I.1 Latar Belakang
Berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 105 Tahun 2017 Tentang Tata Cara Pembayaran Melalui Uang Persediaan, Ganti Uang Persediaan, Tambahan Uang Persediaan dan Mekanisme Langsung Bab III Bagian Kesatu tentang Uang persediaan, Uang Persediaan pada perlakuannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keseharian SKPD/UKPD dan membiayai kebutuhan yang dalam transaksinya dilakukan dengan tidak menggunakan mekanisme pembayaran langsung. Uang Persediaan merupakan uang muka yang diberikan oleh Bendahara Umum kepada SKPD dan SKPD dapat mengajukan penggantian daripada uang persediaan.
Kepala BPKD selaku BUD atas permintaan Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran, dapat memberikan persetujuan atau otorisasi terhadap pengajuan penambahan Uang Persediaan yang melampaui besaran yang sudah di tetapkan dalam Surat Keputusan Gubernur Nomor 1013 Tahun 2015 dengan mempertimbangkan perhitungan kebutuhan penggunaan Uang Persediaan yang melampaui besaran Uang Persediaan yang sebelumnya telah ditetapkan sebelum SPP-UP diterbitkan.
Pada Bagian Kedua dari Bab III tentang Uang Persediaan juga dijelaskan tentang bagaimana aturan Pengajuan Uang Persediaan, dimana bagian tersebut menjelaskan bahwa dalam penetapan pagu Uang Persediaan sebagaimana dimaksud di dalam Surat Keputusan Gubernur Nomor 1013 Tahun 2015 dan SPD atau dokumen lain yang dilampirkan, Bendahara Pengeluaran/Bendahara Pengeluaran Pembanttu pada SKPD/UKPD dapat melakukan penebitan dan pengajuan SPP-UP kepada PA/KPA untuk mendapatkan otorisasi terhadap pengjuan SPP melalui PPK-SKPD/UKPD. Pengajuan UP hanya dapat dilakukan sekali saja pada awal tahun anggaran.
Dari penjelasan diatas, Pengguna Anggaran/Kuasa Penggguna Anggaran dapat melakukan penerbitan SPM-UP berdasarkan dengan apa yang diajukan dalam SPP-UP atas perminttaan dari Bendahara Pengeluaran/Bendahara Pengeluaran Pembantu yang dibebankan untuk Uang Persediaan. Berdasarkan SPM-UP yang sudah diajukan, Kuasa BUD selanjutnya menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana melalui rekening Bendahara Pengeluaran/Bendahara Pengeluaran Pembantu yang sudah tercantum dalam SPM-UP.
Pada Bagian Ketiga dari Bab III tentang Pembayaran dengan Uang Persediaan juga dijelaskan bahwa Uang Persediaan dapat diberikan untuk pengeluaran pada kelompok Belanja Langsung, yaitu:
a) Belanja Pegawai, antara lain:
1. Honorarium Pegawai Negeri Sipil/Non Pegawai Negerii Sipil; 2. Uang Lembur/Uang makan lembur Pegawaii Negeri
Sipil/Non Pegawaii Negeri Sipil; b) Belanja Barang dan Jasa, antara lain:
1. Belanja Bahan Habis Pakaii; 2. Belanja Material;
3. Belanja Jasa untuk Kantor;
4. Belanja Peralatan Kendaraan Bermotor; 5. Belanja Cetak dan Penggandaan; 6. Belanja Sewa Rumah/Gedung/Parkir; 7. Belanja Sewa Sarana Mobilitas; 8. Belanja Sewa Alat Berat;
9. Belanja Sewa Perlengkapan dan Peralatan Kantor; 10. Belanja Makanan dan Minuman;
11. Belanja Perjalanan Dinas;
12. Belanja Kursus, Pelatihan, Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Pegawai Negeri Sipil; atau
c) Belanja Modal
Belanja Modal yang dimaksud dilakukan untuk pengadaan tanah yang dalam transaksinya tidak dapat dilakukan melaluii mekanisme pembayaranlangsung.
Pembayaran dilakukan sesuai dengan apa yang sudah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Uang Persediaan untuk pembayaran yang dimaksud diatas yang dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran/Bendahara Pengeluaran Pembantu kepada penerima/penyedia barang dan jasa tidak boleh melebihii
nominal sebesar Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah), kecuali untuk pembayaran perjalanan dinas dan pengadaan tanah. Pembayaran kepada penerima/penyedia barang/jasa dilakukan melalui pemindahbukuan dari rekening SKPD/UKPD ke rekening penerima barang/jasa.
Selanjutnya setelah pertanggungjawaban Uang Persediaan diverifikasi oleh PPK-SKPD/UKPD dan mendapat pengesahan dari PA/KPA, Bendahara Pengeluaran/Bendahara Pengeluaran Pembantu melakukan pembayaran melalui pemindahbukuan kepada penerima/penyedia barang/jasa untuk selanjutnya ditatausahakan dan dibukukan ke dalam Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah (SIPKD) atau Elektronik-Buku Kas Umum(E-BKU).
Bendahara pengeluaran/Bendahara Pengeluaran Pembantu waib melaporkan pertanggungjawaban administrasi bulanan kepada PA/KPA dan pertanggungjawaban fungsional bulanan kepada BUD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya atas Uang Persediaan yang sudah atau belumdipergunakan.
Seperti yang sudah disebut di paragraf pertama pada Latar Belakang ini mengenai Revolving atau Pengisian Kembali Uang Persediaan dilakukan apabila Uang Persediaan telah dipergunakan dan dipertanggungjawabkan. Pengisian kembali Uang Persediaan
diajukan oleh Bendahara Pengeluaran/Bendahara Pengeluaran Pembantu dengan menerbitkan SPP-GU. SPP-GU yang dimaksud adalah diajukannya kepada PA/KPA melalui PPK-SKPD/UKPD untuk dilakukan verifikasi dan otorisasi sesuai dengan ketentuan kebijakan penatausahaan keuangan daerah. Berdasarkan verifikasi tersebut PPK-SKPD/UKPD menyiapkan dan mengajukan SPM-GU kepada PA/KPA. Pengajuan SPP-SPM-GU dan SPM-SPM-GU yang dimaksud diajukan sebesar Uang Persediaan yang telah dipergunakan dan dipertanggungjawabkan. Dalam hal tersebut,
PA/KPA, PPK- SKPD/UKPD, dan Bendahara
Pengeluaran/Bendahara Pengeluaran Pembantu
bertanggungjawab secara formil dan materiil atas SPP- GU dan SPM-GU. PA/KPA mengajukan pengisian kembali Uang Persediaan (Revolving) melalui SPM-GU kepada kuasaBUD.
Dalam pengajuan SPM-GU kepada Kuasa BUD dilampirkan palingsedikit:
1. Laporan pertanggungjawaban Uang Persediaan; 2. Tanda terima laporan pertanggungjawaban
fungsional bulan sebelumnya;
3. Surat pernyataan PA/KPA bahwa bukti
pertanggungjawaban atas penggunaan Uang
Persediaan telah lengkap, diverifikasi dan mendapatkan pengesahan; dan
4. Fotokopi SPD.
Laporan pertanggungjawaban Uang
Persediaan sebagaimana yang dimaksud diatas adalah:
a. Laporan pengesahan belanja dan saldo yang telah dipertanggungjawaka dan telah diinput dalam penatausahaan pembukuan bendahara atau sistem SIPKD;
c. Rekening koran sampai dengan tanggal pengajuan Ganti Uang Persediaan.
Dalam hal ini, SBPK menjadi tempat penulis melaksanakan praktek kerja lapangan karena SBPK memiliki wewenang untuk melaksanakan prosedur pemberian dana pagu kepada SKPD yang mana wewenang SBPK tersebut juga sesuai dengan pembahasan tugas akhir yang penulis susun.
Mengingat pentingnya Uang Persediaan tersebut di atas bagi suatu SKPD menjalankan kegiatan operasional sehari-harinya, maka penulis ingin melakukan penulisan Tugas Akhir dengan judul “TINJAUAN ATAS PROSEDUR PEMBERIAN DANA PAGU DARI SUKU BADAN PENGELOLA KEUANGAN KEPADA PERANGKAT PEMERINTAH DAERAH DKI JAKARTA”
I.2 Ruang Lingkup
Dalam penyusunan tugas akhir ini, ruang lingkup permasalahan akan dibatasi pada proses SBPK memberikan dana pagu yang selajutnya disebut dengan Uang Persediaan (UP) kepada SKPD, bagaimana SBPK memberikan Uang Ganti Persediaan (GU) dan Mekanisme Pembayaran Langsung (LS) kepada SKPD.
I.3 Tujuan
Laporan Praktik Kerja Lapangan ini berisikan penjabaran topikyang
diambil berdasarkan pengalaman selama menjalani program PKL di Suku Badan Pengelola Keuangan Daerah khusus Wilayah Jakarta Selatan yang bertempat di Kantor Administrasi Walikota Jakarta Selatan, yang dikaitkan dengan teori-teori yang dipelajari selama di bangku kuliah. Topik yang dimaksud yaitu Tinjauan Atas Prosedur Pemberian Dana Pagu Dari Suku
Badan Pengelola Keuangan Kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah. Adapun tujuan dari penulisan laporan praktik kerja lapangan ini adalah:
a. Tujuan Umum
1. Untuk memenuhi persyaratan dalam penyelesaian program studi Akuntansi Diploma 3 Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta.
2. Menerapkan ilmu-ilmu yang telah dperoleh dari bangku kuliah Program Studi Akuntansi Diploma 3 Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta.
3. Mengaplikasikan pengetahuan teoritis yang telah didapat di bangku kuliah pada kenyataan yang telah ada dilapangan.
b. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui proses pemberian dana pagu yang selanjutnya disebut Uang Persediaan (UP) dari SBPK kepada SKPD.
2. Untuk mengetahui bagaimana SBPK memberikan Uang Ganti Persediaan (GU) yang sudah diajukan olehSKPD.
I.4 Sejarah Singkat Berdirinya Kantor Administrasi Walikota Jakarta Selatan
Sebelum keputusan Gubernur diberlakukan di Jakarta Selatan terdapat kantor, Pemerintahan Kotabaru Kebayoran Baru yang beralamat di Jl. Hang Lekir 1 No. 5, yang dikepalai oleh seorang Kepala Kantor yang berada langsung di bawah Urusan Pemerintahan Umum (UPU) Departemen Dalam Negeri dimana pejabatnya diberi kedudukan setingkat Wedana.
Kepala Kantor Pemerintahan Kotabaru Kebayoran Baru tersebut dijabat oleh Almarhum Bapak H. Mochtar Zakaria, SH dengan Almarhum Bapak H. M. A. Adiwidjaya sebagai Asisten Wedana. Pada masa jabatan beliau, lokasi ke kantor baru di Jl. Radio V Kelurahan Kramat Pela. Kantor di Jl. Radio V Kelurahan Kramat Pela inilah yang menjadi cikal bakal kantor Wilayah Administrasi Kotamadya Jakarta Selatan, sesuai dengan Keputusan Gubernur tersebut diatas.
Tahun 1987, saat Walikotamadya dijabat oleh Bapak H. Muchtar Zakaria, SH, berhasil dibangun Blok V yang berlantai 8. Jmlah unit organisasi yang ada pada saat itu berjumlah 22 unit dengan jumlah pegawaii 1.787 orang. Jumlah unit pegawai 4.420 orang, termasuk pegawai kecamatan dan kelurahan. Pada tahap selanjutnya, pembangunan blok-blok lainnya dilakukan secara bertahap. Hingga kini, gedung kantor tersebut masih terus dipergunakan walaupun nomenklatur Kantor Wilayah Administrasi berubah diitahun 1991 menjadi Kantor Walikotamadya Jakarta Selatan.
I.4 Struktur Organisasi
Berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 254 Tahun 2016 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelola Keuangan Daerah Pasal 39 tentang Susunan Organisasi SBPK sebagai berikut:
Sumber: Tata Usaha SBPK
Gambar 1: Struktur Organisasi SBPK
Adapun Job Description yang dibebankan kepada tiap bagian dari suku badan adalah sebagai berikut:
A. Kepala SBPK mempunyai tugas:
1) Memimpin dan mengoordinasikan pelaksanaan tugas dan fungsi SBPK sebagaimana dimaksud Pasal 38;
2) Mengoordinasikan pelaksanaan tugas Subbagian, Subbidang dan Seubkelompok Jabatan Fungsional;
3) Melaksanakan kerja sama dan koordinasi dengan SKPD, UKPD, dan/atau instansi pemerintah/swasta dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi SBPK.
A. Subbagian Tata Usaha
Dipimpin oleh seorang Subbagian yang berkedudukan dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala SBPK. Adapun tugas yang dimiliki oleh Subbagian Tata Usaha adalah sebagaiberikut:
a) Menyusun bahan rencana strategis dan rencana kerj dan anggaran SBPK sesuai dengan lingkuptugasnya;
b) Melaksanakan rencana strategis dan dokumen pelaksanaan angaran SBPK sesuai dengan lingkuptugasnya;
c) Melaksanakan monitoring, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana strategis dan dokumen pelaksanaan anggaran SBPK;
d) Melaksanakan pengelolaan kepegawaian, keuangan, dan barang SBPK;
e) Melaksanakan pengelolaan ketatausahaann dan
kerumahtanggaan SBPK;
f) Melaksanakan pengelolaan kearsipan, data dan informasi SBPK;
g) Melaksanakan pengelolaan ruangrapat/pertemuan;
h) Melaksanakan publikasi kegiatan, upacara dan pengaturan acara SBPK;
i) Menghimpun, menganalisis dan mengajukan kebutuhan penyediaan, pemeliharaan prasarana dan sarana kerja SBPK; j) Menerima, menyimpan dan mendistribusikan prasarana dan
k) Mengoordinasikan penyusunan laporan keuangan, kinerja, kegiatan dan akuntabilitas SBPK; dan
l) Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas Subbagian Tata Usaha.
B. Subbagian Perbendaharaan
Subbagian perbendaharaan dipimpin oleh seorang Kepala Subbag yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala SBPK. Adapun tugas yang dimiliki oleh Subbidang Perbendaharaan adalah sebagai berikut:
a) Menyusun rencana strategis dan rencana kerja sesuai dengan ruang lingkupnya;
b) Melaksanakan rencana strategis sesuai dengan yang sudah ditetapkan sesuai dengan ruang lingkupnya;
c) Menerima dan mengecek kelengkapan SPM yang diajukan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran SKPD/UKPD sebagai dasar penerbitan SP2D;
d) Memproses SP2D sesuai dengan SPM yang telah diajukan; e) Melaksanakan pembayaran pengeluaranbelanja;
f) Menerima, memvalidasi dan menyimpan Bukti Penerimaan Pendapatan dari Bank;
g) Mencatat dan membukukan Penerimaan Pendapatan Daerah berdasarkan Laporan dari Bank dan SIPKDPenerimaan; h) Menyusun dan menyampaikan Laporan Penerimaan
Pendapatan Daerah dan Pengeluaran Daerah kepada Kepala SBPK untuk diteruskan kepada Kepala BPKD;
i) Melaksanakan bimbingan dan konsultasi teknis pencairan dan penatausahaan keuangan UKPD bidang pemerintahan lingkup
wilayah Kota Administrasi;
j) Menyusun laporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi Subbidang Perbendaharaan; dan
k) Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas Subbidang Perbendaharaan
C. Subbagian Kas Bank dan Akuntansi
Subbagian Kas Bank dan Akuntansi dipimpin oleh seorang Kepala Subbag yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala SBPK. Adapun tugas yang dimiliki oleh Subbagian Kas Bank dan Akuntansi adalah sebagaiberikut:
a) Menyusun bahan rencana strategis dan rencana kerja dan anggaran SBPK sesuai dengan lingkuptugasnya; b) Melaksanakan rencana strategis dan
dokumenpelaksanaan anggaran SBPK sesuai dengan lingkuptugasnya;
c) Memvalidasi SP2D ke Bank untukmemindahbukuan; d) Menerbitkan bukti setoran dan Giro Potongan SP2D; e) Menyetorkan Giro Potongan SP2D kepada Bank; f) Melaksanakan rekonsiliasi Bank, BPJS dan KPP;
g) Melaksanakan pelaporan penerimaan dan pengeluaran Daerah; h) Menghimpunan laporan realisasi anggaran baik bulanan,
semester maupun tahunan.
i) Melakukan rekonsiliasi terkait laporan yang telah dipertanggungjawabkan;
j) Melaksanakan jurnal koreksi kesalahan pembukuan dan penyesuaian terhadap pendapatan, belanja dan non kas dalm rangka penyusunan laoran keuangan semesteran dan transaksi akhir tahun dari UKPD pada lingkup wilayah Kota
Administrasi;
k) Menyediakan layanan konsultasi dan bimbingan terkait dengan penyusunan laporan keuangan
l) Menghimpun dan meneliti usulan penetapan Kuasa Pengguna Anggaran, Bendahara pada UKPD lingkup wilayah Kota Administrasi;
m) Melaksanakan penatausahaan, pencatatan dan pembukuan Penerimaan dan Pengeluaran/Belanja Daerah; dan
n) Melakukan pertanggungjawaban atas kinerja dari subbagian kas bank dan akuntansi.
D. Subbagian Anggaran dan Pendapatan
Subbagian Anggaran dan Pendapatan dipimpin oleh seorang Kepala Subbidang yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala SBPK. Adapun tugas yang dimiliki oleh Subbag Anggaran dan Pendapatan adalah sebagai berikut:
a) Menyusun rencana strategis dan rencana kerja sesuai dengan ruang lingkupnya;
b) Melaksanakan rencana strategis sesuai dengan yang sudah ditetapkan sesuai dengan ruanglingkupnya;
wilayah Kota sebagai bahan penyusunan Rancangan APBD/APBD Perubahan berkoordinasi dengan Bidang Anggaran;
d) Menghimpun dokumen pelaksanaan anggaran UKPD lingkup wilayah Kota Administrasi;
e) Menyiapkan dan memproses pengesahan dokumen pelaksanaan anggaran UKPD lingkup wilayah Kota Administrasi;
f) Menghimpun anggaran kas triwulan/semesteran/tahunan UKPD lingkup wilayah Kota Administrasi;
g) Menyajikan data dan informasi pelaksanaan belanja daerah berdasarkan pelaksanaan anggaran belanja UKPD lingkup wilayah Kota Administrasi;
h) Memproses permohonan pergeseran anggaran dalam pelaksanaan serta perubahan kode rekening dari UKPD lingkup wilayah Kota Administrasi berkoordinasi dengan Bidang Anggaran;
i) Melaksanakan monitoring dan rekonsiliasi penerimaan pendapatan dengan SKPD/UKPD terkait;
I.5 Kegiatan Suku Badan Pengelola Keuangan
1) Penyelesaian kegitan pengeluaran akhir tahun2019
a) Belanja makanan dan minumanpeserta/petugas/panitia 2) Peningkatan kapabilitas pengelolaan keuangan daerah lingkup
Kota Administrasi Jakarta Selatan
a) Belanja makanan dan minumanpeserta/petugas/panitia b) Belanja tenaga ahli/ narasumber
3) Penataan dokumen arsip keuangan SBPK Jakarta Selatan
a) Belanja jasa petugas penunjang kegiatan kantor/lapangan b) Belanja makan dan minumpeserta/petugas/panitia
4) Penyediaan jasa petugas kantor/lapangan SBPK Kota Administrasi Jakarta Selatan
a) Honorarium Pekerja Harian Lepas (PHL) Bidang b) BPJS Ketenagakerjaan
c) BPJS Kesehatan
d) Tunjangan Asuransi Kesehatan
5) Pemeliharaan peralatan dan perlengkapan kantor a) Belanja pemeliharaan komputer/PC b) Belanja pemeliharaan Printer
6) Penyediaan barang cetakan dan penggandaan a) Belanja penjilidan
7) Penyedia jasa administrasi keuangan
b) Belanja perangko, materai dan benda poslainnya c) Belanja jasa pelaksanaan transaksi instrument keuangan 8) Penyediaan peralatan rumah tangga kantor
a) Belanja alat rumah tangga kantor
9) Penyediaan jasa dan penggandaan perlengkapan kebersihankantor b) Belanja barang pakai habis kebersihan
10) Penyediaan makanan dan minuman
c) Belanja makanan dan minuman pegawai d) Makanan dan minuman rapat
11) Penyediaan Alat Tulis Kantor a) Belanja Alat Tulis Kantor
I.6 Manfaat
A. Manfaat Teoritis
Laporan Praktik Kerja Lapangan ini dapat bermanfaat sebagai pengembangan ilmu, kreatifitas, membangkitkan minat dan daya pemikiran ilmiah berdasarkan ilmu yang didapat di bangku kuliah khususnya yang berkaitan dengan Prosedur Pemberian Dana Pagu
dari Suku Badan Pengelola Keuangan selaku BUD ke Satuan kerja Perangkat Daerah.
B. Secara Praktis 1) Bagi Perusahaan
Sebagai bahan masukan dan sebagai sosialisasi tentang pemberian dana pagu dari Suku Badan Pengelola Kuangan Kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah.
2) Bagi Penulis
Sebagai sarana untuk melakukan perbandingan teori-teori yang didapat selama proses pembelajaran di bangku kuliah dengan kegiatan yan dilakukan selama program magangberlangsung. 3) Bagi Universitas
Sebagai dasar atau acuan pembelajaran yang ditunjukan untuk para pembaca khususnya mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta dengan kaitan masalah yang sama.