1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah (bahasa Yunani: pedon; bahasa Latin: solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. Ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenai tanah dikenal sebagai ilmu tanah. Dari segi klimatologi, tanah memegang peranan penting sebagai penyimpan air dan menekan erosi, meskipun tanah sendiri juga dapat tererosi. Komposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. Air dan udara merupakan bagian dari tanah.
Tanah berasal dari pelapukanbatuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai ''pedogenesis''. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon tanah. Setiap horizon menceritakan mengenai asal dan proses-proses fisika, kimia, dan biologi yang telah dilalui tubuh tanah tersebut.
Tanah Ultisol mempunyai sebaran yang sangat luas, meliputi hampir 25% dari total daratan Indonesia. Penampang tanah yang dalam dan kapasitas tukar kation yang tergolong sedang hingga tinggi menjadikan tanah ini mempunyai peranan yang penting dalam pengembangan pertanian lahan kering di Indonesia. Hampir semua jenis tanaman dapat tumbuh dan dikembangkan pada tanah ini, kecuali terkendala oleh iklim dan relief.
2 fosfor dan kalium yang sering kahat, reaksi tanah masam hingga sangat masam, serta kejenuhan aluminium yang tinggi merupakan sifat-sifat tanah Ultisol yang sering menghambat pertumbuhan tanaman. Selain itu terdapat horizon argilik yang mempengaruhi sifat fisik tanah, seperti berkurangnya pori mikro dan makro serta bertambahnya aliran permukaan yang pada akhirnya dapat mendorong terjadinya erosi tanah.
Pemupukan menurut pengertian khusus ialah pemberian bahan yang dimaksudkan untuk menyediakan hara bagi tanaman. Umumnya pupuk diberikan dalam bentuk padat atau cair melalui tanah dan diserap oleh akar tanaman. Namun pupuk dapat juga diberikan lewat permukaan tanaman, terutama daun.
Pemberian bahan yang dimaksudkan untuk memperbaiki suasana tanah, baik fisik, kimia atau biologis disebut pembenahan tanah (amandement) yang berarti perbaikan (reparation) atau penggantian (restitution). Bahan-bahan tersebut termasuk mulsa (pengawet lengas tanah, penyangga temperatur), pembenah tanah (soil conditioner, untuk memperbaiki struktur tanah), kapur pertanian (untuk menaikkan pH tanah yang terlalu rendah, atau untuk mengatasi keracunan Al dan Fe), tepung belerang (untuk menurunkan pH tanah yang semula tinggi) dan gipsum (untuk menurunkan kegaraman tanah). Rabuk kandang dan hijauan legum diberikan ke dalam tanah dengan maksud sebagai pupuk maupun pembenah tanah.
Pemupukan merupakan salah satu usaha pengelolaan kesuburan tanah. Dengan mengandalkan sediaan hara dari tanah asli saja, tanpa penambahan hara, produk pertanian akan semakin merosot. Hal ini disebabkan ketimpangan antara pasokan hara dan kebutuhan tanaman. Hara dalam tanah secara berangsur-angsur akan berkurang karena terangkut bersama hasil panen, pelindian, air limpasan permukaan, erosi atau penguapan. Pengelolaan hara terpadu antara pemberian pupuk dan pembenah akan meningkatkan efektivitas penyediaan hara, serta menjaga mutu tanah agar tetap berfungsi secara lestari.
3 memberikan pupuk bentuk dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, dengan cara yang tepat dan pada saat yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pertumbuhan tanaman tersebut. Tanaman dapat menggunakan pupuk hanya pada perakaran aktif, tetapi sukar menyerap hara dari lapisan tanah yang kering atau mampat. Efisiensi pemupukan dapat ditaksir berdasarkan kenaikan bobot kering atau serapan hara terhadap satuan hara yang ditambahkan dalam pupuk tersebut.
Di Indonesia ketersediaan pupuk P sangat bermasalah, karena sedikit sumber mineral apatit yang layak untuk dijadikan bahan dasar pupuk, sehingga untuk mencukupi kebutuhan pupuk P pemerintah harus mengimpor. Belakangan ini pupuk P mahal dan langka, meskipun pemerintah melakukan subsidi untuk ketersediaan pupuk P. Namun tetap terjadi penyimpangan penyediaan pupuk ini. Disamping ketersediaan pupuk P di pasar, efisiensi pemupukan P pada tanah Ultisol merupakan masalah utama.
Unsur fosfor (P) sifatnya mobil dalam tanaman, mudah dipindahkan dari bagian daun yang tuda ke titik tumbuh. Gejala kekahatan: tanaman kerdil, pertumbuhan akar buruk, kedewasaan terlambat, warna daun hijau kelam, muncul warna keunguan misalnya pada jagung. Jika P berlebihan meskipun tidak secara langsung meracuni tanaman, akan menyebabkan merangsang pertumbuhan organisme perairan, mempercepat eutrofikasi, P tanah yang berlebih meningkatkan pengangkutan P dalam sedimen, air limpasan. Kebanyakan P diserap dalam bentuk ion anorganik orthofosfat: HPO4 2- atau H2PO4 -. Jumlahnya
tergantung pH larutan, pada pH 7,2 jumlahnya setara, HPO4 2- lebih banyak jika
kondisi tanah alkalin, sedangkan H2PO4–lebih banyak jika kondisi tanah masam.
Akar juga menyerap beberapa fosfat organik: asam nukleat, fitin, kontribusi terhadap keseluruhan hara P masih kecil. Penyerapan H2PO4– lebih cepat
dibanding HPO4 2- , hal ini terkait dengan muatan divalen vs. monovalen.
4 Nitrogen meningkatkan pembentukan bunga pada tanaman jagung dan jumlah hari yang dibutuhkan untuk 50% tanaman pada suatu lahan mengalam pembungaan menjadi lebih singkat. Bobot segar dan kering hasil hijauan secara nyata dipengaruhi oleh ketersediaan unsur nitrogen areal pertanaman jagung. Bobot segar dan kering hasil hijauan, meningkat progresif oleh ASN dan NPK dibandingkan dengan sumber nitrogen lainnya. Protein kasar dan serat kasar dipengaruhi oleh sumber nitrogen (NPK, ASN dan AS). Pemberian urea membentuk protein kasar terendah dibandingkan dengan sumber nitrogen lainnya. Di sisi lain, isi serat kasar terendah tercatat pada saat tanaman yang diberi perlakuan dengan pemupukan (ASN) sedangkan kadar serat kasar tertinggi tercatat pada perlakuan kontrol atau tanpa penambahan unsur nitrogen.
Kalium merupakan salah satu unsur hara makro yang penting selain untuk N dan P. Unsur ini adalah salah satu nutrisi yang penting sehingga defisiensi atau kekurangan K mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan produksinya. Kalium adalah aktivator dari berbagai enzim tanaman. Kalium memiliki fungsi penting dalam hubungan air tanaman di mana ia mengatur keseimbangan ion dalam sel. Kalium mengatur pembukaan stomata daun dan laju transpirasi dan pertukaran gas. Tanaman juga perlu K untuk pembentukan gula dan pati, untuk sintesis protein, dan pembelahan sel. Hal ini meningkatkan kandungan minyak pistachio dan memberikan ketahanan pada kondisi lingkungan yang dingin. Kekurangan kalium pada tanaman tidak akan menunjukkan gejala yang terlihat secara langsung karena tingginya tingkat redistribusi antara jaringan tua dan jaringan meristem. Pada awalnya hanya ada penurunan tingkat pertumbuhan (hidden hunger) dan kemudian akan mengalami klorosis dan nekrosis dimulai pada daun yang sudah tua. Pada berbagai spesies tanaman termasuk jagung dan tanaman buah-buahan gejala ini dimulai pada bagian tepi dan ujung daun tetapi pada pada beberapa taaman termasuk kacang-kacangan kekurangan unsur K menyebabkan bercak yang meyebar pada daun
5 meningkatkan efisiensi pemupukan P.Salah satu bahan organik (kompos) yang dapat dimanfaatkan adalah kompos T. diversifolia yang merupakan tanaman legum, banyak tumbuh sebagai semak di pinggir jalan, tebing, dan sekitar lahan pertanian. Tanaman ini telah menyebar hampir di seluruh dunia, dan sudah dimanfaatkan sebagai kompos oleh petani di Kenya, namun di Indonesia belum
banyak dimanfaatkan.
Padahal dari hasil penelitan Hakim, dkk (2008), kompos T. diversifolia dapat mengurangi kebutuhan pupuk buatan sebanyak 50% bagi tanaman melon, tomat, cabai, jahe,jagung, dan kedelai pada tanah Ultisol. Kompos T. diversifolia mengandung 0,37% P, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu sumber P bagi tanaman.(Hartatik, 2007). Menurut Hakim, dkk (2008), T. diversifolia dapat menurunkan Al dan menaikkan pH tanah sehingga unsur hara fosfor dapat tersedia.
1.2 Tujuan
6 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanah Ultisol
Tanah Ultisol memiliki kemasaman kurang dari 5,5 sesuai dengan sifat kimia, komponen kimia tanah yang berperan terbesar dalam menentukan sifat dan ciri tanah umumnya pada kesuburan tanah. Nilai pH yang mendekati minimun dapat ditemui sampai pada kedalaman beberapa cm dari dari batuan yang utuh (belum melapuk) Tanah-tanah ini kurang lapuk atau pada daerah-daerah yang kaya akan basa-basa dari air tanah pH meningkat pada dan di bagian lebih bawah solum. (Hakim,dkk. 1986)
Menurut Prasetyo dan Suriadikarta (2006), kandungan hara pada umumnya rendah karena pencucian basa berlangsung intensif, sedangkan kandungan bahan organik rendah karena proses dekomposisi berjalan cepat dan sebagian terbawa erosi. Pada yang mempunyai horizon kandik, kesuburan alaminya hanya bergantung pada bahan organik di lapisan atas.
Dominasi kaolinit pada tanah ini tidak memberi kontribusi pada kapasitas tukar kation tanah, sehingga kapasitas tukar kation hanya bergantung pada kandungan bahan organik dan fraksi liat. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui perbaikan tanah (ameliorasi), pemupukan, dan pemberian bahan organik.
Tanah Ultisol sering diidentikkan dengan tanah yang tidak subur, tetapi sesungguhnya bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian potensial, asalkan dilakukan pengelolaan yang memperhatikan kendala (constrain) yang ada pada Ultisol ternyata dapat merupakan lahan potensial apabila iklimnya mendukung. Tanah Ultisol memiliki tingkat kemasaman sekitar 5,5. (Munir, 1996)
7 yang dimaksudkan untuk mempengaruhi sifat fisik tanah, sifat kimia dan kegiatan jasad renik tanah. Pengapuran pada Ultisol di daerah beriklim humid basah seperti di Indonesia tidak perlu mencapai pH tanah 6,5 (netral), tetapi sampai pada pH 5,5 sudah dianggap baik sebab yang terpenting adalah bagaimana meniadakan pengaruh meracun dari aluminium dan penyediaan hara kalsium bagi pertumbuhan tanaman. (Hakim,dkk, 1986)
Tanah ini umumnya berkembang dari bahan induk tua. Di Indonesia banyak ditemukan di daerah dengan bahan induk batuan liat. Tanah ini merupakan bagian terluas dari lahan kering di Indonesia yang belum dipergunakan untuk pertanian. Problem tanah ini adalah reaksi masam, kadar Al tinggi sehingga menjadi racun tanaman dan menyebabkan fiksasi P, unsure hara rendah, diperlukan tindakan pengapuran dan pemupukan, keadaan tanah yang sangat masam sangat menyebabkan tanah kehilangan kapasitas tukar kation dan kemampuan menyimpan hara kation dalam bentuk dapat tukar, karena perkembangan muatan positif. (Hardjowigeno,1993)
Senyawa-senyawa Al monomerik dan Al –hidroksi merupakan sumber utama kemasaman dapat tukar dan kemasaman tertitrasi pada Ultisol. Sumber-sumber lain adalah kation-kation ampoter dapat tukar atau senyawa-senyawa hidroksinya, bahan organik dan hidrogen dapat tukar. (Hardjowigeno,1993)
Sifat-sifat penting pada tanah Ultisol berkaitan dengan jumlah fosfor dan mineral-mineral resisten dalam bahan induk, komponen-komponen ini umumya terdapat dalam jumlah yang tidak seimbang, walupun tidak terdapat beberapa pengecualian. Ultisol yang berkembang pada bahan induk dengan kandungan fosfor yang lebih tinggi. Translokasi/pengangkutan liat yang ekstensif berlangsung meninggalkan residu yang cukup untuk membentuk horizon-horison permukaan bertekstur kasar atau sedang. (Hardjowigeno,1993)
8 demikian menyebabkan terbebasnya fosfor dan elemen-elemen lainnya yang esensial bagi pertumbuhan tanaman. (Munir, 1996)
Cara konvensional dengan system tebang bebas dan bakar ternyata menyebabkan pH tanah basa-basa dapat tukar dan fosfor tersedia dalam tanah akan meningkat pada awalnya, tetapi setelah 1,5 tahun kemudian akan mengalami penurunan, sehingga ditanami dua atau tida tahun produktivitasnya akan menurun secara tajam. (Soepardi, 1979)
Ultisol merupakan tanah yang telah mengalami proses pelapukan lanjut melalui proses Luxiviasi dan Podsolisasi. Ditandai oleh kejenuhan basa rendah (kurang dari 35% pada kedalaman 1,8 m), Kapasitas Tukat Kation kurang dari 24 me per 100 gram liat, bahan organic rendah sampai sedang, nutrisi rendah dan pH rendah (kurang dari 5,5). (Munir, 1996)
Tingkat pelapukan dan pembentukan Ultisol berjalan lebih cepat, daerah-daerah yang beriklim humid dengan suhu tinggi dan curah hujan tinggi menyebabkan Ultisol mempunyai kejenuhan basa-basa rendah. Selain itu Ultisol juga mempunyai kemasaman tanah, kejenuhan Aldd tinggi, Kapasitas Tukar Kation rendah (kurang dari 24 me per 100 gram tanah), kandungan nitrogen rendah, kandungan fosfat dan kalium tanah rendah serta sangat peka terhadap erosi. (Hardjowigeno,1993)
Pengaruh pemupukan lebih lanjut pada tanah Podsolik merah kuning untuk menambah jumlah dan tingkat ketersediaan unsure hara makro, karena telah diketahui bahwa Ultisol miskin akan basa-basa (yang ditandai dengan kejenuhan basa kurang dari 35%) dan KTK rendah (kurang dari 24 me per 100 gram liat). (Munir, 1996)
9 2.2 Jagung
A. Klasifikasi Tanaman Jagung
Jagung merupakan tanaman semusim (annual) Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif.
Kingdom: Plantae (Tumbuhan); Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh); Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji); Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga); Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil); Sub Kelas: Commelinidae; Ordo: Poales; Famili: Poaceae(suku rumput-rumputan); Genus: Zea; Spesies: Zea mays L. (Rukmana, 1997)
B. Morfologi Tanaman Jagung 1. Akar
10 tanaman agar tetap tegak dan mengatasi rebah batang. Akar ini juga membantu penyerapan hara dan air. Perkembangan akar jagung (kedalaman dan penyebarannya) bergantung pada varietas, pengolahan tanah, fisik dan kimia tanah, keadaan air tanah, dan pemupukan. (Nuning Argo Subekti,dkk. 2012)
2. Batang
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin. (Nuning Argo Subekti, dkk. 2012)
3. Daun.
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang, merupakan bangun pita (ligulatus), ujung daun runcing (acutus), tepi daun rata (integer), Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stomata pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stomata dikelilingi sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun. (Nuning Argo Subekti, dkk. 2012)
4. Bunga.
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious) Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma) Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence) Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. (Nuning Argo Subekti, dkk. 2012)
11 Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Buah Jagung siap panen Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri). (Nuning Argo Subekti, dkk. 2012)
C. Syarat Tumbuh 1. Tanah
Tanah merupakan media tanam tanaman jagung. Akar tanaman berpengang kuat pada tanah serta mendapatkan air dan unsur hara dari tanah. Perubahan tubuh tanaman secara kimi, fisik dan biologi akan berpegaruhi fungsi dan kekuatan akar dalam menopang pertumbuhan serta produktifitas tanaman. Pemberian pupuk, akan memberikan dan menambah kesuburan tanah sehingga pertumbuhan dan produktifitas tanaman jagung dapat di penenuhi dengan seimbang.
Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl. (Purwono, 2005)
2. Iklim
12 tanaman jagung untuk pertumbuhan terbaiknya antara 270- 320 C. (Purwono dan Hartono, 2005)
Tanaman akan tumbuh normal pada curah hujan yang berkisar 250-500 mm pertahun. Curah hujan kurang atau lebih dari angka yang di atas akan menurunkan produksi. Air banyak dibutuhkan pada waktu perkecambahan dan setelah berbunga. Tanaman membutuhkan air lebih sedikit pada pertumbuhan vegetatif dibanding dengan pertumbuhan generatif. Setelah tongkol mulai kuning, air tidak diperlukan lagi. Idealnya tanaman jagung manis membutuhkan curah hujan 100-125 mm perbulan dengan distribusi merata. (Tobing, dkk, 1995)
2.3 Pupuk Kandang
Pupuk kandang dapat diartikan sebagai semua produk buangan dari hewan ternak yang dapat digunakan untuk menambah hara, memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Pemeliharan ternak diberi alas sekam pada ayam, jerami pada sapi, kerbau dan kuda, maka alas tersebut akan dicampur menjadi satu kesatuan dan disebut pupuk kandang pula. Berdasarkan sifatnya pupuk kandang dibagi menjadi dua yaitu pupuk kandang padat dan cair. Pupuk kandang padat yaitu kotoran ternak yang berupa padatan termasuk yang belum dikomposkan, sebagai sumber hara N bagi tanaman dan dapat memperbaiki sifat kimia, biologi dan fisik tanah. Sedangkan pupuk kandang cair merupakan bentukan cair dari kotoran hewan yang masih segar yang bercampur dengan urin hewan atau kotoran hewan yang dilarutkan dalam air dalam perbandingan tertentu. Pupuk kandang yang masih segar jika dicampur dengan air dan dijadikan pupuk kandang cair memiliki kandungan hara yang lebih baik dibanding dengan pupuk kandang padat. (Suwarno 2003)
13 kotoran hewan yang umum digunakan adalah kotoran sapi, kerbau, kelinci, ayam, dan kambing. Tidak ada bukti yang signifikan mengenai keunggulan masingmasing jenis kotoran hewan, tetapi secara umum kotoran sapi banyak digunakan sebagai pupuk kandang karena ketersediaannya lebih banyak dibandingkan kotoran hewan lain. (Setiawan, 1998)
Semakin banyak kandungan unsur hara nitrogen bahan baku semakin cepat terurai. Hal ini disebabkan jasad renik pengurai memerlukan unsur hara nitrogen untuk perkembangannya. Unsur hara nitrogen digunakan oleh mikroorganisme untuk sintesis protein dan pembentukan protoplasma. 40-50% protoplasma tersusun dari senyawa yang mengandung unsur hara nitrogen. Kotoran sapi mengandung unsur hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium tiap kotoran memiliki kandungan unsur hara yang berbeda. Kandungan unsur hara dari berbagai kotoran ternak tertera pada Tabel 1.
14 terurai oleh bakteri sehingga tidak bisa langsung diserap akar tanaman, kotoran ternak yang bagus bentuk dan warnanya mirip dengan kompos dan juga tidak berbau. Pupuk kandang selain mengandung unsur-unsur zat hara serta mineral juga bisa memperbaiki struktur tanah seperti halnya pupuk kompos. (Rahardi etal., 1995)
Pupuk kandang merupakan kotoran padat dan cair dari hewan ternak baik ternak ruminansia ataupun ternak unggas. Sebenarnya, keunggulan pupuk kandang tidak terletak pada kandungan unsur hara karena sesungguhnya pupuk kandang memiliki kandungan hara yang rendah. Kelebihannya adalah pupuk kandang dapat meningkatkan humus, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme pengurai. (Zulkarnain, 2009)
Pupuk panas maksudnya adalah pupuk yang penguraiannya oleh jasad renik tanah berlangsung amat cepat sehingga terbentuk panas, jeleknya pupuk panas ini mudah menguap karena bahan organik tidak terurai secara sempurna dan banyak berubah menjadi gas. Yang tergolong pupuk panas adalah kotoran kuda, kambing, dan domba ini bisa terjadi karena kotoran kuda misalnya pada pupuk cairnya banyak mengandung senyawa-senyawa nitrogen yang memungkinkan giatnya pertumbuhan bakteri dan ini pula sebabnya dalam kandang kuda banyak dijumpai gas amoniak. Pupuk panas baik digunakan pada tanah seperti tanah liat. Pupuk dingin adalah pupuk kandang yang penguraiannya berjalan secara perlahan sehingga tidak terbentuk panas. Yang tergolong pupuk dingin adalah kotoran sapi, kerbau, babi dan ayam. Cara kerja dari pupuk kandang ini cara kerjanya yang lamban. Oleh karena itu ia amat cocok digunakan sebagai pupuk dasar. (Hidayat dan Darwin, 2008)
15 tetapi mempunyai kelebihan dapat memperbaiki sifat tanah. Pengaruh pupuk kandang terhadap sifat tanah antara lain adalah memudahkan penyerapan air hujan, memperbaiki kemampuan tanah dalam mengikat air, mengurangi erosi, memberikan lingkungan tumbuh yang baik bagi kecambah biji dan merupakan sumber unsur hara tanaman. Pupuk kandang membuat tanah lebih subur, gembur dan lebih mudah diolah. Kegunaan ini tidak dapat digantikan oleh pupuk buatan. Kandungan unsur hara dalam kotoran ternak yang penting untuk tanaman antara lain unsur hara nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) Ketiga unsur inilah yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman. Ketiga jenis unsur hara ini sangat penting diberikan karena masing-masing memiliki fungsi yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. (Setiawan, 1998)
2.4 Pupuk N
Nitrogen adalah senyawa yang tersebar secara luas di biosfir. Atmosfir bumi mengandung sekitar 78% gas nitrogen yang inert. Pada sistem perairan senyawa nitrogen dapat berupa nitrogen organik dan anorganik. Nitrogen terdiri atas amonia (NH3), amonium (NH4+), nitrat (NO3-) dan nitrit (NO2-), jumlah
secara kuantitas dari nitrogen yang terakumulasi oleh tiap mahluk hidup baik hewan maupun tumbuhan bervariasi 1 sampai 10 persen dari total berat kering (dryweight) Nitrogen diserap tanaman sebagai NO3- dan NH4+, yang kemudian
dimasukkan ke dalam semua asam amino dan protein. Nitrogen merupakan unsur hara yang sangat banyak sering membatasi hasil tanaman.(Kim, 1991)
Sumber utama Nitrogen (N) adalah Nitrogen bebas (N2) di atmosfir, yang
takarannya mencapai 78% volume, dan sumber lainnya senyawa-senyawa Nitrogen yang tersimpan dalam tubuh jasad. N sangat jarang ditemukan oleh karena wataknya yang mudah larut dalam air. (Poerwowidodo, 1992)
N diserap oleh tanaman sebagai NO3- dan NH4- kemudian dimasukkan
16 N yang tersedia tidak dapat langsung digunakan, tetapi harus mengalami berbagai proses terlebih dahulu. Pada tanah yang immobilitasnya rendah, Nitrogen yang ditambahkan akan bereaksi dengan pH tanah yang mempengaruhi proses Nitrogen. Begitupula dengan proses denitrifikasi yang pada proses ini ketersediaan N tergantung dari mikroba tanah yang pada umumnya lebih menyukai senyawa dalam bentuk ion ammonium daripada ion nitrat (Jumin, 1992)
Kedelai memerlukan N dalam jumlah banyak. Kedelai dapat menyediakan N sendiri melalui fiksasi oleh bakteri yang hidup dalam akar. Di bawah kondisi yang menguntungkan, bintil akar terbentuk dalam waktu 1 minggu setelah biji ditanam. Tetapi bakteri bintil akar baru mulai aktif mengikat N setelah 2 minggu berikutnya. Oleh karena itu kedelai sering memberikan respon terhadap pemupukan N pada saat masih kecil. Namun, seringkali kedelai dijumpai kurang memberikan respon terhadap pemupukan N yang berlebihan. Hal sering mengakibatkan kemalasan bakteri dalam bintil akar dalam proses pengikatan N dari udara. (Suprapto, 1998)
Nitrogen dapat dikatakan sebagai salah satu unsur hara yang bermuatan. selain sangat mutlak di butuhkan, ia dengan mudah tidak dapat menyersediakan bagi tanaman. Ketidaktersediaan N dari dalam tanah dapat melalui proses pencucian/terlindi (leaching) NO3-, denitrifikasi NO3- menjadi N2, volatilisasi
NH4+ menjadi NH3-, terfiksasi oleh mineral liat atau dikonsumsi oleh
mikroorganisme tanah. Larutan hara yang ada di dalam tanah bergerak melalui proses difusi dan aliran massa (konveksi) Walaupun mekanismenya berbeda, namun berlangsung secara bersama-sama. Pergerakan N di dalam tanah sulit untuk diamati, karena adanya proses transformasi yang tidak dapat dikendalikan, seperti amonifikasi dan nitrifikasi. (Sulaiman dan Eviati 2005)
17 pemupukan N yang tinggi atau pemupukan terlambat akan meningkatkan kadar glutelin yaitu protein dengan lisin yang tinggi. Tanaman padi, pemupukan N ini menaikkan protein biji padi tanpa menurunkan nilai kualitasnya. (Siradz 2007)
Pupuk urea adalah pupuk kimia yang mengandung Nitrogen (N) berkadar tinggi. Unsur Nitrogen merupakan zat hara yang sangat diperlukan tanaman. Pupuk Urea berbentuk butir-butir kristal berwarna putih, dengan rumus kimia NH2(CONH)2, merupakan pupuk yang mudah larut dalam air dan sifatnya sangat
mudah menghisap air (higroskopis), karena itu sebaiknya disimpan di tempat kering dan tertutup rapat. Pupuk urea mengandung unsur hara N sebesar 46% dengan pengertian setiap 100 kg urea mengandung 46 kg Nitrogen. Unsur hara nitrogen yang terkandung dalam pupuk urea memiliki kegunaannya bagi tanaman yaitu, membuat daun lebih banyak mengandung butir hijau daun (chlorophyl), dapat mempercepat pertumbuhan tanaman, dapat menambah kandungan protein tanaman dan dapat dipakai untuk semua jenis tanaman, baik tanaman pangan, holtikultura, tanaman perkebunan, usaha peternakan dan usaha perikanan. (Muhfandi 2011)
2.5 Pupuk P
Fosfor merupakan satu dari enam belas hara esensial bagi tanaman, sehingga keberadaannya bagi tanaman dibutuhkan dalam jumlah yang relatif banyak dan tidak dapat digantikan oleh unsur lain. Secara umum fosfor di dalam tanah digolongkan dalam dua bentuk, yaitu: bentuk organik dan anorganik. Sebagian besar senyawa fosfor inorganik adalah senyawa kalsium, senyawa besi, dan alumunium, sementara kelompok senyawa organik ialah fitin dan derivatnya, asam nukleat dan fosfolipida. Bentuk fosfor organik ini dapat meliputi 3% hingga 75% dari total fofor tanah. Jumlah kedua bentuk ini disebut dengan P-total. Bentuk yang tersedia bagi tanaman dalam jumlah yang dapat diambil oleh tanaman hanya merupakan sebagian kecil dari jumlah yang ada dalam tanah. (Leiwakabessy et al 2003)
18 termasuk pupuk hijau, dan senyawa asli unsur ini yang organik dan anorganik, yang terdapat dalam tanah. (Buckman dan Brady, 1982)
Unsur P diserap tanaman dalam bentuk HPO42-. Spesies ion yang dominan
tergantung dari pH sistem tanah-pupuk-tanaman, yang mempunyai ketersediaan tinggi pada pH 5,5 – 7. Kepekatan H2PO4- yang tinggi dalam larutan tanah
memungkinkan tanaman mengangkutnya dalam takaran besar karena perakaran tanaman diperkirakan mempunyai 10 kali penyerapan tanaman untuk H2PO4
-dibanding untuk HPO42- (Poerwidodo, 1992)
Ketersediaan P di dalam tanah ditentukan oleh banyak faktor tetapi yang paling penting adalah pH tanah. Pada tanah ber-pH rendah (asam), P akan bereaksi dengan ion besi (Fe) dan Aluminium (Al) Reaksi ini akan membentuk besi fosfat dan aluminium fosfat yang sukar larut di dalam air sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman. Pada tanah ber-pH tinggi (basa), P akan bereaksi dengan ion kalsium. Reaksi ini membentuk kalsium fosfat yang sifatnya sukar larut dan tidak dapat digunakan oleh tanaman. Dengan demikian, tanpa memperhatikan pH tanah pemupukan fosfor tidak akan berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman. (Novizan, 2004)
Kedelai memerlukan P dalam jumlah yang relatif banyak. P dihisap tanaman sepanjang masa pertumbuhannya. Periode terbesar penggunaan P dimulai pada masa pembentukan polong sampai kira-kira 10 hari sebelum biji berkembang penuh. Kekurangan P pada kebanyakan tanaman terjadi sewaktu tanaman masih muda, oleh karena belum adanya kemampuan yang seimbang antara penyebaran P oleh akar dan P yang dibutuhkan. Fungsi unsur P antara lain merangsang perkembangan akar, sehingga tanaman akan lebih tahan terhadap kekeringan, mempercepat masa panen dan menambah nilai gizi biji. (Suprapto, 1998)
Pupuk SP atau SP 36 merupakan pupuk fosfat yang berasal dari batuan fosfat yang ditambang. Kandungan unsur haranya dalam bentuk P2O5 SP36 adalah
19 dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, lamban pemasakan dan produksi tanaman rendah.(Situmorang dan Untung 2001)
Pupuk TSP merupakan pupuk buatan dengan rumus molekul Ca (HP2 PO4) dengan kadar PO2 pupuk 44-53%. Pupuk ini dibutuhkan tanaman untuk merangsang pembungaan, pertumbuhan akar dan mepercepat daya serap hara tanaman. Sedangkan pupuk KCL merupakan pupuk buatan dengan kandungan kalium pupuk 60-63%. Pupuk ini sangat dibutuhkan tanaman sebagai katalis enzim dan membuat tanaman tahan terhadap penyakit dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap stress lingkungan. (Pijoto, 1995)
Pupuk TSP mengandung phosfor (P) sebanyak 53%. Phosfor sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, terutama pada pertumbuhan akar permulaan sehingga akan meningkatkan daya serap hara tanaman phosfor merangsang pertumbuhan akar, mempercepat pembungaan, masaknya buah dan biji, serta sebagai penyusun lemak dan protein phosfor juga sangat berperan aktif dalam mentransfer energi di dalam sel dan berfungsi merubah karbohidrat seperti tepung menjadi gula serta meningkatkan kerja kloroplas. Tanaman menyerap phosfor dalam bentuk ion HPO2 dan ion H2PO4 tergantung pada PH larutan tanah tersebut. Pada PH 4 ion phosfor di dominasi oleh bentuk H2 PO4- tetapi pada PH 9 phosfor lebih banyak dalam bentuk HPO42- (Suprapto, 1998)
Pengaruh keasaman tanah pada pertumbuhan tanaman adalah melalui pengaruhnya pada ketersediaan anasir hara yang diperlukan tanaman. Tanah-tanah berkeasaman tinggi (pH rendah) mengandung kationn-kation besi dan aluminium bebas dalam takaran banyak yang mampu menyerap ion fosfat sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Pada pH tinggi, kation mangan juga akan menyerap anion fosfat sehingga tidak tersedia bagi tanaman. (Poerwowidodo, 1992)
2.6 Pupuk K
20 enzim. K merupakan satu-satunya kation monovalen yang esensial bagi tanaman. K terlibat dalam semua reaksi biokimia yang berlangsung dengan tanaman dan merupakan batasan yang paling banyak diperlukan tanaman. K bukan penyusun bagian integral komponen tanaman, melainkan fungsinya sebagai katalis berbagai fungsi fisiologis esensial. Adanya K tersedia yang cukup dalam tanah menjamin ketegaran tanaman. Selanjutnya membuat tanaman lebih tahan terhadap berbagai penyakit dan merangsang pertumbuhan akar. K dikenal sebagai hara penentu mutu produksi tanaman. (Soepardi dan Ismunadji 2007)
Berbagai bentuk Kalium (K) dalam tanah digolongkan atas dasar ketersediaannya menjadi tiga golongan besar, yaitu bentuk yang relatif tidak tersedia. Senyawa yang mengandung sebagian besar bentuk K ini adalah feldspat dan mika. Sumber-sumber K adalah beberapa jenis mineral, sisa-sisa tanaman jasad renik, air irigasi serta larutan dalam tanah, dan pupuk buatan. Unsur ini diserap tanaman dalam bentuk ion K+ dan dapat dijumpai di dalam tanah dalam
jumlah yang bervariasi, namun jumlahnya dalam keadaan tersedia bagi tanaman biasanya kecil. K yang ditambahkan kedalam tanah dalam bentuk garam-garam mudah larut seperti KCl, K2SO4, KNO3, dan K-Mg-SO4. Mekanisme penyerapan K mencakup aliran massa, konveksi, difusi, dan serapan langsung dari permukaan zarah tanah. (Poerwowidodo, 1992)
21 kedelai mengandung K yang besar berkisar 60% dari jumlah K yang terdapat dalam tanaman dibanding biji jagung yang hanya mengandung 25% K. Fungsi utama K antara lain, membantu perkembangan akar, membantu proses pembentukan protein, menambah daya tahan tanaman terhadap penyakit dan merangsang pengisian biji. (Suprapto, 1998)
KCL merupakan zat hara yang paling penting bagi tanaman dengan kadar kalium 60-63%. Keuntungan pupuk ini tidak mudah hilang atau tercuci air tanah. Pada tanah yang mengandung cukup K akan menghasilkan tanaman yang berkualitas tinggi. Pemberian kalium yang cukup akan memberikan polong yang baik dan berisi penuh. Kalium sangat berperang dalam membuka dan menutupnya stomata, proses potosintesis, dan pengaturan permeabilitas sel. Defesiensi K menunjukkan gejala merah pada tulang daun, tunas mudah menjadi kurus dan mudah mati. (Suprapto,1992)
Pupuk K yang banyak digunakan di Indonesia yaitu kalium klorida (KCl), namun akhir-akhir ini berkembang dengan menggunakan kalium sulfat (K2SO4) Hasil penelitian menunjukkan telah terbukti K2SO4 mampu memperbaiki karakteristik kualitas beberapa produk sayuran. Adanya penambahan sulfur (S) pada tanaman menta mampu meningkatkan produksi terna. minyak dan mentol. Unsur S juga berperan penting selama proses sintesis metabolisme tanaman termasuk pembentukan metabolik sekunder. (Suprapto,1992)
2.7 Pupuk Tithonia
Tithonia diversifolia merupakan tanaman yang banyak tumbuh sebagai semak di pinggir jalan, tebing, dan sekitar lahan pertanian. Tanaman ini telah menyebar hampir di seluruh dunia, dan sudah dimanfaatkan sebagai kompos oleh petani di Kenya, namun di Indonesia belum banyak dimanfaatkan. (Hartatik, 2007)
22 meningkatkan pH tanah, menurunkan Al-dd serta meningkatkan kandungan P, Ca dan Mg tanah. (Hartatik, 2007)
Tithonia diversifolia segar terdiri dari 20% bahan kering dan berisi nitrogen 4,6% DM. Daun Tithonia diversifolia berkonsentrasi fosfor luar biasa besar (0,27-0,38% P) Kosentrasi tersebut lebih tinggi daripada tingkat yang ditemukan pada tumbuhan polong kira-kira sebesar 0,15-0,20% posfor. (Wanjau, dkk, 2002)
Menurut Hartatik (2007) bahwa pemberian Tithonia diversifolia pada tanah Ultisol untuk mensubstitusi N dan K pupuk buatan untuk meningkatkan pH tanah, menurunkan Al-dd, serta meningkatkan kandungan hara P, Ca, dan Mg tanah.
Hakim, dkk, (2008) kompos Tithonia diversifolia dapat menggantikan 50% pupuk buatan. Selain itu pemberian Tithonia diversifolia untuk meningkatkan kesuburan tanah/produktivitas lahan (menurunkan Al, serta meningkatkan pH tanah, bahan.organik, kandungan hara N, P, K, Ca dan Mg tanah, sehingga meningkatkan produktivitas tanaman.
Tumbuhan Kembang bulan (Tithonia diversifolia) umumnya tumbuhan liar di tempat-tempat curam, misalnya di tebing-tebing, tepi sungai dan selokan. Sekarang banyak ditanam sebagai tanaman hias karena warna bunganya yang kuning indah dan sebagai pagar untuk mencegah kelongsoran tanah. Juga merupakan tumbuhan tahunan yang kerap tumbuh di tempat terang dan banyak sinar matahari langsung. Tumbuh dengan mudah di tempat atau di daerah berketinggian 5-1500 m di atas permukaan laut. (Didik dan Sulistijowati, 2001)
Tumbuhan kembang bulan memiliki sistematik (Hutapea, 1994) sebagai berikut: Divisi : Spermatophyta; Sub divisi : Angiospermae; Kelas : Dicotyledoneae; Bangsa : Asterales; Suku :Asteraceae; Marga : Tithonia; Spesies : Tithonia diversifolia.
Tumbuhan kembang bulan memiliki nama lain yaitu : Sinonim : Mirasolia diversifolia; Nama daerah : Rondose-moyo, Harsaga (Jawa), Kirinyu (Sunda), Kayu Paik (Minang). (Didik dan Sulistijowati, 2001)
24 BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Pratikum kesuburan tanah dan pemupukan ini di mulai dari tanggal 15 September 2014 – 11 november 2014, bertempat di ruang Seminar Tanah sebagai ruangan untuk pertemun awal dan ruangan asistensi, Rumah Kaca sebagai tempat untuk menanam dan melihat perkembangan tanaman, dan Laboratorium Kimia Tanah, jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang. 3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan selama pratikum adalah, alat tulis berupa pena dan mistar untuk mengukur tinggi tanaman dan perkembangan tanaman, timbangan untuk mengukur ketentuan dari masing-masing perlakuan pupuk yang digunakan, pisau cutter untuk memotong nagian tanaman yang digunakan untuk analisi N dan P, serta alat lain yang digunakan.
Sedangkan bahan yang digunakan selama pratikum adalah bibit jagung yang siap digunakan untuk penanaman, kontrol, pupuk kandang, pupuk hijau, N, P , pupuk urea, sebgai perlakuan untuk perbandingan dalam penanaman, dan bahan lainnya yang dirasa perlu.
3.3 Metode Pratikum
Adapun metode yang digunakan untuk masing – masing analisi adalah : Metode N tanah (Labu kjehdal), metode P tanah (Bray 2), metode N tanaman (Pengabuhan basa dengan H2SO4), metode P tanaman (Pengabuhan basa dengan H2SO4).
3.4 Cara Kerja
3.4.1 Di lapangan
25 seperti kontrol, pupuk kandang, pupuk hijau, N,P, pupuk urea dengan ketentuanya masing- masing sesuai dengan kebutuhan tanaman yaitu pada tanaman jagung. Setelah itu disediakan tanah ultisol sebagai media tanam yang sebelumnya tanah tersebut telah dikering anginkan terlebih dahulu selama lebih kurang 2 hari lalu apabila terdapat bongkahan-bongkahan besar dihaluskan hingga tidak tampak lagi permukaan yang kasar, setelah itu kembali dikering anginkan dengan tidak mendapatkan begitu banyak cahaya matahri (tertutup) atau bisa disebut dengan istilah inkubasi, lalu tanah tersebut dapat digunakan sebagai media tanam.
Setelah itu dimasukkan tanah ultisol tersebut kedalam masing-masing polibag, dimana masing-masing kelompok mendapatkan 8 polibag, dan polibag tersebut diisi dengan tanah lalu dicampurkan dengan berbagai perlakuan yang telah ditetapkan takarannya serta ada 1 polibag yang digunakan sebagai kontrol untuk tanaman tersebut. Lalu jagung ditanam, setelah itu setiap sekali dalam satu minggu tanaman jagung diamati, bagaimana perkembangan nya dan pertumbuhannya dengan cara mengukur tinggi tanaman, jumlah helai daun, panjang daun, lebar daun, dan lain sebagainya. Begitulah selanjutnya hingga batas akhir pratikun dan didapatkan data atau hasil hingga tanaman tersebut tumbuh dan berkembang dengan baik. Setelah itu bagian dari daun hingga akarnya mauoun batang nya di potong dan nantinya itulah yang akan dijadikan sebagai bahan untuk dianalisis tanaman N dan P.
3.4.2 Di laboratorium
1. Analisis N Tanah
Cara kerja pada analisis N tanah yang pertama adalah 1 gram tanah kering lolos ayakan 0,5 mm dimasukkan ke dalam labu Kejdahl, kemudian ditambahkan 1 gram campulan selen dan 3 ml H2SO4 pekat lalu
26 dihubungkan dengan alat destilasi dan kran air pendingin dibuka. Setelah itu hasil destilasi ditampung dengan50 ml H3BO3 4% dalam Erlenmeyer
250 ml. Tungku pemanas dihidupkan dan di destilasi selama 10-15 menit, tetesan-tetesan destilat akan turun melalui pipa penyuling ke dalam Erlenmeyer penampung. Bila tetesan distilat tidak lagi mengandung amoniak (bila kertas lakmus merah tidak berubah warnanya dengan tetesan destilat tersebut), air suling disemprotkan pada ujung pipa yang tadinya terendam destilat, hasil destilat tersebut kemudian diangkat. Kemudian ujung pipa dimasukkan ke dalam tabung yang berisi aquadest dan api tungku dimatikan, alat destilasi akan tercuci secara otomatis. Lalu hasil destilasi dititar dengan larutan 0,1 N H2SO4 sampai warna hijau berubah
menjadi warna merah muda, lalu dicatat jumlah H2SO4 yang terpakai,
percobaan untuk blanko dilakukan dengan cara yang sama. Perhitungan :
% N Tanah = H S ter i− H S x H S x
� ℎ �
2. Analisis N Tanaman
Sebanyak 0,25 gram sampel tanaman yang telah dikeringkan selama 2 x 24 jam dimasukkan ke dalam labu Kejdahl ditambahkan 2,5 ml H2SO4pekat. Lalu besoknya, didestruksi selama 15 menit dengan
ditambahkan sedikit-sedikit H2O2 sebanyak 5 tetes tiap 10 menit, hingga
larutan jernih kemudian didinginkan. Lalu dicukupkan volumenya menjadi 50 ml dengan aquadest. Kemudian larutan dipipet sebanyak 20 ml dimasukkan ke dalam labu Kejdahl ditambahkan 40 ml aquadest dan 15 ml NaOH 30% kemudian didestilasi dan ditampung dengan20 ml H3BO3 4%
dan 3 tetes indikator Conway kemudian dipanaskan hingga volume penampung berubah 40 ml atau terjadi perubahan warna menjadi hijau kebiru-biruan. Lalu hasil dititar dengan H2SO4 0,05 N, lalu dicatat
H2SO4yang terpakai.
27 % N Tanaman = � � � � − , �H S x x
� �
3. Analisis P Tanah
Sebanyak 1,5 gram tanah kering udara dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 50 ml atau ke dalam labu film kemudian ditambahkan 15 ml larutan Brey No.2 (larutan P-A) dan 1 gram karbon aktif. Lalu dikocok selama 15 menit dengan mesin pengocok kemudian disaring. Dari hasil saringan dipipet sebanyak 5 ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Lalu ditambahkan 5 ml larutan P-B dan dikocok, ditambahkan 5 tetes larutan P-C dan dikocok. Ditunggu selama 15 menit dan dibaca kerapatan optic atau % transmitan pada panjang gelombang 660 nm spektrofotometer. Setelah itu hasil di kalibrasi dengan kurva baku kemudian dilakukan penetapan blanko (tanpa tanah).
Perhitungan :
% P Tanah = P dalam larutan (ppm) x , x kka 4. Analisis P Tanaman
Dari 50 ml larutan, bersisa 30 ml (20 ml untuk analisis N tanaman). Lalu diambil sebanyak 5 ml, kemudian dicukupkan volumenya dengan aquadest menjadi 50 ml. Kemudian dipipet sebanyak 2 ml dan dimasukkan ke dalam tabung film ditambahkan 8 ml pereaksi P kemudian dikocok selama 15 menit. Setelah itu diukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 693 nm.
Perhitungan :
29 September
2014
2 46,5 2,5 4
3 48 2,5 4
Pupuk N 100 g 1 16 1,5 3
2 19,2 1,5 2
2 41,5 1,5 4
Pupuk N 200 g 1 46 2,5 4
2 33,5 1,5 4
3 33 2 3
02 Oktober 2014
Pupuk N 50 g 1 70 3 5
2 65 2,5 6
3 77 3 6
Pupuk N 100 g 1 63 2,5 5
2 73 3 6
3 90 3 8
Pupuk N 200 g 1 57,5 2,5 5
2 76 3,5 7
3 76 3 6
16 Oktober 2014
Pupuk N 50 g 1 - - -
2 - - -
31
2014 2 94 3,5 8
3 60 2 4
75 kg 1 80 4 12
2 100 4 15
3 110 4,5 6
150 kg 1 90 4 7
2 85 3 7
3 100 4 7
16 Oktober 2014
0 kg 1 117 4 8
2 121 4,5 8
3 95,5 4,2 6
75 kg 1 100 4 12
2 121 4 15
3 112 3,7 7
150 kg 1 126 5,5 8
2 121 4,7 7
34
10 ton 1 28,5 1 4
2 35,5 1,3 4
3 36,5 1,8 5
02 Oktober 2014
0 ton 1 62 1,9 5
2 59 2 5
3 46 1,5 4
5 ton 1
2 53 3,1 7
3 92 2,9 7
10 ton 1 63 2,7 7
2 67 2,5 6
3 85 2,6 7
16 Oktober 2014
0 ton 1 87,7 3 7
2 93,5 2,8 7
3 63,5 2 6
5 ton 1
2 128,5 4,8 9
3 103,5 4,5 9
10 ton 1 105,3 4,2 9
36
10 Ton 1 55,0 3,0 6
2 58,0 3,0 6
3 - - -
16 Oktober 2014
0 Ton 1 99,0 3,5 5
2 45,0 1,5 5
3 83,0 3,2 7
5 Ton 1 126,0 5,0 8
2 113,0 4,5 7
3 97,0 4,0 6
10 Ton 1 113,0 4,0 7
2 100,0 3,5 7
3 - - -
Bobot Basah, Bobot Kering, KA dan KKA Tanaman Jagung Jenis
Pupuk
Perlakuan Ulangan ke- BB BK
N 50 g 1 18,83 17,93
2 22,27 23,31
3 17,95 17,01
37
2 32,10 19,33
3 29,66 18,76
200 g 1 3,11 2,21
2 14,11 13,14
3 6,36 5,38
P 0 1 43,93 9,33
2 52,34 18,38
3 39,34 7,18
75 1 44,92 9,23
2 75,84 28,44
3 68,60 31,14
150 1 69,06 32,84
2 39,97 16,04
3 86,95 41,37
K 0 g 1 79,22 52,25
2 64,6 47,64
3 79,06 37,66
5 g 1 72,38 38,33
2 82,12 51,85
38
10 g 1 67,68 37,91
2 70,32 42,77
3 71,18 41,20
Pupuk Kandang
0 ton 1 14,43 2,99
2 10,15 0,95
3 4,11 0,3
5 ton 1 - -
2 72,88 21,44
3 64,6 18,48
10 ton 1 45,54 16,71
2 42,88 15,97
3 51,29 22,61
Tithonia 1 50,88 14,64
2 10,14 0,81
3 35,80 5,54
1 75,77 25,63
2 63,80 26,43
3 37,88 6,28
1 78,89 32,31
39
3 - -
4.1.2 Hasil N dan P Tanaman
4.1.2.1 Persentase N tanaman
Pupuk Kadar Pupuk % N Tanaman
Nitrogen (N) 50 -
100 4,368
200 4,592
Phospor (P) 0 0,896
75 0,672
- -
Kalium (K) 0 0.784
50 1,456
100 2,688
Pupuk Kandang 0 1,568
5 1.792
10 1,456
Titonia 0 0,784
5 2,688
40 4.1.2.2 Persentase P tanaman
Pupuk Kadar Pupuk % P Tanaman
Nitrogen (N) 50 0,844
100 1,78
200 0,86
Phospor (P) 0 0,812
75 0,188
- -
Kalium (K) 0 0,176
50 0,232
100 0,564
Pupuk Kandang 0 0,728
5 0,736
10 1,135
Titonia 0 0,6
5 0,208
41 4.2 Pembahasan
Dari hasil praktikum di dapat tinggi tanaman jagung yang bervariasi. Mulai dari perlakuan kontrol; pupuk N 50 ton, 100 ton, 200 ton; pupuk P 0 ton, 75 ton, 150 ton; pupuk K 0 ton, 50 ton, 100 ton; pupuk kandang 0 ton, 5 ton, 10 ton; dan pupuk tithonia 0 ton, 5 ton 10 ton. Kadar N dan P juga bervriasi mulai dari perlakuan kontrol; pupuk N 50 ton, 100 ton, 200 ton; pupuk P 0 ton, 75 ton, 150 ton; pupuk K 0 ton, 50 ton, 100 ton; pupuk kandang 0 ton, 5 ton, 10 ton; dan pupuk tithonia 0 ton, 5 ton 10 ton. Dan juga bobot basah, bobot kering, KA dan KKA tanaman jagung Mulai dari perlakuan kontrol; pupuk N 50 ton, 100 ton, 200 ton; pupuk P 0 ton, 75 ton, 150 ton; pupuk K 0 ton, 50 ton, 100 ton; pupuk jagung yang tertinggi pada perlakuan pupuk kandang adalah perlakuan pupuk kandang 5 ton yaitu 128 cm. tinggi tanaman jagung yang tertinggi pada perlakuan pupuk tithonia adalah perlakuan pupuk thitonia 5 ton yaitu 126 cm. Data tersebut menunjukkan bahwa tanaman jagung tumbuh efektif dengan perbandingan perlakuan pupuk N,P,K Kandang, dan Tithonia bertuturt-turut sebanyak 100gr; 150kg; 0gr; 5 ton; dan 10 ton.
42 pupuk tithonia 5 ton yaitu 2,688%. Data tersebut menunjukkan bahwa tanaman jagung memiliki persentase N dengan perbandingan perlakuan pupuk N,P,K Kandang, dan Tithonia bertuturt-turut sebanyak 100gr; 0kg; 100gr; 5 ton; dan 5 ton yang rata-ratanya termasuk kategori sangat tinggi.
Peranan N bagi tanaman adalah sebagai pembentuk protein,bagian penting klorofil, mempercepat pertumbuhan vegetatif tanaman, dan memperpanjang waktu pertumbuhan vegetatif. Namun kelebihan N dapat mengakibatkan proses pembuangan menjadi lama, adenium akan bersifat sekulen karena mengandung banyak air, sehingga menyebabkan tanaman rentan serangan jamur dan penyakit dan mudah roboh.
Persentase P tanaman jagung yang tertinggi pada perlakuan pupuk N adalah perlakuan pupuk N 100 gr yaitu 1,78%. persentase P tanaman jagung yang tertinggi pada perlakuan pupuk P adalah perlakuan pupuk P 0 kg yaitu 0,812%. persentase P tanaman jagung yang tertinggi pada perlakuan pupuk K adalah perlakuan pupuk K 100 gr yaitu 0,564%. persentase P tanaman jagung yang tertinggi pada perlakuan pupuk kandang adalah perlakuan pupuk kandang 10 ton yaitu 1,135%. persentase P tanaman jagung yang tertinggi pada perlakuan pupuk tithonia adalah perlakuan pupuk tithonia 10 ton yaitu 0,724%. Pada perlakuan pupuk N hasil tidak diketahui sehingga tidak didapat hasil. Data tersebut menunjukkan bahwa tanaman jagung memiliki persentase P dengan perbandingan perlakuan pupuk N,P,K Kandang, dan Tithonia bertuturt-turut sebanyak 100gr; 0 kg; 100gr; 10 ton; dan 10 ton yang rata-ratanya termasuk kategori sangat rendah.
43 BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Unsur N dan P merupakan unsur yang paling berperan dalam pertumbuhan tanaman khususnya jagung sehingga kita perlu mengetahui persentase unsur-unsur tersebut dalam tanaman dengan melakukan perlakuan pupuk yang sesuai. Dengan adanya praktikum ini, kita dapat menentukan perlakuan pupuk N,P,K, Kandang, dan Tithonia yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman jagung yang optimal.
5.2 Saran
44 DAFTAR PUSTAKA
Affandi. 2008. Pemanfaatan Urine Sapi Yang Difermentasi Sebagai Nutrisi Tanaman. http://affandi21. xanga.com/644038359/ pemanfaatan-urine-sapi-yang-difermentasi-sebagai-nutrisi-tanaman/. Diakses pada tangal 16 November 2014.
Buckman Harry O, Brady Nyle C. 1982. Ilmu tanah. Jakarta: Bharat Karya Aksara.
Didik,G. dan Sulistijowati, A. (2001). Efek Ekstrak daun Kembang Bulan
Terhadap candida albicans serta profil Kromatogramnya.Dalam: Cermin Dunia Kedokteran No. 130. Jakarta: UI-Press. Hal. 31-32, 35
Hakim, N, M. Y. Nyakpa, S. G. Nugroho, A. M. Lubis, M. R. Saul, M. A. Diha, G. B. Hong, dan H. H. Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Lampung: Universitas Lampung.
Hakim, N. 2008. Pengolahan Kesuburan Tanah Ultisol Masam dengan Teknologi Pengapuran Terpadu. Andalas University Press, Padang.
Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta: Akademika Pressindo.
Hartatik, W. 2007. Tithonia diversifolia sumber pupuk hijau. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian 29:3-5
Hidayat, P. dan Darwin P. 2008. pengaruh dosis kompos pupuk kandang sapi. Jakarta: kanisius.
Jumin, H. S. 1992. Ekologi Tanaman, Suatu Pendekatan Fisiologis. Jakarta: Rajawali Pers.
Kim H.Tan, 1991. Dasar-Dasar Kimia Tanah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Leiwakabessy FM, UM Wahjudin, Suwarno 2003. Kesuburan Tanah. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
45 Munir, M. 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya.
Novizan. 2004. Petunjuk pemupukan yang efektif (TNH). Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Hutapea, J.R., 1994. Inventaris Tanaman Obat Indonesia, Jilid III. Departemen Kesehatan RI dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 29-30 Nuning Argo Subekti, Syafruddin, Roy Efendi, dan Sri Sunarti. 2012, Morfologi
Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung, Balai Penelitian Tanaman
Serealia, Maros.
Poerwowidodo. 1992. Telaah Kesuburan Tanah. Bandung: Penerbit Angkasa. Prasetyo, B. H. Dan Suriadikarta, D. A. 2006. Karakteristik, Potensi, Dan
Teknologi Pengelolaan Tanah Ultisol Untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering Di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 25 (2). Bogor: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Balai Penelitian Tanah.
Purwono dan R, Hartono. 2005. Kacang Hijau. Jakarta: Penebar Swadaya. Rahardi, F. 1995. Bercocok Tanam dalam Pot (HORTI). Jakarta: Penebar
Swadaya.
Rukmana, H.R. 1997. Usaha Tani Jagung. Jakarta: Kanisius.
Setiawan Ade Iwan. 1998. Memanfaatkan kotoran ternak. Jakarta:Penebar Swadaya
Siradz, Suradi K, Muhsin M 2007. Kuantitas dan variasi nitrogen tersedia pada tanah setelah penebangan hutan. Jurnal Tanah Tropis. 8(1): 215-226 Situmorang R, Untung S 2001. Bahan Kuliah Tanah. Bogor: Institut Pertanian.
Bogor.
Soepardi G dan M Ismunadji. 2007. Harkat Kalium Tanah. Bogor : ITB Press. Soepardi. 1979. Sifat Dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah. Bogor:
Fakultas Pertanian IPB.
Sulaiman, Suparto dan Eviati. 2005. Analisis kimia tanah, tanaman , dan pupuk. Bogor: Balai Penelitian Tanah.
46 Suwarno, U.M Wahjudin. 2003. Kesuburan Tanah. Bogor: Institut Pertanaian
Bogor.
Tobing, dkk. 1995. Agronomi Tanaman Makanan I. Medan: Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Wanjau, S., M. John dan R. Thijssen. 2002. Pemindahan Biomassa dan Panen Pupuk Cuma - cuma. Kenya: Woodfuel & Agroforestry Programme. Zulkarnain, H. 2009. Dasar-dasar Hortikultura (HRT). Jakarta: Penerbit Bumi
47 LAMPIRAN
A. Daftar N tanaman Tebel titrasi H2SO4
NO Nitrogen (N)
Phospor (P) Kalium (K) Titonia Pupuk Kandang 1. 50 = ml 0 = 0,9 ml 0 = 0,8 ml 0 = 0,25 ml 0 = 1,5 ml 2. 100 = ml 75 = 0,7 ml 50 = 1,4 ml 5 = 2,1 ml 5 = 1,7 ml 3. 200 = ml - 100 =2,5 m 10 = 0,8 ml 10 = 1,4 ml
1. Kelompok N
N total (%) = (ml H2SO4– Blanko) x NH2SO4 X 14 X 100 X KKA
Mg berat sampel N total (%) = ( – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(50 Kg) 250 mg
= 0%
N total (%) = ( – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(100 Kg) 250 mg
= %
N total (%) = ( – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(200 Kg) 250 mg
= %
2. Kelompok P
N total (%) = (ml H2SO4– Blanko) x NH2SO4 X 14 X 100 X KKA
Mg berat sampel N total (%) = (0,9 – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(0 Kg) 250 mg
48 N total (%) = (0,7 – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(75 Kg) 250 mg
= 0,672% 3. Kelompok K
N total (%) = (ml H2SO4– Blanko) x NH2SO4 X 14 X 100 X KKA
Mg berat sampel N total (%) = (0,8 – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(0 Kg) 250 mg
= 0,784%
N total (%) = (1,4 – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(50 Kg) 250 mg
= 1,456%
N total (%) = (2,5 – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(100 Kg) 250 mg
= 2,688% 4. Kelompok Pupuk Kandang
N total (%) = (ml H2SO4– Blanko) x NH2SO4 X 14 X 100 X KKA
Mg berat sampel
N total (%) = (1,5 – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(0 Ton) 250 mg
= 1,568%
N total (%) = (1,7 – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(5 Ton) 250 mg
= 1,792%
N total (%) = (1,4 – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(10 Ton) 250 mg
49 5. Kelompok Tithonia
N total (%) = (ml H2SO4– Blanko) x NH2SO4 X 14 X 100 X KKA
Mg berat sampel
N total (%) = (0,8 – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(0 Ton) 250 mg
= 0,784%
N total (%) = (2,5 – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(5 Ton) 250 mg
= 2,688%
N total (%) = (2,1 – 0,1) x 0,1 X 14 X 100 X 2
(10 Ton) 250 mg
= 2,24%
B. Daftar P tanaman
% P tanaman = 0,2 x PPM P kurva x KKA
X Y X.Y X2
0 0,00 0 0
1 0,038 0,038 1
2 0,071 0,142 4
3 0,150 0,45 9
4 0,199 0,796 16
5 0,220 1,1 25
53 = 0, 208%
Untuk 10 ton x = , + ,
, = 1,81
P total (%) = 0,2 x ppm P kurva (x) x KKA = 0,2 x 1,81 x 2
= 0,724 %
DOKUMENTASI 1. Rumah Kaca 05 September 2014
Pencampuran pupuk kandang, tuthonia, dan tanah
11 September 2014
Pemberian pupuk N, P, dan K
54 2. Panen
Perbandingan Jagung Pada Perlakuan Titonia 0 ton, 5 ton, dan 10 ton 16 Oktober 2014
Titonia 0 ton
Titonia 5 ton
55 3. Laboratorium
Tanaman yang diglinder diamasukkan ke labu kjedhal
H2SO4 pekat Larutan pekat diambil 20 ml
56 NAOH 13 ML
H3BO3 ke erlenmeyer 3 tetes indikator conway
57 Tabel Kriteria N-total
Kriteria Nilai Sangat Rendah 0,1
Rendah 0,1 – 0,2 Sedang 0,2 -0,3 Agak Tinggi 0,3 – 0,5
Tinggi 0,5 – 0,75 Sangat Tinggi >0,75
Tabel Kriteria P-tersedia
Kriteria Nilai Sangat Rendah < 5
Rendah 5 – 14 Sedang 15 – 39