HUBUNGAN ORANG TUA PEROKOK DENGAN KEBIASAAN
MEROKOK PADA ANAK USIA 15-18 TAHUN
DI DESA MAJASTO TAWANGSARI
SUKOHARJO
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Sarjana Keperawatan
Oleh : Wahyudi NIM. ST 13078
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
STIKES KUSUMA HUSADA
iii
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Wahyudi
Nim : ST 13078
Dengan ini menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapat gelar
akademik (sarjana), baik di STIKes Kusuma Husada Surakarta maupun di
perguruan tinggi lain.
2. Dalam skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis
dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dalam daftar pustaka.
3. Pernyataan ini saya buat sesungguhnya dan apa berupa pencabutan gelar
yang telah bila kemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran
dalam pernyataan ini maka saya bersedia menerima sanksi dari pihak
akademik yang telah diperoleh karena karya ini, serta sanksi yang lain
sesuai dengna norma yang berlaku di perguruan tinggi.
Surakarta, Januari 2015
Yang membuat pernyataan
Wahyudi
iv
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur dan dengan kerendahan hati penulis panjatkan ke
hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini merupakan persyaratan untuk
memperoleh gelar sarjana keperawatan. Secara khusus, penulis menyampaikan
penghargaan dan ucapan terima kasih yang tulus kepada:
1. Ibu Dra. Agnes Suharti, M.Si Ketua STIKes Kusuma Husada Surakarta.
2. Ibu Ns, Wahyu Rima Agustin, S. Kep., M.Kep Ketua Program Studi S-1
Keperawatan
3. Ibu Happy Indri Hapsari, S. Kep., Ns., M. Kep Pembimbing Utama yang telah
memberikan arahan, bimbingan serta saran dalam penyusunan proposal
penelitian ini
4. Ibu Alfyana Nadya Rachmawati,,S.Kep.,Ns.,M.Kep. Pembimbing
pendamping yang telah memberikan arahan, bimbingan serta saran dalam
penyusunan proposal penelitian ini
5. Segenap dosen dan staf karyawan STIKes Kusuma Husada Surakarta yang
telah memberikan bimbingan dan arahan.
6. Direktur Rumah Sakit umum Dr. Moewardi Surakarta, yang telah memberi
izin belajar.
7. Kepala Desa Majasto Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo yang
v
8. Teman-temanku di Program Studi S-1 Keperawatan Stikes Kusuma Husada
Surakarta yang telah memberi do’a dukungan dan bantuan selama penelitian.
9. Teman-teman di ruang anggrek 3 RSU Dr. Moewardi Surakarta yang telah
memberi do’a dukungan dan bantuan selama penelitian.
10.Keluargaku tercinta, istriku, dan kedua buah hatiku Sunan, Puan serta
keluarga besarku yang turut berkorban dan memberi semangat, do’a, perhatian
dan semua pengorbanan yang menjadikan perjuangan terasa ringan.
11.Teman-teman dan sahabat seperjuangan angkatan 2014.
12.Semua pihak (keluarga dan handaitaulan) yang tidak dapat penulis sebutkan
satu per satu, atas setiap bentuk bantuan dan dukungan.
Allah sebagai sumber segala berkat, kiranya senantiasa melindungi dan
memberikan rahmat yang berlimpah. Penulis berharap hasil penelitian ini
bermanfaat. Saran dan kritik untuk perbaikan akan penulis terima, agar lebih
bermanfaat.
Surakarta, Januari 2015
vi DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN... ii
PERNYATAAN ... iii
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ... 4
1.4. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori ... 6
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 26
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 27
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 27
3.4. Variabel, Definisi Operasional, dan Skala Pengukuran ... 29
vii
3.6. Teknik Pengolahan dan Analisa Data ... 33
3.7. Etika Penelitian ... 35
BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1. Analisa Univariat ... 37
4.2. Analisa Bivariat ... 40
BAB V PEMBAHASAN
5.1. Pembahasan Univariat ... 41
5.2. Pembahasan Bivariat ... 43
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN
6.1. Simpulan ... 46
6.2. Saran ... 47
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
viii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.2.1. Keaslian Penelitian ... 24
Tabel 3.4.2. Definisi Operasional ... 31
Tabel 4.1.1.1. Usia Responden ... 39
Tabel 4.1.1.2. Pendidikan Responden ... 39
Tabel 4.1.1.3. Jenis Kelamin Responden ... 40
Tabel 4.1.1.4. Media Massa ... 40
Tabel 4.1.1.5. Teman Sebaya ... 40
Tabel 4.1.1.6. Gambaran Kebiasaan Merokok Pada Orang Tua ... 41
Tabel 4.1.1.7. Gambaran Kebiasaan Merokok Pada Remaja ... 41
Tabel 4.1.2. Hubungan Orang Tua Perokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Anak Usia 15-18 Tahun ... 42
ix
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.3.1.KerangkaKonsep ... 25
Gambar 2.3.2. Kerangka Teori ... 26
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Usulan Penelitian
Lampiran 2 Pengajuan Judul Skripsi
Lampiran 3 Surat Pengajuan Ijin Studi Pendahuluan
Lampiran 4 Surat Balasan Ijin Studi Pendahuluan
Lampiran 5 Surat Ijin Penelitian
Lampiran 6 Surat Balasan Ijin Penelitian
Lampiran 7 Surat Permohonan Menjadi Responden
Lampiran 8 Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 9 Lembar Angket
Lampiran 10 Data Uji Statistik
Lampiran 11 Jadwal Penelitian
xi
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA 2015
Wahyudi
Hubungan Orang Tua Perokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Anak Usia 15-18 Tahun Di Desa Majasto Kecamatan Tawangsari Kabupaten sukoharjo
Abstrak
Perilaku merokok pada remaja saat ini sudah tidak tabu lagi, dimanapun tempat tidak sulit menjumpai anak remaja dengan kebiasaaan merokok.Orang tua mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan perilaku anak,sehingga diharapkan menjadi role model yang baik bagi anaknya dalam kebiasaan merokok Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan antara orangtua perokok dengan kebiasaan merokok pada anak usia 15-18 tahun.
Pelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik dengan rancangan case control study. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja di Desa yang berusia 15-18 Tahun Majasto Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo sejumlah 84 responden dan jumlah sampel adalah 46 responden. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling.
Hasil penelitian ini menunjukan ada hubungan antara orang tua perokok dengan kebiasaan merokok pada anak usia 15-18 tahun Di Desa Majasto Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo dengan nilai p 0,017. Orang tua yang merokok mempunyai kemungkinan 2,12 kali untuk anaknya mempunyai kebiasaan merokok.
xii
BACHELOR PROGRAM IN NURSING SCIENCE KUSUMA HUSADA HEALTH SCIENCE COLLEGE OF SURAKARTA 2015
Wahyudi
Smoking for the adolescents is not taboo any more. It is not difficult to find the adolescents with smoking habit. Parents have a large effect on the formation of their children's behaviors. Therefore, the parents are expected to be good role models to their children on the smoking habits. The objective of this research is to investigate whether there is a correlation between the smoker parents and the smoking habit of the adolescents aged 15-18 years old.
This research used the quantitative analytical research method with the case control study design. Its population was all of the adolescents aged 15-18 years old as many as 84 in Majasto village, Tawangsari sub-district, Sukoharjo regency. The samples of research consisted of 46 respondents and were taken by using the purposive sampling technique.
The result of research shows that there was a correlation between the smoker parents and the smoking habit of the adolescents aged 15-18 years old in Majasto village, Tawangsari sub-district, Sukoharjo regency with the p-value = 0.017. The children with the smoker parents had the possibility to have the smoking habit of2.12 times.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Remaja adalah orang yang berusia 12-18 tahun (WHO, dalam nuradita,
2010 ). Anak adalah seseorang sebelum berusia 18 tahun (UU no 44 Tahun
2008). Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk
memasuki masa dewasa (Sri Rumini & Siti Sundari,2004). Dalam
perkembangan menuju dewasa, anak mengalami berbagai perubahan meliputi
perubahan biologik, perubahan psikologis dan perubahan sosial
(Notoatmodjo, 2007), perubahan tersebut mempengaruhi perilaku anak di
lingkungan masyarakat. Perubahan perilaku anak, ada yang mengarah ke arah
positif dan ada yang ke arah negatif, perilaku negatif salah satu diantaranya
adalah remaja dengan perilaku merokok.
Remaja dengan perilaku merokok saat ini dianggap sebagai perilaku
yang wajar di masyarakat, tingkat penyebaran perokok saat ini paling tinggi
juga terjadi pada anak remaja. Perilaku merokok adalah gaya hidup yang
merugikan kesehatan diri sendiri dan orang lain. Perilaku merokok adalah
perilaku yang dipelajari dari pihak-pihak yang berpengaruh besar dalam
proses sosialisasi. Konsep sosialisasi pertama berkembang dari sosiologi dan
psikologi sosial yang merupakan suatu proses transmisi nilai-nilai, sistem
generasi berikutnya (Durkin dan Helmi, 2010). Merokok pada anak remaja
sebenarnya tidak dikehendaki orang tua, bahkan masyarakat juga tidak
menginginkan anggota masyarakatnya untuk menjadi seorang perokok.
Perilaku merokok pada remaja dilatarbelakangi oleh motivasi untuk
mendapatkan pengakuan (anticipatory beliefs), untuk menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs) dan menganggap perbuatan tersebut tidak melanggar norma (permission beliefs) (Joemana,2004). Menurut Hansen dalam Kemala (2008) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi
perilaku merokok yaitu : faktor biologis, faktor psikologis, faktor demografis,
faktor sosial-kultural, dan faktor sosial politik. Orang tua sebagai role model
bisa membentuk terjadinya kedua faktor tersebut yang mana bisa menjadi
lingkungan terdekat dengan anak dalam lingkup keluarga serta membentuk
kepribadian sang anak dalam pemberian pola asuh. Menurut Agus (2012)
pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang utama dan pertama
bagi anak yang tidak bisa digantikan oleh lembaga pendidikan
manapun,sehingga pola asuh yang diberikan orang tua dalam memberikan
asuhan, perhatian dan contoh positif sangat penting sehingga mereka tidak
melakukan kebiasakan merokok sejak dini (Enrine,2012).
Model dan penguat bagi para remaja untuk menjadi seorang perokok,
yaitu dengan merujuk konsep transmisi perilaku yaitu dapat ditranmisikan
melalui transmisi vertikal (orang tua ke anaknya) maupun transmisi
horisontal (oleh teman sebayanya) (Berry dkk,1992). Pernyataan ini sama
merokok merupakan perilaku transmisif yang dipelajari dan ditularkan
melalui aktivitas teman sebaya dan perilaku permisif orang tua.
Menurut World Health Organization (WHO)dalam ( Kemenkes RI, 2012) jumlah perokok di Indonesia yaitu terbesar ketiga di dunia dan jumlah
kematian akibat kebiasaan merokok mencapai 400 ribu orang per tahun. Hasil
penelitian di Indonesia seseorang mulai merokok di usia remaja selalu
mengalami peningkatan, dari data Riskesdas 2003 ada 31% usia remaja
(15-19 th) mulai merokok, pada tahun 2007 ada 33,1% remaja mulai merokok
dan tahun 2010 ada 43,3% remaja mulai merokok. Secara nasional kelompok
usia yang pertama kali merokok di mulai pada usia 15-19 tahun. Data
perokok menurut Nuradita(2006) menunjukkan prevalensi perokok 16 kali
lebih tinggi pada laki-laki yaitu (65,9%) dibandingkan perempuan (4,2%).
Data Kemenkes RI (2010) di Indonesia prevalensi merokok pada usia 15
tahun ke atas yakni pria 63,15% (naik 1,4% dibandingkan tahun 2001) dan
wanita 4,5 % (naik tiga kali lipat di bandingkan tahun 2001).
Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 17 November
2014 di Desa Majasto terdapat 1105 KK, terdapat pemuda/pemudi usia
13-18 tahun berjumlah 303 orang. Dari data sampling 20 Kepala Keluarga yang
mempunyai anak remaja terdapat 17 orang tua perokok, dan 23 remaja
merokok dari 27 orang total jumlah remaja. Dari 23 remaja yang merokok
tersebut, orang tuanya adalah perokok. Berdasarkan permasalahan tersebut
dengan kebiasaan merokok pada anak usia 15-18 tahun Di Desa Majasto,
Tawangsari, Sukoharjo.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakangmasalah di atas maka rumusan masalah penelitian ini
adalah “Adakah hubungan antara orang tua perokok dengan kebiasaan
merokok pada anak usia 15-18 tahun di Desa Majasto, Tawangasari,
Sukoharjo?”
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan antara orang tua perokok dengan kebiasaan
merokok pada anak usia 15-18 tahun di Desa Majasto, Tawangsari,
Sukoharajo.
1.3.2. Tujuan Khusus
1) Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan usia,
pendidikan, jenis kelamin, media massa dan teman sebaya.
2) Untuk mengetahui gambaran orang tua perokok di Desa Majasto,
Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.
3) Untuk mengetahui gambaran kebiasaan merokok pada anak usia
4) Untuk menganalisis hubungan antara orang tua perokok dengan
kebiasaan merokok pada anak usia 15-18 tahun di Desa Majasto,
Kecamatan tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.
1.4.Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi masyarakat
Diharapkan orang tua menjadi role model yang baik untuk anak dengan mengurangi kebiasaan merokok didepan anak.
1.4.2. Bagi peneliti
Diharapkan dapat digunakan sebagai media belajar tentang metodologi
penelitian.
1.4.3. Bagi institusi kesehatan
Diharapkan dapat melakukan promosi kesehatan tentang bahaya merokok
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Landasan Teori 2.1.1. Remaja
2.1.1.1Pengertian Remaja
Remaja adalah orang yang berusia 12-18 tahun (WHO, dalam
nuradita, 2010 ). Remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak
ke masa dewasa, yang meliputi semua perkembangan yang dialami
sebagai persiapan memasuki masa dewasa (Dariyo, 2004). Perubahan
perkembangan tersebut meliputi aspek fisik, psikis dan psikososial.
Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan
manusia. Masa remaja merupakanmasa perubahan atau peralihan dari
masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologik,
perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Di sebagian besar
masyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai pada
usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun (Notoatmodjo,
2007).
Menurut Soetjiningsih (2004) remaja merupakan masa peralihan
antara masa anak-anak yang dimulai saat terjadinya kematangan
seksual yaitu antara usia 11atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun,
yaitu masa menjelang dewasa muda. Berdasarkan umur kronologis
1) Menurut WHO, remaja adalah anak yang telah mencapai umur
10-18 tahun.
2) Menurut undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1979, anak
dianggap sudah remaja apabila cukup matang, yaitu umur 16 tahun
untuk perempuan dan 19 tahun untuk anak laki-laki.
3) Buku pediatri, remaja adalah bila seorang anak telah mencapai
umur 10-18 tahun untuk perempuan dan umur 12-20 tahun anak
laki-laki.
4) Menurut undang-undang perburuhan, anak dianggap remaja
apabila telah mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan
mempunyai tempat tinggal
5) Menurut dinas kesehatan anak dianggap sudah remaja apabila
anak sudah berunur 18 tahun, sesuai dengan saat lulus sekolah
menengah.
2.1.1.2Tahap-Tahap Perkembangan dan Batasan Remaja
2.1.1.2.1. Menurut Soetjiningsih (2004), berdasarkan proses penyesuaian diri
menuju kedewasaan,aAda 3 tahap perkembangan remaja yaitu :
1) Remaja awal (Early adolescent)
Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan
perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan
dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu.
lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis, dengan dipegang
bahunya saja oleh lawan jenis ia sudah akan berfantasi erotik.
2) Remaja madya (middle adolescent)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan,
remaja akan senang kalau banyak teman yang mengakuinya. Ada
kecenderungan narsistis yaitu mencintai diri sendiri, dengan
menyukai teman-teman yang sama dengan dirinya, selain itu ia
berada dalam kondisi kebingungan karena tidak tahu memilih
yang mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri,
optimistis atau pesimistis, idealistis atau materialis, dan
sebagainya.
3) Remaja Akhir (late adolescent)
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa
dan ditandai dengan pencapaian lima hal yaitu:
a) Minat makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek
b) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman-penglaman baru.
c) Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
d) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri
dengan orang lain.
2.1.1.2.2. Menurut Rumini dan Siti Sundari (2004:53), berdasarkan sifat atau
ciri perkembangan , rentang waktu masa remaja dibagi menjadi tiga
tahap yaitu:
1. Masa remaja awal (12-15 tahun)
Remaja mempunyai peran yang unik yaitu mulai tidak mau lagi
tergantung pada orang tua.
2. Masa remaja tengah (15- 18 tahun)
Remaja mempunyai perkembangan cara dan pola berpikir yang
baru.
3. Masa remaja akhir (18-21 tahun)
Remaja mulai mempersiapkan diri menuju dewasa dan telah
mulai berpikir menentukan pasangan hidup rumah tangga.
2.1.2 Merokok
2.1.2.1.Pengertian Rokok
Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70
hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter
sekitar 10 mm yang berisidaun-dauntembakau yang telahdicacah.
Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar
asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujunglainnya (Juliansyah,
2010). Rokok dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan atas
bahan pembungkus rokok, bahan baku atau isi rokok, proses
2.1.2.2.Jenis – Jenis Rokok.
2.1.2.2.1.Rokok berdasarkan bahan pembungkus.
a) Klobot: rokok yang bahan pembungkusnya berupa kulit jagung.
b) Kawung: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren.
c) Sigaret: rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas.
d) Cerutu: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun
tembakau.
e) Rokok daun nipah
2.1.2.2.2.Rokok berdasarkan bahan baku atau isi.
a) Rokok putih: rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun
tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan
aroma tertentu.
b) Rokok kretek: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun
tembakau dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan
efek rasa dan aroma tertentu.
c) Rokok klembak: rokok yang bahan baku atau isinya berupa
daun tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk
2.1.2.2.3.Rokok berdasarkan proses pembuatannya.
a) Sigaret Kretek Tangan (SKT)
Rokok yang proses pembuatannya dengan cara digiling
atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu
sederhana.
b) Sigaret Kretek Mesin (SKM)
Rokok yang proses pembuatannya menggunakan mesin.
Sederhananya, material rokok dimasukkan ke dalam mesin
pembuat rokok. Keluaran yang dihasilkan mesin pembuat
rokok berupa rokok batangan. Saat ini mesin pembuat rokok
telah mampu menghasilkan keluaran sekitar enam ribu sampai
delapan ribu batang rokok per menit. Mesin pembuat rokok,
biasanya dihubungkan dengan mesin pembungkus rokok
sehingga keluaran yang dihasilkan bukan lagi berupa rokok
batangan namun telah dalam bentuk pac. Ada pula mesin
pembungkus rokok yang mampu menghasilkan keluaran
berupa rokok dalam pres, satu pres berisi 10 pac, sayangnya
belum ditemukan mesin yang mampu menghasilkan SKT
karena terdapat perbedaan diameter pangkal dengan diameter
ujung SKT. Pada SKM, lingkar pangkal rokok dan lingkar
c) Sigaret Kretek Mesin sendiri dapat dikategorikan kedalam 2
bagian :
1) Sigaret Kretek Mesin Full Flavor (SKM FF): rokok yang dalam proses pembuatannya ditambahkan aroma rasa
yang khas. Contoh: Gudang Garam International,
Djarum Super dan lain-lain.
2) Sigaret Kretek Mesin Light Mild (SKM LM): rokok mesin yang menggunakan kandungan tar dan nikotin
yang rendah. Rokok jenis ini jarang menggunakan aroma
yang khas. Contoh: A Mild, Clas Mild, Star Mild, U Mild, L.A. Lights, Surya Slims dan lain-lain.
2.1.2.2.4.Rokok berdasarkan penggunaan filter.
a) Rokok Filter (RF)
Rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus.
b) Rokok Non Filter (RNF)
Rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus.
2.1.2.2.5.Dilihat dari komposisinya:
a) Bidis: Tembakau yang digulung dengan daun temburni
kering dan diikat dengan benang. Tar dan karbon
monoksidanya lebih tinggi daripada rokok buatan pabrik.
b) Cigar: Dari fermentasi tembakau yang diasapi, digulung
dengan daun tembakau. Adaberbagai jenis yang berbeda di
tiap negara. Yang terkenal dari Havana, Kuba.
c)Kretek: Campuran tembakau dengan cengkeh atau aroma
cengkeh berefek mati rasa dan sakit saluran pernapasan.
Jenis ini paling berkembang dan banyak di Indonesia.
d) Tembakau langsung ke mulut atau tembakau kunyah juga
biasa digunakan di AsiaTenggara dan India. Bahkan 56
persen perempuan India menggunakan jenis kunyah.
Adalagi jenis yang diletakkan antara pipi dan gusi, dan
tembakau kering yang diisap dengan hidung atau mulut.
e) Shisha atau hubbly bubbly: Jenis tembakau dari buah-buahan atau rasa buah-buah-buahan yang disedot dengan pipa
dari tabung. Biasanya digunakan di Afrika Utara, Timur
Tengah, dan beberapa tempat di Asia. Di Indonesia, shisha
sedang menjamur seperti dikafe-kafe.
2.1.2.2.6. Zat yang Terkandung dalam Rokok
Bahaya rokok dan dampak rokok bagi kesehatan memang
sudah dicantumkan dalam bungkus rokok yang dijual dipasaran.
Disana disebutkan bahaya rokok untuk kesehatan "bisa
menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan
gangguan kehamilan dan janin". Akan tetapi, walaupun bahaya
disebutkan bungkus, masih banyak masyarakat Indonesia yang
merokok aktif. Bukan saja Indonesia, bahkan dunia.
1) Zat yang terkandung dalam rokok.
a) Nikotin
Zat ini mengandung candu bisa menyebabkan seseorang
ketagihan untuk trus menghisap rokok, Pengaruh bagi
tubuh manusia :
a) menyebabkan kecanduan / ketergantungan
b) merusak jaringan otak
c) menyebabkan darah cepat membeku
b) Tar
Bahan dasar pembuatan aspal yang dapat menempel pada
paru-paru dan bisa menimbulkan iritasi bahkan kanker,
Pengaruh bagi tubuh manusia :
1. membunuh sel dalam saluran darah
2. Meningkatkan produksi lendir diparu-paru
3. Menyebabkan kanker paru-paru
c) Karbon Monoksida
Gas yang bisa menimbulkan penyakit jantung karena gas
ini bisa mengikat oksigen dalam tubuh. Pengaruh bagi
tubuh manusia :
a. mengikat hemoglobin, sehingga tubuh kekurangan
b. menghalangi transportasi dalam darah
d) Zat Karsinogen
Pengaruh bagi tubuh manusia : Memicu pertumbuhan sel
kanker dalam tubuh.
e) Zat Iritan
1) Mengotori saluran udara dan kantung udara dalam
paru-paru.
2) Menyebabkan batuk.
2) Bahaya Merokok
a. Penyakit jantung
Rokok menimbulkan aterosklerosis atau terjadi pengerasan pada pembuluh darah. Kondisi ini merupakan penumpukan
zat lemak di arteri, lemak dan plak memblok aliran darah
dan membuat penyempitan pembuluh darah. Hal ini
menyebabkan penyakit jantung. Jantung harus bekerja lebih
keras dan tekanan ekstra dapat menyebabkan angina atau
nyeri dada. Jika satu arteri atau lebih menjadi benar-benar
terblokir, serangan jantung bisa terjadi semakin banyak
rokok yang dihisap dan semakin lama seseorang merokok,
semakin besar kesempatannya mengembangkan penyakit
b.Penyakit paru
Risiko terkena pneumonia, emfisema dan bronkitis kronis
meningkat karena merokok. Penyakit ini sering disebut
sebagai penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Penyakit
paru-paru ini dapat berlangsung dan bertambah buruk dari
waktu ke waktu sampai orang tersebut akhirnya meninggal
karena kondisi tersebut. Orang-orang berumur 40 tahun bisa
mendapatkan emfisema atau bronkitis, tapi gejala biasanya
akan jauh lebih buruk di kemudian hari, menurut American Cancer Society.
c. Kanker paru dan kanker lainnya
Kanker paru-paru sudah lama dikaitkan dengan bahaya
rokok, yang juga dapat menyebabkan terhadap kanker lain
seperti dari mulut, kotak suara atau laring, tenggorokan dan
kerongkongan. Merokok juga dikaitkan dengan kanker
ginjal, kandung kemih, perut pankreas, leher rahim dan
kanker darah (leukemia). d. Diabetes
Merokok meningkatkan resiko terjadinya diabetes,
menurut Cleveland Clinic rokok juga bisa naik
menyebabkan komplikasi dari diabetes, seperti penyakit mata, penyakit jantung, stroke, penyakit pembuluh darah,
e. Impotensi
Rokok merupakan faktor resiko utama untuk penyakit
pembuluh darah perifer, yang mempersempit pembuluh
darah yang membawa darah ke seluruh bagian tubuh.
Pembuluh darah ke penis kemungkinan juga akan
terpengaruh karena merupakan pembuluh darah yg kecil &
dapat mengakibatkan disfungsi ereksi/impoten.
f. Menimbulkan kebutaan
Seorang yang merokok menimbulkan meningkatnya resiko
degenerasi makula yaitu penyebab kebutaan yang dialami
orang tua. Dalam setudi yg diterbitkan dalam 'Archives of Ophthalmology' pada tahun 2007 menemukan yaitu orang merokok empat kali lebih mungkin dibanding orang yang
bukan perokok untuk mengembangkan degenerasi makula,
yg merusak makula, pusat retina, dan menghancurkan
penglihatan sentral tajam.
g.Penyakit mulut
Penyakit mulut yang disebabkan oleh rokok antara lain
kanker mulut, kanker leher, penyakit gigi, penyakit pada
gigi dan nafas.
h.Gangguan Janin
Merokok berakibat buruk terhadap kesehatan reproduksi
infertilitas (kemandulan), keguguran, kematian janin, bayi
lahir berberat badan rendah, dan sindrom kematian
mendadak bayi.
2.1.3 Merokok Pada Remaja
Merokok merupakan overt behavior dimana perokok menghisap gulungan tembakau yang dibungkus dengan kertas (Kamus Besar Bahasa
Indonesia (1990:752). Poewodarminto dalam Kemala (2007:9)
mendefinisikan merokok adalah menghisap rokok yaitu menghisap
gulunagn tembakau yang berbalut daun nipah atau kertas. Sebagai overt behavior merokok merupakan perilaku yang dapat terlihat karena ketika merokok individu melakukan suatu kegiatan yang nampak yaitu
menghisap asap rokok yang dibakar ke dalam tubuh, hal ini senada
dengan pendapat Armstrong dalam Kemala (2007:10) merokok adalah
menghisap asap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh dan
menghembuskannya kembali keluar.
Merokok merupakan kegiatan yang menyebabkan efek kenyamanan.
Rokok memiliki antidepressant yang menimbulkan efek kenyamanan pada efek pada perokok. Walaupun perilaku merokok merupakan
perilaku yang membahayakan kesehatan karena terdapat 4000 racun
dalam sebatang rokok. Merokok merupakan gangguan obsesif kompulsif.
Orang yang mengalami ganggua ini memiliki obsesi atau kompulsi yang
menetap. Obsesi adalah pikiran, ide atau citra yang terus menerus
Kompulsif adalah dorongan untuk melakukan tindakan stereotip dengan
tujuan yang umumnya tidak realistis yaitu menghilangkan situasi yang
menimbulkan ketakutan. Upaya untuk menolak kompulsi menimbulkan
ketegangan yang sangat besar sehingga individu biasanya menyerah dan
melaukannya.
Merokok sebagai gangguan kesehatan jiwa. Merokok berkaitan erat
dengan disabilitas atau penurunan kualitas hidup. Perilaku merokok
dipengaruhi perasaan negative. Menurut silvan dan tomkins (mua’din)
banyak orang merokok untuk perasaan negative dalam dirinya. Misalnya,
merokok karena marah, cemas, gelisah, rokok dianggap penyelamat.
Mereka merokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari
perasaan yang tidak enak. Menurut Fajar juliansyah (2010) perilaku
merokok pada remaja merupakan perilaku transmisif, ada 4 tahap dalam
perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu:
2.1.3.1.Tahappreparatory
Tahap ini remaja mendapatkan model yang menyenagkan dari
lingkungan dan media. Remaja yang mendapatkan gambaran yang
menyenagkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat,
atau dari hasil bacaan yang menimbulkan minat untuk merokok.
Life model remaja yaitu:
a. Teman sebaya yang paling utama menjadi life model.
Remaja akan menularkan perilaku merokok dengan cara
merokok, atau solidaritas kelompok. Dari teman sebaya ini
kemudian remaja yang belum merokok menginterpretasi
bahwa dengan merokok dia akan mendapatkan kenyamanan,
dan atau dapat diterima oleh kelompok, dari hasil
intepretasitersebut kemungkinan remaja membentuk dan
memperkokoh anticipatory belief. Yaitu belief yang mendasari bahwa remaja membutuhkan pengakuan teman
sebaya.
b. Orang tua, orang tua yang merokok kemungkinan berdampak
besar pada pembentukan perilaku merokok pada remaja. hal
tersebut membuat permission belief remaja. intepretasi remaja yang mungkin terbentuk adalah bahwasanya merokok
tidak berbahaya, tidak melanggar peraturan norma. Hasil dari
intepreadi tersebut memungkinkan terbentuknya permission belief system.
c. Model lain yang sangat berpengaruh juga adalah peran media
massa.
2.1.3.2.Tahapinitiation
Tahap perintisan merokok yaitu tahap seseorang meneruskan untuk
tetap mencoba-coba merokok. Setelah terbentuk
intepretasi-intepretasi tentang model yang ada, kemudian remaja
mengevaluasi hasil intepretasi tersebut melalui perasaan dan
2.1.3.3.Tahapbecoming smoker
Menurut Leventhal dan Clearly tahap becoming smoker merupakan tahap dimana seseorang telah mengkonsunsi rokok sebanyak empat
batang perhari maka seseorang tersebut mempunyai kecenderungan
menjadi perokok. Hal ini didukung dengan adanya kepuasan
psikologis dari dalam diri, dan terdapat reinforcement positif dari
teman sebaya. Untuk memperkokoh perilaku merokok paling tidak
ada kepuasan psikologis tertentu yang diperoleh ketika remaja
merokok, dijelaskan oleh Helmi dan Komalasari (2000:11) sebagai
akibat atau efek yang diperoleh dari merokok berupa kayakinan
dan perasaan yang menyenangkan. Hal ini memberikan
gambaranbahwa perilaku merokok bagi remaja dianggap bisa
memberikan kenikmatan yang menyenangkan. Selain mendapatkan
kepuasan psikologis,reinforcement positip dari teman sebaya juga
merupakan faktor yang menentukan remaja untuk merokok karena
lingkungan teman sebaya mempunyai arti yang penting bagi
remaja untuk bisa diterima.menurut Brigham dan Helmi (2000)
remaja tidak ingin dirinya disebut banci atau pengecut dan
merokok dianggap sebagai simbolisasi kejantanan,kekuasaan dan
kedewasaan. Bisa jadi simbol kedewasaan,kejantanan dan
kekuasaan merupakan hasil evaluasi preoses kognisi atas
life-model merokok yang kemudian dievaluasi melalui perasaan dan
tindakan yaitu dengan merokok akan terlihat jantan,dewasa,dan
berkuasa tentunya akan sangat membanggakan.
2.1.3.4.Tahapmaintenance of smoking
Pada tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara
pengaturan diri (self regulating). Merokok dilakukan untuk
memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan,pada tahap ini
individu telah betul-betul merasakan kenikmatan dari merokok
sehingga merokok sudah dilakukan sesering mungkin untuk
mengeliminasi kecemasan,menghindari kecemasan juga sebagai
upaya untuk relaksasi menghilangkan kelelahan,menghi;langkan
rasa tidak enak ketika makan,ketika bekerja,ketika lelah
berpikir,bahkan ketika merasa terpojokan. Tahap ini terjadi setelah
keyakinan inti terbentuk yaitu keyakinan dengan merokok
mendapat pengakuan dari teman sebaya (anticipatory beliefs), keyakinan merokok dapat memberikan kenikmatan dan
menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs) serta keyakinan bahwa merokok bukan merupakan suatu pelanggaran norma
(permissions beliefs). Selain itu perilaku permisi orang tua tentang bagaimana menyikapi remaja yang merokok dapat berpengaruh
pada perilaku merokok remaja,jika saja orang tua mau bersikap
tegas maka perilaku merokok pada tahap maintenance of smoking
2.2. Keaslian Peneliti
Tabel. 2.2.1. Keaslian Penelitian
2.2. Kerangka Teori
Gambar 2.1 Kerangka Teori (Juliansyah.,2010, Joemana,2004.,Helmi dan Kumalasari, 2000).
Merokok Pada Remaja 4 Tahap Kebiasaan Merokok
1. Preparatory
a. Teman sebaya b. Orang tua
c. Media lain(media
masa) 2. Initiation
3. Becoming Smoker
4. Maintenance For Smoker
Bahaya Merokok
1. Penyakit Jantung 2. Penyakit Paru-Paru 3. Penyakit kanker 4. Diabetes
2.4 Kerangka Konsep
Variabel bebas Variabel Terikat
Variabel Pengganggu
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
2.5. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian
(Notoatmodjo, 2012).
H1 atau Ha: Ada Hubungan antara Orang Tua Perokok dengan kebiasaan
merokok pada anak usia 15-18 tahun di di Desa majasto,
Kecamata Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.
Ho :Tidak ada Hubungan antara Orang Tua Perokok dengan
Kebiasaan Merokok Pada AnakUsia 15-18 Tahun Di Desa
Majasto, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.
Orang Tua Perokok Kebiasaan merokok pada
anak usia 15-18 tahun
1. Teman sebaya 2. Media Lain
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik
dengan rancangan case control studyyaitu mengkaji hubungan antara efek (kebiasaan merokokremaja) dengan faktor risiko (Orang tua perokok).
Adapun skema rancangan penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1.1. Skema rancangan penelitian kasus control
Apakah ada hubungan Penelitian di mulai
disini
Orang tua tidak merokok
Orang tua perokok
Orang tua tidak merokok
Kebiasaan merokok pada remaja (kasus)
3.2.Tempat dan waktu Penelitian 3.2.1. Tempat Penelitian
Penelitian ini sudah dilakukan di Desa Majasto Kecamatan Tawangsari
Kabupaten Sukoharjo
3.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilakukan padatanggal1 Maret - 30 April2015.
3.3.Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan
(Sugiyono,2012). Populasi dalam penelitian ini adalah remaja di Desa
yang berusia 15-18 Tahun Majasto Kecamatan Tawangsari Kabupaten
Sukoharjo sejumlah 84 responden.
3.3.2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi tersebut (Sugiyono,2012). Teknik sampling dalam
penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu teknik perhitungan sampel didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang
dibuat oleh peneliti sendiri sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, sampel
Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo yang di hitung
berdasarkan rumus besar sample.Menurut (Nursalam,2008) rumusnya :
n = N
1 + N (d)²
n = 84
1+84(0.1)2
n= 45,6 dibulatkan menjadi 46 orang
keterangan :
n : Perkiraan jumlah sampel
N: Perkiraan besar populasi
d : Tingkat kesalahan yang dipilih (d=0.1) (Dikutip dari Zainudin
M.2000).
3.3.2.1Kriteria Sample
3.3.2.1.1. Kriteria inklusi
a) Remaja tinggal bersama orang tuanya
b) Remaja yang bisa membaca dan menulis
c) Anak usia 15-18 tahun
3.3.2.1.2. Kriteria ekslusi
a) Remaja dengan gangguan mental
Adapun sampel dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Kelompok kasus yaitu remaja usia 15-18 tahun yang merokok dan
2. Kelompok kontrol yaitu remaja usia 15-18 tahun yang tidak
merokok dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
3.4.Variabel, Definisi Operasional, dan Skala Pengukuran 3.4.1. Variabel
Variabel adalah suatu sifat yang diukur dan diobservasi dan
nilai hasil ukurnya bervariasi antara satu obyek dengan obyek
lainya. Jadi variabel adalah sesuatu yang memiliki variasi nilai
(Mochammad,2012;h.16)
a. Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab perubahan
atau timbulnya variabel independent. Variabel ini juga bebas
mempengaruhi variabel lain dan sering disebut sebagai
variabel prediktator, resiko atau kausa (Aziza,2011;h.86).
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah orang tua perokok.
b. Variabel terikat sering disebut sebagai variabel output,
kriteria, konsekuen, merupakan variabel yang dipengaruhi
atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas
(Sugiyono,2012;h.39). Variabel terikat dalam penelitian ini
adalah kebiasaan remaja usia 15-18 tahun.
c. Variabel penggangu adalah variabel yang diangkat untuk
menentukan apakah ia mempengaruhi hubungan antara
variabel pengganggu dalam penelitian ini adalah teman sebaya
dan media lain (media massa).
3.4.2. Definisi Operasional
Variabel Definisi
Operasional
Alat Ukur Parameter Skala Data
Variabel bebas
1 Orang Tua Perokok
Orang tua yang merokok secara aktif setiap hari
3.5. Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data 3.5.1. Instrumen penelitian
Instrumen dalam penelitian ini adalah alat atau fasilitas yang
digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih
mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan
sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto,2010). Instrumen dalam
penelitian ini adalah angket yang akan diisi oleh responden yaitu anak
remaja usia 15 -18 tahun.
Penentuan skoring berpedoman pada aturan Guttman dengan pilihan jawaban ya dan tidak. Setiap jawaban ya diberi nilai 0 dan setiap jawaban
tidak diberi nilai 1. Skor total untuk remaja 0 berarti remaja merokok,skor
lebih atau sama dengan 1 berarti remaja tidak merokok, skor 0 untuk orang
tua berarti orang tua perokok, skor lebih atau sama dengan 1 berarti bukan
orang tua perokok.
3.5.2. Cara Pengumpulan Data
Cara pengumpulan data untuk remaja, peneliti akan mengikuti
kegiatan remaja yaitu arisan karang taruna yang dilakukan setiap bulan.
Peneliti menjelaskan secara singkat maksud dan tujuan, kemudian
membagikan angket kepada remaja yang berusia 15 – 18 tahun beriisi
empat pertanyaan yang harus diisi oleh responden tanpa ada intervensi
dari pihak manapun,satu pertanyaan untuk pribadi responden, satu
pertanyaan tentang orang tua responden dan dua pertanyaan untuk factor
dan dikumpulkan saat itu juga. Setelah semua angket terkumpul ,peneliti
akan memilahkan jawaban responden berdasarkan kriteria yang telah
dibuat oleh peneliti, baru akan ditarik sebuah kesimpulan data sesuai yang
di kehendaki oleh peneliti.
a. Uji Validitas
Uji validitas adalah salah satu indeks yang menunjukkan alat ukur
itu benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo,2010). Pada
penelitian ini pengujian validitas dengan menggunakan content validity, yaitu dengan membandingkan antara isi instrument dengan materi pelajaran yang telah diajarkan atau ditetapkan, yang telah di
validitaskan kepada dosen pembimbing sebelum penelitian
dilaksanakan, berupa angket berisi empat pertanyaan bagi responden .
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu
alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Notoatmodjo, 2010).
Dalam penelitian ini tidak ada uji reliabilitas karena alat ukur yang
3.6. Tehnik Pengolahan dan Analisa Data
3.6.1. Pengolahan data dalam penelitian ini meliputi:
a) Editing
Meneliti data yang sudah terkumpul kemudian mengecek atau
mengoreksi data yang telah dikumpulkan karena kemungkinan data
yang masuk ada yang kurang atau salah.
b) Coding
Setelah itu dilakukan pengkodean pada setiap jawaban yaitu pada
kebiasaan merokok kode 1 untuk jawaban merokok, kode2 untuk
jawaban tidak merokok, pada tingkat pendidikan kode 1 untuk
pendidikan SD,kode2 untuk SMP, kode 3 untuk SMA, untuk jenis
kelamin, kode 1 untuk laki-laki, kode 2 untuk perempuan.
c) Tabulating
Memasukkan data jawaban responden dalam tabel sesuai dengan
skor jawaban kemudian dimasukkan dalam tabel distribusi
frekuensi yang telah disiapkan (Hidayat, 2011)
Analisa data yang digunakan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan yaitu mempelajari hubungan antar variabel. Analisa data
yang digunakan pada penelitian ini adalah :
1) Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan dari variabel terikat dan variabel bebas. Pada
umumnya analisis ini menghasilkan distribusi frekuensi dan
prosentasi dari setiap variabel (Notoatmodjo, 2010).
P = F x 100% N
Keterangan :
P : Prosentase
F : Frekuensi/ jumlah jawaban ya
N: jumlah Responden
Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis univariat yaitu
mengetahui prosentase dari karakteristik responden, gambaran
orang tua perokok dan kebiasaan merokok pada anak usia
15-18 tahun di Desa Majasto, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten
Sukoharjo.
2) Analisis Bivariat
Analisisa data dalam penelitian ini menggunakan analisa
bivariat. Analisa bivariat adalah analisa yang dilakukan dengan
tujuan untuk menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan
antara orang tua perokok dengan kebiasaan merokok pada anak
usia 15-18 tahun. Dalam analisa data ini dapat dilakukan
pengujian statistik yaitu dengan Chi Square (X2) dengan menggunakan rumus menurut Arikunto (2002) yaitu :
ݔ
ଶ= ∑ሺ݂ െ ݂ሻ2݂
Keterangan :
X2 : Chi Square
fo : Frekuensi yang diperoleh berdasarkan data
fh : frekuensi yang diharapkan
∑ : Penjumlahan seluruhnya
Dalam penelitian ini menggunakan X analisa 5% dengan
derajat kepercayaan 95%. Apabila nilai P hitung >0,05 maka Ho
diterima (Sugiyono, 2007). Uji statistik yang digunakan untuk
3.7.Etika Penelitian
Etika adalah suatu keharusan pada saat akan memulai penelitian untuk
menjaga kerahasiaan dan memberi keamanan pada responden. Etika yang
harus ada dalam penelitian adalah sebagai berikut (Hidayat, 2007) :
3.7.1. Inform Consent
Inform consent adalah bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan
Beberapa informasi yang harus ada dalam inform consent antara lain : partisipasi responden, tujuan dilakukan penelitian, jenis data yang
dibutuhkan, komitmen, prosedur pelaksanaan, potensi masalah yang
akan timbul, manfaat dan kerahasiaan.
3.7.2. Anonimity
Identitas responden ditulis hanya dengan menuliskan kode saja.
3.7.3. Confidentiality
Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh
peneliti, hanya data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1. Hasil Penelitian 4.1.1 Analisa Univariat
Hasil analisa univariat ini dilakukan untuk menggambarkan karakteristik
responden berdasarkan usia responden, pendidikan responden, jenis kelamin
responden, media massa, teman sebaya, gambaran kebiasaan merokok pada
remaja dan gambaran merokok pada orang tua.
4.1.1.1Usia Responden
Tabel 4.1.1.1 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Usia
Kategori Rerata Median Nilai SD
Minimal Maxiamal
Usia 16,5 16,5 15 18 1,291
Sumber data primer tahun 2015
Dari tabel 4.1.1.1 menunjukkan rata-rata usia responden adalah
16,5 tahun, dengan nilai simpangan baku 1,291dengan usia terendah 15
tahun dan usia tertua adalah 18 tahun. Hal ini menunjukkan rentang usia
4.1.1.2Pendidikan Responden
Tabel 4.1.1.2 Distribusi Frekuensi Menurut Pendidikan
Pendidikan f
Sumber data primer tahun 2015
Tabel 4.1.1.2 Menunjukkan mayoritas pendidikan responden
adalah SMP yaitu 30 orang (65,2%).
4.1.1.3Jenis Kelamin Responden
Tabel 4.1.1.3 Distribusi Frekuensi Menurut Jenis Kelamin
Jenis
Sumber data primer tahun 2015
Tabel 4.1.1.3 Menunjukkan mayoritas responden adalah laki-laki
yaitu 38 orang (82,6%).
4.1.1.4Media Massa
Tabel 4.1.1.4 Distribusi Frekuensi Menurut Media Massa
Media Massa f
Sumber data primer tahun 2015
Tabel 4.1.1.4 Menunjukkan bahwa media massa juga berperan
dalam mempengaruhi kebiasaan merokok pada remaja yaitu 19 orang
4.1.1.5Teman Sebaya
Tabel 4.1.1.5 Distribusi Frekuensi Menurut Teman Sebaya
Merokok Kasus Kontrol
F % f %
Sumber data primer tahun 2015
Tabel 4.1.1.5 Menunjukkan pada kasus mayoritas teman sebaya
adalah perokok yaitu 18 orang (39,1%), dan pada kontrol mayoritas teman
sebaya tidak merokok yaitu 13 orang (28,3%).
4.1.1.6Gambaran Kebiasaan Merokok pada Orang Tua
Tabel 4.1.1.6 Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok pada Orang Tua
Merokok Kasus Kontrol
F % f %
Sumber data primer tahun 2015
Tabel 4.1.1.6 Menunjukkan pada kasus mayoritas orang tua adalah
perokok yaitu 17 orang (36,9%), dan pada kontrol mayoritas tidak
4.1.1.7Gambaran Kebiasaan Merokok pada Remaja
Tabel 4.1.1.7 Gambaran kebiasaan merokok pada remaja
Merokok Kasus Kontrol
F % f %
Sumber data primer tahun 2015
Tabel 4.1.1.7 Menunjukkan pada penelitian ini menggunakan dua
kelompok responden yaitu untuk kasus adalah remaja merokok 23
responden (50%) dan remaja yang tidak merokok 23 responden (50%).
4.1.2 Analisa Bivariat
Tabel 4.1.2. Tabel Hubungan Orang Tua Perokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Anak Usia 15-18 Tahun
Merokok
Keterangan *: signifikan : CI : Confidence Interval
Tabel 4.1.2. Menunjukkan hasil uji statistik dengan nilai X2 hitung =5,7
dengan nilai P = 0,017 (P<0,05) artinya ada hubungan antara orang tua
perokok dengan kebiasaan merokok pada anak usia 15-18 tahun Di Desa
Majasto Kecamatan Tawangsari. Nilai odds ratio (OR) = 2,12 dengan CI 95% 1,055-5,497 menunjukkan bahwa orang tua merokok mempunyai
BAB V PEMBAHASAN
5.1Analisa Univariat
5.1.1 Karakteristik Responden
Hasil penelitian menujukkan rerata usia respondenadalah 16,5 tahun
yaitu termasuk golongan usia remaja pertengahan, pada fase ini remaja
cenderung berperilaku mengikuti lingkungannya (Monk, 1999). Pada usia
remajapertengahan hubungan keluarga yang dulu sangat erat sekarang agak
terpecah, remaja cenderung narsistis yaitu mencintai diri sendiri dan
memilih teman-teman yang sama dengan dirinya. Pada masa ini remaja
mengalami krisis aspek psikososial yaitu masa pencarian gambaran diri
dalam kebebasan pergaulan ( Gatchel, 1989 ). Remaja juga mulai memiliki
citra dalam dirinya sehingga merokok bagi remaja pada tahap ini merupakan
perilaku simbolisasi dari kematangan, kekuatan dan daya tarik terhadap
lawan jenis (Brigham,1991)
Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berpendidikan
sekolah menengah pertama yaitu 30 orang (65,2%). Pada masa sekolah
menengah pertama biasanya anak remaja ingin mencoba hal baru dan
cenderung mudah terpengaruh misalnya merokok. Hasil ini didukung oleh
merokok remaja dan lingkungan teman sebaya merupakan faktor prediktor
terhadap perilaku merokok pada remaja.
Hasil penelitianmenunjukkan mayoritas jenis kelamin responden
adalah laki-laki yaitu 38 orang (82,6%). Menurut Hasanah, A. A., dan
Sulastri (2010), yaitu dukungan orang tua, teman sebaya dan iklan
mempengaruhi perilaku merokok pada siswa laki-laki Di Madrasah Aliyah
Negeri 2 Boyolali. Sesuai teori dari Gunarso (2002) yang menyatakan
remaja laki-laki cenderung mengikuti promosi rokok yang sering
menggambarkan keperkasaan laki-laki dengan cara-cara menggunakan
bintang idaman atau artis yang diidolakan remaja laki-laki saat ini
dibanding perempuan.
Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden terpapar media
massa tentang informasi terkait dengan rokok yaitu 19 orang (82,6%).
Hasil penelitian Agus (2012) yaitu kebiasaan merokok tidak sepenuhnya
dipengaruhi oleh orang tua bisa juga dari lingkungan, pergaulan teman
seabaya serta media sosial. Penelitian ini juga didukung oleh Kustanti
(2014) yaitu ada hubungan antara pengaruh iklan dengan perilaku
merokok pada remaja dengan nilai statistik p= 0,024.
Hasil penelitian menunjukkan hasil bahwa teman sebaya responden
kasus (perokok) adalah mayoritas juga merokok. Hal ini menunjukkan
teman sebaya juga menjadi pemicu terhadap kebiasaan merokok. Menurut
Komalasari (2000) menyatakan bahwa lingkungan sosial merupakan
lingkungan sosial dalam hal ini pergaulan juga turut membentuk
kepribadian remaja. Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian dari
Kustanti (2014) tentang Hubungan antara Pengaruh keluarga, pengaruh
teman dan pengaruh iklan terhadap perilaku merokok pada remaja di SMP
N I Slogohimo Wonogiri yaitu ada hubungan antara pengaruh teman
dengan perilaku merokok pada remaja dengan nilai uji statistik p=0,013.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas remaja perokok juga
mempunyai orang tua yang merokok pula yaitu 17 orang (36,9). Orang
tua mempunyai peran penting dalam kebiasaan merokok pada remaja
karena lingkungan pertama bagi remaja adalah keluarga (Mulyati,2013).
Penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian dari Helmi (2000), yaitu
sikap permisif orang tua terhadap perilaku merokok remaja dan
lingkungan teman sebaya merupakan prediktor terhadap kebiasaan
merokok pada remaja.
5.1.2 Analisa Bivariat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara orang
tua perokok dengan kebiasaan merokok pada anak usia 15-18 tahun Di
Desa Majasto Tawangsari Sukoharjo dengan nilai odds ratio (OR) = 2,12 dengan CI 95% 1,055-5,497 menunjukkan bahwa orang tua merokok
mempunyai kemungkinan anaknya merokok 2,12 kali dibanding yang
tidak merokok. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh
Durkin dan Helmi (2010) yaitu konsep sosialisasi pertama berkembang
nilai-nilai, sistem belief, sikap maupun perilaku-perilaku dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya.
Hasil penelitian ini didukung oleh Kustanti, 2014 yang berjudul
Hubungan Antara Pengaruh Keluarga, Pengaruh Teman Dan Pengaruh
Iklan Terhadap Perilaku Merokok pada Remaja di SMP N I Slogohimo,
Wonogiri. Dengan hasil terdapat hubungan antara pengaruh keluarga
dengan perilaku merokok pada remaja. Penelitian lain yang mendukung
adalah dari Wahyuni, D dan Sudaryanto , A (2010) yang berjudul
Faktor-faktor yang Berhubungan denagn Sikap Merokok pada Remaja di Desa
Karang Tengah Keacamatan Sragen dengan hasil faktor orang tua
mempengaruhi sikap merokok pada remaja di Desa Karang Tengah
Kecamatan Sragen.
Kebiasaan merokok pada anak remaja memang tidak terlepas dari
pendidikan dalam keluarga yaitu pola asuh orang tua. Teori yang
dikemukakan mulyanti (2013) menyatakan bahwa lingkungan pertama
pada dasarnya diperoleh dari keluarga, tetapi lingkungan masyarakat juga
dapat mempengaruhi psikologi seorang anak. Kebiasaan merokok anak
paling cepat meniru dari kebiasaan orang yang paling bermakna di dalam
keluarga (Lindawati,2011).
Perilaku merokok adalah perilaku yang dipelajari dari pihak-pihak
yang berpengaruh besar dalam proses sosialisasi. Konsep sosialisasi
pertama berkembang dari sosiologi dan psikologi sosial yang merupakan
perilaku dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya (Durkin dan
Helmi, 2010). Merokok pada anak remaja sebenarnya tidak dikehendaki
orang tua, bahkan masyarakat juga tidak menginginkan anggota
masyarakatnya untuk menjadi seorang perokok. Teori ini juga didukung
oleh teori Green 1980 yaitu kebiasaan orang tua merupakan faktor penguat
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
6.1. Simpulan
6.1.1. Karakteristik responden
a. Usia responden rata-rata adalah 16,5 tahun dengan nilai simpangan
baku 1,291 dengan usia terendah 15 tahun dan usia tertinggi 18
tahun. Dengan rentang usia 15,2 tahun sampai dengan 17,8 tahun.
b. Pendidikan responden mayoritas adalah sekolah menengah pertama
62,5%.
c. Jenis kelamin responden mayoritas lak-laki 82,6%.
d. Remaja mengenal rokok mayoritas dari media massa 91,3%.
6.1.2 Mayoritas orang tua perokok mempunyai anak yang mempunyai
kebiasaan merokok yaitu 36,9% dan mayoritas orang tua yang tidak
merokok juga mempunyai anak yang tidak merokok juga 30,5%.
6.1.3. Mayoritas teman sebaya remaja perokok juga merokok yaitu 39,1%,
dan mayoritas teman sebaya yang tidak merokok juga tidak merokok
yaitu 28,3%.
6.1.4. Ada hubungan antara orang tua perokok dengan kebiasaan merokok
pada anak usia 15-18 tahun Di Desa Majasto Kecamatan Tawangsari
mempunyai kemungkinan 2,12 kali untuk anaknya mempunyai
kebiasaan merokok.
6.2. Saran
6.2.1. Bagi masyarakat
a. Bagi masyarakat secara umum hendaknya tidak merokok dan jika
belum mampu berhenti merokok sebaiknya tidak merokok
ditempat umum.
b. Bagi orang tua sebaiknya berhenti merokok agar anak tidak meniru
kebiasaan merokok orang tua, jika belum mapu berhenti sebaiknya
tidak merokok didepan anak.
c. Bagi anak sebaiknya tidak merokok karena mengakibatkan
kecanduan atau ketergantungan.
d. Bagi relawan kesehatan di masyarakat sebaiknya berkoordinasi
dengan tokoh masyarakat, tokoh agama dan lembaga pemrintahan
terkait sehubungan dengan penanganan kebiasaan merokok pada
masyarakat.
6.2.2. Bagi peneliti lain
Bagi peneliti selanjutnya agar dapat meneliti tentang merokok dengan
meneliti karakteristik responden baik anak maupaun orang tuanya.
6.2.3. Institusi kesehatan
Memberikan konseling tentang bahaya merokok bagi anak,
DAFTAR PUSTAKA
Aditama Tjandra Yoga. 1997. Rokok dan Kesehatan. Penerbit UI Press. Jakarta. Agus, Wibowo, 2012. Pendidikan Karakter Usia Dini. Yogyakarta : Penerbit
Pustaka Pelajar.
Arikunto, Suharsini, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis (edisi revisi, 2010). Jakarta : PT Rineka Cipta ; 2002.
Brigham, C.J., 1991. Social Psycology. Boston : Harper Collins Publisher,Inc. Dian, K,. 2009. Faktor-Faktor Penyebab Periaku Merokok pada Remaja.
Yogyakarta : UII.
Ekowati, 2012. Jumlah Perokok Muda Meningkat. Diakses 10 September 2012 dari http:// Tempo.co.id
Fajar Juliansyah, 2010. Perilaku Merokok Pada remaja.
Gatchel, R.J. 1989. An Introdunction to Health Psychology. New York : Mc Graw-Hill Book Company.
Green Lawrence, et all. 1980. Perencanaan Pendidikan Kesehatan. Terjemahan Sulazmi Mamdy, dkk. FKM UI. Jakarta.
Gunarso Singgih. 2002. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Penerbit PT. BPK Gunung Mulia. Jakarta.
Kemala, N. Indri, 2007. Perilaku Merokok pada Remaja. Semarang : USU. Komalasari,D & Helmi, A.F (2000). Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok
pada Remaja.
Kemenkes RI, 2010. Pedoman Teknik Konseling Kesehatan. Jakarta : Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Kementrian Kesehatan RI.
Lindawati (2011). Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok siswa siswi SMP Di Daerah Jakarta Selatan Tahun 2011.
(Poltekesjakarta1.ac.id/741_Lindawati).
Mulyanti, S. 2013. Perkembangan Psichologi Anak. Yogyakarta :Laras Media Prima.
Mu’tadin, Z. 2002. Remaja dan Rokok.
Notoatmodjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka cipta. Notoatmodjo, 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Nursalam, 2011. Konsep dan Metodologi Keperawatan (ed. 2). Jakarta : Salemba
Medika ; 2011.
Pikiran Rakyat, 2009. Kebiasaan Merokok dalam Tinjauan Kesehatan Jiwa. 10 mei 2009.
Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif: Jakarta : alfabeta ; 2012.