PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN SAVI BERBASIS
OPEN ENDED TERHADAP HASIL BELAJAR
MATEMATIKA PADA SISWA KELAS V SD
GUGUS III SUKAWATI
Wyn. Adiana Utama
1, Ni Wyn. Suniasih
2, DB. Kt. Ngr. Semara Putra
31,2,3
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
Email : [email protected]
1, [email protected]
2,
[email protected]
3Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Somatic,
Auditory, Visualization, And Intellectualy (SAVI) berbasis Open Ended dan siswa yang
dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD Gugus III Kecamatan Sukawati tahun pelajaran 2013/2014. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah Non Equivalent
Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD
Gugus III Kecamatan Sukawati yang berjumlah 196 siswa. Sampel diambil dengan teknik random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas V SD Negeri 3 Batuan sebagai kelompok eksperimen dan kelas V SD Negeri 2 Batuan Kaler sebagai kelompok kontrol dengan jumlah masing-masing kelompok sebanyak 30 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes bentuk essay. Data dianalisis menggunakan teknik analisis statistik uji-t. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran SAVI berbasis Open Ended dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil uji-t didapat thitung =
3.15 dan ttabel(α = 0.05, 58) = 2.00. Berdasarkan kriteria pengujian thitung = 3.15 > ttabel = 2.00
maka H0 ditolak dan Ha diterima. Rata-rata hasil belajar matematika yang diperoleh
antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran SAVI berbasis Open
Ended = 72.42 > = 66.75 siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran
konvensional . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran SAVI berbasis Open Ended berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SD Gugus III Kecamatan Sukawati.
Kata kunci : model pembelajaran SAVI, open ended, hasil belajar matematika
Abstract
The purpose of this study was to find out the significant differences of mathematics learning outcomes between students that learned through by implemented Somatic, Auditory, Visualization, And Intellectualy (SAVI) learning model based Open Ended and students who learned through conventional learning in fifth grade SD Gugus III Sukawati District of academic year 2013/2014. This research was a quasi-experimental study with a research design that is used is Non-Equivalent Control Group Design. The population in this research were all students of fifth grade at SD Gugus III Sukawati District totaling 196 students. Samples were taken with a random sampling technique.
The sample in this study is the class V of SD Negeri 3 Batuan as the experimental group and class V of SD Negeri 2 Batuan Kaler as a control group, which is the total of each group of 30 person. Data collection method used is an essay test method. Data were analyzed by t-test statistical analysis. The results showed that there were significant differences of mathematics learning outcomes between students that learned through by implemented SAVI learning model based Open Ended with students who learned through conventional learning. Based on the t-test results obtained tcount = 3.15
and ttable(α = 0.05, 58) = 2.00. Based on the testing criteria that tcount = 3.15 > ttable = 2.00 then
H0 is rejected and Ha accepted. The average of mathematics leraning outcomes
between students who learned through SAVI learning model based Open Ended = 72.42 > = 66.75 students who learned through conventional learning. It can be concluded that the SAVI learning model based Open Ended significant influence againts the mathematics learning outcomes on fifth grade students in SD Gugus III District of Sukawati.
Keywords : SAVI learning model, open ended, mathematics learning outcomes
PENDAHULUAN
Pendidikan sebagai salah satu usaha manusia mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Pendidikan menjadi pilar utama dalam mewujudkan perubahan manusia kearah yang positif dan menuju pencapaian potensi kemanusiaan tertinggi. Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang mendidik serta membelajarkan siswa agar menjadi sumber daya yang berkualitas terus berupaya melakukan berbagai inovasi agar nantinya dihasilkan sumber daya manusia yang dihasilkan mampu menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan kenyataan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Peningkatan kualitas pendidikan harus dipenuhi melalui proses pembelajaran yang efektif. Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi multiarah antar siswa, guru, dan lingkungan belajar, oleh karena itu itu pemilihan srategi pembelajaran merupakan salah satu hal penting yang harus dipahami olen setiap guru. Artinya, bagaimana guru dapat memilih kegiatan pembelajaran yang paling efektif dan efisien untuk menciptakan pengalaman belajar yang baik, yaitu yang dapat memberikan fasilitas kepada siswa mencapai tujuan pembelajaran (Uno dan Nurdin, 2012). Sependapat dengan hal tersebut, Aqib (2013:67) mengemukakan bahwa “pengajaran bukanlah sesuatu yang
terjadi secara kebetulan, melainkan adanya kemampuan guru yang dimiliki tentang dasar-dasar mengajar yang baik”.
Pada era globalisasi ini matematika memiliki peranan penting dalam berbagai segi kehidupan manusia. Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern. “Matematika juga mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Melalui matematika, siswa akan dibekali kemampuan berfikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, dan kemampuan bekerja sama” (Suherman, 2003:60). Oleh karena itu mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah dasar untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Lebih lanjut, matematika di sekolah mempunyai peranan sangat penting baik bagi siswa agar memiliki bekal pengetahuan dan untuk pembentukan sikap serta pola pikirnya, warga negara pada umumnya agar dapat hidup layak , untuk kemajuan negaranya, dan matematika itu sendiri dalam rangka melestarikan dan mengembangkannya. Susanto (2013:183) mengemukakan “tujuan pembelajaran matematika di sekolah dimaksudkan agar
siswa tidak hanya terampil menggunakan matematika, tetapi dapat memberikan bekal kepada siswa dengan tekanan penataan nalar dalam penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari”. Mengacu dari pendapat tersebut, maka dalam proses pembelajaran khususnya matematika, guru hendaknya dapat memilih kegiatan pembelajaran yang paling efektif dan efisien untuk menciptakan pengalaman belajar yang baik, yaitu yang dapat memberikan fasilitas kepada siswa mencapai tujuan pembelajaran.
Namun dalam kenyataan yang ada sekarang, penguasaan matematika di Sekolah Dasar (SD), selalu menjadi permasalahan besar. Hal ini dapat dilihat dari hasil ujian nasional (UN) yang diselenggarakan memperlihatkan rendahnya persentase kelulusan siswa dalam ujian tersebut, baik yang diselenggarakan di tingkat pusat maupun daerah (Susanto, 2013). Pembelajaran Matematika di SD saat ini cenderung masih merupakan proses penyampaian materi pada diri siswa dengan metode ceramah dan tanya jawab. Berdasarkan observasi yang dilakukan di kelas V SD Gugus III Sukawati tahun ajaran 2013/2014, pada mata pelajaran matematika masih banyak siswa yang belum mencapai nilai KKM. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya masih banyaknya guru yang menerapkan pembelajaran konvensional, yaitu pembelajaran yang masih terpusat pada guru (teacher centre). Selain itu, terbatasnya variasi media pembelajaran yang digunakan, dan masih kurangnya variasi dalam menggunakan metode dan model pembelajaran membuat proses pembelajaran matematika terkesan membosankan, sulit, dan kurang menarik bagi siswa. Keadaan yang demikian jika dibiarkan terus menerus dapat menurunkan kreativitas siswa yang pada akhirnya bepengaruh negatif pada hasil belajar siswa.
Melihat kondisi seperti ini, maka perlu adanya inovasi baru dalam proses pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif untuk berfikir, berinteraksi, berbuat untuk mencoba, menemukan konsep baru atau menghasilkan suatu karya. Uno dan Nurdin (2012:76)
mengemukakan bahwa “anak-anak dapat belajar dengan baik dari pengalaman mereka. Mereka belajar dengan cara melakukan, menggunakan indra mereka, menjelajahi lingkungan, baik lingkungan berupa benda, tempat serta peristiwa-peristiwa disekitar mereka”. Oleh karena itu untuk menanggulanginya, perlu diberikan suatu pembaharuan pembelajaran inovatif yang didasarkan pada konstruktivisme. Salah satu model pembelajaran yang didasarkan pada konstruktivisme adalah model pembelajaran Somatic, Auditory,
Visualization, And Intellectualy (SAVI)
Pembelajaran yang didasarkan pada konstruktivisme itu dapat menciptakan pemahaman baru yang mendorong siswa untuk berpikir dan mengkonstruksikan pengetahuan sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme “pembelajaran harus dikemas menjadi proses „mengkonstruksi‟ bukan „menerima‟ pengetahuan” (Baharuddin dan Wahyuni, 2010:116).
Model pembelajaran SAVI diperkenalkan pertama kali oleh Dave Meier. Menurut Meier (2002) manusia memiliki empat dimensi yakni: tubuh atau
somatic (S), pendengaran atau auditory (A),
penglihatan atau visual (V), dan pemikiran atau intelectual (I). Pembelajaran SAVI berarti belajar harulah melalui gerakan fisik atau belajar melakukan, belajar melalui mendengarkan, belajar menggunakan indera mata melalui mengamati, belajar dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah dan menerapkan. Ngalimun (2012:166), menyatakan “pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki siswa”. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari Somatic yang bermakna gerakan tubuh dimana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar,
mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga; dan
Intellectualy yang bermakna bahwa belajar
haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannnya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkontruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan. Model pembelajaran SAVI ini dipilih karena dalam pemecahan masalah khususnya mata pelajaran matematika perlu penggunaan cara belajar yang dapat mengoptimalkan fungsi kerja otak dalam memperoleh dan mengkonstruksi pengalaman menjadi suatu pengetahuan dan keterampilan serta sikap-sikap yang diperlukan dalam mengkonstruksi pengetahuan tersebut.
Dalam memberikan permasalahan matematika, digunakan masalah terbuka (open ended problem) merupakan “suatu pembelajaran dengan cara memberikan soal-soal matematika yang dirumuskan sedemikian rupa, sehingga memiliki beberapa atau bahkan banyak solusi yang benar dan terdapat banyak cara untuk mencari solusi tersebut” (Sudiarta, 2008: 47). Ngalimun (2012:164) menyatakan “pembelajaran dengan masalah terbuka (open ended problem) adalah pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (fluency)”. Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif, tinggi, kritis, bertukar pendapat, keterbukaan, dan sosialisasi.
Mengacu dari pendapat tersebut, dalam pembelajaran SAVI lebih baik jika dipadukan dengan penyajian masalah terbuka (open ended problem) dalam pembelajaran akan dapat meningkatkan daya nalar siswa sehingga siswa dapat berpikir logis, kritis dan divergen. Dengan demikian, pembelajaran yang dilaksanakan berupa model pembelajaran SAVI berbasis
Open Ended.
Berdasarkan uraian tersebut, secara teoritis pembelajaran SAVI berbasis Open
Ended berpengaruh terhadap hasil belajar
matematika siswa, tetapi secara empiris perlu dibuktikan melalui penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran
Somatic, Auditory, Visualization, And
Intellectualy (SAVI) Berbasis Open Ended
Terhadap Hasil Belajar Matematika Pada Siswa Kelas V SD Gugus III Kecamatan Sukawati”.
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut : 1) Bagaimana hasil belajar matematika kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran SAVI Berbasis Open Ended?; 2) Bagaimana hasil belajar matematika kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran Konvensional?; 3) Apakah terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran SAVI Berbasis Open Ended dengan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada kelas V SD Gugus III Kecamatan Sukawati?
Dari permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Untuk mengetahui hasil belajar matematika kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran SAVI Berbasis Open Ended; 2) Untuk mengetahui hasil belajar matematika kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran Konvensional; 3) Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran SAVI Berbasis Open Ended dengan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada kelas V SD Gugus III Kecamatan Sukawati.
METODE
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain eksperimental yaitu quasi
eksperiment (eksperimen semu), dengan
memanipulasi variabel bebas yaitu model pembelajaran yang digunakan, sedangkan variabel lain tidak bisa dikontrol secara ketat.
Desain eksperimen semu yang digunakan dalam penelitian ini adalah ”non
eqivalent control group design” (Emzir,
2010:105). Menurut Emzir (2012:102) “Pada desain ini, baik kelompok eksperimental maupun kelompok kontrol dibandingkan”. Pre test diberikan untuk
kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Setelah itu peneliti memberikan perlakuan, yaitu dengan memberikan pembelajaran SAVI Berbasis
Open Ended kepada kelompok eksperimen
dan memberikan pembelajaran konvensional kepada kelompok kontrol. Setelah diberikan perlakuan, dilakukan post
test untuk mengetahui hasil belajar.
Rancangan penelitian ini hanya memperhitungkan skor post test saja yang dilakukan pada akhir penelitian atau dengan kata lain tanpa memperhitungkan skor pre test. Dalam penelitian ini skor
pre-test digunakan untuk menguji keseteraan
sampel yakni antara siswa kelompok eksperimen dengan siswa kelompok kontrol. Hal tersebut didukung oleh pendapat Dantes (2012: 97) yang menyatakan bahwa “pemberian prates biasanya untuk mengukur ekuivalensi atau penyetaraan kelompok”.
Prosedur dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir eksperimen. Pada tahap persiapan eksperimen langkah-langkah yang dilakukan yaitu (a) menyusun Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), (b) menyusun media dan sumber belajar, (c) menyusun instrumen penelitian berupa tes hasil belajar pada ranah kognitif untuk mengukur hasil belajar matematika siswa (d) mengadakan validasi instrumen penelitian yakni tes hasil belajar matematika. Pada tahap pelaksanaan eksperimen dilakukan yaitu; (1) menentukan sampel penelitian berupa kelas dari populasi yang tersedia, (2) dari sampel yang telah diambil kemudian diundi untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol, (3) melaksanakan pre- test untuk uji kesetaraan kelompok sampel, (4) melaksanakan penelitian. Pada tahap akhir eksperimen, yang dilakukan adalah memberikan pos-test pada akhir penelitian, baik untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.
Dalam penelitian terdapat populasi dan sampel. Sugiyono (2012: 117) menyatakan bahwa “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan
peneliti untuk dipelajari sehingga dapat ditarik kesimpulannya”.
Dari pengertian populasi di atas, populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus III Sukawati Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 196 siswa yang terdiri dari 7 sekolah diantaranya SD Negeri 1 Batuan, SD Negeri 2 Batuan, SD Negeri 3 Batuan, SD Negeri 4 Batuan, SD Negeri 5 Batuan, SD Negeri 1 Batuan Kaler, dan SD Negeri 2 Batuan Kaler.
Sugiyono (2012: 118) menyatakan bahwa “sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi”.Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini Probability Sampling yaitu menggunakan Random Sampling
(Sugiyono, 2012:120). Pemilihan sampel penelitian ini tidak dilakukannya pengacakan individu, karena tidak bisa mengubah kelas yang telah terbentuk sebelumnya. Pengambilan sampel dengan teknik ini memberikan kemungkinan yang sama bagi kelas yang menjadi anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel penelitian. Setelah mendapat 2 kelas yang dijadikan sampel, selanjutnya diuji kesetaraannya. Setelah keadaan sampel setara, maka dilanjutkan dengan menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol melalui teknik random.
Dari hasil undian, terpilih Kelas V di SD Negeri 2 Batuan dan Kelas V di SD Negeri 3 Batuan sebagai sampel penelitian. Untuk mengetahui sampel benar-benar setara, dalam penelitian ini pre test digunakan untuk menyetarakan kelompok. Teknik yang digunakan dalam penyetaraan kelompok adalah teknik matching. Menurut Darmadi (2011:197) “matching adalah satu teknik untuk menyeragamkan kelompok pada satu variabel atau lebih”. Masing-masing subjek yang ada dijodohkan dengan subjek lain yang nilai pratesnya sama. Jika subjek tidak mendapat pasangan maka subjek tersebut tetap diikutkan dalam proses pemberian perlakuan saat penelitian, tetapi tidak diikutkan sebagai sampel dalam penelitian.
Dari pemetaan diperoleh jumlah sampel seluruhnya adalah 60 orang siswa dengan 30 orang siswa dari kelas V SD Negeri 3 Batuan dan 30 orang siswa dari
kelas V SD Negeri 2 Batuan Kaler. Setelah diundi, ditentukan bahwa kelas V SD Negeri 3 Batuan sebagai kelompok eksperimen yang dibelajarkan melalui model pembelajaran SAVI berbasis open ended dan kelas V SD Negeri 2 Batuan Kaler sebagai kelompok kontrol yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional.
“Variabel adalah suatu konsep yang mempunyai variasi atau keragaman” (Winarsunu, 2012 : 3). Penelitian ini melibatkan dua variabel, yakni variabel bebas dan variabel terikat. Sugiyono (2012:61) menyatakan variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannnya atau timbulnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Somatic, Auditory, Visualization, And Intellectualy (SAVI)
Berbasis Open Ended yang diterapkan pada kelompok eksperimen dan pembelajaran konvensional yang diterapkan pada kelompok kontrol. “variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas” (Sugiyono, 2012:61). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa kelas V.
Metode yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah metode tes. Tes untuk mengukur hasil belajar matematika dikonstruksi dalam bentuk tes uraian (essay test). “Pada tes uraian, pemberian skor umumnya mendasarkan diri kepada bobot (weight) yang diberikan untuk setiap butir soal, atas dasar tingkat kesukarannya, atau atas dasar banyak sedikitnya unsur yang harus terdapat dalam jawaban yang dianggap paling baik” (Sudijono, 2011:301). Tes uraian sebagai salah satu alat pengukur hasil belajar, tepat dipergunakan apabila pembuat soal disamping ingin mengungkap daya ingat dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang ditanyakan dalam tes, juga dikehendaki untuk mengungkap kemampuan siswa dalam memahami berbagai macam konsep berikut aplikasinya. Kreteria penilaian tes kemampuan menyelesaiakan soal essay matematika menggunakan skala penilaian 0-4.
Sebelum digunakan, tes tersebut terlebih dahulu divalidasi secara teoritis dengan menyusun kisi-kisi soal dan dikonsultasikan dengan ahli, selanjutnya dilakukan validasi secara empirik dengan jumlah responden sebanyak 35 orang. Validasi tes meliputi uji validitas dan uji reliabilitas. “Validitas perangkat tes adalah taraf sejauh mana perangkat tes tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur” (Dantes, 2012:125). Menurut Sudijono (2011:93) “tes diakataan valid apabila tes tersebut dengan secara tepat, secara benar, secara sahih, atau secara absah dapat mengukur apa yang seharusnya diukur”. Validitas tes bentuk uraian (essay) bersifat politomi, maka dalam analisis validitas digunakan rumus korelasi product moment (rxy). Nilai yang diperoleh kemudian bandingkan nilai yang diperoleh dari r tabel, jika r hitung > r tabel maka dalam katagori valid. Berdasarkan perhitungan uji validitas tes hasil belajar matematika, dari 20 butir soal yang diujicobakankan kepada 35 responden diperoleh 14 butir soal yang valid dan 6 butir soal yang tidak valid.
Untuk tes yang sudah valid dilanjutkan diuji realibilitasnya. Menurut Sudijono (2012:95) “tes hasil belajar dapat dikatakan reliabel apabila hasil-hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan tes tersebut secara berulangkali terhadap subyek yang sama, senantiasa menunjukkan hasil yang sama atau sifatnya ajeg dan stabil”. Uji reliabilitas dilakukan terhadap butir soal yang valid saja, dengan demikian uji reliabilitas bisa dilakukan setelah dilakukan uji validitas. Uji reliabilitas tes yang bersifat politomi ditentukan dengan rumus Alpha Cronbach. Kriteria yang digunakan untuk menentukan butir soal yang reliabel adalah, jika r11 0.70 berarti tes hasil belajar dinyatakan telah memiliki reliabilias yang tinggi (reliable). Apabila r11 0.70 berarti bahwa tes belum memiliki reliabilitas yang tinggi (un-reliable). Berdasarkan hasil perhitungan uji reliabilitas tes hasil belajar matematika, diperolah nilai r11 = 0.73. Sehingga r11 = 0.73 > rtabel = 0,70. Dengan demikian tes hasil belajar matematika tergolong reliable.
Data hasil belajar matematika dikumpulkan dengan instrumen berupa tes
essay berjumlah 10 butir tes yang telah
divalidasi. Teknik yang digunakan untuk menganalisis hasil belajar matematika dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis statistik yaitu uji-t. Sebelum dilaksanakannya uji-t terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varians. Menurut Sugiyono, (2009:241). “Statistik parametris itu bekerja berdasarkan asumsi bahwa data setiap variabel yang akan dianalisis berdasarkan distribusi normal”. Uji Normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah sebaran data skor hasil belajar matematika siswa masing-masing kelompok berdistribusi normal atau tidak sehingga dapat menentukan teknik analisis datanya. Uji Normalitas sebaran data dalam penelitian ini menggunakan Chi-kuadrat. Kriteria pengujian adalah jika <
, maka H0 diterima (gagal ditolak) yang berarti data berdistribusi normal. Pada taraf signifikansinya 5% dan derajat kebebasanya (dk) = (k-1). Uji Homogenitas varians dilakukan untuk menunjukkan bahwa perbedaan yang terjadi pada uji hipotesis benar-benar terjadi akibat adanya perbedaan antar kelompok, bukan sebagai akibat perbedaan dalam kelompok. Uji homogenitas dapat dilakukan apabila kelompok data tersebut dalam distribusi normal. Uji homogenitas data dilakukan dengan Anava Havley (Uji F). Kriteria pengujian homogenitas, data mempunyai varians yang homogen bila Fhit < Ftabel ( =0.05, 29, 29).
Analisis statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini adalah uji beda mean (uji t). Rumus uji-t dengan rumus polled varians digunakan karena jumlah anggota sampel sama n1=n2 dan varians homogens. Dengan kriteria, jika thitung < ttabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak, sebaliknya jika thitung ≥ ttabel maka Ho ditolak dan Ha diterima. Pada taraf signifikan 5% dengan dk = n1+n2-2.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini adalah hipotesis nol (H0) yaitu tidak
terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar Matematika kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran SAVI Berbasis Open Ended dengan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada kelas V SD Gugus III Kecamatan Sukawati. Sedangkan untuk hipotesis alternatif (Ha) yaitu terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar Matematika kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran SAVI Berbasis Open Ended dengan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada kelas V SD Gugus III Kecamatan Sukawati. Berdasarkan perhitungan hasil
post-test, kelompok eksperimen yang
dibelajarkan melalui model pembelajaran SAVI berbasis Open Ended memperoleh mean = 72.42, median Me = 72.50,
modus Mo = 72.50, dengan varian S2 = 45.90 dan standar deviasi S = 6.77. Hasil belajar matematika siswa pada kelompok eksperimen kemudian dikategorikan sesuai dengan KKM yang ditentukan sekolah yaitu 65. Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa 80% siswa pada kelompok eksperimen mendapatkan nilai diatas KKM, 10% siswa mendapat nilai setara KKM, dan 10% siswa mendapat nilai dibawah KKM dari jumlah siswa 30 orang.
Sedangkan pada kelompok kontrol yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional memperoleh mean = 66.75, median Me = 67.50, modus Mo = 65.00, dengan varian S2 = 50.93 dan standar deviasi S = 7.14. Hasil belajar matematika siswa pada kelompok kontrol kemudian dikategorikan sesuai dengan KKM yang ditentukan sekolah yaitu 65. Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa 53.33% siswa pada kelompok kontrol mendapatkan nilai diatas KKM, 16.67% siswa mendapat nilai setara KKM, dan 30.00% siswa mendapat nilai dibawah KKM dari jumlah siswa 30 orang.
Berdasarkan hasil uji normalitas sebaran data kelas eksperimen nilai 2hitung = 4.15. Sedangkan2tabel pada taraf signifikansi 5% (α=0,95) dan derajat kebebasan (dk = 6-1=5) adalah 11.07, sehingga 2hitung = 4.15˂ 2tabel = 11.07 maka Ho diterima atau Ha ditolak. Ini berarti
sebaran data hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen berdistribusi normal. Dan berdasarkan hasil uji normalitas sebaran data kelas kontrol nilai
2
hitung = 1.23. Sedangkan2tabel pada taraf signifikansi 5% (α=0,95) dan derajat kebebasan (dk = 6-1=5) adalah 11.07, sehingga 2hitung = 1.23 ˂ 2tabel = 11.07 maka Ho diterima atau Ha ditolak. Ini berarti sebaran data hasil belajar matematika siswa kelas kontrol berdistribusi normal
.
Hasil uji homogenitas varians menunjukkan hasil analisis Fhitung = 1.11. Berdasarkan nilai Ftabel pada taraf signifikan 5% dengan derajat kebebasan (dk pembilang = 30 - 1 dan dk penyebut = 30 - 1) adalah 1.85. Karena Fhit = 1.11 < Ftabel = 1.85 maka data
hasil belajar Matematika antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol mempunyai varians yang homogen.
Data yang diperoleh telah memenuhi semua uji prasyarat, uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis uji-t dengan rumus polled varians. Rumus uji-t dengan rumus polled varians digunakan karena jumlah anggota sampel sama n1=n2 dan varians homogen. Dengan kriteria pengujian apabila thitung < ttabel, maka Ho diterima (gagal ditolak) dan Ha ditolak. Sebaliknya apabila thitung > ttabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan db = n1 + n2 – 2 dan taraf signifikansi 5% (α = 0,05) atau taraf kepercayaan 95%. Hasil uji t dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Analisis Uji-t
Kelompok s2 n thitung ttabel Kesimpulan
Eksperimen 72.42 45.90 30
3.15 2.00 t(Hhitung > ttabel
0 ditolak, Ha diterima) Kontrol 66.75 50.93 30
Dari hasil analisis diperoleh nilai thitung = 3.15. Sedangkan ttabel(α = 0.05, 58) = 2.00. Berdasarkan tabel 1, tampak bahwa thitung = 3.15 > ttabel = 2.00. Dengan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima. Rata-rata hasil belajar matematika yang diperoleh antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran SAVI berbasis Open Ended = 72.42 > = 66.75 siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional. Maka dapat ditarik kesimpulan hasil analisis bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran SAVI Berbasis Open Ended dengan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada kelas V SD Gugus III Kecamatan Sukawati.
Berdasarkan uji-t diperoleh thitung > ttabel berarti hipotesis yang menyebutkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran SAVI berbasis Open Ended dengan siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran
konvensional pada taraf signifikansi 5% diterima. Hal ini mengandung arti bahwa siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran SAVI berbasis Open
Ended hasil belajarnya lebih baik daripada
siswa yang dibelajarkan dengan melalui pembelajaran konvensional pada materi menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah.
Hal ini disebabkan karena model pembelajaran SAVI berbasis Open Ended merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran matematika. Dalam proses pembelajaran, guru dapat memberikan suasana menarik dan menyenangkan yang menfasilitasi siswa dapat belajar dengan cara melakukan, melihat, mendengar, dan berfikir untuk memecahkan permasalahan. Model pembelajaran SAVI berbasis Open
Ended adalah model yang memiliki ciri khas
yaitu pembelajaran yang
mengkombinasikan alat indra dalam belajar (bergerak, mendengar, melihat, dan kemampuan berfikir) yang dipadukan dengan masalah terbuka dalam pembelajaran matematika.
Berbeda dengan pembelajaran matematika yang menggunakan pembelajaran konvensional, selama proses pembelajaran siswa terlihat kurang aktif. Siswa hanya terpusat pada guru yang lebih banyak memberikan ceramah daripada kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif. Pembelajaran konvensional mengakibatkan siswa sangat bergantung pada guru, Hal ini dapat mengakibatkan aktivitas siswa kurang optimal sehingga siswa kurang bergairah, hanya menerima apa yang disampaikan guru dan proses pembelajaran cenderung membosankan.
Hal ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran SAVI berbasis Open
Ended dengan kelompok siswa yang
dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil uji hipotesis diperoleh thitung = 3.15 > ttabel(α = 0.05, 58)= 2.00 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar matematika kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran SAVI berbasis Open Ended dengan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional. Dari pembahasan hasil penelitian, pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran SAVI berbasis Open Ended memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan menggunakan pembelajaran konvensional pada mata pelajaran matematika. Dapat dilihat dari perolehan nilai rata-rata hasil belajar siswa kelompok eksperimen = 72.42 > = 66.75 hasil belajar siswa kelompok kontrol. Maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran SAVI berbasis
Open Ended berpengaruh terhadap hasil
belajar matematika pada kelas V SD Gugus III Kecamatan Sukawati.
Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan, maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai alternatif untuk pengembangan pembelajaran khususnya merancang
pembelajaran matematika yang inovatif dengan tujuan memperoleh hasil belajar yang optimal. Bagi siswa, dengan diterapkannya model pembelajaran SAVI berbasis Open Ended pada mata pelajaran matematika, dapat mempermudah cara belajar siswa yang mengalami kesulitan belajar. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan dalam menyusun suatu program pembelajaran, guna meningkatkan profesionalitas guru dalam memperbaiki pembelajaran. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu masukan dalam mengembangkan penelitian selanjutnya yang dapat memberikan pengetahuan baru dan bermanfaat di bidang pendidikan.
DAFTAR RUJUKAN
Aqib, Zainal. 2013. Model-Model, Media,
dan Srategi Pembelajaran Konstektual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya.
Baharuddin dan Nur Wahyuni. 2010. Teori
Belajar dan Pembelajaran.
Jogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Dantes, Nyoman. 2012. Metode Penelitian. Yogyakarta: Andi.
Darmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian
Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Emzir. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif dan kualitatif.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Meier, Dave. 2002. The Accelerated
Learning Handbook. Bandung: Kaifa.
Ngalimun. 2012. Srategi dan Model Pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja
Pressindo.
Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta : raja Grafindo
Persada.
Sugiyono. 2009a. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif.
Jakarta: Alfabeta.
---, 2009b. Statistik untuk Penelitian . Bandung :Alfabeta.
---, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D.Bandung:
Alfabeta.
Sudiarta, I. G. P. 2008. Membangun
Kompetensi Berfikir Kritis Melalui Pendekatan Open Ended. Singaraja:
Undiksha.
Suherman, Erman, dkk. 2003. Strategi
Pembelajaran Matematika
Kontemporer. Bandung : Universitas
Pendidikan Indonesia
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar Dan
Pembelajaran Di Sekolah Dasar.
Jakarta: Kencana
Uno, Hamzah dan Nurdin Mohamad. 2012.
Belajar dengan Pendekatan Pailkem.
Jakarta: Bumi Aksara.
Winarsunu, Tulus. 2012. Statistik Dalam
Penelitian Psikologi dan Pendidikan.