• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK POTENSI PARASITOID

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ABSTRAK POTENSI PARASITOID"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

POTENSI PARASITOID Neochrysocharis spp. (HYMENOPTERA: EULOPHIDAE) SEBAGAI AGEN PENGENDALI HAYATI Liriomyza spp.

(DIPTERA: AGROMYZIDAE) PADA TANAMAN SAYURAN DI BALI Penelitian bertujuan untuk mengetahui (1) Kelimpahan populasi dan tingkat parasitisasi N. formosa dan N. okazakii di tiga ketinggian tempat dan berbagai jenis tanaman sayuran di Bali, (2) Potensi biologi (keperidian, pola peneluran dan statistik demografi) N. formosa dan N. okazakii pada Liriomyza spp., (3) Preferensi, perilaku parasitisasi dan daya kompetisi parasitoid N. formosa dan N. okazakii terhadap inang, dan (4) Tanggap fungsional parasitoid N. formosa dan N. okazaki terhadap kerapatan inang.

Penelitian dilaksanakan di daerah pertanaman sayuran di daerah Bali dengan ketinggian tempat < 500, ≥ 500 – 1000 dan > 1000 meter diatas permukaan laut (dataran rendah, sedang dan tinggi) dan di Laboratorium Pengendalian Hama Terpadu Fakultas Pertanian serta Laboratorium Marine Universitas Udayana. dimulai Maret 2014 sampai Januari 2015. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pengambilan sampel secara purposiv sampling dan Laboratorium. Data yang diperoleh dianalisis dengan IBM SPSS versi 21 Tahun 2012. Penyajiannya dalam bentuk tabel, grafik dan gambar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan populasi tertinggi N. formosa

dan N. okazakii terjadi pada inang L sativae di dataran rendah. N. formosa pada

tanaman kacang panjang dan N okazaki pada tanaman mentimun. Tingkat parasitisasi

N .formosa dan N.okazakii tertinggi terjadi pada inang L. sativae di dataran tinggi

masing-masing pada tanaman tomat.

Keperidian parasitoid N. formosa lebih tinggi dibandingkan N. okazakii pada inang L.sativae maupun inang L.huidobrensis. Periode praoviposisi dan pascaoviposisi N. formosa lebih singkat daripada N. okazakii. Lama hidup imago dan masa oviposisi N. formosa lebih panjang daripada N. okazakii pada kedua inang. Nilai statistik demografi yang diperoleh menunjukkan bahwa laju reproduksi bersih parasitoid dan laju pertambahan intrinsik (r) N. formosa lebih tinggi daripada N.

okazakii baik pada inang L. sativae maupun L. huidobrensis. Preferensi parasitoid N. formosa dan N. okazakii lebih memilih inang L. sativae daripada L. huidobrensis.

Perilaku kedua parasitoid adalah sama dalam memanfaatkan inangnya dengan tingkat parasitisasi yang tertinggi pada parasitoid N. formosa pada L. sativae. Daya kompetisi parasitoid dalam memanfaatkan inangnya, N. formosa memiliki jumlah keturunan lebih banyak daripada N. okazakii baik pada inang L. sativae maupun L.

huidobrensis. Kedua parasitoid mempunyai tanggap fungsional tipe II.

Kata Kunci : Potensi Parasitoid N. formosa, N. okazakii, Liriomyza spp, Tanaman sayuran

(2)

ABSTRACT

POTENTIAL PARASITOIDS Neochrysocharis spp. (HYMENOPTERA: EULOPHIDAE) AS BIOLOGICAL CONTROL AGENTS of Liriomyza spp.

(DIPTERA: AGROMYZIDAE) ON VEGETABLE CROP IN BALI The research was aims to determine (1) The abundance of population and parasitization level N. formosa and N. okazakii in various locations and vegetable crops in Bali, (2)The potential biological (fecundity, ovipositioned pattern and demographic statistics) N. formosa and N. okazakii on Liriomyza spp., (3) Preferences, parasitization behaviors and competitiveness of parasitoid N.formosa and N. okazakii to the host, and (4) Functional response of parasite N. formosa and N.

okazaki to host density.

The research was conducted in the area of vegetable cultivation in the field of Bali with altitude < 500, ≥ 500 – 1000 and > 1000 meters above sea level and Laboratory of Integrated Pest Management, Faculty of Agriculture and Marine Laboratory of Udayana University , started in March 2014 to January 2015. The method was used purposive random sampling and Laboratory experiment. Data were analyzed by IBM SPSS version 21, 2012. The presentation in the form of tables, graphs and pictures.

The results showed that the highest population abundance of N. formosa and N.

okazakii occurs on host L sativae in the lowlands. N. formosa on long beans and N okazakii in cucumbers crops. Parasitization level of N. formosa and N. okazakii

was highest in the host L. sativae at each plateau on tomato plants.

Fecundity N. formosa higher than N. okazakii on L sativae and L.hudobrensis host. Preoviposition and postoviposition period of N. formosa shorter than N.

okazakii. Longevity and oviposition period of N. formosa adult was longer than N. okazakii on both the host. Values obtained demographic statistics show that net

reproductive rate and increase intrinsic rate (r) N. formosa was highest than N.

okazakii on L. sativae and L. hudobrensis host.

Preferences parasite of N. formosa and N. okazakii prefered to L. sativae than L.

huidobrensis host. Behavior of two parasite was same in exploiting its host with the

highest level of parasitization on N. formosa parasite on L. sativae. The competitiveness of the parasite in exploiting its host, N. formosa has a number of more offspring than N.okazakii either L. sativae and L. huidobrensis host.. Both parasite have type II functional response.

Key Words: Parasite Potential, N. formosa, N. okazakii, Liriomyza spp, vegetable crops

(3)

xi

(4)

xii

RINGKASAN

Lalat pengorok daun Liriomyza spp. (Diptera:Agromyzidae) merupakan hama

utama pada tanaman sayuran. Liriomyza spp. bersifat polifag ditemukan menyerang beberapa jenis tanaman. Akibat serangannya dapat menurunkan kuantitas dan kualitas produksi, menurunkan harga dan menurunkan pendapatan petani. Penurunan hasil dapat mencapai 30-70% pada kentang. Upaya pengendalian pengorok daun pada umumnya menggunakan insektisida dengan frekuensi penyemprotan 2-3 kali per minggu. Namun tindakan tersebut sering tidak mampu menurunkan tingkat serangan karena telur dan larva berada dalam jaringan tanaman sehingga terlindung dari paparan insektisida. Solusinya adalah pengendalian hayati yang merupakan salah satu komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Penggunaan musuh alami dapat dilakukan karena musuh alami sudah ada di lapang dan dapat memperbanyak diri, sehingga pengendalian dapat dilakukan dalam jangka panjang.

Parasitoid Neochrysocharis spp. yang terdiri dari Neochrysocharis formosa dan

Neochrysocharis okazakii merupakan parasitoid dominan yang berasosiasi pada Liriomyza sativae pada dataran rendah dan sedang. Ada kecendrungan parasitoid ini

menyebar ke dataran tinggi di Bali. Penyebaran ini karena inangnya (L.sativae) atau preferensinya terhadap L.huidobrensis. Kedua parasitoid ini sangat potensial sebagai agen pengendali hayati lalat pengorok daun. Untuk mengetahui potensi kedua parasitoid tersebut, maka perlu dilakukan penelitian tentang kelimpahan dan tingkat parasitisasinya, potensi biologi meliputi (keperidian, pola peneluran dan statistik demografi), preferensi, perilaku parasitisasi, daya kompetisi, dan tanggap fungsional parasitoid N. formosa dan N. okazaki terhadap kerapatan inang L. sativae dan L.

huidobrensis.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Kelimpahan populasi dan tingkat parasitisasi N.formosa dan N. okazakii di tiga ketinggian tempat dan berbagai jenis tanaman sayuran di Bali, (2) Potensi biologi (keperidian, pola peneluran dan statistik demografi) N. formosa dan N. okazakii pada Liriomyza spp., (3) Preferensi,

(5)

xi

perilaku parasitisasi dan daya kompetisi parasitoid N. formosa dan N. okazakii terhadap inang, (4) Tanggap fungsional parasitoid N. formosa dan N. okazaki terhadap kerapatan inang.

Metode yang digunakan adalah metode survey dan penelitian laboratorium. Survei dilakukan di lapangan untuk mengambil sampel tanaman terserang Liriomya spp. dan parasitoidnya. Di Laboratorium dilakukan identifikasi dan perbanyakan

Liriomyza dan parasitoidnya, penelitian potensi biologi parasitoid, preferensi,perilaku

parasitisasi, daya kompetisi, dan tanggap fungsional parasitoid N. formosa dan N.

okazaki terhadap kerapatan inang L. sativae dan L. huidobrensis. Data yang

diperoleh dianalisis dengan IBM SPSS versi 21 Tahun 2012. Penyajiannya dalam bentuk tabel, grafik dan gambar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan populasi tertinggi N. formosa

dan N. okazakii terjadi pada inang L sativae di dataran rendah. N. formosa pada

tanaman kacang panjang dan N okazaki pada tanaman mentimun. Tingkat parasitisasi

N .formosa dan N.okazakii tertinggi terjadi pada inang L. sativae di dataran tinggi

masing-masing pada tanaman tomat.

Keperidian N. formosa lebih tinggi dibandingkan N. okazakii pada kedua inang. Periode praoviposisi dan pascaoviposisi N. formosa lebih singkat daripada N.

okazakii. Lama hidup dan masa oviposisi imago N. formosa lebih panjang daripada N. okazakii pada kedua inang. Nilai statistik demografi yang diperoleh menunjukkan

bahwa laju reproduksi bersih dan laju pertambahan intrinsik (r) parasitoid N. formosa lebih tinggi daripada parasitoid N. okazakii baik pada inang L. sativae maupun L.

huidobrensis.

Preferensi parasitoid N. formosa dan N. okazakii lebih memilih inang L. sativae daripada L. huidobrensis. Perilaku kedua parasitoid adalah sama dalam memanfaatkan inangnya dengan tingkat parasitisasi yang tertinggi pada parasitoid N.

formosa pada inang L. sativae. Daya kompetisi parasitoid dalam memanfaatkan

inangnya, N. formosa memiliki jumlah keturunan lebih banyak daripada N. okazakii baik pada inang L. sativae maupun L. huidobrensis. Tingkat parasitisasi N. formosa

(6)

ii

lebih tinggi dibandingkan tingkat parasitisasi N. okazakii pada inang L. sativae maupun L. huidobrensis.

Kedua parasitoid mempunyai tipe tanggap fungsional tipe II dengan laju pencarian inang masing-masing sebesar 0.05 ekor per jam. Waktu yang diperlukan untuk menangani satu ekor inang L. sativae oleh parasitoid N. formosa yaitu 49 menit, sedangkan parasitoid N. okazakii menangani satu inang L. sativae yaitu 56 menit. Waktu yang diperlukan untuk menangani satu inang L. huidobrensis oleh N.

formosa yaitu 53 menit, sedangkan oleh N. okazakii 1 jam 1 menit.

Pada penelitian ini, telah diketahui potensi parasitoid N. formosa maupun N.

okazakii dalam mengendalikan L. sativae dan L. huidobrensis pada tanaman sayuran

di Bali, untuk keefektifan pengendalian Liriomyza perlu dilakukan perbanyakan kedua parasitoid ini serta perlu dilakukan upaya pelestarian parasitoid tersebut melalui konservasi untuk mendukung pertanian berkelanjutan.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman SAMPUL DALAM... I PRASYARAT GELAR... Ii

LEMBAR PERSETUJUAN... iii

PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iv

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

ABSTRAK... viii

ABSTRACT... ix

RINGKASAN... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL... xvi

DAFTAR GAMBAR... xvii

DAFTAR LAMPIRAN... xix

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian... 6

1.4 Manfaat Penelitian... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 8

2.1 Lalat Pengorok Daun, Liriomyza spp. ... 8

2.1.1 Taksonomi... 8

2.1.2 Morfologi dan Biologi... 8

2.1.2.1 Liriomyza sativae Blanchard (Diptera : Agromyzidae )... 8

2.1.2.1 Liriomyza huidobrensis... 11

2.1.3 Persebaran dan Tanaman Inang... 13

2.1.4 Pengendalian Liriomyza spp. ... 16

2.1.5 Musuh Alami... 17

2.2 Parasitoid Neochrysocharis spp. ………... 19

2.2.1 Karakteristik Biologi... 19

2.2.1.1 Pola reproduksi... 19

2.2.1.2 Pola peletakkan telur harian... 21

2.2.1.3 Statistik demografi 22

2.2.2.3 Kisaran toleransi terhadap inang dan tanaman inang... 23

2.2.2.4 Kisaran toleransi terhadap suhu... 27 2.2.2.5 Kompetisi...

2.2.2.6. Tanggap fungsional terhadap kerapatan inang...

28 29

(8)

2.3 Biologi Parasitoid Neochrysocharis formosa... 31

2.4 Biologi Parasitoid Neochrysocharis okazakii ... 33

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS... 35

3.1 Kerangka Berpikir... 35

3.2 Konsep Penelitian... 41

3.3 Hipotesis... 43

BAB IV METODE PENELITIAN... 45

4.1 Waktu dan Tempat... 45

4.2 Bahan dan Alat... 45

4.3 Persiapan Penelitian... 45

4.3.1 Pengambilan Sampel Daun... 45

4.3.2 Perbanyakan Tanaman Inang... 46

4.3.3 Perbanyakan Liriomyza spp. ... 47

4.3.4 Perbanyakan N. formosa dan N. okazakii... 47

4.4 Pelaksanaan Penelitian... 48

4.4.1 Penelitian kelimpahan populasi dan tingkat parasitisasi N. formosa dan N. okazakii pada tiga ketinggian tempat dan berbagai jenis tanaman sayuran di Bali... 48

4.4.2 Penelitian potensi biologi N. formosa dan N. okazakii... Penelitian keperidian, pola peneluran dan statistik demografi N. formosa dan N.okazakii pada Liriomyza spp 51 4.4.3.1 Penelitian preferensi N. formosa dan N. okazakii terhadap Liriomyza spp... 53

4.4.3. 2 Penelitian perilaku parasitoid N. formosa dan N. okazakii dalam memanfaatkan inangnya... .. 55

4.4.3.3 Penelitian daya kompetisi N. formosa dan N. okazakii dalam memanfaatkan Inang... 56

4.4.4 Penelitian laju parasitisasi terhadap kerapatan inang (tanggap fungsional)... 57

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN... 59

5.1 Kelimpahan Populasi dan Tingkat Parasitisasi N. formosa dan N. okazakii pada Tiga Ketinggian Tempat dan Berbagai Jenis Tanaman Sayuran ... 59

(9)

5.2 Potensi Biologi (Keperidian, pola peneluran dan statistik

demografi ) N. formosa dan N. okazakii pada Liriomyza spp ... 69

5.3 Preferensi, Perilaku Parasitisasi dan Daya Kompetisi N. formosa

dan N. okazakii terhadap Liriomyza spp. ... 80

5.3.1 Preferensi parasitoid N. formosa dan N. okazakii terhadap

Liriomyza spp. ... 80 5.3.2 Perilaku parasitisasi parasitoid N. formosa dan N.okazakii

terhadap Liriomyza spp. ... 83 5.3.3 Daya kompetisi parasitoid N. formosa dan N. okazakii

dalam memanfaatkan inang Liriomyza spp. ... 85 5.4 Tanggap Fungsional Parasitoid N. formosa dan N. okazakii

terhadap Peningkatan Kerapatan Inang... 88

5.5 Pembahasan Umum... 94 5.6 Temuan Baru/Novelty... 100

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN... 101 6.1 Simpulan... 101 6.2 Saran... 102 DAFTAR PUSTAKA... 103 LAMPIRAN-LAMPIRAN... 111

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

5.1 Rata-rata keperidian, lama hidup, lama peneluran N. formosa dan

N. okazakii pada inang L. sativae dan L. huidobrensis...

71 5.2 Statistik demografi N. formosa dan N. okazakii pada inang L.

sativae dan L. huidobrensis... 73 5.3 Indeks preferensi N. formosa dan N. okazakii pada inang L.

sativae... 82 5.4 Rata-rata perilaku masing-masing parasitoid dalam menangani

inang... 84 5.5 Jumlah keturunan yang dihasilkan dan tingkat parasitisasi

masing-masing parasitoid untuk memanfaatkan kondisi serangga

inang... 86

5.6 Hasil analisis regresi koefesien determinasi (R2) dan standar

deviasi (sd) parasitoid terhadap peningkatan kerapatan inang L.

sativae... 88

5.7 Hasil analisis regresi koefesien determinasi (R2) dan standar

deviasi parasitoid N. formosa dan N. okazakii untuk menentukan tipe model tanggap fungsionalnya terhadap peningkatan kerapatan inang L. huidobrensis...

90 5.8 Nilai laju pencarian inang (a) dan lama penanganan inang (Th)

parasitoid N .formosa dan N. okazakii untuk menentukan pada

(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

2.1 L. sativae : Telur (A), Larva(B), Pupa(C) dan Imago (D) ... 10

2.2 L. huidobrensis : Telur (A), Larva (B), Pupa (C) dan Imago( D)... 12

2.3 Tiga tipe tanggap fungsional (Holling, 1959)... 30

2.4 Imago N. formosa ... 32

2.5 Imago N. okazakii... 34

3.1 Kerangka Berpikir... 40

3.2 Konsep Penelitian... 43

4.1 Prosedur kerja penelitian kelimpahan populasi dan tingkat parasitisasi N. formosa dan N. okazakii pada tiga ketinggian tempat dan berbagai tanaman sayuran di Bali... 50

5.1 Kelimpahan populasi N. formosa dan N. okazakii pada tiga ketinggian tempat dan berbagai tanaman sayuran di Bali... 62

5.2 Kelimpahan populasi L. sativae ( L.s) dan L. huidobrensis (L.h) pada tiga ketinggian tempat dan berbagai tanaman sayuran di Bali... 63

5.3 Kelimpahan populasi N. formosa dan N. okazakii pada L.sativae (L.s) dan L.huidobrensis (L.h) pada tiga ketinggian tempat dan berbagai tanaman sayuran di Bali... 64

5.4 Tingkat parasitisasi N. formosa dan N. Okazakii pada tiga ketinggian tempat dan berbagai tanaman sayuran di Bali... 66

5.5 Tingkat parasitisasi N. formosa dan N. okazakii pada L.sativae (L.s) dan L.huidobrensis L.h) pada tiga ketinggian tempat dan berbagai tanaman sayuran di Bali... 67

5.6 Persentase Betina N. formosa dan N. okazakii pada tiga ketinggian tempat dan berbagai pertanaman sayuran di Bali... 68

5.7 N. formosa betina (A) dan N.okazakii betina (B) ... 72

5.8 Bertahan hidup N. formosa (A) dan N. okazakii (B) pada L. sativae dan L. huidobrensis... 77

(12)

5.9 Laju pertumbuhan populasi N. formosa (A) dan N .okazakii (B)

pada inang L.sativae dan L.huidobrensis persatuan waktu... 79

5.10 Preferensi N. formosa dan N. okazakii terhadap L. sativae dan

L. huidobrensis... 81 5.11 Tanggap fungsional N. formosa pada L.sativae (A) dan

L. huidobrensis (B)... 89 5.12 Tanggap fungsional N. okazakii pada L.sativae (A) dan

L. huidobrensis (B)... 91 5.13 Tanggap fungsional N .formosa (A) dan N. okazakii (B)

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Bagian Organ tubuh Penting Neochrysocharis sp yang

digunakan sebagai dasar identifikasi (CSIRO, 2005)…... 111

2 Data Kelimpahan dan tingkat parasitisasi N. formosa dan N. okazakii pada ketinggian tempat <500, ≥500-1000 dan >1000 mdpl dan jenis tanaman Sayuran... 112

3 Neraca hayati N. formosa pada L.sativae... 116

4 Neraca hayati N. formosa pada L. huidobrensis... 117

5 Neraca hayati N. okazakii pada L .sativae... 118

6 Neraca hayati N. okazakii pada L. huidobrensis... 108

7 Indeks preferensi Manly parasitoid N. formosa terhadap L.sativae dan L. huidobrensis... 120

8 Indeks preferensi Manly parasitoid N. okazakii terhadap L. sativae dan L. huidobrensis... ... 121 9 Hasil uji BNT pada perilaku parasitoid N .formosa dan N .okazakii pada inang L. sativae dan L. huidobrensis... 122 10 Hasil uji t daya kompetisi parasitoid N.formosa dan N.okazakii pada inang L. sativae dan L. huidobrensis... 123 11 Lama penanganan inang (Th) dan laju pencarian inag (a) parasitoid N. formosa dan N. okazakii pada inang L.sativae dan L.huidobrensis... 124

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sayuran merupakan salah satu komoditas hortikultura, mempunyai nilai ekonomis tinggi yang mampu memberikan sumbangan besar terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Permintaan produk sayuran meningkat dari tahun ke tahun (Setiawati et al., 2004), oleh karena itu berbagai usaha budidaya telah banyak dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman sayuran.

Upaya peningkatan produksi sayuran, secara kualitas maupun kuantitas banyak menghadapi kendala, diantaranya adalah serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Kehilangan hasil panen pada tanaman sayuran akibat serangan hama, berkisar antara 46-100%, sedangkan akibat serangan penyakit berkisar antara 5-90% (Setiawati et al., 2004). Lalat pengorok daun atau “leaf miners” merupakan salah satu golongan lalat yang menyerang tanaman sayur-sayuran.

Lalat pengorok daun Liriomyza spp. (Diptera:Agromyzidae) merupakan hama

utama pada tanaman sayuran, tetapi bukan hama asli. Hama ini diperkirakan masuk ke Indonesia tahun 1990 (Rauf 1997, 1999), melalui pengiriman bunga potong. Liriomyza spp. bersifat polifag ditemukan menyerang beberapa jenis tanaman. L. huidobrensis menyerang lebih dari 70 spesies tanaman yang tergolong dalam 20 famili, khususnya tanaman sayuran dan tanaman hias. Tanaman yang sering diserang adalah dari famili Solanacea, Cruciferae,

(15)

2

Leguminosae, Curcubitaceae, Liliaceae, Umbeliferae, Chenopodiaceae,

Amaranthaceae dan Compositae (Rauf et al., 2000).

Di Bali Liriomyza spp. diperkirakan masuk pada tahun 1996 (Supartha, 1999), menyerang tanaman kentang, tomat, seledri, kacang merah, kubis, cabai, gambas, selada (lettuce), bayam liar, wortel, beberapa jenis tanaman hias (krisan) dan gulma. Pada tahun 1998, Liriomyza spp. merusak sekitar 33 ha tanaman kentang di Candi Kuning Tabanan dan Pancasari Buleleng (Supartha et al., 1999). Pada pertengahan tahun 2001, hampir seluruh kawasan yang menanam sayuran di Bali telah terserang Liriomyza spp. dengan tingkat serangan ringan, sedang sampai berat (Supartha, 2002).

Liriomyza spp. menyerang pada waktu fase (stadium) larva, sedangkan yang

imago hidup bebas. Tanaman yang terserang memperlihatkan gejala pada daun berupa bintik-bintik putih akibat tusukan ovipositor imago dan berupa liang korokan berbentuk seperti terowongan kecil yang dibuat oleh larva. Kerusakan yang terjadi pada permukaan daun menyebabkan proses fotosintesis dan respirasi pada tanaman menjadi terganggu sehingga pertumbuhan tanaman tidak berlangsung dengan baik. Serangan berat mengakibatkan daun mengering dan gugur sebelum waktunya, sehingga kuantitas dan kualitas produksi menurun. Secara umum dampak serangan hama pengorok daun adalah secara kosmetik, menurunkan kuantitas dan kualitas produksi, menurunkan harga dan menurunkan pendapatan petani. Serangan pengorok daun pada tanaman kentang dapat menurunkan hasil berkisar antara 30-70% (Rauf dan Shepard, 1999). Kerusakan berat di dataran rendah umumnya terjadi pada tanaman tomat, semangka,

(16)

3

mentimun suri, kacang panjang, oyong, kedelai dan kacang buncis dengan tingkat kerusakan berkisar antara 40-70% (Rauf et al., 2000).

Upaya pengendalian pengorok daun pada umumnya menggunakan insektisida dengan frekuensi penyemprotan 2-3 kali perminggu (Rauf, 1999), yang berbahan aktif profenofos (Rauf et al., 2000). Namun tindakan tersebut sering tidak mampu menurunkan tingkat serangan karena telur dan larva berada dalam jaringan tanaman sehingga terlindung dari paparan insektisida (Parella, 1987). Pengendalian secara kimiawi selain mahal, mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan manusia. Penggunaan insektisida berlebihan dan tidak bijaksana dapat menimbulkan masalah baru seperti resistensi, resurjensi dan ledakan hama sekunder (Raman, 1988). Solusinya adalah pengendalian yang ramah lingkungan yakni menggunakan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), yang komponennya terdiri dari : kultur teknis, fisik, mekanik, varietas tahan, hayati, penggunaan insektisida merupakan komponen terakhir, jika komponen pengendalian lainnya tidak efektif. Pengendalian hayati merupakan pengendalian dengan memanfaatkan agen hayati yaitu musuh alami: parasitoid, predator dan patogen.

Di Indonesia dilaporkan terdapat 13 jenis parasitoid yang berasosiasi dengan

Liriomyza spp. yaitu Ascecodes deluchii (Baucek), Chrysocharis sp., Cirropilus abiguss (Hanson and LaSalle), Closterocerus sp., Hemiptarsenus varicornis

(Girault), Neochrysocharis formosa (Westwood), Neochrysocharis sp., Pnigalio sp., Quadrastichus sp., Zagrammosoma sp. (semuanya Hymenoptera:

(17)

4

(Hymenoptera: Braconidae) dan Sphegigaster sp. (Hymenoptera: Pteromalidae) (Rauf et al., 2000). Di Bali ada 13 Jenis parasitoid yang ditemukan berasosiasi dengan larva dan pupa L. sativae dan L. huidobrensis. Diantara 13 jenis tersebut

Hemiptarsenus. varicornis, Opius spp dan N. formosa, merupakan tiga parasitoid

larva yang paling dominan ditemukan pada tanaman sayuran dengan pola penyebaran yang berbeda. Hemiptarsenus varicornis ditemukan pada semua jenis tanaman inang baik di dataran tinggi maupun dataran rendah, Opius sp. lebih dominan pada tanaman kentang, tomat, seledri, tanaman liar di daerah dataran

tinggi kawasan Pancasari (Buleleng) dan Baturiti (Tabanan), N. formosa hanya

ditemukan berasosiasi pada Liriomyza sativae yang menyerang pada tanaman, kacang-kacangan di daerah dataran rendah dan sedang (Supartha, 2002).

Penyebaran parasitoid N. formosa dan N. okazakii sudah sampai di dataran tinggi dengan tingkat parasitisasi pada tahun sebelumnya rendah, tapi saat ini tingkat parasitisasinya mencapai 47 dan 43 % (Pratama et al., 2013), pada tanaman tomat 16 dan 4 % (Herlianadewi et al., 2013), sehingga sangat potensial sebagai agen pengendali hayati Liriomyza spp. di Bali. Sampai saat ini belum ada informasi potensi parasitoid N. formosa dan N. okazakii sebagai agen pengendali hayati Liriomyza spp. pada sayuran di Bali. Maryana (2000), meneliti N. formosa pada L.trifoli di Jepang, adanya strain betina asexual lebih baik dari pada strain betina sexual sebagai bio-kontrol pada L. trifoli. Suwastika (2003) telah meneliti

N. okazakii pada L. sativae dan mendapatkan bahwa N. okazakii mempunyai

preferensi yang kuat terhadap instar -3 L. sativae. Perkembangan populasi

(18)

5

berkaitan dengan kemampuan adaptasi terhadap lingkungannya. Ada 2 faktor penting yang mempengaruhi perkembangan populasi parasitoid di alam yaitu

faktor ekstrinsik dan intrinsik (Supartha, 2005). Faktor ekstrinsik meliputi faktor

makanan seperti ketersediaan dan kesesuaian habitat inang, instar inang maupun kerapatan inang; teknis budidaya seperti pergiliran tanaman, pemupukan, penggunaan varietas, pestisida dan iklim (suhu, kelembaban, curah hujan), sedangkan faktor intrinsik meliputi serangga parasitoid yang menyangkut ketahanan genetik dan kemampuan adaptasinya melalui berbagai cara seperti

pengaturan perilaku dan strategi peneluran, kompetisi dalam pemanfaatan inang

dan tanggap fungsional. Kedua faktor tersebut sangat mempengaruhi

keberhasilan parasitoid untuk beradaptasi dengan lingkungannya, terutama

berkompetisi untuk memanfaatkan sumberdaya serangga inang baik sesama jenis

(intraspesifik) maupun dengan jenis parasitoid lainnya (interspesifik).

Keberhasilan pemanfaatan parasitoid dalam pengendalian hama pengorok daun berdasarkan pemahaman biologi dan ekologi parasitoid terutama hubungan parasitoid dengan inang dan tanaman inangnya. Oleh karena itu perlu dilakukan serangkaian penelitian lapangan pada tiga ketinggian tempat yaitu <500 m dpl, ≥500-1000 m dpl dan > 1000 m dpl (dataran rendah, sedang dan tinggi) mengenai: Kelimpahan populasi dan tingkat parasitisasi N. formosa dan N. okazakii pada tiga ketinggian tempat dan berbagai jenis tanaman sayuran di Bali. Di Laboratorium penelitian mengenai : potensi biologi parasitoid N. formosa dan N. okazakii (keperidian, pola peneluran dan statistik demografi). Preferensi, perilaku parasitisasi dan daya kompetisi parasitoid N. formosa dan N. okazakii terhadap

(19)

6

inang L. huidobrensis dan L. sativae. Tanggap fungsional parasitoid N. formosa

dan N. okazaki terhadap kerapatan inangnya

1.2 Rumusan Masalah

Beberapa masalah yang perlu dirumuskan dalam melaksanakan penelitian ini antara lain :

1. Bagaimanakah kelimpahan populasi dan tingkat parasitisasi N. formosa dan N. okazakii pada tiga ketinggian tempat dan berbagai jenis tanaman sayuran di Bali?

2. Bagaimanakah potensi biologi (keperidian, pola peneluran dan statistik demografi) N. formosa dan N. okazakii pada Liriomyza spp?

3. Bagaimanakah preferensi, perilaku parasitisasi dan daya kompetisi parasitoid N. formosa dan N. okazakii terhadap inang L. huidobrensis dan

L. sativae?

4. Bagaimanakah tanggap fungsional parasitoid N. formosa dan N. okazaki terhadap kerapatan inang?.

1.3 Tujuan Penelitian

Beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk menganalisis kelimpahan populasi dan tingkat parasitisasi N.

formosa dan N. okazakii pada tiga ketinggian tempat dan berbagai jenis

tanaman sayuran di Bali.

2. Untuk menganalisis potensi biologi (keperidian, pola peneluran dan statistik demografi) N. formosa dan N. okazakii pada Liriomyza spp.

(20)

7

3. Untuk menganalisis preferensi, perilaku parasitisasi dan daya kompetisi parasitoid N. formosa dan N. okazakii terhadap inang.

4. Untuk menentukan tanggap fungsional parasitoid N. formosa dan N.

okazaki terhadap kerapatan inang.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh beberapa manfaat seperti berikut :

Secara akademik, penelitian ini menambah referensi tentang adanya informasi kelimpahan populasi dan tingkat parasitisasi N. formosa dan N. okazakii pada tiga ketinggian tempat dan berbagai jenis tanaman sayuran serta potensi biologi parasitoid lokal N. formosa dan N. okazakii sebagai agen pengendali hayati

Liriomyza spp. pada tanaman sayuran di dataran tinggi, sedang dan rendah di Bali.

Penerapan penggunaan konsep PHT, dengan mengutamakan pengendalian hama yang ramah lingkungan.

Secara praktis, informasi ini dapat sebagai pedoman bagi pemangku kepentingan yang memanfaatkan parasitoid N. formosa dan N. okazakii untuk mengendalikan Liriomyza spp. di lapang.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Pemanfaatan Tungau Predator Eksotis dan Potensi Tungau Predator Lokal sebagai Agens Pengendali Hayati Tungau Hama

Dipilihnya panduan model pendidikan sa- dar lingkungan bermuatan potensi lokal me- ngenai pemanfaatan lahan pekarangan dengan tanaman sayuran atas dasar pertimbangan:

Famili, jumlah spesies, dan kelimpahan relatif Hymenoptera parasitoid pada tanaman sayuran dan vegetasi non-crop di lanskap persawahan Alahan Panjang dan Kayu

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa sifat biologi parasitoid T. schoenobii; preferensi parastoid pada umur tanaman berbeda; persentase parasitisasi

Pengembangan pengendali hayati (agens hayati) yang efektif dan efisien sebagai pengendali hama sangat penting untuk dapat meningkatkan produktivitas tanaman kapas

Dipilihnya panduan model pendidikan sa- dar lingkungan bermuatan potensi lokal me- ngenai pemanfaatan lahan pekarangan dengan tanaman sayuran atas dasar pertimbangan:

Pengembangan pengendali hayati (agens hayati) yang efektif dan efisien sebagai pengendali hama sangat penting untuk dapat meningkatkan produktivitas tanaman kapas

Pada awal sebelum dilakukan sosialisasi semua petani dari Kelompok Tani Skolot belum megetahui bahwa ada agen hayati yakni parasitoid Diadegma semiclausum yang dapat digunakan untuk