• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015 ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Kesehatan Kartika Vol. 10 No. 2, Agustus 2015 ABSTRAK"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

68 EFEKTIFITAS MODEL KELOMPOK SWABANTU UNTUK MENGURANGI BEBAN

KELUARGA MERAWAT SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP LANJUT USIA DI MASYARAKAT WILAYAH KOTA CIMAHI

Oop Rope’i

ABSTRAK

Sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk lansia yang cukup tinggi dari tahun ke tahun sehingga kelompok lansia rentan juga meningkat, akan meningkat pula faktor risiko pada keluarga sehingga menjadi beban bagi keluarga, masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu, diperlukan penanganan masalah lansia secara komprehensif dan terpadu karena permasalahan yang muncul terus berpacu dengan pertambahan jumlah penduduk lansia.Tujuan memperoleh model kelompok swabantu yang efektif untuk mengurangi beban keluarga merawat sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup lansia sehingga menjadi keluarga mandiri, menggunakan kualitatif fenomenologi dengan cara wawancara mendalam dan catatan lapangan pada enam partisipan di Kota Cimahi. Analisis data menggunakan pendekatan Colaizzi. Hasil penelitian teridentifikasi sembilan tema; menemukan cara merawat anggota keluarga lansia, dengan sub tema meningkatkan keyakinan spiritual, menambah informasi, mengupayakan dukungan keluarga dan menerima keadaan, makna merawat sebagai bentuk tanggungjawab sosial dan agama, belajar dari pengalaman orang lain, meningkatkan keterampilan dalam merawat lansia, meningkatkan intrapersona, meningkatkan interpersonal, menemukan pandangan baru tentang diri dan kehidupan, harapan sebagai merawat (caregiver) lansia yaitu harapan terhadap diri sendiri, harapan terhadap keluarga danharapan terhadap masyarakat, dan kebutuhan lansia terhadap pelayanan kesehatan yaitu bebas biaya, layanan khusus bagi lansiadan pendidikan kesehalan. Kesimpulan perawat komunitas bisa menerapkan kelompok swabantu ini untuk mengurangi beban bagi keluarga dalam merawat lansia Saran perlu dikembangkan adanya kelompok swabantu yang dijadikan model pemberdayaan keluarga dan masyarakat.

(2)

69 Latar Belakang

Lanjut usia (Lansia) adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak bisa dihindari oleh siapapun. Usia panjang akan menyebabkan perubahan yang dimulai dari sel, sebagai komponen terkecil dari tubuh manusia. Di dalam struktur anatomik perubahan menjadi tua terlihat sebagai kemunduran di dalam sel, proses ini berlangsung secara alamiah, terus menerus dan berkesinambungan, yang selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis dan biokemis pada jaringan tubuh dan akhirnya akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan badan secara keseluruhan (Mickey, 2006). Kondisi ini merupakan salah satu faktor yang dapat menjadikan lansia kelompok risiko (at risk). Menurut Sthanhope dan Lancaster (2004) lanjut usia beresiko untuk mengalami masalah kesehatan yang diakibatkan oleh adanya perubahan usia, biologis, sosial, gaya hidup, ekonomi dan kejadian dalam kehidupan.

Kondisi lansia yang berisiko dapat berpengaruh terhadap peran keluarga dalam merawat lansia. Keluarga merupakan kelompok berisiko akibat stres dalam merawat lansia yang rentan karena penyakit kronik dan ketidakmampuan lansia. Sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk lansia yang cukup tinggi dari tahun ke tahun sehingga kelompok lansia rentan juga meningkat, akan meningkat pula faktor risiko pada keluarga sehingga menjadi beban bagi keluarga, masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu, diperlukan penanganan masalah lansia secara komprehensif dan terpadu karena permasalahan yang muncul terus berpacu dengan pertambahan jumlah penduduk lansia.

Peningkatan kualitas hidup lansia merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam mengatasi berbagai permasalahan lansia. Kualitas hidup lansia dapat diukur melalui kesejahteraan fisik, kesejahteraan psikologis dan hubungan sosial. Peningkatan kualitas hidup lansia dapat dilakukan melalui pemberdayaan potensi lansia dalam melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari dengan cara mendukung kemandirian dalam melakukan berbagai aktivitas yang mampu dilakukannya, disamping dukungan dari keluarga dan di luar keluarga seperti teman, tetangga, anggota masyarakat, juga dukungan pemerintah, swasta dan kelompok pemerhati lansia dalam memberikan pelayanan secara komprehensif dan holistik (Tang, 2008). Beberapa studi menemukan bahwa dukungan sosial informal dari keluarga, teman dapat mengurangi stres, meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah, meningkatkan perilaku sehat, meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi stres dan beban dari pelaku rawat (caregiver) (Kaufman & Kosberg, 2010). Pelaku rawat adalah seseorang yang memberikan perawatan atau dukungan kepada orang lain yang mengalami penyakit, ketidakmampuan atau ketergantungan (Pillay, 2007). Pelaku rawat utama adalah keluarga karena disinilah individu dapat tumbuh dan berkembang. Keluarga merupakan sumber pendukung utama bagi lansia di masyarakat.

(3)

70 Efektifitas dukungan keluarga merupakan komponen kunci terhadap kesejahteraan lansia.Hasil penelitianSahar (2002 dalam Riasmini, 2011) menggambarkan bahwa keluarga yang merawat lansia umumnya mengalami lebih dari satu masalah kesehatan dan alasan merawat karena tanggung jawab sebesar (26,8%), dan ingin memberikan perawatan lebih baik (19,5%).

Kebanyakan masyarakat Indonesia memandang bahwa dukungan keluarga yang berupa pemberian bantuan dari anak kepada orang tua masih berperan sangat besar. Jika dikaitkan dengan budaya Indonesia dimana budaya keluarga besar (extended family) masih berkembang, memungkinkan lansia untuk tinggal bersama keluarga (anak, menantu, cucu atau anggota keluarga lain). Adanya dukungan tersebut, akan memperkuat ikatan kekeluargaan sehingga lansia merasa aman, puas dan merasa berguna serta mampu menjalani kehidupan dengan baik.

Perawatan yang dilakukan keluarga sebagai pelaku rawat terhadap lansia dikaitkan dengan stres karena gangguan fungsional dan psikologis akibat penyakit kronik yang dialami lansia, sehingga berdampak pada kesehatan fisik, emosi dan sosial pelaku rawat. Menurut Sales (2003), memberikan perawatan lansia dengan ketergantungan termasuk yang mengalami penyakit kronis menimbulkan perasaan keteganganataubeban pada pelaku rawat yang dapat mempengaruhi kualitas hidup keluarga. Beban merawatmerupakan respon multidimensi terhadap stresor fisik, psikologis, sosial dan finansial yang dihubungkan dengan pengalaman pelaku rawat dalam merawat klien (Kasinya, Polgar-Bailey & Takeuchi, 2000 dalam Etters, Goodall & Harrison, 2008). Hasil penelitian Marimoto (2003), menggambarkan bahwa meningkatnya beban berhubungan secara signifikan terhadap kualitas hidup yang rendah khususnya kesehatan mental pelaku rawat. Sebaliknya, tidak ada hubungan antara meningkatnya beban dengan kesehatan fisik dan fungsi peran pelaku rawat.

Berdasarkan pengamatan di masyarakat menunjukkan bahwa masih banyak keluarga yang belum mampu memberdayakan lansia dan merawat lansia dengan baik. Lansia seringkali dianggap sebagai beban dan keluarga kurang sensitif terhadap kebutuhan-kebutuhan lansia sehingga lansia kurang mendapat perhatian dan dukungan dari keluarga. Menurut Romziah (1999), perhatian dalam kesehatan lansia termasuk juga makanan dan gizi, transportasi, komunikasi, rekreasi, juga agama merupakan hal penting untuk menunjang kesejahteraan juga perkembangan jiwa lansia. Bila terabaikan oleh keluarga akan meningkatkan risiko lansia mengalami gangguan kesehatan yang berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia. Disamping itu, permasalahan dapat timbul apabila lansia mengalami masalah kesehatan kronis, gangguan mobilitas serta menurunnya

(4)

71 kemandirian. Kondisi ini dapat menimbulkan beban bagi keluarga yang akan melemahkan dukungan keluarga terhadap lansia.

Melihat fenomena diatas, maka pemberdayaan keluarga dan masyarakat sangat penting dalam meningkatkan kemampuan lansia untuk berfungsi secara optimal dalam lingkungan masyarakat. Pemberdayaan dilakukan melalui peningkatan kapasitas individu atau kelompok dalam membuat pilihan dan mentransformasikan pilihan mereka kedalam tindakan atau hasil yang diinginkan. Model pemberdayaan keluarga yang dapat dilakukan adalah kelompok swabantu (self help group) merupakan aktivitas kelompok dengan memberdayakan anggotanya untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Melalui partisipasi dalam kelompok dapat mengurangi beban keluarga, kesepian dan perasaan bersalah (Chapman, 1997).

Kelompok swabantu terdiri dari keluarga-keluarga sebagai pelaku rawat dalam merawat lansia, bersama-sama saling membantu, berbagi pengalaman dalam menyelesaikan masalah. Tujuannya adalah memberikan dukungan emosional setiap anggota, belajar koping baru, menemukan strategi untuk mengatasi suatu masalah, meningkatkan rasa percaya diri dan keterampilan komunikasi serta meningkatkan kontak sosial.

Pelaku rawat membutuhkan informasi berupa penyuluhan kesehatan dari petugas kesehatan tentang masalah kesehatan yang dialami lansia dan cara penanganannya sehingga mampu merawat lansia di rumah, mereka juga mengharapkan petugas kesehatan melakukan kunjungan rumah untuk memberikan perawatan langsung kepada lansia. Harapan lainnya yaitu mendekatkan pelayanan ke masyarakat seperti tersedianya posyandu lansia di tiap RW sehingga dapat dijangkau oleh lansia, dan pelayanan yang diberikan di puskesmas berupa pelayanan khusus untuk lansia tidak bergabung dengan pelayanan umum sehingga lansia bisa ditangani dengan cepat. Lebih lanjut diperoleh data bahwa sudah ada poliklinik lansia di beberapa puskesmas kecamatan, tetapi belum santun lansia karena sumber daya manusia dan fasilitasnya yang kurang memadai.

Walaupun telah dikembangkan berbagai program dalam rangka mengatasi permasalahan lansia baik oleh pemerintah maupun swasta dan lembaga swadaya masyarakat dan sudah dikembangkan model untuk meningkatkan kemampuan keluarga merawat lansia melalui pelatihan, namun belum ada wadah bagi keluarga yang bisa dijadikan tempat berkumpul agar bisa saling berbagi pengalaman dalam merawat lansia sesuai dengan budaya Indonesia dan belum diketahui strategi yang efektif untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Oleh karena itu, peneliti

(5)

72 tertarik untuk mengembangkan model pemberdayaan keluarga melalui kelompok swabantu (self help group). Melalui kegiatan kelompok, keluarga dapat saling bertukar pengalaman sekaligus meningkatkan kemampuan koping, mengurangi beban, pada akhirnya mampu merawat lansia secara optimal dalam rangka meningkatkan kualitas hidup lansia.

Tujuan penelitian adalah memperoleh model kelompok swabantu yang efektif untuk mengurangi beban keluarga merawat sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup lansia sehingga menjadi keluarga mandiri. Tujuan pengembangan model kelompok swabantu adalah meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat lansia melalui partisipasi keluarga dalam kegiatan kelompok. Kegiatan kelompok yang dilakukan dapat memberikan dukungan emosional setiap anggota, belajar koping baru, menemukan strategi untuk mengatasi suatu masalah, meningkatkan rasa percaya diri dan keterampilan komunikasi serta meningkatkan kontak sosial.

Metode Penelitian

Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan metodefenomenologi.Populasi pada penelitian ini adalah keluarga yang memiliki lansia. Sedangkan sampel adalah anggota keluarga/pelaku rawat yang merawat lansia di rumah, pemilihansampeldilakukanmelaluipurposivesampling.Analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Colaizzi (1978) dalam Streubert dan Carpenter (2003), dilakukan di Kota Cimahi.

Hasil

Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 7 partisipan sebagai pelaku rawat yang merawat lansia di Kota Cimahi Jawa Barat. Pada penelitian ini peneliti mengidentifikasi pendidikan partisipan rata-rata adalah SMU tetapi ada juga yang berpendidikan SD satupartisipan. Partisipan berasal dari suku sunda lama partisipan sebagai pelaku rawat yang merawat lansia cukup bervariasi dari rentang satu tahun sampe dengan tujuh tahun. Peneliti telah mengidentifikasi 9 tema merupakan hasil dari penelitian. Beberapa diantaranya memiliki sub-tema dengan kategori makna tertentu. Efektifitas model kelompok swabantu untuk mengurangi beban keluarga merawat sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup lansia di masyarakat wilayah Kota Cimahi dapat digambarkan dengan Sembilan tema yaitu; 1) menemukan cara merawat anggota keluarga lansia, dengan sub tema meningkatkan keyakinan spiritual,menambah informasi, mengupayakan dukungan keluarga dan menerima keadaan; 2) makna merawat sebagai bentuk tanggungjawab sosial dan agama; 3)

(6)

73 belajar dari pengalaman orang lain; 4) meningkatkan keterampilan dalam merawat lansia; 5) meningkatkan intrapersonal; 6) meningkatkan interpersonal; 7) menemukan pandangan baru tentang diri dan kehidupan; 8) harapan sebagai merawat (caregiver) lansia yaitu harapan terhadap diri sendiri, harapan terhadap keluarga dan harapan terhadap masyarakat; 9) kebutuhan lansia terhadap pelayanan kesehatan yaitu bebas biaya, layanan khusus bagi lansiadan pendidikan kesehalan.

Pembahasan

Pada penelitian ini ditemukan bahwa selama merawat lansia keluarga merasakan respon negative sebagai beban dalam merawat lansia. Leuckenotte (1996) menyatakan bahwa keluarga yang memandang pemberian asuhan kepada lansia merupakan sebagai suatu masalah maka dalam merawat lansia keluarga memiliki respon negatif. Beban yang teridentifikasi dalam penelitian ini meliputi beban fisik, beban psikologis, beban ekonomi dan beban sosial. Kondisi ini dapat menimbulkan dampak bagi keluarga yang merawatnya. George and Gwyther (1986 dalam Miller, 1995 hlm.475) mengemukakan burden sebagai “ beban fisik, psikologi atau emosional, sosial dan finansial dapat dialami oleh keluarga yang merawat lansia yang mengalami gangguan”.

Penelitian ini mengidentifikasi bahwa seluruh partisipan mengalami beban dalam merawat lansia. Kondisi lnasia secara perlahan mengalami kemunduran yang tidak dapat dihindarkan. Perawatan lansia dapat menimbulkan dampak pada keluarga selaku caregiver. Hal ini dapat menimbulkan family burden seperti yang diungkapkan oleh Zarit ( 1980 dalam Miller, 1995).

Kozier et al (2004) menyatakan burden sebagai stress yang dialami oleh anggota keluarga yang merawat anggota keluarga yang lain di rumah dalam jangka waktu lama. Kondisi ini digambarkan oleh Weuve et al pada tahun 2003 dalam penelitiannya mendapatkan bahwa caregiver mengalami caregiver burden setelah 6 bulan melakukan perawatan pada lansia dengan demensia (www.medscape.com diperoleh 20 Maret 2009). Kondisi ini menjelaskan bahwa seluruh partisipan mengalami beban dalam merawat lansia karena telah merawat lansia lebih lama. Hal ini sangat penting bagi perawat komunitas untuk dapat mengidentifikasi adanya burden pada keluarga yang merawat lansia dengan demensia sehingga dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan dapat meningkatkan kualitas perawatan yang diberikan pada lansia.

(7)

74 Silverman (2002) mengatakan bahwa melalui kegiatan kelompok dapat memberikan dukungan sosial, keterampilan koping dan meningkatkan kompetensi dalam menyelesaikan masalah.

Penelitian efektifitas model kelompok swabantu untuk mengurangi beban keluarga merawat sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup lansia di masyarakat wilayah Kota Cimahi dapat digambarkan dengan sembilan tema yaitu; 1) menemukan cara merawat anggota keluarga lansia, dengan sub tema meningkatkan keyakinan spiritual, menambah informasi, mengupayakan dukungan keluarga dan menerima keadaan; 2) makna merawat sebagai bentuk tanggungjawab sosial dan agama; 3) belajar dari pengalaman orang lain; 4) meningkatkan keterampilan dalam merawat lansia; 5) meningkatkan intrapersonal; 6) meningkatkan interpersonal; 7) menemukan pandangan baru tentang diri dan kehidupan; 8) harapan sebagai merawat (caregiver) lansia yaitu harapan terhadap diri sendiri, harapan terhadap keluarga danharapan terhadap masyarakat; 9) kebutuhan lansia terhadap pelayanan kesehatan yaitu bebas biaya, layanan khusus bagi lansiadan pendidikan kesehalan

Perawat komunitas dapat melakukan antisipasi dan mendeteksi secara dini adanya bebanpelaku rawat serta mendesain intervensi keperawatan yang berfokus pada supportive educative untuk meningkatkan kemandirian dan produktifitas lansia sehingga tercapai successful aging. Perawat komunitas merancang pelatihan secara berkelanjutan dan berbasis budaya dalam rangka meningkatkan kemampuan dan kepuasan keluarga dalam merawat lansia. Disamping itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan panduan bagi perawat komunitas dalam melaksanakan pemberdayaan keluarga dan lansia baik di komunitas maupun di panti.

Model kelompokswabantuinidapat dijadikan sebagai landasan kebijakan bagi pengelola pelayanan kesehatan dalam rangka melaksanakan berbagai program kesehatan yang berkaitan dengan pemberdayaan keluarga dan lansia pada masyarakat. Model kelompokswabantujuga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan berbagai model pemberdayaan keluarga lainnya yang dapat meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat lansia. Model ini juga nantinya dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan model pemberdayaan keluarga di masyarakat.

Model pemberdayaan keluarga dapat diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan keperawatan untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu menerapkannya dalam praktik keperawatan di komunitas. Materi terkait bebanmerawat, kebutuhan khusus pelaku rawat dalam merawat lansia, asuhan keperawatan lansia berbasis budaya serta kualitas hidup lansia dapat diintegrasikan ke

(8)

75 dalam kurikulum, sehingga peserta didik mampu mengaplikasikannya pada tatanan nyata di masyarakat. Integrasi berbagai teori dan model dalam keperawatan keluarga dan keperawatan gerontik dapat dijadikan sebagai kerangka pikir dalam pengembangan model pelayanan keperawatan yang holistik dan terpadu kepada lansia dan keluarganya.

Hasil penelitian ini dapat dijadikan data dasar oleh peneliti selanjutnya dalam pengembangan model transisi ditujukan kepada pelaku rawat yang tinggal berbeda lokasi dengan lansia sehingga tidak bisa merawat lansia secara langsung. Selain itu, dapat dilakukan penelitian dengan metode serupa dalam penerapan berbagai model pemberdayaan keluarga lainnya yang efektif untuk memberdayakan keluarga sebagai pelaku rawat sehingga peran serta keluarga dalam perawatan lansia dapat ditingkatkan.

(9)

76 Daftar Pustaka

Allender, J.A. & Spardley, B.W. (2001). Community Health Nursing: Promoting and Protecting the Public’s Health. Philadelpia: Lippincott Williams & Wilkins.

Anderson, E., & Mc Farlane, J. (2004). Community As Partner: Theory and Practice in Nursing, 4th edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.

Creswell, J.W. (1998). Qualitative Inquirí and research design: choosing among five tradition. United status America (USA): Sage Publication Inc.

Denzin & Lincoln. (1998). Collecting and interpreting qualitative materials. Thousand Oaks: Sage Publications, Inc.

Dinas Kebersihan dan Pertamanan (2010). Profil Kebersihan dan Pertamanan Tahun 2010. Kota Cimahi Dinas Kesehatan Kota Cimahi. (2010). Profil kesehatan Kota Cimahi tahun 2010. Cimahi: Dinkes Kota

Cimahi

Fain, J.A. (1999). Reading understanding and apllying nursing research: a text and workbook, 2nd edition.Philadelphia: F.A. Davis Company.

Friedman, M., (1998). Family Nursing: Research, Theory and practice, 4th edition, Stamford: Appleton & Lange.

Friedman, M., Bowden, V.R., Jones, E.G., (2003). Family Nursing: Research, Theory and practice, 5th edition, New Jersey: Pearson education, Inc.

Gillies, C.L., (1989). Why Family health care?, dalam Gillies, C.L.(Ed), Toward a science of family nursing ( hlm 4-7). Menlo Park, California: Addison Wesley Publishing Company.

Hitchcock,JE., Scubert, PE., & Thomas, SA (1999). Community Health Nursing : Caring in action. USA : Delmar Publisher.

Kozier et al. (2004). Fundamental of nursing: concepts, process, and practice, 7 th edition. Upper Saddle River: Pearson Education, Inc.

Nies, M.A., and McEwan, M. (2001). Community health nursing: promoting the health of population. (3rd Ed.), Philadelphia: Davis Company.

Miller, C.A. (2004). Nursing for wellness in Older adult: Theory and Practice. 4th edition. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.

Patton. (1990). Qualitative Evaluation and research methods. Newbury Park, CA: Sage

Pollit, D.F.,& Hungler,B.P.(1999). Nursing Research: Principles and methods.6th edition.Philadelpia:Lippincott Williams & Wilkins.

Stanhope, M. & Lancaster, J. (1996). Community health nursing : Promoting health of agregates, families and individuals, 4 th ed. St.Louis : Mosby, inc.

(10)

77 Streubert, H. J. & carpenter, D. R. (1999). Qualitative Research In Nursing : Advancing the Humanistic

Imperative. Philadelphia : Lippincott

(11)

Referensi

Dokumen terkait

Tambahkan field baru NamaMember pada table Kembali, klik dua kali Kembali pada Object TreeView untuk membuka Field Editor, klik kanan dan pilih New Fields, lengkapi

Yang dimaksud pekerjaan timbunan adalah penimbunan/pengurugan kembali yang dipadatkan pada pasangan batu dan timbunan/urugan tanggul dengan menggunakan bahan timbunan

Ikan lele asap yang dihasilkan dari dua jenis asap cair yang digunakan menghasilkan rasa yang berbeda, panelis dapat membandingkan ikan lele asap yang menggunakan

Pengukuran struktur geologi berupa bidang diskontinuitas di daerah penelitian dilakukan pada bidang gelincir longsoran dan rekahan dengan jumlah 104 data rekahan

Rapat Koordinasi adalah forum evaluasi, perencanaan, dan pembentukan kesepakatan pelaksanaan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga, dipimpin oleh

Penulis sangat berharap skripsi ini dapat memberi manfaat bagi pembaca yang memiliki keingintahuan atau minat terhadap bahasa Mandarin laras jurnalistik, yaitu dapat

Perlawanan komunitas punk dituangkan dalam berbagai simbol-simbol, yang paling nampak adalah demonstrasi gaya berpakian, dan asesoris-asesoris yang mencolok dan

Pada terbitan kali ini terdapat 8 (delapan) naskah dengan institusi asal penulis cukup beragam, seperti; Institut Pertanian Bogor (IPB), Balai Konservasi Tumbuhan