• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ORANG TUA PEROKOK DENGAN KEBIAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "HUBUNGAN ORANG TUA PEROKOK DENGAN KEBIAS"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ORANG TUA PEROKOK DENGAN KEBIASAAN

MEROKOK PADA ANAK USIA 15-18 TAHUN

DI DESA MAJASTO TAWANGSARI

SUKOHARJO

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Sarjana Keperawatan

Oleh : Wahyudi NIM. ST 13078

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN

STIKES KUSUMA HUSADA

(2)
(3)

iii

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Wahyudi

Nim : ST 13078

Dengan ini menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapat gelar

akademik (sarjana), baik di STIKes Kusuma Husada Surakarta maupun di

perguruan tinggi lain.

2. Dalam skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis

dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dalam daftar pustaka.

3. Pernyataan ini saya buat sesungguhnya dan apa berupa pencabutan gelar

yang telah bila kemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran

dalam pernyataan ini maka saya bersedia menerima sanksi dari pihak

akademik yang telah diperoleh karena karya ini, serta sanksi yang lain

sesuai dengna norma yang berlaku di perguruan tinggi.

Surakarta, Januari 2015

Yang membuat pernyataan

Wahyudi

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur dan dengan kerendahan hati penulis panjatkan ke

hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga

penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini merupakan persyaratan untuk

memperoleh gelar sarjana keperawatan. Secara khusus, penulis menyampaikan

penghargaan dan ucapan terima kasih yang tulus kepada:

1. Ibu Dra. Agnes Suharti, M.Si Ketua STIKes Kusuma Husada Surakarta.

2. Ibu Ns, Wahyu Rima Agustin, S. Kep., M.Kep Ketua Program Studi S-1

Keperawatan

3. Ibu Happy Indri Hapsari, S. Kep., Ns., M. Kep Pembimbing Utama yang telah

memberikan arahan, bimbingan serta saran dalam penyusunan proposal

penelitian ini

4. Ibu Alfyana Nadya Rachmawati,,S.Kep.,Ns.,M.Kep. Pembimbing

pendamping yang telah memberikan arahan, bimbingan serta saran dalam

penyusunan proposal penelitian ini

5. Segenap dosen dan staf karyawan STIKes Kusuma Husada Surakarta yang

telah memberikan bimbingan dan arahan.

6. Direktur Rumah Sakit umum Dr. Moewardi Surakarta, yang telah memberi

izin belajar.

7. Kepala Desa Majasto Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo yang

(5)

v

8. Teman-temanku di Program Studi S-1 Keperawatan Stikes Kusuma Husada

Surakarta yang telah memberi do’a dukungan dan bantuan selama penelitian.

9. Teman-teman di ruang anggrek 3 RSU Dr. Moewardi Surakarta yang telah

memberi do’a dukungan dan bantuan selama penelitian.

10.Keluargaku tercinta, istriku, dan kedua buah hatiku Sunan, Puan serta

keluarga besarku yang turut berkorban dan memberi semangat, do’a, perhatian

dan semua pengorbanan yang menjadikan perjuangan terasa ringan.

11.Teman-teman dan sahabat seperjuangan angkatan 2014.

12.Semua pihak (keluarga dan handaitaulan) yang tidak dapat penulis sebutkan

satu per satu, atas setiap bentuk bantuan dan dukungan.

Allah sebagai sumber segala berkat, kiranya senantiasa melindungi dan

memberikan rahmat yang berlimpah. Penulis berharap hasil penelitian ini

bermanfaat. Saran dan kritik untuk perbaikan akan penulis terima, agar lebih

bermanfaat.

Surakarta, Januari 2015

(6)

vi DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN... ii

PERNYATAAN ... iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 4

1.3. Tujuan Penelitian ... 4

1.4. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori ... 6

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 26

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 27

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 27

3.4. Variabel, Definisi Operasional, dan Skala Pengukuran ... 29

(7)

vii

3.6. Teknik Pengolahan dan Analisa Data ... 33

3.7. Etika Penelitian ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1. Analisa Univariat ... 37

4.2. Analisa Bivariat ... 40

BAB V PEMBAHASAN

5.1. Pembahasan Univariat ... 41

5.2. Pembahasan Bivariat ... 43

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

6.1. Simpulan ... 46

6.2. Saran ... 47

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(8)

viii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.2.1. Keaslian Penelitian ... 24

Tabel 3.4.2. Definisi Operasional ... 31

Tabel 4.1.1.1. Usia Responden ... 39

Tabel 4.1.1.2. Pendidikan Responden ... 39

Tabel 4.1.1.3. Jenis Kelamin Responden ... 40

Tabel 4.1.1.4. Media Massa ... 40

Tabel 4.1.1.5. Teman Sebaya ... 40

Tabel 4.1.1.6. Gambaran Kebiasaan Merokok Pada Orang Tua ... 41

Tabel 4.1.1.7. Gambaran Kebiasaan Merokok Pada Remaja ... 41

Tabel 4.1.2. Hubungan Orang Tua Perokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Anak Usia 15-18 Tahun ... 42

(9)

ix

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.3.1.KerangkaKonsep ... 25

Gambar 2.3.2. Kerangka Teori ... 26

(10)

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Usulan Penelitian

Lampiran 2 Pengajuan Judul Skripsi

Lampiran 3 Surat Pengajuan Ijin Studi Pendahuluan

Lampiran 4 Surat Balasan Ijin Studi Pendahuluan

Lampiran 5 Surat Ijin Penelitian

Lampiran 6 Surat Balasan Ijin Penelitian

Lampiran 7 Surat Permohonan Menjadi Responden

Lampiran 8 Lembar Persetujuan Menjadi Responden

Lampiran 9 Lembar Angket

Lampiran 10 Data Uji Statistik

Lampiran 11 Jadwal Penelitian

(11)

xi

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA 2015

Wahyudi

Hubungan Orang Tua Perokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Anak Usia 15-18 Tahun Di Desa Majasto Kecamatan Tawangsari Kabupaten sukoharjo

Abstrak

Perilaku merokok pada remaja saat ini sudah tidak tabu lagi, dimanapun tempat tidak sulit menjumpai anak remaja dengan kebiasaaan merokok.Orang tua mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan perilaku anak,sehingga diharapkan menjadi role model yang baik bagi anaknya dalam kebiasaan merokok Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan antara orangtua perokok dengan kebiasaan merokok pada anak usia 15-18 tahun.

Pelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik dengan rancangan case control study. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja di Desa yang berusia 15-18 Tahun Majasto Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo sejumlah 84 responden dan jumlah sampel adalah 46 responden. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling.

Hasil penelitian ini menunjukan ada hubungan antara orang tua perokok dengan kebiasaan merokok pada anak usia 15-18 tahun Di Desa Majasto Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo dengan nilai p 0,017. Orang tua yang merokok mempunyai kemungkinan 2,12 kali untuk anaknya mempunyai kebiasaan merokok.

(12)

xii

BACHELOR PROGRAM IN NURSING SCIENCE KUSUMA HUSADA HEALTH SCIENCE COLLEGE OF SURAKARTA 2015

Wahyudi

Smoking for the adolescents is not taboo any more. It is not difficult to find the adolescents with smoking habit. Parents have a large effect on the formation of their children's behaviors. Therefore, the parents are expected to be good role models to their children on the smoking habits. The objective of this research is to investigate whether there is a correlation between the smoker parents and the smoking habit of the adolescents aged 15-18 years old.

This research used the quantitative analytical research method with the case control study design. Its population was all of the adolescents aged 15-18 years old as many as 84 in Majasto village, Tawangsari sub-district, Sukoharjo regency. The samples of research consisted of 46 respondents and were taken by using the purposive sampling technique.

The result of research shows that there was a correlation between the smoker parents and the smoking habit of the adolescents aged 15-18 years old in Majasto village, Tawangsari sub-district, Sukoharjo regency with the p-value = 0.017. The children with the smoker parents had the possibility to have the smoking habit of2.12 times.

(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Remaja adalah orang yang berusia 12-18 tahun (WHO, dalam nuradita,

2010 ). Anak adalah seseorang sebelum berusia 18 tahun (UU no 44 Tahun

2008). Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke

masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk

memasuki masa dewasa (Sri Rumini & Siti Sundari,2004). Dalam

perkembangan menuju dewasa, anak mengalami berbagai perubahan meliputi

perubahan biologik, perubahan psikologis dan perubahan sosial

(Notoatmodjo, 2007), perubahan tersebut mempengaruhi perilaku anak di

lingkungan masyarakat. Perubahan perilaku anak, ada yang mengarah ke arah

positif dan ada yang ke arah negatif, perilaku negatif salah satu diantaranya

adalah remaja dengan perilaku merokok.

Remaja dengan perilaku merokok saat ini dianggap sebagai perilaku

yang wajar di masyarakat, tingkat penyebaran perokok saat ini paling tinggi

juga terjadi pada anak remaja. Perilaku merokok adalah gaya hidup yang

merugikan kesehatan diri sendiri dan orang lain. Perilaku merokok adalah

perilaku yang dipelajari dari pihak-pihak yang berpengaruh besar dalam

proses sosialisasi. Konsep sosialisasi pertama berkembang dari sosiologi dan

psikologi sosial yang merupakan suatu proses transmisi nilai-nilai, sistem

(14)

generasi berikutnya (Durkin dan Helmi, 2010). Merokok pada anak remaja

sebenarnya tidak dikehendaki orang tua, bahkan masyarakat juga tidak

menginginkan anggota masyarakatnya untuk menjadi seorang perokok.

Perilaku merokok pada remaja dilatarbelakangi oleh motivasi untuk

mendapatkan pengakuan (anticipatory beliefs), untuk menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs) dan menganggap perbuatan tersebut tidak melanggar norma (permission beliefs) (Joemana,2004). Menurut Hansen dalam Kemala (2008) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi

perilaku merokok yaitu : faktor biologis, faktor psikologis, faktor demografis,

faktor sosial-kultural, dan faktor sosial politik. Orang tua sebagai role model

bisa membentuk terjadinya kedua faktor tersebut yang mana bisa menjadi

lingkungan terdekat dengan anak dalam lingkup keluarga serta membentuk

kepribadian sang anak dalam pemberian pola asuh. Menurut Agus (2012)

pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang utama dan pertama

bagi anak yang tidak bisa digantikan oleh lembaga pendidikan

manapun,sehingga pola asuh yang diberikan orang tua dalam memberikan

asuhan, perhatian dan contoh positif sangat penting sehingga mereka tidak

melakukan kebiasakan merokok sejak dini (Enrine,2012).

Model dan penguat bagi para remaja untuk menjadi seorang perokok,

yaitu dengan merujuk konsep transmisi perilaku yaitu dapat ditranmisikan

melalui transmisi vertikal (orang tua ke anaknya) maupun transmisi

horisontal (oleh teman sebayanya) (Berry dkk,1992). Pernyataan ini sama

(15)

merokok merupakan perilaku transmisif yang dipelajari dan ditularkan

melalui aktivitas teman sebaya dan perilaku permisif orang tua.

Menurut World Health Organization (WHO)dalam ( Kemenkes RI, 2012) jumlah perokok di Indonesia yaitu terbesar ketiga di dunia dan jumlah

kematian akibat kebiasaan merokok mencapai 400 ribu orang per tahun. Hasil

penelitian di Indonesia seseorang mulai merokok di usia remaja selalu

mengalami peningkatan, dari data Riskesdas 2003 ada 31% usia remaja

(15-19 th) mulai merokok, pada tahun 2007 ada 33,1% remaja mulai merokok

dan tahun 2010 ada 43,3% remaja mulai merokok. Secara nasional kelompok

usia yang pertama kali merokok di mulai pada usia 15-19 tahun. Data

perokok menurut Nuradita(2006) menunjukkan prevalensi perokok 16 kali

lebih tinggi pada laki-laki yaitu (65,9%) dibandingkan perempuan (4,2%).

Data Kemenkes RI (2010) di Indonesia prevalensi merokok pada usia 15

tahun ke atas yakni pria 63,15% (naik 1,4% dibandingkan tahun 2001) dan

wanita 4,5 % (naik tiga kali lipat di bandingkan tahun 2001).

Dari studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 17 November

2014 di Desa Majasto terdapat 1105 KK, terdapat pemuda/pemudi usia

13-18 tahun berjumlah 303 orang. Dari data sampling 20 Kepala Keluarga yang

mempunyai anak remaja terdapat 17 orang tua perokok, dan 23 remaja

merokok dari 27 orang total jumlah remaja. Dari 23 remaja yang merokok

tersebut, orang tuanya adalah perokok. Berdasarkan permasalahan tersebut

(16)

dengan kebiasaan merokok pada anak usia 15-18 tahun Di Desa Majasto,

Tawangsari, Sukoharjo.

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakangmasalah di atas maka rumusan masalah penelitian ini

adalah “Adakah hubungan antara orang tua perokok dengan kebiasaan

merokok pada anak usia 15-18 tahun di Desa Majasto, Tawangasari,

Sukoharjo?”

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan umum

Untuk mengetahui hubungan antara orang tua perokok dengan kebiasaan

merokok pada anak usia 15-18 tahun di Desa Majasto, Tawangsari,

Sukoharajo.

1.3.2. Tujuan Khusus

1) Untuk mengetahui karakteristik responden berdasarkan usia,

pendidikan, jenis kelamin, media massa dan teman sebaya.

2) Untuk mengetahui gambaran orang tua perokok di Desa Majasto,

Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.

3) Untuk mengetahui gambaran kebiasaan merokok pada anak usia

(17)

4) Untuk menganalisis hubungan antara orang tua perokok dengan

kebiasaan merokok pada anak usia 15-18 tahun di Desa Majasto,

Kecamatan tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.

1.4.Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi masyarakat

Diharapkan orang tua menjadi role model yang baik untuk anak dengan mengurangi kebiasaan merokok didepan anak.

1.4.2. Bagi peneliti

Diharapkan dapat digunakan sebagai media belajar tentang metodologi

penelitian.

1.4.3. Bagi institusi kesehatan

Diharapkan dapat melakukan promosi kesehatan tentang bahaya merokok

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Landasan Teori 2.1.1. Remaja

2.1.1.1Pengertian Remaja

Remaja adalah orang yang berusia 12-18 tahun (WHO, dalam

nuradita, 2010 ). Remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak

ke masa dewasa, yang meliputi semua perkembangan yang dialami

sebagai persiapan memasuki masa dewasa (Dariyo, 2004). Perubahan

perkembangan tersebut meliputi aspek fisik, psikis dan psikososial.

Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan

manusia. Masa remaja merupakanmasa perubahan atau peralihan dari

masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologik,

perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Di sebagian besar

masyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai pada

usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun (Notoatmodjo,

2007).

Menurut Soetjiningsih (2004) remaja merupakan masa peralihan

antara masa anak-anak yang dimulai saat terjadinya kematangan

seksual yaitu antara usia 11atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun,

yaitu masa menjelang dewasa muda. Berdasarkan umur kronologis

(19)

1) Menurut WHO, remaja adalah anak yang telah mencapai umur

10-18 tahun.

2) Menurut undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1979, anak

dianggap sudah remaja apabila cukup matang, yaitu umur 16 tahun

untuk perempuan dan 19 tahun untuk anak laki-laki.

3) Buku pediatri, remaja adalah bila seorang anak telah mencapai

umur 10-18 tahun untuk perempuan dan umur 12-20 tahun anak

laki-laki.

4) Menurut undang-undang perburuhan, anak dianggap remaja

apabila telah mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan

mempunyai tempat tinggal

5) Menurut dinas kesehatan anak dianggap sudah remaja apabila

anak sudah berunur 18 tahun, sesuai dengan saat lulus sekolah

menengah.

2.1.1.2Tahap-Tahap Perkembangan dan Batasan Remaja

2.1.1.2.1. Menurut Soetjiningsih (2004), berdasarkan proses penyesuaian diri

menuju kedewasaan,aAda 3 tahap perkembangan remaja yaitu :

1) Remaja awal (Early adolescent)

Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan

perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan

dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu.

(20)

lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis, dengan dipegang

bahunya saja oleh lawan jenis ia sudah akan berfantasi erotik.

2) Remaja madya (middle adolescent)

Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan,

remaja akan senang kalau banyak teman yang mengakuinya. Ada

kecenderungan narsistis yaitu mencintai diri sendiri, dengan

menyukai teman-teman yang sama dengan dirinya, selain itu ia

berada dalam kondisi kebingungan karena tidak tahu memilih

yang mana peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri,

optimistis atau pesimistis, idealistis atau materialis, dan

sebagainya.

3) Remaja Akhir (late adolescent)

Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa

dan ditandai dengan pencapaian lima hal yaitu:

a) Minat makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek

b) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman-penglaman baru.

c) Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.

d) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri

dengan orang lain.

(21)

2.1.1.2.2. Menurut Rumini dan Siti Sundari (2004:53), berdasarkan sifat atau

ciri perkembangan , rentang waktu masa remaja dibagi menjadi tiga

tahap yaitu:

1. Masa remaja awal (12-15 tahun)

Remaja mempunyai peran yang unik yaitu mulai tidak mau lagi

tergantung pada orang tua.

2. Masa remaja tengah (15- 18 tahun)

Remaja mempunyai perkembangan cara dan pola berpikir yang

baru.

3. Masa remaja akhir (18-21 tahun)

Remaja mulai mempersiapkan diri menuju dewasa dan telah

mulai berpikir menentukan pasangan hidup rumah tangga.

2.1.2 Merokok

2.1.2.1.Pengertian Rokok

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70

hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter

sekitar 10 mm yang berisidaun-dauntembakau yang telahdicacah.

Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar

asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujunglainnya (Juliansyah,

2010). Rokok dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan atas

bahan pembungkus rokok, bahan baku atau isi rokok, proses

(22)

2.1.2.2.Jenis – Jenis Rokok.

2.1.2.2.1.Rokok berdasarkan bahan pembungkus.

a) Klobot: rokok yang bahan pembungkusnya berupa kulit jagung.

b) Kawung: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren.

c) Sigaret: rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas.

d) Cerutu: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun

tembakau.

e) Rokok daun nipah

2.1.2.2.2.Rokok berdasarkan bahan baku atau isi.

a) Rokok putih: rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun

tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan

aroma tertentu.

b) Rokok kretek: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun

tembakau dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan

efek rasa dan aroma tertentu.

c) Rokok klembak: rokok yang bahan baku atau isinya berupa

daun tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk

(23)

2.1.2.2.3.Rokok berdasarkan proses pembuatannya.

a) Sigaret Kretek Tangan (SKT)

Rokok yang proses pembuatannya dengan cara digiling

atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu

sederhana.

b) Sigaret Kretek Mesin (SKM)

Rokok yang proses pembuatannya menggunakan mesin.

Sederhananya, material rokok dimasukkan ke dalam mesin

pembuat rokok. Keluaran yang dihasilkan mesin pembuat

rokok berupa rokok batangan. Saat ini mesin pembuat rokok

telah mampu menghasilkan keluaran sekitar enam ribu sampai

delapan ribu batang rokok per menit. Mesin pembuat rokok,

biasanya dihubungkan dengan mesin pembungkus rokok

sehingga keluaran yang dihasilkan bukan lagi berupa rokok

batangan namun telah dalam bentuk pac. Ada pula mesin

pembungkus rokok yang mampu menghasilkan keluaran

berupa rokok dalam pres, satu pres berisi 10 pac, sayangnya

belum ditemukan mesin yang mampu menghasilkan SKT

karena terdapat perbedaan diameter pangkal dengan diameter

ujung SKT. Pada SKM, lingkar pangkal rokok dan lingkar

(24)

c) Sigaret Kretek Mesin sendiri dapat dikategorikan kedalam 2

bagian :

1) Sigaret Kretek Mesin Full Flavor (SKM FF): rokok yang dalam proses pembuatannya ditambahkan aroma rasa

yang khas. Contoh: Gudang Garam International,

Djarum Super dan lain-lain.

2) Sigaret Kretek Mesin Light Mild (SKM LM): rokok mesin yang menggunakan kandungan tar dan nikotin

yang rendah. Rokok jenis ini jarang menggunakan aroma

yang khas. Contoh: A Mild, Clas Mild, Star Mild, U Mild, L.A. Lights, Surya Slims dan lain-lain.

2.1.2.2.4.Rokok berdasarkan penggunaan filter.

a) Rokok Filter (RF)

Rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus.

b) Rokok Non Filter (RNF)

Rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus.

2.1.2.2.5.Dilihat dari komposisinya:

a) Bidis: Tembakau yang digulung dengan daun temburni

kering dan diikat dengan benang. Tar dan karbon

monoksidanya lebih tinggi daripada rokok buatan pabrik.

(25)

b) Cigar: Dari fermentasi tembakau yang diasapi, digulung

dengan daun tembakau. Adaberbagai jenis yang berbeda di

tiap negara. Yang terkenal dari Havana, Kuba.

c)Kretek: Campuran tembakau dengan cengkeh atau aroma

cengkeh berefek mati rasa dan sakit saluran pernapasan.

Jenis ini paling berkembang dan banyak di Indonesia.

d) Tembakau langsung ke mulut atau tembakau kunyah juga

biasa digunakan di AsiaTenggara dan India. Bahkan 56

persen perempuan India menggunakan jenis kunyah.

Adalagi jenis yang diletakkan antara pipi dan gusi, dan

tembakau kering yang diisap dengan hidung atau mulut.

e) Shisha atau hubbly bubbly: Jenis tembakau dari buah-buahan atau rasa buah-buah-buahan yang disedot dengan pipa

dari tabung. Biasanya digunakan di Afrika Utara, Timur

Tengah, dan beberapa tempat di Asia. Di Indonesia, shisha

sedang menjamur seperti dikafe-kafe.

2.1.2.2.6. Zat yang Terkandung dalam Rokok

Bahaya rokok dan dampak rokok bagi kesehatan memang

sudah dicantumkan dalam bungkus rokok yang dijual dipasaran.

Disana disebutkan bahaya rokok untuk kesehatan "bisa

menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan

gangguan kehamilan dan janin". Akan tetapi, walaupun bahaya

(26)

disebutkan bungkus, masih banyak masyarakat Indonesia yang

merokok aktif. Bukan saja Indonesia, bahkan dunia.

1) Zat yang terkandung dalam rokok.

a) Nikotin

Zat ini mengandung candu bisa menyebabkan seseorang

ketagihan untuk trus menghisap rokok, Pengaruh bagi

tubuh manusia :

a) menyebabkan kecanduan / ketergantungan

b) merusak jaringan otak

c) menyebabkan darah cepat membeku

b) Tar

Bahan dasar pembuatan aspal yang dapat menempel pada

paru-paru dan bisa menimbulkan iritasi bahkan kanker,

Pengaruh bagi tubuh manusia :

1. membunuh sel dalam saluran darah

2. Meningkatkan produksi lendir diparu-paru

3. Menyebabkan kanker paru-paru

c) Karbon Monoksida

Gas yang bisa menimbulkan penyakit jantung karena gas

ini bisa mengikat oksigen dalam tubuh. Pengaruh bagi

tubuh manusia :

a. mengikat hemoglobin, sehingga tubuh kekurangan

(27)

b. menghalangi transportasi dalam darah

d) Zat Karsinogen

Pengaruh bagi tubuh manusia : Memicu pertumbuhan sel

kanker dalam tubuh.

e) Zat Iritan

1) Mengotori saluran udara dan kantung udara dalam

paru-paru.

2) Menyebabkan batuk.

2) Bahaya Merokok

a. Penyakit jantung

Rokok menimbulkan aterosklerosis atau terjadi pengerasan pada pembuluh darah. Kondisi ini merupakan penumpukan

zat lemak di arteri, lemak dan plak memblok aliran darah

dan membuat penyempitan pembuluh darah. Hal ini

menyebabkan penyakit jantung. Jantung harus bekerja lebih

keras dan tekanan ekstra dapat menyebabkan angina atau

nyeri dada. Jika satu arteri atau lebih menjadi benar-benar

terblokir, serangan jantung bisa terjadi semakin banyak

rokok yang dihisap dan semakin lama seseorang merokok,

semakin besar kesempatannya mengembangkan penyakit

(28)

b.Penyakit paru

Risiko terkena pneumonia, emfisema dan bronkitis kronis

meningkat karena merokok. Penyakit ini sering disebut

sebagai penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Penyakit

paru-paru ini dapat berlangsung dan bertambah buruk dari

waktu ke waktu sampai orang tersebut akhirnya meninggal

karena kondisi tersebut. Orang-orang berumur 40 tahun bisa

mendapatkan emfisema atau bronkitis, tapi gejala biasanya

akan jauh lebih buruk di kemudian hari, menurut American Cancer Society.

c. Kanker paru dan kanker lainnya

Kanker paru-paru sudah lama dikaitkan dengan bahaya

rokok, yang juga dapat menyebabkan terhadap kanker lain

seperti dari mulut, kotak suara atau laring, tenggorokan dan

kerongkongan. Merokok juga dikaitkan dengan kanker

ginjal, kandung kemih, perut pankreas, leher rahim dan

kanker darah (leukemia). d. Diabetes

Merokok meningkatkan resiko terjadinya diabetes,

menurut Cleveland Clinic rokok juga bisa naik

menyebabkan komplikasi dari diabetes, seperti penyakit mata, penyakit jantung, stroke, penyakit pembuluh darah,

(29)

e. Impotensi

Rokok merupakan faktor resiko utama untuk penyakit

pembuluh darah perifer, yang mempersempit pembuluh

darah yang membawa darah ke seluruh bagian tubuh.

Pembuluh darah ke penis kemungkinan juga akan

terpengaruh karena merupakan pembuluh darah yg kecil &

dapat mengakibatkan disfungsi ereksi/impoten.

f. Menimbulkan kebutaan

Seorang yang merokok menimbulkan meningkatnya resiko

degenerasi makula yaitu penyebab kebutaan yang dialami

orang tua. Dalam setudi yg diterbitkan dalam 'Archives of Ophthalmology' pada tahun 2007 menemukan yaitu orang merokok empat kali lebih mungkin dibanding orang yang

bukan perokok untuk mengembangkan degenerasi makula,

yg merusak makula, pusat retina, dan menghancurkan

penglihatan sentral tajam.

g.Penyakit mulut

Penyakit mulut yang disebabkan oleh rokok antara lain

kanker mulut, kanker leher, penyakit gigi, penyakit pada

gigi dan nafas.

h.Gangguan Janin

Merokok berakibat buruk terhadap kesehatan reproduksi

(30)

infertilitas (kemandulan), keguguran, kematian janin, bayi

lahir berberat badan rendah, dan sindrom kematian

mendadak bayi.

2.1.3 Merokok Pada Remaja

Merokok merupakan overt behavior dimana perokok menghisap gulungan tembakau yang dibungkus dengan kertas (Kamus Besar Bahasa

Indonesia (1990:752). Poewodarminto dalam Kemala (2007:9)

mendefinisikan merokok adalah menghisap rokok yaitu menghisap

gulunagn tembakau yang berbalut daun nipah atau kertas. Sebagai overt behavior merokok merupakan perilaku yang dapat terlihat karena ketika merokok individu melakukan suatu kegiatan yang nampak yaitu

menghisap asap rokok yang dibakar ke dalam tubuh, hal ini senada

dengan pendapat Armstrong dalam Kemala (2007:10) merokok adalah

menghisap asap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh dan

menghembuskannya kembali keluar.

Merokok merupakan kegiatan yang menyebabkan efek kenyamanan.

Rokok memiliki antidepressant yang menimbulkan efek kenyamanan pada efek pada perokok. Walaupun perilaku merokok merupakan

perilaku yang membahayakan kesehatan karena terdapat 4000 racun

dalam sebatang rokok. Merokok merupakan gangguan obsesif kompulsif.

Orang yang mengalami ganggua ini memiliki obsesi atau kompulsi yang

menetap. Obsesi adalah pikiran, ide atau citra yang terus menerus

(31)

Kompulsif adalah dorongan untuk melakukan tindakan stereotip dengan

tujuan yang umumnya tidak realistis yaitu menghilangkan situasi yang

menimbulkan ketakutan. Upaya untuk menolak kompulsi menimbulkan

ketegangan yang sangat besar sehingga individu biasanya menyerah dan

melaukannya.

Merokok sebagai gangguan kesehatan jiwa. Merokok berkaitan erat

dengan disabilitas atau penurunan kualitas hidup. Perilaku merokok

dipengaruhi perasaan negative. Menurut silvan dan tomkins (mua’din)

banyak orang merokok untuk perasaan negative dalam dirinya. Misalnya,

merokok karena marah, cemas, gelisah, rokok dianggap penyelamat.

Mereka merokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari

perasaan yang tidak enak. Menurut Fajar juliansyah (2010) perilaku

merokok pada remaja merupakan perilaku transmisif, ada 4 tahap dalam

perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu:

2.1.3.1.Tahappreparatory

Tahap ini remaja mendapatkan model yang menyenagkan dari

lingkungan dan media. Remaja yang mendapatkan gambaran yang

menyenagkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat,

atau dari hasil bacaan yang menimbulkan minat untuk merokok.

Life model remaja yaitu:

a. Teman sebaya yang paling utama menjadi life model.

Remaja akan menularkan perilaku merokok dengan cara

(32)

merokok, atau solidaritas kelompok. Dari teman sebaya ini

kemudian remaja yang belum merokok menginterpretasi

bahwa dengan merokok dia akan mendapatkan kenyamanan,

dan atau dapat diterima oleh kelompok, dari hasil

intepretasitersebut kemungkinan remaja membentuk dan

memperkokoh anticipatory belief. Yaitu belief yang mendasari bahwa remaja membutuhkan pengakuan teman

sebaya.

b. Orang tua, orang tua yang merokok kemungkinan berdampak

besar pada pembentukan perilaku merokok pada remaja. hal

tersebut membuat permission belief remaja. intepretasi remaja yang mungkin terbentuk adalah bahwasanya merokok

tidak berbahaya, tidak melanggar peraturan norma. Hasil dari

intepreadi tersebut memungkinkan terbentuknya permission belief system.

c. Model lain yang sangat berpengaruh juga adalah peran media

massa.

2.1.3.2.Tahapinitiation

Tahap perintisan merokok yaitu tahap seseorang meneruskan untuk

tetap mencoba-coba merokok. Setelah terbentuk

intepretasi-intepretasi tentang model yang ada, kemudian remaja

mengevaluasi hasil intepretasi tersebut melalui perasaan dan

(33)

2.1.3.3.Tahapbecoming smoker

Menurut Leventhal dan Clearly tahap becoming smoker merupakan tahap dimana seseorang telah mengkonsunsi rokok sebanyak empat

batang perhari maka seseorang tersebut mempunyai kecenderungan

menjadi perokok. Hal ini didukung dengan adanya kepuasan

psikologis dari dalam diri, dan terdapat reinforcement positif dari

teman sebaya. Untuk memperkokoh perilaku merokok paling tidak

ada kepuasan psikologis tertentu yang diperoleh ketika remaja

merokok, dijelaskan oleh Helmi dan Komalasari (2000:11) sebagai

akibat atau efek yang diperoleh dari merokok berupa kayakinan

dan perasaan yang menyenangkan. Hal ini memberikan

gambaranbahwa perilaku merokok bagi remaja dianggap bisa

memberikan kenikmatan yang menyenangkan. Selain mendapatkan

kepuasan psikologis,reinforcement positip dari teman sebaya juga

merupakan faktor yang menentukan remaja untuk merokok karena

lingkungan teman sebaya mempunyai arti yang penting bagi

remaja untuk bisa diterima.menurut Brigham dan Helmi (2000)

remaja tidak ingin dirinya disebut banci atau pengecut dan

merokok dianggap sebagai simbolisasi kejantanan,kekuasaan dan

kedewasaan. Bisa jadi simbol kedewasaan,kejantanan dan

kekuasaan merupakan hasil evaluasi preoses kognisi atas

(34)

life-model merokok yang kemudian dievaluasi melalui perasaan dan

tindakan yaitu dengan merokok akan terlihat jantan,dewasa,dan

berkuasa tentunya akan sangat membanggakan.

2.1.3.4.Tahapmaintenance of smoking

Pada tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara

pengaturan diri (self regulating). Merokok dilakukan untuk

memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan,pada tahap ini

individu telah betul-betul merasakan kenikmatan dari merokok

sehingga merokok sudah dilakukan sesering mungkin untuk

mengeliminasi kecemasan,menghindari kecemasan juga sebagai

upaya untuk relaksasi menghilangkan kelelahan,menghi;langkan

rasa tidak enak ketika makan,ketika bekerja,ketika lelah

berpikir,bahkan ketika merasa terpojokan. Tahap ini terjadi setelah

keyakinan inti terbentuk yaitu keyakinan dengan merokok

mendapat pengakuan dari teman sebaya (anticipatory beliefs), keyakinan merokok dapat memberikan kenikmatan dan

menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs) serta keyakinan bahwa merokok bukan merupakan suatu pelanggaran norma

(permissions beliefs). Selain itu perilaku permisi orang tua tentang bagaimana menyikapi remaja yang merokok dapat berpengaruh

pada perilaku merokok remaja,jika saja orang tua mau bersikap

tegas maka perilaku merokok pada tahap maintenance of smoking

(35)

2.2. Keaslian Peneliti

Tabel. 2.2.1. Keaslian Penelitian

(36)

2.2. Kerangka Teori

Gambar 2.1 Kerangka Teori (Juliansyah.,2010, Joemana,2004.,Helmi dan Kumalasari, 2000).

Merokok Pada Remaja 4 Tahap Kebiasaan Merokok

1. Preparatory

a. Teman sebaya b. Orang tua

c. Media lain(media

masa) 2. Initiation

3. Becoming Smoker

4. Maintenance For Smoker

Bahaya Merokok

1. Penyakit Jantung 2. Penyakit Paru-Paru 3. Penyakit kanker 4. Diabetes

(37)

2.4 Kerangka Konsep

Variabel bebas Variabel Terikat

Variabel Pengganggu

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

2.5. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian

(Notoatmodjo, 2012).

H1 atau Ha: Ada Hubungan antara Orang Tua Perokok dengan kebiasaan

merokok pada anak usia 15-18 tahun di di Desa majasto,

Kecamata Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.

Ho :Tidak ada Hubungan antara Orang Tua Perokok dengan

Kebiasaan Merokok Pada AnakUsia 15-18 Tahun Di Desa

Majasto, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.

Orang Tua Perokok Kebiasaan merokok pada

anak usia 15-18 tahun

1. Teman sebaya 2. Media Lain

(38)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1.Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif analitik

dengan rancangan case control studyyaitu mengkaji hubungan antara efek (kebiasaan merokokremaja) dengan faktor risiko (Orang tua perokok).

Adapun skema rancangan penelitian ini adalah sebagai berikut :

Gambar 3.1.1. Skema rancangan penelitian kasus control

Apakah ada hubungan Penelitian di mulai

disini

Orang tua tidak merokok

Orang tua perokok

Orang tua tidak merokok

Kebiasaan merokok pada remaja (kasus)

(39)

3.2.Tempat dan waktu Penelitian 3.2.1. Tempat Penelitian

Penelitian ini sudah dilakukan di Desa Majasto Kecamatan Tawangsari

Kabupaten Sukoharjo

3.2.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilakukan padatanggal1 Maret - 30 April2015.

3.3.Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan

(Sugiyono,2012). Populasi dalam penelitian ini adalah remaja di Desa

yang berusia 15-18 Tahun Majasto Kecamatan Tawangsari Kabupaten

Sukoharjo sejumlah 84 responden.

3.3.2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi tersebut (Sugiyono,2012). Teknik sampling dalam

penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu teknik perhitungan sampel didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang

dibuat oleh peneliti sendiri sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, sampel

(40)

Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo yang di hitung

berdasarkan rumus besar sample.Menurut (Nursalam,2008) rumusnya :

n = N

1 + N (d)²

n = 84

1+84(0.1)2

n= 45,6 dibulatkan menjadi 46 orang

keterangan :

n : Perkiraan jumlah sampel

N: Perkiraan besar populasi

d : Tingkat kesalahan yang dipilih (d=0.1) (Dikutip dari Zainudin

M.2000).

3.3.2.1Kriteria Sample

3.3.2.1.1. Kriteria inklusi

a) Remaja tinggal bersama orang tuanya

b) Remaja yang bisa membaca dan menulis

c) Anak usia 15-18 tahun

3.3.2.1.2. Kriteria ekslusi

a) Remaja dengan gangguan mental

Adapun sampel dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Kelompok kasus yaitu remaja usia 15-18 tahun yang merokok dan

(41)

2. Kelompok kontrol yaitu remaja usia 15-18 tahun yang tidak

merokok dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

3.4.Variabel, Definisi Operasional, dan Skala Pengukuran 3.4.1. Variabel

Variabel adalah suatu sifat yang diukur dan diobservasi dan

nilai hasil ukurnya bervariasi antara satu obyek dengan obyek

lainya. Jadi variabel adalah sesuatu yang memiliki variasi nilai

(Mochammad,2012;h.16)

a. Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab perubahan

atau timbulnya variabel independent. Variabel ini juga bebas

mempengaruhi variabel lain dan sering disebut sebagai

variabel prediktator, resiko atau kausa (Aziza,2011;h.86).

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah orang tua perokok.

b. Variabel terikat sering disebut sebagai variabel output,

kriteria, konsekuen, merupakan variabel yang dipengaruhi

atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas

(Sugiyono,2012;h.39). Variabel terikat dalam penelitian ini

adalah kebiasaan remaja usia 15-18 tahun.

c. Variabel penggangu adalah variabel yang diangkat untuk

menentukan apakah ia mempengaruhi hubungan antara

(42)

variabel pengganggu dalam penelitian ini adalah teman sebaya

dan media lain (media massa).

3.4.2. Definisi Operasional

Variabel Definisi

Operasional

Alat Ukur Parameter Skala Data

Variabel bebas

1 Orang Tua Perokok

Orang tua yang merokok secara aktif setiap hari

(43)

3.5. Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data 3.5.1. Instrumen penelitian

Instrumen dalam penelitian ini adalah alat atau fasilitas yang

digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih

mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan

sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto,2010). Instrumen dalam

penelitian ini adalah angket yang akan diisi oleh responden yaitu anak

remaja usia 15 -18 tahun.

Penentuan skoring berpedoman pada aturan Guttman dengan pilihan jawaban ya dan tidak. Setiap jawaban ya diberi nilai 0 dan setiap jawaban

tidak diberi nilai 1. Skor total untuk remaja 0 berarti remaja merokok,skor

lebih atau sama dengan 1 berarti remaja tidak merokok, skor 0 untuk orang

tua berarti orang tua perokok, skor lebih atau sama dengan 1 berarti bukan

orang tua perokok.

3.5.2. Cara Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data untuk remaja, peneliti akan mengikuti

kegiatan remaja yaitu arisan karang taruna yang dilakukan setiap bulan.

Peneliti menjelaskan secara singkat maksud dan tujuan, kemudian

membagikan angket kepada remaja yang berusia 15 – 18 tahun beriisi

empat pertanyaan yang harus diisi oleh responden tanpa ada intervensi

dari pihak manapun,satu pertanyaan untuk pribadi responden, satu

pertanyaan tentang orang tua responden dan dua pertanyaan untuk factor

(44)

dan dikumpulkan saat itu juga. Setelah semua angket terkumpul ,peneliti

akan memilahkan jawaban responden berdasarkan kriteria yang telah

dibuat oleh peneliti, baru akan ditarik sebuah kesimpulan data sesuai yang

di kehendaki oleh peneliti.

a. Uji Validitas

Uji validitas adalah salah satu indeks yang menunjukkan alat ukur

itu benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoatmodjo,2010). Pada

penelitian ini pengujian validitas dengan menggunakan content validity, yaitu dengan membandingkan antara isi instrument dengan materi pelajaran yang telah diajarkan atau ditetapkan, yang telah di

validitaskan kepada dosen pembimbing sebelum penelitian

dilaksanakan, berupa angket berisi empat pertanyaan bagi responden .

b. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu

alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Notoatmodjo, 2010).

Dalam penelitian ini tidak ada uji reliabilitas karena alat ukur yang

(45)

3.6. Tehnik Pengolahan dan Analisa Data

3.6.1. Pengolahan data dalam penelitian ini meliputi:

a) Editing

Meneliti data yang sudah terkumpul kemudian mengecek atau

mengoreksi data yang telah dikumpulkan karena kemungkinan data

yang masuk ada yang kurang atau salah.

b) Coding

Setelah itu dilakukan pengkodean pada setiap jawaban yaitu pada

kebiasaan merokok kode 1 untuk jawaban merokok, kode2 untuk

jawaban tidak merokok, pada tingkat pendidikan kode 1 untuk

pendidikan SD,kode2 untuk SMP, kode 3 untuk SMA, untuk jenis

kelamin, kode 1 untuk laki-laki, kode 2 untuk perempuan.

c) Tabulating

Memasukkan data jawaban responden dalam tabel sesuai dengan

skor jawaban kemudian dimasukkan dalam tabel distribusi

frekuensi yang telah disiapkan (Hidayat, 2011)

(46)

Analisa data yang digunakan untuk menguji hipotesis yang telah

ditetapkan yaitu mempelajari hubungan antar variabel. Analisa data

yang digunakan pada penelitian ini adalah :

1) Analisis Univariat

Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan atau

mendeskripsikan dari variabel terikat dan variabel bebas. Pada

umumnya analisis ini menghasilkan distribusi frekuensi dan

prosentasi dari setiap variabel (Notoatmodjo, 2010).

P = F x 100% N

Keterangan :

P : Prosentase

F : Frekuensi/ jumlah jawaban ya

N: jumlah Responden

Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis univariat yaitu

mengetahui prosentase dari karakteristik responden, gambaran

orang tua perokok dan kebiasaan merokok pada anak usia

15-18 tahun di Desa Majasto, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten

Sukoharjo.

2) Analisis Bivariat

Analisisa data dalam penelitian ini menggunakan analisa

bivariat. Analisa bivariat adalah analisa yang dilakukan dengan

tujuan untuk menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan

(47)

antara orang tua perokok dengan kebiasaan merokok pada anak

usia 15-18 tahun. Dalam analisa data ini dapat dilakukan

pengujian statistik yaitu dengan Chi Square (X2) dengan menggunakan rumus menurut Arikunto (2002) yaitu :

ݔ

= ∑ሺ݂݋ െ ݂੘ሻ2

݂੘

Keterangan :

X2 : Chi Square

fo : Frekuensi yang diperoleh berdasarkan data

fh : frekuensi yang diharapkan

∑ : Penjumlahan seluruhnya

Dalam penelitian ini menggunakan X analisa 5% dengan

derajat kepercayaan 95%. Apabila nilai P hitung >0,05 maka Ho

diterima (Sugiyono, 2007). Uji statistik yang digunakan untuk

(48)

3.7.Etika Penelitian

Etika adalah suatu keharusan pada saat akan memulai penelitian untuk

menjaga kerahasiaan dan memberi keamanan pada responden. Etika yang

harus ada dalam penelitian adalah sebagai berikut (Hidayat, 2007) :

3.7.1. Inform Consent

Inform consent adalah bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan

Beberapa informasi yang harus ada dalam inform consent antara lain : partisipasi responden, tujuan dilakukan penelitian, jenis data yang

dibutuhkan, komitmen, prosedur pelaksanaan, potensi masalah yang

akan timbul, manfaat dan kerahasiaan.

3.7.2. Anonimity

Identitas responden ditulis hanya dengan menuliskan kode saja.

3.7.3. Confidentiality

Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh

peneliti, hanya data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset

(49)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1. Hasil Penelitian 4.1.1 Analisa Univariat

Hasil analisa univariat ini dilakukan untuk menggambarkan karakteristik

responden berdasarkan usia responden, pendidikan responden, jenis kelamin

responden, media massa, teman sebaya, gambaran kebiasaan merokok pada

remaja dan gambaran merokok pada orang tua.

4.1.1.1Usia Responden

Tabel 4.1.1.1 Distribusi Frekuensi Responden Menurut Usia

Kategori Rerata Median Nilai SD

Minimal Maxiamal

Usia 16,5 16,5 15 18 1,291

Sumber data primer tahun 2015

Dari tabel 4.1.1.1 menunjukkan rata-rata usia responden adalah

16,5 tahun, dengan nilai simpangan baku 1,291dengan usia terendah 15

tahun dan usia tertua adalah 18 tahun. Hal ini menunjukkan rentang usia

(50)

4.1.1.2Pendidikan Responden

Tabel 4.1.1.2 Distribusi Frekuensi Menurut Pendidikan

Pendidikan f

Sumber data primer tahun 2015

Tabel 4.1.1.2 Menunjukkan mayoritas pendidikan responden

adalah SMP yaitu 30 orang (65,2%).

4.1.1.3Jenis Kelamin Responden

Tabel 4.1.1.3 Distribusi Frekuensi Menurut Jenis Kelamin

Jenis

Sumber data primer tahun 2015

Tabel 4.1.1.3 Menunjukkan mayoritas responden adalah laki-laki

yaitu 38 orang (82,6%).

4.1.1.4Media Massa

Tabel 4.1.1.4 Distribusi Frekuensi Menurut Media Massa

Media Massa f

Sumber data primer tahun 2015

Tabel 4.1.1.4 Menunjukkan bahwa media massa juga berperan

dalam mempengaruhi kebiasaan merokok pada remaja yaitu 19 orang

(51)

4.1.1.5Teman Sebaya

Tabel 4.1.1.5 Distribusi Frekuensi Menurut Teman Sebaya

Merokok Kasus Kontrol

F % f %

Sumber data primer tahun 2015

Tabel 4.1.1.5 Menunjukkan pada kasus mayoritas teman sebaya

adalah perokok yaitu 18 orang (39,1%), dan pada kontrol mayoritas teman

sebaya tidak merokok yaitu 13 orang (28,3%).

4.1.1.6Gambaran Kebiasaan Merokok pada Orang Tua

Tabel 4.1.1.6 Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok pada Orang Tua

Merokok Kasus Kontrol

F % f %

Sumber data primer tahun 2015

Tabel 4.1.1.6 Menunjukkan pada kasus mayoritas orang tua adalah

perokok yaitu 17 orang (36,9%), dan pada kontrol mayoritas tidak

(52)

4.1.1.7Gambaran Kebiasaan Merokok pada Remaja

Tabel 4.1.1.7 Gambaran kebiasaan merokok pada remaja

Merokok Kasus Kontrol

F % f %

Sumber data primer tahun 2015

Tabel 4.1.1.7 Menunjukkan pada penelitian ini menggunakan dua

kelompok responden yaitu untuk kasus adalah remaja merokok 23

responden (50%) dan remaja yang tidak merokok 23 responden (50%).

4.1.2 Analisa Bivariat

Tabel 4.1.2. Tabel Hubungan Orang Tua Perokok Dengan Kebiasaan Merokok Pada Anak Usia 15-18 Tahun

Merokok

Keterangan *: signifikan : CI : Confidence Interval

Tabel 4.1.2. Menunjukkan hasil uji statistik dengan nilai X2 hitung =5,7

dengan nilai P = 0,017 (P<0,05) artinya ada hubungan antara orang tua

perokok dengan kebiasaan merokok pada anak usia 15-18 tahun Di Desa

Majasto Kecamatan Tawangsari. Nilai odds ratio (OR) = 2,12 dengan CI 95% 1,055-5,497 menunjukkan bahwa orang tua merokok mempunyai

(53)

BAB V PEMBAHASAN

5.1Analisa Univariat

5.1.1 Karakteristik Responden

Hasil penelitian menujukkan rerata usia respondenadalah 16,5 tahun

yaitu termasuk golongan usia remaja pertengahan, pada fase ini remaja

cenderung berperilaku mengikuti lingkungannya (Monk, 1999). Pada usia

remajapertengahan hubungan keluarga yang dulu sangat erat sekarang agak

terpecah, remaja cenderung narsistis yaitu mencintai diri sendiri dan

memilih teman-teman yang sama dengan dirinya. Pada masa ini remaja

mengalami krisis aspek psikososial yaitu masa pencarian gambaran diri

dalam kebebasan pergaulan ( Gatchel, 1989 ). Remaja juga mulai memiliki

citra dalam dirinya sehingga merokok bagi remaja pada tahap ini merupakan

perilaku simbolisasi dari kematangan, kekuatan dan daya tarik terhadap

lawan jenis (Brigham,1991)

Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berpendidikan

sekolah menengah pertama yaitu 30 orang (65,2%). Pada masa sekolah

menengah pertama biasanya anak remaja ingin mencoba hal baru dan

cenderung mudah terpengaruh misalnya merokok. Hasil ini didukung oleh

(54)

merokok remaja dan lingkungan teman sebaya merupakan faktor prediktor

terhadap perilaku merokok pada remaja.

Hasil penelitianmenunjukkan mayoritas jenis kelamin responden

adalah laki-laki yaitu 38 orang (82,6%). Menurut Hasanah, A. A., dan

Sulastri (2010), yaitu dukungan orang tua, teman sebaya dan iklan

mempengaruhi perilaku merokok pada siswa laki-laki Di Madrasah Aliyah

Negeri 2 Boyolali. Sesuai teori dari Gunarso (2002) yang menyatakan

remaja laki-laki cenderung mengikuti promosi rokok yang sering

menggambarkan keperkasaan laki-laki dengan cara-cara menggunakan

bintang idaman atau artis yang diidolakan remaja laki-laki saat ini

dibanding perempuan.

Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden terpapar media

massa tentang informasi terkait dengan rokok yaitu 19 orang (82,6%).

Hasil penelitian Agus (2012) yaitu kebiasaan merokok tidak sepenuhnya

dipengaruhi oleh orang tua bisa juga dari lingkungan, pergaulan teman

seabaya serta media sosial. Penelitian ini juga didukung oleh Kustanti

(2014) yaitu ada hubungan antara pengaruh iklan dengan perilaku

merokok pada remaja dengan nilai statistik p= 0,024.

Hasil penelitian menunjukkan hasil bahwa teman sebaya responden

kasus (perokok) adalah mayoritas juga merokok. Hal ini menunjukkan

teman sebaya juga menjadi pemicu terhadap kebiasaan merokok. Menurut

Komalasari (2000) menyatakan bahwa lingkungan sosial merupakan

(55)

lingkungan sosial dalam hal ini pergaulan juga turut membentuk

kepribadian remaja. Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian dari

Kustanti (2014) tentang Hubungan antara Pengaruh keluarga, pengaruh

teman dan pengaruh iklan terhadap perilaku merokok pada remaja di SMP

N I Slogohimo Wonogiri yaitu ada hubungan antara pengaruh teman

dengan perilaku merokok pada remaja dengan nilai uji statistik p=0,013.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas remaja perokok juga

mempunyai orang tua yang merokok pula yaitu 17 orang (36,9). Orang

tua mempunyai peran penting dalam kebiasaan merokok pada remaja

karena lingkungan pertama bagi remaja adalah keluarga (Mulyati,2013).

Penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian dari Helmi (2000), yaitu

sikap permisif orang tua terhadap perilaku merokok remaja dan

lingkungan teman sebaya merupakan prediktor terhadap kebiasaan

merokok pada remaja.

5.1.2 Analisa Bivariat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara orang

tua perokok dengan kebiasaan merokok pada anak usia 15-18 tahun Di

Desa Majasto Tawangsari Sukoharjo dengan nilai odds ratio (OR) = 2,12 dengan CI 95% 1,055-5,497 menunjukkan bahwa orang tua merokok

mempunyai kemungkinan anaknya merokok 2,12 kali dibanding yang

tidak merokok. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh

Durkin dan Helmi (2010) yaitu konsep sosialisasi pertama berkembang

(56)

nilai-nilai, sistem belief, sikap maupun perilaku-perilaku dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya.

Hasil penelitian ini didukung oleh Kustanti, 2014 yang berjudul

Hubungan Antara Pengaruh Keluarga, Pengaruh Teman Dan Pengaruh

Iklan Terhadap Perilaku Merokok pada Remaja di SMP N I Slogohimo,

Wonogiri. Dengan hasil terdapat hubungan antara pengaruh keluarga

dengan perilaku merokok pada remaja. Penelitian lain yang mendukung

adalah dari Wahyuni, D dan Sudaryanto , A (2010) yang berjudul

Faktor-faktor yang Berhubungan denagn Sikap Merokok pada Remaja di Desa

Karang Tengah Keacamatan Sragen dengan hasil faktor orang tua

mempengaruhi sikap merokok pada remaja di Desa Karang Tengah

Kecamatan Sragen.

Kebiasaan merokok pada anak remaja memang tidak terlepas dari

pendidikan dalam keluarga yaitu pola asuh orang tua. Teori yang

dikemukakan mulyanti (2013) menyatakan bahwa lingkungan pertama

pada dasarnya diperoleh dari keluarga, tetapi lingkungan masyarakat juga

dapat mempengaruhi psikologi seorang anak. Kebiasaan merokok anak

paling cepat meniru dari kebiasaan orang yang paling bermakna di dalam

keluarga (Lindawati,2011).

Perilaku merokok adalah perilaku yang dipelajari dari pihak-pihak

yang berpengaruh besar dalam proses sosialisasi. Konsep sosialisasi

pertama berkembang dari sosiologi dan psikologi sosial yang merupakan

(57)

perilaku dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya (Durkin dan

Helmi, 2010). Merokok pada anak remaja sebenarnya tidak dikehendaki

orang tua, bahkan masyarakat juga tidak menginginkan anggota

masyarakatnya untuk menjadi seorang perokok. Teori ini juga didukung

oleh teori Green 1980 yaitu kebiasaan orang tua merupakan faktor penguat

(58)

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

6.1. Simpulan

6.1.1. Karakteristik responden

a. Usia responden rata-rata adalah 16,5 tahun dengan nilai simpangan

baku 1,291 dengan usia terendah 15 tahun dan usia tertinggi 18

tahun. Dengan rentang usia 15,2 tahun sampai dengan 17,8 tahun.

b. Pendidikan responden mayoritas adalah sekolah menengah pertama

62,5%.

c. Jenis kelamin responden mayoritas lak-laki 82,6%.

d. Remaja mengenal rokok mayoritas dari media massa 91,3%.

6.1.2 Mayoritas orang tua perokok mempunyai anak yang mempunyai

kebiasaan merokok yaitu 36,9% dan mayoritas orang tua yang tidak

merokok juga mempunyai anak yang tidak merokok juga 30,5%.

6.1.3. Mayoritas teman sebaya remaja perokok juga merokok yaitu 39,1%,

dan mayoritas teman sebaya yang tidak merokok juga tidak merokok

yaitu 28,3%.

6.1.4. Ada hubungan antara orang tua perokok dengan kebiasaan merokok

pada anak usia 15-18 tahun Di Desa Majasto Kecamatan Tawangsari

(59)

mempunyai kemungkinan 2,12 kali untuk anaknya mempunyai

kebiasaan merokok.

6.2. Saran

6.2.1. Bagi masyarakat

a. Bagi masyarakat secara umum hendaknya tidak merokok dan jika

belum mampu berhenti merokok sebaiknya tidak merokok

ditempat umum.

b. Bagi orang tua sebaiknya berhenti merokok agar anak tidak meniru

kebiasaan merokok orang tua, jika belum mapu berhenti sebaiknya

tidak merokok didepan anak.

c. Bagi anak sebaiknya tidak merokok karena mengakibatkan

kecanduan atau ketergantungan.

d. Bagi relawan kesehatan di masyarakat sebaiknya berkoordinasi

dengan tokoh masyarakat, tokoh agama dan lembaga pemrintahan

terkait sehubungan dengan penanganan kebiasaan merokok pada

masyarakat.

6.2.2. Bagi peneliti lain

Bagi peneliti selanjutnya agar dapat meneliti tentang merokok dengan

meneliti karakteristik responden baik anak maupaun orang tuanya.

6.2.3. Institusi kesehatan

Memberikan konseling tentang bahaya merokok bagi anak,

(60)

DAFTAR PUSTAKA

Aditama Tjandra Yoga. 1997. Rokok dan Kesehatan. Penerbit UI Press. Jakarta. Agus, Wibowo, 2012. Pendidikan Karakter Usia Dini. Yogyakarta : Penerbit

Pustaka Pelajar.

Arikunto, Suharsini, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis (edisi revisi, 2010). Jakarta : PT Rineka Cipta ; 2002.

Brigham, C.J., 1991. Social Psycology. Boston : Harper Collins Publisher,Inc. Dian, K,. 2009. Faktor-Faktor Penyebab Periaku Merokok pada Remaja.

Yogyakarta : UII.

Ekowati, 2012. Jumlah Perokok Muda Meningkat. Diakses 10 September 2012 dari http:// Tempo.co.id

Fajar Juliansyah, 2010. Perilaku Merokok Pada remaja.

Gatchel, R.J. 1989. An Introdunction to Health Psychology. New York : Mc Graw-Hill Book Company.

Green Lawrence, et all. 1980. Perencanaan Pendidikan Kesehatan. Terjemahan Sulazmi Mamdy, dkk. FKM UI. Jakarta.

Gunarso Singgih. 2002. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Penerbit PT. BPK Gunung Mulia. Jakarta.

Kemala, N. Indri, 2007. Perilaku Merokok pada Remaja. Semarang : USU. Komalasari,D & Helmi, A.F (2000). Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok

pada Remaja.

Kemenkes RI, 2010. Pedoman Teknik Konseling Kesehatan. Jakarta : Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Kementrian Kesehatan RI.

Lindawati (2011). Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok siswa siswi SMP Di Daerah Jakarta Selatan Tahun 2011.

(Poltekesjakarta1.ac.id/741_Lindawati).

(61)

Mulyanti, S. 2013. Perkembangan Psichologi Anak. Yogyakarta :Laras Media Prima.

Mu’tadin, Z. 2002. Remaja dan Rokok.

Notoatmodjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka cipta. Notoatmodjo, 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Nursalam, 2011. Konsep dan Metodologi Keperawatan (ed. 2). Jakarta : Salemba

Medika ; 2011.

Pikiran Rakyat, 2009. Kebiasaan Merokok dalam Tinjauan Kesehatan Jiwa. 10 mei 2009.

Sugiyono, 2012. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif: Jakarta : alfabeta ; 2012.

Gambar

Gambaran Diskriptif
Gambar 2.1  Kerangka Teori (Juliansyah.,2010, Joemana,2004.,Helmi dan Kumalasari, 2000)
Gambar 2.2  Kerangka Konsep
Gambar 3.1.1. Skema rancangan penelitian kasus control
+4

Referensi

Dokumen terkait

dilakukan penelitian tentang “Hubungan antara tipe pola asuh orang tua dengan kemandirian perilaku remaja akhir”...

Kemudian hipotesis yang diajukan yaitu : hubungan negatif antara komunikasi interpersonal orang tua dengan perilaku bullying pada remaja.. Artinnya semakin tinggi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan negatif antara komunikasi interpersonal orang tua dengan perilaku bullying pada remaja. Hipotesis yang diajukan

(2021) „Hubungan Perilaku Merokok Orang Tua Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (Ispa) Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Bestari Medan

Collins (dalam Santrock, 2002: 42) menyimpulkan bahwa banyak orang tua melihat remaja mereka berubah dari seorang anak yang selalu menjadi seseorang yang tidak

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada orang tua mengenai pola asuh dan perilaku merokok, sehingga diharapkan orang tua dapat memahami dan

Peranan orang tua dalam mencegah atau menghindari remaja putra untuk tidak merokok sangat besar, ini terbukti dengan orang tua ataupun guru di sekolah selalu

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui pula bahwa penerapan pola asuh demokratis merupakan yang paling sesuai bagi remaja, namun perilaku merokok juga