• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

41

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri Tegalrejo 1 yang bertempat di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Akses menuju SD Negeri Tegalrejo 1 tidak sulit, karena letaknya di dekat jalan raya menuju SD Negeri Tegalrejo 1 sudah baik dan mudah untuk dilalui. Letak SD Negeri Tegalrejo 1 dari Kecamatan Tengaran berjarak sekitar 2 km.

4.2 Karakteristik Siswa

Jumlah seluruh siswa di SD Negeri Tegalrejo 1 adalah 200 siswa yang terbagi menjadi 6 kelas dari kelas 1 sampai kelas 6. Dari masing-masing kelas diampu oleh 6 guru. Jumlah pendidik di SD Negeri Tegalrejo 1 sebanyak 10 guru, terdiri dari 9 guru PNS dan 1 guru Wiyata bakti. Sampel penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 4 SD Negeri Tegalrejo 1 sebanyak 16 siswa yaitu 7 siswa perempuan dan 9 siswa laki-laki. Rata-rata orang tua siswa berprofesi sebagai petani dan buruh pabrik. Karakteristik siswa kelas 4 di SD Negeri Tegalrejo 1 yaitu senang bermain dan suka dengan hal-hal baru.

4.3 Pelaksanaan

4.3.1 Deskripsi Kondisi Prasiklus

Sebelum siklus I dan siklus II dilaksanakan, pembelajaran IPS di kelas 4 SD Negeri Tegalrejo 1 masih menggunakan metode konvensional di mana pembelajaran masih berpusat pada guru dan belum menggunakan media yang efektif. Ketika guru mengajar, siswa cenderung masih pasif mendengarkan penjelasan guru. Guru tidak menggunakan media pembelajaran yang inovatif sehingga siswa cenderung bosan dan bergurau sendiri. Setelah dilakukan evaluasi akhir pembelajaran, ternyata masih banyak siswa yang belum memahami materi dengan baik sehingga masih banyak siswa yang nilainya belum mencapai KKM.

(2)

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Tegalrejo 1 semester II tahun ajaran 2014/2015 yang berjumlah 16 siswa pada pembelajaran IPS, terlihat bahwa hasil belajar siswa masih rendah. Hal ini bisa terlihat dari nilai hasil evaluasi siswa pada mata pelajaran IPS yang telah dilakukan. Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM=70) data hasil perolehan nilai sebelum tindakan dapat disajikan dalam bentuk tabel 4.1.

Tabel 4.1

Distribusi Nilai Hasil Belajar IPS Prasiklus

Interval Frekuensi Persentase Keterangan

40-49 3 18,75% Belum Tuntas 50-58 3 18,85% Belum Tuntas 59-67 6 37,5% Belum Tuntas 68-76 2 12,5% Tuntas 77-85 2 12,5% Tuntas Jumlah 16 100% Rata-rata 60,62 Nilai tertinggi 85 Nilai terendah 40

Dilihat dari nilai prasiklus dan ketuntasan hasil belajar, menunjukkan bahwa hasil belajar di kelas 4 SD Negeri Tegalrejo 1 masih rendah. Terbukti dari jumlah siswa sebanyak 16 anak masih ada 12 anak atau 75% yang belum mencapai ketuntasan dan baru ada 2 siswa atau 25% siswa yang sudah tuntas KKM yaitu ≥70. Hasil belajar IPS pada prasiklus, dapat dilihat tingkat ketuntasan hasil belajar tahap prasiklus pada tabel 4.2

Tabel 4.2

Ketuntasan Hasil Belajar IPS Sebelum Tindakan

No. Nilai Ketuntasan

Belajar Jumlah Siswa Jumlah Persentase (%) 1. ≥ 70 Tidak Tuntas 12 75 2. < 70 Tuntas 4 25 Jumlah 16 100

(3)

Berdasarkan data hasil belajar yang rendah dari siswa kelas 4 SD Negeri Tegalrejo 1 semester II tahun ajaran 2014/2015, penulis akan melakukan sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam penelitian ini menggunakan pembelajaran Problem Based Learning berbantuan Video guna meningkatkan hasil belajar siswa yang akan dilakukan dalam 2 siklus.

4.4 Deskripsi Siklus I

Pelaksanaan siklus I dengan Kompetensi Dasar “Mengenal perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi serta pengalaman menggunakannya” dilakukan dalam 3 kali pertemuan (2 kali pertemuan tatap muka 1 kali pertemuan evaluasi) dengan rincian sebagai berikut.

4.4.1. Tahap Perencanaan

Hasil belajar pada saat observasi menjadi dasar untuk merencanakan tindakan yang tepat agar hasil belajar siswa meningkat. Model pembelajaran yang akan digunakan adalah model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan video. Pada tahap ini, penulis mempersiapkan perangkat pembelajaran berupa: 1. RPP dengan materi teknologi produksi dan teknologi komunikasi

2. Media pembelajaran. Media yang digunakan adalah video

3. Lembar diskusi kelompok sebagai sarana untuk mengerjakan tugas mengenai hasil penyelidikan yang dilakukan bersama kelompok.

4. Lembar observasi guru dan siswa untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung.

5. Soal evaluasi yang akan diberikan pada pertemuan ketiga tiap siklus setelah pembelajaran selesai.

Setelah semua perangkat pembelajaran disiapkan, penulis kemudian berkonsultasi dengan guru kelas 4 mengenai RPP yang telah disusun dan berdiskusi tentang jalannya kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan agar pada pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan lancar.

4.4.2. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pembelajaran pada siklus 1 dilaksanakan pada bulan April 2015 di kelas 4 SD Negeri Tegalrejo 1 Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang dengan jumlah

(4)

siswa sebanyak 16 anak. Pembelajaran dilaksanakan oleh guru kelas 4 dan yang menjadi observer adalah teman sejawat dari guru. Pembelajaran yang dilaksanakan mengacu pada RPP yang telah dibuat dan dikonsultasikan dengan guru kelas 4 sehingga kekurangan pada saat observasi tidak akan terulang pada siklus I.

Pelaksanaan pembelajaran dengan model Problem Based Learning berbantuan video akan dilakukan dalam 3 kali pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan tanggal 13 April 2015, pertemuan kedua tanggal 14 April 2015, dan pertemuan ketiga pada tanggal 19 April 2015.

Pelaksanaan Pertemuan I Siklus I

Pada pertemuan pertama, dilaksanakan pada hari senin 13 April 2015 dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran (70 menit) pembelajaran dengan materi teknologi produksi. Sebelum melakukan pembelajaran, terlebih dahulu mempersiapkan hal-hal yang diperlukan. Guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam, berdoa, mengabsen siswa, mengkondisikan siswa siap menerima pelajaran, menjelaskan bahwa pembelajaran akan dilakukan dengan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan video kemudian dilanjutkan pemberian apersepsi dengan menanyakan pengalaman siswa menggunakan teknologi produksi. Berdasarkan jawaban dari siswa guru menegaskan tujuan pembelajaran yang akan diajarkan. Pada tahap Problem Based Learning berbantuan video yang pertama yaitu orientasi permasalahan pada siswa, guru menyajikan video macam-macam teknologi produksi tradisional dan modern.

Kegiatan inti, guru menggali pengetahuan dasar siswa dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan video teknologi produksi yang sudah ditampilkan, agar pemikiran siswa dapat terarah pada fokus permasalahan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pada tahap pengorganisasian siswa untuk mandiri, guru membentuk kelompok secara heterogen dimana 1 kelompok terdiri dari 4 siswa, kemudian guru membagikan lembar permasalahan kepada masing-masing kelompok untuk didiskusikan solusi pemecahan masalahnya melalui pengumpulan data dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Pada

(5)

tahap Problem Based Learning yang ketiga, guru berkeliling untuk mengamati, memotivasi, dan memfasilitasi siswa untuk melakukan investigasi mandiri dan kelompok.

Pada tahap Problem Based Learning yang keempat, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dan kelompok lain dipersilahkan untuk menanggapi hasil presentasi. Pada tahap kelima, dengan mengacu jawaban siswa, guru membahas penyelesaian masalah dan memberikan saran perbaikan atas hasil presentasi yang telah disampaikan. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk bertanya apabila terdapat hal-hal yang belum jelas. Setelah itu guru membimbing siswa untuk meringkas dan membuat kesimpulan.

Dalam kegiatan akhir guru memberikan tindak lanjut berupa pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh masing-masing siswa dan menyampaikan materi pertemuan selanjutnya agar siswa dapat mempersiapkan diri dalam pembelajaran selanjutnya.

Pelaksanaan Pertemuan II Siklus I

Pertemuan kedua pada siklus satu ini dilaksanakan pada hari Selasa 14 April 2015 dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran (70 menit). Guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam, guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam, berdoa, mengabsen siswa, mengkondisikan siswa siap menerima pelajaran, meminta siswa mengumpulkan PR dan mengulas pembelajaran sebelumnya. Kemudian guru melakukan apersepsi dengan bertanya jawab mengenai pengalaman siswa berkomunikasi sehari-hari. Berdasarkan jawaban dari siswa guru menegaskan tujuan pembelajaran yang akan diajarkan. Pada tahap Problem Based Learning yang pertama yaitu orientasi permasalahan pada siswa, guru menyajikan video tentang teknologi komunikasi tradisional dan modern.

Kegiatan selanjutnya yaitu guru menggali pengetahuan dasar siswa dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi teknologi komunikasi agar pemikiran siswa dapat terarah pada fokus permasalahan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pada tahap pengorganisasian siswa untuk

(6)

mandiri, guru membentuk kelompok secara heterogen dimana 1 kelompok terdiri dari 4 siswa, kemudian guru membagikan lembar permasalahan kepada masing-masing kelompok untuk didiskusikan solusi pemecahan masalahnya melalui pengumpulan data dengan melakukan pengamatan sehari-hari. Pada tahap Problem Based Learning yang ketiga, guru berkeliling untuk mengamati, memotivasi, dan memfasilitasi siswa untuk melakukan investigasi mandiri dan kelompok.

Pada tahap Problem Based Learning yang keempat, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dan kelompok lain dipersilahkan untuk menanggapi hasil presentasi. Pada tahap kelima, dengan mengacu jawaban siswa, guru membahas penyelesaian masalah dan memberikan saran perbaikan atas hasil presentasi yang telah disampaikan. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk bertanya apabila terdapat hal-hal yang belum jelas. Setelah itu guru membimbing siswa untuk meringkas dan membuat kesimpulan.

Dalam kegiatan akhir guru memberikan tindak lanjut berupa pemberian pesan moral kepada siswa untuk bersikap bijaksana dalam memanfaatkan teknologi. Kemudian guru memberitahu akan diadakan evaluasi pada pertemuan selanjutnya dan meminta siswa untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat mengerjakan soal evaluasi dengan lancar.

Pelaksanaan Pertemuan III Siklus I

Pertemuan ketiga ini dilakukan pada hari Sabtu, 25 April 2015 dengan alokasi waktu 1 jam pelajaran (35 menit). Pertemuan ketiga ini hanya digunakan untuk evaluasi. Siswa diminta mengerjakan 20 soal secara individu tanpa mengganggu siswa yang lain dengan waktu 30 menit. Setelah 30 menit guru memberikan refleksi dan motivasi lalu mengakhiri kegiatan pembelajaran kepada siswa dengan memberikan pesan penyemangat agar siswa dapat lebih aktif dan bersemangat dalam belajar.

(7)

4.4.3. Hasil Observasi Siklus I

Hasil observasi/pengamatan terhadap aktivitas guru dan aktifitas siswa pada siklus I ini melalui lembar pengamatan yang telah disediakan. Item pernyataan pada lembar pengamatan aktivitas guru sejumlah 28 item terdiri dari: kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Lembar pengamatan siswa sejumlah 19 item yang terlihat pada saat pelaksanaan kegiatan kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Adapun hasil pengamatan aktivitas guru dan aktifitas siswa dapat dilihat pada penjelasan berikut:

1. Hasil Observasi Guru

Berdasarkan observasi yang saat melakukan pembelajaran IPS siklus I dengan model pembelajaran Problem Based Learning berbatuan video, didapatkan hasil yang akan dipaparkan pada tabel 4.3

Tabel 4.3

Hasil Observasi Kinerja Guru Siklus I

No Aspek Skor 1 Kegiatan Pendahuluan 10 2 Kegiatan Inti 47 3 Kegiatan Akhir 8 Total Skor 65 Kategori Baik

Penilaian: Jumlah seluruh skor (total skor) Kategori:

≤ 28 = sangat tidak baik 29-56 = tidak baik 57-84 = baik

85-112 = sangat baik

Berdasarkan lembar observasi guru pada pembelajaran IPS siklus I, terdapat 3 aspek yang dinilai yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Pada aspek pertama yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan tersebut dibagi menjadi 4 yaitu Kesiapan ruang, alat, dan media pembelajaran, memeriksa kesiapan siswa, melakukan kegiatan apersepsi, dan menyampaikan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan rencana kegiatan. Skor yang diperoleh dalam

(8)

kegiatan kegiatan pendahuluan mencapai 10. Guru sudah baik dalam mempersiapkan kesiapan ruang, alat, media pembelajaran dan elakukan kegiatan apersepsi. Namun dalam memeriksa kesiapan siswa dan menyampaikan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai serta rencana kegiatan guru kurang melaksanakan dengan baik.

Aspek kedua yaitu aspek kegiatan inti. Dari aspek kegiatan inti, diperoleh skor sebesar 47 dengan 21 rincian kegiatan. Di dalam kegiatan inti, terdapat penguasan materi, penerapan strategi pembelajaran yang mendidik, penerapan Problem Based Learning, pemanfaatan video dalam pembelajaran dan penggunaan bahasa. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Guru telah menjelaskan langkah-langkah Problem Based Learning dengan jelas, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama secara kelompok dan berdiskusi dengan kelompoknya. Namun dalam kegiatan presentasi kurang berjalan dengan baik. Penyampaian hasil diskusi kelompok masih kurang efektif.

Pada pembelajaran yang berlangsung, guru membimbing siswa merencanakan diskusi dengan baik. Pada saat siswa melakukan diskusi, guru membimbing siswa setiap kelompok. Ketika siswa bingung saat melakukan diskusi, guru dengan sabar membimbing siswa. Guru juga menghimbau agar siswa tidak mengganggu kelompok lain

Aspek ketiga yaitu kegiatan akhir dengan skor 8 yang terbagi menjadi 3 rincian kegiatan. Pada aspek ini guru sudah baik dalam melaksanakan Melakukan refleksi atau membuat rangkuman dengan melibatkan peserta didik dan Melaksanakan kegiatan evaluasi. Namun guru belum melaksanakan tindak lanjut dengan baik.

Jumlah keseluruhan dari semua aspek yaitu 65 dengan kriteria baik. Namun saat kegiatan presentasi belum berjalan secara baik karena guru kurang membimbing siswa dalam menyampaikan hasil diskusi.

2. Hasil Observasi Siswa

Untuk hasil observasi siswa saat mengikuti pembelajaran Problem Based Learning berbatuan video siklus I, dapat dilihat pada tabel 4.4

(9)

Tabel 4.4

Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I

No Aspek Skor 1 Kegiatan Pendahuluan 9 2 Kegiatan Inti 36 3 Kegiatan Akhir 6 Total Skor 51 Kategori Baik

Penilaian: Jumlah seluruh skor (total skor) Kategori:

≤ 19 = sangat tidak baik 20-38 = tidak baik 39-57 = baik

58-76 = sangat baik

Pada tabel 4.4 terlihat diperoleh total skor untuk aktivitas siswa sebesar 51 dengan kategori baik. Pada aspek kegiatan pendahuluan, skor yang diperoleh adalah 9 yang terbagi menjadi 4 rincian kegiatan. Siswa mempersiapkan buku catatan dan buku pelajaran dengan baik. Namun beberapa siswa belum menunjukkan sikap duduk tenang ditempat duduk masing-masing, malu-malu dalam menjawab pertanyaan guru dalam kegiatan apersepsi, dan belum memperhatikan dengan seksama ketika dijelaskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Pada aspek kedua yaitu kegiatan inti, diperoleh skor 36 yang terbagi menjadi 13 rincian kegiatan. Siswa kurang aktif memberikan kontribusi mengenai apa yang akan mereka pelajari. Siswa mau berkelompok sesuai petunjuk guru, akan tetapi sebagian siswa kurang terlibat dalam pemecahan masalah. Hanya siswa yang pandai dalam kelompok itu saja yang mengerjakan tugas, sementara siswa yang lain mengganggu kelompok yang lain.

Pada aspek ketigat yaitu kegiatan akhir, diperoleh skor sebesar 6 yang terbagi menjadi 2 rincian kegiatan. Dari kedua rincian kegiatan, siswa sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Siswa aktif membuat rangkuman, mengerjakan soal evaluasi tanpa mengganggu temannya.

(10)

Dari lembar observasi siswa saat pembelajaran IPS siklus I, diperoleh hasil bahwa siswa sudah mengikuti pembelajaran dengan baik, namun siswa masih belum melaksanakan langkah-langkah pembelajaran Problem Based Learning berbatuan video yang mengakibatkan siswa belum semua aktif dalam pemecahan masalah. Beberapa siswa juga masih sering mengganggu kelompok lain saat pembelajaran berlangsung.

4.4.4. Hasil Belajar

Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM=70) data hasil perolehan ketuntasan hasil belajar IPS pada siklus I dapat disajikan dalam bentuk tabel 4.5

Tabel 4.5

Distribusi Nilai Hasil Belajar IPS Siklus I

Interval Frekuensi Persentase Keterangan

60-66 5 31,25 % Belum Tuntas 67-72 1 6,25 % Tuntas 73-78 5 31,25 % Tuntas 79-84 2 12,5 % Tuntas 85-90 3 18,75 % Tuntas Jumlah 16 100% Rata-rata 73,75 Nilai tertinggi 90 Nilai terendah 60

Dari tabel 4.5, dapat dilihat bahwa dari 16 siswa, yang memperoleh nilai 60-66 ada 5 siswa, yang memperoleh nilai 67-72 ada 1, yang memperoleh nilai 73-78 ada 5 siswa, yang memperoleh nilai 79-84 ada 2 siswa, yang memperoleh nilai 85-90 ada 3 siswa. Rata-rata nilai siklus I sebesar 73,75 dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 60.

Hasil belajar IPS pada siklus I, dapat dilihat tingkat ketuntasan hasil belajar siklus I pada tabel 4.6

(11)

No. Nilai

1. ≥ 70

2. < 70

Dari tabel ketuntasan

siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM= sebanyak 5 siswa atau

minimal sebanyak 11

pada tabel 4.6 dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4.

Dari gambar

persentase ini sudah mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil sebelum dilakukan tindakan yaitu 31,25%, namun belum memenuhi ketuntasan yang ingin dicapai sebesar 85% dari seluruh siswa sehingga perl

II.

Tabel 4.6

Ketuntasan Hasil Belajar IPS Siklus I Nilai Ketuntasan Belajar Jumlah Siswa Jumlah ≥ 70 Tidak Tuntas 5 < 70 Tuntas 11 Jumlah 16

etuntasan hasil belajar IPS pada siklus I dapat diketahui bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM=

siswa atau 31,25%, sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan 11 siswa dengan persentase 68,75%. Ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada gambar 4.1

Gambar 4.1 Diagram Persentase Ketuntasan Hasil Belajar IPS Siklus I

Dari gambar 4.1 siswa yang telah tuntas sebanyak 68,75

persentase ini sudah mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil sebelum dilakukan tindakan yaitu 31,25%, namun belum memenuhi ketuntasan yang ingin dicapai sebesar 85% dari seluruh siswa sehingga perlu dilakukan tindakan siklus

Tuntas 68,75% Tidak Tuntas 31,25% Jumlah Siswa Persentase (%) 31,25 68,75 100

dapat diketahui bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM=70) %, sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan %. Ketuntasan belajar siswa

Diagram Persentase Ketuntasan Hasil Belajar IPS

siswa yang telah tuntas sebanyak 68,75%. Walaupun persentase ini sudah mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil sebelum dilakukan tindakan yaitu 31,25%, namun belum memenuhi ketuntasan yang ingin u dilakukan tindakan siklus

(12)

4.4.5. Tahap Refleksi

Setelah melakukan kegiatan pembelajaran pada siklus I, penulis mengalami beberapa masalah yang berpengaruh pada keberhasilan siswa dalam memahami materi. Hal ini terlihat pada hasil belajar dari 5 siswa yang belum mencapai ketuntasan. Pada saat pembelajaran berlangsung siswa belum memahami betul langkah-langkah Problem Based Learning yang dijelaskan oleh guru. Pembagian kelompok secara heterogen tidak berjalan dengan lancar dikarenakan siswa tidak mendengarkan perintah guru dengan seksama. Beberapa siswa membuat kegaduhan dalam kelompok dengan menggagu teman yang sedang melakukan diskusi. Cara mengatasi permasalahan tersebut dengan menjelaskan langkah-langkah Problem Based Learning secara rinci sampai siswa paham betul. Pembagian kelompok secara acak agar terbentuk kelompok yang heterogen. Pembagian permasalahan diskusi sebaiknya bersifat menyeluruh agar siswa bisa berdiskusi dan tidak mengganggu teman.

4.5. Deskripsi Siklus II

Pelaksanaan siklus II dengan Kompetensi Dasar “Mengenal perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi serta pengalaman menggunakannya” dilakukan dalam 3 kali pertemuan (2 kali pertemuan tatap muka 1 kali pertemuan evaluasi) dengan rincian sebagai berikut.

4.5.1. Tahap Perencanaan

Hasil refleksi siklus I menjadi acuan untuk melaksanakan tindakan siklus II guna meningkatkan hasil belajar siswa. Pada tahap ini, penulis menyiapkan perangkat pembelajaran yang berupa RPP, lembar observasi guru dan siswa, lembar diskusi kelompok, soal evaluasi akhir dan berbagai media untuk menunjang pembelajaran.

4.5.2. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pembelajaran pada siklus II dilaksanakan pada bulan April 2015 di kelas dan sekolah yang sama dengan siklus I. Pertemuan pertama dilaksanakan tanggal 20 April 2015, pertemuan kedua pada tanggal 21 April 2015 dan pertemuan ketiga pada tanggal 25 April 2015.

(13)

Pelaksanaan Pertemuan I Siklus II

Pertemuan pertama pada siklus II dilaksanakan pada hari Senin 20 April 2015 dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran (70 menit). Guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam, mengkondisikan siswa siap menerima pelajaran, mengabsen kelas dan melakukan apersepsi dengan bertanya jawab mengenai teknologi transportasi. Berdasarkan jawaban dari siswa guru menegaskan tujuan pembelajaran yang akan diajarkan. Pada tahap Problem Based Learning yang pertama yaitu orientasi permasalahan pada siswa, guru menampilkan video tentang teknologi trasportasi.

Kegiatan selanjutnya guru menggali pengetahuan dasar siswa dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan video teknologi trasportasi agar pemikiran siswa dapat terarah pada fokus permasalahan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pada tahap pengorganisasian siswa untuk mandiri, guru membentuk kelompok secara heterogen dimana 1 kelompok terdiri dari 4 siswa, kemudian guru membagikan lembar permasalahan kepada masing-masing kelompok untuk didiskusikan. Pada tahap Problem Based Learning yang ketiga, guru berkeliling untuk mengamati, memotivasi, dan memfasilitasi siswa untuk melakukan investigasi mandiri dan kelompok.

Pada tahap Problem Based Learning yang keempat, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknnya dan kelompok lain dipersilahkan untuk menanggapi hasil presentasi. Pada tahap kelima, dengan mengacu jawaban siswa, guru membahas penyelesaian masalah dan memberikan saran perbaikan atas hasil presentasi yang telah disampaikan. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk bertanya apabila terdapat hal-hal yang belum jelas. Setelah itu guru membimbing siswa untuk meringkas dan membuat kesimpulan.

Dalam kegiatan akhir guru memberikan tindak lanjut berupa pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh masing-masing siswa dan menyampaikan materi pertemuan selanjutnya agar siswa dapat mempersiapkan diri dalam pembelajaran selanjutnya.

(14)

Pelaksanaan Pertemuan II Siklus II

Pertemuan kedua pada siklus II dilaksanakan pada hari Selasa 21 April 2015 dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran (70 menit). Guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam, mengkondisikan siswa siap menerima pelajaran, meminta siswa mengumpulkan PR dan mengulas materi yang lalu. Kemudian guru melakukan apersepsi dengan tanya jawab berkaitan dengan pengetahuan siswa mengenai kelemahan dan kelebihan teknologi trasportasi. Berdasarkan jawaban dari siswa guru menegaskan tujuan pembelajaran yang akan diajarkan. Pada tahap Problem Based Learning berbantuan video yang pertama yaitu orientasi permasalahan pada siswa, melalui video teknologi trasportasi.

Kegiatan selanjutnya yaitu guru menggali pengetahuan dasar siswa dengan memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan video yang telah ditampilkan agar pemikiran siswa dapat terarah pada fokus permasalahan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pada tahap pengorganisasian siswa untuk mandiri, guru membentuk kelompok secara heterogen dimana 1 kelompok terdiri dari 4 siswa, kemudian guru membagikan lembar permasalahan kepada masing-masing kelompok untuk didiskusikan. Pada tahap Problem Based Learning yang ketiga, guru berkeliling untuk mengamati, memotivasi, dan memfasilitasi siswa untuk melakukan investigasi mandiri dan kelompok.

Pada tahap Problem Based Learning yang keempat, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dan kelompok lain dipersilahkan untuk menanggapi hasil presentasi. Pada tahap kelima, dengan mengacu jawaban siswa, guru membahas penyelesaian masalah dan memberikan saran perbaikan atas hasil presentasi yang telah disampaikan. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk bertanya apabila terdapat hal-hal yang belum jelas. Setelah itu guru membimbing siswa untuk meringkas dan membuat kesimpulan.

Dalam kegiatan akhir guru memberikan tindak lanjut berupa pemberian pesan moral kepada siswa untuk bersikap bijaksana dalam memanfaatkan dan menggunakan teknologi. Kemudian guru memberitahu akan diadakan evaluasi

(15)

pada pertemuan selanjutnya dan meminta siswa untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya agar dapat mengerjakan soal evaluasi dengan lancar.

Pelaksanaan Pertemuan III Siklus II

Pertemuan ketiga ini dilaksanakan pada hari Sabtu 25 April 2015 dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran (70 menit) hanya digunakan untuk evaluasi. Siswa diminta mengerjakan 20 soal secara individu tanpa mengganggu siswa yang lain dengan waktu 25 menit. Guru memantau siswa selama evaluasi berlangsung. Setelah 25 menit siswa guru memberikan refleksi dan motivasi lalu mengakhiri kegiatan pembelajaran.

4.5.3 Hasil Observasi Siklus II

Hasil observasi/pengamatan terhadap aktivitas guru dan aktifitas siswa pada siklus II ini melalui lembar pengamatan yang telah disediakan. Item pernyataan pada lembar pengamatan aktivitas guru sejumlah 28 item terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Lembar pengamatan siswa sejumlah 19 item yang terlihat pada saat pelaksanaan kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Adapun hasil pengamatan aktivitas guru dan aktifitas siswa dapat dilihat pada penjelasan berikut:

1. Observasi Guru

Hasil dari lembar pengamatan aktivitas guru yaitu pada pelaksanaan pembelajaran guru sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap Problem Based Learning secara runtut dari mulai kegiatan awal, kegiatan inti sampai kegiatan akhir, didapatkan hasil yang akan dipaparkan pada tabel 4.7

Tabel 4.7

Hasil Observasi kinerja Guru Pada Siklus II

No Aspek Skor

1 Kegiatan Pendahuluan 15

2 Kegiatan Inti 72

3 Kegiatan Akhir 11

Total Skor 98

Kategori Sangat Baik

Penilaian: Jumlah seluruh skor (total skor) Kategori:

(16)

≤ 28 = sangat tidak baik 29-56 = tidak baik 57-84 = baik

85-112 = sangat baik

Aspek pertama yang diamati adalah kegiatan pendahuluan. Skor yang diperoleh sebesar 15 dengan 4 rincian kegiatan yaitu kesiapan ruang, alat, media pembelajaran, emeriksa kesiapan siswa, melakukan kegiatan apersepsi, dan menyampaikan kompetensi (tujuan) yang akan dicapai dan rencana kegiatan. Guru sudah sangat baik dalam melaksanakan semua kegiatan pendahuluan.

Aspek kedua yang diamati adalah kegiatan inti. Skor yang diperoleh sebesar 72 dengan 5 rincian kegiatan yaitu penguasan materi, penerapan strategi pembelajaran yang mendidik, penerapan Problem Based Learning, pemanfaatan video dalam pembelajaran dan penggunaan bahasa. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan sangat baik. Guru telah menjelaskan langkah-langkah Problem Based Learning dengan jelas, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama secara kelompok, bertanya dan berdiskusi dengan kelompoknya. Hampir semua rincian dilaksanakan guru dengan sangat baik.

Aspek ketiga yaitu kegiatan akhir diperoleh skor 11 yang terbagi menjadi 3 rincian kegiatan. Pada aspek ini guru sudah sangat baik dalam melaksanakan semua rincian kegiatan yaitu membimbing siswa untuk menggabungkan rangkuman kesimpulan semua kelompok, melakukan refleksi pembelajaran, memberikan evaluasi, membimbing siswa untuk memberikan tindak lanjut.

Berdasarkan hasil observasi guru pada siklus II, didapatkan hasil bahwa guru telah telah menjelaskan langkah-langkah Problem Based Learning berbatuan video secara rinci sehingga saat melakukan diskusi kelompok dan mempresentasikan hasil kelompoknya siswa tidak bingung. Pembelajaran juga lebih menyenangkan sehingga siswa lebih fokus mengukuti dan aktif dalam pembelajaran.

2. Observasi Siswa

Hasil observasi siswa saat mengikuti pembelajaran IPS siklus II dengan model pembelajaran Problem Based Learning berbatuan video, dapat dilihat pada tabel 4.8

(17)

Tabel 4.8

Hasil Observasi Siswa Siklus II

No Aspek Skor

1 Kegiatan Pendahuluan 16

2 Kegiatan Inti 49

3 Kegiatan Akhir 8

Total Skor 73

Kategori Sangat Baik

Penilaian: Jumlah seluruh skor (total skor) Kategori:

≤ 19 = sangat tidak baik 20-38 = tidak baik 39-57 = baik

58-76 = sangat baik

Pada aspek pertama yaitu kegiatan pendahuluan, diperoleh skor sebesar 16 yang terbagi menjadi 4 rincian kegiatan yaitu siswa duduk tenang ditempat duduk masing-masing, mempersiapkan buku catatan dan buku pelajaran, siswa mampu menjawab pertanyaan guru dalam kegiatan apersepsi, dan siswa memperhatikan dengan seksama ketika dijelaskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Siswa sudah melaksanakan rincian kegiatan pendahuluan dengan baik.

Pada aspek kedua yaitu kegiatan inti, diperoleh skor 4 yang terbagi menjadi 13 rincian kegiatan. Sebagian besar rincian pada kegiatan inti sudah dilaksanakan dengan baik. Siswa lebih aktif bertanya, memperhatikan pembelajaran, ikut serta dalam penggunaan video sehingga pembelajaran sangat menyenangkan tidak membosankan.

Pada aspek ketiga yaitu kegiatan akhir, diperoleh skor sebesar 8 yang terbagi menjadi 2 rincian kegiatan. Pada 2 rincian kegiatan, siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan sangat baik. Pembelajaran lebih aktif dan menyenangkan sehingga siswa tidak ada lagi yang saling menggangu satu sama lain. Siswa juga mengerjakan soal evaluasi dengan baik dan teliti

Dari hasil lembar observasi siswa, diketahui siswa terlihat semangat dan antusias dalam pembelajaran karena media yang digunakan sangat menarik dan jarang dijumpai secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Pembagian materi

(18)

dan pemecahan masalah yang bersifat menyeluruh, membuat siswa memahami semua topik yang dibahas.

4.5.4 Hasil Belajar

Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM=70) data hasil perolehan ketuntasan hasil belajar IPS pada siklus II dapat disajikan dalam bentuk tabel 4.9

Tabel 4.9

Distribusi Nilai Hasil Belajar IPA Siklus II

Interval Frekuensi Persentase Keterangan

60-68 2 12,5% Belum Tuntas 69-76 6 37,5 % Tuntas 77-84 3 18,75% Tuntas 85-92 4 25 % Tuntas 93-100 1 6,25 % Tuntas Jumlah 16 100% Rata-rata 79,06 Nilai tertinggi 100 Nilai terendah 60

Dari tabel 4.9, dapat dilihat bahwa dari 16 siswa, yang memperoleh nilai 60-68 ada 2 siswa, yang memperoleh nilai 69-76 ada 6 siswa, yang memperoleh nilai 77-84 ada 3 siswa, yang memperoleh nilai 85-92 ada 4 siswa, yang memperoleh nilai 93-100 ada 1 siswa. Rata-rata nilai siklus II sebesar 79,06 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 60.

Hasil belajar IPS pada siklus II, dapat dilihat tingkat ketuntasan hasil belajar siklus II pada tabel 4.10

Tabel 4.10

Ketuntasan Hasil Belajar IPS Siklus II

No. Nilai Ketuntasan Belajar Jumlah Siswa

Jumlah Persentase (%)

1. ≥ 70 Tidak Tuntas 2 12,5

2. < 70 Tuntas 14 87,5

(19)

Dari tabel ketuntasan

bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM=70) sebanyak

ketuntasan minimal sebanyak belajar siswa pada tabel 4

Gambar 4.

Dari gambar 4.2

tuntas sebesar 12,5%. Berdasarkan indikator keberhasilan dengan KKM 70 dan dicapai 85% siswa pada siklus II ini indikator keberhasilan dapat dikatakan telah tercapai.

4.5.5 Tahap Refleksi

Setelah guru melaksanakan pembelajaran pada siklus II, yang menjadi refleksi pada siklus ini adalah meningkatnya hasil belajar dan ketuntasan hasil belajar siswa siswa. Guru telah menerapkan model pembelajaran

Learning berbantuan

telah mengikuti pembelajaran dengan sangat baik dan tidak mengganggu kelompok lain. Siswa terlihat aktif dan antusias mengikuti pembelajaran karena menggunakan media yang menarik. Selain itu, pembagian topi

yang bersifat menyeluruh membuat siswa memahami semua topik yang dibahas. Kekurangan pada pembelajaran siklus I sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II menjadi

etuntasan hasil belajar IPS pada siklus II

bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal ) sebanyak 2 siswa atau 12,5%, sedangkan yang sudah mencapai ketuntasan minimal sebanyak 14 siswa dengan persentase 87,5

belajar siswa pada tabel 4.10 dapat dilihat pada gambar 4.2

Gambar 4.2 Diagram Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II

4.2 siswa yang telah tuntas sebanyak 87,5% dan siswa tidak %. Berdasarkan indikator keberhasilan dengan KKM 70 dan % siswa pada siklus II ini indikator keberhasilan dapat dikatakan telah

Tahap Refleksi

Setelah guru melaksanakan pembelajaran pada siklus II, yang menjadi refleksi pada siklus ini adalah meningkatnya hasil belajar dan ketuntasan hasil belajar siswa siswa. Guru telah menerapkan model pembelajaran

berbantuan video dengan sangat baik. Dilihat dari aktivitas siswa, siswa telah mengikuti pembelajaran dengan sangat baik dan tidak mengganggu kelompok lain. Siswa terlihat aktif dan antusias mengikuti pembelajaran karena menggunakan media yang menarik. Selain itu, pembagian topi

yang bersifat menyeluruh membuat siswa memahami semua topik yang dibahas. Kekurangan pada pembelajaran siklus I sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II menjadi

Tuntas (87,5%) Tidak Tuntas (12,5%) dapat diketahui bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal %, sedangkan yang sudah mencapai 87,5%. Ketuntasan

Diagram Persentase Ketuntasan Hasil Belajar IPS

% dan siswa tidak %. Berdasarkan indikator keberhasilan dengan KKM 70 dan % siswa pada siklus II ini indikator keberhasilan dapat dikatakan telah

Setelah guru melaksanakan pembelajaran pada siklus II, yang menjadi refleksi pada siklus ini adalah meningkatnya hasil belajar dan ketuntasan hasil belajar siswa siswa. Guru telah menerapkan model pembelajaran Problem Based sangat baik. Dilihat dari aktivitas siswa, siswa telah mengikuti pembelajaran dengan sangat baik dan tidak mengganggu kelompok lain. Siswa terlihat aktif dan antusias mengikuti pembelajaran karena menggunakan media yang menarik. Selain itu, pembagian topik penyelidikan yang bersifat menyeluruh membuat siswa memahami semua topik yang dibahas.

Kekurangan pada pembelajaran siklus I sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II menjadi

(20)

lebih baik. Hasil belajar dan ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus II juga meningkat dan telah mencapai indikator kinerja yang ditetapkan.

4.6 Hasil Analisis Data

Berdasarkan hasil tindakan kelas yang telah dilakukan dapat diketahui telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa melalui model Problem Based Learning berbantuan video pada mata pelajaran IPS dengan kompetensi “Mengenal perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi serta pengalaman menggunakannya” bagi siswa kelas 4 SD Negeri Tegalrejo 1 pada semester II Tahun ajaran 2014/2015. Keberhasilan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.11 di bawah ini.

Tabel 4.11

Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar IPS Sebelum Tindakan, Siklus I, dan Siklus II

Ketuntasan Belajar

Sebelum Tindakan Siklus I Siklus II

Jumlah Siswa Persentase (%) Jumlah Siswa Persentase (%) Jumlah Siswa Persentase (%) Tidak Tuntas 12 75 5 31,25 2 12,5 Tuntas 4 25 11 68,75 14 87,5 Jumlah 16 100 16 100 16 100 Rata-rata Nilai 60,62 73,75 79,06 Nilai Tertinggi 85 90 100 Nilai Terendah 40 60 60

Dari tabel 4.11 di atas terlihat adanya peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS, sebelum dilaksanakan tindakan hanya terdapat 4 atau 25% siswa yang tuntas dan 12 atau 75% siswa yang tidak tuntas, pada siklus I meningkat menjadi 11 atau 68,75% siswa yang tuntas dan 5 atau 31,25% siswa yang tidak tuntas, pada siklus II ketuntasan hasil belajar IPS meningkat menjadi

(21)

14 atau 87,5% siswa tuntas dan 2 atau 12,5% siswa tidak tuntas. Hal ini dapat digambarkan pada diagram perbandingan ketuntasan hasil belajar di bawah ini.

Gambar 4.3 Diagram Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar IPS Sebelum Tindakan, Siklus I, dan Siklus II

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan juga dapat diketahui bahwa telah terjadi peningkatan kinerja guru pada saat diterapkan model Problem Based Learning berbantuan video pada mata pelajaran IPS tentang teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi bagi siswa kelas 4 SD Negeri Tegalrejo 1 pada semester II tahun ajaran 2014/2015. Hal ini dapat dilihat dari hasil persentase yang diperoleh guru pada kategori sangat baik ketika menerapkan model Problem Based Learning berbantuan video. Semakin besar perolehan persentase dalam kategori sangat baik mengindikasikan bahwa keberhasilan kinerja guru dalam menerapkan model Problem Based Learning berbantuan video juga semakin meningkat. Keberhasilan kinerja guru tersebut dapat dilihat pada diagram hasil observasi aktivitas guru dan siswa dengan kategori sangat baik pada siklus I dan siklus II.

Keberhasilan tidak hanya pada guru, tetapi peningkatan juga terjadi pada aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari diagram perbandingan persentase hasil observasi aktivitas siswa yang diperoleh pada saat dilakukan pengamatan pada siklus I dan siklus II pada gambar 4.6.

0 20 40 60 80 100 Sebelum Tindakan Siklus I Siklus II Tidak tuntas Tuntas

(22)

Gambar 4.4 Diagram Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa pada Siklus I Siklus II

Dengan demikian, penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan video terbukti dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas 4 SD Negeri Tegalrejo 1 Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang semester II tahun ajaran 2014/2015. Penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan video membuat siswa lebih semangat dan antusias karena mereka belajar melalui pengalaman langsung yang berkesan sehingga informasi yang mereka dapatkan saat melakukan penyelidikan dalam kelompok kecil, dapat tertanam di dalam otak dan tidak mudah dilupakan.

4.7. Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Tegalrejo 1 Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang dengan subjek penelitian siswa kelas 4. Proses pembelajaran sebelum dilaksanakan penelitian ini masih bersifat konvensional dimana guru hanya berceramah dan masih berpusat pada guru. Acuan pembelajaran hanya menggunakan buku paket sebagai sumber belajar dan belum menggunakan media pembelajaran yang inovatif. Hal ini yang membuat hasil belajar siswa kelas 4 SD Negeri Tegalrejo 1 masih rendah. Siswa yang telah tuntas KKM (≥70) hanya 4 dari 16 siswa dan yang belum tuntas KKM sebanyak 12 siswa. Berdasarkan data

0 20 40 60 80 100 120 Siklus I Siklus II guru siswa

(23)

tentang ketuntasan hasil belajar IPS pada saat observasi, maka perlu dilakukan tindakan untuk meningkatkan hasil belajar IPS.

Peningkatan hasil belajar IPS dengan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan video dapat dilihat dari dan jumlah siswa yang telah tuntas KKM dan hasil perolehan nilai pada siklus I dan II. Pada siklus I sebanyak 11 siswa atau 31,25% siswa telah mencapai KKM. Rata-rata hasil belajar pada siklus I sebesar 75 dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 60. Pada siklus I masih ditemukan kendala yaitu siswa belum memahami betul langkah-langkah model pembelajaran yang dijelaskan oleh guru. Kegiatan menyampaikan hasil diskusi kelompok atau presentasi masih belum berjalan dengan baik.

Pada siklus II, dari 16 siswa jumlah siswa yang telah tuntas KKM sebanyak 14 siswa atau 87,5% dengan nilai tertinggi 95 dan nilai terendah 65. Pada siklus II indikator kinerja dalam penelitian ini sudah terpenuhi sehingga tidak perlu dilaksanakan tindakan lagi.

Pada penelitian ini, penulis hanya mempersiapkan hal-hal non teknis seperti mempersiapkan media pembelajaran, mempersiapkan RPP, lembar observasi siswa dan guru, lembar kerja siswa, tes formatif untuk evaluasi. Pada saat pembelajaran berlangsung, guru kelas 4 bertindak sebagai pelaksana pembelajaran yang mengajarkan pembelajaran IPS. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa hasil aktivitas siswa setiap siklusnya mengalami peningkatan, begitu juga dengan kinerja guru sudah sesuai dengan yang diharapkan.

Model Pembelajaran Problem Based Learning berbantuan video merupakan model pembelajaran dimana menghadapkan siswa pada masalah yang sesuai dengan kehidupan nyata dan siswa bekerja dalam kelompok kecil secara heterogin yang beranggotakan 4 siswa. Guru menyajikan sebuah masalah yang harus dipecahkan oleh siswa. Siswa berdiskusi bersama kelompoknya sesuai materi yang diberikan oleh guru. Selanjutnya setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi masing-masing kelompok dan kelompok yang lainnya memberikan tanggapan.

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas 4 SD Negeri Tegalrejo 1 Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang semester II tahun

(24)

ajaran 2014/2015 dengan menggunakan model Problem Based Learning berbantuan video terbukti telah terjadi peningkatan hasil belajar yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari persentase ketuntasan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dari sebelum dilaksanakan tindakan penelitian sampai pada tahap pelaksanaan siklus II. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Annisa Septiana Mulyasari, Linda Rachmawati, dan Eni Wulandari dimana hasil penelitian yang dilakukan oleh ketiga peneliti tersebut juga mengindikasikan terjadinya peningkatan hasil belajar IPS dengan menggunakan model Problem Based Learning pada proses pembelajarannya.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa penggunaan model Problem Based Learning berbantu video dapat mengubah pola pikir siswa yang awal mulanya malas berpikir kritis, kreatif, dan analitis menjadi selalu ingin mengetahui hal-hal yang baru, kemudian melakukan penulusuran ilmiah sehingga memperoleh kesimpulan sendiri melalui pembuktian yang nyata secara berkelompok dimana guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Hal inilah yang menjadikan siswa menjadi terbiasa dan tidak merasa kesulitan untuk memecahkan masalah mulai dari masalah yang mudah seperti masalah dalam tes formatif yang diberikan dalam penelitian sampai masalah yang lebih kompleks seperti masalah yang terjadi pada kehidupan sehari-hari siswa. Perubahan pola pikir inilah yang mengakibatkan hasil belajar siswa meningkat.

Selain terjadi peningkatan hasil belajar, setelah dilaksanakan observasi terhadap aktivitas guru dan siswa dalam penelitian ini juga diperoleh peningkatan kinerja pada tiap siklus yang dilaksanakan. Hal ini sesuai dengan dengan penelitian yang dilaksanakan oleh Linda Rachmawati dimana hasil penelitiannya juga menunjukkan adanya peningkatan keberhasilan guru dalam menerapkan model Problem Based Learning dan peningkatan aktivitas siswa pada saat dilaksanakan model Problem Based Learning.

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini terbukti bahwa apabila pembelajaran menerapkan model Problem Based Learning berbantu video maka hasil belajar IPS bagi siswa kelas 4 di SD Negeri Tegalrejo 1 pada semester II tahun ajaran 2014/2015 akan meningkat.

Gambar

Gambar 4.3  Diagram Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar IPS Sebelum Tindakan, Siklus I, dan Siklus II
Gambar 4.4  Diagram Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa pada  Siklus I Siklus II

Referensi

Dokumen terkait

Tinajero dan Paramo (1997) menyatakan ada pengaruh yang signifikan gaya kognitif pada hasil belajar di sekolah dalam berbagai pelajaran (Bahasa Inggris, Matematika,

Tahap pelaksanaan: (1) Memberikan soal kemampuan dasar kepada siswa sebanyak 20 soal untuk mengelompokkan siswa kedalam tiga kelompok yaitu kelompok atas, menengah

sehingga diketahui perimbangan dampak penting yang bersifat positif dengan yang bersifat negatif Kegiatan Pengusahaan Panas Bumi untuk PLTP Rantau Dedap 250 MW adalah dampak

Harta Tidak Bergerak yang diperoleh dari hasil pertukaran, Harta Tidak Bergerak yang diperoleh melalui pertukaran dengan Harta Tidak Bergerak lainnya atau dipertukarkan

Menurut Cahyono (2011), syarat tumbuh yang baik untuk tanaman jambu biji yaitu tumbuh subur pada daerah tropis dengan ketinggian yang optimal 3 - 500 mdpl, kemiringan tanah

Mokslininkai iš Lietuvos, Latvijos, Estijos, Suomijos, Švedijos, Len kijos ir Jungtinės Karalystės universitetų nagrinėjo žiniasklaidos po litikos, propagandos, informacinio

Produk sebagai bahan kebutuhan pokok manusia pada umumnya yang beredar dan diperdagangkan apabila status kehalalannya dijamin dan dilindungi, dapat memberikan rasa aman

Berdasarkan hasil penelitian tentang perbandingan atap kayu dengan beton yang memiliki selisih biaya yang tidak terlalu besar, pembangunan rumah yang banyak menggunakan