• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea pissn X Vol. 10 No. 2, Agustus 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea pissn X Vol. 10 No. 2, Agustus 2021"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea pISSN 2302-299X eISSN 2407-7860 Vol. 10 No. 2, Agustus 2021

Akreditasi LIPI: 764/AU1/P2MI-LIPI/10/2016 Akreditasi KEMENRISTEKDIKTI: 36b/E/KPT/2016 Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea adalah publikasi ilmiah hasil penelitian bidang kehutanan. Jurnal ini diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan Maret dan Agustus oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia.

Wallacea Journal of Forestry Research is a scientific publication reporting research findings in the field of forestry. The journal is regularly published twice a year in March and August by Environment and Forestry Research and Development Institute of Makassar, Research Development and Innovation Agency, Ministry of Environment and Forestry of Indonesia.

Penanggung Jawab (Responsible person): Mochlis, S.Hut. T, M.P. (Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar)

Dewan Redaksi (Editorial Boards):

Ketua (Editor in chief), merangkap anggota: Dr. Abdul Kadir Wakka, S.Hut, M.Si (Sosial Ekonomi Kehutanan, BP2LHKM) Anggota (Members):

1. Dr. Dede J. Sudrajat, S.Hut, MT (Teknologi Benih, Genetika Populasi, BP2TPTH)

2. Dr. Muhammad Asdar, S.Hut, M.Si (Pengelolaan Hasil Hutan, BP2LHKM)

3. Dr. Forest. Muhammad Alif K. Sahide, S.Hut M.Si (Kebijakan Kehutanan, UNHAS)

4. Dr. Andes Hamuraby Rozak, S.Hut, M.Sc (Ekologi dan Evolusi, LIPI)

5. Yonky Indrajaya, S.Hut, MT, M.Sc (Perencanaan Hutan, BPTA) 6. Dr. Tajuddin, S.Hut. M.Sc. (Manajemen Hutan, BPHP Wil. XIII) 7. Dr. Ir. Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho, M.Si (Konservasi

Sumber Daya Hutan, BP2TPDAS Solo).

8. Dr. Retno Prayudyaningsih, S.Si. M.Sc (Mikrobiologi, BP2LHKM)

9. Dr. Karnita Yuniarti, S.Hut, M.Wood.Sc (Ilmu kayu dan pengolahan hasil hutan, P3HH-BLI) 10. Elga Renjana, M.Si (Konservasi Tumbuhan, KR

Purwodadi-LIPI)

11. Bayu Wisnu Broto, S.Hut, M.WC (Konservasi dan Pengaruh Hutan, BP2LHKM)

12. Fajri Ansari, S.Hut, M.Sc. (Konservasi dan Pengaruh Hutan, BP2LHKM)

13. Masrum (BP2LHKM)

Mitra bestari (Peer reviewer) :

1. Prof Dr. Tukirin Partomihardjo (Konservasi Tumbuhan, LIPI)

2. Prof. Dr. Yusuf Sudo Hadi, M.Agr (Teknologi Hasil Hutan, IPB)

3. Prof. Dr. Ir. Y. Purwanto DEA (Etnobotani, LIPI) 4. Prof. Dr. Rosichon Ubaidillah, MPhil (Entomologi

(Biosistematika), LIPI)

5. Prof. Dr. Ir. Baharuddin Nurkin, M.Sc (Silvikultur, UNHAS)

6. Prof. Dr. Drs. Adi Santoso, M.Si (Peng. Hasil Hutan, P3HH)

7. Prof. Dr. Ir. Daud Malamassam, M.Agr. (Inventarisasi Hutan/Perencanaan Hutan, UNHAS)

8. Prof. Dr. Ir. Ngakan Putu Oka, M.Sc (Ekologi Hutan, UNHAS)

9. Prof. Dr. Ir. Budi Leksono, M.P. (Pemuliaan Tanaman Hutan, BBP2BPTH)

10. Prof. Dr. Ir. Musrizal Muin, M.Sc (Pengawetan Kayu, UNHAS)

11. Prof. Dr. Ir. Muhammad Restu, M.P (Genetika dan Pemuliaan Hutan, UNHAS)

12. Prof. Dr. Ir. Amran Achmad, M.Sc (Konservasi Biologi- UNHAS)

13. Prof. Dr. Ir. Muh. Dassir, M.Si (Sosiologi Antropologi Kehutanan, UNHAS)

14. Prof. Dr. Ir. Samuel A. Paembonan, M.Sc (Silvikultur, UNHAS)

15. Dr. Ir. Ris Hadi Purwanto, M.Agr.Sc. (Manajemen Hutan (Forest carbon/biomass), UGM).

16. Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc F Trop (Ekologi Flora, IPB) 17. Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc (Rehabilitasi eks

tambang, IPB)

18. Naresworo Nugroho, Ph.D (Pengolahan Hasil Hutan, IPB)

19. Dr. Ir. A. Ngalokan Gintings, MS (Hidrologi dan Konservasi Tanah, MKTAI)

20. Dr. Ir. Rudi A Maturbongs, M.Si (Konservasi Biologi, UNIPA)

21. Muhammad Kamal, S.Si., M. GIS., Ph.D (Remote Sensing and GIS, Mapping, Mangrove, Fakultas Geografi, UGM) 22. Dr. Ir. Usman Arsyad, M.S (Perenc. Rehabilitasi Lahan,

UNHAS)

23. Dr. Ir. Andi Sadapotto, M.P. (Serangga dan Hama Hutan, UNHAS)

24. Dr. Ir. Supriyanto, DEA (Teknologi Benih, IPB)

25. Dr. Sapto Indrioko S.Hut. M.P (Pemuliaan Pohon, UGM) 26. Dr. rer. silv. Muhammad Ali Imron, S.Hut, M.Sc (Ekologi

dan Konservasi Satwa Liar, UGM)

27. Prof. Dr. Husna (Fungi Mikoriza Arbuskula (Silvikultur), UHO)

28. Prof. Dr. E. K. S. Harini Muntasib (Ekowisata, IPB).

29. Dr. Efi Yuliati Yovi, SHut, M.Life.Env.Sc (Manajemen Hutan, IPB)

30. Dr. Dra. Dida Syamsuwida, M.Sc, (Silvikultur, BP2TPTH).

31. Dr. Risma Illa Maulany, S.Hut M. Natresst (Pengelolaan Satwa Liar, UNHAS).

32. Dr. Ir. Ronggo Sadono (Biometrika dan Pemodelan, Manajemen Hutan, UGM)

33. Dr. Nunung Puji Nugroho, S.Hut, M.Sc (Geografi (Applied RS/GIS, Forest Biomass, Watershed), BP2TPDAS)

34. Ratih Damayanti, S.Hut, M.Si, P.Hd (Anatomi dan kualitas lignoselulosa, ilmu kayu, P3HH)

35. Dr. Ir. Leti Sundawati, MSc (Sosial Ekonomi Kehutanan, IPB)

36. Dr. drh. Riza Zainuddin Ahmad, M.Si (Mikologi, BBP Veteriner)

(2)

2

37. Dr. Nuraeni Ekowati, MS (Mikologi, Fitopatologi (Penyakit tumbuhan akibat serangan patogen), UNSOED)

38. Dr. Iman Hidayat (Deteksi Molekuler dan Diagnosis Patogen Tanaman, LIPI)

39. Dr. Ir. Murniati, M.Si (Teknologi Agroforestry, P3H) 40. Dr. Dra. Khursatul Munibah, M.Sc (Geoinformasi

Sumber Daya Lahan)

41. Dr. Hero Marhaento, S.Hut., M.Si. (Konservasi Sumber Daya Hutan, Hidrologi DAS, Pengelolaan Kawasan Konservasi)

42. Dr. Ir. Hendrayanto, M.Agr (Hidrologi Hutan Pengelolaan DAS)

43. Dr.Ir. Ambar Kusumandari, M.E.S. (Konservasi tanah dan air, Pengelolaan DAS)

44. Dra. Yuzammi, M.Sc. (Taksonomi dan sistematika Araceae)

45. Dr. Sutomo, M.Sc (Ekologi)

46. Dr. Tri Atmoko, S.Hut. M.Si (Konservasi dan Ekologi Satwa Liar, Primatologi)

47. Dr. Yanto Rochmayanto S.Hut.,M.Sc (Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan)

48. Prof. Dr. Ir. Wahyu Andayani M.S. (Ekonomi Kehutanan)

49. Dr. Abdul Razak Munir, SE, M.Si, M.Mktg (Ekonomi dan Pemasaran Bisnis

Redaksi Pelaksana (Managing Editor) :

Ketua (Chairman) : Ir. Turbani Munda, M.Hut (Kepala Seksi Data, Informasi dan Kerjasama) Anggota (Members) : 1. Masrum

2. Siti Amaliyah Fatman, S. Komp. 3. Jumain, S.E.

4. Wahidah Y, S.E. 5. Muhammad Taufiq Hidayat Diterbitkan oleh (Published by):

Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar (Environment and Forestry Research and Development Institute of Makassar)

Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi (Research, Development and Innovation Agency)

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (Ministry of Environment and Forestry of Indonesia) Alamat (Address): Jalan Perintis kemerdekaan Km. 16 Makassar 90243, Sulawesi Selatan, Indonesia

Telepon (Phone) : +62-411-554049; Faks (Fax) : +62-411-554058 E-mail : [email protected] OJS : http://jurnal.balithutmakassar.org

©JPKW-2021. Open access under CC BY-NC-SA license.

(3)

Foreword |

I PENGANTAR REDAKSI

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea (JPK Wallacea) adalah publikasi ilmiah hasil penelitian bidang kehutanan dengan No. ISSN 2302-299X (Print) dan No. eISSN 2407-7860 (Elektronik) dengan Digital Object Identifier (DOI) Prefix: 10.18330.

Syukur alhamdulillah Vol. 10 No. 2 JPK Wallacea ini telah terbit pada tanggal 25 Agustus 2021 secara online dan merupakan terbitan ke-duabelas melalui submission online. Pada terbitan kali ini terdapat 8 (delapan) naskah dengan institusi asal penulis cukup beragam, seperti; Institut Pertanian Bogor (IPB), Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan, PT. POMI - Paiton Energy, Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar, dan Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Univ. K. A. Wacana NTT.

Pada terbitan kali ini redaksi menyajikan tema cukup penting dan bersentuhan langsung dengan kehidupan kita yakni terkait karbon hutan. Terdapat 2 artikel, salah satunya dengan judul Keanekaragaman Tumbuhan dan Simpanan Karbon Tegakan di Wana Wisata Tampora, Situbondo, Jawa Timur. Latar belakang penelitian ini adalah bahwa degradasi hutan dan perkembangan industri memberikan dampak negatif bagi iklim global. Tegakan vegetasi hutan sangat berperan dalam penyerapan emisi CO

2

di udara sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas vegetasi, indeks keanekaragaman tumbuhan, dan simpanan karbon tegakan di Wana Wisata Tampora. Hasil penelitian akan bermanfaat bagi pemerintah daerah sebagai dasar dalam pengembangan Wana Wisata Tampora dan pengelolaan keanekaragaman hayati. Artikel lainnya yang masih terkait karbon hutan adalah Estimasi Stok Karbon pada Tiga Tipe Reklamasi Bekas Tambang Batubara di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Keberhasilan suatu proses reklamasi dapat dievaluasi dengan menghitung stok karbon di kawasan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui nilai stok karbon pada tiga tipe kawasan reklamasi pasca tambang batubara dan membandingkannya dengan kawasan hutan alam sebagai area referensi.

Tema lain yang tidak kalah menariknya adalah terkait pengelolaan taman nasional.

Terdapat 2 artikel yaitu; Daya Saing Wisata pada Wilayah Zona Pemanfaatan Taman Nasional di Indonesia. Indonesia memiliki daya tarik wisata alam pada zona pemanfaatan taman nasional yang tersebar di wilayah kabupaten dan kota di nusantara. Zona pemanfaatan ini memiliki endowment dan added value berupa atraksi keragaman ekosistem khas Indonesia.

Zona pemanfaatan taman nasional memerlukan unsur pelancar berupa daya saing wisata di wilayah kabupaten dan kotanya agar lebih mudah diakses oleh wisatawan terutama dari mancanegara dan untuk memudahkan wisatawan memenuhi kebutuhannya selama berwisata.

Artikel kedua adalah Upaya Peningkatan Jumlah Pengunjung Ekowisata Seven Wonders di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Melalui Paket Wisata. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN. Babul) memiliki tujuh kawasan wisata unggulan yang biasa disebut seven wonders. Masing-masing kawasan memiliki daya tarik yang sebagian besar merupakan wisata minat khusus. Kawasan Bantimurung merupakan salah satu objek wisata seven wonders yang paling banyak dikunjungi wisatawan, sementara kawasan lainnya relatif belum dikenal secara luas.

Isu penting lainnya terkait Silvikultur yakni Penggunaan Buffer Alternatif untuk Isolasi

DNA Genomik pada Tanaman Hutan. Optimasi prosedur dapat dilakukan terhadap jenis

larutan buffer yang digunakan atau dari teknik penanganan fisik dalam pelaksanaan ekstraksi

pada tanaman kehutanan pada pemisahan Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) genom dari senyawa

lain. Penelitian ini menggunakan tiga jenis buffer yaitu: 1) CTAB, 2) Deterjen mengandung

surfaktan Alkyl Benzene Sulfonate (ABS) dan 3) Deterjen mengandung surfaktan Sodium

Laureth Sulphate (SLS). Tujuan penelitian adalah untuk menentukankan metode isolasi DNA

yang optimal dengan menggunakan buffer alternatif pengganti CTAB secara optimal, serta

untuk mempermudah isolasi DNA di daerah-daerah terpencil yang umumnya sulit

memperoleh CTAB untuk menghasilkan DNA genom yang berkualitas baik serta jumlah DNA

(4)

| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 10 (2): August 2021

II

yang memadai sesuai kepentingan kajian yang berbasis DNA pada tanaman kehutanan.

Tema lain terkait penggunaan kompos yakni Perbandingan Efektivitas Kompos Limbah Pulp dengan Tiga Dekomposer Berbeda terhadap Pertumbuhan Bibit Geronggang (Cratoxylon arborescens). Limbah pulp dari pengolahan limbah cair dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos, namun memiliki nisbah C/N tinggi sehingga perlu pengomposan untuk menurunkan nisbah C/N-nya. Studi ini bertujuan untuk menguji efektivitas kompos limbah pulp yang diperkaya dengan tiga jamur pengurai berbeda terhadap pertumbuhan bibit geronggang (Cratoxylum arborescens) di tanah gambut.

Tema lain yang masih ada kaitannya dengan tema di atas adalah Faktor Penyebab Kematian Semai Kabesak di Hutan Tropis Gugur Daun Pulau Timor. Tingkat regenerasi kabesak (Acacia leucophloea) di hutan primer Pulau Timor didominasi oleh pohon dibanding semai dan sapling. Suplai semai dan sapling sangat penting untuk mengatur atau mempertahankan populasi tumbuhan dan adaptasinya terhadap perubahan lingkungan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh naungan, herbivor dan tinggi semai pada saat mengalami kekeringan terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan semai kabesak di hutan alam di Pulau Timor.

Topik lain yang sarat dengan informasi obat adalah Studi Potensi Obat Koleksi Tumbuhan Paku Kebun Raya Purwodadi. Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan kelompok tumbuhan tertua di bumi yang memiliki lebih dari 11.000 jenis. Studi etnobotani dan farmakologi telah mengungkap bahwa tumbuhan paku mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi obat. Kebun Raya Purwodadi (KR Purwodadi) memiliki koleksi tumbuhan paku yang selama ini belum diungkap informasi potensi obatnya. Penelitian ini dilakukan untuk menginventarisasi koleksi tumbuhan paku KR Purwodadi yang berpotensi sebagai obat dan mengetahui status konservasinya.

Pada kesempatan ini, kami atas nama pengelola JPK Wallacea mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada mitra bestari (peer reviewers) dan editor yang telah menelaah naskah pada terbitan ini, sebagai berikut:

1. Prof. Dr. Ir. Y. Purwanto DEA (Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Bogor).

2. Dr. Sapto Indrioko S.Hut. M.P (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta).

3. Dr. Risma Illa Maulany, S.Hut M. Natresst (Universitas Hasanuddin, Makassar).

4. Dr. Dra. Dida Syamsuwida, M.Sc (Balai Litbang Teknologi Perbenihan Hutan, Bogor).

5. Prof. Dr. E. K. S. Harini Muntasib (Institut Pertanian Bogor (IPB), bogor).

6. Dr. Ir. Ris Hadi Purwanto, M.Agr. Sc. (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta).

7. Prof. Dr. Husna (Universitas Halu Oleo, Kendari).

8. Dr. Retno Prayudyaningsih, S.Si. M.Sc (Balai Litbang LHK Makassar (BP2LHK), Makassar).

9. Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc F Trop (Institut Pertanian Bogor (IPB), bogor).

10. Prof. Dr. Ir. Muhammad Restu, M.P. (Universitas Hasanuddin, Makassar).

11. Prof. Dr. Ir. Daud Malamassam, M.Agr (Universitas Hasanuddin, Makassar).

12. Dr. Yanto Rochmayanto S.Hut.,M.Sc (Pusat Litbang Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim, Bogor).

13. Dr. Ir. Ronggo Sadono (Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta).

14. Dr. Ir. Murniati, M.Si (Pusat Litbang Hutan, Bogor).

Semoga publikasi ini dapat bermanfaat dan berkontribusi dalam peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Makassar, Agustus 2021

Ketua Dewan Redaksi

(5)

Table of Contents |

III

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea

p

ISSN 2302-299X eISSN 2407-7860 Vol.10 No.2, Agustus 2021

Akreditasi KEMENRISTEKDIKTI:

36b/E/KPT/2016 Akreditasi LIPI:

764/AU1/P2MI-LIPI/10/2016 DAFTAR ISI (Table of Contents)

Trimanto, Lia Hapsari, Titut Yulistyarini, Sugeng Budiharta, Setyawan Agung Danarto, Shofiyatul Mas'udah, Janis Damaiyani, Rachmawan Adi Laksono,

Nurlaily Lavianti, Bekti Yunanto ... 103-116 KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN DAN SIMPANAN KARBON TEGAKAN DI

WANA WISATA TAMPORA, SITUBONDO, JAWA TIMUR

(Vegetation diversity and stand carbon stocks in Wana Wisata Tampora, Situbondo, East Java)

Imam Mahadi, Zulfarina, Megawati Anggraini ... 117-130 PENGGUNAAN BUFFER ALTERNATIF UNTUK ISOLASI DNA GENOMIK PADA

TANAMAN HUTAN

(Using alternative buffer for DNA genomic isolation in forest trees)

Siti Wahyuningsih, Agus Winarsih, Lolia Santi ... 131-143 PERBANDINGAN EFEKTIVITAS KOMPOS LIMBAH PULP DENGAN TIGA

DEKOMPOSER BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT GERONGGANG (Cratoxylon arborescens)

(Comparison of pulp sludge compost effectivity of three different decomposers to the growth of geronggang (Cratoxylon arborescens) seedlings)

Fauziah Eddyono, Dudung Darusman, Ujang Sumarwan, Tutut Sunarminto ... 145-164 DAYA SAING WISATA PADA WILAYAH ZONA PEMANFAATAN TAMAN

NASIONAL DI INDONESIA

(Tourism competitiveness on the utilization zone of National Park in Indonesia)

Indah Novita Dewi, Nur Hayati ... 165-176 UPAYA PENINGKATAN JUMLAH PENGUNJUNG EKOWISATA SEVEN WONDERS

DI TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG MELALUI PAKET WISATA

(Efforts to increase visitors of seven wonders ecotourism in Bantimurung Bulusaraung National Park through tourism package)

Arnold C. Hendrik, Novi I. Bullu ... 177-187 FAKTOR PENYEBAB KEMATIAN SEMAI KABESAK (Acacia leucophloea Roxb.

Willd.) DI HUTAN TROPIS GUGUR DAUN PULAU TIMOR

(Factors causing the death of Kabesak (Acacia leucophloea Roxb. Willd.) seedlings in the monsoon tropical forest of Timor Island)

Fauziah, Abban Putri Fiqa, Dewi Ayu Lestari, Sugeng Budiharta ... 189-197 ESTIMASI STOK KARBON PADA TIGA TIPE REKLAMASI BEKAS TAMBANG

BATUBARA DI KABUPATEN KUTAI TIMUR, KALIMANTAN TIMUR

(Carbon-stock estimation in three types of coal post-mining reclamation at East Kutai Regency, East Kalimantan)

Elga Renjana, Muhamad Nikmatullah... 199-209 STUDI POTENSI OBAT KOLEKSI TUMBUHAN PAKU KEBUN RAYA PURWODADI

(Study of drugs potential of fern collections at Purwodadi Botanic Gardens)

(6)

| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 10 (2): August 2021

IV

(7)

Abstract Sheet |

V

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea

p

ISSN 2302-299X eISSN 2407-7860 Vol. 10 No.2, Agustus 2021

Akreditasi KEMENRISTEKDIKTI:

36b/E/KPT/2016 Akreditasi LIPI:

764/AU1/P2MI-LIPI/10/2016 Kata kunci bersumber dari artikel. Lembar abstrak ini boleh difotokopi tanpa izin dan biaya

Trimanto, Lia Hapsari, Titut Yulistyarini, Sugeng Budiharta, Setyawan Agung Danarto, Shofiyatul Mas'udah, Janis Damaiyani, Rachmawan Adi Laksono (Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi), Nurlaily Lavianti, Bekti Yunanto (PT. POMI - Paiton Energy).

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN DAN SIMPANAN KARBON TEGAKAN DI WANA WISATA TAMPORA, SITUBONDO, JAWA TIMUR

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 No.2, Agustus 2021, hlm: 103 - 116 Abstrak

Degradasi hutan dan perkembangan industri memberikan dampak negatif bagi iklim global.

Tegakan vegetasi hutan sangat berperan dalam penyerapan emisi CO2 di udara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas vegetasi, indeks keanekaragaman tumbuhan, dan simpanan karbon tegakan di Wana Wisata Tampora, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Penelitian dilakukan dengan metode transek dan menghitung indeks keanekaragaman tumbuhan meliputi indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’), indeks kekayaan (R) dan indeks kemerataan (E), sedangkan penghitungan estimasi simpanan karbon dilakukan menggunakan persamaan allometrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai H’ pada strata tumbuhan bawah tergolong tinggi (3,18) sedangkan untuk pancang dan pohon tergolong sedang (2,68 dan 2,60). Hasil estimasi simpanan karbon tegakan menunjukkan nilai rata-rata 145,94 ton/ha. Jenis-jenis tumbuhan dengan Indeks Nilai Penting (INP) dan penyumbang karbon tinggi antara lain Schleichera oleosa (83,97 dan 56,49 ton/ha), Lannea coromandelica (58,88 dan 32,35 ton/ha), Tectona grandis (24,72 dan 8,5 ton/ha), Azadirachta indica (20,72 dan 8,27 ton/ha), dan Acacia nilotica (9,40 dan 8,39 ton/ha). Hasil penelitian akan bermanfaat bagi pemerintah daerah sebagai dasar dalam pengembangan Wana Wisata Tampora dan pengelolaan keanekaragaman hayati.

Kata Kunci: Flora, stok karbon, vegetasi, Tampora

Imam Mahadi, Zulfarina, Megawati Anggraini (Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau)

PENGGUNAAN BUFFER ALTERNATIF UNTUK ISOLASI DNA GENOMIK PADA TANAMAN HUTAN Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 No.2, Agustus 2021, hlm: 117 - 130

Abstrak

Optimasi prosedur dapat dilakukan terhadap jenis larutan buffer yang digunakan atau dari teknik penanganan fisik dalam pelaksanaan ekstraksi pada tanaman kehutanan pada pemisahan Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) genom dari senyawa lain. Penelitian ini menggunakan tiga jenis buffer yaitu: 1) CTAB, 2) Deterjen mengandung surfaktan Alkyl Benzene Sulfonate (ABS) dan 3) Deterjen mengandung surfaktan Sodium Laureth Sulphate (SLS). Tujuan penelitian adalah untuk menentukankan metode isolasi DNA yang optimal dengan menggunakan buffer alternatif pengganti CTAB secara optimal, serta untuk mempermudah isolasi DNA di daerah-daerah terpencil yang umumnya sulit memperoleh CTAB untuk menghasilkan DNA genom yang berkualitas baik serta jumlah DNA yang memadai sesuai kepentingan kajian yang berbasis DNA pada tanaman kehutanan. Parameter yang diukur pada penelitian yaitu keberadaan DNA dan konsentrasi DNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolasi DNA 12 spesies tanaman hutan berhasil dilakukan dengan baik menggunakan buffer CTAB dan deterjen mengandung surfaktan Alkyl Benzene Sulfonate (ABS) sedangkan untuk buffer deterjen mengandung surfaktan Sodium Laureth Sulphate (SLS) tidak berhasil dilakukan. Hal ini dibuktikan dengan terlihatnya fiber atau benang putih pada supernatan setelah pemberian isopropanol yang kemudian dibuktikan dengan visualisasi pita DNA genomik dari hasil elektroforesis dan hitungan nanodrop spektrofotometer.

Kuantitas DNA (konsentrasi DNA) tertinggi terdapat pada 19 sampel tanaman yang menggunakan buffer

(8)

| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 10 (2): August 2021

VI

CTAB dan deterjen surfaktan ABS dengan konsentrasi sebesar 1.403,8 – 3.412,7 ng/µl. Dapat disimpulkan bahwa selain buffer CTAB, buffer deterjen surfaktan ABS juga dapat digunakan sebagai buffer alternatif untuk isolasi DNA pada tanaman kehutanan.

Kata kunci: Buffer, Isolasi DNA, Konsentrasi DNA, Optimasi

Siti Wahyuningsih, Agus Winarsih, Lolia Santi (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan).

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS KOMPOS LIMBAH PULP DENGAN TIGA DEKOMPOSER BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT GERONGGANG (Cratoxylon arborescens)

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 No.2, Agustus 2021, hlm: 131 - 143

Abstrak

Limbah pulp dari pengolahan limbah cair dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos, namun memiliki nisbah C/N tinggi sehingga perlu pengomposan untuk menurunkan nisbah C/N-nya. Studi ini bertujuan untuk menguji efektivitas kompos limbah pulp yang diperkaya dengan tiga jamur pengurai berbeda terhadap pertumbuhan bibit geronggang (Cratoxylum arborescens) di tanah gambut.

Pengomposan limbah pulp dilakukan selama sebulan dengan menggunakan 3 jenis pengurai, yaitu Phanerochaete chrysosporium (C), Penicillium citrinum dan Penicillium oxalicum (CO), dan P.

chrysosporium, P. citrinum dan P. oxalicum (CC0). Kompos ditimbang dan diaplikasikan pada pangkal akar tanaman dengan dosis setara 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14 dan 16 ton ha-1. Pengamatan tinggi dan diameter bibit dilakukan selama enam bulan. Data dianalisis menggunakan ANOVA diikuti dengan DMRT pada signifikansi 5%. Kompos limbah pulp yang digunakan dalam penelitian ini memiliki CN ratio, N total (%), P2O5 (%) dan K2O (%) berturut-turut 40,2-44,5; 1,04-1,11; 1,05-1,13; 1,05-1,13. Secara statistik, pertumbuhan tinggi bibit geronggang yang diaplikasi kompos dengan dekomposer CO berbeda nyata dengan CCO. Namun, pertumbuhan tinggi tidak berbeda nyata pada perlakuan variasi dosis kompos.

Pertambahan diameter bibit pada perlakuan CO dengan dosis setara 6 dan 12 ton ha-1 berbeda nyata terhadap perlakuan CCO pada dosis setara 12 ton ha-1. Namun, pertambahan diameter bibit tidak berbeda nyata pada variasi jenis dekomposer. Kajian ke depan untuk mendapatkan kompos limbah pulp sesuai SNI dapat dilakukan.

Kata kunci: Limbah pulp, kompos, dekomposer, geronggang

Fauziah Eddyono (Program Studi Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan, IPB), Dudung

Darusman (Departemen Manajemen Hutan, IPB), Ujang Sumarwan (Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, IPB), Tutut Sunarminto (Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, IPB).

DAYA SAING WISATA PADA WILAYAH ZONA PEMANFAATAN TAMAN NASIONAL DI INDONESIA Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 No.2, Agustus 2021, hlm: 145 - 164

Abstrak

Indonesia memiliki daya tarik wisata alam pada zona pemanfaatan Taman Nasional yang tersebar di wilayah kabupaten dan kota di Nusantara. Zona pemanfaatan Taman Nasional memiliki kondisi lingkungan yang mendukung dan sangat berpotensi untuk pengembangan pariwisata alam, khususnya ekowisata. Zona pemanfaatan ini memiliki endowment dan added value berupa atraksi keragaman ekosistem khas Indonesia. Zona pemanfaatan Taman Nasional memerlukan unsur pelancar berupa daya saing wisata di wilayah kabupaten dan kotanya agar lebih mudah diakses oleh wisatawan terutama dari mancanegara dan untuk memudahkan wisatawan memenuhi kebutuhannya selama berwisata.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas potensi faktor daya saing wisata dalam mendukung aktivitas wisata di 54 wilayah zona pemanfaatan Taman Nasional. Desain penelitian ini menggunakan 20 faktor daya saing wisata. Data dianalisis dengan metode analisis klaster dan skala multidimensional, serta pendekatan metode Importance Performance Analysis (IPA). Penelitian ini menemukan 3 klaster wilayah berdasarkan karakteristik potensi daya saing wisatanya, yaitu klaster wilayah luar Pulau Jawa dan Bali, klaster wilayah Pulau Jawa, dan klaster wilayah Bali. Berdasarkan efektifitas potensi daya saing, masing-masing klaster dapat diklasifikasian menurut skala prioritas pembangunan dan pengembangan daya saing wisatanya. Oleh karena itu, perlu diusulkan kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah, manajemen Taman Nasional, dan pihak yang berkepentingan

(9)

Abstract Sheet |

VII

lainnya untuk melakukan inovasi kebijakan melalui mekanisme tata kelola Destination Management Organization (DMO) dalam upaya mengoptimalkan faktor-faktor daya saing wisata di wilayahnya, sehingga wilayah tersebut kompetitif dan berkelanjutan.

Kata kunci: Ekowisata, pariwisata, klaster wilayah

Indah Novita Dewi, Nur Hayati (Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar).

UPAYA PENINGKATAN JUMLAH PENGUNJUNG EKOWISATA SEVEN WONDERS DI TAMAN NASIONAL BANTIMURUNG BULUSARAUNG MELALUI PAKET WISATA

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 No.2, Agustus 2021, hlm: 155 - 176 Abstrak

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN. Babul) memiliki tujuh kawasan wisata unggulan yang biasa disebut seven wonders. Masing-masing memiliki daya tarik yang sebagian besar merupakan wisata minat khusus. Sebaran jumlah pengunjung dari tujuh kawasan wisata belum merata. Kawasan Bantimurung merupakan objek wisata seven wonders yang paling banyak dikunjungi wisatawan, sementara yang lainnya relatif belum dikenal secara luas. Tujuan penelitian ini adalah menyusun strategi untuk meningkatkan jumlah pengunjung di TN. Babul melalui paket ekowisata seven wonders yang bernilai jual tinggi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan dilakukan Maret 2018 sampai Desember 2019. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Analisis data dilakukan secara bertahap. Penggambaran kondisi objek wisata seven wonders dilakukan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Penyusunan strategi pengembangan ekowisata seven wonders yang dapat meningkatkan jumlah pengunjung dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan identifikasi faktor internal (Strength, Weakness) dan eksternal (Opportunity, Threat). Salah satu hasil identifikasi faktor internal dan eksternal menunjukkan bahwa strategi pengembangan ekowisata seven wonders dapat dilakukan dengan menyusun paket-paket wisata. Paket wisata yang dirancang adalah: Paket wisata keluarga terdiri dari Bantimurung, Leang-Leang, dan Pattunuang; Paket wisata edukasi terdiri dari Bantimurung (Sanctuary kupu-kupu), Leang-Leang, Pattunuang, Karaenta; Paket wisata petualangan menantang terdiri dari Pattunuang-Leang Pute; dan Paket wisata keluarga terdiri dari Leang Londrong-Pegunungan Bulusaraung. Pengklasteran paket wisata berdasarkan kedekatan lokasi, daya tarik wisata, pengombinasian objek-objek wisata yang jumlah pengunjungnya banyak dan sedikit, serta segmen pengunjung. Keempat paket wisata dapat berhasil jika berkolaborasi dengan pihak terkait, promosi pada pasar dan media yang tepat serta menarik.

Kata kunci: Analisis deskriptif kualitatif, kolaborasi, objek wisata, strategi pengembangan ekowisata Arnold C. Hendrik, Novi I. Bullu (Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Univ. K. A. Wacana, NTT).

FAKTOR PENYEBAB KEMATIAN SEMAI KABESAK (Acacia leucophloea Roxb. Willd.) DI HUTAN TROPIS GUGUR DAUN PULAU TIMOR

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 No.2, Agustus 2021, hlm: 177 - 187 Abstrak

Tingkat regenerasi kabesak (Acacia leucophloea) di hutan primer Pulau Timor didominasi oleh pohon dibanding semai dan sapling. Suplai semai dan sapling sangat penting untuk mengatur atau mempertahankan populasi tumbuhan dan adaptasinya terhadap perubahan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh naungan, herbivor dan tinggi semai pada saat mengalami kekeringan terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan semai kabesak di hutan alam di Pulau Timor. Penelitian dilakukan pada musim kemarau yaitu dari Bulan Juli sampai Desember 2020. Tahapan dalam penelitian ini meliputi penentuan lokasi penelitian dan pemilihan semai kabesak yang tumbuh di alam, penandaan dan pengukuran tinggi semai kabesak yang telah dipilih. Pengumpulan data dilakukan delapan kali dengan interval waktu 3 minggu, meliputi jumlah semai yang mati dan jumlah daun untuk semai yang bertahan hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naungan dapat mengurangi efek kekeringan sehingga meningkatkan kesintasan semai di habitat alami hutan tropis gugur daun. Selain faktor naungan, faktor tinggi semai pada saat mengalami kekeringan juga mempengaruhi kesintasan semai kabesak, yang mana semai dengan tinggi 15 cm atau lebih tidak ada yang mengalami kematian.

(10)

| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 10 (2): August 2021

VIII

Herbivor dalam penelitian ini diketahui bukan penyebab utama kematian semai. Untuk memastikan kesintasan semai kabesak di habitat alaminya maka sebaiknya menghindarkan semai kabesak < 15 cm dari efek kekeringan dalam jangka waktu panjang, herbivor, dan kebakaran.

Kata kunci: Kesintasan semai, kekeringan, naungan, herbivor, kabesak

Fauziah, Abban Putri Fiqa, Dewi Ayu Lestari, Sugeng Budiharta (Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi).

ESTIMASI STOK KARBON PADA TIGA TIPE REKLAMASI BEKAS TAMBANG BATUBARA DI KABUPATEN KUTAI TIMUR, KALIMANTAN TIMUR

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 No.2, Agustus 2021, hlm: 189 - 197 Abstrak

Keberhasilan suatu proses reklamasi dapat dievaluasi dengan menghitung stok karbon di kawasan tersebut. Stok karbon merupakan salah satu bentuk jasa ekosistem yang dapat dinilai secara kuantitatif.

Oleh karena itu, perlu kajian pada proses reklamasi di area pasca tambang batubara di Kalimantan Timur dan membandingkannya dengan area referensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai stok karbon pada tiga tipe kawasan reklamasi pasca tambang batubara (Tipe A: tanpa pohon naungan, Tipe B: dengan satu spesies pohon naungan, Tipe C: dengan lebih dari satu spesies pohon naungan), dan membandingkannya dengan kawasan hutan alam sebagai area referensi. Penelitian dilakukan dengan membuat plot di dalam area referensi dan di area reklamasi, untuk tegakan tingkat pohon, tiang, dan pancang. Analisis dilakukan secara deskriptif dan statistik untuk tiap tipe reklamasi mengacu pada kawasan konservasi sebagai area referensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reklamasi tipe C, dengan usia tanam yang lebih tua, memiliki stok karbon yang lebih tinggi dari pada tipe B dan tipe A yaitu berturut-turut: 51,9 t C/ha, 37,8 t C/ha dan 2,9 t C/ha. Namun cadangan karbon di ketiga tipe kawasan reklamasi tersebut masih jauh lebih rendah bila dibandingkan kawasan konservasi yang mencapai 296,8 t C/ha. Dengan demikian, semakin tua dan beragam spesies yang ditanam pada suatu tanaman di areal reklamasi, semakin tinggi simpanan karbon yang disimpan. Selain itu, penanaman pohon naungan juga dapat membantu meningkatkan nilai simpanan karbon pada suatu kawasan reklamasi.

Kata kunci: Area reklamasi, area referensi, jasa layanan lingkungan, stok karbon

Elga Renjana (Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi), Muhamad Nikmatullah (Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-LIPI).

STUDI POTENSI OBAT KOLEKSI TUMBUHAN PAKU KEBUN RAYA PURWODADI Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 No.2, Agustus 2021, hlm: 199 - 209 Abstrak

Tumbuhan paku (Pteridophyta) merupakan kelompok tumbuhan tertua di bumi yang memiliki lebih dari 11.000 jenis. Studi etnobotani dan farmakologi telah mengungkap bahwa tumbuhan paku mengandung senyawa metabolit sekunder yang berpotensi obat. Kebun Raya Purwodadi (KR Purwodadi) memiliki koleksi tumbuhan paku yang selama ini belum diungkap informasi potensi obatnya. Penelitian ini dilakukan untuk menginventarisasi koleksi tumbuhan paku KR Purwodadi yang berpotensi sebagai obat dan mengetahui status konservasinya. Inventarisasi koleksi tumbuhan paku dilakukan dengan mengumpulkan data di Unit Registrasi dan pengamatan secara langsung di lapangan, sedangkan informasi potensi obat diperoleh dengan metode kajian pustaka. Terdapat 31 jenis dari 171 spesimen koleksi tumbuhan paku KR Purwodadi diketahui berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit, baik secara pengobatan tradisional maupun hasil penelitian. Sebanyak 6 jenis koleksi tumbuhan paku yang berpotensi obat termasuk dalam IUCN Red List dengan kategori risiko rendah (least concern/LC) dan kritis (critically endangered/CR). Adapun potensi obat koleksi tumbuhan paku tersebut di antaranya adalah sebagai anti-oksidan, anti-inflamasi, anti-mikroba, anti-virus, dan anti- kanker. Informasi potensi obat ini diharapkan dapat meningkatkan nilai fungsi tumbuhan paku dan upaya konservasinya.

Kata kunci: Inventarisasi, tumbuhan paku obat, tumbuhan terapi, pteridophyta

(11)

Abstract Sheet |

IX

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea

p

ISSN 2302-299X eISSN 2407-7860 Vol. 10, Issue 2, August 2021

Accreditation Number (KEMENRISTEKDIKTI):

36b/E/KPT/2016 Accreditation Number (LIPI):

764/AU1/P2MI-LIPI/10/2016 The keywords noted here are the words which represent the concept applied in a writing.

These abstracts are allowed to copy without permission from the publisher and free of charge.

Trimanto, Lia Hapsari, Titut Yulistyarini, Sugeng Budiharta, Setyawan Agung Danarto, Shofiyatul Mas'udah, Janis Damaiyani, Rachmawan Adi Laksono (Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi), Nurlaily Lavianti, Bekti Yunanto (PT. POMI - Paiton Energy).

VEGETATION DIVERSITY AND STAND CARBON STOCKS IN WANA WISATA TAMPORA, SITUBONDO, EAST JAVA

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 Issue 2, August 2021, page: 103 - 116

Abstract

Forest degradation and industrial development have a negative impact on the global climate. Forest vegetation plays a role in absorbing CO2 emissions in the air. The aims of this research are to determine vegetation community structure, plant diversity indices, and estimation of stands carbon stocks in Wana Wisata Tampora, Situbondo district, East Java. The research was conducted using the transect method and measured the diversity indices including Shannon-Wiener diversity index (H'), richness index (R) and evenness index (E), while the carbon stock was estimated using an allometric equation. The results showed that the diversity index value at the ground cover layer was considered high (3.18), while saplings and trees were moderate (2.68 and 2.60). The results of the stands carbon stocks estimation have shown an average value of 145.94 tonnes/ha. Plant species with high Important Value Index (IVI) and carbon contributor including Schleichera oleosa (83.97 and 56.49 ton/ha), Lannea coromandelica (58.88 and 32.35 ton/ha), Tectona grandis (24.72 and 8.5 ton/ha), Azadirachta indica (20.72 and 8.27 ton/ha), and Acacia nilotica (9.40 and 8.39). The results of the research will be useful for local governments as the basis for the development of Wana Wisata Tampora and the management of flora biodiversity.

Keywords: Flora, carbon stock, vegetation, Tampora

Imam Mahadi, Zulfarina, Megawati Anggraini (Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau)

USING ALTERNATIVE BUFFER FOR DNA GENOMIC ISOLATION IN FOREST TREES Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 Issue 2, August 2021, page: 117 - 130 Abstract

DNA optimization procedures can be carried out on the type of buffer used during extraction or physical handling techniques in separating genomic DNA from other compounds. The research using Three types of buffer: 1. CTAB, 2. Detergents containing Alkyl Benzene Sulfonate (ABS) surfactants and Three Detergents containing Sodium Laureth Sulphate (SLS) surfactants. This study aims to obtain an optimal DNA isolation method to produce genomic DNA of good quality and sufficient quantity so that it can be used for genetic diversity analysis in forest tree and to determine the optimal alternative buffer for CTAB to facilitate DNA isolation in remote areas, which generally hard to get CTAB. The parameters measured in this study were the presence of DNA and DNA concentration. The results showed that DNA isolation of 12 species of forest trees was successfully carried out using CTAB buffer and Detergent containing ABS surfactants by visualizing the genomic DNA bands from the results of the electrophoresis and Nanodrop spectrophotometer meanwhile Detergent containing SLS surfactants buffer was not successful in DNA isolation. The highest DNA quantity (DNA concentration) was found in 19 samples using CTAB buffer and the detergent containing ABS surfactants buffer with a concentration of 1403,8 - 3412,7 ng/µl. The conclusion of this study was CTAB buffer and the the Detergent containing ABS surfactants can also be used as an alternative to a simple buffer for DNA isolation experiments.

Keywords: Buffer, DNA isolation, DNA concentration, optimization

(12)

| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 10 (2): August 2021

X

Siti Wahyuningsih, Agus Winarsih, Lolia Santi (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Serat Tanaman Hutan).

COMPARISON OF PULP SLUDGE COMPOST EFFECTIVITY OF THREE DIFFERENT DECOMPOSERS TO THE GROWTH OF GERONGGANG (Cratoxylon arborescens) SEEDLINGS

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 Issue 2, August 2021, page: 131 - 143 Abstract

Pulp residue from liquid waste processing is suitable for compost materials, except for its high CN ratio so it needs composting to reduce the CN ratio. Geronggang is a native peat swamp species suitable for peat rehabilitation. The study aims to test pulp sludge compost quality enriched with three different decomposers to the growth of geronggang (Cratoxylum arborescens) seedlings. The sludge composting was incubated for a month using three species of decomposers, i.e., Phanerochaete chrysosporium (C), Penicillium citrinum and Penicillium oxalicum (CO), P. chrysosporium, P. citrinum and P. oxalicum (CCO).

The compost is weighed and placed around the seedling's roots area with varies dosages equal to 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, and 16 ton ha-1. The height and diameter of the seedlings were recorded for six months. Data was examined using ANOVA followed with DMRT at a 5% significance. The sludge compost in this study has CN ratio, Total N (%), P2O5 (%) and K2O (%) about 40.22-44.5; 1.04-1.11; 1.05-1.13; 1.05-1.13, respectively.

Statistically, the height increment of seedlings after the sludge compost application enriched with the CO was different from the CCO. However, the seedling's height rise was not statistically different at the dosages variation treatment. The raise of seedlings diameter after CO treatment at a dosage equal to 6 and 12 ton ha-1 was significantly different to the CCO at a dosage equal to 12 ton ha-1. However, the rise of seedling's diameter was not significantly different at decomposers' variation treatment. The future study can be aimed to gain compost that meets the national standard.

Keywords: Pulp sludge, compost, decomposers, geronggang

Fauziah Eddyono (Program Studi Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan, IPB), Dudung

Darusman (Departemen Manajemen Hutan, IPB), Ujang Sumarwan (Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, IPB), Tutut Sunarminto (Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, IPB).

TOURISM COMPETITIVENESS ON THE UTILIZATION ZONE OF NATIONAL PARK IN INDONESIA Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 Issue 2, August 2021, page: 145 - 164

Abstract

Indonesia has various natural tourist attractions existed in the utilization zones of National Parks, scattered in regencies and cities within the archipelago. The utilization zone has a supportive environmental condition and very potential for the development of natural tourism, especially ecotourism.

This utilization zone has endowment and added value in the form of attractions of Indonesia's unique ecosystem diversity. The utilization zone of Natural Park requires supporting element in the form of tourism competitiveness in regencies and cities to make them more accessible to tourists, mostly foreign tourists, and also make it easier for tourists to meet their needs while traveling. This study aimed to analyze the effectiveness of tourism competitiveness factors in 54 areas of the utilization zone of National Park. This study design used 20 factors of tourism competitiveness. The data were analyzed using the cluster method and multidimensional scale, as well as the Importance Performance Analysis (IPA) approach. This study found three regional clusters based on the characteristics of the potential for tourism competitiveness, namely the outside regional cluster of Java and Bali Islands, cluster of Java Island, and cluster of Bali region.

Based on the effectiveness of potential for competitiveness, each cluster can be classified as a priority scale for building and developing of tourism competitiveness.Therefore, it is necessary to propose to the central government, local governments, National Park management and other related parties to innovate policies innovations through the Destination Management Organization (DMO) governance mechanism in an effort to optimize tourism competitiveness factors in their regions, so that ecotourism in their regions is competitive and sustainable.

Keywords: Ecotourism, destination, regional cluster

(13)

Abstract Sheet |

XI

Indah Novita Dewi, Nur Hayati (Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan

Kehutanan Makassar).

EFFORTS TO INCREASE VISITORS OF SEVEN WONDERS ECOTOURISM IN BANTIMURUNG BULUSARAUNG NATIONAL PARK THROUGH TOURISM PACKAGE

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 Issue 2, August 2021, page: 165 - 176 Abstract

Bantimurung Bulusaraung National Park (Babul NP.) has seven excellent tourist areas which are commonly called seven wonders. Each has attractions that are mostly special interest tours. The distribution of visitors from seven wonders area has not been evenly distributed. Bantimurung is the most visited by tourists, while others are relatively unknown. The purpose of this research is to develop a strategy to increase the number of visitors in Babul NP. through a high-value seven wonders ecotourism package.

This research was a qualitative research and conducted in March 2018 to December 2019. Data were collected through interviews, observation and literature studies. Data analysis was carried out in stages.

The condition of seven wonders ecotourism were explained by descriptive qualitative analysis. The development strategy to increase the number of visitors was arranged by qualitative descriptive analysis and identification of internal (Strength, Weakness) and external (Opportunity, Threat) factors. One of the results from identification of internal and external factors showed the development strategy could be carried out by arranging tour packages. The tour packages designed are: Family tour package consisting of Bantimurung, Leang-Leang, and Pattunuang; Educational tour package consisting of Bantimurung (Butterfly Sanctuary), Leang-Leang, Pattunuang, Karaenta; Challenging adventure tour package consisting of Pattunuang-Leang Pute; and Family tour package consisting Leang Londrong-Mountains Bulusaraung. The packages arranged based on location, tourism attraction, combination of tourism object with a lot visitors and not, and visitors segmentation. The packages can be successful if they collaborate with related parties, promote the right and attractive markets and media.

Keywords: Qualitative descriptive analysis, collaborate, tourism object, ecotourism development strategy

Arnold C. Hendrik, Novi I. Bullu (Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Univ. K. A. Wacana, NTT).

FACTORS CAUSING THE DEATH OF KABESAK (Acacia leucophloea Roxb. Willd.) SEEDLINGS IN THE MONSOON TROPICAL FOREST OF TIMOR ISLAND

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 Issue 2, August 2021, page: 177 - 187

Abstract

Regeneration of kabesak (Acacia leucophloea) in the primary forest of the Timor Island regenerationis dominated by tree stands than seedlings and saplings. Seedling and sapling supplies are very important for regulating or maintaining plant populations and their adaptation to environmental changes. This study aims to determine the effect of shades, herbivores, and seedlings height on the survival and growth of Kabesak seedlings in natural forests in Timor Island. The research was conducted in dry season, from July to December 2020. The stages in this study were determining the research location and selecting kabesak seedlings that grew in nature, marking and measuring of height of the selected kabesak seedlings. Data collection was done eight times with interval of three weeks including number of dead seedling and number of leaves for live seedlings. The results showed that the presence of shade can reduce the effects of drought, thereby increasing the survival of seedlings in the natural habitat of deciduous tropical forests. Apart from shading factors, seedling height during the dry season also affect the survival of kabesak seedlings, where there was no dead seedling with 15 cm or more height. The herbivores in this study were not found to be the main cause of death for seedlings. To ensure the survival of kabesak seedlings in their natural habitats, it is necessary to avoid kabesak seedlings < 15 cm from the effects of long-term drought, as well as from herbivores and fires.

Keywords: Seedling survival, drought, shade, herbivore, kabesak

(14)

| Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea 10 (2): August 2021

XII

Fauziah, Abban Putri Fiqa, Dewi Ayu Lestari, Sugeng Budiharta (Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi).

CARBON-STOCK ESTIMATION IN THREE TYPES OF COAL POST-MINING RECLAMATION AT EAST KUTAI REGENCY, EAST KALIMANTAN

Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 Issue 2, August 2021, page: 189 - 197

Abstract

Success of a reclamation process could be evaluated by calculating the carbon stocks in the area.

Carbon stock is an ecosystem service that can be assessed quantitatively. The reclamation process in the coal post-mining area in East Kalimantan needs to be assessed by comparing it to the reference area. The aim of this study was to determine the value of carbon stock in the three types of coal post-mining reclamation areas (Type A: without shade trees, Type B: with one species shade trees, Type C: with more than one species shade trees), then compared to the natural forest area used as reference site. The research was carried out by making plots inside the reference site and in the reclamation areas, at the tree, poles, and sapling stages. The results were analyzed descriptively and statistically for each reclamation type refer to the conservation area. The results showed that reclamation type C, with older year plant, had higher carbon stock compared to Type B, or Type A, ie. 51.9 t C/ha, 37.8 t C/ha and 2.9 t C/ha respectively.

However, the carbon stock in the three types of reclamation area is still much lower, than the conservation area which reaches 296.8 t C/ha. Thus, the older and more diverse species planted in a reclamation area plant, the higher carbon stock saved. Moreover, planting shade trees can also help increase the value of carbon stocks in a reclamation area.

Keywords: Carbon stock, ecosystem services, reference area, reclamation area

Elga Renjana (Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi), Muhamad Nikmatullah (Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-LIPI).

STUDY OF DRUGS POTENTIAL OF FERN COLLECTIONS AT PURWODADI BOTANIC GARDENS Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, Vol.10 Issue 2, August 2021, page: 199 - 209

Abstract

Ferns (Pteridophyta) is the oldest group of plants on earth that has more than 11.000 species.

Ethnobotany and pharmacological studies have revealed that ferns contain potentially secondary metabolites as medicine. Purwodadi Botanic Gardens (Purwodadi BG) has fern collections that have not revealed information about drug potential. This research was conducted to inventory Purwodadi BG’s fern collections which have potential as medicine and to determine their conservation status. Inventory of fern collections is carried out by collecting data from the Registration Unit and observing directly in the field, while information about drug potential is obtained by literature review. A total of 31 species of 171 specimens of Purwodadi BG’s fern collections are known to be efficacious for treating various diseases, both traditional medicine, and research results. As many as 6 species of fern collections that have medicinal potential are included in IUCN Red List and categorized as least concern/LC and critically endangered/CR.

The potential for medicinal plants of fern collections include anti-oxidants, anti-inflammatory, anti- microbial, anti-viral, and anti-cancer properties. This potential information is expected to increase the value of the fern’s function and their conservation efforts.

Keywords: Inventory, medicinal ferns, therapeutic plants, pteridophyta

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Tingkat Bagi Hasil Mudharabah dan Margin Murabahah Secara Simultan Terhadap Profitabilitas pada Baitul Maal wat Tamwil Al-Idrisiyyah Cisayong

Surat yang salah tujuan nama dan alamat surat, terkadang berakibat surat tidak diketahui fisiknya. Hal ini bisa terjadi apabila si penerima surat yang salah tersebut

Langkah desain harus mampu menjawab pertanyaan apakah program pembelajaran yang didesain dapat digunakan untuk mengatasi masalah kesenjangan performa (performance

Pada bagian sub bab ini akan dibahas mengenai dampak kenaikan BBM terhadap kebijakan sektor perikanan, yang terdiri dari sub sektor perikanan tangkap dengan komoditas Tuna,

Berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan data kebisingan terhadap aktifitas kerja selama 24 jam, maka didapatkan data rata-rata tingkat kebisingan di PT PLN

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Sabu Raijua Tahun 2011– 2025 yang selanjutnya disebut RPJP Daerah adalah Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah untuk periode 20

sesuai dengan ketentuan Pasal 21, dapat membuat deklarasi yang mengakui kewenangan Komite untuk menerima dan membahas laporan pengaduan (communications) suatu Negara Pihak yang

Tujuan menggunakan regresi berganda dummy adalah memprediksi besarnya Tujuan menggunakan regresi berganda dummy adalah memprediksi besarnya nilai variabel tergantung/dependent atas