• Tidak ada hasil yang ditemukan

Palembang Emas Cerita Sejarah Peradaban

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Palembang Emas Cerita Sejarah Peradaban"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Palembang & Emas, Cerita Sejarah Peradaban Kota Kita

Oleh :

Arafah Pramasto,S.Pd* & Rifkhi Firnando,S.Pd.**

“Palembang EMAS” adalah sebuah sebuah slogan yang kini diusung oleh pemerintah kota Palembang. Kata “Emas” yang dimaksud merupakan singkatan dari (E)lok, (M)adani, (A)man, dan (S)ejahtera. Kata ‘Elok’ memiliki padanan kata ‘molek’ atau ‘indah’ yang dalam bahasa Sansekerta disebut Anglep. Sedangkan kata ‘Madani’ berasal dari bahasa Arab Maddaniyah memiliki arti ‘Peradaban’ yang berakar pada sebuah fakta sejarah Kota Madinah – sebelumnya bernama Yatsrib – sebagai tempat ditandatanganinya sebuah konstitusi tertua yang disebut Piagam Madinah. Intisari yang terdapat dari kata Madani itu adalah pengakuan

atas eksistensi pemeluk agama-agama selain Islam seperti Yahudi, Kristiani (dalam

Amandemen I), serta Majusi (dalam Amandemen II) dalam Piagam Madinah. Maka esensi dari Elok dan Madani tak jauh beda dengan ‘manunggal’-nya masyarakat dalam keragaman sehingga tercipta rasa ‘Aman’ serta berkemampuan untuk hidup ‘Sejahtera.’

Namun, di balik singkatan EMAS itu, sesungguhnya kota Palembang telah lama

memiliki keterkaitan dengan komoditas emas dalam arti yang sebenarnya. Uniknya, emas

telah menjadi adjektiva yang prominen dari waktu ke waktu untuk kota Palembang. Bahkan ada kepercayaan bahwa nama ‘Palembang’ itu berasal dari kata melembang yang artinya adalah kegiatan mendulang emas di sungai. Meskipun masyarakat secara umum dapat dengan mudah mengartikan kata ‘Swarnadwipa’ yang berarti ‘Pulau Emas’ sebagai nama kuno untuk Pulau Sumatera secara umum, namun masih sedikit sekali di antaranya yang mengerti

akarnya secara historis. Demikianlah hal ini sangat baik untuk dapat dikaji.

Kerajaan Sriwijaya yang didirikan sekitar abad ke-7 M merupakan sebuah kesatuan

politik bersifat maritim. Kuasa hegemoninya yang turut mencakup wiayah Melayu

Semenanjung menunjukkan kemampuan militer unggul, hingga kerajaan ini pun sempat

berhadapan dengan kekuatan politik yang kuat di Jawa yakni Kerajaan Medang seperti yang

terungkap dari Prasasti Anjuk Ladang bertarikh 937 M ; perseteruan ini disebabkan

persaingan menguasai jalur perdagangan di Asia Tenggara. Lebih luas dari lingkup Nusantara

maupun Asia Tenggara, Kerajaan Sriwijaya turut menjalin hubungan dengan Kekhalifahan

Islam di Timur Tengah yakni Bani Umayyah. Surat pertama yang dikirimkan oleh Sriwijaya

* Penulis Lepas & History Blogger

(2)

kepada Khalifah Muawiyah (661-680 M) terdapat dalam sebuah diwan (arsip) kerajaan oleh Abd Al-Malik Ibn Umayr. Isi dari pembukaannya berbunyi, “Dari Raja Al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) istananya terbuat dari emas dan perak...” Sriwijaya kemudian dikenal sebagai Sribuza atau Zabag dalam sumber Arab.

Tradisi surat-menyurat dalam dunia kerajaan memang kerap ditemukan penggunaan

bahasa yang hiperbola (dibesar-besarkan). Tujuan dari pemakaian bahasa seperti itu tidak lain

adalah untuk menimbulkan rasa kagum dari negara sahabat atas apa yang dimiliki oleh

kerajaan itu sendiri. Sederhananya, belum tentu Khalifah Muawiyah akan memeriksa langsung keadaan di Sriwijaya mengenai “Istananya (Raja Sriwijaya) yang Terbuat dari Emas.” Sriwijaya yang kaya akan emas akhirnya dicatatkan oleh seorang pedagang Arab bernama Sulaiman sekitar tahun 851 M. Sulaiman mencatatkan “....Maharaja Zabag yang istananya menghadap talag (kata talag mengacu kepada “Muara Sungai” sebagaimana yang

ada di Tigris, sungai yang mengalir antara Baghdad dan Bashrah di Irak), talag itu memiliki

sebuah danau kecil sebagai tempat dimana para pelayan raja akan melemparkan

batangan-batangan emas setiap paginya. Pada saat air pasang, air danau akan menutupi batangan-batangan emas

yang ada di talag, sedangkan saat sungai surut, batangan emas itu akan muncul dan

berkilauan oleh sinar matahari. Saat raja mangkat, batangan emas itu akan dihitung dan

dilebur, untuk kemudian dibagikan kepada para keluarga kerajaan laki-laki dan perempuan,

kepada para pejabat sesuai pangkatnya, sisanya akan dibagikan kepada orang-orang miskin dan yang kurang beruntung.” Anthony Reid dalam bukunya yang berjudul Witnesses to

Sumatra, A Travellers’ Anthology menjelaskan bahwa emas yang dimaksud oleh Sulaiman itu berasal dari pegunungan Bukit Barisan.

Walau catatan Sulayman dapat menimbulkan sikap skeptis karena kesan yang “hiperbola” dalam menceritakan kekayaan emas Kerajaan Sriwijaya, namun hal tersebut bukan berarti tidak memiliki sintesa dengan kajian kesejarahan modern. Kenedi Nurhan

dalam laporan jurnalistik berbentuk buku dengan judul Jelajah Musi : Eksotika Sungai di

Ujung Senja mencatatkan pendapat dari arkeolog Sumatera Selatan yang telah cukup kesohor

akan perannya dalam bidang ini yakni Retno Purwanti. Retno menerangkan bahwa melalui

identifikasi yang ia lakukan atas benda-benda peninggalan Sriwijaya seperti botol merkuri,

(3)

dapat dibuktikan kebenarannya karena ia mencatatkan hubungan seputar emas dan peradaban

sungai di Sribuza (Sriwijaya).

Selepas dari masa Kerajaan Sriwijaya, berangsur-angsur Palembang jatuh ke tangan

penguasa-penguasa lainnya seperti Colamandala (India), Singasari, Majapahit, hingga

akhirnya di bawah kekuasaan Demak. Palembang berada di posisi strategis perdagangan

internasional. Jelasnya keberadaan Palembang yang sebagai sebuah kota dengan transportasi

sungainya dan terletak dekat dengan pantai timur Sumatera dapat mempermudah menuju

perdagangan laut yang utamanya ialah ke Malaka. Pada sekitar abad ke-16 jaringan

perdagangan secara unik menempatkan Malaka dapat berhubungan dengan pulau-pulau di

Nusantara. Tome Pires seperti dikutip oleh Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern

mencatatkan trayek-trayek utama dalam perdagangan dari dan ke Malaka salah satunya

adalah Malaka-Pantai Timur Sumatera ialah dengan hasil utamanya merupakan emas. Saat

Sultan Agung dari Kesultanan Mataram Islam berkuasa dan meminta ketundukan Palembang

pada otoritas Jawa, dalam Ensiklopedia Raja-Raja Tanah Jawa karangan Ki

Sabdacarakatama, konon Mataram mewajibkan upeti emas selain juga persembahan berupa

gajah dari Palembang setiap tahunnya. Syarat yang dibebankan kepada Palembang itu

memperkuat surat yang dikirimkan pada Khalifah Umayyah sekitar 10 abad sebelumnya

bahwa wilayah ini memiliki sumber daya emas yang banyak termasuk satwa seperti gajah

yang saat itu lumrah dipakai sebagai tunggangan kehormatan raja maupun untuk perang.

Kesultanan Palembang yang didirikan sejak 1659 akhirnya dihapuskan oleh

pemerintah Hindia Belanda sejak 1823 menyusul kekalahan Sultan Mahmud Badaruddin II

dalam pertempuran melawan Belanda dua tahun sebelumnya. Keputusan Belanda untuk

menghilangkan Kesultanan Palembang tidak hanya memiliki arti berdirinya kuasa

kolonialis-imperialis Belanda namun juga menjadi kesempatan besar untuk dapat mengeksploitasi

kekayaan alam maupun manusia di Sumatera Selatan. Palembang selanjutnya merupakan

salah satu wilayah kekuasaan Hindia Belanda yang pada akhir abad 19 dan awal abad

ke-20 semakin terasa nilai strategisnya.Sumber-sumber daya baru di Palembang pun

bermunculan seperti hasil pertanian karet dan kopi. Selain itu pertambangan seperti minyak

bumi dan batu bara mulai dikenal luas dan terbuka lebar untuk digarap. Memasuki dasawarsa

kedua abad ke-20 menjadi salah satu kawasan wingewesten (daerah untung), sebutan untuk daerah-daerah yang diekspoitasi secara ekonomi di Hindia Belanda. Bagi kaum Bumiputra

(4)

pedalaman dapat menikmatinya dengan mampu mampu membeli oto atau mobil. Pada tahun

1920, jumlah oto pribadi belum mencapai 300 buah dan itupun dimiliki oleh beberapa

perusahaan ataupun pejabat. Namun pada 1927 jumlahnya sudah mencapai 3.750 oto dengan berbagai tipe dan ukuran serta tersebar hingga ke pedalaman. “Emas” di masa kolonial tidak hanya berupa logam mulia, namun merujuk kepada bermacam kekayaan alam yang dapat

memberi untung.

Emas adalah sebuah komoditas yang tinggi harganya dan cenderung dipilih oleh

orang-orang untuk berinvestasi. Beberapa tahun silam seorang Professor asal Spanyol

bernama Umar Ibrahim Vadillo menggagaskan dikembalikannya fungsi emas dinar sebagai

mata uang dunia karena menurutnya uang kertas yang dicetak terus menerus akan terus

menurun nilainya sebagaimana sebuah produk yang harganya akan turun bila diproduksi

massal. Di luar konteks kebendaan, emas bisa juga menjadi sebuah kata sifat yang

menunjukkan kegemilangan contohnya ialah istilah “Zaman Keemasan” ataupun untuk menandai sesuatu yang benilai lebih seperti istilah “Anak Emas”. Dari berbagai kisah lintas zaman Palembang yang dituliskan sebelumnya, kita menyadari bahwa Sumatera Selatan yang

kaya akan emas itu secara silih berganti di kuasai oleh pihak-pihak lain. Oedjan Mas di masa

kolonial pun sebenarnya tidak seberapa menguntungkan pribumi setempat jika dibandingan dengan apa yang telah dikeruk oleh Hindia Belanda. “Emas” Palembang saat ini adalah manusianya yang kian hari mendapat tantangan dalam kopleksitas kehidupan bermasyarakat

hingga berbangsa seperti ancaman intoleransi, degradasi moral, maupun lemahnya ekonomi.

Dengan semangat Palembang EMAS yang ingin dicapai 2018 nanti, hendaknya segenap

komponen masyarakat termasuk pemerintah dapat memajukan pembangunan manusia dari

segi karakter maupun intelektual tidak sebatas pada pembangunan fisik saja, agar

keemasansepenuhnya menjadi milik seluruh warga Palembang.

Sumber

Nurhan, Kennedi (Ed.), Jelajah Musi : Eksotika Sungai di Ujung Senja, Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2010.

Reid, Anthony, Sumatera Tempo Doeloe, Depok : Komunitas Bambu, 2014.

Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2011.

(5)

Referensi

Dokumen terkait

Apulaisoikeusasiamiehen arviossa menettelystä todetaan ensinnäkin, että perustuslain 21 §:n mukaan jokaisella on oikeus saada asiansa käsitellyksi asianmukaisesti ja ilman aihee-

instrumen derivatif yang tepat untuk meminimalisasi risiko-risiko yang akan terjadi dan.. dapat mengurangi kerugian

Pada tahap implementasi dengan melakukan pengkodean program dari sistem yang akan dibuat menggunakan bahasa pemrograman PHP dan basis data MySQL, berikut ini

4 variabel Inflasi, nilai tukar, dan sertifikat bank indonesia syariah (SBIS) berpengaruh signifikasn terhadap pertumbuhan sukuk korporasi. Persamaan penelitian ini

Untuk menanggapi konflik yang telah diuraikan di atas, maka dalam karya tulis ini peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif, di mana menjelaskan tentang

dengan jumlah sampel adalah 58 orang responden yang memutuskan membeli Indomie. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kesadaran Merek, Persepsi Kualitas, Asosiasi

peradilan belum maksimal dan optimal dalam menghayati kebebasan kekuasaan kehakiman dalam konteks peradilan mandiri, tidak menyatu atapkan pembinaan dan pengawasan,

Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia merusak plasma nutfah yang berkaitan dengan sumber daya ikan sebagaimana