Sejarah Peradaban Islam Bangsa Arab (History of Islamic Civilization of Arab Nation)
Mellya Zaizafuun Arasti
Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
Email : [email protected]
1. Pendahuluan
Bangsa Arab sebelum lahirnya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai bangsa yang sudah memiliki kemajuan ekonomi. Letak geografis yang yang cukup strategis membuat Islam yang diturunkan di makkah menjadi cepat disebarluaskan ke berbagai wilayah disamping juga didorong oleh faktor cepatnya laju perluasan wilayah yang dilakukan umat Islam (Mubarok, 2004).
Bangsa Arab adalah ras semit yang tinggal di sekitar jazirah Arabia. Bangsa Arab purbakala adalah masyarakat terpencil sehingga sulit dilacak riwayatnya. Sedangkan bangsa arab termasuk dalam keturunan ras bangsa Caucasoid[ CITATION Muf97 \l 14345 ].
Pada perkembangannya bangsa Arab terbagi ke dalam 2 kelompok, yaitu :
a) Arab Ba’idah
Arab Ba’idah adalah kelompok bangsa Arab yang sudah punah seperti bangsa kaum Tsamud, Ad, Thasem, Madyan, dan Jadis.
b) Arab Baqiyah
Arab Baqiyah adalah kelompok yang msih ada hingga saat ini, di dalamnya termasuk kelompok Arab Aribah dan Musta’ribah. Menurut para sejarawan, Arab Aribah adalah orang-orang Yaman keturunan Qathan dan Adnan, dari keturunan Adnan inilah nantinya akan lahir Nabi Muhamad SAW[ CITATION Rah13 \l 14345 ].
pada masa ini disebut jahiliyah, yang berarti kebodohan. Periode ini dianggap sebagai suatu kemunduran moral beragama.
Pada masa ini, bangsa arab dikelilingi oleh kebodohan, meliputi : menyekutukan Allah, syariat agama yang sesat, berbangga-bangga dengan nasab, kesombongan dan penyimpangan lainnya. Kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya adalah meminum minuman keras, berjudi dan menyembah berhala (Paganisme). Mayoritas agama bangsa Arab pada masa ini adalah paganisme, yahudi, dan Kristen. Paganisme merupakan kepercayaan masyarakat terhadap berhala. Agama pagan ini sudah ada sejak zaman sebelum Nabi Ibrahim AS. Berhala yang pertama mereka sembah bernama Hubal. Kemudian, mereka membuat patung-patung lain yang bernama : Lata, Uzza, Manata, dll. Intinya, Jahiliyah adalah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam yang ajarannya tidak bersumber dari ilmu tetapi dari kebodohan.
Berhala, ini merupakan agama yang paling banyak dianut oleh bangsa arab jahiliyyah penyembahan berhala ini adalah akibat kebiasaan dari kabilah bangsa arab yang berkunjung ke ka’bah untuk menunaikan ibadah haji, setiap mereka akan kembali mereka mengambil beberapa buah batu yang ada disekitar ka’bah sebagai tanda penghormatan kepada ka’bah tersebut kemudian batu itu mereka letakkan di lokasi dimana mereka menetap dan ini dianggap sebagai pengganti ka’bah lalu mereka tawaf.[ CITATION Mat89 \l 14345 ]
2. Bangsa Arab pada Zaman Jahiliyah
Bangsa Arab pada zaman ini dipenuhi dengan kebiasaan-kebiasaan mereka yang buruk. Secara keseluruhan, bangsa Arab benar-benar berada dalam kehidupan yang tidak benar dan bodoh. Mereka tidak memiliki sifat-sifat perikemanusiaan, dan akhlak mereka sangatlah rendah.
Orang-orang Arab sebelum Islam tidaklah bodoh melainkan cerdas. Kata jahiliyah yang melekat pada Arab Jahiliyah berasal dari kata jahl tetapi yang dimaksud disini bukan jahl lawan dari ‘ilm yaitu tidak berilmu, melainkan lawan dari hilm yaitu Safah, Ghadad, anfah (sedai, berang, tolol). Jadi pengertian Arab Jahiliyah yang sebenarnya adalah orang-orang Arab sebelum Islam yang membangkang kepada kebenaran, terus melawan kebenaran, sekalipun telah diketahui olehnya kebenaran itu. (Hasjmy, 1995)
Bangsa Arab pada masa pra-islam telah mengenal sistem perbudakan. Derajat perempuan pun sangat direndahkan pada zaman ini. Jika memiliki seorang anak perempuan, dianggap sebagai sebuah hal yang memalukan atau aib. Sehingga, anak perempuan pun dikubur hidup-hidup saat ia lahir. Perbudakan di zaman ini juga sangat merajalela. Para majikannya sering menyiksa dan memperlakukan budak seperti binatang. Pada saat itu, seorang majikan memperlakukan budak sesuai dengan keininginannya, bahkan hingga membunuh. Wanita dan laki-laki sangat bebas bergaul dan tidak ada batasan. Memasang tanda atau bendera merah di pintu rumah seorang wanita menandakan bahwa wanita itu adalah seorang pelacur. Laki-laki dapat melakukan poligami tanpa ada batas maksimal, bahkan mereka bisa menikahi janda bapak kandungnya. Hak perceraian pun dipegang oleh laki-laki tanpa ada batasnya. Banyak juga wanita yang memiliki laki-laki lebih dari lima orang. Perzinahan terjadi dimana-mana karena tidak dianggap sebuah aib. Banyak hubungan antara wanita dan laki-laki yang diluar kewajaran, seperti :
a) Pernikahan Istibdha’, seorang laki-laki menyuruh istrinya bercampur kepada laki-laki lain hingga mendapat kejelasan bahwa istrinya hamil. Lalu sang suami mengambil istrinya kembali jika menghendaki, karena sang suami menghendaki kelahiran seorang anak yang pintar dan baik.
b) Para lelaki mendatangi wanita pelacur
c) Laki-laki mendapatkan perempuan dari hasil peperangan. Maksudnya, pihak yang menang, bisa menawan wanita dari pihak yang kalah dan wanita tersebut harus menuruti semua permintaan laki-laki tersebut.
berperang, bersyair, serta saling menyombongkan keturunan dan harta benda. (Aizid, 2015)
2.2 Keadaan Ekonomi
Karena keadaan geografis yang tandus dan kering, pada umumnya profesi bangsa Arab pra-islam berasal dari kegiatan perdagangan. Kota yang menjadi pusat perdagangan adalah Mekkah, Madinah, Yaman, dan lain-lainnya. Masyarakat yang tinggal di kota umumnya bekerja sebagai pedagang dan bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan bekerja sebagai peternak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hewan yang diternak seperti kambing, biri-biri, dan unta. Jumlah hewan-hewan ini sangat terbatas di wilayah Jazirah Arab. Oleh karenanya, tempat tinggal peternak selalu berpindah-pindah sesuai dengan lahan mereka. Perselisihan dan peperangan antar suku tidak dapat dihindari akibat perebutan lahan ternak. Mereka memperebutkan lahan yang memiliki padang rumput segar, dan air untuk menghidupi diri mereka dan hewan ternak[ CITATION Yat08 \l 14345 ].
Perdagangan merupakan unsur penting dalam perekonomian masyarakat Arab pra Islam. Mereka telah lama mengenal perdagangan bukan saja dengan orang Arab, tetapi juga dengan non-Arab. Kemajuan perdagangan bangsa Arab pra Islam dimungkinkan antara lain karena pertanian yang telah maju. Kemajuan ini ditandai dengan adanya kegiatan ekspor-impor yang mereka lakukan. Para pedagang Arab selatan dan Yaman pada 200 tahun menjelang Islam lahir telah mengadakan transaksi dengan Hindia, Afrika, dan Persia. Komoditas ekspor Arab selatan dan Yaman adalah dupa, kemenyan, kayu gaharu, minyak wangi, kulit binatang, buah kismis, dan anggur. Sedangkan yang mereka impor dari Afrika adalah kayu, logam, budak; dari Hindia adalah gading, sutra, pakaian dan pedang; dari Persia adalah intan (Syafiq, 2002).
penduduk Makkah, karena bangsa Yaman sangat piawai dan berpengalaman luas dalam bidang perdagangan. Bangsa Arab yang yang nomaden umumnya bekerja sebagai penggembala. Mereka ini juga kadangkala menjadi pengawal para kafilah dagang yang umumnya dari penduduk perkotaan. Sementara Arab bagian selatan, pesisir atau perkotaan umumnya mereka lebih banyak bergerak di bidang perdagangan. Perdagangan ini mereka lakukan sampai ke negeri India, Indonesia dan Cina[ CITATION Sha07 \l 14345 ].
2.3 Keadaan Politik
Bangsa Arab mempunyai rasa solidaritas yang tinggi. Bangsa Arab juga terkenal dengan banyaknya kabilah yang terikat karena adanya kepentingan yang sama atau keturunan, sehingga kabilah yang melindungi rakyat yang meminta perlindungan kepadanya. Hal ini terjadi karena bangsa Arab tidak memiliki pemerintahan resmi.
Bangsa arab zaman Jahiliyah tidak mempunyai bentuk pemerintahan terkenal yang besar. Mereka hanya memiliki kabilah-kabilah yang mana tugas pemimpin hanya mengurus hal-hal dalam keadaan perang dan damai. Perang sering terjadi antara kabilah dan suku, ganti berganti, terjadinya selama bulan haram, dalam masa mana berlangsung “pasar Ukaz”. Peperangan terjadi biasanya disebabkan oleh hal yang sepele dan remeh (Hasjmy, 1995).
Model organisasi politik bangsa Arab lebih didominasi kesukuan (model kabilah). Kepala sukunya disebut Shaikh, yakni seorang pemimpin yang dipilih antara sesama anggota. Shaikh dipilih dari suku yang lebih tua, biasanya dari anggota yang masih memiliki hubungan famili. Fungsi pemerintahan Shaikh ini lebih banyak bersifat penengah (arbitrasi) dari pada memberi komando. Shaikh tidak berwenang memaksa, serta tidak dapat membebankan tugas-tugas atau mengenakan hukuman-hukuman. Hak dan kewajiban hanya melekat pada warga suku secara individual, serta tidak mengikat pada warga suku lain (Lewis, 1994).
2.4 Keadaan Budaya
beberapa pegunungan yang tidak begitu tinggi hingga hujan tidak banyak turun. Akibatnya penduduk hidup berpindah-pindah (nomaden) dari tempat satu ke tempat yang lain mengikuti turunnya hujan dan mencari tanah yang subur guna menghidupi binatang gembalaan mereka kambing dan unta. Dengan tipologi seperti ini orang Arab merupakan suatu kelompok yang susah untuk mengembangkan kebudayaanya (Syaefudin et al, 2013). Tempat tumbuh kebudayaan Arab sebelum Islam datang terletak di negeri Yaman. Bangsa Arab memiliki jiwa seni yang tinggi. Mereka gemar berkumpul dan mendengarkan penyair-penyair untuk mendengarkan syair.
Bagian pesisir merupakan bagian maritim, karena itu penduduknya tidak nomaden sehingga mereka bisa mengembangkan kebudayaannya jauh lebih memungkinkan dibandingkan dengan masyarakat Badui yang nomaden, misalnya mereka dapat mengembangkan kebudayaan, mendirikan kota-kota bahkan kerajaan-kerajaan, seperti kerajaan Himyar, Saba’, Hirrah dan Ghassan (Syaefudin et al, 2013).
Akibat peperangan secara terus menerus kebudayaan arab tidak berkembang. Karena itu, artefak sejarah arab pra islam sangat langka didapatkan di dunia Arab dan yang dalam bentuk bahasa arab. Sejarah mereka hanya dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya islam. [ CITATION Yat08 \l 14345 ]. Salah satu kelaziman dalam masyarakat Arab Jahiliyyah adalah mengadakan majelis atau nadwah sebagai sarana untuk mendeklamasikansajak, bertanding pidato, tukar menukar berita dan lain sebagainya. Seperti Nadi Quraisy dan Darun Nadwah yang berdiri di samping Ka’bah sebagian dari nadwah mereka (Syaefudin et al, 2013).
Dalam kehidupan seni dan budaya orang-orang arab sebelum islam sangat maju. Bahasa mereka sangat indah dan kaya. Syair-syair berjumlah banyak. Di kalangan mereka seorang penyair dan ahli berpidato (khitabah) sangat dihormati. Tiap tahun di “Pasar Ukaz” diadakan deklamasi sajak yang sangat luas. Hal lain yang sangat dipentingkan oleh orang arab Jahiliyah adalah catatan keturunan (nasab), nasab digunakan untuk bermegah-megahan dan ajang pamer dengan lawannya (Hasjmy, 1995).
Sejarah mencatat bahwa Islam lahir sekitar abad ketujuh masehi. sejak itu terjadi perubahan-perubahan yang besar terhadap mereka baik dari segi watak, budaya dan kepercayaan. Dari segi watak, perubahan yang terjadi yaitu bangsa Arab yang semula sangat bangga dengan kabila, darah dan turunannya masing-masing maka ketika Islam telah menjadi agama yang mereka anut mereka dipersatukan di atas suatu bendera dengan satu nama yaitu Islam (Misrawi, t tahun).
4. Bangsa Arab Setelah Datangnya Islam 4.1 Keadaan Sosial
Sehingga bangsa Arab saat itu saling menghormati satu sama lain dan karena itu pula perselisihan-perselisihan antar kabilah yang sering terjadi pada masa jahiliyah dapat dihindarkan. Islam juga mengajarkan untuk saling menyayangi satu sama lain ,menyambung tali silaturahim dan bertetangga dengan baik (Gulen, 2002).
Satu pengaruh yang menonjol dari Islam terhadap mental bangsa Arab ialah timbulnya kesadaran akan arti dan pentingnya disiplin dan ketaatan. Dalam mengatur masyarakat, Islam mengharamkan menumpahkan darah dan dilarangnya orang menuntut bela dengan cara menjadi hakim sendiri-sendiri seperti zaman Jahiliyah, tetapi Islam menyerahkan penuntutan bela itu kepada pemerintah. Islam pula banyak meletakkan dasar-dasar umum masyarakat yang mengatur hubungan antara individu dengan individu, antara individu dengan masyarakatnya, antara suatu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya, hukum keluarga sampai kepada soal bernegara. Islam yang pertama mengangkat derajat wanita, memberikan hak-hak wanita juga menegakkan ajaran persamaan antara manusia dan memberantas perbudakan.
4.2 Keadaan Ekonomi
berbagai reformasi yang dilakukan Nabi Muhammad Saw, praktek riba mendapat sorotan dan tekanan cukup tajam. Banyak ayat dan hadits yang mengecam riba dan menyebutnya sebagai perbuatan terkutuk dan dosa besar yang membuat pelakunya kekal didalam neraka. Paradigma pemikiran masyarakat yang telah terbiasa dengan system riba (bunga) digesernya menjadi paradigma syariah secara bertahap. Menurut para ahli tafsir, proses perubahan tersebut memakan waktu 22 tahunan. Pada awalnya hampir semua orang beranggapan bahwa system riba (bunga) akan menumbuhkan perekonomian, tetapi justru menurut Islam, riba malah merusak perekonomian (Mawardi, 2011).
4.3 Keadaan Politik
Sesudah bangsa Arab memeluk Islam kekabilahan mulai ditinggalkan, dan mulai timbul kesatuan persaudaraan dan kesatuan agama, yaitu kesatuan umat manusia di bawah satu naungan panji kalimat syahadat. Dasar pertalian darah diganti dengan dasar pertalian agama. Bangsa Arab yang tadinya hidup bercerai berai, berkelompok-kelompok, berkat agama Islam mereka menjadi satu kesatuan bangsa, kesatuan umat, yang mempunyai pemerintahan pusat, dan mereka tunduk kepada satu hukum yaitu hukum Allah dan Rasul-Nya (Tamhid, 1999).
4.4 Keadaan Budaya
Dilihat dari segi budaya, perubahan yang terjadi setelah islam datang ialah:
Bangsa Arab yang semula sangat gemar melantunkan dan mendengarkan syair-syair para penyair di pasar Ukaz pada zaman Islam, mereka asik membaca Qur'an siang dan malam.
Kebiasaan meratap yang sering dilakukan pada masa jahiliah mereka tinggalkan. Karena agama Islam telah melarang perbuatan meratap.
Pada zaman Islam, bangsa Arab juga telah merubah kebiasaan mereka yang suka membunuh anak perempuan yang baru lahir.
Terhapusnya sistem perbudakan karena dalam Islam semua orang memiliki hak yang sama.
Adanya pengaturan terhadap pernikahan. Sehingga kebiasaan mengawini janda bekas ayah yang dilakukan oleh masyarakat jahiliah dilarang.
matahari dan bulan. Mereka mengamalkan ajaran-ajaran islam seperti : salat, puasa, membayar zakat, dan berhaji (Gulen, 2002).
Para ilmuwan muslim juga telah melahirkan sistem berfikir atau metode berijtihad dalam disiplin ilmu tertentu yang dikenal dengan mazhab. Diantara para ilmuwan tersebut adalam Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Safi’i dan Imam Hambali dalam disiplin ilmu Fikih. Perkembangan pemikiran Islam di bidang Fikih kemudian diiringi dengan perkembangan pemikiran-pemikiran di bidang keilmuwan yang lain yang banyak melahirkan ilmuan muslim, seperti Umar Khayyam, Ibnu Sina, Gazhali, Kindi, Khawarizmi, Al-Farabi dan lain-lain. Selain budaya intelektual pada masyarakat Arab juga terdapat hasil kebudayaan dalam bentuk bangunan (arsitektur), yakni masjid sebagai pusat kebudayaan Islam. Aktivitas pertama Rasulullah ketika tiba di Madinah adalah membangun Masjid karena masjid merupakan tempat yang dapat menghimpun berbagai jenis kaum muslimin. Di dalam masjid, seluruh muslim dapat membahas dan memecahkan persoalan hidup, bermusyawarah untuk mewujudkan berbagai tujuan, menjauhkan diri dari kerusakkan, serta mengahadang berbagai penyelewengan akidah. Bahkan masjid pun dapat menjadi tempat mereka berhubungan dengan Penciptanya dalam rangka memohon ketentraman dan pertolongan Allah (Rafiq, 1999).
5. Kesimpulan
Kesimpulan pada penjelasan diatas adalah:
a. Bangsa Arab terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu Arab ba’idah dan Arab baqiyah b. Sebelum islam datang, keadaan bangsa arab sangat tidak beraturan, tata karma
antar kelompok manusia sangat minim, juga keadaan wanita yang sangat direndahkan pada masa itu. Mayoritas kepercayaan yang dianut adalah paganisme. Model politik bangsa Arab lebih didominasi kesukuan atau kabilah. c. Islam lahir sekitar abad ketujuh masehi. Setelah islam dating, keadaan bangsa
DAFTAR PUSTAKA
Matdawam, M. N. (1989). In Lintasan Sejarah Kebudayaan Islam (pp. 32-33). Yogyakarta: Yayasan Bina Karier.
Mufrodi, A. (1997). In Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (p. 5). Tangerang: Logos Wacana Ilmu.
Rahman, A., Latif, A., & Mizan, A. K. (2013). Arab Sebagai Sebuah Bangsa : Aribah dan Baidah.
Shalaby, A. (2007). In Sejarah dan Kebudayaan Islam (p. 53). Jakarta: Pustaka Al Husna Baru.
Yatim, D. B. (2008). In Sejarah Peradaban Islam (p. 10). Jakarta: PT. Raja Grafindo.
A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), 23.
A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), 24-25.
Bernard Lewis, Bangsa Arab dalam Lintasan Sejarah dari Segi Geografi, Sosial, Budaya dan Peranan Islam, terj. Said Jamhuri (Jakarta: Ilmu Jaya, 1994), 10.
Syafiq A. Mughni, “Masyarakat Arab Pra Islam”, dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, I (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), 15.
Machfud Syaefudin,dkk., Dinamika Peradaban Islam Perspektif Historis,(Yogyakarta: Pustaka Ilmu, 2013), 3.
A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), 20-21.
Machfud Syaefudin,dkk. Dinamika Peradaban Islam Perspektif Historis.( Yogyakarta: Pustaka Ilmu Yogyakarta, 2013 ).hlm.3
Musyawarah Guru PAI, Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI MA/SMTR Ganjil, (Sragen: CV.Akik Pusaka,2008), 4.
Machfud Syaefudin,dkk. Dinamika Peradaban Islam Perspektif Historis.( Yogyakarta: Pustaka Ilmu Yogyakarta, 2013 ). 8-9.
Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam , Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2004. 13
Rizem Aizid. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap.( Yogyakarta: Diva Press, 2015 ). 113-114.
M. Fethullan Gulen, Versi terdalam : Kehidupan Rasul Allah Muhammad SAW, (Jakarta : Murai Kencana, 2002), hlm 65
Zuhairi Misrawi, op, cit., hlm 120
Mawardi, Ahmad. 2011. Kehidupan Ekonomi Bangsa Arab.
M. Fethullan Gulen, Versi terdalam : Kehidupan Rasul Allah Muhammad SAW, (Jakarta : Murai Kencana, 2002), hlm 69
Aunur Rafiq Shaleh Tamhid, Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW. Terjemahan, (Jakarta: Robbani Press, 1999), hlm. 45-46