LAMPIRAN. Lampiran 1.Data Rekam Medik Pasien

19 

Teks penuh

(1)

50

Lampiran 1.Data Rekam Medik Pasien

No Nama Rekmed No Usia Kelamin Jenis Durasi DM HbA1c IMT

Tipe Kerusakan Saraf 1 HBH 1137413 52 L 5 9 20,8 Normal 2 TK 1141203 62 P 5 0 20 Mixed 3 EA 1131683 63 L 14 0 25,7 Mixed 4 LS 1109583 47 P 4 8 28,7 Normal 5 MS 1142663 48 P 4 6 19,2 Mixed 6 KBM 906683 47 L 2 11,2 17 Mixed 7 RBR 1146253 58 P 3 7,6 21 Mixed 8 MW 465902 49 P 8 0 23,1 Mixed 9 HB 886492 58 P 4 0 23,1 Mixed 10 HAS 1111592 70 P 11 5 18,4 Mixed 11 MM 1142682 56 P 6 9 20 Mixed 12 SBK 1083753 58 P 12 0 21,3 Mixed 13 SBR 916203 58 P 8 12 20,4 Mixed 14 KBU 1149021 54 P 1 7,9 27,2 Mixed 15 AN 841531 72 L 10 9,3 28 Mixed 16 RB 1125890 52 P 10 8 27,6 Mixed 17 SBK 1145981 47 P 7 0 19,2 Mixed 18 ES 1042440 60 P 3 0 20,8 Mixed 19 HRS 1135441 58 L 8 7,5 42,5 Mixed 20 SS 1106851 57 L 9 10 30,4 Mixed 21 HBA 1031204 51 L 6 0 23,5 Mixed 22 SM 1103914 67 P 4 0 31,8 Mixed 23 EG 280154 53 P 6 0 28,5 Axonal 24 NK 1003525 43 P 8 0 23,9 Mixed 25 DHR 136736 57 L 1 9,2 24 Mixed 26 SM 5866 72 L 14 5,5 25,5 Mixed 27 ABM 1111466 43 P 6 12 31 Mixed 28 RBA 1134076 40 P 3 8,2 26,4 Mixed 29 NNA 709245 54 P 6 0 24 Mixed 30 YA 1140736 78 L 10 0 22,7 Mixed 31 SBY 940945 58 P 7 7,9 26 Mixed 32 RA 1130295 38 P 3 9,4 27,4 Mixed 33 SBB 1133685 58 P 3 9,2 23 Mixed 34 SBK 1113275 43 P 6 0 27 Mixed

(2)

35 SBS 1104475 53 L 7 0 25 Mixed 36 GBW 1094796 55 L 10 0 23,6 Mixed 37 GP 922897 35 L 6 11,2 24 Mixed 38 FBA 1049287 69 P 9 8 17,1 Mixed 39 RLH 223877 63 P 10 9 19,3 Mixed 40 MW 1121667 64 P 7 0 26,7 Mixed 41 NH 797367 59 P 14 7,5 30 Mixed 42 NW 1127437 43 P 2 10,2 25,6 Mixed 43 ABM 1102547 62 P 8 0 26 Mixed 44 US 1141847 45 L 2 6,6 24 Demyelinating 45 YC 1117328 37 L 5 9,9 19,1 Mixed 46 IRW 781928 59 P 20 0 27,34 Mixed 47 SH 880308 64 L 3 12 21,7 Mixed 48 SBS 1088208 39 P 5 11,2 22,03 Mixed 49 IT 847528 53 L 2 7 35 Mixed 50 NH 7428 67 P 7 6,1 22 Mixed 51 SBM 1142858 51 L 6 7,8 24,03 Mixed 52 RBH 544878 62 P 8 10,8 26,3 Mixed

(3)

Lampiran 2. Hasil Analisis Data IBM SPSS Statistic 26

1. Distribusi Subjek Berdasarkan Usia

2. Distribusi Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin

3. Distribusi Subjek Berdasarkan Durasi Lamanya Menderita DM

(4)

5. Distribusi Subjek Berdasarkan IMT

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

Angka Kejadian Neuropati Diabetik pada Laboratorium ENMG di RSMH

Palembang Periode 1 Januari 2019 – 31 Desember 2019

Yunisa Hasna Hanafi1, Theresia Christin2, Evi Lusiana3

1Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia 2Bagian Neurologi, RSUP dr. Moh. Hoesin, Palembang, Indonesia

3Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia

Jl. Dr. Muhammad Ali Komplek RSMH Palembang Km. 3.5, Palembang, 30126, Indonesia E-mail : yunisa_hanafi@yahoo.com

Abstrak

Neuropati diabetik merupakan penyakit yang terjadi akibat kerusakan saraf pada penderita diabetes melitus. Diabetes merupakan penyebab utama dari kejadian neuropati perifer dengan angka kejadian sebesar 50%. Dalam menegakkan diagnosis neuropati diabetik, ENMG mempunyai spesifitas yang tinggi dan dapat mendeteksi apabila terjadi penurunan fungsi saraf. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian neuropati diabetik pada laboratorium ENMG di RSMH dr. Moh. Hoesin Palembang. Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif menggunakan data sekunder yaitu data rekam medis pasien neuropati diabetik pada laboratorium ENMG di RSMH tahun 2019 yang memenuhi kriteria inklsusi dan ekslusi. Hasil analisis data akan disajikan dalam bentuk tulisan dan tabel. Dari 52 pasien neuropati diabetik pada laboratorium ENMG di RSMH Palembang, didapatkan angka kejadian neuropati diabetik pada tahun 2019 sebesar 4,7%. Pasien neuropati diabetik lebih banyak pada kelompok usia 56—65 tahun (38,5%), berjenis kelamin perempuan (65,4%), riwayat DM >5 tahun (61,5%), kadar HbA1c ≥ 8% (63,6%), IMT 18,5—24,9 kg/m2 (50%), dan jenis tipe kerusakan saraf mixed

axonal demyelinating neuropathy (96,2%). Angka kejadian neuropati diabetik pada laboratorium ENMG di RSMH Palembang

adalah 4,7% dengan distribusi penderita paling banyak pada usia 56—65 tahun, jenis kelamin perempuan, riwayat DM >5 tahun, kadar HbA1c ≥ 8%, IMT 18,5—24,9 kg/m2, dan jenis tipe kerusakan saraf mixed axonal demyelinating neuropathy.

Kata kunci: Neuropati Diabetik, Diabetes Melitus, ENMG, NCS, EMG Abstract

Diabetic neuropathy is a disease that occurs due to nerve damage in people with diabetes mellitus. Diabetes is the leading cause of peripheral neuropathy with an incidence of 50%. On diagnosing diabetic neuropathy, ENMG has high specificity and this diagnostic test can detect if there is a decrease in nerve function. This study aims to determine the prevalence of diabetic neuropathy at the ENMG laboratory at RSMH dr. Moh. Hoesin Palembang. This research was conducted with descriptive study using the medical record of diabetic neuropathy patients at ENMG laboratory RSMH on 2019 that met the inclusion and exclusion criteria. The results of this research will be analyzed and presented in tables and description. Of 52 pasiens, the prevalence of diabetic neuropathy in 2019 was 4,7%. The distribution of patient with diabetic neuropathy majority were patients in the group 56—65 years old (38,5%), female (65,4%), history of diabetes melitus >5 years (61,5%), BMI (50%), and the type of nerve damage were mixed axonal demyelinating neuropathy (96,2%) The prevalence of diabetic neuropathy at ENMG laboratory RSMH Palembang is 4,7% with the distribution of majority patients aged 56—65 years, female sex, history of diabetes >5 years, HbA1c levels ≥8%, BMI 18,5—24,9 kg/m2 and most of them were suffer from mixed

axonal demyelinating type.

(10)

1. Pendahuluan

Neuropati diabetik adalah kerusakan saraf secara difus dan/atau fokal pada penderita diabetes.1 Neuropati diabetik adalah komplikasi yang paling sering dialami oleh penderita diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2. Penderita neuropati diabetik dapat mengalami penurunan dalam kemampuan untuk beraktivitas, rasa nyeri yang berlebihan, amputasi, bahkan kematian.2

Neuropati diabetik dapat diklasifikasikan menjadi distal symmetric sensorimotor neuropathy, small-fiber and painful neuropathy, autonomic neuropathy, dan regional neuropathic syndrome3. Distal symmetric sensorimotor neuropathy merupakan tipe neuropati perifer terbanyak dan diabetes merupakan penyebab utama di dunia yaitu sebesar 50% dari kejadian neuropati perifer.4 Sekitar 90% penderita neuropati diabetik menderita distal symmetric sensorimotor neuropathy. Pada tipe ini, gejala yang khas adalah stocking distribution di mana pasien akan mengalami gejala dari jari kaki dan secara berkembang ke arah proksimal. Jika tidak ditangani dengan baik, maka dapat berlanjut dengan ulserasi dan nyeri hebat.5

Beberapa faktor risiko berpengaruh terhadap terjadinya neuropati diabetik adalah durasi menderita DM, usia, kontrol glukosa yang buruk, kadar HbA1c yang tinggi, dan obesitas.6 Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSMH Palembang pada tahun 2015, neuropati diabetik lebih banyak terdapat pada wanita, kelompok usia ≥55 tahun, menderita DM selama lebih dari 5 tahun, dan kadar HbA1C ≥8. 7

International Diabetes Federation menyatakan bahwa negara dengan penderita DM terbanyak adalah China sebesar 116,4 juta orang, India sebesar 77 juta orang, dan Amerika

Serikat sebesar 31 juta orang, sedangkan Indonesia berada pada peringkat ke-7 dengan penderita diabetes melitus sebesar 10,7 juta orang.8 Data dari Kemenkes RI menyatakan presentase komplikasi diabetes melitus di RSCM terbanyak yaitu neuropati 54%, retinopati 33,4%, dan proteinuria 26,5%.9 Terdapat sekitar 691 orang (71,9%) menderita neuropati diabetik dengan 497 orang diantaranya menderita diabetes melitus tipe 2 pada Poli Penyakit Dalam RSUD Dr. M. Soewandhi yang tercatat dalam BPJS pada tahun 2016.10 Penderita neuropati diabetik terkadang tidak terdeteksi oleh dokter. Menurut data pada tahun 2019, sepertiga dokter di dunia tidak mengenal gejala dari penyakit tersebut sehingga menyebabkan terjadi peningkatan pada morbiditas dan mortalitas. Sekitar 16— 87% telah dilaporkan prevalensi dari neuropati diabetik perifer menurut International Diabetes Federation. Amputasi pada tungkai bawah 10— 20 kali pada penderita diabetes lebih besar dibandingkan dengan yang tidak. Secara global, dipredikisikan tungkai bawah dapat diamputasi setiap 30 detik sebagai komplikasi dari diabetes.8

Elektrodiagnosis mempunyai spesifitas tinggi dan terpercaya untuk menegakkan diagnosis polineuropati sehingga sangat dibutuhkan dalam pemeriksaan neuropati diabetik.11 Elektroneuromiografi dapat mendeteksi apabila terdapat penurunan fungsi pada saraf sensorik maupun motorik. Pada pasien neuropati diabetik, ENMG dapat membantu untuk memperkirakan ulserasi dan mortalitas. Banyaknya keuntungan dari alat diagnosis ini menjadikan ENMG sebagai baku emas yang telah lama digunakan untuk menegakkan diagnosis penyakit ini.12

(11)

Penyakit ini perlu untuk diperhatikan melihat angka kejadian di dunia yang tinggi namun sampai saat ini belum ada data mengenai angka kejadian neuropati diabetik di Palembang, terutama pada laboratorium ENMG di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini.

2. Metode

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Agustus — Desember 2020. Penelitian ini menggunakan data rekam medik atau data sekunder pasien yang melakukan pemeriksaan ENMG periode 1 Januari 2019 —31 Desember 2019 serta memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Data yang sudah diolah dan dianalisis akan disajikan dalam bentuk tabel serta akan dibahas lebih lanjut dalam bentuk tulisan.

3. Hasil

Hasil analisis data mengenai angka kejadian neuropati diabetik pada tahun 2019 pada penelitian ini terdapat 52 orang penderita neuropati diabetik, sehingga angka kejadian neuropati diabetik adalah sekitar 4,7% dari populasi dalam satu tahun. Hasil analisis angka kejadian neuropati diabetik disajikan dalam tabel 1.

Tabel 1 Distribusi pasien yang melakukan pemeriksaan ENMG

Diantara 52 pasien yang menderita neuropati diabetik, lansia akhir dengan rentang

usia 56—65 tahun merupakan kelompok usia terbanyak yaitu sekitar 20 (38,5%) orang.

Tabel 2 Distribusi pasien neuropati diabetik berdasarkan kelompok usia

Dari 52 pasien, didapatkan 34 (65,4%) pasien adalah perempuan, sedangkan sisanya yaitu 18 (34,6%) pasien adalah laki-laki.

Tabel 3 Distribusi pasien neuropati diabetik berdasarkan jenis kelamin

Hasil dari analisis data menunjukan bahwa dari 52 pasien neuropati diabetik berdasarkan durasi lamanya DM, kelompok >5 tahun lebih banyak daripada kelompok ≤5 Tahun. Pada penilitian ini didapatkan kelompok >5 tahun sebanyak 32 (61,5%) orang dan kelompok ≤5 Tahun sebanyak 20 (38,5%) orang.

Tabel 4 Distribusi pasien neuropati diabetik berdasarkan kelompok durasi lamanya menderita DM

Dari 52 pasien yang menderita neuropati diabetik, hanya 33 pasien yang melakukan pemeriksaan kadar HbA1c pada periode satu tahun. Hasil yang didapatkan adalah jumlah pasien dengan kadar HbA1c ≥ 8% yaitu sebanyak 21 (63,6%) orang lebih banyak dibandingkan kelompok 7—7,9% dengan 5

Angka Kejadian Jumlah (n) Presentase (%)

Neuropati Diabetik

Ya 52 4,7%

Tidak 1053 95,3%

Total 1105 100%

Usia (tahun) Jumlah (n) Presentase (%)

26—35 (Dewasa Awal) 36—45 (Dewasa Akhir) 46—55 (Lansia Awal) 56—65 (Lansia Akhir) >65 (Manula) 1 9 15 20 7 1,9% 17,3% 28,8% 38,5% 13,5% Total 52 100%

Jenis Kelamin Jumlah (n) Presentase (%)

Laki-laki 18 34,6%

Perempuan 34 65,4%

Total 52 100%

Durasi Lamanya Menderita DM Jumlah (n) Presentase (%)

> 5 Tahun 32 61,5

≤5 Tahun 20 38,5

(12)

(21,2%) orang dan <7% sebanyak 7 (15,2%) orang.

Tabel 5 Distribusi pasien neuropati diabetik berdasarkan kelompok kadar HbA1c

Penelitian ini mendapatkan bahwa dari 52 pasien neuropati diabetik jumlah pasien dengan normal weight paling tinggi dibandingkan kelompok IMT yang lain dengan 26 (50%) pasien, lalu overweight sebanyak 17 (32,7%) pasien, obese class I 4 (7,7%) pasien, underweight 3 (5,8%) pasien, dan obese class II dan III dengan jumlah yang sama, yaitu masing-masing 1 orang (1,9%) pasien.

Tabel 6 Distribusi pasien neuropati diabetik berdasarkan IMT

Hasil yang disajikan dalam Tabel 7 memperlihatkan bahwa dari 52 pasien neuropati diabetik yang melakukan pemeriksaan ENMG, kelompok mixed demyelinating & axonal neuropathy merupakan tipe kerusakan saraf terbanyak dengan jumlah 50 (96,2%) orang. Sedangkan distribusi penderita neuropati diabetik dengan tipe kerusakan axonal neuropathy sebanyak 1 (1,9%) orang dan demyelinating 1 (1,9%) orang.

Tabel 7 Distribusi pasien neuropati diabetik berdasarkan tipe kerusakan saraf

4. Pembahasan

Angka Kejadian Neuropati Diabetik

Hasil dari penelitian ini terdapat 1105 pasien yang datang ke laboratorium ENMG pada tahun 2019 dengan 52 diantaranya adalah penderita neuropati diabetik, sehingga dapat dinyatakan bahwa angka kejadian neuropati diabetik adalah 4,7%. Angka 4,7% didapatkan dari hasil presentase antara penderita neuropati diabetik dibandingkan dengan seluruh pasien di laboratorium ENMG. Hasil ini hampir serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Caitlin W & Elizabeth S (2019) di Eropa mendapatkan bahwa angka kejadian neuropati diabetik adalah ≥6% tergantung dengan bagaimana populasi tersebut dapat menjaga kontrol glukosa darah dengan baik dan menjaga pola hidup yang sehat. Penelitian yang dilakukan oleh Quann dkk (2020) mendapatkan bahwa angka kejadian di Amerika Serikat yaitu sekitar 7,5%. Diabetes merupakan penyebab neuropati terbanyak pada negara yang berkembang.13 Tingginya angka kejadian neuropati diabetik pada suatu populasi dapat disebabkan oleh hiperglikemia kronis pada penderita diabetes sehingga dapat menyebabkan efek toksiksistas yang berujung kepada peningkatan ketebalan pembuluh mikroendoneural, akumulasi advanced glycation end products (AGEs), aktivasi jalur poliol, dan stres oksidatif .14

Distribusi Penderita Neuropati Diabetik Berdasarkan Usia

Distribusi penderita neuropati diabetik pada penelitian ini didapatkan rentang kelompok usia lansia akhir (56—65) tahun

Kadar HbA1c Jumlah (n) Presentase (%)

<7% 7—7,9 5 7 15,2% 21,2% ≥ 8% 21 63,6% Total 33 100%

IMT Jumlah (n) Presentase (%)

<18,5 (Underweight) 3 5,8%

18,5—24,9 (Normalweight) 25 − 29,9 (Overweight) 30—34,9 (Obese Class I) 35—39,9 (Obese Class II) ≥ 40 (Obese Class III)

26 17 4 1 1 50% 32,7% 7,7% 1,9% 1,9% Total 52 100%

Tipe kerusakan saraf Jumlah (n) Presentase (%)

Axonal neuropathy 1 1,9%

Demyelinating neuropathy

Mixed axonal & demyelinating neuropathy

1 50

1,9% 96,2%

(13)

merupakan jumlah pasien terbanyak diantara 52 pasien penderita neuropati diabetik. Hasil penelitian Aini sejalan dengan penelitian Mildawati dkk (2019) yang mendapatkan kejadian neuropati diabetik terbanyak pada usia 45—65 tahun. Selain itu, Penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati & Hargono (2018) di RSUD Dr. M Soewandhi memiliki hasil yang hampir sama yaitu, penderita neuropati diabetik lebih banyak pada rentang usia 50—59 tahun. Studi yang dilakukan oleh Simona dkk (2016) menyatakan bahwa pasien neuropati diabetik terbanyak berada pada usia sekitar 62 tahun. Neuropati diabetik merupakan penyakit degeneratif, sehingga penyakit ini berkembang secara progresif dan risikonya meningkat dengan peningkatan usia.10

Pernyataan ini tidak berarti bahwa neuropati diabetik tidak dapat terjadi pada usia yang lebih muda, namun peningkatan usia memiliki korelasi yang tinggi dengan pengingkatan angka kejadian neuropati diabetik dikarenakan pada penderita neuropati diabetik terjadi peningkatan inflamasi, stress oksidatif, dan disfungsi mitokondria. Perubahan ini serupa dengan proses penuaan, sehingga mekanisme penyakit ini sejalan dengan proses penuaan.15 Faktor risiko terjadinya neuropati diabetik antara lain adalah penderita diabetes yang berusia ≥ 45 tahun, ini dapat diakibatkan oleh peningkatan dari reactive oxygen species yang dapat menyebabkan terjadinya jejas dan kematian pada sel saraf .10 AGEs diproduksi melalui glikasi dalam sel atau protein ekstrasel. Pembentukan AGEs yang menumpuk beriringan dengan peningkatan usia akan menyebabkan terjadinya kerusakan permanen pada markomolekul secara biologis dan dapat mengubah integritas sel. Penumpukan AGEs akan berinteraksi dengan albumin sehingga terjadi penebalan basal membran pada vasa

nervorum sehingga terjadi iskemik pada sel saraf yang berujung kepada kematian sel.16

Distribusi Penderita Neuropati Diabetik Berdasarkan Jenis Kelamin

Mayoritas penderita neuropati diabetik berjenis kelamin perempuan, yaitu sebanyak 34 (65,4%) pasien. Hasil ini dapat disesuaikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bansal dkk (2014) di India yang menyatakan bahwa pasien dengan berjenis kelamin perempuan berjumlah 51,9% lebih tinggi dibandingkan dengan pasien laki-laki. Pada penelitian oleh Qadir dkk (2019) di Pakistan mendapatkan jumlah pasien wanita lebih banyak dibandingkan laki-laki, dengan berkisar 54,67%. Penelitian yang serupa juga dilakukan di Denpasar mendapatkan prevalensi neuropati diabetik lebih tinggi pada wanita.17 Diantara pasien yang menderita penyakit diabetes melitus tipe 2, perempuan lebih sering datang ke dokter dengan keluhan neuropati dibandingkan laki-laki dikarenakan perempuan lebih sensitif terhadap penyakit.18

Jumlah distribusi penderita neuropati diabetik yang tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki dapat disebabkan oleh laki-laki mempunyai hormon testosterone yang berguna sebagai neuroprotective dan mempercepat regenerasi dari axon.19 Testosterone dapat menjadi neuroprotective dengan cara menurunkan hambatan sinaps saraf dan meningkatkan respon dari ribosom. Hormon ini dapat meningkatkan regulasi protein yang berguna sebagai neuroprotection seperti protein dengan fungsi sebagai antioksidan sehingga dapat menurunkan reaksi stress oksidatif yang menyebabkan terjadinya jejas pada sel saraf.20 Selain itu, banyakya pasien wanita dapat terjadi akibat biasanya perempuan mempunyai kontrol glukosa yang

(14)

buruk dan lebih berisiko menderita komplikasi diabetes melitus.21

Komposisi lemak tubuh yang tinggi pada perempuan mengakibatkan perempuan memiliki faktor risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.22 Pada wanita, kadar lemak yang tinggi akan menyebabkan peningkatan asam lemak bebas dan adipokin seperti leptin, TNF alpha, IL-6, dan adiponektin. Hal tersebut dapat berujung dengan terjadi resistensi terhadap insulin, sehingga proses patologi dari kerusakan saraf akan terus terjadi.23

Distribusi Penderita Neuropati Diabetik Berdasarkan Durasi Lamanya Menderita DM

Hasil dari analisis data yang sudah diperoleh, dari 52 pasien yang menderita neuropati diabetik, pasien dengan kelompok riwayat DM >5 tahun lebih banyak dibandingkan ≤5 tahun. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Suri dkk (2015) mendapatkan 50 (79,37%) orang dengan riwayat DM >5 tahun lebih banyak dibandingkan ≤5 tahun. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mildawati dkk. (2019) memperoleh penderita neuropati diabetik lebih banyak dengan riwayat DM >5 tahun. Nisar dkk (2015) mendapatkan bahwa lebih banyak penderita neuropati diabetik pada penderita dengan durasi lamanya menderita DM >10 tahun dibandingkan dengan <5 tahun.

Tingginya angka kejadian neuropati diabetik pada penderita dengan riwayat DM >5 tahun dapat terjadi akibat peningkatan produksi AGEs, gangguan metabolik, jejas endotel, dan produk oksidatif yang berhubungan dengan durasi diabetes yang lama dan kontrol glukosa darah yang buruk sehingga terjadinya peningkatan kerusakan saraf perifer secara progresif.24 Meningkatnya produksi AGEs dan akumulasi dari AGEs ini akan

meningkatkan rekruitmen sel T dan makrofag ke sel target sehingga akan menyebabkan peningkatan proses inflamasi dan peningkatan dari reactive oxygen species dimana ROS ini akan meningkatkan kerusakan sel dengan mengambil elektron dari molekul lain sehingga terjadinya penurunan intergritas antara molekul, terutama pada membran sel. Mekanisme dari stress oksidatif ini akan menyebabkan peningkatan kerusakan sel saraf sehingga tidak seimbang dengan proses regenerasi dari sel saraf. 25

Distribusi Penderita Neuropati Diabetik Berdasarkan Kadar HbA1c

Hasil analisis dari data yang sudah diolah pada penelitian ini mendapatkan bahwa dari 52 pasien yang terdiagnosis neuropati diabetik, terdapat 33 pasien yang memeriksa kadar HbA1c dengan kelompok kadar HbA1c ≥8% merupakan jumlah pasien terbanyak. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan pada BIRDEM general hospital oleh Hoque dkk (2016) mendapatkan hasil sekitar 65,7% penderita neuropati diabetik dengan kelompok kadar HbA1c ≥8% lebih tinggi dibandingkan kelompok yang lain. Penelitian yang dilakukan oleh Nisar dkk (2015) mendapatkan bahwa diantara 76 pasien, 88,6% diantaranya memiliki kadar HbA1c >6,5%. Pada penelitian yang dilakukan oleh Nisar dkk (2015) juga menyatakan bahwa kadar HbA1c >6,5% memiliki risiko 16,9 kali lebih tinggi untuk menderita neuropati dibandingkan yang tidak.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa hal ini disebabkan oleh penderita tidak dapat mengontrol kadar glukosa dengan baik dan menderita hiperglikemia kronis sehingga proses kerusakan saraf terus terjadi.24 Setiap peningkatan 1% dari kadar HbA1c dapat meningkatkan risiko sekitar 10-15% kejadian neuropati diabetik. Peningkatan kadar HbA1c

(15)

juga sangat berkaitan terhadap skor nerve conduction study dengan hasil peningkatan derajat keparahan kerusakan saraf.26 Pada kontrol glukosa darah yang buruk akan menyebabkan terjadinya peningkatan jalur poliol sehingga akan menurunkan produksi zat antioksidan diakibatkan terjadinya peningkatan penggunaan NADPH. Penurunan zat antioksidan ini akan menyebabkan terjadinya peningkatan dari ROS sehingga proses neurotoksisitas glukosa akan terus terjadi. 27 Menjaga kadar HbA1c pada 6,5% dengan menggunakan terapi insulin secara teratur terbukti dapat menunda kejadian dan perkembangan dari neuropati.24

Distribusi Penderita Neuropati Diabetik Berdasarkan Indeks Massa Tubuh

Distribusi penderita neuropati diabetik berdasarkan IMT pada penelitian ini diperoleh adalah pasien dengan nomal weight (18,5— 24,9 kg/m2) lebih banyak dibandingkan kelompok lain. Penelitian ini mempunyai perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Levtrova dkk (2018) mendapatkan bahwa terdapat 52,9% pasien neuropati diabetik memiliki IMT overweight atau obese. Studi yang dilakukan oleh Jung Oh dkk (2019) mendapatkan pasien neuropati diabetik lebih banyak pada kelompok IMT overweight dengan rata-rata 26,5 kg/m2. Obesitas memiliki korelasi yang tinggi dengan kejadian neuropati diabetik, sehingga obesitas merupakan faktor risiko yang penting. Tingginya korelasi antara neuropati diabetik dengan obesitas tersebut dapat diakibatkan oleh pada orang yang memiliki IMT yang tinggi dapat meningkatkan resistensi terhadap insulin sehingga dapat meningkatkan proses inflamasi dan terjadinya peningkatan disfungsi endotel.28

Hasil dari penelitian ini mendapatkan bahwa terdapat sekitar 53,8% penderita

dengan normalweight menderita diabetes melitus > 5 tahun. Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa terdapat 66,7% penderita neuropati diabetik dengan IMT normalweight memiliki kadar HbA1c ≥8%. Hasil dari analisis ini dapat disimpulkan bahwa selain IMT, kontrol glukosa darah dan durasi lamanya menderita DM juga sangat berpengaruh terhadap terjadinya neuropati diabetik. Tingginya jumlah penderita neuropati diabetik yang memiliki IMT normalweight dapat diakibatkan oleh penggunaan metformin sebagai tatalaksana dari diabetes. Penggunaan metformin diatas 2 tahun dapat menyebabkan terjadinya penurunan berat badan dikarenakan mekanisme obat ini adalah dengan menurunkan absorbsi glukosa pada usus dan meningkatkan oksidasi asam lemak pada hepar dan otot.29 Indeks Massa Tubuh yang normal pada penderita neuropati diabetik juga dapat terjadi akibat produksi insulin yang tidak adekuat dibandingkan dengan resistensi terhadap insulin. Lamanya durasi diabetes melitus juga berpengaruh terhadap menurunnya IMT diakibatkan peningkatan metabolisme dari sel-sel lemak dan otot yang berangsur lama sehingga terjadi penurunan berat badan.30 Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Katulanda dkk (2012) dengan penderita neuropati diabetik terbanyak yaitu pada kelompok IMT rata-rata sekitar 22,8 (normalweight).

Distribusi Penderita Neuropati Diabetik Berdasarkan Tipe Kerusakan Saraf

Mayoritas pasien neuropati diabetik menderita jenis tipe kerusakan saraf mixed axonal demyelinating. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurlaela dkk. (2018) di RSUD dr. Saiful Anwar Malang mendapatkan tipe kerusakan saraf terbanyak adalah mixed axonal demyelinating, yaitu

(16)

sekitar 88,37%. Penelitian yang dilakukan oleh Suri dkk (2015) juga mendapatkan bahwa jenis tipe kerusakan saraf axonal demyelinating merupakan tipe terbanyak yaitu sekitar 44 orang atau 69,8%.

Kerusakan saraf pada penderita diabetes melitus dapat terjadi akibat dari berbagai faktor seperti interaksi AGEs dengan protein matriks ekstrasel akan menyebabkan terjadinya penyempitan pada vasa nervorum dan disfungsi endotel sehingga terjadinya iskemia pada daerah tersebut, penurunan zat antioksidan yang menyebabkan peningkatan dari stress oksidatif sehingga berdampak kepada proses demielinisasi dan kematian sel saraf, dan neurotoksisitas glukosa (Khan, 2020). Hasil tipe kerusakan saraf mixed axonal demyelinating menandakan bahwa kerusakan saraf sudah parah dan perjalanan penyakit sudah cukup lama pada pendertia diabetes.31 Saat proses patologi berlangsung, proses demielinisasi merupakan proses yang pertama kali, dilanjutkan dengan kerusakan axonal sebagai proses patologi sekunder. Diabetes merupakan penyebab yang paling sering dari tipe kerusakan saraf mixed axonal demyelinating. Peningkatan dari ketiga dasar mekanisme terjadinya neuropati diabetik seperti peningkatan AGEs, jalur poliol, dan peningkatan protein kinase C akan menyebabkan terjadinya kerusakan saraf yang terus berlanjut sehingga proses patologi ini tidak seimbang dengan terjadinya regenerasi sel saraf.32

5. Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian mengenai angka kejadian neuropati diabetik pada Laboratorium ENMG di RSMH Palembang periode 1 Januari 2019 – 31 Desember 2019, adalah:

Angka kejadian neuropati diabetik pada laboratorium ENMG di RSMH dalam periode satu tahun adalah 4,7%

1. Pasien neuropati diabetik dengan kelompok usia paling banyak adalah dalam rentang usia 56—65 tahun (lansia akhir) 20 orang (38,5%) dan yang paling sedikit adalah dalam rentang usia 26—35 tahun yaitu 1 orang (1,9%)

2. Sebagian besar penderita neuropati diabetik adalah perempuan, yaitu 34 orang (65,4%)

3. Mayoritas penderita neuropati diabetik menderita diabetes melitus >5 tahun, yaitu 32 orang (61,5%)

4. Dari 33 pasien yang memeriksa kadar HbA1c, penderita neuropati diabetik sebagian besar dengan kadar HbA1c ≥8% dengan jumlah 21 orang (63,6%)

5. Bedasarkan penelitian ini, didapatkan penderita neuropati diabetik lebih banyak pada pasien dengan IMT sekitar 18,5—24,9 kg/m2 (normalweight) dengan jumlah pasien 26 orang (50%)

6. Jenis tipe kerusakan saraf yang dialami penderita neuropati diabetik pada penelitian ini mayoritas adalah mixed demyelinating & axonal neuropathy dengan jumlah 50 orang (96,2%).

Daftar Pustaka

1. Feldman, E. L., Shefner, J. M., & Dashe, J. F. (2018). Epidemiology and classification of diabetic

neuropathy.

UpToDate®.(www.uptodate.com/contents/epidemi ology-an Available atd-classification-of-dianbetic-neuropathy. Diakses 28 November 2016)

2. Dewanjee, S., Das, S., Das, A. K., Bhattacharjee, N., Dihingia, A., Dua, T. K., Kalita, J., & Manna, P. (2018). Molecular mechanism of diabetic neuropathy and its pharmacotherapeutic targets. European Journal

(17)

of Pharmacology, 833(June), 472–523. (https://doi.org/10.1016/j.ejphar.2018.06.034.Diak ses 18 Juli 2020)

3. Brust, J. C. . (2012). Current Diagnosis & Treatment Neurology Ed-2. McGraw-Hill. New York, USA 4. Barrell, K., & Smith, A. G. (2019). Peripheral

Neuropathy. Medical Clinics of North America,

103(2), 383–397.

(https://doi.org/10.1016/j.mcna.2018.10.006. Diakses 15 Agustus 2020)

5. Schreiber, A. K. (2015). Diabetic neuropathic pain: Physiopathology and treatment. World Journal of Diabetes, 6(3), 432.

(https://doi.org/10.4239/wjd.v6.i3.432.Diakses Braffett, B. H., Gubitosi-klug, R. A., Albers, J. W., Feldman, L., Martin, C. L., White, N. H., Orchard, T. J., Lachin, J. M., Pop-busui, R., & Study, E. (2020). Risk Factors for Diabetic Peripheral Neuropathy and Cardiovascular Autonomic

6. Suri, M. H., Haddani, H., & Sinulingga, S. (2015). Hubungan Karakteristik, Hiperglikemi, dan

Kerusakan Saraf Pasien Neuropati Diabetik di RSMH Palembang Periode 1 Januari 2013 Sampai Dengan 30 November 2014. Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 2(3), 305–310.

7. IDF. (2019). IDF Diabetes Atlas ed-9. International Diabetes Federation. hal 10-122.

8. Pusdatin. (2014). Situasi dan Analisis Diabetes. Kemenkes RI. Jakarta Selatan. Hal 1- 6

9. Rahmawati, A., & Hargono, A. (2018). Dominant Factor of Diabetic Neuropathy on Diabetes Mellitus Type 2 Patients. Jurnal Berkala Epidemiologi, 6(1), 60. (https://doi.org/10.20473/jbe.v6i12018.60-68.Diakses 17 Juli 2020)

10. Yang, Z., Zhang, Y., Chen, R., Huang, Y., Ji, L., Sun, F., Hong, T., & Zhan, S. (2018). Simple tests to screen for diabetic peripheral neuropathy.

Cochrane Database of Systematic Reviews, 2018(7). (https://doi.org/10.1002/14651858.CD010975.pub 2.Diakses 14 Juli 2020)

11. Picon, A. P., Ortega, N. R. S., Watari, R., Sartor, C., & Sacco, I. C. N. (2012). Classification of the severity of diabetic neuropathy: A new approach taking uncertainties into account using fuzzy logic. Clinics, 67(2), 151–156.

(https://doi.org/10.6061/clinics/2012(02)10. Diakses pada 17 Juli 2020)

12. Feldman, E. L., Shefner, J. M., & Dashe, J. F. (2018). Epidemiology and classification of diabetic

neuropathy.

UpToDate®.(www.uptodate.com/contents/epidemi ology-an Available atd- classification-of-dianbetic-neuropathy. Diakses 28 November 2016) 13. Khawaja, N., Abu-Shennar, J., Saleh, M., Dahbour,

S. S., Khader, Y. S., & Ajlouni, K. M. (2018). The prevalence and risk factors of peripheral

neuropathy among patients with type 2 diabetes mellitus; the case of Jordan. Diabetology & metabolic syndrome, 10(1), 8.

(https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29483946/. Diakses 29 November 2020)

14. Mao, F., Zhu, X., Liu, S., Qiao, X., Zheng, H., Lu, B., & Li, Y. (2019). Age as an Independent Risk Factor for Diabetic Peripheral Neuropathy in Chinese Patients with Type 2 Diabetes. Aging and disease, 10(3), 592.

(https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6 538210/. Diakses 27 November 2020)

15. Chaudhuri, J., Bains, Y., Guha, S., Kahn, A., Hall, D., Bose, N., ... & Kapahi, P. (2018).The role of advanced glycation end products in aging and metabolic diseases: bridging association and causality. Cell metabolism, 28(3), 337-352. (https://doi.org/10.1016/j.cmet.2018.08.014. Diakses 21 Desember 2020)

16. Arista, I. (2019). Hubungan Nilai Ankle Brachial Index (Abi) Dengan Neuropati Perifer Diabetik Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Upt. Puskesmas Klungkung I Tahun 2019. Doctoral dissertation, Politkeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar Jurusan Keperawatan. (https://ejournal.poltekkes-

denpasar.ac.id/index.php/JGK/article/view/818. Diakses 27 November 2020)

17. Alkhatatbeh, M., & Abdul-Razzak, K. K. (2019). Neuropathic pain is not associated with serum vitamin D but is associated with female gender in patients with type 2 diabetes mellitus. BMJ Open Diabetes Research and Care, 7(1),

(https://drc.bmj.com/content/bmjdrc/7/1/e00069 0.full.pdf. Diakses 28 November 2020)

18. Cai, Y., Chew, C., Muñoz, F., & Sengelaub, D. R. (2017). Neuroprotective effects of testosterone metabolites and dependency on receptor action on the morphology of somatic motoneurons following the death of neighboring motoneurons.

(18)

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5 332478/. Diakses 29 November 2020)

19. Byers, J. S., Huguenard, A. L., Kuruppu, D., Liu, N. K., Xu, X. M., & Sengelaub, D. R. (2012).

Neuroprotective effects of testosterone on motoneuron and muscle morphology following spinal cord injury. Journal of Comparative Neurology, 520(12), 2683-2696.

(http://doi.org/10.1002/cne.23066. Diakses 21 Desember 2020)

20. Siddiqui, M. A., Khan, M. F., & Carline, T. E. (2013). Gender differences in living with diabetes

mellitus.Materiasocio-medica, 25(2),140.

(https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3 769156/. Diakses 26 November 2020)

21. Elling, D., Surkan, P. J., Enayati, S., & El-Khatib, Z. (2018). Sex differences and risk factors for diabetes mellitus-an international study from 193 countries. Globalization and health, 14(1), 118.

(https://doi.org/10.1186/s12992-018-0437- 7. Diakses 21 Desember 2020)

22. Powers, A. C., Niswender, K. D., & Evans-Molina, C. (2018). Diabetes Mellitus: Diagnosis, Classification, and Pathophysiology Dalam: J. ennis Kasper, A. Fauci, S. Hauser, D. Longo, J. L. Jameson, & J. Loscalzo (Eds.), Harrison’s Principles of Internal Medicine (20th ed.). McGraw-Hill. USA. hal 2850-2859

23. Nisar, M. U., Asad, A., Waqas, A., Ali, N., Nisar, A., Qayyum, M. A., & Jamil, M. (2015). Association of diabetic neuropathy with duration of type 2 diabetes and glycemic control. Cureus, 7(8). (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26430576/. Diakses 26 November 2020)

24. Lobo, V., Patil, A., et al. 2010. Free radicals, antioxidants and functional foods: Impact on human health. Pharmacognosy reviews, 4(8), 118. (https://doi.org/10.4103/0973-7847.70902. Diakses 21 Desember 2020)

25. Lai, Y. R., Chiu, W. C., Huang, C. C., Tsai, N. W., Wang, H. C., Lin, W. C., Cheng, B. C., Su, Y. J., Su, C. M., Hsiao, S. Y., & Lu, C. H. (2019). HbA1c variability is strongly associated with the severity of

peripheral neuropathy in patients with type 2 diabetes. Frontiers in Neuroscience, 13(90), 1–9. (https://doi.org/10.3389/fnins.2019.00090. Diakses pada 8 Agustus 2020)

26. Kumar, V., Abbas, A. K., & Aster, J. C. (2015). Buku Ajar Patologi Robbins Terjemahan oleh: I Made

Nasar dan Santoso C (9th ed.). Elsevier. Singapore. hal 729-739

27. Oh, T. J., Lee, J. E., Choi, S. H., & Jang, H. C. (2019). Association between body fat and diabetic peripheral neuropathy in middle-aged adults with type 2 diabetes mellitus: a preliminary report. Journal of obesity & metabolic syndrome, 28(2), 112. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31294343/. Diakses 24 November 2020)

28. Bray, George A.,Edelstein, Sharon L., Crandall, Jill P., Aroda, Vanita R.(2012). Long- term safety, tolerability, and weight loss associated with metformin in the Diabetes Prevention Program Outcomes Study. Diabetes care, 35(4), 731-737. (https://care.diabetesjournals.org/content/diacare /35/4/731.full.pdf. Diakses 25 November 2020) 29. Gujral, U. P., & Narayan, K. V. (2019). Diabetes in

normal-weight individuals: High susceptibility in nonwhite populations. Diabetes care, 42(12), 2164-2166.

(https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6 868465/. Diakses 25 November 2020)

30. Nurlaela, S., Kurniawan, S. N., & Husna, M. (2019). Electroneuromyography Examination of Diabetic Polyneuropathy Patients. MNJ (Malang Neurology Journal), 5(1), 1–4.

(https://doi.org/10.21776/ub.mnj.2019.005.01.1.Di akses 9 Juli 2020)

31. Bromberg, M. B. (2013). An electrodiagnostic approach to the evaluation of peripheral

neuropathies.Physical Medicine and Rehabilitation Clinics,24(1), 153-168.

(https://doi.org/10.1016/j.pmr.2012.08.020. Diakses 25 November 2020) 12 Juli 2020)

(19)

58

BIODATA

Nama : Yunisa Hasna Hanafi

Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 25 Juni 1999

Alamat : Jalan Cakra Wijaya V Blok L no. 5

Telp/Hp : 081316540701

Email : yunisa_hanafi@yahoo.com

Agama : Islam

Nama Orang Tua

Ayah : Iing Ichsan Hanafi Ibu : Erlinawati Hakim Jumlah Saudara : 2

Anak Ke : 1

Riwayat Pendidikan :

1. TK Al Iman (2003—2005)

2. SD Jakarta Islamic School (2005—2011) 3. SMP Jakarta Islamic School (2011—2014) 4. SMA Jakarta Islamic School (2014—2017)

5. Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (2017—Sampai Sekarang)

Palembang, 12 Agustus 2020

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :