• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP)"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA

INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP)

BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT

(BBKPM) SURAKARTA TAHUN 2015

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta Tahun 2015 Copyright © 2015, BalaiBesarKesehatanParuMasyarakat Surakarta Jalan Prof. Dr. R. Soeharso Nomor 28, Surakarta

Telp. (0271) 713055

Fax. (0271) 713055, 720002 www.bbkpmsurakarta.com

(2)

NILAI-NILAI

BBKPM SURAKARTA

AMAN

MUTU

ADIL

NURANI

ATURAN

HARMONIS

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia dan hidayah-Nya, sehingga Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta tahun 2015 dapat diselesaikan.

LAKIP BBKPM Surakarta tahun 2015 ini disusun dalam rangka memenuhi Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Penyusunan LAKIP BBKPM Surakarta merupakan wujud pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas dan fungsi yang dibebankan kepada BBKPM Surakarta selama kurun waktu 2015. Selain itu, laporan ini disusun sebagai sarana pengendalian dan penilaian kinerja dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan instansi pemerintah yang baik dan bersih (Good Corporate and Clean Government).

LAKIP BBKPM Surakarta disusun mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah serta Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Nomor : HK.02.04/I/1568/12 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Penetapan Kinerja dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan serta.

LAKIP BBKPM Surakarta ini memuat pencapaian atas Perjanjian Kinerja BBKPM Surakarta sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI yang menyelenggarakan tugas pokok melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, pelayanan kesehatan, penunjang kesehatan, promosi kesehatan dan kemitraan serta pengembangan sumberdaya di bidang kesehatan paru masyarakat sebagaimana diamanatkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 532/MENKES/PER/VII/2007 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 2354/MENKES/PER/XI/2011.

Semoga penyusunan LAKIP BBKPM Surakarta ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dalam upaya pengembangan BBKPM Surakarta kedepan.

Surakarta, Januari 2016 Kepala,

Dr. Riskiyana S. Putra, M.Kes NIP.196202161989031007

(4)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Dalam upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance)

menuntut pelaksanaan kegiatan di setiap lingkungan instansi pemerintahan yang transparan, akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan. Setiap pelaksanaan kegiatan di satuan kerja pemerintah, utamanya di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI harus dilaporkan secara berkala, termasuk pelaksanaan kegiatan di BBKPM Surakarta.

Pengukuran terhadap berbagai indikator yang telahditetapkan BBKPM Surakarta selama tahun 2015 memberikan hasil yang beragam, sebagaian besar indicator telah mencapai bahkan melebihi dari target yang ditetapkan. Meskipun, masih tetap ada beberapa indikator yang tidak bisa mencapai target yang telah ditetapkan diawal tahun 2015. Secara keseluruhan, pencapaian indikator yang telah ditetapkan selama tahun 2015 adalah sebagai berikut :

SASARAN

STRATEGIS/PROGRAM INDIKATOR TARGET REALISASI

1. Terwujudnya cost effectiveness bidang pelayanan kesehatan paru

1. % Rasio pendapatan operasional disbanding biaya

operasional (POBO) 45%

40,03%

2. Terwujudnya kepuasan

stakeholders 2. % Kepuasan Pasien 80% 80,08%

3. % Kecepatan respon terhadap

complain 80% 98%

4. RS Akreditasi Nasional -

3. Terwujudnya

pengembangan jenis pelayanan spesialistik dan pelayanan penunjang

5. Jumlah jenis pelayanan

spesialistik 7 7

4. Terwujudnya transformasi mutu pelayanan yang terakreditasi

6. Waktu tunggu pelayanan 50 menit 52 Menit 51 detik 7. Jumlah laporan pengawasan

internal yang terlaksana 7 8

8. Kelengkapan rekam medic kembali kurang dari 24 Jam

setelah selesai pelayanan 85%

96,7%

9. Kepatuhan penggunaan

formularium nasional 90% 88,88%

10. Nett Death Rate ≤2 ‰ 0

(5)

SASARAN

STRATEGIS/PROGRAM INDIKATOR TARGET REALISASI

5. Terwujudnya Rumah Sakit Paru Surakarta unggulan sebagai Pusat Rujukan Kesehatan Paru

12. % Kasus TB HIV diobati 20% 12%

13. % Implementasi penanganan

TB Paru sesuai ISTC 70% 72%

6. Terwujudnya Rumah Sakit Jejaring

14. Jumlah institusi yang bekerjasama dalam bidang

pelayanan paru 5 5 Institusi

15. Jumlah kegiatan UKM

kesehatan paru 6 9 Kegiatan

7. Terwujudnya Rumah Sakit Paru Surakarta

sebagai wahana

pendidikan dan pelatihan serta penelitian di bidang kesehatan paru

16. Jumlah institusi pendidikan yang bekerjasama dalam bidang pendidikan kesehatan paru

22 22 Institusi

8. Terwujudnya kehandalan sarana dan prasarana

17. % Terpenuhinya kehandalan sarana dan prasarana sebagai

Rumah Sakit Paru Kelas B 50%

66%

9. Terwujudnya system informasi dan Komunikasi Rumah Sakit yang terintegrasi

18. % Sistem Informasi Kesehatan

terintegrasi 25% 25%

10. Terwujudnya budaya

menolong dan berkinerja 19. % Manajemen SDM Implementasi Sistem 70% 75% 11. Terwujudnya SDM yang

excellent.

20. % Dokter dan perawat yang mendapat pelatihan ≥ 20 Jam

dalam satu tahun 30% 41,8%

Pada tahun anggaran 2015 BBKPM Surakarta mendapat alokasi anggaran total sebesar Rp27.207.571.000,- dengan rincian sebagai berikut:

- Bersumber dari Rupiah Murni : Rp21.457.585.000,- - Bersumber dari BLU : Rp5.749.986.000,-

Realisasi anggaran tahun 2015 secara keseluruhan sebesar Rp24.688.189.595,- Jumlah tersebut mencapai 90,54% dari total pagu anggaran yang diterima pada tahun 2015 sebesar Rp27.267.571.000,-. Realisasi atas anggaran yang bersumber dari Rupiah Murni adalah sebesar Rp19.694.712.478,- (91,78%) dari pagu anggaran sebesar Rp21.457.585.000,-. Realisasi atas anggaran yang bersumber dari PNBPadalah sebesar Rp4.993.477.117,- (85,95%) dari pagu anggaran sebesar Rp5.809.986.000,-. Seluruh output kegiatan tercapai sehingga dana yang tidak terserap merupakan efisiensi kegiatan.

(6)

Penerimaan PNBP BBKPM Surakarta tahun 2015 berdasarkan data cash basis berjumlah Rp6.045.209.322,- atau sebesar 105,1% dari target pendapatan yang ditetapkan di tahun 2015 sebesar Rp5.749.986.000,-.

(7)

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ... i RINGKASAN EKSEKUTIF ... ii DAFTAR ISI ... iv DAFTAR TABEL ... v BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar belakang ... 2

B. Maksud dan Tujuan ... 2

C. Tugas pokok dan fungsi ... 4

D. Sistematika penulisan ... 6

BAB II PERENCANAAN KINERJA DAN PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2015 ... 8

A. Perencanaan Kinerja ... 9

B. Perjanjian Kinerja ... 11

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... 13

A. Pengukuran dan Analisis Kinerja ... 13

B. Sumber Daya ... 47

1. Sumber Daya Manusia ... 47

2. Sumber Daya Anggaran ... 48

3. Sumber Daya Sarana dan Prasarana ... 49

BAB IV PENUTUP ... 52 LAMPIRAN

(8)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan yang merupakan bagian dari pembangunan nasional bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui upaya kesehatan yang merata, bermutu dan dilaksanakan secara berkelanjutan, terencana dan terarah.

Penanganan masalah kesehatan paru tersebut harus dilaksanakan terintegrasi dan komprehensif meliputi upaya promosi, pencegahan, pengobatan dan, rehabilitasi.Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta adalah sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang dibentuk untuk mengatasi permasalahan kesehatan paru masyarakat dan mendekatkan pelayanan spesialistik paru kepada masyarakat.

Pada awal berdirinya, BP4 Surakarta merupakan Unit Pelaksana Teknis Departemen Kesehatan yang berada dibawah Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Dalam perkembangannya, BP4 Surakarta kemudian berubah nama menjadi Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta. Tahun 2011, BBKPM Surakarta mengalami perpindahan menjadi Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan melalui Surat Penyerahan dari Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Nomor : OT.01.01/BI.4/274/2011 tanggal 26 Januari 2011. Terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 2354/MENKES/PER/XI/2011 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 532/MENKES/PER/IV/2007 meneguhkan keberadaan BBKPM Surakarta berada di bawah Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan dan secara teknis fungsional dibina oleh Direktorat Bina Upaya Kesehatan Rujukan. Seiring dengan perubahan struktur organisasi di lingkungan Kementerian/Lembaga, pada tahun 2015 terbit Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2015 tentang Kementerian Kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. Dalam peraturan tersebut, Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan berganti nama menjadi Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, dengan adanya perubahan tersebut terhitung tanggal 1 Januari 2016 BBKPM Surakarta berada dibawah koordinasi dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan.

Sebagai instansi pemerintah dibawah Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, BBKPM Surakarta berkewajiban untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi. Kewajiban tersebut

(9)

dijabarkan dengan menyiapkan, menyusun dan menyampaikan laporan kinerja. Pelaporan kinerja atau LAKIP dimaksudkan untuk mengevaluasi dan mengkomunikasikan capaian kinerja BBKPM Surakarta dalam satu tahun anggaran yang dikaitkan dengan proses pencapaian tujuan dan sasaran. LAKIP juga menjelaskan keberhasilan dan kegagalan tingkat kinerja yang dicapai sehingga kinerja ke depan dapat dilaksanakan secara lebih produktif, efektif dan efisien, baik dari aspek perencanaan, pengorganisasian, manajemen keuangan maupun koordinasi pelaksanaannya. Penyusunan LAKIP BBKPM Surakarta juga dimaksudkan untuk mengaplikasikan prinsip transparansi dan akuntabilitas yang merupakan pilar penting pelaksanaan pemerintahan yang baik (good governance).

Tahun 2015, adalah tahun pertama dari rangkaian 5 tahun pelaksanaan Rencana Strategis Bisnis BBKPM Surakarta. Tahun pertama ini harus diletakkan fondasi yang kokoh dalam pelaksanaan kegiatan dan program dalam rangka mencapai visi yang ingin dicapai selama 5 tahun yaitu menjadi Rumah Sakit Khusus Paru Kelas B Unggulan pada tahun 2019.

LAKIP BBKPM Surakarta disusun mengacu pada Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah serta Keputusan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Nomor : HK.02.04/I/1568/12 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Penetapan Kinerja dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan.

B. Maksud dan Tujuan

Maksud penyusunan LAKIP BBKPM Surakarta adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pengelolaan anggaran dan pelaksanaan program/kegiatan dalam rangka mencapai visi dan misi BBKPM Surakarta.

Tujuan penyusunan LAKIP BBKPM Surakarta menilai dan mengevaluasi pencapaian kinerja kegiatan dan sasaran BBKPM Surakarta. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan kemudian dirumuskan beberapa rekomendasi. Diharapkan rekomendasi yang dihasilkan ini dapat menjadi salah satu masukan dalam menetapkan kebijakan dan strategi untuk meningkatkan kinerja BBKPM Surakarta.

(10)

C. Tugas Pokok, Fungsi dan Struktur Organisasi.

Berdasar ketentuan dalam Pasal 2 Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 532/MENKES/PER/VII/2007 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2354/MENKES/PER/XI/2011, BBKPM Surakarta mempunyai tugas pokok melaksanakan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, pelayanan kesehatan, penunjang kesehatan, promosi kesehatan dan kemitraan serta pengembangan sumber daya di bidang kesehatan paru masyarakat.

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana diamanatkan pasal 2 tersebut, BBKPM Surakarta menyelenggarakan fungsi :

1. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan rujukan paru spesialistik dan atau subspesialistik yang berorientasi kesehatan masyarakat;

2. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan paru masyarakat;

3. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kemitraan dan pengembangan sumberdaya di bidang kesehatan paru masyarakat;

4. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan dan pelatihan teknis di bidang kesehatan paru masyarakat;

5. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi penelitian dan pengembangan kesehatan paru masyarakat;

6. Pelaksanaan urusan Tata Usaha.

Susunan Organisasi BBKPM Surakarta terdiri atas :

1. Bidang Pelayanan dan Penunjang Kesehatan

Bidang Pelayanan dan Penunjang Kesehatan mempunyai tugas pokok : melaksanakan perencanaan dan evaluasi di bidang pemeriksaan, pengobatan dan pelayanan rehabilitasi kesehatan paru spesialistik dan subspesialistik yang berorientasi masyarakat serta rujukan dengan sarana pelayanan kesehatan.

Dalam melaksanakan tugas pokoknya, Bidang Pelayanan dan Penunjang Kesehatan menyelenggarakan fungsi :

a. Penyusunan perencanaan dan evaluasi pemeriksaan dan pengobatan kesehatan paru masyarakat;

b. Penyusunan perencanaan dan evaluasi pelayanan rehabilitasi kesehatan paru masyarakat;

(11)

d. Penyusunan perencanaan dan evaluasi kegiatan penunjang kesehatan;

e. Penyusunan perencanaan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pemeliharaan dan pengembangan sarana kesehatan;

Bidang Pelayanan dan penunjang Kesehatan terdiri dari : a. Seksi Pelayanan Kesehatan

Seksi Pelayanan Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan evaluasi pemeriksaan dan pengobatan kesehatan paru masyarakat, pelayanan rehabilitasi kesehatan paru masyarakat, serta pelayanan rujukan.

b. Seksi Penunjang Kesehatan

Seksi Penunjang Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan evaluasi kegiatan penunjang kesehatan, serta pelaksanaan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan sarana kesehatan.

2. Bidang Promosi Kesehatan dan Pengembangan Sumber Daya.

Bidang Promosi Kesehatan dan Pengembangan Sumber Daya mempunyai tugas pokok : melaksanakan perencanaan dan evaluasi penyuluhan kesehatan dan konseling pemberdayaan masyarakat, kerjasama, serta pengembangan sumber daya di bidang kesehatan paru masyarakat.

Dalam melaksanakan tugas pokoknya, Bidang Promosi Kesehatan dan Pengembangan Sumber Daya menyelenggarakan fungsi :

a. Penyusunan perencanaan dan evaluasi kegiatan penyuluhan kesehatan dan konseling;

b. Penyusunan perencanaan dan evaluasi kegiatan pemberdayaan masyarakat; c. Penyusunan perencanaan dan evaluasi kerjasama;

d. Penyusunanperencanaan dan evaluasi kegiatan pengembangan sumber daya. Bidang Promosi Kesehatan dan Pengembangan Sumber Daya terdiri atas :

a. Seksi Promosi Kesehatan

Seksi Promosi Kesehatan mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan perencanaan dan evaluasi kegiatan penyuluhan kesehatan dan konseling, pemberdayaan masyarakat dan kerjasama.

(12)

b. Seksi Pengembangan Sumber Daya

Seksi Pengembangan Sumber Daya mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pengembangan sumber daya meliputi pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan paru masyarakat.

3. Bagian Tata Usaha

Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melaksanakan penyusunan program, pengelolaan informasi, evaluasi dan laporan, urusan tata usaha, keuangan, kepegawaian, rumahtangga, perlengkapan.

Dalam melaksanakan tugasnya, Bagian Tata Usaha menyelenggarakan fungsi : a. Pelaksanaan penyusunan rencana program dan anggaran, penyajian informasi,

evaluasi dan laporan;

b. Pelaksanaan urusan kepegawaian, tata usaha, perlengkapan dan rumah tangga serta hubungan masyarakat;

c. Pelaksanaan urusan keuangan.

Bagian Tata Usaha terdiri dari : 1. Subbagian Umum

Subbagian Umum mempunyai tugas melakukan penyusunan rencana program dan anggaran, penyajian informasi, evaluasi dan laporan, urusan kepegawaian, tata usaha, perlengkapan dan rumah tangga.

2. Subbagian Keuangan

Subbagian keuangan mempunyai tugas melakukan urusan verifikasi, perbendaharaan dan akuntansi.

4. Struktur Organisasi

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 532/MENKES/PER/VII/2007 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2354/MENKES/PER/XI/2011 struktur organisasi BBKPM Surakarta terdiri dari:

a. Kepala

b. Kepala Bagian Tata Usaha 1) Kepala Sub Bagian Umum 2) Kepala Sub Bagian Keuangan

(13)

c. Kepala Bidang Pelayanan dan Penunjang Kesehatan 1) Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan

2) Kepala Seksi Penunjang Kesehatan

d. Kepala Bidang Promosi dan Pengembangan Sumber Daya Kesehatan: 1) Kepala Seksi Promosi Kesehatan

2) Kepala Seksi Pengembangan Sumber Daya Kesehatan e. Kepala Instalasi

f. Kelompok Jabatan Fungsional berangka kredit dan non angka kredit

Gambar 1.

Struktur Organisasi BBKPM Surakarta berdasar Permenkes Nomor : 532/MENKES/PER/VII/2007

D. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan Laporan Akuntabilitas Kinerja BBKPM Surakarta tahun 2015adalah sebagai berikut:

Kata Pengantar Ikhtisar Eksekutif Daftar Isi

(14)

BAB I.PENDAHULUAN

Bab I disajikan penjelasan umum organisasi, dengan penekanan kepada aspek strategis organisasi serta permasalahan utama

BAB II. PERENCANAAN KINERJA

Dalam Bab II dijelaskan mengenai rencana strategi dan rencana kinerja. Pada bab ini juga disampaikan tujuan, sasaran, strategi, program dan kegiatan serta indikator kinerja yang akan dilaksanakan tahun 2015 dalam rangka pencapaian visi dan misi BBKPM Surakarta

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA

Dalam Bab III diuraikan pengukuran kinerja, sumber daya manusia dan sumber daya anggaran yang menggambarkan kekuatan yang dimiliki, evaluasi dan analisis akuntabilitas kinerja, termasuk di dalamnya menguraikan secara sistematis keberhasilan dan kegagalan, hambatan/kendala dan permasalahan yang dihadapi serta langkah-langkah antisipatif dan perbaikan yang akan diambil.

BAB IV.PENUTUP

Dalam Bab IV diuraikan simpulan umum atas capaian kinerja organisasi serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerjanya..

(15)

BAB II PERENCANAAN KINERJA

Dalam rangka memberikan arah pandang kedepan terkait dengan kinerja dan peranan BBKPM Surakarta serta untuk memberikan gambaran tentang kondisi masa depan yang ingin dicapai oleh BBKPM Surakarta maka diperlukan visi yang mencerminkan keadaan yang ingin dicapai pada akhir periode perencanaan.

BBKPM Surakarta telah menetapkan visinya sesuai dengan Rencana Strategis Bisnis periode 2015-2019 yaitu :

Sejalan dengan visi BBKPM Surakarta maka diperlukan rumusan mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanan untuk mewujudkan visi yang akan dicapai BBKPM Surakarta. Adapun misi BBKPM Surakarta adalah :

Berdasar perumusan visi dan misi BBKPM Surakarta diatas, maka dirumuskan lebih lanjut mengenai sasaran strategis dalam rangka mewujudkan visi dan misi organisasi, yaitu :

1. Terwujudnya cost efectiveness bidang pelayanan kesehatan paru; 2. Terwujudnya kepuasan stakeholder;

3. Terwujudnya RS Paru Unggulan sebagai Pusat Rujukan Kesehatan Paru;

4. Terwujudnya RS Paru Surakarta sebagai wahana pendidikan dan pelatihan serta penelitian di bidang kesehatan paru masyarakat;

VISI

“MENJADI RUMAH SAKIT PARU KELAS B UNGGULAN PADA TAHUN 2019 “

MISI

1. Menyelenggarakan pelayanan medik kesehatan paru dan

pernapasan yang terakreditasi;

2. Meningkatkan pelayanan Unggulan TB-HIV secara komprehensif

3. Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan dan penelitian kesehatan

paru ;

4. Mendorong kemandirian hidup sehat dan menjalin kemitraan

dibidang kesehatan paru masyarakat.

(16)

5. Terwujudnya pengembangan jenis pelayanan spesialistik dan pelayanan Penunjang; 6. Terwujudnya Rumah Sakit jejaring;

7. Terwujudnya transformasi mutu pelayanan yang terakreditasi;

8. Terwujudnya kehandalan sarana dan prasarana sebagai RS Paru kelas B; 9. Terwujudnya sistem informasi dan komunikasi rumah sakit yang terintegrasi. 10. Terwujudnya budaya menolong dan berkinerja;

11. Terwujudnya SDM yang excellent;

Dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsinya agar efektif, efisien dan akuntabel, BBKPM Surakarta berpedoman pada dokumen perencanaan yang terdapat pada :

1. Renstra Strategis Bisnis BBKPM Surakarta periode 2015-2019; 2. Perjanjian Kinerja Tahun 2015.

A. Perencanaan Kinerja

Perencanaan kinerja BBKPM Surakarta merupakan perencanaan kinerja BBKPM Surakarta selama 5 tahun sebagaimana tercantum dalam Rencana Strategis Bisnis BBKPM Surakarta periode 2015-2019. Rencana Strategis Bisnis BBKPM Surakarta merupakan perencanaan jangka menengah BBKPM Surakarta yang berisi tentang gambaran sasaran atau kondisi hasil yang akan dicapai dalam kurun waktu lima tahun oleh Kementerian PAN dan RB beserta strategi yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran sesuai dengan tugas, fungsi dan peran yang diamanahkan.

Perencanaan Kinerja BBKPM Surakarta tahun 20152019 ditampilkan dalam tabel sebagai berikut :

(17)

Tabel Perencanaan Kinerja BBKPM Surakarta tahun 2015-2019

2015 2016 2017 2018 2019

Finansial 1

Terwujudnya cost

efectiveness bidang pelayanan kesehatan paru

1

% Rasio pendapatan operasional dibanding biaya operasional (POBO)

Dir.Adminkeu/Kabag TU

BBKPM 45% 47% 50% 52% 55%

Stakeholders 2 Terwujudnya kepuasan

stakeholder 2 % Kepuasan pasien

Dir.MedKep/ Kabid

Promkes dan PSDK 80% 80% 81% 81% 82%

3 % Kecepatan Respon terhadap Komplain

Dir.MedKep/Kabid

Promkes dan PSDK 80% 80% 80% 80% 80%

4 RS Terakreditasi Nasional Dir.MedKep/ Kabid

Yanjangkes BBKPM 100%

Proses Bisnis

Internal 3

Terwujudnya pengembangan jenis pelayanan spesialistik dan pelayanan penunjang

5 JumlahspesialistikJenis Pelayanan Yanjangkes BBKPM Dir.MedKep/ Kabid 7 8 10 11 12

4

Terwujudnya transformasi mutu pelayanan yang terakreditasi

6 % waktu tunggu layanan Dir.MedKep/ Kabid Yanjangkes 50 menit 45 menit 40 menit 35 menit 30 menit

7 Jumlah laporan pengawasan

internal yang terlaksana Ketua SPI 7 7 8 8 9

8

Kelengkapan Rekam Medik kembali kurang dari 24 Jam setelah selesai pelayanan

Dir.MedKep/ Kabid Yanjangkes BBKPM 85% 90% 90% 95% 95% 9 Kepatuhan Penggunaan Formularium Nasional Dir.MedKep/ Kabid Yanjangkes BBKPM 90% 90% 100% 100% 100%

10 Nett Death Rate Dir.MedKep/Kabid

Yanjangkes BBKPM ≤2 ‰ ≤2 ‰ ≤2 ‰ ≤2 ‰ ≤2 ‰ 11 Emergency Response Time 1 Dir.MedKep/ Kabid

Yanjangkes BBKPM < 5 Menit < 5 Menit < 5 Menit < 5 Menit < 5 Menit

5

Terwujudnya Rumah Sakit Surakarta Unggulan sebagai Pusat Rujukan Kesehatan Paru

12 % Kasus TB-HIV diobati Dir.MedKep/ Kabid

Yanjangkes BBKPM 20% 35% 45% 55% 75%

13 % Implementasi penanganan TB Paru sesuai ISTC

Dir.MedKep/ Kabid

Yanjangkes BBKPM 70% 75% 80% 85% 90%

6 Terwujudnya Rumah SakitJejaring 14

Jumlah Institusi yang bekerjasama dalam bidang pelayanan paru

Dir.MedKep/Kabid

Promkes dan PSDK 5 7 9 11 13

15 Jumlah kegiatan UKM Kesehatan Paru

Dir.MedKep/Kabid

Promkes dan PSDK 6 6 6 6 6

7

Terwujudnya Rumah Sakit Paru Surakarta sebagai wahana pendidikan dan pelatihan serta penelitian di bidang kesehatan paru

16

Jumlah institusi pendidikan yang bekerjasama dalam bidang pendidikan kesehatan paru Dir.MedKep/Kabid Promkes dan PSDK 22 23 24 25 26 Pembelajaran dan Pertumbuhan 8 Terwujudnya kehandalan Sarana dan Prasarana 17

% Terpenuhinya kehandalan sarana dan prasarana sebagai Rumah Sakit Paru Kelas B

Dir.Adminkeu/Kabag TU

BBKPM 50% 70% 75% 80% 80%

9

Terwujudnya Sistem Informasi dan Komunikasi Rumah Sakit yang terintegrasi

18 % Sistem Informasi Kesehatan terintegrasi

Dir.Adminkeu/Kabag TU

BBKPM 25% 40% 75% 80% 85%

10Terwujudnya Budaya Menolong dan Berkinerja 19

% Implementasi Sistem Manajemen SDM

Dir.Adminkeu/Kabag TU

BBKPM 70% 75% 80% 80% 85%

11Terwujudnyaexcellent SDM yang 20

% Dokter dan perawat yang mendapat pelatihan ≥ 20 Jam dalam satu tahun

Dir.MedKep/Kabid

Promkes dan PSDK 30% 35% 40% 45% 50%

PERSPEKTIF SASARAN STRATEGIS KEY PERFORMANCE INDICATORS

KORPORATE PIC

(18)

B. Perjanjian Kinerja

Perjanjian kinerja merupakan amanat dari Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Perjanjian kinerja pada dasarnya adalah lembar/dokumen yang berisikan penugasan dari pimpinan instansi yang lebih tinggi kepada pimpinan instansi yang lebih rendah untuk melaksanakan program/kegiatan yang disertai dengan indikator kinerja. Melalui perjanjian kinerja, terwujudlah komitmen penerima amanah dan kesepakatan antara penerima dan pemberi amanah atas kinerja terukur tertentu berdasarkan tugas, fungsi dan wewenang serta sumber daya yang tersedia.

Dalam hal ini, perjanjian kinerja BBKPM Surakarta tahun 2015 merupakan pernyataan komitmen antara Kepala BBKPM Surakarta dengan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan.

BBKPM Surakarta telah menyusun perjanjian kinerja tahun 2015 sesuai dengan kedudukan, tugas dan fungsinya. Perjanjian kinerja ini telah mengacu pada Rencana Strategis Bisnis BBKPM Surakarta periode 2015-2019.

Tabel Perjanjian Kinerja BBKPM Surakarta tahun 2015

SASARAN STRATEGIS/PROGRAM INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET

1. Terwujudnya cost effectiveness bidang pelayanan kesehatan paru;

1. % Rasio pendapatan operasional dibanding biaya operasional

(POBO) 45%

2. Terwujudnya kepuasan stakeholders; 2. % Kepuasan Pasien 80% 3. % Kecepatan respon terhadap

komplain 80%

4. RS Akreditasi Nasional 3. Terwujudnya pengembangan jenis

pelayanan spesialistik dan pelayanan penunjang;

5. Jumlah jenis pelayanan

spesialistik 7 Jenis

4. Terwujudnya transformasi mutu

pelayanan yang terakreditasi; 6. Waktu tunggu pelayanan 50 menit 7. Jumlah laporan pengawasan

internal yang terlaksana 7 Laporan 8. Kelengkapan rekam medik

kembali kurang dari 24 Jam

setelah selesai pelayanan 85% 9. Kepatuhan penggunaan

formularium nasional 90%

10. Nett Death Rate ≤2 ‰

11. Emergency Response Time 1 < 5 Menit 5. Terwujudnya Rumah Sakit Paru

Surakarta unggulan sebagai Pusat Rujukan Kesehatan Paru;

(19)

SASARAN STRATEGIS/PROGRAM INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET

13. % Implementasi penanganan TB

Paru sesuai ISTC 70%

6. Terwujudnya Rumah Sakit Jejaring; 14. Jumlah bekerjasama institusi dalam bidang yang

pelayanan paru 5 Institusi

15. Jumlah kegiatan UKM kesehatan

paru 6 Kegiatan

7. Terwujudnya Rumah Sakit Paru Surakarta sebagai wahana pendidikan dan pelatihan serta penelitian di bidang kesehatan paru;

16. Jumlah institusi pendidikan yang bekerjasama dalam bidang

pendidikan kesehatan paru 22 8. Terwujudnya kehandalan sarana dan

prasarana;

17. % Terpenuhinya kehandalan sarana dan prasarana sebagai

Rumah Sakit Paru Kelas B 50% 9. Terwujudnya sistem informasi dan

Komunikasi Rumah Sakit yang terintegrasi;

18. % Sistem Informasi Kesehatan

terintegrasi 25%

10. Terwujudnya budaya menolong dan

berkinerja; 19. % Manajemen SDM Implementasi Sistem 70% 11. Terwujudnya SDM yang excellent. 20. % Dokter dan perawat yang mendapat pelatihan ≥ 20 Jam

(20)

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

Laporan Akuntabilitas Kinerja BBKPM Surakarta, merupakan bentuk pertanggungjawaban kinerja berbagai program dan kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2015. Pada bab ini akan diuraikan pengukuran, evaluasi dan analisis kinerja BBKPM Surakarta selama tahun 2015, keberhasilan yang dicapai maupun permasalahan terkait, beserta rekomendasi untuk peningkatan kinerja di masa mendatang.

Pengukuran tingkat capaian kinerja BBKPM Surakarta tahun 2015 dilakukan dengan cara membandingkan antara target pencapaian indikator sasaran yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja BBKPM Surakarta tahun 2015 dengan realisasinya. Tingkat capaian kinerja BBKPM Surakarta tahun 2015 berdasarkan hasil pengukurannya dapat diilustrasikan sebagai berikut :

A. CAPAIAN KINERJA ORGANISASI

Pengukuran dan analisis pencapaian kinerja bertujuan untuk mendapat informasi mengenai masing-masing sasaran dan indikator, pengukuran kinerja ini juga dimaksudkan untuk mengetahui kinerja BBKPM Surakarta apabila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai dan ditetapkan di awal tahun. Pencapaian atas target dan realisasi seluruh indikator yang ingin dicapai pada tahun 2015 ditampilkan sebagai berikut :

Tabel Target dan Realisasi atas Pencapaian Indikator Kinerja Utama Tahun 2015

Sasaran Strategis/program Indikator Kinerja Utama Target Realisasi

1. Terwujudnya cost

effectiveness bidang

pelayanan kesehatan paru;

1. % Rasio pendapatan operasional dibanding biaya operasional

(POBO) 45% 40,03%

2. Terwujudnya kepuasan

stakeholders; 2. % Kepuasan Pasien 80% 80,08%

3. % Kecepatan respon terhadap

komplain 80% 98%

4. RS Akreditasi Nasional - -

3. Terwujudnya

pengembangan jenis pelayanan spesialistik dan pelayanan penunjang;

5. Jumlah jenis pelayanan spesialistik 7 7

4. Terwujudnya transformasi mutu pelayanan yang

terakreditasi; 6. Waktu tunggu pelayanan 50 menit

52 Menit 51 detik 7. Jumlah laporan pengawasan

internal yang terlaksana 7 8

8. Kelengkapan rekam medik kembali kurang dari 24 Jam setelah selesai pelayanan

85% 96,7%

9. Kepatuhan penggunaan

(21)

Sasaran Strategis/program Indikator Kinerja Utama Target Realisasi

10. Nett Death Rate ≤2 ‰ 0

11. Emergency Response Time 1 < 5 Menit 1 Menit 10 Detik 5. Terwujudnya Rumah Sakit

Paru Surakarta unggulan sebagai Pusat Rujukan Kesehatan Paru;

12. % Kasus TB HIV diobati 20% 12%

13. % Implementasi penanganan TB

Paru sesuai ISTC 70% 72%

6. Terwujudnya Rumah Sakit

Jejaring; 14. Jumlah institusi yang bekerjasama dalam bidang pelayanan paru 5 Institusi 5 Institusi 15. Jumlah kegiatan UKM kesehatan

paru 6 Kegiatan 9 Kegiatan

7. Terwujudnya Rumah Sakit Paru Surakarta sebagai wahana pendidikan dan pelatihan serta penelitian di bidang kesehatan paru;

16. Jumlah institusi pendidikan yang bekerjasama dalam bidang pendidikan kesehatan paru

22

Institusi 22 Institusi

8. Terwujudnya kehandalan sarana dan prasarana;

17. % Terpenuhinya kehandalan sarana dan prasarana sebagai

Rumah Sakit Paru Kelas B 50% 66%

9. Terwujudnya sistem informasi dan Komunikasi Rumah Sakit yang terintegrasi;

18. % Sistem Informasi Kesehatan

terintegrasi 25% 25%

10. Terwujudnya budaya

menolong dan berkinerja; 19. % Manajemen SDM Implementasi Sistem 70% 75% 11. Terwujudnya SDM yang

excellent.

20. % Dokter dan perawat yang mendapat pelatihan ≥ 20 Jam dalam satu tahun

30% 41,8%

B. ANALISIS CAPAIAN KINERJA

Sasaran pertama dalam rangka mencapai visi yang hendak dicapai BBKPM Surakarta adalah Terwujudnya cost effectiveness Bidang Pelayanan Kesehatan Paru. Dalam rangka mengetahui pencapaian keberhasilan sasaran tersebut, BBKPM Surakarta telah menetapkan indikator kinerja utama yaitu :

1. % Rasio pendapatan operasional dibanding biaya operasional (POBO).

Rasio POBO merupakan perbandingan antara pendapatan PNBP dibagi dengan biaya operasional. Sedangkan pengertian dari pendapatan PNBP merupakan pendapatan yang diperoleh sebagai imbalan atas barang/jasa yang diserahkan kepada masyarakat termasuk pendapatan yang berasal dari hibah, hasil kerjasama dengan pihak lain, sewa, jasa lembaga keuangan, dan lain-lain pendapatan yang tidak

(22)

berhubungan secara langsung dengan pelayanan BLU, tidak termasuk pendapatan yang berasal dari APBN.

 Kondisi yang dicapai

Rasio pendapatan operasional dibanding biaya operasional (POBO) tahun 2015 sebesar 40,03%. Kondisi ini dapat melampaui target yang ditetapkan dalam Indikator Kinerja Terpiilih (IKT) antara Kepala BBKPM Surakarta dan Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan tahun 2015 yaitu 38%. Namun, apabila dibandingkan dengan standar sebagaimana tercantum dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor 34 tahun 2014 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Badan Layanan Umum di Bidang Layanan Kesehatan, skor POBO BBKPM Surakarta masih jauh dari standar dalam peraturan Direktur Jenderal tersebut. Standar POBO yang ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal tersebut adalah sebesar 65%.

 Perbandingan tahun sebelumnya

Rasio pendapatan operasional dibanding biaya operasional tahun 2015 mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2014 yaitu sebesar 35,94%.

 Permasalahan yang dihadapi

Dalam rangka mencapai indikator kinerja % Rasio pendapatan operasional dibanding biaya operasional (POBO) terdapat beberapa kendala dan permasalahan diantaranya :

1. BBKPM Surakarta mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk melaksanakan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dengan wilayah binaan meliputi 10 propinsi yang memerlukan alokasi anggaran yang bersifat cost center. Anggaran pelaksanaan UKM dihitung sebagai anggaran/biaya operasional dan tidak memberikan terhadap pendapatan yang diterima BBKPM Surakarta;

2. Adanya ketentuan rujukan berjenjang dalam pelaksanaan pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan mengakibatkan rujukan ke BBKPM Surakarta dari daerah-daerah sekitar Surakarta menjadi berkurang;

3. Belum adanya ijin operasional rawat inap khusus untuk Balai membuat tindakan medis yang dilakukan oleh tenaga spesialis BBKPM Surakarta rentan terhadap gugatan dari pihak ketiga dan tuntutan hukum.

(23)

Ketiadaan izin operasional tersebut mengakibatkan kunjungan rawat inap BBKPM Surakarta mengalami penurunan;

4. Gedung baru sebagai tempat layanan terpadu yang selesai dibangun akhir tahun 2014, baru mulai dioperasionalkan sebagian pada awal tahun 2016. Tahun 2015 difokuskan untuk melengkapi peralatan di gedung layanan terpadu. Kondisi ini mempengaruhi jumlah beban operasional, serta tidak dapat menghasilkan pendapatan layanan;

5. Tarif pelayanan di BBKPM Surakarta sebagai fasilitas kesehatan rujukan masih dibawah unit cost sehingga mempengaruhi pendapatan yang diterima, sementara biaya yang harus dikeluarkan tidak dapat ditutupi oleh pendapatan.

 Usul pemecahan masalah

Terhadap kendala dan permasalahan yang muncul tersebut diusulkan beberapa usulan pemecahan masalah, diantaranya :

1. Pengajuan ijin operasional dan pendirian rumah sakit, agar dapat segera memberikan kejelasan status pelayanan BBKPM Surakarta dan memberikan dasar bagi pemberian pelayanan yang diberikan oleh tenaga medis BBKPM Surakarta;

2. Optimalisasi utilisasi aset dan sarana yang dimiliki untuk peningkatan pelayanan dan pendapatan;

3. Pengendalian biaya operasional secara efisien dan efektif; 4. Penyesuaian tariff.

 Pencapaian periode 5 tahun

Tahun 2015 merupakan tahun pertama dari pelaksanaan Rencana Strategis Bisnis BBKPM Surakarta periode 2015-2019. Sehingga, data pencapaian periode 5 tahun atas indikator-indikator kinerja belum dapat dilaporkan dalam LAKIP BBKPM Surakarta tahun 2015.

Apabila dibanding target rencana jangka menengah sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Strategis Bisnis BBKPM Surakarta, indicator kinerja utama % Rasio pendapatan operasional dibanding biaya operasional mencapai 72,78% dari target rencana jangka menengah yang telah ditetapkan yang ditetapkan.

(24)

Indikator Kinerja Utama Target s.d. 2019 Realisasi target jangka menengah 2019% Realisasi 2015 terhadap % Rasio pendapatan operasional dibanding biaya

operasional (POBO) 55% 40,03% 72,78%

Sasaran strategis terwujudnya kepuasan stakeholders bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan stakeholders BBKPM Surakarta, dalam rangka mewujudkan perubahan BBKPM Surakarta menjadi Rumah Sakit Khusus Paru Kelas B. Guna mengetahui pencapaian keberhasilan atas sasaran tersebut, telah ditetapkan 3 (tiga) indikator kinerja utama, yaitu :

1. % Kepuasan Pasien  Kondisi yang dicapai

Sebagai instansi yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat, kepuasan pasien dan seluruh stakeholders merupakan hal yang sangat penting. Kepuasan pasien dan seluruh stakeholders merupakan cerminan dari tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh BBKPM Surakarta. Berdasar alasan tersebut untuk mengukur sasaran strategis terwujudnya kepuasan

stakeholders ditetapkanlah indikator kinerja utama % kepuasan pasien dengan target sebesar 80%. Dalam 1 (satu) tahun pengukuran kepuasan pasien dilakukan 2 (dua) kali, setiap 6 (enam) bulan sekali. Hasil pengukuran atas indeks kepuasan pasien dalam tahun 2015 sebagai berikut :

- Semester I = 83,16% - Semester II = 77%.

Dari hasil pengukuran tersebut didapat hasil indeks kepuasan masyarakat rata-rata tahun 2015 sebesar 80,08%.

 Perbandingan tahun sebelumnya

Nilai kepuasan pelanggan/pasien tahun 2015 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2014. Nilai indeks kepuasan BBKPM Surakarta tahun 2014 sebesar 84,03%.

 Permasalahan yang dihadapi

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka pencapaian indikator % kepuasan pasien adanya penurunan pencapaian dibandingkan tahun 2014. Hal tersebut dikarenakan adanya perubahan alur pelayanan sehingga mengakibatkan waktu tunggu antrian

(25)

pasien menjadi meningkat yang berakibat pada menurunnya kepuasan pelanggan kepada BBKPM Surakarta.

 Usul pemecahan masalah

Dalam rangka mengatasi permasalahan yang ada diperlukan evaluasi dan perbaikan sistem dan alur pelayanan sehingga waktu tunggu pasien berkurang.

 Pencapaian periode 5 tahun

Apabila dibanding target rencana jangka menengah sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Strategis Bisnis BBKPM Surakarta, indicator kinerja utama % kepuasan pasien mencapai 97,66% dari target rencana jangka menengah yang telah ditetapkan yang ditetapkan.

Indikator Kinerja Utama Target s.d. 2019 Realisasi % Realisasi 2015 terhadap target jangka menengah 2019

% kepuasan pasien 82% 80,08% 97,66%

2. % Kecepatan respon terhadap komplain  Kondisi yang dicapai

Setiap komplain dan keluhan pada dasarnya merupakan masukan bagi perbaikan pelayanan yang diberikan kepada pasien dan masyarakat, setiap komplain atau keluhan dari masyarakat wajib untuk selalu ditindaklanjuti. Seluruh pasien atau masyarakat yang menyampaikan komplain atau keluhan pada dasarnya menginginkan tindaklanjut atas komplain yang mereka ajukan secara cepat dan tepat, guna mengetahui tingkat responsive atas penanganan komplain tersebut maka ditetapkanlah indikator kinerja utama berupa % kecepatan respon terhadap komplain.

Kecepatan respon terhadap komplain adalah kecepatan Rumah sakit dalam menanggapi komplain baik tertulis, lisan atau melalui mass media yang sudah diidentifikasi tingkat risiko dan dampak risiko dengan penetapan grading/ dampak risiko berupa ekstrim (merah), Tinggi (kuning), Rendah (hijau), dan dibuktikan dengan data, dan tindak lanjut atas respon time komplain tersebut sesuai dengan kategorisasi/grading/dampak risiko.

Warna Merah : cenderung berhubungan dengan polisi, pengadilan, kematian, mengancam sistem/kelangsungan organisasi, potensi kerugian material dll. Warna Kuning : cenderung berhubungan dengan pemberitaan media, potensi kerugian in material, dll.

(26)

Warna Hijau : tidak menimbulkan kerugian berarti baik material maupun immaterial.

Komplain-komplain tersebut dapat disampaikan melalui form keluhan pelanggan, email maupun langsung disampaikan kepada petugas.

Target atas indikator tersebut pada tahun 2015 adalah sebesar 80%. Sedangkan dalam realisasinya pencapaian atas indikator tersebut mencapai 98%.

 Perbandingan tahun sebelumnya

Indikator % kecepatan respon terhadap komplain mulai dihitung pada tahun 2015, sehingga perbandingan data dengan tahun sebelumnya tidak dapat ditampilkan.

 Permasalahan yang dihadapi

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka pencapaian indikator % Kecepatan respon terhadap komplain adalah komplain dari pelanggan atau pasien BBKPM Surakarta tidak mencantumkan identitas yang jelas sehingga mengakibatkan keluhan atau komplain dari pelanggan yang bersangkutan tidak dapat ditindaklanjuti.

 Usul pemecahan masalah

Dalam rangka mengatasi permasalahan yang ada diperlukan langkah-langkah usulan pemecahan masalah sebagai berikut memberikan informasi dan edukasi kepada seluruh pelanggan atau pasien yang hendak mengajukan keluhan atau komplain agar menuliskan identitas diri dengan lengkap sehingga memudahkan BBKPM Surakarta untuk memberikan umpan balik tindaklanjut keluhan tersebut.

3. RS Akreditasi Nasional  Kondisi yang dicapai

Rumah Sakit Khusus Paru terakreditasi nasional belum menjadi target BBKPM Surakarta pada tahun 2015. Hal ini disebabkan, sesuai dengan Rencana Strategis Bisnis BBKPM Surakarta periode 2015-2019 proses akreditasi rumah sakit akreditasi nasional baru dapat terlaksana apabila BBKPM Surakarta telah berubah menjadi Rumah Sakit Khusus Paru. Perubahan tersebut diharapkan dapat terlaksana pada tahun 2017.

(27)

Dalam rangka mencapai sasaran strategis terwujudnya kepuasan stakeholders

dilakukan berbagai kegiatan. Realisasi anggaran dalam rangka mencapai sasaran strategis tersebut ditampilkan dalam tabel sebagai berikut :

Kegiatan Pagu Anggaran Realisasi

Sarasehan pelanggan 22.700.000 17.593.500

Pelatihan capacity building 150.000.000 150.000.000

Pelatihan OJT 74.080.000 71.546.000

Sasaran strategis terwujudnya pengembangan jenis pelayanan spesialistik dan pelayanan penunjang bertujuan untuk mengukur perkembangan pelayanan spesialistik yang harus dimiliki dalam rangka perubahan BBKPM Surakarta menjadi Rumah Sakit Khusus Paru Kelas B.

Pengukuran pencapaian keberhasilan sasaran tersebut, melalui indikator kinerja utama yaitu :

1. Jumlah jenis pelayanan spesialistik  Kondisi yang dicapai

Target atas pencapaian indikator jumlah jenis pelayanan spesialistik pada tahun 2015 adalah 7 (tujuh) pelayanan spesialistik, yaitu :

- Pelayanan spesialistik Paru; - Pelayanan spesialistik Radiologi; - Pelayanan spesialistik Penyakit Dalam;

- Pelayanan spesialistik Kedoteran dan Rehabilitasi Medik; - Pelayanan spesialistik Patollogi Klinik;

- Pelayanan spesialistik Mikrobiologi Klinik; - Pelayanan spesialistik Anak.

Selama tahun 2015 telah terlaksana sebanyak 7 (tujuh) pelayanan spesialistik tersebut. Sebagian besar pelayanan spesialistik yang terlaksana selama tahun 2015 dilaksanakan melalui kerjasama dengan instansi/fasilitas pelayanan kesehatan lain :

- Pelayanan spesialistik penyakit dalam dan anak dilaksanakan bekerjasama dengan Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta;

Sasaran Terwujudnya Pengembangan Jenis Pelayanan Spesialistik dan Pelayanan Penunjang

(28)

- Pelayanan spesialistik kedokteran dan rehabilitasi redik dilaksanakan bekerjasama dengan Rumah Sakit Orthopedi Prof. dr. R. Soeharso Surakarta;

- Pelayanan spesialistik Patologi Klinik dan Mikrobiologi Klinik dilaksanakan bekerjasama dengan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

 Permasalahan yang dihadapi

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka pencapaian indikator jumlah jenis pelayanan spesialistik adalah kehadiran tenaga pelayanan spesialis saat ini terbatas hanya 1 kali dalam 1 minggu. Kehadiran tenaga sepsialistik yang hanya 1 kali dalam 1 minggu tersebut dirasa kurang optimal dalam rangka mendukung pelayanan kepada masyarakat secara komprehensif. Kebutuhan konsultansi terhadap kasus-kasus TB dengan penyakit penyerta diluar jadwal kehadiran tenaga spesialis penyakit dalam, anak dan rehab medic menjadi tidak dapak dilakukan oleh karena keterbatasan jadwal pelayanan dokter tersebut yang hanya 1 kali dalam 1 minggu.

 Perbandingan tahun sebelumnya

Pencapaian atas indikator jumlah jenis pelayanan spesialistik pada tahun 2015 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2014. Pada tahun 2014, jumlah jenis pelayanan spesialistik yang ada di BBKPM Surakarta berjumlah 4 (empat) spesialistik, yaitu :

- Spesialistik radiologi; - Spesialistik paru;

- Spesialistik patologi klinik; - Spesialistik mikrobiologi klinik.

 Usul pemecahan masalah

Dalam rangka mengatasi permasalahan yang ada diperlukan langkah-langkah usulan pemecahan masalah sebagai berikut :

1. Melakukan koordinasi dan advokasi kepada fasilitas pelayanan kesehatan/instansi lain agar apabila dimungkinkan dapat menambah jadwal pelayanan di BBKPM Surakarta bagi tenaga spesialis penyakit dalam, spesialis anak dan spesialis rehabilitasi medik;

2. Memperkerjakan tenaga spesialis tetap sebagai tenaga tetap BLU BBKPM Surakarta;

(29)

3. Merencanakan peningkatan kompetensi dokter umum melalui pendidikan tenaga spesialis.

 Pencapaian periode 5 tahun

Apabila dibanding target rencana jangka menengah sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Strategis Bisnis BBKPM Surakarta, indicator kinerja utama jumlah jenis pelayanan spesialistik mencapai 58,33% dari target rencana jangka menengah yang telah ditetapkan yang ditetapkan.

Indikator Kinerja Utama Target s.d. 2019 Realisasi % Realisasi 2015 terhadap target jangka menengah 2019 jumlah jenis pelayanan

spesialistik 12 7 58,33%

Apabila mengacu pada taget jangka menengah sampai dengan tahun 2019, terdapat kekurangan 5 (lima) pelayanan spesialistik guna memenuhi target indicator jumlah pelayanan spesialistik sebanyak 12 (dua belas) pelayanan. Kekurangan pelayanan spesialistik tersebut, yaitu :

1. Pelayanan Spesialis Bedah Thoraks dan Kardiovaskuler; 2. Pelayanan Spesialis Obsgyn

3. Pelayanan Spesialis Gizi Klinis 4. Pelayanan Spesialis Anestesi

5. Pelayanan Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah.

Kekurangan pelayanan spesialistik tersebut menjadi target yang harus dipenuhi sampai dengan tahun 2019.

Dalam rangka tercapainya sasaran strategis terwujudnya sasaran terwujudnya pengembangan jenis pelayanan spesialistik dan pelayanan penunjang dilakukan melalu berbagai kegiatan. Realisasi anggaran dalam rangka mencapai sasaran strategis tersebut ditampilkan dalam tabel sebagai berikut :

1. Jasa Konsultan Dokter Spesialis Penyakit Anak : 7.500.000,- 2. Jasa Konsultan Dokter Spesialis Penyakit Dalam : 21.000.000,- 3. Jasa Konsultan Dokter Spesialis Patologi Klinik : 18.000.000,- 4. Jasa Konsultan Dokter Spesialis Mikrobiologi klinik : 18.000.000,- 5. Jasa Konsultan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi :

(30)

Sasaran strategis terwujudnya transformasi mutu pelayanan yang terakreditasi terdiri dari 6 (enam) indikator kinerja utama, yaitu :

1. Waktu tunggu pelayanan  Kondisi yang dicapai

Waktu tunggu pelayanan adalah waktu diperlukan pasien mulai dari pasien mendaftar di poliklinik sampai dengan pasien dilayani oleh dokter di Poliklinik. Target waktu tunggu pelayanan pada tahun 2015 adalah 50 Menit. Realisasi atas waktu tunggu pelayanan di tahun 2015 adalah sebesar 52 menit dan 51 detik. Jumlah tersebut merupakan rata-rata dari pengitungan waktu tunggu layanan dari bulan Januari-Desember.

 Perbandingan tahun sebelumnya

Pencapaian atas indikator waktu tunggu pelayanan pada tahun 2014 sebesar 60 menit.

 Permasalahan yang dihadapi

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka pencapaian indikator waktu tunggu pelayanan adalah adanya masa transisi sistem layanan/perubahan sistem layanan yang mengharuskan pencatatan manual dan komputerisasi sehingga mempengaruhi lamanya waktu tunggu di rawat jalan

 Usul pemecahan masalah

Dalam rangka mengatasi permasalahan yang ada diperlukan langkah-langkah usulan pemecahan masalah dengan perbaikan sistem dan alur pelayanan, pemberlakuan sistem pemesanan pendaftaran melalui sms sehingga waktu tunggu pasien berkurang.

2. Jumlah laporan pengawasan internal yang terlaksana  Kondisi yang dicapai

BBKPM Surakarta merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementerian Kesehatan berdasar Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 8/KMK.05/2011 tentang Penetapan BBKPM Surakarta pada Kementerian Kesehatan Sebagai Instansi Pemerintah yang Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum. Sebagai instansi yang telah menerapkan

(31)

pengelolaan keuangan badan layanan umum, BBKPM Surakarta harus mengedepankan prinsip pengelolaan instansi yang baik melalui akuntabilitas dan transparansi. Untuk menjalankan fungsi tersebut maka dibentuklah Satuan Pemeriksaan Internal (SPI).

Dalam rangka meningkatkan akuntabilitas dan transparansi, ditetapkanlah indikator kinerja berupa jumlah laporan pengawasan internal yang terlaksana. Laporan pengawasan tersebut, berupa audit dan reviu. Pada tahun 2015, target indikator tersebut telah ditetapkan sebesar 7 laporan.

Selama tahun 2015, pencapaian atas indikator jumlah laporan pengawasan internal yang dilaksanakan adalah sebanyak 10 laporan, yang terdiri :

- Audit BPJS;

- Audit Konsumsi Energi; - Audit SDM UGD

- Reviu LK tahun 2014 (SAKPA dan BLU) - Reviu LK Triwulan I (BLU)

- Reviu LK Semester I (SAKPA dan BLU) - Reviu LK Triwulan III (BLU)

- Pemantauan Hasil Tindak Lanjut Audit SPI tahun 2014 - Pemantauan Tindak Lanjut Audit KAP Tahun 2014 - Laporan pengawasan lainnya

- Evaluasi pelaksanaan perjalanan dinas (rapat dalam kantor)  Perbandingan tahun sebelumnya

Pencapaian atas indikator jumlah laporan pengawasan internal yang terlaksana pada tahun 2014 berjumlah 4 (empat) laporan pengawasan berkala.

 Permasalahan yang dihadapi

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka pencapaian indikator Jumlah laporan pengawasan internal yang terlaksana adalah :

- Kegiatan reviu masih sebatas reviu laporan keuangan, belum mereviu RKAKL, LAKIP, RBA;

- Belum terlaksananya pendampingan proses pengadaan barang dan jasa pemerintah.

 Usul pemecahan masalah

Dalam rangka mengatasi permasalahan yang ada diperlukan langkah-langkah usulan pemecahan masalah sebagai berikut :

(32)

- Dilakukan penguatan peran SPI dalam rangka pendampingan penyusunan RKAKL, LAKIP dan RBA;

- Peningkatan kompetensi SDM SPI melalui workshop maupun magang di Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan;

- Melibatkan SPI dalam proses perencanaan hingga pelaporan kegiatan, termasuk kegiatan Pengadaan Barang/Jasa.

 Pencapaian periode 5 tahun

Target jangka menengah indicator kinerja utama jumlah laporan pengawasan internal yang terlaksana adalah sebanyak 9 laporan. Apabila membandingkan antara realisasi pencapaian tahun 2015 dengan target jangka menengah tahun 2019 maka pencapaian indicator kinerja utama tersebut mencapai 111,11%.

Indikator Kinerja Utama Target s.d. 2019 Realisasi % Realisasi 2015 terhadap target jangka menengah 2019 jumlah laporan pengawasan

internal yang terlaksana 9 10 111,11%

3. Kelengkapan rekam medik kembali kurang dari 24 Jam setelah selesai pelayanan

 Kondisi yang dicapai

Guna mewujudkan sasaran strategis terwujudnya transformasi mutu pelayanan yang terakreditasi, BBKPM Surakarta telah menetapkan beberapa indikator salah satunya adalah kelengkapan rekam medik kembali kurang dari 24 Jam setelah selesai pelayanan. Indikator tersebut digunakan untuk mengukur tingkat kepatuhan dokter dalam pengisian rekam medis maksimal 24 Jam setelah selesai pelayanan.

Pada tahun 2015, target indikator tersebut telah ditetapkan sebesar 85%. Realisasi pencapaian indikator tersebut selama tahun 2015 mencapai 96,7%.  Perbandingan tahun sebelumnya

Pencapaian atas indikator kelengkapan rekam medik kembali kurang dari 24 Jam setelah selesai pelayanan pada tahun 2015 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2014. Pada tahun 2014, kelengkapan rekam medik kembali kurang dari 24 Jam sebesar 85%.

 Permasalahan yang dihadapi

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka pencapaian indikator kelengkapan rekam medik kembali kurang dari 24 Jam setelah selesai pelayanan adalah

(33)

kurangnya komitmen tenaga medis untuk mengisi rekam medis sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 Tahun 2008 tentang Rekam Medis.

 Usul pemecahan masalah

Dalam rangka mengatasi permasalahan yang ada diperlukan langkah-langkah usulan pemecahan masalah dengan mengingatkan dan mengkoordinasikan secara rutin dengan tenaga medis mengenai kewajiban untuk mengisi rekam medis secara lengkap setelah selesai pemberian pelayanan kepada pasien dan masyarakat.

 Pencapaian periode 5 tahun

Target jangka menengah indicator kinerja utama % kelengkapan berkas rekam medik kembali ≤24 jam setelah selesai pelayanan adalah sebanyak 95%. Apabila membandingkan antara realisasi pencapaian tahun 2015 dengan target jangka menengah tahun 2019 maka pencapaian indicator kinerja utama tersebut mencapai 101,79%.

Indikator Kinerja Utama Target s.d. 2019 Realisasi % Realisasi 2015 terhadap target jangka menengah 2019 % kelengkapan berkas rekam medik

kembali ≤24 jam setelah selesai pelayanan 95% 96,70% 101,79%

4. Kepatuhan penggunaan formularium nasional  Kondisi yang dicapai

Terhitung tanggal 1 Januari 2014 Pemerintah mulai memberlakukan pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dalam penyelenggaraan JKN, pemerintah telah menetapkan penggunaan obat-obatan yang harus diberikan kepada pasien JKN melalui daftar formularium nasional. Penggunaan formularium nasional tersebut wajib digunakan oleh seluruh fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan bagi pasien JKN melalui BPJS Kesehatan.

Target indikator kepatuhan penggunaan formularium nasional dalam penyelenggaraan pelayanan bagi pasien JKN pada tahun 2015 adalah sebesar 90%.

(34)

 Perbandingan tahun sebelumnya

Indikator kepatuhan penggunaan formularium nasional mulai dihitung pada tahun 2015, sehingga perbandingan data dengan tahun sebelumnya tidak dapat ditampilkan. Indikator kepatuhan penggunaan formularium ditetapkan setelah penerapan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan.  Permasalahan yang dihadapi

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka pencapaian indikator Kepatuhan penggunaan formularium nasional adalah banyaknya obat-obat yang secara medic dibutuhkan oleh tenaga medis di lingkungan BBKPM Surakarta untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat namun belum dapat diakomodir didalam formularium nasional.

 Usul pemecahan masalah

Dalam rangka mengatasi permasalahan yang ada diperlukan langkah-langkah usulan pemecahan masalah yaitu mengusulkan melalui organisasi profesi/kolegium agar obat-obat yang dibutuhkan dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat dapat diakomodir dalam formularium nasional.

 Pencapaian periode 5 tahun

Pencapaian atas indikator kinerja utama Kepatuhan penggunaan formularium nasional pada tahun 2015, dibandingkan dengan target jangka menengah yang ingin dicapai pada tahun 2019 adalah sebesar 93,56%. Pencapaian atas indicator kepatuhan penggunaan formularium nasional harus terus ditingkatkan. Mengingat, program penggunaan formularium nasional dalam program jaminan kesehatan nasional merupakan program wajib pemerintah yang harus ditaati oleh seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

Indikator Kinerja Utama Target s.d. 2019 Realisasi target jangka menengah 2019% Realisasi 2015 terhadap Kepatuhan penggunaan formularium

nasional 95,00% 88,88% 93,56%

5. Nett Death Rate

 Kondisi yang dicapai

Nett Death Rate adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini memberikan salah satu rumusan untuk mengetahui gambaran mutu pelayanan di suatu rumah sakit. Target atas pencapaian tersebut pada tahun 2015 adalah sebesar maksimal 2 orang per seribu.

(35)

Realisasi atas pencapaian indikator tersebut selama tahun 2015 adalah 0.  Permasalahan yang dihadapi

Pada dasarnya pencapaian atas indikator Nett Death Rate di BBKPM Surakarta pada tahun 2015 memberikan hasil yang baik dimana angka Nett Death Rate

selama tahun 2015 adalah 0. Pencapaian tersebut seyogyanya harus terus dipertahankan melalui peningkatan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

 Perbandingan tahun sebelumnya

Penghitungan atas indikator Nett Death Rate pada tahun 2014, sebesar 4‰.

6. Emergency Response Time 1  Kondisi yang dicapai

Emergency Response Time 1 merupakan indikator untuk mengukur kecepatan pasien mendapatkan pelayanan petugas di Unit Gawat Darurat. Indikator tersebut bertujuan untuk mengukur respon petugas terhadap pasien yang memerlukan pelayanan kegawatdaruratan. Tahun 2015, BBKPM Surakarta telah menetapkan indikator Emergency Response Time 1. Target indikator

Emergency Response Time 1 adalah kurang dari 5 Menit. Realisasi atas pencapaian indikator Emergency Response Time 1 adalah 1 menit 10 detik. Pencapaian tersebut tidak terlepas dari ketersediaan dokter dan perawat selama 24 jam di UGD BBKPM Surakarta serta pasien di UGD BBKPM Surakarta yang relatif masih sedikit.

 Perbandingan tahun sebelumnya

Pencapaian atas indikator Emergency Response Time 1 pada tahun 2014 selama 1 menit 57 detik. Sedangkan pada tahun 2015, pencapaian atas indikator emergency response time 1 selama 1 menit 10 detik. Pencapaian tahun 2014 dan 2015 tersebut sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan, yaitu kurang dari 5 menit pasien harus sudah dilayani.  Permasalahan yang dihadapi

Pencapaian indikator emergency response times 1 secara umum telah melampaui target yang telah ditetapkan. Kendala dan permasalahan justru yang ada pada penyelenggaraan UGD BBKPM Surakarta berupa pelayanan UGD 24 Jam yang belum didukung oleh pelayanan-pelayanan penunjang lain.

(36)

Pelaksanaan pelayanan penunjang dilaksanakan 2 shift dikarenakan keterbatasan sumber daya manusia. Hal ini berakibat pelayanan UGD menjadi tidak optimal karena pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan terhadap pasien UGD pada hari libur dan malam hari tidak dapat dilakukan.

 Usul pemecahan masalah

Langkah-langkah usulan pemecahan masalah berupa :

1. Koordinasi dengan bagian pelayanan dan penunjang kesehatan pengusahaan pelayanan penunjang 24 jam guna mendukung operasional UGD 24 Jam;

2. Mengadakan kerjasama dengan laboratorium penunjang rumah sakit/laboratorium sekitar.

Dalam rangka tercapainya sasaran strategis terwujudnya transformasi mutu pelayanan yang terakreditasi pada tahun 2015 dilakukan melalu berbagai kegiatan. Realisasi anggaran dalam rangka mencapai sasaran strategis tersebut ditampilkan dalam tabel sebagai berikut :

Uraian Pagu Realisasi

Audit kinerja dan keuangan oleh KAP 80.000.000,- 52.613.000,-

Surveilans ISO 93.580.000,- 62.488.260,-

kebutuhan obat 1.330.000.000,- 1.179.103.220,-

Sasaran strategis terwujudnya Rumah Sakit Paru Surakarta unggulan sebagai pusat rujukan kesehatan paru mempunyai 2 (dua) indikator kinerja utama yaitu :

1. % Kasus TB HIV diobati  Kondisi yang dicapai

Dalam rencana strategis bisnis periode 2015-2019, BBKPM Surakarta telah menetapakn visinya untuk berubah menjadi rumah sakit khusus paru. Dalam rencana perubahan tersebut, BBKPM Surakarta telah menetapkan layanan unggulannya sebagai pusat rujukan TB-HIV. Dalam rangka mewujudkan layanan unggulan sebagai pusat rujukan TB-HIV tersebut, pada tahun 2015 BBKPM Surakarta telah menetapkan indikator kinerja utama yaitu % kasus

TB-Sasaran Terwujudnya Rumah Sakit Paru Surakarta Unggulan sebagai Pusat Rujukan Kesehatan Paru

(37)

HIV diobati. Target atas pencapaian indikator tersebut pada tahun 2015 adalah 20%. Realisasi indikator % kasus TB-HIV diobati pada tahun 2015 adalah 12%.  Perbandingan tahun sebelumnya

Pencapaian atas indikator % kasus TB HIV diobati pada tahun 2014 masih 0.  Permasalahan yang dihadapi

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka pencapaian indikator % kasus TB-HIV diobati adalah :

- Kehadiran tenaga pelayanan spesialis penyakit dalam yang hanya 1 kali dalam 1 minggu;

- Keterbatasan peralatan (CD4, Viral load);

- Pasien menolak untuk diobati di BBKPM Surakarta.  Usul pemecahan masalah

Dalam rangka mengatasi permasalahan yang ada diperlukan langkah-langkah usulan pemecahan masalah yaitu :

1. Merujuk spesimen pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap dalam fasilitas pengobatan TB-HIV (CD4, Viral load);

2. Meningkatkan kompetensi SDM melalui pendidikan tenaga spesialis bagi dokter umum.

 Pencapaian periode 5 tahun

Pencapaian atas indikator kinerja utama % kasus TB HIV diobati pada tahun 2015, dibandingkan dengan target jangka menengah yang ingin dicapai pada tahun 2019 terbilang sangat rendah yaitu sebesar 16%. Diperlukan komitmen dan kemauan keras dari seluruh elemen di BBKPM Surakarta agar pencapaian jangka menengah indicator kinerja utama % kasus TB-HIV diobati dapat tercapai.

Indikator Kinerja Utama Target s.d. 2019 Realisasi % Realisasi 2015 terhadap target jangka menengah 2019

% Kasus TB HIV diobati 75,00% 12,00% 16,00%

2. % Implementasi penanganan paru sesuai ISTC  Kondisi yang dicapai

Dalam rencana strategis bisnis periode 2015-2019, BBKPM Surakarta telah menetapkan visinya untuk berubah menjadi rumah sakit khusus paru. Dalam penyelenggaraan pelayanan paru kepada masyarakat/pasien, penanganan penyakit paru harus sesuai dengan indikator/prosedur penanganan yang diakui secara global/internasional. Guna mewujudkan pelayanan yang terstandar

(38)

internasional tersebut , telah ditetapkan indikator guna mengukur kepatuhan pelayanan terhadap pasien paru/TB. Realisasi atas indikator % Implementasi penanganan paru sesuai ISTC adalah sebesar 72%.

 Perbandingan tahun sebelumnya

Pencapaian atas indikator % Implementasi penanganan paru sesuai ISTC pada tahun 2014 sebesar 65%.

 Permasalahan yang dihadapi

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka pencapaian indikator % Implementasi penanganan paru sesuai ISTC adalah kurangnya komitmen internal dan jejaring eksternal untuk dapat menemukan, mengobati dan mencegah penyakit TB

 Usul pemecahan masalah

Dalam rangka mengatasi permasalahan yang ada diperlukan langkah-langkah usulan pemecahan masalah sebagai berikut penguatan komitmen internal dan jejaring eksternal untuk dapat menemukan, mengobati dan mencegah penyakit TB.

 Pencapaian periode 5 tahun

Pencapaian atas indikator kinerja utama % Implementasi penanganan paru sesuai ISTC pada tahun 2015 sebesar 72%, dibandingkan dengan target jangka menengah yang ingin dicapai pada tahun 2019 sebesar 90%, maka pencapaian atas % Implementasi penanganan paru sesuai ISTC perlu lebih ditingkatkan.

Indikator Kinerja Utama Target s.d. 2019 Realisasi % Realisasi 2015 terhadap target jangka menengah 2019 % Implementasi penanganan paru sesuai

ISTC 90% 72% 80,00%

Dalam rangka menilai keberhasilan sasaran strategis terwujudnya rumah sakit jejaring ditetapkanlah 2 (dua) indikator kinerja utama, yaitu :

1. Jumlah institusi yang bekerjasama dalam bidang pelayanan paru  Kondisi yang dicapai

Selama tahun 2015, jumlah institusi yang bekerjasama dalam bidang pelayanan paru dengan BBKPM Surakarta sebanyak 5 institusi. 5 (lima) institusi yang telah mengadakan kerjasama dengan BBKPM Surakarta adalah :

- Rumah Sakit Panti Waluyo;

(39)

- Klinik Pratama Nurifa, - Klinik Iis Medika;

- Praktek dokter keluarga Dr. Adiati; - Klinik Ananda.

 Perbandingan tahun sebelumnya

Pencapaian atas indikator jumlah institusi yang bekerjasama dalam bidang pelayanan paru pada tahun 2014 adalah 0.

 Permasalahan yang dihadapi

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka pencapaian indikator jumlah institusi yang bekerjasama dalam bidang pelayanan paru adalah

- Belum optimalnya rujukan yang dilaksanakan oleh institusi pelayanan kesehatan yang telah menjalin kerjasama rujukan dengan BBKPM Surakarta; - Terdapat beberapa kasus yang dirujuk dari institusi pelayanan kesehatan yang

ternyata tidak dapat ditangani di BBKPM Surakarta.  Usul pemecahan masalah

Dalam rangka mengatasi permasalahan yang ada diperlukan langkah-langkah usulan pemecahan masalah sebagai berikut :

- Meningkatkan koordinasi dengan institusi pelayanan kesehatan perihal rujukan pasien ke BBKPM Surakarta;

- Aktif menginformasikan kasus-kasus yang dapat ditangani di BBKPM Surakarta.

 Pencapaian periode 5 tahun

Apabila dibanding target rencana jangka menengah sebagaimana tertuang dalam dokumen Rencana Strategis Bisnis BBKPM Surakarta, indicator kinerja utama jumlah institusi yang bekerjasama dalam bidang pelayanan paru mencapai 38,46% dari target rencana jangka menengah yang telah ditetapkan yang ditetapkan. Koordinasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan lain perlu ditingkatkan guna mencapai target jangka menengah sebesar 13 fasilitas pelayanan kesehatan.

Indikator Kinerja Utama Target s.d. 2019 Realisasi % Realisasi 2015 terhadap target jangka menengah 2019 jumlah institusi yang bekerjasama

Gambar

Tabel Perencanaan Kinerja BBKPM Surakarta tahun 2015-2019
Tabel Perjanjian Kinerja BBKPM Surakarta tahun 2015
Tabel Pegawai PNS BBKPM Surakarta berdasarkan Jabatan
Tabel PNS BBKPM Surakarta berdasarkan golongan
+4

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Penyerapan Nitrogen dan Fosfor Rumput Laut di Teluk Gerupuk Berdasarkan laju penyerapan nutrien (N dan P), biomassa panen, dan luasan area bu- didaya, maka dapat dilakukan estimasi

Pada suatu inflamasi ringan, biasanya ditemukan kadar TNF- α rendah, tetapi kadar TNF- α sedang dapat memengaruhi pelepasan prostaglandin yang selanjutnya

Berdasarkan nilai PSNR hasil perbandingan peta awal dan peta berisi pesan, teknik steganografi LSB pada peta vektor ini dinilai memiliki kinerja yang cukup baik. Peta

Hasil penelitian pada BUSN devisa dalam pengawasan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2011-2013 menunjukkan bahwa faktor profil risiko dengan rasio Non Perform

Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul

Hasil analisis menunjukkan di lokasi kajian terdapat 18 kelas penutupan lahan, yang terdiri dari; hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, hutan rawa pasang

Belakangan, saya lihat software NTOP akan sangat menarik jika kita gunakan untuk memonitor aktiftas yang terjadi di jaringan kita karena sangat banyak sekali informasi yang dapat

E.3.2 Waktu retensi semua catatan dan laporan harus paling tidak lima (5) tahun. E.3.3 a) Fasilitas harus mencatat dan menyeimbangkan semua penerimaan TBS bersertifikasi RSPO