2. LANDASAN TEORI
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pengertian Tax Saving
Tax saving adalah sebuah istilah dari penghematan pajak. Dalam melakukan penghematan pajak, perusahaan harus mampu menggunakan strategi pajak untuk meminimalkan pengeluaran untuk beban pajak (Childs, 2015). Menurut Hoffman (1961), tax saving merupakan hasil dari tax planning dan pembayar pajak harus mengikuti beberapa peraturan penghindaran pajak (tax avoidance). Fenomena konkret yang mengakibatkan tax planning dan tax saving adalah penurunan tarif pajak atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan yang semula 5% dari penghasilan bruto menjadi 2,5% dari penghasilan bruto.
2.1.2 Pengertian Manajemen Laba
Manajemen laba merupakan tindakan yang dilakukan oleh pihak manajemen atas laporan keuangan sehingga angka-angka dalam laporan keuangan, khususnya pendapatan berada pada tingkat yang diinginkan. Dalam jurnal yang ditulis oleh Beneish (2001), ia mengutip setidaknya ada 3 definisi tentang manajemen laba:
a) Manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan keputusan dalam pelaporan keuangan dan strukturisasi transaksi untuk mengubah laporan keuangan untuk memperdaya beberapa stakeholder tentang dasar performa ekonomi perusahaan atau mempengaruhi outcome kontraktual yang bergantung pada angka yang dilaporkan (Healy & Wahlen, 1999).
b) Mengelola laba adalah sebuah intervensi yang dilakukan dengan sengaja dalam proses pelaporan keuangan eksternal, dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi (Schipper, 1989).
c) Mengelola laba adalah proses pengambilan langkah yang disengaja dalam batasan prinsip akuntansi yang diterima secara umum untuk membawa pendapatan yang dilaporkan pada tingkat yang diinginkan (Davidson, Stickney and Weil, 1987, yang dikutip dalam Schipper, 1989).
Manajemen laba dibagi menjadi 2 yaitu accrual-based earning management dan real earning management. Hal ini karena net income terdiri dari 2 elemen, yaitu revenue dan expense. Mempercepat atau menunda pengakuan revenue dan/atau expense merupakan bagian dari accrual-based earning management. Sedangkan, aktivitas operasional perusahaan yang dengan sengaja dilakukan percepatan atau penundaan merupakan bagian dari real earning management. Dari kombinasi kedua tipe tersebut didapatkanlah manajemen laba yang sesungguhnya terjadi dalam perusahaan (Zeng, 2014).
2.1.3 Pajak Penghasilan
Di Indonesia berlaku 2 tipe pajak penghasilan, yaitu penghasilan final dan penghasilan non-final. Pajak penghasilan yang bersifat final atau kerap disebut pph final merupakan pajak penghasilan yang dikenakan atas omzet. Dasar hukum yang berlaku untuk pph final adalah Undang-Undang no. 36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan pasal 4 ayat 2. Pajak penghasilan atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan merupakan bagian dari pph final. Berdasarkan Undang-Undang no. 36 tahun 2008 tentang pajak penghasilan, tarif pph final yang dikenakan atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan adalah sebesar 5% dari peredaran bruto hingga adanya Peraturan Pemerintah nomor 34 tahun 2016 yang mengubah tarif PPh final atas pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan menjadi 2,5% dari peredaran bruto.
2.1.4 Perilaku Investor
Para investor melakukan keputusan investasi dengan mengharapkan return. Puspitaningtyas & Kurniawan (2012) menyatakan bahwa tujuan investor melakukan tindakan investasi adalah untuk memperoleh pendapatan atau
memperoleh tingkat pengembalian investasi (return) yang akan diterima di masa yang akan datang. Ada beberapa tipe investor dalam pengambilan keputusannya. Menurut Harrison & Jeremy (1999), ada dua tipe investor, antara lain “newswatchers” dan “momentum traders”. Untuk tipe newswatchers, investor mengambil tindakan berdasarkan tanda-tanda dari hasil pengamatan mereka untuk masa yang akan datang. Sedangkan untuk tipe momentum traders, investor mengambil tindakan berdasarkan perubahan harga dari masa lalu.
Perilaku investor sangat dipengaruhi oleh infomasi yang diterima. Sebab, informasi adalah bersifat individu. Artinya, individu mungkin akan memberikan reaksi yang berbeda terhadap sumber informasi yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa individu menerima informasi dan merevisi keyakinan secara berurutan dalam proses berkelanjutan melalui penerimaan informasi yang terkandung dalam laporan keuangan dan juga dari sumber informasi lain seperti media, dan pengumuman lain yang dapat mempengaruhi keputusannya. Sehubungan dengan hal tersebut sebagai sumber informasi, laporan keuangan adalah penyedia informasi akuntansi yang relevan dan reliabel. Bahwa, informasi yang bermanfaat (information usefulness) bagi pengambilan keputusan lebih menekankan pada isi atau kandungan informasi (content of information) serta ketepatan waktu dalam memberikan keyakinan bagi investor atau mengubah keyakinan awal (prior belief) pengguna laporan keuangan agar segera bereaksi dan informasi ini bersaing dengan sumber informasi lain (Puspitaningtyas, 2011).
2.1.5 Hubungan antara Penurunan Tarif Pajak dengan Manajemen Laba
Penurunan tarif pajak mengakibatkan penurunan beban pajak. Hal tersebut selaras dengan manajemen laba dengan tujuan pajak yang memaksimalkan nilai perusahaan dengan meminimalkan biaya pajak (Hashim, Haniff & Rahman, 2012). Selain itu, di dalam Peraturan Pemerintah nomor 34 tahun 2016 juga dinyatakan bahwa penurunan tarif pajak secara resmi berlaku 30 hari sejak dikeluarkannya Peraturan Pemerintah nomor 34 tahun 2016. Hal tersebut memberikan kesempatan bagi perusahaan-perusahaan properti di Indonesia untuk melakukan manajemen laba dalam rangka merespon kebijakan
pemerintah tersebut. Zeng (2014) dan Sundvik (2017) menemukan bahwa perusahaan cenderung menggeser income-nya kepada periode dimana tarif pajak lebih rendah dengan cara menunda pengakuan pendapatan dan mempercepat pengakuan beban sehingga pada saat tarif pajak lebih rendah, perusahaan mengakui penghasilan yang lebih besar, optimal sesuai tujuan perpajakan.
2.2 Kajian Penelitian Terdahulu
Dalam penelitiannya, Zeng (2014) menemukan bahwa perusahaan properti di China melakukan penurunan pendapatan pada akhir 2007, yaitu sebelum adanya penurunan tarif pajak dari 33% menjadi 25%. Selain itu, ia juga menemukan bahwa perusahaan properti di China melakukan peningkatan pendapatan pada awal tahun 2008, dimana tarif pajak telah turun menjadi 25%. Melihat hal ini, ia menyimpulkan bahwa ada income shifting dari tahun 2007 ke tahun 2008.
Di sisi lain, Hashim, Haniff & Rahman (2012) juga melakukan penelitian serupa di Malaysia terkait dengan tax waiver, yaitu pembebasan pajak (tarif pajak 0%) untuk tahun 1999 dengan sampel perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Malaysia. Mereka mengangkat sebuah teori dimana perusahaan akan melakukan income shifting dengan tujuan pajak yang memaksimalkan nilai perusahaan dengan meminimalkan biaya pajak. Dimana pada saat tax waiver mereka menduga bahwa perusahaan-perusahaan di Malaysia memaksimalkan kesempatan itu untuk tujuan perpajakan. Akan tetapi, mereka menemukan hasil yang tidak konsisten dengan income shifting dengan tujuan pajak yang memaksimalkan nilai perusahaan dengan meminimalkan biaya pajak yang disebabkan oleh faktor krisis moneter yang terjadi pada saat itu. Perusahaan-perusahaan di Malaysia mengamankan kondisi laporan keuangannya agar mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Sundvik (2017) melakukan penelitian terkait reformasi pajak di Finlandia yang menurunkan tarif pajak dari 29% menjadi 26% pada tahun 2005. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa perusahaan-perusahaan di Finlandia tidak menutup tahun fiskal pada tahun 2004 dan memilih untuk menunda hingga batas
maksimal, yaitu 18 bulan sehingga tarif pajak yang dikenakan adalah tarif baru yaitu 26%. Selain itu, ia juga menemukan bukti bahwa expected taxable profit pada periode terakhir dengan tarif pajak lebih tinggi mempengaruhi keputusan perusahaan untuk mengundurkan tahun fiskalnya.
Dari beberapa kajian penelitian terdahulu diatas, maka penelitian kali ini akan menguji pengaruh penurunan tarif pajak yang antara lain adalah penurunan tarif pajak untuk penjualan tanah dan/atau bangunan pada manajemen laba perusahaan-perusahaan properti di Indonesia.
2.3 Pengembangan Hipotesis
Dalam menghadapi penurunan tarif pajak, perusahaan akan mencari langkah yang paling optimal dalam meminimalkan pengeluaran atas beban pajak. Hal tersebut dilakukan perusahaan dengan cara melakukan manajemen laba. Perusahaan akan melakukan manajemen laba untuk menurunkan pendapatan pada saat sebelum penurunan tarif pajak sehingga beban yang dikeluarkan menjadi lebih kecil (Zeng (2014); Hashim, Haniff & Rahman (2012)). Selain itu, penelitian Sunvik (2017) juga menyatakan bahwa perusahaan akan memilih untuk membayar pajak pada saat tarif pajak lebih rendah. Dalam penelitian ini, periode sebelum penurunan tarif pajak adalah kuartal II. Oleh karena itu, H1 dirumuskan
sebagai berikut:
H1: Perusahaan properti di Indonesia melakukan manajemen laba untuk
menurunkan pendapatan pada tahun 2016 kuartal II.
Berlawanan dengan sebelum penurunan tarif pajak, pada saat setelah penurunan tarif pajak, perusahaan akan mengakui pendapatan-pendapatan yang telah di defer dari sebelum penurunan tarif pajak sehingga pengeluaran menjadi lebih rendah. Hal tersebut menyebabkan perusahaan melakukan manajemen laba untuk meningkatkan pendapatan pada saat setelah penurunan tarif pajak (Hashim, Haniff & Rahman, 2012).. Oleh karena itu, H2 dirumuskan sebagai berikut:
H2: Perusahaan properti di Indonesia melakukan manajemen laba untuk