ia merasa sangat senang hari ini.

“Iya Fika.. hari ini kakak akan mengajakmu jalan-jalan kemana saja, sesukamu?” Fiki terus mendorong kursi roda itu. Ia ayunkan langkah kakinya untuk meninggalkan rumah sakit. Kemudian ia menyetop taksi dan masuk menaiki taksi tersebut bersama Fika.

Taksi itu berhenti di restauran bernuansa Eropa yang pernah mereka kunjungi dulu. Dibantu oleh sopir taksi, Fika turun dari mobil dan kembali menaiki kursi rodanya. Fiki membayar taksi dan mengucapkan terima kasih telah membantunya menurunkan Fika saat itu.

Fiki mendorong kursi roda Fika masuk ke restauran Eropa yang begitu artistik. Terlihat tak jauh berbeda dengan kunjungan terakhirnya dulu. Hanya ada beberapa ornamen dan lukisan yang diganti dengan yang baru. Setelah pelayan restauran membukakan pintu, terdengar Live Music yang begitu indah. Alunan suara membuat siapa yang berkunjung akan mencair hatinya. lagu yang dibawakan kali ini adalah instrumen You Rise me Up. Begitu enak didengar.

Fiki menuju meja Resepsionis untuk menanyakan ada meja yang kosong atau tidak. Mengingat meja disitu selalu habis dipesan pengunjung. Memang keberuntungan ada di pihak mereka. Ada satu meja kosong yang bisa mereka pesan saat itu. Fiki mendorong ke meja 14.

171

Fiki menggendong Fika untuk duduk di kursi. Fika tersenyum ke arah Fiki. Ia senang sekali Fiki selalu perhatian denganya. Tak pernah sedikitpun Fiki mengeluh tentang Fika. Ia begitu sabar menyayangi Fika, hingga detik ini. Saat Fiki membungkuk untuk meletakkan Fika dikursinya, Fika membelai rambut Fiki. Fika menangis saat itu.

“Kenapa kamu menangis Fika?” Tanya Fiki yang kaget melihat Fika yang tiba-tiba menangis.

“Kakak, aku begitu mencintaimu. Sampai detik ini.” Fika terseyum dengan air matanya yang menetes mengenai tangan Fiki. Fiki membalas senyuman Fika dengan getir. Fiki menahan kesedihannya saat itu. Ia tak mau kelihatan lemah di mata Fika. Ia ingin menjadi kakak yang tegar dan tak cengeng.

“Aku juga mencintaimu Fika.” Ucap Fiki. Tak lama kemudian pelayan laki-laki itu datang. Ia membawa setumpuk menu, dan menyerahkan kepada Fiki. Tak beberapa lama Fiki menyebutkan menu yang akan ia pesan. Pelayan itu mencatat dan setelah itu meninggalkan meja Fika dan Fiki.

“Kakak menyanyilah didepanku seperti dulu.” Pinta Fiki untuk segera menuruti keinginannya. Fiki tersenyum kearah Fika. Fiki beranjak dari kursinya dan kembali bernegosiasi kepada salah satu personil band yang ada di atas panggung. Tanpa banyak basa-basi mereka turun.

Fiki mengambil alih acara Live Music di restauran tersebut. Baru saja ia duduk di depan piano klasik itu, banyak pengunjung yang bertepuk tangan. Sepertinya para pengunjung tak melupakan permainan indahnya waktu itu.

172

Fiki memainkan intro lagu dengan begtu indah. Tangan-tangannya menekan tuts piaono dengan gemulai. Rangkaian nada indah keluar dari piano klasik. Fiki membawakan lagu kesukaan Fika “Pelangi Di matamu” seperti yang Fiki nyanyikan waktu itu.

Tiga puluh menit kita disini, tanpa suara

Dan aku resah harus menunggu lama, kata darimu. Mungkin butuh kursus merangkai kata, untuk bicara Dan aku benci harus jujur padamu tentang semua ini.

Fiki memainkan lagu itu begitu indah. Suaranya begitu merdu. Fiki menatap kearah meja Fika. Fika begitu senang saat itu. Fiki teringat akan bayang-bayang masa lalu. Saat mereka mengunjungi restauran ini. Fika banyak bertanya soal menu-menu makanan Eropa. Fiki menjawab semua pertanyaan Fika. Dan akhirnya Fiki memutuskan untuk menyanyikan lagu ini di atas panggung. Fika sangat senang . Bahkan dengan wajah yang malu-malu karena pujian dari beberapa orang. Namun saat ini Fiki teringat, bahwa mungkin lagu yang ia nyanyikan sekarang adalah lagu terakhirnya untuk Fika. Serasa Fiki tak bisa menahan kesedihannya. Ia ingin sekali menangis. Orang yang sangat ia sayangi harus berpisah dengannya. Bahkan untuk selama-lamanya.

Jam dindingpun tertawa, karna ku hanya diam, dan membisu. Ingin ku maki diriku sendiri, yang tak berkutik didepanmu

173

Fiki tak bisa menahan kesedihannya. Tak terasa air matanya menetes di tuts-tuts piano. Namun ia berusaha untuk mengendalikan suara dan permainannya. Ia kembali menatap Fika. Ia begitu cantik saat ini. Fiki tak ingin berpisah dengan Fika. Fiki ingin sekali melihat senyuman Fika. Bahkan ia tak rela jika hari ini adalah hari terakhirnya bersama dengannya. Melihat senyuman yang terpancar di wajah Fika.

Ada yang lain disenyummu

Yang membuat lidahku, gugup tak bergerak Ada pelangi, di bola matamu

Yang memaksa diri tuk bilang Aku sayang padamu...

Aku sayang padamu...

Sempurna. Fiki menagis tersedu-sedu diatas panggung. Ia tak bisa meneruskan bait-bait terakhir lagu. Suaranya sudah terlalu serak. Namun ia berusaha untuk konsentrasi dengan permainannya. Nada-nadanya piano telah ia susun dengan indah, bahkan masih sangat indah untuk didengar. Fiki berhasil mengakhiri lagunya. Tepuk tangan yang meriah terdengar begitu riuh. Semua pengunjung menyukai lagu dan permainan Fiki. Ia kembali menatap Fika. Dan Fika begitu antusias untuk bertepuk tangan.

174

Fiki turun dari atas panggung dan menuju kursi Fika. Fika menyambutnya dengan gembira. Senyuman indah terpancar di wajah Fika. “Terima kasih kakak atas lagunya. Aku suka sekali dengan suara dan permainan kakak.” Fika tersenyum. Fiki membalas seyuman Fika dan meyeka air matanya.

“Kakak, mengapa menagis?” Fika mengusap pipi Fiki yang penuh dengan air mata. Tak kuasa Fiki menahan kesedihannya. Ia memeluk tubuh Fika dengan erat. Ia menagis dengan sepuasnya. Tak pedulikan orang-orang yang ada direstauran. Ia terus saja menagis, tak mau Fika pergi secepat itu. Fika melingkarkan tangan mungilnya di pinggang Fiki.

“Kakak, jangan menagis. Aku baik-baik saja kok.” Fika menepuk-nepuk pundak Fiki yang masih memeluk Fika dengan erat. Fiki melepaskan pelukannya. Ia mengusap air matanya. Fiki tersenyum ke arah Fika.

“Jadi, sekarang kita kemana lagi sayang.” Fiki menggenggam tangan Fika. Fika membalas dengan senyuman yang indah.

“Ke taman biasanya, kakak.” Fika mengajak Fiki untuk pergi ke taman. Tempat dimana Fika sering mengunjunginya. Bahkan Fika pernah menunggu Fiki selama 3 bulan dalam ketidak pastian. Fika kangen dengan keadaan Sunset di taman itu.

175

Dalam dokumen love in Sunset (Novel) (Halaman 166-175)