BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Perkembangan Jual-Beli Barang Secara Internasional - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Implikasi Penggunaan Internet dalam Convention on Contracts for The International Sale of Goods

Teks penuh

(1)

1 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perkembangan Jual-Beli Barang Secara Internasional

Jual beli sebagai salah satu kegiatan ekonomi yang selalu hidup dan

berkembang dalam kehidupan masyarakat berperan penting dalam memenuhi

kebutuhan setiap individu. Hal tersebut berimplikasi lebih luas jika melihat

masyarakat sebagai satu kesatuan dari sebuah Negara. Jual beli tidak hanya dapat

terjadi antar individu dalam sebuah Negara namun lebih luas terjadi antar sebuah

Negara (meskipun subjek hukum yang melakukan perjanjian ialah individu), yang

dikenal dengan istilah jual beli barang secara internasional atau perdagangan

internasional.

Berdagang barang dengan pedagang asing merupakan kebutuhan dasar

kaum pedagang untuk memperluas kesempatan memperoleh untung, disamping

untuk mengalihkan produk dagang mereka yang tidak terserap di dalam pasar

negara mereka sendiri. Dilihat dalam perspektif hubungan antar negara,

perdagangan internasional menjadi suatu kebutuhan yang mendasar untuk

kelangsungan dalam interdependensi ekonomi dunia.1 Perdagangan internasional menyangkut beberapa aspek kegiatan yang sangat kompleks antara lain tukar

menukar barang dan jasa dari penduduk suatu Negara dengan penduduk Negara

(2)

2

lain yang meliputi beberapa kegiatan seperti jual beli, pengangkutan barang,

asuransi, sistem pembayaran, dan lain-lain.2

Dalam kegiatan jual beli secara internasional dibutuhkan suatu kontrak

sebagai sarana untuk menuangkan isi perjanjian dari kedua belah pihak yang telah

sepakat. Black’s Law Dictionary mengartikan kontrak sebagai suatu perjanjian

antara dua orang atau lebih yang menciptakan kewajiban untuk melakukan atau

tidak melakukan suatu tindakan tertentu (an agreement between two or more

persons which creates an obligation to do nor to do a thing).3 Pengaturan mengenai salah satu kontrak tersebut tertuang dalam suatu Konvensi Internasional

yaitu CISG.

Sebelum adanya harmonisasi dan unifikasi terhadap pengaturan hukum

dagang internasional, terdapat berbagai masalah hukum terkait dengan kegiatan

perdagangan internasional, beberapa diantaranya adalah: (a) masalah kompetensi

lembaga hukum yang berwenang atau yurisdiksi (b) masalah hukum mana yang

akan dipilih, dan (c) masalah implementasi atau pelaksanaan putusan pengadilan

asing.4 Penerapan atau pemberlakuan suatu perjanjian atau konvensi internasional adalah cara yang paling intens digunakan dalam mencapai suatu unifikasi hukum.

Cara ini dipandang tapat untuk memperkenalkan suatu ketentuan hukum yang

bersifat memaksa ke dalam hukum nasional. Termasuk salah satu diantaranya

adalah CISG sebagai Konvensi Kontrak Jual Beli Barang Internasional. CISG

2 Herlina Manulang, Penggunaan Konvensi Internasional mengenai Jual beli Barang Internasional dengan menggunakan Pengangkutan Laut, Universitas HKBP Nomensen, Medan, h. 1-2

3 Bryan A. Garner, Black’s Law Dictionary, St. Paul Minn: West Publ., 5th.ed., West a Thomson Business, United States of America, h. 291-292.

(3)

3

telah terbentuk sebagai suatu unifikasi hukum untuk mengarahkan bagaimana

norma-norma dan pelaksanaan perjanjian dalam kegiatan jual beli tersebut.5

Dalam hal ini, penulis tertarik untuk mengkaji lebih mendalam mengenai

penggunaan CISG terkait dengan perkembangan teknologi informasi dan

komunikasi yang kita kenal saat ini sebagai internet. Dalam keadaan informasi

yang semakin mudah untuk diperoleh melalui internet, bagaimana kaitannya

dengan kontrak jual beli secara internasional yang diterapkan oleh CISG? Untuk

mencapai tujuan penulis tersebut, maka sistematika penulisan bab terdiri dari

beberapa bagian yaitu sebagai berikut: Pertama, membahas mengenai hukum

transaksi bisnis internasional dan perkembangannya dan Kedua, membahas

mengenai pengaturan dalam CISG serta bentuk contract formation CISG.

B. Pengertian “transaksi jual-beli internasional” dan “transaksi jual-beli

barang secara internasional”

Sistem jual-beli barang secara internasional timbul akibat adanya kebutuhan

serta sumber daya alam antar Negara yang berbeda. Jalur perniagaan ditempuh

guna menukarkan hasil bumi dan hasil industri6 dengan Negara lain. Hal ini

merupakan salah satu hubungan terpenting yang terdapat antar bangsa-bangsa di

dunia. Terlebih, mengingat situasi pasca Perang Dunia II di mana terjadi

ketimpangan ekonomi antara negara maju dan berkembang.7 Perdagangan menjadi salah satu aspek terpenting guna keberlangsungan negara-negara di

5 Huala Adolf, Hukum Perdagangan Internasional (Prinsip-prinsip dan Konsepsi Dasar), Refika Aditama Cet.1, Bandung, 2004, h. 32.

6 Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional, Alumni, Bandung, 2003, h. 12.

(4)

4

dunia. Akibatnya, perdagangan internasional berkembang kearah perdagangan

yang lebih bebas dan terbuka serta akses perdagangan secara internasional

menjadi lebih mudah.

Dalam situasi ini, pengaturan hukum menjadi aspek terpenting. Hal ini

dikarenakan tanpa adanya payung hukum, maka akan terjadi kekacauan sistem

pertanggung jawaban terutama mengenai perjanjian yang terkait erat dengan

perdagangan. Secara universal, hukum transaksi bisnis internasional adalah

hukum yang dipergunakan sebagai dasar bisnis lintas batas negara, yaitu

perangkat kaidah, asas-asas dan ketentuan hukum termasuk institusi dan

mekanisme yang digunakan untuk mengatur hak dan kewajiban para pihak dalam

suatu transaksi bisnis dalam hubungannya dengan objek transaksi, prestasi para

pihak, serta segala akibat yang timbul dari tindakan manusia.

Hakikat transaksi bisnis internasional ialah suatu proses kegiatan

tawar-menawar (negotiation) antara pihak satu (penjual) dan pihak yang lain (pembeli)

terkait objek bisnis, prestasi, resiko peristiwa serta implikasi dari setiap peristiwa

diluar bisnis contohnya peristiwa alam, tindakan pemerintah maupun pihak

ketiga.8 Sebagaimana hakikatnya bahwa hukum internasional muncul akibat

hubungan antar negara dimana tiap negara telah memiliki hukum nasional

masing-masing, maka tidak mudah untuk membentuk suatu unifikasi hukum

terkait persoalan transaksi bisnis internasional.

Terdapat beragam istilah terkait hukum yang mengatur mengenai

perdagangan antar Negara, di antaranya ialah hukum perdagangan internasional,

hukum ekonomi internasional, hukum transaksi bisnis internasional, hukum jual

(5)

5

beli internasional, hukum pengangkutan internasional, dan masih banyak istilah

hukum yang tidak asing didengar dalam kegiatan perdagangan secara

internasional. Penulis terlebih dahulu memaparkan secara rinci bahwa

keseluruhan istilah di atas tentu tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam

perdagangan internasional. Hukum ekonomi internasional, lebih mengatur secara

menyeluruh mengenai sistem ekonomi dunia secara keseluruhan. Istilah hukum

ini identik dengan stabilitas keuangan dunia, jumlah ekspor impor dunia dan

berbagai hal lain terkait perekonomian dunia. Selanjutnya, istilah perdagangan

internasional lebih spesifik mengatur mengenai aktivitas perdagangan yang

dilakukan antar Negara.

International trade law is the mixture of domestic or national law and

public international law that applies to transactions for goods or services that

crossnational boundaries. (Cornell Law School).”

Artinya, hukum perdagangan internasional lebih mengatur segala keperluan

jual beli antar Negara berdasarkan fungsi publik dan pemerintah. Termasuk

diantaranya ialah mengenai izin, pembatasan, pajak, bea cukai, dll. Sedangkan

yang terakhir ialah mengenai istilah transaksi bisnis internasional. Secara

harafiah, perdagangan internasional diartikan sebagai aktivitas perdagangan yang

dilakukan antar negara.

Beberapa ahli berpendapat bahwa pengaturan yang terjadi antar subjek

hukum (privat) juga merupakan bagian dari pengaturan Hukum Perdagangan

Internasional, tetapi yang lain berpendapat pengaturan tersebut menjadi ranah

hukum Transaksi Bisnis internasional. Sehingga CISG, merupakan bagian dari

(6)

6

transaksi bisnis dalam hal jual-beli barang secara internasional (sale of goods).

Perbedaan mendasar dalam pengaturan transaksi bisnis jual beli barang yang

diatur oleh CISG terletak pada objek yang diperjanjikan. Objek yang dimaksud

ialah barang (goods) spesifik yang ditujukan untuk dijual kembali yang pada

umumnya berkapasitas besar.9

1. Pertumbuhan volume transaksi jual-beli barang secara internasional Dewasa ini hampir semua pelaku usaha menjalankan kegiatan perdagangan

barang yang melewati batas-batas negaranya. Berdagang barang dengan pedagang

asing merupakan kebutuhan dasar kaum pedagang untuk memperluas kesempatan

memperoleh untung, disamping juga untuk mengalihkan produk produk dagang

mereka yang tidak terserap di dalam pasar negara mereka sendiri. Dilihat dalam

perspektif hubungan antar negara, perdagangan internasional menjadi suatu

kebutuhan yang mendasar untuk kelangsungan dalam interdependensi ekonomi

dunia.

Perdagangan internasional merupakan transaksi jual beli lintas negara, yang

melibatkan dua pihak yang melakukan jual beli yang melintasi batas negara.

Pihak-pihak ini sering merupakan pihak-pihak yang berasal dari negara yang

berbeda atau memiliki nasionalitas yang berbeda. Berdasarkan asumsi dasar yang

diuraikan di atas, tidaklah mengherankan dewasa ini kita menyaksikan

perkembangan pesat di bidang perdagangan internasional.

Pesatnya perkembangan perdagangan internasional ditandai oleh berlakunya

berbagai kesepakatan perdagangan antara negara-negara di dunia seperti World

(7)

7

Trade Organization (WTO), The North American Free Trade Agreement

(NAFTA), ASEAN Free Trade Area (AFTA), Asia-Pacific Economic

Cooperation (APEC), dan European Union (EU), termasuk perkembangan

penting yang terjadi di ASEAN yaitu terbentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN

(ASEAN Economic Community). Pengaturan publik dan privat perlu dan penting

untuk diperhatikan oleh setiap pelaku perniagaan internasional. Dalam ruang

lingkup hukum privat, spesifik mengatur mengenai kontrak yang terjadi antara

kedua subjek hukum yang mengadakan perjanjian, sebab perjanjian atau kontrak

menjadi jembatan pengaturan dari suatu aktivitas ekonomi komersial maupun

aktivitas bisnis.10 Beberapa pengaturan yang selalu muncul di dalam suatu perjanjian diantaranya ialah mengenai ketentuan barang yang diperjual-belikan,

harga, cara pembayaran, pengiriman serta jaminan apabila terjadi breach of

contract.

2. Perkembangan metode jual beli barang secara internasional

Globalisasi yang disertai dengan perkembangan teknologi informasi dan

komunikasi yang cukup signifikan mengakibatkan perubahan besar bagi

perkembangan perdagangan internasional, salah satunya dalam hal transaksi jual

beli internasional. Perkembangan jual-beli internasional sesungguhnya telah

berlangsung sejak dahulu kala. Perdagangan laut antara India, Tiongkok, dan

Indonesia dimulai pada abad pertama sesudah masehi, demikian juga hubungan

Indonesia dengan daerah-daerah di Barat (kekaisaran Romawi). Salah seorang

sarjana Belanda bernama J.C. Van Leur mengemukakan pendapatnya bahwa

perdagangan itu telah terjadi dengan dunia luar terlebih dahulu dengan negeri

(8)

8

India. Barulah kemudian menyusul dengan negeri Cina yang terkenal dengan

jual-beli barang berupa keramik buatan China yang diminati oleh sebagian besar

bangsawan Eropa.

Metode yang digunakan pada saat itu tentu jauh berbeda dengan jual-beli

yang saat ini sangat mudah dilakukan. Melalui jalur laut, para pedagang

menjelajah ke berbagai belahan bumi untuk dapat memperoleh barang kebutuhan

yang tidak dimiliki oleh Negara mereka. Sehingga, hal tersbut bahkan memicu

terjadinya Penjajahan di Negara-negara Asia yang belum pernah disentuh oleh

Eropa. Berbagai jenis rempah yang dapat menghangatkan sert berbagai sumber

daya alam yang dimiliki oleh asia sangat diincar oleh Negara-negara besar di

benua Eropa maupun Amerika. Namun setelah penjajahan berakhir, Perang Dunia

I dan II juga mereda, mulai muncul inisiatif untuk membentuk suatu harmonisasi

hukum dalam hal metode perdagangan internasional.

Seluruh Negara mulai berbenah diri dan berlomba untuk menjadi Negara

yang terbaik. Seperti yang diketahui, sebelum munculnya unifikasi perdagangan

internasional dipandu oleh suatu praktik kebiasaan yang dikenal dengan lex

mercatoria. pada masa lex mercatoria ditandai oleh beberapa karakteristik yaitu

(1) bersifat transnasional, (2) sumber utama dari kebiasaan pedagang, (3)

penegakannya bukan oleh hakim tetapi oleh para pedagang sendiri, (4)

prosedurnya cepat dan informal, (5) kasus sering diputuskan berdasarkan prinsip

kepatutan dan kepantasan.11

Hukum perdagangan internasional pada masa ini dikembangkan secara tidak

terencana (spontan) dan tidak terkodifikasi. Sebagai sebuah hukum yang bersifat

(9)

9

transnasional, dan didasarkan pada praktik kebiasaan, lex mercatoria tampil

sebagai hukum yang seragam (unifikasi) walaupun kenyataannya tidak

terkodifikasi. Sifat seragam ini juga didukung oleh fakta bahwa lex mercatoria

diterapkan secara konsisten oleh pengadilan sehingga penerapan dan hasilnya

menjadi seragam. Perkembangan selanjutnya, dapat dilihat bahwa lex mercatoria

mulai masuk ke dalam sistem hukum nasional pada abad 18 dan 19 ketika konsep

kedaulatan negara semakin menguat. Sebagai contoh, Perancis membuat

kodifikasi hukum perdagangan dalam Kitab Undang Undang Hukum Dagang

(Code de Commerce) pada tahun 1807, Jerman pada tahun 1861 mengeluarkan

sebuah Kitab Undang-Undang Hukum Dagang Seragam (Uniform Commercial

Code), dan Inggris sebagai negara yang menganut sistem hukum kebiasaan

(common law) memasukan lex mercatoria ke dalam sistem hukum nasionalnya

pada pertengahan abad ke-18.12

C. Perkembangan Sistem Pengaturan Hukum Jual Beli Internasional 1. Lex mercatoria

Sebagaimana yang dikatakan oleh ahli hukum Ch. Pamboukis:

The fact of the matter is that, on the one hand, modern commercial transactions are extremely complex, while, on the other hand, efficiency and profit depend on speed and volume. Parties are unlikely to address in minute detail every possible problem related to the contract. Trade usages are capable of both

filling in the gaps in the contract and interpreting the contract’s terms. They also

constitute the core of the so-called lex mercatoria”

(10)

10

Lex mercatoria atau hukum para pedagang adalah aturan-aturan hukum yang

dibuat oleh para pedagang dan untuk para pedagang. Lex mercatoria tumbuh

subur pada masa abad pertengahan (khususnya abad ke-18 dan 19) di Eropa.13 Perkembangan ini dipicu oleh lahirnya Revolusi Industri di Eropa, khususnya

pada era industrialisasi. Perkembangan teknologi pada masa ini mendorong

produsen atau para pedagang untuk menjual produknya melintasi batas-batas

wilayah Negara. Perkembangan ini juga mempengaruhi perubahan bentuk dan

muatan kontrak dalam sistem transaksi. Tidak lagi dilakukan melalui barter akan

tetapi dalam bentuk kontrak dagang yang lebih konkret seperti kontrak jasa

pengangkutan melalui laut, atau darat.14

Setiap perjanjian bersifat mengikat bagi setiap orang yang mengikatkan diri

di dalamnya (asas pacta sun servanda). Hal ini telah dikenal sebagai nilai nilai

yang muncul jika terjadi kesepakatan dari subjek yang melakukan perjanjian.

Akibat hukum yang timbul dari suatu perjanjian juga cukup bervariasi, mengingat

juga diberlakukan asas kebebasan berkontrak, dimana para subjek yang

melakukan kesepakatan bebas untuk menentukan bagaimana isi dari perjanjian

tersebut (selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral, kemanusiaan dan

kesusilaan). Selain itu, dalam memahami maupun menginterpretasi isi dari suatu

perjanjian membutuhkan banyak pertimbangan, sebab dalam suatu kontrak harus

dapat memenuhi kebutuhan dari kedua belah pihak yang terikat. Untuk itulah,

dalam praktik perdagangan internasional telah muncul kebiasaan-kebiasaan

hukum yang diterapkan oleh Negara-negara dan biasa dikenal sebagai lex

mercatoria (law of merchant). Kata lex mercatoria diambil dari bahasa Latin,

13 Huala Adolf, Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta: Rajawali Press, cet.3, 2002, h. 43.

(11)

11

yaitu lex dalam bahasa Inggris mengandung arti law atau dalam bahasa Indonesia

berarti berarti hukum dan mercatoria dalam bahasa Inggris dipadankan dengan

kata merchant artinya, perniagaan atau komersial.15 Berthold Goldman10

mendefinisikan lex mercatoria sebagai “a set of principles and customary rules

spontaneously referred to or elaborated in a framework of international trade,

without reference to a particular national systems of law.”16 Lex mercatoria

menjadi salah satu pedoman yang menjadi semacam "aturan main" para pedagang

internasional dan lambat laun diterima sebagai hukum kebiasaan17 dalam pelaksanaannya. Akan tetapi beberapa berpendapat bahwa Lex Mercatoria belum

dapat berlaku secara mengikat sebab hanya didasarkan pada kebiasaan-kebiasaan

yang hidup dalam masyarakat internasional. Dibutuhkan suatu pengaturan yang

lebih bersifat tetap dan mengikat mengingat sistem hukum yang berbeda di tiap

Negara.

2. CISG

CISG merupakan sebuah konvensi yang terbentuk atas sejarah yang cukup

panjang. Digagas pertama kali oleh suatu lembaga yang disebut UNIDROIT atau

Institute International pour l’ unification du droit dengan cita-cita menciptakan

unifikasi hukum dalam kontrak jual-beli barang internasional. Lembaga ini

didirikan pada tahun 1926 dan dibiayai oleh lebih dari 50 negara yang memiliki

satu tujuan sama. Perjuangan unifikasi ini tentu tidak mudah, mengingat pada

15 K. Prent C.M Dkk., Kamus Latin-Indonesia, Jakarta: Penerbit: Kanisius, 1969

16 Vanessa L.D. Wilkinson, The New Lex Mercatoria, Reality or Academic Fantasy, Journal of International Arbitration, Vol. 2 No. 2, June 1995

(12)

12

tahun 1939-1951 terjadi Perang Dunia ke-II yang mengakibatkan pekerjaan ini

terhenti dan dimulai kembali pada tahun 1960. Akan tetapi baru berhasil pada

tahun 1964 dengan lahirnya Konvensi Hague 1964 (the hague Convention).

Konvensi ini mengatur unifikasi hukum terkait jual beli barang, namun masih

terdapat beberapa kekurangan sehingga tidak semua Negara menerima konvensi

ini. Akibatnya, dilakukan perumusan kembali dengan membentuk suatu tim yang

dikenal sebagai UNCITRAL (United Nations Commission on International Trade

Law). Tim melakukan penelitian dan pengkajian yang lebih mendalam dalam

merumuskan konsep hukum agar unifikasi yang dibentuk kemudian, dapat

dianggap memadai dan sesuai dengan kebutuhan semua Negara terkait.18

Perkembangan CISG tidak terlepas dari terbentuknya UNCITRAL.

UNCITRAL pertama kali terbentuk dalam Sidang Umum PBB dengan Resolusi

2205 (XXI) pada tanggal 17 Desember 1966 dengan tujuan untuk menghindarkan

kesulitan-kesulitan hukum yang timbul dalam rangka perdagangan internasional.

Adapun tugas daripada UNCITRAL adalah untuk mencapai peningkatan

harmonisasi dan unifikasi secara progresif daripada hukum perdagangan

internasional (the promotion of the progressive harmonization and unification of

the law of international trade)19. Kemudian pada tahun1980, CISG muncul sebagai salah satu kodifikasi hukum jual-beli internasional yang dicita-citakan

selama ini oleh negara-negara yang terlibat. Unifikasi hukum ini dimaksudkan

untuk mengatur mengenai kontrak dagang internasional terkait jual-beli, seperti

syarat pembuatan kontrak, resiko yang dipikul masing-masing pihak, pembeli dan

penjual, akibat-akibat dari tidak dipenuhinya kewajiban salah satu pihak dan

18 Victor Purba, Op. Cit, h.1-2.

(13)

13

sebagainya. 20 Pada april, 1980, perwakilan Diplomasi dari 62 Negara yang digelar di Vienna, sepakat terhadap pembentukan CISG. Konvensi ini dibentuk

oleh UNIDROIT yang mana terdiri atas representasi perwakilan setiap Negara

dari seluruh belahan dunia dan mewakili berbagai sistem hukum yang berbeda

pula. Konvensi ini diresmikan pada 1 Januari 1988.21 CISG secara spesifik mengatur mengenai jual beli barang antar para pihak yang memiliki kepentingan

bisnis antar Negara yang berbeda. Namun, pasal 2 Konvensi ini wajib untuk

digaris bawahi sebab berkaitan dengan pengecualian barang-barang yang tidak

dapat diakomodir oleh CISG yaitu barang yang dibeli untuk keperluan pribadi,

keluarga atau untuk keperluan rumah tangga, kecuali apabila penjual, pada setiap

saat sebelum atau pada saat pengakhiran kontrak, tidak mengetahui atau belum

mengetahui bahwa barang tersebut dibeli untuk setiap keperluan tersebut, melalui

lelang, atas dasar eksekusi atau dengan cara lain berdasarkan wewenang hukum,

saham, efek, surat-surat berharga atau uang, kapal, hovercraft atau pesawat

terbang, tenaga listrik.

Salah satu alasan bagi penerimaan yang luas terhadap Konvensi ini terletak

pada aspek fleksibilitasnya. Perumus Konvensi mampu menciptakan fleksibilitas

dengan menggunakan berbagai teknik, khususnya dengan mengadopsi terminologi

yang netral, mendorong penghormatan atas prinsip itikad baik dalam perdagangan

internasional, dengan menerapkan suatu ketentuan bahwa prinsip-prinsip umum

yang menjadi dasar pembentukan Konvensi harus digunakan untuk mengisi gap

terkait dengan standar yang ditetapkan dalam Konvensi, serta dengan mengakui

20 Sudargo Gautama, Hukum Dagang Internasional, Bandung: Penerbit Alumni, 1980, h. 5.

(14)

14

akibat yang mengikat dari berbagai kebiaaan perdagangan yang telah diterima

serta praktik yang sudah berlangsung lama (established).22

D. Pengaturan lain di luar CISG

Terdapat beberapa pengaturan lain terkait jual-beli barang internasional dan

telah dibentuk jauh sebelum terbentuknya CISG. Sesungguhnya, pengaturan ini

juga merupakan bagian dari sejarah perkembangan CISG. “Although both were

subsequently entered into force, they were never widely adopted.”23 Meskipun keduanya telah dibentuk dan berlaku, namun dalam aplikasinya pengaturan ini

merupakan dasar dari terbentuknya CISG.

1) Konvensi Den Haag 1951/1955

Konvensi Den Haag 1951/1955 merupakan Convention on the Law

Applicable to International Sale of Goods yang telah diterima pada tahun 1951 di

Den Haag. Namun baru mulai ditandatangani pada tahun 1955, dengan Belgia

sebagai Negara pertama yang menandatangani konvensi ini pada tanggal 15 Juni

1955. Perbedaan waktu penerimaan dan penandatanganan konvensi inilah yang

menyebabkan konvensi ini seringkali disebut dengan Konvensi Jual-Beli

1951/1955.24

Pengaturan yang diatur dalam konvensi ini ialah suatu pernyataan atau

persetujuan dari para pihak saja mengenai hukum yang berlaku dalam perjanjian

tidak cukup untuk menjadikan jual-beli tersebut sebagai jual beli internasional

22 UNCITRAL, Digest of Case Law on the United Nations Convention on Contracts for the International Sales of Goods, 2012 Edition, h. ix.

23 https://www.Cisg.Law.Pace.Edu/Cisg/Biblio/Leete2.Html dikunjungi pada tanggal 10 Oktober 2017 pukul 05.00.

(15)

15

yang dimaksud oleh Konvensi Den Haag. Dalam Pasal 7 dipertegas bahwa

ketentuan-ketentuan pokok dari konvensi ini wajib dituangkan dalam hukum

nasional dari seluruh Negara yang telah meratifikasi maupun memberlakukan

konvensi ini.

Konvensi Den Haag secara tegas mengatur mengenai jual beli benda atau

barang yang bergerak. Namun tidak berlaku bagi benda bergerak yang bersifat

“non-lichamelijk”, termasuk di dalamnya utang piutang, hak-hak kebendaan, dan

surat berharga. Terkait dengan hukum yang berlaku dijelaskan bahwa jika ada

pilihan hukum, maka yang diberlakukan adalah pilihan hukum para pihak. Dalam

hal ini para pihak dibebaskan untuk memilih hukum dari Negara mana saja yang

dianggap sesuai oleh kedua belah pihak. Jika tidak dilakukan pilihan hukum,

maka yang diberlakukan adalah hukum dari Negara dimana penjual secara de

facto berkedudukan hukum. Oleh karena konvensi ini hanya mengatur mengatur

mengenai hukum yang berlaku bagi suatu transaksi jual beli internasional, segala

sesuatu yang terbit dari perjanjian jual beli tersebut dikembalikan pada hukum

yang berlaku. Dengan demikian, konvensi ini tidak mempersyaratkan apakah

suatu perjanjian harus dibuat dalam bentuk tertulis. Hal ini sepenuhnya

bergantung pada pilihan hukum yang dipilih oleh para pihak.

Ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Konvensi ini mencakup: ruang

lingkup berlakunya; hukum yang berlaku bagi para pihak; dalam hal apa

ketentuan-ketentuan Konvensi tidak dapat diberlakukan; hubungan antara

kebijakan publik dikaitkan dengan keberlakuan Konvensi; serta inkorporasi atas

ketentuan Konvensi dalam hukum nasional masing-masing negara anggota.

(16)

16

jual beli barang dan tidak dapat diterapkan untuk jual beli saham, jual beli kapal

laut atau pesawat udara, atau jual beli atas perintah pengadilan. Mengenai hukum

yang berlaku adalah hukum nasional dari salah satu pihak yang bertransaksi

sebagaimana disepakati dalam kontrak. Dengan pertimbangan kebijakan publik

(public policy) penerapan ketentuan hukum dapat dikecualikan.

2) Konvensi Hague 1964

Konvensi ini merupakan hasil dari 2 draft yang dikenal sebagai ULIS (The

Uniform Law for The International Sale Of Goods) dan ULFC (The Uniform Law

on The Formation of Contracts For The International Sale of Goods). Anggota

delegasi untuk kedua konvensi ini sebagian besar adalah Negara-negara yang

sama dengan upaya unifikasi hukum yang dilakukan oleh Hague Convention.

ULIS terdiri dari 15 Bab dan 101 Pasal25 yang mengatur, antara lain: kewajiban masing-masing negara pihak dalam konvensi ini untuk menginkorporasikan

ketentuan konvensi ke dalam sistem hukum nasional masing-masing

memperlakukan negara anggota lainnya sama dalam kaitan pelaksanaan ketentuan

konvensi prosedur penarikan diri dari keanggotaan konvensi konvensi bersifat

terbuka untuk diaksesi baik oleh negara- negara anggota PBB maupun oleh

badan-badan khusus PBB berlakunya konvensi 6 bulan setelah penyerahan

dokumen ratifikasi yang ke 529.

Dalam Annex dari ULIS, diatur ketentuan-ketentuan seperti ruang lingkup

berlakunya ketentuan umum kewajiban penjual untuk menyerahkan barang sesuai

dengan tempat dan waktu yang telah ditetapkan, kewajiban mengganti rugi dalam

(17)

17

hal wanprestasi, kewajiban menyerahkan barang sesuai dengan kualitas,

kewajiban penerahan dokumen, dan lain-lain kewajban pembeli untuk melakukan

pembayaran sesuai dengan waktu dan tempat yang ditetapkan, menerima

penyerahan barang ketentuan bersama terkait kewajiban penjual maupun pembeli

(provisions common to the Obligations of the Seler and of the Buyer) ketentuan

tentang pengalihan resiko (passing the risk). ULF Terdiri 13 pasal dengan 2

annex. Ketentuan-ketentuan dari annex 1 memuat tentang ruang lingkup

berlakunya Konvensi. Ketentuan tentang belakunya praktek dan kebiasaan dalam

perdagangan tidak ada kewajiban untuk mengikuti bentuk tertentu dari kontrak38;

keharusan bahwa penawaran harus tertentu dan memadai (sufficiently definite)

sifat penerimaan dan cara pengkomunikasiannya status formation of contract

dalam hal kematian atau ketidakmampuan pihak.

Hingga saat ini, Negara Inggris, Irlandia serta 10 negara Eropa lainnya26 masih mengadopsi pengaturan hukum ini sebagai dasar praktek perdagangan

internasional Negara mereka. Konvensi ini dianggap lebih cocok, singkat dan

tidak rumit.

E. Pengaturan CISG dalam ranah hukum nasional negara-negara

Perkembangan lex mercatoria sebagai pedoman hukum para pedagang pada

abad ke-18 dan 19 dianggap tidak dapat memenuhi syarat pembentukan suatu

hukum, sehingga kemudian Negara-negara mulai menyusun hukum nasionalnya

masing-masing yang mana sebagian besar dituangkan dalam bentuk kitab

(18)

18

undang (di Negara-negara bagian Eropa).27 Kitab undang-undang ini kemudian digunakan dalam transaksi jual-beli yang terjadi secara nasional.

Pengaturan hukum Internasional tidak dapat terlepas dari pengaruh hukum

nasional seluruh Negara di dunia, yang sangat beragam. Terlepas dari paham

Monisme dan dualisme mengenai penempatan hukum internasional dalam tata

hukum nasional28, namun yang perlu ditekankan ialah bahwa pengaturan yang diatur dalam hukum perdata internasional secara mendasar berasal dari hukum

nasional tiap-tiap Negara. Dalam hukum nasional terdapat pembagian antara

hukum perdata dan hukum publik, begitupun yang terjadi pada hukum

internasional. Di dalam praktiknya, kontrak jual beli barang menurut sistem

Common Law maupun civil law memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Seperti konsep offer (penawaran) and acceptance (penerimaan) yang telah

dijelaskan sebelumnya. Dalam pembentukan kontrak yang diterapkan dalam

sistem hukum common law memiliki cir khusus yaitu:29

a. Bargain

Bargain dapat diartikan sebagai:

An agreement between two or more people or groups as to what each will

do for the other.” (Oxford Dictionary)

Pemikiran mengenai bargain berhubungan dengan konsep penawaran dan

merupakan tombak dari sebuah perjanjian dan merupakan sumber dari hak yang

27 Sudargo Gautama, Loc.Cit.

28 Di Negara Amerika Serikat (AS), apabila suatu Perjanjian Internasional tidak bertentangan dengan Konstitusi maka isi Perjanjian dianggap menjadi bagian Hukum yang berlaku disana tanpa perlu pengundangan terlebih dahulu. Namun di Indonesia, dibutuhkan Pengundangan terlebih dahulu secara resmi untuk memberlakukan suatu Instrument Hukum Internasional (Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Hukum Internasional).

(19)

19 timbul dari suatu kontrak.30 Kasus Mellen v. Johnson memberikan pemahaman

lebih dalam mengenai konsep bargain dalam sistem hukum Common Law. Dalam

kasus ini pengadilan menegaskan bahwa pengadilan tidak menganggap suatu

penawaran atau offer bersifat mengikat apabila penawaran tersebut terbuka untuk

banyak orang. Dalam kasus ini, Johnson (sebagai offeror) yang memiliki sebuah Villa mengirim surat kepada Mellen yang isinya menyatakan bahwa ia ingin

menjual Villa tersebut menurut harga pasar. Kemudian Mellen merasa tertarik

untuk membelinya. Namun ternyata, Johnson mengirimkan surat tersebut ke

banyak orang dan juga ingin membelinya. Namun Mellen menafsirkan bahwa

surat penawaran tersebut sebagai sebuah penawaran (offer) dan Mellen segera

menerimanya.

Akan tetapi pada akhirnya Johnson menjual Villa tersebut kepada orang lain

yang menawarkan harga lebih tinggi. Kemudian Mellen mengajukan gugatan ke

pengadilan karena merasa dirugikan. Tetapi pada akhirnya Pengadilan menolak

gugatan Mellen dan menjelaskan bahwa:

“The letter of March 27 was not an offer. It expressed ‘a desire to dispose of’ the property. It announced that the agent was "writing the several people, including yourself, who have previously expressed an interest in the property." Its conclusion, in part, was, "I will be interested in hearing further from you if you have any interest in this property, for as I said before, I am advising those who have asked for an opportunity to consider it." The recipient could not reasonably understand this to be more than an attempt at negotiation. It was a mere request

or suggestion.”31

Kasus ini sekaligus menegaskan bahwa dalam mekanisme bargaining

terdapat perbedaan antara offer dan dan ajakan untuk mengadakan negosiasi

(attempt to negotiation). Secara konsep, keduanya memiliki akibat hukum yang

(20)

20

berbeda sehingga konsep dan syarat bargain ini sangat penting untuk dimengerti

dan dipahami secara jelas.

b. Agreement

Agreement atau kesepakatan dalam sistem hukum common law sama dengan

istilah offer and acceptance. Seperti yang telah dijelaskan mengenai bargain,

harus dibedakan antara pengertian offer dan invitation to treat. Invitation to treat

adalah penawaran untuk menerima offer. Sedangkan offer harus dibedakan dari

invitation to treat. Katalog barang, iklan pengundangan tender, prospektus sebuah

perusahaan maupun lelang, semua itu merupakan bagian dari invitation to treat,

bukan offer yang sesungguhnya. 32

An offer is an expression of willingness to contract on specified terms,

made with the intention that it is to be binding once accepted by the person to

whom it is addressed.”33

Offer menjadi asal muasal bagaimana terjadinya kesepakatan antara kedua

belah pihak yang terikat. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa offer merupakan

suatu bentuk keinginan untuk melakukan sebuah kontrak atau jual-beli, dimana

offer ditujukan secara spesifik kepada seseorang dan diterima secara baik kepada

subjek yang dimaksud. Setelah pemahaman mengenai offer jelas, maka

selanjutnya yang perlu dipahami adalah mengenai syarat penerimaan atau

acceptance.

“An acceptance is a final and unqualified expression of assent to the terms

of an offer. Again, there must be an objective manifestation, by the recipient of the

32 ibid.

(21)

21

offer, of an intention to be bound by its terms. An offer must be accepted in

accordance with its precise terms if it is to form an agreement. It must exactly

match the offer and ALL terms must be accepted.”

Gambar 1.1 Nature of Agreement34

c. Consideration

Consideration adalah syarat, tanda dan merupakan simbol dari suatu

penawaran. Decision in Eastwood v. Kenyon also interesting because it highlights

tension between consideration and moral obligations. While husband had moral

obligation to honour his promise, he did not have legal obligation (for want of

consideration). Decision repudiated doctrine advanced by Lord Mansfield that

consideration was closely tied to moral obligations and, in particular, that a

pre-existing moral obligation furnishes consideration for one’s susequent promise to

pay (a doctrine that essentially dispenses with consideration as a separate

requirement).35

d. Capacity

Capacity atau kemampuan merupakan syarat mengenai posisi para pihak

yang terikat dalam perjanjian. Salah satu syarat ini dapat ditunjukkan melalui

(22)

22

suatu kasus yang memutuskan bahwa sebuah kontrak dikatakan tidak sah karena

dilakukan oleh individu yang belum cukup umur atau belum dewasa. Kasus

tersebut terjadi antara Quality Motors v. Hays yang masih berumur 16 tahun.

Pengadilan memutuskan bahwa seorang anak yang telah secara jelas belum cukup

usia tidak dapat melakukan perjanjian sebab hal tersebut terkait dengan

pertanggungjawaban kepada anak.

Suatu proses transaksi yang biasa disebut dengan istilah offer and

acceptance, dimana ketika diterima oleh pihak lainnya akan memberikan akibat

hukum di dalam kontrak. Dalam perjanjian sering ditemukan, di mana satu pihak

tidak dapat menyusun fakta-fakta ke dalam suatu offer yang dibuat oleh pihak

lainnya yang telah diterima sebagai acceptance oleh pihak tersebut. Karena

penawaran dan penerimaan adalah hal yang fundamental, maka dalam sistem

common law, sangat diragukan apakah suatu pertukaran offer (cross-offer) itu

dapat dianggap sebagai kontrak. Berdasarkan sistem common law, pada saat suatu

kontrak dibuat, saat itulah hak dan kewajiban para pihak muncul. Karena bisa saja

terjadi suatu kontrak yang dibuat berdasarkan keinginan dari para pihak dan pada

saat yang sama juga kontrak tersebut tidak ada. Hal ini disebabkan karena aturan

mengenai acceptance dan revocation ini memiliki akibat-akibat yang berbeda

pada setiap pihak. Namun, disamping beberapa perbedaan fundamental tersebut

terdapat beberapa kesamaan pengaturan mengenai kontrak jual-beli antar kedua

sistem hukum tersebut diantaranya:36

-Pemindahan hak kepemilikan dan resiko dalam kontrak jual-beli

-Hak dan kewajiban penjual dan pembeli

(23)

23 -Jaminan kelayakan barang dalam kontrak

-Ganti rugi dalam kontrak yang harus ditanggung oleh para pihak.

F. Negara-negara pihak CISG

CISG adalah konvensi atau perjanjian multilateral yang berisi keseragaman

aturan yang sah tentang undang-undang untuk mengurus atau mengatur penjualan

barang-barang internasional sebagaimana yang ditetapkan dalam Konvensi CISG

1980. Dimana CISG ini merupakan hasil kerja dari Persatuan Bangsa-Bangsa

(PBB) yang diprakarsai oleh UNCITRAL.

Sejak awal terbentuknya CISG, Negara-negara telah antusias untuk dapat

menerapkan unifikasi hukum ini dalam sistem jual-beli Internasional (dari 11

negara pertama di tahun 1980 menjadi 79 Negara pada tahun 2013).37 Bahkan

hingga Juni 2017, terdapat 85 negara yang telah mengasesi CISG.38 Tidak hanya negara-negara Eropa selaku pelopor yang telah menandatangani serta meratifikasi

CISG sebagai pedoman dalam kegiatan jual-beli internasional negara, tetapi

hingga kini masih diikuti oleh langkah ASEAN yang juga turut serta meratifikasi.

Perlu dicatat bahwa lima mitra dagang utama ASEAN (China, 23 negara Uni

Eropa, Jepang, Amerika Serikat dan Republik Korea) juga telah menjadi peserta

CISG,39 sehingga uniformitas dalam asas-asas hukum kontrak jual-beli internasional dapat diupayakan seoptimal mungkin dalam kerjasama-kerjasama di

bidang hukum perdata dengan pelaku-pelaku bisnis dari negara-negara tersebut.

37 Lihat: United Nations Treaty Collection, http://treaties.un.org/pages

38 With its accession to the United Nations Convention on Contracts for the International Sale of Goods (CISG), Azerbaijan becomes the eighty-fifth State Party to the Convention. The Convention will enter into force for Azerbaijan on 1 June 2017. (http://www.unis.unvienna.org/unis/en/pressrels/2016/unisl229.html)

(24)

24

Terdapat beberapa kelebihan yang sesungguhnya dapat diperoleh oleh suatu

negara dengan meratifikasi konvesi ini. Pertama, yang terpenting ialah guna

memberikan kepastian hukum bagi suatu negara yang melakukan kegiatan jual

beli internasional. Selain itu, mengingat CISG telah diratifikasi oleh sebagian

besar negara di dunia seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan Singapura,

maka berdasar prinsip hukum perdata internasional, kontrak tersebut dapat tunduk

pada CISG karena CISG telah menjadi bagian hukum positif dari Negara-negara

tersebut, maka hal ini akan semakin memudahkan sistem penerapan hukum

dagang yang akan digunakan saat terjadinya kontrak jual beli barang secara

internasional di antar negara yang mengikatkan diri.40

Figur

Gambar 1.1 Nature of Agreement34

Gambar 1.1

Nature of Agreement34 p.21

Referensi

Memperbarui...