• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kearifan Lokal Masyarakat Suku Tengger D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kearifan Lokal Masyarakat Suku Tengger D"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

CP. 84

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT SUKU TENGGER DALAM

PEMANFAATAN RUANG DAN UPAYA PEMELIHARAAN LINGKUNGAN

(Studi Kasus Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan)

Dianing Primanita Ayuninggar

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang, [email protected]

Antariksa

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang, [email protected]

Dian Kusuma Wardhani

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang, [email protected]

ABSTRACT

Tenggerese community have uniqueness social cultural life pattern concerning

with societies’ positive behavior in its spatial using and adaptation to

environmentally around it. Tenggerese social cultural life pattern based on

cultural point, religi and local tradition then forms local wisdom points, such as

local wisdom in spatial using and environmental preserve effort. This research

works through about local wisdom implement in spatial using and environmental

preserve effort at Wonokitri Village to keep up the sustainability of Wonokitri

Village. Analysis method use descriptive-explorative analysis. Observational

result indicate local wisdoms points in the context of spatial using rules at

Wonokitri Village, that is spatial conception bases on custom region and

administration region, situating orientation of element forming residence, land

ownership system, and home adaptation to climate. Local wisdom in the context

of environmental preserve manages about season estimate to get cultivation,

traditional technological system in farm management, breeding management

system, forest and water resourches management and protection system, along

with traditions in environmental preserve that exists at Wonokitri's Village. With

the presence of local wisdom points that still relevant interpretted in social

cultural life pattern is expected to support environmental preserve effort at

Wonokitri Village.

Keywords: local wisdom, spatial using, environmental preserve effort, home

adaptation to climate, traditional technological system

ABSTRAK

Masyarakat Suku Tengger memiliki keunikan pola kehidupan sosial budaya

(2)

CP. 85

ruang dan adaptasi terhadap lingkungan di sekitarnya. Pola kehidupan sosial

budaya masyarakat Suku Tengger bersumber dari nilai budaya, religi dan

adat-istiadat setempat yang kemudian membentuk nilai-nilai kearifan lokal, salah

satunya adalah kearifan lokal dalam pemanfaatan ruang dan upaya

pemeliharaan lingkungan. Penelitian ini membahas tentang penerapan kearifan

lokal dalam pemanfaatan ruang dan upaya pemeliharaan lingkungan di Desa

Wonokitri untuk melestarikan dan menjaga keberlanjutan Desa Wonokitri.

Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif eksploratif. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai kearifan lokal dalam konteks

ketentuan pemanfaatan ruang di Desa Wonokitri, yakni konsepsi ruang

berdasarkan wilayah adat dan wilayah administrasi, orientasi peletakan

elemen-elemen pembentuk permukiman, sistem penguasaan dan kepemilikan tanah,

serta adaptasi tempat tinggal terhadap iklim. Kearifan lokal dalam konteks

pemeliharaan lingkungan mengatur tentang perkiraan musim untuk bercocok

tanam, sistem teknologi tradisional dalam pengelolaan ladang/tegalan, sistem

pemeliharaan hewan ternak sistem pengelolaan dan perlindungan hutan,

sumber-sumber air, serta tradisi-tradisi dalam pemeliharaan lingkungan yang

terdapat di Desa Wonokitri. Dengan adanya penggalian nilai-nilai kearifan lokal

yang masih relevan yang diinterpretasikan dalam pola kehidupan sosial budaya

masyarakat tersebut diharapkan dapat mendukung upaya pemeliharaan dan

pelestarian lingkungan Desa Wonokitri.

Kata Kunci: kearifan lokal, pemanfaatan ruang, pemeliharaan lingkungan,

adaptasi tempat tinggal terhadap iklim, sitem teknologi

tradisional

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis (Keraf, 2002). Gobyah (2003) menyatakan bahwa kearifan lokal didefinisikan sebagai kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Dengan demikian kearifan lokal (local wisdom) pada suatu masyarakat dapat dipahami sebagai nilai yang dianggap baik dan benar yang berlangsung secara turun-temurun dan dilaksanakan oleh masyarakat yang bersangkutan sebagai akibat dari adanya interaksi antara manusia dengan lingkungannya.

(3)

CP. 86

aturan mengenai: 1) kelembagaan dan sanksi sosial, 2) ketentuan tentang pemanfaatan ruang dan perkiraan musim untuk bercocok tanam, 3) pelestarian dan perlindungan terhadap kawasan sensitif, serta 4) bentuk adaptasi dan mitigasi tempat tinggal terhadap iklim, bencana atau ancaman lainnya.

Desa Wonokitri adalah salah satu desa di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan yang terletak di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dan merupakan desa sebagai tempat tinggal komunitas Suku Tengger. Berdasarkan Rencana Induk Pengelolaan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kabupaten Pasuruan Tahun 2004-2014, Desa Wonokitri diarahkan sebagai Desa Wisata Budaya dengan obyek wisata budaya potensial berupa budaya, pola kehidupan sosial budaya masyarakat, serta adat-istiadat Suku Tengger. Terdapat keunikan pada pola kehidupan sosial budaya masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri terkait dengan perilaku positif masyarakatnya dalam tindakan pemanfaatan ruang dan adaptasi terhadap lingkungan di sekitarnya.

Pola kehidupan sosial budaya masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri bersumber dari nilai budaya, religi dan adat-istiadat setempat yang merupakan bentuk nilai-nilai kearifan lokal, salah satunya adalah kearifan lokal dalam pemanfaatan ruang dan upaya pemeliharaan lingkungan. Dengan adanya kearifan lokal yang masih relevan diaplikasikan untuk melestarikan dan menjaga keberlanjutan Desa Wonokitri menjadikan Desa Wonokitri menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Bertolak dari alasan tersebut maka disusun penelitian yang berjudul “Kearifan Lokal Masyarakat Suku Tengger dalam Pemanfaatan Ruang dan Upaya Pemeliharaan Lingkungan (Studi Kasus Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan) ”.

1.2. Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kearifan lokal masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri dalam pemanfaatan ruang dan upaya pemeliharaan lingkungan.

2. METODOLOGI PENELITIAN

Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif eksploratif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui observasi dan wawancara (interview) serta melakukan survei instansional berupa pengumpulan data sekunder yang terkait dengan wilayah studi. Pengambilan sampel pada penelitian ini adalah menggunakan teknik sampling non random yakni teknik sampling bertujuan (purposive sampling). Teknik ini digunakan karena anggota sampel yang dipilih secara khusus

(4)

CP. 87

1. Bangunan difungsikan sebagai tempat tinggal;

2. Bangunan memiliki ciri rumah Tengger, yaitu dinding rumah terbuat dari perpaduan papan-papan atau batang kayu dan setengah tembok yang terbuat dari bata, mempunyai atap limasan dan teritisan, lantai masih berupa tanah yang dipadatkan; dan

3. Diupayakan dapat mewakili kriteria-kriteria bangunan tempat tinggal yang mempunyai kemampuan beradaptasi dengan iklim.

Sampel masyarakat terdiri dari narasumber kunci (pemerintah desa, pemuka adat, tokoh masyarakat), serta narasumber-narasumber terkait yang merupakan rekomendasi dari narasumber kunci yang telah ditentukan terlebih dahulu.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Sistem nilai dan tata kelola (kelembagaan) Suku Tengger Desa Wonokitri sebagai

kearifan lokal

3.1.1. Sistem nilai

Menurut Ernawi (2009), sistem nilai merupakan tata nilai yang dikembangkan oleh suatu komunitas masyarakat tradisional yang mengatur tentang etika penilaian baik-buruk serta benar atau salah. Sebagai contoh, di Bali, terdapat sistem nilai Tri Hita Karana yang mengaitkan dengan nilai-nilai kehidupan masyarakat dalam hubungannya dengan Tuhan, alam semesta, dan manusia. Ketentuan tersebut mengatur hal-hal adat yang harus ditaati, mengenai mana yang baik atau buruk, mana yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, yang jika hal tersebut dilanggar, maka akan ada sanksi adat yang mengaturnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku dan tindakan masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri diatur oleh ketentuan adat berupa aturan-aturan adat dan hukum adat yang berfungsi sebagai sistem pengendalian sosial dalam masyarakat. Hal ini seperti yang diungkapkan Salvina (2003:91-92) bahwa ada sebuah sistem pengendalian sosial yang disepakati dan dijaga kelestariannya oleh masyarakat Tengger, yaitu adanya hukum adat untuk mencegah timbulnya ketegangan sosial yang terjadi dalam masyarakat.

Aturan-aturan adat yang harus ditaati masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri antara lain:

4. Tidak boleh menyakiti atau membunuh binatang (kecuali untuk korban dan dimakan);

5. Tidak boleh mencuri;

6. Tidak boleh melakukan perbuatan jahat; 7. Tidak boleh berdusta; dan

(5)

CP. 88

Fungsi hukum adat sebagai sistem pengendalian sosial dalam masyarakat adalah:

1. Memberikan keyakinan pada anggota masyarakat tentang kebaikan adat-istiadat Tengger yang berlaku;

2. Memberi ganjaran pada anggota masyarakat yang tidak pernah melakukan kejahatan;

3. Mengembangkan rasa malu; dan

4. Mengembangkan rasa takut dalam jiwa anggota masyarakat yang hendak menyimpang dari ketentuan adat.

Pada kehidupan masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri terdapat konsep yang menjadi landasan sikap hidup masyarakat yaitu konsep anteng-seger (Tengger) yang berarti damai dan makmur. Selain itu, juga terdapat konsep yang mendasari hubungan tiga arah yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan alam (tryadic relationship) berdasarkan hasil penelitian Sukari, dkk, (2004:47-51) sebagai berikut:

1. Konsep Tri Sandya, konsep karma pahala, dan hukum tumimbal lahir mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Konsep Tri Sandya diaplikasikan dengan melakukan sembahyang tiga kali sehari (pagi, sore, malam). Konsep karma pahala menyatakan bahwa hidup atau nasib manusia tergantung dari pahalanya,

sedangkan hukum tumimbal lahir adalah hukum hidup yang harus dipatuhi, berbunyi ”Sapa nandur kebecikan bakal ngundhuh kabecikan. Sapa nandur barang ora becik bakal ngundhuh kacilaka”.

2. Sikap hidup sesanti panca setia, guyub rukun, sanjan-sinanjan (saling mengunjungi), sayan (gotong royong, saling bantu membantu) yang didasari semboyan “sepi ing pamrih, rame ing gawe”, dan genten kuat (saling tolong menolong) merupakan dasar ketentuan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia.

3. Sikap hidup yang menganggap lingkungan alam (air,tanah,hutan,tegalan) sebagai sumbere panguripan mengatur hubungan manusia dengan lingkungan alam. Selain itu masih terdapat kepercayaan bahwa tanah atau pekarangan “angker” sehingga muncul sikap tidak boleh sembarangan menebang pohon, kecuali kalau pohon itu mengganggu lingkungan. Hubungan manusia dengan alam diwujudkan dalam suatu slogan yang berbunyi “tebang satu tanam dua”, artinya jika masyarakat menebang satu pohon, maka dia harus menanam minimal dua pohon yang jenisnya sama.

3.1.2. Tata kelola (kelembagaan)

(6)

CP. 89

kelompok masyarakat. Tata kelola (kelembagaan) pada suatu masyarakat tertentu dapat berupa organisasi adat yang terdiri dari beberapa kelompok adat. Demikian halnya yang terdapat pada Suku Tengger Desa Wonokitri, dimana terdapat organisasi adat yang bertugas mengelola kehidupan masyarakat yaitu lembaga pemuka agama dan lembaga dukun adat.

Dalam konsep Hindu Tengger terdapat adanya pengelompokan antara sistem religi yang bersumber dari ajaran keTuhanan berdasarkan agama Hindu dengan sistem adat yang bersumber dari kepercayaan dan tradisi yang turun temurun dari nenek moyang Suku Tengger. Namun demikian dalam tahap pelaksanaannya dilakukan asimilasi ajaran agama Hindu dengan ajaran adat-istiadat/kepercayaan Suku Tengger. Hal ini tercermin dari selain melakukan aktivitas-aktivitas keagamaan berdasarkan ajaran agama Hindu, masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri juga secara patuh melaksanakan berbagai upacara adat.

Adanya pengelompokan kegiatan religi dan adat berpengaruh terhadap pembagian tugas dan fungsi dari masing-masing lembaga pemuka agama dan lembaga dukun adat, sebagai berikut:

A. Lembaga pemuka agama

Lembaga pemuka agama merupakan lembaga agama yang mewadahi ketua dan pengurus kegiatan keagamaan di Desa Wonokitri. Struktur kepengurusan Lembaga Pemuka Agama terdiri dari:

1. Mangku Gedhe, ketua agama yang bertugas mengurusi dan memimpin pelaksanaan upacara-upacara keagamaan atau mengurusi urusan-urusan yang berkaitan dengan keagamaan di Desa Wonokitri;

2. Mangku Gelar; dan 3. Mangku Alit.

Area yang disucikan dan menjadi wilayah tanggung jawab dari para Mangku adalah Pura Dhang Kahyangan Kerti Jaya Buana Dusun Wonokitri, Desa Wonokitri yang merupakan tempat ibadah umat Hindu Desa Wonokitri.

B. Lembaga dukun adat

Lembaga dukun adat berfungsi sebagai lembaga adat yang mewadahi ketua dan pengurus adat. Struktur kepengurusan lembaga dukun adat terdiri dari:

1. Dukun Adat, ketua adat yang mengurusi upacara adat di Desa Wonokitri;

2. Legen, bertugas untuk membuat sesajian dan mendoakan sesajian pada saat upacara adat;

(7)

CP. 90

Dukun, Legen, Sanggar dan Sepuh bertanggungjawab atas padhanyangan (dhanyang) yang merupakan area yang disucikan secara adat. Selain itu peran seorang dukun adat adalah mengawasi pelaksanaan aturan-aturan adat dan hukum adat.

Hal unik yang terdapat dalam pranata kehidupan kemasyarakatan masyarakat Suku Tengger selain pembagian tugas dan fungsi antara lembaga pemuka agama dan lembaga dukun adat yaitu adanya konsepsi ruang yang membagi wilayah menjadi wilayah administrasi dan wilayah adat. Seperti desa lain pada umumnya, wilayah administrasi Desa Wonokitri dikepalai oleh seorang kepala desa, namun yang membedakan dengan desa kebanyakan adalah dukun/tetua adat yang berperan penting dalam memimpin wilayah adat sebagai seorang kepala adat.

Masyarakat Suku Tengger yang terbagi dalam dua wilayah adat yakni sabrang kulon (diwakili oleh Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan) dan sabrang wetan (diwakili oleh Desa Ngadisari, Wanantara, Jetak, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo) terdiri atas kelompok-kelompok desa yang masing-masing dipimpin oleh kepala adat. Sehingga yang menjadi batas wilayah kerja dukun adat adalah wilayah adat dan umat masyarakat yang terdapat di desa tempat ia menjabat sebagai dukun adat. Di masing-masing kabupaten terdapat dukun koordinator wilayah yang bertugas mengkoordinir dukun adat di wilayahnya.

Dukun adat yang berada di masing-masing wilayah desa komunitas Suku Tengger umumnya dihormati dan sangat dipercaya karena peranannya yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Suku Tengger. Secara struktural dukun adat dalam kehidupan Masyarakat Suku Tengger tergolong sebagai orang-orang terpandang yang menjadi tokoh panutan masyarakat dan lebih dihormati dibanding lembaga aparatur desa.

Sebagai seorang kepala adat, dukun adat memiliki fungsi spiritual dan fungsi sosial. Fungsi spiritual dukun adat yaitu memimpin upacara adat. Sedangkan fungsi sosialnya adalah sebagai mediator antara masyarakat dan urusan yang berhubungan dengan pemerintahan. Selain itu, dukun adat juga memiliki kewenangan tertentu dalam pengambilan keputusan, aturan, sanksi, atau denda sosial bagi pelanggar peraturan dan hukum adat. Sebagai contoh kewenangan dukun adat dalam pengambilan keputusan adalah pada waktu terjadi bencana, dukun adat berhak menentukan kapan masyarakatnya harus mengungsi atau tetap mendiami desa.

3.2. Kearifan lokal dalam pemanfaatan ruang di Desa Wonokitri

(8)

CP. 91

Gambar 3.1 Peta penggunaan lahan Desa Wonokitri tahun 2010

Desa Wonokitri berada di gugusan Pegunungan Tengger dengan topografi bentang alam datar sampai berombak (20%), berombak sampai berbukit (40%) dan berbukit hingga bergunung (40%) dengan ketinggian antara 1700-2200 m2 dpl. Wilayahnya sebagian besar berupa lereng dengan kemiringan yang curam berkisar antara 45° hingga hampir mencapai 90° (>50%) (Sumber: Profil Desa Wonokitri Tahun 2009). Daerah-daerah lereng ini menjadi lahan pertanian (tegal) yang berfungsi sebagai sumber penghidupan masyarakat.

Gambar 3.2 Transek Desa Wonokitri potongan Utara-Selatan

(9)

CP. 92

3.2.1. Konsepsi ruang berdasarkan wilayah adat dan wilayah administrasi

Konsepsi ruang berdasarkan wilayah adat dan wilayah administrasi dapat dijelaskan melalui dua aspek, yaitu batas wilayah berdasarkan penanda fisik dan penanda non fisik. Batas wilayah administrasi berdasarkan penanda fisik dapat dinyatakan secara jelas, misalnya jalan dan sungai. Demikian halnya dengan penanda fisik pada batas wilayah adat yang berupa lokasi atau bangunan yang bersifat ritual seperti pura, padhanyangan (dhanyang), dan makam dengan orientasi Gunung Bromo yang berfungsi sebagai pusat aktivitas ritualnya (pancer).

Penanda non fisik pada batas wilayah adat dapat diamati dari setting perilaku (behaviour setting) masyarakatnya, misalnya masih mengikuti kepercayaan, hukum, aturan adat,

bahasa, sifat dan sikap hidup Suku Tengger. Terkait dengan hal tersebut, Pangarsa, et.al, (1992) mengungkapkan bahwa ruang dalam tradisi arsitektur Tengger dapat dijelaskan melalui konsepsi batas ruang, pada skala ruang makro (wilayah, desa dan lingkungan) hingga skala ruang mikro (rumah tinggal). Dalam skala wilayah, ada dua konsepsi ruang yang terjadi: wilayah adat dan wilayah administrasi. Batas wilayah adat tidak setegas wilayah administrasi desa, dan kedua batas ini tidak selalu berimpitan. Konsepsi Tengger Ngare, yang ditengarai melalui melalui wilayah pegunungan dialek lokal maupun wilayah kerja dukun merupakan indikasi batas wilayah adat (Gambar 3.3).

Gambar 3.3 Konsep batas wilayah adat Suku Tengger Sumber: Pangarsa, dkk, (1993)

(10)

CP. 93

Gambar 3.4 Batas wilayah adat Suku Tengger

3.2.2. Orientasi peletakan elemen-elemen pembentuk permukiman

Gambar 3.5 Konsep arah dan pemaknaannya pada masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri

Pengidentifikasian nilai kearifan lokal pada permukiman dapat dilihat dari aturan/ketentuan adat tertentu yang mengatur tentang orientasi peletakan elemen-elemen pembentuk permukiman. Konsep arah yang berkembang dan menjadi kepercayaan turun-temurun masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri mempunyai makna filosofis dan dilambangkan

TIMUR BARAT

UTARA

SELATAN

Shiwa (Dewa perusak dan penghancur) Dilambangkan dengan warna hitam

yang bermakna kegelapan.

Dilambangkan dengan warna putih yang bermakna tempat munculnya matahari.

Brahma (pencipta dari alam semesta) Dilambangkan dengan warna merah (merupakan

penggambaran warna wajah Brahma) yang bermakna api. Selatan merupakan arah Gunung Bromo, dalam kepercayaan

Suku Tengger Brahma=Bromo dan Gunung Bromo adalah tempat tinggal para dewa.

Dilambangkan dengan warna kuning yang bermakna keberanian.

Makam sebagai penanda fisik batas wilayah adat.

Pura sebagai penanda fisik batas wilayah adat.

Padhanyangan (dhanyang) sebagai penanda fisik batas wilayah adat.

Wilayah adat Desa

Wonokitri.

Arah ke

Gunung Bromo

Poros suci yang menjadi penghubung makam dan

(11)

CP. 94

oleh unsur warna tertentu. Makna yang terkandung dalam konsep arah ini kemudian diinterpretasikan dalam ritual upacara Pujan Mubeng (Nrundhung) yang bertujuan memohon keselamatan desa dan membersihkan desa dari gangguan dan bencana. Bentuk penerapan makna filosofis yang terdapat pada konsep arah tersebut berdasarkan adat dan kepercayaan masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri adalah berupa sesajen jadah aneka warna (merah, putih, kuning, hitam) yang mempunyai makna filosofis melambangkan empat penjuru desa.

Di Desa Wonokitri terdapat pengaplikasian suatu aturan adat yang menjadi landasan konsep arah dalam peletakan elemen-elemen pembentuk permukiman, antara lain:

1. Makam di Desa Wonokitri terdiri dari makam keramat dan makam biasa. Ketentuan peletakan makam keramat adalah di sebelah Utara desa dan jauh dari lokasi permukiman penduduk. Kepercayaan yang diyakini masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri terkait peletakan makam adalah sebaiknya di luar areal permukiman dan ditempatkan di sebelah Utara. Sejak dulu hingga sekarang lokasi makam keramat tetap ada di tempat yang sama dengan luasan lahan yang tidak boleh bertambah ataupun berkurang. Sampai kapanpun makam keramat harus tetap berada di tempat tersebut dengan luasan yang tetap. 2. Pura sebagai tempat ibadah diletakkan di tempat yang disakralkan di

tengah-tengah permukiman, yaitu tempat dimana terdapat paling banyak sanggar pamujan di sekitarnya. Letak Pura Dhang Kahyangan Kerti Jaya Buana di Desa

Wonokitri adalah di sebelah Timur Laut permukiman penduduk. Makna filosofis yang terkandung dari ketentuan peletakan pura di sebelah Timur adalah karena menghadap ke arah matahari. Sebagai tempat yang disakralkan, pura diletakkan pada kontur lahan yang paling tinggi.

3. Padhanyangan (dhanyang) merupakan tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri. Letak padhanyangan (dhanyang) adalah di sebelah Selatan desa dan berada pada satu orientasi dengan makam keramat (mengarah ke Gunung Bromo).

4. Bangunan tempat tinggal (mikro) terbagi menjadi beberapa ruang yaitu sanggar pamujan (tempat pemujaan), patamon (ruang tamu), paturon (kamar tidur), pagenen (dapur), pedaringan (ruang penyimpanan), pakiwan (kamar mandi), dan pekayon (tempat untuk menyimpan kayu). Ketentuan peletakan masing-masing ruang adalah: a) sanggar pamujan diletakkan di depan rumah, harus menghadap ke Timur atau Selatan, tidak boleh menghadap barat dan Utara, b) patamon diletakkan di bagian depan rumah, c) paturon harus berada di sebelah

(12)

CP. 95

menyatakan bahwa anak yang sudah berkeluarga tidak boleh membangun rumah di sebelah kanan rumah orang tuanya.

5. Ladang/tegalan yang digunakan untuk pertanian terletak di sebelah Selatan, Utara, dan Timur desa.

6. Gunung Bromo yang terletak di sebelah Selatan diyakini sebagai poros (pancer) aktivitas spiritual seluruh masyarakat Suku Tengger. Terdapat poros suci yang mengarah ke Gunung Bromo (Selatan) yang menghubungkan antara makam keramat dan padhanyangan (dhanyang).

Mengenai konsep Gunung Bromo yang terletak di sebelah Selatan sebagai poros aktivitas spiritual seluruh masyarakat Suku Tengger telah dinyatakan oleh Hefner (1985:65-69) yang menyebutkan bahwa di Tengger, dugaan dari orientasi Selatan diikuti atas dasar satu kepercayaan yang menyatakan bahwa Selatan diidentifikasi sebagai singgasana dari Bromo atau Dewa Brahma. Hal ini dapat dilihat tidak hanya pada posisi pemakaman, berdoa, pengucapan mantra yang menghadap arah selatan, atau di orientasi dari pintu (pintu utama atau pelawangan), tapi juga di orientasi dari tempat-tempat suci.

Pura diletakkan di kontur lahan

pertanian terletak di

sebelah Selatan,

merupakan orientasi yang

menghubungkan makam

keramat dengan

padhanyangan (dhanyang).

Arah ke

(13)

CP. 96

Gambar 3.6 Sketsa situasi orientasi

peletakan elemen- elemen pembentuk

permukiman di Desa Wonokitri

Gambar 3.7 Pola tata ruang bangunan tempat tinggal (mikro) Suku Tengger Desa Wonokitri

3.2.3. Sistem penguasaan dan kepemilikan tanah

Berdasarkan hasil penelitian Sukari, dkk, (2004:63), sikap hidup Suku Tengger yang penting adalah tata tentrem (tidak banyak resiko), ojo jowal-jawil (jangan suka mengganggu orang lain), kerja keras dan tetap mempertahankan tanah milik secara turun-temurun. Sistem penguasaan dan kepemilikan tanah yang berlaku pada masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri mengikuti ketentuan adat Tengger. Seperti pada masyarakat Suku Tengger lainnya, sistem penguasaan dan kepemilikan tanah diatur oleh aturan adat yang menyatakan

Patamon

Pedaringan

Patu ron

Paki wan Peka

yon

Peka rangan Patu

ron

Sanggar pamujan Pagenen

Pelawangan

utama

(14)

CP. 97

larangan atau pantangan terhadap penjualan tanah di luar masyarakat Suku Tengger. Apapun alasannya penjualan tanah atau tanah warisan hanya boleh dilakukan antar sesama masyarakat Suku Tengger, biasanya penjualan tanah atau tanah warisan diutamakan ke keluarga dekat.

Tanah yang dimiliki oleh masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri umumnya diperoleh dari hasil warisan orang tuanya. Sistem pembagian tanah warisan juga masih dipertahankan sejak saat ini dengan ketentuan pembagian yang sama rata antara anak laki-laki maupun perempuan. Aturan adat dalam pembagian tanah warisan ini mengatur dua kondisi, yaitu pembagian tanah warisan saat orang tua masih hidup dengan pembagian tanah warisan setelah orang tua meninggal. Sistem pembagian tanah warisan saat orang tua masih hidup, misalnya memiliki 3 orang anak, orang tua terlebih dahulu mengambil 1/3 bagian dari luasan tanahnya. Lalu sisanya sebesar 2/3 bagian dibagi sama rata ke dua orang anaknya. Apabila orang tua tidak mampu lagi bekerja menggarap ladang/tegalannya maka orang tua tersebut ikut ke salah satu anaknya, kemudian setelah meninggal hak waris atas tanah jatah orang tua sebesar 1/3 bagian tersebut akan diberikan kepada anak yang serumah atau yang mengurusnya.

3.2.4. Adaptasi tempat tinggal terhadap iklim

Salah satu bentuk penerapan nilai kearifan lokal adalah adaptasi tempat tinggal terhadap iklim. Kontruksi rumah tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri mempunyai kemampuan dalam beradaptasi terhadap iklim setempat. Karena adanya faktor adaptasi terhadap iklim tersebut mengakibatkan adanya beberapa perubahan dan perkembangan dalam penggunaan bahan material bangunan pada rumah tradisional masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri dari waktu ke waktu.

Tampilan bangunan rumah tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri dapat dijelaskan berdasarkan tampilan muka bangunan (facade) dan bagian-bagian perlengkapan bangunan yang meliputi atap, dinding, tiang, pintu, jendela. Kondisi eksisting tampilan bangunan rumah tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri adalah sebagai berikut (Gambar 3.8):

1. Atap, berbentuk limasan menyerupai limas tegak segitiga dengan sisi kemiringan ±45°, terbuat dari seng;

2. Dinding, berupa tembok atau setengah tembok, tembok terbuat dari bata sedangkan yang dimaksud setengah tembok adalah perpaduan antara tembok dengan papan kayu;

3. Pintu, terbuat dari kayu; dan

(15)

CP. 98

Gambar 3.8 Tampilan bangunan rumah tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri

Gambar 3.9 Tampilan bangunan rumah tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri

Karakteristik bentuk adaptasi rumah tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri terhadap iklim setempat dapat dijelaskan berdasarkan fungsi beberapa komponen yang terdapat pada konstruksi bangunan tempat tinggal maupun lingkungan di sekitarnya. Kondisi iklim di Desa Wonokitri termasuk iklim tropis dengan suhu udara harian rata-rata antara 16°-23°C.

Atap berbentuk limasan dengan sisi

kemiringan ±45° dan terbuat dari seng

Ornamen dari kayu pada atap

Dinding setengah

tembok dari bata

dengan ketinggian

±1m

Dinding bagian atas terbuat dari papan kayu

Ketinggian bangunan ±7m

(16)

CP. 99

Tabel 3.1 Perubahan dan Perkembangan Penggunaan Bahan Untuk Atap Pada Rumah Tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri

Komponen Gambar Analisis

Lingkungan di sekitar bangunan

Kondisi eksisting lingkungan di sekitar bangunan tempat tinggal yang hijau dan ditanami tanaman pekarangan berfungsi untuk meminimalkan aliran angin.

Kemiringan dan material atap

Atap berbentuk limasan dengan dengan sisi kemiringan atap cukup besar yaitu ±45°. Bahan material yang digunakan terbuat dari seng. Atap dengan sudut atap yang cukup besar dan terbuat dari material seng dapat menghangatkan suhu dalam rumah di malam hari.

Teritisan

Rumah tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri umumnya memiliki teritisan besar yang berfungsi mengurangi suhu panas di siang hari dan meningkatkan kenyamanan. Teritisan dapat melindungi sinar matahari (yang membawa panas), sehingga panas matahari tidak langsung mengenai dinding bangunan.

Bukaan/ventilasi pada dinding, pintu dan jendela

(17)

CP. 100

Komponen Gambar Analisis

Bahan material dinding dan jendela

a. Bahan material dinding terbuat dari setengah tembok setinggi ±1 meter dari dasar, kemudian atasnya bermaterial kayu. Pemilihan bahan material berupa kayu yang digunakan untuk dinding dapat menghangatkan suhu di dalam rumah ketika malah hari. Bahan padat seperti bata dan kayu dapat bekerja dengan baik dalam menyimpan energi panas jika terkena sinar matahari. b. Bahan material jendela terbuat dari

perpaduan antara kusen kayu dengan kaca. Kaca merupakan bahan yang dirancang sebagai penghantar cahaya. Penggunaan kaca pada jendela dengan ukuran yang lebar dapat mengumpulkan energi sinar matahari cukup banyak sehingga menghangatkan suhu di dalam rumah.

Perubahan dalam penggunaan bahan untuk atap pada rumah tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri disebabkan oleh faktor adaptasi terhadap iklim setempat. Pada sekitar tahun 1950-an atap menggunakan bahan dari seng, tapi kemudian pada tahun 1970-an diganti dengan menggunakan genteng. Namun ternyata rumah yang atapnya menggunakan genteng justru menyebabkan suhu di dalam rumah menjadi semakin dingin. Oleh karena itu, sejak tahun 1980-an atap pada rumah tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri diganti lagi dengan menggunakan bahan dari seng yang ternyata lebih sesuai jika diaplikasikan untuk daerah yang beriklim dingin seperti di Desa Wonokitri. Dari adanya perubahan dalam penggunaan bahan untuk atap tersebut dapat didentifikasi bentuk nilai kearifan lokal yaitu melalui proses mencoba-coba (trial and error) kemudian didapatkan hasil paling sesuai dan adaptif jika diterapkan.

Penggunaan seng sebagai bahan atap pada rumah tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri secara umum masih diaplikasikan hingga sekarang, namun berdasarkan kondisi eksisting juga terdapat beberapa rumah di Desa Wonokitri yang atapnya menggunakan genteng.

Tabel 3.2 Perubahan dan Perkembangan Penggunaan Bahan Untuk Atap Pada Rumah Tradisional Suku Tengger Desa Wonokitri

Tahun Jenis Atap Bahan Atap

Sebelum Tahun

1945-an Limasan Alang-alangyang disusun

pada batang-batang Tahun

1945-1950 Limasan Klakah (bambu)

Tahun 1950-an Limasan Seng

Tahun 1970-an Limasan Genteng

Tahun

1980-an-sekarang Limasan Seng

(18)

CP. 101

3.3. Kearifan lokal dalam upaya pemeliharaan lingkungan

3.3.1. Perkiraan musim untuk bercocok tanam

Musim merupakan salah satu hal yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri, khususnya terkait dengan keberlangsungan sektor pertanian di wilayah tersebut. Sistem perhitungan perkiraan musim (pranoto mongso) pada masyarakat Desa Wonokitri didasarkan pada sistem kalender Suku Tengger yang membagi musim (mangsa) menjadi 12 mangsa, yaitu: 1) kasa, 2) karo, 3) ketiga, 4) kapat, 5) kelimo, 6) kanem, 7) kepitu, 8) kewolu, 9) kesanga, 10) kesepuluh, 11) dhesta, 12) kesada. Dari ke-12 mangsa tersebut kemudian dikelompokkan lagi menjadi 4 yaitu mareng, ketigo, rendheng, dan labuh.

Sistem kalender musim memperlihatkan pola kecenderungan kehidupan masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri. Dalam kalender musim, terdapat dua bagian utama, yaitu:

1. Kalender musim faktor alamiah yang berpengaruh terhadap pola kegiatan musiman penduduk. Faktor alamiah tersebut meliputi jenis musim (hujan dan kemarau), angin, dan lain sebagainya yang berpengaruh terhadap musim tanam sektor pertanian.

2. Kalender musim faktor non-alamiah yang menginformasikan pola kegiatan pertanian pada setiap komoditas yang meliputi masa tanam, perawatan, dan masa panen.

Tabel 3.3 Kalender musim masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri

(19)

CP. 102

Khusus untuk waktu penanaman jagung terdapat larangan dan pantangan yang harus dipatuhi yaitu pada hari kematian orang tua atau hari-hari naas berdasarkan perhitungan tertentu menurut adat masyarakat Suku Tengger.

3.3.2. Sistem teknologi tradisional dalam pengelolaan ladang/tegalan

Pada dasarnya penggunaan teknologi dalam pengelolaan ladang/tegalan di Desa Wonokitri dibatasi pada teknologi pertanian sederhana dan ramah lingkungan. Sistem penanaman menggunakan sistem tumpang sari. Karena kontur lahan yang cukup curam, untuk menghindari tanah longsor dan erosi maka dibuat sistem terasering dengan membuat lahan berpetak-petak yang disebut bedengan. Setelah itu tanah dicangkul dan dibolak-balik baru kemudian dapat ditanami.

Peralatan yang digunakan untuk mengolah tanah adalah peralatan tradisional pertanian seperti: cangkul, sabit, garpu dan keranjang, serta tangki penyemprot. Untuk mempermudah dalam menjangkau areal ladang/tegalan yang curam maka petani di Desa Wonokitri memakai sepatu boot. Sedangkan terkait dengan sistem penanaman, masyarakat Desa Wonokitri memakai aturan tertentu yang mengelompokkan penanaman tanaman tertentu pada satu petak lahan. Tanaman berakar kuat misalnya cemara banyak di tanam di ladang/tegalan Desa Wonokitri untuk mencegah longsor dan erosi, selain akarnya kuat kayunya juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Jenis pupuk yang dipakai sangat mengutamakan penggunaan pupuk kandang/kompos yang menurut masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri termasuk ramah lingkungan dan tidak merusak tekstur dan kesuburan tanah.

= Penyiapan Lahan

= Perawatan Lahan

= Masa Panen

= Masa Pengistirahatan Lahan = Masa Tanam

= Musim Angin

= Musim Hujan = Musim Panas

50 cm

Kubis Keterangan:

= Cemara

= Kentang

= Jagung 30 c m

50 cm 3 m

(20)

CP. 103

Gambar 3.10 Sketsa kebun pola penanaman cemara, kentang, jagung dan sawi di Desa Wonokitri

Pemberantasan hama menggunakan cara manual dengan mengambil hama langsung dari tanaman kemudian ditanam di tanah atau diinjak dan memakai obat pemberantas hama.

3.3.3. Sistem pemeliharaan hewan ternak

Peternakan yang dibudidayakan di Desa Wonokitri adalah peternakan sapi dan babi. Sapi yang diternak adalah sapi jantan atas dasar karena sapi jantan tidak dapat memperbanyak jenisnya sehingga tidak memerlukan tempat yang luas. Pemeliharaan ternak sapi dilakukan secara individu di ladang masing-masing. Tindakan pemeliharaan pada ternak sapi yaitu pemberian pakan, pemeliharaan dan perawatan ternak, pembersihan kandang secara teratur dan pemberian obat penyakit.

Tidak berbeda jauh dengan sistem pemeliharaan ternak sapi, pemeliharaan ternak babi juga dilakukan di ladang dengan pembuatan kandang khusus.Pemberian pakan ternak babi dapat berupa sisa hasil makanan yang dibuat di dapur atau makanan yang banyak mengandung protein, sumber energi dan bahan makanan hijauan.

Bentuk penerapan kearifan lokal masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri dalam sistem pemeliharaan hewan ternak yaitu dengan peletakan kandang yang lokasinya jauh dengan permukiman penduduk. Peletakan kandang ternak yang jauh dari permukiman ini merupakan wujud tindakan tindakan yang arif lingkungan. Selain hal tersebut, masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri juga memanfaatkan kotoran ternak untuk dibuat pupuk kandang yang mampu menyuburkan tanpa merusak tekstur tanah namun juga ramah lingkungan.

3.3.4. Sistem pengelolaan dan perlindungan hutan dan sumber-sumber air

Nilai kearifan lokal pada masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri terkait sistem pengelolaan dan perlindungan hutan adalah dengan mengklasifikasikan hutan dan memanfaatkannya. Dalam wilayah Desa Wonokitri hanya terdapat kawasan hutan lindung yang dikelola oleh pihak Perhutani. Hutan lindung ini berguna untuk menjaga keseimbangan struktur tanah dan melestarikan tanah. Masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri memiliki kesadaran yang tinggi dalam mengelola hutan. Bukti keperdulian masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri dalam kegiatan ikut serta memelihara hutan adalah dengan tidak menebang hutan secara sembarangan. Sikap dalam pengelolaan dan perlindungan hutan ini dilandasi oleh slogan yang dipatuhi, berbunyi “tebang satu tanam dua” yang artinya jika menebang satu pohon, maka harus menanam minimal dua pohon yang jenisnya sama.

(21)

CP. 104

bertujuan untuk mengalirkan air dari sumber mata air disalurkan menggunakan pipa sekitar 3 Km menuju ke bak-bak penampungan air/tandon air (jeding desa) di Desa Wonokitri. Saluran pipa yang ada terpisah pada 2 blok yaitu blok barat dan blok timur yang kemudian disalurkan ke masing-masing tandon air pada blok tersebut. Pendistribusian air dari tandon air menuju ke rumah-rumah warga juga menggunakan sistem pipanisasi. Hingga saat ini terdapat 3 buah tandon air dan 3 bilik bak air umum di Desa Wonokitri.

Sistem penyediaan air bagi lahan pertanian adalah dengan membuat aliran mellaui pipa plastik/slang. Sebagian masyarakat memanfaatkan limbah sisa hasil pembuangan rumah tangga untuk menyirami tanaman dengan cara menampung air limbah di tempat penampungan kemudian disalurkan melalui pipa plastik/slang ke arah tanaman yang akan disarami. Ada juga masyarakat yang membuat saluran tersendiri untuk air limbah, biasanya di samping rumah yang dilewatkan pipa terpendam.

Kegiatan pengelolaan sumber-sumber air yang dilakukan antara lain membersihkan dan merawat sumber air, melakukan penghijauan di sekitar sumber air serta melakukan perbaikan pada saluran yang merusak badan jalan akibat longsor. Perbaikan saluran dilakukan dengan membuat tambak atau tanggul tanah yang dimasukkan ke dalam karung kemudian ditumpuk. Kegiatan pengelolaan sumber-sumber air ini juga menjadi salah satu kegiatan sosial yang merupakan kegiatan mingguan bagi masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri adalah gotong-royong membersihkan bak penampungan air umum. Kegiatan ini dilakukan secara bergiliran yang dijadwal tiap RT atau lingkungan setiap seminggu sekali. Masyarakat RT atau lingkungan yang mendapatkan jadwal giliran menuju ke 2 lokasi bak penampungan air umum yang terdapat di Desa Wonokitri.

3.3.5. Tradisi-tradisi dalam pemeliharaan lingkungan yang terdapat di Desa Wonokitri

Dalam upaya pemeliharaan lingkungan, masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri melakukan beberapa tradisi ritual berdasarkan adat dan kepercayaan mereka, yaitu melakukan Upacara Leliwet, Pujan, Munggah Sigiran (Among-among/ngamongi jagung), Wiwit, Hari Raya Kasad, Mayu (Mahayu) Desa, Mayu Banyu, Pujan Mubeng (Narundhung).

3. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa masyarakat Suku Tengger Desa Wonokitri menerapkan nilai kearifan lokal dalah kehidupan sosial budanya sehari-hari antara lain yang terlihat dari:

(22)

CP. 105

2. Kearifan lokal yang mengatur tentang perkiraan musim untuk bercocok tanam, sistem teknologi tradisional dalam pengelolaan ladang/tegalan, sistem pemeliharaan hewan ternak sistem pengelolaan dan perlindungan hutan, sumber-sumber air, serta tradisi-tradisi dalam pemeliharaan lingkungan yang terdapat di Desa Wonokitri.

4. DAFTAR PUSTAKA

Ernawi. (2009) Kearifan Lokal Dalam Perspektif Penataan Ruang, makalah pada Seminar Nasional Kearifan Lokal Dalam Perencanaan dan Perancangan Lingkungan.

Geertz, C. (1992) Kebudayaan dan Agama, Kanisius Press, Yogyakarta, 1992b. Gobyah, I. Ketut (2003) „Berpijak Pada Kearifan lokal‟, www.balipos.co.id. Hefner, R.W., (1985) Hindu Javanese Tengger Tradition and Islam, New York. Keraf, S. A., (2002), Etika Lingkungan, Pn. Buku Kompas, Jakarta.

Naping, Hamka. (2007) Kelembagaan Tradisional dan Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Lingkungan pada Masyarakat Toraja. Makassar : PPLH Regional Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua KLH bekerjasama dengan Masagena Press, 2007.

Pangarsa, Galih Widjil, Sigmawan Tri Pamungkas dan Harini Subekti. (1993) Studi Transformasi Arsitektur Vernakular dan Permukiman di Desa Wonokitri sebagai Dasar

Pertimbangan Kebijaksanaan Pengembangan Industri Pariwisata, Puspit Unibraw, (Unpublished Report).

Ridwan, N. A. (2007) „Landasan Keilmuan Kearifan Lokal‟, IBDA, Vol. 5, No. 1, Jan-Juni 2007, hal 27-38, P3M STAIN, Purwokerto.

Salvina DS, Vina. (2003) Modal Sosial Masyarakat adat Tengger Dalam Menjaga Tatanan Sosial dalam Nurdin dkk (Ed), Agama Tradisional Potret Kearifan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger. Yogyakarta: LKIS dan UMM Press

Gambar

Gambar 3.2 Transek Desa Wonokitri potongan Utara-Selatan
Gambar 3.3 Konsep batas wilayah adat Suku Tengger
Gambar 3.4 Batas wilayah adat Suku Tengger
Gambar 3.6 Sketsa
+5

Referensi

Dokumen terkait

(2) Nilai-nilai kearifan lokal dalam kabanti pada aspek norma mencakup tiga pilar norma yaitu; norma hukum, norma sosial, dan norma adat-istiadat yang masing-masing norma

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui pola komunikasi dalam proses interaksi simbolik yang dilakukan tokoh adat setempat dalam membangun dan mempertahankan nilai

Kearifan lokal ( local wisdom ) tersebut menyatu dalam kehidupan masyarakat setempat, di dalamnya terkandung nilai-nilai kebaikan yang menjadi pedoman dalam

agama, yakni Buddha, Islam, dan Hindu, serta beberapa Kristen, hubungan sosial berjalan dengan baik didasari nilai-nilai budaya Tengger yang dianut oleh warga Desa

8 Nilai-nilai kearifan budaya lokal yang dimaksud dalam tulisan ini adalah nilai-nilai kearifan budaya Bugis, yang tentu saja terdapat pada nilai-nilai budaya suku

Kearifan lokal pada masyarakat adat Baduy menjadi nilai etika inti yang diejawantahkan dalam bentuk perilaku keseharian yakni sangat peduli pada lingkungan, bekerja sama yang

Kearifan lokal pada masyarakat adat Baduy menjadi nilai etika inti yang diejawantahkan dalam bentuk perilaku keseharian yakni sangat peduli pada lingkungan, bekerja sama yang

Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa budaya hukum suku Sasak tergolong masih sangat kental dengan adat istiadatnya.Adat istiadat suku sasak dapat dilihat pada