• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengabdian Masyarakat Kampung Genuk Sari (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengabdian Masyarakat Kampung Genuk Sari (1)"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN SOSIAL DI KAMPUNG KUMUH KOTA ( SUATU UPAYA PEMANFAATAN POTENSI SOSIAL

SECARA KEBERSAMAAN DI KELUARAHAN GENUKSARI KECAMATAN SEMARANG SELATAN )

Pengabdian Masyarakat

Oleh :

Sutejo K. Widodo, dkk

FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG

(2)

PENGESAHAN PROYEK PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

JUDUL: PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA; (Suatu Upaya Pengembangan Masyarakat)

KEPALA PROYEK :

Nama : Drs. Sutejo K. Widodo Pangkata / Golongan : Lektor Muda / III C

Pengalaman dalam bidang : Terlampir Pengabdian Masyrakat Tempat Kegiatan : Kodia Seamarang

Sumber Pembiayaan : Dana O & PF Tahun 1990-1991

Jangka Waktu Pengabdian : 4 Bulan Mulai : Oktober 1990

Biaya yang diperlukan : Rp 1.250.000 (Satu juta dua ratus lima puluh ribu )

Semarang, 31 Januari 1991 Menyetujui

Dekan Fakultas Sastra UNDIP Kepala Proyek

Prof. Dr. Istiati Soetomo Drs. Sutejo K Widodo

(3)

PENDAHULUAN

1. Dasar Pemikiran

Lingkungan kehidupan kelompok tertentu, seperti di kampung kota sering terlihat kumuh, tidak teratur dan kurang memperhatikan masalah syarat kesehatan, perencanaan sebagai tempat tinggal. Fungsi tempat tinggal kadang sekedar memenuhi sebagai tempat berteduh, tempat melepas kelelahan selama seharian kerja. Penghuni di lingkungan tersebut sebagian besar merupakan kelompok urbanis dari daerah pedesaan dengan seting lingkungan sosial agraris. Corak kerjanyapun berada pada tepian dari sektor strategis. Keadaan yang demikian menyebabkan suatu lingkungan sosial yang rendah, yang mempengaruhi pula proses sosialisasi pendidikan anak.

Corak kehidupan yang demikian tersebut, menimbulkan perasaan iba pada sementara orang, dan kemudian terketuk hatinya untuk membantu meringankan beban dengan bantuan berupa pemberian bahan makanan, pakaian pantas pakai dsb. Iktikad semacam ini sebagai cermin dari kepedulian sosial kelompok mampu kepada kelompok lain yang berkekurangan. Namun tidak jarang, pemberian bantuan yang mendasarkan atas belas kasihan tersebut di sisi lain menyebabkan terganggunya daya kreativitas dan kemandirian. Sehingga apa yang diharapkan dari pemberi bantuan tidak tercapai, dan justru menyebabkan keinginan dari penerima bantuan untuk selalu mendapatkan bantuan lagi. ada semacam akibat yang menimbulkan ketergantungan.

(4)

anggota masyarakat, bahkan tim pengabdi sendiri dapat belajar dari masyarakat. Proses sentuh saling belajar dalam upaya mengenali, menganalisa sebab, melihat potensi diri dan peningkatan kemampuan dalam menentukan cara pemecahan permasalahan secara sistematis terprogram, dapat dilakukan dengan metode Riset Aksi.

2. Tujuan

Tujuan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah berusaha membantu dalam peningkatan kemampuan mengenali potensi yang dimiliki yang dapat digunakan untuk memecahkan permasalahannya sendiri, dapat berupa kemampuan mengenali masalah, penyebab serta cara-cara pemecahannya dengan melalui kelompok musyawarah; dengan tanpa harus menimbulkan ketergantungan pada peran yang dilakukan oleh tim pengabdi-pengembang. Melalui kelompok tersebut akan tumbuh ikatan kebersamaan, keberanian mengemukakan pendapat dari seluruh anggota masyarakat. Sehingga proses pengambilan keputusan menjadi milik bersama.

3. Manfaat

Manfaat dari kegiatan pengabdian pada masyarakat adalah memberikan kesempatan untuk berlatih mengembangkan cara-cara dalam menentukan dan memecahkan permasalahan secara bersama. Disamping itu melalui lembaga sosial yang terbentuk atau yang telah ada dikembangkan lagi, masyarakat dapat merencanakan kegiatan sosial kemasyarakatan secara terprogram, terlembaga sesuai daya dukungnya, sehingga dapat menghindari timbulnya ketimpangan sosial.

(5)

4. Langkah-Langkah Kegiatan a. Persipan Sosial

i. Mencari data formal monografi desa, data terpublikasi, hasil penelitian entang wilayah dimaksud. Data ini berguna sebagai bahan awal untuk mengetahui keadaan dan potensi yang ada, kegiatan yang telah dilakukan, hambatan, dsb. Hasil perolehan tahap ini berupa laporan yang menggambarkan keadaan lokasi pengabdian.

ii. Menjelaskan kepada perangkat desa dan masyarakat tentang tujuan, bentuk kegiatan dari pengabdian pada masyarakat.

iii. Serangkaian pembicaraan dengan tokoh masyarakat mengenai banyak hal dengan tujuan dapat memahami ungkapan, pendapat serta permasalahan yang dihadapi. Langkah ini menghasilkan pengertian tentang keadaan sosial, struktur sosial, orientasi, tanggapan dan harapan dari masing-maisng kelompok. Sehingga diperoleh peta identitas kelompok sosial.

iv. Mendokumentasi dan mempelajari bentuk-bentuk kegiatan yang pernah dilakukan, hasil, cara dan hambatannya. Atas data analisa ini dirumuskan tentang cara dan dalam kesempatan apa pengabdian dilakukan, dengan melibatkan diri pada permasalahan yang dihadapi. Setelah disepakati keterlibatan dan kehadiran tim pengabdian dalam aktivitas sosial keseharian, pengabdian segera data dimulai.

b. Merumuskan Kebutuhan Pokok

(6)

tingkat penerimaan gagasan saja, dilakukan kajian ulang oleh tim untuk merumuskan permasalahan-kebutuhan yang lain, sampai pada rumusan kegiatan.

ii. Lontaran kebutuhan yang pernah dilakukan yaitu: pertama tentang MCK, terutama masalah septiktank. Ternyata hanya sampai pada penerimaan ide. Kedua tentang pengelolaan sampah. Hal inipun terbatas pada penerimaan ide saja. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah ArisanRehapRumah.

c. Pembentukan Perangkat Pendukung Pelaksanan Ide – Organisasi Pelaksana

i. Tingkat urgensitas kepentingan nampak pada kemauan mewujudkan ideke dalam aksi kegiatan. Penerimaan diikuti adanya kesepakatan tentang cara untuk mewujudkan ide, berupa kesepakatan membentuk wadah kerja sama.

(7)

II. GAMBARAN UMUM LOKASI PENGABDIAN A. Lingkungan Geografis Tempat Tinggal dan Kependudukan

Kelurahan Genuksari merupakan salah satu Kelurahan di Kecamatan Semarang Selatan, terletak di bagian Utara, berbatasan dengan Kelurahan Wonodri dan Pleburan Kecamatan Semarang Timur. Sebelah Barat dibatasi oleh Kelurahan Lampongsari dan Gajahmungkur, dan sebelah Timur dibatasi oleh Kelurahan Tegalsari yang masih merupakan wilayah satu kecamatan.

Luas daerahnya adalah 126 Ha, dengan jarak terdekat dari pusat kota sekitar 1,5 km, atau ± 1 km dari Kampus UNDIP. Secara topografis, wilayah Genuksari sebagian besar berupa perbukitan dengan kemiringan terjal yang dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu bagian bawah yang meliputi 3 RW, daerah tengah 6 RW, dan daerah atas 1 RW terletak di sepanjang jalan Diponegoro. Dari 10 RW dengan 75 RT tersebut problem tahunan berupa banjir pada umumnya tidak menimpa kelurahan ini, terkecuali di beberapa bagian dari RT di bagian bawah. Namun bukan berarti tanpa masalah, karena bencana berupa tanah longsor sering terjadi di daerah tengah yang merupakan bagian wilayah yang paling luas.

Banyaknya rumah penduduk berdasar jenis material menurut monografi desa tahun 1988, dan data tahun 1991, sbb:

No. Jenis/Tipe 1988 1991

1. Permanen 506 888

2. Semi Permanen 761 564

3. Kayu/papan 1.326 451

4. Bambu 142 35

2.735 1.938

(8)

cara pengumpulan data dari laporan ketua RT yang diedarkan dimana ada beberapa RT yang belum masuk.

Kelurahan dengan status swasembada ini mempunyai jumlah penduduk sebanyak 13.741, terdiri penduduk laki-laki 7.022 dan wanita 6.719. dengan mata pencaharian 2.325 (34,5%) pegawai negeri, 1.110 (16%) buruh bangunan, jasa 14%, 786 (10%) buruh industry, 721 (10%) pengangkutan, 595 (8%) pedagang, 228 (3%) pensiunan, dan 0,5% sebagai pengusaha.

Keadaan penduduk menurut tingkat pendidikan adalah tamatan Perguruan Tinggi 264, Akademi 403, SMTA 1.383, SMP 2.036, SD 3.957, tidak tamat SD 1.004 dan belum tamat SD 2.500, tidak sekolah 72. Fasilitas sosial yang dimiliki berupa 5 Taman Kanak-Kanak dan 5 Sekolah Dasar. Jumlah masjid ada 7 buah, sedang suraunya ada 5 buah.

Berdasarkan status tanah pada umumnya, berupa tanah yayasan, tanah negara dan reboisasi. Tanah yang sebagian kecil telah disertifikatkan, tanah negara sebagian besar belum disertifikatkan dan tanah reboisasi meliputi 4 RW yaitu RW II, IV, VIII, dan IX telah penuh dengan bangunan rumah tempat tinggal yang masing-masing telah mempunyai Surat Ijin Mendirikan Bangunan (SIMB).

B. Keadaan Kampung

Lokasi pengabdian adalah salah satu Rukun Warga (RW) di antara 4 RW yang mempunyai status sebagai wilayah reboisasi. Kesamaan pada umumnya di lokasi ini adalah kemiringan yang terjal dengan hanya sebagian kecil yang dapat dijangkau oleh kendaraan roda empat. Sebagian besar dapat dijangkau oleh pejalan kaki, dengan jalan selebar 1 sampai 2 meter berupa trap-trap.

(9)

1. Berdasar Luas Tanah

-50 m2 51-75 75-100 101-125 126-150 151-175

10 7 9 1 3 2

2. Berdasar Luas Rumah

-20 m2 21-29 30-50 51-75 76-100 101-125

1 6 19 3 3 -

3. Berdasarkan Bahan Lantai

Jenis Bahan Jumlah

Tegel 13

Dikeraskan dengan semen 11

Tanah biasa 9

4. Berdasarkan Bahan Dinding

Jenis Bahan Jumlah

Batu Bata/Tembok 6

½ papan, ½ tembok 18

Papan 9

Lainnya -

Fasilitas MCK

(10)

memasak diperoleh dari air sumur milik perorangan. Sebagai gambaran pemilikan fasilitas tersebut di salah satu RT seperti di muka dapat dikemukakan sbb:

Jenis Fasilitas Memiliki Tidak Memiliki

Kamar Mandi 33 -

WC 17 16

Sumur 9 24

Dari 17 WC yang ada, 7 buah dioperasionalkan tanpa septic tank; yaitu disalurkan langsung ke sungai. Pada musim penghujan air sungai dapat mengalir, akan tetapi pada musim kemarau air hanya berasal dari limbah keluarga, sehingga menimbulkan lingkungan yang berbau. Bagi yang tidak mempunyai WC, keperluan buang hajatnya dilakukan di sungai atau menumpang kepada keluarga yang memiliki.

Fasilitas penunjang untuk pembenahan kebersihan lingkungan, berupa bangunan bak-bak penampung sampah berfungsi pada musim kemarau sebagai tempat penampungan dan pembakaran sampah, sedangkan pada musim penghujan sampah pada umumnya dihanyutkan langsung ke sungai. Fungsi bak-bak sampah belum dapat difungsikan secara optimal disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya jalan kampung yang sempit dan menanjak, sementara bak sampah besar yang secara rutin telah dikelola oleh Dinas Kesehatan Kotaterletak tidak kurang dari 500 m sampai 1,5 km, dan itupun ada di RW lain, di luar dari RW tersebut, warga tidak boleh membuang sampah di bak tersebut. Pemecahan yang paling mungkin sampai saat ini adalah dilakukan pembakaran pada musim penghujan dan penghanyutan ke sungai pada musim penghujan. Hal ini jika disadari akan menyebabkan bahaya banjir dan pencemaran di daerah bawahnya.

(11)

yang lebih baik, hanya saja, gejala-gejala positif tersbeut belum mendapat gayutan secara nyata dari pihak berwenang. Instruksi dan konsep-konsep makro, seperti tercermin dalam motto keinginan menjadikan Semarang sebagai kota ATLAS perlu mendapat rincian operasional sampai pada tingkat yang paling bawah.

C. Kependudukan dan Daya Dukung Masyarakat

Untuk dapat mengetahui tindakan pengabdian-pengembangan yang pelru dirumuskan bersama, tentulah diperlukan pengertian tentang faktor daya dukung manusianya. Hal itu dapat diketahui dnegan melihat identitas yang dimilikinya, seperti tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dsb. Data monografi desa memuat keseluruhan di wilayahnya. Untuk daerah yang lebih kecil dan secara kebetulan tertinggal dengan lingkungannya, data kelurahan tidak dapat digeneralisasikan terhadap lingkungan tertentu. Seperti dalam suatu lingkungan dalam suatu RT menunjukkan keadaan yang ada di bawah rata-rata keadaan di kelurahan, seperti nampak sbb:

SD

SMTP SMTA PT

Tidak Tamat Tamat

11 10 8 6 1

Sedangkan berdasar pada jenis pekerjaan adalah sbb:

Status Corak/Sifat Jumlah

1. Lepas Tidak tentu 13

Wiraswasta 5

2. Harian Harian 1

Mingguan 2

Bulanan 4

3. Negeri Masih aktif 5

(12)

Jenis pekerjaan lepas tidak tentu, seperti buruh bangunan, sopir rosokan, tukang parker dsb. Sejumlah 13 KK atau sekitar 35% mempunyai pekerjaan dalam kategori lepas tidak tentu, yang pada umumnya sangat tergantung pada ada-tidaknya permintaan dan kemampuan untuk melakukannya. Corak ekonomi dalam artian pendapatan dari kelompok ini sangat riskan, artinya apabila dalam beberapa hari tidak bekerja, maka perekonomian keluarga sangat terrganggu.

Adapun tingkat pendidikan, jenis pekerjaan istri di lokasi pengabdian tersebut nampak sbb:

SD

SMTP SMTA PT

Tidak Tamat Tamat

16 5 3 4 1

Jenis pekerjaan istri

Tidak Kerja Wiraswasta Buruh/Pembantu Pegawai Negeri

18 3 6 2

(13)

Tempat tinggal sebelum menetap di RT tersebut, memperlihatkan bahwa 4 KK berasal dari desa langsung, 30 orang telah berada di kota, sedangkan yang dibesarkan di lokasi tersebut 2 KK. Namun jika ditelusuri tempat kelahiran antara Kepala Keluarga dengan istri nampak sbb:

Asal KK dan istri berdasar tempat lahir

Kabupaten KK Istri

Kodia Semarang 7 4

Kabupaten Semarang 13 14

(14)

III. KUALITAS LINGKUNGAN KAMPUNG KOTA DAN PERTUMBUHANNYA

Secara umum pertumbuhan di lingkungan RW 8 mempunyai kesamaan pertumbungan lingkungan dengan RW di sekitarnya, terutama di wilayah tengah sebagaimana dikemukakan di muka; yaitu dengan adanya kesamaan topografis berupa wilayah dengan kemiringan terjal. Pertumbuhan lingkungan pemukiman tersebut, tidak terlepas dari adanya semacam “restu” Walikotamadya Semarang, Bapak Imam Suparto, SH. Daerah dengan kemiringan terjal yang relatif baru untuk hunian tempat tinggal, longsor akibat guyuran hujan pada awal tahun 1981. Musibah menimpa hampir seluruh wilayah pemukiman penduduk yang ternyata status wilayah tersebut diperuntukkan sebagai wilayah reboisasi. Namun dalam kenyataannya telah berdiir rumah-rumah penduduk. Pada tanggal 28 Januari 1981, Walikota meninjau musibah tanah longsor tersebut. Atas dasar kenyataan yang ada, Walikota kemudian menyatakan kepada warga sekitar wilayah tersebut yang pada intinya memberikan ijin memperbolehkan wilayah tersebut dijadikan sebagai wilayah tempat tinggal, dengan suatu syarat bahwa setiap orang yang menempati harus menjaga dan merawat lingkungan dengan menanami pepohonan.

(15)

dari daerah-daerah tertentu seperti Wonosobo, yang ketika datang mendapatkan kenyataan adanya tanah kosong yang tak terurus. Kemudian karena kebiasaan di desanya, maka mereka memanfaatkan tanah tersebut ditanami dengan tanaman seperti ketela, kacang dsb. Dengan demikian, ketika terjadi perubahan pada peningkatan status tanah dan sejalan dengan semakin menguatnya arus urbanisasi yang pada akhirnya memerlukan tempat tinggal, mereka yang telah lama tinggal dan mengerjakan tanah-tanah tak terurus itu seolah mendapatkan rejeki nomplok.

Proses pengalihan bak atas dasar kesepakatan itu kemudian dilaporkan ke Kepala Kelurahan, dan kemudian dibuatkan “akte ganti rugi” tanah garapan yang mempunyai fungsi sebagai tanda sah pelimpahan dan pembayarannya, diperkuat dengan pemberian cap sebagai tanda mengetahui dari Camat setempat. Atas restu tersebut, bangunan yang semula masih belum permanen dan sederhana, sebagian besar diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Restu Walikota seolah-olah merupakan peluit sebagai tanda dimulainya pembangunan wilayah tersebut. Orang yang semula ragu untuk membangun rumahnya secara permanen, karena takut sewaktu-waktu dibongkar, maka dengan restu tersebut, keraguan menjadi sirna.

Lokasi denga kemiringan terjal tersebut, ditinjau dari pertimbangan efisiensi biaya pembangunan dan kenyamanan sebagai tempat tinggal secara umum tidak menguntungkan. Lebih pada kondisi keterpaksaan yang menyebabkan orang tinggal di lokasi tersebut, dengan suatu pertimbangan dekat dengan pusat kegiatan kota.

(16)

literature Kolonial disebutkan bahwa Semarang bagian bawah sebagai pusat kegiatan perdagangan dan pemerintahan, sedangkan kawasan Semarang atas yang bergunung-gunung dijadikan sebagai tempat bangunan pejabat-pejabat pemerintah yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang menyenangkan. Pada masa colonial, kawasan tengah dengan kemiringan terjal digunakan sebagai lokasi reboisasi dengan ditanami pohon-ohonan yang berfungsi sebagai penahan erosi dan penyuplai udara segar. Wilayah tersebut salah satunya adalah lokasi yang dijadikan sebagai tempat pengabdian yang kini telah berubah menjadi lingkungan pemukiman berupa kampung kota. Namun masih dikenal pula, dan ada beberapa sisa yang menunjukkan bahwa reboisasi dilakukan dengan pengaturan dan pengelompokan atas jenis-jenis tanaman. Sehingga ada wilayah penanaman pohon randu, pohon johar, pohon jeruk, pohon rambutan dsb. Kawasan yang semula tertata baik menjadi rusak terutama sekitar tahun 1960-an dengan adanya kemarau panjang dan kurangnya perawatan. Lebih-lebih ketika adanya program mandiri, khususnya pada kebutuhan sandang, daerah tersbeut digunakan untuk penanaman pohon murbei sebagai bahan makanan ulat sutera. Program tidak terlaksana, pepohonan telah terlanjur ditebang, sementara murbeinisasi tidak terealisir.

(17)

saluran. Informan itu menceritakan bahwa terowongan yang ada di depan Tegalwareng sampai Peterongan selalu dikontrol secara langsung masuk ke terowongan, sehingga orang berjalanpun dapat. Suatu realitas bahwa terowongan itu pada masa sekarang sudah dangkal dan belum ada upaya menormalisasikan sehingga ketika banjir sering tidak muat dan akhirnya melimpah ke kawasan pemukiman penduduk. Perbaikan yang lebih sering dilakukan pada masa pembangunan adalah dengan menaikkan saluran, menaikkan jalan dan seterusnya yang pada akhirnya di daerah bawah terjadi persaingan untuk saling menaikkan tempat tinggal, bila tidak ingin kebanjiran.

Fenomena penyerobotan tanah-tanah kosong oleh penghuni liar merupakan kejadian yang biasa terjadi di hampir semua kota dengan penghuni padat. Arus itu semakin kuat setelah tahun 1970-an sebagai suatu akibat logis dari upaya pembangunan yang nampaknya masih terfokus di kota-kota. Daerah Genuksari merupakan salah satu lokasi sasaran pendatang-pendatang, baru sekitar tahun 1980-an, setelah daerah dengan keadaan yang lebih baik teah habis diduduki. Proses ini turut pula menentukan tingkat perkembangan selanjutnya. Jika di lokasi yang hampir sama, namun lebih dahulu dihuni, kini keadaannya telah berkembang menjadi kawasan yang teratur, karena penghuninya adalah dari golongan yang lebih baik keadaannya secara ekonomis. Sedangkan daerah sasaran kemudian yang kondisinya lebih sedikit sulit, perkembangannya sangat pelan. Hal ini disebabkan pula oleh faktor potensi dan kekuatan ekonomi yang ada.

(18)

belum pasti itu, memang menjadikan ketidakpastian dan yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Tingkat ketidakpastian itu dapat tercermin ketika isu penggusuran membumbung kuat, maka kebanyakan orang bersikap bahwa kejadian itu toh tidak dialaminya sendiri. Namun pemerintah pun tidak serampangan dalam mengambil kebijakan perihal tanah tersebut. Kemudian muncul rancangan konsep untuk mewujudkan tekad tersebut, dengan cara melakukan penertiban dan penataan lingkungan. Konsep itu di Semarang Selatan tidak hanya dilakukan dalam bentuk pembongkaran semata, tetapi juga dibarengi dengan penataan lingkungan. Sedangkan penertiban terhadap pemukiman penduduk yang berada di atas tanah reboisasi, seperti di wilayah Kelurahan Bendanduwur, Pegandan, Lempongsari, dan Genuksari dilakukan dengan cara: bagi bangunan rumah yang kurang memungkinkan, pemiliknya diminta untuk membongkar sendiri, sedangkan bagi rumah yang sudah memenuhi kelayakan pemukiman dan tertata baik dalam waktu dekat juga akan diusulkan peningkatan status pemiliknya. Penertiban dengan dibarengi langkah penataan tidak akan mengundang masalah sosial yang cukup rawan di dalam kehidupan masyarakat (Suara Merdeka: 23 Oktober 1987).

Rencana usulan konsep penataan lingkungan yang dalam rumusan cukup

“puitis dan indah” tersebut sampai dengan tahun 1991 belum nampak adanya

(19)

A. PertumbuhanKampung

Perkembangan kampung kota dalam artian fisik dapat dilacak dengan melihat cara perolehannya dan status kepemilikan. Dengan mengambil sampel satu RT di daerah pengabdian memperlihatkan antara lain:

Status tempat tinggal dan cara perolehannya:

Status Milik Jumlah Cara

Perolehannya

Jumlah

Milik Sendiri 32 Pembelian 29

Kontrak/Sewa 3 Warisan 2

Numpang 1 lainnya 2

Kondisi Sewaktu Diperoleh

Berupa Jumlah

Tanah Kosong 21

Sudah Ada Rumahnya 12

Jika ditinjau dari perkembangan berupa penambahan luas bangunan maupun peningkatan kualitas tempat tinggal dapat dikemukakan bahwa sejumlah 25 buah rumah (sekitar 80%) telah mengalami perubahan, sedangkan sebanyak 8 rumah belum ada perubahan. Bentuk perubahan yang terjadi adalah sebagai berikut:

Bentuk Perubahan Jumlah

Diperluas 21

Diperluas dengan perbaikan 2

(20)

Melihat kondisi tempat tinggal ketika diperoleh oleh masing-masing keluarga, menunjukkan bahwa sejalan dengan perkembangan kampung kota sendiri juga terjadi pendesakan terhadap pemukiman lama, oleh pendatang baru yang biasanya disebabkan oleh faktor ekonomis, proses semacam itu selalu terjadi di lingkungan yang mengalami perkembangan pesat, sehingga bagi keluarga yang tidak dapat menyesuaikan dengan perkembangan lingkungannya akan mengalami desakan dan pengangguran secara alami. Dengan demikian akan terjadi suatu dilema dalam upaya peningkatan lingkungan pemukiman di kampung kota. Di satu sisi kampung kota yang biasanya kumuh dengan kualitas yang rendah tidak sesuai dengan harkat dan mastabat manusia, hal itu mengharuskan adanya upaya peningkatan. Namun uoaya peningkatan terbentur oleh sarana jalan yang pada umumnya sempit, sulit terjangkau oleh transportasi. Akibatnya biaya keseluruhan untuk membangun tempat tinggal ternyata lebih tinggi jika dibandingkan dnegan biaya pembangunan dengan kualitas sama di tempat lain yang dapat dijangkau oleh kendaraan/transportasi. Sarana penerangan berupa listrik memang dapat menjangkaunya, namun sarana lain seperti air dari PAM, mobil pemadam kebakaran, mobil pengangkut sampah, penyedot tinja tidak dapat menjangkaunya.

Namun demikian sarana jalan yang sering dijadikan kambing hitam dan kendala peningkatan kualitas lingkungan kampung kota, secara paralel tumbuh setingkat dengan pertumbuhan masyarakatnya. Artinya jalan tersebut sebenarnya juga berfungsi melindungi warganya, terutama yang berpenghasilan kecil, dari gusuran alamiah terkaman paksaan ekonomi. Konsep pengembangan dari dalam, yakni proses pengembangan yang sejalan dengan tingkat kemampuan masyarakatnya tanpa harus dipaksakan dari kepentingan dan ukuran dari luar masyarakatnya, memungkinkan dapat menyelamatkan masyarakat kampung kota sebagai komunitas tanpa harus mengalami penggantian penghuni secara cepat.

(21)

penataan dilakukan dan terjadi setelah kampung pemukiman itu penuh penghuni, sehingga menjadi kesulitan tersendiri. Kampung yang tumbuh sendiri memang memberikan keleluasaan kepada pemiliknya untuk memanfaatkan tanahnya yang dimilikinya. Kelelluasaan yang hanya dibatasi oleh keterbatasan tanah yang dimilikinya, artinya karena tanah yang dimiliki pada umumnya relative sempit dengan kemiringan yang terjal, maka ada kecenderungan menggunakan seluruh tanah yang rata untuk digunakan sebagai rumah tempat tinggal. Walau demikian secara perlahan tumbuh pula upaya peningkatan kualitas lingkungan dari dalam. upaya-upaya tersebut sejalan dengan kemmapuan perkembangan ekonominya yang sebagian besar mendasarkan pada pekerjaan sektor informal. Dengan demikian di kampung kota terjadi mekanisme pertahanan minimal untuk tetap berdiri tegak di atas miliknya. Jikalaupun harus hengkang karena penggusuran alamiah, berarti akan menghadapi proses awal di kampung kumuh yang lain.

Kehadiran kampung miskin di lingkungan yang relatif kaya, dilihat dalam skala makro memang saling memerlukan. Lingkungan kaya memerlukan jasa-jasa tertentu dari orang yang tinggal di kampung miskin. Jasa-jasa itu seperti membersihkan kebun, taman, rumah ataupun diperlukan tangannya untuk keperluan lain. di kampung miskin itu tenaga-tenaga kasar tidak terdidik tersedia. Dengan lokasi yang berdampingan dan berdekatan, justru si kaya dapat memperoleh tenaga yang lebih murah. Masalahnya adalah bagi orang yang pas-pasan itu untuk tempat kerja tidak perlu ditambah dengan ongkos angkutan yang mungkin tidak besar, namun cukup berarti bagi mereka.

Di kampung kota sendiri bukan berarti semuanya terdiri dari lapisan ekonomi lemah. Di situ sendiri terjadi pelapisan sosial berdasarkan nilai tertentu.

B. PartisipasiMasyarakat

(22)

hal gotong-royong masih memperlihatkan ikatan-ikatannya yang kuat. Dalam kepentingan umum ataupun untuk kepentingan perorangan, seperti kerja untuk memperbaiki jalan, saluran dan pembangunan rumah dengan konstruksi sederhana masih terlihat bantuan tenaga dari tetangga. Hal semacam itu hanyalah ditemui dalam kebiasaan orang desa.

Dalam hal tolong-menolong meringankan musibah anggota masyarakat masih kuat. Sedang dalam pembangunan biasanya mereka mempunyai keterampilan untuk mengerjakannya. Hal ini disebabkan karena dari mereka memang mempunyai pekerjaan tenaga buruh bangunan atau pernah menjadi buruh. Untuk penduduk dengan tingkatan pendidikan yang relative rendah, mempunyai pengalaman dari beberapa jenis pekerjaan yang tidak menuntut suatu keahlian khusus. Kecenderungan demikian itu disebabkan oleh seringnya berpindah dari satu jenis pekerjaan je pekerjaan lain.

(23)

IV. LANGKAH KEGIATAN DI LAPANGAN

Sesuai dengan deskripsi keadaan masyarakat di kampung kota sebagaimana dalam bab sebelumnya, bahwa tingkat kekritisan masyarakat dalam menilai, melihat serta merespon ide dari orang lain telah cukup tinggi. Artinya mereka tidak sekadar menerima saja, namun ide tersebut akan dipertimbangkan dengan pengalaman hidup yang pernah dilakukan. Bahkan lebih nampak cenderung ada sikap kehati-hatian.

Atas dasar kenyataan tersebut, maka terhadap permasalahan yang dihadapi sebenarnya telah ada pengertian. Apalagi melihat latar belakang mereka yang berasal dari desa sebagai urbanis, mempunyai keberanian dan semangat yang kuat mengatasi permasalahan. Mereka termasuk orang-orang yang memiliki keuletan, ketabahan dan mampu menjalani hidup menderita. Pada umumnya di samping sifat-sifat positif tersebut, mereka juga mempunyai keahlian dalam beberapa pekerjaan seperti dalam pertukangan kayu, tukang batu dsb. Namun sisi gelappun tidak dapat begitu diabaikan, bahkan sifat yang hampir melekat pada lingkungan tersebut adalah berkaitan dengan kesenangan minum-minuman, berjudi dsb.

(24)

tersebut mengganggu atau tidak di daerah hilir adalah persoalan lain yang belum dapat dipikirkan.

Dari tanggapan yang tidak berkembang, kemudian dilakukan perumusan ulang, dengan menawarkan ide pada issu MCK, terutama kakusnya. Sebagian besar WC yang dimiliki tanpa dilengkapi dengan septiktank, akan tetapi disalurkan ke sungai. Pada musim penghujan permasalahannya tidak serumit pada musim kemarau, karena di musim penghujan banyak air, sedang di musim kemarau perbuatan itu menimbulkan polusi udara. Persoalan tersebut pernah dilontarkan dengan mengaitkannya dengan berjangkitnya penyakit demam berdarah. Upaya yang dilakukan adalah dengan menyemprot nyamuk DB dengan tanpa mengupayakan pembenahan terhadap pembuangan sampah dan limbah. Ide perkenalan dimulai dengan memanfaatkan septiktank untuk budidaya lele, dengan harapan mengalihkan sementara masalah kesehatan pada upaya budidaya yang menguntungkan. Namun tanggapan yang dilakukan adalah terbatas pada penerimaan pemikiran tanpa dengan langkah organisasi.

Bersamaan dengan itu dilontarkan pula ide dalam upaya peningkatan pendidikan dengan membentuk lingkungan wajib belajar, yaitu pada jam-jam belajar anak usia sekolah tidak diperbolehkan main-main di luar rumah, karena hal itu akan mengganggu anak lain yang sedang belajar, terdapat kesepakatan dari orang tua untuk saling menjaganya.

(25)

Dengan demikian rumusan treathment bukanlah harga mati, nampak bahwa rumusan pertama, kedua atau ke berapa kalinya belum menemukan permasalahan yang sebenarnya mendesak. Ego pengabdi dihindarkan jauh-jauh. Keinginan sementara pihak mendominasi pembicaraan dan pelontaran ide juga harus dihindarkan. Hal yang perlu adalah proses sentuh pada kelompok pemuka untuk memberikan kesempatan pada kelompok di bawahnya untuk tampil, karena dengan demikian pemikiran itu akan keluar secara mendasar dan mendapat dukungan sepenuhnya.

(26)

V. CATATAN KEGIATAN YANG DILAKUKAN MASYARAKAT

Di muka telah diuraikan tentang latar belakang masyarakat kampung kota, karakteristik, beberapa kegiatan yang dilakukan, letak geografis dsb. Bahwa ujud kemauan mengupayakan tempat tinggal dan lingkungan sosial ke yang lebih baik telah dilakukan. Dari lacakan informasi yang telah diperoleh, secara prinsip kerjasama dalam mengupayakan problema sosial kemasyarakatan mendasarkan pada unsur kepercayaan. Bagaimana lingkungan masyarakat tersebut pernah mengalami masa-masa yang mandek, kurang gairah bahkan cenderung pasif. Permasalahannya adalah disebabkan oleh tingkat kewibawaan dari pimpinannya yang pernah tidak beres dalam hal iuran pembangunan. Walau kejadian itu telah berlangsung lama, pada ketika lokasi tersebut mulai ditempati, namun bekasnya cukup dalam. untuk itu maka pada masa-masa selanjutnya strategi membangkitkan kepercayaan adalah dengan mengajak memperbaiki lingkungannya secara bersama-sama, adapun bentuk iurannya berupa material langsung. Artinya orang menyumbang/iuran berupa batu, batu bata, semen, pasir dsb. Setelah proses itu berjalan, maka hasilnya telah dapat dan kemudian karena adanya beberapa kesulitan tertentu jika iuran harus berupa material, maka diusulkan dari kelompok bawah, bagaimana kalau iuran berupa uang, karena hal itu akan lebih praktis. Atas dasar kesepakatan itu, maka bentuk iurannya diubah dalam bentuk uang.

(27)

jangkauan kemampuan finansial belum sampai dan masih ada desakan pemenuhan kebutuhan hidup yang lebih mendesak. Menemukan rencana kegiatan yang menyangkut kepentingan dalan jadar kemmapuan yangs ama diperlukan kahian berulang-ulang.

Terhadap kenyataan bahwa bangunan tempat tinggal yang dimiliki hingga sekarang masih perlu adanya peningkatan. Sementara ada kesadaran bahwa sebagian dari realisasi dari program itu telah dimilikinya, yaitu tenaga, tenaga tukang, ataupun kerja bersama. Untuk mengatasi masalah penyediaan keuangan memang masih banyak kesulitannya, upaya arisan sebesar Rp 10.000,00 per orang yang diikuti oleh 13 orang dan kemudian berkembang menjadi 15 orang, hanyalah sekedar melengkapi saja. Artinya perlu adanya persiapan modal yang lebih besar untuk dapat melaksanakan kegiatan rehab rumah. Paling tidak sebagai suatu dorongan sedikit keuangan dan tenaga yang tidak perlu dibayar. Dengan demikian nantinya setelah dilakukan perhitungan akan ada biaya yang merupakan pengiritan-pengiritan.

Pengembangan sikap kemandirian terhadap orang-perorang terhadap dilingkungannya tersbeut, ditentukan oleh sikap dan kemampuan yang dimilikinya. Mendinamisir proses demokratisasi tidak terlepas pada kenyataan pergaulan hidup tersebut. Kelas atau strata sosial mempengaruhi dan menentukan bentuk dan isi dari demokratisasi. Artinya orang lebih cenderung menempatkan dirinya dalam perannya sebagaimana kedudukan strata sosialnya. Ada atas bawah, ada yang berpengaruh dan yang dipengaruhi, ada “pemimpin” dan “pengikut”. Padahal kondisi yang demikian itu diupayakan untuk digeser sedemikian rupa agar jarak dari keduanya tidak dalam ujung yang berjauhan.

(28)

permasalahan sosial kemasyarakatan, masalah lingkungan menjadi milik bersama. Karena masalah telah menjadi milik bersama dan adanya penghargaan atas setiap partisipasi yang dilakukan maka setiap individu terdorong untuk ikut bertanggungjawab atas dasar kesadaran dari dalam dirinya. Perjalanan yang mulus dan punya dasar kuat tersebut terus didorong dengan perkembangan permusyawarahan dan nilai-nilainya secara bersama-sama.

Setelah merespon informasi, kemudian merumuskan menjadi permasalahan bersama. Masalah memperbaiki rumah (meningkatkan keadaannya) adalah masalah yang dihadapi oleh hampir seluruh anggota masyarakat di lingkungan tersebut. Permasalahannya oleh terbatasnya biaya yang dimiliki, ongkos tukang yang tidak sedikit. Sementara dari anggota masyarakat ini terdapat beberapa orang yang mempunyai keahlian pertukangan. Untuk itu kemudian dilakukan:

1. Untuk mengatasi dalam arti sekedar meringankan pembiayaan bersama dibentuk kelompok arisan rehab rumah, diikuti oleh 13 orang dan kemudian menjadi 15 orang dengan biaya arisan Rp 10.000,00 per bulan, dengan tidak menutup adanya bentuk-bentuk bantuan pinjaman berupa barang dari anggota masyarakat lainnya. Telah ditentukan waktu permulaannya adalah tanggal 15 Desember 1990, melakukan rehab rumah periode pertama. Sedang arisannya disertakan bersama-sama dengan waktu pertemuan antar warga setiap tanggal 5.

2. Bagi yang tidak menjadi anggota arisan, bukan berarti terlepas dari kegiatan tersebut. Arisan hanyalah sekedar meringankan masalah pembiayaan sementara. Karena RT merupakan kelompok kecil paguyuban, maka masalah tenaga dilakukan secara bersama-sama, tanpa harus ada kelompok inklusif. Dengan demikian kegiatan tersbeut merupakan paduan antara gotong-royong dengan arisan.

(29)

(seketaris RT), sedangkan Dewan Penasehat terdiri dari pemuka masyarakat di lingkungan tersebut dengan dipimpin oleh Bapak Sarjono, yang bertugas memberi masukan tentang orang-orang peserta arisan yang sekiranya perlu segera memperoleh arisan. Bentuk arisan ini dilakukan bukan dengan cara undian, namun berdasarkan pada kriteria pada kondisi rumah yang paling parah keadaannya. Seperti yang dilakukan pada priode pertama, terhadap rumah Bapak Darno. Semula Pak Darno bermaksud menarik arisan pada putaran ke tiga atau ke empat, tetapi atas desakan dan dorongan dari anggota lainnya karena rumahnya sudah sedemikian rusaknya, dikhawatirkan akan roboh, maka ia diberikan prioritas yang pertama. Jadi memberi kesempatan dan mendorong untuk berani melakukannya. Khusus untuk Pak Darno ini karena ekonominya pas-pasan maka arisan sebesar Rp 10.000,00 itu dipikul bersama dengan mertuanya. Ia sendiri sebagai tukang besi pada bangunan-bangunan, sedangkan mertuanya sebagai penarik becak.

4. Bantuan dana dari Tim Pengabdian yang harus berputar sebesar Rp 200.000,00. Dana ini diberikan setlah melihat partisipasi dan keswadayaan, dalam hal mana dana dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan sementara dengan cara pinjaman tidak berbunga. Aturan dan cara-cara peredaran pinjaman tersebut ditentukan berdasarkan musyawarah.

Catatan Pertemuan dengan Warga dan Umpan Baliknya

Pada dasarnya kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah mengadakan binaan kepada masyarakat untuk mengatasi masalah lingkungan kumuh dan peningkatan sumber daya manusia. Oleh karena kegiatan yang dilakukan berupa:

(30)

2. Bantuan yang bersifat stimulant dimaksudkan untuk menggiatkan warga dalam membenahi lingkungan dan kesehatan lingkungan menuju terwujudnya lingkungan masyarakat yang bersih, sehat, dan indah.

Kegiatan itu dilakukan lewat institusi yang telah ada di lingkungan RW VIII kelurahan Genuksari. Institusi itu meliputi institusi bapak-bapak, ibu dan remaja. Secara sederhana sebagian kegiatan itu tercatat sebagai berikut:

Kegiatan binaan atau penyuluhan di setiap RT dilakukan pada waktu: a. Pertemuan rutin warga setiap bulan, atau sering disebut pertemuan

pembangunan. Pertemuan ini ada pada setiap RT di lingkungan RW.\ b. Pengajian bapak-bapak. Kegiatan ini berjalan secara rutin pada RT 03, 04,

05, 06, dan 07, sedangkan waktunya tidak sama. Ada yang mengambil waktu satu bulan sekali, ada yang mengambil waktu selapan hari sekali. c. Warga RT menyediakan waktu secara khusus di luar dari dua forum

pertemuan di atas, sesuai dengan permintaan mereka untuk memberikan/membahas tentang masalah tertentu, misalnya masalah pendidikan dan psikologi anak.

Sebagian dari kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pada tgl 20 Desember 1990, kegiatan dimulai dengan menghadiri pertemuan/rapat RW. Rapat ini dihadiri oleh para pengurus RW, Ketua-ketua RT. Anggota tim pengabdian pada masyarakat pada kesempatan itu memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan tujuan melakukan kegiatan pengabdian di RW VIII. Pada kesempatan itu tim memperoleh masukan permasalahan yang dihadapi masyarakat RW VIII umumnya, atas dasar laporan dan pembicaraan. Setelah itu secara terjadwal tim mengadakan tugas pengabdian di wilayah RT-RW.

(31)

timberupa pengarahan pemecahan permasalahan warga, seperti manajemen organisasi, kebersihan dan keindahan lingkungan.

Bersamaan waktu itu pula di RT 03 tim (petugas Drs. Asyhadi Abroza) memberikan penyuluhan mengenai pendidikan anak dan psikologi perkembangan. Penyuluhan dilaksanakan pada forum pertemuan pembangunan warga.Penyuluhan ini merupakan permintaan warga RT sendiri yang disampaikan seminggu sebelumnya.

3. Pada tgl 10 Januari 1991 tim (petugas Drs. Asyhadi Abroza, Drs. Mulyono, Drs. Sutejo) mengadakan binaan rohani pada forum pengajian bapak-bapak di RT 03. Pengajian ini diadakan sebulan sekali, adapun materinya adalah dimensi horizontal-sosial dalam pemahaman beragama. Artinya, dimensi lain setelah iman/vertikal yaitu amal sebagai perwujudan perilaku kita dalam kehidupan bersama.

4. Pada tgl 14 Januari 1991 tim (petugas Drs. Sutejo dan Drs. Sugiyarto) mengadakan penyuluhan di RT 04 pada forum pertemuan pembangunan. Catatan jalannya pertemuan secara lengkap terekam dalam laporan bahwa: a. Jumlah KK yang hadir sebanyak 29 orang, terdiri 5 ibu (KK wanita)

dan 24 bapak.

b. Acara pertemuan meliputi : arisan, laporan masing-masing bidang sosial, kerohanian (Islam dan Kristen), pembangunan, koperasi dan keuangan.

c. Jenis kegiatan yang telah dikelola oleh tiap-tiap bidang atl: bidang sosial meliputi, usaha koperasi yang telah berdiri sejak th 1985, arisan tiap bulan sebesar Rp 5.00, pengumpulan beras ½ kg per KK dan uang Rp 100, setaip ada warga yang meninggal dunia. Bidang pembangunan berupa pengelolaan kerjasama membuat MCK, jalan trap beton yang dibiayai secara swadaya. Bidang kerohanian Islam mengadakan pengajian rutin dan tahlilan.

d. Aktivitas pengabdi

(32)

cara-cara pemecahannya. Kemudian terjadi tanya jawab dan beberapa harapan dari warga berkaitan dengan upaya peningkatan kebersihan dan kesehatan lingkungan.

e. Pada kesempatan itu pula tim pengabdian dimohon untuk dapat menghadiri dan memberikan penyuluhan pada kesempatan pertemuan pengajian yang akan diadakan dalam waktu kemudian.

5. Kegiatan semacam di atas terjadi hampir di tiap RT.

Demikian pula terhadap pembinaan terhadap kegiatan ibu dan remaja. Kelompok ibu yang telah tergabung dalam kelompok pertemuan PKK pada tingkat RW maupun RT-RT, dan kelompok PKB, menjadi sasaran media pertemuan dengan tim pengabdian. Kelompok dari ibu-ibu ini bahkan nampak lebih aktif dalam menyambut kehadiran tim pengabdian dengan mengajukan usul dan permohonan tentang bentuk penyuluhan mengenai suatu topik tertentu, seperti pendidikan anak, hidup berkeluarga, membina lingkungan yang harmonis, mengatur ekonomi/keuangan keluarga sampai dengan praktek keahlian tertentu. Selama penuh selama pengabdian paling tidak telah terjadi 20 kali pertemuan dengan kelompok ibu-ibu, yang setiap pertemuannya dihadiri antara 25 orang sampai dengan 40 orang. Kegiatan yang biasanya dilakukan adalah arisan, simpan pinjam, sosial, jimpitan ataupun praktek keahlian.

(33)

VI. PEMBAHASAN KASUS

Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini jika ditinjau dari prosesnya mempunyai beberapa perbedaan dengan tahap-tahap yang pada umumnya dilakukan. Pembentukan kelompok tidak dilakukan, mengingat bahwa lingkungan pergaulan RW telah merupakan kelompok komunitas yang kecil. Di samping itu kondisi dan tingkat pemikirannya telah sedemikian cukup, mengingat bahwa lingkungan tersebut merupakan lingkungan yang lokasi keberadaannya di tengah kota, dengan arus informasi yang telah cukup lengkap termasuk kelemahan dan penyimpangan yang terjadi. Juga soal waktu pertemuan, yang jika dilakukan secara khusus akan terdapat kesulitan-kesulitan. Karena ritme kerja mereka tidak sama, cara yang ditempuh dengan mengikuti acara-acara yang telah ada, dimungkinkan paling menguntungkan.

Dari apa yang telah dilakukan oleh Tim Pengabdian pada Masyarakat, timbul kesadaran setelah mengkaji ulang dari beberapa lontaran gagasan yang menggelindingnya terbatas pada penerimaan pemikiran semata. Dari lontaran gagasan penampungan dan pengelolaan sampah dan MCK serta baru kemudian terbentuk arisan rehab rumah; memperlihatkan:

1. Masih ada perbedaan ukuran pandang antara tim pengabdian dengan anggota masyarakat menjadi skala prioritas permasalahan sosial. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan tingkat kebutuhan, sosial dan nilai lainnya.

2. Masyarakat mempunyai ukuran tertentu dalam tingkat kebutuhan sosial yang menjadi prioritas untuk dipenuhi. Kecenderungan yang ada adalah menanggapi segera pemikiran yang baik, apalagi menyangkut pemikiran yang berhubungan dengan etika. Hanya saja kebutuhan yang paling mendasar dan mendesaknya yang akan ditindaklanjuti.

(34)

Referensi

Dokumen terkait

Problem medical oriented record (PMOR) merupakan salah satu model yang diterapkan dalam sistem dokumentasi asuhan keperawatan pada stroke. Model ini berorientasi pada

Hubungan antara manusia dengan bahasanya menarik untuk diteliti apabila dikaitkan dengan tingkatan-tingkatan penggunaannya, seperti ditemukan dalam bahasa yang digunakan

Dengan demikian diharapkan pada peneliti-peneliti berikutnya agar memberikan usaha yang lebih maksimal untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan lengkap untuk

Apabila terjadi kejadian bencana alam, atau terorisme, atau hal berbahaya lainnya yang dapat membahayakan jiwa pengunjung Candi Borobudur, Kepala Balai Konservasi

bahwa Peraturan Daerah Kota Pariaman Nomor 04 Tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah, sebagaimana telah diubah dengan

Dalam hal penuntutan pidana terhadap orang yang belum dewasa karena melakukan suatu perbuatan sebelum umur enam belas tahun, hakim dapat menentukan: memerintahkan supaya

Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang

Jangan biarkan Kristus menunggu sendiri di ruang tamu hatimu, tetapi setiap hari sediakanlah waktu dan tempat agar engkau dapat bersama dengan Kristus