Kerukunan Keluarga
Modul 8
Untuk Meningkatkan
Ketahanan dan Kehati-hatian Keluarga
Untuk Para Calon Suami, Calon Istri, Suami atau Istri
di Perkotaan
Oleh
Khoiril Arief Saleh
Sebuah Tinjauan Tentang Kepribadian Seseorang Berkaitan Dengan
Usaha Mengurangi Penurunan Kerukunan Keluarga
Oleh : Khoiril Ariaf Saleh
Jl. Bolavoli 18 Arcamanik, Bandung. Telp. (022)7102411
Membangun kepribadian diri sendiri yang sesuai dengan aturan manual manuasia (Al-Quran dan hadis) merupakan kewajiban bagi semua orang Islam. Demikian juga membangun bagian struktur kepribadian untuk mencapai keluarga sakinah. Dalam hal ini penulis hanya akan membahas bagian penting dari struktur kepribadian yang bersangkutan dengan peran suami dan istri.
Dapat dimengerti bahwa kepribadian suami dan istri akan mempengaruhi kerukunan keluarganya. Diantara macam-macam bagian struktur pembentuk kepribadian seorang suami atau istri, 4 (empat) diantaranya sangat mempengaruhi usahanya untuk meningkatkan atau mengurangi penurunan kerukunan keluarga. Empat bagian tersebut adalah :
1. Keoptimisan seorang suami atau istri.
2. Daya tahan seorang suami atau istri terhadap cobaan (sabar).
3. Kebiasaan seorang suami atau istri untuk tidak mementingkan diri sendiri. 4. Empati seorang suami atau istri.
Tingkat optimis seorang suami atau istri sangat mempengaruhi keberhasilan usahanya. Dalam hal ini, yang dimaksud usaha adalah usaha untuk :
1. Meningkatkan kepatuhan pada aturan manual manusia (Al-Quran dan Hadis).
2. Melakukan kebiasaan baik terhadap suami atau istri
3. Meninggalkan kebiasaan jelekterhadap suami atau istri.
4. Meningkatkan daya tahan terhadap cobaandiri sendiri atau cobaan keluarga. 5. Meningkatkan kemampuan agar tidak mementingkan diri sendiri.
6. Meningkatkanempatiterhadap suami atau istri.
Tingkat optimis yang tinggi akan keberhasilan usaha-usaha tersebut diatas, mendorong kekuatan diri untuk lebih sungguh-sungguh. Bila pada saat berusaha, diyakini akan keberhasilannya, maka berhasillah usahanya tetapi bila pada saat berusaha tidak diyakini akan keberhasilannya maka tidak berhasillah usahanya. Beberapa orang berpendapat bahwa optimis adalah setengah dari keberhasilan.
Daya tahan yang kuat untuk mengatasi cobaan mutlak diperlukan untuk meningkatkan atau mengurangi penurunan kerukunan keluarga. Tidak mungkin kerukunan keluarga dicapai tanpa menghadapi cobaan. Lemahnya daya tahan, mudahnya berputus-asa atau mudahnya seseorang marah akan mempersulit mencapai tingkat kerukunan keluarga yang tinggi. Daya tahan mengatasi cobaan yang tinggi mempermudah proses mencapai tingkat kerukunan keluarga yang tinggi. Daya tahan mengatasi cobaan lebih populer dengan sebutan istilah tabah atau sabar. Kesabaran tersebut dijelaskan dalam Al-Quran yang artinya sebagai berikut:
2. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadam, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (Qs. 2:155)
3. …….dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (Qs. 2:177)
4. Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Qs. 3:146)
5. Dan taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Qs. 8:46)
6. Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantaramu, maka mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (Qs. 8:65)
7. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui padamu bahwa ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (Qs. 8:66)
8. Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal shaleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar. (Qs. 11:11)
9. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (Qs. 13:22)
10. Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs. 16:96)
11. Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Qs. 16:126)
12. Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Qs. 16:126)
Sabar dalam aturan manual manusia mempunyai arti yang sangat luas antara lain ulet, tekun, tabah, tahan terhadap cobaan dan tidak pupus asa.
Tidaklah sulit bagi para suami ataupun istri untuk memahami tiga hal yang telah diuraikan diatas tetapi bagaimanna teknik pelaksanaannya. Biasanya masing-masing merasa bahwa dirinya telah mempunyai kemampuan tersebut. Perasaan itu bisa membuat sulit bila berkembang menjadi prasangka bahwa pasangannya kurang mempunyai kemampuan tersebut. Masing-masing tidak tahu sejauh mana tingkat keoptimisan, daya tahan terhadap cobaan dan kebiasaan tidak mementingkan diri sendiri. Mana yang perlu ditingkatkan, sang suami atau sang istri ?. Jawaban ini cukup sulit untuk dipecahkan sendiri, sebagaimana orang yang akan melihat daun telinganya sendiri. Orang tersebut harus menggunakan cermin untuk melihatnya. Demikian juga suami atau istri juga harus menggunakan alat bantu untuk melihat tingkat keoptimisan, daya tahan terhadap cobaan dan kebiasaan tidak mementingkan diri sendiri.pada dirinya sendiri. Hal itu dapat dibantu dengan melakukan tes diri pada ketiga masalah tersebut. Tes dapat dilakukan oleh para ahli (psikolog) atau mengikuti petunjuk buku-buku tentang hal tersebut.
Diketahuinya tingkat keoptimisan, daya tahan terhadap cobaan dan kebiasaan tidak mementingkan diri sendiri pada suami maupun istri akan mempermudah meningkatkannya tanpa harus saling menyuruh. Suami atau istri yang mempunyai tingkatan yang rendah tentunya harus memperbaikinya agar mencapai tingkatan wajar serta sejajar dengan suami atau istrinya.
Berikut ini disajikan beberapa cara untuk meningkatkan keoptimisan, daya tahan terhadap cobaan dan kebiasaan tidak mementingkan diri sendiri.
Beberapa usaha agar suami atau istri meningkatkan keoptimisannya, antara lain melalui kemungkinan berhasil ini dapat mendorong untuk bertindak lebih optimis dan dinamis. 3. Berusaha agar tidak selalu berpikir tentang hal-hal negatif.
Masalah menyakini ini menjadi sumber segala kekuatan selanjutnya. Hal itu dijelaskan dalam aturan manual manusia antara lain berupa: rukun Islam pertama dan beberapa hadis. Rukun Islam yang pertama mewajibkan orang yang akan menjadi muslim harus meyakini dan mengikrarkan syahadat; atas dasar keyakinan tersebut mereka dapat berkembang menjadi muslim yang baik. Sebuah hadis menyatakan bahwa Allah berada pada sangkaan (keyakinan) kita, kalau kita dekati sehasta Allah datang sedepa, kalau kita dekati dengan berjalan Allah akan datang dengan berlari dan bila kita datangi dengan berlari Allah akan datang jauh lebih cepat lagi.
Seperti telah dijelaskan di atas, hal penting berikut turut menunjang peningkatan kerukunan keluarga atau mengurangi penurunan kerukunan keluarga, yaitu daya tahan terhadap cobaan, tidak mementingkan diri sendiri, empati (kepekaan sosial). Daya tahan yang kuat terhadap cobaan, mempunyai jiwa yang besar untuk tidak mementingkan diri sendiri dan mempunyai rasa empati yang tinggi akan menunjang pelaksanaan kewajiban bersama suami-istri. Ada beberapa cara untuk meningkatkan hal-hal tersebut dengan melakukan latihan yang diterangkan dalam uraian berikut.
Beberapa usaha agar suami atau istri meningkat daya tahan terhadap cobaan, antara lain melalui tindakan-tindakan sebagai berikut :
2. Berusaha menghayati kebesaran kekuasaan Allah dan meyakini benar-benar bahwa Allah melindungi hambanya yang meminta perlindungan. Mintalah perlindungan kepada Allah. 3. Tidak selalu memikirkan hal-hal yang meresahkan diri sendiri.
4. Memperbesar rasa percaya pada diri sendiri.
Berserah diri kepada Allah, merupakan kunci untuk meningkatkan daya tahan terhadap cobaan. Beberapa usaha agar suami atau istri tidak mementingkan diri sendiri, antara lain melalui usaha sebagai berikut :
1. Mengusahakan untuk berpikir sebagai orang lain, bukan sebagai diri sendiri. 2. Mengusahakan untuk menghayati kesusahan orang lain.
Beberapa usaha agar suami atau istri meningkatkan empati (kepekaan sosial), antara lain melalui perbuatan sebagai berikut :
1. Menyadari sepenuhnya bahwa emosi, keinginan dan hasrat yang anda miliki juga dimiliki orang lain, membiarkan emosi, keinginan dan hasrat berkembang pada orang lain.
2. Mau mendengar pendapat orang lain, walaupun pendapat itu tidak sama bahkan bertentangan dengan pendapat anda. Biarkan orang lain menyelesaikan apa yang dikatakannya dan bertanyalah sebelum memberi kesimpulan.
Diharapkan tindakan-tindakan tersebut diatas dapat membantu meningkatkan keoptimisan, daya tahan terhadap cobaan, kebiasaan tidak mementingkan diri sendiri dan empati (kepekaan sosial).