BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bumi merupakan salah satu planet yang ada dalam sistem tata surya. Bumi adalah planet yang ditempati oleh manusia. Berdasarkan citra satelit, manusia dapat mengamati bentuk bumi yang berbentuk bulat, namun tidak sebulat bentuk sebuah bola. Pada tahun 1617 Snellius melakukan pengukuran dengan metode segitiga dan mendapatkan keliling bumi berkisar 40.000 km sejak ditentukanya satuan panjang pada tahun 1719. Dengan ditemukannya keliling bumi, maka jari-jari bumi dapat dihitung, dikhatulistiwa sebesar 6.378,38 km sedangkan di kutub 3.356,91 km.
benua dan litosfir yang ditumpangi kerak samudera dinamakan lempeng samudera.
Pada beberapa abad yang lalu, beberapa pengamat peta bumi memperhatikan adanya kesamaan bentuk garis pantai timur Amerika Selatan dan Afrika Barat. Hal ini menimbulkan pemikiran bahwa semula kedua benua ini bersatu yang merupakan satu massa yang besar, kemudian pecah dan berpisah. Pada tahun 1912 Alfred Wegener, seorang ahli meteorologi dan fisika dari Jerman melontarkan konsep Pengapungan Benua (Continental Drift) dalam monografi The Origins of Continents and Oceans. Hipotesa utamanya adalah adanya satu “super continent”
yang dinamakannya Pangaea (semua daratan), yang dikelilingi oleh Panthalassa (semua lautan). Super continent itu kemudian pecah menjadi benua-benua yang lebih kecil dan kemudian bergerak ketempatnya. Awalnya teori dari Wegener tidak dapat diterima oleh ilmuwan-ilmuwan lain dan masyarakat. Namun, Wegener kemudian mengumpulkan bukti lain untuk mendukung teorinya. Barulah pada tahun 1960 an, mulai terkumpul berbagai macam data yang memperlihatkan bahwa benua benar-benar berpindah. Sejak saat itu berkembanglah Teori Pengapungan Benua menjadi Teori Tektonik Lempeng (Plate Tectonics) yang memperjelas kejadian pergerakan dan perpindahan benua.
1.2 Rumusan Masalah
- Apa yang dimaksud dengan Teori Pengapungan Benua? - Bagaiamana sejarah tentang Teori Pengapungan Benua?
- Bagaimanakah teori yang dikemukakan oleh Alfred Wegener tentang Pengapungan Benua?
- Bagaimanakah mekanisme pergerakan benua? - Apakah yang dimaksud dengan Polar Wandering? - Bagaimanakah proses Polar Wandering?
- Apakah yang dimaksud dengan Arus Konveksi? - Bagaimanakah proses Arus Konveksi?
1.3 Batasan Masalah
Yang akan dibahas dalam makalah ini adalah pengapungan benua serta berbagai teori-teori tentang pengapungan benua maupun proses yang mempengaruhi terjadinya pengapungan benua.
1.4 Tujuan
- Mengetahui Teori Pengapungan Benua - Menjelaskan sejarah Pengapungan Benua
- Menjelaskan observasi geologi yang dilakukan terhadap pengapungan benua - Menjelaskan teori pengapungan benua Alfred Wegener
- Menjelaskan mekanisme pergerakan benua - Mengetahui pengertian dari Polar Wandering - Menjelaskan proses Polar Wandering
1.5 Manfaat
BAB II
ISI
2.1 Definisi dan Sejarah Pengapungan Benua
Benua merupakan daratan yang luas yang berada di atas cekungan samudera yang terdiri atas jalur-jalur pegunungan lipatan. Ide bahwa geografi masa lalu bumi berbeda dengan sekarang ini bukanlah hal baru. Peta-peta yang paling awal menunjukkan antara pantai timur Amerika Selatan dan pantai barat Afrika sebagai bukti pertama bahwa benua itu mungkin pernah menyatu, kemudian terpisah dan pindah ke posisi yang sekarang ini. Tahun 1620, Sir Francis Bacon berkomentar tentang kesamaan dari garis pantai barat Afrika dan timur Amerika Selatan. Namun, ia tidak membuat hubungan antara dunia lama dan baru yang mungkin telah bergabung secara bersama-sama.
Buku Antonio Snider-Pellegrini tahun 1858 Creation and Its Mysteries Revealed adalah salah satu referensi khusus yang paling awal dengan ide
pengapungan benua. Snider-Pellegrini menjelaskan bahwa semua benua yang dihubungkan bersamaan selama Periode Pennsylvanian dan kemudian terpecah. Dia mendasarkan kesimpulannya pada kemiripan antara fosil tanaman di cekungan batubara berumur Pennsylvanian di Eropa dan Amerika Utara.
batubara tepat di atas endapan glasial dari benua selatan. flora ini sangat berbeda dengan flora rawa batubara dari benua utara, yang pernah di ungkapkan oleh Snider-Pellegrini sebelumnya, dan secara kolektif dikenal sebagai flora Glossopteris yaitu salah satu genus yang paling mencolok.
Dalam bukunya, The Face of the Earth, yang diterbitkan pada 1885, Suess mengusulkan nama Benua Gondwana untuk superbenua yang terdiri dari benua selatan tersebut. Fosil yang melimpah dari flora Glossopteris ditemukan di cekungan batubara di Gondwana, sebuah provinsi di India. Suess berpikir bahwa benua selatan ini berada di satu waktu yang dihubungkan oleh jembatan tanah dimana tanaman dan hewan bermigrasi. Dengan demikian, dalam pandangannya, kesamaan fosil di benua ini adalah karena penampilan dan hilangnya jembatan darat yang menghubungkanya.
2.2 Teori Alfred Wegener
ALFRED LOTHAR WEGENER, lahir di Berlin pada tanggal 1 November 1880 dan meninggal di Greenland pada tanggal 2 November 1930 adalah seorang ilmuwan, Geologist dan metereologist yang berasal dari Jerman. Beliau merupakan pencetus ide teori Pengapungan Benua yang diajukan pada tahun 1915 yang menjelaskan bahwa benua-benua di muka bumi ini bergerak secara perlahan dipermukaan Bumi. Akan tetapi dia tidak dapat menjelaskan mengenai mekanisme pergerakannya pada saat itu dan sedikitnya bukti-bukti pendukung sehingga teori ini kurang mendapat tanggapan sampai sekitar tahun 1950 dimana ditemukannya beberapa bukti-bukti yang dapat menjelaskan teori Pengapungan Benua (Continental Drift). Alfred Wegener memulai pendidikan di Jurusan Astronomi Universitas Berlin dan meraih gelar Ph.D pada tahun 1904. Dia tertarik dalam pengembangan di bidang metereologi dan klimatologi (dia menikahi putri metereologist dan klimatologist, Wladimir Köffen). Bukunya The Thermodynamics of the Atmosphere menjadi teks book standar dalam bidang
metereologi. Wegener menjadi bagian dari beberapa ekspedisi ke Greenland untuk mempelajari pola sirkulasi udara.
Gambar 2.1
Kesamaan fosil dari benua yang dulunya pernah bersatu
Gambar 2.2
Bentuk awal benua dan bentuk benua saat ini
2.3 Observasi Geologi
Meskipun mendapat berbagai penolakan dari ilmuwan-ilmuwan lainnya, Wegener tetap tidak menyerah terhadap hipotesisnya dan tetap mencari bukti lain melalui berbagai observasi geologi yang digunakan untuk mendukung hipotesisnya.
Beberapa hal yang menjadi dasar teori A.L. Wegener adalah sebagai berikut. a. Garis pantai timur Benua Amerika Utara mempunyai persamaan dengan
garis pantai barat Afrika.
b. Benua Afrika mempunyai persamaan yang mencolok dengan Asia barat, yang menimbulkan persepsi bahwa kedua garis yang sama tersebut dahulunya merupakan daratan yang berimpitan. Itu juga dikuatkan dengan persamaan formasi geologi pada bagian pertemuan dari kedua daratan tersebut, terutama pada formasi geologi di sepanjang pantai Afrika Barat sama dengan apa yang terdapat di pantai Timur Amerika. Kondisi tersebut telah dapat dibuktikan kebenarannya saat ini.
khatulistiwa. Wilayah Greenland sekarang ini bergerak menjauhi daratan Eropa dengan kecepatan 36 meter/tahun, demikian juga Kepulauan Madagaskar menjauhi Afrika Selatan dengan kecepatan 9 meter/tahun.
Peristiwa-peristiwa di atas menimbulkan hal-hal sebagai berikut:
a. Bentangan-bentangan samudera dan benua-benua mengapung sendiri-sendiri.
b. Karena gerakan Benua Amerika yang terus berlangsung ke arah barat, Samudera Atlantik menjadi semakin luas. Terjadinya lipatan-lipatan kulit bumi yang menghasilkan jajaran pegunungan utara-selatan di sepanjang pantai Amerika Utara Selatan.
c. Besarnya intensitas kegiatan seismik yang terjadi di sepanjang patahan San Andreas, di sekitar pantai barat Amerika Serikat.
d. Samudera Hindia semakin mendesak ke utara, sedangkan anak Benua India akan semakin menyempit dan mendekati Benua Eurasia, sehingga menimbulkan Pegunungan Himalaya. Semakin lebar celah yang terdapat di dasar alur-alur samudera merupakan salah satu bukti bahwa benua-benua tersebut selalu mengalami pergerakan dan pergeseran secara terus-menerus.
berpendapat bahwa sejumlah besar bukti dari berbagai sumber menunjukkan bahwa benua berdekatan atau bersatu di masa lalu.
a. Kecocokan Benua
Gambar 2.3
Kecocokan garis pantai dari benua-benua
b. Kesamaan Urutan Batuan dan Barisan Pegunungan
Serikat dan Kanada dan pegunungan tersebut berakhir tiba-tiba di pantai Newfoundland. Gunung dengan rentang usia yang sama dan gaya deformasi juga ditemukan di timur Greenland, Irlandia, Inggris, dan Norwegia. Menariknya, batupasir merah yang sama digunakan dalam pembangunan benteng Inggris dan Skotlandia banyak digunakan dalam berbagai bangunan di seluruh New York. Jadi, meskipun Pegunungan Appalachian dan pegunungan di Inggris memiliki umur yang setara, saat ini dipisahkan oleh Samudera Atlantik, dulunya pegunungan ini menyatu ketika benua bersatu pada Era Paleozoikum.
Gambar 2.4
c. Bukti Glasiasi
Selama Era Paleozoikum Akhir, gletser besar menutupi daerah benua yang besar dari belahan bumi selatan. Bukti untuk glasiasi ini melingkupi hingga lapisannya (sedimen yang diendapkan oleh gletser) dan tanda goresan di batuan dasar hingga bagian bawahnya. Fosil dan batuan sedimen yang berumur sama dari belahan bumi utara, bagaimanapun, tidak memberikan indikasi glasiasi. Fosil Tanaman ditemukan di batubara menunjukkan bahwa belahan bumi utara memiliki iklim tropis selama belahan bumi bagian selatan mengalami glasiasi.
d. Bukti Fosil
Beberapa bukti yang paling menarik tentang pergeseran benua berasal dari catatan fosil. Fosil flora Glossopteris ditemukan di Pennsylvania dan Permian usia kandungan batubara di semua lima benua Gondwana. Flora Glossopteris ditandai oleh Glossopteris benih pakis, serta oleh banyak tanaman khas dan mudah diidentifikasi lainnya. Serbuk sari dan spora tanaman dapat tersebar di jarak yang jauh oleh angin, namun jenis tanaman Glossopteris diproduksi dengan manabur bijinya dengan bantuan angin. Bahkan jika biji telah melayang di laut, mereka mungkin tidak akan tetap layak untuk waktu yang lama di air asin. Iklim saat ini dari Amerika Selatan, Afrika, India, Australia, dan berbagai Antartika dari tropis ke kutub dan sangat beragam untuk mendukung jenis tanaman dalam flora Glossopteris. Wegener beralasan bahwa benua ini haruslah sekali bergabung sehingga daerah-daerah yang terpisah semua berada di busur lintang iklim yang sama.
fosil harus tersebar luas. Hal ini lebih logis untuk mengasumsikan bahwa Mesosaurus tinggal di danau yang sekarang merupakan wilayah di sekitar Amerika Selatan dan Afrika, tetapi pernah bersatu menjadi sebuah benua tunggal.
Lystrosaurus dan Cynognathus keduanya adalah reptil darat yang hidup pada periode Trias, fosil mereka ditemukan pada masa kini di fragmen kontinental Gondwana. Karena mereka berdua hewan darat, mereka tentu tidak bisa berenang menyeberangi lautan saat ini memisahkan benua Gondwana. Oleh karena itu, adalah logis untuk menganggap bahwa benua haruslah sekali pernah terhubung. Penemuan terbaru fosil dinosaurus di benua Gondwana lebih lanjut membekukan argumen bahwa daratan berada di dekat selama Era Mesozoikum Awal.
Gambar 2.5
Kesamaan fosil dari benua
2.4 Mekanisme Pergerakan Benua
Seperti yang telah dibahas pada bagian sebelumnya tentang Teori Pergerakan Benua yang dikemukakan oleh Wegener, masih terdapat kejanggalan dari teori tersebut yaitu meskipun Wegener mampu menjelaskan pergerakan dari benua awal hingga sampai pada benua-benua saat ini, dia tidak dapat menjelaskan penyebab utama dari pergerakan lempeng.
dibentuk oleh kepingan-kepingan litosfer, yaitu lapisan padat dari kerak bumi dan mantel bumi bagian atas, yang mengapung di atas astenosfer. Astenosfer adalah lapisan plastis di bawah litosfer yang memiliki sifat seperti fluid yang dapat mengalir. Lempeng-lempeng tektonik pembentuk kulit bumi selalu bergerak karena adanya pengaruh arus konveksi yang terjadi pada lapisan astenosfer dengan posisi berada di bawah lempeng tektonik kulit bumi. Kekuatan Pergerakan lempeng itu sendiri terjadi karena adanya Pelepasan panas dari mantel sehingga dapat menggerakkan tektonik lempeng. Pandangan yang disetujui sekarang, meskipun masih cukup diperdebatkan, adalah bahwa kelebihan kepadatan litosfer samudera yang membuatnya menyusup ke bawah di zona subduksi adalah sumber terkuat pergerakan lempeng. Pada waktu pembentukannya di mid ocean ridge, litosfer samudera pada mulanya memiliki kepadatan yang lebih rendah dari astenosfer di sekitarnya, tetapi kepadatan ini meningkat seiring dengan penuaan karena terjadinya pendinginan dan penebalan. Besarnya kepadatan litosfer yang lama relatif terhadap astenosfer di bawahnya memungkinkan terjadinya penyusupan ke mantel yang dalam di zona subduksi sehingga menjadi sumber sebagian besar kekuatan penggerak pergerakan lempeng. Kelemahan astenosfer memungkinkan lempeng untuk bergerak secara mudah menuju ke arah zona subduksi .
dan tiga dimensi interior bumi (tomografi seismik) menunjukkan adanya distribusi kepadatan yang heterogen secara lateral di seluruh mantel. Variasi dalam kepadatan ini bisa bersifat material (dari kimia batuan), mineral (dari variasi struktur mineral), atau termal (melalui ekspansi dan kontraksi termal dari energi panas). Manifestasi dari keheterogenan kepadatan secara lateral adalah konveksi mantel dari gaya apung (buoyancy forces) .Bagaimana konveksi mantel berhubungan secara langsung dan tidak dengan pergerakan planet masih menjadi bidang yang sedang dipelajari dan dibincangkan dalam geodinamika. Dengan satu atau lain cara, energi ini harus dipindahkan ke litosfer supaya lempeng tektonik bisa bergerak. Ada dua jenis gaya yang utama dalam pengaruhnya ke pergerakan planet, yaitu friksi dan gravitasi.
Begitu pula dengan pergerakan yang dialami benua, juga dipengaruhi oleh pergerakan litosfer karena kerak benua yang menumpangi litosfer yang berupa lempeng benua yang terus mengalami pergerakan. Pergerakan lempeng menyebabkan interaksi antar lempeng yang terjadi pada setiap batas lempeng. Terdapat tiga jenis pergerakan lempeng, yaitu:
1. Konvergensi
dengan puncak tertingginya, Mount Everest. Contoh lainnya, tumbukan lempeng dengan Eropa yang menghasilkan terbentuknya jalur Pegunungan Alpes. Zona berupa jalur tumbukan antara lempeng benua dan lempeng dasar samudra, disebut zona subduksi (suduction zone), contohnya, tumbukan antara lempeng benua Amerika dan lempeng dasar Samudra Pasifik yang menghasilkan terbentuknya Pegunungan Rocky dan Andes. 2. Divergensi
Divergensi adalah gerakan saling menjauh antar lempeng tektonik, contohnya gerakan saling menjauh antara lempeng Afrika dan Amerika bagian selatan. Zona berupa jalur tempat berpisahnya lempeng-lempeng Tektonik disebut juga zona divergen (zona sebar pisah).
3. Sesar Mendatar(Transform)
Sesar Mendatar yaitu gerakan saling bergesekan (berlawanan arah)
antarlempeng tektonik. Contohnya gesekan antara lempeng Samudra Pasifik dan lempeng daratan Amerika Utara yang mengakibatkan terbentuknya Sesar San Andreas yang membentang sepanjang kurang 1.200 km dari San Francisco di utara sampai Los Angeles di selatan Amerika Serikat. Zona berupa jalur tempat bergesekan lempeng-lempeng tektonik disebut Zona Sesar Mendatar (zona transform).
Gambar 2.6
Ketiga jenis pergerakan lempeng yang mempengaruhi pergerakan benua
Proses pengapungan benua ini berjalan dalam waktu yang cukup panjang, dari zaman Perm sampai menjelang akhir zaman Psychozoik. Urutan perkembangan pecahan benua tersebut adalah:
a. Pada awalnya hanya ada satu benua yang disebut Pangea dan samudera yang disebut Panthalasea. Panthalasea kemudian terbagi menjadi samudera Pasifik dan laut Tethys. Laut Tethys menjadi laut mediteran dan membentuk teluk besar yang memisahkan Afrika dan Eurasia.
b. Pada Zaman Trias Akhir, Laurasia memisahkan diri dari Gondwanaland. Gondwanaland membentuk,
1. India ke arah timur laut.
2. Afrika dan Amerika Selatan ke arah barat. c. Pada Periode Yura, mulai terbentuk,
d. Pada Periode Kapur Akhir
1. Samudera Atlantik Selatan meluas.
2. Terdapat celah yang memisahkan Madagaskar dan Afrika. 3. Australia masih bergandengan dengan Atlantik.
e. Pada Periode Kenozoik
1. India telah menempel di Asia.
2. Australia telah berpisah dari antartika oleh celah Atlantik Utara yang akhirnya masuk ke dalam Samudera Arktik.
3. Laurasia terpecah menjadi Amerika utara dan Eurasia
Gambar 2.7
2.5 Arus Konveksi
Arus konveksi adalah arus yang terbentuk akibat pemuaian benda cair, padat, atau gas karena naiknya suhu. Pemuaian menyebabkan berat jenis mengecil atau ringan, sehingga bergerak naik, sedangkan bagian yang lebih dingin, lebih berat, bergerak turun. Bahan netral yang mengapung bergerak secara lateral. Arus konveksi dapat terjadi di udara, menghasilkan angin laut dan darat, juga dapat terjadi di air (laut), bahkan dalam batuan pijar di bawah kulit bumi. Arus konveksi di dalam mantel bumi dapat menggerakkan lempeng-lempeng kulit bumi, sehingga mengubah permukaan bumi.
Hipotesa pengapungan benua Wegener diteliti lebih lanjut oleh Arthur Holmes dan Alexander du Toit. Keduanya menggunakan dinamika arus konveksi untuk menjelaskan mekanisme penyebab gerakan benua. Du Toit menerangkan arus konveksi sebagai mekanisme penyebab peregangan kerak benua yang mengasilkan sistem rift, sistem kompresi, dan pelipatan yang menghasilkan pegunungan lipatan. Sedangkan Holmes menyatakan bahwa kerak samudra yang semakin tua semakin berat akan menyusup ke bagian bawah kerak benua sehingga menyebabkan terbentuknya palung. Mekanisme ini akan mempercepat arus konveksi sehingga terbentuknya pengunungan di sekitar batas benua terhadap kerak samudera.
bergerak ke mantel atas melalui bagian tengah dari kerak benua dan lama kelamaan membentuk zona pemekaran antarbenua. Mekanisme dari arus konveksi diperkirakan mirip dengan mekanisme konveksi ketika pemanasan air pada panci dilakukan. Konveksi pada interior bumi hanya dapat berlangsung jika terdapat sumber panas yang cukup. Panas di dalam bumi mungkin dapat berasal dari dua sumber utama, yaitu dari peluruhan radioaktif dan panas residual.
Peluruhan radioaktif merupakan proses spontan yang terjadi ketika suatu isotop mengalami kehilangan partikel-partikel dari nukleusnya lalu membentuk isotop dari unsur yang lainnya. Peluruhan radioaktif secara alamiah terjadi pada unsur-unsur kimia seperti uranium, thorium, dan sebagainya dan akan meglepaskan energi panas yang secara lambat bermigrasi ke permukaan bumi. Arus konveksi tersebutlah yang memengaruhi pergerakan benua.
Gambar 2.8
2.6 Polar Wandering
Polar wandering atau disebut juga pengembaraan kutub atau pembalikan
kutub merupakan salah satu gejala yang disebabkan oleh pergerakan benua. Pengembaraan kutub dibuktikan melalui analisis paleomagnetisme. Paleomagnetisme adalah studi tentang rekaman medan magnet bumi di batuan, sedimen, atau bahan arkeologi. Mineral tertentu dalam batuan menyimpan rekaman arah dan intensitas medan magnet ketika mereka terbentuk. Rekaman ini memberikan informasi tentang sifat masa lalu dari medan magnet bumi dan lokasi lempeng tektonik pada masa itu. Rekaman pembalikan geomagnetik yang tersimpan dalam urutan batuan vulkanik dan sedimen (magnetostratigraphy) menyediakan skala waktu yang digunakan sebagai salah satu cara untuk mempelajari geokronologi.
Paleomagnetisme menjadi bukti kebenaran dari hipotesis apungan benua dan transformasinya menjadi lempeng tektonik. Polar Wander yang terlihat memberikan bukti geofisika yang jelas pertama untuk pergeseran benua, sementara anomali magnetik kelautan juga memberikan bukti yang sama dalam mempelajari perekahan lantai dasar laut. Paleomagnetisme berhasil membuka tabir sejarah lempeng tektonik pada masa lalu. Paleomagnetisme sangat bergantung pada perkembangan baru dari sifat-sifat kemagnetan batuan, yang pada gilirannya telah memberikan dasar untuk aplikasi baru dari sifat-sifat kemagnetan, seperti biomagnetisme, fiber magnetisme (digunakan sebagai indikator regangan di batuan dan tanah), dan kemagnetan lingkungan hidup.
kutub magnet terhadap sumbu rotasi sepanjang waktu geologi. Kemungkinan lain adalah kutub magnet tetap pada posisinya, yang berpindah adalah posisi lempeng tempat sampel ditemukan (terjadi continental drift). Melalui adanya pengembaraan kutub, memberikan bukti yang cukup bahwa benua mengalami pergerakan dari zaman purba hingga saat ini. Sehingga menguatkan teori yang dikemukakan oleh para ahli, baik itu melalui teori Pengapungan Benua dan Teori Tektonik Lempeng.
Gambar 2.9
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teori pengapungan benua mulai berkembang pada awal abad 17 oleh ilmuwan-ilmuwan antara lain Sir Frans Bacon, Snider-Pellegreini, du Toit, hingga Alfred Wegener.
Benua merupakan daratan yang menumpangi litosfer yang terus mengalami pergerakan
Menurut Wegener, pada awalnya semua benua menyatu membentuk satu benua besar bernama Pangaea yang kemudian pecah dan terapung (drifted) hingga ketempatnya masing-masing seperti saat ini
Teori Wegener didukung dengan bukti-bukti yang kuat antara lain kesamaan garis pantai benua, kesamaan fosil, kesamaan garis pegunungan dan kesamaan glasiasi yang memperkuat teori dari Wegener
Pergerakan benua yang menumpangi litosfer dipengaruhi oleh arus konveksi di dalam bumi
Arus konveksi mengakibatkan pergerakan lempeng berupa gerak konvergen, divergen dan transform
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Carlson, Diane H. 2011. Physical Geology, Ninth Edition. New York: McGraw-Hill.
Dobrin, M.B. & Savit, C.B. 1988. Introduction to Geophysical Prospecting. New York: Mc. Graw Hill.
Howell. 1959. Introduction to Applied Geophysics. New York: McGraw Hill.
Paranis, D.S. 1979. Principles of Applied Geophysics. Washington: Chapman and Hall.
Sapiie, Benyamin. Dkk. 2014. Geologi Fisik. Bandung: Penerbit ITB
Santoso, Djoko. 2010. Volkanologi Fisik. Bandung: Penerbit ITB.
Santoso, D. 2011. Pengantar Teknik Geofisika. Bandung: Penerbit ITB,
LAMPIRAN
Soal dan Jawaban Materi Pengapungan Benua
Soal
1. Apakah hal yang menjadi dasar dari Teori Pengapungan Benua menurut beberapa ahli?
2. Bagaimanakah Teori Pengapungan Benua yang dikemukakan oleh Alfred Wegener?
3. Sebutkan beberapa bukti yang mendukung Teori Pengapungan Benua yang dikemukakan oleh Alfred Wegener!
4. Bagaimanakah mekanisme pergerakan benua?
5. Mengapa pergerakan benua dipengaruhi oleh adanya Arus Konveksi dalam bumi?
6. Sebutkan jenis-jenis pergerakan lempeng!
Jawaban
1. Terdapat beberapa hal yang mendasari lahirnya Teori Pengapungan Benua, antara lain kesamaan garis pantai benua serta bukti fosil tumbuhan dan hewan purba. Snider-Pellegrini menjelaskan bahwa semua benua yang dihubungkan bersamaan selama Periode Pennsylvanian dan kemudian terpecah.
2. Menurut Wegener, benua-benua yang ada saat ini dahulunya bersatu yang dikenal sebagai super-kontinen yang bernama Pangaea. Super-kontinen Pangea ini diduga terbentuk pada 200 juta tahun yang lalu yang kemudian terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang kemudian bermigrasi (drifted) ke posisi seperti saat ini.
5. Arus konveksi adalah arus yang terbentuk akibat pemuaian benda cair, padat, atau gas karena naiknya suhu. Pemuaian menyebabkan berat jenis mengecil atau ringan, sehingga bergerak naik, sedangkan bagian yang lebih dingin, lebih berat, bergerak turun. Arus konveksi di dalam mantel bumi dapat menggerakkan lempeng-lempeng kulit bumi, sehingga mengubah permukaan bumi. Arthur Holmes dan Alexander du Toit. Keduanya menggunakan dinamika arus konveksi untuk menjelaskan mekanisme penyebab gerakan benua. Du Toit menerangkan arus konveksi sebagai mekanisme penyebab peregangan kerak benua yang mengasilkan sistem rift, sistem kompresi, dan pelipatan yang menghasilkan pegunungan lipatan. Sedangkan Holmes menyatakan bahwa kerak samudra yang semakin tua semakin berat akan menyusup ke bagian bawah kerak benua sehingga menyebabkan terbentuknya palung. Mekanisme ini akan mempercepat arus konveksi sehingga terbentuknya pengunungan di sekitar batas benua terhadap kerak samudera.
6. Beberapa jenis pergerakan lempeng antara lain a. Konvergen
b. Divergen c. Transform