TUGAS
PEMBANGUNAN MASYARAKAT AGRIBISNIS
“MASALAH-MASALAH PERTANIAN DI SULAWESI TENGGARA DAN PEMECAHAN MASALAHNYA”
ERNA D1A113008 AGRIBISNIS A 013
JURUSAN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS HALU OLEO
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sektor pertanian merupakan sektor terbesar penyerap tenaga kerja dan menyumbang pendapatan daerah dan nasional. Pada pertengahan tahun 1980-an Indonesia berhasil mencapai swasembada beras, 41% dari semua lahan pertanian ditanami padi, sementara saat ini hanya 38%, suatu perubahan yang tidak terlalu besar dalam periode 17 tahun. Beberapa tahun terakhir terjadi penurunan produksi pertanian terutama produksi bahan pangan seperti beras, jagung, kedelai dan lain-lain.
Berbagai masalah dihadapi oleh masyarakat petani terkait kebijakan pemerintah daerah dan pusat yang kurang memerhatikan pembangunan sektor pertanian dibandingkan dengan pembangunan sektor jasa dan pertambangan serta saranan dan prasarana pertanian yang mulai tidak memadai dan mulai rusak. Sebut saja masalah bendungan, irigasi, saluran pertanian primer sampai tersier, konversi lahan pertanian yang dialih fungsikan untuk pembangunan perumahan dan usaha pertambangan yang merusak lingkungan serta masalah-masalah lainnya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
Apa saja masalah dalam pembangunan agribisnis di Indonesia dan program yang harus dilaksanakan untuk mengatasi masalah tersebut ? Apa masalah yang dihadapi oleh masyarakat petani di beberapa daerah di Sulawesi Tenggara dan bagaimana cara untuk mengatasi masalah tersebut ?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penulisan makalah ini yakni :
Untuk mengetahui masalah dalam pembangunan agribisnis di Indonesia dan program yang harus dilaksanakan untuk mengatasi masalah tersebut.
BAB II IDENTIFIKASI MASALAH
2.1 Berbagai Masalah dalam Pembangunan Agribisnis Di Indonesia
Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan menyatakan bahwa Negara Indonesia masih dihadapkan pada berbagai masalah pertanian mulai dari produksi sampai pada harga pangan pertanian itu sendiri. Padahal, jika dilihat dari sisi luas wilayah pertaniannya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan luas lahan pertanian terbesar di Asia Tenggara.
Pertama, masalah lahan pertanian yang berfragmentasi. Lahan pertanian para petani Indonesia sempit, karena lahan pertanian yang hanya sebesar 2.000 meter persegi dikelola oleh sebuah keluarga. Kemudian setelah anak petani tersebut berkeluarga, lahan sawah tersebut terbagi-bagi. Kedua, adalah masalah saluran irigasi dan bendungan yang di mana 40 persen di antaranya tidak normal sehingga menghambat produksi pangan pertanian.
Sedangkan menurut Ketua Umum Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA-IPB) Bambang Hendroyono bahwa ada dua masalah pertanian di Indonesia yaitu pertama, konversi lahan (pertanian) yang setiap tahunnya mencapai 100.000 hektar. Kedua, kecenderungan perilaku generasi muda di pedesaan yang tidak lagi tertarik ikut serta dalam kegiatan pertanian padi karena dianggap tidak menarik. Persoalan itu sangat disayangkan karena faktanya hampir 90 % rakyat Indonesia mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok sehari-hari. Bahkan, selama hampir tujuh dekade Indonesia merdeka, kebijakan pemerintah telah menjadikan beras sebagai pengganti keragaman bahan makanan pokok rakyat Indonesia.
Data Biro Pusat Statistik 2013 menyebutkan bahwa sekitar 20,4 juta orang terlibat dalam pertanian pangan. Dari kisaran tersebut, sekitar 18 juta orang kemungkinan terlibat dalam kegiatan pertanian padi. Dalam kegiatan pascapanennya, pertanian padi melibatkan tidak kurang dari 200.000 pabrik penggilingan yang tersebar di seluruh Indonesia. Ironisnya, dari jumlah penduduk miskin Indonesia yang 28,07 juta, sekitar 13 juta orang adalah mereka yang bekerja sebagai petani dan berstatus miskin.
angkanya menyusut menjadi 39,96 juta orang. Hal ini disinyalir karena dukungan infrastruktur pertanian seperti bendungan, irigasi, saluran pertanian primer sampai tersier bagi peningkatan produktivitas pertanian nasional masih sangat minim.
Hal tersebut diperparah dengan kerusakan saluran irigasi di berbagai wilayah yang kurang mendapat perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah. Rendahnya produktivitas pertanian Indonesia menunjukkan telah terjadi marjinalisasi pertanian dan petani Indonesia dalam kebijakan nasional dan daerah.
Akibat kurangnya perhatian pemerintah pusat dan daerah dan kesalahan-kesalahan kebijakan dalam bidang pertanian sehingga Indonesia terpaksa melakukan kebijakan impor pangan, terutama beras, jagung, kedelai dan daging. Hal tersebut menjadi penghambat dalam pembangunan agribisnis khususnya dalam bidang pertanian padahal Indonesia dikenal sebagai Negara agraris.
2.2 Ketidaktersediaan Saluran Irigasi Padi Sawah Di Beberapa Kabupaten Di Sulawesi Tenggara
Agar tanaman dapat tumbuh dengan subur, selain dipengaruhi oleh faktor cuaca dan kandungan unsur hara didalam tanah, juga harus memperoleh cukup air. Pemberian air yang mencukupi merupakan faktor penting bagi pertumbuhan tanaman. Demikian pula halnya dengan usaha meningkatkan produktivitas suatu lahan pertanian. Ketersediaan air merupakan faktor penting, tanpa air yang cukup produktivitas suatu lahan tidak maksimal. Salah satu upaya penyediaan air bagi lahan pertanian adalah dengan membangun irigasi. Irigasi merupakan usaha pengadaan dan pengaturan air secara buatan, baik air tanah maupun air permukaan untuk menunjang pertanian.
Studi kasus di Kabupaten Konawe Selatan dan Muna Barat yang jaringan irigasinya telah rusak, yakni irigasi di Roraya-3 dan Laeya di Kabupaten Konawe Selatan serta irigasi di Kecamatan Tikep yang terletak di Kabupaten Muna Barat. Akibat rusaknya irigasi di Kecamatan Tikep yang memanfaatkan Sungai Tiworo banyak yang rusak sehingga hanya mampu mengairi sawah seluas 800-900 hektar, padahal potensi persawahan di wilayah tersebut mencapai kisaran 2.000-2.500 hektar.
Berdasarkan hasil penelitian Mahasiswa Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo pada tanggal 6 Juni 2015 yang bertempat di Desa Sindang Kasih Kecamatan Konawe Selatan bahwa para petani yang menanam padi sawah hanya dapat melakukan penanaman satu kali dalam setahun karena hanya mengandalkan air tadah hujan, sekalipun di Desa Sindang Kasih terdapat beberapa bendungan akan tetapi bendungan tersebut mengalami kekeringan pada saat musim kemarau. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu petani yang telah bekerja sebagai petani selama 46 tahun mengatakan bahwa puluhan tahun yang lalu mereka dapat memproduksi 5 ton gabah/ha dan sekarang hanya berkisar 3 sampai 3,5 ton gabah/ha. Walaupun dari pemerintah telah membangun beberapa sumur bor untuk mengairi sawah tapi usaha tersebut tidak berhasil karena sumber mata air sangat dalam sehingga air dari sumur bor sangat sedikit, dan bahkan sekarang sudah tidak digunakan lagi.
2.3 Kerusakan Lahan Pertanian Akibat Aktifitas Pertambangan di Kabupaten Konawe
Desa Wonua Morome, Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), merupakan desa pemekaran. Induknya adalah Desa Sonai. Berpenduduk 467 jiwa, desa yang mayoritas warganya beretnis Jawa ini terbagi dalam 186 kepala keluarga (KK). Mereka merupakan warga transmigran di era pemerintahan Presiden Soeharto yang kini menjalani hidup sebagai petani padi sawah.
mulai berubah pada pertengahan juni 2012 semenjak Pemerintah Daerah (Pemda) Konawe mengizinkan investor tambang beroperasi di desa itu. Sebuah perusahaan asal Tiongkok, PT. Cahaya Modern Metal Industri (CMMI) mulai melakukan eksplorasi pada pertengahan tahun 2013 lalu. Seiring beroperasinya perusahaan ini, petani setempat tidak lagi dapat mengolah sawahnya karena sumber daya air berkurang.
PT. CMMI merupakan salah satu perusahaan dari sekian perusahaan tambang yang akan dan telah beroperasi di daerah itu sebagai bagian dari ambisi besar Bupati Konawe Kerry Syaiful Konggoasa yang akan menjadikan daerah yang dipimpinnya sebagai kawasan proyek mega industri pertambangan. Kabupaten Konawe ditetapkan sebagai satu dari 11 kawasan pengembangan proyek mega industri oleh pemerintah pusat melalui instruksi presiden. Bahkan Konawe berada diurutan ketiga skala prioritas pembangunan kawasan yang akan menghabiskan anggaran hingga Rp 8 triliun. Nantinya pusat industri tambang akan ditempatkan di dua kecamatan yakni, Kecamatan Bondoala dan Kecamatan Morosi.
Puluhan alat berat digerakkan untuk mengeksploitasi kawasan pegunungan yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari pemukiman masyarakat. Satu persatu sawah di Desa Wonua Morome mulai hilang akibat tersumbatnya saluran irigasi karena aktifitas pertambangan. Sehingga hasil panen para petani sudah tidak memadai dan masyarakat sekitar dan para petani semakin menderita.
Salah satu petani di desa yang bernama Sutisna, terpaksa merelakan 12 hektar sawah miliknya tidak produktif lagi. Produktifitas sawahnya yang dulu bisa mencapai 6 ton gabah/hektar, tahun 2015 ini hanya mampu menghasilkan 3 ton gabah/hektar. Dari 12 hektar sawah yang ditanami hanya 7 hektar yang berhasil panen karena yang lainnya mati akibat kekurangan air. Sehingga petani di Desa Wonua Morome sudah tidak bisa mengandalkan air irigasi melainkan hanya air tadah hujan.
BAB III PENETAPAN PROGRAM
3.1 Solusi Untuk Berbagai Masalah Pembangunan Agribisnis Di Indonesia a. Menjamin Berlangsungnya Manajemen Irigasi
Departemen Pertanian berperanan penting dalam kerjasama dengan institusi terkait lainnya dalam menghadapi masalah utama ini yaitu bertambah langkanya sumber air yang mengakibatkan lambatnya pertumbuhan hasil pertanian yang teririgasi.
Beberapa tahun terakhir ini, pemerintah Indonesia telah mengembangkan model pengelolaan air lokal yang menempatkan perkumpulan pengguna sumber air sebagai pusat pengambilan keputusan, di dalam suatu kerjasama yang erat dengan pemerintah setempat. Pengalaman menunjukan bahwa jenis asosiasi tersebut efektif dalam meningkatkan efektifitas penggunaan air, yang mengakibatkan produktivitas lebih tinggi, penggunaan air yang inovatif (diversifikasi pertanian, pengembangan perikanan, dan lain-lain), kesempatan lebih baik untuk menciptakan penghasilan, mempertahankan usaha pencegahan, dan kerjasama yang lebih positif antara pemerintah setempat, komunitas petani dan perwakilan di tingkat nasional.
Model ini telah diuji-coba dan disebarkan secara bertahap ke banyak provinsi di Indonesia. Walau begitu, karena aktivitas ini mempunyai karakter antar-sektor, Departemen Pertanian didorong untuk mengembangkan lebih jauh keberhasilan tersebut, serta memperluas kerjasama dan koordinasi dengan perwakilan lainnya yang memiliki otoritas per sektor dalam pertanian irigasi dan dukungan terhadap pemerintah setempat, khususnya dengan Departemen Pekerjaan Umum, serta Departemen Dalam Negeri. Hal ini akan memerlukan pemantapan manajemen sumber air melalui organisasi yang sedang berkembang (Balai PSDAS) agar dapat mengelola sumber air yang langka dan mengalokasikannya secara optimal.
b. Meningkatkan Pengeluaran Untuk Penelitian Pertanian
sarana dan prasarana pertanian dan dukungan terhadap penelitian pertanian. penelitian Penelitian pertanian yang kuat dan sistim penyuluhan sangat penting untuk menggerakan produktivitas ke jalur pertumbuhan yang lebih pesat. Sistim penelitian pertanian di Indonesia terdiri dari pusat penelitian komoditas nasional dan institut adaptasi di tingkat wilayah. Akan tetapi, pengeluaran untuk penelitian pertanian di Indonesia turun secara drastis sejak awal tahun 1990an dibandingkan dengan negara tetangga. Pengeluaran riil untuk penelitian pertanian umum di 2001 tidak lebih besar dari tahun 1995. Saat ini, kedudukan tingkat pengeluaran untuk penelitian pertanian tersebut, dihitung dalam persentasi dari PDB dan total pengeluaran negara untuk pertanian, termasuk paling rendah di antara negara asia lainnya. Indonesia menyediakan sekitar 0,1% dari PDB sektor pertanian untuk membiayai penelitian pertanian di dalam negeri (bahkan lebih rendah dibandingkan dengan Bangladesh, dan jauh dibawah tingkat rekomendasi 1%) dan, jika dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang menyediakan lebih dari 10% dari total pengeluaran negara untuk sektor pertanian untuk mendukung penelitian pertanian, maka porsi di Indonesia kurang dari 4%.
Tantangan yang langsung dihadapi di dalam sistim penelitian pertanian adalah untuk: (i) menaikkan tingkat total pengeluaran umum untuk membiayai penelitian berskala nasional walaupun saat ini terdapat berbagai proyek penelitian yang dibatalkan, (ii) menjelaskan tanggung jawab pembiayaan publik untuk institusi adaptasi di tingkat wilayah, (iii) melawan efek Prioritas Masalah Pertanian di Indonesia desentralisasi atas kenaikan biaya operasional administrasi di tingkat local, (iv) meremajakan proporsi besar peneliti senior yang akan segera pension, (v) mengintegrasi kapasitas penelitian pertanian sektor swasta sebagai bagian dari strategi nasional, (vi) memperkuat strategi penelitian bioteknologi, dan (vii) sementara menggalakan penggunaan dan penelitian pada berbagai jenis beras, perlu pula menyeimbangkan pengembangan komoditas selain beras.
c. Mencanangkan Alternatif Pangan Selain Beras dan Diversifikasi Produk Pertanian
dan kelaparan. Oleh karena itu, kebijakan yang menjadikan beras sebagai bahan makanan pokok rakyat Indonesia harus diganti dengan alternative pangan lainnya seperti jagung, singkong, sagu, kacang-kacangan dan lain-lain. Selain itu, tidak semua daerah di Indonesia cocok untuk budidaya padi sawah sehingga perlu menganekaragamkan produksi pangan di Indonesia dan mensosialisasikan kepada masyarakat untuk mengkonsumsi pangan lain selain beras. Selain untuk menurunkan permintaan beras juga akan meningkatkan permintaan produk pangan lain yang harganya rendah seperti jagung dan singkong sehingga harganya bisa normal dan petani jagung dan singkong dapat memperoleh kesejahteraannya.
Agar dapat menganekaragamkan pangan yang dikonsumsi tentu harus ditunjang dengan upaya diversifikasi produk pertanian yaitu dengan menanam beragam jenis tanaman dalam lahan yang sama. Misalnya menanam tanaman kacang-kacangan di pematang sawah, sehingga petani akan panen padi sawah dan juga kacang-kacangan. Dengan demikian penghasilan petani dalam sekali panen bisa bertambah dibandingkan hanya menanam satu jenis tanaman.
3.2 Program Pembangunan Saluran Irigasi Di Beberapa Kabupaten Di Sulawesi Tenggara
Akibat kekurangan air produksi beras di Sultra menurun. Untuk itu, persawahan di Sulawesi Tenggara harus didukung dengan infrastruktur sistem jaringan irigasi sehingga bisa lebih meningkatkan produksi beras di Sultra. Kerjasama dan koordinasi antara Dinas Petanian, Dinas Pekerjaan Umum, dan Dinas Pengairan dan Irigasi perlu ditingkatkan untuk membuat suatu sistem jaringan irigasi yang baik. Jaringan irigasi yang baik akan meningkatkan produktivitas padi dan meningkatkan indeks pertanaman padi. Tahun 2015 ini, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sultra, Muhammad Nasir mengatakan bahwa Sultra mendapat bantuan pengembangan jaringan irigasi yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang bertujuan meningkatkan produksi petani.
hektare, Kabupaten Buton Utara 1.000 hektare, Kabupaten Kolaka Utara 2.400 hektare, Kabupaten Buton 250 hektare, Kabupaten Bombana seluas 4.000 hektare, Kabupaten Konawe Utara seluas 2.000, Kota Baubau seluas 150 hektare dan Kabupaten Kolaka Timur seluas 4.000 hektare. Bantuan pengembangan jaringan irigasi tersebut nantinya akan mengairi lahan persawahan dengan total luas 29.500 hektare.
Dengan melaksanakan program pembangunan jaringan irigasi tersebut maka ketersediaan air di beberapa sentral penghasil beras di Sultra akan terjamin sehingga para petani padi sawah dapat melakukan penanaman dua sampai tiga kali setahun. Dengan demikian produksi beras sultra akan berlipat ganda dan tentunya akan menurunkan harga beras di pasaran yang pada beberapa tahun terakhir sangat mahal. Dengan melakukan program pembangunan jaringan irigasi ini bukan hanya menolong para petani Sultra tetapi juga masyarakat Sultra pada umumnya yang kesulitan karena naiknya harga beras. Dan pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat.
3.3 Pelaksanaan CSR Oleh Perusahaan Pertambangan Sebagai Wujud Tanggung Jawab Terhadap Kerugian Petani Di Kabupaten Konawe
Corporate Social Responsibility menurut World Business Council on Sustainable Development adalah komitmen dari bisnis/perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, seraya meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas.
Berdasarkan pada UU RI No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas maka wajib bagi perusahaan pertambangan termaksud PT. Cahaya Modern Metal Industri (CMMI) yang beroperasi di Desa Wonua Morame untuk melaksanakan CSR bagi masyarakat sekitar dan para petani yang mengalami kerugian akibat aktivitas pertambangan tersebut. Hendaknya PT. Cahaya Modern Metal Industri melaksanaan CSR seperti yang telah dilakukan oleh PT. Vale Indonesia yang beroperasi di Desa Lamedai Kecamatan Tangketada, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. PT. Vale Indonesia menyerahkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) pada tahun 2014 untuk bidang infrastruktur senilai sekitar Rp 3 miliar kepada masyarakat melalui Bupati Kolaka. Bantuan CSR bidang infrastruktur digunakan untuk pembangunan saluran irigasi, bendung pembagi air, jembatan jalan usaha tani, normalisasi sungai Okooko, dan penguatan tebing Sungai Okooko dengan pemasangan bronjong. CSR bidang infrastruktur ini, merupakan usulan masyarakat setempat melalui musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) yang dimulai dari bawah, kemudian dievaluasi oleh komite percepatan yang beranggotakan Pemkab Kolaka, PT Vale Indonesia, dan perwakilan masyarakat. Hingga akhirnya dapat direalisasikan pada hari Selasa 6 Januari 2015.
BAB IV KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan pada Bab I dan Bab II dapat disimpulkan : 1. Berbagai masalah pertanian di Indonesia yang meliputi masalah rusaknya
saluran irigasi, kurangnya pembangunan sarana dan prasarana dalam sektor pertanian dan impor beras dari luar negeri akibat tingginya permintaan beras, dapat diselesaikan dengan melaksanakan program berikut :
a. Menjamin berlangsungnya manajemen irigasi,
b. Meningkatkan pengeluaran untuk penelitian pertanian, dan
c. Mencanangkan alternatif pangan selain beras dan diversifikasi produk pertanian
2. Masalah ketidaktersediaan saluran irigasi padi sawah di beberapa kabupaten di sulawesi tenggara yang masih berkisar 26.500 hektar, dengan melaksanakan program pembangunan saluran irigasi di berbagai daerah yang meliputi : Kabupaten Konawe Selatan dengan luas 6.800 hektare, Kabupaten Kolaka 3.900 hektare. Kabupaten Konawe seluas 5.000 hektare, Kabupaten Buton Utara 1.000 hektare, Kabupaten Kolaka Utara 2.400 hektare, Kabupaten Buton 250 hektare, Kabupaten Bombana seluas 4.000 hektare, Kabupaten Konawe Utara seluas 2.000, Kota Baubau seluas 150 hektare dan Kabupaten Kolaka Timur seluas 4.000 hektare.
3. Masalah kerusakan lahan pertanian akibat aktifitas pertambangan di kabupaten konawe yang disebabkan oleh eksploitasi alam oleh PT. Cahaya Modern Metal Industri (CMMI) dapat diselesaikan dengan mengharuskan perusahaan tersebut menjalankan CSR dang anti rugi atas kerugian masyarakat dan petani sekitar. Jika hal tersebut tidak ditanggapi oleh PT. Cahaya Modern Metal Industri maka sebaiknya izin usaha tambang miliknya hendaknya dicabut karena telah merugikan banyak pihak.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Aziz Senong. 2014. Irigasi Konawe Selatan Muna Barat Prioritas 2015. http://www.antarasultra.com/berita/275033/irigasi-konawe-selatan-muna-barat-prioritas-2015 Diakses tanggal 7 Juni 2015.
Abdul Azis Senong. 2015. 26.500 Hektar Sawah Di Sultra Belum Beririgasi. http://www.antarasultra.com/berita/276860/26500-hektare-sawah-di-sultra-belum-beririgasi Diakses tanggal 7 Juni 2015.
Dwi Murdaningsih. 2015. 26 Ribu Sawah di Sultra Belum Miliki Irigasi. http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/02/15/njshqx-26-ribu-hektare-sawah-di-sultra-belum-miliki-irigasi Diakes tanggal 7 Juni 2015.
Indonesia Policy Briefs. Ide-ide Program 100 Hari.
Jumriati. 2015. Wonua Morome, Kampung Subur yang Tinggal Kenangan. http://www.zonasultra.com/2014a/content/blogcategory/20/509/ Diakses tanggal 7 Juni 2015.
Kurniasih Miftakhul Jannah. 2014. Ragam Permasalahan Sektor Pertanian.
http://economy.okezone.com/read/2014/09/04/320/1034356/ragam-permasalahan-sektor-pertanian-ri Diakses tanggal 7 Juni 2015.