• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. jumlah penduduk. Pada sisi yang lain, ketersediaan air bersih secara kuantitas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. jumlah penduduk. Pada sisi yang lain, ketersediaan air bersih secara kuantitas"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latarbelakang

Salah satu problematika yang di hadapi oleh pemerintah Indonesia pada saat ini adalah meningkatnya kebutuhan air bersih akibat peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan kegiatan pembangunan seperti pertanian dan industri. Air bersih merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan manusia. Terpenuhinya kebutuhan air bersih merupakan kunci utama perkembangan suatu kegiatan. Kebutuhan air bersih setiap tahun akan semakin meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk. Pada sisi yang lain, ketersediaan air bersih secara kuantitas semakin langka akibat kondisi daerah tangkapan air dan daerah retensi air yang semakin berkurang serta secara kualitas ketersediaan air bersih mengalami pengurangan karena pencemaran air permukaan dan air tanah.1

Air yang berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) tidak setiap hari mengalir dan terkadang tidak bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci dan memasak bahkan untuk minum. Ditambah lagi dengan banyaknya keluhan masyarakat mengenai air yang berasal dari PDAM mulai dari soal kualitas dan kuantitas seperti halnya air yang mengandung timbal atau kasinogenik, air berwarna kecoklat-coklatan atau keruh, air berbau larutan zat kimia atau berasa aneh hingga

1

“Kebutuhan Air bersih”. Melalui www.scribd.com, diakses pada tanggal 13 September 2013

(2)

debit air yang kerap kali tidak mengalir sama sekali atau sangat kecil keluarnya.2 Tantangan lain yang dihadapi adalah masih terbatasnya kemampuan penyedia layanan air bersih untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam hal ini yaitu PDAM. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak dalam bidang penyediaan jasa air minum. Dimana hal ini berasal dari hasil pengkajian yang dilakukan melalui Total Dis of Solide atau Eletrolizer, yang membuktikan bahwa kualitas air Tirtanadi tidak sehat karena mengandung logam, lumpur dan berbagai zat-zat yang membahayakan bagi kesehatan lainnya sebesar 0,60% (nol koma enam puluh persen). Itu artinya kualitas kesehatan air sudah melampaui ambang batas standarisasi yang sudah ditentukan yakni, 0.12% (nol koma dua belas persen). Kualitas air dan pelayanan yang semakin menurun terutama setelah krisis ekonomi, yang diakibatkan tertundanya perbaikan dan perawatan untuk memotong pengeluaran operasi.3

Oleh karena itu, PDAM dinilai tidak memiliki kapasitas untuk bisa menyediakan air bersih yang cukup bagi masyarakat. Padahal air bersih merupakan salah satu kebutuhan yang sangat vital bagi manusia sehingga air bersih menjadi syarat utama untuk bisa hidup sehat. Rendahnya kualitas dan kuantitas air yang berasal dari PDAM khususnya di Kota Medan diakibatkan karena air yang selama ini dipenuhi dengan sumber air sumur atau sumber air

2

Amstrong Sembiring. “Menyoal Masyarakat Konsumen Air”. melaui

www.sosbud.kompasiana.com, diakses pada tanggal 2 September 2010.

3Parlindungan Purba, “Pelayanan PDAM Tirtanadi Buruk”, Harian Global, tanggal 24 Mei 2008.

(3)

dalam tanah semakin menipis, kerusakan alam dan percemaran serta kepercayaan masyarakat terhadap jumlah dan kualitas air yang baik yang berasal dari PDAM.

Permasalahan mengenai kualitas air bersih yang didistribusikan kepada konsumen ini terkait dengan perlindungan konsumen karena masyarakat sebagai konsumen merupakan elemen yang paling erat dengan konsumsi air bersih yang harus diperhatikan oleh para pihak yang terkait baik oleh pelaku usaha maupun pemerintah.

Upaya perlindungan konsumen yang dapat dilakukan adalah dengan memperhatikan dan menjamin keselamatan dan keamanan dalam mengkonsumsi air bersih yang disalurkan oleh PDAM. Hal ini sejalan dengan dimuatnya pengaturan perlindungan konsumen dalam Undang-undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Konsumen juga termasuk masyarakat yang tidak terlepas dari hukum dimana kehidupan yang semakin berkembang ini, keterbatasan pengetahuan konsumen mengenai kewajaran mutu dan harga barang atau jasa selama ini telah menempatkan posisi konsumen sebagai mangsa produsen/pelaku usaha. Kedudukan konsumen dan pelaku usaha tidak seimbang dimana konsumen menjadi objek aktivitas bisnis untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya oleh pelaku usaha melalui kiat promosi, cara penjualan, serta penerapan perjanjian standar yang merugikan konsumen.4

4

Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Hukum Tentang Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), hal.12

(4)

Hal tersebut menyebabkan hukum perlindungan konsumen dianggap penting keberadaannya.5

Sebagaimana tercatat dalam evaluasi yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menjelaskan bahwa terjadi peningkatan pengaduan sampai tahun 2012, bidang pengaduan YLKI menerima 624 (enam ratus dua puluh empat) pengaduan kasus oleh konsumen (melalui surat dan kontak langsung). Dari banyaknya kasus tersebut, kasus yang diadukan ke YLKI adalah masing-masing bidang perbankan 115 (seratus lima belas) kasus pengaduan 18% (delapan belas persen), perumahan 74 (tujuh puluh empat) pengaduan 12% (dua belas persen), telekomunikasi/multimedia 71 (tujuh puluh satu) pengaduan 17% (tujuh belas persen), Transportasi 50 (lima puluh) pengaduan 8% (delapan persen), ketenaga listrikan 48 (empat puluh delapan) pengaduan 8% (delapan persen), pengaduan lain yang juga cukup signifikan adalah leasing sepeda motor yaitu sebesar 35 (tiga puluh lima) pengaduan 6% (enam persen), pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) 26 (dua puluh enam) pengaduan 4%

Sudah menjadi hal yang umum pada saat sekarang hak-hak konsumen sering kali terabaikan. Banyak orang yang tidak menyadari bagaimana pelanggaran hak-hak konsumen yang dilakukan oleh pelaku usaha dan konsumen cenderung mengambil sikap diam. Keadaan ini didukung lagi dengan sikap tak mau tahu pelaku usaha/produsen dalam menanggapi keluhan konsumen terhadap jasa monopoli seperti air minum.

5

Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesi, (Jakarta : PT.Grasindo, 2004),

(5)

(empat persen), asuransi 23 (dua puluh tiga) pengaduan 4% (empat persen), makanan/minuman 24 (dua puluh empat) pengaduan 4% (empat persen).6

Berdasarkan data di atas, dapat terlihat adanya pengaduan masyarakat mengenai pelayanan dan kualitas air minum PDAM sebanyak 26 (dua puluh enam) pengaduan dengan persentase sebesar 4% (empat persen).

Contoh bentuk pengaduan konsumen mengenai kualitas air minum yang buruk pada Harian Medan Bisnis memaparkan bahwa masyarakat terus dibuat kesal dengan sarana dan prasarana yang dimiliki Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi. Belum lagi, pemadaman listrik terselesaikan, kini masyarakat harus menahan "pil pahit" dengan kondisi air PDAM Tirtanadi yang kotor dan berbau. Rizanul, warga Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan, menuturkan air yang diterimanya selalu saja kondisi kotor dan berbau. Warna air kecoklatan hingga tidak bisa digunakan sama sekali, baik mandi atau keperluan lainnya. "Air di sini tidak pernah bersih. Kalau pagi dan sore, pasti air sudah kotor dan berbau," ujarnya. Kondisi ini, lanjutnya semakin parah dengan terhentinya aliran air dimulai dari jam 10.00 wib pagi hingga 15.00 wib sore. Kemudian jam 19.00 wib sampai 05.00 wib pagi kembali tidak mengalir. "Air akan mengalir saat jam 5.30 pagi, tapi itupun keruh serta berbau. Ini bisa sampai setengah jam dan kemudian air kembali normal dengan aliran yang sangat kecil," katanya. Kualitas air Tirtanadi yang jorok ini, diakui Rizanul sudah terjadi lebih dari setahun dan belum ada perbaikan yang dilakukan pihak PDAM Tirtanadi Sumut hingga saat ini, termasuk juga dengan kualitas aliran air ke pelanggan. "Sudah kecil alirannya,

6 “Pengaduan Kasus oleh pada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (16-01/2012)”

(6)

sekali mengalir air nya jorok dan tagihan tetap saja terus naik, tapi kita tidak pernah terpuaskan terhadap pelayanan Tirtanadi," katanya. Rama, warga Medan Sunggal juga mengeluhkan tersendatnya aliran air dan keruh. Setiap pagi atau malam hari air yang mengalir selalu saja dalam keadaan kotor. Kalau air yang dialirkan ke pelanggan selalu jorok, ini artinya manajemen PDAM Tirtanadi semakin buruk. Baru saja tarif air naik, tapi pelayanan tetap saja tidak meningkat."Kenaikan tarif dengan kualitas air yang kita terima tidak sejalan. Kalau air nya sampai hitam dan berbau, kan tidak mungkin kita pakai," tutur Rama. Kepala Divisi Public Relations PDAM Tirtanadi, Amrun, menjelaskan, air yang kotor itu biasanya karena ada kebocoran. Selain itu, akhir-akhir ini pompa air sering mati hidup karena ada pemadaman listrik sehingga pipa terguncang dan air yang mengendap di ujung pipa tercampur dengan air bersih.7

Selama masih banyak konsumen yang dirugikan, masalah tidak akan pernah tuntas. Oleh karena itu, masalah perlindungan konsumen perlu diperhatikan. Permasalahan mengenai perlindungan konsumen mengenai hak-hak konsumen, kewajiban pelaku usaha serta jalinan transaksi antara konsumen dan pelaku usaha akan dikaji lebih mendalam terutama kaitannya dengan perlindungan konsumen dalam mengkonsumsi air bersih dari PDAM.

Undang-Undang Perlindungan Konsumen diharapkan menjadi penegak aturan hukum dan upaya perlindungan serta tanggung jawab produk (product

liability) PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara dalam meningkatkan kualitas

air minum yang didistribusikan kepada konsumen dapat diberlakukan sama bagi

7

Harian Medan Bisnis. “Kualitas Air Tirtanadi ke Pelanggan Makin Rendah”, diakses pada hari Rabu tanggal 2 Oktober 2013.

(7)

setiap konsumen maupun pelaku usaha. Dimana Undang-Undang ini merupakan payung hukum masyarakat untuk melindungi haknya atau setidak-tidaknya konsumen telah memiliki senjata mempertahankan haknya. Diharapkan pelaku usaha dapat meningkatkan citranya dengan meningkatkan kualitas produk jasanya.

Pertanggungjawaban yang diberikan pelaku usaha terhadap produk-produk yang dihasilkan harus sesuai dengan prinsip pertanggungjawaban produk yang dikenal dalam dunia hukum “Product Liability”.8 Product liability adalah “suatu tanggung jawab secara hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk (producer, manufacture) atau dari orang atau badan yang bergerak dalam suatu proses untuk menghasilkan suatu produk (processor, assembler) atau orang atau badan yang menjual atau mendistribusikan produk tersebut”.9 Dimana pelaku usaha sebagai penghasil produk harus menjamin bahwa produk yang dihasilkan cukup aman untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, apabila di lain hari muncul keluhan atas kerusakan produk yang mengakibatkan kerugian pada konsumen, maka pelaku usaha harus bertanggung jawab penuh atas beban kerugian yang diderita oleh konsumen.10

8

Adrian Sutedi, Tanggung Jawab Produk Dalam Hukum Perlindungan Konsumen. (Malang: Ghalia Indonesia, 2008 ) hal. 32.

Dalam kaitan dengan konsumen ini maka pembahasan akan dilakukan khususnya dalam bentuk tanggung jawab produk (product

liability) terhadap kualitas air minum yang didistribusikan oleh PDAM Tirtanadi

kepada konsumen.

9

Celina Tri Siwi Kristiyanti, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hal. 101

(8)

Adapun judul skripsi yang diajukan dalam penelitian ini yaitu “Penerapan Prinsip Product Liability Oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi dalam Meningkatkan Kualitas Air Minum yang Didistribusikan Kepada Konsumen” (studi di PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara).

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang saya buat dalam skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaiman pengaturan prinsip product liability dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Pelindungan Konsumen maupun dalam peraturan perundang-undangan lainnya dalam kaitannya dengan kualitas air minum yang dihasilkan oleh PDAM Tirtanadi ?

2. Bagaimana PDAM Tirtanadi menerapkan prinsip product liability tersebut dalam meningkatkan kualitas air minum yang didistribusikan kepada konsumen ?

3. Bagaimana pertanggungjawaban PDAM Tirtanadi apabila kualitas air minum yang didistribusikannya kepada konsumen ternyata tidak memenuhi standar kualitas air minum ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaturan prinsip product liability dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Pelindungan Konsumen maupun dalam

(9)

peraturan perundang-undangan lainnya dalam kaitannya dengan kualitas air minum yang dihasilkan oleh PDAM Tirtanadi.

2. Untuk mengetahui bagaimana PDAM Tirtanadi menerapkan prinsip product

liability tersebut dalam meningkatkan kualitas air minum yang didistribusikan

kepada konsumen.

3. Untuk mengetahui pertanggungjawaban Perusahaan PDAM Tirtanadi apabila kualitas air minum yang didistribusikannya kepada konsumen ternyata tidak memenuhi standar kualitas air minum.

Dari pembahasan skripsi ini, diharapkan juga dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Secara Teoretis

Skripsi ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi ilmu pengetahuan, masukan atau tambahan dokumentasi karya tulis dalam bidang hukum perdata pada umumnya. Secara khusus, skripsi ini juga diharapkan dapat memberikan masukan terutama bagi penyempurnaan perangkat ketentuan perlindungan konsumen dalam kaitannya dengan tanggung jawab (product liability) dalam meningkatkan kualitas air yang didistribusikan kepada kosumen.

2. Secara Praktis

Secara praktis skripsi ini diharapkan dapat menjadi masukan dan dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi kalangan akademisi dalam menambah wawasan sebagai regulator dalam melindungi kepentingan konsumen. Diharapkan dengan adanya pembahasan prinsip product liability dalam skripsi ini, maka konsumen semakin menyadari hak-hak yang dimiliki sebagai pengguna produk

(10)

dan lebih mengetahui bagaimana aspek perlindungan hukum terhadap konsumen dalam kaitannya dengan tanggung jawab pihak PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara dalam mendistribusikan air bersih.

D. Keaslian Penulisan

Sepanjang yang ditelusuri dan diketahui di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara bahwa sudah ada yang menulis tentang PDAM. Adapun beberapa penulisan tentang PDAM sebagai berikut:

1. Andry Fahrizal / 010272017 (2005)

“Perlindungan Konsumen Terhadap Pengguna Jasa Air Minum Ditinjau Dari Undang-undang No. 8 Tahun 1999” ( Studi Pada PDAM Diski)

Rumusan Masalah:

a. Bagaimana pelaksanaan perlindungan konsumen dalam pelayanan air bersih oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi.

b. Bagaimana konsumen dapat menuntut rugi terhadap kelalaian yang dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi.

2. Alfi Najmi / 970200005 (2002)

“Hak Dan Kewajiban Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Dengan Pelanggan Air Minum”.

Rumusan Masalah:

a. Sejauh manakah relevansinya ketentuan hak dan kewajiban yang timbul antara pihak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi sebagai pelaku usaha yang merupakan badan hukum dengan pelanggan air

(11)

selaku konsumen sebagai perorangan berdasarkan ketentuan perjanjian dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata pada umumnya.

b. Bagaimana kedudukan pihak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi sebagai pelaku usaha yang merupakan badan hukum dengan pelanggan air selaku konsumen sebagai perorangan dalam hubungan hak dan kewajiban yang timbul dari perjanjian yang berdasarkan perjanjian baku menurut Undang-undang No.8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

c. Upaya apakah yang akan dilakukan oleh para pihak untuk mempertahankan haknya apabila salah satu pihak ingkar janji dalam pemenuhan kewajibannya menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

3. Ira Susanti / 940200091 (1999)

“ Hak Dan Kewajiban Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtauli Terhadap Pelanggan di P.Siantar”

Rumusan Masalah:

a. Bagaimanakah bentuk perjanjian antara Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtauli dengan seseorang/ badan hukum sebagai pelanggan. b. Bagaimanakah hak dan kewajiban Perusahaan Daerah Air Minum

(PDAM) Tirtauli sebagai perusahaan negara terhadap pelanggan air serta bagaimana hak dan kewajiban pelanggan sendiri terhadap Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtauli.

(12)

c. Usaha apakah yang akan dilakukan oleh para pihak untuk mempertahankan hak apabila salah satu pihak ingkar janji dalam kewajibannya (wanprestasi).

4. Marisi Sondang Irene / 910200134 (1996)

“Suatu Tinjauan Tentang Hak Dan Kewajiban PDAM Tirtadeli Dengan Pelanggan Air”

Rumusan masalah:

a. Bagaimana kedudukan antara pihak PDAM Tirtadeli sebagai perusahaan negara dengan pelanggan air sebagai warga negara dalam hubungan hukum keperdataan.

b. Usaha apakah yang akan dilakukan untuk mempertahankan hak apabila salah satu pihak ingkar janji dalam pemenuhan kewajibannya.

c. Sampai sejauh mana relevansi ketentuan hak dan kewajiban antara PDAM Tirtadeli dengan pelanggan air (individu/badan hukum) jika dihubungkan denganketentuan-ketentuan yang mengatur tentang perikatan pada Buku III Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

Dilihat dari permasalahan serta tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini, maka dapat dikatakan bahwa skripsi ini adalah merupakan karya sendiri yang asli dan bukan jiplakan dari skripsi orang lain yang diperoleh melalui pemikiran, referensi buku-buku, makalah-makalah, media elektronik yaitu internet serta bantuan dari berbagai pihak. Dengan azas-azas keilmuan yang jujur, rasional, serta terbuka. Semua ini merupakan implikasi etis dari proses menemukan

(13)

kebenaran ilmiah. Sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah.

E. Metode Penelitian

Dalam penulisan karya ilmiah data adalah merupakan dasar utama, karenanya metode penelitian sangat diperlukan dalam penyusunan skripsi. Oleh karena itu dalam penyusunan skripsi menyusun data dengan menghimpun dari data yang ada relevansinya dengan masalah yang diajukan. Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian dengan cara:

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Adapun jenis dan sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif atau penelitian hukum kepustakaan yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau hanya menggunakan data sekunder belaka.11

Penelitian ini bersifat deskriptif analitis yaitu pendekatan deskriptif analitis yaitu penelitian yang didasarkan atas satu atau dua variabel yang saling berhubungan yang didasarkan pada teori atau konsep yang bersifat umum yang diaplikasikan untuk menjelaskan tentang seperangkat data, atau menunjukkan komparasi ataupun hubungan seperangkat data dengan seperangkat data lainnya. Penelitian ini juga menguraikan ataupun

11 Tampil Ansari Siregar. Metodologi Penelitian Hukum Penulisan Skripsi, (Medan:

(14)

mendeskripsikan data yang diperoleh secara normatif lalu diuraikan untuk melakukan suatu telaah terhadap data tersebut secara sistematik.12

2. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam peneltian ini adalah data primer dan data sekunder.

a. Data Primer

Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber pertama.13

b. Data Sekunder

Yang menjadi data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara langsung dengan pihak/informan PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara.

Data sekunder adalah data yang mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan dan sebagainya.14

1) Bahan Hukum primer

Data sekunder dalam penelitian ini terdiri dari:

Yang menjadi bahan hukum primer adalah Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 tahun 2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum

12 Bambang Suggono, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Rajawali Pers, 2010), hal, 38. 13

Amiruddin dan H.Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, , 2012) hal 30

14

(15)

2) Bahan Hukum Sekunder

Data sekunder adalah data yang tidak diperoleh dari sumber pertama. Data sekunder bisa diperoleh dari dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasil penelitian, laporan, buku harian, surat kabar, makalah, dan lain sebagainya.

3) Bahan Hukum Tersier

Bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti Kamus Hukum, Kamus Umum Bahasa Indonesia dan Ensiklopedia.

3. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Library Research (Penelitian Kepustakaan)

Metode penelitian ini, memperoleh data masukan dari berbagai bahan-bahan bacaan yang bersifat teoritis ilmiah, baik itu dari literatur-literatur, buku-buku, peraturan-peraturan maupun juga dari majalah-majalah dan bahan perkuliahan penulis sendiri.

b. Field Research (Penelitian Lapangan)

Metode pengumpulan data dengan cara penelitian lapangan ini dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap pihak informan PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara dan pihak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Penelitian ini akan dilakukan pada PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara

(16)

serta Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia untuk melengkapi data dan penelitian.

4. Analisis Data

Bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang telah disusun secara sistematis kemudian dianalisis secara kualitatif. Analisis kualitatif yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh penulis untuk menentukan isi atau makna suatu aturan hukum yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang menjadi objek kajian.15

5. Penarikan Kesimpulan

Penarikan kesimpulan dari proses berpikir dianggap valid bila proses berpikir tersebut dilakukan menurut cara tertentu, misalnya cara penarikan kesimpulan secara deduktif. Deduktif ialah cara pengambilan kesimpulan dari umum ke khusus. Di dalam deduktif, kesimpulan harus mengikuti alasan (premis) yang diberikan, alasan yang dikatakan berarti kesimpulan dan merupakan suatu bukti (proof).16 Jadi penarikan kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung terhadap objek penelitian yaitu “Penerapan Prinsip Product Liability Oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi dalam Meningkatkan Kualitas Air Minum yang Didistribusikan Kepada Konsumen” (studi di PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara).

15 Zainuddin Ali. Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 107 16 J. Supranto. Metode Penelitian Hukum dan Statistik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal.

(17)

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam hal ini penulis bagi dalam bab yang masing-masing bab terdiri dari beberapa sub bab, yaitu:

Bab I. Pendahuluan. Dalam Bab I ini diuraikan tentang diuraikan latar belakang masalah yang menjadi dasar penulisan. Kemudian berdasarkan latarbelakang masalah tersebut dibuat rumusan masalah dan tujuan penulisan. Bab ini juga menjelaskan, metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab II. Tinjauan Umum Tentang Product Liability Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dalam Meningkatkan Kualitas Air Minum kepada Konsumen. Bab ini akan membahas pengaturan mengenai Product Liability, kualitas air minum dan perlindungan konsumen menurut Undang-Undang No. 8 tahun 1999 dalam mengatur hak dan kewajiban konsumen dan pelaku usaha.

Bab III. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara yang dibahas dalam bab ketiga ini adalah tentang sejarah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara, bentuk dan kelembagaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara, Tugas Pokok dan Fungsi PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara.

Bab IV. Pertanggungjawaban Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi terhadap Kualitas Air Minum yang Didistribusikannya kepada Konsumen. Bab ini akan membahas bentuk tuntutan ganti rugi terhadap kelalaian yang dilakukan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara, pelaksanaan perlindungan hukum terhadap konsumen dalam

(18)

pelayanan air bersih oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara.

Bab V. Kesimpulan dan Saran. Pada bagian akhir ini akan diberikan kesimpulan dan juga saran-saran dari pembahasan terdahulu. Kesimpulan diperoleh berdasarkan uraian dan penjelasan secara keseluruhan dari bab-bab terdahulu. Sedangkan saran-saran merupakan usul dari penulis terhadap topik yang dibahas.

Referensi

Dokumen terkait

Abstrak— Pada Tugas Akhir ini telah dibuat sistem konversi dokumen identitas individu menjadi suatu tabel, yaitu sebuah sistem yang mampu mengkonversi citra dokumen

• SDS init dikarang untuk membantu pembeli, pemproses atau mana-mana pihak ketiga yang mengendalikan kimia yang disebutkan di dalam SDS; malahannya, ia tidak

akan dianalisis dalam penelitian ini berupa kutipan-kutipan (kata, frasa, kalimat naratif, maupun dialog), yang berkaitan dengan tubuh dan penubuhan yang digambarkan

Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah SWT atas tersusunnya tulisan yang berjudul Pelaksanaan dan Pe- nerimaan Program Keluarga Berencana Pada Masyarakat

2.5.6 Cakupan Pelayanan Kesehatan Neonatus 0-28 hari (KN Lengkap) Adalah cakupan neonatus yang mendapatkan pelayanan sesuai standar paling sedikit tiga kali dengan

Untuk itu diperlukan adanya media lain untuk melakukan knowledge sharing tentang tata cara pelaksanaan aktivitas penjilidan agar knowledge yang dimiliki oleh karyawan

Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan sains dalam berbagai disiplin ilmu pada masa dinasti Umayyah Andalusia menjadi salah satu pemantik kemajuan peradaban

Pembebanan alokasi biaya yang sulit teridentifikasi kaitannya dengan pelayanan kesehatan dilakukan dengan membagi biaya tersebut dengan jumlah