SITA HARTA BERSAMA PADA PERCERAIAN
(ANALISIS PUTUSAN KASASI PADA PUTUSAN NO. 2484 K/Pdt/2015/MA)
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Syariah Dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelas Sarjana Hukum (S.H)
AFIFATUL MAHMUDAH 1113044000083
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
iii
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya, yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strara Satu (S1) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Semua narasumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan hasil jipakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Ciputat, 12 Mei 2020
Afifatul Mahmudah
iv ABSTRAK
Afifatul Mahmudah. NIM 1113044000083. Sita Harta Bersama Pada Perceraian (Analisis Putusan Kasasi Pada Putusan No. 2484 K/Pdt/2015/Ma).
Konsentrasi Peradilan Agama Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 1441 H / 2020 M.
Skripsi yang berjudul Sita Harta Bersama Pada Perceraian (Analisis Putusan Kasasi Pada Putusan No. 2484 K/Pdt/2015/MA) ini merupakan hasil penelitian yang menggambarkan ketentuan yang berhubungan dengan putusan hakim dalam mengabulkan gugatan atas harta bersama. Metode pendekatan yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode yuridis normative (legal research) yaitu dengan kajian perundang-undangan. Pendekatan ini dilakukan dengan pengkajian peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam memutus perkara sita harta bersama dan ketentuan bagian antara keduanya dalam putusan No. 2484 K/Pdt/2015/MA. Apakah sesuai dengan hukum yang berlaku serta bagaimana pertimbangan hakim dalam memutus perkara ini.
Dalam putusan Majelis Hakim dalam perkara Nomor 2484 K/Pdt/2015/MA mengenai pengajuan permohonan sita harta terhadap harta bersama. Bahwa berdasarkan pertimbangan Majelis Hakim pada perkara Nomor 2484 K/Pdt/2015/MA dalam pokok perkaranya Majelis hakim memutuskan/ mengadili mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi Cencen Kurniawan, dan membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Denpasar Nomor 06/PDT/2015/PT.DPS tanggal 24 Maret 2015 yag menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor 60/Pdt.G/2014/PN.Dps tanggal 3 September 2014. Sedangkan mengenai ketentuan pembagagian harta bersama Majelis Hakim juga menetapkan pembagian harta bersama (gono gini) sebagaimana disebutkan dalam amar putusan sebagai ½ (satu per dua) bagian pertama Harta Bersama menjadi bagian Penggugat, dan ½ (satu per dua) bagian kedua Harta Bersama menjadi bagian Tergugat.
Kata kunci : Harta Bersama, Sita, Putusan Pembimbing : Dr. H. Muchtar Ali M.Hum Daftar pustaka : 1986-2017
v
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini, Shalawat dan Salam tak lupa dipanjatkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat dan umatnya hingga akhir zaman.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi ini banyak kekurangan mengingat terbatasnya kemampuan penulis, namun berkat rahmat Allah SWT serta pengarahan dan motivasi dari berbagai pihak akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk kepentingan bersama.
Selama penulisan skripsi ini tentunya penulis mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak yang telah mendukung dan membimbing penulis. Kasih yang tulus serta penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Bapak Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie. S.H., M.H., M.A., selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta serta para jajarannya.
2. Ibu Dr. Mesraini. S.H., M.Ag., selaku ketua Program Studi Hukum keluarga dan juga kepada Bapak Ahmad Chairul Hadi, M.A., selaku sekretaris Program Studi Hukum Keluarga, penuis mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan, perhatian, serta arahan yang selama ini diberikan.
3. Bapak Dr. H. Muchtar Ali M.Hum., sebagai pembimbing skripsi yag telah banyak meluangkan waktunya, membimbing, memberikan pencerahan,
vi
ilmu, serta motivasi kepada penulis selama proses penyelesaian skripsi ini.
4. Segenap staf Mahkamah Agung RI yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan observasi dan mendapatkan data-data penelitian.
5. Pimpinan perpustakaan yang telah memberi fasilitas penulis untuk menyelesaikan studi kepustakaan.
6. Seluruh dosen Fakultas Syariah dan Hukum yang telah mencurahkan segala kemampuannya guna memberikan ilmu-ilmu yang tak ternilai harganya. Serta kepada civitas academika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan pelayanan terbaiknya.
7. Teristimewa kepada kedua orang tua penulis yaitu ayahanda tercinta H. Ahmad Jamaluddin dan ibunda tercinta Hj. Ngatmuning yang telah mencurahkan segenap kasih sayagnya, serta tak putus-putusnya memberikan dukungan dan doa kepada penulis dalam menempuh pendidikan. Dan juga kepada saudara-saudara penulis Moh. Joni Firman Huda, Ika Yuniartiningtiyas, Jamalia Wahyu Ningrum, Ahmad Fauzi, dan Moh. Akmal Mubarok atas segala doa dan motivasinya sehingga penulis dapat sampai pada jenjang terahir sebagai mahasiswa.
8. Teman-teman penulis Vicky Fauziyah, Agung Wahyu Prasetyo, Clara Agus Putri, Irvan Rizqi Nasution, Ahmad As’ad, Ifa Nur Rafiqah, Nasratul Ummah, Ruwaidah, keluarga besar Tpq Nurul Ilmi, keluarga besar Sekolah Alam Bintaro dan teman-teman lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang telah mewarnai hari-hari penulis selama
vii
menimba ilmu di Uin Syarif Hidayatullah Jakarta Ini serta memberikan dukungan dalam mengerjakan skripsi penulis.
9. Teman-teman Program Studi Hukum Keluarga angkatan 2013 yang telah memberikan saran dan dukungan pada penulis.
Demikian penulis haturkan terima kasih sebanyak-banyaknya, karena berkat do’a, motivasi, fasilitas, arahan dan bimbingan dari mereka penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya bagi pembaca. Bagi para pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini semoga segala amal dan kebaikannya mendapat balasan berlimpah dari Allah SWT. Aamiin.
Wassalamualaikum. Wr. Wb.
Ciputat, 12 Mei 2020
viii
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 6
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6
D. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 7
E. Tinjauan Pustaka ... 7
F. Metodologi Penelitian ... 10
G. Sistematika Penulisan ... 12
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG HARTA BERSAMA DAN SITA HARTA ... 13
A. HARTA BERSAMA ... 13
B. SITA HARTA ... 22
BAB III KRONOLOGI HUKUM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NO. 2484 K/PDT/2015 TENTANG SITA ... 30
ix
BAB IV ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG TENTANG SITA
HARTA BERSAMA PADA PERCERAIAN ... 38
A. Duduk Perkara ... 38 B. Pertimbangan Hakim ... 42 C. Analisa Putusan ... 44 D. Analisis Penulis ... 45 BAB V PENUTUP ... 48 A. Kesimpulan ... 48 B. Saran ... 49 DAFTAR PUSTAKA ... 50 LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 53
1 A. Latar Belakang
Perkawinan merupakan suatu hal penting dalam realita kehidupan untuk manusia. Dengan adanya suatu perkawinan sebuah rumah tangga dapat ditegakkan dan dibina sesuai dengan norma yang ditetapkan oleh agama dan tatanan kehidupan bermasyarakat. Dalam rumah tangga berkumpul dua insan yakni suami istri, mereka saling berhubungan agar dapat keturunan sebagai penerus generasi. Insan-insan yang berada dalam rumah tangga itulah yang disebut dengan keuarga.1 Untuk membentuk sebuah keluarga maka diperlukan suatu perkawinan yang sah dan sesuai dengan aturan agama.
Akad dalam perkawinan dalam hukum Islam bukanlah perkara perdata semata, melainkan ikatan suci (misaqan galizan) yang terkait dengan keyakinan dan keimanan kepada Allah. Dengan demikian ada dimensi ibadah dalam sebuah perkawinan. Untuk itu perkawinan harus dipelihara dengan baik sehingga bisa abadi dan apa yang menjadi tujuan perkawinan dalam Islam yakni terwujudnya keluarga sejahtera (mawaddah wa rahmah) dapat terwujud.2
Dalam penjelasan yang lain tujuan dari pernikahan itu sendiri menurut agama Islam ialah untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia. Harmonis dalam menggunakan hak dan kewajiban anggota keluarga, sejahtera sendiri artinya terciptanya
1 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kerncana Prenada Media Group, 2006), h. 1.
2 Amir Nuruddin dan Azhari AT, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Studi Kritis Perkembangan
ketenangan lahir dan batin karena terpenuhinya semua kebutuhan hidup lahir maupun batin, sehingga timbulah kebahagiaan yakni kasih sayang antar anggota keluarga.3
Untuk melakukan perceraian harus adanya alasan, bahwa suami istri itu tidak akan hidup rukun sebagai suami istri. Hal-hal yang menjadi sebab putusnya ikatan perkawinan antara seorang suami dengan seorang istri yang menjadi pihak-pihak terkait dalam perkawinan, menurut undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 38 dijelaskan, ada tiga sebab putusnya ikatan perkawinan yaitu:
1. Kematian, 2. Perceraian dan,
3. Keputusan Pengadilan.4
Menurut ajaran Islam, perceraian diakui atas dasar ketetapan hati setelah mempertimbangkan secara matang, serta dengan alasan-alasan yang bersifat darurat atau sangat mendesak. Perceraian diakui secara sah untuk mengahiri hubungan perkawinan berdasarkan adanya petunjuk syariat. Namun demikian, secara normative Rasulullah memperingatkan bahwa Allah SWT sangat membenci perbuatan itu meskipun halal untuk dilakukan. Dengan demikian secara tersirat Rasulullah mengajarkan agar keluarga muslim sedapat mungkin menghindari perceraian. Dan dibalik kebencian Allah SWT itu terdapat suatu peringatan bahwa perceraian itu sangat berbahaya jika seandainya memang
3 Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), h. 22 4 Achmad Khudari, Nikah Sebagai Perikatan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995), h. 117
tidak dapat dihindarkan dan berdampak negatif terhadap keluarga dan Undang-undang perkawinan tidak melarang perceraian.5
Persoalan yang akan dibahas kali ini adalah tentang sita harta bersama pada perceraian. Harta pencarian suami selama dalam perkawinan adalah harta suami, bukan sebagai harta bersama dengan istri. Istri hanya berkewajiban menjaga harta suami yang berada dalam rumah. Bilamana istri mempunyai penghasilan misalnya mengambil upah menyusukan anak orang lain, atau sebagai penjahit pakaian atau profesi lainnya, maka hasil usahanya itu tidak dicampurkan dengan harta suami tetapi disimpan sendiri secara terpisah. Andaikan suatu saat suami mendapat kesulitan dalam pembiayaan, dan memakai uang istri untuk menutupi pembiayaan rumah tangganya, berarti suami telah berhutang kepada istri yang wajib dibayarkan kemudian hari.6
Masalah harta bersama merupakan masalah yang sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan suami istri apabila telah bercerai. Hal ini disebabkan karena munculnya harta bersama ini juga sudah terjadi suatu perceraian antara suami istri atau pada saat proses perceraian sedang berlangsung di Pengadilan Agama, sehingga timbul sebagai masalah hukum yang kadang-kadang dalam penyelesaiannya menyimpang dari perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan hal diatas dalam peratuan perundang-undangan di Indonesia terdapat empat macam harta keluarga (Gezims Good) dalam perkawinan, yaitu: 1. Harta yang diperoleh dari warisan baik sebelum mereka menjadi suami
istri maupun setelah perkawinan
5 Satria Effendi M.Zein, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, (Jakarta: Kencana, 2004), h.48
2. Harta yang diperoleh dengan keringat sendiri sebelum mereka menjadi suami istri
3. Harta yang dihasilakn bersama suami istri selama berlangsungnya perkawinan
4. Harta yang didapat oleh pengantin pada waktu pernikahan dilaksanakan, harta ini menjadi milik suami istri selama perkawinan.7
Secara yuridis formal ketentuan tentang harta bersama sudah diatur dalam pasal 35 ayat 1 undang-undang nomor satu tahun 1974 tentang perkawinan, dimana dijelaskan bahwa harta bersama adalah harta yang diperoleh selama istri diikat dalam suatu perkawinan. Dalam praktik pengadilan, ketentuan tersebut tidaklah mudah dan sesederhana sebagaimana bunyi pasal tersebut, terdapat beberapa hal yang sejalan dengan perkembangan hukum dan kondisi sosial yang berubah dalam masyarakat sesuai dengan perkembangan kemajuan zaman. Perubahan dalam kehidupan masyarakat terjadi dalam berbagai bentuk, baik dalam bidang komunikasi, informasi dan hal-hal yang menyangkut ekonomi. Yang kesemuanya itu sangat mempengaruhi tentang perolehan harta bersama dan juga pembagian apabila terjadi sengketa di pengadilan. Dalam hal ini sangat di perlukan keterampilan dan kejelian hakim dalam menganalisi masalah harta bersama ini dengan penerapan yang sesuai dengan prinsip keadilan yang sesuai dengan kemajuan zaman, tanpa mengorbankan ketentuan agama yang dianut.8
7 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdaata Islam Di Indonesia, h.106 8 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, h. 103-104
Adanya harta bersama dalam perkawinan tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami istri. Harta bersama tersebut dapat berupa benda bergerak maupun benda tidak bergerak, dan surat-surat berharga. Sedang yang tidak berwujud bisa berupa hak dan kewajiban. Keduanya dapat dijadikan jaminan oleh salah satu pihak atas persetujuan dari pihak lainnya. Suami istri, tanpa persetujuan dari salah satu pihak, tidak diperbolehkan menjual atau memindahkan harta bersama tersebut. Dalam hal ini, baik suami maupun istri, mempunyai pertanggungjawaban untuk menjaga harta bersama.9
Sita atau penyitaan sendiri mengandung pengertian tindakan penempatan harta kekayaan tergugat secara paksa berasa dalam penjagaan secara resmi berdasarkan perintah pengadilan atau hakim. Petapan penjagaan barang yang disita berlangsung selama proses pemeriksaan sampai adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan sah atau tidaknya tersebut.10 Dan dengan adanya penyitaan tersebut, maka tergugat kehilangan
wewenangnya untuk menguasai barangnya, sehingga tindakan-tindakan tergugat untuk mengalihkan barang-barang yang disita adalah perbuatan pidana dan melawan hukum (Pasal 231, 232 KUHP).11
Dilihat dari paparan latar belakang diatass yang menjelaskan secara singkat tentang permasalahan harta bersama, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian hukum yang berjudul “ SITA HARTA BERSAMA PADA
PERCERAIAN (ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NO. 2484 K/Pdt/2015/MA)
9 Tihami, dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h. 179
10 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006), h.282
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat di petik beberapa persoalan yang berhubungan dengan pembagian harta bersama.
a) Bagaimana undang-undangan perkawinan di Indonesia mengatur tentang pembagian harta bersama?
b) Bagaimana semestinya harta bersama di bagikan? c) Berapakah bagian yang harus diterima oleh suami? d) Berapakah bagian yang harus diterima oleh istri? e) Bagaimana sita harta dilakukan ?
f) Apakah sita harta yang diajukan sudah sesuai dengan perundang-undangan?
g) Apakah yang menjadi pertimbangan hakim dalam memutus perkara sita harta bersama dalam putusan no. 2484 K/Pdt/2015/MA)?
C. Pembatasan Masalah dan rumusan masalah 1. Pembatasan masalah
Dalam perkara putusan Mahkamah Agung No. 2484 K/Pdt/2015 terdapat beberapa masalah yang bisa diambil, namun penulis perlu membatasi masalah tersebut yaitu mengenai penyitaan harta bersama dalam perceraian.
2. Perumusan masalah
Agar penulisan ini berjalan secara sistematis, maka perlu di buat perumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pertimbangan hakim dalam memutus perkara sita harta bersama dalam putusan No. 2484 K/Pdt/2015/MA ?
2. Bagaimanakah putusan hakim mengenai bagian antara keduanya dalam putusan No. 2484 K/Pdt/2015/MA?
D. Tujuan dan manfaat penelitian 1) Tujuan penelitian
Berdasarkan pokok penelitian diatas, maka tujuan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut :
Mengetahui pertimbangan hakim dalam memutus perkara sita harta bersama dan ketentuan bagian antara keduanya dalam putusan No. 2484 K/Pdt/2015/MA.
2) Manfaat penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsi positif dan manfaat dalam segi akademik dan praktik, yaitu:
a. Secara Akademis
Dapat menjadi aspek pendukung dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan hukum keluarga, serta agar penelitian ini dapat menjadi bahan pendukung kepada seluruh kalangan akademisi, mahasiswa, maupun dosen.
b. Secara Praktis
Memberikan informasi yang berharga dalam menambah pengetahuan tentang pembagian harta setelah perceraian.
E. Tinjauan pustaka
Review atau kajian terdahulu ini akan memaparkan beberapa penelitian
yang sudah dilakukan, baik berupa skripsi, tesis, ataupun penelitian-penelitian lainnya yang pernah membahas atau berkaitan dengan :
1. Skripsi oleh M. Sapuan, Tahun 2009 Program Studi Al-Ahwal Asy-Syakhsiyyah, Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan judul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Sengketa Harta Bersama (Studi Terhadap Putusan Pengadilan Agama Yogyakarta Nomor 160/Pdt.G/20005/PA.Yk)” berisi tentang penelitian lapangan dipengadilan agama yogyakarta untuk mengetahui secara langsung bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap pertimbangan hakim dalam membuat putusan di pengadilan Agama Yogyakarta.
2. Skripsi oleh Hanna Abdullah, Tahun 2008 Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul “Kedudukan Harta Bersama Setelah Putus Perkawinan (Analisis Putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan)” berisi tentang pembagian harta bersama setelah terjadinya perceraian dibagi menurut hukumnya masing-masing, baik menurut hukum agama, atau adat suami dan istri. Kalau tidak ada maka diselesaian di depan pengadilan agama sesuai dengan undang-undang.
3. Skripsi oleh Intan Purnama Sari, Tahun 2013 Program Studi Ahwal Al-Syakhsiyah, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dengan judul “Kompetensi Atas Nafkah dalam Pembagian Harta Bersama (Studi Tentang Putusan di Peengadilam Agama Bandung Nomor 2049/Pdt.G/2011/PA.Bdg)” berisi tentang untuk mengetahui hukum acara yang dugunakan dalam persidangan dan untuk mengetahui dasar pertimbangan majelis hakim dalam memutuskan perkara nomor 2049/Pdt.G/2011/PA.Bdg tentang gugatan harta bersama.
4. Skripsi oleh Wardhatul Jannah, Tahun 2014 Program Studi Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul “Permohonan Sita Marital (Marital Beslag) Terhadap Harta Bersama di Luar Gugatan Perceraian (Analisis Putusan Nomor 549/Pdt.G/2007/PA.JP)” berisi tentang ketentuan yang berhubungan dengan putusan hakim dalam mengabulkan gugatan harta bersama di luar gugatan perceraian.
5. Skripsi oleh Ivan, Tahun 2017 Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Sayriah dan Hukum UIN Sayrif Hidayatullah Jakarta, dengan judul “Penyelesaian Sengketa Harta Bersama Dalam Perceraian (Analisis Terhadap Putusan Pengadilan Tinggi Agama Jakarta Perkara No. 42/Pdt.G/2015/PTA.JK), berisi tentang ketetapan hakim mengenai pembagian harta bersama antara suami dan isteri dalam putusan Nomor 42/Pdt.G/2015/PTA.Jk, dalam tinjauan hukum positif, dan tinjauan fiqih mengenai putusan tersebut.
6. Skripsi oleh Sefrianes M Dumbela, Tahun 2015 Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Syakhshiyyah) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan judul “Penyelesaian Harta Bersama Dalam Perceraian (Analisis Terhadap Putusan Pengadilan Tinggi Agama Jakarta Perkara No. 126/Pdt.G/2013/PTA.JK), berisi tentang penetapan hakim atas 1/3 bagian untuk suami dan 2/3 bagian untuk istri dari harta bersama dalam putusan Nomor 126/Pdt.G/2013/PTA.JK, tinjauan hukum positif dan tinjauan terhadap putusan tersebut.
Berdasarkan pemaparan diatas, skripsi yang akan penulis bahas berbeda dengan skripsi-sripsi terdahulu, skripsi sebelumnya hanya berisikan tentang gugatan harta bersama yang bersamaan dengan gugatan perceraian, dan juga membahas tentang nafkah anak setelah terjadi perceraian pada pengadilan tingkat pertama. Sedangkan skripsi penulis fokus pada sita harta bersama dalam perceraian, pertimbangan hakim, dan putusan pembagian harta bersama antara mantan suami dan mantan istri dalam putusan kasasi Mahkamah Agung. Untuk itu penulis akan menuliskan tentang SITA HARTA BERSAMA PADA
PERCERAIAN (ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NO.2484 K/Pdt/2015MA).
F. Metodologi penelitian
Penelitian merupan sarana yang dipergunakan oleh manusia untuk memperkuat, membina serta mengembangkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang merupakan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, pengetahuan yang mana senantiasa dapat diperiksa dan di telaah secara kritis, dan akan berkembang terus atas dasar penelitian-penelitian yang dilakukan oleh pengasuh-pengasuhnya.12
Apabila seorang peneliti akan melakukan kegiatan-kegiatan penelitian, maka sebelumnya dia perlu memahami metode dan sistematika penelitian. Maka tanpa metode atau metodologi, seorang peneliti tak akan mampu untuk menemukan, merumuskan, menganalisa, maupun memecahkan masalah-masalah tertentu, untuk mengungkapkan kebenaran. Dan memang
12 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1986, cet. Ke-3. Ed. Revisi), h. 3
metodologi timbul dari karakteristik-karakteristik tertentu dari masalah-masalah yang khusus.13
1. Jenis dan pendekatan penelitian
Jenis penelitian yang digunakan untuk menyusun penelitian ini adalah penelitian kualitatif, artinya data yang dikumpulkan berupa kata-kata, hasil pengamatan, dan bukan angka-angka. Dimana disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif.
Sedangkan metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan yuridis normative (legal research) yaitu dengan kajian perundang-undangan. Pendekatan ini dilakukan dengan pengkajian peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini.
2. Sumber dan teknik pengumpulan data
Ada dua sumber data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini, antara lain :
a. Sumber data primer, rujukan putusan Mahkamah Agung RI.
b. Sumber data sekunder, yaitu berupa literature-literatur hukum yang terkait dengan objek penelitian. Baik berupa buku, jurnal, Koran, artikel, ensiklopedi, dan situs-situs internet yang dapat dipertanggung jawabkan yang tentunya memiliki keterkaitan dengan masalah skripsi.
3. Teknis analisis data
Dari seluruh data yang didapatkan, penulis mengolah data dengan ,mengklarifikasi seluruh data ke dalam beberapa kategori tertentu berdasarkan permasalahan yang dirumuskan dengan deduktif. Dari data tersebut selanjutnya akan dianalisis secara kualitatif.
4. Teknik penulisan skripsi ini telah berdasarkan pada buku “Pedoman
Penulisan Skripsi” yang dikeluarkan oleh Fakultas Syariah dan Hukum,
Universitas Islam Negeri Syarif HIdayatullah Jakarta, 2012.
G. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan dalam memahami skripsi ini, penulis membagi pembahasan dalam lima bab, yaitu :
Bab Pertama Pendahuluan yang mencakup latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penilitian, review studi terdahulu, metodologi penelitian, metode analisis, dan sistematika penulisan.
Bab Kedua Tinjauan umum tentang harta bersama dan sita harta Bab Ketiga Kronologi hukum putusan Mahkamah Agung No 2484 K/PDT/2015 tentang sita
Bab Keempat Analisis putusan Mahkamah Agung tentang sita harta bersama pada perceraian yang mencakup duduk perkara, pertimbangan hakim, analisa putusan, dan analisis penulis. Sedangakan bab terahir adalah penutup yang mencakup kesimpulan dan saran.
13 BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG HARTA BERSAMA DAN SITA HARTA A. HARTA BERSAMA
1. Pengertian Harta Bersama
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terdapat mengenai pengertian harta bersama yakni ialah harta yang diperoleh secara bersamaan di dalam perkawinan.14 Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang diatur dalam Pasal 35 Ayat (1) bahwa harta bersama adalah harta yang diperoleh selama istri diikat dalam suatu perkawinan.15 Ayat (2) harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masingsebagai hadiah atau warisan, adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.
Jadi pengertian harta bersama adalah harta kekayaan yang diperoleh selama perkawinan di luar hadiah atau warisan. Maksudnya harta yang didapat atas usaha mereka, atau sendiri-sendiri selama masa ikatan perkawinan. Dalam istilah fikih muamalat dapat dikategorikan sebagai
syirkah atau join antara suami dan istri.16
Di dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada Pasal 1 Huruf f dirumuskan sebagai berikut : “Harta kekayaan dalam perkawinan atau syirkah adalah harta yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersama
14 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), h. 299
15 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, h.113
suami isteri dalam ikatan perkawinan berlangsung dan selanjutnya disebut harta bersama, tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapapun”.
Menurut KUH Perdata Pasal 119 tentang harta bersama, harta bersama itu diperoleh sejak saat dilangsungkannya perkawinan, maka menurut hukum yang terjadi harta bersama menyeluruh antara suami dan interi, sejauh tentang hal itu tidak diadakan ketentuan-ketentuan lain dalam perjanjian perkawinan.
Dalam beberapa penjelasan diatas, dapat diketahui bahwa harta bersama yang dimaksud dalam KHI lebih memberikan kesempatan yang luas terhadap pengertian harta yang menjadi harta bersama dalam perkawinan, karena tidak harus harta itu dari hasil kerja suami atau hasil usaha bersama tetapi hasil usaha isteri juga melebur menjadi harta bersama asalkan selama perkawinan masih berlangsung.17
Menurut Sayuti Thalib, harta bersama adalah harta kekayaan yang diperoleh selama perkawinan diluar hadiah dan warisan. Dengan kata lain harta bersama itu adalah harta yang didapat atas usaha mereka (suami dan isteri) selama sama ikatan perkawinan.18
Harta bersama merupakan salah satu macam dari sekian banyak harta yang dimiliki seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari harta mempunyai arti penting bagi seseorang karena dengan memiliki harta dapat memenuhi kebutuhan hidup secara wajar dan memperoleh status sosial yang baik
17 Hilam Hadi Kusumo, Hukum Perkawinan Adat, (Bandung: Aditya Bakti, 1999), h.156 18 Sayuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, (Jakarta: UI Press, 1986), Cet 5, h. 89
dalam masyarakat. Namun harta bersama tersebut akan menjadi harta yang tidak lagi dapat disebut harta bersama ketika telah terjadi cerai mati atau perceraian yang mana di daerah Jawa umumnya di sebut dengan harta
gono-gini.19
Dijelaskan juga harta gono-gini dalam ensiklopedia hukum Islam adalah harta bersama milik suami dan isteri yang mereka peroleh selama masa perkawinan. Dalam masyarakat Indonesia pada setiap daerah mempunyai sebutan yang berbeda untuk menyebut harta pasca berahirnya perkawinan, seperti di Aceh disebut Hareuta Seuhareukat, di Minangkabau di sebut harta Suaran, di daerah Sunda disebut guna Kaya atau Tumpang Kaya, di Madura disebut ghuna Ghana dan masih banyak terdapat penamaan lain dari harta bersama tersebut.20 Mungkin juga dasar pemikiran pembagian gono-gini di Jawa Tengah dengan rumus “sepikul
segendong” adalah dengan menganggap saham istri hanya sepertiga
dibandingkan dengan saham suami yang dua pertiga, walaupun dasar pemikiran ini tidak disebut dalam putusan-putusan pengadilan. Para hakim waktu itu hanya menerima rumus “sepikul segendong” sebagai aturan hukum adat.21
Hukum Islam hanya mengenal dengan sebutan Syirkah.22 Harta
bersama dalam perkawinan termasuk syirka abdan mufawwadah,
19 H.M.A Tihami dan Sohari Sahrani, Fikih Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), Cet 1, h. 179.
20 Ahmad Rofiq, Hukum Perdata Islam di Indonesia, h. 169.
21 Bustanul Arifin, Pelembagaan Hukum Islam di Indonesia: Akar Sejarah, Hambatan, dan
Prospeknya, (Jakarta: Gema Insani Pers, 1996), h. 122-123
22 Syirkah adalah percampuran. Menurut ulama’ fikih syirkah adalah akad kerjasama antara dua orang yang bersekutu dalam modal dan keuntungan. Lihat, Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah Jilid 5, (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2009), h. 403.
dikatakan syirkah abdan karena suami istri secara bersama-sama bekerja membanting tulang dalam mencari nafkah sehari-hari. dikatakan syirkah
mufawwadah karena perkongsian antara suami istri itu tidak terbatas.23
Dalam hal harta bersama suami istri hukum Islam juga paling sederhana pengaturannya, tidak rumit dan mudah untuk dipraktekan. Hukum islam tidak mengenal adanya percampuran harta milik suami dengan harta milik isteri, masing-masing pihak bebas mengatur hartanya dan tidak diperkenankan adanya campur tangan salah satu pihak dalam pengaturanya. Ikut campurnya salah satu pihak hanya bersifat nasihat saja, bukan penentu dalam pengelolahan harta milik pribadi suami atau isteri tersebut. Meskipun hukum Islam tidak mengenal adanya percampuran harta pribadi masing-masing ke dalam harta bersama suami isteri, tetapi dianjurkan adanya saling pengertian antara suami isteri dalam mengelola kekayaan pribadi ini, dapat merusak hubungan suami isteri yang menjurus kepada perceraian, dan apabila dikhawatirkan akan timbul hal-hal yang tidak diharapkan, maka hukum Islam memperbolehkan diadakan perjanjian perkawinan sebelum pernikahan dilaksanakan.24
Tentang harta bersama ini, suami atau istri dapat bertindak untuk membuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu atas harta bersana tersebut melalui persetujuan kedua belah pidah. Semua harta yang diperoleh suami istri selama dalam ikatan perkawinan menjadi harta bersama baik harta tersebut diperoleh secara tersendiri maupun diperoleh secara
23 Zainuddun Ali, Hukum Perdata Islam Indonesia, (Jakarta: sinar Grafika, 2006), h. 154.
24 Moh. Ali Wafa, Hukum Perkawinan Di Indonesia Sebuah Kajian Dalam Hukum Islam dan Hukum
sama. Demikian juga harta yang dibeli selama ikatan perkawinan berlangsung adalah menjadi harta bersama, tidak menjadi suatu permasalahan apakah istri atau suami yang membeli, tidak menjadi masalah juga apakah istri atau suami mengetahui pada saat pembelian itu atau atas nama siapa harta itu harus didaftarkan.25
2. Dasar Hukum Harta Bersama
Pada dasarnya tidak ada percampuran harta kekayaan dalam perkawinan antara suami dan istri. Konsep harta bersama pada awalnya berasal dari adat-istiadat atau tradisi yang berkembang di Indonesia. Konsep ini kemudian di dukung oleh hukum Islam dan Positif yang berlaku di negara kita.26
Hukum harta bersama sering kali kurang mendapat perhatian yang saksama dari para ahli hukum, terutama para praktisi hukum yang semestinya harus memerhatikan hal ini secara serius, karena masalah harta bersama merupakan masalah yang sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan suami istri apabila ia bercerai. Secara yuridis formal, ketentuan tentang harta bersama sudah diatur dalam Pasal 35 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dimana dijelasakan bahwa harta bersama adalah harta yang diperoleh selama istri diikat dalam suatu perikatan perkawinan.27
Dasar hukum yang berkaitan tentang harta bersama dapat ditelusuri melalui kitab undang-undang dan beberapa peraturan berikut. Harta
25 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, h. 109.
26 Happy Susanto, Pembagian Harta Gono-Gini Setelah Terjadinya Perceraian, (Jakarta: Visimedia, 2003), h.8.
bersama dalam peraturan perundang-undangan dalam pasal 119 KUH Perdata dikemukakan bahwa mulai saat perkawinan dilangsungkan, secara hukum berlakulah kesatuan bulat antara harta kekayaan suami istri, sekedar mengenai itu dengan perjanjian kawin tidak diadakan dengan ketentuan ini lain. Persatuan harta kekayaan itu sepanjang perkawinan dilaksanakan dan tidak boleh ditiadakan atau diubah dengan suatu persetujuan antara suami dan istri apa pun. Jika bermaksud mengadakan penyimpangan dari ketentuan itu, suami istri harus menempuh jalan dengan perjanjian kawin yang diatur dalam Pasal 139-154 KUH Perdata. Kemudaian dalam pasal 128-129 KUH Perdata, dinyatakan bahwa apabila putusnya tali perkawinan antara suami istri, maka harta bersama itu dibagi dua antara suami istri tanpa memerhatikan dari pihak mana barang-barang kekayaan itu sebelumnya diperoleh.
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 35-37 dikemukakan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Dinyatakan pula bahwa suami atau istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bersama tersebut apabila perkawinan putus karena perceraian, maka harta bersama tersebut diatur menurut hukum masing-masing. Sebenarnya apa yang disebut dalam pasal 35-37 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana tersebut di atas itu adalah sejalan dengan ketentuan tentang hukum adat yang berlaku di Indonesia.28
Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 85 juga disebutkan bahwa “Adanya harta bersama di dalam perkawinan itu tidak menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami istri”. Dalam hukum Islam pun mengakui adanya harta yang merupakan hak milik bagi setiap orang, baik mengenai pengutusan dan penggunaannya maupun untuk melakukan perbuatan-perbuatan hukum atas harta tersebut. Disamping itu juga diberi kemungkinan adanya suatu serikat kerja antara suami istri dalam mencari harta kekayaan. Oleh karenanya apabila terjadu perceraian antara suami istri, harta kekayaan tersebut dibagi menurut hukum Islam dengan kaidah hukum “Tidak ada kemudharatan dan tidak boleh memudharatkan”. Dari kaidah hukum ini jalam terbaik untuk menyelesaikan harta besama adalah dengan membagi harta tersebut secara adil.29
Diketahu dalam kitab-kitab fikih imam madzhab, hanya ditemui pembahasan bahwa masing-masing harta suami dan istri itu terpisah tidak ada penggabungan harta setelah pernikahan terjadi, karna suami hanya berkewajiban memberi nafkah kepada istri. Dasar hukumnya di jelaskan dalam Al Qur’an surah An-Nisa’ (4) ayat 32 yaitu :
Jika dilihat dari sisi teknisnya kepemilikan harta secara bersama antara suami istri dalam kehidupan perkawinan dapat disamakan dengan bentuk kerja sama, atau dakam istilah fikih muamalah dapat dikategorikan
29 Bahder Johan Nasution dan Sri Warjiati, Hukum Perdata Islam, (Surabaya: Mandar Maju, 1997), h. 34
sebagai syirkah, yaitu akad antara dua pihak yang saling berserikat dalam hal modal dan keuntungan.30
3. Terbentuknya Harta Bersama
Harta bersama terbentuk bersamaan dengan terjadinya perkawinan kecuali para pihak menentukan lain dalam perjanjian kawin berupa pemisahan harta. Hal ini tercermin dalam pasal 35 Undang-Undang Perkawinan yang menegaskan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.31
Menurut Sayuti Thalib, terjadinya harta bersama sama dengan saat terjadinya syirkah. Adapaun terjadinya harta bersama dapat melalui cara-cara berikut:
a. Dengan cara mengadakan perjanjian syirkah secara tertulis atau diucapkan sebelum atau sesudah berlangsungya akad nikah.
b. Dengan ditentukan oleh Undang-Undang atau peraturan perundang-undangan lain bahwa harta yang dimaksud adalah harta bersama suami isteri.
c. Berjalan dengan sendirinya, artinya syirkah terjadi dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari suami dan isteri.32
Pengaturan tentang terbentuknya kekayaan bersama juga dijelaskan dalam pasal 93 kompilasi hukum islam:
a. Harta bersama sebagaimana tersebut dalam pasal 85 dapat berupa benda berwujud atau tidak berwujud.
30 Sayid Sabiq, Fiqh as-Sunnah, Jilid III, (Beirut: Dar al Fikr, 1983), h. 294
31 M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama, Undang-Undang No.
7 Tahun 1989, h. 299
b. Harta bersama yang berwujud dapat meliputi benda tidak bergerak, benda bergerak, dan surat-surat berharga.
c. Harta bersama yang tidak berwujud dapat berupa hak maupun kewajiban.
d. Harta bersama dapat dijadikan sebagai barang jaminan oleh salah satu pihak atas persetujuan pihak lainnya.33
Menurut M. Yahya Harahap jika ditinjau historis terbentuknya harta bersama, telah terjadi perkembangan hukum adat terhadap harta bersama didasarkan pada syarat ikut serta istri secara aktif dalam membantu pekerjaaan suami. Jika istri tidak ikut secara fisik dan membantu suami dalam mencari harta benda, maka hukum adat lama menganggap tidak pernah terbentuk harta bersama dalam perkawinan.34
4. Macam-Macam Harta Bersama
Dalam pasal 35 UU No. 1 Tahun 1974, hukum mengenal dua jenis harta dalam perkawinan:
1. Harta yang diperoleh dalam perkawinan menjadi “harta bersama” 2. Harta bawaan masing-masing suami istri dan harta yang diperoleh
masing-masing sebagai hadia atau warisan yang disebut dengan “harta pribadi” yang sepenuhnya berasa dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.35
Dan dalam pasal 36 Undang-undang perkawinan No. 1 Tahun 1974 juga di jelaskan sebagai berikut :
33 Ahmad Rofiq, Hukum Perdata Islam di Indonesia, h. 164
34 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006), h. 107
1. Mengenai harta bersama suami istri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.
2. Mengenai harta bawaan masing-masing, suami istri mempunyai hak sepenuhnya untuk melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.
Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 85 sampai dengan 97 disebutkan bahwa harta perkawinan dapat dibagi atas:
1. Harta bawaan suami, yaitu harta yang dibawa suami sejak sebelum perkawinan.
2. Harta bawaan istri, yaitu harta yang dibawanya sejak sebelum perkawinan.
3. Harta bersama suami istri, yaitu harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama suami istri.
4. Harta hasil dari hadiah, hibah, waris, dan sadaqah suami, yaitu harta yang diperolehnya sebagai hadiah atau warisan.
B. SITA
1. Pengertian Sita
Sebelum kemerdekaan negara Republik Indonesia, sita dan penyitaan diatur dalam R.O (Reglement op de Rechtterlijke Organisatie
en hed belied Justitie in Indonesia) Stb. 1847 Nomor 23 jo Stb. 1848
Nomor 57. Dalam peraturan ini dikemukakan bahwa sita dan penyitaan yang dilakukan oleh pengadilan Negeri dilaksanakan oleh Juru Sita dab Juru Sita pengganti, mereka inilah pejabat Umum (Openbaar
wilayah hukum di mana Pengadilan Negeri itu berada. Mereka juga diwajibkan mengangkat sumpah sebelum melaksanakan tugasnya. Dalam peraturan ini dikemukakan juga bahwa sita dan penyitaan itu telah diberlakukan dalam berbagai tingkat pengadilan di dalam wilayah hukum yang telah ditetapkan.36
Sita atau penyitaan (beslag) mengandung pengertian tindakan penempatan harta kekayaan tergugat secara paksa berada dalam penjagaan secara resmi berdasarkan perinta pengadilan atau hakim. Penetapan dan penjagaan barang yang disita berlangsung selama proses pemeriksaan sampai adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan sah atau tidaknya penyitaan tersebut.37
Dengan adanya penyitaan tersebut, maka tergugat kehilangan wewenangnya untuk menguasau barangnya, sehingga tindakan-tindakan tergugat untuk mengalihkan baran-barang yang disita adalah perbuatan pidana dan melawan hukum (Pasal. 231, 232 KUHP).38
2. Macam-Macam Sita
Ada beberapa macam sita yang dikenal di dalam lingkungan Peradilan Umum, yaitu:
1. Sita Revindikasi (Revindicatoir-Beslag)
Sita yang dilakukan oleh pengadilan terhadap benda bergerak (al
manqul atau onroerende-goederen) milik sendiri yang berada di tangan
36 Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Agama, (Jakarta: Kencana, 2005), Edisi 2, h. 97
37 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, (Jakarata: Sinar Grafika, 2006), h. 282.
orang lain, atau terhadap benda milik sendiri yang telah dijual tetapi belum bayar harganya oleh pembeli, disebut sita revindicatoir.39
Untuk pengajuan sita ini tidak di syaratkan adanya indicator bahwa tergugat akan menggelapkan atau akan memindatangankan barang yang dikuasainya tersebut.40 Revindicatoir-beslag hanya boleh dilakukan atas barang bergerak milik penggugat yang dikuiasai tergugat. Hal ini bertujuan untuk menghindari jatuhnya barang tersebut ke tangan pihak tergugat, yakni untuk menghidari asas besit geld als
volkomen title, arinya penguasaan atas benda bergerak dianggap
sebagai bukti kepemilikan yang sempurna atas barang itu.
Ciri-ciri dari sita revindikasi tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) sita revindikasi dilaksanakan atas permintaan penggugat terhadap barang milik penggugat yang saat ini dikuasai oleh tergugat, (2) penyitaan tersebut dilaksanakan atas benda yang dikuasai oleh tergugat secara tidak sah atau melawan hukum atau juga tergugat tidak berhak atasnya, (3) objek sita revindikasi ini hanya terbatas pada benda bergerak saja dan tidak mungkin dikabulkan terhadap benda tidak bergerak sekalipun dalil gugatan berdasarkan hak milik41
Amar putusan untuk revindicatoir-beslag yakni jika gugatan tentang pokok perkara dikabulkan, maka dalam amar putusan harus dinyatakan sita itu sah dan berharga, dan memerintahkan kepada
39 Drs. H. Roihan A. Rasyid, S.H., Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: Rajawali, 1991), Cet. 1, hal. 210
40 M. Anshary, Hukum Acara Perdata Pengadilan Agama dan Mahkamah Syar’iyah, (Bandung: CV. Mandar Maju, 2017), h. 75
tergugat untuk menyerahkan barang sitaan tersebut kepada penggugat. Tapi jika gugatan tentang pokok perkara di tolak, maka dalam amar putusannya harus dicantumkan “perintah pensitaan untuk dicabut”. Hal ini karena permohonan sita itu bersifat accessoir yakni menempel kepada pokok perkara.42
2. Sita Harta Bersama (Marital-Beslag)
Sita marital tidak didapat di dalam HIR atau RBg melainkan hanya dijumpai di dalam BW (Burgerlijke Wetboek) dan Rsv (Reglement op
de Burgerlijke Rechtsvordering), tetapi ia terpakai di lingkungan
Peradilan Agama Umum sekarang.
Marital-Beslag adalah persitaan terhadap harta bersama suami istri
dalam perkara perceraian atau perkara sengketa harta bersama.43 Tujuan penyitaan adalah untuk membekukan harta bersama suami-istri agar tidak berpindah tangan kepada pihak ketiga, selama proses perkara peceraian atau perkara pembagian harta bersama berlangsung. secara yuridis, selama proses persidangan berlangsung dan perkara belum incracht van gewijsde, baik suami maupun istri dilarang memindah tangankan harta bersamanya.44
Menurut Sudikno, sita marital ini lebih tepat di sebut sita matrimonial, lantaran di Negeri Belanda sendiri kenyataannya bukan hanya isteri yang berhak mengajukannya tetapi juga suami. Penulis
42 M. Anshary, Hukum Acara Perdata Pengadilan Agama dan Mahkamah Syar’iyah, h. 76-77 43 Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, h. 367
setuju dengan pendapat beliau ini, terutama untuk Peradilan Agama, dengan alasan:
a. Menurut UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan bahwa suami maupun isteri sama-sama cakap bertindak hukum seperti juga dalan ajaran Islam.
b. Menurut UU tersebut, segala harta benda yang didapat dalam perkawinan dianggap harta bersama kecuali ada ditentukan lain. c. Adalah suatu kenyataan, bukan sedikit harta benda yang
didapatkan suami dalam masa perkawinan yang diatas namakan isterinya, baik untuk pengamanan maupun karena sebab-sebab lainnya.
d. Banyak kasus yang didapat dimana yang justru sering menggelapkan harta bersama adalah isteri
3. Sita jaminan (Conservatoir-Beslag)
Sita jaminan atau conservatoir-beslag adalah sita yang dilakukan oleh pengadilan atas permohonan dari pihak penggugat atas milik orang lain (yakni milik tergugat) agar hak penggugat terjamin akan dipenuhi oleh tergugat setelah penggugat di putus menang dalam perkaranya nanti.
Ciri-ciri dari sita jaminan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) sita jaminan diletakkan atas harta yang disengketakan status pemiliknya atau terhadap harta kekayaan tergugat dalam sengketa utang piutang atau juga dalam sengketa dan tuntutan ganti rugi, (2) objek sita jaminan itu bisa meliputi barang yang bergerak atau tidak bergerak,
dapat juga dilaksanakan terhadap yang berwujud dan tidak berwujud atau lichammelyk en onlichammelyk, (3) pembatasan sita jaminan bisa hanya pada barang-barang tertentu jika gugatan didalilkan berdasarkan sengketa hak milik atas barang yang tertentu atau bisa meliputi seluruh harta kekayaan tergugat sampai mencakup jumlah seluruh tagihan apabila gugatan didasarkan atas utang piutang atau tuntutan ganti rugi, (4) tujuan sita jaminan dimaksudkan untuk menjamin gugatan penggugat tidak illusoir (hampa) pada saat putusan nanti memperoleh kekuatan hukum yang tetap dan tetap terjamin keutuhannya sampai tiba saatnya putusan itu dieksekusi.45
Permohonan sita jaminan harus adanya dugaan beralasan bahwa pihak tergugat akan menggelapkan atau melepaskan barangnya sehingga nantinya tidak mampu membayar menurut yang diputuskan oleh pengadilan, sehingga putusan itu hanya sia-sia. Oleh karena itulah, sebelum permohonan conservatoir-beslag dikabukan, harus dipertimbangkan dulu oleh hakim apakah dapat dikabulkan atau tidak. Putusan hakim di situ akan berupa putusan sela. Jika permohonan sita dikabulkan maka perintah penyitaan tidak boleh oleh hakim ketua majelis tetapi mesti oleh ketua pengadilan.
4. Sita Eksekusi (Eksecutorial-Beslag)
Sita eksekusi adalah sita yang dilakukan pengadilan terhadap harta benda tergugat atas permintaan penggugat untuk pembayaran sejumlah uang.
Sita eksekusi lazimnya dilaksanakan dalam perkara yang amar putusannya mengenai pembayaran sejumlah uang , dimana tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan secara suka rela, sedangkan putusan tersebut telah incracht van gewijsde. Dan amar putusannya bersifat Condemnatoir (menghukum).
Pensitaan ini dimulai dari barang-barang bergerak milik tergugat, kemudian barang tidak bergerak, bila barang bergerak tidak mencukupi (Pasal 197 HIR/ 208 RBg). Bila hal itu tidak pula mencukupi, maka disita barang bergerak milik tergugat yang berada di tangan orang lain. Dapat pula disita surat berharga , uang tunai milik tergugat.46
3. Tata Cara Sita
Penyitaan dalam pengadilan agama dilaksanakan oleh juru sita yang diperintahkan oleh Ketua Pengadilan Agama. Secara garis besar, tata cara penyitaan dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Sita hanya dapat dilaksanakan atas dasar penetapan pengadilan. 2. Penyitaan dilakukan oleh juru sita atau panitera berdasarkan surat
tugas yang ditunjuk dalam surat penetapan berdasarkan surat perintah dari Ketua Pengadilan Agama.
3. Ketidak hadiran tersita tidak menghalangi sita eksekusi.
4. Pemberitahuan penyitaan secara formal harus sudah diberitahukan kepada termohon sita tergugat
5. Pelaksanaan sita disebutkan dalam berita acara penyitaan.
6. Pendaftaran sita yaitu berita acara penyitaan didaftarkan dan diumumkan dikantor pendafataran yang berwenang.
7. Menetapkan barang sitaan di tempat semula dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Penjagaan sita benda bergerak/tidak bergerak diserahkan kepada tergugat/termohon sita.
b. Tidak boleh menyerahkan penjagaan dan penguasaan kepada pemohon sita (penggugat) atau kepada pihak ketiga atau kepada desa.
c. Termohon sita berhak memakai, menikmati, dan menjalankan kegiatan usaha yang melekat pada barang sita, kecuali barang sita dapat mejadi habis dalam pemakaian.47
47 Zulkarnaen, dan Dewi Mayanigsih, Hukum Acara Peradilan Agama Di Indonesia, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), h. 326-328
30 BAB III
KRONOLOGI HUKUM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NO. 2484 K/PDT/2015 TENTANG SITA
Sita harta bersama atau Marital Beslag merupakan salah satu bentuk dari sita jaminan yang bersifat khusus, sita marital ini hanya dapat ditetapkan terhadap harta perkawinan, yakni harta bersama apabila diantara suami dan istri terjadi perceraian.
Arti sita harta bersama (marital beslag) ialah sita yang dilakukan atas harta bersama suati istri yang berada ditangan suami maupun yang berada di tangan istri apabila terjadi sengketa perceraian, sita marital tidak boleh dijalankan secara partia (sebagian-sebagian). Untuk menjamin keutuhan harta bersama selama perkara perceraian masih dalam pemeriksaan Pengadilan Agama, maka para pihak yang berperkara tersebut berhak untuk mengajukan Permohonan Sita atau dalam lingkungan Pengadilan Agama. Adapun tujuan dari sita marital adalah untuk menjamin agar harta perkawinan tersebut tetap utuh dan terpelihara sampai perkara mendapatkan putusan yang berkekuatan hukum tetap.48
Sita marital tidak terdapat dalam HIR atau RBg melainkan hanya dijumpai di dalam BW (Burgerlijk Wetboek) dan Rsv (Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering), akan tetapi sita marital ini berlaku di lingkungan Peradilan Umum sekarang ini.49
Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) mengatur hal yang berkaitan dengan sita marital, yaitu pada pasal 95 Ayat (1) dan Ayat (2) yang menyatakan bahwa:
48 Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama, h. 41 49 Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003, Cet. Ke 2), h. 208
1) Dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 24 ayat (2) Huruf (c), Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dan Pasal 136 Ayat (2), suami atau istri dapat meminta Pengadilan Agama untuk meletakkan sita jaminan atas harta bersama tanpa adanya permohonan gugatan cerai, apabila salah satu melakukan perbuatan yang merugikan dan membahayakan harta bersama seperti judi, mabuk boros dan sebagainnya.
2) Dalam pasal 136 ayat (2) Huruf (b) Kompilasi Hukum Islam juga mengatur mengenai sita marital, bahwa : selama berlangsungnya gugagtan perceraian, atas permohonan penggugat dan tergugat Pengadilan Agama dapat menentukan hal-hal yang perlu menjamin terpeliharanya barang0barang yang menjadi hak istri.
Pada dasarnya persoalan sita harta besama diberlakukan apabila terjadi perkara antara suami dan istri. Secara hukum perkara yang mungkin timbul diantara suami dan istri yang erat kaitannya dengan harta bersama bukan hanya pada perceraian tetapi juga pada perkara pembagian harta bersama. Seperti seorang suami mengajukan gugatan perceraian tanpa dibarengi tuntutan pembagian harta bersama. Terhadap gugatan itu, istri selaku tergugat tidak mengajukan gugatan rekonvensi, menuntut pembagian harta bersama, selanjutnya gugatan perceraian dikabulkan. Dalam keadaan seperti itu apabila mantan suami atau istri ingin membagi harta bersama hanya dapat dilakukan melalui gugatan tentang pembagian harta bersama. Dan dalam menjamin keutuhan dan keselamatan harta bersama selama proses perkara berlangsung, hanya dengan cara meletakkkan proses sita marital diatasnya. Hal ini jika ditinjau dari segi penjaminan keberadaan harta bersama dalam pembagian harta bersama, sangat urgen meletakkan sita marital selama proses
pemeriksaan berlangsung. Oleh karena itu sangat relevan menerapkan sita marital dalam perkara pembagian harta bersama tersebut.
Terkait dengan pemeliharaan harta bersama untuk menjaga keutuhannya dalam kasus sita marital harus diartikan meliputi seluruh harta bersama. Tidak boleh diartikan hanya untuk sebagian atau harta tertentu saja, jadi sita marital diletakkan meliputi seluruh harta bersama yang dimiliki oleh kedua belah pihak yang berperkara.50
Adapun yang dapat menjadi alasan untuk mengajukan sita marital adalah sama dengan alasan pengajuan sita jaminan yang mana hal tersebut diatur dalam Pasal 227 Jo Pasal 197 HIR atau Pasal 261 Jo Pasal 206 Rbg. Alasan-alasan yang dimaksudkan adalah bahwa adanya persangkaan yang beralasan bahwa tergugat akan menggelapkan barang-barang sehingga hal itu akan merugikan penggugat.51
Tujuan dari sita matital (sita harta bersama) berbeda dengan tujuan sita yang lain, bukan untuk menjamin tagihan pembayaran kepada penggugat, juga buka untuk menuntut penyerahan hak milik, akan tetapi tujuan sita marital itu sendiri antara lain untuk membekukan harta bersama suami istri melalui penyitaan, agar tidak berpindah kepada pihak ketiga selama proses perceraian/pembagian harta bersama berlangsung. Sedangkan fungsi dari dimohonkannya sita marital adalah untuk melindungi hak pemohon sita marital dengan penyimpan atau membekukan barang yang disita agar jangan sampai jatuh di tangan pihak ketiga.52
Kemudian apabila sita harta bersama (marital beslag) mempunyai kekuatan hukum mengikat, diatur dalam pasal 199 Ayat 1 HIR atau pasal 214 Ayat 1 RBg,
50 M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama, h. 284
51 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata: Permasalahan dan Penerapan Conservatoir Beslag
(Sita Jaminan), h. 36
yaitu terhitung dari jam dan hari berita acara sita diumumkan, dan sejak saat itu dalam sita jaminan telah terkandung unsur akibat hukum. Yang mana bentuk dari akibat hukumnya ialah berwujud “batal demi hukum”, yaitu “larangan” berupa:
1. Memindahkan kepada pihak ketiga dengan kata lain dilarang untuk menjual, mengibahkan, atau menukar barang yang menjadi sita marital. 2. Dilarang untuk membebankannya kepada pihak ketiga yakni dalam bentuk
agunan, hipotik, gadai, dan sewa.53
Menurut M. Yahya Harahap mengenai tata cara pelaksanaan sita marital sama dengan tata cara pelaksanaan sita eksekusi (Eksekutorial Beslag) dengan demikian tata cara pelaksanaan Conservatoir Beslag dengan Sita Eksekusi diatur dalam pasal 197 Ayat 2 sampai Ayat 6 HIR atau Pasal 209 RBg.
Menurut perbedaan pendapat dikalangan ulama dan melihat praktek harta gono-gini dalam masyarakat indonesia bahwa harta gono-gini termasuk dalam
syirkah abdan, dikatakan syirkah abdan karena dalam kenyataannya sebagian besar
suami istri dalam masyarakat Indonesia sama-sama bekerja membanting tulang berusaha untuk mendapatkan nafkah hidup keluarga sehari-hari atau jika memang hanya suami yang bekerja sedangkan istri sebagai ibu rumah tangga tetap istri memiliki peranan besar dalam menjaga keutuhan dan kelangsungan keluarga seperti mengurusi urusan rumah tangga, memelihara dan mendidik anak-anak, bahkan berbelanja menyediakan makan dan minum ketika suami bekerja maka dengan hal ini suami telah menerima bantuan yang sangat berharga dan sangat
53 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata: Permasalahan dan Penerapan Conservatoir Beslag
mempengaruhi kelancaran pekerjaannya sehari-hari yang secara tidak langsung mempengaruhi juga jumlah harta yang diperoleh.
Pada dasarnya para ulama tidak menentukan secara pasti tentang pembagian harta benda (syirkah) antara dua orang yang berserikat ketika perserikatan itu bubar, begitu juga dalam Syirkah abdan atau as-shulhu. Dengan demikian jika suami istri bercerai dan hendak membagi harta gono-gini maka dapat ditempuh dengan jalan perdamaian (as-shulhu) yaitu pembagiann harta gono-gini bergantung pada musyawarah dan kesepakatan antara suami istri, boleh jadi suami mendapat 50% dan istri 50%, boleh juga suami mendapat 30% dan istri 70% atau sebaliknya dan boleh juga pembagian dengan nisbah yang lain. Semuanya dibenarkan oleh syara’ selama merupakan hasil dari perdamaian yang telah ditempuh berdasarkan kerelaan masing-masing.
Adapun itu tujuan dari pengajuan sita marital dalam putusan Mahkamah Agung No. 2484 K/Pdt/2015 adalah dikarenakan adanya penguasaan harta bersama oleh Termohon. Bahwa sesuai dengan yurisprudensi dan ketentuan yang berlaku apabila perkawinan putus karena perceraian maka harta bersama tersebut harus dibagi dua yakni separo hak mantan istri dan separo lagi hak mantan suami.
Adanya permohonan kasasi ini juga dikarenakan pemohon kasasi berkeberatan dan tidak dapat menerima pertimbangan hukum Putusan Pengadilan Negeri Denpasar yang diambil alih dan telah dijadikan Pertimbangan oleh Pengadilan Tinggi Denpasar. Bahwa Judex Facti telah salah dalam menerapkan hukum, yaitu salah dalam menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku baik Formil maupun Materil dalam hal ini salah dalam penerapan Hukum Pembuktian yaitu tidak mempertimbangkan bukti-bukti yang diajukan (oleh Pemohon
Kasasi/Pembanding/Penggugat) baik berupa bukti-bukti surat maupun keterangan saksi-saksi yang telah diajukan di Pengadilan Tingkat Pertama.
Bahwa Pengadilan Tinggi Denpasar dalam memeriksa dan mengadili Perkara No. 6/PDT/2015/PT.DPS, tanggal 24 Maret 2015 a quo, hanya didasarkan pada pertimbangan hukum hanya berdasarkan 1 halaman saja, yang pada pokok amarnya menyatakan sebagai berikut:
1. Menimbang bahwa telah membaca serta memperhatikan dengan seksama memori banding tertanggal 3 September 2014, yang diajukan Pembanding/Penggugat dalam Konvensi/ Tergugat dalam Rekonvensi, ternyata pada hakekatnya hanya pengulangan apa yang diuraikan dalam persidangan Pengadilan Tingkat pertama dan tidak ada hal baru yang bersifat prinsip yang dapat mematahkan pembuktian yang diajukan oleh Pihak Terbanding/Tergugat dalam Konvensi/Penggugat dalam Rekonvensi, kemudian apa yang dikemukakan Pembanding/Penggugat dalam Konvensi/Tergugat dalam Rekonvensi dalam memori banding telah dipertimbangkan dalam putusan Pengadilan Tingkat Pertama, dan selanjutnya Pengadilan Tingkat Banding dapat menyetujui dan membenarkan Putusan Pengadilan Tingkat Pertama dalam pertimbangan hukumnya telah memuat dan menguraikan dengan tepat dan benar semua keadaan serta alasan-alasan yang menjadi dasar dalam putusan dan hal tersebut dianggap telah tercantum pula dalam putusan di Pengadilan Tingkat Banding.
2. Menimbang bahwa dengan uraian sebagaimana pertimbangan hukum diatas, maka pertimbangan-pertimbangan hukum Pengadilan Tingkat Pertama tersebut diambil alih dan dijadikan dasar dalam pertimbangan putusan
Pengadilan Tingkat Banding sendiri, sehingga putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor 60/PDT.G/2014/PN.Dps tanggal 3 september 2014 dapat dipertahankan dalam peradilan Tingkat Banding dan karenanya putusan tersebut haruslah dikuatkan.
Bahwa pertimbangan hukum Pengadilan Tinggi tersebut diatas, adalah pertimbangan yang bersifat standar bagi Pengadilan Tinggi untuk mengambil alih seluruh pertimbangan hukum Pengadilan Negeri, dalam hal ini pertimbangan hukum Pengadilan Negeri Denpasar Nomor 60/PDT.G/2014/PN.DPS tanggan 3 September 2014 dimaksud.
Bahwa menurut hukum, berdasarkan ketentuan Pasal 23 ayat (1) Undang Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman, menentukan bahwa :
“Segala putusan Pegadilan, selain harus memuat alasan-alasan dan dasar-dasar putusan itu, juga harus memuat pula pasal-pasal tertentu dari peraturan-peraturan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili”.
Bahwa Pengadilan Tinggi Denpasar dalam hal ini tidak menerapkan ketentuan Pasal 23 ayat (1) Undang Undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Berdasarkan hal tersebut, maka Putusan Pengadilan Tinggi Denpasar dimaksud, secara hukum dapat dikualifikasikan sebagai suatu Putusan yang kurang cukup pertimbangannya (onvoldoende
gemotiveerd) sehingga menurut hukum, putusan yang demikian tersebut harus
Bahwa Pemohon Kasasi memperjuangkan harta yang dimaksud untuk dinyatakan sebagai harta gono gini, agar Pemohon Kasasi memperoleh ½ bagian harta yang merupakan harta yang diperoleh selama perkawinan (yang merupakan bagian Pemohon Kasasi) yang selanjutnya harta dimaksud akan diberikan kepada kedua orang anak yang dilahirkan dari pernikahan antara Pemohon Kasasi dan Termohon Kasasi untuk kebutuhan dan kepentingan pendidikan kedua anak tersebut. Oleh karena itu Putusan Pengadilan Tinggi yang dimohonkan kasasi ini adalah Putusan yang kurangtepat dan tidak terperinci serta kurang cukup pertimbangannya, maka Pemohon Kasasi mohon agar Mahkamah Agung R.I untuk membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Denpasar dimaksud. Dan sudah sepatutnya apabila mahkamah agung RI dalam perkara ini membatalan Putusan Pengadilan Tinggi Denpasar Nomor : 06/PDT/2015/PT.Dps tanggal 24 Maret 2015
Junto Putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor 60/Pdt.G/2014/PN.Dps tanggal
3 Sepmtember 2014. Yang dimohonkan Kasasi tersebut, selanjutnya memeriksa dan mengadili sendiri, sesuai dengan azas peradilan yang baik dan benar.
38 BAB IV
ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG TENTANG SITA HARTA BERSAMA PADA PERCERAIAN
Putusan Mahkamah Agung No. 2484 K/Pdt/2015 dalam kasus sita harta. Karena itu penulis akan menguraikan pada bab ini ten tang duduk perkara, pertimbangan hakim dan putusan Mahkamah Agung mengenai sita harta bersama.
A. Duduk Perkara
Dalam duduk perkara mengenai putusan Mahkamah Agung No. 2484 K/Pdt/2015/MA merupakan putusan kasus permohonan sita harta yang diajukan oleh Cencen Kurniawan yang memberi kuasa berdasarkan kuasa khusus pada tanggal 25 Mei 2015 kepada Hj. Kartika Putri Yosodiningrat, SH., LLM., dan kawan-kawan, Para Advokat, berkantor Law Firm Henry Yosodiningrat & patner yang beralamat di Twin Plaza Hotel Gedung Henry Yosodiningrat & Patner lantai 23, Jalan Letjen S. Parman Kav. 93-94, Slipi. Selanjutya disebut sebagai Pemohon/Suami yang mengajukan permohonan sita harta terhadap Rina Nurjaya yang memberi kuasa berdasarkan kuasa khusus pada tanggal 22 Juni 2015 kepada Chris Harno, SH., dan kawan-kawan , Para Advokat, berkantor di LBH Gesori yang beralamat di Jalan Pasekan Gang Batukaru III/07 Batubulan, Gianyar, Bali. Yang selanjutnya disebut sebagai
Termohon/Istri.
Pemohon dalam surat permohonannya tertanggal 2015 yang didaftarkan di Mahkamah agung Nomor 2484 K/Pdt/2015/MA telah mengajukan permohonan Sita Harta terhadap harta bersama yang diajukan kepada
Termohon di luar gugatan perceraian yang didasarkan pasa Pasal 95 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam (KHI) jo. Pasal 186 KUHPerdata.
Pemohon telah melangsungkan pernikahan yang sah menurut hukum dengan Termohon selama 14 tahun 5 bulan atau 173 bulan yang dilangsungkan pada tanggal 9 Mei 1999, dan hingga saat perkara permohonan sita ini diajukan Pemohon dan Termohon masih terikat dalam suatu pernikahan yang sah, dan telah dikarunia 2 (dua) orang anak kandung, yakni : Chelsy Maya Kurniawan (Perempuan, 12 Tahun), dan Cayden Rae Kurniawan (Perempuan, 9 Tahun).
Bahwa selama perkawinan Pemohon dan Termohon telah memperoleh harta kekayaan bersama (gono gini) yang meliputi barang tetap/barang tidak bergerak dan barang bergerak, selanjutnya di sebut sebagai Harta Bersama karena di dalama Kompilasi Hukum Islam (KHI) pada Pasal 1 Huruf f dirumuskan sebagi berikut : “Harta kekayaan dalam perkawinan atau syirkah adalah harta yang diperoleh baik sendiri-sendiri atau bersama suami isteri dalam ikatan perkawinan berlangsung dan selanjutnya disebut harta bersama, tanpa mempersoalkan terdaftar atas nama siapapun”, yaitu sebagai berikut: 1. Sebidang tanah seluas 751 M² (tujuh ratus lima puluh satu meter persegi)
beserta bangunan yang berdiri diatasnya terletak di Kelurahan Kerobokan Kelod, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, sebagaimana dimaksud dalam sertifikat hak Milik Nomor 1493/Kel. Kerobokan Kedlod, surat ukur tanggal 30-12-2004 Nomor 1154/Kerobokan Kelod/2004 atas nama Rina Nurjaya;
2. Sebidang tanah seluas 5.500 M² (liam ribu lima ratus meter persegi) beserta bangunan yang berdiri di atasnya terletak di Desa Ungsan,
Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, sebagaimana dimaksud dalam Sertifikat Hak Milik Nomor 5344/Desa Ungasan, Surat ukur tanggal 18-12-2001 Nomor 1377/2001, atas nama Rina Nurjaya;
3. Sebuah mobil nissan X-TRL 2,5 CVT XT/AT, warna hitam, tahun 2010 Nomor Polisi DK 1793 IW Nomor rangka MHBF2EF1AA0004631, Nomor Mesin QR25893318A, BPKB Nomor R/77445/III/10;
4. Sebuah mobil Toyota Alphad warna putih, tahun 2008, Nomor Polisi DK 15 C, BPKB atas nama Rina Nurjaya;
5. Mesin pembuat kopi (Coffe Machine)
Bahwa tanggal 30 April 2013 perkawinan antara Pemohon dengan Termohon tersebut telah putus karena perceraian dengan putusan Pengadilan Negeri Denpasar Nomor 608/Pdt.g/2012/PN.Dps tanggal 30 April 2013 yang telah dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Denpasar melalui Putusan Pengadilan Tinggi Denpasar Nomor 127/PDT/2013/PT.DPS tertanggal 6 Nopember 2013 dan putusan mana telah mempunyai hukum tetap. Dan sampai saat ini Termohon tetap menguasai Harta Bersama tersebut di atas indikasi Termohon tidak mau membagi Harta Bersama tersebut dengan Pemohon, walaupun telah beberapa kali Pemohon peringatkan Termohon supaya apa yang menjadi haknya Pemohon diserahkan kepada pihak Pemohon.
Bahwa ada indikasi kuat Termohon akan mengalihkan Harta Bersama tersebut, maka dengan ini Pemohon mohon agar diletakkan sita atas Harta Bersama tersebut (maritale beslag) yaitu harta-harta yang meliputi:
1. Sebidang tanah seluas 751 M² (tujuh ratus lima puluh satu meter persegi) beserta bangunan yang berdiri diatasnya terletak di Kelurahan Kerobokan