• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Pasar Modal

Menurut Pandji Anoraga dan Piji Pakarti, bahwa: pasar modal adalah jaringan tatanan yang memungkinkan pertukaran klaim jangka panjang, penambahan financial asset (hutang) pada saat yang sama, memungkinkan investor untuk mengubah dan menyesuaikan portofolio investasi. Pasar modal adalah pelengkap disektor keuangan terhadap dua lembaga lain yaitu bank dan lembaga pembiayaan. Pasar modal memberikan jasanya yaitu menjembatani hubungan antara pemilik modal (investor) dengan peminjam dana yang disebut emiten. Para pemodal meminta instrumen pasar modal untuk keperluan investasi portofolio sehingga pada akhirnya dapat memaksimumkan penghasilan.11 Sedangkan menurut Jogiyanto Hartono, bahwa: pasar modal

adalah tempat dimana perusahaan yang membutuhkan dana dapat menjual surat berharganya. Pasar modal dibagi menjadi empat tipe yaitu:12

1) Pasar Primer (Primary Market)

Pasar primer adalah tempat perusahaan menjual surat berharganya yang baru. Surat berharga yang baru dijual dapat berupa penawaran perdana ke publik (Initial Public Offering atau IPO) atau tambahan surat berharga baru jika perusahaan sudah going public (sekuritas tambahan ini sering disebut dengan Seasoned New Issues).

2) Pasar Sekunder (Secondary Market)

Pasar sekunder merupakan tempat dimana surat berharga yang sudah beredar diperdagangkan.

3) Pasar Ketiga (Third Market)

11 Pandji Anoraga dan Piji Pakarti, Pengantar Pasar Modal, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 5 12 Jogiyanto Hartono, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, (Yogyakarta: BPFE, 2008), h. 29

(2)

Pasar ketiga merupakan pasar perdagangan surat berharga pada saat pasar kedua tutup. Pasar ketiga dijalankan oleh Broker yang mempertemukan pembeli dan penjual pada saat pasar kedua tutup.

4) Pasar Keempat (Fourth Market)

Pasar keempat merupakan pasar modal yang dilakukan diantara institusi berkapasitas besar untuk menghindari komisi untuk Broker. Pasar keempat umumnya menggunakan jaringan komunikasi untuk memperdagangkan saham dalam jumlah blok yang besar. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pasar modal adalah tempat yang menyediakan sarana dan prasarana untuk melakukan jual beli surat berharga baik secara individu maupun institusi atau kapasitas besar.

B. Saham

Saham adalah tanda penyertaan atau tanda kepemilikan seseorang atau badan usaha pada sebuah perusahaan.13 Menurut Kane Bodie dan Marcus,

saham biasa menunjukan bagian kepemilikan di sebuah perusahaan. Frederic S. Mishkin menyatakan bahwa saham biasa atau biasa disebut dengan saham saja, menunjukan bagian kepemilikan di dalam suatu perusahaan. Saham adalah sekuritas yang menunjukan klaim atas laba dan aset perusahaan.14

Menurut Fred J Weston dan Thomas E. Copeland saham merupakan tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan, selembar saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa

13 Kane Bodie dan Marcus, Investasi Buku 2, Terjemahan Zuliani Dalimunthe dan Budi Wibowo, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), h. 59

14 Frederic S. Mishkin, Ekonomi, Uang, Perbankan, dan Pasar Keuangan Buku 1, Terjemahan Lana Soelistianingsih dan Beta Yulianita G, (Jakarta: Salemba Empat, 2008), h. 5

(3)

pemilik kertas tersebut adalah pemiliknya (berapapun porsinya atau jumlahnya) dari suatu perusahaan yang menerbitkan kertas (saham) tersebut.15

Tjiptono Darmadji dan Hendy M. F Akhruddin menyatakan saham sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut. Investasi pada saham adanya kemungkinan mengalami kerugian modal (capital loss), kehilangan kesempatan untuk melakukan investasi instrumen lain, dan adanya kemungkinan emiten akan dilikuidasi. Kemungkinan investor mengalami kerugian karena adanya fluktuasi harga saham. Fluktuasi harga saham dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kinerja dari emiten yang bersangkutan, kondisi makro ekonomi, kekuatan pasar dan faktor-faktor lain yang tidak dapat dijelaskan. Kondisi makro ekonomi yang secara tidak langsung memengaruhi harga saham diantaranya adalah tingkat inflasi, tingkat suku bunga, kondisi politik di dalam negeri. Sebagai contoh, tingkat inflasi yang tinggi akan menyebabkan pasar modal menjadi lesu dan tidak bergairah.16

Deddy A Suhardi menyebutkan bahwa harga saham (market price) merupakan nilai pasar (market value) dari setiap lembar saham perusahaan.

15 Fred J Weston dan Thomas E. Copeland, Manajemen Keuangan Buku 2, Terjemahan Yohannes Lamarto, (Jakarta: Erlangga, 1996), h. 166

16 Tjiptono Darmadji dan Hendy M. F Akhruddin, Pasar Modal Di Indonesia Pendekatan Tanya

(4)

Pergerakan harga saham ditentukan oleh dinamika penawaran (supply) dan permintaan (demand).17

Semakin tinggi harga saham dari suatu perusahaan berarti perusahaan tersebut dapat memperoleh dana yang lebih besar, yang dapat digunakan untuk membeli fasilitas produksi dan peralatan.18 Jogiyanto Hartono, mengatakan

bahwa harga saham adalah harga yang terjadi di pasar bursa pada waktu tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar yaitu permintaan dan penawaran pasar. Selembar saham mempunyai nilai atau harga.19 Menurut Jogiyanto

Hartono, harga atau nilai saham dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:20

1) Nilai Buku

Nilai buku ialah nilai asset yang tersisa setelah dikurangi kewajiban perusahaan jika dibagikan. Nilai buku hanya mencerminkan berapa besar jaminan atau seberapa besar aktiva bersih untuk saham yang dimiliki investor. Beberapa nilai yang berkaitan dengan nilai buku:

a) Nilai nominal (Par Value), ialah nilai kewajiban yang ditetapkan untuk tiap-tiap lembar saham.

b) Agio saham, ialah selisih yang dibayar oleh pemegang saham kepada perusahaan dengan nilai nominal sahamnya.

c) Nilai modal disetor, ialah total yang dibayar oleh pemegang saham kepada perusahaan emiten, yaitu jumlah nilai nominal ditambah agio saham.

17 Deddy A Suhardi, “Pergerakan Harga Saham Sektor Properti Bursa Efek Jakarta Berdasarkan Kondisi Profitabilitas, Suku Bunga Dan Beta Saham”, Jurnal Organisasi dan Manajemen, Vol. 3 No. 2, (Jakarta : Universitas Terbuka, 2007), h. 91

18 Frederic S. Mishkin, op.cit., h. 5 19 Jogiyanto Hartono, op.cit., h. 95 20 Ibid., h. 118

(5)

d) Laba ditahan, ialah laba yang tidak dibagikan kepada pemegang saham dan diinvestasikan kembali ke perusahaan dan merupakan sumber dana internal.

2) Nilai Pasar

Nilai pasar merupakan harga yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran saham di pasar modal atau disebut juga dengan harga pasar sekunder. Nilai pasar tidak lagi dipengaruhi oleh emiten atau pihak pinjaman emisi, sehingga boleh jadi harga inilah yang sebenarnya mewakili nilai suatu perusahaan.

3) Nilai Intrinsik

Nilai intrinsik adalah nilai seharusnya dari suatu saham atau biasa disebut nilai fundamental.

Dua macam analisis yang banyak digunakan untuk menentukan nilai sebenarnya dari saham adalah analisis fundamental dan analisis teknis. Analisis fundamental merupakan analisis untuk menghitung nilai intrinsik saham dengan menggunakan data yang berasal dari keuangan perusahaan (misalnya laba, dividen yang dibayar, penjualan dan lain sebagainya). Sedangkan analisis teknis menggunakan data dari pasar saham, seperti harga dan volume transaksi saham untuk menentukan nilai dari saham.21

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham menurut Deddy A Suhardi, bahwa pergerakan harga saham ditentukan oleh dinamika penawaran (supply) dan permintaan (demand). Permintaan pasar merupakan permintaan agregat dari seluruh investor, sehingga kurvanya relatif horizontal. Keseimbangan harga terjadi saat kurva penawaran dan permintaan agregat berpotongan pada suatu titik. Karena kurva penawaran pada suatu periode tertentu bersifat tetap maka pergerakan harga saham diakibatkan oleh 21 Ibid., h. 126

(6)

pergerakan (pergeseran) kurva permintaan (agregat). Apabila kurva permintaan naik, maka keseimbangan baru terjadi pada harga yang lebih tinggi (harga naik), dan apabila permintaan turun, maka harga turun. Jadi perilaku harga suatu saham merupakan cermin permintaan agregat dari para investor. Permintaan dan penawaran tersebut terjadi karena adanya banyak faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti kondisi ekonomi negara, kondisi sosial dan politik, maupun informasi-informasi yang berkembang.22

Selanjutnya Abdul Halim mengatakan fluktuasi harga saham ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba. Jika laba perusahaan tinggi, kemungkinan deviden yang dibayarkan juga akan tinggi. Apabila deviden yang dibayarkan relatif tinggi, akan berpengaruh positif terhadap harga saham di bursa sehingga investor tertarik untuk membelinya. Akibatnya permintaan akan saham tersebut meningkat yang akhirnya akan meningkatkan harga saham tersebut.23

Sedangkan Yogi Permana dan Lana Sularto, menyatakan faktor yang dapat mempengaruhi ekspektasi harga saham yang biasanya dipertimbangkan oleh investor yaitu adalah kinerja fundamental keuangan perusahaan untuk menghasilkan laba, pergerakan suku bunga bank, tingkat inflasi, kurs nilai tukar mata uang, serta kondisi sosial politik suatu negara. Mereka juga berpendapat bahwa harga saham dapat juga dipengaruhi suatu kondisi diluar kinerja perusahaan yang dinamakan resiko pasar. Baik berupa tingkat suku 22 Deddy A Suhardi, op.cit., h. 91

(7)

bunga SBI yang berdampak pada naik turunnya bunga deposito yang menjadi efek pengalihan dana oleh investor keluar saham. Hal ini akan membawa dampak turunnya harga saham tersebut. Selain tingkat suku bunga faktor inflasi yang tinggi juga memungkinkan berpengaruh terhadap harga suatu saham. Inflasi akan menurunkan daya beli dan penurunan nilai asset perusahaan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap harga saham dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu:24

1) Faktor yang bersifat fundamental

Merupakan faktor yang memberikan informasi tentang kinerja perusahaan dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhinya. Faktor-faktor ini meliputi:

a) Kemampuan manajemen dalam mengelola kegiatan operasional perusahaan.

b) Prospek bisnis perusahaan di masa datang. c) Prospek pemasaran dari bisnis yang dilakukan.

d) Perkembangan teknologi yang digunakan dalam kegiatan operasi perusahaan.

e) Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. 2) Faktor yang bersifat teknis

Faktor teknis menyajikan informasi yang menggambarkan pasaran suatu efek, baik secara individu maupun secara kelompok. Para analis teknis dalam menilai harga saham banyak memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a) Perkembangan kurs. b) Keadaan pasar modal.

c) Volume dan frekuensi transaksi suku bunga.

d) Kekuatan pasar modal dalam mempengaruhi harga saham perusahaan.

24 Yogi Permana dan Lana Sularto, “Analisis Pengaruh Fundamental Keuangan, Tingkat Bunga SBI Dan Tingkat Inflasi Terhadap Pergerakan Harga Saham”, Jurnal Ekonomi Bisnis, No. 2 Vol. 13, (Jakarta: Universitas Gunadarma, 2008), h. 104

(8)

3) Faktor sosial politik

a) Tingkat inflasi yang terjadi.

b) Kebijaksanaan moneter yang dilakukan oleh pemerintah. c) Kondisi perekonomian Keadaan politik suatu negara.

C. Indeks LQ45 (ILQ45)

Indeks LQ45 (ILQ45) menggunakan saham terpilih berdasarkan likuiditas prdagangan saham dan disesuaikan setiap 6 bulan sekali (setiap awal bulan Februari dan Agustus). Dengan demikian saham yang berada pada indeks tersebut akan selalu berubah.25

Jogiyanto Hartono, menjelaskan bahwa ILQ45 dibentuk dari 45 saham yang aktif diperdagangkan. Pertimbangan-pertimbangan yang mendasari pemilihan saham yang masuk ILQ45 adalah likuiditas dan kapitalisasi pasar dengan kriteria sebagai berikut:26

1) Selama 12 bulan terakhir, rata-rata transaksi sahamnya masuk dalam urutan 60 terbesar di pasar reguler.

2) Selama 12 bulan terakhir, rata-rata nilai kapitalisasi pasarnya masuk dalam urutan 60 terbesar di pasar reguler.

3) Telah tercatat di BEI paling tidak selama 3 bulan.

Indeks Saham LQ-45 ini dihitung menggunakan metode rata-rata tertimbang (Weighted Avarage) dengan rumus Paasche yaitu:27

Indeks Saham LQ-45 =

(P s x Ss)

(P b a s e x Ss) Keterangan:

Indeks Saham LQ-45 = Indeks harga saham LQ-45 Ps = Harga saham

Ss = Jumlah saham yang beredar Pbase = Harga saham dasar

Setiap enam bulan sekali Bursa Efek Indonesia akan mengadakan evaluasi terhadap saham-saham yang tergabung dalam indeks saham LQ-45. Apabila terdapat saham yang tidak lagi memenuhi kriteria seleksi, maka saham 25 Abdul Halim, op.cit., h. 13

26 Jogiyanto Hartono, op.cit., h. 101 27 www.idx.go.id

(9)

tersebut akan digantikan dengan saham lain yang memenuhi persyaratan. Penggantian saham tersebut diberlakukan secara efektif setiap awal bulan Februari dan Agustus. Proses evaluasi dan penyeleksian saham-saham LQ-45 melibatkan penesehat yang terdiri dari para ahli yang berasal dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Universitas dan Profesional bidang pasar modal yang independen. Hal itu dilakukan demi menjamin kewajaran (Fairness) selama proses penyeleksian.28

D. Jenis-Jenis Perusahaan Yang Masuk Kategori LQ-45

Menurut Bursa Efek Indonesia perusahaan yang termasuk LQ-45 pada bulan Februari 2017 adalah sebagai berikut:29

1) (AALI) Astra Agro Lestari Tbk. 2) (ADHI) Adhi Karya (Persero) Tbk. 3) (ADRO) Adaro Energy Tbk. 4) (AKRA) AKR Corporindo Tbk. 5) (ANTM) Aneka Tambang Tbk. 6) (ASII) Astra International Tbk. 7) (ASRI) Alam Sutera Realty Tbk. 8) (BBCA) Bank Central Asia Tbk.

9) (BBNI) Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. 10) (BBRI) Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. 11) (BBTN) Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. 12) (BMRI) Bank Mandiri (Persero) Tbk.

13) (BSDE) Bumi Serpong Damai Tbk. 14) (BUMI) Bumi Resources Tbk.

15) (CPIN) Charoen Pokphand Indonesia Tbk. 16) (ELSA) Elnusa Tbk.

17) (EXCL) XL Axiata Tbk. 18) (GGRM) Gudang Garam Tbk. 19) (HMSP) HM Sampoerna Tbk.

20) (ICBP) Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. 21) (INCO) Vale Indonesia Tbk.

22) (INDF) Indofood Sukses Makmur Tbk. 23) (INTP) Indocement Tunggal Prakasa Tbk. 24) (JSMR) Jasa Marga (Persero) Tbk.

25) (KLBF) Kalbe Farma Tbk. 26) (LPKR) Lippo Karawaci Tbk. 28 www.idx.go.id

(10)

27) (LPPF) Matahari Department Store Tbk. 28) (LSIP) PP London Sumatera Tbk. 29) (MNCN) Media Nusantara Citra Tbk. 30) (MYRX) Hanson International Tbk.

31) (PGAS) Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. 32) (PPRO) PP Properti Tbk.

33) (PTBA) Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. 34) (PTPP) PP (Persero) Tbk.

35) (PWON) Pakuwon Jati Tbk 36) (SCMA) Surya Citra Media Tbk.

37) (SMGR) Semen Indonesia (Persero) Tbk. 38) (SMRA) Summarecon Agung Tbk. 39) (SRIL) Sri Rejeki Isman Tbk.

40) (SSMS) Sawit Sumbermas Sarana Tbk.

41) (TLKM) Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. 42) (UNTR) United Tractors Tbk.

43) (UNVR) Unilever Indonesia Tbk. 44) (WIKA) Wijaya Karya (Persero) Tbk. 45) (WSKT) Waskita Karya (Persero) Tbk.

E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Indeks LQ-45

Menurut Arifin, faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham sebagai berikut:30

a. Faktor non keuangan

(11)

Faktor non keuangan yaitu misalnya berupa pergerakan harga tren saham, yang biasanya digunakan oleh investor untuk pengambilan keputusan membeli ataupun menjual saham.

b. Faktor keuangan

Faktor keuangan yaitu berupa informasi-informasi yang terkandung dalam laporan keuangan, misalnya profitabilitas dan rentabilitas. Informasi keuangan tersebut digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan dimana kinerja perusahaan akan dijadikan acuan dari nilai saham diminta investor. Faktor keuangan disini termasuk rasio-rasio yang merupakan ukuran terhadap kinerja perusahaan.

c. Faktor eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor-faktor diluar faktor di atas, yaitu hal-hal yang terjadi diluar perusahaan seperti kenaikan tingkat suku bunga yang mengakibatkan ketidak pastian pasar, terjadinya inflasi dan deflasi yang mengakibatkan ketidak pastian daya beli masyarakat, keadaan keamanan suatu negara, kebiajakan pemerintah dan kondisi sosial politik.

Menurut I Putu G. A. Suta bahwa kondisi ekonomi makro yang stabil merupakan energi pendorong bagi berkembangnya pasar modal. Terdapat empat faktor yang berpengaruh terhadap kinerja pasar modal, dua diantaranya adalah kurs mata uang dan inflasi.31 Pada penelitian ini perubahan indeks

LQ-45 dipengaruhi oleh sejumlah variabel yaitu:

1) Kurs/Nilai Tukar Mata Uang

a) Pengertian

Nilai tukar mata uang atau yang lebih dikenal dengan istilah kurs adalah harga satu unit mata uang asing dalam mata uang domestik atau harga mata uang domestik terhadap mata uang asing.32 Kurs adalah

31 I Putu G. A. Suta, op.cit., h. 13

(12)

perbandingan nilai atau harga antara mata uang suatu Negara dengan Negara lain. Perbandingan ini disebut dengan kurs (exchange rate).33

Menurut Michael P Todaro, kurs adalah suatu tingkat, tarif, harga dimana Bank Sentral bersedia menukar mata uang dari suatu negara dengan mata uang dari negara-negara lain.34

Kurs antara dua negara adalah harga dimana penduduk kedua negara saling melakukan perdagangan. Para ahli ekonomi membedakan antara dua jenis kurs: yaitu kurs nominal dan kurs riil.35 Berikut

perbedaan antara kurs nominal dan kurs riil: 1) Kurs Nominal

Kurs nominal adalah harga relatif dari mata uang dua negara atau nilai tukar mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain. Biasanya kalau seseorang membicarakan masalah kurs antar dua negara maka yang dimaksud itu adalah kurs nominal.

2) Kurs Riil

Kurs riil adalah nilai tukar barang atau jasa di suatu negara terhadap barang dan jasa di negara lain. Kurs riil adalah harga relatif dari barang-barang kedua negara, yaitu meyatakan tingkat dimana seseorang bisa memperdagangkan barang-barang dari suatu negara untuk barang-barang dari negara lain.36

Kurs rupiah yang digunakan dalam penelitian ini adalah kurs tengah (kurs rata-rata dari kurs jual dan kurs beli). Kurs mata uang asing adalah harga dalam negeri dari mata uang luar negeri (asing). Kurs tukar

33 Lia Amelia, Ekonomi International, (Yogyakarta: Ghrahara Ilmu, 2007), h. 79-80

34 Michael P Todaro, Ekonomi Untuk Negara Berkembang: Suatu Pengantar Tentang

Prinsip-prinsip, Masalah dan Kebijakan Pembangunan, (Jakarta: Penenrbit Bumi Aksara, 2000), h. 247

35 N. Gregory Mankiw, Teori Makro Ekonomi, (Jakarta: Erlangga, 2000), h.192 36 Ibid.,

(13)

ini dipertahankan sama di semua bagian pasar oleh arbitrase. Arbitrase mata uang asing adalah pembelian mata uang asing bila harganya rendah dan menjualnya bila harganya tinggi.37

Menurut Manurung, nilai tukar adalah konversi nilai mata uang suatu negara dengan nilai mata uang negara tertentu untuk menggerakkan dana antar negara yang bersangkutan. Transaksi konversi nilai mata uang tersebut dapat dilakukan di pasar valuta asing. Stabilitas pasar valuta asing sangat penting untuk menentukan nilai tukar mata uang suatu negara dengan negara lain atau penentuan harga mata uang suatu Negara dengan mata uang negara lain.38

b) Sistem Nilai Tukar/Kurs

1) Sistem Kurs Tetap

Sistem kurs tetap adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dengan cara mematok nilai tukar uangnya pada emas atau mata uang asing yang dianggap kuat seperti Dollar AS.

2) Sistem Kurs Mengambang Terkendali

Dalam sistem kurs mengambang terkendali pemerintah secara aktif mempengaruhi nilai tukar mata uangnya dengan cara melakukan operasi pasar yaitu dengan membeli dan menjual valuta asing di pasar. Hal ini dilakukan oleh pemerintah agar kurs mata uangnya bergerak pada kisaran yang diinginkan.39

3) Sistem Kurs Mengambang Bebas

Dalam sistem kurs mengambang bebas nilai tukar mata uang terhadap mata uang lainnya ditentukan sepenuhnya oleh kekuatan

37 Dominick Salvatore, Teori dan Soal-Soal Ekonomi International, Edisi ke-2 (Jakarta: Erlangga, 1992), h. 116

38 Jonni Manurung, et all, Ekonomi Keuangan dan Kebijakan Moneter, (Jakarta: Salemba Empat, 2009), h. 5

(14)

pasar melalui hukum permintaan dan penawaran. Pemerintah tidak ikut campur tangan dalam sistem ini.

Menurut Hasad, pada dasarnya persoalannya adalah berapa jumlah mata uang domestik yang dapat diturunkan dengan sejumlah mata uang suatu negara tertentu yang diperlukan untuk mendapatkan atau memperoleh satu unit valuta asing (nilai tukar valuta asing).40

Berdasarkan sistem yang dijelaskan di atas, tentu ada kebijakan dari masing-masing sistem tersebut. Untuk sistem nilai tukar tetap memiliki kebijakan sebagai berikut:

1. Sistem ini akan menimbulkan suasana kepastian dalam perdagangan luar negeri kurs yang tidak berubah-ubah akan memudahkan masyarakat untuk membuat ramalan-ramalan usahanya dimasa mendatang.

2. Sistem ini juga mengurangi spekulasi terhadap jual beli mata uang asing.

3. Sistem ini akan menstabilkan harga-harga dalam negeri.

Menurut Supriyanto, disamping kebijakan-kebijakan di atas, kebijakan sistem ini juga ada kelemahannya, yaitu pada waktu tertentu harus melakukan perubahan yang cukup besar terhadap kurs overvalued dan undervalued.41 Perubahan yang cukup besar terhadap kurs mata uang

dapat berbentuk devaluasi ataupun revaluasi. Keadaan inilah yang lebih tidak menimbulkan kepastian bagi dunia usaha. Sedangkan untuk sistem nilai tukar bebas memiilik kebijakan seperti: dengan membiarkan kurs 40 Supriyanto Aji, Ekonomi Moneter Indonesia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), h. 35

(15)

berinteraksi di pasar valuta asing sesuai dengan permintaan dan penawarannya. Maka kurs tersebut akan berubah secara perlahan-lahan sehingga hal ini relatif menimbulkan kepastian dan tentu saja akan mengurangi spekulasi dalam jual beli mata uang asing.

c) Cara-Cara Pengendalian Kurs

Cara-cara pengendalian kurs antara lain:42

a) Sistem standar emas dengan variasi-variasinya. Dalam sistem stadar emas bergerak di antara titik-titik emas (titik ekspor dan titik impor).

b) Sistem peningkatan kepada valuta asing. Pemerintah mempunyai cadangan valuta asing lalu ikut beroperasi dalam pasar uang.

c) Sistem kurs yang dikendalikan. Pemerintah dapat menentukan dan merubah kurs valutanya terhadap valuta asing menurut keperluan yang ditargetkan.

Bank sentral yaitu bank Indonesia setiap hari menetapkan 3 jenis kurs:43

a) Kurs transakasi: harga pembelian dan penjualan valuta asing terhadap rupiah.

b) Kurs konversi: nilai penukaran antar sesama valuta asing lainnya.

c) Kurs bilateral: kurs sore hari yang berlaku antar bank devisa dengan bank sentral untuk keperluan persegi (square) posisi.

42 Lia Amelia, op.cit., h. 81

(16)

d) Faktor-Faktor Utama Yang Mempengaruhi Permintaan Valuta Asing (Kurs)

Menurut Iskandar Simorangkir dan Suseno, faktor-faktor utama yang mempengaruhi permintaan valuta asing:44

a. Faktor pembayaran impor. Semakin tinggi impor barang dan jasa, maka semakin besar permintaan terhadap valuta asing sehingga nilai tukar akan cenderung melemah. Sebaliknya, jika impor menurun, maka permintaan valuta asing menurun sehingga mendorong menguatnya nilai tukar.

b. Faktor aliran modal keluar. Semakin besar aliran modal keluar, maka semakin besar permintaan valuta asing dan pada lanjutannya akan memperlemah nilai tukar. Aliran modal keluar meliputi pembayaran hutang penduduk Indonesia (baik swasta dan pemerintah) kepada pihak asing dan penempatan dana penduduk Indonesia ke luar negeri.

c. Kegiatan spekulasi. Semakin banyak kegiatan spekulasi valuta asing yang dilakukan oleh spekulan maka semakin besar permintaan terhadap valuta asing sehingga memperlemah nilai tukar mata uang lokal terhadap mata uang asing.

Penawaran valuta asing dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu: a. Faktor penerimaan hasil ekspor. Semakin besar volume penerimaan ekspor barang dan jasa, maka semakin besar jumlah valuta asing yang dimiliki oleh suatu negara dan pada lanjutannya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing cenderung menguat atau apresiasi. Sebaliknya, jika ekspor menurun, maka jumlah valuta asing yang 44 Iskandar Simorangkir dan Suseno, “Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar”, Seri Kebanksentralan

No.12, (Jakarta: Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia (PPSK BI), 2004),

(17)

dimiliki semakin menurun sehingga nilai tukar juga cenderung mengalami depresiasi.

b. Faktor aliran modal masuk (capital inflow). Semakin besar aliran modal masuk, maka nilai tukar akan cenderung semakin menguat. Aliran modal masuk tersebut dapat berupa penerimaan hutang luar negeri, penempatan dana jangka pendek oleh pihak asing (portfolio investment) dan investasi langsung pihak asing (foreign direct investment).

2) Suku Bunga

Suku Bunga adalah jumlah bunga yang dibayarkan per unit waktu. Dengan kata lain, masyarakat harus membayar peluang untuk meminjam uang. Biaya untuk meminjam uang di ukur dalam Rupiah atau Dollar per tahun untuk setiap Rupiah atau Dollar yang dipinjam adalah Suku Bunga.

Menurut Boediono, Suku Bunga adalah harga yang harus dibayar apabila terjadi pertukaran antara satu Rupiah sekarang dan satu Rupiah nanti. Adanya kenaikan suku bunga yang tidak wajar akan menyulitkan dunia usaha untuk membayar beban bunga dan kewajiban, karena suku bunga yang tinggi akan menambah beban bagi perusahaan sehingga secara langsung akan mengurangi profit perusahaan.45

Menurut Kasmir, bunga bank adalah sebagai balas jasa yang diberikan oleh bank yang berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah yang membeli atau menjual produkanya. Bunga juga dapat diartikan harga yang harus dibayar kepada nasabah (yang memiliki simpanan) dengan yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank (nasabah yang memperoleh pinjaman).

(18)

Berdasarkan pengertian tersebut suku bunga terbagi dalam dua macam yaitu sebagai berikut:46

a) Bunga simpanan yaitu bunga yang diberikan sebagai rangsangan atau balas jasa bagi nasabah yang menyimpan uangnya di bank. Sebagai contoh jasa giro, bunga tabungan, dan bunga deposito.

b) Bunga pinjaman yaitu bunga yang diberikan kepada para peminjam atau harga. Sebagai contoh bunga kredit.

J. Fred Weston dan Eugene F Brigham menyebutkan bahwa Suku Bunga mempengaruhi laba perusahaan dalam dua cara:47 (1) karena bunga

merupakan biaya, maka semakin tinggi tingkat Suku Bunga maka semakin rendah laba perusahaan apabila hal-hal lain dianggap konstan; dan (2) Suku Bunga mempengaruhi tingkat aktivitas ekonomi, karena itu mempengaruhi laba perusahaan. Suku Bunga tidak diragukan lagi mempengaruhi investasi portofolio karena pengaruhnya terhadap laba, tetapi yang terpenting adalah Suku Bunga berpengaruh karena adanya persaingan di pasar modal antara saham dan obligasi.

Sedangkan menurut Eduardus Tandelilin, Suku Bunga yang terlalu tinggi akan mempengaruhi nilai sekarang aliran kas perusahaan, sehingga kesempatan-kesempatan investasi yang ada tidak akan menarik lagi. Suku Bunga yang tinggi juga akan meningkatkan biaya modal yang akan ditanggung oleh perusahaan. Disamping itu, Suku Bunga yang tinggi juga

46 Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya, Edisi Revisi 8, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), h. 131

47 J. Fred Weston dan Eugene F Brigham, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Jilid I, Edisi Kesembilan, (Jakarta: Erlangga, 1990), h. 84

(19)

akan menyebabkan return yang diisyaratkan investor dari suatu investasi akan meningkat.48

Dalam penelitian ini suku bunga adalah Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate). Suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) adalah suku bunga dengan tenor satu bulan yang diumumkan oleh Bank Indonesia secara periodik untuk jangka waktu tertentu yang berfungsi sebagai sinyal standarisasi atau stance kebijakan moneter dengan menetapkan tingkat atau struktur bunga guna menjamin terciptanya kestabilan nilai Rupiah. Dalam hal ini tugas Bank Indonesia adalah kebijakan moneter dengan prinsip kehati-hatian, sistem pembiayaan yang tepat dan cepat, serta sistem perbankan dan keuangan yang sehat dalam rangka mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah dalam hal ini penentuan suku bunga Bank Indonesia ditetapkan dipimpin oleh Dewan Gubernur.49

Dalam mencapai dan memelihara kesetabilan nilai rupiah maka kepada bank sentral diberi wewenang untuk (a) Menyusun rencana kredit, (b) Memberikan kredit likuiditas, (c) Membatasi kredit kuantitatif dan kualitatif, (d) Menyusun rencana devisa, (e) Membina dan mengawasi perbankan, (f) Menetapkan tingkat bunga atau politik diskonto, (g) Menjalankan politik pasar terbuka,dan (h) Kebijakan perubahan cadangan minimum.50

Dalam hal ini tugasnya Bank Indonesia dalam menetapkan tingkat bunga atau politik diskonto dapat menggunakan alat-alat kebijakan moneter 48 Eduardus Tandelilin, Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, Edisi Pertama,

(Yogyakarta: BPFE, 2001), h. 213

49 Simorangkir, Pengantar Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004), h. 23

(20)

dengan menetapkan tingkat atau struktur bunga guna menjamin terciptanya kestabilan nilai rupiah. Bank Sentral sebagai banker bank dapat mempengaruhi kelancaran pemberian kredit atau sebaliknya, mempersulit pemberian kredit. Dengan menaikkan atau menurunkan tingkat suku bunga, bank sentral memperbesar atau memperkecil volume pemberian kredit oleh bank-bank umum kepada para nasabahnya.

Pemberian kredit yang dilakukan oleh bank umum akan menambah pendapatanya, yaitu dari hasil bunga kredit yang merupakan salah satu sumber penghasilan. Contoh, seandainya bank umum memungut bunga sebesar 12% setahun, sedangkan bunga yang dipungut oleh bank sentral sebesar 8%, akan mendorong bank umum memperbesar volume kreditnya.51

Suku bunga yang diterima dan suku bunga yang harus dibayar ke bank sentral masih menguntungkan sebesar 4% setahun. Seandainya bank sentral meningkatkan suku bunganya menjadi 11% maka sisanya 1%. Dengan dinaikannya suku bunga dinaikan sebesar itu, kemungkinan bank umum akan menaikan suku bunganya. Dengan kenaikan suku bunga bank umum, permintaan kredit pun akan berkurang.

Kebijakan menaikan atau menurunkan suku bunga disebut politik diskonto. Politik ini merupakan alat kebijakan moneter yang terutama dilaksanakan pada zaman standar emas untuk mempengaruhi volume perkreditan yang berkaitan dengan peredaran uang, jika volume kredit diperbesar akan menambah jumlah uang yang beredar. Sebaliknya, jika volume kredit diperkecil akan mengurangi jumlah uang yang beredar.

(21)

Bertambahnya uang yang beredar sangat erat kaitanya dengan perubahan harga barang dan juga kurs valuta.52

Naik turunya suatu suku bunga dalam suatu negara dipengaruhi oleh kondisi ekonomi suatu Negara tersebut, seperti yang terdapat dalam teori penentuan suku bunga yakni teori Fisher, yang mendasari loanable funds theory, dan liquidity preference theory dari Keynes sebagai berikut :

a) Loanable Funds Theory

Teori Fisher adalah teori yang bersifat umum dan jelas mengabaikan masalah-masalah praktis tertentu, seperti kekuasaan pemerintah (bersama-sama dengan lembaga-lembaga depositori) untuk menciptakan uang dan permintaan pemerintah (yang sering kali besar) terhadap dana pinjaman, yang biasanya kebal terhadap tingkat suku bunga. Selain itu, teori Fisher juga tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa individu-individu dan perusahaan-perusahaan berinvestasi dalam saldo kas.53

b) Liquidity Preference Theory

Liquidity preference theory (teori hasrat liquiditas), yang awalnya dikembangkan oleh J.M. Keynes menganalisa suku bunga ekuilibrium melalui ineteraksi penawaran uang dengan permintaan agregat publik untuk memegang uang. Keynes mengasumsi bahwa sebagian besar individu memegang kekayaan hanya dalam dua bentuk: uang dan obligasi.54 Menurut Keynes, uang ekuivalen dengan valuta dan rekening

giro (demand deposits), yang tidak membayar bunga atau membayar

52 Ibid., h. 27

53 Frank J. Fabozzi, Pasar dan Lembaga Keuangan, (Jakarta: Salemba Empat, 1999), h. 208 54 Ibid, h. 209

(22)

bunga sangat rendah, tetapi sangat liquid dan bisa digunakan bagi transaksi.

Secara umum, kedua teori di atas menghasilkan tingkat bunga keseimbangan yang sama dan yang berbeda dari keduanya adalah metodologi yang melandasinya. Liquid preference theory disusun berdasarkan permintaan dan penawaran dari persediaan uang dan pandangan bahwa semua keputusan keuangan menekankan pada segi uang dari likuiditas. Oleh karena itu model dana pinjaman dikembangkan berdasarkan aliran dana pada sistem keuangan dan memandang keputusan keuangan dibuat dengan asas likuiditas yang lebih luas.55

3) Jumlah Uang Beredar

a) Jumlah Uang Beredar

Menurut Tedy Herlambang, et all, Uang adalah stok aset yang dapat dipergunakan untuk keperluan transaksi.56 Menurut Gregory

Mankiw, Uang adalah persediaan aset yang dapat dengan segera digunakan untuk melakukan transaksi.57 Menurut Sadono Sukirno, Uang

beredar (M2) meliputi mata uang dalam peredaran, uang giral, uang kuasi. Uang kuasi terdiri dari deposito berjangka, tabungan, dan rekening atau tabungan valas milik swasta domestik.58

Jumlah uang yang tersedia disebut jumlah uang beredar (money supply), dalam perekonomian yang menggunakan uang komoditas, 55 Sawaldjo Puspopranoto, Keuangan Perbankan dan Pasar: Keuangan: Konsep, Teori, dan

Realita, (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia, 2004), h. 71

56 Tedy Herlambang, et all, Ekonomi Makro: Teori, Analisis, dan Kebijakan, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002), h.114

57 N. Gregory Mankiw, Makroekonomi, Edisi Keenam, (Jakarta: PT. Erlangga, 2006), h. 76 58 Sadono Sukirno, Makroekonomi Teori Pengantar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h. 281

(23)

jumlah uang beredar adalah jumlah dari komoditas itu dan pemerintah mengendalikan jumlah uang beredar.59

Menurut Nopirin, meskipun secara umum dapat dikatakan bahwa jumlah uang beredar (JUB) dapat ditentukan secara langsung oleh Bank Sentral tanpa mempersoalkan hubungannya dengan uang primer, namun pada kenyataannya JUB pada suatu periode merupakan hasil perilaku dari Bank Sentral, Bank Umum (termasuk lembaga keuangan bukan bank), masyarakat secara bersama-sama. Faktor utama yang mempengaruhi jumlah uang adalah cadangan minimum tetapi hasil seluruhnya terhadap jumlah uang masih tergantung pada sikap masyarakat. Jadi Bank Sentral tidak begitu mudah untuk mengatur JUB karena ada banyak faktor yang mempengaruhinya.60

Menurut Herlambang, et all, menyimpulkan karena uang merupakan stok aset yang dipakai untuk transaksi, maka jumlah uang adalah jumlah aset. Aset yang pertama dikenal sebagai karensi yaitu sejumlah uang kertas dan logam yang beredar. Karensi biasanya dipakai sebagai alat tukar, dan aset yang kedua yaitu berbentuk tabungan.61 b) Permintaan dan Penawaran Uang

1) Permintaan Uang

Secara teoritis ada 2 (dua) pendekatan terhadap permintaan uang yaitu Klasik dan Keynes. Secara Klasik (teori kuantitas), bahwa orang memegang uang untuk membeli barang dan jasa, makin banyak

59 N. Gregory Mankiw, op.cit., h. 79

60 Nopirin, Ekonomi Moneter Buku Dua. Edisi Kesatu, (Yogyakarta: BPFE, 1987), h. 170 61 Tedy Herlambang, et all, op.cit., h. 116

(24)

transaksi berarti makin banyak uang yang diperlukan. Hubungan ini dinyatakan dalam persamaan:62

M x V= P x Y... (2.1) Dimana:

M (money) : Uang yang diminta

V (velocity) : Perputaran, berapa kali setiap rupiah (lembar atau koin) berputar dalam perekonomian.

P (price) : Tingkat indek harga yang berlaku bagi perekonomian. Y (output) : Tingkat pendapatan atau jumlah transaksi yang berlaku.

Orang memegang uang untuk membeli barang dan jasa. Semakin besar kebutuhan bertransaksi, semakin banyak uang yang mereka pegang. Maka dapat dikatakan bahwa kuantitas uang dalam perekonomian sangat erat kaitannya dengan jumlah Dollar yang dipertukarkan dalam transaksi. Menurut Keynes, permintaan uang didasarkan 3 (tiga) motif yaitu motif transaksi adalah motif yang mendasari permintaan uang untuk keperluan aktivitas sehari-hari dari unit ekonomi. Permintaan uang cenderung akan naik (M1), jika pola pembayaran secara umum meningkat.63

Motif berjaga-jaga adalah motif yang mendasari permintaan uang untuk mengantisipasi fluktuasi dari aktivitas ekonomi, esensi dari motif ini adalah adanya faktor ketidakpastian di masa datang, sedangkan motif spekulasi adalah merujuk pada perkembangan aset alternatif atau ketidakpastian risiko sehingga dimungkinkan untuk memperoleh laba atau rugi. Teori kuantitas uang menyatakan bahwa Bank Sentral yang mengawasi jumlah uang beredar, memiliki kendali tertinggi atas tingkat inflasi. Jika Bank Sentral mempertahankan 62 Ibid., h. 117-119

(25)

jumlah uang beredar tetap stabil, tingkat harga akan stabil. Jika Bank Sentral meningkatkan jumlah uang beredar dengan cepat, maka tingkat harga akan meningkat dengan cepat.64

Menurut William Eachern, permintaan uang adalah suatu hubungan antara banyaknya uang yang ingin dipegang orang dan tingkat suku bunga. Untuk mencapai tingkat bunga tetap stabil selama ekspansi ekonomi, jumlah uang beredar harus tumbuh pada tingkat yang sama dengan permintaan uang. Demikian juga, agar tingkat bunga tetap stabil selama kontraksi ekonomi, jumlah uang beredar harus turun pada tingkat yang sama dengan penurunan permintaan uang. Jadi, agar otoritas moneter dapat mempertahankan tingkat bunga pada tingkat tertentu, jumlah uang beredar harus meningkat selama periode ekspansi dan menurun selama periode kontraksi.65

2) Penawaran Uang

Menurut Herlambang, et all, penawaran uang diartikan jumlah uang yang tersedia dalam perekonomian. Dalam ekonomi modern, penawaran uang ditentukan oleh Bank Sentral melalui uang dasar (uang yang dicetak BI, merupakan jumlah rupiah yang dipegang publik sebagai karensi), bank umum melalui rasio cadangan deposito, masyarakat melalui rasio karensi deposito (jumlah karensi atau uang tunai yang dipegang sebagai fraksi dari deposito).66

Menurut Sadono Sukirno , yang dimaksud dengan penawaran uang atau uang yang beredar adalah jumlah uang yang tersedia dalam 64 Ibid., h. 82

65 William Eachern, Ekonomi Makro: Pendekatan Kontemporer, Edisi Pertama, (Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2000), h. 302-315

(26)

perekonomian dan dapat digunakan untuk membiayai transaksi-transaksi yang dilakukan dalam masyarakat. Dalam analisis makroekonomi yang terutama diperhatikan adalah 2 (dua) konsep dari penawaran uang yaitu M1dan M2. Penawaran uang dalam pengertian yang sempit (M1), meliputi uang kertas dan uang logam yang ada dalam peredaran (uang kartal), dan tabungan giral dalam bank-bank umum atau perdagangan sedangkan M2 yaitu pengertian penawaran uang yang lebih luas, meliputi M1 dan ditambah dengan tabungan masyarakat yang di depositokan dalam bank.67

F. Hubungan Antar Variabel Penelitian

1. Pengaruh Kurs Terhadap Indeks Saham LQ-45

Jeff Madura mendefinisikan bahwa perubahan nilai tukar mempunyai pengaruh negatif terhadap harga saham. Artinya apabila nilai mata uang asing naik maka harga saham akan turun, disebabkan harga mata uang asing yang tinggi diperdagangkan sedangkan di bursa efek akan semakin lesu, karena investor memilih berinvestasi di pasar uang dan sebaliknya apabila nilai mata uang asing turun terhadap mata uang dalam negeri maka harga saham akan naik disebabkan turunnya mata uang mendorong investor untuk berinvestasi di pasar modal.68

2. Pengaruh Suku Bunga Bank Indonesia (Bi Rate) Terhadap Indeks Saham LQ-45

Tingkat bunga terbentuk sebagai akibat interaksi kekuatan pasar uang dan pasar modal. Menurut Sunariyah, tingkat bunga dinyatakan sebagai presentase uang pokok per unit waktu. Bunga merupakan suatu 67 Sadono Sukirno, op.cit., h. 143

68 Jeff Madura, Manajemen Keuangan Internasional, Jilid 1, Edisi Kempat, (Jakarta: Erlangga, 2000), h. 86

(27)

ukuran harga sumber daya yang digunakan oleh debitur yang dibayarkan kepada kreditur.69 Selanjutnya menurut Sunariyah bahwa tingkat bunga

mengakibatkan keseimbangan antara jumlah tabungan dan investasi. Apabila tingkat bunga meningkat maka jumlah tabungan juga akan meningkat. Hal ini sangat rasional karena bunga adalah sebagai suatu daya tarik agar individu yang kelebihan dana akan menabung. Sebaliknya apabila tingkat bunga meningkat, maka jumlah permintaan investasi akan menurun.70

3. Pengaruh Jumlah Uang Beredar (M2) Terhadap Indeks Saham LQ-45

Menurut Boediono, ketika jumlah uang beredar di masyarakat semakin bertambah sehingga ekspektasi harga-harga barang dan jasa akan naik (inflasi) mengakibatkan tingkat suku bunga deposito dalam perekonomian menurun. Penurunan tingkat suku bunga deposito menyebabkan masyarakat lebih memilih untuk menginvestasikan dananya di pasar modal dengan harapan akan memperoleh keuntungan yang lebih besar, sehingga akan berdampak pada peningkatan permintaan saham di pasar modal.71 Menurut Mohamad Samsul, jika jumlah uang beredar

meningkat, maka harga saham naik. Hal tersebut dikarenakan ketika jumlah uang beredar meningkat maka orang akan cendrung melakukan investasi. Ketika para investor menyimpan uang mereka dalam bentuk investasi saham maka harga saham perusahaan pun akan mengalami peningkatan yang 69 Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Keenam, (Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2011), h. 82

70 Ibid., h. 104

(28)

berdampak pada meningkatnya indeks harga saham (pergerakan harga saham).72

G. Hasil Penelitian Teradahulu

Beragam model dan hasil penelitian yang sudah disimpulkan oleh peneliti terdahulu. Penulis telah memilih penelitian yang dengan penelitian yang sedang penulis lakukan yaitu:

Penelitian yang dilakukan oleh Fredy Salim, dengan judul: Pengaruh Suku Bunga BI Rate dan Inflasi Terhadap Harga Saham LQ 45 di BEI periode 2004-2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suku bunga dan inflasi terhadap harga saham LQ 45 di BEI. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian uji asumsi klasik dan uji hipotesis. Sampel dalam penelitian ini adalah 7 perusahaan, yang tergabung di LQ 45 selama periode 2004 sampai 2013.

Jenis data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder, yang diambil melalui www.sahamok.com dan www.yahoofinance.com. Teknik analisis data menggunakan program SPSS versi 16. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah dari hasil uji secara parsial (uji t) suku bunga berpengaruh negatif signifikan terhadap harga saham, dan inflasi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham. Dari hasil koefisien determinasi nilai R Square (R2) 22,5% suku bunga dan inflasi berpengaruh terhadap harga saham

dan sisanya 77,5% dipengaruhi variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.73

72 Mohamad Samsul, Pasar Modal dan Manajemen Portofolio, (Jakarta: Erlangga, 2006), h. 210 73 Fredy Salim, “Pengaruh Suku Bunga BI Rate dan Inflasi Terhadap Harga Saham LQ 45 di BEI periode 2004-2013”, Jurusan Ilmu Ekonomi, Manajemen, Email: [email protected] , STIE MDP : Jl. Rajawali No.14 Palembang, Telp. +62 (711) 376400, (Palembang: STIE MDP) diakses melalui: http://eprints.mdp.ac.id/1497/1/Jurnal_Skripsi.pdf, pada tanggal 16 Desember 2016 jam 7:30 Pm, h. 1

(29)

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1). Secara parsial, variabel suku bunga berpengaruh negatif secara signifikan terhadap harga saham, hal ini ditunjukan dengan nilai t hitung > t tabel (-3.261 > 1.99444). (2). Secara parsial, variabel

inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham, hal ini di tunjukan dengan nilai t hitung < t tabel (0.565 < 1.99444). (3). Secara simultan, variabel suku

bunga dan variabel inflasi berpengaruh signifikan terhadap harga saham, hal ini di tunjukan dengan nilai f hitung > f tabel (9.745 > 3.13).74

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Yohanes Wien Tineka, NIM: 112214049 dengan judul: Pengaruh Inflasi, Bi Rate, Dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Harga Saham (Studi Empiris Pada Perusahaan Building Construction yang tercatat di LQ45 Periode Perdagangan Februari 2014-Juli 2015). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inflasi, BI Rate, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara simultan dan parsial terhadap 4 harga saham yaitu PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan construction building yang masuk pada indeks LQ45 dalam Bursa Efek Indonesia. Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa inflasi, BI Rate, dan nilai tukar rupiah secara simultan memiliki pengaruh terhadap

(30)

keempat harga saham dan secara parsial tidak terdapat pengaruh negatif terhadap keempat harga saham.75

Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Inflasi, BI Rate, dan nilai tukar rupiah mempunyai pengaruh secara simultan terhadap keempat harga saham perusahaan, yaitu harga saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (2). Inflasi secara parsial tidak mempunyai pengaruh negatif terhadap setiap harga saham construction building di LQ45, yaitu harga saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (3). BI Rate secara parsial tidak mempunyai pengaruh negatif terhadap harga saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (4). Nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS secara parsial tidak mempunyai pengaruh negatif terhadap harga saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.76

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Bayu Raditya, 205081000170, dengan judul: Analisis Tingkat Sertifikat Bank Indonesia, Inflasi, Dan Nilai kurs terhadap return saham LQ 45 dan dampaknya Terhadap IHSG.

75 Yohanes Wien Tineka, “Pengaruh Inflasi, Bi Rate, Dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Harga Saham (Studi Empiris Pada Perusahaan Building Construction yang tercatat di LQ45 Periode Perdagangan Februari 2014-Juli 2015)” Sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen, Fakultas

Ekonomi Universitas Sanata Dharma, (Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma, 2015), h. xii

(31)

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Tingkat Sertifikat Bank Indonesia, Inflasi dan Nilai Kurs Terhadap Return Market dan Dampaknya Terhadap Return Saham LQ 45. Data yang diperoleh berupa data sekunder dari Bursa Efek Indonesia. Metode statistik yang digunakan adalah analisis jalur. Hasil pengujian menunjukan bahwa SBI, Inflasi dan Nilai Kurs mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variable Return Market IHSG sedangkan dampaknya terhadap Return Saham LQ 45 tidak memberikan pengaruh yang signifikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini dapat ditunjukkan dengan uji parsial dan uji simultan dari variabel makro ekonomi (SBI, Inflasi, dan Nilai Kurs) dan Return Market IHSG terhadap Return Saham LQ 45 yang menyatakan bahwa probabilitasnya di atas 0.05.77

Hasil pengujian yang telah dilakukan adalah menganalisis Tingkat SBI, Inflasi, dan Kurs terhadap Return Saham LQ-45 dan dampaknya terhadap IHSG. Dengan menggunakan data dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2009. Penelitian ini menggunakan metode analisis jalur, dari hasil pengujian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: (1).Variabel-variabel karakteristik makro ekonomi seperti tingkat SBI, inflasi dan kurs rupiah mempengaruhi return saham IHSG secara signifikan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan uji f dimana nilai alphanya kurang dari 0.05 baik itu secara simultan maupun secra parsial. Pengaruh total makro ekonomi terhadap return saham IHSG sebesar 83,6% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. (2). Variabel IHSG tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham LQ-45. Hal ini 77 Bayu Raditya, “Analisis Tingkat Sertifikat Bank Indonesia, Inflasi, Dan Nilai kurs terhadap return saham LQ 45 dan dampaknya Terhadap IHSG” Skripsi Sarjana Jurusan Manajemen

Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, (Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2010),

(32)

dapat ditunjukan dengan tidak adanya hubungan yang linear antara kedua variabel tersebut. Selain itu dilihat dari uji parsial menunjukkan bahwa variabel IHSG tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham LQ-45 karena mempunyai nilai probabilitas di atas 0.05. (3). Variabel karakteristik makro ekonomi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel IHSG sedangkan dampaknya terhadap return saham LQ-45 tidak memberikan pengaruh yang signifikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini dapat ditunjukkan dengan uji parsial dan uji simultan dari variabel makro ekonomi dan IHSG terhadap return saham LQ-45 yang menyatakan bahwa probabilitasnya di atas 0.05.78

Berdasarkan keterangan di atas, maka untuk lebih ringkasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu

No Nama

Peneliti

Tahun Peneliti

Judul Penelitian Hasil Penelitian Perbedaan

Penelitian

1 Fredy Salim 2015 “Pengaruh Suku Bunga BI Rate dan Inflasi Terhadap Harga

Saham LQ 45 di BEI periode 2004-2013” (Jurnal) 1. Secara parsial variabel suku bunga berpengaruh negative secara signifikan. 2. Secara parsial variabel inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

Dari segi tahun yang digunakan terdapat perbedaan, pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu dari Tahun 2006-2016. Sedangkan dari segi jumlah variabel yang digunakan juga berbeda, dimana

(33)

3. Secara simultan variabel suku bunga dan variabel inflasi berpengaruh signifikan terhadap harga saham. peneliti tidak memasukkan variabel inflasi kedalam penelitian ini. 2 Yohanes Wien Tineka 2015 “Pengaruh Inflasi, Bi Rate, Dan Nilai Tukar

Rupiah Terhadap Harga Saham (Studi

Empiris Pada Perusahaan Building Construction yang tercatat di LQ45 Periode Perdagangan Februari 2014-Juli 2015)” (Skripsi) bahwa inflasi, BI Rate, dan nilai tukar rupiah secara simultan memiliki pengaruh terhadap keempat harga saham dan secara parsial tidak terdapat pengaruh negatif terhadap keempat harga saham.

Dari segi periode tahun yang digunakan berbeda dimana peneliti membahasnya dari bulan januari-desember 2006 sampai dengan januari-desember 2016. Adapun peneliti tidak menggunakan variabel inflasi, namun sama-sama menggunakan variabel BI Rate, dan Kurs, kemudian menambahkan variabel Jumlah Uang Beredar (M2). Indeks harga saham LQ-45 yang peneliti gunakan adalah semua indeks harga saham yang termasuk LQ-45 dan terdaftar di bursa efek dan tidak terfokus saja terhadap 4 harga saham yaitu PT Adhi Karya (Persero) Tbk., PT

(34)

Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk., PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Seperti yang dibahas oleh peneliti sebelumnya. 3 Bayu Raditya 2010 Analisis Tingkat Sertifikat Bank Indonesia, Inflasi, Dan

Nilai kurs terhadap return saham LQ 45

dan dampaknya Terhadap IHSG

(Skripsi)

SBI, Inflasi dan Nilai Kurs mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variable Return Market IHSG sedangkan dampaknya terhadap Return Saham LQ 45 tidak memberikan pengaruh yang signifikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini dapat ditunjukkan dengan uji parsial dan uji simultan dari variabel makro ekonomi (SBI, Inflasi, dan Nilai Kurs) dan Return Market IHSG terhadap Return Saham LQ 45 yang menyatakan bahwa probabilitasnya di atas 0.05

Dari segi varabel yang digunakan itu berbeda dimana peneliti tidak menggunakan variabel tingkat sertifikat Bank Indonesia dan inflasi, namun sama menggunakan variabel kurs, tetapi dari segi variabel dependennya yaitu peneliti membahas Indeks Harga Saham LQ-45 bukan Return Saham LQ-45

(35)

Fera et all Tingkat Suku Bunga, Inflasi, Kurs, Dan Jumlah Uang Beredar

Terhadap Volume Perdagangan Saham Pada LQ-45 (Jurnal) bunga berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap volume perdagangan saham, sedangkan inflasi berpengaruh positif tidak signifikan terhadap volume perdagangan saham. Kurs dan jumlah uang beredar berpengaruh negatif signifikan terhadap volume perdagangan saham pada LQ-45. Dan hasil adjusted R square hanya 19,5% yang dapat mempengaruhi volume perdagangan saham pada LQ-45. waktu yang digunakan berbeda, dimana peneliti sebelumnya menggunakan waktu Januari 2009 sampai Desember 2012, sedangkan peneliti menggunakan periode januari sampai desember 2006-2016. Variabel yang digunakan sama. 5 Dwi Yahya Sarono 2014 Pengaruh Inflasi, Tingkat Suku Bunga SBI dan Nilai Tukar Dollar Terhadap Harga Saham Properti Yang Terdaftar Dalam LQ 45 di Bursa Efek Indonesia (Naskah Publikasi) Variabel inflasi tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap perubahan harga saham property, sedangkan tingkat suku bunga SBI dan nilai tukar dollar terdapat pengaruh yang signifikan terhadap harga saham properti yang terdaftar dalam LQ

Dari segi variabel Dependen yang digunakan berbeda, kemudian dari segi variabel yang digunakan, dimana peneliti tidak menggunakan variabel inflasi.

(36)

45 di BEI, dan tingkat suku bunga SBI dan nilai tukar Dollar berpengaruh positif terhadap harga saham properti yang terdaftar dalam LQ 45 di BEI 6 Heru Nugroho 2008 Analisis Pengaruh Inflasi, Suku Bunga, Kurs dan jumlah uang beredar terhadap Indeks LQ-45 (studi kasus pada BEI periode 2002-2007)

(Tesis)

Hanya variabel inflasi saja yang tidak berpengaruh terhadap kinerja saham indeks LQ45. Suku bunga dan jumlah uang beredar berpengaruh negatif , sedangkan kurs $ berpengaruh secara positif. Pengaruh suku bunga dan jumlah uang beredar secara negatif mendukung hasil penelitian sebelumnya, namun pengaruh kurs secara positif merupakan hasil yang anomali dan tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya

Dari segi periode yang digunakan berbeda, dimana peneliti menggunakan periode Januari-Desember 2006-2016. Sedangkan variabel Inflasi tidak digunakan.

H. Model Kerangka Berfikir

Sesuai dengan landasan teori dan sejumlah hasil penelitian terdahulu maka dapat dibuat sebuah model kerangka berfikir yang akan dipedomani

(37)

dalam tahapan analisis data didalam penelitian ini terlihat pada gambar 1.2 dibawah ini:

Gambar 2.1

Model Kerangka Berfikir

I. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah pendapat sementara sebelum dilakukan penelitian yang sesungguhnya. Pendapat tersebut merupakan dasar kerja atau panduan dalam suatu fenomena yang diidentifikasi. Berdasarkan penyusunan kerangka teoritik dan kerangka berfikir di atas, maka penulis merumuskan jawaban sementara penelitian sebagai berikut:

1. Untuk hipotesis Kurs (X1):

H0 : β = 0 (Kurs tidak berpengaruh signifikan terhadap Indeks Saham

LQ-45).

Ha : β ≠ 0 (Kurs berpengaruh signifikan terhadap Indeks Saham LQ-45).

2. Untuk hipotesis Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate) (X2):

H0 : β = 0 (BI Rate tidak berpengaruh signifikan terhadap Indeks Saham

LQ-45).

Ha : β ≠ 0 (BI Rate berpengaruh signifikan terhadap Indeks Saham LQ-45).

3. Untuk hipotesis Jumlah Uang Beredar (M2) (X3):

H0 : β = 0 (Jumlah Uang Beredar (M2) tidak berpengaruh signifikan

terhadap Indeks Saham LQ-45). Kurs Rupiah (X1) Suku Bunga (X2) Jumlah Uang Beredar (X3) Indeks Saham LQ-45

(38)

Ha :β ≠ 0 (Jumlah Uang Beredar (M2) berpengaruh signifikan terhadap

Indeks Saham LQ-45).

4. Untuk Hipotesis Kurs (X1), Suku Bunga Bank Indonesia (BI Rate)

(X2) dan Jumlah Uang Beredar (M2) (X3):

H0 : β = 0 (Kurs, BI Rate, dan Jumlah Uang Beredar (M2) tidak

berpengaruh siginifikan secara simultan terhadap Indeks Saham LQ-45).

Ha : β ≠ 0 (Kurs, BI Rate, dan Jumlah Uang Beredar (M2) berpengaruh

Gambar

Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu

Referensi

Dokumen terkait

kompres hangat sebagai upaya penurunan suhu tubuh pada anak kejang. demam”..

Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat serta kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini

dengan resolusi tinggi. Memungkinkan untuk mendapatkan berbagai signal dari satu lokasi yang sama. Hanya meneliti area yang sangat kecil dari sampel. Perlakuan awal dari sampel

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kehamilan pertumbuhan dan perkembangan janin sejak konsepsi sampai pada permulaan persalinan yaitu 280 hari

Pada tab menu ini dapat menyimpan data calon pelanggan (bisa dari pelanggan tentatif, pelanggan booking, atau calon pelanggan baru) yang telah melakukan pembayaran

Selain berusaha untuk mengembangkan dan memproduksi alat-alat elektronik serta meluaskan volume usaha, PT. Sharp Electronics Indonesia juga berpartisipasi dalam peningkatan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) upaya layanan bimbingan konseling Islam yang dilakukan guru konselor untuk menyadarkan perilaku merokok pada siswa di SMP Negeri 5

Sibolga Sambas lalu menghubungi MAYA (DPO) dengan menggunakan handphone dan menyuruh MAYA (DPO) untuk segera datang ke rumah terdakwa kemudian setelah bertemu