• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI PROGRAM ASI EKSKLUSIF DI POSYANDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EVALUASI PROGRAM ASI EKSKLUSIF DI POSYANDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

EVALUASI PROGRAM ASI EKSKLUSIF DI POSYANDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS JEPARA

SKRIPSI

Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Dengan Peminatan Manajemen Kesehatan

DESI NURKHAYATI NIM D11.2011.01320

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHAT AN

UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG

(2)

© 2016

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Persembahan untuk My Hero : Kedua orang tuaku dan

H. Majekur (utih) yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun materil. Semoga amalan ini menjadi salah satu penyejuk hati beliau.

Bapak Ibu Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro Semarang yang telah memberikan ilmu pengetahuan, informasi, dan membimbing selama

menjalani perkuliahan

Teman-teman seangkatan FKM 2011 yang selalu solid dan selalu kekeluargaan, serta memegang teguh persahabatan

(8)

8

RIWAYAT HIDUP

Nama : DESI NURKHAYATI Tempat, tanggal Lahir : Jepara, 14 Desember1992

Jenis /kelamin : Perempuan Agama : Islam

Alamat : Desa Banyuputih Kecamatan Kalinyamat Jepara.

Riwayat Pendidikan

1. SD 04 Bayuputih, tahun 1999-2005

2. SMP Negeri 2 Kalinyamat tahun 2005-2008

3. SMA Islam Sultan Agung 02 Kalinyamat Jepara, tahun 2008- 2011

4. Diterima di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro Semarang tahun 2011.

(9)

KAT A PENGANTAR

Segala puji dan syukur kepada Allah SWT, karena atas rahmat-Nya yang telah diberikan kepada hambaNya termasuk saya. Dengan demikian, akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul ”Evaluasi Program ASI Eksklusif Di

Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara” sebagai persyaratan dan tugas

akhir untuk mendapatkan gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Peminatan Promosi Kesehatan Masyarakat.

Peneliti menyadari dengan sepenuh hati, bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan baik dari segi materi maupun teknis penulisan karena keterbatasan yang dimiliki oleh penulis. Oleh karena itu dengan hati yang tulus, harapan Peneliti untuk mendapatkan koreksi dan telaah yang bersifat konstruktif agar Skripsi ini dapat diterima.

Banyak pihak yang telah memberikan bantuan berupa moril maupun materil, dan dosen yang tidak lelah memberikan bimbingannya sehingga penulis dapat menyelesaikan pengerjaan skripsi ini, karena itu penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas bantuannya tersebut, khususnya kepada :

1. Dr. Ir. Edi Noersasongko, M.Kom. Selaku rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang

2. Dr. dr. Sri Andarini Indreswari, M.Kes. Selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

3. Kepala PuskesmasJepara, karena dengan ijin dan bantuannya yang luar biasa maka dapat terselesaikannya skripsi ini.

(10)

10

Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro Semarang

5. Vilda Ana Veria Setyawati, M.Gizi. Selaku Pembimbing Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro Semarang

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan Fakultas Kesehatan Masyarakat dan semua pihak yang memerlukan. Terima kasih.

Semarang, 29 Februari 2016 Peneliti

(11)

Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro Semarang 2016 ABSTRAK

DESI NURKHAYATI

EVALUASI PROGRAM ASI EKSKLUSIF DI POSYANDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS JEPARA

xviii+75 halaman + 23 tabel + 2 gambar + 5 lampiran

Pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Akibat dari pemberian ASI dan pemberian makanan tambahan yang salah, diantaranya sekitar 6,7 juta balita atau 27,3 % dari seluruh balita di Indonesia menderita kurang gizi dan sebanyak 1,5 juta diantaranya menderita gizi buruk. Cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Jepara tahun 2015 baru mencapai 41,23%. Peran kader sangat dibutuhkan untuk memberikan dukungan dan motivasi kepada ibu menyusui agar tercapai cakupan ASI eksklusif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi program ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan rancangan penelitian cross

sectional. Variabel bebas penelitian meliputi umur, pendidikan, pekerjaan,

dukungan kader, penyuluhan kader, pendampingan kader dan pengawasan. Variable terikat adalah cakupan ASI eksklusif. Populasi dalam penelitian in i adalah kader posyandu aktif di wilayah kerja Puskesmas Jepara. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive samplingyang berjumlah 37posyandu. Analisis data menggunakan chi square. Penelitian dilakukan bulan Januari 2016.

Hasil penelitian menunjukkan faktor umur, pendidikan dan pekerjaan kader tidak berhubungan dengan cakupan ASI eksklusif di posyadu wilayah kerja Puskesmas Jepara. Faktor yang berhubungan dengan cakupan ASI eksklusif meliputi dukungan kader (p=0,001), penyuluhan kader (p=0,001), pendampingan kader (p=0,002) dan pengawasan kader (p=0,0001).

Saran direkomendasikan kepada pihak-pihak terkait diharapkan dapat meningkatkan pemberdayaan kader posyandu terkait dengan upaya untuk meningkatan cakupan ASI eksklusif agar sesuai target nasionalya itu sebesar 80%, dengan cara melakukan kunjungan rumah ibu yang menyusui.

Kata Kunci : Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Dukungan Kader, Penyuluhan Kader, Pendampingan Kader, Pengawasan Kader, Cakupan ASI Eksklusif.

(12)

12

Undergraduate Program of Public Health Faculty of Health Sciences Dian Nuswantoro University Semarang 2016 DESI NURKHAYATI

ABSTRACT

EVALUATION OF EXCLUSIVE BREASTFEEDING PROGRAM AT POSYANDU IN WORK AREA JEPARAHEALTH CENTER

xviii+75 pages + 23 tables + 2 figures + 5 appendixes

Exclusive breastfeeding in Indonesia is still very alarming. As a result of breastfeeding and supplementary feeding wrong, including about 6.7 million children under five, or 27.3% of all children under five suffer from malnutrition in Indonesia and 1.5 million of them suffer from malnutrition. Covered of exclusive breastfeeding in the Jepara Public Health Centre in 2015 reached 41.23%. The role of cadres are needed to provide support and motivation to nursing mothers to achieve coverage of exclusive breastfeeding. The purpose of this study was to evaluate the program of exclusive breastfeeding in Puskesmas Posyandu Jepara This research is a quantitative and cross-sectional study design. The independent variables included age, education, employment, support cadres, cadres counseling, mentoring and supervision of cadres. The dependent variable is the coverage of exclusive breastfeeding. The population in this study is Posyandu cadre active in Puskesmas Jepara. Sampling technique used is purposive sampling totaling 37 posyandu. Data analysis using chi square. The research was done on Januari 2016.

The results showed factors of age, education and employment of cadres are not significant correlation with coverage of exclusive breastfeeding in posyadu Puskesmas Jepara. Factors correlated with exclusive breastfeeding coverage includes support cadres (p=0,001), cadres counseling (p=0,001), mentoring (p=0,002) and supervision cadres (p=0,0001).

Recommended advice to the relevant parties are expected to increase the empowerment of Posyandu cadre associated with efforts to increase range of exclusive breastfeeding to match the national target of 80%, by conducting home visits nursing mothers.

Keywords: Age, Education, Employment, Support Kader, CounselingKader,

Mentoring Kader, SupervisionKader, Target of exclusive breastfeeding.

(13)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN HAK CIPTA ... ii

PERSETUJUAN LAPORAN TUGAS... iii

HALAMAN PRNGESAHAN ... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIK ... vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii

RIWAYAT HIDUP... viii

KATA PENGANTAR ... ix

ABSTRAK... xi

ABSTRAC... xii

DAFTAR ISI... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Perumusan Masalah ... 6 C. Tujuan Penelitian ... 6 D. Manfaat Penelitian ... 8 E. Keaslian Penelitian ... 8

F. Ruang Linkup Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori ... 11

1. Air susu ibu (ASI) ... 11

a. Pengertian... 11

b. Manfaat ASI dan Keuntungan Menyusui ... 13

c. Komposisi ASI ... 14

(14)

14

a. Pengertian ... 16

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI Eksklusif ... 18

3. Pengetahuan ... 23

a. Pengertian pengetahuan... 23

b. Tingkat Pengetahuan ... 23

c. Pengukuran Pengetahuan ... 24

d. Sumber – sumber pengetahuan ... 24

e. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan ... 25

4. Umur... 27

5. Pendidikan... 27

6. Pekerjaan ... 28

7. Promosi oleh tenaga kesehatan ... 28

8. Dukungan keluarga ... 29

9. Pendampingan kader posyandu ... 30

10. Pengawasan dari Puskesmas ... 31

11. Pendekatan Sistem Evalusi Program ASI eksklusif di Posyandu ……….. 32

B. Kerangka Teori ... 36

BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep ... 37

B. Hipotesis ... 37

C. Jenis Penelitian ... 38

D. Variabel Penelitian ... 38

E. Definisi Operasional ... 39

F. Populasi dan Sampel Penelitian ... 40

G. Pengumpulan Data ... 41

H. Uji Vaiditas dan Reliabilitas ... 43

I. Pengolahan Data ... 45

(15)

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 48

B. Karakteristik... 49

C. Analisis Univariat... 50

D. Analisis Bivariat ... 54

BAB VPEMBAHASAN A. Cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara... 60

B. Hubungan umur kader dengan cakupan ASI eksklusif ... 61

C. Hubungan pendidikan kader dengan cakupan ASI eksklusif .. 63

D. Hubungan pekerjaan kader dengan cakupan ASI eksklusif ... 64

E. Hubungan dukungan kader dengan cakupan ASI eksklusif ... 66

F. Hubungan penyuluhan kader dengan cakupan ASI eksklusif. 67

G. Hubungan pendampingan kader dengan cakupan ASI eksklusif... 68

H. Hubungan pengawasan kader dengan cakupan ASI eksklusif... 69

I. Pendekatan Sistem ... 70

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 73

B. Saran ... 74 DAFTAR PUSTAKA

(16)

16

DAFTAR TABEL TABEL HALAMAN 1.1 Keaslian Penelitian... 8 3.1 Definisi Operasional ... 39 3.2 Jumlah Posyandu... 41

4.1 Gambaran Umur Responden... 49

4.2 Gambaran Pendidikan Responden ... 49

4.3 Gambaran Pekerjaan Responden ... 50

4.4 Distribusi tiap pertanyaan bedasarkan Dukungan Kader... 50

4.5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Dukungan Kader ... 51

4.6 Distribusi tiap pertanyaan bedasarkan Penyuluhan Kader ... 51

4.7 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Penyuluhan Kader... 52

4.8 Distribusi tiap pertanyaan bedasarkan Pendampingan Kader... 52

4.9 Distribusi Frekuensi Responden tentang Pendampingan Kader ... 53

4.10 Distribusi tiap pertanyaan bedasarkan Pengawasan Kader ... 53

4.11 Distribusi Frekuensi Responden tentang Pengawasan Kader ... 53

4.12 Distribusi Frekuensi Responden tentang Cakupan ASI Eksklusif . 54 4.13 Hubungan umur kader dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara ... 54

4.14 Hubungan pendidikan kader dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara... 55

4.15 Hubungan pekerjaan kader dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara... 56

4.16 Hubungan dukungan kader dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara... 56

4.17 Hubungan penyuluhan kader dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara... 57

4.18 Hubungan pendampingan kader dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara... 58

4.19 Hubungan pengawasan kader dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara... 58

(17)
(18)

18

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR HALAMAN 2.1 Kerangka Teori... 36 3.1 Kerangka Konsep ... 37

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Lampiran 2 Data Penelitian Lampiran 3 Hasil Olah Data Lampiran 4 Dokumentasi Lampiran 5 Surat perijinan

(20)

20

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air susu ibu (ASI) diciptakan oleh Tuhan degan segala kelebihannya. Pedoman internasional yang menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah tentang

manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan

perkembangannya. ASI memberi semua energi dan gizi (nutrisi) yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. ASI adalah cairan kehidupan terbaik yang sangat dibutuhkan oleh bayi. ASI mengandung berbagai zat yang penting untuk tumbuh kembang bayi dan sesuai dengan kebutuhannya. Meski demikian, tidak semua ibu mau menyusui bayinya karena berbagai alasan. Misalnya takut gemuk, sibuk, payudara kendor dan sebagainya. Di lain pihak, ada juga ibu yang ingin menyusui bayinya tetapi mengalami kendala. Biasanya ASI tidak mau keluar atau produksinya kurang lancar, serta banyak hal lain yang dapat mempengaruhi produksi

ASI.1

Pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Akibat dari pemberian ASI dan pemberian makanan tambahan yang salah, diantaranya sekitar 6,7 juta balita atau 27,3 % dari seluruh balita di Indonesia menderita kurang gizi dan sebanyak 1,5 juta

diantaranya menderita gizi buruk.1 Kebijakan yang ditempuh dalam

program peningkatan pemberian ASI di Indonesia adalah menetapkan cakupan ASI ekslusif pada suatu wilayah sebesar 80%. Namun realitanya,

(21)

sampai saat ini pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Keprihatinan ini cukup mendasar, karena masih banyak masyarakat yang memberikan makanan pendamping pada waktu bayi

berumur sangat muda.1

Data dari Depkes RI secara nasional pada tahun 2014 menetapkan target sebesar 80%, namun cakupan secara nasional pemberian ASI eksklusif hanya sebesar 52,3% sehingga belum mencapai target. Keadaan lain yang memprihatinkan, adalah 13 % dari bayi berumur di bawah 2 bulan

telah diberi susu formula dan 15 % telah diberi makanan tambahan.2

Pemberian ASI eksklusif di Jawa Tengah hanya sebesar 54 % pada usia 2-3 bulan dan untuk usia 4-12 bulan hanya 35 %. Hasil rekap laporan ASI Eksklusif di seluruh Puskesmas Kota Semarang tahun 2006 jumlah bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif yaitu 40.07%. Namun pada tahun 2007 jumlah bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif menurun menjadi

38,44%. 1

Banyak alasan yang menjadi faktor penyebab kenapa ibu tidak memberikan ASI ekslusif kepada bayinya. Alasan pekerjaan menjadi salah satu penyebab yang cukup besar bagi ibu-ibu yang tinggal di perkotaan dan mempunyai pekerjaan di luar rumah. Kesibukan kerja yang membutuhkan waktu hingga 8 jam untuk bekerja di luar rumah yang menjadi alasan tidak

dapat memberikan ASI ekslusif kepada bayi hingga usia 6 bulan.3

Beberapa hal yang menjadi alasan yaitu adalah karena kelelahan akibat bekerja adalah produksi ASI yang mulai menurun, yang akibatnya bayi tidak lagi mau disusui dan saluran ASI menjadi tersumbat. Namun demikian ada juga karena keengganan untuk menyusui yang menyebabkan anak

(22)

22

harus berhenti merasakan ASI ekslusif dari ibunya. Alasan yang mengkhawatirkan adalah adanya anggapan yang salah tentang pemberian ASI ekslusif yang biasanya hal ini terjadi pada masyarakat pedesaan. Orangtua memberikan MPASI < 6 bulan. Umumnya banyak ibu yg beranggapan bahwa apabila anaknya akan kelaparan dan akan tidur nyenyak jika diberi makan. Meskipun tidak ada relevansinya banyak yang beranggapan bahwa hal ini benar. Terkadang anak yang menangis terus dianggap sebagai anak yang tidak kenyang, padahal menangis bukan

semata-mata tanda bahwa bayi sedang merasa lapar. 4

Faktor-faktor yang mempengaruhi kegagalan pemberian ASI eksklusif ini adalah karena karena faktor sosial budaya, faktor psikologis, faktor fisik, kurangnya petugas kesehatan, meningkatnya prmosi susu

kaleng sebagai pengganti ASI dan keterangan yang salah.5 Menurut

Siregar terdapat beberapa faktor lain yang mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayi yaitu usia, pendidikan, pengetahuan

dan ibu yang bekerja di luar rumah.4

Penelitian Meiyana Dianning Rahmawati tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian asi eksklusif pada ibu menyusui di Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik Kota Semarang. Hasil penelitian ini menemukan bahwa variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif adalah usia ibu, status pekerjaan, urutan kelahiran bayi dan dukungan petugas kesehatan. Uji regresi logistik menunjukkan bahwa faktor paling dominan yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif adalah status pekerjaan dengan p=0,008. dan OR=4,137 yang

(23)

menandakan bahwa ibu yang tidak bekerja berpeluang memberikan ASI

ekskusif pada bayinya 4 kali dibanding ibu yang bekerja.6

Suksesnya suatu program termasuk pemberian ASI eksklusif tergantung pada keseriusan penanganan masalah tersebut. Penanganan masalah ini dapat dilakukan melalui pendekatan sistem. Model dasar pendekatan sistem terdiri masukan (input), pengolahan (proses) dan keluaran (output) sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi permasalahan ASI eksklusif. Unsur atau komponen sistem yang berupa input merupakan jenis dan jumlah masukan yang dapat diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan sehingga penghamburan sumber, tata cara dan kesanggupan yang sifatnya terbatas akan dapat

dihindari.7

Survei pendahuluan melalui wawancara terhadap ibu menyusui telah dilakukan guna mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi ibu yang tidak dapat memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya, yang berdasarkan teori pendekatan sistem hal ini masuk unsur input. Identifikasi masalah yang dapat ditemukan adalah ditemukan ibu yang mengalami sakit pada putting susu sehingga tidak dapat memberikan ASI kepada bayi

oleh karena itu kebutuhan susu bayi diberikan menggunakan susu formula. Hasil identifikasi masalah juga menemukan bahwa ibu bekerja di luar rumah sehingga tidak dapat memberikan ASI kepada bayi, identifikasi masalah juga menemukan ada ibu yang menderita TB paru sehingga tidak dapat memberikan ASI kepada bayinya. Hasil identifikasi juga menemukan pemahaman yang salah yaitu bayi memerlukan makanan tambahan secepatnya karena ASI saja dianggap tidak cukup ditambah lagi dengan

(24)

24

bayi yang setelah diberikan makanan tambahan merasa tenang dan tidak rewel berarti bayi merasa kenyang. Hasil identifikasi yang terakhir adalah adanya anggapan bahwa dengan memberikan susu formula kepada bayi menunjukkan status sosial yang lebih tinggi di lingkungan.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas

Jepara yang terdiri dari 16 desa pada bayi dengan usia 5-6 bulan berdasarkan data rekapan tahun 2014 dari 107 bayi berusia 6 bulan terdapat 74 bayi (69,15%) yang mendapat ASI ekslusif. Sedangkan data tahun 2015 dari 125 bayi usia 6 bulan terdapat 45 bayi (36,0%) yang mendapat ASI eksklusif. Berdasarkan usia bayi antara 6-11 bulan di tahun 2015 tercatat sebanyak 798 bayi, namun yang mendapatkan ASI eksklusif hanya sebesar 329 bayi (41,23%). Berdasarkan hasil wawancara dengan

10 ibu telah memberikan MP ASI sebelum bayinya berusia 6 bulan memberikan alasan bahwa para ibu yang terpaksa meninggalkan bayi untuk bekerja di luar rumah. Susu formula akhirnya menjadi satu alternatif yang harus diberikan kepada bayinya disaat ditinggal bekerja. Selain itu rendahnya pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI eksklusif dan adanya anggapan bahwa melalui pemberian makanan tambahan dapat memberi kenyamanan kepada bayi serta dapat membuat bayi menjadi cepat gemuk, serta ada satu ibu yang terpaksa tidak dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayi karena menderita TB paru sehingga untuk menghindari penularan kepada bayinya maka ibu ini tidak memberikan ASI kepada

bayinya.

Posyandu sebagai satu institusi kesehatan yang sangat dekat dengan ibu dan bayi disetiap lingkungan. Sebagai salah satu institusi

(25)

kesehatan posyandu memiliki program kerja yang terdiri dari Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang salah satunya berkaitan dengan Ibu Nifas dan Menyusui, yang dalam pelayanannya meliputi penyuluhan/konseling kesehatan, KB pasca, persalinan, Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan ASI, eksklusif dan gizi, serta pemberian 2 kapsul vitamin A. Berkaitan dengan program tersebut kader diharapkan dapat melakukan pemantauan dan pengawasan berkaitan dengan pelaksanaan ASI eksklusif agar cakupannya mencapai target yaitu 80%.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka peneliti tertarik untuk mengevaluasi pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Jepara.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan fenomena tersebut maka rumusan masalah ”Bagaimana

evaluasi program ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengevaluasi program ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja

Puskesmas Jepara. 2. Tujuan khusus meliputi:

a. Mengetahui cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara.

(26)

26

b. Mendeskripsikan karakteristik kader di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara.

c. Mendeskripsikan dukungan kader terhadap ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Jepara terhadap pemberian ASI eksklusif

d. Mendeskripsikan penyuluhan dari kader posyandu pada ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Jepara terhadap pemberian ASI eksklusif.

e. Mendeskripsikan pendampingan dari kader posyandu pada ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Jepara terhadap pemberian ASI eksklusif.

f. Mendeskripsikan pengawasan puskesmas pada ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Jepara terhadap pemberian ASI eksklusif.

g. Menganalisis hubungan karakteristik kader dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara.

h. Menganalisis hubungan dukungan kader terhadap ibu menyusui dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara.

i. Menganalisis hubungan penyuluhan dari kader posyandu pada ibu menyusui dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara.

j. Menganalisis hubungan pendampingan dari kader posyandu pada ibu menyusui dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah

(27)

k. Menganalisis hubungan pengawasan puskemas dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan digunakan sebagai bahan masukan:

1. Manfaat Praktis

Para kader posyandu dapat menigkatkan penyuluhan dan

pendampingan serta dukungan terhadap ibu menyusui agar dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Hasilnya dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk lebih memberikan perhatian, dan lebih banyak penjelasan tentang arti penting ASI eksklusif.

2. Mafaat Teoritis

Hasil penelitian dapat dijadikan sumbangan referensi dan pemikiran bagi perkembangan ilmu kesehatan khususnya tentang permasalahan pemberian ASI eksklusif pada bayi hingga usia 6 bulan.

E. Keaslian Penelitian

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Nama Desain

Peneliti Judul Penelitian Variabel Hasil

Isnaini Faktor-faktor yang Penelitian Pendidikan, Tidak terdapat

Agam mempengaruhi survei pekerjaan, hubungan antara

(2012) pemberian asi eksklusif

di Kelurahan Tamamaung Kecamatan Panakkukang Kota Makassar bersifat deskriptif analitik dengan pendekat an desain Cross Sectional

status gizi ibu, IMD, penolong persalinan, pendapatan keluarga, dan ASI eksklusif umur, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, status gizi ibu, IMD, penolong persalinan dan pendapatan keluarga dengan

(28)

28

pemberian ASI eksklusif Meiyana Diannin g Rahma wati (2010) Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian asi eksklusif pada ibu menyusui di Kelurahan Pedalangan Kecamatan Banyumanik Kota Semarang Penelitian survei bersifat deskriptif analitik dengan pendekat an desain Cross Sectional. Usia ibu, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan, urutan kelahiran bayi, pengetahuan ibu, dukungan suami, dukungan petugas kesehatan dan sosial budaya. variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif adalah usia ibu, status pekerjaan, urutan kelahiran bayi dan dukungan petugas kesehatan. Uji regresi logistik menunjukkan bahwa faktor paling dominan yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif adalah ststus pekerjaan

Perbedaan penelitian ini dengan keaslian penelitian pada tabel diatas adalah pada penelitian ini ditambahkan variabel pengaruh iklan susu formula. Perbedaan lain adalah terletak pada analisis data menggunakan regresi logistic sementara pada penelitian ini hanya sebatas bivariat.

F. Ruang Lingkup Penelitian

1. Lingkup Keilmuan

Penelitian ini termasuk dalam Ilmu kesehatan Masyarakat dengan kajian di bidang Manajemen Kesehatan.

(29)

2. Lingkup Materi

Materi ini adalah evalusi program ASI eksklusif di posyandu 3. Lingkup Metode

Jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan korelasi. 4. Lingkup Sasaran

Sasaran dalam penelitian ini adalah kader posyandu yang memberikan yang salah satu tugasnya memberikan penyuluhan, pendampingan dan dukungan terhadap ibu menyusui agar dapat memberikan ASI eksklusif kepada bayi.

5. Lingkup Lokasi

Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Jepara 6. Lingkup Waktu

(30)

30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Air susu ibu (ASI)

a. Pengertian

ASI eksklusif adalah Pemberian ASI pada bayi tanpa tambahan makanan lainnya ataupun cairan lainnya seperti susu formula, jeruk, madu, teh, air putih dan tanpa tambahan makanan padat apapun seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim sampai usia enam bulan. ASI sebagai nutrisi yaitu merupakan sumber gizi yang sangat ideal komposisi yang seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI adalah makanan yang sempurna baik kualitas maupun kwantitasnya. ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi yaitu merupakan cairan hidup yang mengandung zat kekebalan yang akan melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, parasit dan jamur. Zat kekebalan yang terdapat pada ASI akan melindungi bayi dari penyakit diare , juga akan menurunkan kemungkinan bayi terkena infeksi telinga, batuk,

pilek dan penyakit alergi lainnya. 8

ASI mengandung tiga unsur penting bagi pertumbuhan bayi yang dampaknya akan dirasakan sampai dewasa. Pada kolostrum (ASI yang pertama kali keluar) terkandung unsur-unsur penting tersebut. Tiga unsur penting yang dapat ditemukan dalam ASI antara lain kemak dengan kadar 3,5%-4,5%, karbohidrat dengan kandungan

(31)

utama laktosa dengan kadar 7%, dan protein dengan kadar 0,9%. Selain tiga unsur tersebut, didalam ASI juga terkandung vitamin yang dibutuhkan oleh bayi. Vitamin yang terkandung dalam ASI yaitu K, E

dan D.8

Selain tergantung suhu dan kelembaban udara, serta berat badan dan aktivitas bayi, rata-rata kebutuhan cairan bayi sehat sehari berkisar 80-100 ml/kg dalam minggu pertama usianya hingga 140-160 ml/kg pada usia 3-6 bulan. Jumlah ini dapat dipenuhi cukup dari ASI saja karena dua sebab yaitu kandungan air dalam ASI yang diminum bayi selama pemberian ASI eksklusif sudah mencukupi kebutuhan bayi dan sesuai dengan kesehatan bayi. Bahkan bayi baru lahir yang hanya mendapat sedikit ASI pertama (kolostrum - cairan kental kekuningan), tidak memerlukan tambahan cairan karena bayi dilahirkan dengan cukup cairan di dalam tubuhnya. ASI dengan kandungan air yang lebih tinggi biasanya akan „keluar‟ pada hari

ketiga atau keempat.9

Salah satu fungsi utama air adalah untuk menguras kelebihan bahan-bahan larut melalui air seni. Zat-zat yang dapat larut (misalnya sodium, potasium, nitrogen, dan klorida) disebut sebagai bahan- bahan larut. Ginjal bayi yang pertumbuhannya belum sempurna hingga usia tiga bulan, mampu mengeluarkan kelebihan bahan larut lewat air seni untuk menjaga keseimbangan kimiawi di dalam tubuhnya. Oleh karena ASI mengandung sedikit bahan larut, maka bayi tidak membutuhkan air sebanyak anak-anak atau orang

(32)

31

b. Manfaat ASI dan Keuntungan Menyusui

ASI sebagai makanan bayi mempunyai manfaat atau sifat

sebagai berikut : 11

1) ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi, praktis, ekonomis, mudah dicerna untuk memiliki komposisi, zat gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi. 2) ASI mengadung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan

susu buatan. Didalam usus laktosa akan dipermentasi menjadi asam laktat. yang bermanfaat untuk:

a) Menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen.

b) Merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menghasilkan asam organik dan mensintesa beberapa jenis vitamin.

c) Memudahkan terjadinya pengendapan calsium-cassienat. d) Memudahkan penyerahan berbagai jenis mineral, seperti

calsium, magnesium.

3) ASI mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama, seperti: Immunoglobin, Lysozyme, Complemen C3 dan C4, Antistapiloccocus, lactobacillus, Bifidus, Lactoferrin.

3) ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada bayi.

4) Proses pemberian ASI dapat menjalin hubungan psikologis antara

(33)

Selain memberikan manfaat yang baik bagi bayi, menyusui

dengan bayi juga dapat memberikan keuntungan bagi ibu, yaitu: 12

1) Suatu rasa kebanggaan dari ibu, bahwa ia dapat memberikan “kehidupan” kepada bayinya.

2) Hubungan yang lebih erat karena secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat, bagi perkembangan psikis dan emosional antara

ibu dan anak.

3) Dengan menyusui bagi rahim ibu akan berkontraksi yang dapat menyebabkan pengembalian keukuran sebelum hamil

4) Mempercepat berhentinya pendarahan post partum.

5) Dengan menyusui maka kesuburan ibu menjadi berkurang untuk beberpa bulan (menjarangkan kehamilan)

6) Mengurangi kemungkinan kanker payudara pada masa yang akan datang.

c. Komposisi ASI

Komposisi ASI tidak konstan atau tidak sama dari waktu ke waktu. Menurut Roesli, diantara faktor yang mempengaruhi komposisi

ASI adalah stadium laktasi yang terdiri dari tiga tingkatan yaitu8 :

1) Kolostrum

Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae. Kolostrum ini berlangsung sekitar tiga sampai empat hari setelah ASI pertama kali keluar. Kolostrum mempunyai karakteristik yaitu cairan ASI lebih kental dan berwarna lebih kuning dari pada ASI mature. Lebih banyak mengandung protein dimana protein pada umumnya adalah gama

(34)

33

globulin. Lebih banyak mengandung antibody dibandingkan dengan ASI mature dan dapat memberikan perlindungan pada bayi sampai usia enam bulan. Kadar karbohidrat dan lemaknya lebih rendah daripada ASI mature. Lebih tinggi mengandung mineral terutama sodium dibandingkan ASI mature. Ph lebih alkali. Total energinya hanya 58 kalori/ 100 ml kolostrum. Vitamin yang larut lemak lebih banyak dbandingkan ASI mature sedangkan vitamin yang larut air dapat lebih tinggi atau lebih rendah. Bila dipanaskan akan menggumpal. Lipidnya lebih banyak mengandung kolesterol dan lecitinin dibandingkan ASI mature. Volume kolostum berkisar 150-300 ml/ 24 jam.

2) ASI Peralihan

Air Susu peralihan merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI mature. ASI peralihan berlangsung dari hari ke empat sampai hari kesepuluh dari masa laktasi. Beberapa karakteristik ASI peralihan meliputi kadar protein lebih rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat lebih tinggi dibandingka kolostrum serta volume ASI peralihan ini lebih tinggi dibandingkan dengan kolostrum.

3) ASI Mature

ASI Mature adalah ASI yang disekresi pada hari ke sepuluh atau setelah minggu ke tiga sampai minggu ke empat dan seterusnya. Komposisi ASI masa ini relatif konstan. Karakteristik dari ASI mature ini adalah Cairan berwarna kekuning- kuningan. Tidak menggumpal bila dipanaskan. Ph 6,6-6,9. Terdapat anti

(35)

microbial faktor. Kadar air dalam ASI mature 88 gram/ 100 ml. Volume ASI mature antara 300- 850 ml/ 24 jam.

2. ASI ekslusif

a. Pengertian

ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan.

Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini.2

Pedoman internasional yang menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. ASI memberi semua energi dan gizi yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru, serta mempercepat pemulihan bila sakit dan membantu

menjarangkan kelahiran. 7

ASI eksklusif meningkatkan kecerdasan karena dalam ASI terkandung nutrien- nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan otak bayi yang tidak ada atau sedikit sekali terdapat pada susu sapi antara lain. Taurin yaitu suatu bentuk zat putih telur yang hanya terdapat pada ASI. Laktosa merupakan hidrat arang utama dari ASI yang hanya sedikit sekali terdapat dalam susu sapi. Asam Lemak ikatan panjang (DHA, AA, Omega 3, Omega 6), merupakan asam lemak

(36)

35

ASI Eksklusif juga dapat meningkatkan jalinan kasih sayang karena bayi yang sering berada dalam dekapan ibu akan merasa kasih sayang ibunya. Ia juga akan merasa aman dan tentram yang akan menjadi dasar perkembangan emosi bayi dan membentuk

kepribadian dan percaya diri dan dasar spiritual yang baik.7

Pemberian ASI eklusif selama 6 bulan memberikan manfaat kepada bayi yang meliputi :

1) Melindungi dari infeksi gastrointestinal

2) Bayi yang mendapat ASI ekslusif selama enam bulan tingkat pertumbuhannya sama dengan yang ASI eksklusif hanya empat bulan.

3) ASI eksklusif enam bulan ternyata tidak menyebabkan kekurangan zat besi

Bayi yang dilahirkan sangat sehat, pada umur 6 bulan akan mencapai pertumbuhan atau berat badan 2 kali lipat dari berat badan pada waktu dilahirkan. Untuk pertumbuhan bayi dengan baik zat-zat

yang sangat dibutuhkan adalah: 13

1) Protein, dibutuhkan 3-4 gram/kilogram berat badan. 2) Calsium (Cl)

3) Vitamin D, tetapi karena Indonesia berada di daerah tropis, maka hal ini tidak menjadi masalah.

4) Vitamin A dan K yang harus diberikan sejak post natal.

5) Fe (zat besi) diperlukan, karena di dalam proses kelahiran

(37)

Secara alamiah sebenarnya zat-zat gizi tersebut sudah terkandung di dalam ASI. Oleh sebab itu apabila gizi makanan ibu cukup baik, dan anak diberi ASI hingga 6 bulan, zat-zat tersebut sudah dapat mencukupi. Pemberian ASI saja tanpa makanan tambahan lain sampai usia 6 bulan ini disebut ASI eksklusif. Disamping itu ASI juga mempunyai keunggulan yakni mengandung immunoglobin yang memberi daya tahan tubuh pada bayi, yang berasal dari tubuh ibu. Immuboglobin ini dapat bertahan pada anak

sampai dengan bayi berusia 6 bulan. 10

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif

Banyak hal yang menyebabkan ASI Ekslusif tidak diberikan khususnya bagi ibu-ibu di Indonesia, hal ini kemungkinan dipengaruhi

oleh: 3

1) Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga.

Hubungan kerabat yang luas di daera pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. Pengaruh orang tua seperti nenek, kakek, mertua dan orang terpandang dilingkungan keluarga secara berangsur menjadi berkurang, karena mereka itu umumnya tetap tinggal di desa sehingga pengalaman mereka dalam merawat makanan bayi tidak dapat diwariskan.

2) Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologi pembuatan makanan bayi seperti pembuatan tepung makanan bayi, susu buatan bayi, mendorong ibu untuk mengganti

(38)

37

3) Iklan yang menyesatkan dari produksi makanan bayi menyebabkan ibu beranggapan bahwa makanan-makanan itu lebih baik dari ASI

4) Para ibu sering keluar rumah baik karena bekerja maupun karena tugas-tugas sosial, maka susu sapi adalah satu-satunya jalan keluar dalam pemberian makanan bagi bayi yang ditinggalkan dirumah.

5) Adanya anggapan bahwa memberikan susu botol kepada anak

sebagai salah satu simbol bagi kehidupan tingkat sosial yan lebih tinggi, terdidik dan mengikuti perkembangan zaman.

6) Ibu takut bentuk payudara rusak apabila menyusui dan kecantikannya akan hilang.

7) Pengaruh melahirkan dirumah sakit atau klinik bersalin. Belum semua petugas paramedis diberi pesan dan diberi cukup informasi

agar menganjurkan setiap ibu untuk menyusui bayi mereka, serta praktek yang keliru dengan memberikan susu botol kepada bayi yang baru lahir.

Faktor-faktor lain yang menyebabkan kegagalan dalam pemberian ASI eksklusif adalah karena karena faktor intern dari ibu seperti terjadinya bendungan ASI yang mengakibatkan ibu merasa

sakit sewaktu bayinya menyusu, luka-luka pada putting susu yang sering menyebabkan rasa nyeri, kelainan pada putting susu dan adanya penyakit tertentu seperti tuberkolose, malaria yang merupakan alasan untuk tidak menganjurkan ibu menyusui bayinya, demikian juga ibu yang gizinya tidak baik akan menghasilkan ASI

(39)

dalam jumlah yang relatif lebih sedikit dibandingkan ibu yang sehat dan gizinya baik. Disamping itu juga karena faktor dari pihak bayi seperti bayi lahir sebelum waktunya (prematur) atau bayi lahir dengan berat badan yang sangat rendah yang mungkin masih telalu lemah apabila mengisap ASI dari payudara ibunya, serta bayi yang dalam

keadaan sakit. 14

Memburuknya gizi anak dapat juga terjadi akibat ketidaktahuan

ibu mengenai cara – cara pemberian ASI kepada anaknya. Berbagai

aspek kehidupan kota telah membawa pengaruh terhadap banyak para ibu untuk tidak menyusui bayinya, padahal makanan penganti yang bergizi tinggi jauh dari jangkauan mereka. Kurangnya pengertian dan pengetahuuan ibu tentang manfaat ASI dan menyusui

menyebabkan ibu – ibu mudah terpengaruh dan beralih kepada susu

botol (susu formula). Kesehatan/status gizi bayi/anak serta kelangsungan hidupnya akan lebih baik pada ibu- ibu yang berpendidikan rendah. Hal ini karena seorang ibu yang berpendidikan

tinggi akan memiliki pengetahuan yang luas serta kemampuan untuk menerima informasi lebih tinggi. Pada penelitian di Pakisttan dimana tingkat kematian anak pada ibu –ibu yang lama pendidikannya 5

tahun adalah 50 % lebih rendah daripada ibu – ibu yang buta huruf.

Demikian juga di Indonesia bahwa pemberian makanan padat yang terlalu dini.Sebahagian besar dilakukan oleh ibu- ibu yang berpendidikan rendah, agaknya faktor ketidaktauanlah yang

(40)

39

Faktor lain yang berpengaruh terhadap pemberian ASI adalah sikap ibu terhadap lingkungan sosialnya dan kebudayaan dimana dia dididik. Apabila pemikiran tentang menyusui dianggap tidak sopan

dan memerlukan , maka “let down reflex” (reflex keluar) akan

terhambat. Sama halnya suatu kebudayaan tidak mencela

penyusunan, maka pengisapan akan tidak terbatas dan “du demand”

(permintaan) akan menolong pengeluaran ASI. 14

Selain itu kemampuan ibu yang seusianya lebih tua juga amat rendah produksi ASInya, sehingga bayi cendrung mengalami malnutrisi. Alasan lain ibu – ibu tidak menyusui bayinya adalah karena

ibu tersebut secara tidak sadar berpendapat bahwa menyusui hanya ibu merupakan beban bagi kebebasan pribadinya atau hanya

memperburuk potongan dan ukuran tubuhnya. 14

Kendala lain yang dihadapi dalam upaya peningkatan penggunaan ASI adalah sikap sementara petugas kesehatan dari berbagai tingkat yang tidak bergairah mengikuti perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan. Konsep baru tentang pemberian ASI dan mengenai hal – hal yang berhubungan dengan ibu hamil, ibu bersaliin,

ibu menyusui dan bayi baaru lahir. Disamping itu juga sikap sementara penaggung jawab ruang bersaliiin dan perawatan dirumah sakit, rumah bersalinn yang berlangsung memberikan susu botol pada bayi baru lahir ataupun tidak mau mengusahakan agar ibu mampu memberikan ASI kepada bayinya, serta belum diterapkannya

(41)

Faktor- faktor yang mempengaruhi ibu memberikan ASI

eksklusif pada bayi diantaranya adalah: 5

1) Perubahan Sosial Budaya

Perubahan sosial budaya ini dapat dicontohkan misalnya ibu bekerja atau memiliki kesibukan sosial lainnya. Selain itu budaya meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu formula kepada anaknya.

2) Faktor Psikologis

Faktor psikologis ini dapat dicontohkan seorang ibu takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita dan mungkin seorang ibu merasa tertekan batinnya.

3) Faktor Fisik Ibu

Ibu sakit apabila menyusui bayinya karena payudaranya terasa nyeri apabila digunakan untuk menyusui.

4) Kurangnya petugas kesehatan

Sedikitnya jumlah petugas kesehatan membuat masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat memberikan ASI.

5) Meningkatnya promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI 6) Keterangan yang Salah

Keterangan yang salah datangnya dari petugas kesehatan

(42)

41

3. Pengetahuan

a. Pengertian pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini tejadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indera

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. 15

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seorang (overt behaviour). Dari pengalaman pengertian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak

didasari oleh pengetahuan. 16

b. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan dalam aspek kognitif dibagi menjadi 6 (enam)

tingkatan yaitu :12

1) Tahu ( know )

Tahu diartikan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, dari seluruh bahan yang dipelajari. Tahu ini merupakan tingkat pengertian yang paling rendah.

2) Memahami (Comprehension)

Memahami ini diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi ke kondisi sebenarnya.

3) Aplikasi (Aplication)

Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari

(43)

4) Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen - komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5) Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian - bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6) Evaluasi (Evaluation)

Evalusi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek.

c. Pengukuran Pengetahuan

Pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur dari responden. d. Sumber – sumber pengetahuan

Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang berasal dari berbagai macam sumber, misalnya media massa, media elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster, kerabat

dekat dan sebagainya.17

Sedangkan menurut Notoatmodjo sumber pengetahuan dapat berupa

pemimpin – pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli

(44)

43

e. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan, yaitu : 10

1) Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi respon terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang dan akan berpikir sejauh mana keuntungan yang mungkin akan mereka peroleh dari gagasan tersebut. Suami yang berpendidikan tentu akan lebih banyak memberikan respon emosi, karena ada tanggapan bahwa hal yang baru akan memberikan perubahan terhadap apa yang mereka lakukan di masa lalu. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita – cita tertentu. Pendidikan dapat mempengaruhi

seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup,

terutama dalam memotivasi sikap berperan serta dalam perkembangan kesehatan. Semakin tinggi tingkat kesehatan, seseorang makin menerima informasi sehingga makin banyak pola pengetahuan yang dimiliki.

2) Paparan media massa

Melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik berbagai informasi dapat diterima masyarkat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media massa (TV, radio, majalah, pamflet, dan lain - lain) akan memperoleh informasi yang lebih

(45)

informasi media. Ini berarti paparan media massa mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang.

3) Ekonomi

Dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupun kebutuhan sekunder, keluarga dengan status ekonomi baik akan lebih mudah tercukupi dibandingkan keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan sekunder. Jadi dapat disimpulkan bahwa ekonomi dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang berbagai hal.

4) Hubungan sosial

Manusia adalah makhluk sosial dimana dalam kehidupan saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Individu yang dapat berinteraksi secara continue akan lebih besar terpapar

informasi. Sementara faktor hubungan sosial juga mempengaruhi kemampuan individu sebagai komunikasi untuk menerima pesan

menurut model komunikasi media dengan demikian hubungan sosial dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang tentang suatu hal.

5) Pengalaman

Pengalaman seorang individu tentang berbagai hal biasa di

peroleh dari lingkungan kehidupan dalam proses

perkembangannya, misalnya sering mengikuti kegiatan. Kegiatan yang mendidik misalnya seminar organisasi dapat memperluas

(46)

45

jangkauan pengalamannya, karena dari berbagai kegiatan tersebut informasi tentang suatu hal dapat diperoleh.

4. Umur

Umur adalah usia ibu yang secara garis besar menjadi indikator dalam kedewasaan dalam setiap pengambilan keputusan yang mengacu pada setiap pengalamannya. Usia yang cukup dalam mengawali atau memasuki masa perkawinan dan kehamilan akan membantu seseorang dalam kematangan dalam menghadapi persoalan atau masalah, dalam hal ini menghadapi proses pemberian ASI eksklusif pada bayi. Demikian sebaliknya dengan usia yang belum memasuki usia dewasa maka kemungkinan kematangan pikiran dan perilaku juga kurang terlebih

menghadapi perubahan dan adaptasi selama melahirkan.18

5. Pendidikan

Tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan tentang persiapan menghadapi persalinan yang mereka peroleh. Dari kepentingan keluarga pendidikan itu sendiri amat diperlukan seseorang lebih tanggap adanya persalinan yang bermasalah atau terjadi insiden selama proses persalinan terjadi dan keluarga dapat segera mengambil tindakan secepatnya. Tingkat pendidikan turut menentukan rendah tidaknya seseorang menyerap dan memakai pengetahuan, demikian halnya dengan persiapan menghadapi

(47)

6. Pekerjaan

Banyak ibu-ibu bekerja mencari nafkah, baik untuk kepentingan sendiri maupun keluarga. Faktor bekerja saja nampak belum berperan sebagai timbulnya suatu masalah pada persiapan menghadapi persalinan dan pengasuhan bayi. Ibu yang bekerja di luar rumah akan sangat kesulitan membagi waktu untuk memberikan ASInya kepada bayi yang masih sangat membutuhkan. Kondisi seperti ini seringkali ibu dan para

orangtua memberikan susu formula senagai pengganti ASI.19

7. Promosi oleh tenaga kesehatan

Hak seorang bayi adalah menyusu kepada ibunya. Sebagai promotor kesehatan, bidan diharapkan mampu memberikan pendidikan pada ibu menyusui. Pendidikan lebih baik diberikan sebelum ibu bersalin,

sehingga ibu dapat melakukan persiapan-persiapan ibu menyusui.20

Lingkup promosi kesehatan yang diberikan kepada ibu menyusui meliputi kebersihan diri, istirahat, seksual, pemberian ASI, nutrisi bagi bayi, pendidikan kesehatan gizi ibu menyusui, dan meyakinkan pada ibu menyusui bahwa tidak ada pantangan makan selama menyusui. Sebagai contoh terdapat mitos yang sudah beredar sejak dulu bahwa ibu menyusui tidak boleh makan makanan yang berbau amis karena akan menyebabkan ASInya amis. Disinilah tugas bidan untuk meluruskan mitos tersebut bahwa justru makanan yang amis dibutuhkan oleh ibu menyusui

karena mengandung protein tinggi melalui promosi kesehatan.20

Keberhasilan komunikasi antara petugas kesehatan dan pasien pada umumnya akan melahirkan kenyamanan dan kepuasan bagi kedua

(48)

47

belah pihak, khususnya timbulnya empati atau ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh pasien. Pada promosi kesehatan pada ibu menyusui petugas kesehatan diberi pelatihan mengenai berkomunikasi yang baik secara efektif dengan ibu-ibu (ibu menyusui) dan keluarganya sehingga dapat membantu menumbuhkan kepercayaan diri khususnya pada ibu menyusui dan meningkatkan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatannya serta keterampilan mengenai

menyusui yang baik.20

8. Dukungan keluarga

Faktor psikologis ibu dalam menyusui sangat besar pengaruhnya terhadap proses menyusui dan produksi ASI. Ibu yang stres, khawatir bisa menyebabkan produksi ASI berkurang.Hal ini karena sebenarnya yang berperan besar dalam memproduksi ASI itu adalah otak, otak yang mengatur dan mengendalikan ASI.Sehingga apabila mengiginkan ASI dalam jumlah yang banyak otak harus distel dan diset bahwa kita mampu

menghasilkan ASI sebanyak yang kita mau.21

dorongan dan dukungan dari pemerintah, petugas kesehatan dan dukungan keluarga menjadi penentu timbulnya motivasi ibu dalam menyusui. Dukungan keluarga dapat diberikan dalam beberapa bentuk, yaitu: a) dukungan informasional, b) dukungan penghargaan c) dukungan instrumental, dan d)dukungan emosional.Ibu menyusui membutuhkan dukungan dan pertolongan, baik ketika memulai maupun melanjutkan menyusui.Sebagai langkah awal mereka membutuhkan bantuan sejak kehamilan dan setelah melahirkan.Mereka membutuhkan dukungan

(49)

pemberian ASI hingga 2 tahun, perawatan kesehatan maupun dukungan dari keluarga dan lingkungannya. Keluarga terutama suami merupakan bagian penting dalam keberhasilan atau kegagalan menyusui, karena suami menentukan kelancaran pengetahuan ASI (let down refelex) yang

sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi dan perasaan ibu. 22

9. Pendampingan kader posyandu

Pelaksanaan program ASI eksklusif tidak lepas dari peran serta kader dan petugas kesehatan. Salah satunya Pembentukan Kelompok Pendukung ASI. dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Kelompok pendukung ASI memberikan pengetahuan pada Ibu tentang pentingnya memberikan ASI Eksklusif pada bayi sehinggadapat meningkatkan kecerdasan dan pertumbuhan, melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi dan

menghindarkan bayi dari alergi dan diare.23

Untuk mencapai tujuan dan strategi yang telah ditetapkan, maka tuagas KP-ASI sebagai berikut :

1. Memberikan nasihat praktis kepada ibu-ibu hamil dan menyusui tentang perawatan payudara, cara menyusui yang baik dan benar, manfaat ASI danmenyusui secara eksklusif dan nasehat tentang cara mengatasi permasalahanyang ditemui pada waktu menyusui.

2. Memberikan dukungan psikologis kepada ibu menyusui sehingga menimbulkanrasa percaya diri pada ibu dan memotivasi agar:

(50)

49

a. Ibu yakin bahwa dapat menyusui, ASI adalah yang terbaik, dan ibu dapat memproduksi ASI yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bayinya.

b. Ibu mengetahui setiap perubahan fisik yang terjadi dan mengerti bahwa perubahan itu adalah normal.

c. Ibu mengetahui dan mengerti akan pertumbuhan dan perilaku bayi dan bagaimana seharusnya menghadapi dan mengatasinya

10. Pengawasan dari Puskesmas

Beberapa penelitian membuktikan bahwa pemberi layanan (fasilitas kesehatan) justru melemahkan upaya peningkatan ASI Eksklusif. Hasil Rapid Assessment 2010, dan Kinerja USAID 2012, ditemukan masih banyak rumah sakit pemerintah dan swasta, puskesmas, serta bidan praktik menerima sponsor susu formula dan membagikan hadiah berupa sampel susu formula, tas kit, kalender, ballpoint, blok note, poster, bahkan umrah dan haji. Dari pendampingan KINERJA terungkap bahwa IMD dan ASI Eksklusif sudah menjadi prioritas program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di 19 kabupaten/kota dampingan, namun tidak dibarengi oleh anggaran, aturan yang memberi sanksi kepada petugas yang mempromosikan susu formula, dan budaya organisasi yang tidak mendukung ASI Eksklusif, sehingga cakupan IMD dan ASI Eksklusif tetap rendah bahkan cenderung menurun sesuai konteks di atas. Temuan

KINERJA berikutnya, fungsi pemerintah daerah dalam monitoring dan pengawasan pelaksanaan IMD dan ASI Eksklusif, serta larangan susu

(51)

Pemerintah belum terlibat dalam mendorong partisipasi aktif pihak swasta dan masyarakat. Kondisi tersebut menyebabkan rendahnya komitmen petugas kesehatan menjalankan program karena menganggap IMD dan ASI Eksklusif adalah program pemerintah pusat. Hasil assesment USAID- KINERJA untuk supply side (sisi pemberi pelayanan) tingkat dinas kesehatan dan puskesmas ke bawah ditemukan: (1) rendahnya anggaran yang mendukung program ASI Eksklusif; (2) bervariasinya komitmen, pemahaman dan keterampilan petugas tentang standar pelayanan IMD dan ASI Eksklusif; (3) terbatasnya waktu dan sarana petugas untuk memberikan konseling dan bimbingan kepada penerima layanan; (3) gencarnya promosi susu formula oleh petugas kesehatan di layanan kesehatan; (4) ketersediaan dan fasilitas ruang laktasi di pelayanan kesehatan terlebih di fasilitas umum belum memadai; dan (5) pendampingan dan pengawasan pada tingkat puskesmas ke bawah jauh

dari optimal.24

11. Pendekatan Sistem Evalusi Program ASI eksklusif di Posyandu

Pendekatan Sistem adalah upaya untuk melakukan pemecahan masalah yang dilakukan dengan melihat masalah yang ada secara menyeluruh dan melakukan analisis secara sistem. Pendekatan sistem diperlukan apabila kita menghadapi suatu masalah yang kompleks sehingga diperlukan analisa terhadap permasalahan tadi, untuk memahami hubungan bagian dengan bagian lain dalam masalah

tersebut, serta kaitan antara masalah tersebut dengan masalah lainnya.7

(52)

51

a. Input ialah kumpulan elemen/bagian yang terdapat dalam sistem dan yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut.

Untuk input diperlukan Recources dan output dapat diperluas menjadi impact. Di luar komponen daerah terdapat lingkungan (ekonomi, sosial, budaya) yang mempengaruhi sistem tetapi tidak dapat dipengaruhi oleh situasi itu sendiri, dan para pelaksana sistem harus menyesuaikan diri dengan lingkungan apabila ingin berhasil dengan baik. Dalam manajemen mempunyai lima unsur (5M), yaitu:

1) Man

Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi. Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul karena adanya orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan.

2) Money

Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai.

Besar-kecilnya hasil kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai tujuan karena segala

(53)

3) Material

Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.

4) Machine

Machine atau Mesin digunakan untuk memberi kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efesiensi kerja. Sedangkan metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan manajer. Sebuah metode daat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan- pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap manusianya sendiri

5) Market

Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan (memasarkan) produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat penting sebab bila barang

(54)

53

yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan daya beli (kemampuan)

konsumen.

b. Proses ialah kumpulan elemen/bagian yang berfungsi mengubah masalah menjadi keluaran yang direncanakan.

Proses (process) adalah langkah yang harus dilakukan untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Proses dikenal dengan nama fungsi manajemen. Pada umumnya, proses ataupun fungsi manajemen merupakan tanggung jawab pimpinan. Pendekatan proses adalah semua metode dengan cara bagaimana pelayanan dilakukan.

c. Output ialah kumpulan elemen/bagian yang dihasilkan dari berlangsungnya proses dalam sistem.

Output adalah hasil dari suatu pekerjaan manajemen. Untuk manajemen kesehatan, output dikenal dengan nama pelayanan kesehatan (health services). Hasil atau output adalah hasil pelaksanaan kegiatan. Output adalah hasil yang dicapai dalam jangka pendek, sedangkan outcome adalah hasil yang terjadi setelah

(55)

d. Feed back (balikan) ialah kumpulan elemen/bagian yang merupakan keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.

B. Kerangka Teori

INPUT PROSES OUTPUT

- Man - Kader - Money Sumber pendanaan - Material Sarana prasarana - Method Pelayanan - Market Sosialisasi - Informasi oleh tenaga kesehatan - Pendampingan oleh keluarga (suami, orang tua) saat menyusui - Pedampingan oleh kader posyandu - Pendampingan dan Pengawasan dari puskesmas - Cakupan ASI eksklusif ≥ 80 % - Bayi mendapatkan imunitas sehingga terhindar dari penyakit infeksi

Gambar 2.1 Kerangka Teori

(56)

55

BAB III METODE PENELITIAN A. Kerangka Konsep Karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan) Dukungan kader Penyuluhan kader Cakupan ASI eksklusif Pendampingan kader Pengawasan puskesmas

Gambar 3.1 Kerangka konsep

B. Hipotesis

a. Ada hubungan umur kader dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara

b. Ada hubungan pendidikan kader dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara.

c. Ada hubungan pekerjaan kader dengan cakupan ASI eksklusif di

Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara

d. Ada hubungan dukungan kader terhadap ibu menyusui dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara

(57)

e. Ada hubungan penyuluhan dari kader posyandu pada ibu menyusui dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara

f. Ada hubungan pendampingan dari kader posyandu pada ibu menyusui dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara

g. Ada hubungan pengawasan puskesmas dengan cakupan ASI eksklusif di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Jepara

C. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah observasional dengan metode kuantitatif

dan rancangan penelitian cross sectional.25 Bentuk peneltiian ini adalah

deskriptif korelasi untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan

variabel terikat.(26). Penelitian ini akan menggambarkan fakta yang aktual

dan sistematis mengenai faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif kepada bayi di Wilayah Puskesmas Jepara yang meliputi karakteristik ibu, pengetahuan, dukungan keluarga, dukungan kader, informasi petugas kesehatan dan pengawasan puskemas.

D. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah umur kader, pendidikan, pekerjaan kader kader, dukungan kader, penyuluhan kader dan pendampingan kader.

(58)

57

E. Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Penelitian

Definisi Operasional Cara ukur Hasil ukur Skala Umur Jumlah tahun yang

dilalui seorang kader sejak lahir hingga saat ini

Pendidikan Pendidikan formal yang berhasil ditempuh oleh ibu

Kuesioner Sejak lahir sampai sekarang : tahun

Kuesioner Dengan kategori a. Tidak sekolah b. Pendidikan dasar c. Pendidikan menengah Interval Ordinal d. Pendidikan tinggi Pekerjaan Kegiatan seorang ibu

primigravida untuk mencari nafkah, baik untuk sendiri maupun keluarga Kuesioner Kategori a. Bekerja b. Tidak bekerja Nominal Dukungan kader Dukungan yang diberikan oleh kader

Kuesioner Dikategorikan

a. Mendukung (skor > 20)

Ordinal

kepada ibu menyusui untuk memberikan ASI selama 6 bulan

b. Tidak mendukung (skor

≤ 20) pertama tanpa makanan pendamping lain Penyuluhan kader Merupakan pemberian informasi yang petugas kesehatan Kuesioner Dikategorikan a. Mendukung (skor > 10) b. Tidak mendukung (skor

Ordinal

baik melalui

penyuluhan maupun langsung ke pribadi ibu menyusui tentang

≤ 10)

ASI eksklusif

Pendamping Upaya pendampingan Kuesioner Dikategorikan Ordinal

an kader oleh kader terhadap

pemberian ASI

ekslusif kepada setiap

a. Baik (skor > 6)

b. Tidak Baik (skor ≤ 6)

bayi Pengawasan puskesmas Upaya pengawasan oleh puskesmas Kuesioner Dikategorikan a. Baik (skor > 8) Ordinal terhadap cakupan ASI

ekslusif kepada setiap

b. Tidak Baik (skor ≤ 8)

bayi Cakupan ASI

eksklusif

Cakupan pemberian ASI eksklusif pada setiap posyandu sesuai dengan Kuesioner Dikategorikan a. Tidak terpenuhi (<80%) b. Terpenuhi (≥ 80%) Ordinal

(59)

program yang ditargetkan

F. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek (manusia, binatang percobaan, data laboratorium dan lain-lain yang akan dilakukan penelitian dan

memenuhi karakteristik yang ditentukan.27 Populasi dalam penelitian

ini adalah posyandu di Wilayah Puskesmas Jepara yaitu pada 16 desa dengan jumlah posyandu aktif sebanyak 104 posyandu.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh kader posyandu aktif di wilayah kerja Puskesmas Jepara,. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel

dengan kriteria yang ditetapkan oleh peneliti.28: Dalam penelitian ini

adalah kader posyandu aktif di wilayah kerja Puskesmas Jepara,. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan kriteria yang ditetapkan

oleh peneliti.29 Sampel dalam penelitian ini diambil dari 4 desa yang

dipilih secara acak yang meliputi desa dengan karakteritik dominan pertanian, nelayan, pegawai dan daerah industri ukir/kayu.

Berikut ini adalah jumlah posyandu dalam 16 desa di wilayah

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Teori  Menurut Donnabedian 7
Gambar 3.1 Kerangka konsep
Tabel 3.1 Definisi Operasional  Variabel

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Bagi perusahaan yang menjual barang atau jasa, dokumen ini diisi oleh fungsi kas dan berfungsi sebagai alat untuk menagih uang tunai dari bank yang mengeluarkan

Hal ini, terjadi karena; pertama, upaya yang telah dilakukan oleh petugas Perpustakaan Umum tersebut dalam mensosialisasikan aturan organisasi menjadi mubasir karena

Otomatisasi pengelompokkan buah berdasarkan jenis warnanya ini menggunakan sensor warna (sensor TCS3200) sebagai pembaca, dimana pada saat buah mengenai sensor

Penelitian ini adalah mengisolasi khitin yang terdapat dalam kilit udang untuk di buat membran komposit khitosan-selulosa yang dipersiapkan dengan proses inversi

Hasil pembuktian hipotesis yang ketiga dapat dijelaskan bahwa tidak terdapat perbedaan ROE (Return On Equity) yaitu besarnya jumlah laba bersih yang dihasilkan dari

sayap dengan mengeluarkan sistem kerja sama dengan pihak ke ke dua menggunakan sitem pembagian laba, yaitu dengan sistem bagi hasil antara pihak PT.Essii International dengan

Hasil pengujian ini sejalan dengan hasil penelitian Steffi Sigilipu (2013) yang menunjukkan bahwa sistem informasi akuntansi manajemen, sistem pengukuran kinerja dan sistem

Pengujian yang dilakukan pada rotary encoder bertujuan untuk menguji keakuratan nilai yang dihasilkan berdasarkan putaran motor yang telah diberi kondisi oleh operator melalui