• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paper Analisis Karakteristik Gambar Anak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Paper Analisis Karakteristik Gambar Anak"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

BAB1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan Seni dipakai sebagai mata pelajaran pada pendidikan sekolah didasarkan pada pemikiran bahwa, pertama, pendidikan seni memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual berarti melalui pendidikan seni dikembangkan kemampuan mengekspresikan diri dengan berbagai bahasa rupa, bunyi, gerak, dan paduannya. Multidimensional berarti dengan seni dapat dikembangkan kompetensi dasar anak yang mencakup persepsi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi, dan produktivitas dalam menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri, dengan memadukan unsur logika, etika dan estetika.

Multikultural berarti pendidikan seni bertujuan menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai, toleran, demokratis, beradab, dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya yang majemuk (Depdiknas 2001:7). Pendidikan seni meliputi semua bentuk kegiatan tentang aktivitas fisik dan nonfisik yang tertuang dalam kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan berapresiasi melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan peran. (Rohidi 2000:7).

Melalui pendidikan seni anak dilatih untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman mencipta yang disesuaikan dengan lingkungan alam dan budaya setempat serta untuk memahami, menganalisis, dan menghargai karya seni. Tegasnya pendidikan seni di sekolah dapat menjadi media yang efektif dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan sensitivitas anak. Tujuan pendidikan seni juga dapat dilihat sebagai upaya untuk mengembangkan sikap agar anak mampu berkreasi dan peka terhadap seni atau memberikan kemampuan dalam berkarya dan berapresiasi seni. Kedua jenis kemampuan ini menjadi penting artinya karena dinamika kehidupan sosial manusia dan nilai-nilai estetis mempunyai sumbangan terhadap kebahagiaan manusia di samping mencerdaskannya.

(2)

bermanfaat dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya diperlukan rancangan yang berkaitan dengan proses pelaksanaan pembelajaran seni, baik kurikulum, metode, sarana maupun alat penunjangnya, dan juga tidak meninggalkan lingkungan sosial budaya setempat.

Dalam menunjang kebutuhan dan untuk mengetahui serta memahami karakteristik anak, maka seorang pendidik seni perlu mempelajari karakteristik gambar anak berdasarkan periodisasi perkembangan yang dikemukakan oleh para ahli di bidang pendidikan seni rupa anak. Pembagian masa atau periodisasi dimaksudkan untuk lebih mengenal karya seni rupa anak dalam hal melakukan kegiatan dan penilaian . Pada umumnya, semua periodisasi yang dikemukakan oleh para ahli memiliki kesamaan, misalnya selalu dimulai dari usia dua tahun.

Periodisasi karakteristik gambar anak tersebut dalam dunia pendidikan, bagi pengajar perlu mengenal latar belakang anak didiknya. Agar seorang pengajar dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa dan siswinya. Khususnya bagi anak Sekolah Dasar (SD) berusia sekitar 6 - 12 tahun. Berdasarkan teori tahap-tahap perkembangan menggambar atau seni rupa secara garis besar dapat dibedakan dua tahap karakteristik, yaitu kelas I sampai dengan kelas III ditandai dengan kuatnya daya fantasi-imajinasi, sedangkan kelas VI sampai dengan kelas VI ditandai dengan mulai berfungsinya kekuatan rasio. Perbedaan kedua karakteristik ini tampak pada gambar-gambar anak (karya dua dimensi) atau gambar model, karya patung, dan perwujudan karya tiga dimensi lainnya.

Periodisasi yang digunakan dalam menganalisis karakteristik gambar anak pada karya tulis paper ini adalah periodisasi masa perkembangan seni rupa anak menurut

Viktor Lowenfeld dan Lambert Brittain dalam buku Creative and Mental Growth.

Dengan mengetahui tahapan-tahapan perkembangan seni rupa melalui teori

Lowenfeld dan Brittain, pengajar dapat memahami perkembangan seni rupa anak-anak didasarkan pada usia dan karakteristik hasil gambarnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep pendidikan seni rupa anak?

2. Bagaimana karakteristik gambar anak berdasarkan Viktor Lowenfelddan Lambert Brittaindalam bukunyaCreative and Mental Growth?

(3)

ciri-ciri gambar anak?

4. Bagaimana contoh-contoh karakteristik gambar anak menurut Viktor Lowenfeld

danLambert Brittaindalam bukunyaCreative and Mental Growth?

5. Bagaimana peran pendidikan seni rupa dalam memahami karakteristik gambar anak?

6. Bagaimana hubungan karakteristik gambar anak dengan periodisasi anak? 7. Bagaimana pendekatan pembelajaran dalam pendidikan seni rupa?

8. Bagaimana pentingnya pendidikan seni rupa terhadap perkembangan otak anak? 9. Bagaimana periodisasi perkembangan seni rupa anak?

1.3 Tujuan

Menganalisis dan memahami karakteristik (ciri khas) gambar anak berdasarkan periodisasi perkembangan anak dalam teori Viktor Lowenfeld dan Lambert Brittain

dalam bukunyaCreative and Mental Growth.

1.4 Manfaat

(4)

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Konsep Pendidikan Seni Rupa Anak

Kata seni adalah sebuah kata yang semua orang dipastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kabarnya kata seni berasal dari kata “sani” yang kurang lebih artinya “Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa”. Menurut kajian ilmu di eropa mengatakan “ART” (artivisial) yang artinya kurang lebih adalah barang/ atau karya dari sebuah kegiatan. Seni adalah proses yang sengaja mengatur unsur-unsur dalam suatu cara yang menarik indra atau emosi. Ini mencakup berbagai macam kegiatan manusia, ciptaan, dan cara berekspresi, termasuk musik, sastra, film, patung, dan lukisan. Makna seni ini dibahas dalam cabang filsafat yang dikenal dengan estetika.

Seni memiliki sifat dasar kreatif, individual, perasaan, abadi, dan universal. Pengertian kreatif adalah kemampuan seseorang untuk mengubah sesuatu yang ada menjadi baru dan orisinil. Contohnya batu yang diubah menjadi patung, tanah liat dapat menjadi keramik, suara diubah menjadi musik, gerakan menjadi sebuah tarian, dan sebagainya. Sifat individual memiliki pengertian bahwa suatu karya seni memiliki ciri perseorangan dari penciptanya. Lagu-lagu yang diciptakan Ebit G. Ade, sangat berbeda dengan lagu-lagu Rhoma Irama, Titik Puspa, atau pun yang lainnya. Ada juga dalam seni murni seperti lukisan Afandi, sangat berbeda dengan lukisan-lukisan Basuki Abdullah, Raden Saleh, Popo Iskandar, Piccaso, Van Googh, maupum pelukis lainnya. Ciri khas pribadi inilah yang merupakan identitas dari karya mereka.

(5)

Jika membuat karya seni yang memiliki tujuan estetik atau keindahan, hendaknya orang yang menikmatinya turut berlatih juga untuk berbuat sesuatu yang indah dan terpuji. Maka sesungguhnya seorang seniman mendapat penghargaan ketika ada anak yang berbuat sesuatu kebaikan jika terpengaruh (menangkap amanat) cerita film, novel, syair lagu, dan sebagainya. Seni bersifat universal, artinya seni tidak mengenal batasan waktu, bangsa, bahasa, dan sebagainya. Sebagai contoh, semua orang yang berlainan bahasa akan tertawa terbahak-bahak ketika melihat tingkah laku badut sirkus yang sangat lucu atau seorang yang melihat gambar karikatur akan tersenyum tanpa mengetahui siapa pembuatnya.

Pembahasan konsep seni rupa meliputi struktur bentuk dan ungkapan (ekspresi) dalam seni murni dan hubungan bentuk, fungsi, dan elemen estetik dalam seni rupa terapan. Pembahasan tentang media seni rupa meliptui ciri-ciri media, proses, dan teknik pembuatan karya seni rupa. Selain itu, apresiasi seni juga perlu memberikan pemahaman hubungan antara seni rupa dengan bentuk-bentuk seni yang lain, bidang-bidang studi yang lain, serta keberadaan seni rupa, kerajinan, dan desain sebagai bidang profesi.

Berkarya seni rupa pada dasarnya adalah proses membentuk gagasan dan mengolah media seni rupa untuk mewujudkan bentuk-bentuk atau gambaran-gambaran yang baru. Untuk membentuk gagasan, siswa perlu dilibatkan dalam berbagai pendekatan seperti menggambar, mengobservasi, mencatat, membuat sketsa, berekperimen, dan menyelidiki gambar-gambar atau bentuk-bentuk lainnya. Selain itu, siswa juga perlu dilibatkan dalam proses pengamatan terhadap masalah pribadi, realitas sosial, tema-tema universal, fantasi, dan imajinasi.

Mengolah media pada dasarnya adalah menggunakan bahan dan alat untuk menyusun unsur-unsur visual seperti garis, bidang, warna, tekstur, dan bentuk dalam mengolah media, siswa perlu diperkenalkan dengan teknik penggunaan berbagai bahan, dengan memperhatikan keterbatasan-keterbatasan maupun kelebihannya. Dalam menyusun bentuk, siswa perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan bentuk sehingga menjadi gaya yang bersifat pribadi.

2.2 Seni Sebagai Media Pendidikan

(6)

multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual berarti melalui pendidikan seni dikembangkan kemampuan mengekspresikan diri dengan berbagai bahasa rupa, bunyi, gerak, dan paduannya. Multidimensional berarti dengan seni dapat dikembangkan kompetensi dasar anak yang mencakup persepsi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi, dan produktivitas dalam menyeimbangkan fungsi otak kanan dan kiri, dengan memadukan unsur logika, etika dan estetika.

Multikultural berarti pendidikan seni bertujuan menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi terhadap keragaman budaya lokal dan global sebagai pembentukan sikap menghargai, toleran, demokratis, beradab, dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya yang majemuk (Depdiknas 2001:7). Pendidikan seni meliputi semua bentuk kegiatan tentang aktivitas fisik dan non-fisik yang tertuang dalam kegiatan berekspresi, bereksplorasi, berkreasi dan berapresiasi melalui bahasa rupa, bunyi, gerak dan peran (Rohidi 2000:7).

Melalui pendidikan seni anak dilatih untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman mencipta yang disesuaikan dengan lingkungan alam dan budaya setempat serta untuk memahami, menganalisis, dan menghargai karya seni. Tegasnya pendidikan seni di sekolah dapat menjadi media yang efektif dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan sensitivitas anak. Tujuan pendidikan seni juga dapat dilihat sebagai upaya untuk mengembangkan sikap agar anak mampu berkreasi dan peka terhadap seni atau memberikan kemampuan dalam berkarya dan berapresiasi seni. Kedua jenis kemampuan ini menjadi penting artinya karena dinamika kehidupan sosial manusia dan nilai-nilai estetis mempunyai sumbangan terhadap kebahagiaan manusia di samping mencerdaskannya.

(7)

2.3 Peranan Seni Dalam Pendidikan

Pendidikan Seni, khususnya seni rupa hadir sebagai bagian integral dari prinsip pendidikan. Artinya, pendidikan seni rupa sebagai bagian dari pendidikan umum yang mendapat kewajiban (tugas) utama untuk melatih kepekaam rasa: estetis (keindahan), maupun apresiasi seni, melalui pembelajaran praktik berkarya seni rupa. Pembelajaran seni rupa yang dimaksudkan adalah pendidikan untuk anak yang didasari oleh pembinaan intelegensi rupa (visual intelligence) dengan kemampuan memahami objek secara komprehensif maupun detail.

Pemahaman terhadap objek dengan kinerja belajarnya melalui pengamatan, asosiasi, pemahaman bentuk akhirnya berekspresi. Lingkup seni sebagai hasil aktivitas artistik yang meliputi seni suara, seni gerak dan seni rupa sesuai dengan media aktivitasnya. Media dalam hal ini mempunyai arti sarana yang menentukan batasan-batasan dari lingkup seni tersebut. Pemahaman tentang seni adalah merupakan ekspresi pribadi dan seni adalah ekspresikeindahan. Seperti yang dikemukakan oleh Cut Kamaril Wardani Surono (2000:3), pendidikan seni yaitu: 1. Pendidikan seni adalah sebuah cara atau strategi menamkan pengetahuan dan keterampilan, dengan cara mengkondisikan anak atau siswa menjadi kreatif, inovatif, dan mampu mengenali potensi dirinya secara khas (karakteristiknya) serta memiliki sensitivitas terhadap berbagai perubahan sosial budaya dan lingkungan.

2. Pendidikan kesenian adalah kegiatan membuat manusia agar mampu bertahan hidup dan mampu menunjukkan jati dirinya di masa depan. Maka, kemampuan beragam bahasa (multi Language) perlu dikembangkan melalui pendidikan untuk menghadapi pesatnya perkembangan kemampuan berbahasa non verbal: bunyi, gerak, rupa dan perpaduannya. Melalui kemampuan beragam bahasa seni (artistik), manusia diharapkan mampu memahami dan berekspresi terhadap citra budaya sendiri dan budaya lain(multi cultural). Pendidikan seni juga memiliki wacana multidimensional artinya pendidikan seni memiliki cakupan yang luas baik yang berkaitan dengan masalah budaya ataupun ilmu pengetahuan.

2.4 Tujuan Pendidikan Seni Sekolah Dasar

 Tujuan diberikanya pendidikan seni di Sekolah Dasar diantaranya sebagai berikut:

(8)

pendapatnya (ekspresi bebas)

2. Melatih imajinasi anak, ini merupakan konskwensi logis dan kegiatan ekspresi. 3. Memberikan pengalaman estetik dan mampu memberi umpan balik penilaian

(kritik dan saran) terhadap suatu karya seni sesuai dengan mediumnya.

4. Pembinaan keterampilan, diarahkan dengan membina kemampuan praktik berkarya seni dan kerajinan.

5. Seni sebagai alat pendidikan dalam arti pendidikan seni dapat dilakukan melalui kegiatan permainan. Tujuan pendidikan seni dapat dilakukan melalui kegiatan permainan. Tujuan pendidikan seni bukan untuk membina anak-anak menjadi seniman, melainkan untuk mendidik anak menjadi kreatif. Seni merupakan aktivitas permainan, melalui permainan kita dapat mendidik anak dan membina kreativitasnya sedini mungkin. Dengan demikian, dapat dikatakan seni dapat digunakan sebagai alat pendidikan.

 Peran pendidikan kesenian dalam konstelasi kurikulum pendidikan adalah:

1. Seni sebagai bahasa visual anak pada usia SD dalam kehidupannya sangat dekat dengan berkarya seni. Hampir bisa dikatakan bahwa perilaku anak dekat dengan kegiatan berkesenian; tiada hari tanpa berseni. Berseni merupakan, kebutuhan anak dalam mengutarakan pendapat, berkhayal-berimajinasi, bermain, belajar memahami bentuk yang ada di sekitar anak, merasakan: kegembiraan, kesedihan, dan rasa keagamaan.

2. Seni membantu pertumbuhan mental ternyata contoh di atas merupakan perkembangan simbol rupa yang terjadi pada saat anak ingin menyatakan bentuk yang dipikirkan, dirasakan atau dibayangkan. Bentuk-bentuk tersebut hadir bersamaan dengan perkembangan usia mental anak. Pada suatu ketika anak pertumbuhan badan (biological age) lebih cepat daripada perkembangan pikiran

(9)

2.5 Pendekatan Pembelajaran Seni Rupa

Pembelajaran Pendidikan Seni dilaksanakan baik dengan pendekatan terpisah dan terpadu. Pendekatan terpisah ialah melaksanakan pembelajaran setiap bidang seni, sesuai dengan ciri-ciri khusus dan kesatuan substansi masing-masing. Pendekatan terpadu ialah melaksanakan pembelajaran yang memadukan bidang-bidang seni dalam bentuk seni pertunjukan, seni multimedia, atau kolaborasi seni. Pembelajaran pendidikan seni secara terpadu meliputi pembelajaran apresiatif dan produktif. Pembelajaran apresiatif secara terpadu dilaksanakan dengan kegiatan apresiasi terhadap karya seni yang merupakan perpaduan antara dua atau lebih bidang seni, baik secara langsung maupun melalui media audio-visual, misalnya pertunjukan musik, tari, teater, atau film.

Pembelajaran produktif secara terpadu dilaksanakan dengan kegiatan berkarya dan penyajian seni yang melibatkan dua atau lebih bidang seni, misalnya dalam bentuk seni pertunjukan atau kolaborasi antar bidang seni. Alternatif pelaksanaan mata pelajaran pendidikan seni sebagai berikut. Sekolah yang memiliki lebih dari satu guru bidang seni, masing-masing guru memberikan pembelajaran seni sesuai dengan bidangnya secara terpisah. Siswa memilih salah satu bidang seni sesuai dengan minatnya. Pembelajaran secara terpadu dilaksanakan dengan kerja sama antara guru-guru bidang seni yang bersangkutan. Sekolah yang hanya memiliki guru salah satu bidang seni, guru tersebut melaksanakan pembelajaran seni sesuai dengan bidangnya, tetapi sedapat mungkin juga melaksanakan pembelajaran seni secara terpadu, sesuai dengan kemampuannya.

Materi pokok yang bersifat teoritik tidak diberikan secara terpisah, tetapi secara integratif dengan materi kegiatan apresiasi seni, berkarya seni, kritik seni, dan penyajian seni. Pembelajaran yang bersifat praktek (berkarya) lebih berorientasi pada proses dari pada hasil, sehingga lebih menekankan usaha membentuk dan mengungkapkan gagasan kreatif dari pada kualitas komposisi yang dihasilkan.Dalam pembelajaran Pendidikan Seni, pengembangan sikap memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan keterampilan, dan pengetahuan. Untuk menunjang pembelajaran materi yang mengarah pada penguasaan keahlian profesional, termasuk menggambar dengan mistar (menggambar konstruksi), perlu ditunjang dengan program ekstrakurikuler, sesuai dengan bakat dan minat siswa.

(10)

menjadi dua yaitu aktivitas otak kiri dan aktivitas otak kanan. Bila yang satu aktif yang lain cenderung in-aktif. Otak kiri berhubungan dengan logika, urutan bahasa angka, angka dan analisa. Sedangkan otak kanan akan aktif bila berhubungan dengan ritme, kreativitas, warna, imajinasi, dan dimensi. Namun dalam riset yang berbeda oleh Prof. Robert Ormstein. Dr. Robert Bloch dan Tony Iluxan membuktikan bahwa mengembangkan aktivitas otak kiri dan kanan secara harmonis dan simultan akan menggandakan kemampuan dasar secara sinergi. Potensi belahan otak kiri dan kanan.

Pertumbuhan otak anak paling pesat terjadi pada usia 0-2 tahun, dimana volume otak akan mencapai 80%. Akan tetapi, tidak berarti bahwa perkembangan otak berhenti hanya sampai disitu saja. Volume otak anak terus berjalan hingga usia 12 tahun. Hal ini membuat pemberian nutrisi dan stimulasi bagi perkembangan otak masih tetap sangat dibutuhkan, bahkan setelah usia 12 tahun. Perlu pro-aktif orang tua dalam membentuk perkembangan otak kiri dan kanan secara seimbang untuk kecerdasan yang optimal.

Orang tua memiliki peran yang sangat strategis untuk mendukung perkembangan kecerdasan anak secara optimal. Di samping gizi yang seimbang sudah tentu menciptakan kondisi lingkungan yang mensimulasi aktivitas otak kiri dan kanan. Memperkenalkan anak sedini mungkin dengan warna, kosa kata, cerita dan berkreativitas. Pendidikan seni berperan penting untuk perkembangan belahan otak bagian kanan. Banyak masyarakat kita (para orang tua) yang menganggap bahwa pelajaran seni khususnya seni rupa, bukanlah pelajaran penting. Apalagi bila ditinjau dari segi ekonomisnya. Karena pelajaran seni rupa selalu dihentikan dengan biaya yang besar. Sementara di pihak lain, secara praktis pendidikan seni rupa dianggap tidak menghasilkan keuntungan material yang memadai.

(11)

2.6 Karakteristik Gambar Anak

Tulisan mengenai perkembangan kemampuan persepsi anak ini dilakukan berdasarkan percobaan dengan menggunakan Terman-Merril Test dan percobaan yang dilakukan olehPiagetdanVernon(1977:207), yang dijelaskan sebagai berikut:

1.Perkembangan Persepsi Anak terhadap Bentuk

Pada mulanya anak-anak sukar membuat bentuk-bentuk yang hampir serupa. Kemauan untuk membedakan baru mulai tampak berkembang pada umur 4 tahun. Dalam test yang dilakukan pada anak-anak yang berumur 4 tahun, ternyata mereka dapat membedakan delapan sampai sepuluh bentuk-bentuk seperti jajaran genjang, segitiga, trapesium, segiempat tak beraturan, dan lain-lain. Mereka dapat membedakan bentuk-bentuk tersebut tetapi tidak dapat mengingat bentuk itu sendiri. Pada umur 5 tahun, anak-anak mulai dapat membedakan bentuk-bentuk yang lebih sulit.

Pada umur 6-7 tahun, penguasaan kegiatan persepsi semakin berkembang. Pengamatan mereka mulai sistematis dan mempunyai perasaan yang lebih baik mengenai hubungan bentuk. Daya khayal yang berlebihan mulai berkurang. Mereka mengamati bentuk keseluruhan dan bagian detail secara terpisah, dan hanya dapat mengamati bagian yang lebih menonjol. Pada umur 8-9 tahun, sudah dapat melihat hubungan-hubungan bagian bentuk menjadi satu kesatuan yang utuh. Masih ada perbedaan kemampuan secara individu pada anak seusia ini. Mereka belum bisa melihat hal-hal yang berhubungan dengan ruang, objek hanya dilihat tanpa melihat dimana objek itu diletakkan. Pada umur 9-11 tahun, mereka sudah mengenal benda nyata dengan bentuk-bentuk yang benar. Perhatian pada objek sudah mendetail, demikian pula kemampuan dalam mengamati ruang. Pada umur 11-12 tahun, anak-anak sudah mulai dapat merasakan gambargambar seperti suasana sebenarnya.

2. Perkembangan Persepsi Anak Terhadap Warna

(12)

digunakan warna coklat, biru untuk langit, hijau untuk daun, dan sebagainya. Anak sulit menerima warna yang mempunyai arti perlambangan, tetapi masih dihubungkan dengan warna-warna dalam kehidupan sehari-hari.

3. Perkembangan Persepsi Anak terhadap Gambar

Pada umur 2-3 tahun anak-anak mampu manyatakan satu objek yang terdapat pada sebuah gambar. Umur 3-4 tahun, dapat menyatakan dengan benar tiga objek yang terdapat pada gambar yang lebih rumit. Umur 5-6 tahun, sudah dapat mengamati objek secara mendetail. Umur 7 tahun, anak-anak sudah dapat menyatakan kegiatan atau aktivitas dari objek yang ada dalam sebuah gambar. Tetapi pada gambar yang mempunyai arti perlambangan mereka masih sulit menangkap makna dan arti dari lambang tersebut.

Umur 11 tahun, mulai tampak kemampuan untuk menangkap arti gambar dan suasana gambar (sepi, sedih, marah, dan sebagainya). Sedangan anak-anak di bawah umur 11 tahun masih sulit untuk menangkap dan membayangkan gambar yang melukiskan kehidupan orang di daerah yang berbeda dengan lingkungan tempat tinggal mereka. Artinya mereka masih sulit membayangkan hal-hal baru yang belum pernah dilihatnya. Pada umur 12 tahun kemampuan ini semakin lebih mapan.

Diantara usia 6-10 tahun merupakan masa keemasan ekspresi yang kreatif dan jika pada masa ini ada anak yang tidak suka menggambar maka dianggap sebagai penyimpangan dari perkembangannya, demikian pendapat Piere Duquet (1953) (dalam Ziegfeld, ed., 1953). Menggambar merupakan kegiatan ekspresi yang kreatif yang populer di kalangan anak-anak, karena menggambar tidak terlalu banyak tuntutan dalam penciptaannya. Sebaiknya dalam kegiatan menggambar tidak diberikan latihan-latihan yang bersifat teknis, karena akan menjadikan penghambat dan anak menjadi tidak wajar dalam berekspresi. Pengalaman batin yang sederhana pada anak-anak merupakan kenangan indah dan hangat yang sewaktu-waktu bisa diungkapkan dengan berekspresi serta merupakan pendorong baginya.

(13)

hal berkeseniannya termasuk di dalamnya kegiatan menggambar.

Menggambar/melukis sebagai kegiatan yang bersifat konstruktif dimasukkan dalam kategori permainan sesuai dengan pendapat Hurlock (1978). Permainan yang pertama dilakukan anak adalah menghasilkan kembali sesuatu yang pernah dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Media yang digunakan biasanya tanah, balok-balok kayu kecil, lumpur, tanah liat, cat, kertas, lem, dan sebagainya. Ketika seorang ayah sedang menulis, si anak akan menirunya dengan mengambil kertas dan membuat goresan-goresan, sekalipun goresan-goresan itu bagi kita tidak bermakna, tetapi nampak anak mendapat kepuasan. Jadi bukan makna dari goresan itu yang berarti bagi anak, tetapi kepuasan yang lebih diutamakan. Buktinya anak akan semakin senang dan semakin rajin menggores.

Hal tersebut bukan tanpa arti, tetapi merupakan langkah awal bagi anak dalam melakukan gerak motoriknya, gerak kordinasi antara tangan dan mata. Ini akan merupakan langkah yang penting dalam kehidupan selanjutnya walaupun dilakukan secara santai sambil bermain-main. Oleh karena itulah, dalam memimbing anak ketika menggambar harus diciptakan suasana santai, dimana anak dapat mengembangkan imajinasinya secara bebas tanpa paksaan. Menggambar bagi anak adalah bagian dari permainan, dimana mereka dapat mengembangkan daya imajinasinya.

Menurut Kellogg dalam Papalia (1990), seorang pelukis besar Pablo Picasso

(1881-1972) menyatakan bahwa orang dewasa sebaiknya jangan mengajar anak-anak untuk menggambar, sebaiknya orang dewasalah yang harus belajar dari anak-anak. Jadi, tugas guru dan orang tua sebaiknya tidak mengajarkan konsep pendidikan seperti di masa lalu, dimana anak dianggap sebagai makhluk yang lemah, serba tidak tahu. Tugas orang dewasa hanyalah mengembangkannya secara alami.

(14)

belajar (Tabrani, 2001: 95).

“Membebaskan” anak menggambar sama dengan membebaskan anak dalam menuangkan imajinasi dan mengungkapkan dirinya melalui gambar. Melalui menggambar, tanpa disadari anak dapat belajar memecahkan persoalan yang dihadapi. Dengan menggambar anak dapat bermain dan berekspresi dengan sepuas-puasnya. Oleh karena itu, gambar anak sangat menarik dan bersifat universal sesuai hasil penelitian yang dilakukan Rodha Kellog dengan bukunya Analyzing Children’s Art

(1970) seorang peneliti dari Amerika Serikat yang menghimpun tidak kurang sejuta gambar buatan anak-anak dari berbagai usia dengan tingkatan sosial dan kebangsaan yang berbeda yang meliputi 31 negara di 5 benua selama lebih kurang 20 tahun.

Children’s Art berkembang dari usia 2 tahun dan berakhir sekitar usia 10 tahun.

Viktor Lowenfeld dalam bukunya Creative and Mental Growth (1982) meneliti tingkat perkembangan menggambar anak berdasarkan usia, menganalisis tentang periodisasi yang menjadi ciri umum lukisan anak-anak sesuai waktu (usia) dan tahap perkembangan sosial intelektual mereka.

2.7 Tujuan dan Peranan Pendidik Mengenal Periodisasi Perkembangan Seni Rupa Anak-Anak

Pemahaman dunia kesenirupaan anak-anak diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar seni rupa terutama untuk:

1. memilih pendekatan dalam membina interaksi belajar mengajar yang baik 2. merancang bahan pengajaran, baik tahunan, semesteran, harian

3. memilih dan menentukan jenis kegiatan yang sesuai dengan pusat minat (perangsang daya cipta) pada saat-saat tertentu

4. memilih dan menetukan metode yang akan digunakan dalam proses pembelajaran

5. mengadakan evaluasi agar kita tidak keliru dalam menggunakan tolok ukur, agar ciri-ciri keberhasilan gambar buatan orang dewasa tidak digunakan untuk mengukur keberhasilan gambar buatan anak kecil

2.8 Perkembangan Seni Rupa Anak Sekolah Dasar

(15)

ahli, agar ia dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa. Anak Sekolah Dasar (SD) berusia sekitar 6 - 12 tahun. Berdasarkan teori tahap-tahap perkembangan menggambar/seni rupa secara garis besar dapat dibedakan dua tahap karakteristik, yaitu kelas I sampai dengan kelas III ditandai dengan kuatnya daya fantasi-imajinasi, sedangkan kelas IV sampai dengan kelas VI ditandai dengan mulai berfungsinya kekuatan rasio. Perbedaan kedua karakteristik ini tampak pada gambar-gambar (karya dua dimensi) atau model, patung dan perwujudan karya tiga dimensi lainnya.

Ada dua cara untuk memahami perkembangan seni rupa anak-anak diantaranya: 1. mengkaji teori-teori yang berkaitan dengan perkembangan seni rupa anak

menurut para ahli.

2. mengamati dan mengkaji karya anak secara langsung. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan karya anak berdasarkan rentang usia yang relevan dengan teori yang telah kita pelajari. Melalui kegiatan ini, diharapkan kita bisa memahami perkembangan seni rupa anak secara komprehensif.

Dalam psikologi perkembangan dinyatakan baha pada rentang kehidupan manusia khususnya anak ada yang disebut masa keemasan yang dikenal dengan masa peka. Hal ini dipertegas oleh Piere Duquet (1953: 41) bahwa: “A childre who does not draw is an anomaly, and particulary so in the years between 6 an 10, which is outstandingly the golden age of creative expression”. Pada masa peka atau keemasan ini anak harus diberi kesempatan agar potensi yang dimilikinya berfungsi secara maksimal. Masa peka tiap orang berbeda-beda. Secara umum, masa peka menggambar ada pada masa lima tahun, sedangkan masa peka perkembangan ingatan logis pada umur 12 dan 13 tahun (Muharam dan Sundaryati, 1991: 33).

Selanjutnya, untuk terciptanya kesempatan bagi siswa agar dapat melakukan ekspresi kreatif, maka guru perlu melakukan kegiatan berupa:

1) memberi perangsang (stimulasi) kepada siswa/i

2) guru dapat mempertajam imajinasi dan memperkuat emosi siswa dengan menggunakan metode pertanyaan yang dikembangkan Sokrates.

(16)

kreatifitas karya. Bila rasionya sudah berfungsi dengan baik, maka dalam membuat karya seni, misalnya menggambar, mereka selalu mempertimbangkan objek gambar secara rasional misalnya bentuk yang baik, proporsi yang tepat, penggunaan warna yang cocok sesuai dengan benda yang dilihatnya.

Sejalan dengan pendapat di atas, sebagai guru pendidikan seni rupa perlu memahami perkembangan artistik (artistic development) peserta didik. Sehubungan dengan itu,Dennie Wolf dan Howard Gardner(Hausman, 1980: 56) mendeskripsikan perkembangan artistik anak sebagai berikut:

Tabel 2.8.1 PERKEMBANGAN ARTISTIK(Artistic Development)

PHASE AGE MAJOR FEATURE

to asking, from grabbing to pointing)-with the convidence

(17)

categoris of adult thought;

PHASE AGE MAJOR FEATURE CHALLENGE FOR

EDUCATION IN THE ART

Berdasarkan pandangan pada tabel di atas, anak usia sekolah dasar (7-13 tahun) memiliki kompetensi untuk memadukan karya kerajinan (craft) dengan kemampuan ekpresi diri. Selain itu pula kemampuan kritik juga dimiliki sejalan dengan perkembangan intelektualnya. Secara khusus, karakteristik anak pada usian 11- 13 tahun ini adalah memiliki kemampuan berpikir kritis dan ikut terlibat dalam proses artistik.

Secara umum dapat dikatakan bahwa karya seni rupa anak bersifat ekspresif dan dinamis (Camaril, dkk. 1999). Apa yang digambarkan anak mencerminkan pribadinya, mengungkapkan apa yang diketahuinya dan tidak menggambar sesuai dengan kenyataan. Kesukaan akan gerak digambarkan dengan warna tajam mencolok serta objek-objek penuh gerak seperti binatang, orang, kendaraan. Tetapi, jika dikaji ternyata bahwa secara umum terjadi pentahapan (periodisasi) dalam perkembangan dunia kesenirupaan anak.

2.9 Periodisasi Perkembangan Seni Rupa Anak-Anak

(18)

Ada beberapa tokoh yang telah melakukan kajian yang seksama berkenaan dengan periodisasi karya seni rupa anak, di antaranya Corrado rici dari Italia (1887), Kemudian dilanjutkan oleh Sully, Kerchensteiner, William Stern, Cyrul Burt, Margaret Meat, Victor Lowenfeld dan Brittain, Rhoda Kellogg, Scot, Langsing, dan lain-lain.

1. Perodisasi menurut Kerchensteiner (Muharam dan Sundaryati, 1991: 34)

Upaya yang telah dilakukan Kerchensteiner adalah mengadakan penyelidikan pada anak-anak dari masa bayi sampai empat belas tahun. Dari 100.000 buah gambar ia menggolongkannya dalam beberapa periode, masa, yaitu:

 Masa Mencoreng : 0 - 3 tahun

 Masa bagan : 3 - 7 tahun

 Masa bentuk dan garis : 7 - 9 tahun

 Masa bentuk dan garis : 7 - 9 tahun

 Masa bayang-bayang : 9 - 10 tahun

 Masa persfektif : 10 - 14 tahun

2. Periodisai menurutCyrl Burt(Lowenfeld, 1975: 118-119) Membagi periodisasi gambar menjadi tuju tingkatan, yaitu:

 Masa mencoreng : 2 - 3 tahun

 Masa garis : 4 tahun

 Masa simbolisme deskriptif : 5 - 6 tahun

 Masa realisme deskriptif : 7 - 8 tahun

 Masa realisme visual : 9 - 10 tahun

 Masa represi : 10 – 14 tahun

 Masa pemunculan artistic : masaadolesen

3. Periodisasi masa perkembangan seni rupa anak menurutViktor Lowenfelddan

Lambert Brittainadalah penyelidikan yang dilakukan terhadap anak-anak usia 2 sampai 17 tahun menghasilkan periodisasi sebagai berikut:

 Masa mencoreng(scribbling) : 2-4 tahun

 Masa Prabagan(preschematic) : 4-7 tahun

 Masa Bagan(schematic period) : 7-9 tahun

 Masa Realisme Awal(Dawning Realism) : 9-12 tahun

 Masa Naturalisme Semu(Pseudo Naturalistic) : 12-14 tahun

(19)

4. Periodisasi masa perkembangan seni rupa anak menurut Rhoda Kellog dan Scott (Muharam dan Sundaryati, 1991: 34-35). Beliau melakukan penelitian di 30 negara dengan lukisan/gambar anak yang diteliti lebih dari 1.000.000 gambar. Hasil penelitiannya terhadap gambar anak-anak menghasilkan periodisasi gambar anak sebagai berikut:

 Coretan dan corengan(Scribble and Scribling) : 2 - 3 tahun

 Rahasia bentuk(The Secrets of Shape) : 2 - 4 tahun

 Seni Kontur(Art in Outline) : 2 - 4 tahun

 Anak dan desain(The Child and Design) : 3 - 5 tahun

 Mandala, matahari dan Radial : 3 - 5 tahun

(Mandlas, Suns, and Radials)

 Manusia(People) : 4 - 5 tahun

 Mirip Gambar(Almost Pictures) : 4 – 6 tahun

 Gambar(Pictures) : 5 –7 tahun

5. Periodisasi masa perkembangan seni rupa anak menurut Lansing (Kamaril, 1999: 2.38)

 Masa coreng-moreng : 2-4 tahun

 Masa/tahap figurative : 3-12 tahun

 Subtahap permulaan figuratif : 3 -7 tahun

 Subtahap pertengahan figuratif : 9-10 tahun

 Subtahap akhir figuratif : 9-12 tahun

 Tahap artistik : 12 tahun ke atas

Periodisasi yang dikemukakan oleh Viktor Lowenfeld dan Brittain menjadi acuan dalam mengenal karakteristik gambar anak dalam menganalisis gambar anak yang akan saya paparkan karena pembagian usia anak lebih lengkap dan dipandang mewakili, sesuai dengan jenjeng pendidikan di negara kita, yaitu usia 7 – 12 tahun (SD), 13 – 15 tahun (SMP), dan usia 16 –18 tahun (SMA).

Tahap perkembangan menurut Viktor Lowenfeld dan Lambert Brittain (1970) dalam: Creative and Mental Growth membagi periodisasi perkembangan seni rupa anak sebagai berikut:

a. Periode Coreng-moreng(Scribbling Stage)

(20)

merupakan latihan gerak motorik dari koordinsai gerakan tangan dan mata, gambar berupa goresan tipis tebal dengan arah yang belum terkendali. Kesenangan membuat goresan pada anak-anak usia dua tahun bahkan sebelum dua tahun sejalan dengan perkembangan motorik tangan dan jarinya yang masih menggunakan motorik kasar. Hal ini dapat kita temukan anak yang melubangi atau melukai kertas yang digoresnya.

Goresan-goresan yang dibuat anak usia 2-3 tahun belum menggambarkan suatu bentuk objek. Pada awalnya, coretan hanya mengikuti perkembangan gerak motorik. Biasanya, tahap pertama hanya mampu menghasilkan goresan terbatas, dengan arah vertikal atau horizontal. Hal ini tentunya berkaitan dengan kemampuan motorik anak yang masih mengunakan motorik kasar. Kemudian, pada perekmbangan berikutnya penggambaran garis mulai beragam dengan arah yang bervariasi pula. Selain itu mereka juga sudah mampu mambuat garis melingkar. Periode ini terdiri dari 3 fase, hanya setiap fase jaraknya sangat singkat sekali, sehingga dianggap satu fase. 3 fase tersebut akan dijabarkan sebagai berikut:

1. Goresan Tak Beraturan

Gambar 2.9.1. Goresan tak beraturan, pena tidak lepas dari kertas, 2016, Diperoleh dari Lowenveld, Viktor dan Britani Lambert W. 1975.Creative and Mental GrowthEdisi VII, New York: Mc Millan.

Ciri-ciri gambar yang dihasilkan anak pada tahap corengan tak beraturan adalah:

 Bentuk gambar garis yang sembarang

 Mencoreng tanpa melihat ke kertas

 Belum dapat membuat corengan berupa lingkaran

 Memiliki semangat yang tinggi

 Gambar tanpa makna, karena anak melakukannya hanyalah meniru orang lain

(21)

2. Goresan Terkendali

Gambar 2.9.2. Goresan terkendali memperlihatkan gerakan yang bervariasi, dengan ditambah menggunakan gerakan otot kecil, 2016, Diperoleh dari Lowenveld, Viktor dan Britani Lambert W. 1975.Creative and Mental GrowthEdisi VII, New York: Mc Millan.

Ciri-ciri gambar yang dihasilkan anak pada tahap corengan terkendali adalah:

 Berupa goresan-goresan tegak, mendatar, lengkung bahkan lingkaran, coretan dilakukan berulang-ulang.

 Nampak anak mulai memerlukan kendali visual terhadap coretan yang dibuatnya, disini koordinasi antara perkembangan visual (gerak mata) dengan gerak motorik (tangan) semakin lengkap.

 Goresan dibuat dengan penuh semangat.

 Corengan terkendali ditandai dengan kemampuan anak menemukan kendali visualnya terhadap coretan yang dibuatnya.

 Telah adanya kerjasama antara koordiani antara perkembangan visual dengan perkembangan motorik.

 Adanya pengulangan coretan garis baik yang horizontal, vertikal, lengkung, bahkan lingkaran.

3. Goresan Bermakna

(22)

Ciri-ciri gambar yang dihasilkan anak pada tahap corengan bermakna adalah:

 Biasanya terjadi menjelang usia 3-4 tahun

 Pengalaman anak dalam membuat goresan semakin lengkap

 Gambar anak mulai terwujud menjadi satu kesatuan

 Bentuk yang semakin bervariasi

 Anak mulai memberi nama pada hasil coretannya dan mulai menggunakan warna.

 Dalam menggambar, anak belum mempunyai tujuan untuk menggambar sesuatu, karena fase ini lebih didasari oleh perkembangan fisik dan jiwa anak. Anak yang normal pasti suka menggambar.

 Sejalan dengan perkembangan bahasanya anak mulai mengontrol goresannya bahkan telah memberinya nama, misalnya: “rumah”, “mobil”, “kuda”. Hal ini dapat digunakan oleh orang tua atau guru pada jenjang pendidikan usia dini (TK) dalam membangkitkan keberanianan anak untuk mengemukakan kata-kata tertentu atau pendapat tertentu berdasarkan hal yang digambarkannya.

 Anak-anak memiliki jiwa bebas, ceria. Mereka sangat menyenangi warnawarna yang cerah misalnya dari crayon. Kesenangan menggunakan warna biasanya setelah ia bisa memberikan judul terhadap karya yang dibuatnya.

 Penggunaan warna pada masa ini lebih menekankan pada penguasaan teknik-mekanik penempatan warna berdasarkan kepraktisan penempatannya dibandingkan dengan kepentingan aspek emosi.

(23)

Gambar 2.9.4. Setiap anak (usia 2-3 tahun) pada umumnya senang menggoreskan sesuatu (pensil, pena dan sejenisnya). Goresannya tak beraturan, 2016, Diperoleh dari Bandi Sobandi (2011).

b.Periode Pra Bagan (Pre Schematic Stage)

Gambar 2.9.5. Bentuk dasar yang paling esensi terdapat pada gambar anak ini, yaitu jari kaki dimana dianggap bagian yang penting, 2016, Diperoleh dari Lowenveld, Viktor dan Britani Lambert W. 1975. Creative and Mental GrowthEdisi VII, New York: Mc Millan.

Usia anak pada tahap ini bisanya berada pada jenjang pendidikan TK dan SD kelas awal atau berlaku bagi anak berusia 4-7 tahun. Kecenderungan umum pada tahap ini, objek yang digambarkan anak biasanya berupa gambar kepala-berkaki. Sebuah lingkaran yang menggambarkan kepala kemudian pada bagian bawahnya ada dua garis sebagai pengganti kedua kaki. Sejalan dengan meningkatnya perkembangan anak, pengalaman anakpun makin bertambah, lingkup sosial makin luas, anak berkesempatan mencipta, bereksperimen, menjelajah, dan berbagai hal baru yang erat dengan perkembangan jiwa, rasa maupun emosinya. Anak mulai mengenal dunia baru, mengenal sekolah, teman sebaya, guru, dan lingkungan baru.

(24)

Ciri-ciri gambar yang dihasilkan anak pada tahap pra bagan adalah:

 Gambar yang dibuat oleh anak mulai menggambar bentuk-bentuk yang berhubungan dengan dunia sekitar mereka

 Rumah, manusia pohon dan lingkungan sekitarnya menjadi obyek yang menarik perhatian anak

 Terutama gambar manusia, jarang anak seusia ini menggambar manusia dari samping, mereka lebih menyukai gambar dari arah depan, karena dapat memuat unsur wajah yang lebih lengkap

 Unsur warna kurang diperhatikan, anak lebih tertuju pada hubungan antara gambar dan obyek gambar

 Warna menjadi subyektif karena tidak mempunyai hubungan dengan obyek

 Konsep ruang tak lain adalah apa yang ada di sekitar dirinya, menjadikan tidak logisnya antara obyek yang satu dengan obyek lainnya

 Telah menggunakan bentuk-bentuk dasar geometris untuk memberi kesan objek dari dunia sekitarnya

 Koordinasi tangan lebih berkembang

 Aspek warna belum ada hubungan tertentu dengan objek, orang bisa saja berwarna biru, merah, coklat atau warna lain yang disenanginya

 Penempatan dan ukuran objek bersifat subjektif, didasarkan kepada kepentingannya

 Jika objek gambar lebih dikenalinya seperti ayah dan ibu, maka gambar dibuat lebih besar dari yang lainnya. Ini dinamakan dengan “perspektif batin”

 Penempatan objek dan penguasan ruang belum dikuasai anak pada usia ini

(25)

c. Periode Bagan(Schematic Stage)

Periode ini berlaku bagi anak berusia 7 sampai 9 tahun. Sejalan dengan tahap perkembangan anak, pada akhir tahap ini perkembangan akal sudah mulai mempengaruhi gambar anak. Anak sudah mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan gambar lain. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan antara hubungan obyek dengan ruang, gambar mulai realistis, mulai mengarah ke bentuk-bentuk yang mendekati kenyataan.

Gambar 2.9.8. Empat bentuk yang serupa, seluruhnya menghadap ke depan, 2016, Diperoleh dari Lowenveld, Viktor dan Britani Lambert W. 1975.

Creative and Mental GrowthEdisi VII, New York: Mc Millan.

Ciri-ciri gambar yang dihasilkan anak pada tahap bagan adalah:

 Adanya garis dasar yang merupakan tempat obyek atau benda-benda berdiri, merupakan suatu perkembangan yang wajar

 Muncul gejala yang disebut“folding over”, yakni cara menggambar obyek tegak lurus pada garis dasar, meskipun obyek akan nampak terbalik

 Adanya gambar yang disebut “sinar X” (X-ray), yakni gambar yang berisi benda atau obyek lain dalam suatu ruang yang sebenarnya tidak kelihatan

 Gambar dibuat berdasarkan ide anak itu sendiri, misalnya gambar rumah yang kelihatan bagian dalamnya seolah-olah rumah tersebut terbuat dari kaca bening

 Warna mulai obyektif, artinya anak menyadari adanya hubungan antara warna dengan obyek

 Anak telah menemukan konsep tertentu mengenai warna, yakni bahwa obyek tertentu akan memiliki warna tertentu pula

 Gambar nampak lebih kaku dan tidak dinamis

(26)

sifat kooperatif di antara mereka

 Konsep bentuk mulai tampak lebih jelas

 Anak cenderung mengulang bentuk

 Gambar masih tetap berkesan datar dan berputar atau rebah (misalnya, tampak pada penggambaran pohon di kiri kanan jalan yang dibuat tegak lurus dengan badan jalan, bagian kiri rebah ke kiri, bagian kanan rebah ke kanan)

 Pada perkembangan selanjutnya kesadaran ruang muncul dengan dibuatnya garis pijak(base line)

Gambar 2.9.9. Penempatan objek gambar terletak pada garis dasar gambar

(base line)2016, Diperoleh dari Bandi Sobandi (2011).

Penafsiran ruang bersifat subjektif, tampak pada gambar “tembus pandang” (contoh: digambarkan orang makan di ruangan, seakan-akan dinding terbuat dari kaca). Gejala ini disebut dengan idioplastis (gambar terawang, tembus pandang). Misalnya gambar sebuah rumah yang seolah-olah terbuat dari kaca bening, hingga seluruh isi di dalam rumah kelihatan dengan jelas. Seperti pada gambar di bawah ini:

(27)

2016, Diperoleh dari Bandi Sobandi (2011).

Kenyataan di atas diperkuat oleh pandangan Max Verworm (Zulkifli, 2002: 45) bahwa anak menggambar benda-benda menurut apa yang dilihatnya. Hasil karya anak-anak itu disebutnya gambar fisioplastik. Anak yang belum berumur 8 tahun belum mampu menggambar apa yang dilihatnya tetapi mereka menggambar maenurut apa yang sedang dipikirkannya. Hasil karya mereka itu disebut gambar ideoplastik. Pada masa ini, kadang-kadang dalam satu bidang gambar dilukiskan berbagai peristiwa yang berlainan waktu. Hal ini dalam tinjauan budaya dinamakan

continous narrative, anak sudah bisa memahami ruang dan waktu. Objek gambar yang dilukiskan banyak dan berulang menggambarkan apa yang sedang dilakukan.

d. Periode Realisme Awal (Early Realism Stage)

Periode ini berlaku bagi anak berusia 9 sampai 12 tahun (kelas IV SD-VI SD) disebut pula “usia pembentuk kelompok”.

Gambar 2.9.11. Anak usia 10 tahun membuat gambar dengan menggunakan berbagai garis dasar. Dahan yang rumit bertumpukdengan tumbuhan lain, matahari muncul di balik awan, 2016, Diperoleh dari Lowenveld, Viktor dan Britani Lambert W. 1975.Creative and Mental Growth Edisi VII, New York: Mc Millan.

Ciri-ciri gambar yang dihasilkan anak pada tahap realisme awal adalah:

 Masa ini ditandai oleh besarnya perhatian anak terhadap obyek gambar yang dibuatnya

(28)

wanita secara jelas

 Karakteristik warna mulai mendapat perhatian, walaupun belum adanya penampilan dalam hal perubahan efek warna seperti gelap terang dan bayangan

 Dalam gambar adanya penemuan penggambaran bidang dasar sebagi tempat pijakan(ground)benda dan obyek gambar

 Adanya garis horizon, walaupun fungsinya belum dimengerti, sehingga kesan perspektif akan kelihatan janggal

 Terlihat adanya menghias (mendekorasi ) obyek gambar

 Karya anak lebih menyerupai kenyataan

 Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan penglihatan sendiri

 Anak-anak lebih menyatukan antara objek yang digambar dengan lingkungan

 Kesadaran untuk berkelompok dengan teman sebaya dialami pada masa ini

 Perhatian kepada objek sudah mulai rinci

 Dalam menggambarkan objek, proporsi (perbandingan ukuran) belum dikuasai sepenuhnya

 Pemahaman warna sudah mulai disadari, misalnya anak sudah mulai mampu membedakan antara warna biru langit berbeda dengan biru air laut

 Penguasan konsep ruang mulai dikenalnya sehingga letak objek tidak lagi bertumpu pada garis dasar, melainkan pada bidang dasar sehingga mulai ditemukan garis horizon

 Penguasaan unsur desain seperti keseimbangan dan irama mulai dikenal pada periode ini

 Ada perbedaan kesenangan umum, misalnya: anak laki-laki lebih senang kepada menggambarkan kendaraan, anak perempuan kepada boneka atau bunga

(29)

Gambar 2.9.13. Gambar pemandangan, upaya anak dalam meniru bentuk alam, tampak sudah mendekati kenyataan (realitas), 2016, Diperoleh dari Bandi Sobandi (2011).

e. Periode Naturalistik/Naturalisme Semu(Pseudo Naturalistic Stage)

Periode ini berlaku bagi anak berusia 12 sampai 14 tahun. Masa pra puber. Gambar yang dibuat sesuai dengan obyek yang dilihatnya, sehingga timbul minat terhadap naturalisme, terutama pada anak yang bertipe visual. Oleh karena itu, pada periode ini merupakan akhir dari aktivitas spontanitas.

Gambar 2.9.14. Gambar lebih detail, memperhatikan lingkungan di sekitarnya, 2016, Diperoleh dari Lowenveld, Viktor dan Britani Lambert W. 1975.

Creative and Mental GrowthEdisi VII, New York: Mc Millan.

Ciri-ciri gambar yang dihasilkan anak pada tahap naturalistik semu adalah:

 Anak mulai menggambar sesempurna mungkin, sehingga detail lebih diperhatikan, akibatnya spontanitas hilang

 Anak menjadi kritis terhadap karyanya sendiri. Ia mulai memperhitungkan kualitas tiga dimensi (perspektif)

(30)

 Perhatian kepada seni mulai kritis, bahkan terhadap karyanya sendiri

 Pengamatan kepada objek lebih rinci

 Tampak jelas perbedaan anak-anak bertipe haptic dengan tipe visual

 Tipe visual memperlihatkan kesadaran rasa ruang, rasa jarak dan lingkungan, dengan fokus pada hal-hal yang menarik perhatiannya. Sedangkan tipe haptic

memperlihatkan tanggapan keruangan dan objek secara subjektif, lebih banyak menggunakan perasaannya

 Penguasaan rasa perbandingan (proporsi) serta gerak tubuh objek lebih meningkat

 Gambar-gambar gaya kartun dan tokoh-tokoh kartun banyak digemari oleh anak untuk dijadikan objek gambarnya

Gambar 2.9.15. Tokoh kartun banyak digemari anak-anak, 2016, Diperoleh Bandi Sobandi (2011).

Ada sesuatu yang unik dan menarik untuk dibahas pada masa ini, di mana pada satu sisi anak ekspresi kreatifnya sedang muncul sementara kemampuan intelektualnya berkembang dengan sangat pesatnya. Sebagai akibatnya, rasio anak seakan-akan menjadi penghambat dalam proses berkarya. Misalnya, ketika anak diusia ini menggambar objek lumba-lumba. Maka anak dengan sendirinya akan bertanya dalam hatinya apakah gambar ini seperti lumba-lumba? Sementara kemampuan menggambar lumba-lumba kurang. Sehingga, sebagai akibatnya mereka malu kalau memperlihatkan karyanya kepada sesamanya karena merasa gambarnya kurang bagus dari yang lainnya.

f. Periode Penentuan

(31)

periode ini tumbuh kesadaran akan kemampuan diri. Perbedaan tipe individual makin tampak. Anak yang berbakat cenderung akan melanjutkan kegiatannya dengan rasa senang, tetapi yang merasa tidak berbakat akan meninggalkan kegiatan seni rupa, apalagi tanpa bimbingan. Dalam hal ini peranan guru banyak menentukan, terutama dalam meyakinkan bahwa keterlibatan manusia dengan seni akan berlangsung terus dalam kehidupan. Seni bukan urusan seniman saja, tetapi urusan semua orang dan siapa pun tak akan terhindar dari sentuhan seni dalam kehidupannya sehari-hari.

Gambar 2.9.16. Contoh karya anak 17 Tahun, 2016, Diperoleh Bandi Sobandi (2011).

2.10 Deskripsi dan Analisis Karakteristik Gambar Anak Deskripsi & Analisis Karya I

(32)

Spesifikasi Karya Gambar Anak

Nama pembuat : Aqila Salma Kamila Judul karya : Es Krim

Ukuran karya : 30 x 40 cm Tahun dibuat : 2004

Media :watercolor pencildan spidol

Gambar di atas merupakan gambar yang dibuat oleh Aqila Salma Kamila siswa Sekolah Dasar usia 9 tahun. Gambar yang dibuat oleh Aqila Salma Kamila berjudul Es Krim. Dapat dideskripsikan berdasarkan elemen-elemen rupa yang pertama dari segi garis, garis yang tampak pada gambar yang dibuat oleh Aqila adalah garis nyata. Terlihat goresan dan lengkungan-lengkungan outline atau bentuk global yang membentuk objek yang nyata. Meskipun garis yang digoreskan oleh Aqila tidak begitu terlihat tebal sehingga kesan yang diperoleh dari garis-garis lengkung maupun garis lurus yang digoreskan oleh Aqila bersifat lemah lembut, luwes meskipun sedikit kaku. Garis yang dibuat Aqila pada karyanya yang berjudul ‘Es Krim’ lebih bersifat ekspresif.

Dilihat dari elemen rupa yang kedua yaitu bidang, terlihat bidang yang divisualisasikan oleh Aqila adalah bidang geometris, dimana bidang yang dibuat Aqila lebih terukur. Hal tersebut, dapat dibuktikan dari banyaknya bentuk-bentuk geometris yang digunakan Aqila yang memenuhi bidang gambarnya seperti bentuk persegi panjang dari garis lurus yang digoreskan, bentuk segitiga yang diberi warna coklat, bentuk setengah lingkaran yang diposisikan dibagian background belakang objek, bidang persegi/bujur sangkar yang diposisikan dibagian dalam garis lurus kemudian disimbolkan dengan penggunaan warna biru. Bidang-bidang geometris yang dibentuk mengesankan kekakuan dan statis.

(33)

meggunakan bentuk-bentuk geometris dengan penggunaan warna-warna yang berlainan pada bagian latar gambar, seperti pemberian warna coklat untuk bentuk segitiga, pemberian warna biru untuk bentuk persegi, pemberian warna merah muda, warna hijau, warna orange, dan warna kuning untuk bentuk setengah lingkaran. Garis lurus yang digoreskan Aqila dibagian belakang objek sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan perspektif ruang pada gambar, namun Aqila belum mampu membuat perspektif secara benar dan sempurna sehingga yang terlihat hanyalah bentuk persegi panjang yang di bagian dalamnya berisi bentuk-bentuk geometris salah satunya bentuk persegi dan segitiga.

Pemberian perspektif bidang meja juga belum tergambarkan secara sempurna oleh Aqila sehingga yang terlihat hanyalah garis sejajar dengan bagian latar/background.Namun, pada dasarnya Aqila sudah mengenal mengenai perspektif pada gambar, meskipun belum dapat merealisasikannya secara benar. Tekstur yang ditampilkan oleh gambar Aqila adalah tekstur nyata. Dimana dalam karya gambarnya Aqila menggunakan media watercolor pencil dan spidol sehingga tekstur yang terlihat maupun ketika diraba sama yaitu teksturnya halus. Karakteristik warna mulai mendapat perhatian, walaupun Aqila belum menampilkan value (efek gelap terang warna) yang memberikan efek bayangan pada objek. Warna-warna yang ditampilkan oleh Aqila lebih menekankan pada hue warnaa, dimana warna-warna yang ditekankan adalah warna-warna analogus (hubungan warna-warna yang saling bersebelahan) seperti warna hijau dengan kuning, orange dengan kuning, warna orange dengan merah pada bagian list tempat buah dimana dibuat bentuk segitiga yang disusun berderet, dan sebagainya.

Selain warna analogus/analog, Aqila juga menampilkan warna-warna turunan meskipun belum dapat mencampurkannya secara tepat sehingga terkesan tidak bergradasi tetapi hanya batas-batas yang dipisahkan oleh warna-warna turunan saja. Dapat kita lihat pada pemberian warna objek gelas dimana Aqila menggunakan turunan warna orange mulai dari orange yang lebih muda sampai orange yang lebih tua, selain itu terlihat dari pemberian warna turunan biru pada objek es krim, begitu juga pada objek jeruk bagaimana Aqila memberi warna orange tua melingkar dibagian tengah sedangkan dibagian pinggirnya diberi warna orange muda, dan sebagainya.

(34)

kesatuan (unity), kesatuan pada gambar Aqila tampak pada kesatuan warna-warna turunan yang digunakan walaupun Aqila belum mampu untuk menyatukannya secara tepat, pemberian warna merah muda dengan warna merah merupakan simbol dari kesatuan warna yang tidak saling bersimpangan jauh. Kesatuan tekstur juga ditampilkan pada karya Aqila dimana teksturnya secara universal adalah tektur nyata karena secara keseluruhan media yang digunakan Aqila untuk mewarnai objek sama. Keseimbangan yang ditampilkan dalam karya Aqila adalah keseimbangan simetris dimana jumlah objek yang berada disebelah kiri maupun kanan seimbang, tidak ada bidang kosong yang terlihat baik itu background-nya maupun jumlah subject matter-nya. Dimana wujud dan jumlah yang sama kuatnya.

Irama yang ditampilkan pada karya Aqila adalah iramamonotone, karena adanya pengulangan goresan warna yang menghasilkan bentuk/wujud yang sama. Dapat diketahui pada gaya pewarnaan Aqila yang membentuk lekukan-lekukan yang sama dari pewarnaan sebelumnya sehingga terkesan statis dan monoton, tetapi ekspresif. Proporsi warna yang ditampilkan sudah proporsional dalam arti Aqila sudah memahami komposisi pada sentuhan-sentuhan warna turunan sehingga tidak ada yang mendominasi.

Keserasian sangat dominan pada karya ini, karena Aqila mampu menserasikan warna-warna seperti penggunaan warna-warna yang bersifat karib (analog) yaitu penggunaan warna kuning dengan orange, warna merah muda dengan warna merah, dan penggunaan warna-warna turunan yang sangat dominan dalam karya ini. Meskipun dari segi proporsi ukuran objek belum dikuasai sepenuhnya, terlihat pada ukuran gelas maupun ukuran wadah buah yang dibuat tidak proporsi karena goresan garis yang tidak lurus/rata saat membentuk objek gambar. Pusat perhatian (center of interest) tampak pada gambar wadah berwarna biru yang berisi buah-buahan karena dibuat dengan ukuran yang lebih besar dari ukuran gelas yang berisi es krim maupun objek lainnya.

(35)

karib (analog) maupun warna-warna turunan meskipun belum adanya penampilan dalam penggunaan efek warna yang menghasilkan gelap terang/ bayangan. Adanya garis horizontal yang dibuat oleh Aqila pada latarbackground gambar dimana diberi warna coklat (bagian atas) dan warna biru (bagian bawah), walaupun fungsinya belum dimengerti, sehingga kesan perspektif yang sebenarnya ingin ditampilkan oleh Aqila terkesan janggal. Begitupun ketika Aqila sedang membuat perspektif pada objek meja terlihat datar dan sejajar dengan garis yang berada di belakangnya. Pada gambar Aqila juga tampak adanya menghias (mendekorasi) bagian latarbackground

dengan objek-objek geometris dengan berbagai warna sehingga tampilanbackground

objek terlihat penuh dengan dekorasi-dekorasi bentuk melalui pemberian warna-warna yang berbeda.

Aqila juga mulai mengenal konsep ruang sehingga letak objek gelas maupun wadah yang berisi buah-buahan serta objek jeruk tidak lagi bertumpu pada garis dasar, melainkan pada bidang dasar sehingga mulai ditemukan garis horizon ketika Aqila menggambarkan perspektif meja meskipun belum memiliki makna atau arti yang jelas. Aqila juga telah menguasai prinsip-prinsip desain seperti keseimbangan simetris yang ditampilkan pada karyanya dan irama monotone dari penggunaan goresan-goresan warna. Perhatian Aqila dalam memahami objek yang digambar sudah mulai rinci terlihat dari penambahan objek daun pada buah jeruk, penambahan bentuk-bentuk segitiga pada bagian objek wadah yang berisi buaha-buahan. Meskipun Aqila belum menguasai ukuran proporsi objek dalam menggambarkannya secara penuh.

Deskripsi & Analisis Karya II

(36)

Spesifikasi Karya Gambar Anak

Nama pembuat : Aqila Salma Kamila Judul karya : Kue Tart

Ukuran karya : 30 x 40 cm Tahun dibuat : 2004

Medium :watercolor pencildan spidol

Gambar kedua merupakan karya Aqila juga, namun dengan judul karya yang berbeda yaitu berjudul ‘Kue Tart’. Dapat dideskripsikan berdasarkan elemen-elemen rupa yang pertama adalah garis. Garis-garis yang membentuk objek gambar yang dibuat Aqila adalah jenis garis nyata. Pada karya kedua dari Aqila ini sifat goresan garis-garis yang ditimbulkan lebih tebal dibandingkan karya sebelumnya yang berjudul ‘Es Krim’. Tampak outline gambar yang jelas. Seperti pada objek kue tart dimana Aqila memberikan goresan-goresan garis untuk memberikan aksen dari objek kue tart. Garis-garis nyata yang dibuat membentuk persegi dengan ukuran berbeda-beda. Garis-garis yang ditampilkan masih terkesan kaku dan statis. Warna hitam digunakan untuk mempertebal garis pada objek.

Bidang-bidang yang ditampilkan pada bagianbackground gambar adalah bidang organik dimana pada bagian bawah background terdapat garis lengkung bebas yang dibuat repetitif (secara berulang-ulang) yang mengesankan keceriaan dan pertumbuhan. Selain itu bidang yang ditampilkan juga terdapat bidang geometris dimana pada bagian atas terdapat garis diagonal yang membentk segitiga sama kaki dan diberi warna kuning dan orange. Ruang yang ditampilkan pada karya Aqila yang kedua tampak pada pemberian warna-warna yang berbeda. Sedangkan untuk tekstur yang ditampilkan pada karya kedua masih sama seperti karya sebelumnya yaitu tekstur nyata. Dimana baik ketika dilihat maupun ketika dirata tekstur yang dirasakan adalah tekstur halus dan licin karena penggunaan media watercolor pencil yang mendominasi.

(37)

dan hijau muda, dan sebagainya. Meskipun ada beberapa penggunaan warna-warna karib (analog) seperti pada background bagian atas pemberian warna kuning dengan orange. Selain berdasarkan elemen-elemen rupa juga dapat dideskripsikan dari segi prinsip-prinsip desain yaitu kesatuan (unity), prinsip kesatuan pada karya kedua Aqila terdapat pada kesatuan warna dimana penggunaan warna-warna turunan dan warna-warna karib yang bersebrangan (analog) memberikan kesan yang menyatu dengan objek-objek yang digambarkan.

Keseimbangan yang ditampilkan pada karya kedua Aqila adalah keseimbangan simetris tampak pada jumlah objek gambar sebelah kanan maupun kiri sama rata meskipun ukuran dan bentuk objek berbeda-beda, akan tetapi tidak ada ruang kosong

(white space) yang tampak pada bidang gambar. Proporsi warna yang ditampilkan pada karya kedua ini sudah sesuai artinya Aqila menggunakan intensitas yang sama antara warna-warna tua dengan warna-warna muda. Meskipun pada proporsi ukuran objek belum dipahami secara penuh seperti pada penggambaran objek semangka yang berada disebelah kiri kurang proporsional dan pada objek jeruk yang diberi warna hijau memiliki ukuran yang terlalu besar dari objek-objek buah-buahan yang lainnya.

Pusat perhatian (center of interest) pada karya kedua Aqila terdapat dari objek gambar kue tart yang difokuskan dengan pemberian warna-warna yang lebih kontras seperti warna kuning dengan orange dan diletakkan dibagian tengah bidang gambar. Meskipun ada bagian objek yang berukuran besar yaitu gambar jeruk, namun karena diberi warna gelap maka titik fokusnya menjadi berkurang sehingga lebih berpusat pada objek kue tart-nya. Keserasian dalam karya kedua Aqila adalah keserasian karib yang terletak pada warna dimana aqila mendampingkan warna kuning dengan orange dibagian background atas maupun pada objek kue tart-nya. Keserasian tersebut menimbulkan keselarasan dan keharmonisan dari segi warna dengan bentuk-bentuk objek yang digambarkan.

(38)

maksud yang digambarkan pun menjadi kurang dimengerti orang lain yang melihatnya. Sebenarnya pada gambar Aqila terdapat meja yang diwarnai dengan warna ungu namun karena pemahaman perspektif Aqila belum sepenuhnya maka yang terjadi gambar terlihat melayang, padahal sebenarnya tidak. Pada karya gambar kedua ini, perhatian Aqila terhadap detail-detail objek yang digambarkan lebih rinci dibandingkan karya sebelumnya, terlihat dari pemberian detail-detail pada objek strawberry diberi bulatan-bulatan, pada bagian toples diberi ornamen-ornamen seperti bentuk bulan sabit maupun bentuk bintang, pemberian aksen-aksen garis-garis horizontal maupun vertikal pada bagian objek kue tart sehingga membentuk persegi dalam jumlah banyak, dan sebagainya.

Deskripsi & Analisis Karya III

Gambar 2.10.3. Gambar Bertema Kebudayaan Nasional dari Sanggar Azalia, 2016, Diperoleh dari https://sanggargambarazalia.blogspot.com. (2014), oleh Sanggar Gambar Azalia.

Spesifikasi Karya Gambar Anak

Tema karya : Kebudayaan Nasional Judul Karya : Bhineka Tunggal Ika Ukuran karya : A4 (21,0 x 29,7 cm) Tahun dibuat : 2014

(39)

Karya gambar di atas merupakan karya dari salah satu peserta didik Sanggar Gambar Azalia. Karya gambar ini memiliki tema Kebudayaan Nasional dengan judul gambar Bhineka Tunggal Ika. Media yang digunakan untuk mewarnainya dengan menggunakan crayon. Karya ini menggambarkan ikon-ikon kebudayaan dari berbagai daerah yang berada dalam satu dasar negara yaitu pancasila diman pada gambar dibuat goresan garis melingkar dengan posisi burung garuda sebagai lambang negara yang bertuliskan kebudayaan indonesia.

Dalam lingkaran tersebut terdapat ikon-ikon budaya beberapa daerah seperti ikon ondel-ondel yang merupakan warisan budaya betawi, objek manusia yang sedang menarikan tari merak dengan busana seperti burung merak yang merupakan warisan budaya Sunda (Jawa Barat), ada pula gambar reog ponorogo yang dikenakan oleh anak laki-laki berbaju biru garis-garis yang menyimbolkan kebudayaan dari Jawa Timur, ada juga objek anak laki-laki yang mengenakan pakaian adat Jawa Tengah dengan mengenakan blankon di atas kepalanya. Background di bagian dalam menggambarkan objek bangunan-bangunan sebagai simbol perkotaan yang berada disisi kanan dan kiri dimana mengapit objek gunung yang berada diposisi tengah sebagai simbol dari pedesaan.

Di bagian luar lingkaran terdapat lima karakter hewan yang juga ikut bergembira dengan kebudayaan indonesia. Objek-objek hewan tersebut terdiri dari jerapah, gajah, monyet, singa, dan burung dengan penggambaran ekspresi wajah yang ceria juga riang menyambut kekayaan budaya Indonesia. Di bagian atas background terdapat berbagai bangunan bersejarah seperti dibagian kanan penggambaran objek candi borobudur dan monas, sedangkan dibagian kiri terdapat ikon pemandangan alam berupa objek gunung. Berdasarkan elemen-elemen rupa dapat di deskripsikan dari segi garis, garis yang ditampilkan pada gambar adalah garis nyata, terlihat dari objek-objek yang digambar terlihat jelas. Pemilihan warna hitam dipilih untuk membuatoutlineobjek.

(40)

Pencapaian ruang pada karya gambar di atas juga ditampilkan pada teknik penggradasian warna yang maksimal sehingga objek-objek yang digambar terkesan hidup, indah, dan terjadi pergerakan-pergerakan warna yang bersifat dinamis. Tekstur yang ditampilkan pada karya di atas adalah tekstur nyata. Warna-warna yang ditampilkan adalah penggunaan warna-warna turunan dengan pemberian unsur value

penggunaan warna putih yang menciptakan intensitas warna dan gelap terang warna pada gambar yang memberikan kesan estetik dan harmonis.

Irama yang ditampilkan pada gambar di atas adalah irama dinamis, dimana terdapat pengulangan bentuk yang sangat variatif dari goresan-goresan warna-warna turunan yang digunakan. Proporsi warna yang digunakan sudah sesuai dengan konsep tema, judul, dan objek yang digambarkan. Sedangkan untuk proporsi ukuran objek sudah memahami proporsi meskipun belum secara sepenuhnya karena ada beberapa objek seperti pada objek gajah, objek monyet, dan sebagainya.

Pusat perhatian (Center of Interest) pada gambar di atas terdapat pada objek garuda yang diposisikan dibagian tengah dengan lingkaran garis yang menyertainya. Penggambaran objek burung garuda yang realis dengan simbol-simbol visual yang terdapat pada kelima sila pancasila (seperti simbol kapas, rantai, pohon beringin, timbangan, perisai, dan bulir-bulir padi) juga digambarkan realis seperti bentuk aslinya meskipun warna-warnanya masih ekspresif. Keserasian ditunjukkan dari penggunaan warna-warna turunan yang menimbulkan gradasi warna sehingga menciptakan keselarasan dan keharmonisan antara objek yang digambar dengan warna-warna yang digunakan.

(41)

sebelumnya kontur garis lebih terkesan lebih kaku dan pemahaman perspektif mulai muncul meskipun berdasarkan pada penglihatannya sendiri.

Deskripsi & Analisis Karya IV

Gambar 2.10.4. Juara III Lomba Menggambar Tingkat SMP, 2016, Diperoleh dari http://binaciptacendekia.com.(2014) oleh Bina Cipta Cendekia.

Spesifikasi Karya Gambar Anak

Nama pembuat : Nurhabiba Firdausi Tema karya : Sekolah

Judul Karya : Budaya Membaca Ukuran karya : A4 (21,0 x 29,7 cm) Tahun dibuat : 2014

Medium : Komputer (digital)

Gambar di atas merupakan karya Nurhabiba Firdausi juara III lomba menggambar digital tingkat SMP. Karya gambar digital di atas dengan tema sekolah dapat dideskripsikan bahwa gambar tersebut memvisualisasikan anak sekolah tingkat SMP yang sedang belajar dan membaca disekitar taman sekolah.

(42)

nyata tersebut terkesan dinamis, tidak kaku, dan lebih luwes. Tekstur yang ditampilkan pada karya Nurhabiba adalah tekstur nyata. Warna-warna yang digunakan pada oleh Nurhabiba dalam karyanya lebih menekankan pada warna-warna hue dan value dengan intensitas pengaturan oppacity cahaya yang disesuaikan dengan karakteristik dari warna. Bidang yang digambarkan adalah jenis bidang organik berupa garis-garis melengkung yang sifatnya bebas, sehingga memberikan kesan keceriaan dan dinamis. Kesatuan warna, garis, dan bidang terdapat pada gambar karya Nurhabiba. Seperti penggunaan warna-warna yang disesuaikan dengan realitas objek aslinya. Warna kulit manusia yang diwarnai cream kecoklatan.

Keseimbangan yang ditekankan pada gambar karya Nurhabiba adalah keseimbangan simetris dimana jumlah objek dibidang gambar sebelah kanan maupun kiri memiliki porsi dan kuantitas yang sama. Irama yang ditekankan pada karya Nurhabiba adalah irama dinamis yang memberikan pengulangan bentuk-bentuk yang variatif. Proporsi ukuran tubuh manusia mulai dari ukuran kepala dengan tinggi badan, leher bahu, atau torso yang digambarkan memiliki ukuran yang proporsional dan sesuai. Proporsi dari segi gelap terang warna yang disesuaikan dengan oppacity

pencahayaan sehingga memberikan kesan estetik. Warna-warna terang dan cerah yang menyimbolkan keceriaan lebih mendominasi gambar karya Nurhabiba. Pusat perhatian dari objek yang digambar Nurhabiba terletak pada objek pelajar SMP yang sedang belajar, terlihat dari pemberian warna-warna yang lebih kontras dari objek lainnya sehingga menjadi titik fokus.

(43)

BAB 3 KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan deskripsi dan analisis yang telah dijelaskan pada Bab 2 dapat disimpulkan bahwa mengenal perkembangan karakteristik anak diperlukan untuk melakukan pendekatan, perencanaan pembelajaran, memilih dan mentukan media, metode dan evaluasi. Anak Sekolah Dasar (SD) berusia sekitar 6 - 12 tahun sebagai masa sekolah, perlu didukung oleh guru agar masa peka ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para siswa . Tahap-tahap perkembangan menggambar/seni rupa secara garis besar dapat dibedakan dua tahap karakteristik, yaitu kelas I sampai dengan kelas III ditandai dengan kuatnya daya fantasi-imajinasi, sedangkan kelas IV sampai dengan kelas VI ditandai dengan mulai berfungsinya kekuatan rasio.

Ada dua cara untuk memahami perkembangan seni rupa anak-anak. Pertama, mengkaji teori-teori yang berkaitan dengan perkembangan senirupa anak menurut para ahli. Kedua, mengamati dan mengkaji karya anak secara langsung. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan karya anak berdasarkan rentang usia yang relevan dengan teori yang telah kita pelajari. Melalui kegiatan ini, diharapkan kita bisa memahami perkembangan seni rupa anak secara komprehensif. Pembagian masa/periodisasi dimaksudkan untuk lebih mengenal karya seni rupa anak dalam hal melakukan kegiatan dan penilaian.

(44)

DAFTAR PUSTAKA

Duquet, Piere. (1953). “Creative Communication”. Education and Art. A Symposium. Paris: UNESCO.

Hurlock, B. Elizabeth.1978. Children Development, Sixth Edition, Mc Graw-Hill International Editions.

E, Muharam dan Sundaryati, Warti. (1991). Pendidikan Kesenian II Seni Rupa. Jakarta: Departeman Pendidikan dan Kebudyaaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.

Kamaril, C. Dkk. (1999). Pendidikan Seni Rupa/Kerajinan Tangan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Gambar

Gambar (Pictures)
Gambar 2.9.2. Goresan terkendali memperlihatkan gerakan yang bervariasi,dengan ditambah menggunakan gerakan otot kecil, 2016, Diperoleh dariLowenveld, Viktor dan Britani Lambert W
gambardengan
Gambar 2.9.6. Objek yang penting, “Bapak” dan “Ibu” dibuat lebih besar,2016, Diperoleh dari Bandi Sobandi (2011).
+7

Referensi

Dokumen terkait

Karakteristik wirausaha yang paling menonjol pada petani usia dewasa awal adalah berorientasi masa depan (mean sebesar 4.75) dan pengambilan risiko (mean sebesar 4.50)

anak merasa tertarik melihat media gambar yang dibuat oleh guru, dan anak akan senang belajar. Pada waktu melakukan obsevasi awal di TK Aisiyah Blangkejeren kenyataannya

Gambar 9 memberikan informasi tentang periode mulai mencari pekerjaan untuk alumni Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu

Akhirnya, dari kuantifikasi klasifikasi tersebut dapat dinyatakan bahwa hampir sebagian besar gambar-gambar yang dihasilkan dalam pembelajaran menggambar yang

Sebanyak 9 orang guru menyatakan media pembelajaran berbasis grafis/gambar yang dibuat oleh guru sangat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa.. Kata Kunci

Pada usia pendidikan dasar, 7–15 tahun, karakteristik umur, jenis kelamin, pendidikan orang tua, banyaknya saudara kandung dalam keluarga, status anak sulung, pengeluaran per

Data primer berupa data subjek terma- suk meliputi karakteristik keluarga (nama ibu, usia ibu, pendidikan ibu, pendapatan keluarga, dan jumlah anak), karakteristik anak (nama

Lampiran 8 : Output AMOS Tabel Mahalanobis Distance Lampiran 9 : Gambar Uji CFA Full Structural Model Awal Lampiran 10 : Hasil Estimasi Uji CFA Full Structural Model