TUGAS INDIVIDU
1. IDENTIFIKASI MASALAH – MASALAH STRATEGIS DI
PEMDA LUWU UTARA
1. Bidang Kesehatan
Kualitas pelayanan belum optimal karena belum semua sarana pelayanan kesehatan melaksanakan standar pelayanan yang telah ditetapkan. Keterjangkauan dan pemerataan pelayanan dapat dilihat dengan rasio jumlah sarana yang ada. Jenis pelayanan bervariasi sesuai dengan tenaga dan peralatan yang tersedia. Belum semua peralatan dan tenaga tersedia sesuai kebutuhan dan standarisasi. Disamping itu rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan sering terjadi terutama pada masyarakat miskin karena kendala biaya (cost barrier).
2. Pendidikan
secara merata. Adanya ketimpangan pemerataan dan perluasan kesempatan memperoleh pendidikan bukan saja terjadi pada penduduk usia sekolah, tetapi juga terjadi antar wilayah geografis, gender serta antar kawasan. Perkembangan pendidikan mengungkapkan bahwa faktor ekonomi merupakan alasan utama anak putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan, baik karena tidak memiliki biaya sekolah maupun karena harus bekerja. Hal tersebut berdampak pada tingginya kesenjangan partisipasi pendidikan antara penduduk miskin dengan penduduk kaya.
3. Infrasruktur
Belum optimalnya pembangunan jalan dan jembatan serta sulitnya pembebasan lahan, kurangnya aksesbilitas diwilayah tertinggal/terpencil, Kurang tertibnya pemanfaatan Ruang Manfaat Jalan oleh Pengguna Jalan yang mengakibatkan Hambatan lalu Lintas. Kerusakan jalan akibat kondisi alam/tanah ekspansif dan bencana alam yang mengakibatkan kerusakan sepanjang tahun. Berkembangnya daerah pemukiman dan industri telah menurunkan area resapan air dan mengancam kapasitas lingkungan dalam menyediakan air. Pada sisi lain, kapasitas infrastruktur penampung air seperti waduk dan bendungan makin menurun sebagai akibat meningkatnya sedimentasi, sehingga menurunkan keandalan penyediaan air untuk irigasi maupun air baku. Terbatasnya kemampuan masyarakat yang berpenghasilan rendah akan tempat tinggal dan lingkungan hunian yang sehat
4. UMKM dan Ketenagakerjaan
pengangguran di Kabupaten Luwu Utara disebabkan antara lain oleh rendahnya pertumbuhan dunia usaha dan pemulangan TKI ilegal. Di samping itu juga disebabkan oleh rendahnya kualitas SDM angkatan kerja sehingga sulit mendapatkan pekerjaan atau bekerja di lapangan kerja yang kurang produktif dan berakibat pada rendahnya pendapatan yang diterima.
5. Upaya pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup
Dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat belum optimal. Sektor pertanian yang menjadi penggerak perekonomian daerah merupakan sektor yang sangat tergantung pada sumber daya alam. Saat ini efisiensi dan produktivitas pertanian relatif rendah disebabkan oleh skala usaha yang relatif sempit/kecil. Disamping itu rendahnya produktivitas dapat diilustrasikan menurut hasil penelitian, bahwa kecepatan pertumbuhan nilai tambah bruto lebih lambat dari pada pertumbuhan kesempatan kerja yang diciptakan. Dan juga, keterbatasan terhadap penyediaan sarana produksi termasuk upaya pengendalian hama dan penyakit, disamping kejadian bencana alam banjir dan kekeringan yang setiap tahun terjadi juga mengganggu sistem produksi. Khusus untuk padi, panen terbesar terletak dimusim hujan, sehingga kualitas rendah, dan harga jatuh. Selanjutnya untuk komoditi lain, seperti tembakau, tebu/gula juga terjadi dan hal ini disebabkan oleh perilaku petani yang ikut-ikutan menanam komoditi yang pada awal mulanya mempunyai prospek baik. Kondisi demikian mengakibatkan tidak stabilnya harga produk pertanian. Minimnya akses terhadap informasi dan sumber permodalan, menyebabkan masyarakat petani/nelayan, dan masyarakat pesisir tidak dapat mengembangkan usahanya secara layak.
Reformasi birokrasi belum berjalan sesuai dengan tuntutan masyarakat. Hal tersebut terlihat dengan masih rendahnya pelaksanaan prinsip-prinsip good govermance seperti transparansi, akuntanbilitas dan partisipasi di lingkungan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Belum optimalnya koordinasi perencanaan pembangunan, perencanaan pembangunan yang dilaksanakan selama ini masih dirasakan belum optimal khususnya dalam koordinasi dan sinkronisasi. Masih terbatasnya profesionalisme di kalangan aparatur. Masih terbatasnya jumlah tenaga profesional, terampil khususnya tenaga perencanaan di samping itu pula partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan sangat terbatas, serta masih belum meratanya distribusi tenaga yang memenuhi kompetensi di Dinas/Instansi. Belum optimalnya penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi di kalangan aparatur pemerintahan. Perkembangan yang cepat dari teknologi informasi dan komunikasi belum ditangkap sebagai peluang dan kekuatan dalam pelaksanaaan pemerintahan dan pembangunan, khususnya dalam sosialisasi dan pencarian alternative-alternatif kebijakan dalam pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan maupun pengawasan. Belum optimalnya tingkat pelayan publik. Terbatasnya tenaga yang profesional dan terampil berpengaruh pada rendahnya efisiensi dan efektifitas kerja, serta rendahnya kualitas pelayanan umum. Belum optimal pelayan publik juga disebabkan oleh terbatasnya sarana dan prasarana
2. PERATURAN YANG TELAH DAN SEDANG
DIIMPLEMENTASIKAN
Peraturan mentri kesehatan republic Indonesia nomor 36 tahun 2015 tentang pencegahan kecurangan dalam pelaksanaan program jaminan kesehatan pada system jaminan social nasional
2. Bidang pendidikan
UU Nomor 20 Pasal 6 ayat (1) Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) terkait wajib belajar 9 tahun
3. Bidang infrastruktur
Peraturan presiden republik Indonesia nomor 38 tahun 2015 tentang kerjasama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur
4. Bidang ketanagakerjaan
Undang – undang republic Indonesia nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan
5. Bidang pengelolaan sumber daya alam
UUD 1945 pasal 33 AYAT (3) Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,
Undang – undang republic Indonesia nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara
Upaya pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup
1. Menurut Van meter dan Van horn dalan budi winarno mendefinisikan implementasi kebijakan public Sebago tindakan-tindakan yang dilakukan oleh organisasi public yang diartikan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan sebelumnya,
Kaitan teori Van meter dan Van horn terhadap kebijakan upaya pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup yaitu sebelumnya kebijakan ini telah diatur pada UUD 1945 pasal 33 ayat 1 kemudian mengalami perkembanagan kemudian ke UU RI nomor 4 tahun 2009 .
2. Implementasi merupakan salah satu bagian dari tahap-tahap pembuatan kebijakan, secara keseluruhan tahapan tersebut berupa ; penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, implementasi kebijakan dan penilaian kebijakan. (William N. Dunn, 1999 :hal. 24)
kaitannya teori William N. Dunn terhadap kebijakan upaya pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup yaitu kebijakan yang dibuat yan berupa undang melalui tahapan dari pembuatan kebijakan yang dimaksud dalam teori William N. Dunn.
3. Menurut Chandler dan Plano, 1988 adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumberdaya-sumberdaya yang ada untuk memecahkan masalah - masalah publik atau pemerintah
Kaitangnya teori Chandler dan Plano terhadap kebijakan upaya pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup yaitu dimana teori tersebut menekankan pada pemanfaatan terhadap sumberdaya yang ada dalam hal ini yaitu sumber daya alam untuk bagaimana memecahkan masalah public atau pemerintah.
(mengimplementasikan) berarti “to provide means for carrying out (menyediakan sarana untuk melakukan sesuatu); to give practical effect to” (menimbulakan dampak/ akibat terhadap sesuatu)