• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Budidaya Tanaman Buah-buahan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pedoman Budidaya Tanaman Buah-buahan"

Copied!
193
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,

atas perkenan dan ridhoNya, buku pedoman budidaya tanaman

buah-buahan, tanaman sela, tanaman perkebunan dan kehutanan pada

Program Penanganan Lahan Kritis dan Sumber Daya Air Berbasis

Masyarakat (PLKSDA-BM) dapat diselesaikan dengan baik.

Buku pedoman budidaya tanaman buah-buahan, tanaman sela,

tanaman perkebunan dan kehutanan bertujuan untuk memberikan

acuan bagi pengelola program di daerah dalam melaksanakan kegiatan

budidaya tanaman sesuai dengan teknis usaha tani yang baik. Selain

itu dapat digunakan bagi petani pelaksana program dalam

melaksanakan usaha budidaya sesuai dengan kebutuhan sarana

produksi pertanian, pemeliharaan dan penanganan pasca panen.

Akhirnya dengan mengucapkan terima kasih kepada semua

pihak yang telah berpartisipasi dalam proses penyusunan buku

pedoman budidaya tanaman buah-buahan, tanaman sela, tanaman

perkebunan dan kehutanan, mudah-mudahan memberikan manfaat

bagi semua pihak.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,

atas perkenan dan ridhoNya, buku pedoman budidaya tanaman

buah-buahan, tanaman sela, tanaman perkebunan dan kehutanan pada

Program Penanganan Lahan Kritis dan Sumber Daya Air Berbasis

Masyarakat (PLKSDA-BM) dapat diselesaikan dengan baik.

Buku pedoman budidaya tanaman buah-buahan, tanaman sela,

tanaman perkebunan dan kehutanan bertujuan untuk memberikan

acuan bagi pengelola program di daerah dalam melaksanakan kegiatan

budidaya tanaman sesuai dengan teknis usaha tani yang baik. Selain

itu dapat digunakan bagi petani pelaksana program dalam

melaksanakan usaha budidaya sesuai dengan kebutuhan sarana

produksi pertanian, pemeliharaan dan penanganan pasca panen.

Akhirnya dengan mengucapkan terima kasih kepada semua

pihak yang telah berpartisipasi dalam proses penyusunan buku

pedoman budidaya tanaman buah-buahan, tanaman sela, tanaman

perkebunan dan kehutanan, mudah-mudahan memberikan manfaat

bagi semua pihak.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

KEMENTERIAN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,

atas perkenan dan ridhoNya, buku pedoman budidaya tanaman

buah-buahan, tanaman sela, tanaman perkebunan dan kehutanan pada

Program Penanganan Lahan Kritis dan Sumber Daya Air Berbasis

Masyarakat (PLKSDA-BM) dapat diselesaikan dengan baik.

Buku pedoman budidaya tanaman buah-buahan, tanaman sela,

tanaman perkebunan dan kehutanan bertujuan untuk memberikan

acuan bagi pengelola program di daerah dalam melaksanakan kegiatan

budidaya tanaman sesuai dengan teknis usaha tani yang baik. Selain

itu dapat digunakan bagi petani pelaksana program dalam

melaksanakan usaha budidaya sesuai dengan kebutuhan sarana

produksi pertanian, pemeliharaan dan penanganan pasca panen.

Akhirnya dengan mengucapkan terima kasih kepada semua

pihak yang telah berpartisipasi dalam proses penyusunan buku

pedoman budidaya tanaman buah-buahan, tanaman sela, tanaman

perkebunan dan kehutanan, mudah-mudahan memberikan manfaat

bagi semua pihak.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...I DAFTAR ISI ...II DAFTAR TABEL...III

ALPUKAT (Persea americana MILL) ...1

APEL (Malus sylvestris Mill) ...9

BUAH NAGA (Hylocereus undatus) ...18

DURIAN (Durio zibethinus) ...24

DUKU ( Lansium domesticum Corr)...37

JAMBU AIR (Syzygium aquaeum) ...44

JAMBU BIJI (Psidium guajava L)...55

JERUK (Citrus sp)...64

JENGKOL (Pithecellobium jiringa) ...84

LENGKENG (Dimocarpus longan (Lour)...89

MANGGA (Mangifera, spp)...96

MANGGIS (Garcinia mangostana L)...109

MATOA (Pometia pinnata J.R & J.G) ...120

NANGKA (Artocarpus heterophyllus Lamk) ...124

PEPAYA (Cacarica papaya, L) ...131

PETAI (Parkia speciosa Hassk) ...139

PISANG (Musa spp) ...143

RAMBUTAN (Nephelium sp) ...154

SAWO (Acrhras zapota. L) ...165

SIRSAK (Anona muricata Linn) ...175

(4)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

DAFTAR TABEL

SYARAT TUMBUH TANAMAN BUAH-BUAHAN ...IV JARAK TANAM BUAH-BUAHAN...IV DOSIS PUPUK DASAR TANAMAN BUAH-BUAHAN...V DOSIS PUPUK UNTUK PEMELIHARAAN TANAMAN

(5)

SYARAT TUMBUH TANAMAN BUAH-BUAHAN

No Jenis Tanaman Iklim (curah Syarat Tumbuh

hujan,mm/th) Tempat (mdpl)Ketinggian Tanah (pH) I. Tanaman Buah-buahan 1. Alpukat 750 - 1.000 5 - 1.500 5,6 - 6,4 2. Apel 1.000 - 2.600 700 - 1.200 6,0 - 7,0 3. Buah Naga 720 s/d 500 5,0 - 7,0. 4. Durian > 2.000 100 - 500 5,0 - 7,0. 5. Duku 1.500 - 2500 < 650 6,0 - 7,0 6. Jambu Air 500 - 3.000 s/d 1.000 5,5 - 7,5. 7. Jambu Biji 1.000 - 2.000 5 - 1.200 4,5 - 8,2 8. Jeruk 1.000 - 2.000 s/d 1.200 5,5 - 6,5 9. Jengkol > 2.000 1.000 5,0 - 7,0 10. Lengkeng 2.000 - 2.500 s/d 600 4,5 - 6,5 11. Mangga 750 - 2.000 s/d 500 5.5 - 7.5 12. Manggis 1.250 - 2.500 < 1.500 5,0 - 7,0 13. Matoa < 1.200 4,7 - 6,6 14. Nangka 1.500 - 2.500 s/d 1.300 6,0 - 7,5, 15. Pepaya 1.000 - 2.000 s/d 1.000 6,0 – 7,0

16. Petai Tipe iklim B dan C s/d 1.500 5,5 - 6,5

17. Pisang 1.520 - 3.800 s/d 2.000 5,5 - 7,5

18. Rambutan 1.250 - 4.000 30 - 500 6,0 - 6,7

19. Sawo 2.000 - 3.000 s/d 1.200 6,0 - 7,0

20. Sirsak 1.500 - 3.000 < 1.000 5,0 - 7,0

21. Sirkaya 1.500 - 3.000 s/d 1.000 6,0 - 6,5

JARAK TANAM BUAH-BUAHAN

No Jenis Tanaman Jarak Tanam Jumlah Bibit/Ha I. Tanaman Buah-buahan

1. Alpukat 8 x 8 m 150 pohon

2. Apel var. manalagi & princes

moble 3 - 3,5 x 3,5 m 800 - 950 pohon

3. Apel var. beauty & anna 2 - 3 x 2,5 - 3 m 1.100 - 1.400 pohon

4. Buah Naga 2 x 2,5 m 2.000 pohon

5. Durian genjah 10 x 10 m 100 pohon

6. Durian sedang dan dalam 12 x 12 m 70 pohon

7. Duku 8 x 8 m atau 12 x 12 m 70 -150 pohon

8. Jambu Air 8 x 8 m 150 pohon

9 Jambu Biji 6 x 6 m 280 pohon

10. Jeruk Keprok dan Siem 5 x 5 m 400 pohon

11. Jeruk Manis 7 x 7 m 200 pohon

12. Jeruk Sitrun 6 x 7 m 240 pohon

13. Jeruk Nipis 4 x 4 m 625 pohon

14. Grape Fruit 8 x 8 m 150 pohon

15. Jeruk Besar 10 x 10 m 100 pohon

16. Jengkol 6 - 7 x 6 - 7 m 200 - 280 pohon

17. Lengkeng 10 x 10 m 100 pohon

18. Mangga 8 x 8 m atau 10 x 10 m 100 - 150 pohon

19. Manggis 10 x 10 m 100 pohon

20. Matoa 10 x 12 m 84 pohon

21. Nangka 12 x 12 m 70 pohon

22. Pepaya (monokultur) 2,5 x 2,5 m atau 2,5 x 2,75 m 1.450 - 1.600 phn

23. Petai 10 x 10 m 100 pohon

24. Pisang (monokultur) 3 x 3,5 m atau 3 x 4 m 830 - 950 pohon 25. Rambutan 10 x 12 m atau 12 x 12 m 70 - 84 pohon

26 Sawo 10 x 10 m 100 pohon

27. Sirsak (monokultur) 5 x 5 m atau 5 x 6 m 275 - 400 pohon

(6)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

DOSIS PUPUK DASAR TANAMAN BUAH-BUAHAN

No Jenis Tanaman Dosis pupuk dasar/lubang tanam

Urea SP-36 KCl Organik I. Tanaman Buah-buahan 1. Alpukat 30 kg 2. Apel 20 kg 3. Buah Naga 20-30 kg. 4. Durian 30 kg 5. Duku NPK 5 kg 50 kg 6. Jambu Air 1,5 kg 30 kg

7. Jambu Biji 50 gram 50 gram 50 gram 25 kg

8. Jeruk 20 kg 9. Jengkol 20 kg 10. Lengkeng 0,5 kg 1 kg 20-40 kg 11. Mangga 200 gram 30 kg 12. Manggis 20-30 kg 13. Matoa 20 kg 14. Nangka NPK : 100 gram 20 kg 15. Pepaya NPK : 200 gram 40 kg 16. Petai 20 kg 17. Pisang 15–20 kg 18. Rambutan 25 kg 19. Sawo 20 kg 20. Sirsak NPK biru : 125 gr 20 kg 21. Sirkaya >10 kg

DOSIS PUPUK UNTUK PEMELIHARAAN TANAMAN BUAH-BUAHAN

No Jenis Tanaman Urea Dosis pupuk (pohon/th)SP-36 KCl Organik I. Tanaman Buah-buahan

1. Alpukat

Umur 1 - 4 0,56-2,80 kg 0,60-2,60 kg 0,22-1,12 kg 30 kg Umur >5 (sdh berbuah) 2,0 - 4,0 kg 3,0 – 4,0 kg 2,0 – 4,0 kg 30 kg 2. Apel

Sebelum berbuah NPK (15-15-15) : 1-2 kg atau campuran Urea, TSPdan KCl/ZK (4:2:1) + 3 kg 20 kg Stl berbuah lebat NPK (15-15-15) : 1 kg atau campuran Urea, TSP danKCl/ZK (1:2:1) + 1 kg 20 kg

3. Buah Naga 6,0 - 12,5kg

4. Durian

Umur 1 tahun NPK (15:15:15) 40-80 gram >15-20 kg Umur 2 tahun NPK (15:15:15) 150-300 gram >15-20 kg Umur 3-4 tahun NPK (15:15:15) 400-600 gram >15-20 kg

Sudah berbuah 1,41 kg 2,86 kg 1,12 kg 40-60 kg

5. Duku

Umur 1 tahun 25 gram 31 gram 19 gram 60 kg

Umur 2 tahun 50 – 100 gr 62 - 125 gr 37 – 75 gr 60 kg Umur 3 tahun 133 – 200 gr 167 – 250 gr 100 – 150 gr 60 Umur > 3 tahun Masing-masing dosis ditambah 20-35 gram 100-150 kg 6. Jambu Air

(7)

Umur 1 tahun Pupuk instan green 420 gram Umur 2 tahun Pupuk instan green 630 gram Umur 3 tahun Pupuk instan green 1.050 gram Umur 4 tahun Pupuk instan red 420 gram 7. Jambu Biji

Umur 1 tahun 75 gram 100 gram 50 gram 50 kg

Umur 2 tahun 100 gram 125 gram 75 gram 50 kg

Umur 3 tahun 125 gram 150 gram 100 gram 50 kg

Umur > 3 tahun 150 gram 200 gram 125 gram 75 kg 8. Jeruk

Umur 1 tahun NPK (15:5:20) : 7 gram 20 kg

Umur 2 tahun NPK (15:5:20) : 134 gram 20 kg

Umur 3 tahun NPK (15:5:20) : 134 gram 30 kg

Umur 4 tahun NPK (15:5:20) : 1.200 gram 40 kg

Stl berbuah NPK (2:1:2) : > 3% dari berat buah 20-40 kg 9. Jengkol

Umur 1 – 3 tahun 100 gram 75 gram 25 gram 20 kg

Umur 4 – 5 tahun 200 gram 90 gram 50 gram 20 kg

10. Lengkeng

Umur 1 tahun 200 gram 500 gram 300 gram 20 kg

Umur 2 tahun 400 gram 1.000 gram 400 gram 30 kg

Umur 3 tahun 200 gram 800 gram 400 gram 40 kg

Umur 4 tahun 1.000 gram 1.000 gram 400 gram 80 kg

11. Mangga

Umur 1 tahun 350 gram 100 gram 150 gram 10 kg

Umur 2 tahun 400 gram 150 gram 200 gram 20 kg

Umur 3 tahun 500 gram 200 gram 300 gram 40 kg

Umur 4 tahun 600 gram 350 gram 400 gram 40 kg

Umur 5 tahun 1.000 gram 1.000 gram 500 gram 50 kg

12. Manggis

Umur 1-2 tahun 50 gram 25 gram 25 gram 20 kg

Umur 2-4 tahun 100 gram 50 gram 50 gram 20 kg

Umur 4-6 tahun 200 gram 100 gram 100 gram 40 kg

13. Matoa 238 gram 357 gram 476 gram 20 kg

14. Nangka

Umur 0,5 tahun NPK : 150 gram

-Umur 1,0 tahun NPK : 200 gram 20 kg

Umur 1,5 tahun NPK : 250 gram

-Umur 2,0 tahun NPK : 300 gram 20 kg

15. Pepaya

Umur 3 bulan NPK : 300 gram

-Umur 6 bulan NPK : 500 gram 40 kg

Umur 9 bulan NPK : 500 gram

(8)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

16. Petai

Umur 1 tahun 40 gram 40 gram 25 gram

-Umur 2 tahun 80 gram 70 gram 50 gram

-Umur 3 tahun 150 gram 100 gram 100 gram

-Umur 4 tahun 250 gram 100 gram 200 gram

-Umur 5 tahun 400 gram - 400 gram

-17. Pisang 500 -1.000 gr 300 - 600 gr 250 - 500 gr 7 - 10 kg 18. Rambutan

Umur 1-5 tahun 75-200 gram 63-156 gram 150-250 gr 20 kg Umur 5-10 tahun 100 gram 156-312 gr 300-500 gr 30-40 kg 19. Sawo

Umur 1 tahun 250 gram 100 gram 250 gram 10 kg

Umur 2 tahun 300 gram 150 gram 300 gram 20 kg

Umur 3 tahun 350 gram 200 gram 350 gram 40 kg

Umur 4 tahun 400 gram 250 gram 400 gram 40 kg

Umur 5 tahun 450 gram 300 gram 450 gram 50 kg

20. Sirsak

Umur 1 tahun 250 gram 300 gram 150 gram

-Umur 2 tahun 275 gram 325 gram 200 gram

-Umur 3 tahun 300 gram 350 gram 250 gram 20 kg

Umur 4 tahun 300 gram 350 gram 250 gram

-21. Sirkaya

Umur 1 tahun NPK (16:16:16 atau 21:21:21) : 500 gram 10 kg Umur 2 tahun NPK (16:16:16 atau 21:21:21) : 1.000 gram 10 kg Umur 3 tahun NPK (16:16:16 atau 21:21:21) : 1.500 gram 10 kg Umur 4 tahun NPK (16:16:16 atau 21:21:21) : 2.500 gram 10 kg Umur 5 tahun NPK (16:16:16 atau 21:21:21) : 2.500 gram 10 kg

(9)

ALPUKAT (Persea americana MILL)

I. Pendahuluan

Tanaman alpukat merupakan tanaman buah berupa pohon, dan berasal dataran rendah/tinggi dari Amerika Tengah dan diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke 18. Bagian alpukat yang banyak dimanfaatkan adalah daging buahnya sebagai makanan buah segar dan sebagai bahan dasar kosmetik. Daun alpukat yang masih muda dapat digunakan sebagai bahan obat tradisional untuk penyembuhan penyakit batu ginjal dan reumatik.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

Curah hujan minimum untuk pertumbuhan adalah 750 - 1.000 mm/tahun, untuk daerah dengan curah hujan kurang dari kebutuhan minimum, alpukat masih dapat tumbuh apabila kedalaman air tanah maksimum 2 m.

ALPUKAT (Persea americana MILL)

I. Pendahuluan

Tanaman alpukat merupakan tanaman buah berupa pohon, dan berasal dataran rendah/tinggi dari Amerika Tengah dan diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke 18. Bagian alpukat yang banyak dimanfaatkan adalah daging buahnya sebagai makanan buah segar dan sebagai bahan dasar kosmetik. Daun alpukat yang masih muda dapat digunakan sebagai bahan obat tradisional untuk penyembuhan penyakit batu ginjal dan reumatik.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

Curah hujan minimum untuk pertumbuhan adalah 750 - 1.000 mm/tahun, untuk daerah dengan curah hujan kurang dari kebutuhan minimum, alpukat masih dapat tumbuh apabila kedalaman air tanah maksimum 2 m.

ALPUKAT (Persea americana MILL)

I. Pendahuluan

Tanaman alpukat merupakan tanaman buah berupa pohon, dan berasal dataran rendah/tinggi dari Amerika Tengah dan diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke 18. Bagian alpukat yang banyak dimanfaatkan adalah daging buahnya sebagai makanan buah segar dan sebagai bahan dasar kosmetik. Daun alpukat yang masih muda dapat digunakan sebagai bahan obat tradisional untuk penyembuhan penyakit batu ginjal dan reumatik.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

Curah hujan minimum untuk pertumbuhan adalah 750 - 1.000 mm/tahun, untuk daerah dengan curah hujan kurang dari kebutuhan minimum, alpukat masih dapat tumbuh apabila kedalaman air tanah maksimum 2 m.

(10)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

b. Ketinggian Tempat.

Alpukat dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi, yaitu dari 5 - 1.500 m di atas permukaan laut (dpl), namun ketinggian ideal antara 200 - 1.000 m dpl.

c. Tanah.

1) Alpukat tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH 5,6-6,4. Jika pH < 5,5 maka tanaman akan keracunan Al, Mg dan Fe dan jika pH > 6,5 unsur , Mg dan Zn hara Fe akan berkurang.

2) Alpukat memerlukan tanah yang gembur, subur dan banyak mengandung bahan organik serta sistem drainase yang baik. Tanah yang baik untuk budidaya alpukat yaitu sandy loam, clay loam dan alluvial loam.

III. Budidaya a. Pengolahan Lahan.

1) Lahan dibersihkan dari semak belukar, tunggul bekas tanaman, rerumputan, kemudian dibajak, dicangkul.

2) Pengolahan lahan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau sehingga penanaman dapat dilakukan pada awal atau musim hujan. 3) Apabila sistem drainase kurang baik, dapat dibuat parit drainase di

sekitar kebun.

b. Penanaman.

1) Pola tanam alpukat pada suatu lahan harus dikombinasi antara varietas yang memiliki tipe bunga A (yaitu varietas ijo panjang, ijo bundar, merah panjang, merah bundar, waldin, butler, benuk, dickinson, puebla, taft dan hass) dan tipe bunga B (yaitu collinson, itszamma, winslowsaon, fuerte, iyon, nabal, ganter dan queen) sehingga terjadi penyerbukan antara kedua tipe bunga tersebut. 2) Jarak tanam 8x8 m, sehingga terdapat populasi tanaman sebanyak

150 pohon/Ha.

3) Lubang tanam dibuat dengan ukuran 60 x 60 x 40 cm atau disesuaikan dengan jenis tanah dan kondisi lahan dan dibiarkan terbuka selama kurang lebih 2 minggu. Tanah bagian atas (kurang lebih 20 cm) dipisahkan dengan tanah bagian bawah.

(11)

4) Lubang tanam ditutup dengan tanah bagian atas yang telah dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 30 kg dan tanah bagian bawah.

5) Lubang tanam yang telah tertutup kemudian diberi ajir untuk memudahkan mengetahui letak lubang tanam tersebut.

6) Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, dan tanah yang berada pada lubang tanam harus lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya, hal ini untuk menghindari terjadinya genangan air waktu dilakukan penyiraman atau waktu turun hujan.

7) Bibit ditanam di tengah lubang tanam, setinggi + 5 cm di atas pangkal batang atau + 15 cm di bawah sambungan, tancapkan ajir dan ikat batang bibit dengan ajir agar tanaman tumbuh tegak

8) Setiap bibit yang telah ditanam sebaiknya diberi naungan yang terbuat dari alang-alang atau jerami padi, untuk menghindari sinar matahari secara langsung, tiupan angin maupun terpaan air hujan. Naungan dibuat miring dengan bagian yang lebih tinggi di sebelah timur, dan naungan berfungsi sampai tumbuh tunas baru (kurang lebih 2-3 minggu).

c. Pemeliharaan Tanaman.

1) Penyiangan, dilakukan secara rutin untuk membuang gulma yang tumbuh di sekitar tanaman, sekaligus dilakukan penggemburan tanah. Kegiatan penggemburan dilakukan secara hati-hati supaya akar tanaman tidak putus.

2) Penyiraman, bibit yang baru ditanam memerlukan banyak air sehingga perlu penyiraman setiap hari (waktu pagi/sore), kecuali jika turun hujan.

3) Pemangkasan tanaman, yaitu :

a) Pada tanaman yang sudah berumur 1 tahun

b) Pada cabang yang tidak dikehendaki (tumbuh terlalu rapat atau cabang yang mati).

c) Bentuk tajuk mahkota seperti payung atau piramida terbalik d) Arahkan pertumbuhan cabang ke arah mendatar atau

membentuk sudut + 90 derajat terhadap batang utama dengan mengikatnya.

(12)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

e) Agar luka bekas pemangkasan terhindar dari infeksi penyakit maka bekas pemangkasan sebaiknya diberi fungisida atau penutup luka (meni).

f) Pertahankan tinggi tanaman 4-5 dari permukaan tanah dan letak cabang terndah 1-1,5 m dari permukaan tanah.

4) Pemupukan, dilakukan secara rutin dengan perkiraan dosis : Umur tanaman

(th)

Dosis pupuk (kg/pohon/th)

Urea SP-36 KCl Organik

1 - 4 0,56 - 2,80 0,60 - 2,60 0,22 - 1,12 30 >5 (sdh berbuah) 2,0 - 4,0 3,0 – 4,0 2,0 – 4,0 30 Catatan: Umur 1 - 4 tahun, pupuk anorganik diberikan 2 kali/tahun; umur > 5 th, pupuk anorganik diberikan 1 kali/th; pupuk organik diberikan 1 kali/th pada akhir musim hujan.

Pemupukan dilakukan dengan cara membenamkan pupuk ke dalam lubang sedalam 30 - 40 cm yang dibuat tepat di bawah tepi tajuk tanaman dan melingkari tanaman. Jika diperlukan dapat dilakukan penyiraman setelah tanaman dipupuk.

5) Penjarangan buah, yaitu :

a) Dilakukan saat buah masih berdiameter 2 cm (sebesar bola pimpong) dengan cara memotong tangkai buah yang tidak baik (ukuran kecil, tidak sehat, abnormal)

b) Dilakukan pemeliharaan terhadap buah yang sudah dijarangkan sebanyak 2-3 buah/dompol (bentuk normal dan sehat)

c) Hindari buah tidak saling bersinggungan dengan membuat jarak antar buah di dalam satu cabang.

d) Hama dan Penyakit. 1. Hama pada Daun.

a) Ulat Kipat dan ulat kupu-kupu gajah.

Gejala daun tidak utuh dan ada bekas gigitan.

Pengendalian disemprot dengan insektisida berbahan aktif monokrotofos atau sipermetein, misal Cymbush 50 EC dengan dosis 1-3 cc/liter atau Azodrin 15 WSC dengan dosis 2-3 cc/liter.

(13)

b) Aphis Kapas.

Gejala pertumbuhan tanaman terganggu, jika serangan hebat tanaman akan tumbuh kerdil dan terpilin.

Pengendalian disemprot dengan insektisida berbahan aktif asefat atau dimetoat, misalnya Orthene 75 SP dengan dosis 0,5-0,8 gram/liter atau Roxion 2 cc/liter.

c) Kutu Dompolan Putih.

Gejala pertumbuhan tanaman terhambat dan kurus.

Pengendalian disemprot dengan insektisida berbahan aktif formotion, monokrotofos, dimetoat atau karbaril, misalnya anthion 30 EC dosis 1-1,5 liter/ha, Sevin 85 S dosis 0,2% dari konsentrasi formula

d) Tungau Merah.

Gejala permukaan daun berbintik-bintik kuning kemudian berubah menjadi merah tua seperti karat jika serangan hebat daun layu dan rontok.

Pengedalian disemprot dengan akarisida Kelthan MF berbahan aktif dikofoldan dengan dosis 0,6-1 liter/ha.

2. Hama pada Buah. a) Lalat Buah Dacus.

Gejala terlihat bintik hitam/benjolan pada permukaan buah. Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Kultur teknis, penanaman tanaman selasih sebagai tanaman perangkap di sekeliling kebun

2) Mekanis yaitu :

 memusnahkan semua buah yang terserang atau membalik tanah agar larva terkena sinar matahari sehingga mati.

 pengasapan dengan membakar sampah kering dan di bagian atas ditutup dengan sampah basah sehingga menghasilkan asap sehingga mengusir hama.

 membungkus buah dengan kantong plastik atau kertas.

(14)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3) Biologis, Penggunaan musuh alami, Biosteres sp dan

Opius sp.

4) Kimiawi yaitu :

 umpan minyak citronella/protein malation atau disemprot dengan insektisida berbahan aktif triazofos seperti Hostathion 40 EC dengan dosis 2 cc/liter.  memasang perangkap antrakan, dibuat dari botol

bekas air minum mineral diberi lubang masuk lalat. Bahan antrakan yaitu metil eugenol (ME), protein hidrolisa, atau selasih.

b) Codot.

Gejala terdapat bagian buah yang berlubang bekas gigitan. Pengendalian menakut-nakutinya dengan menggunakan kincir angin yang diberi peluit sehingga menimbulkan suara atau menangkapnya menggunakan jala.

3. Hama pada Cabang/Ranting. a) Kumbang bubuk cabang.

Gejala terdapat lubang menyerupai terowongan pada cabang atau ranting, jika terowongan semakin besar makanan tidak dapat tersalurkan ke daun sehingga cabang maupun daun akan mati.

Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Mekanis yaitu, cabang/ranting yang diserang dipangkas dan dibakar

2) Kimiawi yaitu, disemprot dengan insektisida berbahan aktif asefat atau diazinon seperti Orthene 75 SP dengan dosis pemberian 0,5-0,8 gram/liter danDiazinon 60 EC dosis 1-2 cc/liter.

4. Penyakit.

a) Penyakit Antraknosa, bagian yang diserang semua bagian tanaman kecuali akar.

(15)

Gejala bagian yang terinfeksi berwarna coklat karat kemudian cabang tanaman, daun, bunga, buah yang terserang akan gugur.

Pengendalian dilakukan dengan cara :

Mekanis yaitu, pemangkasan cabang/ranting yang mati Kimiawi yaitu, disemprot dengan fungisida berbahan aktif maneb seperti Velimex 80 WP. Fungisida ini diberikan 2 minggu sebelum pemetikan dengan dosis 2-2,5 gram/liter. b) Penyakit Bercak Daun/Bercak Coklat, bagian yang

diserang daun dan buah.

Gejala bercak coklat muda dengan tepi coklat tua di permukaan daun atau buah.

Pengendalian disemprot dengan fungisida yang mengandung benomyl seperti Masalgin 50 WP dengan dosis 1-2 gram/liter atau mengoleskan bubuk bourdeaux. c) Penyakit Busuk Akar dan Kanker Batang.

Gejala jika akarnya yang diserang maka pertumbuhan tanaman terganggu tunas muda jarang tumbuh, dan pohon dapat mati, jika batangnya yang diserang maka tampak perubahan warna kulit pada pangkal batang.

Pengendalian drainase diperbaiki supaya tidak ada air menggenang dan membongkar tanaman yang diserang kemudian diganti dengan tanaman baru.

d) Penyakit Busuk Buah.

Gejala bagian yang pertama diserang adalah ujung tangkai buah dengan tanda adanya bercak coklat yang tidak teratur, kemudian menjalar ke bagian buah, pada kulit buah akan timbul tonjolan-tonjolan kecil. Pengendalian oleskan bubuk bordeaux atau disemprot dengan fungisida berbahan aktif zineb seperti Velimex 80 WP, dengan dosis 2-2,5 gram/liter.

e) Layu Fusarium bagian tanaman yang terserang daun dan batang.

Gejala daun seluruhnya layu kemudian mengering, batang tanaman menghitam kemudian tanaman mati. Penularan

(16)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

melalui tanah, aliran air atau hujan. Pengendalian dengan cara :

1) Kultur teknis, dengan perbaikan drainase agar tanah tidak terlalu basah (lembab) atau menggunakan tricho kompos pada saat penanaman atau pada tanaman yang belum terserang.

2) Mekanis, membongkar (eradikasi) tanaman yang terserang berat dan akarnya dimusnahkan atau menghindari luka mekanis pada bagian akar dan pangkal batang sewaktu pemeliharaan tanaman.

3) Kimia, menggunakan larutan fungisida sistemik dengan cara dikocorkan atau diinfuskan pada akar atau menggunakan fungisida berbahan aktif benomil.

5. Benalu, tanaman tumbuh pada bagian batang/ranting tanaman, pengendalian dengan memotong cabang yang ditumbuhi benalu tersebut.

IV. Daftar Pustaka

a) Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, 2008. Standard Operating Procedure (SOP) Alpukat, Kabupaten Probolinggo.

b) Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, 2010. Standard Operating Procedure (SOP) Alpukat, Kabupaten Semarang.

c) Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2000. Tentang Budidaya Pertanian Alpukat/Avokat (Persea americana Mill/Persea

(17)

APEL (Malus sylvestris Mill)

I. Pendahuluan

Tanaman apel berasal dari daerah Asia Barat dengan iklim sub tropis dan di Indonesia sudah ditanam sejak tahun 1934. Apel di Indonesia dapat tumbuh dan berbuah dengan baik di dataran tinggi, dengan sentra produksi di Malang (Batu dan Poncokusumo) dan Pasuruan (Nongkojajar). Apel juga ditanam di daerah Situbondo, Banyuwangi, Tawangmangu, Buleleng, Tabanan, NTB, NTT dan Sulawesi Selatan. Apel mengandung banyak vitamin C dan B, selain itu apel kerap menjadi pilihan para pelaku diet sebagai makanan substitusi.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

Curah hujan berkisar antara 1.000-2.600 mm/tahun dengan hari hujan 110-150 hari/tahun. Bulan basah 6-7 bulan/tahun dan bulan kering 3-4 bulan/tahun. Suhu yang sesuai berkisar antara 16-27 derajat C, dan kelembaban 75-85%.

b. Ketinggian Tempat.

Apel dapat tumbuh dan berbuah dengan baik pada ketinggian 700-1.200 M dpl dengan ketinggian optimal 1.000-700-1.200 M dpl.

APEL (Malus sylvestris Mill)

I. Pendahuluan

Tanaman apel berasal dari daerah Asia Barat dengan iklim sub tropis dan di Indonesia sudah ditanam sejak tahun 1934. Apel di Indonesia dapat tumbuh dan berbuah dengan baik di dataran tinggi, dengan sentra produksi di Malang (Batu dan Poncokusumo) dan Pasuruan (Nongkojajar). Apel juga ditanam di daerah Situbondo, Banyuwangi, Tawangmangu, Buleleng, Tabanan, NTB, NTT dan Sulawesi Selatan. Apel mengandung banyak vitamin C dan B, selain itu apel kerap menjadi pilihan para pelaku diet sebagai makanan substitusi.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

Curah hujan berkisar antara 1.000-2.600 mm/tahun dengan hari hujan 110-150 hari/tahun. Bulan basah 6-7 bulan/tahun dan bulan kering 3-4 bulan/tahun. Suhu yang sesuai berkisar antara 16-27 derajat C, dan kelembaban 75-85%.

b. Ketinggian Tempat.

Apel dapat tumbuh dan berbuah dengan baik pada ketinggian 700-1.200 M dpl dengan ketinggian optimal 1.000-700-1.200 M dpl.

APEL (Malus sylvestris Mill)

I. Pendahuluan

Tanaman apel berasal dari daerah Asia Barat dengan iklim sub tropis dan di Indonesia sudah ditanam sejak tahun 1934. Apel di Indonesia dapat tumbuh dan berbuah dengan baik di dataran tinggi, dengan sentra produksi di Malang (Batu dan Poncokusumo) dan Pasuruan (Nongkojajar). Apel juga ditanam di daerah Situbondo, Banyuwangi, Tawangmangu, Buleleng, Tabanan, NTB, NTT dan Sulawesi Selatan. Apel mengandung banyak vitamin C dan B, selain itu apel kerap menjadi pilihan para pelaku diet sebagai makanan substitusi.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

Curah hujan berkisar antara 1.000-2.600 mm/tahun dengan hari hujan 110-150 hari/tahun. Bulan basah 6-7 bulan/tahun dan bulan kering 3-4 bulan/tahun. Suhu yang sesuai berkisar antara 16-27 derajat C, dan kelembaban 75-85%.

b. Ketinggian Tempat.

Apel dapat tumbuh dan berbuah dengan baik pada ketinggian 700-1.200 M dpl dengan ketinggian optimal 1.000-700-1.200 M dpl.

(18)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

c. Tanah.

1) Derajat keasaman tanah (pH) yang cocok untuk pertumbuhan apel antara 6-7 dan jenis tanah yaitu Latosol, Andosol dan Regosol. Jika pH tanah < 6, maka dapat dilakukan pengapuran.

2) Tanaman apel tumbuh dengan baik pada tanah dengan solum dalam, struktur tanah gembur dan kandungan bahan organik tinggi.

III. Budidaya a. Pengolahan Lahan.

1) Lahan dibersihkan dari semak belukar, tunggul bekas tanaman, rerumputan, kemudian dibajak, dicangkul dan dilakukan peninggian tanah pada alur penanaman.

2) Pengolahan lahan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau sehingga penanaman dapat dilakukan pada awal atau musim hujan.

b. Penanaman.

1) Pola tanam dapat dilakukan secara monokultur atau tumpang sari, namun jika dilakukan tumpang sari sebaiknya dengan tanaman berhabitat rendah seperti cabai, bawang dll.

2) Jarak tanam 3-3,5 x 3,5 m untuk varietas manalagi dan princes moble, dan 2-3 x 2,5-3 m untuk varietas beauty dan anna, sehingga terdapat populasi tanaman lebih dari 1.000 pohon/Ha.

3) Lubang tanam dibuat dengan ukuran 50-100 x 50-100 x 50-100 cm, dan dibiarkan terbuka selama kurang lebih 2 minggu. Tanah bagian atas (kurang lebih 20 cm) dipisahkan dengan tanah bagian bawah. 4) Tanah galian kemudian dicampur dengan pupuk organik (pupuk

kandang) paling sedikit 20 kg.

5) Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, dengan cara masukkan tanah bagian bawah bibit kedalam lubang tanam. Bibit ditempatkan di tengah lubang dan diatur perakarannya supaya menyebar. Masukkan tanah bagian atas bibit kedalam lubang sampai batas akar dan kemudian ditambah dengan tanah galian lubang yang sudah dicampur dengan pupuk organik.

6) Untuk menghindari tiupan angin, setiap bibit ditahan pada ajir dengan ikatan yang longgar.

(19)

c. Pemeliharaan

1) Penyiangan, dilakukan untuk membuang gulma yang tumbuh di sekitar tanaman yang akan mengganggu pertumbuhan tanaman. 2) Pembumbunan tanah, dilakukan guna meninggikan kembali tanah

di sekitar tanaman sehingga tanaman tidak tergenang air sekaligus penggemburan tanah. Kegiatan pembumbunan biasanya dilakukan setelah panen atau pada saat pemupukan. 3) Penyiraman, tanaman apel memerlukan pengairan yang memadai

sepanjang musim, tetapi tidak tahan terhadap genangan air (air jenuh). Pada musim penghujan harus diperhatikan agar tanaman tidak terendam air, sehingga perlu drainase yang baik. Sedangkan pada musim kemarau tanaman perlu disiram paling sedikit 2 minggu sekali dengan cara dikocor.

4) Pemangkasan tanaman, dilakukan pada :

a) bibit yang baru ditanam setinggi 80 cm, tunas yang tumbuh di bawah 60 cm, tunas ujung beberapa ruas dari pucuk, 4-6 mata dan bekas tangkai buah, knop yang tidak subur, cabang yang berpenyakit dan tidak produktif, cabang yang menyulitkan pelengkungan, serta ranting dan daun yang menutupi buah. b) pemangkasan dilakukan sejak tanaman umur 3 bulan sampai

diperoleh bentuk yang diinginkan (umur 4-5 tahun).

c) pada keadaan tertentu, juga dilakukan pangkas pohon pokok (pangkas habis) pada tanaman apel yang batang pokoknya rusak akibat serangan penyakit.

d) pemangkasan, dilakukan setelah perompesan dengan tujuan mengatur percabangan untuk dibuahkan maupun untuk mengurangi kelembaban, dan membuang sumber inokulum (penyakit) serta meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber energi (unsur hara dan sinar matahari).

e) cara pemangkasan harus tepat (dekat knop/bakal tunas jika untuk pembungaan) dan diatur agar munculnya bunga merata pada seluruh sisi pohon dengan harapan semua buah mendapat pencahayaan yang cukup.

(20)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

5) Pemupukan, dilakukan sbb :

a) ada musim hujan yaitu pada saat dilakukan rompes daun (< 3 minggu) dengan NPK (15-15-15) sebanyak 1-2 kg/pohon atau campuran urea, TSP dan KCl/ZK (4:2:1) sebanyak + 3 kg/pohon;

b) pada saat buah lebat (2,5-3 bulan setelah rompes) dengan NPK (15-15-15) sebanyak 1 kg/pohon atau campuran urea, TSP dan KCl/ZK (1:2:1) sebanyak + 1 kg/pohon.

c) pada musim kemarau, hanya dipupuk setelah 2-3 bulan dilakukan rompes dengan dosis pupuk NPK (15-15-15) 1-2 kg/pohon atau campuran urea, TSP dan KCl/ZK (4:2:1) sebanyak + 3 kg/pohon.

d) pemupukan dilpakukan dengan cara disebar di sekeliling tanaman sedalam + 20 cm sejauh lebar daun lalu ditutup tanah dan diairi.

e) pupuk kandang diberikan pada musim kemarau 1x/tahun sebanyak + 20 kg/pohon. Pada saat pemberian pupuk organik sebaiknya ditambahkan mikroorganisme yang mampu mengendalikan serangan penyakit dan berfungsi sebagai perombak atau pengurai yang membantu ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Mikroorganisme yang telah digunakan adalah Trichoderma sp (telah dieksplorasi dari kebun apel),

Gliocladium sp dan Pseudomonas flourescens.

6) Perompesan, dilakukan sbb :

a) untuk menggantikan musim gugur dan dilakukan secara manual dengan tangan dilakukan 10 hari setelah panen.

b) sebaiknya dilakukan ketika bakal tunas telah siap dan perlu dilakukan pemupukan sebelumnya agar tanaman memiliki cukup cadangan energi untuk pertunasan.

c) perompesan dapat dilakukan dengan penyemprotan bahan kimia seperti campuran urea 10% dengan ethrel 5.000 ppm dilakukan 2 kali yaitu 1 minggu setelah panen dan diulang 1 minggu berikutnya.

(21)

d) sebaiknya dihindari perompesan daun dengan bahan kimia, misal pupuk urea tersebut, karena dapat merusak jaringan kulit batang dan memudahkan pertumbuhan penyakit.

7) Pelengkungan cabang, dilakukan sbb :

a) setelah tindakan perompesan untuk meratakan tunas lateral dengan menarik ujung cabang dengan tali dan diikatkan ke bawah, sehingga dapat memacu terbentuknya buah.

b) untuk menyerempakkan pertumbuhan tunas lateral sehingga pembungaan relatif seragam.

c) kegiatan dilakukan jika jarak tanam memenuhi syarat, tetapi jika jarak tanam rapat, cara ini tidak dilakukan.

8) Penjarangan buah, dilakukan sbb :

a) untuk meningkatkan mutu buah (ukuran, penampakan) dengan membuang buah yang tidak normal (terserang hama & penyakit atau buah yang kecil-kecil) dan sebaiknya hanya ada 3-5 buah/tunas.

b) kegiatan ini dilakukan jika buah terlalu banyak pada umur 2-3 bulan. Jumlah buah yang banyak dalam satu tunas dapat terjadi jika digunakan ZPT atau pemangkasan yang tidak tepat (banyak tunas yang tidak berbunga) sehingga buah menngumpul pada beberapa tunas saja.

9) Pembrongsongan buah, dilakukan sbb :

a) pada waktu 3 bulan sebelum panen dengan kertas minyak berwarna putih sampai keabu-abuan/coklat-coklatan atau bekas buku telepon dengan bagian bawah berlubang.

b) kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan warna kulit buah tetap mulus dan buah terhindar dari serangan burung atau kelelawar.

10) Perlakuan khusus dilakukan sbb :

a) dengan memberikan zat hormonal tertentu disertai beberapa nutrisi mikro yang hanya dilakukan pada saat berbunga pada musim hujan dengan tujuan mempertahankan bunga agar menjadi buah.

b) perlakuan ini diperlukan jika hujan cukup lebat, berlangsung lama pada siang hari dan tanaman belum sehat sepenuhnya.

(22)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

11) Perbaikan mutu warna, dilakukan dengan bahan kimia ethrel, paklobutrazol.

d. Hama dan Penyakit. 1. Hama.

a) Kutu hijau, bagian yang diserang daun, bunga dan buah.

Gejala daun berubah bentuk (mengkerut dan keriting), terlambat berbunga, buah muda gugur/mutunya jelek.

Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Mekanis/kultur teknis yaitu, sanitasi kebun dan jarak tanam jangan terlalu rapat.

2) Biologis yaitu, dengan musuh alami (Coccinellidae lycosa). 3) Kimiawi yaitu, disemprot dengan insektisida berbahan aktif

metidation (Supracide 40 EC) dosis 2 cc/liter air atau 1-1,6 liter; atau Supracide 40 EC dalam 500-800 liter/ha air dengan interval penyemprotan 2 minggu sekali; atau insektisida dengan bahan aktif Imidakloprid (Convidor 200 SL) dosis 0,125-0,250 cc/liter air; atau Convidor 200 SL dalam 600 liter/ha air dengan interval penyemprotan 10 hari sekali; Convidor dapat mematikan sampai telur-telurnya dengan cara penyemprotan dari atas ke bawah, penyemprotan . dilakukan 1-2 minggu sebelum pembungaan dan dilanjutkan 1-1,5 bulan setelah bunga mekar sampai 15 hari sebelum panen.

b) Tungau, bagian yang diserang daun.

Gejala jika menyerang daun dengan hebat, maka daun bercak kuning, buram, coklat dan mengering; jika menyerang buah, maka buah bercak keperak-perakan atau coklat.

Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Biologis yaitu, dengan musuh alami (Coccinellidae lycosa). 2) Kimiawi yaitu, disemprot dengan insektisida akarisidia Omite

570 EC penyemprotan Akarisida Omite 570 EC sebanyak 2 cc/liter air atau 1 liter Akarisida Omite 570 EC dalam 500 liter air per hektar dengan interval 2 minggu.

c) Trips, bagian yang diserang daun.

Gejala pada daun terlihat bintik-bintik putih, kedua sisi daun menggulung ke atas dan pertumbuhan tidak normal, daun pada

(23)

ujung tunas mengering dan gugur, pada daun ada bekas luka berwarna coklat abu-abu.

Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Mekanis membuang telur hama pada daun dan menjaga tajuk tanaman tidak terlalu rapat.

2) Kimiawi dengan disemprot insektisida berbahan aktif methomyl seperti Lannate 25 WP dengan dosis 2 cc/liter air atau insektisida dengan bahan aktif seperti atau Lebaycid 550 EC dengan dosis 2 cc/liter air pada sat tanaman sedang bertunas, berbunga, dan pembentukan buah.

d) Ulat daun.

Gejala terdapat lubang tidak teratur pada daun. Pengendalian dilkukan dengan cara :

1) Mekanis membuang telur hama pada daun.

2) Kimiawi dengan disemprot insektisida berbahan aktif metamidofos seperti Tamaron 200 LC atau insektisida dengan bahan aktif monocrotofos seperti Nuvacron 20 SCW.

e) Serangga pengisap daun.

Gejala daun yang terserang berwarna coklat dan perkembangannya tidak simetris; tunas yang terserang berwarna coklat, kering dan mati; buah yang terserang menjadi bercak-bercak coklat dan mutu buah menurun. Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Mekanis pengerodongan dengan atap plastik atau pemberongsongan buah.

2) Kimiawi dengan disemprot insektisida berbahan aktif metomyl seperti Lannate 25 WP atau insektisidan dengan bahan aktif BPMC seperti Baycarb 500 EC; penyemprotan dilakukan pada pagi atau sore hari.

f) Ulat daun hitam.

Gejala tanaman yang terserang tinggal tulang daun. Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Mekanis dengan membuang telur hama yang biasanya diletakkan pada daun.

(24)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2) Kimiawi dengan disemprot insektisida berbahan aktif monocrotofos seperti: Nuvacron 20 SCW dan Matador 25 EC. g) Lalat buah.

Gejala bentuk buah menjadi jelek terlihat benjol-benjol.

Pengendalian dengan membuat perangkap lalat jantan, menggunakan methyl eugenol (0,1 cc) yang diteteskan pada kapas yang sudah ditetesi insektisida (2 cc), kapas kemudian dimasukkan kedalam botol plastik bekas air mineral dan digantung setinggi 2 m, karena aroma yang mirip bau-bauan yang dikelurkan lalat betina, maka lalat jantan tertarik dan menghisap kapas tersebut atau disemprot dengan insektisida kontak seperti lebacyd 550 EC.

2. Penyakit.

a) Penyakit embun tepung, bagian yang diserang buah.

Gejala: daun bagian atas tampak putih; tunas tumbuh tidak normal, kerdil dan tidak berbuah; buah berwarna coklat dan berkutil coklat. Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Mekanis yaitu, memotong tunas atau bagian yang sakit dan dibakar.

2) Kimiawi yaitu, disemprot dengan fungisida Nimrod 250 EC atau Afugan 300 EC setelah perompesan sampai tunas berumur 4-5 minggu dengan interval 5-7 hari.

b) Penyakit bercak daun, bagian yang diserang daun.

Gejala: daun berumur 4-6 minggu setelah perompesan terlihat bercak putih tidak teratur, berwarna coklat, permukaan atas timbul titik hitam dimulai dari daun tua; daun muda hingga seluruh bagian gugur. Pengendalian dilakukan dengan cara : 1) Kultur teknis/mekanis yaitu, jarak tanam tidak terlalu rapat,

bagian tanaman yang diserang dipotong dan dibakar.

2) Kimiawi yaitu, disemprot dengan fungusida Agrisan 60 WP sejak 10 hari setelah perompesan sebanyak 10 kali dengan interval 1 minggu atau disemprot dengan Delseme MX 200 atau henlate sejak umur 4 hari setelah perompesan selama 4 minggu dengan interval 7 hari.

(25)

c) Jamur upas. Pengendalian dengan mengurangi kelembaban kebun dan menghilangkan bagian tanaman yang sakit

d) Penyakit kanker, bagian yang diserang batang dan buah.

Gejala: batang/cabang busuk, berwarna coklat kehitaman, terkadang mengeluarkan cairan; pada buah timbul bercak kecil warna coklat muda, busuk, menggelembung, berair dan berwarna pucat.

Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Kultur teknis/mekanis yaitu, tidak memanen buah terlalu masak, mengurangi kelembaban kebun, membuang bagian tanaman yang sakit.

2) Kimiawi yaitu pengerokan batang yang sakit kemudian diolesi fungisida Difolatan 4 F atau Copper Sandoz, atau disemprot dengan Benomyl atau Antracol 70 WP.

e) Busuk buah, bagian yang diserang buah.

Gejala: bercak kecil berwarna coklat dan bintik-bintik hitam lalu berubah menjadi orange pada buah.

Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Kultur teknis yaitu, tidak memetik buah terlalu masak.

2) Kimiawi yaitu, pencelupan buah dengan Benomyl untuk mencegah penyakit waktu penyimpanan.

f) Busuk akar.

Gejala: layu daun lalu gugur dan kulit akar membusuk.

Pengendalian membongkar/mencabut tanaman yang terserang beserta akar-akarnya dan bekas lubang tidak ditanami minimum selama 1 tahun.

IV. Daftar Pustaka

a) Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 2000. Tentang Budidaya Pertanian Apel (Malus sylvestris Mill).

(26)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

BUAH NAGA (Hylocereus undatus)

I. Pendahuluan

Buah naga merupakan tanaman asli dari Meksiko, dan dibawa ke Vietnam sebagai tanaman hias, namun setelah diketahui rasa buahnya enak, kemudian ditanam secara besar-besaran. Saat ini Vietnam telah menjadi negara pengekspor utama buah naga di dunia. Di Indonesia buah naga mulai dibudidayakan pada tahun 1977.

Bentuk fisik buah naga seperti buah nenas namun mempunyai sulur di seluruh kulitnya dan berwarna merah. Warna daging buah bermacam-macam antara lain putih, kuning dan merah dengan biji kecil berwarna hitam yang sangat lembut dan lunak. Buah naga kaya vitamin dan mineral dengan kandungan serat cukup banyak sehingga cocok untuk diet. Bentuk tanaman mirip dengan pohon kaktus berupa sulur-sulur yang memanjang seperti lidah naga yang menjulur. Khasiat buah naga untuk obat penguat fungsi ginjal, tulang dan kecerdasan otak, meningkatkan ketajaman mata, pencegah kanker usus, menguraikan kolesterol, keputihan dan sebagai perawatan kecantikan.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

BUAH NAGA (Hylocereus undatus)

I. Pendahuluan

Buah naga merupakan tanaman asli dari Meksiko, dan dibawa ke Vietnam sebagai tanaman hias, namun setelah diketahui rasa buahnya enak, kemudian ditanam secara besar-besaran. Saat ini Vietnam telah menjadi negara pengekspor utama buah naga di dunia. Di Indonesia buah naga mulai dibudidayakan pada tahun 1977.

Bentuk fisik buah naga seperti buah nenas namun mempunyai sulur di seluruh kulitnya dan berwarna merah. Warna daging buah bermacam-macam antara lain putih, kuning dan merah dengan biji kecil berwarna hitam yang sangat lembut dan lunak. Buah naga kaya vitamin dan mineral dengan kandungan serat cukup banyak sehingga cocok untuk diet. Bentuk tanaman mirip dengan pohon kaktus berupa sulur-sulur yang memanjang seperti lidah naga yang menjulur. Khasiat buah naga untuk obat penguat fungsi ginjal, tulang dan kecerdasan otak, meningkatkan ketajaman mata, pencegah kanker usus, menguraikan kolesterol, keputihan dan sebagai perawatan kecantikan.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

BUAH NAGA (Hylocereus undatus)

I. Pendahuluan

Buah naga merupakan tanaman asli dari Meksiko, dan dibawa ke Vietnam sebagai tanaman hias, namun setelah diketahui rasa buahnya enak, kemudian ditanam secara besar-besaran. Saat ini Vietnam telah menjadi negara pengekspor utama buah naga di dunia. Di Indonesia buah naga mulai dibudidayakan pada tahun 1977.

Bentuk fisik buah naga seperti buah nenas namun mempunyai sulur di seluruh kulitnya dan berwarna merah. Warna daging buah bermacam-macam antara lain putih, kuning dan merah dengan biji kecil berwarna hitam yang sangat lembut dan lunak. Buah naga kaya vitamin dan mineral dengan kandungan serat cukup banyak sehingga cocok untuk diet. Bentuk tanaman mirip dengan pohon kaktus berupa sulur-sulur yang memanjang seperti lidah naga yang menjulur. Khasiat buah naga untuk obat penguat fungsi ginjal, tulang dan kecerdasan otak, meningkatkan ketajaman mata, pencegah kanker usus, menguraikan kolesterol, keputihan dan sebagai perawatan kecantikan.

(27)

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

1) Tanaman buah naga membutuhkan penyinaran penuh untuk mempercepat proses pembungaan, sehingga tanaman ini cocok ditanam di daerah tropis.

2) Curah hujan ideal sekitar 720 mm/th.

3) Suhu udara 26 - 36 derajat C dengan kelembaban 70 - 90%. b. Ketinggian Tempat.

Buah naga dapat tumbuh pada dataran rendah dengan ketinggian 0 -500 m dpl.

c. Tanah.

Tanaman buah naga tumbuh dengan baik pada tanah gembur dan banyak mengandung bahan organik dengan pH tanah antara 5 - 7.

III. Budidaya a. Pengolahan Lahan.

1) Lahan dibersihkan dari semak belukar, tunggul bekas tanaman, rerumputan, kemudian dicangkul.

2) Tanaman buah naga tidak mempunyai batang primer yang kokoh, sehingga perlu dipersiapkan tiang penopang untuk tegakan tanaman.

3) Tiang penopang dapat dibuat dari kayu atau beton dengan ukuran 10-12 x 10-12 cm dengan tinggi 2 m dan ditancapkan ke tanah sedalam 50 - 60 cm. Ujung atas tiang tersebut diberi besi berbentuk lingkaran dengan diameter > 12 mm untuk menopang cabang tanaman.

b. Penanaman.

1) Jarak tiang penopang tanaman 2 x 2,5 m sehingga dalam 1 Ha terdapat 2.000 tiang penyangga tanaman.

2) Setiap tiang penopang ditanami 4 bibit tanaman dengan jarak sekitar 10 - 30 cm dari tiang penopang sehingga dalam 1 Ha dapat ditanam 8.000 bibit.

3) Lubang tanam dibuat dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm atau disesuaikan dengan jenis tanah dan kondisi lahan, dan dibiarkan terbuka selama kurang lebih 1 bulan sebelum tanam.

(28)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

4) Tiap lubang tanam diberi pupuk organik (pupuk kandang) sebanyak 20 - 30 kg, dolomit 300 gr dan trichoderma 5 gr dicampur dengan tanah galian lubang.

5) Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, dengan memasukkan bibit sedalam 5 - 7 cm kemudian bibit diikat tidak terlalu erat dengan tiang penopang.

c. Pemeliharaan.

1) Penyiangan, dilakukan untuk membuang gulma yang tumbuh di sekitar tanaman yang akan mengganggu pertumbuhan tanaman. 2) Penyulaman, dilakukan 4 - 6 minggu setelah penanaman dengan

mencabut bibit yang mati/busuk, lubang tanam ditaburi kapur pertanian/dolomit. sebelum lubang ditanami kembali

3) Penyiraman, pada tahap awal pertumbuhan penyiraman dilakukan 1-2 hari sekali, karena tanaman ini peka terhadap kekeringan dan akan membusuk apabila kelebihan air.

4) Perawatan sulur tanaman perlu diperhatikan agar terhindar dari luka, serta perlu dilakukan pengecekan pH tanah.

5) Pemangkasan tanaman, dilakukan terhadap batang utama setelah setinggi tiang penyangga (2 M) selanjutnya dibiarkan tumbuh 2 cabang sekunder. Masing-masing cabang sekunder dipangkas lagi dan dibiarkan tumbuh 2 cabang tersier yang berfungsi sebagai cabang produksi.

6) Pemupukan, pemupukan dilakukan setiap 3 bulan menggunakan pupuk kandang bila perlu ditambah dolomit (75 gr) dengan dosis 5-12,5 kg/pohon, kemudian dilakukan penyiraman.

d. Hama dan Penyakit. 1. Hama.

a) Tungau, bagian yang diserang cabang tanaman.

Gejala: jaringan klorofil pada permukaan kulit cabang berubah warna menjadi coklat.

Pengendalian dengan cara :

1) Mekanis yaitu, sanitasi dengan menghilangkan gulma yang menjadi inang tungau (terutama golongan dicotil)

(29)

2) Kimiawi yaitu, aplikasi akarisida pada awal peningkatan populasi

b) Kutu putih (mealybug), bagian yang diserang cabang tanaman. Gejala: permukaan kulit cabang berselaput kehitaman atau tampak kotor. Pengendalian dengan cara penyemprotan insektisida sistemik dengan konsentrasi 1-2 cc/liter air. Penyemprotan dilakukan 7 hari sekali dengan memperhatikan jumlah tanaman yang terserang, umumnya hanya 2 kali pengulangan. Penyemprotan terutama dilakukan pada sela-sela tanaman yang ternaungi cabang lain.

c) Kutu batok, bagian yang ditanam yang diserang cabang tanaman.

Gejala: cabang tanaman berubah warna dari hijau menjadi kuning karena cairan tanaman diisap.

Pengendalian, penyemprotan insektisida sistemik tujuh hari sekali, umumnya dilakukan 2 kali pada seluruh permukaan cabang secara merata.

d) Kutu sisik, bagian tanaman yang diserang cabang tanaman. Gejala: permukaan cabang menjadi kusam.

Pengendalian dengan disemprot menggunakan insektisida sistemik 1-2 cc/liter air, tujuh hari sekali. Penyemprotan dilakukan 2 kali secara merata pada bagian dalam dan di sela-sela sulur tanaman.

e) Bekicot, bagian tanaman yang diserang tunas tanaman.

Gejala: tunas tanaman menjadi rusak karena digerogoti, bahkan tunas bisa membusuk.

Pengendalian dengan sanitasi kebun dengan membersihkan gulma yang merupakan sarang bekicot, dan mengumpulkan bekicot untuk makanan bebek/ikan lele.

f) Semut, bagian yang diserang bunga dan buah.

Gejala: akan muncul pada saat sudah muncul kuntum bunga sehingga kulit buah berbintik-bintik warna coklat. Jika serangan parah, pentil buah akan kerdil dan mudah rontok.

(30)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan insektisida 2 cc/liter air (Furadan 3 G direndam 1-2 jam) diambil airnya kemudian disemprotkan.

g) Burung, bagian yang diserang buah.

Gejala: menyerang buah yang telah berwarna merah yang berada di bagian atas, serangan tidak menimbulkan kerusakan parah. Pengendalian dengan memasang perangkap.

h) Tikus, bagian yang diserang buah.

Gejala: menyerang pada malam hari sehingga buah dan batang tanaman rusak.

Pengendalian dengan gropyokan atau memasang umpan beracun.

i) Tupai, menyerang buah yang sudah masak. Pengendalian dengan bio pestisida.

2. Penyakit.

a) Busuk pangkal batang, bagian yang diserang batang tanaman. Gejala: pada awal penanaman, tanaman mengalami pembusukan pada pangkal batang berwarna kecoklatan dan terdapat bulu putih. Sering terjadi pada bibit stek yang tidak bertangkai atau bentuk potongan maupun stek yang belum berakar.

Pengendalian, dilakukan dengan cara:

1) Kultur teknis, pH tanah diupayakan > 6,5, dengan pemberian kapur pertanian/dolomit

2) Mekanis yaitu dengan :

 mengurangi kelembaban kebun dengan mengatur drainase, jarak tanam, pemengkasan dan sanitasi lingkungan kebun.

 menghindari terjadinya luka pada akar maupun pangkal batang.

 membongkar tanaman yang terserang penyakit beserta akarnya kemudian membakarnya.

(31)

3) Biologis yaitu, menggunakan agen antagonis cendawan

Trichordema spp, Gliocladium, spp yang dicampur dengan

pupuk organik/kompos.

4) Kimiawi yaitu, aplikasi fungisida efektif dan terdaftar bila ditemukan gejala serangan.

b) Busuk bakteri, bagian yang diserang batang tanaman.

Gejala: tanaman tampak layu, kusam dan berlendir puti kekuningan di batang yang berwarna coklat/batang pokok.

Pengendalian dilakukan dengan cara : 1) Kultur teknis/mekanis yaitu :

 pengaturan drainase, terutama di musim penghujan.

 sanitasi gulma di areal pertanaman untuk mengurangi kelembaban.

2) Kimiawi yaitu :

 sterilisasi lahan dengan Basamid G, sesuai petunjuk penggunaan.

 aplikasi bakterisida (terdaftar dan dianjurkan) saat diketemukan gejala serangan.

c) Fusarium.

Gejala: cabang tanaman berkerut, layu dan berwarna busuk coklat. Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Kultur teknis yaitu, tidak menanam bibit yang terinfeksi. 2) Mekanis yaitu :

 pengaturan drainase, terutama di musim penghujan

 sanitasi gulma di areal pertanaman untuk mengurangi kelembaban.

IV. Daftar Pustaka

a) Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, 2010. Pedoman Baku Budidaya Standard Operating Procedure (SOP) Buah Naga, Red/Super Red, Kabupaten Sragen.

b) http://tcplanet.blogspot.com. Budidaya Buah Naga. c) Indotani Indonesia Bertani, 2011. Budidaya Buah Naga.

d) Mahani Amat @ Halimi. Manual Ringkas Cara Penanaman dan Penjagaan Buah Naga.

(32)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

DURIAN (Durio zibethinus)

I. Pendahuluan

Tanaman durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Tanaman durian semula berupa tanaman liar yang berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan. Buah durian sangat digemari hampir semua orang dan sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad VII Masehi. Buah durian rasanya manis, harum dengan warna dagingnya putih sampai kekuningan dan banyak mengandung kalori, vitamin, lemak dan protein. Di Thailand budidaya tanaman durian sudah dilakukan secara intensif dalam kawasan berbentuk kebun yang cukup luas, sedang di Indonesia pada umumnya masih berupa tanaman yang di tanam di pekarangan. Manfaat tanaman durian selain diambil buahnya, pohonnya dapat dipakai sebagai pencegah erosi di lahan yang miring, batangnya dapat digunakan sebagai bahan bangunan, bijinya mempunyai kandungan pati cukup tinggi, sehingga dapat dipakai sebagai alternatif pengganti makanan, kulitnya dapat dipakai sebagai bahan abu gosok yang bagus.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

Durian tumbuh dengan baik di daerah tropika basah dengan curah hujan > 2.000 mm/tahun dan tersebar merata sepanjang tahun dengan lama bulan basah 9-10 bulan/tahun dan 1-2 bulan kering sebelum berbunga. Intensitas cahaya 40-50%, dengan suhu 22-30 derajat C. b. Ketinggian Tempat.

Ketinggian tempat yang baik antara 100-500 M dpl, jika ditanam pada daerah yang lebih tinggi akan menurunkan mutunya.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

DURIAN (Durio zibethinus)

I. Pendahuluan

Tanaman durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Tanaman durian semula berupa tanaman liar yang berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan. Buah durian sangat digemari hampir semua orang dan sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad VII Masehi. Buah durian rasanya manis, harum dengan warna dagingnya putih sampai kekuningan dan banyak mengandung kalori, vitamin, lemak dan protein. Di Thailand budidaya tanaman durian sudah dilakukan secara intensif dalam kawasan berbentuk kebun yang cukup luas, sedang di Indonesia pada umumnya masih berupa tanaman yang di tanam di pekarangan. Manfaat tanaman durian selain diambil buahnya, pohonnya dapat dipakai sebagai pencegah erosi di lahan yang miring, batangnya dapat digunakan sebagai bahan bangunan, bijinya mempunyai kandungan pati cukup tinggi, sehingga dapat dipakai sebagai alternatif pengganti makanan, kulitnya dapat dipakai sebagai bahan abu gosok yang bagus.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

Durian tumbuh dengan baik di daerah tropika basah dengan curah hujan > 2.000 mm/tahun dan tersebar merata sepanjang tahun dengan lama bulan basah 9-10 bulan/tahun dan 1-2 bulan kering sebelum berbunga. Intensitas cahaya 40-50%, dengan suhu 22-30 derajat C. b. Ketinggian Tempat.

Ketinggian tempat yang baik antara 100-500 M dpl, jika ditanam pada daerah yang lebih tinggi akan menurunkan mutunya.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

DURIAN (Durio zibethinus)

I. Pendahuluan

Tanaman durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Tanaman durian semula berupa tanaman liar yang berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan. Buah durian sangat digemari hampir semua orang dan sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad VII Masehi. Buah durian rasanya manis, harum dengan warna dagingnya putih sampai kekuningan dan banyak mengandung kalori, vitamin, lemak dan protein. Di Thailand budidaya tanaman durian sudah dilakukan secara intensif dalam kawasan berbentuk kebun yang cukup luas, sedang di Indonesia pada umumnya masih berupa tanaman yang di tanam di pekarangan. Manfaat tanaman durian selain diambil buahnya, pohonnya dapat dipakai sebagai pencegah erosi di lahan yang miring, batangnya dapat digunakan sebagai bahan bangunan, bijinya mempunyai kandungan pati cukup tinggi, sehingga dapat dipakai sebagai alternatif pengganti makanan, kulitnya dapat dipakai sebagai bahan abu gosok yang bagus.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

Durian tumbuh dengan baik di daerah tropika basah dengan curah hujan > 2.000 mm/tahun dan tersebar merata sepanjang tahun dengan lama bulan basah 9-10 bulan/tahun dan 1-2 bulan kering sebelum berbunga. Intensitas cahaya 40-50%, dengan suhu 22-30 derajat C. b. Ketinggian Tempat.

Ketinggian tempat yang baik antara 100-500 M dpl, jika ditanam pada daerah yang lebih tinggi akan menurunkan mutunya.

(33)

c. Tanah.

1) Tanaman durian akan tumbuh dengan baik pada tanah dengan pH 5-7 dan optimum pada pH 6-6,5.

2) Kondisi drainase lahan harus baik, dengan kedalaman air tanah antara 50-150 cm dan 150-200 cm, karena akar durian sangat peka (busuk) bila terendam air.

3) Tanah grumosol dan andosol cocok untuk tanaman durian. 4) Tanah subur dan kaya kandungan bahan organik.

III. Budidaya a. Pengolahan lahan.

1) Lahan dibersihkan dari rerumputan, sisa tebangan, tanaman liar, kemudian dibajak/dicangkul

2) Di sekitar kebun perlu dibuat saluran drainase guna menghindari adanya genangan.

3) Kegiatan pengolahan lahan dilakukan sebelum musim hujan.

b. Penanaman.

1) Jarak tanam 10 x 10 M untuk jenis durian genjah, dan 12 x 12 M untuk jenis durian sedang dan dalam.

2) Lubang tanam dengan ukuran 80 x 80 x 70 cm atau 70 x 70 x 60 cm atau disesuaikan dengan jenis tanah dan kondisi lahan, tanah galian bagian atas (20 cm) dipisahkan dengan tanah galian bagian bawah dan dibiarkan selama 2-3 minggu.

3) Lubang tanam ditutup kembali, dengan tanah galian atas lebih dahulu dimasukkan setelah dicampur dengan pupuk organik/pupuk kompos sebanyak + 30 kg/lubang.

4) Penanaman dilakukan awal musim hujan pada sore hari agar bibit yang sudah ditanam tidak langsung terkena matahari.

5) Bibit ditanam sekitar 5 cm di atas pangkal batang dan diikat pada batang kayu/bambu agar tanaman dapat tumbuh tegak lurus.

6) Bibit yang sudah ditanam sebaiknya diberi naungan untuk menghindari sengatan matahari, curah hujan yang lebat. Naungan dapat dibongkar setelah tanaman berumur 3-5 bulan.

(34)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

7) Tanah di sekitar tanaman sebaiknya ditutup rumput/jerami kering sebagai mulsa, agar kelembaban tanah dapat stabil.

c. Pemeliharaan.

1) Penyiangan, dilakukan untuk membuang gulma yang tumbuh di sekitar tanaman (1 m dari batang pohon) yang akan mengganggu pertumbuhan tanaman.

2) Penyiraman, hal-hal yang perlu diperhatikan :

a) Tahap awal pertumbuhan penyiraman dilakukan setiap hari pagi dan sore hari, tetapi tanah tidak boleh tergenang terlalu lama (terlalu basah).

b) Kebutuhan air pada masa vegetatif 4-5 L/hari dan pada masa produktif 10-12 L/hari.

c) Setelah tanaman berumur satu bulan penyiraman dilakukan 3x/minggu. Jika tanaman sudah berbuah, penyiraman harus diperhatikan karena kalau kekurangan air dapat mengakibatkan kerontokan buah.

d) Tanaman durian akan membutuhkan banyak air setelah panen karena diperlukan untuk memulihkan kondisi tanaman menjadi normal kembali.

3) Pemupukan pada tanaman yang belum berbuah, dilakukan dengan dosis sbb:

a) Pemupukan NPK (15:15:15) dilakukan 2 kali/tahun, dengan dosis sbb:

1. Tanaman umur 1 tahun, dosis pupuk NPK 40 - 80 gr/ pohon/tahun.

2. Tanaman umur 2 tahun, dosis pupuk NPK 150 - 300 gr/ pohon/tahun.

3. Tanaman umur 3 - 4 tahun, dosis pupuk NPK 400 - 600 gr/ pohon/tahun.

b) Pupuk organic/kompos/pupuk kandang diberikan setahun sekali pada akhir musim hujan dengan dosis minimal 15-20kg/pohon. 4) Pemupukan pada tanaman yang sudah menghasilkan/berbuah,

(35)

1. Sesudah pemangkasan, pupuk organik 40-60 kg, urea 670 gr, SP-36 890 gr, KCl 530 gr

2. Saat pucuk mulai menua, urea 335 gr, SP-36 445 gr, KCl 265gr 3. Dua bln setelah pemupukan kedua, urea 180 gr, SP-36 650 gr,

KCl 150 gr

4. Saat muncul bunga, urea 45 gr, SP-36 225 gr, KCl 100 gr 5. Satu bulan sbelum panen, urea 180 gr, SP-36 650 gr, KCl

150gr.

5) Cara memupuk, dibuat selokan melingkari tanaman dengan garis tengah selokan disesuaikan dengan lebarnya tajuk pohon. Kedalaman selokan dibuat 20-30 cm dan tanah cangkulan disisihkan di pinggirnya. Sesudah pupuk disebarkan secara merata ke dalam selokan, tanah tadi dikembalikan untuk menutup selokan dan diratakan. Apabila tanah dalam keadaan kering segera lakukan penyiraman.

6) Pemangkasan akar.

a) Pemangkasan akar akan menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman sampai 40% selama 1 musim. Selama itu pula tanaman tidak dipangkas. Pemangkasan akar selain membuat tanaman menjadi cepat berbuah juga meningkatkan kualitas buah, buah lebih keras dan lebih tahan lama.

b) Waktu pemotongan akar paling baik pada saat tanaman mulai berbunga, paling lambat 2 minggu setelah berbunga. Jika dilakukan melewati batas, hasil

c) tanaman durian diiris sedalam 60-90 cm dan sejauh 1,5-2 meter dari panen berkurang dan pertumbuhan terhambat.

d) Cara pemotongan: kedua sisi barisan pangkal batang. 7) Pemangkasan bentuk, dilakukan dengan :

a) Tanaman sudah berumur 1 tahun.

b) Pelihara satu batang utama, potong calon cabang primer yang tidak diinginkan (cabang dengan pertumbuhan terlalu panjang, tidak normal atau terserang hama & penyakit), cabang-cabang primer terpilih diatur jaraknya sekitar 40-60 cm.

(36)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

c) Pertumbuhan cabang diarahkan supaya mendatar atau membentuk sudut sekitar 90 derajat dengan batang utama, dengan mengikat pucuk cabang dengan tali yang diberi pemberat.

d) Tunas-tunas liar yang tumbuh di cabang terpilih harus dipangkas dan sisakan 1-2 cm dari pangkal cabang.

e) Tinggi tanaman dipertahankan sekitar 4 m dari permukaan tanah dan cabang terendah berjarak 0,7-1 m dari permukaan tanah.

f) Oleskan pada bagian yang dipangkas dengan ter/meni/ pestisida

8) Pemangkasan pemeliharaan, dilakukan dengan : a) Tanaman sudah mulai berproduksi pertama

b) Memangkas cabang bersudut kecil, cabang dan ranting yang terserang hama & penyakit. Pemangkasan ranting pada cabang besar/produktif dibersihkan dengan menyisakan 1/3 bagian ujung

c) Memangkas cabang/tunas liar yang tumbuh tidak pada tempatnya

d) Memangkas dahan dan ranting yang rapat, bersilangan atau tersembunyi/terlindung

e) Memangkas dahan dan rantingyang lemah serta tajuk bagian atas yakni turun 1 ruas pada ujung ranting (terminal)

f) Memangkas dahan dan ranting yang pertumbuhannya ke arah dalam tajuk atau ke arah bawah

g) Pertahankan ketinggian optimal 3-4 m atau 5-6 m

h) Oleskan pada bagian yang dipangkas dengan ter/meni/pestisida

9) Penyerbukaan buatan, dilakukan dengan :

a) Mengumpulkan serbuk sari dalam kantong plastik bersih dengan menggoyang-goyangkan bunga atau disapu dengan kuas halus

b) Melakukan penyerbukan buatan pada malam hari jam 19.00-21.00, dengan mengoleskan serbuk sari ke kepala putik memakai kuas halus

(37)

10) Penjarangan buah. Penjarangan buah bertujuan untuk mencegah kematian durian agar tidak menghabiskan energinya untuk proses pembuahan. Penjarangan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup, rasa buah, ukuran buah dan frekuensi pembuahan setiap tahunnya. Penjarangan dilakukan bersamaan dengan proses pengguguran bunga, begitu gugur bunga selesai, besoknya harus dilakukan penjarangan (tidak boleh ditunda-tunda).

Penjarangan dilakukan secara :

a) Penjarangan secara mekanis, dilakukan :

1. Pada saat buah sebesar bola tenis dengan menyisakan tiap dompol 1-2 buah dengan bentuk normal, sehat dan bebas dari hama & penyakit,

2. Buah tidak saling bersinggungan dengan membuat jarak antara dompol dalam satu cabang 20-30 cm.

b) Penjarangan kimiawi, yaitu dengan menyemprotkan hormon tertentu (Auxin A), pada saat bunga atau bakal buah baru berumur sebulan. Pada saat itu sebagian bunga sudah terbuka dan sudah dibuahi. Ketika hormon disemprotkan, bunga yang telah dibuahi akan tetap meneruskan pembuahannya sedangkan bunga yang belum sempat dibuahi akan mati dengan sendirinya.

d. Hama dan Penyakit. 1. Hama

a) Penggerek buah (Jawa : Gala-gala), bagian yang diserang buah. Gejala, buah yang diserang kadang-kadang jatuh sebelum tua. Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Kultur teknis yaitu,

 membungkus/membrongsong buah terpilih sejak dini  pengasapan di bawah pohon pada sore hari untuk

mengusir imago

2) Mekanis yaitu, mengumpulkan buah yang terserang hama dan gugur untuk dimusnahkan/dikubur

(38)

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

3) Biologis yaitu, menggunakan semut rang-rang untuk mengusir imago atau menggunakan musuh alami lain yaitu lalat Tachinidea (Argyroplax basifulfa), Ventura, sp.

4) Kimiawi yaitu, penyemprotan insektisida, seperti Basudin, Sumithion 50 AC, Thiodan 35 EC, dengan dosis 2-3 cc/liter air.

b) Lebah mini, gejala, bagian yang diserang ranting dan daun. Gejala: penggerekan ranting-ranting muda dan memakan daun-daun muda.

Pengendalian yaitu, menggunakan parvasida, seperti Hostathion 40 EC (Triazofos 420 gram/liter), dan insektisida, seperti Supracide 40 EC dosis 420 gram/liter dan Temik 106 (Aldikarl 10%).

c) Ulat penggerek bunga.

Gejala : kuncup bunga terserang akan rusak dan putiknya banyak yang berguguran, benang sari dan tajuk bunga rusak semua, sedangkan kuncup dan putik patah karena luka digerek ulat.

Pengendalian yaitu, menyemprotkan obat-obatan seperti Supracide 40 EC, Nuvacrom SWC, Perfekthion 400 EC (Eimetoat 400 gram/liter).

d) Kutu loncat durian, bagian yang diserang daun.

Gejala : kutu loncat bergerombol menyerang pucuk daun yang masih muda dengan cara menghisap cairan pada tulang-tulang daun sehingga daun-daun akan kerdil dan pertumbuhannya terhambat; setelah menghisap cairan, kutu ini mengeluarkan cairan getah bening yang pekat rasanya manis dan merata ke seluruh permukaan daun sehingga mengundang semut-semut bergerombol.

Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Kultur teknis yaitu, dilakukan sanitasi kebun terutama daun kering

2) Mekanis yaitu, daun dan ranting-ranting yang terserang dipangkas dan dimusnahkan

Referensi

Dokumen terkait

Serangan kutu putih atau mealybug pada tanaman ditandai dengan munculnya material tebal berwarna putih dan atau hitam pada permukaan daun atau apeks, yang

1) Hama menyerang tanaman sejak tanaman muncul di atas permukaan tanah hingga panen. 2) Gejala kerusakan tanaman akani terlihat pada pucuk.. tanaman, daun, bunga

moniliforme(A) daun klorotis, (B) daun bergaris merah, (C) gejala busuk pada jaringan meristem ditemukan di lahan pada tanaman yang menunjukkan gejala serangan pokahbung.. Gejala

Jamur ini menyerang tanaman padi dari biji yang baru kecambah, pelepah daun, malai, dan buah yang baru tumbuh.. Serangan jamur ini mempunyai gejala seperti biji padi busuk

Gejala serangan lalat penggorok daun pada tanaman mudah dikenali dengan adanya liang korokan beralur warna putih bening pada bagian mesofil daun.. Apabila liang korokan

Gejala serangan : pada tanaman kentang, kutu daun persik lebih berperan sebai vektor virus penggulung daun kentang (Potato Leaf Roll Virus / PLRV) dan PVY

1. rukam ) mempunyai keunikan, yaitu pohonnya berduri, dengan tinggi tanaman 7 m, diameter batang 17 cm. Saat muda daun berwarna merah kecokelatan, warna daun akan

Isolat dengan kode 5.2 yang diinokulasi ditanaman kayu afrika dapat menimbulkan gejala nekrosis, akan tetapi tidak sampai menutupi seluruh permukaan daun,