• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEJAHATAN DI BIDANG PASAR MODAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEJAHATAN DI BIDANG PASAR MODAL"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

KEJAHATAN DI BIDANG PASAR MODAL

(PENIPUAN, MANIPULASI PASAR, DAN

PERDAGANGAN ORANG DALAM)

Didukung

Gedung Bursa Efek Indonesia, Tower II Lantai 1, Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53, Jakarta Selatan 12190 | Telp (021) 515 0 515 ext. 8102, 8103, 9105

(2)

DAFTAR ISI

KEJAHATAN DI BIDANG PASAR MODAL

(PENIPUAN, MANIPULASI PASAR, DAN PERDAGANGAN ORANG DALAM)

A.

Penipuan (

Fraud)

... 1

A.1 Unsur-Unsur Penipuan ... 1

A.2 Contoh Kasus ... 3

B.

Manipulasi Pasar (

Market Manipulation)

... 4

B.1 Unsur-Unsur Manipulasi Pasar ... 4

B.2 Pola Manipulasi Pasar ... 5

B.3 Kegiatan yang digolongkan sebagai manipulasi pasar ... 5

B.4 Contoh Kasus ... 7

C.

Perdagangan Orang Dalam (

Insider Trading

) ... 13

C.1 Unsur-Unsur Perdagangan Orang Dalam ... 13

C.2 Pelaku Insider Trading dalam UUPM ... 15

C.3 Contoh Kasus ... 15

D.

Sanksi ... 20

D.1 Sanksi Administratif ... 20

D.2 Sanksi Pidana ... 20

(3)

KEJAHATAN DI BIDANG PASAR MODAL

Istilah kejahatan juga dikenal di Pasar Modal. Namun yang dinamakan kejahatan Pasar Modal berbeda dengan kejahatan pada umumnya. Kejahatan Pasar Modal bukan seperti mencuri, membunuh, merampok sebagai mana kejahatan pada umumnya yang telah dijelaskan sebelumnya. Kejahatan Pasar Modal dikarenakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemodrenan dunia maya seperti internet, dan lain sebagainya. Pasar Modal juga membuat definisi tersendiri yang termasuk ke dalam kategori kejahatan Pasar Modal.

Tindak pidana di bidang Pasar Modal mempunyai karakteristik yang khas, yaitu antara lain

adalah “barang” yang menjadi obyek dari tindak pidana adalah informasi, selain itu pelaku tindak pidana tersebut bukanlah mengandalkan kemampuan fisik seperti halnya pencurian atau perampokan mobil, akan tetapi lebih mengandalkan pada kemampuan untuk membaca situasi pasar serta memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Tindak Pidana Pasar Modal merupakan aktifitasnya (tindak pidananya) terkait LANGSUNG dalam ruang lingkup definisi Pasar Modal Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Pasar Modal No 8 Tahun 1995 (UUPM).

Melalui UUPM, maka dapat kita lihat bersama kategori kejahatan Pasar Modal pada Bab XI tentang penipuan, manipulasi pasar dan perdagangan orang dalam, mulai dari pasal 90 sampai dengan pasal 99. Yang dapat di bagi menjadi 3 (tiga) kategori kejahatan Pasar Modal beserta unsur – unsurnya, yaitu Penipuan, Manipulasi Pasar, dan Perdagangan Orang Dalam. Ketiga kategori tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam penjelasan dibawah ini.

A.Penipuan (Fraud)

Pada pasal 90 UUPM, mengatur secara implisit jenis kejahatan Pasar Modal yaitu penipuan. Pengertian penipuan pasar modal adalah apabila terjadi misrepresentation dan informasi itu masuk ke pasar secara cepat merubah harga suatu saham atau dengan kata lain informasi tersebut salah. (Bismar Nasution)

A.1 Unsur-Unsur Penipuan

No Unsur Penjelasan

1 Setiap pihak; Berdasarkan pasal 1 angka 23 UUPM, pihak yang dimaksud adalah: 1) Orang perseorangan,

2) perusahaan, 3) usaha bersama, 4) asosiasi,

5) kelompok yang terorganisasi

2 Menipu atau

menggelabui pihak lain atau turut serta menipu atau turut serta mengelabui pihak lain

Berdasarkan Pasal 378 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), dijelaskan bahwa penipuan adalah tindakan untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan cara:

a.Melawan hukum

b.Memakai nama palsu atau martabat palsu c.Tipu muslihat

d.Rangkaian kebohongan

e.Membujuk orang lain untuk menyerahkan sesuatu barang padanya, atau supaya memberi utang atau menghapuskan piutang.

Dengan tetap memperhatikan ketentuan yang diatur dalam KUH Pidana, UUPM memberikan beberapa spesifikasi mengenai penipuan, yaitu terbatas dalam kegiatan perdagangan efek, meliputi penawaran, pembelian dan atau penjualan efek yang terjadi didalam rangka penawaran umum atau terjadi dibursa efek maupun diluar bursa efek atas efek emiten atau perusahaan publik.

(4)

4 Membuat pernyataan tidak benar tentang fakta material atau tidak

mengungkapkan fakta material;

 Informasi atau Fakta Material adalah informasi atau fakta penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat mempengaruhi harga efek pada Bursa Efek dan atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau Pihak lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut.

Informasi atau Fakta Materil yang diperkirakan dapat mempengaruhi efek atau keputusan investasi pemodal dapat dilihat dalam Pasal 6 Peraturan OJK No. 31 /POJK.04/2015 tentang Keterbukaan atas Informasi atau Fakta Material Oleh Emiten atau Perusahaan Publik, yaitu:

1) Penggabungan usaha, pemisahan usaha, peleburan usaha, atau pembentukan usaha patungan;

2) Pengajuan tawaran untuk pembelian Efek perusahaan lain; 3) Pembelian atau penjualan saham perusahaan yang nilainya

material;

4) Pemecahan saham atau penggabungan saham; 5) Pembagian dividen interim;

6) Penghapusan pencatatan dan pencatatan kembali saham di Bursa Efek;

7) Pendapatan berupa dividen yang luar biasa sifatnya; 8) Perolehan atau kehilangan kontrak penting;

9) Penemuan baru atau produk baru yang memberi nilai tambah bagi perusahaan;

10)Penjualan tambahan Efek kepada masyarakat atau secara terbatas yang material jumlahnya;

11)Perubahan dalam pengendalian baik langsung maupun tidak langsung terhadap Emiten atau Perusahaan Publik;

12)Perubahan anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris 13)Pembelian kembali atau pembayaran Efek Bersifat Utang dan/

atau Sukuk;

14)Pembelian atau penjualan aset yang sifatnya penting;

15)Perselisihan tenaga kerja yang dapat mengganggu operasional perusahaan;

16)Perkara hukum terhadap Emiten atau Perusahaan Publik dan/atau anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik yang berdampak material;

17)Penggantian Akuntan yang sedang diberi tugas mengaudit Emiten atau Perusahaan Publik;

18)Penggantian Wali Amanat;

19)Penggantian Biro Administrasi Efek;

20)Perubahan tahun buku Emiten atau Perusahaan Publik;

21)Perubahan penggunaan mata uang pelaporan dalam laporan keuangan;

22)Emiten atau Perusahaan Publik berada dalam pengawasan khusus dari regulator terkait yang dapat mempengaruhi kelangsungan usaha Emiten atau Perusahaan Publik;

23)Pembatasan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik oleh regulator terkait;

24)Perubahan atau tidak tercapainya proyeksi keuangan yang telah dipublikasikan, secara material;

25)Adanya kejadian yang akan menyebabkan bertambahnya kewajiban keuangan atau menurunnya pendapatan Emiten atau Perusahaan Publik secara material;

26)Restrukturisasi utang;

27)Penghentian atau penutupan sebagian atau seluruh segmen usaha;

28)Dampak yang bersifat material terhadap Emiten atau Perusahaan Publik karena kejadian yang bersifat memaksa;

(5)

A.2 Contoh Kasus

1)Kasus Perdagangan Saham PT. Sarijaya Permana Sekuritas

Latar Belakang Kasus

Kasus PT Sarijaya ini dilatar belakangi oleh Penyelewengan dana 8.700 orang nasabahnya sebesar 245 milyar rupiah yang dilakukan oleh Komisaris Utama PT Sarijaya Permana Sekuritas yang bernama Herman Ramli. Penyalahgunaan dana tersebut dilakukan dengan cara menggunakan 17 rekening fiktif untuk menampung dana nasabah yang pada mulanya ditujukan untuk melakukan perdagangan di pasar saham. Akan tetapi dana yang terkumpul di rekening tersebut dipindahkan ke rekening yang lainnya untuk tujuan yang tidak ada kaitannya dengan jual beli saham. Pada dasarnya sebagai pemegang saham dan komisaris, Herman Ramli seharusnya tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan pemindahan dana tersebut. Tetapi ternyata Herman Ramli memiliki akses untuk melakukan tindakan itu.

Berikut kronologis tindakan Penipuan tersebut

Terdakwa Herman Ramli bersama dua Direksi PT Sarijaya Permana Sekuritas dianggap penuntut umum telah melakukan tindak pidana penggelapan/penipuan, dan pencucian uang. Akibat ulah ketiga terdakwa, 13.074 nasabah menderita kerugian sebesar Rp. 235,6 milyar. Berawal dari perbuatan Herman yang secara bertahap memerintahkan stafnya, Setya Ananda, untuk mencari nasabah nominee pada tahun 2002. Sampai tahun 2008, sudah terhimpun 17 nasabah nominee yang sebagian besar adalah pegawai grup perusahaan Sarijaya. Kemudian, dibukakanlah ketujuhbelas nasabah nominee ini rekening. Rekening itu digunakan Herman untuk melakukan transaksi jual/beli saham di bursa efek. Namun, karena dana dalam rekening 17 nasabah nominee ini tidak mencukupi untuk melakukan transaksi, maka Herman meminta Lanny Setiono (stafnya) untuk menaikkan batas transaksi atau Trading Available (TA). Lalu, Lanny menindak-lanjutinya dengan memerintahkan bagian informasi dan teknologi (IT) untuk memproses kenaikan TA 17 nasabah nominee tersebut. Tapi, untuk menaikkan TA, sebelumnya harus mendapat persetujuan dari para direksi Sarijaya, yaitu Teguh, Zulfian, dan Yusuf Ramli, Direktur Utama Sarijaya. Walau mengetahui dana yang terdapat pada rekening ketujubelas nasabah nominee tidak mencukupi, para direksi tetap memberikan persetujuan untuk menaikkan TA. Sehingga, Herman dapat melakukan transaksi jual/beli saham di bursa efek. Padahal, transaksi yang dilakukan Herman, tanpa sepengetahuan atau order dari para nasabah. Selama kurang lebih enam tahun, Herman melakukan transaksi jual/beli saham dengan menggunakan rekening ketujuhbelas nasabah nominee. Dan untuk membayar transaksi itu, Herman medebet dana 13074 nasabah yang tersimpan di main account Sarijaya.

Apabila diakumulasikan, pemilik 60 persen saham perusahaan sekuritas (Sarijaya) ini telah mempergunakan dana sekitar Rp214,4 miliar, termasuk di dalamnya modal perusahaan sebesar Rp5,77 miliar. Oleh karena itu, Herman dianggap telah melakukan tindak pidana penggelapan/penipuan, dan pencucian uang yang merugikan 13074 nasabah Sarijaya sekitar Rp235,6 miliar.

Kronologis versi BAPEPAM-LK

a. 12 Desember 2008: Direksi Sarijaya menyampaikan surat kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menyatakan perusahaan kesulitan likuiditas karena pembukaan 17 rekening nasabah senilai Rp 235 miliar. Pembukaan 17 rekening nasabah tersebut atas nama orang lain (nominee).

b. 15 Desember 2008: Biro Pemeriksaan dan Penyidikan Bapepam-LK melakukan pemeriksaan ke Sarijaya. Sedangkan bila BEI memiliki laporan terkait Sarijaya, otoritas bursa itu diminta untuk menyampaikan ke Bapepam-LK.

Komisaris Utama Sarijaya, Herman Ramli, mengakui menggunakan nominee untuk transaksi yang dilakukan sejak 2002 dengan menggunakan dana nasabah yang disimpan atas nama Sarijaya. Terdapat indikasi Sarijaya tidak melakukan prosedur yang tepat dalam pelaporan modal kerja bersih disesuaikan (MKBD).

(6)

pemeriksaan MKBD Sarijaya. Otoritas bursa belum dapat melakukan suspensi karena dampaknya akan cukup besar.

d. 24 Desember 2008: Herman Rami diamankan Bareskrim Mabes Polri.

e. 28 Desember 2008: Sarijaya melaporkan kepada otoritas bursa dan meminta bantuan karena nasabah mulai menarik dana. Kasus Sarijaya sudah didengar nasabah. Manajemen mengaku memerlukan dana segar. Dalam pernyataan tersebut, Herman Ramli juga bersedia menjamin saham-saham yang dimilikinya.

f. 5 Januari 2008: Ketua Bapepam-LK mengundang anggota bursa (AB) untuk membahas masalah Sarijaya, terutama guna mencari jalan keluar. Dalam rapat dibahas beberapa opsi antara lain, apakah anggota bursa bersedia membantu kebutuhan dana Sarijaya, atau apakah ada dana talangan. Namun, dalam rapat tersebut tidak diperoleh solusi konkret tentang sumber dana untuk kebutuhan Sarijaya. Bapepam-LK juga meminta agar anggota bursa bersiap menghadapi penarikan dana.

g. 6 Januari 2009: BEI menghentikan sementara (suspend) aktivitas perdagangan Sarijaya. h. 9 Januari 2009: Bapepam-LK menggelar konferensi pers untuk menjelaskan masalah yang

menimpa Sarijaya.

i. 13 Januari 2009: Rapat Bapepam-LK dan Self Regulatory Organizations (SRO) membahas verifikasi rekening nasabah. Pada saat bersamaan, dua direksi diamankan Bareskrim Mabes Polri.

j. 14 Januari 2009: Pukul 10.30 WIB, manajemen Sarijaya mendatangi Bapepam-LK meminta arahan mengingat direksi Sarijaya sudah diamankan.

B.Manipulasi Pasar (Market Manipulation)

Beberapa macam tindakan yang dapat digolongkan tindak pidana manipulasi pasar versi UUPM adalah sebagai berikut: (Munir Fuady)

a) Menciptakan gambaran pasar modal yang semu. Antara lain dengan jalan:

1)Melakukan transaksi efek yang tidak mengakibatkan perubahan pemilikan, atau

2)Melakukan penawaran jual atau penawaran beli efek pada harga tertentu, sedangkan pihak lain yang merupakan sekongkolannya juga melakukan penawaran beli atau penawaran jual pada harga yang kurang lebih sama (vide Pasal 91 UUPM)

b) Melakukan dua atau lebih transaksi efek di Bursa Efek sehingga menyebabkan harga efek tetap, naik atau turun, dengan tujuan agar pihak lain terpengaruh untuk membeli, menjual atau menahan efek tersebut. Akibatnya, harga efek tersebut tidak berdasarkan pada permintaan jual atau beli yang sesungguhnya. (vide: Pasal 92 UUPM)

c)

Membuat pernyataan atau memberi keterangan yang secara material tidak benar, yang dapat mempengaruhi pihak lain untuk membeli atau menjual efek.

Namun di dalam penjelasan pasal 94 UUPM, memberikan batasan bahwa suatu tindakan yang dilarang pada pasal 91 dan 92 UUPM tersebut menjadi tindakan yang tidak terlarang yang berupa:

a. stabilisasi harga efek dalam rangka Penawaran Umum sepanjang hal tersebut dicantumkan dalam Prospektus; dan

b. penjualan dan pembelian efek oleh Perusahaan Efek selaku pembentuk pasar untuk rekeningnya.

B.1 Unsur-Unsur Manipulasi Pasar

No Unsur Penjelasan

1 Setiap pihak baik sendiri maupun bersama – sama dengan pihak lain

Berdasarkan pasal 1 angka 23 UUPM, pihak yang dimaksud adalah: 1) Orang perseorangan,

2) perusahaan, 3) usaha bersama, 4) asosiasi,

5) kelompok yang terorganisasi

2 Dilarang melakukan tindakan atau melakukan 2 (dua) transaksi Efek atau lebih, baik langsung maupun tidak langsung;

(7)

3 Dengan tujuan untuk

Sehubungan dengan itu, ketentuan ini melarang adanya tindakan yang dapat menciptakan gambaran semu mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga Efek, antara lain:

a. melakukan transaksi Efek yang tidak mengakibatkan perubahan pemilikan; atau

b. melakukan penawaran jual atau penawaran beli Efek pada harga tertentu, di mana Pihak tersebut juga telah bersekongkol dengan Pihak lain yang melakukan penawaran beli atau penawaran jual Efek yang sama pada harga yang kurang lebih sama.

c. melakukan serangkaian transaksi Efek sehingga menciptakan harga Efek yang semu di Bursa Efek karena tidak didasarkan pada kekuatan permintaan jual atau beli Efek yang sebenarnya dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau Pihak lain

B.2 Pola Manipulasi Pasar

a. Menyebarluaskan informasi palsu mengenai emiten dengan tujuan untuk mempengaruhi harga efek perusahaan yang dimaksud dibursa efek (false information). Misalnya suatu pihak menyebarkan rumor bahwa emiten A akan segera dilikuidasi, pasar merespon yang menyebabkan harga efeknya jatuh tajam.

b. Menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau informasi yang tidak lengkap (miss information). Misalnya suatu pihak menyebarkan rumor bahwa emiten A tidak termasuk perusahaan yang akan dilikuidasi oleh pemerintah, padahal emiten A termasuk yang diambil alih oleh pemerintah.

c. Harga efek dipasar modal sangat sensitive terhadap suatu peristiwa dan informasi yang berkaitan, baik secara langsung atau tidak dengan efek tersebut. Informasi merupakan pedoman pokok para pemodal untuk mengambil keputusan terhadap suatu efek. Jika informasi tersebut tidak dilindungi oleh hukum sebagai informasi yang benar, maka bagaimana kegiatan perdagangan pasar modal bisa berjalan. Informasi yang merupakan rumor yang dihembuskan oleh pihak tertentu dapat menimbulkan dampak pada pasar, akibatnya harga efek bisa naik atau turun. Begitu informasi mendapatkan konfirmasi bahwa informasi itu benar, maka gejolak pasar akan terhenti, pasar berjalan normal kembali. Namun, pada saat fluktuasi terjadi pihak yang menghembuskan informasi (penipu) menangguk keuntungan. Bagi investor yang tidak berhati-hati menganalisis informasi maka akan terjebak oleh harga semua yang berujung pada kerugian.

B.3 Kegiatan yang digolongkan sebagai manipulasi pasar

1) Marking the close

Definisinya yaitu merekayasa harga permintaan atau penawaran efek pada saat atau mendekati saat penutupan perdagangan dengan tujuan membentuk harga efek atau harga pembukaan yang lebih tinggi pada hari perdagangan berikutnya.

Misalnya, Sesi perdagangan efek di Bursa Efek Jakarta berakhir pada jam 16.00. pada jam 15.55 harga pasar dari saham PT X sebesar Rp. 1000. Mr. A yang merupakan pemegang saham PT X dan menjadi nasabah pada perusahaan efek B dan perusahaan efek C menginginkan harga pembukaan pada periode perdagangan hari berikutnya naik (diatas 1000). Kemudian Mr. A menghubungi broker pada perusahaan efek B untuk menjual saham pada PT X pada harga Rp. 1.200. pada saat yang sama Mr. A juga memberikan perintah pada broker perusahaan efek C untuk membeli saham PT X pada harga Rp. 1.200, sehingga terjadi matching antara broker B dan C yang mengakibatkan harga pasar atas saham A akan naik menjadi Rp. 1.200 pada akhir periode perdagangan. Harga pada akhir periode perdagangan ini akan dijadikan sebagai harga pembukaan pada sesi perdagangan hari berikutnya.

2) Painting the tape

(8)

Misalnya, Mr. A memiliki saham PT X dalam jumlah besar, selain itu dia juga menjadi nasabah pada perusahaan efek B dan perusahaan efek C, Mr A menginginkan harga saham PT X dari Rp. 1.000 naik menjadi Rp. 1.200. Kemudian Mr. A menghubungi broker pada perusahaan efek B untuk menjual saham pada PT X pada harga Rp. 1.100. pada saat yang sama Mr. A juga memberikan perintah pada broker perusahaan efek C untuk membeli saham PT X pada harga Rp. 1.100, sehingga terjadi matching antara broker B dan C yang mengakibatkan harga pasar atas saham A akan naik menjadi Rp. 1.100. Hal ini dilakukan berulang-ulang sehingga sedikit demi sedikit harga naik hingga mencapai Rp. 1.200. setelah mendapat harga yang dikehendaki barulah Mr. A melakukan jual beli yang sesungguhnya (yang berakibat beralihnya kepemilikan saham).

3) Pembentukan harga berkaitan dengan merger, konsolidasi dan akuisisi

Dalam pasal 55 UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, ditentukan bahwa pemegang saham yang tidak menyetujui rencana merger, konsolidasi dan akuisisi berhak meminta pada perseroan untuk membeli saham dengan harga yang wajar. Pemegang saham dapat memanfaatkan ketentuan ini untuk kepentingan pribadi melalui manipulasi pasar dengan skenario sebagai berikut:

Misalnya, Mr. A sebagai pemegang saham PT X (listed company) dimana PT X akan melakukan merger dengan PT Y. harga saham PT X sebelum adanya rencana merger sebesar Rp. 1.000, Mr. A tidak menyetujuai adanya merger sehingga Mr. A berusaha untuk menaikkan harga dengan harapan akan dibeli oleh perusahaan pada harga yang lebih tinggi.

4) Cornerning The Market

Yaitu membeli efek dalam jumlah besar sehingga dapat menguasai pasar (menyudutkan pasar). Praktik ini dapat dilakukan dengan cara short selling, yaitu menjual efek dimana pihak penjual belum memiliki efeknya. Sering concerning dilakukan dengan cara terlebih dahulu malakukan penjualan dengan tidak memiliki efek (short selling), dengan cara meminjamkan efek dari concerning kepada pelaku short selling, tatapi kemudian menarik kembali saham dalam pinjaman tersebutsehingga pelaku short selling harus mencarinya di pasar. Hal ini dapat dilakukan karena BEJ menetapkan jangka waktu penyelesaian transaksi T+3 (penjual wajib menyerahkan efeknya pada hari ketiga setelah transaksi). Jika penjual gagal menyerahkan efek pada T+3, maka yang bersangkutan harus membeli efek tersebut dipasar tunai yang biasanya lebih mahal dari pada pasar regular.

Misalnya: Mr. T, ia dapat mengambil keuntungan dari situasi tersebut dengan melakukan concerning the market, yaitu membeli dalam jumlah besar efek tertentu dan menahannya sehingga akan banyak penjual yang mengalami gagal serah efek dan terpaksa membeli dipasar tunai yang sudah dikuasai oleh Mr. T tadi.

5) Pools (Pump-pump Manipulation)

Pools merupakan perhimpunan dana dalam jumlah besar oleh sekelompok investor dimana dana tersebut dikelola oleh broker atau seseorang yang memahami kondisi pasar. Manager dari pools tersebut membeli saham suatu perusahaan dan menjualnya kepada anggota kelompok investor tersebut untuk mendorong frekuensi jual beli efek sehingga dapat meningkatkan harga efek tersebut.

Mr. A, Mr. B, Mr C dan Mr. D membentuk suatu kelompok investor dan mengumpulkan dana dalam jumlah besar dan menyerahkan pengelolaan dana tersebut pada broker X. kemudian Broker X menggunakan dana tadi untuk membeli saham PT Y yang kurang aktif diperdagangkan dan harganya rendah atau statis. Broker X kemudian menjual saham PT Y kepada Mr. A, Mr. B, Mr C dan Mr. D (anggota kelompok). Hal ini mengakibatkan naiknya frekuensi perdagangan saham PT Y yang mengakibatkan terbentuknya harga yang ebih tinggi dan akan semakin tinggi. Setelah harga terbentuk barulah kelompok investor melalui broker X menjual saham PT Y kepada pihak lain diluar kelompok tersebut.

6) Wash Sales

Order beli dan order jual antara anggota asosiasi dilakukan pada saat yang sama dimana tidak terjadi perubahan kepemilikan manfaat atas efek. Manipulasi tersebut dilakukan dengan maksud bahwa mereka membuat gambaran dari aktivitas pasar dimana tidak terjadi penjualan atau pembelian yang sesungguhnya. Transaksi ini merupakan transaksi semu, yakni suatu transaksi saham yang tidak mengakibatkan terjadinya peralihan saham secara riil.

(9)

Memadukan 2 perintah investor yang serupa dan saling melengkapi untuk jumlah dan efek yang sama dan pada saat yang bersamaan (dilakukan pada waktu yang bersamaan)

8) Free Riding

Pembelian pada saat IPO berharap dapat menjualnya kembali dengan harga yang mahal dan akan membatalkan pembelian begitu suasana menjelang alokasi saham kelihatannya kurang menguntungkan.

9) Special Allotments

Special Allotments dilakukan oleh pihak underwriter pada saat IPO dengan sengaja mengalokasikan suatu sekuritas kepada para partner, atau kerabat dekat sehingga kelihatan efek tersebut oversubscribed sehingga harga efek, menjadi mahal.

10)Churning

Dalam hal diberikan discretionary account dapat terjadi bahwa pihak broker melakukan transaksi yang secara berlebih-lebihan sehingga mendapat fee yang lebih banyak.

B.4 Contoh Kasus

1. Kasus Manipulasi Pasar Dalam Perdagangan Saham PT. AGIS

Posisi Kasus

Kasus ini bermula karena adanya fluktuasi harga saham PT AGIS Tbk (TMPI) periode September 2006 sampai dengan Agustus 2007, dimana pada periode tersebut harga saham TMPI melonjak sebesar 981,4%. PT Bursa Efek Jakarta telah melakukan penghentian sementara perdagangan atas saham TMPI beberapa kali karena adanya kenaikan dan penurunan harga saham TMPI. Terjadinya fluktuasi harga saham TMPI tersebut tidak terlepas dari berbagai informasi yang berkembang di pasar, seperti rencana akuisisi PT Akira Indonesia dan PT TT Indonesia, serta rencana merger dengan PT E-Solution.

Riwayat Singkat Perseroan

PT AGIS Tbk. adalah suatu Perseroan Terbatas yang didirikan dengan nama PT Telaga Mas pada tanggal 9 Januari 1981. Kegiatan usaha Perseroan bergerak sebagai distributor barang-barang elektronik, komputer serta komponennya dan industri pendukung lainnya, jasa dan perdagangan umum dan multimedia. Pada tahun 1997, Perseroan mengakuisisi 99,99% saham PT Artha Graha Wahana dan pada tahun 1998 mengakuisisi 95% saham PT Mahameru Antarnusa Niaga. Pada tahun 2001 Perseroan melakukan merger 3 (tiga) anak perusahaan, yaitu PT Artha Graha Wahana, PT Artha Citra Gallery dan PT Mahameru Antarnusa Niaga menjadi PT Agis Electronic. Saat ini Perseroan dan Anak Perusahaan bergerak dalam bidang pemasaran dan penjualan barang-barang elektronik dengan wilayah pemasaran yang tersebar di seluruh Indonesia dan pengembangan produk multimedia

Fluktuasi Harga Saham

Pada 16 Agustus 2006, Bhakti Investama, yang sebelumnya menguasai 40,8% saham TMPI, setelah melepaskan seluruh kepemilikan sahamnya pada harga Rp 200 per saham rata-rata transaksi harian melonjak mencapai 140 juta saham. Hanya dalam waktu rentang 5 (lima) bulan, harga TMPI melesat dari Rp 225 pada 2 Januari 2007 menjadi Rp 2.725 per saham pada 25 Mei 2007, atau naik 1.111%.

Lonjakan harga saham TMPI, memang tidak terlepas dari dorongan berbagai rumor positif dan rencana aksi korporasi yang dilakukan emiten. Rumor rencana perusahaan akan melakukan akuisisi PT TT Indonesia, PT Akira Electronic Indonesia, PT Electronic Solution. Tidak hanya itu, perusahaan juga akan melakukan stock split dengan rasio 1:4 dan akan bersinergis dengan PT Metrodata Electronics, dan juga mengembangkan teknologi informasi di bidang telekomunikasi.

(10)

yang akan menargetkan penjualan 2007 mencapai Rp 1 triliun dengan proyeksi laba bisa melonjak 4-5 kali lipat.

Padahal, sepanjang 2006 lalu saham emiten ini tergolong tidak likuid dan termasuk saham tidur dengan kisaran harga Rp 80-100 per saham, sejak awal hingga Agutus 2006. Harga saham mulai melonjak-lonjak pada awal September setelah Bhakti Investama keluar dari perusahaan tersebut. Secara fundamental, kinerja emiten juga kurang impresif. Penjualan TMPI akhir 2006 hanya mencapai Rp 342,73 miliar dan laba Rp 10,74 miliar. Pihak manajemen pernah menargetkan penjualan 2006, mencapai Rp 600-700 miliar. Target penjualan emiten, tampaknya masih terganjal produk China dengan harga lebih murah dan sudah membanjiri pasar

Pada 5 Juni 2007, harga saham TMPI tiba-tiba anjlok tajam sekitar pukul 15.00 WIB, satu jam menjelang penutupan perdagangan. 57 Kejatuhan harga saham TMPI membuat panik pelaku pasar. Pada penutupan perdagangan, harga saham TMPI jatuh 24,84% dari Rp 3.925 menjadi Rp 2.950 per lembar. Setelah jatuhnya harga saham, pada 6 hingga 13 Juni 2007, BEJ menghentikan sementara perdagangan saham TMPI di pasar reguler dan tunai

Pada 13 Juni 2007, BEJ mencabut suspensi perdagangan saham TMPI. Meski demikian, harga saham TMPI ini langsung merosot ke Rp 2.275. Pada sesi pembukaan pertama saham TMPI berada di posisi Rp 2.700 per lembar saham. Pada 21 Juni 2007 harga saham TMPI sempat naik kembali ke posisi Rp 3.400 yang kemudian kembali terjun ke posisi Rp 2.325 pada penutupan 27 Juni 2007.

BEJ pun sejak 11 Juni 2007 mulai memeriksa 16 broker terkait dengan anjloknya harga saham TMPI. Berdasarkan data dari Bloomberg, tercatat 16 broker yang paling aktif dalam melakukan penjualan, antara lain Anugerah Securindo, Ciptamahadika Mandiri, Sarijaya Permana Sekuritas, Phillip Securities, KUO Capital Rahardja, Mahakarya Artha Securities, Trimegah Securities, ETrading Securities, Kim Eng Securities, Mandiri Sekuritas, Repubic Securities, Henan Puthirai, Harumdana Sekuritas, UOB Kay Hian Securities, CIMB GK Securities dan Danpac Securities.

Fakta Hukum yang ditemukan BAPEPAM

1) TMPI terbukti telah memberikan informasi yang secara material tidak benar terkait dengan pendapatan dari 2 (dua) perusahaan yang akan diakuisisi, yaitu PT Akira Indonesia dan PT TT Indonesia, dimana dinyatakan bahwa pendapatan kedua perusahaan tersebut adalah sebesar Rp 800 miliar. Namun demikian, berdasarkan Laporan Keuangan kedua perusahaan yang akan diambil alih tersebut per 31 Maret 2007 total pendapatannya hanya sebesar kurang lebih Rp 466,8 miliar.

2) Di samping itu, TMPI juga menyampaikan pernyataan yang berbeda-beda mengenai jadwal realisasi pelaksanaan akuisisi PT Akira Indonesia dan PT TT Indonesia.

3) TMPI juga melakukan pelanggaran terkait Laporan Keuangan TMPI yang merupakan konsolidasi dari anak-anak perusahaan yang salah satunya adalah PT AGIS Elektronik. Dalam Laporan Rugi Konsolidasi TMPI diungkapkan Pendapatan Lain-Lain Bersih sebesar Rp 29,4 miliar yang berasal dari Laporan keuangan PT AGIS Elektronik sebagai anak perusahaan TMPI yang tidak didukung dengan bukti-bukti kompeten dan kesalahan penerapan prinsip akuntansi. Dengan demikian, pendapatan lain-lain dalam Laporan Keuangan AGIS Elektronik adalah tidak wajar yang berakibat Laporan Keuangan Konsolidasi TMPI juga tidak wajar.

Sanksi yang dijatuhkan oleh Bapepam:

a. Kepada Direksi TMPI

1) Sanksi berupa denda terhadap Sdr. Jhonny Kesuma, selaku Direktur Utama TMPI sebesar Rp 5 miliar atas pemberian beberapa informasi yang secara material tidak benar.

2) Sanksi berupa denda terhadap Sdr. Bintoro Tjitrowirjo, selaku Direktur Utama PT AGIS Elektronik dan juga selaku Wakil Direktur Utama TMPI sebesar Rp 1 miliar atas pelanggaran terkait Laporan Keuangan PT AGIS Elektronik yang dikonsolidasikan ke Laporan Keuangan TMPI.

3) Sdri. Eka Hikmawati Supriyadi, selaku Direktur PT AGIS Elektronik dan juga selaku Direktur TMPI sebesar Rp 1 miliar atas pelanggaran terkait Laporan Keuangan PT AGIS Elektronik yang dikonsolidasikan ke Laporan Keuangan TMPI.

b. Kepada Perusahaan Efek

(11)

2) PT Asjaya Indosurya Sekuritas dan PT NISP Sekuritas dikenakan sanksi administratif berupa denda masing-masing sebesar Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah).

3) PT Optima Kharya Securities, PT Mahakarya Artha Securities, PT Paramitra Alfa Sekuritas dan PT BNI Securities dikenakan sanksi administratif berupa denda masing-masing sebesar Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).

2. Kasus Perdagangan Saham PT. Dharma Samudera Fishing Industries Tbk. (DSFI)

Kasus DSFI bermula setelah adanya pedagangan saham DSFI periode bulan Agustus 2002 yang tidak menyebabkan perubahan kepemilikan atas transaksi saham dimaksud, dan penyalahgunaan dana serta Efek nasabah.

Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap beberapa Pihak yang didugatelibat dan melakukan penelaahan atas dokumen yang berkaitan dengan transaksi tersebut, beberapa Pihak secara bersama-sama terbukti melakukan perdagangan saham DSFI yang tidak menyebabkan terjadinya perubahan kepemilikan atas saham tersebut. Tindakan tersebut dikategorikan sebagai tindakan manipulasi pasar yang melanggar Pasal 91 dan Pasal 92 Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Beberapa Perusahaan Efek juga terbukti memfasilitasi dan membantu nasabah dalam melakukan transaksi saham DSFI yang mengakibatkan terjadinya manipulasi pasar. Hal ini melanggar Pasal 91 dan 92 Undang- Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran tersebut di atas, Bapepam memberikan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp 3 miliar secara bersama-sama kepada 11 Pihak, denda kepada 14 Perusahaan Efek sebesar Rp 75 juta hingga Rp 500 juta, serta peringatan tertulis dan denda kepada lima Pihak masing-masing sebesar Rp 25 juta sampai dengan Rp 50 juta.

3.

Kasus Perdagangan Saham PT. Dharma Samudera Fishing Industries Tbk

1. Kasus ini bermula setelah adanya perdagangan saham PT Dharma Samudera Fishing Industries Tbk (DSFI) periode bulan Agustus 2002 yang tidak menyebabkan perubahan kepemilikan atas transaksi saham dimaksud, dan penyalahgunaan dana serta Efek nasabah.

2. Berkaitan dengan hal tersebut Bapepam telah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa Pihak yang diduga terlibat dan melakukan penelaahan atas dokumen yang berkaitan dengan transaksi tersebut, dengan hasil sebagai berikut:

a. Beberapa Pihak secara bersama-sama telah terbukti melakukan perdagangan saham DSFI yang tidak menyebabkan terjadinya perubahan kepemilikan atas saham tersebut. Tindakan tersebut dikategorikan sebagai tindakan manipulasi pasar yang melangar Pasal 91 dan Pasal 92 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

b. Beberapa Perusahaan Efek memfasilitasi dan membantu nasabah dalam melakukan transaksi saham DSFI yang mengakibatkan terjadinya manipulasi pasar. Hal ini melanggar Pasal 91 dan 92 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

c. Beberapa Perusahaan Efek tidak melakukan verifikasi atas tersedianya dana atau Efek yang mengakibatkan gagal bayar atas perdagangan saham DSFI. Hal ini melanggar angka 4 huruf b butir 2 Peraturan V.D.3 Lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-28/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996.

d. Beberapa direktur Perusahaan Efek melanggar angka 2 Peraturan Nomor V.D.1 Lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-27/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996 tentang Pengawasan Terhadap Wakil Dan Pegawai Perusahaan Efek.

e. Beberapa direktur dan pegawai Perusahaan Efek telah melakukan penjaminan saham milik nasabah tanpa sepengetahuan dan ijin dari nasabah, yang digunakan untuk kepentingan Perusahaan Efek. Hal ini melanggar Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal dan angka 5 Peraturan Nomor V.E.1 Lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-29/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996 tentang Perilaku Perusahaan Yang Melakukan Kegiatan Perantara Pedagang Efek.

3. Sehubungan dengan pelanggaran-pelanggaran tersebut di atas Bapepam, telah memberikan sanksi administratif berupa:

a. Denda sebesar Rp. 3.000.000.000,- (tiga miliar rupiah) secara bersama-sama kepada Sdr. Yulianus Indrayana, Sdr. AG. Marfiyatmo, PT Jaya Makmur Sejahtera, Sdr. Hendri

Aristo Sirait, Sdr. Afrizal, Sdr. Irfan Riyadi, Sdr. Akub Sudarsa, Sdr. Haryadi, Sdr. Meiske Herlina Tengker, Sdr. Mochammad Permana, Sdr. Agustian Harahap.

b. Denda kepada Perusahaan Efek, masing-masing: i. Sebesar Rp. 500.000.000,- kepada:

 PT Jasabanda Garta

(12)

 PT BNI Securities

iii.Sebesar Rp. 125.000.000,- kepada:

PT Kuo Capital Raharja

PT Mitra Investdana

iv.Sebesar Rp. 100.000.000,- kepada:

 PT Evergreen Capital

 PT Megakarya Securities

 PT Intra Asia Sekuritas

v. Sebesar Rp. 75.000.000,- kepada:

 PT Arab Malaysian Securities

 PT Samuel Sekuritas

 PT Danawitta Securities

 PT Global Inter Capital

 PT Jalur Wahana

 PT Panin Sekuritas

c. Peringatan Tertulis dan Denda kepada: i. Sdr. Rochani Mansyur Rp. 50.000.000,- ii. Sdr. Andwihardi Rp. 50.000.000,- iii.Sdr. Hoksan Sinaga Rp. 50.000.000,- iv.Sdr. Zaki Mubarak Rp. 50.000.000,-

v. Sdr. Panungkunan Manullang Rp. 25.000.000,-

d. Sanksi Peringatan Tertulis kepada Pihak-pihak sebagaimana tersebut di atas, akan ditindaklanjuti Pencabutan Izin Orang Perseorangan sebagai Wakil Perusahaan Efek, apabila dalam jangka waktu satu tahun pihak-pihak tersebut melakukan pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang pasar Modal.

4. Kasus Perdagangan Saham PT. Ultra Jaya Milk Tbk

Kasus ini bermula dari adanya penelaahan Bapepam mengenai kemungkinan adanya upaya manipulasi transaksi dengan pola dominasi transaksi beli yang menimbulkan market impact change terhadap volume dan harga saham PT. Ultra Jaya Milk Tbk (ULTJ) yang cukup signifikan yang dilakukan oleh 6 (enam) anggota Bursa Efek pada periode perdagangan 18 April s.d. 28 Mei 2001.

Berdasarkan pemeriksaan dan penelaahan atas data atau dokumen dan Pihak-pihak terkait dalam kasus dimaksud ditemukan hal-hal sebagai berikut:

a. Transaksi saham PT. Ultra Jaya Milk Tbk. (ULTJ) yang dilakukan oleh Sdr. Ivan Yuliavan Tausa mengalami pertemuan sebanyak 10 (sepuluh) kali dengan tidak mengakibatkan perubahan kepemilikan sehingga dalam hal ini telah melanggar Pasal 91 UUPM.

b. Transaksi tutup sendiri (crossing) atas saham PT. Ultra Jaya Milk Tbk. (ULTJ) yang dilakukan oleh PT Berkat Agape Kapital melalui Anggota Bursa PT. Makindo Securities tidak mengakibatkan perubahan kepemilikan sehingga dalam hal ini telah melanggar Pasal 91 UUPM.

c. Kegiatan Sdr. Ivan Yuliavan Tausa yang mengumpulkan dan mengelola dana dari para Pihak, dalam hal ini yang bersangkutan mengistilahkannya sebagai switcher, tidak memiliki izin sebagai Wakil Manajer Investasi dari Bapepam, sehingga melanggar Pasal 103 UUPM.

d. PT Pratama Penaganarta mengetahui dan membantu kegiatan yang dilakukan oleh Sdr. Ivan Yuliavan Tausa sebagai Manajer Investasi yang tidak memiliki izin dari Bapepam. e. Transaksi sebanyak 10 (sepuluh) kali yang dilakukan oleh Sdr. Ivan Yuliavan Tausa dan

transaksi tutup sendiri sebanyak 1 (satu) kali yang dilakukan oleh PT. Berkat Agape Kapital tidak signifikan dibandingkan dengan frekuensi transaksi yang dilakukan oleh keduanya, disamping itu juga belum adanya realisasi keuntungan yang diperoleh kedua nasabah tersebut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, Bapepam menetapkan bahwa sesuai Pasal 102 ayat (2) huruf (a) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, Sdr. Ivan Yuliavan Tausa, PT. Pratama Penaganarta, PT. Berkat Agape Kapital, dan PT. Makindo Securities dikenakan sanksi administratif berupa Peringatan Tertulis.

5. Kasus Saham PT.Bank Pikko Tbk

Kronologis

(13)

b. Walaupun seluruh saham Bank Pikko dicatatkan di Bursa, namun sejumlah 100 juta saham Bank Pikko tersebut yaitu dimiliki oleh pemegang saham pendiri tidak dapat diperdagangkan dalam kurun waktu 8 bulan dari sejak tanggal 10 Desember 1996 s/d 10 Agustus 1997. Atas dasar itu, saham Bank Pikko yang dapat diperdagangkan di BEJ adalah sejumlah 28 juta saham. Sejumlah 11 juta saham Bank Pikko yang dapat diperdagangkan tersebut dimiliki oleh pemodal institusi dan sebagian karyawan. Dengan asumsi pemodal institusi dan karyawan tidak menjual saham-saham yang dimilikinya, maka berarti saham-saham yang di perdagangkan di BEJ adalah sekitar 17 juta saham. c. Dalam kurun waktu Januari s.d. Pebruari 1997 volume perdagangan harian saham

tersebut rata-rata adalah 100.000 saham dan harganya bervariasi antara Rp.875,00 s.d. Rp.1.425,00. Pada pertengahan Maret 1997 Sdr. Benny Tjokrosaputro melakukan transaksi saham sehingga jumlah emilikan oleh yang bersangkutan mencapai 4.500.000 saham. Transaksi tersebut dilakukan melalui PT. Multi Prakarsa Investama Securities dengan menggunakan nama 13 Pihak lain.

d. Pada tanggal 7 April 1997 perdagangan saham Bank Pikko menjadi sangat aktif dan harga saham tersebut meningkat sebesar 20%. Atas dasar itu BEJ meminta konfirmasi kepada Bank Pikko mengenai ada atau tidaknya hal material mengenai Bank Pikko yang perlu diungkapkan kepada kepada publik. Bank Pikko memberikan informasi kepada BEJ pada tanggal 8 April 1997 sebelum sesi pertama perdagangan bahwa tidak terdapat adanya hal-hal material yang perlu diungkapkan kepada publik. Informasi tersebut kemudian diumumkan di BEJ pukul 10.30 WIB pada hari yang sama.

e. Walaupun telah diinformasikan mengenai hal tersebut, namun harga saham Bank Pikko mengalami peningkatan yang tajam pada sesi pertama dan kemudian berlangsung terus pada sesi kedua sampai dihentikannya perdagangan saham Bank Pikko oleh BEJ pada pukul14.24 WIB.

f. Sdr. Pendi Tjandra yang menjabat sebagai direktur PT. Multi Prakarsa Investama Securities yang dikendalikan oleh Sdr. Benny Tjokrosaputro bersama-sama dengan afiliasinya, melakukan transaksi saham Bank Pikko secara aktif melalui PT Putra Saridaya Persada Securities (PSP Securities). Atas permintaan Saudara Pendi Tjandra, PT PSP Securities memecah order beli dan jual saham bank Pikko melalui perusahaan Efek lain. g. Pemecahan order beli dan jual tersebut dilakukan oleh Sdr.Pendi Tjandra dengan maksud

agar kegiatan perdagangan menjadi aktif. Pada tanggal 8 April 1997 jumlah keseluruhan pembelian setelah dikurangi penjulan saham Bank Pikko yang dilakukan oleh PT PSP Securities, PT. Multi Prakarsa Investama Securities dan PT Danasakti Securities untuk kepentingan nasabahnya masing-masing termasuk untuk kepentingan Sdr. Benny Tjokrosaputro dan Sdr. Pendi Tjandra mencapai jumlah perkiraan saham yang tersedia untuk diperdagangkan, nampak bahwa terdapt masalah penyelesaian atas transaksi Bank Pikko yang dilakukan pada tanggal 8 April 1997.

h. Karena Bank Pikko memberikan informasi bahwa tidak ada hal-hal material, spekulan memperkirakan harga saham Bank Pikko turun. Oleh karena itu, para spekulan tersebut melakukan transaksi jual saham Bank Pikko meskipun mereka tidak memiliki saham tersabut (posisi short) dengan harapan harga saham tersebut akan turun. Walaupun peraturan V.D.3 melarang perusahaan Efek menerima pesanan jual dari nasabah yang tidak mempunyai saham,namun kenyataannya hal tersebut terjadi secara luas dipasar. Hal ini terbukti dari terdapatnya 52 dari 127 Perusahaan Efek yang telah gagal menyerahkan saham Bank Pikko pada tanggal penyelesaian transaksi atas saham tersebut. Pada akhirnya tanggal 8 April 1997 BEJ memutuskan untuk menghentikan sementara perdagangan saham Bank Pikko pada jam 14.24 WIB.

Tindakan yang diambil BAPEPAM :

a. Berdasarkan pasal 100 ayat (2) huruf d Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 tentang pasar Modal, kepada saudara Benny Tjokrosaputro dan Sdr. Pendi Tjandra, diwajibkan untuk menyerahkan keuntungan yang diperoleh atas transaksi saham Bank pikko selama kurun waktu bulan maret sampai dengan April 1997 masing-masing sebesar Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) ke kas negara, selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari. Disamping itu, kepada Sdr. Pendi Tjandra diminta untuk mengundurkan diri sebagai Direktur PT Multi Prakarsa Investama Securities.

(14)

mempengaruhi Pihak lain baik langsung maupun tak langsung melakukan transaksi secara aktif atas saham Bank Pikko.

c. Berdasarkan Pasal 102 ayat (2) huruf a dan b Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal juncto pasal 61 dan pasal 64 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1995 tentang Penyelenggaran Kegiatan Di Bidang Pasar Modal, kepada PT PSP Securities dan PT Multi Prakarsa Investama Securities diberikan sanksi administratif.

d. Sanksi administratif ini diberikan atas dasar bukti yang menunjukkan bahwa kedua Perusahaan Efek tersebut telah melakukan dan atau terlibat secara aktif, baik langsung maupun tidak langsung, dalam transaksi jual beli saham Bank Pikko dalam jumlah yang cukup besar untuk kepentingan nasabah yang dapat menciptakan gambaran semu atas kegiatan perdagangan. Transaksi tersebut dilakukan PT PSP Securities dengan cara memecah order beli dan jual melalui 8 (delapan) Perusahaan Efek lain atas perintah nasabahnya, disamping itu PT PSP Securities sendiri juga melaksanakan sebagian order jual maupun beli atas saham Bank Pikko untuk kepentingan nasabah bersangkutan. e. Sementara itu, transaksi atas saham Bank Pikko oleh PT.Multi Prakasa Investama

Securities dilakukan dengan cara menggunakan nama sedikitnya 13 (tigabelas) Pihak lain atas perintah nasabah yang juga merupakan pengendali PT.Multi Prakarsa Investama Securities.

f. Kedua Perusahaan Efek dimaksud seharusnya tidak memenuhi permintaan nasabah tersebut, mengingat hal ini dapat menciptakan gambaran seolah-olah telah terjadi kegiatan perdagangan saham yang aktif, disamping dapat mengakibatkan terjadinya jual beli yang tidak mengakibatkan perubahan kepemilikan atas saham.

g. Atas dasar itu, kedua perusahaan efek tersebut dikenakan sanksi berupa denda masing-masing sebesar Rp.150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) yang harus segera disetorkan ke kas negara selambat-lambatnya 14 hari. Disamping itu, kedua perusahaan efek diperingatkan agar segera melakukan perbaikan atau sistem pengendalian intern dan penyelenggaraan pembukuannya sesuai dengan peraturan V.D.3 dimaksud. Perbaikan sistem pengendalian intern dan penyelenggaraan pembukuan perusahaan efek tersebut wajib diperiksa oleh akuntan yang terdaftar di Bapepam dan hasilnya wajib disampaikan kepada Bapepam selambat-lambatnya 90 hari.

h. Berdasarkan Pasal 102 ayat (2) huruf a dan b undang-undang nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal juncto pasal 61 Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di bidang Pasar Modal, kepada 54 (lima puluh empat) Perusahaan Efek (terlampir) yang melakukan pelanggaran atas ketentuan Peraturan V.D.3 tentang Pengendalian Intern dan Penyelenggaraan Pembukuan Perusahaan Efek dan atau Peraturan V.E.1 tentang Perilaku Perusahaan Efek Yang Melakukan Kegiatan Sebagai Perantara Pedagang Efek. Kepada Perusahaan Efek yang melakukan pelanggaran atas ketentuan Peraturan V.D.3 diberikan peringatan dan diwajibkan untuk memperbaiki sistem pengendalian intern dan penyelanggaraan pembukuan dan diperiksa oleh Akuntan yang terdaftar di Bapepam. Selanjutnya hasil tersebut wajib disampaikan kepada Bapepam selambat-lambatnya 90 (sembilan puluh) hari.

6. Kasus Perdagangan Saham PT Mas Murni

Pada tanggal 29 Mei 2000 Bapepam memberikan penjelasan perihal kasus saham PT Mas Murni Tbk. sebagai berikut:

1) Pemeriksaan atas kasus saham PT Mas Murni Tbk. oleh Bapepam berkaitan dengan adanya dugaan manipulasi pasar dalam transaksi Saham Preferen PT Mas Murni Tbk (MAMIP) dimulai sejak tanggal 27 April 2000. Pemeriksaan ditujukan untuk menemukan ada atau tidak adanya pelanggaran atas ketentuan perundang-undangan di bidang Pasar Modal.

2) Hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim Pemeriksa dapat diuraikan sebagai berikut: a) Sdr. James Rachmat Subekti telah melakukan transaksi saham MAMIP tanggal 20 April

2000 baik secara langsung maupun tidak langsung yang menciptakan gambaran semu dan atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga efek di Bursa Efek Jakarta sehingga menyebabkan kenaikan harga saham MAMIP yang tidak wajar.

b) PT Namalatu Ronesina telah melakukan transaksi saham MAMIP berdasarkan perintah nasabah, dimana PT Namalatu Ronesina tidak cukup hati-hati dalam melaksanakan order nasabah sehingga transaksi tersebut menciptakan gambaran semu.

c) PT Intifikasa Securindo telah melakukan transaksi saham MAMIP berdasarkan perintah nasabah, dimana PT Intifikasa Securindo tidak cukup hati-hati dalam melaksanakan order nasabah sehingga transaksi tersebut menciptakan gambaran semu.

3) Atas pelanggaran tersebut, Bapepam menetapkan:

(15)

b)

Sanksi administrasi berupa larangan sementara melakukan kegiatan transaksi perdagangan Efek di Bursa Efek kepada PT Intifikasa Securindo sampai dengan tanggal 29 Mei 2000 dan kepada PT Namalatu Ronesina sampai dengan tanggal 2 Juni 2000

.

C.Perdagangan Orang Dalam (Insider Trading)

Insider Trading merupakan istilah teknis yang hanya dikenal di pasar modal. Istilah tersebut mengacu kepada praktek di mana orang dalam (corporate insider) melakukan transaksi sekuritas dengan menggunakan informasi eksklusif yang mereka miliki yang belum tersedia bagi masyarakat atau investor

Secara yuridis, menurut Munir Fuady diketemukan beberapa elemen dari suatu pranata hukum Insider Trading, yaitu sebagai berikut:

1. Adanya perdagangan efek

2. Dilakukan oleh orang dalam perusahaan 3. Adanya Inside Information

4. Inside Information tersebut belum terbuka untuk umum

5. Perdagangan dimotivisir oleh adanya Inside Information tersebut. 6. Tujuannya untuk mendapat keuntungan yang tidak layak

C.1 Unsur-Unsur Perdagangan Orang Dalam

No Unsur Penjelasan

1 Adanya orang dalam atau setiap pihak yang berusaha untuk memperoleh informasi orang dalam dari orang dalam secara melawan hukum;

Berdasarkan penjelasan pasal 95 UUPM, maka dapat kita ketahui bahwa

yang dimaksud dengan orang dalam adalah:

i. komisaris, direktur, atau pegawai Emiten atau Perusahaan Publik;

ii. pemegang saham utama Emiten atau Perusahaan Publik;

iii. orang perseorangan yang karena kedudukan atau profesinya atau karena hubungan usahanya dengan Emiten atau Perusahaan Publik memungkinkan orang tersebut memperoleh informasi orang dalam; atau Berdasarkan kategori orang dalam ini, maka yang dimaksud dengan:

a) Yang dimaksud dengan “kedudukan” dalam penjelasan angka iii ini adalah jabatan pada lembaga, institusi, atau badan pemerintah. b) Yang dimaksud dengan “hubungan usaha” dalam

penjelasan angka iii ini adalah hubungan kerja atau kemitraan dalam kegiatan usaha, antara lain hubungan nasabah, pemasok, kontraktor, pelanggan, dan kreditur.

iv. Pihak yang dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir tidak lagi menjadi Pihak sebagaimana dimaksud dalam angka i, ii, iii di atas.

Sebagai contoh penjelasan angka iv adalah Tuan A berhenti sebagai direktur pada tanggal 1 Januari. Namun demikian Tuan A masih dianggap sebagai orang dalam sampai dengan tanggal 30 Juni pada tahun yang bersangkutan.

2 Mempunyai informasi orang dalam

yang belum tersedia untuk umum;

Yang dimaksud dengan “informasi orang dalam” adalah

Informasi Material yang dimiliki oleh orang dalam yang

belum tersedia untuk umum.

Informasi atau Fakta Materil yang diperkirakan dapat mempengaruhi efek atau keputusan investasi pemodal dapat dilihat dalam Pasal 6 Peraturan OJK No. 31 /POJK.04/2015 tentang Keterbukaan atas Informasi atau Fakta Material Oleh Emiten atau Perusahaan Publik, yaitu:

(16)

usaha, atau pembentukan usaha patungan;

2) Pengajuan tawaran untuk pembelian Efek perusahaan lain;

3) Pembelian atau penjualan saham perusahaan yang nilainya material;

4) Pemecahan saham atau penggabungan saham; 5) Pembagian dividen interim;

6) Penghapusan pencatatan dan pencatatan kembali saham di Bursa Efek;

7) Pendapatan berupa dividen yang luar biasa sifatnya; 8) Perolehan atau kehilangan kontrak penting;

9) Penemuan baru atau produk baru yang memberi nilai tambah bagi perusahaan;

10)Penjualan tambahan Efek kepada masyarakat atau secara terbatas yang material jumlahnya;

11)Perubahan dalam pengendalian baik langsung maupun tidak langsung terhadap Emiten atau Perusahaan Publik;

12)Perubahan anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris

13)Pembelian kembali atau pembayaran Efek Bersifat Utang dan/ atau Sukuk;

14)Pembelian atau penjualan aset yang sifatnya penting; 15)Perselisihan tenaga kerja yang dapat mengganggu

operasional perusahaan;

16)Perkara hukum terhadap Emiten atau Perusahaan Publik dan/atau anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik yang berdampak material;

17)Penggantian Akuntan yang sedang diberi tugas mengaudit Emiten atau Perusahaan Publik;

18)Penggantian Wali Amanat;

19)Penggantian Biro Administrasi Efek;

20)Perubahan tahun buku Emiten atau Perusahaan Publik;

21)Perubahan penggunaan mata uang pelaporan dalam laporan keuangan;

22)Emiten atau Perusahaan Publik berada dalam pengawasan khusus dari regulator terkait yang dapat mempengaruhi kelangsungan usaha Emiten atau Perusahaan Publik;

23)Pembatasan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik oleh regulator terkait;

24)Perubahan atau tidak tercapainya proyeksi keuangan yang telah dipublikasikan, secara material;

25)Adanya kejadian yang akan menyebabkan bertambahnya kewajiban keuangan atau menurunnya pendapatan Emiten atau Perusahaan Publik secara material;

26)Restrukturisasi utang;

27)Penghentian atau penutupan sebagian atau seluruh segmen usaha;

28)Dampak yang bersifat material terhadap Emiten atau Perusahaan Publik karena kejadian yang bersifat memaksa;

29)Informasi atau Fakta Material lainnya 3 Dilarang mempengaruhi Pihak lain

(17)

C.2 Pelaku Insider Trading dalam UUPM

INSIDER OUTSIDER

1 Komisaris, Direktur, Pegawai A. Tippee I

2. Pemegang Saham Utama 1. Pihak lain dipengaruhi (tidak dihukum)

3. Pihak Karena Kedudukanya 2. Pihak lain diberi informasi (tidak dihukum)

4. Pihak Karena Profesinya B. Tippee II

5. Pihak karena hubungan usahanya 1. Pihak lain memperoleh info dari insider secara melawan hukum (dihukum, Pasal 97.a)

6. Pihak tersebut telah berhenti dalam 6 bulan (Penjelasan pasal 95)

2. Pihak lain memperoleh informasi (dengan pembatasan) dari insider tidak secara melawan hukum (dihukum Pasal 97.b)

MELAKUKAN C. Tippee III 1 Pembelian/penjualan efek

Perusahaan Publik. (dihukum, pasal 95.a)

1 Pihak lain memperoleh info dari Tippee I dan Tippee II (tidak dihukum karena tidak diatur) 2 Pembelian/penjualan perusahaan

lain yang melakukan transaksi dengan perusahaan terbuka (dihukum, pasal 95.b)

3 Mempengaruhi pihak lain. (dihukum, Pasal 96.a)

4 Memberi informasi kepada Pihak lain yang patut diduga akan melaksanakan trading (dihukum, pasal 96.b)

D Perusahaan efek yang memiliki info, kecuali atas perintah nasabah dan tidak memberi rekomendasi (dihukum, pasal 98)

C.3 Contoh Kasus

1. Kasus Insider Trading Dalam Perdagangan Saham PT. PGN

Posisi Kasus

Kasus yang dialami oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk diawali oleh fakta-fakta sebagai berikut: bermula pada jatuhnya dalam penjualan saham dibursa efek. Hal ini terjadi pada periode 12 September 2006 sampai dengan 11 Januari 2007. Dalam rentang waktu tersebut terdapat indikasi terjadinya pelanggaran terhadap Peraturan Hukum Pasar modal. Dugaan tersebut terlihat dari penurunan secara signifikan harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk di Bursa Efek Jakarta yaitu sebanyak 23,36%, dari Rp 9.650,00 (harga penutupan pada tanggal 11 januari 2006) menjadi Rp 7.400,00 per lembar saham pada tanggal 12 januari 2007.

Penurunan harga saham yang signifikan tersebut sangat erat hubungannya dengan siaran pers yang dilakukan manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk sehari sebelum (11 januari 2007). Dalam siaran pers tersebut dinyatakan bahwa terjadi koreksi atas rencana besarnya volume gas yang akan dialirkan, yaitu mulai dari (paling sedikit) 150 MMSCFD menjadi 30 MMSCFD. Dan terdapat Pernyataan bahwa tertundanya gas in yang semula akan dilakukan pada akhir Desember 2006 tertunda menjadi Maret 2007. Penundaan proyek komersialisasi pemipaan gas PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dari Sumatra Selatan sampai Jawa Barat dan yang membuat informasi ini berhubungan erat dengan kasus anjloknya harga saham PGN.

(18)

1) Penurunan atau jatuhnya harga saham PT Perushaan Gas Negara Tbk pada saat penjualan dibursa efek Indonesia. Pada harga Rp 9.650 (harga penutupan pada tanggal 11 januari 2006) 23,36% anjlok pada harga Rp 7.400 perlembar saham pada tanggal 12 januari 2007.

2) Adanya bukti-bukti yang menunjuk pada praktek transaksi saham perusahaan yang dilakukan oleh pihak orang dalam perusahaan, yang terjadi pada periode 12 september 2006 sampai dengan 11 januari 2007.

3) Adanya informasi yang tergolong sebagai informasi material dan dapat mempengaruhi harga saham. Antaranya:

a. Penurunan harga saham PT Perusahaan Gas Negara sangat erat dengan siaran pers yang dilakukan manajemn perusahaan sehari sebelumnya tertanggal 11 Januari 2007.

b. Pernyataan bahwa ditundanya proyek komersialisasi pemipaan gas PT Perusahaan Gas Negara Tbk yang semula akan dilakukan pada akhir Desember 2006 tertunda menjadi Maret 2007.

c. Informasi tentang penurunan volume gas telah diketahui para pihak perusahaan sejak tertanggal 12 September 2006 dan informasi tentang tertundanya gas in sejak tanggal 18 Desember 2006, para pihak perusahaan baru menjelaskan pada tanggal 11 januari 2007

Pelanggaran Prinsip Disclosure terhadap keterlambatan penyampaian laporan kepada Bapepam dan masyarakat tentang peristiwa material.

Dalam Pasal 86 ayat (2) UUPM disebutkan bahwa perusahaan publik menyampaikan laporan kepada Bapepam dan mengumumkan kepada masyarakat tentang peristiwa material yang dapat mempengaruhi harga efek selambat-lambatnya pada akhir hari kerja ke-2 (kedua) setelah terjadinya peristiwa tersebut.

Pada kenyataannya PT. PGN terlambat melaporkan fakta atas penundaan proyek pipanisasi yang dilakukan oleh PT PGN. Dalam hal ini keterlambatan pelaporan keterbukaan informasi sebanyak 35 hari. Mengenai informasi penurunan volume gas dan informasi tertundanya gas in Dikategorikan sebagai fakta material dalam Peraturan Nomor X.K.1. Sehingga telah jelas, bahwa PT. Gas Negara melanggar pasal 86 ayat (2) UU No. 5/1995 jo. Peraturan Nomor X.K.1.

Pelanggaran Prinsip Disclosure terhadap pemberian keterangan yang secara material tidak benar.

Ada beberapa hal yang seringkali dilarang dalam hal keterbukaan informasi, di antaranya sebagai berikut:

a. Memberikan informasi yang salah sama sekali. b. Memberikan informasi yang setengah benar. c. Memberikan informasi yang tidak lengkap.

d. Sama sekali diam terhadap fakta/informasi material.

Keempat hal ini dilarang karena oleh hukum dianggap dapat menimbulkan ”misleading” bagi investor dalam memberikan judgement nya untuk membeli atau tidak suatu efek. Ketentuan ini juga diadopsi dalam pasal 93 UU No. 8/1995 tentang Pasar Modal, yang menyebutkan bahwa tiap pihak dilarang, dengan cara apa pun, memberikan keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan sehingga mempengaruhi harga Efek di Bursa Efek.

Dalam kasus ini PT. PGN memberikan keterangan material tidak benar tentang rencana volume gas yang dapat dialirkan melalui proyek SSWJ (South Sumatera-West Java). Fakta itu sudah diketahui atau sewajarnya diketahui oleh direksi, yang kemudian seharusnya keterangan itu disampaikan kepada publik, namun tidak disampaikan. Sehingga jelas terjadi bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap pasal 93 UU No. 8/1995 dan diancam dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp. 15 milyar.

Keterlibatan Fiduciary Position Pelanggaran Insider Trading PT.PGN

Dalam kasus Insider Trading PT. PGN dapat dilihat konstruksinya sebagai berikut:

1) Keterlibatan Orang Dalam

(19)

Thohir Nur ilhami. Kesembilan orang tersebut adalah manajerial internal yang berkedudukan sebagai pegawai kunci, direktur teknis, sekertaris yang secara langsung melakukan transaksi. Jelas untuk transaksi (tingkat pertama) penjualan yang dilakukan orang dalam dari Emiten atau Perusahaan Publik atas saham Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan telah dilarang dalam Pasal 95 UUPM pada huruf a perihal kategori orang dalam yaitu komisaris, direktur, atau pegawai Emiten yang bersangkutan dan pihak yang dalam waktu 6 (enam) bulan terakhir tidak lagi menjadi Pihak sebagaimana dimaksud dalam huruf a.

2. Informasi Material

Penggunaan informasi penting yang bersifat rahasia dan belum dipublikasikan ini jelas-jelas menghancurkan prinsip fiduciary duty oleh setiap unsur manajerial dari level bawah sampai atasan yang memiliki kontrak hukum untuk bekerja dan bertanggungjawab dengan mengedepankan kepentingan pemegang saham, dibanding kepentingan pribadi, untuk segala sesuatu yang terkait langsung dengan kinerja perusahaan, minimal sampai enam bulan setelah penghentian kontrak kerja dengan Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan. Informasi yang direlease pada awal Januari 2007, sebenarnya sudah diketahui oleh manajemen PT.PGN sejak 12 September 2006 (informasi penurunan volume gas) dan 18 Desember 2006 (informasi terundannya gas in). Kedua informasi tersebut dikategorikan sebagai informasi yang material dan dapat mempengaruhi harga saham di Bursa Efek, hal tersebut tercemin dari penurunan harga saham PT.PGN pada tanggal 12 Januari 2007

3. Keuntungan

Penjualan saham yang dilakukan kesembilan orang yang dikategorikan orang dalam menyebabkan mencegah kemungkinan rugi atas penurunan harga saham setelah Press Confrence. Sehingga kesembilan orang dalam tersebut dalam jangka waktu 35 hari melakukan penjualan atas sahamnya

4. Menjual atau Membeli

Kesembilan orang dalam tersebut melakukan transaksi selama tenggat waktu 35 hari sebelum konfrensi pers.

Penyelesaian Terhadap kasus Perdagangan Saham PT.PGN

1) Penyelesaian terhadap Pelanggaran Disclosure

Terhadap pelanggaran Disclosure Bapepam telah mengeluarkan Press Release pada tanggal 13 Maret 2007 yang berisi sebagai berikut:

1. Bapepam-LK telah melakukan pemeriksaan terhadap dokumen dan Pihak-pihak terkait

dengan pelanggaran Pasal 86 Undang-undang Pasar Modal jo. Peraturan Nomor X.K.1 tentang Keterbukaan Informasi Yang Harus Segera Diumumkan Kepada Publik yang dilakukan oleh PT PGN dan tentang pemberian keterangan yang secara material tidak benar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 Undang-undang Pasar Modal.

2. Terdapat pemberian keterangan yang secara material tidak benar, yakni memberikan

keterangan tentang rencana volume gas yang dapat dialirkan melalui proyek SSWJ yang tidak sesuai dengan fakta bahwa telah terjadi perubahan dari rencana awal tersebut. Fakta

tersebut sudah diketahui atau sepatutnya diketahui oleh Direksi yang seharusnya disampaikan saat keterangan itu diberikan kepada publik.

3. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka Bapepam-LK menetapkan:

a. Sanksi denda sebesar Rp. 35.000.000,00 (tiga puluh lima juta rupiah) kepada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atas pelanggaran Pasal 86 Undang-undang Pasar Modal jo. Peraturan Nomor X.K.1;

b. Sanksi denda sebesar Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) kepada Direksi PT PGN yang menjabat pada periode bulan Juli 2006 s/d sekarang yaitu Sdr. Sutikno, Sdr. Adil Abas, Sdr. Djoko Pramono, Sdr. WMP Simanjuntak dan Sdr. Nursubagjo Prijono, atas pelanggaran pemberian keterangan yang secara material tidak benar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 93 Undang-undang Pasar Modal.

Keputusan pengenaan sanksi sebagaimana butir 3 huruf b di atas, didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut:

a. Segera memberikan kepastian hukum kepada industri Pasar Modal dalam rangka memelihara kepercayaan publik terhadap Pasar Modal Indonesia.

(20)

4. Disamping pengenaan sanksi di atas, Bapepam-LK masih melanjutkan pemeriksaan terhadap indikasi adanya perdagangan saham berdasarkan informasi orang dalam yang diduga

dilakukan oleh pihak orang dalam PT PGN dan pihak-pihak yang terkait dengan transaksi yang dilakukan oleh Perusahaan Efek Anggota Bursa (insider trading).

2) Penyelesaian terhadap Pelanggaran Insider Trading

Menindaklanjuti Press Release Bapepam tanggal 13 Maret 2007 point ke 5 diatas, Bapepam akhirnya mengeluarkan Press Release terhadap pelanggaran Insider Trading PT.PGN pada tanggal 27 Desember 2007, yang isinya sebagai berikut:

i. Kasus ini bermula dari terjadinya penurunan secara signifikan harga saham PGAS di Bursa Efek Indonesia (d/h Bursa Efek Jakarta), yaitu sebesar 23,36%, dari Rp9.650 (harga penutupan pada tanggal 11 Januari 2006) menjadi Rp7.400 per lembar saham pada tanggal 12 Januari 2007.

ii. Penurunan harga saham tersebut sangat erat kaitannya dengan press release yang dilakukan oleh PGAS sehari sebelumnya (11 Januari 2007), dimana dalam press release tersebut dinyatakan bahwa terjadi koreksi atas rencana besarnya volume gas yang akan dialirkan, yaitu mulai dari (paling sedikit) 150 MMSCFD menjadi 30 MMSCFD.

iii. Selain itu, juga dinyatakan bahwa tertundanya gas in (dalam rangka komersialisasi) yang semula akan dilakukan pada akhir Desember 2006 tertunda menjadi Maret 2007. Informasi yang direlease tersebut sebenarnya sudah diketahui oleh manajemen PGAS sejak tanggal 12 September 2006 (informasi tentang penurunan volume gas) serta sejak tanggal 18 Desember 2006 (informasi tertundanya gas in).

iv. Kedua informasi tersebut dikategorikan sebagai informasi yang material dan dapat mempengaruhi harga saham di Bursa Efek, hal tersebut tercermin dari penurunan harga saham PGAS pada tanggal 12 Januari 2007.

v. Bahwa pada periode 12 September 2006 sampai dengan 11 Januari 2007, orang dalam PGAS yang melakukan transaksi saham PGAS yaitu: Sdr. Adil Abas, Sdr. Nursubagjo Prijono, Sdr. WMP Simanjuntak, Sdr. Widyatmiko Bapang, Sdr. Iwan Heriawan, Sdr. Djoko Saputro, Sdr. Hari Pratoyo, Sdr. Rosichin, Sdr. Thohir Nur Ilhami.

vi. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka Bapepam-LK menetapkan sanksi administratif berupa denda terhadap:

1. Sdr. Adil Abas sebesar Rp30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah);

2. Sdr. Nursubagjo Prijono sebesar Rp53.000.000,00 (lima puluh tiga juta rupiah);

3. Sdr. WMP Simanjuntak sebesar Rp2.330.000.000,00 (dua miliar tiga ratus tiga puluh juta rupiah);

4. Sdr. Widyatmiko Bapang sebesar Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah);

5. Sdr. Iwan Heriawan sebesar Rp76.000.000,00 (tujuh puluh enam juta rupiah);

6. Sdr. Djoko Saputro sebesar Rp154.000.000,00 (seratus lima puluh empat juta rupiah);

7. Sdr. Hari Pratoyo sebesar Rp9.000.000,00 (sembilan juta rupiah);

8. Sdr. Rosichin sebesar Rp184.000.000,00 (seratus delapan puluh empat juta rupiah); dan

9. Sdr. Thohir Nur Ilhami sebesar Rp317.000.000,00 (tiga ratus tujuh belas juta rupiah).

vii. Sanksi tersebut ditetapkan antara lain dengan mempertimbangkan pola transaksi dan akses yang bersangkutan terhadap informasi orang dalam.

2. Kasus Insider Trading Dalam Perdagangan Saham

PT Lippo e-Net Tbk

Pada tanggal 31 Juli 2000, Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) mengumumkan hasil pemeriksaan terhadap kasus penerbitan press release PT Lippo e-Net Tbk. dan transaksi saham PT. Lippo e-Net Tbk. (d/h PT Lippo Life Tbk.) di Bursa Efek Jakarta sebagai berikut:

1)Berkaitan dengan keberadaan Press Release PT Lippo e-Net Tbk. :

a. Bahwa dalam periode Januari 2000 s.d. Februari 2000, PT. Lippo e-Net Tbk. telah menerbitkan sekaligus mempublikasikan 9 (sembilan) press release yang mengundang kontroversi di kalangan masyarakat, khususnya investor Pasar Modal;

b. Bahwa di antara kesembilan press release tersebut, beberapa di antaranya mengandung informasi yang kurang tuntas penjabarannya serta kurang didukung oleh fakta-fakta yang dapat menguatkan atau dapat menjelaskan informasi yang tertuang di dalamnya;

c. Bahwa dari pemeriksaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan:

(21)

tepat dalam menerbitkan dan menyebarluaskan press release tersebut kepada masyarakat sehingga berpotensi menyesatkan Pihak yang membacanya;

ii. Direksi dan Komisaris PT Lippo e-Net Tbk. tidak cukup berhati-hati dalam memberikan komentar dan pernyataan mengenai perseroan dalam press release tersebut sehingga dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda dan berpotensi menyesatkan Pihak yang membacanya.

d. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Bapepam menetapkan sanksi administratif dan mewajibkan perseroan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

i. Memperingatkan PT Lippo e-Net Tbk. untuk:

a) Berhati-hati di kemudian hari dalam menyebarluaskan informasi dalam bentuk dan cara apapun, termasuk dengan cara penerbitan press release;

b) memperhatikan waktu yang tepat dalam menyebarluaskan informasi tersebut dikaitkan dengan persiapan internal dan kondisi aktual perseroan;

c) menghindari penggunaan kata-kata atau kalimat yang dapat menimbulkan interpretasi berbeda dalam publikasi yang diterbitkan perseroan;

ii. Mengenakan sanksi administratif berupa denda kepada PT Lippo e-Net Tbk. sebesar Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);

iii. Mewajibkan PT Lippo e-Net Tbk. untuk menanggung seluruh biaya registrasi saham PT Lippo e-Net Tbk. dalam rangka implementasi perdagangan saham tanpa warkat (scripless trading);

iv. Mewajibkan PT Lippo e-Net Tbk. untuk mengumumkan pada 2 (dua) surat kabar harian berbahasa Indonesia, yang salah satu di antaranya mempunyai peredaran nasional mengenai perkembangan terakhir kegiatan usaha perseroan di bidang cyber internet dan ecommerce selambat-lambatnya 2 (dua) minggu setelah surat ini ditetapkan.

e. Selain itu, Bapepam juga menetapkan sanksi administratif dan mewajibkan Direksi dan Komisaris perseroan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

i. Memperingatkan Direksi dan Komisaris perseroan untuk lebih cermat, teliti, dan berhati-hati dalam memberikan komentar dan pernyataan, khususnya yang akan dimuat dalam press release atau media komunikasi publik lainnya;

ii. Mewajibkan Direksi dan Komisaris PT. Lippo e-Net Tbk. Untuk membayar sebesar Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) atas ketidakhati-hatiannya dalam memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal yang harus segera disetor ke Kas Negara.

2) Berkaitan dengan transaksi saham LPLI di Bursa Efek Jakarta, Bapepam juga mencermati bahwa bersamaan dengan sekuen penerbitan press release, salah satu afiliasi dari Lippo e-Net, yakni PT. Lippo Securities Tbk., aktif mentransaksikan saham Lippo e-Net di Bursa Efek Jakarta untuk kepentingan nasabahnya melalui perantaraan 2 Wakil Perusahaan Efek yang berasal dari 2 anggota bursa yang berbeda. Praktek tersebut, tidak atau kurang sejalan dengan tekad dan semangat untuk menciptakan pasar modal yang teratur, wajar dan efisien.

Untuk mencegah terjadinya hal serupa di kemudian hari, dan sebagai upaya untuk membuat jera pelaku lainnya (deterrent effect), berkaitan dengan transaksi saham Lippo e-Net di Bursa Efek Jakarta yang terjadi selama periode Januari – Pebruari 2000 tersebut, Bapepam menetapkan sanksi administratif dan mewajibkan Pihak di bawah ini untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Peringatan Tertulis kepada PT Lippo Securities Tbk. dan denda sebesar Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah);

b. Mewajibkan kepada PT Lippo Securities Tbk. untuk menanggung seluruh biaya registrasi saham PT Lippo Securities Tbk. Dalam rangka perdagangan tanpa warkat (scriples trading); c. Peringatan Tertulis kepada Direksi PT Lippo Securities Tbk.;

d. Peringatan Tertulis dan pembekuan izin orang perseorangan atas nama Sdr. Lina Haryanti Latif selaku Wakil Perantara Pedagang Efek pada PT Lippo Securities Tbk. selama 3 (tiga) bulan;

e. Peringatan Tertulis dan pembekuan izin orang perseorangan atas nama Sdr. Peter Indra Lembong selaku Wakil Penjamin Emisi Efek pada PT Lippo Securities Tbk. selama 2 (dua) minggu;

f. Peringatan Tertulis dan pembekuan izin orang perseorangan atas nama Sdr. D. Fona Marundrury selaku Wakil Perantara Pedagang Efek pada PT Ciptadana Sekuritas selama 2 (dua) bulan;

g. Peringatan Tertulis dan pembekuan izin orang perseorangan atas nama Sdr. Johanes T Sutiono selaku Wakil Perantara Pedagang Efek pada PT Intan Artha Parama selama 3 (tiga) minggu.

Referensi

Dokumen terkait

suatu hal yang penting bagi perusahaan yang sudah merupakan perusahaan publik. Hal tersebut diperlukan untuk mendapatkan publisitas dan meningkatkan perhatian terhadap perusahaan,

Legal spirit yang tercermin dalam konsideran tersebut menunjukkan, bahwa dalam rangka untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sebagaimana yang telah diamanatkan dalam

Legal spirit yang tercermin dalam konsideran tersebut menunjukkan, bahwa dalam rangka untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sebagaimana yang telah diamanatkan dalam

Perusahaan Surat Berharga ini didukung oleh tenaga profesional dalam mekanisasi perdagangan efek, seperti underwriter, broker, fund management Jadi, perbedaannya dengan

Dalam Pasal 91 dinyatakan bahwa ”setiap pihak dilarang melakukan tindakan, baik langsung maupun tidak langsung dengan tujuan untuk menciptakan gambaran semu atau

80/DSN-MUI/VI/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek Dasar Diperbolehkannya Transaksi Jual-Beli Efek

Baik bank umum maupun perusahaan efek yang menjalankan fungsi kustodian dari investasi syariah, tergolong sebagai pihak yang melakukan kegiatan syariah di pasar modal,

UU P2SK pasal 1 angka 12  UU P2SK pasla 1 angka 5  efek adalah urat berharga atau kontrak investasi baik dalam bentuk konvensional dan digital atau bentuk lain sesuai dengan