• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab I Pendahuluan. Latarbelakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab I Pendahuluan. Latarbelakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Bab I

Pendahuluan

Latarbelakang

Dalam konteks pembangunan ekonomi Timor Leste, karena peluang pariwisata sebagai penghasil devisa yang besar bagi negara, maka UNDP1 dan UNWTO2 telah bekerja sama dengan Direktur

Nasional Pariwisata Timor Leste pada tahun 2005 untuk tujuan pengembangan sektor pariwisata berkelanjutan dan penguatan lembaga pariwisata di Timor Leste. Pada akhir tahun 2005, UNWTO telah mengirimkan tim spesialis pertama di bidang pariwisata ke Timor Leste untuk melakukan analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman atau SWOT analisis sektor pariwisata Timor Leste. Tim spesialis ke dua dari UNWTO datang ke Timor Leste pada akhir tahun 2006 untuk melakukan perencanaan strategis pengembangan sektor pariwisata (UNDP, UNWTO, NDT3 : 2007).

Program pemerintah (Programa do VI Governo Constitusional, 2015-2017) mengatakan bahwa; mengingat sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang masih dalam tahap awal perkem-bangan, pemerintah akan mengembangkan pasar wisata ekologi, wisata

1 UNDP adalah United Nation Development Programme atau sebagai badan program

pembangunan PBB. Fungsi dari UNDP adalah : mewujudkan demokrasi, penangulangan kemiskinan, membantu suatu negara agar bangkit dari keterpurukan, keseimbangan lingkungan dan penanggulangan HIV/AIDS

2 UNWTO adalah United Nation World Tourism Organzation. Merupakan salah satu

badan organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertanggung jawab untuk promosi pariwisata

3 NDT adalah National Department of Tourism atau merupakan departemen nasional

pariwisata. Dalam pemerintahan konstitusi pertama sampai dengan pemerintahan konstitusi ke empat Timor Leste, pariwisata berada di bawah kementerian perindustrian dan hanya merupakan sebuah departemen. Pada pemerintahan konstitusi ke lima dan keenam, pariwisata telah berubah menjadi satu kementerian tersendiri.

(2)

pantai, wisata sejarah dan wisata petualangan. Pemerintah akan terus memfasilitasi pertumbuhan industri pariwisata melalui rehabilitasi infrastruktur, termasuk bandara Internasional Dili, telekomunikasi dan jalan raya di beberapa rute utama. Pemerintah juga akan membangun pusat pelatihan di bidang pariwisata serta pusat informasi wisata di Dili, Baucau, Lospalos dan Balibo. Selama dua setengah tahun ke depan, pemerintah akan mempromosikan pariwisata di tingkat inter-nasional, termasuk menyediakan kalender tahunan yang akan menyo-roti acara-acara khusus dan atraksi pariwisata. Promosi ini mencakup penyediaan paket perjalanan kecil yang akan di promosikan di pusat-pusat pariwisata di Australia, Indonesia dan wilayah Asia Pasifik.

Pemerintah Timor Leste juga telah menyediakan master plan pariwisata yang terbagi dalam tiga kawasan wisata khusus, yakni:

pertama; Kawasan wisata wilayah Timur. Kawasan wisata ini terdiri

dari Tutuala, pantai Kom, wilayah Baucau serta sepanjang jalan pesisir Hera. Kawasan ini merupakan bagian integral dari penawaran pari-wisata yang termasuk pantai tropis, pemandangan pegunungan, kegi-atan petualangan serta arsitek dan budaya lokal. Pemerintah juga akan memastikan bahwa daerah Tutuala dan pulau Jaco tetap menawarkan kemurnian dan keindahan ekologi kepada wisatawan untuk saat ini maupun di masa yang akan datang. Pemerintah juga akan terus mem-promosikan taman nasional Nino Konis Santana sebagai salah satu tujuan wisata. Kedua; Kawasan wisata sentral. Kawasan wisata ini ter-diri dari ibu kota negara Timor Leste Dili, pulau Atauro dan keindahan alam wilayah Aileu. Pemerintah akan melaksanakan program pengem-bangan di ibu kota, membuka pusat informasi pariwisata. Ketiga;

kawasan wisata wilayah barat. Kawasan wisata ini meliputi wilayah Balibo, Maliana, Bobonaro serta tanaman kopi di wilayah Ermera.

Dibandingkan sektor minyak yang selama ini menjadi andalan Timor Leste, sebagai salah satu sektor terbesar di dunia (UNWTO4,

4 UNWTO merupakan istilah dari United Nation World Touris Organization yang baru

digunakan pada tahun 2003, untuk membedakan dari istilah World Trade Organization. Tujuan pokok UNWTO adalah untuk meningkatkan dan membangun pariwisata sebagai kontributor bagi pembangunan ekonomi, saling pengertian

(3)

2013) pengembangan pariwisata lebih menjanjikan keuntungan. Produksi minyak dan gas di blok Bayu Undan, Timor Leste diperkirakan akan habis pada tahun 2023 (Akara : 2011). Sementara itu, selain menghasilkan devisa bagi negara Timor Leste sebagai modal pembangunan, pariwisata juga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk pedesaan di Timor leste. Masalah peluang kerja bagi penduduk pedesaan di Timor Leste menjadi masalah yang serius saat ini. Timor Leste memiliki tanah yang bergunung – gunung dan curah hujan langka, produktivitas pertanian rendah serta kekurangan makanan umum terjadi di daerah pedesaan. Sektor pariwisata berpeluang memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat pedesaan melalui partisipasi aktif masyarakat dalam pengembangan pariwisata. Mengingat sifat alami masyarakat Timor yang hangat dan ramah, menyediakan barang dan jasa kepada wisatawan, akan muncul menjadi mata pencaharian tambahan alami bagi masyarakat pedesaan (UNDP, UNWTO, NDT : 2007).

Pengembangan masyarakat menjadi salah satu elemen esensial bagi tercapainya pembangunan berkelanjutan. Dalam proses pembangunan, upaya untuk mencapai aspek keberlanjutan (Sustainable

Development) menjadi hal yang sangat penting, guna menjaga

keseimbangan (Equilibrium) ekonomi, sosial dan budaya, lingkungan serta politik (Brundtland, 1987). Dalam konteks pembangunan pariwisata, keterlibatan masyarakat dalam konsep pembanguan berbasis masyarakat dapat mendorong tercapainya aspek keberlanjutan, sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pembangunan pariwisata berkelanjutan merupakan sebuah proses dalam sistim pengembangan pariwisata yang bisa menjamin keberlangsungan atau keberadaan sumber daya alam dan kehidupan sosial budaya serta memberikan manfaat ekonomi hingga generasi yang akan datang (Butler, 1991). Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan dapat meningkatkan rasa memiliki (sense of belonging) sehingga mendorong

internasional, perdamaian, kemakmuran universal, HAM dan kebebasan dasar untuk semua tanpa memandang perbedaan ras, jenis kelamin, bahasa dan agama.

(4)

partisipasi dan peran dari pemangku kepentingan (stakeholders) untuk mencapai tujuan pembangunan. Dengan demikian diharapkan melalui pengembangan pariwisata, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat yang menjadi tujuan dari pembangunan dapat tercapai.

Dalam rangka menempatkan pariwisata sebagai faktor kunci pengembangan masyarakat, masyarakat setempat harus mengambil bagian dalam setiap langkah pengembangan pariwisata daerah. Dalam hal ini LSM dapat berperan mendukung masyarakat setempat agar dapat berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata. Dalam hal ini, peranan LSM dalam melakukan pendampingan bagi masyarakat lokal sanggat dibutuhkan karena masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil cenderung tidak memiliki pengetahuan maupun kemampuan untuk mengambil keputusan mengenai pengembangan wilayah serta berpartisipasi dalam pengembangan pariwisata (Tosun, 1999). NOAD5

mendefinisikan LSM sebagai salah satu organisasi non pemerintah yang berorientasi pada pembangunan dalam upaya untuk memperbaiki kondisi sosial, ekonomi dan produktivitas bagi masyarakat lokal di pe-desaan pada negara-negara miskin dan berkembang (Ulleberg, 2009)6.

Pembangunan pariwisata berbasis masyarakat berarti bahwa masyarakat lokal menjadi pusat pembangunan ekonomi dan sosial. Dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan, LSM memberikan dorongan dan mengkoordinasikan masyarakat setempat dalam menciptakan proses pengambilan keputusan. Keterlibatan masyarakat dalam mengambil keputusan akan membawa keterpaduan dan tanggung jawab bagi masyarakat setempat. Aksi LSM dalam mendukung proses pengambilan keputusan akan menjamin keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan (Hudry Cecile : 2012).

Mengingat LSM berpotensi mendukung pengembangan masyarakat, penelitian ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana LSM

5 NOAD singkatan dari Norwegian Agency for Development

6 Inger Ulleberg, 2009. The Role and Impact of NGOs in Capacity Development.

(5)

Haburas mendukung proses pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di distrik Tutuala. Tutuala merupakan salah satu sub distrik yang terletak di ujung pulau Timor serta populer di kalangan wisata-wan asing maupun wisatawisata-wan lokal. Tutuala memiliki kekhasan ekologi, pantai yang indah, dan pulau Jaco yang menjadi habitat alami dari satwa liar. Di samping itu, Tutuala juga memiliki taman nasional Nino Konis Santana yang merupakan taman nasional pertama di Timor Leste, serta gua dengan lukisan purba. Potensi ini merupakan industri pariwisata yang dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat lokal di masa sekarang maupun di masa yang akan datang serta berpotensi mendukung pelestarian lingkungan.

Dalam pengembangan potensi pariwisata di Tutuala, LSM Haburas telah bekerja sama dengan Koperasi Valusere yang dijalankan oleh masyarakat setempat di Tutuala. Tujuan dari kehadiran LSM Haburas adalah meningkatkan kemampuan dan ketrampilan masya-rakat di sekitar lokasi obyek wisata supaya masyamasya-rakat dapat berpartisi-pasi dalam kegiatan pariwisata (do Carvalho, 2008).

Dari penelusuran literatur yang peneliti lakukan pengetahuan tentang keterlibatan LSM dalam pengembangan pariwisata baik di Timor Leste maupun di Tutuala sendiri belum ada penulis yang meneliti tentang hal ini. Selain itu, sejumlah literatur yang saya telusuri baru ada satu penulis yang menulis tentang Local NGOs in National Development : the Case of East Timor (Janet E. Hunt: 2008). Studi kasusnya pada LSM Caritas Dili, LSM ETADEP, HAK Association, LSM FOKUPERS, LSM Timor Aid. Studi kasus dari beberapa LSM tersebut di atas, tidak ada satu pun LSM yang bergerak pada bidang pengembangan pariwisata serta dalam penulisan tersebut tidak membahas masalah pengembangan pariwisata Timor Leste. Selain itu dari publikasi jurnal yang saya telusuri tidak ada satupun penulis yang meneliti tentang keterlibatan LSM dalam pengembangan pariwisata di Timor Leste. Singkatnya bahwa belum ada sesorang yang telah melakukan penelitian tentang keterlibatan LSM dalam pengembangan pariwisata khususnya Tutuala di Timor Leste.

(6)

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan etnografi berasal dari bidang antropologi (Jacob, 1987). Tujuan penelitian Etnografis adalah memperoleh gambaran umum mengenai subjek penelitian. Penelitian ini menekankan aspek pemotretan pengalaman individu-individu sehari-hari dengan cara mengobservasi dan mewawancarai mereka dan individu-individu lain yang relevan (Fraenkel & Wallen, 1990). Penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dan observasi terus menerus pada para partisipan dalam situasi tertentu (Jacob, 1987). Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara mendalam dengan Lembaga Swadaya Masyarakat Haburas dalam proses pembangunan pariwisata. Di samping itu, peneliti juga melakukan observasi dan wawancara mendalam dengan masyarakat lokal di Tutuala yang terlibat dalam pengembangan usaha pariwisata di pantai Valusere, desa Tutuala, kecamatan Tutuala, Lospalos, Timor Leste.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latarbelakang yang telah diuraikan sebelumnya, rumusan masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana keterlibatan Lembaga Swadaya Masyarakat Haburas (LSM Haburas) dalam proses pembangunan pariwisata berbasis masyarakat untuk mencapai pem-bangunan berkelanjutan di pantai Value, desa Tutuala, Kabupaten Lospalos, Timor Leste ?

Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, pertanyaan penelitian ini terbagi menjadi dua bagian sebagai berikut : Pertama, Tahapan-tahapan apa saja yang dilakukan oleh LSM Haburas bagi masyarakat lokal dalam upaya pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di desa Tutuala. Kedua, Bagaimana Respons Masyarakat terhadap program pengembangan pariwisata yang

(7)

dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat Haburas bagi masyarakat lokal di desa Tutuala?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk menguraikan pengalaman empirik pelaku pembangunan yakni tahapan-tahapan program kerja Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Haburas bagi masyarakat lokal dalam upaya pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di desa Tutuala. Mengetahui respon masyarakat terhadap program pengem-bangan pariwisata yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat Haburas bagi masyarakat lokal di desa Tutuala, Lospalos, Timor Leste.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terha-dap ilmu pengetahuan dengan menguatkan konsep keterlibatan masya-rakat dalam pembangunan pariwisata. Disisi lain, melalui penelitian ini diharapkan pembaca mendapatkan wawasan tentang pembangunan pariwisata berbasis masyarakat maupun pembangunan pariwisata berkelanjutan melalui pengalaman pelaku pembangunan, yaitu LSM Haburas dalam pengembangan pariwisata di Tutuala, Timor Leste.

Sistematika Penulisan

Tesis ini dimulai dengan Bab 1 sebagai pendahuluan. Dalam bab ini didahulukan dengan latar belakang yang menjadi dasar ketertarikan peneliti melakukan penelitian ini. Pada bab ini juga peneliti mengajukan pertanyaan penelitian yang menjadi dasar bagi peneliti untuk melakukan kajian di lapangan. Selanjutnya peneliti mengajukan tujuan dan manfaat penelitian yang merupakan hal-hal yang diharapkan dapat dicapai pada penelitian ini.

(8)

Selanjutnya Bab 2 menguraikan tentang kajian pustaka yang pada intinya memuat tentang literatur yang relevan dengan topik yang dibahas oleh peneliti. Beberapa topik yang diangkat oleh peneliti dalam kajian pustaka adalah yang berkaitan dengan konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan, konsep pembangunan pariwisata berbasis komunitas, peranan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam proses pengembangan Community Based Tourism, komunitas dan pariwisata, rasa memiliki dan pemberdayaan komunitas, kerangka pikir peneliti.

Kemudian Bab 3, yang isinya adalah metode penelitian, dimana akan dijelaskan mengenai pertimbangan dalam memilih metode penelitian kualitatif pada penelitian ini. Didalam bab ini juga akan menjelaskan tentang teknik informasai yang diperoleh di lapangan, dengan metode snowball dan dilengkapi dengan wawancara mendalam dan observasi. Selain itu juga pada bab ini peneliti akan mengungkap-kan tentang proses analisis data hingga menjadi sebuah karya ilmiah.

Bab 4, pada bab ini akan menguraikan LSM Haburas dan pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Tutuala. Beberapa topik yang diangkat disini adalah membangun pemahaman tentang

community based tourism, keterlibatan LSM Haburas dalam

pemben-tukan koperasi, program kerja LSM Haburas di Tutuala, pelatihan-pelatihan yang disponsori oleh LSM Haburas, permasaahan yang diha-dapi oleh LSM Haburas dalam melakukan kerjasama dengan koperasi Valusere, konflik yang timbul setelah koperasi Valusere mandiri.

Bab 5, pada bab ini akan diuraikan pariwisata berbasis masyarakat bagi kehidupan masyarakat Tutuala. Topik-topik yang diangkat dalam bab ini adalah usaha penginapan, pengelolaan usaha restoran, rapat anggota dan sistem pembagian keuntungan, kegiatan pemandu wisata, pariwisata berbasis masyarakat bagi kehidupan masyarakat nelayan di pantai Valusere, Tutuala.

Bab 6 atau bab terakhir adalah kesimpulan, yang intinya menarik keseluruhan isi tesis ini dan juga saran penelitian lanjutan.

Referensi

Dokumen terkait

Antropologi dalam pendidikan memiliki beberapa manfaat diantaranya (Rohmad, Z. 2018): 1) Dapat mengetahui pola perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat secara

Judul : Pengaruh Penambahan Tepung Tongkol Jagung pada Media Tanam terhadap Diameter Tudung dan Berat Basah Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) Sebagai

Fungsi mitos dalam kehidupan sosial budaya masyarakat pendukungnya adalah: (1) untuk mengembangkan simbol- simbol yang penuh makna serta menjelaskan fenomena lingkungan

Pembuatan kecap ikan secara fermentasi dengan tradisional memiliki beberapa kelebihan yaitu nilai ekonomisnya tinggi, proses pengolahannya mudah dan murah, bahan

Selain itu, ada pula narasi hoaks yang menggunakan dalih agama untuk memberikan dukungan terhadap kontestan Pilkada tertentu dengan mengklaim dukungan pada salah satu

Analisis varian menunjukkan hasil terdapat empat karakter yang mempunyai keragaman sempit, yaitu karakter diameter tangkai, diamater kuncup, diameter bunga mekar

Turut hadir dalam acara tersebut Auditor Utama Keuangan Negara V Bambang Pamungkas, Kepala Perwakilan Yusnadewi beserta para pejabat struktural dan tim pemeriksa

75-100 ribu / hari, sehingga sebagian besar masyarakat begitu setuju terhadap rencana pembangunan ini karena masyarakat mendapatkan pendapatan/ upah di balik