• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2007 PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROCEEDING PEMAPARAN HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN TAHUN 2007 PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL PENYELIDIKAN GEOMAGNETIK DAN GAYABERAT DAERAH PANAS

BUMI SEBAU-SEMBALUN, KAB. LOMBOK TIMUR, PROPINSI NTB:

KORELASI ANOMALI GEOMAGNETIK DAN GAYABERAT

Alanda Idral 1, Edi Sumardi1, Suhada. Arsadipura1

1Kelompok Program Penelitian Panas Bumi

SARI

Mata air panas Sebau-Sembalun termasuk wilayah kecamatanan Suela, Kabupaten Lombok Timur Propinsi NTB. Data geomagnit dan gayaberat mengindikasikan adanya struktur kawah yang mengeitari air panas Sebau. Anomali geomagnit dan gayaberat relatif rendah (negatif) disekitar air paanas Sebau diperkirakan berasosia dengan batuan ubahan dibawah permukaan. Struktur sesar yang mengontrol kenampakan manifestasi air panas Sebau-Sembalun kepermukaan adalah sesar yang berarah baratlaut tenggara, hampir utara – selatan dan barat - timu. Batuan terobosan (?) andesit atau andesit-basaltik, (tak tersingkap) diperkirakan merupakan sumber panas (heat source) untuk sistim air panas Sebau dan diperkirakan ada hubungannya dengan kawah tsb diatas.

Kata kunci: Sebau-Sembalun, Lombok, geomagnit, gayaberat, anomali, kawah, mata air panas

PENDAHULUAN

Secara administratif mata air panas Sebau-Sembalun, termasuk dalam wilayah kecamatan. Suela, Kabupaten Lombok Timur, Propinsi NTB, Daerah penyelidikan berada pada posisi geografis antara 116º 30’ 00” – 116º 35’ 00” BT dan 8º 20’ 30” - 8º 30’ 00” LS (Gambar 1).

Pencapaian dari Bandung ke lokasi penyelidikan membutuhkan waktu selama dua hari kerja dengan menggunakan pesawat udara, mobil dan sepeda motor, melalui rute perjalanan berikut ini. ƒ Bandung - Jakarta - Mataram menggunakan

pesawat udara.

ƒ Mataram - Pringgabaya - Desa Sapit dengan menggunakan mobil.

ƒ Dari Desa Sapit ke lokasi manifestasi (Aik Sebau) dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan berjalan kaki.

Beberapa penyelidik terdahulu yang melakukan penyelidikan di Komplek Sembalun baik langsung maupun tidak langsung dengan penyelidikan kepanasbumian antara lain adalah Van Bemmelen (1949), Direktorat Vulkanologi (1989 dan 1991), Herry Sundhoro dan Iryanto (1991), Pertamina (1993), Andi S Mangga, dkk. (1994) dan PMG (2007).

.

GEOLOGI DAERAH SEBAU-SEMBALUN

Batuan didaerah Sebau-Sembalun dan sekitarnya didominasi oleh batuan vulkanik kuarter yang terdiri dari lava, piroklastik (aliran dan jatuhan) serta endapan aluvial. Batuan vulkanik tersebut merupakan hasil dari kaldera Sembalun, post kaldera Sembalun, dan G. Rinjani (Gambar 2). Sesar – sesar yang berkembang didaerah tsb dikelompokkan menjadi Dinding Kaldera Sembalun, Kawah Propok, sesar yang berarah baratdaya-timurlaut seperti Sesar Normal Pusuk, Tanakiabang, sesar berarah utara-selatan seperti sesar Bonduri, Seribu, Lantih, Lentih, Orok, Libajalin, Berenong, sesar berarah barat-timur seperti sesar Talaga, dan sesar berarah baratlaut-tenggara yakni sesar Grenggengan.

GEOMAGNIT

Gambar 3 memperlihatkan sebaran titik amat metoda geomagnit, dengan jumlah titik amat 201 titik. Hasil penyelidikan magnit berupa kerentanan magnit batuan, penampang dan peta anomali sisa magnit total.

Kerentanan Magnetik Batuan

(2)

contoh batuan yang representatif, berkisar antara 0.0 sampai 2.73 x 10-6 cgs. Nilai terendah terdapat pada batuan andesit terubahkan berupa argilik (boulder), fragmen pumis, sedangkan nilai tertinggi terdapat pada batuan andesit dengan nilai 1.06-2.7 x 10-6 cgs. Batuan di daerah penyelidikan

yang memberikan nilai kerentanan magnit 0.0 – 0.1 x 10-6 cgs menandakan batuan tersebut bersifat

non magnetik sedangkan batuan yang mempunyai nilai K, antara 1 – 2 x 10-6 cgs mengindikasikan

batuan tsb relatif bersifat magnetis dari batuan lain yang terdapat didaerah penyelidikan.

Kurva Anomali Geomagnet

Pada umumnya kurva magnit dari ke 7 lintasan memperlihatkan pola kurva yang bergerigi tajam dengan perselingan anomali positif dan negatif dibagian tengah lintasan, sedangkan pada ujung lintasan cenderung memberikan nilai kemagnitan positif, kecuali pada lintasan A dan D yang cenderung negatif (Gambar 4).

Rentang anomali positif didaerah tsb berkisar antara 40 sampai 1900 nT, sedangkan anomali negatif antara – 11 sampai – 1600 nT.

Anomali Geomagnet Total

Anomali sisa magnet total (gambar 5), didaerah penyelidikan dikelompokkan menjadi 4 kelompok anomali, yakni :

• Kelompok anomali magnit sangat rendah (negatif) dengan besaran > 0 s/d minus 500 nT • Kelompok anomali magnit rendah (positif)

dengan besaran antara 0 sampai 500 nT

• Kelompok anomali magnit sedang (positif) dengan besaran antara 500 sampai 1000 nT • Kelompok anomali magnit tinggi (positif),

dengan besaran > 1000 nT

Kelompok anomali sisa magnit sangat rendah (negatif) penyebarannya tampak berbentuk lensa sepertiga lingkaran atau tapal kuda, yakni disekitar manifestasi panas bumi Sebau sampai ke daerah Pusuk. Anomali magnit redah ini mencakup lebih kurang 17% dari seluruh daerah penyelidikan.

Kelompok anomali sisa magnit rendah (positif) penyebarannya tampak sekitar mata air panas Sebau dan sekitar daerah Sembalaun Lawang, (+/- 20% ) dari seluruh daerah penyelidikan.

Kelompok anomali sisa magnit sedang (positif) penyebarannya tampak dari utara (Sembalun

Lawang) sampai selatan (Sapit), mengitari daerah anomali rendah dan sangat rendah, dengan luas +/- 35% dari seluruh daerah penyelidikan.

Kelompok anomali magnit tinggi (positif) tampak menutupi lebih kurang 28% daerah penyelidikan, yakni di bagian utara dan selatan daerah penyelidikan.

Secara umum anomali sisa magnet total memperlihatkan pola kelurusan yang tidak beraturan yang mengindikasikan adanya struktur yang komplek didaerah Sembalun. Pengkutuban anomali negatif dan positif terutama terjadi didaerah disekitar manifestasi air panas Sebau. Selain pengkutuban, anomali magnit juga memperlihatkan pola pembelokan dan kerapatan kontur yang tajam terutama disekitar manifestasi. Kondisi demikian juga mengindikasikan adanya struktur sesar/kontak litologi dari batuan yang berbeda disekitar pola-pola anomali seperti telah disebutkan diatas, sehingga menyebabkan struktur didaerah penyelidkan cukup komplek.

GAYABERAT

Gambar 3 memperlihatkan sebaran titik amat metoda gayaberat dengan jumlah titik amat 191 titik. Hasil penyelidikan gayaberat berupa densitas batuan, anomali gayaberat regional, bouguer dan sisa, serta model 2-D gayaberat.

Densitas Batuan

Hasil pengukuran laboratorium memperlihatkan densitas batuan didaerah Sebau-Sembalun berkisar antara 0.90 (pumice) – 2.81 (andesitbasaltik) gram/cm3. dengan densitas rata-rata 2,59 gram/cm3. Analisis densitas batuan dengan menggunakan metoda Parasnis diperoleh harga densitas rata-rata 2.67 gram/cm3., selanjutnya untuk analisis data digunakan densitas 2.67 gram/cm3

Anomali Gayaberat Bouguer Regional

Anomali Bouguer regional (Gambar 6a) memperlihatkan kelurusan struktur regional berarah baratlaut – tenggara. Arah kelurusan ini searah dengan kelurusan struktur geologi regional yang terdapat di daerah penyelidikan. Anomali rendah (min 140 mgal) pada umumnya mendominasi selatan daerah penyelidikan dan

(3)

tersebar hampir 1/3 bagian, sedangkan anomali tinggi (maks. 176 mgal) terdapat di sebelah ujung timur laut daerah penyelidikan.

Anomali Gayaberat Bouguer

Daerah penyelidikan umumnya didominasi oleh anomali Bouguer rendah < 150 m-gal, sedangkan anomali bouguer tinggi (yang berupa pengkutuban) > 168 m-gal tampak di bagian ujung timurlaut dan di sekitar air panas Sebau. Anomali tinggi ini diperkirakan berkaitan dengan struktur sesar dan zona hancuran yang terdapat di daerah tersebut yang didominasi oleh batuan lava andesit basaltik dari gunung api Rinjani. Anomali i sedang (150 – 168 m-gal) tampak di bagian tengah memanjang memberikan pola berarah baratlau -t tenggara, (gambar.6b)

Anomali Gayaberat Sisa

Pola liniasi kontur yang dominan berarah tenggara – baratlaut mengindikasikan adanya struktur-struktur sesar yang berarah baratlaut - tenggara (sesar utama), dan sesar-sesar kecil dengan arah hampir utara – selatan (gambar.6.c). AnomaIi sisa negatif tampak mendominasi daerah penyelidikan sedangkan anomali positf terdapat di bagian utara timurlaut, selatan dan bagian tengah.

Pemodelan Gaya Berat 2-Dimensi

Model gaya berat penampang AB dengan arah timur-barat (6 Km) memotong nilai gaya berat rendah di timur (titik B) dan barat (titik A) dan nilai gaya berat tinggi di bagian tengah, memperlihatkan suatu bentuk bawah permukaan dengan undulasi sangat variatif. Densiti yang digunakan dalam pemodelan ini sebesar 2,67 (andesit) gr/cm3

DISKUSI a. Geomagnetik

Nilai kemagnitan negatif didaerah penyelidikan mengindikasikan batuan dibawah permukaan disusun oleh batuan yang bersifat non magnetik seperti batuan ubahan, batuan andesit terlapukan ataupun batuan sedimen vulkanik.

Nilai kemagnitan positif didaerah penyelidikan memrefleksikan adanya batuan yang bersifat

magnetik dibawah permukaan seperti batuan lava andesit, yang mondominasi susunan batuan didaerah manifestasi panas bumi Sebau-Sembalun.

Kurva magnit pada ke tujuh lintasan memperlihatkan kontras nilai magnit positif dan negatif yang rata-rata diatas 1000 nT. Kontras nilai kemagnitan yang relatif besar tsb diperkirakan erat kaitannya dengan struktur sesar sedangkan kontras kemagnitan positif dan negatif < 300 nT diperkirakan merupan bidang kontak dari batuan yang berbeda.

Anomali Geomagnit Total

Anomali magnit sangat rendah (negatif) 0 s/d > − 600 nT, yang tampak pada lokasi-lokasi seperti telah disebutkan pada (ad.4.1..3) ditafsirkan berkaitan dengan batuan yang bersifat non magnetik seperti telah disebutkan sebelumnya, yang disusun oleh batuan sedimen vulkanik (piroklastik), atau andesit terlapukkan dan atau batuan terubahkan yang tidak tersingkap dipermukaan. Anomali magnit negatif dengan luas +/- 9.5 km2 tsb tampak membentuk pola seperti

tapal kuda disekitar manifestasi panas bumi Sebau-Sembalun sampai kedaerah Pusuk, sedangkan kearah selatan, air panas Sebau membentuk pola melidah.

Apabila batuan ubahan yang tidak tersingkap kepermukaan tsb ada maka diperkirakan ubahan tsb erat kaitannya dengan larutan panas hidrotermal yang keluar dari rekahan-rekahan atau struktur sesar yang ada didaerah manifestasi air panas Sebau-Sembalun sehingga menyebabkan terjadinya demagnetisasi batuan (ubahan), apabila tidak ada batuan ubahan maka anomali negatif tsb diperkirakan berkaitan dengan batuan piroklastik yang ada didaerah tsb.

Selanjutnya, anomali magnit sangat rendah tsb dikitari atau dikelilingi oleh anomali magnit positif (rendah ) dengan nilai kemagnitan 0 s/d > 500 nT. Anomali magnit positif tsb ditafsirkan berkaitan dengan susunan batuan bawah permukaan yang terdiri dari batuan lava andesit yang segar seperti tampak dari beberapa singkapan batuan andesit didarah penyelidikan.. Seperti halnya anomali sangat rendah anomali positif rendah juga membentuk pola seperti tapal

(4)

kuda yang ditafsirkan merupakan rim dari kaldera Sembalun? yang dibentuk oleh batuan andesit. Kemudian anomali positif sedang dengan nilai kemagnitan anntara 500 s/d 1000 nT tampak mengitari anomali sangat rendah dan rendah, daerah ini juga disusun oleh batuan andesit

Dibagian luar tampak anomali magnit tinggi yang tesebar di utara bagian barat dan timur serta di selatan bagian barat dan timur daerah penyelidikan. Anomali tinggi tsb diperkirakan berkaitan dengan batuan lava andesit yang ada dibawah permukaan, dimana pada beberapa lokasi terdapat singkapan batuan tsb. Kondisi tsb juga didukung oleh hasil pengukuran nilai K pada beberapa contoh batuan andesit dengan nilai K yang relatif besar , berkisar antara 1 – 2.7 x 10-6

cgs sehingga mendukung penafsiran tsb diatas

Analisis Struktur dan Zona Resapan Air

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, keberadaan struktur geologi seperti sesar/kontak litologi dari batuan yang berbeda didaerah penyelidikan dicirikan oleh adanya, kontras anomali negatif dan positif yang besar, kelurusan-kelurusan pola anomali, kerapatan kontur dan pembelokan anomali yang tajam, serta pengkutuban anomali positf dan negatif. Secara geologi kondisi tsb diatas mencerminkan keberadaan struktur lokal yang cukup komplek didaerah penyelidikan. Struktur sesar/kelurusan magnit (gambar 5,) yang teridentifikasi dari peta anomali sisa maupun penampang magnit total adalah sbb:

- Sesar yang berarah hampir atau baratlaut – tenggara teridentifikasi sebanyak tiga ( F3, F6 dan F8) sesar, sesar tsb berturu-turut disebut sesar F3, sesar F6, dan sesar F8. - Sesar yang berarah hampir atau timurlaut –

baratdaya teridentifikasi juga sebanyak 3 (tiga) sesar, yakni F1, F7, F9. Sesar tsb berturut-turut disebut sesar F1, F7 dan F9. - Sesar yang berarah barat – timur

teridentifikasi 3 sesar , yakni sesar F2, F5, dan F10, masing-masing sesar tsb disebut sesar F2, F5, dan F10. Sesar F2 yang berlokasi sekitar mata air panas Sebau diperkirakan ikut mengontrol kenampakan manifestasi air panas Sebau kepermukaan.

- Sesar yang berarah hampir utara – selatan teridentifikasi sebanyak satu sesar, ( F4), yang berlokasi melalui mata air panas Sebau-Sermbalun, selanjutnya disebut sesar Sebau.

Sesar Sebau ini diperkirakan juga mengontrol kenampakan manifestasi air panas Sebau kepermukaan.

Diantara sesar-sesar tsb yang terpenting dan diperkirakan mengontrol kenampakan manifestasi panas bumi Sebau kepermukaan adalah sesar F2 dan F4, karena perpotongan kedua sesar tsb menyebabkan munculnya mata air panas Sebau kepermukaan.

Keberadaan daerah resapan pada suatu sistim panas bumi terjadi apabila terdapat permeabilitas primer dan sekunder yang baik. Permeabilitas primer terjadi akibat porositas batuan itu sendiri sedangkan permeabilitas sekunder terbentuk akibat keberadaan struktur geologi seperti sesar, kekar, kontak litologi dan daerah hancuran. Berdasarkan penafsiran data geomagnit daerah resapan perkirakan terdapat disekitar MAP Sebau, kondisi ini disebabkan di daerah tsb terdapat struktur sesar yang saling berpotongan sehingga terbentuk zona kekar, dan zona hancuran yang selanjutnya berperan sebagai permeabilitas sekunder, serta didukung oleh batuan piroklastik yang ada didaerah tsb yang mempunyai porositas cukup baik.

Anomali Gayaberat

Anomali sisa relatif tinggi (> 1 mgal) yang tampak di sekitar mata air panas Sebau dan orok diperkirakan berkaitan dengan batuan (terobosan?) andesit basaltik yang diperkirakan terjadi kemudian setelah komplek Sembalun ada. Anomali negatif sedang (< minus 1 - 7 mgal ) tampak mendominasi bagian tengah selatan dan utara daerah penyelidikan diperkirakan berkaitan dengan batuan lava andesit.

Anomali rendah (minus 7 - 15 mgal ) terdapat di timur dan barat bagian tengah daerah penyelidikan diperkirakan berkaitan dengan batuan ubahan yang tidak muncul ke permukaan.

Analisis Struktur Gaya Berat

Pola lineasi dari ketiga anomali Bouguer, Sisa dan Regional memperlihatkan pola liniasi berarah baratlaut-tenggara, yang disertai dengan pembelokan dan pengkutuban anomali (posistif dan negatif) yang berselingan. Diperkirakan sesar yang berarah baratlaut – tenggara adalah sesar geser. Di bagian utara daerah penyelidikan diduga terdapat dua buah sesar normal berarah timurlaut

(5)

– baratdaya. Di bagian tengah daerah penyelidikan diduga terdapat dua buah sesar geser yang berarah hampir utara – selatan, sedangkan di bagian timur dan barat diduga terdapat dua buah sesar normal dengan trend yang berarah hampir barat – timur. Diperkirakan sesar-sesar tersebut merupakan struktur yang mengontrol mata air panas di daerah Sebau.

Struktur yang diperlihatkan pada anomali sisa yang berada di bagian tengah daerah penyelidikan mempunyai arah hampir sama dengan yang diperlihatkan pada anaomali Bouguer, keadaan ini menunjukan bahwa struktur lokal searah dengan struktur dalam yang ada di daerah ini.

Struktur sesar di bagian utara, selatan dan baratlaut yang bisa terlihat dari dua anomali (Bouguer dan Bouguer sisa) tidak memperlihatkan kesamaan, hal ini menunjukkan bahwa struktur yang diperlihatkan pada anomali sisa diperkirakan merupakan struktur lokal/dangkal

Model Gayaberat

Model ini memperlihatkan batuan piroklastik terdapat di barat dengan kontras densitas minus 1,26 gr/cm3, dengan lebar sekitar 2200 m,

kedalaman > 750 m. Di bagian timur terdapat batuan dengan kontras densitas positif 0,10 s/d 0,30 gr/cm3 pada kedalaman di bawah 50 m

sampai tak terhingga, lebar tidak kurang dari 2800 m, diperkirakan merupakan batuan andesit basaltik yang sedikit terlapukan.

Bagian paling timur diperkirakan terdapat batuan andesit dengan kontras densitas minus 0,9 gr/Cm3, yang telah mengalami pelapukan dan terubahkan, dan tidak tersingkap ke permukaan.

SIMPULAN

Data geomagnet dan gayaberat mengindikasikan adanya struktur kawah didaerah mata air panas Sebau-Sembalun, sedangkan mata air panas tsb beradat didalam struktur tsb.

Anomali geomagnit dan gayaberat relatif rendah (negatif) disekitar mata air panas Sebau-Sembalun diperkirakan berasosiasi dengan daerah ubahan.

Struktur sesar yang mengontrol kenampakan manifestasi air panas Sebau-Sembalunt kepermukaan adalah sesar yang berarah barat -

timur (F2) dan hampir utara – selatan (F4) serta baratlaut tenggara.

Secara kuantitatif model gayaberat memperlihatkan adanya tubuh-tubuh batuan terobosan?? andesit atau andesit-basaltik, (taktersingkap) dan diapit oleh batuan andesit yang sudah terubah dan mengalami pelapukan. Batuan terobosan tsb diperkirakan merupakan Sumber panas (heat source) untuk sistim air panas Sebau dan diperkirakan ada hubungannya dengan kawah tsb diatas.

UCAPAN TERIMAKASIH

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pusat Sumber Daya Geologi dan Rekan-rekan para Ahli Geologi/Geofisika yang telah memberikan batuan dan kontribusi yang berharga kepada penulis dalam memberikan masukan saat penulisan makalah ini. Penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada teman-teman surveyor yang telah memberikan bantuan dalam penggambaran.

DAFTAR PUSTAKA

1. Aquila. L.G., 1977. Magnetic and Gravity

surveys Suriagao Geothermal Field, The

Comvol letter, v.IV, No 5 & 6

2. Burger. H.R., 1992. Exploration Geophysics of

shallow Sub Surface, Prentice Hall.

3. Dobrin, M.B; 1976: Introduction to

Geophysical Prospecting. Mc. Graw Hill,

p.357-475.

4. Hochstein, MP. 1982. Introduction to

Geothermal Prospecting, Geothermal

Institute, University of Auckland, New Zealand.

5. Idral, A; dkk., 2004. Penyelidikan Terpadu Geologi Geokimia dan Geofisika Daerah Panas Bumi Parangtritis, DI.Yogyakarta, Jateng; Kumpulan Makalah Hasil Kegiatan lapangan DIM.

6. Idral, A; dkk., 2005. Penyelidikan Terpadu Geologi Geokimia dan Geofisika Daerah Panas Bumi Bkt.Kili-Solok, Sumbar. Potensi, Pemanfaatan dan Kendalanya;

7. Kumpulan Makalah Hasil Kegiatan lapangan DIM; hal.40-1 – 40-9.

8. Idral, A; dkk., 2006. Penyelidikan Terpadu Geologi Geokimia dan Geofisika Daerah

(6)

Panas Bumi Suwawa, Gorontalo; Kumpulan Makalah Hasil Kegiatan lapangan DIM; hal. 9. Laughin, A.W., 1982. Exploration For

Geothermal Energy, in Hand Book of Geothermal Energy, editor Edward,L.M. et.al; p.215-242.

10. Lawless, J., 1995. Guidebook: An

Introduction to Geothermal System. Short

course. Unocal Ltd. Jakarta.

11. Parasnis, D.S., 1979. Principles of Applied

Geophysics, Chapman and Hall,p. 59-96.

12. Telford, W.M. et al, 1982. Applied

Geophysics. Cambridge University Press.

Cambridge.

(7)

Gambar 1. Peta Lokasi Daerah Penyelidikan Gambar 2. Peta geologi daerah Sebau- Sembalun (PMG-2007) 446000 448000 450000 452000 454000 9062000 9064000 9066000 9068000 9070000 9072000 9074000 9076000 RC-15A RC-15 RC-16A RC-16 RC-17A RC-17 RC-18A RC-18 RC-19A RC-19 RC-20A RC-20 RC-21 RC-22 RC-23 RC-24 RC-6 RC-7 RC-8 RC-9 RC-10RC-11RC-12RC-13RC-14 H-5500 H-5750 H-5250 H-5000 I-3750 I-3500 I-3250 I-3000 I-2750 I-2500 I-2250

I-2000 I-4250I-4500 I-4750I-5000 I-5250 I-5500 I-5750 I-6000 I-6250 I-6500 I-6750 I-7000

R-1 R-2 R-3 R-4 R-5 R-6 R-7 R-8 R-9 R-10 R-11 R-12 R-13 R-14 R-15 R-16 R-17 R-18 R-19 R-20 R-21 R-22 R-23 R-24 R-25 R-26 R-27R-28 R-29 R-30 R-31 R-32 R-33 R-34 R-35 R-36 R-37 R-38 R-39 R-40 R-41 R-42 R-43 R-44 R-45 A-4750 A-4500 A-4250 RC-1 RC-2 RC-3 RC-4 RC-5 A-5000 A-5250 A-5500 E-3500 E-3250 E-3000 E-2750 E-2500 E-2250 E-2000 F-5250 F-5000 F-4750 F-4500 F-4250 F-4000 F-3750 F-3500 F-5500 F-5750 F-6000 F-6250 F-6500 R-46 R-47 R-48 R-49 R-50 R-51 B-4000 B-4250 B-4500 B-4750 B-5000 B-5250 B-5500 B-5750 B-6000 C-4000 C-4250 C-4500 C-4750 C-5000 C-5250 C-5500 C-5750 C-6000 C-6250 C-6500 C-6750 C-7000 C-7250 C-7500 C--2500 C-2250 C-2000 C-1750 C-2750 C-3000 C-3250 C-3500 C-3750 B-2000 B-1750 B-1500 D-5000 D-4750 D-4500 D-4250 D-4000 D-3750 D-3450 D-5250 D-5500 D-5750 BS DESA SUNTALANGU DESA SEMBALUNBUMBUNG DESA AIKMELUTARA DESA SAPIT DESA KARANGBARU Dasantengak Barat Desatengak Timuk DESA SEMBULUNLAWANG DESA BELANTING 2194 2073 Karangpauk Tumpangsari Mangketselak Lekongpulut Dasasuntanaga Lauqrurung Timur SEMBALUNBUMBUNG Dayanrurung Timur Sapit Montongkemong Batupandang Batucangku Jorong Bebonte Lauqrurung Baru Dayanrurung Barat Telaga Lebak Daya Lebak Lauk Telaga Gugukbaru Lelemer Pasugulan Jurangkuak Tanakbetian Burne Dasaerot Sembalunlawang Lendangluar Mentagi Beratdesa Belik KECAMATAN AIKMEL Dasanpurda Bawaknao 500 750 1000 1250 1500 1500 1750 1750 2000 1750 1500 1250 1500 1750 1250 1500 1250 1750 2000 1750 2000 1500 1750 1000 446000 m 448000 m 450000 452000 m 454000 m 9062000 m 9064000 m 9066000 m 9068000 m 9070000 m 9072000 m 9074000 m 9076000 m

PETA LOKASI TITIK AMAT GEOMAGNIT DAERAH PANAS BUMI SEMBALUN KABUPATEN LOMBOK TIMUR, PROVINSI NTB

Kontur topografi Jalan Raya Anak sungai Sungai Titik Pengamatan Air Panas A 2250 0 500 1000 1500 2000 Keterangan

(8)

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000 20000 22000 -1000 0 1000 4500 5000 5500 -2500 -2000 -1500 -1000 -500 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 -2000 -1500 -1000 -500 0 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 7500 -1000 0 line A line B line C line R 3600 3800 4000 4200 4400 4600 4800 5000 5200 5400 5600 -2000 -1800 -1600 -1400 -1200 -1000 -800 -600 -400 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 -1500 -1000 -500 line D line F 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500 7000 -1500 -1000 -500 0 500 1000 line I

(9)

446000 448000 450000 9062000 9064000 9066000 9068000 9070000 9072000 9074000

9076000 ANOMALI SISA GEOMAGNET PETA DAERAH PANAS BUMI SEMBALUN

NUSA TENGGARA BARAT

01000 2000 3000 U KETERANGAN > 1000 nT 500 s/d 1000 nT 0 s/d 500 nT - 600 s/d 0 nT Kontur Anomali Sisa Magnet Titik Amat Struktur yang diduga 445000 446000447000448000449000450000451000 9061000 9062000 9063000 9064000 9065000 9066000 9067000 9068000 9069000 9070000 9071000 9072000 9073000 9074000 9075000 9076000 134 136 138 140 142 144 146 148 150 152 154 156 158 160 162 164 166 168 170 172 174 176 178 KETERANGAN : = Mata Airpanas = Titik Amat U 0 1000 2000 PETA ANOMALI BOUGUER REGIONAL D = 2.67

DAERAH PANAS BUMI KOMPLEK SEMBALUN KABUPATEN LOMBOK TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Gambar 5. Peta anomali geomagnit total Gambar 6a. Anomali gayaberat regional

9061000445000446000447000448000449000450000451000 9062000 9063000 9064000 9065000 9066000 9067000 9068000 9069000 9070000 9071000 9072000 9073000 9074000 9075000 9076000 130 132 134 136 138 140 142 144 146 148 150 152 154 156 158 160 162 164 166 168 170 172 174 176 178 180 182 184 186 0 1000 2000 PETA ANOMALI BOUGUER D = 2.67 DAERAH PANAS BUMI KOMPLEK SEMBALUN KABUPATEN LOMBOK TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

KETERANGAN : = Mata Airpanas = Titik Amat U

9061000445000446000 447000448000449000450000451000 9062000 9063000 9064000 9065000 9066000 9067000 9068000 9069000 9070000 9071000 9072000 9073000 9074000 9075000 9076000 -15 -14 -13 -12 -11 -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 KETERANGAN : = Mata Airpanas = Titik Amat U 0 1000 2000 A B = Struktur diduga

PETA ANOMALI BOUGUER SISA D=2,67 gr/Cm DAERAH PANAS BUMI KOMPLEK SEMBALUN KABUPATEN LOMBOK TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

3

Gambar 6 b. anomali gayaberat bouguer Gambar 6c. Anomali gayaberat sisa

(10)

A B 0. 0.300 300 M k t M

odel Gaya Berat 2D Penampang A-B Daerah Panas Bumi Sembalun abupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Bara

isfit = 4.63 %

Gambar

Gambar 3. Lokasi titik amat geomagnetik dan gayaberat
Gambar 7. Model gayaberat 2-D, penampang A-B

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil perhitungan diatas dapat kita lihat bahwa pelabuhan Sorong untuk keadaan sekarang maupun keadaan di 5 tahun dan 10 tahun yang akan datang

Pengaruh Lama Perendaman yang Berbeda Filtrat Crude Allicin Bawang Putih Terhadap Kelulushidupan Ikan Nila yang Terinfeksi Aeromonas hydrphila.. Difference in the

penilaian guru lebih tinggi dari pada penilaian dosen ahli dalam semua aspek. Data hasil uji coba produk dalam penelitian ini meliputi data observasi keterampilan

Apabila Bank Kustodian dan Manajer Investasi menerima atau menyimpan permohonan penjualan kembali Unit Penyertaan melebihi 10% (sepuluh perseratus) dari total Nilai Aktiva

Adanya aplikasi E-Kinerja yang diterapkan pemerintah mendorong peningkatan kinerja pegawai negeri sipil pada kantor Dinas Bina Marga, Cipta Karya, Jasa Konstruksi,

Module Handbook: Telemedicine System - 17 informasi medis secara elektronik melalui media internet dan sistem nirkabel LLO 3: Students understa nd and are able to

3 Pilih (Pengaturan Utama) dengan v/V/b/B pada tombol kontrol, kemudian tekan [Bip] t mode yang diinginkan t z. Rana: Mengaktifkan suara rana saat anda menekan

Dari diagram diatas, maka dapat disimpulkan bahwa alternatif jawaban yang paling banyak dipilih oleh responden adalah alternatif jawaban C (kadang- kadang) sebanyak 35%