PENGARUH LATIHAN AKSI DAN REAKSI TERHADAP KETEPATAN PUKULAN OI-TSUKI SISWA EKSTRAKURIKULER KARATE SMP
KEMALA BHAYANGKARI KOTA PEKANBARU
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu (S1)
Sarjana Pendidikan Olahraga
Oleh IMAM MASKUR
096612333 Pembimbing Utama
Drs. Zulrafli, M.Pd
Pembimbing Pendamping
Kamarudin, S.Pd, M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU PEKANBARU
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI JUDUL:
PENGARUH LATIHAN AKSI DAN REAKSI TERHADAP KETEPATAN PUKULAN OI-TSUKI SISWA ESKTRAKURIKULER KARATE SMP KEMALA
BHAYANGKARI KOTA PEKANBARU
Dipersiapkan dan disusun oleh :
Nama : IMAM MASKUR
NPM : 096612333
Jurusan / Program Studi : Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jenjang Pendidikan : Strata satu (1) TIM PEMBIMBING
Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Drs. Zulrafli, M.Pd
NPK. 8901021132 Penata/III.c/Lektor
NIDN. 1026116301
Skripsi ini telah diteima sebagai salah satu syarat guna memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI
Nama : IMAM MASKUR
NPM : 096612333
Jurusan / Program Studi : Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Jenjang Pendidikan : Strata Satu (S1)
Judul Skripsi : Pengaruh Latihan Aksi dan Reaksi Terhadap Ketepatan Pukulan Oi-Tsuki Siswa Esktrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru
Kami pembimbing skripsi menerangkan bahwa mahasiswa tersebut dibawah ini :
Nama : Imam Maskur
NPM : 096612333
Jurusan / Program Studi : Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Jenjang Pendidikan : Strata Satu (S1)
Telah selesai menyusun skripsi dengan judul :
PENGARUH LATIHAN AKSI DAN REAKSI TERHADAP KETEPATAN PUKULAN OI-TSUKI SISWA EKSTRAKURIKULER KARATE SMP KEMALA BHAYANGKARI KOTA PEKANBARU
Demikian surat keterangan ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Disetujui oleh:
Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping
Drs. Zulrafli, M.Pd NPK. 8901021132 Penata/III.c/Lektor
NIDN. 1026116301
Kamarudin, S.Pd, M.Pd NPK.110802413 Penata Muda/III/a NIDN. 1020108201
Nama : IMAM MASKUR
NPM : 096612333
Jurusan/Program Studi : Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Pembimbing Utama : Drs. Zulrafli, M.Pd
Fakultas : FKIP (Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan)
Judul Skripsi : Pengaruh Latihan Aksi dan Reaksi Terhadap Ketepatan Pukulan Oi-TsukiSiswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru
No Tanggal Berita Bimbingan Paraf
1 18 Februari 2013 Pendaftaran Judul Pada Prodi
2 22 Februari 2013 Perbaikan latar belakang, hipotesis dan populasi
3 01 Maret 2013 Perbaikan teori dan kerangka pemikiran 4 15 Juni2013 Acc untuk diseminarkan
5 24 Januari 2014 Ujian seminar proposal
7 11 Februari 2014 Revisi Proposal Setelah Seminar
9 15Februari 2014 Melakukan penelitian dan pengumpulan data 10 05 April 2014 Perbaikan program latihan
11 15 April 2014 Perbaikan sesuai saran 12 12 Mei 2014 Acc di ujiankan
Nama : IMAM MASKUR
NPM : 096612333
Jurusan/Program Studi : Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Pembimbing Pendamping : Kamarudin, S.Pd, M.Pd
Fakultas : FKIP (Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan) Judul Skripsi : Pengaruh Latihan Aksi dan Reaksi Terhadap
Ketepatan Pukulan Oi-Tsuki Siswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru
No Tanggal Berita Bimbingan Paraf
1 18 Februari 2013 Pendaftaran Judul Pada Prodi
2 22 Februari 2013 Perbaikan latar belakang, hipotesis dan populasi
3 01 Maret 2013 Perbaikan teori dan kerangka pemikiran 4 15 Juni2013 Acc untuk diseminarkan
5 24 Januari 2014 Ujian seminar proposal
7 11 Februari 2014 Revisi Proposal Setelah Seminar
9 15Februari 2014 Melakukan penelitian dan pengumpulan data
10 24 Mei 2014
Lengkapi abstrak, perbaikan daftar pustaka, lengkapi dokumentasi, dan lengkapi berita acara
11 12 Juni 2014 Acc di ujiankan
Pekanbaru, April 2015
Saya yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : IMAM MASKUR
NPM : 096612333
Program Studi : Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
Fakultas : FKIP Universitas Islam Riau
Judul skripsi : Pengaruh Latihan Aksi dan Reaksi Terhadap
2. Penulisan yang saya lakukan murni karya saya sendiri yang dibimbing oleh Dosen yang telah ditunjukoleh Dekan FKIP Universitas Islam Riau 3. Jika ditemukan isi skripsi merupakan duplikat skripsi orang lain, maka
saya menerima sanksi pecabutan gelar dan ijazah yang telah saya terima dan saya bersedia dituntut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sadar dan tidak ada paksaan dari pihak manapun
Pekanbaru, April 2015
IMAM MASKUR
KATA PENGANTAR
Pukulan Oi-Tsuki Siswa Ekstrakurikuler Karate SMP KemalaBhayangkari Kota Pekanbaru”.
Penyelesaian skripsi ini tak terlepas dari berbagai hambatan dan rintangan yang dihadapi baik berupa moril maupun materil.Namun berkat do’a dan dorongan semangat, dan juga bantuan dari berbagai pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini Untukitu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang setinggi tingginya kepada:
1. Bapak Drs. Zulrafli, M.Pd sebagai pembimbing I dan Bapak Kamarudin, S.Pd, M.Pd sebagai pembimbing II dengan ketulusan hati dan kesabaran nya dalam membimbing, mendukung, dan mengarahkan penuls.
2. Bapak Drs. Turimin, M.Pd, Drs. Khairul Asbar, M.Pd, Darwin, M.Pd selaku penguji di jurusan penjaskesrek FKIP UIR Pekanbaru.
3. Bapak Drs. Zulrafli, M.Pd selaku Ketua jurusan program Studi PendidikanJ asmani Kesehatan dan Rekreasi
4. Bapak Drs. Nazirun M.Ed selaku Dekan FKIP UIR Pekanbaru 5. Bapak dan ibu Staff Tata Usaha FKIP UIR Pekanbaru
6. Bapak dan Ibu Dosen di Jurusan Penjaskesrek FKIP UIR Pekanbaru
7. Kepada keluarga yang tercinta terutama Ibunda dan Ayahanda, kakak-kakakku tersayang Lidia Fitri dan Maulida Yenti serta Abang Guruh, ponakan ku tersayang Lutfi dan untuk adinda Kiki Mandala putri yang telah memberikan dorongan moril maupun materil dalam menyelesaikan skripsi ini. 8. Rekan-rekan dan teman-teman angkatan 2009 seperjuangan dan pihak terkait yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun tidakl angsung dalam menyelesaikan skripsi ini.
dimasa mendatang. Akhir kata, semoga skripsi ini bisa memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan ,amin.
Pekanbaru, 28 Februari 2015
Penulis
ABSTRAK
Permasalahan yang diangkat adalah kurangnya tingkat kecepatan refleks tubuh terhadap ketepatan pukulan Oi-tsuki pada siswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besarkah pengaruh latihan Aksi dan Reaksi terhadap Ketepatan Pukulan Oi-Tsuki Siswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian Eksperimen-Semu. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah Siswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru yang berjumlah 21 orang siswa, dengan jumlah sampel 15 orang putri Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, kepustakaan serta tes dan pengukuran. Uji statistik yang digunakan untuk menganalisa data dalam penelitian ini adalah uji-t dengan taraf signifikan 5%. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil uji-t menunjukkan t hitung = 10 ≥ t tabel = 2,14. Dengan demikian pre-test dan post-test Latihan Aksi dan Reaksi Terhadap Ketepatan Pukulan Oi-Tsuki Siswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru terdapat pengaruh, terbukti dari t hitung > t tabel. Dengan demikian terdapat pengaruh Latihan Aksi dan Reaksi Terhadap Ketepatan Pukulan Oi-Tsuki Siswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru.
Kata Kunci :Latihan Aksi dan Reaksi, Ketepatan pukulan
ABSTRACT
The issues raised was the lack of reflex speed level body to the accuracy of Oi-Tsuki punch at Junior Karate students Extracurricular Kemala Bhayangkari Pekanbaru. The purpose of this study was to determine how much influence the exercise of Action and Reaction to blow Accuracy Oi-Tsuki Junior Karate Students Extracurricular Kemala Bhayangkari Pekanbaru. This type of research is a kind of experiment research-Moot. In this study, the population is Kemala Junior Karate Students Extracurricular Bhayangkari Pekanbaru City, which has 21 students, with a sample of 15 people Karate Junior Extracurricular daughter Kemala Bhayangkari Pekanbaru. Data collection technique used observation, literature as well as test and measurement. Statistical tests were used to analyze the data in this study were t-test with significance level of 5%. Based on the results, the t-test results showed t = 10 ≥ t table = 2.14. Thus the pre-test and post-test exercises Action and Reaction To The Punch Accuracy Oi-Tsuki Junior Karate Students Extracurricular Kemala Bhayangkari Pekanbaru there is influence, evident from the t count> t table. Thus there is the influence of Action and Reaction Against Exercise Punch Accuracy Oi-Tsuki Junior Karate Students Extracurricular Kemala Bhayangkari Pekanbaru.
Keywords : Exercise of Action and Reaction, Accuracy blow
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang dan berusaha semaksimal mungkin untuk mengadakan pembangunan dan peningkatan mutu di segala bidang, salah satunya bidang pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan yang berlangsung disekolah dan diluar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap dimasa yang akan datang.
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, berbagai usaha dilakukan oleh pemerintah, diantaranya dengan menyempurnakan kurikulum, melengkapi sarana dan prasarana pendidikan, serta meningkatkan kualitas tenaga pendidik melalui berbagai cara. Namun sejauh ini, mutu pendidikan di Indonesia masih dirasakan kurang oleh beberapa pihak, hal ini terbukti dari masih banyak dibicarakan tentang rendahnya mutu pendidikan baik itu di media massa, media sosial, maupun forum-forum pertemuan pendidikan. Baik itu oleh faktor internal maupun faktor eksternal.
agama, ras dan status apapun untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas, maju, adil, dan makmur.
Dengan adanya tuntutan prestasi yang tinggi maka diperlukan cara latihan yang efektif dan efisien, terutama dalam memilih metode latihan yang baik sehingga penguasaan teknik dasar dapat dikuasai dengan sempurna, penguasaan teknik dasar yang sempurna menjadi dasar untuk mengembangkan mutu prestasi olahraga karate. Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional dalam Bab VII/Pasal 25 Ayat 4, yang berbunyi sebagai berikut : Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan dilaksanakan dengan memperhatikan potensi, kemampuan, minat, dan bakat peserta didik secara menyeluruh, baik melalui kegiatan intrakurikuler maupun esktrakurikuler.
Di dalam olahraga bela diri ada beberapa cabang, antara lain adalah karate. Olahraga karate merupakan cabang olahraga beladiri yang ada di Indonesia.Dewasa ini olahraga karate sudah mulai berkembang luas, terutama ke sekolah-sekolah.Dan juga olahraga karate tidak hanya dijadikan sebagai alat pertahanan diri, melainkan sudah berkembang menjadi olahraga prestasi yang menuntut kualitas yang setinggi-tingginya.
salah satu cabang olahraga yang dilaksanakan adalah karate.Banyak siswa-siswa yang berminat untuk mengikuti ekstrakurikuler karate.Namun kendala yang sering dihadapi oleh Pembina adalah program latihan yang tidak tetap, mengakibatkan kurangnya waktu latihan yang dilakukan oleh siswa, sehingga berpengaruh terhadap teknik yang dikuasai oleh siswa.
Dalam olahraga karate terdapat bermacam-macam teknik beladiri yang dipelajari, diantaranya adalah teknik kuda-kuda, teknik pukulan, teknik tendangan, dan teknik tangkisan.Teknik kuda-kuda merupakan teknik awal yang dipelajari dalam olahraga beladiri karate.Teknik kuda-kuda dapat diartikan sebagai landasan atau pondasi bagi gerakan-gerakan dalam karate. Jika kuda-kuda tidak kuat, maka gerakan karate akan tidak sempurna. Teknik kuda-kuda awal dalam karate ada tiga jenis, yaitu Zenkutsu-dachi, Kokutsu-dachi, dan Kiba-dachi.Setelah menguasai teknik kuda-kuda dengan benar, maka dilanjutkan dengan mempelajari teknik pukulan.Teknik pukulan ada berbagai jenis, namun yang awal dipelajari oleh seorang karateka adalah pukulan Oi-tsuki dan Gyaku-tsuki.Teknik tangkisan juga ada berbagai jenis, diantaranya Gedan Barai, Age-Uke, Soto-Uke, Shuto-Uke, dan sebagainya.
kecepatan serta ketepatan pukulan dengan proporsional.Sehingga ketika melakukan pukulan, tepat mengenai sasaran yang diinginkan.Selain itu dalam melakukan pukulan, juga dibutuhkan adanya aksi dan reaksi gerakan yang cepat, sehingga pukulan yang dilakukan bisa maksimal. Karena apa, dalam melakukan pukulan, aksi dan reaksi dari seorang karateka mutlak diperlukan. Selain faktor kecepatan dan kekuatan dalam melakukan pukulan, faktor aksi dan reaksi merupakan salah satu faktor penting dalam melakukan pukulan secara maksimal.
Latihan aksi dan reaksi merupakan suatu gerakan yang dilakukan oleh tubuh dalam satuan waktu minimal, serta ditanggapi dengan rangsangan dari dalam tubuh untuk melakukan suatu gerakan yang diperintahkan.Dalam olahraga karate, latihan aksi dan reaksi dibutuhkan untuk melatihan kecepatan pukulan, serta reaksi seorang karateka dalam melancarkan serangan pukulan.Tujuan dari melakukan latihan aksi dan reaksi disini adalah, untuk melatih kecepatan reaksi, kecepatan refleks tubuh seorang karateka.Dengan begitu diharapkan dalam melancarkan serangan pukulan, seorang karateka bisa melakukan pukulan dengan cepat, serta dalam waktu yang singkat.
baik ini dipengaruhi karena siswa tidak menguasai teknik dasar pukulan yang benar dan kurangnya latihan yang diberikan oleh pelatih dalam meningkatkan kekuatan, kecepatan maupun teknik ketepatan pukulan.
Permasalahan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, kegiatan latihan yang kurang terprogram dengan baik. Pelatih kebanyakan hanya memberikan latihan lanjutan dan seringkali mengabaikan latihan ketepatan yang sebenarnya sangat berperan besar terhadap keberhasilan suatu teknik serangan.Sehingga latihan yang dilakukan tidak mencapai tujuan yang diharapkan.Selain itu, motivasi dalam diri siswa sendiri untuk meningkatkan kemampuan teknik karate pun tidak ada, sehingga tidak ada kesadaran dari masing-masing siswa untuk mengulangi latihan dirumah.
Berdasarkan dari temuan masalah diatas, Penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian dengan judul, Pengaruh LatihanAksi dan Reaksi Terhadap Ketepatan Pukulan Oi-Tsuki Siswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru.
Sebuah penelitian tidak terlepas dari adanya suatu permasalahan sehingga perlu kiranya masalah tersebut untuk diteliti, dianalisa dan dipecahkan. Setelah diketahui dan dipahami latar belakang masalahnya, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah ada pengaruh kekuatan terhadap ketepatan pukulan Oi-Tsuki siswa ekstrakurikuler karate SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru?
2. Apakah ada pengaruh kecepatan terhadap ketepatan pukulan Oi-Tsuki siswa ekstrakurikuler karate SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru?
3. Apakah ada pengaruh motivasi terhadap ketepatan pukulan Oi-Tsuki siswa ekstrakurikuler karate SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru?
4. Apakah ada pengaruh latihan aksi dan reaksi terhadap ketepatan pukulan Oi-Tsuki siswa esktrakurikuler karate SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru? C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah, serta terbatasnya kemampuan dan waktu yang tersedia, maka penelitian ini terbatas pada : Bagaimana pengaruh latihan aksi dan reaksi terhadap ketepatan pukulan Oi-Tsuki siswa ekstrakurikuler karate di SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru.
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah disebutkan di atas, maka peneliti merumuskan masalah yaitu apakah terdapat pengaruh latihan aksi dan reaksi terhadap ketepatan pukulan Oi-Tsuki siswa ekstrakurikuler karate di SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru.
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan uraian permasalahan di atas, tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh Penulis adalah :Untuk mengetahui bagaimana pengaruh latihan aksi dan reaksi terhadap ketepatan pukulan Oi-Tsuki siswa ekstrakurikuler karate SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru.
F. Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Bagi siswa adalah sebagai masukan yang positif dalam peningkatan teknik dasar dalam kegiatan latihan karate
2. Bagi pelatih adalah sebagai masukan untuk menambah referensi tentang program latihan yang dapat diberikan kepada para atlit.
3. Bagi peneliti yang ingin meneliti pada bidang yang sama adalah sebagai referensi dan bacaan dimasa yang akan datang.
5. Bagi penulis, penelitian ini juga bertujuan untuk melengkapi tugas-tugas dalam memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Kegururan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau.
BAB II
A. Landasan Teori 1. Hakekat Latihan a. Pengertian Latihan
Rothig dalam Syafruddin (2011:29) mengemukakan bahwa ”Latihan dalam olahraga adalah suatu proses pengolahan atau penerapan materi latihan seperti keterampilan-keterampilan gerakan dalam bentuk pelaksanaan yang berulang-ulang dan melalui tuntutan yang bervariasi.”
Sementara itu Arsil (2008:3) menyebutkan bahwa latihan olahraga merupakan aktivitas yang sistematis dalam waktu yang lama, ditingkatkan secara progresif dan individual yang mengarah pada ciri-ciri fungsi fisiologis dan psikologis manusia untuk mencapai sasaran yang ditentukan. Latihan olahraga dilakukan bukan saja untuk mengembangkan keterampilan gerak (motorik), tetapi juga suatu proses pendidikan dalam mengembangkan aspek kognitif. Latihan olahraga disatu sisi merupakan suatu proses biologis dan dilain sisi merupakan suatu proses pendidikan (paedagogis).
latihan merupakan suatu kegiatan yang terprogram secara sistematis,mengarah pada peningkatkan fungsi fisiologis danpsikologis,mengembangkan keterampilan gerak (motorik) dan kemampuan berfikir (kognitif) peserta latihan untuk mengoptimalkan prestasi dan penampilan olahraganya.
b. Prinsip-Prinsip Latihan
Pembinaan dan latihan olahraga merupakan suatu proses yang kompleks, karena di dalam proses tersebut tidak hanya memperhatikan bidang ilmu yang berkaitan dengan teori dan pengetahuan tentang pembinaan dan latihan itu sendiri, tetapi juga memerlukan pemahaman terhadap bidang-bidang ilmu yang lain, seperti anatomi, fisiologi, ilmu social, ilmu psikologi, ilmu gerak, ilmu gizi dan lain-lain.
Dalam ilmu kepelatihan olahraga dibahas semua aspek yang berkaitan erat dengan proses pembinaan dan latihan, termasuk membahas prinsip-prinsip latihan. Menurut Syafruddin (2011:226) menjelaskan, prinsip-prinsip latihan merupakan azas atau ketentuan mendasar dalam proses pembinaan dan latihan yang harus dipatuhi terutama oleh pelatih dan peserta latihan atau atlet. Artinya, apabila pelatih dan atlet ingin meningkatkan kemampuan prestasinya, maka harus mematuhi prinsip-prinsip latihan yang ada. Adapun prinsip-prinsip latihan yang dimaksud antara lain sebagai berikut :
Menurut Syafruddin (2011:229) superkompensasi (Super or Overcompensation) berasal dari kata super yang berarti di atas atau merasa lebih dan kompensasi yang berarti penggantian.Superkompensasi berarti penggantian yang lebih atau melebihi. Apabila dihubungkan dengan proses latihan kondisi fisik, maka superkompensasi dapat diartikan sebagai efek latihan yang melebihi kemampuan sebelum diberi latihan.
Latihan dapat diartikan sebagai pembebanan terhadap tubuh yang mengakibatkan terjadinya suatu penurunan kemampuan tubuh.Penggunaan potensi energi dalam latihan olahraga dapat menimbulkan suatu kelelahan yang mengakibatkan menurunnya kemampuan fungsi tubuh yang sekaligus berimplikasi terhadap kualitas kerja tubuh dan kemampuan koordinasi gerakan.
Beban latihan berikutnya diberikan setelah fase pemulihan kembali keadan normal yang dimiliki sebelumnya. Proses ini dinamakan dengan proses yang menggunakan prinsip superkompensasi. Prinsi ini didasari oleh perbandingan yang optimal antara pembebanan dan pemulihan.Sebagaimana dijelaskan Röthig dalam Syafruddin (2011:231) mengemukakan bahwa Superkompensasi merupakan fase pemulihan sumber energy yang dipergunakan setelah suatu pembebanan yang melewati kemampuan awal dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan prestasi.Superkompensasi merupakan prinsip dasar yang sangat penting untuk meningkatkan suatu kemampuan prestasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar perbandingan yang optimal antara pembebanan dan pemulihan berikut ini :
Prestasi
Beban
Normal
Pemulihan
Kelelahan
Gambar 1.Perbandingan yang optimal antara pembebanan dan pemulihan (Sumber : Syafruddin, 2011)
Prinsip peningkatan beban secara progresif atau prinsip beban lebih (Overload Principle) merupakan salah satu prinsip latihan yang paling popular dalam pembinaan prestasi olahraga.Menurut Syafruddin (2011:234) prinsip peningkatan beban lebih menekankan kepada peningkatan beban latihan yang diberikan berdasarkan kemampuan atlet pada saat latihan.Semakin tinggi tingkat kemampuan atlet maka semakin berat atau semakin intensif beban latihan yang diberikan.
Peningkatan beban latihan dapat dilakukan melalui ciri-ciri beban luar (itensitas, volume dan lain-lain).Beban luar yang konstan mengakibatkan menurunnya kemampuan beban dalam dan sekaligus dapat mengurangi kemampuan reaksi anggota tubuh. Oleh sebab itu, beban luar harus ditingkatkan secara kontinyu, karena kemampuan dapat diperbaiki melalui proses adaptasi organ-organ yang dibebani (beban dalam). Peningkatan beban yang baru, diberikan apabila organ tubuh telah beradaptasi dengan tuntutan-tuntutan latihan yang diberikan dan ini merupakan dasar untuk meningkatkan beban latihan berikutnya.
3. Prinsip Variasi Beban
menggunakan metode-metode dan materi latihan secara bervariasi.Disamping itu variasi juga bisa dilakukan dengan mengatur beban latihan.
4. Prinsip Periodisasi atau Prinsip Kontinuitas Beban
Syafruddin (2011:236) mengemukakan bahwa periodisasi dalam suatu proses pembinaan olahraga dapat diartikan sebagai pentahapan proses pembinaan dalam rentang waktu satu tahun program pembinaan. Periodisasi tersebut dapat juga diartikan sebagai fase persiapan, masa kompetisi, masa transisi, dan lain sebagainya.Setiap periode dalam suatu perencanaan tahunan memikili tujuan dan sasaran tertentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Ada tiga fase proses pembinaan dan latihan yang perlu direncanakan untuk meraih prestasi puncak menurut Röthig & Grössing dalam Syafruddin (2011:237), yaitu :
a. Periode persiapan, yaitu periode dimana dicapainya persyaratan-persyaratan untuk prestasi puncak.
b. Periode kompetisi atau pertandingan, yaitu periode dimana prestasi yang diraih diterapkan dalam kompetisi atau pertandingan dan dipertahankan. c. Periode transisi, yaitu periode dimana terjadi penurunan prestasi puncak
5. Prinsip Individualisasi
Individualisasi menurut Letzelter dalam Syafruddin (2011:239) adalah pertimbangan terhadap kemampuan fisik dan psikis, pertimbangan keadaan atlet saat dilatih, sikap, tipologi, kemampuan intelektual, tempramen, dan ciri-ciri kepribadian yang lain. Proses pembinaan dan latihan olahraga adalah proses yang berhubungan dengan manusia atau individu manusia. Setiap manusia memiliki potensi yang berbeda satu dengan yang lainnya, baik menyangkut potensi fisik, teknik, taktik maupun potensi mental.Perbedaan ini menuntut para pelatih untuk dapat memahami sifat dan karakter atletnya agar latihan yang diberikan bisa lebih terarah sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
6. Prinsip Spesialisasi
Prinsip spesialisasi lebih menekankan kepada prinsip spesifikasi cabang olahraga.Oleh karena itu setiap cabang olahraga mempunyai ciri-ciri tersendiri dan itulah yang membedakan tuntutan dan kebutuhan tiap cabang olahraga. Menurut Bompa & Haff dalam Syafruddin (2011:239), spesialisasi merupakan suatu proses yang kompleks yang didasari oleh perkembangan secara multilateral atau menyeluruh.
spesialisasi dalam pembinaan olahraga dapat diartikan sebagai penguasaan seserorang atau pelatih terhadap olahraganya secara mendalam dan komprehensif dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan yang memadai terhadap semua aspek yang dibutuhkan untuk mengkatkan prestasi atlet.
c. Pembebanan Latihan
Beban latihan adalah bentuk karakteristik tuntutan yang diberikan kepada atlet dalam latihan (Röthig dalam Syafruddin, 2011:42).Sementara Letzelter dalam Syafruddin (2011:42) mendefinisikan beban latihan sebagai seluruh efek latihan yang terjadi karena rangsangan luar dan rangsangan dalam.Dari kedua pendapat ini dapat dijelaskan bahwa beban latihan merupakan segala bentuk tuntutan dan rangsangan yang diberikan kepada atlet dalam latihan yang dapat menimbulkan efek latihan (Trainings Effects).
Tuntutan dan rangsangan yang dimaksud bisa dalam bentuk rangsangan fisik dan rangsangan psikis atau mental.Dalam bentuk fisik misalnya melakukan bentuk-bentuk latihan, baik menggunakan beban tambahan seperti barbell, dumbble atau beban tubuh sendiri.Sedangkan dalam bentuk tuntutan psikis adalah segala sesuatu yang bersifat non fisik yang dapat mempengaruhi atlet seperti beban pikiran, beban perasaan, stres dan lain sebagainya.
(1995:92) beban luar ditentukan oleh bentuk-bentuk latihan yang berkaitan dengan intensitas, volume, interval, durasi dan frekuensi beban.Kelima faktor inilah yang dikenal dengan karakteristik atau ciri pembebanan.Beban luar dapat merangsang timbulnya beban dalam, yang diartikan sebagai efek-efek pembebanan dalam bentuk perubahan-perubahan fungsi organ tubuh.
Sementara itu, menurut Jonath & Krempel dalam Syafruddin (2011:43) mengemukakan bahwa beban dalam tergantung dari keadaan fisik dan psikis, fasilitas dan alat latihan, kondisi iklim dan cuaca, pasangan latihan, sikap dan faktor sosial. Dapat dikemukakan bahwa semakin baik kemampuan adaptasi atlet terhadap pembebanan latihan, fasilitas latihan dan pertandingan, terhadap iklim dan cuaca, maka makin baik pula kemampuan beban dalam atlet.
Beban dalam pada prinsipnya ditimbulkan oleh beban luar yang membawa perubahan-perubahan secara psikologis dan fisiologis.Salah satu indikator perubahan akibat pengaruh beban luar terhadap beban dalam adalah terjadinya perubahan denyut nadi.Perubahan denyut nadi tidak hanya disebabkan oleh pembebanan secara fisik, tetapi juga disebabkan beban psikis atau mental.
2. Latihan Aksi dan Reaksi
a. Pengertian Latihan Aksi dan Reaksi
otot dapat melakukan gerakan-gerakan dalam satuan waktu minimal (Syafruddin, 2011:130).Sedangkan menurut Sajoto (1995:10) dijelaskan bahwa reaksi (Reaction) adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera, saraf, atau filling lainnya.Seperti mengantisipasi datangnya bola.Sementara itu Nosek dalam Arsil (2008:84) menyebutkan bahwa kecepatan reaksi adalah kecepatan menjawab suatu rangsangan dengan cepat.
b. Faktor Yang Mempengaruhi Latihan Aksi dan Reaksi
Aksi dan reaksi merupakan suatu gerakan yang dilakukan oleh tubuh dalam satuan waktu minimal, serta ditanggapi dengan rangsangan dari dalam tubuh untuk melakukan suatu gerakan yang diperintahkan. Hal ini dapat terjadi karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan aksi dan reaksi itu dapat terjadi, diantaranya :
a) Kecepatan
Pada dasarnya kecepatan dibedakan atas kecepatan reaksi dan kecepatan aksi (gerakan).Menurut Jonath & Krempel dalam Syafruddin (2011:124), dijelaskan bahwa kecepatan reaksi merupakan kemampuan untuk menjawab rangsangan atau stimulus secara akustik, optik, dan taktil dengan cepat.
Selanjutnya Letzelter mengemukakan bahwa kecepatan aksi (gerakan) diartikan sebagai kemampuan, dimana dengan bantuan kelentukan system syaraf pusat dan alat gerak otot dapat melakukan gerakan-gerakan dalams atuan waktu minimal, seperti gerakan tangan, gerakan kaki yang berlangsung secara terpisah (Syafruddin, 2011:130).
b) Kekuatan Otot
memadai.Oleh karena itu, untuk mendapatkan suatu kecepatan maksimal diperlukan terutama sekali otot yang kuat dan terlatih (Syafruddin, 2011:133).
c) Koordinasi
Koordinasi disini dimaksudkan adalah hubungan kerjasama atau saling mempengaruhi antara sistem persyarafan pusat (Central Nervous System) dengan otot yang bekerja, yang berpengaruh terhadap kecepatan gerakan aksi dan reaksi (Syafruddin, 2011:134).
c. Jenis-Jenis Latihan Aksi dan Reaksi
Dalam latihan aksi dan reaksi terdapat beberapa jenis-jenis latihan yang dapat meningkatkan kualitas gerak aksi dan reaksi, diantaranya adalah sebagai berikut : 1) Latihan Kecepatan
Latihan kecepatan merupakan kemampuan bergerak secara berturut-turut untuk menempuh suatu jarak dalam suatu selang waktu (Arsil, 2008:152).
Gambar 2. Model Latihan Sprint Training (Sumber :http://www.ussoccer.com/) 2) Latihan Kelincahan
Latihan kelincahan ialah kemampuan seseorang untuk mengubah posisi arah secepat mungkin sesuai dengan situasi yang dihadapi dan dikehendaki.Kelincahan sangat penting fungsinya untuk meningkatkan hasil maksimal dalam cabang olahraga tertentu (Arsil, 2008:141).
Kegunaan secara langsung latihan kelincahan antara lain : - Mengkoordinasikan gerakan-gerakan berganda (Simultan) - Mempermudah penguasaan teknik-teknik tinggi
- Gerakan efisien, efektif, dan ekonomis
Contoh latihan kelincahan yang berpengaruh terhadap aksi dan reaksi salah satunya yaitu Latihan lari bolak-balik (Shuttle Run).Lari bolak-balik dilakukan secepat mungkin sebanyak 6-8 kali, dengan jarak 4-5 meter.
Gambar 3. Model Latihan Lari Bolak-Balik (Shuttle Run) (Sumber ;http://www.woodgrovesec.moe.edu.sg/)
Bentuk latihan kelincahan lainnya yaitu latihan lari Zig-Zag. Latihan lari Zig-Zag hampir sama dengan lari bolak-balik. Bedanya, pada lari Zig-Zag, siswa harus melewati beberapa titik yang telah dibuat.
3. Ketepatan PukulanOi-Tsuki a. Hakekat Ketepatan
Ketepatan pada olahraga karate tidak sedominan ketepatan pada olahraga lain, seperti olahraga panahan ataupun bilyard. Namun hal ini tidak dapat ditinggalkan begitu saja, karena pada waktu tertentu ketepatan akan turut menentukan keberhasilan dalam kumite. Sajoto (1995:9) mengemukakan bahwa Ketepatan (accuracy) adalah seseorang untuk mengendalikan gerak-gerak bebas terhadap sesuatu sasaran.Sasaran ini dapat merupakan suatu jarak atau mungkin suatu objek langsung yang harus dikenai dengan salah satu bagian tubuh.Sementara itu Soeharno dalam Prihastono (1994:75) menyatakan bahwa Ketepatan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengarahkan suatu gerak pada sasaran sesuai dengan tujuan.
Apabila hal ini dimiliki oleh siswa akan memberikan beberapa keuntungan, antara lain : prestasinya akan lebih baik, gerakan lebih efisien dan efektif, mencegah terjadinya cedera dan mempermudah penguasaan teknik serta taktik. Dalam melakukan latihan ketepatan harus ada sasaran atau target secara bertahap. Latihan gerakan yang pelan menuju gerakan yang cepat, sasaran beralih dari benda yang besar ke benda yang kecil, dari jarak yang dekat berubah menjadi jarak yang jauh, dan sasaran yang diam berubah menjadi sasaran yang bergerak.
b. Pukulan Oi-Tsuki
tangan secara lurus dinamakan Tsuki.Sebagaimana menurut Oyama dalam J.B. Sujoto (1996:54) mengemukakan bahwa: “Pukulan dalam karate hampir sama atau sinonim dengan karate itu sendiri. Jika cara melakukannya tidak betul, berarti karate kita juga kurang baik.”
Kepalan tangan yang merupakan tumpuan akhir dari pukulan harus dibentuk secara benar sesuai dengan struktur serangan pukulan yang dilakukan. Berikut adalah gambar cara membentuk kepalan tangan :
Gambar 5.Cara membentuk kepalan tangan
(Sumber :http://inkadosemarang.wordpress.com/teknik/kihon/ ) Rahasia dari tenaga perusaknya terletak pada puntiran atau putaran yang dilakukan pada saat kontak terjadi.Hal ini dapat dipahami apabila kita pernah membuat lubang pada sesuatu dengan menggunakan keterampilan tangan. Hal penting lain adalah yang harus diingat ketika memukul tidak hanya dengan pergelangan tangan dan lengan saja, melainkan memukul seolah-olah dengan tenaga dari seluruh tubuh.
(1980:143) pukulan Oi-Tsuki adalah pukulan atau tinjuan mengejar.Sementara itu, FORKI (2005:19) menjelaskan pukulan Oi-Tsuki merupakan teknik pukulan yang dilakukan dengan kuda-kuda dasar secara bersamaan yaitu tangan yang melakukan pukulan sama dengan kaki depan pada saat melakukan pukulan.
Pukulan dilakukan dengan cara meluncurkan semaksimal mungkin kepalan tangan yang berada dalam titik pacu (berada disamping badan dan diatas pinggang). Sasaran pukulan Oi-Tsuki sebagai objek target yang menjadi sasaran terdiri dari sasaran atas/kepala (Jodan Tsuki), sasaran menengah/perut (Chudan Tsuki), atau sasaran ke bawah (Gedan Tsuki). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 6.Pukulan Oi-Tsuki
B. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan landasan teori yang telah dikemukakan di atas dapat diajukan kerangka pemikiran sebagai berikut:
1) Pengaruh latihan aksi dan reaksi terhadap ketepatan pukulan Oi-Tsuki
Latihan aksi dan reaksi, dapat mengembangkan kemampuan ketepatan pukulan Oi-Tsuki.Kemampuan aksi dan reaksi mempunyai peran yang cukup penting terhadap kemampuan ketepatan pukulan Oi-Tsuki yang dilakukan siswa. Dengan melakukan latihan aksi dan reaksi yang baik dapat mendukung penguasaan teknik pukulan yang baik khususnya saat melancarkan serangan pukulan ke arah target yang dituju, sehingga memberi peluang yang besar untuk dapat melakukan pukulan lebih cepat lagi dalam bereaksi.
2) Latihan aksi dan reaksi diduga memiliki pengaruh terhadap ketepatan pukulan Oi-Tsuki
Berdasarkan dari bentuk latihannya, latihan aksi dan reaksi mempunyai pengaruh terhadap peningkatan kemampuan ketepatan pukulan Oi-Tsuki, sehingga dapat mendukung pencapaian hasil dari pukulan Oi-Tsuki yang dilakukan. Hal ini karena, pada latihan aksi dan reaksi kekuatan dan kecepatan otot-otot lengan dikembangkan secara maksimal, dan juga faktor gerak refleks juga dilatih secara maksimal.
bertahap, serta berkesinambungan terus menerus.Latihan yang demikian menuntut gerak refleks yang cepat dari siswa, sehingga unsur utama dalam melakukan pukulan dapat dikembangkan secara maksimal.Dengan demikian diduga latihan aksidan reaksi mempunyai pengaruh terhadap peningkatan ketepatan pukulan Oi-Tsuki.
Gambar 7. Kerangka Pemikiran
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat dikemukakan hipotesis penelitian bahwa : Terdapat pengaruh yang signifikan antara latihan aksi dan reaksi terhadap ketepatan pukulan Oi-Tsuki siswa ekstrakurikuler karate SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru. Latihan Aksi dan Reaksi adalah
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam bentuk Pre Experimental Design atau Quasi Experiment (eksperimen pura-pura). Arikunto (2006 : 84) mengemukakan ”Quasi Experiment (eksperimen pura-pura) disebut demikian karena eksperimen jenis ini belum memenuhi persyaratan seperti cara eksperimen yang dapat dikatan ilmiah mengikuti peraturan-peraturan tertentu”. Dengan kata lain, jenis penelitian ini adalah eksperimen semu atau eksperimen pura-pura (Quasi Experiment) yaitu hanya memberikan perlakuan program latihan Aksi dan Reaksi terhadap ketepatan pukulan Oi-Tsuki siswa ekstrakurikuler karate SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru.
Gambar 8. Sketsa Rancangan Penelitian Sumber : Arikunto (2010:124)
Keterangan :
Q1 = Pre Test
Q2 = Post Test
(X) = Perlakuan sesuai dengan program latihan B. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan tanggal 15 Februari 2014 sampai dengan tanggal 27 Maret 2014.
2. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru. C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi (Arikunto, 2010:173).Berdasarkan studi pendahuluan yang Penulis lakukan maka populasi terdiri dari siswa yang mengikuti ekstrakurikuler
karate SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru, yang berjumlah 21 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini :
Tabel 1 :Populasi penelitian siswa yang mengikuti ekstrakurikuler karate SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru
Sumber : Pelatih karate SMP kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru
2. Sampel Penelitian
Arikunto (2010: 174) mengemukakan, bahwa ”sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti”. Selanjutnya Arikunto (2006: 134) menyatakan:
”Apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitaanya merupakan penelitian populasi. Tetapi, jika jumlah subjeknya besar, dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari: a)kemampuan penelitian dilihat dari waktu, tenaga, dan dana, b)Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subjek, karena hal ini menyangkut sedikitnya data, c)besar kecilnya risiko yang ditanggung oleh peneliti. Untuk penelitian yang resiko besar, hasilnya akan lebih baik”. Homogen dengan menggunakan siswa perempuan sebagai sampel penelitian, yaitu sebanyak 15 orang.
NO. SISWA JUMLAH
1 Putra 6 Orang
2 Putri 15 Orang
D. Defenisi Operasional Penelitian 1. Latihan Aksi dan Reaksi
Merupakan latihan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan gerakan-gerakan dalam satuan waktu minimal (aksi) dan kemampuan untuk menanggapi rangsangan dengan cepat (reaksi). (Syafruddin, 2011 : 130). 2. Ketepatan Pukulan Oi-Tsuki
Dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengarahkan pukulan tepat pada sasaran yang dituju. (Prihastono 1994 : 75).
3. Karate
Karate adalah suatu teknik untuk membela diri dengan tangan kosong atau tanpa senjata. (Sujoto, 1996 : 1).
E. Pengembangan Instrumen
Data diperoleh dengan menggunakan instrumen penelitian yaitu Tes Ketepatan Pukulan. Tes dilakukan sebanyak sepuluh kali setiap siswa, dan dari data ini dapat diketahui bagaimana tingkat aksi dan reaksi siswa terhadap ketepatan dalam melakukan pukulan Oi-Tsuki (Prihastono, 1994:76).
Tes Ketepatan Pukulan
1. Peralatan :
- Lapangan tempat latihan - Bola tenis
2. Pelaksanaan :
- Siswa memegang bola, kemudian dilemparkan, dan dipukul sesuai dengan gerakan yang diteskan.
- Jarak lemparan minimal 1 meter jauhnya, tinggi minimal 1 meter di atas kepala - Lakukan sebanyak 10 kali
3. Penilaian :
- Setelah tes, diambil rata-rata dari kelompok tes, kemudian digolongkan.
- Jika sama dengan jumlah rata-rata (X) = cukup, lebih satu diatas X = lebih dari cukup, lebih 2 diatas X = baik, dan lebih 3 diatas X = baik sekali. Dapat dilihat pada tabel 2 berikut :
Tabel 2. Norma PenilaianTes Ketepatan Pukulan Norma Kategori Penilaian
Dibawah rata-rata X Kurang
Sama dengan X Cukup
< 1 dari X Sedang
< 2 dari X Baik
< 3 dari X Sangat Baik
Sumber : Prihastono (1994:76)
F. Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang Penulis gunakan yaitu dengan teknik-teknik sebagai berikut :
1.) Observasi
2.) Kepustakaan
Cara perpustakaan dipergunakan untuk mencari teori-teori penunjang yang sesuai dengan tujuan permasalahan dalam penelitian ini.
3.) Tes dan Pengukuran
Untuk mengetahui data secara langsung melalui suatu rangkaian Pre Test dan Post Test yang dilakukan kepada para siswa.
a. Pre Test, adalah tes awal yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal pukulan Oi-Tsuki sebelum diberikan program latihan.
b. Post Test, adalah tes akhir yang dilakukan sesudah diberikan perlakuan atau progam latihan untuk mengetahui peningkatan kemampuan ketepatan pukulan Oi-Tsuki.
G. Teknik Analisa Data
Teknik analisis data yang digunakan untuk pengujian hipotesis ini adalah menggunakan rumus t-tes berhubungan dengan taraf signifikan 5% secara manual:
to=
(
Σ D = Jumlah beda/selisih antara skor Variabel I dan skor Variabel II N = Jumlah sampel
SDD = Deviasi Standar dari perbedaan antara skor Variabel I dan skor
BAB IV PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Dalam sub bab ini dilakukan pemaparan dari hasil penelitian yaitu tentang Pengaruh Latihan Aksi dan Reaksi Terhadap Ketepatan Pukulan Oi-Tsuki Siswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru.
1. Pre Test (TesAwal) Pengaruh Latihan Aksi dan Reaksi Terhadap Ketepatan Pukulan Oi-Tsuki Siswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru
Berdasarkan hasil dari tes awal kemampuan Ketepatan PukulanOi-Tsuki dari 15 orang siswa, maka diperoleh nilai tertinggi adalah 6 sedangkan nilai yang terendah adalah3, nilai rata-rata (mean) adalah 4, nilai yang sering muncul (modus) adalah 3, nilaitengah (median) adalah 3, range3 dan standar deviasinya1,048. Untuk dapat mengetahui hasil perolehan tes dapat diperhatikan pada Tabel3 dibawah ini,
Tabel 3. DistribusiFrekuensi Pre Test (Data Awal) KetepatanPukulan Oi-TsukisiswaEkstrakurikuler Karate SMP KemalaBhayangkari, Kota Pekanbaru.
No Nilai Frekuensi Komulatif Frekuensi Relatif
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik dibawah ini:
Gambar 9.Grafik Distribusi Frekuensi Pre Test (Tes Awal) Ketepatan Pukulan Oi-Tsuki Siswa Ekstrakurikuler
Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru
Untuk mengklasifikasikan data sesuai Norma Penelitiandijelaskanpada Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4. Data Pre Test (TesAwal) KetepatanPukulanOi-Tsuki siswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari, Kota Pekanbaru berdasarkan NormaPenilaian.
No Penilaian Kategori Frekuensi
1 7 Sangat Baik 0
2 6 Baik 3
3 5 Sedang 3
4 4 Cukup 1
5 3 Kurang 8
Berdasarkan tabel di atas dari 15 siswa dapat diklasifikasikan 3 orang memiliki klasifikasi ketepatan pukulan yang baik, 3 orang memiliki klasifikasi pukulan sedang, 1 orang memiliki klasifikasi ketepatan pukulan cukup dan 8 orang yang masuk klasifikasi kurang, serta tidak ada yang memiliki klasifikasi sangat baik. Disimpulkan data tes awal ketepatan pukulan Oi-Tsuki adalah cukup baik dengan rata-rata 4.
Ga mbar 10.Grafik Pre Test (Tes Awal) KetepatanPukulanOi-TsukiSiswaEkstrakurikuler Karate SMP
2.Post Test (Tes Akhir) Ketepatan PukulanOi-Tsuki Siswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru
Selanjutnya berdasarkan hasil dari tes akhir ketepatan pukulanOi-Tsuki dari 15 orang siswa, diperoleh nilai tertinggi10sedangkan nilai terendah 6, nilai rata-rata (mean) 7, angka yang paling banyak muncul (modus) adalah7, nilai tengah (median) adalah 7, range4 dan standar deviasinya 1,033. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5 berikut:
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Post Test (Tes Akhir) Ketepatan Pukulan Oi-TsukiSiswaEkstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru.
No Nilai Frekuensi komulatif Frekuensi Relatif
1 6 5 33,3 %
2 7 7 46,7 %
3 8 2 13,3 %
4 9 0 0
5 10 1 6,7 %
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Olahan Penelitian 2014
Gambar 11. Grafik Distribusi Frekuensi Post Test (TesAkhir) Ketepatan Pukulan Oi-TsukiSiswaEkstrakurikuler Karate SMP KemalaBhayangkari Kota Pekanbaru.
Untuk mengklasifikasikan data sesuai Norma Penelitian dijelaskan pada Tabel 6 berikut ini:
Tabel 6. Data Post Test (Tes Akhir) Ketepatan Pukulan Oi-Tsu siswa Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru.
No Penilaian Kategori Frekuensi
1 10 Sangat Baik 1
2 9 Baik 0
3 8 Sedang 2
4 7 Cukup 7
5 6 Kurang 5
Berdasarkan tabel diatas dari 15siswa dapat diklasifikasikan, 1 orang memiliki klasifikasi ketepatan pukulan sangat baik, dan 2 orang siswa memiliki klasifikasi ketepatan sedang dan 7 orang siswa yang menempati klasifikasi ketepatan cukup, 5 orang yang memiliki klasifikasi kurang, serta tidak ada yang memiliki klasifikasi baik. Dapat disimpulkan data Tes Akhir ketepatan pukulan Oi-Tsuki mengalami peningkatan setelah diberikan perlakuan latihan aksi dan reaksi yang baik dengan nilai 7.
Ga mbar 12 .Grafik Post Test (Post Akhir) Ketepatan Pukulan Oi-Tsuki Siswa
Ekstrakurikuler Karate SMP Kemala Bhayangkari Kota Pekanbaru
B. Pengujian Hipotesis Penelitian
Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis. Hipotesis yang akan di uji terdiri dari 2 hipotesis yaitu hipotesis nihil dan hipotesis alternatif. Tujuan melakukan pengujian hipotesis ini adalah untuk melihat besarnya
PengaruhLatihanAksidanReaksiTerhadapKetepatanPukulanOi-TsukiSiswaEkstrakurikuler Karate SMP KemalaBhayangkari Kota Pekanbaru.
Hipotesis yang diuji adalah:
LatihanAksidanReaksiTerhadapKetepatanPukulanOi-TsukiSiswaEkstrakurikuler Karate SMP KemalaBhayangkari Kota Pekanbaru
Jika t hitung ≥t tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak.
Ho : Tidak terdapat pengaruh yang berarti metode latihan
LatihanAksidanReaksiTerhadapKetepatanPukulanOi-TsukiSiswaEkstrakurikuler Karate SMP KemalaBhayangkari Kota Pekanbaru
Jika t hitung ≤ t tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak.
Untuk menjawab hipotesis penelitian maka dilakukan analisis data dengan hasil tertera pada Tabel 7 berikut:
Tabel 7.Hasil Analisis Data
Sumber : Data Olahan Penelitian 2014
LatihanAksidanReaksiTerhadapKetepatanPukulanOi-TsukiSiswaEkstrakurikuler Karate SMP KemalaBhayangkari Kota Pekanbaru.
C. Pembahasan
Penerapan metode latihan aksi dan reaksi yang dilakukan selama 4 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu ini, memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap hasil ketepatan pukulan Oi-Tsuki siswa ekstrakurikuler karate. Hal ini dapat tercipta karena adanya antusias dan semangat siswa pada saat mengikuti latihan, maupun mendengarkan arahan yang disampaikan oleh peneliti.Hal ini sejalan dengan pernyataan dari Rothig dalam Syafruddin (2011:29) mengemukakan bahwa “Latihan dalam olahraga adalah suatu poses pengolahan atau penerapan materi latihan seperti keterampilan-keterampilan gerakan dalam bentuk pelaksanaan yang berulang- ulang dan melalui tuntutan yang bervariasi.”
mengetahui program latihan yang akan diberikan, maka siswa mengikuti proses latihan dengan serius, karena akan berpengaruh bagi peningkatan prestasi siswa di bidang olahraga karate.Dimana Letzelter dalam Syafruddin (2011:130) mengemukakan bahwa kecepatan aksi dapat diartikan sebagai kemampuan dimana dengan bantuan kelentukan system syaraf pusat dan alat gerak otot dapat melakukan gerakan-gerakan dalam satuan minimal.Kemudian Sajoto (1995:10) menyatakan bahwa reaksi (Reaction) adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menanggapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera, saraf, atau filling lainnya. mengemukakan bahwa aksi atau kecepatan aksi (gerakan) dapat diartikan sebagai kemampuan dimana dengan bantuan kelentukan system saraf pusat dan alat gerak otot dapat melakukan gerakan-gerakan dalam satuan waktu minimal. Sesuai dengan pernyataan tersebut, maka peneliti memberikan latihan yang dapat meningkatkan kemampuan kecepatan aksi dan reaksi siswa ekstrakurikuler karate.
mampu mengembangkan kemampuan berfikir (kognitif) dan potensi lainnya yang dimiliki oleh atlet atau peserta didik.
Pada saat tes akhir ketepatan pukulan Oi-Tsuki dengan memukul bola yang dilambungkan, sangat terlihat perbedaannya dibandingkan sebelum siswa melakukan program latihan, yang awalnya nilai tertingga hanya 6, pada tes akhir meningkat menjadi 10, begitu juga dengan kondisi fisik siswa semakin terjaga.Data ini diperoleh dengan menggunakan instrument penelitian menurut Prihastono (1994:76) dimana tes ketepatan pukulan dilakukan sebanyak sepuluh kali setiap siswa, dan dari data ini dapat diketahui bagaimana tingkat aksi dan reaksi siswa terhadap ketepatan dalam melakukan pukulan Oi-Tsuki.
BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Kesimpulan
pukulan berpasangan 3-4 orang siswa di tempat, latihan berpasangan 2 orang siswa dengan melakukan kuda-kuda dan selanjutnya latihan ketepatan pukulan secara bergantian dengan target sasaran yang berada di depan.
B. Implikasi
Setelah diterapkannya metode latihan aksi dan reaksi cabang olahraga karate untuk meningkatkan ketepatan pukulan Oi-Tsuki siswa karate SMP KemalaBhayangkari Kota Pekanbaru, untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan metode latihan dengan menggunakan berbagai macam bentuk variasi latihan pukulan.
C. Saran
1. Metode latihan aksi dan reaksi sangat berpengaruh terhadap ketepatan pukulan, untuk itu disarankan kepada setiap pelatih untuk menerapkan program latihan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan dari olahraga karate sehingga dapat mencapai prestasi yang lebih baik kedepannya.
2. Kepada siswa karate disarankan untuk mengikuti latihan yang teratur, agar tujuan yang ingin dicapai dari latihan dapat dirasakan hasil dan manfaatnya.
4. Untuk peneliti selanjutnya, disarankan agar melakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan sampel yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006.Prosedur PenelitianSuatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Renika Cipta
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Renika Cipta.
Arsil. 2008. Pembinaan Kondisi Fisik. Padang: Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Padang.
Arsil, Adnan, Aryadie. 2010. Evaluasi Pendidikan Jasmani dan Olahraga.Malang: Wineka Media.
FORKI, 2005. Pedoman Karate. Studio 3 Plus.
Kementerian Pemuda dan Olahraga. 2005. Undang-Undang RI No.3 Tahun 2005Tentang Sistem Keolahragaan Nasional, Jakarta: Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Muchsin, Sabeth. 1980. Best Karate Comprehensive. Jakarta: PT. Indira. Phang, Victorianus. 2012. Kumpulan Artikel Karate-Do. Bogor.
Prihastono, Arief, 1994. Pembinaan Kondisi Fisik Karate.Solo: CV. Aneka.
Sajoto, M. 1995. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik dalm Olahraga.Semarang: Dahara Prize.
Sujoto, J.B. 1996. Teknik Oyama Karate Seri Kihon. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Syafruddin, 2011.Ilmu Kepelatihan Olahraga.Teori dan aplikasinya dalam pembinaan olahraga.Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Padang. Wahid, Abdul, 2006. Shotokan Sebuah Tinjauan Alternatif Terhadap Aliran